Anda di halaman 1dari 26

REFERAT

GIGITAN SERANGGA DAN PARASIT

Disusun Oleh:
Helena Azhar Ainun
1102012111

Pembimbing:
Dr. Yenny Sp. KK, M.Kes

KEPANITERAAN BAGIAN ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
RSUD ARJAWINANGUN
SEPTEMBER 2017
GIGITAN SERANGGA

PENDAHULUAN
Insect bite (gigitan serangga) adalah kelainan akibat dari gigitan atau sengatan
serangga yang disebabkan oleh reaksi terhadap toksin atau alergen yang dikeluarkan artropoda
penyerang. Serangga penggigit tersebut menyebabkan efek negatif pada makhluk hidup yang
terkena sengatnya. Sinonim termasuk bedbug bite, bee sting, black widow spider bite, brown
recluse bite, flea bite, honey bee or hornet sting, lice bite, mite bite, scorpion bite, spider bite,
wasp sting, yellow jacket sting.
Insect bite (gigitan serangga) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup besar
saat ini terutama rentan terhadap bayi dan anak-anak. Insect bite ini disebabkan oleh filum
Artropoda kelas Insekta. Gigitan serangga dapat menunjukkan masalah yang serius, karena
beberapa faktor yaitu reaksi alergi berat (anafilaksis). Reaksi ini tergolong tidak biasa karena
dapat mengancam kehidupan dan membutuhkan pertolongan darurat. misalnya reaksi racun
oleh gigitan atau sengatan serangga, racun dari lebah, tawon, atau semut api. Faktor yang lain
juga bisa menyebabkan infeksi virus dan parasit yang ditularkan melalui nyamuk. Akibat dari
gigitan serangga bisa menimbulkan gejala klinis yaitu : bengkak, merah, dan rasa gatal pada
area yang digigit. Apabila kulit yang terinfeksi digaruk, dengan garukan yang kuat bisa
menyebabkan infeksi sekunder lagi yaitu selulitis.
Pencegahan pada gigitan serangga juga dibutuhkan yaitu penangkal insekta (insect
repellents). Akan tetapi, penangkal insekta yang digunakan ini berbeda dengan insektisida,
penangkal ini tidak membunuh insekta, tapi mencegah gigitan ataupun sentuhan pada kulit.
Efektifnya penangkal ini karena nontoksik, nonalergen, noniritan, tidak merusak pakaian,
mudah digunakan dan murah.

EPIDEMIOLOGI
Insidens pada gigitan serangga dapat mengenai semua umur, tetapi bayi dan anak-
anak lebih rentan terkena gigitan serangga dibandingkan dengan orang dewasa dan frekuensi
yang sama pada pria dan wanita. Dari literatur juga menunjukkan bahwa lingkungan menjadi
salah satu faktor, seperti perkebunan, persawahan, dll.

1
ETIOLOGI
Insekta termasuk bagian dari artropoda. Dimana insekta terdiri dari :
a. Anoplura (misal : Lice/kutu), ada 2 spesies yaitu Phthirius pubis dan Pediculus humanus,
b. Coleoptera (terdapat 5 famili yang memproduksi bahan kimia yang dapat menyebabkan
inflamasi, yaitu : Meloidae (misal : kumbang), Staphylinidae, Coccinellidae, and
edemeridae)
c. Diptera (misal : lalat)
d. Hemiptera ( hama )
e. Hymenoptera ( lebah dan tawon )
f. Lepidoptera ( kupu-kupu dan ngangat )
g. Siphonaptera ( kutu/fleas ).

Beberapa contoh masalah serius yang diakibatkan oleh gigitan atau serangan serangga
diantaranya adalah :

1. Reaksi alergi berat (anaphylaxis). Reaksi ini tergolong tidak biasa, namun dapat
mengancam kehidupan dan membutuhkan pertolongan darurat.
2. Reaksi racun oleh gigitan atau serangan tunggal dari serangga. Serangga atau laba-laba yang
menyebabkan hal tersebut misalnya :
Laba-laba janda (widow) yang berwarna hitam
Laba-laba pertapa (recluse) yang berwarna coklat
Laba-laba gembel (hobo)
Kalajengking
3. Reaksi racun dari serangan lebah, tawon, atau semut api.
4. Reaksi kulit yang lebar pada bagian gigitan atau serangan.
5. Infeksi kulit pada bagian gigitan atau serangan.
6. Penyakit serum (darah), sebuah reaksi pada pengobatan (antiserum) digunakan untuk
mengobati gigitan atau serangan serangga.
7. Infeksi virus. Infeksi dari nyamuk dapat menyebarkan virus West Nile kepada seseorang,
menyebabkan inflamasi pada otak (encephalitis).
8. Infeksi parasit. Infeksi dari nyamuk dapat menyebabkan menyebarnya malaria.

2
Bedbug - Black widow Body louse Flea Fly Kissing bug
close-up spider

Dust mite Mosquito, Wasp Insect stings Brown recluse Black widow
adult feeding and allergy spider spider
on the skin

Stinger Flea bite - Insect bite Insect bites on Head louse,


removal close-up reaction - the legs male Head louse -
close-up female

Head louse Lice, body Body louse, Crab louse, Pubic louse- Head louse
infestation - with stool female and female male and pubic
scalp (Pediculus larvae louse
humanus)

Gambar 1. Beberapa macam insekta

PATOGENESIS
Gigitan atau sengatan serangga menyebabkan luka kecil. Kemudian, lesi yang terjadi
menyebabkan sistem imun tubuh bekerja sebagai respon terhadap benda asing yang masuk (dalam
hal ini gigitan atau sengatan serangga) dengan mengeluarkan antibodi. Hipersensitivitas yang
terjadi pada lesi terhadap kulit akibat gigitan atau sengatan serangga melalui mediatornya yang
disebut immunoglobulin E (IgE). Akibat reaksi tersebut bisa memberikan rasa gatal dan
effloresensi berupa papul, nodul dan vesikel biasanya timbul +48 jam setelah gigitan atau sengatan
tersebut. Manifestasi tersebut merupakan suatu reaksi delayed hypersensitivity (type IV cell-
mediated immunity) melalui antigen selama gigitan tersebut.

3
Sebuah gigitan atau sengatan dapat menyuntikkan racun (bisa) yang tersusun dari protein
dan substansi lain yang mungkin memicu reaksi alergi kepada penderita. Gigitan serangga juga
mengakibatkan kemerahan dan bengkak dilokasi yang tersengat.

Sengatan dan saliva adalah suatu komponen yang kompleks dari gigitan serangga yang
menyebabkan luka kecil. Reaksi awal yang berperan pada reaksi adalah histamin, serotonin, formic
acid atau kinin. Selanjutnya terjadi perlambatan reaksi yang merupakan manifestasi tipikal dari
respon imun dari host terhadap alergen protein-aceous

Misalnya gigitan dari lebah, tawon, penyengat, dan semut api adalah bagian dari
Hymenoptera. Gigitan atau sengatan dari mereka dapat menyebabkan reaksi yang cukup serius
pada orang yang alergi terhadap mereka. Kematian yang diakibatkan oleh serangga 3-4 kali lebih
sering dari pada kematian yang diakibatkan oleh sengatan ular. Lebah, tawon, dan semut api
berbeda-beda dalam menyengat.

Ketika lebah menyengat, dan melepaskan seluruh alat sengatnya, pada saat menyengat,
lebah tersebut mati ketika proses menyengat itu terjadi. Seekor tawon dapat menyengat berkali-
kali karena tawon tidak melepaskan seluruh alat sengatnya setelah ia menyengat. Sedangkan semut
api menyengatkan racunnya (bisanya) dengan menggunakan rahangnya dan memutar tubuhnya.
Mereka dapat menyengatkan racun (bisa) berkali-kali.

GAMBARAN KLINIS
Gejala dari gigitan serangga bermacam-macam dan tergantung dari berbagai macam faktor yang
mempengaruhi. Gejala sangat tergantung pada jenis serangga dan individu. Kebanyakan gigitan
serangga menyebabkan kemerahan, bengkak, nyeri, dan gatal-gatal di sekitar area yang terkena
gigitan atau sengatan serangga tersebut.

4
Gambar 1. Eritematous akibat gigitan serangga

Kulit yang terkena gigitan bisa rusak dan terinfeksi jika daerah yang terkena gigitan
tersebut terluka. Urtikaria papular juga bisa terjadi sementara. Gatal sebagai petanda, dan lesi 1-4
mm urtikaria papul eritemaatous. Lesi sering terasa gatal dan terdapat ekskoriasi papul karena
garukan akibat gatal. Jika luka tersebut tidak dirawat, maka akan mengakibatkan peradangan akut.

Rasa gatal dengan bintik-bintik merah dan bengkak, sesak napas, dan pingsan merupakan
gejala dari reaksi yang disebut anafilaksis. Ini juga diakibatkan karena alergi pada gigitan
serangga. Gigitan serangga juga mengakibatkan bengkak pada tenggorokan dan kematian karena
gangguan pernafasan.

Gambar 2

5
PEMERIKSAAN PENUNJANG

A. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan darah lengkap untuk melihat eosinofil, khususnya jika pasien demam dan
dicurigai terjadi infeksi bakteri sekunder. Juga dapat dilakukan tes tusuk dengan alergen tersangka.
Tes serologi dapat membantu untuk diagnosis arthropod-borne disease.

B. Pemeriksaan Histologi
Biopsi untuk preparat histologi dapat memberikan informasi gigitan dan sengatan
artropoda yang memproduksi a wedge-shape infiltrat perivaskular yang banyak terdapat limfosit
dan eosinofil. Reaksi gigitan bulla sebagai inflamasi subepidermal. Pada urtikaria papular, terdapat
edema pada dermis papilar yang prominen dan infiltrat eosinofil pada inflamasi kronik
perivaskular.

DIAGNOSIS
Diagnosis awal gigitan serangga selain anamnesa juga dilakukan pemeriksaan fisis
yaitu inspeksi, palpasi pada kulit. Serta adanya riwayat gigitan serangga sebelumnya penting
untuk diketahui. Adanya gambaran klinis, seperti gatal, bengkak ataupun rasa terbakar, dan lesi 1-
4 mm urtikaria papul eritematous. Lesi sering terasa gatal dan terdapat ekskoriasi papul karena
garukan akibat gatal.

DIAGNOSIS BANDING
Diagnosa banding dari insect bite adalah
1. Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap
Sarcoptes scabiei var, hominis. Sarcoptes scabiei termasuk filum Arhtropoda, kelas
Arachnida, ordo Ackarima, super famili Sarcoptes. Kelainan kulit dapat disebabkan tidak
hanya oleh tungau skabies, tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Gatal yang
disebabkan oleh sensitisasi terhadap sekreta dan eksreta tungau yang memerlukan waktu
kira-kira sebulan setelah infestasi.

6
Gambar 3. Skabies di daerah tangan

Gambar 4. Scabies on the Arm

Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel,
urtika, dan lain-lain. dengan garukan dapat timbul erosi, akskoriasi, krusta, dan infeksi
sekunder.
2. Urtikaria adalah reaksi vaskular dikulit akibat bermacam-macam sebab, biasanya ditandai
dengan edema setempat yang cepat timbul dan menghilang perlahan-lahan, berwarna pucat
dan kemerahan, meninggi di permukaaan kulit, sekitar nya dapat dikelilingi halo. Keluhan
subyektif biasanya gatal, rasa tersengat atau tertusuk.

7
Gambaran 5. Allergic urticaria on the shin induced by an antibioti*

Angioedema ialah yang mengenai lapisan kulit yang lebih dalam daripada dermis, dapat di
submukosa, atau di subkutis, juga dapat mengenai saluran napas, saluran cerna, dan organ
kardiovaskular.
Psikis dalam hal ini tekanan jiwa dapat memacu sel mass atau langsung menyebabkan
peningkatan permaebilitas dan vasodilatasi kapiler. Ternyata hampi 11,5% penderita
urtikaria menunjukkan gangguan psikis.

TATALAKSANA
Keberhasilan pengobatan tergantung pada hubungan faktor etiologi pada setiap individu
walaupun secara umum mengikuti standar pengobatan. Terapi langsung yang sering digunakan
untuk mengatasi gatal dan infeksi sekunder. Gatal adalah keluhan primer dari gigitan serangga.
Terapi topikal yang terdiri dari mentol, phenol, atau camphor mungkin diberikan untuk
penanganan awal, dapat juga diberikan antihistamin oral seperti diphenyhidramin 25-50 mg untuk
mengurangi rasa gatal. Histamin meningkatkan permaebilitas kapiler dan ini merupakan efek
sekunder terhadap pembuluh darah kecil. Akibatnya protein dan cairan plasma keluar ke ruangan
ekstrasel dan menimbulkan udem. Efek ini jelas disebabkan oleh peranan histamin reseptor H1.
Antihistamin bermanfaat untuk mengobati reaksi hipersensitivitas atau keadaan lain yang disertai
penglepasan histamin endogen berlebihan.
Topikal steroid mungkin juga sangat membatu untuk reaksi yang sensitif terhadap gigitan
tersebut. Pasien dengan gigitan yang banyak dan reaksi berat dapat dianjurkan istirahat total dan

8
diberikan steroid sistemik dosis sedang. Infeksi sekunder dapat dikontrol dengan pemberian terapi
topikal dan antibiotik oral.

Pencegahan pada gigitan serangga juga dibutuhkan yaitu penangkal insekta (insect
repellents). Dimana penangkal insekta ini berbeda dengan insektisida, penangkal ini tidak
membunuh insekta, tapi mencegah gigitan ataupun sentuhan pada kulit. Efektifnya penangkal ini
karena nontoksik, nonalergen, noniritan, tidak merusak pakaian, mudah digunakan dan murah.
Iinsect repellents yang sangat efektif adalah diethyltoluamide (DEET). Selain dari itu, juga
terdapat dimethyl phthalate, dymethylcarbate, ethyl hexanediol, butopyronoxyl (indalone) dan
benzyl benzoate. Kombinasi 2 atau 3 dari penangkal insekta dapat lebih efektif dibandingkan
hanya satu.

KOMPLIKASI
Gigitan serangga adalah variable tergantung pada faktor. Akibat dari sengat atau gigitan
serangga adalah bengkak, merah, dan rasa gatal pada area yang digigit. Bahkan dapat terjadi
gangguan pernafasan, pingsan dan bahkan kematian, tergantung dari racun (bisa) akibat sengatan.
Kulit akan terinfeksi apabila daerah yang tersengat serangga di garuk berkali-kali maka akan
terjadi peradangan gigitan yang mengakibatkan suatu kondisi yang disebut selulitis.

PROGNOSIS
Prognosis dari gigitan serangga tergantung vektor insekta, lokasi dan kuantitas gigitan.

9
PENYAKIT PARASIT PADA KULIT
PENDAHULUAN
Parasit dapat menyebabkan kelainan pada kulit. Penyakit yang disebabkan oleh parasit
adalah pedikulosis, skabies, dan creeping eruption.
Pedikulosis adalah infeksi kulit atau rambut pada manusia yang disebabkan oleh pediculus
(tergolong famili pediculidae). Selain menyerang manusia penyakit ini juga menyerang binatang
oleh karena itu dibedakan pediculus humanus dengan pediculus animalis. Pediculus ini merupakan
parasir obligat artinya harus menghisap darah manusia untuk dapat bertahan hidup. Penularan
dapat melalui perantara (benda) atau kontak langsung.
Skabies biasa dikenal dengan gudik, budukan, gatal agogo. Pengetahuan dasar tentang
penyakit skabies diletakkan oleh Von Hebra, bapak dermatologi modern. Penyebabnya pertama
kali ditemukan oleh Benomo pada tahun 1687, kemudian oleh Mellanby dilakukan percobaan
induksi pada sukarelawan selama perang dunia II. Penyebabnya adalah Sarcoptes scabiei var.
hominis.
Creeping eruption sering terjadi pada anak-anak terutama yang sering berjalan tanpa alas kaki,
atau yang sering kontak dengan tanah dan pasir. Demikian pula para petani dan tentara sering
mengalami hal yang sama. Penyakit ini banyak terdapat di daerah tropis atau subtropis yang hangat
dan lembab. Penyakit ini disebabkan oleh invasi larva cacing tambang.
Infeksi parasit pada kulit manusia dapat menular melalui kontak secara langsung atau tidak
langsung. Untuk itu daianjurkan untuk melakukan pengobatan terhadap seseorang yang memiliki
keluhan yang sama dengan penderita dalam lingkungan yang sama. Hal ini dilakukan untuk
mencegah penularan dan infeksi berulang dari parasit tersebut.

PEDIKULOSIS
Pedikulosis merupakan infeksi kulit dan rambut manusia yang disebabkan oleh Pediculus dari
famili Pediculidae. Pediculus ini dapat menyerang manusia maupun hewan sehingga dibedakan
Pediculus humanus untuk yang menyerang manusia dan Pediculus animalis untuk yang menyerang
hewan. Pediculus merupakan parasit obligat yang harus menghisap darah manusia untuk dapat
bertahan hidup.
Pada manusia sendiri, terdapat klasifikasi pedikulosis berdasarkan spesies pediculus yang
menyerang beserta tempat predileksinya yaitu:

10
1. Pediculus humanus capitis yang menyebabkan pedikulosis kapitis
2. Pediculus humanus corporis yang menyebabkan pedikulosis korporis
3. Pthirus pubis yang menyebabkan pedikulosis pubis

PEDIKULOSIS KAPITIS
Definisi
Pedikulosis Kapitis merupakan infeksi kulit dan rambut kepala yang disebabkan oleh
Pediculus humanus capitis.

Epidemiologi
Infestasi dari Pediculus humanus capitis ini tersebar luar diseluruh dunia dan biasanya
menyerang anak-anak usia sekolah. Penyakit ini cepat meluas dalam lingkungan hidup yang padat
misalnya di asrama dan panti asuhan. Selain itu faktor kebersihan yang kurang baik seperti jarang
membersihkan rambut atau rambut yang susah dibersihkan (rambut panjang pada wanita) juga
turut berperan dalam penyebaran penyakit ini. Cara penularan penyakit ini biasanya melalui
perantara seperti sisir, bantal, kasur, dan topi.

Etiologi
Pediculus humanus capitis memiliki 2 mata dan 3 pasang kaki. Yang betina berukuran
panjang 1,2-3,2 mm dan lebar sekitar setengah
dari panjangnya sedangkan yang jantan lebih
kecil dan jumlahnya sedikit. Kaki Pediculus
humanus capitis didesain untuk mencengkeram
rambut dan dapat berjalan 23cm permenit. Siklus
hidupnya melalui stadium telur, larva, nimfa, dan
dewasa. Pediculus humanus capitis betina dapat
bertelur 5-10 telur perhari. Telur diletakkan di
sepanjang rambut dan mengikuti tumbuhnya rambut sehingga makin ke ujung terdapat telur yang
lebih matang. Pediculus humanus capitis harus menghisap darah terlebih dahulu sebelum
melakukan kopulasi. Jangka waktu hidup Pediculus humanus capitis sekitar 30 hari. Pediculus

11
humanus capitis biasanya hanya dapat hidup 1-2 hari di luar scalp sedangkan telurnya dapat
bertahan hingga 10 hari.

Patogenesis
Kelainan kulit yang timbul biasanya disebabkan garukan untuk menghilangkan rasa gatal.
Rasa gatal disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas terhadap saliva yang diproduksi Pediculus
humanus capitis saat menghisap darah.

12
Gejala Klinis
Gejala mula yang dominan hanya rasa gatal, terutama pada daerah oksiput dan temporal
serta dapat meluas ke seluruh kepala. Kemudian karena garukan dapat menyebabkan erosi,
eskoriasi, dan infeksi sekunder berupa pus dan krusta. Bila terjadi infeksi sekunder yang berat,
rambut akan bergumpal karena banyaknya pus dan krusta dan disertai perbesaran kelenjar getah
bening regional. Pada keadaan ini kepala akan memberikan bau busuk.

Diagnosis
Cara yang paling diagnostik adalah menemukan kutu atau telur terutama dicari di daerah
oksiput dan temporal. Telur berwarna abu-abu dan berkilat.

Diagnosis Banding
Tinea kapitis, pioderma, dermatitis seboroik

13
Tatalaksana
Pengobatan bertujuan memusnahkan seluruh Pediculus humanus capitis dan mengobati
infeksi sekunder. Pengobatan yang terbaik adalah malathion 0,5% atau 1% bentuk lotio atau spray.
Cara pakainya adalah pada malam hari sebelum tidur rambut dicuci dengan sampo kemudian
diapakai lotio malathion dan kepala ditutup dengan kain. Keesekon harinya rambut dicuci lagi
dengan sampo dan disisir dengan sisir halus dan rapat. Obat ini sukar didapat.
Di Indonesia obat yang cukup efektif dan mudah didapat adalah Gammexane 1%. Cara
pakainya dioleskan lalu didiamkan 12 jam kemudian dicuci dan disisir agar semua kutu dan telur
terlepas. Jika masih ada telur, dapat diulangi seminggu kemudian. Obat lainnya adalah benzil
benzoat 25%.
Pada keadaan infeksi sekunder yang berat sebaiknya rambut dicukur, infeksi sekunder diobati
dulu dengan antibiotika sistemik dan topical lalu disusul obat di atas dalam bentuk sampo.Higiene
merupakan salah satu sarat untuk tidak terjadi residif.

PEDIKULOSIS KORPORIS
Definisi
Infeksi kulit yang disebabkan oleh Pediculus humanus var corporis.

Epidemiologi
Pedikulosis Korporis sering juga disebut penyakit orang miskin dimana banyak ditemukan
pada orang dewasa yang homeless, grup yang hidup dengan kebersihan yang kurang, para
pengungsi, penggembala, dan para tentara pada waktu perang. Penyakit ini sering disebut penyakit
vagabond karena kutu idak melekat pada kulit namun pada serat kapas di sela lipatan pakaian dan
hanya transien ke kulit untuk menghisap darah. Tidak ada predileksi untuk ras, usia, dan jenis
kelamin. Cara penularannya adalah melalui pakaian dan pada orang yang dadanya berambut
terminal kutu dapat melekat langsung pada rambut tersebut dan dapat ditularkan melalui kontak
langsung.

14
Patogenesis
Kelainan kulit yang timbul biasanya disebabkan garukan untuk menghilangkan rasa gatal.
Rasa gatal disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas terhadap saliva yang diproduksi Pediculus
humanus corporis saat menghisap darah.

Gejala Klinis
Umumnya hanya ditemukan kelainan berupa bekas garukan pada badan karena gatal
baru dapat berkurang setelah garukan yang lebih intensif. Kadang timbul infeksi sekunder dengan
perbesaran kelenjar getah bening regional.

Diagnosis
Menemukan kutu dan telur pada serat pakaian.

Diagnosis Banding
Neurotic exoriation

Tatalaksana
Di Indonesia obat yang cukup efektif dan mudah didapat adalah Gammexane 1%. Cara
pakainya dioleskan ke seluruh tubuh lalu didiamkan 24 jam kemudian penderita mandi. Jika masih

15
belum sembuh, dapat diulangi 4 hari kemudian. Obat lain adalah bubuk malathion 2% dan benzil
benzoat 25%. Pakaian harus di setrika dengan tujuan membunuh telur dan kutu.

PEDIKULOSIS PUBIS
Definisi
Pedikulosis Pubis merupakan infeksi rambut pada daerah pubis dan sekitarnya akibat Pthirus
pubis.

Epidemiologi
Penyakit ini menyerang orang dewasa dan digolongkan sebagai penyakit akibat hubungan
seksual serta dapat pula menyerang kumis dan janggut. Infeksi ini juga dapat terjadi pada anak-
anak yaitu pada alis dan bulu mata serta pada tepi batas rambut kepala. Cara penularannya
umumnya dengan kontak langsung.

Etiologi
Pthirus pubis memiliki 2 jenis kelamin dengan yang betina
lebih besar dari yang jantan dan panjang sama dengan lebar
yaitu 1-2 mm. Pithirus pubis sering disebut crab louse karena
kemiripan morfologinya dengan kepiting. Jangka waktu hidup
Pthirus pubis adalah 2 minggu dan Pithirus pubis dewasa dapat
hidup sampai 36 jam di luar host nya.

Gejala Klinis
Gejala gatal yang ditimbulkan sama dengan proses pedikulosis korporis.

Diagnosis
Menemukan telur atau bentuk dewasa.

16
Diagnosis Banding
1. Dermatitis seboroik
2. Dermatomikosis

Tatalaksana
Pengobatannya mirip dengan pedikulosis lainnya yaitu Gammexane 1% atau benzil
benzoat 25% yang dioleskan dan didiamkan selama 24 jam. Pengobatan diulangi 4 hari kemudian
jika belum sembuh. Sebaiknya rambut kelamin dicukur. Pakaian dalam disetrika dan mitra seksual
juga diperiksa.
Krotamiton 1% krim atau lotion ,dioleskan sekali sehari dan dapat diulang sesudah
satu minggu. Infeksi sekunder diobati dengan antibiotik seperti penisilin dan eritromisin.

SKABIES
Definisi
Skabies merupakan infestasi pada kulit manusia yang disebabkan oleh penetrasi
parasit obligat Sarcoptes Scabiei varian hominis ke epidermis.

Epidemiologi
Diperkirakan lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia telah terinfeksi skabies. Skabies dapat
menyerang pada semua kalangan meskipun lebih banyak pada kalangan sosioekonomi yang
rendah. Selain itu faktor kebersihan juga menjadi faktor yang menunjang perkembangan dari
penyakit ini. Skabies lebih prevalen pada daerah urban/ perkotaan terutama daerah-daerah yang
sangat padat.
Cara transmisi dapat melalui kontak langsung maupun kontak tidak langsung. Pada kontak
langsung terjadi kontak antara kulit dengan kulit contohnya berjabat tangan, tidur bersama, dan
hubungan seksual. Sedangkan untuk kontak tidak langsung dapat melalui benda seperti pakaian,
handuk, sprei, bantal, dan lain-lain. Penularan biasanya oleh Sarcoptes scabiei betina yang sudah
dibuahi dan terkadang oleh bentuk larva.

17
Etiologi
Sarcoptes scabiei termasuk dalam filum Arthropoda, kelas Arachnida, ordo Ackarima, famili
Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. hominis namun juga ada Sarcoptes scabiei
lain misalnya Sarcoptes scabiei var. animalis.
Secara morfologi berbentuk oval, punggung cembung, dan bagian perut rata. Ukurannya 330-
450 mikron x 250-350 mikron untuk yang betina dan 200-240 mikron x 150-200 mikron untuk
yang jantan. Sarcoptes scabiei dewasa memiliki 4 pasang kaki, 2 pasang di depan sebagai alat
untuk melekat dan 2 pasang di belakang di mana yang betina berakhir dengan rambut sedangkan
untuk yang jantan pasangan kaki ketiga berakhir dengan rambut dan pasangan kaki keempat
berakhir dengan alat perekat.
Siklus hidup dari Sarcoptes scabiei : setelah terjadi kopulasi di atas kulit, S.scabiei jantan akan
mati atau kadang-kadang masih dapat hidup beberapa hari dalam terowongan yang digali oleh
yang betina. Sarcoptes scabiei betina yang telah dibuahi akan menggali teowongan dalam stratum
korneum dengan kecepatan 2-3 milimeter perhari dan meletakkan telurnya 2-4 butir perhari sampai
mencapai jumlah 40 atau 50. Bentuk betina yang telah dibuahi ini dapat hidup sekitar sebulan.
Telur akan menetas biasanya dalam waktu 3-5 hari dan menjadi larva yang memiliki 3 pasang
kaki. Setelah 2-3 hari larva akan menjadi nimfa yang memiliki bentuk yaitu jantan dan betina
dengan 4 pasang kaki. Siklus hidup dari telur sampai menjadi bentuk dewasa memerlukan waktu
8-12 hari.

18
Patogenesis
Kelainan pada kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh skabies tetapi juga oleh
penderita itu sendiri akibat garukan. Gatal yang terjadi akibat sensitisasi terhadap sekret dan eskret
dari S.scabiei memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Pada saat itu akan terdapat
kealinan kulit yang menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel, urtika, dan lain-
lain. Intervensi berupa garukan akan dapat menyebabkan lesi sekunder seperti erosi, eskoriasi,
krusta, dan infeksi sekunder.
Rata-rata jumlah Sarcoptes scabiei yang berada pada host biasanya tidak lebih dari
20, kecuali pada crusted scabies atau disebut juga Norwegian scabies dimana pada host dapat
berjumlah sampai jutaan Sarcoptes scabiei. Bentuk crusted scabies ini ditandai dengan dermatosis
berkrusta pada tangan dan kaki, kuku yang distofik, dan skuama yang generalisata. Bentuk ini
sangat menular namun rasa gatalnya sedikit. Sarcoptes scabiei dapat ditemukan dalam jumlah
besar. Individu dengan HIV (Human Immunodeficiency Virus), manula, dan pasien dengan
pengobatan imunosurpresi memiliki risiko yang lebih besar untuk terkena crusted scabies.

19
Klasifikasi
Terdapat beberapa bentukskabies atipik yang jarang ditemuan dan sulit dikenal, sehingga
dapat menimbulkan kesalahan diagnosis. Beberapa bentuk tersebut antara lain :
1. Skabies pada orang bersih (scabies of cultivated)
Bentuk ini ditandai dengan lesi berupa papul dan terowongan yang sedikit jumlahnya
sehingga sangat sukar ditemukan.
2. Skabies incognito
Bentuk ini timbul pada skabies yang diobati dengan kortikosteroid sehingga gejala dan
tanda klinis membaik, tetapi tungau tetap ada dan penularan masih bisa terjadi. Skabies
incognito sering juga menunjukkan gejala klinis yang tidak biasa, distribusi atipik, lesi luas
dan mirip penyakit lain.
3. Skabies nodular
Pada bentuk ini lesi berupa nodus coklat kemerahan yang gatal. Nodus biasanya terdapat di
daerah tertutup, terutama pada genitalia laki-laki, inguinal dan aksila. Nodus ini timbul sebagai
reaksi hipersensetivitas terhadap tungau skabies.
Pada nodus yang berumur lebih dari satu bulan tungau jarang ditemukan. Nodus mungkin
daat menetap selama beberapa bulan sampai satu tahun meskipun telah diberi pengobatan anti
skabies dan kortikosteroid
4. Skabies yang ditularkan melalui hewan

20
Di Amerika, sumber utama skabies adalah anjing. Kelainan ini berbeda dengan skabies
manusia yaitu tidak terdapat terowongan, tidak menyerang sela jari dan genitalia eksterna. Lesi
biasanya terdapat pada daerah dimana orang seringkontak/memeluk binatang kesayangannya
yaitu paha, perut, dada dan lengan. Masa inkubasi lebih pendek dan transmisi lebih mudah.
Kelainan ini bersifat sementara (4-8 minggu) dan dapat sembuh sendiri karena S. scabei var
binatang tidak dapat melanjutkan siklus hidupnya pada manusia.
5. Skabies Norwegia
Skabies Norwegia atau skabies krustosa ditandai oleh lesi yang luas dengan krusta, skuama
generalisatadan hyperkeratosis yang tebal. Tempat presileksi biasanya kilit kepala yang
berambut, telinga bokong, siku, lutut, telapak tangan dan kaki yang dapat disertai distrofi kuku.
Berbeda dengan skabies biasa, rasa gatal pada penderita skabies Norwegia tidak menonjol
tetapi bentuk ini sangat menular karena jumlah tungau yang menginfestasi sangat banyak
(ribuan). Skabies Norwegia terjadi akibat defisiensi imunologik sehingga sistem imun tubuh
gagal membatasi proliferasi tungau dapat berkembang biak dengan mudah.
6. Skabies pada bayi dan anak
Lesi skabies pada anak dapat mengenai seluruh tubuh, termasuk seluruh kepala, leher,
telapak tangan, telapak kaki, dan sering terjadi infeksi sekunder berupa impetigo, ektima
sehingga terowongan jarang ditemukan. Pada bayi, lesi di muka.
7. Skabies terbaring di tempat tidur (bed ridden)
Penderita penyakit kronis dan orang tua yang terpaksa harus tinggal ditempat tidur dapat
menderita skabies yang lesinya terbatas.

Gejala Klinis
Terdapat 4 tanda kardinal :
a. Pruritus nokturna, gatal pada malam hari disebabkan karena aktivitas Sarcoptes scabiei
ini lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas.
b. Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok misalnya dalam sebuah keluarga
biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi. Pada sebuah perkampungan padat
penduduk, sebagian besar tetangga yang berdekatan akan terkena infeksi dari
Sarcoptes scabiei juga. Selain itu dapat terjadi hiposensitisasi dimana seluruh

21
keluarganya terkena infestasi dari Sarcoptes scabiei namun tidak menunjukkan gejala.
Di sini penderita tersebut hanya bertindak sebagai carrier.
c. Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat predileksi yang berwarna putih atau
keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, dengan rata-rata panjang 1 cm. Pada
ujung kunikulus ditemukan papul atau vesikel. Jika timbul infeksi sekunder ruam kulit
menjadi polimorf (pustul, erosi, eskoriasi, dsb). Tempat predileksinya biasanya
madalah tempat dengan stratum korneum yang tipis yaitu: sela-sela jari tangan,
pergelangan, siku bagian luar, areola mammae, umbilikus, bokong, genitalia eksterna,
dan perut bagian bawah. Pada bayi biasanya pada telapak tangan dan kaki.
d. Ditemukan S.scabiei pada satu atau lebih stadium hidup.

Diagnosis
Diagnosis dibuat , menemukan 2 dari 4 tanda kardinal tersebut.

Diagnosis Banding
Penyakit skabies disebut-sebut sebagai the great imitator karena gejala-gejalanya dapat
menyerupai berbagai jenis penyakit kulit dengan keluhan gatal. Adapun diagnosis banding skabies
adalah: dermatitis atopik, dermatitis kontak, dermatitis herpetiformis, eksema dishidrotik,
pedikulosis korporis, prurigo, reaksi gigitan serangga, dan lain-lain.

Tatalaksana
Syarat obat yang ideal untuk skabies adalah:
a. Efektif untuk seluruh stadium
b. Tidak menimbulkan iritasi dan tidak toksik

22
c. Tidak berbau dan kotor serta tidak merusak atau mewarnai pakaian
d. Mudah diperoleh dan murah
Cara pengobatan skabies adalah seluruh anggota keluarga harus diobati termasuk
penderita yang hiposensitisasi.
Jenis obat topikal:
a. Sulfur presipitatum dengan kadar 4-20% dalam bentuk salep atau krim. Jenis obat ini
kurang efektif terhadap stadium telur karena itu penggunaannya tidak boleh kurang
dari 3 hari. Kekurangan yang lain adalah berbau dan mengotori pakaian serta terkadang
dapat menimbulkan iritasi. Namun obat ini aman untuk bayi kurang dari 2 tahun.
b. Benzil-benzoat (20-25%) efektif untuk seluruh stadium, diberikan setiap malam
selama tiga hari. Obat ini sulit diperoleh, sering memberi iritasi, dan kadang-kadang
makin gatal setelah dipakai.
c. Gammexane (Gama Benzena Heksa Klorida), kadarnya 1% dalam krim atau lotio,
termasuk obat pilihan karena efektif terhadap seluruh stadium, mudah digunakan, dan
jarang menyebabkan iritasi. Obat ini tidak dianjurkan untuk anak di bawah 6 tahun dan
wanita hamil karena toksik terhadap susunan saraf pusat. Pemberian cukup sekali dan
dapat diulangi seminggu kemudian jika gejala masih ada.
d. Krotamiton 10% dalam krim atau lotio, juga merupakan obat pilihan yang memiliki 2
efek sebagai anti skabies dan anti gatal. Harus dijauhkan dari mata, mulut, dan uretra.
e. Permetrin 5% dalam krim, kurang toksik dibandingkan gammexane dengan efektivitas
yang sama. Aplikasi hanya sekali dan dihapus setelah 10 jam. Dapat diulangi setelah
seminggu jika belum sembuh. Tidak dianjurkan untuk bayi di bawah 2 bulan.
Keluhan gatal dapat diberi antihistamin dengan setengah dosis dan infeksi sekunder
diberi antibiotika.

Prognosis
Dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakaian obat serta pengobatan dan
menghilangkan factor predisposisi, maka penyakit ini dapat diberantasa dan member prognosis
yang lebih baik.

23
DAFTAR PUSTAKA

Aisah S. Urtikaria. in: Djuanda A, ed. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Indonesia: Bagian
Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FK UI; 2003.p.153

Burns DA. Diseases Caused by Arthropoda and Other Noxious Animals. in: Burns T,
Breathnach S, Cox N, Griffiths C, eds. Rooks Textbook of Dermatology 7th Volume II.
London: Blackwell Science; 1998.p.33.3

Djuanda, Adhi. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 6. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, 2010. Hal : 253-259.

Duldner JE. Insect Bites and Stings. [online]. 2007. Available from: URL:
http://www.medlineplus

Elston DM. Bites and Stings. in: Bolognia JL, Jorizzo JL, Rapini RP, eds. Dermatology 1st ed.
London: Mosby; 2003.p.1333-4

Elston DM. Insect Bite. [online]. 2007. Avalaible from: URL:


http://www.emedicine.com/derm/topic467.htm

Gandahusada S dkk. Parasitologi Kedokteran Edisi Ketiga. Jakarta : FKUI.2006

Habif TP. Clinical Dermatology A Color Guide to Diagnosis and Therapy 4th ed. London:
Mosby; 2004.p.497-500

Handoko RP. Skabies. in: Djuanda A, ed. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Indonesia: Bagian
Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FK UI; 2003.p.119-20

Harahap, M. 2000. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: Hipocrates.

Johnson and Johnson Consumer Companies, Inc. Insect Bites. [online]. 2008. Available from:
URL: http://www.johnson&johnson.com/itch_insect_bite.jsp.htm

Karmen. Insect Bites. [online]. 2006. Available from: URL: http://www.fkuii.insectbites7

Moschella SL, Hurley HJ, eds. Dermatology 3rd ed. Philadelphia: WB. Saunders Company;
1992.p.1971

24
Murtiastutik, Dwi, dkk. Atlas Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 2.-cet.5. Surabaya : Airlangga
University Press, 2013. Hal: 169-171

Perez E. Insect Bite and Stings. [online]. 2006. Available from: URL:
http://www.umm.edu/ency/article/000033.htm

Rohmi N. Insect Bites. [online]. 2006. Available from: URL: http://www.fkuii.insectbites7

Sjamsudin U, Dewoto HR. Histamin dan Antialergi. in: Ganiswarna SG, Setiabudy R, Suyatna
FD, Purwantyastuti, Nafrialdi, eds. Farmakologi dan Terapi. Indonesia: Bagian Farmakologi
FK UI; 1998.p.249-52

Wilson DC, King LE. Arthropod Bites and Stings. in: Freedberg IM, Eisen AZ, Wolff K,
Austen KF, Goldsmith LA, Katz SI, Fitzpatrick TB, eds. Dermatology in General Medicine 5th
Volume II. New york: McGraw-Hill; 1999.p.2685-91

25