Anda di halaman 1dari 17

Tugas

BIOFARMASETIKA

ABSORBSI OBAT SECARA IN VITRO MENGUNAKAN

METODE USUS TERBALIK

OLEH :

KELOMPOK 6

NAMA : IKA PUTRI WIDYANINGSI (F1F1 13076)


FADLIANI RAMADHAN (F1F1 13 080)
JUFRIANA (F1F1 13 126)
EVI EFRIANI (F1F1 13 110)

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2017
KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Pertama-tama tidak lupa kami panjatkan puji dan syukur kepada Allah
S.W.T, karena atas rahmat dan hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah
ini dengan judul Absorbsi obat secara in vitro .
Kami berharap makalah ini dapat menambah ilmu pengetahuan bagi
penyusun dan bagi pembaca. Dalam makalah ini tentu saja masih jauh dari
kesempurnaan, sehingga kami juga berharap adanya kritik dan saran yang
membangun demi adanya perbaikan dalam makalah-makalah selanjutnya.

Kendari, Februari 2017

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada umumnya, manusia sering mengkonsumsi makanan atau obat-
obatan secara oral. Obat yang sering diberikan secara oral akan diteruskan ke
sirkulasi sistemik yang disebut sebagai proses absorbsi. Absorbsi obat
merupakan suatu proses pergerakan obat dari tempat pemberian ke dalam
sirkulasi umum didalam tubuh. Absorbsi obat dari saluran pencernaan
kedalam darah umumnya terjadi setelah obat tersebut larut dalam cairan di
sekeliling membran tempat terjadinya absorbsi. Absorbsi obat akan membaik
jika semakin baik kelarutannya dalam lipida sampai absorbsi optimal
tercapai. Faktor utama yang mempengaruhi absorbsi obat yaitu karakteristik
sifat fisika kimia molekul, properti dan komponen cairan gastrointestinal serta
sifat membran absobsi.
Luas permukaan dinding usus, kecepatan pengosongan lambung,
pergerakan saluran cerna dan alitan ke absorbsi, semuanya mempengaruhi
laju dan jumlah absobsi obat walaupun ada variasi. Usus halus mempunyai
karakteristik anatomi dan fisiologi yang lebih menguntungkan untuk
penyerapan obat. Pentingnya permukaan penyerapan pada usus halus
terutama karena banyaknya lipatan-lipatan mukosa yang terutama banyak
terdapat di daerah duodenum dan jejunum (Aiache, et al., 1993). Metode in
vitro pada usus halus mempunyai kekurangan yang disebabkan oleh
ketidakmampuan usus halus untuk mempertahankan strukturnya dalam
jangka waktu yang lama.
Metode kantung terbalik merupakan teknik in vitro yang mudah dan
cepat dilaksanakan serta dapat ditemukan seluruh tipe sel dan lapisan mukosa
sehingga mencerminkan proses/lingkungan sebenarnya saat obat mengalami
proses absorpsi di usus. Metode ini baik digunakan untuk menentukan
absorpsi pada tempat yang berbeda pada usus halus. Hal ini sangat berguna
untuk mengestimasi first-pass metabolism dari obat dalam sel epithelial
intestinal.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apakah definisi dari absorbsi obat secara in-vitro dengan menggunakan
usus terbalik?
2. Apakah yang dimaksud dengan metode usus terbalik?
3. Apakah faktor-faktor yang mempengaruh absobsi obat secara in-vitro?
C. Manfaat Penulisan
Manfaat dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apakah definisi dari absorbsi obat secara in-vitro dengan menggunakan
usus terbalik.
2. Apakah yang dimaksud dengan metode usus terbalik.
3. Apakah faktor-faktor yang mempengaruh absobsi obat secara in-vitro.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Absorbsi Obat
Absorbsi atau penyerapan zat aktif adalah masuknya molekul-molekul
obat kedalam tubuh atau menuju ke peredaran darah tubuh setelah melewati
sawar biolitik. Absorbsi obat adalah peran yang terpenting untuk akhirnya
menetukan efektivitas obat. Agar suatu obat dapat mencapai tempat di
jaringan atau organ, obat tersebut harus melewati berbagai membran sel. Obat
pada umumnya di absorbsi dari saluran pencernaan secara difusi pasif melalui
membran seluler. Absobsi obat adalah langkah utama untuk disposisi obat
dalam tubuh dari sistem LADME (liberasi-absorbsi-distribusi-metabolisme-
ekskresi). Bila pembebasan dari bentuk sediaannya (liberasi) sangat lambat,
maka disolusi dan juga absorbsinya lama sehingga dapat mempengaruhi
efektivitas obat secara keseluruhan.
Studi absorbsi in-vitro dimaksudkan untuk memperoleh informasi
tentang mekanisme absorbsi suatu bahan obat, tempat terjadinya absorbsi
yang optimal, permeabilitas membran saluran pencernaan terhadap berbagai
obat, serta pengaruh berbagai faktor terhadap absorbsi suatu obat.
B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Absorbsi Obat
1. Ukuran Partikel Obat
Faktor ukuran partikel ini sangat penting karena semakin kecil ukuran
partikel obat, maka obat akan semakin cepat larut dalam cairan.
2. Kecepatan Disolusi Obat
Kecepatan disolusi obat berbanding lurus oleh luas permukaan, jadi
setelah obat pecah menjadi granul dalam saluran pencernaan/organ
pencernaan, maka luas permukaannya juga akan semakin besar maka
disolusi obat juga semakin besar.
3. Kelarutan Dalam Lipid/Air
Dalam faktor ini dipengaruhi oleh koefisien partisi obat. Koefisien partisi
merupakan perbandingan obat dalam fase air (polar) dan fase minyak
(nonpolar). Perlu diketahu bahwa medium pelarutan obat merupakan zat
polar, sedangkan tempat absorbsi contohnya dinding usus sebagian besar
adalah nonpolar. Jadi koefisien partisi ini sangat penting dalam
menentukan absobsi obat. Semakin besar koefisien partisi, maka semakin
besar pula kekutan partikel obat tersebut untuk menembus
membran/dinding usus, begitu pula sebaliknya obat yang memiliki
koefisien partisi yang kecil, berarti obat tersebut lebih mudah larut dalam
zat polar, telah diketahui sebelumnya bahwa tempat untuk absorbsi obat
sebagian besar adalah nonpolar, maka obat-obatan yang seperti ini sulit
untuk diabsobsi,
4. Aliran Darah Pada Tempat Absorbsi
Aliran darah akan membantu pada proses absorbsi obat yaitu mengambil
obat menuju ke sirkulasi sistemik. Semakin besar aliran darah maka
semakin besar obat pula untuk di absorbsi.
5. Kecepatan Pengosongan Lambung
Obat yang di absorbsi di usus akan meninggkat proses absorbsinya jika
kecepatan pengosongan lambung besar dan sebaliknya.
6. Pengaruh Makanan Atau Obat Lainnya
Beberapa makanan atau obat dapat mempengaruhi absobsi obat lainnya.
7. Cara Pemberian
Pada pemberian ini dibedakan menjadi dua, yaitu obat yang diberikan
secara interal dan secara parenteral. Pada pemberian enteral ini contohnya
seperti pemberian secara oral, sublingual, dan secara perektal. Sedangkan
pada pemberian parenteral seperti injeksi dan inhalasi.
C. Metode In-Vitro Usus Terbalik
Metode uji in-vitro adalah metode uji absorbsi yang dilakukan diluar
tubuh mahluk hidup, dapat menggunakan organ terisolasi maupun lainnya.
Uji in-vitro terdiri atas beberapa jenis diantaranya uji permeasi (uji difusi,
metode usus terbalik, maupun caco-2 cell monolayer), uji disolusi maupun uji
disintegrasi.
1. Metode Usus Terbalik
Adalah metode yang menggunakan usus halus tikus untuk
menentukan parameter kinetik transport secara riliabel dan reproduksibel.
Metode ini mutlak memerlukan oksigenasi jaringan usus untuk menjaga
viabilitas jaringan yang hanya bertahan maksimal selama 2 jam. Awalnya,
studi ini hanya digunakan untuk mempelajari tranport makro molekul dan
liposom namun sekarang telah dikembangkan untuk studi transport
paraseluler obat-obat yang bersifat hidrofil serta mempelajari pengaruh
enhancer dalam absorbsi obat.
Keuntungan metode usus terbalik adalah
a. dapat digunakan untuk menentukan transport pada berbagai segmen
usus halus
b. sebagai studi pendahuluan obat untuk transport pada kolom
c. mengestimasi level first past metabolisme obat pada sel epitelial usus.
Kerugian metode usus terbalik adalah :
Keberadaan muskularis mukosa menyebabkan obat bergerak dari
lumen ke lamina propia dan menembus muskularus mukosa sehingga
menyebabkan obat-obat tertentu dapat terikat dengannya dan
menyebabkan transport yang terukur lebih r.endah dari yang seharusnya.
D. Jurnal Absorbsi Obat secara in vitro menggunakan metode usus terbalik
1. Judul : In vitro and In situ Absorption Studies of Vasicine in Rats
2. Pendahuluan :
Vasicine adalah senyawa bioaktif alkaloid pyrralazoquinazoline
yang diisolasi dari ramuan obat Adhatoda zeylanica yang juga dikenal
sebagai Justacia adhatoda (Keluarga-Acanthaceae) yang dilaporkan
memiliki efek sebagai bronkodilator dan ekspektoran. Metode biologis in
vitro ini digunakan untuk melihat permeabilitas mukosa gastrointestinal
terhadap obat-obatan. Teknik ini diterapkan agar bisa melihat atau
memprediksi bioavailabilitas setelah pemberian oral dan didasarkan pada
metode Murni matematis, in vitro permeasi / studi serapan untuk perfusi.
Tidak ada laporan penelitian tentang Situs penyerapan untuk vasicine atau
ekstrak Vasaka dengan menggunakan berbagai macam pelarut. Sekarang
dilakukan Percobaan yang menggambarkan tentang penyerapan intestinal
in vitro Vasicine untuk melihat penilaian permeabilitas dan uga
penyerapan vasicine dari metanol dan Ekstrak etanol vasaka dengan teknik
Doluisio., Serapan kinetika standar vasicine (V1), vasicine dari ekstrak
metanol (V1M) dan vasicine dari Ekstrak etanol (V1E) yang akan
dilakukan perbandingan
3. Bahan dan metode :
Vasicine (> 97% murni oleh HPLC) dibeli dari Divisi Obat SPIC,
Marai Malai Nagar, Chennai, India. Metanol (kadar HPLC) dan air (HPLC
grade) diperoleh dari Merck Limited, India dan Nice Chemicals Pvt. Ltd.
Sementara semua bahan kimia lain yang digunakan dalam percobaan
tersebut adalah Kelas analitis.
a. Bahan dan ekstrak tanaman:
Tanaman Adhatoda zeylanica (keluarga-Acanthaceae) yang
diperoleh dari pasar lokal yang disahkan oleh Departemen Botani,
Poorna Pragna College, Udupi, India dan spesimen voucher yang telah
ada dan disimpan di Departemen Farmakognos, MCOPS, Manipal (PP-
537 A). Daun yang tidak terinfeksi adalah naungan kering, bubuk dan
diekstraksi dengan 80% Etanol dengan maserasi selama 36 jam pada
suhu kamar. Ekstrak cairan yang dihasilkan diuapkan sampai kering di
bawah hampa udara untuk menghasilkan hasil ekstrak kering 4,2%
Standar untuk 1,5% b / b vasicine. Standar Ekstrak metanol yang
mengandung 1,3% w / w vasicine yang diperoleh sebagai sampel dari
Sami Labs., Bangalore, India. Identifikasi vasicine pada kedua ekstrak
tersebut Dilakukan dengan metode TLC seperti yang diberikan pada
Pharmacopoeia Herbal India.
b. Kondisi kromatografi:
Shimadzu HPLC SCL-10AVP dilengkapi dengan LC- Pompa 10
ATVP dan detektor SPD-10-AVP UV (Shimadzu Corp., Jepang).
Kolom yang digunakan adalah Luna 5-C18 (2) dari 250 4,6 mm id
(Fenomenex, AMERIKA SERIKAT). Metanol dan air di rasio 40:60 itu
gigunakan sebagai fase gerak. Tingkat alir dipertahankan pada 0,7 ml /
menit dan deteksi dilakukan pada max pada 298 Nm.
Spektrofotometer Shimadzu UV / Vis Model PC UV-1601 digunakan
untuk mengukur Absorbansi. Vasicine dilarutkan dalam metanol untuk
membuat larutan standar 100 g / ml. 20 mikrolit larutan standar ini
Disuntikkan ke dalam sistem HPLC dan area Nilai puncak dan waktu
retensi dicatat (gambar 1).
c. Metode HPLC:
Persentase pemulihan dihitung dengan penambahan jumlah vasikal
yang telah diketahui menjadi larutan buffer yang ditambahkan 20 l
amonia. Dilakukan ekstraksi dengan 5 ml khloroform. Ekstrak
kloroform dikumpulkan, dikeringkan dan Natrium sulfat anhidrat
diuapkan sampai kering. Dalam vakum Ekstrak kloroform dikeringkan,
dilarutkan kembali dengan 1 ml metanol dan disuntikkan ke dalam
sistem HPLC. Disiapkan stok standar vasicine di KrebsHenseleit
Buffer6 (100 g / ml). Untuk lebih lanjut pengenceran dilakukan
dengan penyangga untuk mendapatkan aliquot konsentrasi 2, 4, 6, 8, 10
dan 12 g / ml yang berbeda dengan 10 ml labu volumetrik. Vasicine
diekstrak sebagaimana yang telah fijelaskan sebelumnya, dilarutkan
dalam 1 ml metanol dan lalu disuntikkan ke dalam sistem HPLC.
puncak daerah itu dicatat untuk semua konsentrasi yang diuji dan
standarnya Plot diplot dengan konsentrasi (g / ml) pada absis dan
daerah puncak di ordinat.
d. Metode UV:
Satu mililiter ekstrak yang mengandung sejumlah vasicine
dimasukkan dalam larutan garam dan digojog dengan baik dengan 20
l larutan amonia dan kemudian dipanaskan lalu didinginkan, vasicine
diekstrak dengan menggunakan Kloroform (3 2,5 ml). Campuran itu
digojog dengan baik lalu disentrifugasi dan ekstrak kloroform yang
dipisahkan dengan natrium sulfat anhidrat ditambahkan untuk
dilepaskan Jejak kelembaban. Ekstraknya menguap. Untuk kekeringan
di bawah vakum Vasicine dilarutkan Dengan 1 ml garam dan
absorbansinya diukur Pada max dari 281 nm menggunakan
Spektrofotometer UV.
Larutan stok vasicine 10 g / ml dalam saline Disiapkan untuk
digunakan ultrasonik. Dari stok ini Larutan, serangkaian pengenceran
(1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 dan 10 g / ml) dibuat dengan menggunakan
garam. Penyerapan Diukur dengan menggunakan spektrofotometer UV
pada max 281 Nm dan grafik standar diplot dengan konsentrasi (g /
ml) pada absis dan absorbansi pada ordinat

e. Percobaan hewan
Tiga tikus Wistar sehat normal dari duajenis kelamin. Dengan berat
antara 150-200 g. Percobaan dari koloni inbrida dipertahankan. Di
bawah kondisi suhu yang terkendali (23 2 ), kelembaban (50 5%)
dan cahaya (10 dan 14 H dari cahaya dan kegelapan ). Binatang
Berpuasa semalaman tetapi tetap diberi minum. Sebelum percobaan
Penelitian ini disetujui Oleh Komite Etika Hewan Kelembagaan
(IAEC), Kasturba Medical College, Manipal (IAEC /KMC / 80 / 2001-
2002).
f. Penilaian in vitro permeabilitas:
Tikus diberi anastesi ringan lalu dibelah dibagian bawah perut
tikus. Berbagai segmen usus disimpan, dicuci dengan garam dan
dimasukkan ke dalam penyangga untuk dilakukan Metode kantung
intestinal yang Digunakan untuk melihat penyerapan. Bagian (2-4 cm)
Dari berbagai segmen saluran usus diikat satu ujungnya dan
digerakkan dengan menggunakan batang kaca sehingga bisa
dipaparkan Lapisan mukosa ke permeant. Kantung yang terisi buffer
diikat di ujung yang lain dan dimasukkan ke dalam Flour yang
mengandung vasicine (10 g / ml) dalam oksigen (95% O2 5%
CO2)kemudian ditambahkan Penyangga Krebs-Henseleit sebanyak 10
Glukosa mM. Setelah 30 menit, kantungnya Dipotong dan terbuka di
salah satu ujungnya dan serabut serabut dikumpulkan dari berbagai
bagian segmen berbeda didalam tabung.
g. Analisis sampel dengan HPLC:
Tabung yang berbeda yang mengandung sampel cairan serosa
(masing-masing 1 ml) yang dikumpulkan, kemudian Usus dan kolon
di vortex selama beberapa detik. Dimasukkan siklopiks dengan 20 l
larutan kuat amonia. Sampel kemudian diekstraksi dengan Kloroform
(3x5 ml). Ekstrak dikeringkan dengan natrium sulfat anhidrat.
Dikeluarkan kotoran yang larut dalam air dan yang terpisah. Ekstrak
kloroform diuapkan sampai kering dalam vakum. Ekstrak yang
berbeda dilarutkan dengan satu ml Dari metanol dan kemudian
disuntikkan ke dalam sistem HPLC. Waktu retensi dan area puncak
dicatat dan Konsentrasi vasicine ditentukan dari standar yang telah
direncanakan.
h. Analisis data perfusi usus:
Permeabilitas usus stabil yang bagus (Peff Cm / s) pada tikus
dihitung dengan menggunakan tabung parallel Model yaitu perfusi
dari pintu masuk di salah satu ujungnya segmen usus ke jalan keluar
di ujung lain segmen usus seperti yang diberikan pada Pers. 1,
Peff = - Qin ln (Cout / Cin) / A,
di mana :
- Qin adalah laju perfusi,,
- Cin dan Cout adalah transport cairan masuk dan keluar yang
dikoreksi konsentrasi vasicine.
- A adalah massa Transfer luas permukaan dalam segmen usus yang
danggap sebagai silinder dengan panjang 10 cm
4. Hasil dan Diskusi
Eversi daerah usus dilakukan dengan memaksimalkan kontak
antara jaringan dengan tingkat penyerapan dan zat terlarut. Sebagai
segmen terbalik Diklaim bisa bertahan selama 30-60 menit, mereka
dipertahankan sebelum digunakan secara fisiologis. Transportasi obat
Diketahui menurun secara signifikan pada menit pertama menit pada
hewan yang dibunuh oleh dislokasi serviks Sebelum melepas segmen .
Oleh karena itu dalam penelitian ini, Usus diisolasi dengan anestesi untuk
menghindari adanya kerusakan pada jaringan. Analisis dari Sampel
dilakukan dengan menggunakan teknik HPLC. Persentase pemulihan
vasicine Ditemukan yaitu 95,8 3,26%. Plot standar itu ditemukan
dengan linier untuk konsentrasi Koefisien regresi linier R2 Dari 0,999.
Hasilnya dapat dtunjukkan dalam gambar 2. Duodenum menunjukkan
maksimum Penyerapan (87,3 5,2556%) vasicine sementara yang paling
sedikit diamati dari titik dua (42,6 7,314%). Jejunum dan ileum
menunjukkan penyerapan 77,2 3,415% dan vasicine 46,9 3,271%.
Tingkat penyerapan usus pada manusia dapat diprediksi dari nilai
permeabilitas usus diukur secara in situ pada tikus dengan perfusi lintang
tunggal dan Nilai dapat digunakan untuk memperkirakan tingkat lisan
Penyerapan obat pada manusia, terlepas dari mekanisme. Untuk senyawa
yang diangkut secara pasif, Urutan tingkat permeabilitas yang efektif telah
ditemukan Untuk menjadi sama di segmen jejunal proksimal perfusi Dari
manusia dan tikus. Penyerapan steroid, Hormon estron, oestrone
glucuronide dan estron Sulfat dari usus kecil tikus yang dianestesi Telah
dievaluasi dengan teknik Doluisio in situ Dan hilangnya luminal yang
ditentukan dalam penelitian Oleh Sim dan Back17. Park dan rekan kerja
dilakukan Studi tentang pola penyerapan prostaglandin Dinoprost di
jejunum tikus menggunakan teknsik Doluisio yang dimodifikasi. Dalam
karya ini, sebuah usaha telah dilakukan dibuat untuk mempelajari pola
penyerapan untuk vasicine dari ekstrak metanol dan etanol vasaka
Menggunakan teknik Doluisio. Koefisien regresi Dari kurva standar
ditemukan R2= 0,999 Dan rata - rata persentase pemulihan vasicine dari
Kedua ekstrak dalam larutan garam ditemukan 97 1,14. Hilangnya obat
tersebut sudah ditentukan Dari kurva standar. Grafik farmakokinetik
Diplot dengan meluangkan waktu (min) pada absis dan jumlah obat (g)
diserap pada ordinat untuk mempelajari pola absorpsi hingga 70 menit.
Sementara Standar vasikal menunjukkan penyerapan yang mantap dan
Mencapai konsentrasi maksimum 45 g pada 50 Min, ekstrak etanol
mencapai penyerapan maksimal dari vasicine (30 g) dalam 20 menit
setelah itu ada penurunan tingkat penyerapan. Penyerapan lebih lanjut
yaitu hanya 10 g vasicine yang dicapai antara 20 sampai 60 menit
Ekstrak metanol menunjukkan penyerapan yang buruk Dibandingkan
dengan ekstrak etanol dengan maksimal Konsentrasi hanya 10 g yang
dicapai setelah 40 menit. Tingkat penyerapan semua sampel yang diuji
Ditemukan mengikuti kinetika Orde Pertama dan menunjukkan Kurva
sigmoidal (gambar 3). Seperti usus yang efektif Permeabilitas (Peff)
adalah salah satu variabel kunci mengendalikan tingkat penyerapan usus
secara keseluruhan, itu Dapat digunakan terlepas dari mekanisme
transportasi Melintasi mukosa usus Dari hasil in vitro
5. Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwapPenyerapan vasicine senyawa
monobasic ditemukan maksimum di pH usus daripada pada pH asam
sehingga menunjukkan bahwa ketersediaannya mungkin lebih dalam
bentuk yang tidak terionisasi. Meskipun penyerapan vasikal terjadi di
berbagai bidang daerah saluran gastrointestinal. Penelitian ini
menggunakan teknik Doluisio khususnya mengungkapkan jejunum
sebagai situs penyerapan terbaik. Penyerapan vasicine dari ekstrak etanol
lebih baik dibandingkan dengan ekstrak metanol dan karenanya dapat
dipertimbangkan sebagai ekstrak terbaik untuk persiapan formulasi. Sejak
80% etanol telah digunakan untuk ekstraksi, air konstituen polar dapat
juga digunakan diekstraksi. Ini tidak ada dalam ekstrak metanol dan akan
bertanggung jawab atas peningkatan penyerapan vasicine dari ekstrak
etanol standar. Pekerjaan selanjutnya membayangkan persiapan formulasi
oral yang sesuai dari vasaka dengan bioavailabilitas maksimum.
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini adalah :
a. Absorbsi atau penyerapan zat aktif adalah masuknya molekul-molekul obat
kedalam tubuh atau menuju ke peredaran darah tubuh setelah melewati
sawar biolitik. Studi absorbsi in-vitro dimaksudkan untuk memperoleh
informasi tentang mekanisme absorbsi suatu bahan obat, tempat terjadinya
absorbsi yang optimal, permeabilitas membran saluran pencernaan terhadap
berbagai obat, serta pengaruh berbagai faktor terhadap absorbsi suatu obat.
b. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Absorbsi Obat yaitu ukuran partikel,
Kecepatan Disolusi Obat, Kelarutan Dalam Lipid/Air, Aliran Darah Pada
Tempat Absorbsi, Kecepatan Pengosongan Lambung, Pengaruh Makanan
Atau Obat Lainnya, dan cara pemberian
c. Metode uji in-vitro adalah metode uji absorbsi yang dilakukan diluar tubuh
mahluk hidup, dapat menggunakan organ terisolasi maupun lainnya. Uji in-
vitro terdiri atas beberapa jenis diantaranya uji permeasi (uji difusi, metode
usus terbalik, maupun caco-2 cell monolayer), uji disolusi maupun uji
disintegrasi. Metode usus terbalik Adalah metode yang menggunakan usus
halus tikus untuk menentukan parameter kinetik transport secara riliabel dan
reproduksibel. Metode ini mutlak memerlukan oksigenasi jaringan usus
untuk menjaga viabilitas jaringan yang hanya bertahan maksimal selama 2
jam.
DAFTAR PUSTAKA

Binarjo Annas, Akhmad Kharis Nugroho, 2014, Permeasi Transdermal Losartan


In vitro dari larutan dengan variasi kadar losartan dan propilen glikol,
Jurnal Valensi, 4(1).
Pankaj Dixit, Dinesh Kumar Jain, Jacky Dumbwani, 2012, Standardization of an
ex vivo method for determination of intestinal permeability of drugs using
everted rat intestine apparatus, Journal of Pharmacological and
Toxicological Methods, 65.
Thomas J. Franz, M.D., 1975, Percutaneous Absorption. On The Relevance Of In
Vitro Data, The Journal Of Investigative Dermatology, 64(90-195).