Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

Rata-rata usia kandungan adalah 9 bulan 10 hari, setara dengan jumlah hari sejak
habis tanggal han-han tasyrik pada saat Idul Adha sampai tanggal 1 Idhul Fitri bulan Syawal.
Pada saat sekitar usia itulah, maka Allah memberikan iradah dan qidrahnya kepada si bayi,
yang disertal tangisannya, maka dia keluar dan alam kandungan sebagai rumah pertama
fsiknya, menuju dunia, di mana hidupnya dimulai untuk menjalankan berbagai misi da
Allah, berjuang dengan penuh kerja keras dan dibalut berbagai cobaan, agar kelak dapat
keluar dan dunia dengan bahagia. Ketika sang bayi lahir dengan menangis, maka kita lihat,
orang-orang di sekitarnya, keluarga dan tetangga justru tersenyum, gembira dan bersyukur.
Terkait dengan hal itu, dalam dunia syair Arab dikenal syair yang popular, mengingatkan kita
ketika dilahirkan, dan bagaimana seharusnya menjalani hidup di dunia ini:

Hal manusia, engkau dilahirkan dengan menangis,


Dengan orang - orang sekitarmu tersenyum karena bahagia.
Maka berjuanglah (mencari ridhaAllah) untuk dirimu, agar saat
mereka menangis di hari kematianmu, engkau tersenyum karena bahagia.

Masyarakat Jawa terkenal dengan keteguhannya mempertahankan dan melestarikan


tradisi nenek moyangnya. Setelah Islam masuk, para ulama seperti wali songo memodifikasi
kebudayaan yang berbau mistik dan tahayyul kepada tradisi yang sesuai dengan norma-
norma Islam. Tradisi Jawa mengenai kelahiran seorang anak misalnya, sebenarnya sudah
berlangsung sejak lama, bahkan penuh dengan pengkultusan, kemusyrikan dan
kemubadziran. Lalu oleh usaha kreatifitas wali songo diubahlah kebiasaan tersebut menjadi
sebuah tradisi yang Islami. Di antara kebiasaan yang lazim dilakukan orang Jawa yang telah
diakulturasikan dengan tradisi Islam berkenaan dengan kelahiran seorang anak seperti yang
akan dijelaskan oleh penulis.

1
BAB II
PEMBAHASAN

1. Adzan dan Iqamah Bagi Bayi Yang Baru Lahir


Adzan dan iqamah adalah kalimat dakwah yang sempurna, pula yang keberadaannya
merupakan salah satu tonggak awal berdirinya ajaran Islam. Lantunan adzan secara hukum
syari tidak hanya dikumandangkan pada saat akan melaksanakan ibadah shalat saja, namun
boleh dilakukan kapan saja, termasuk ketika sang bayi baru lahir dari rahim ibunya.
Para ulama sepakat bahwa sunnah hukumnya mengumandangkan adzan dan iqamah
ketika bayi baru lahir. Kesunnahan ini dapat diketahui dari sebuah hadits berikut:

Dari Ubaidah r.a. dari ayahnya, ia berkata, Aku melihat Rasulullah saw.
mengumandangkan adzan di telinga Husain bin Ali r.a. ketika Fatimah melahirkannya.
(Yakni) dengan adzan shalat (HR. Abu Daud).

Selain hadits di atas, anjuran disunnahkannya adzan dan iqamah pada sang bayi
beralasan bahwa sebelum mendengarkan ucapan atau suara lain dari luar, alangkah baiknya
sang bayi terlebih dahulu mendengarkan kalimat tauhid untuk mengingatkan janji yang telah
diikrarkan oleh sang bayi ketika berusia 4 bulan di dalam kandungan di hadapan Allah.
Firman Allah:

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan anak-anak Adam dari tulang sulbi mereka,
dan Allah mengambil janji terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), Bukankah Aku (Allah)
ini Tuhan kalian? Mereka menjawab, Benar (Engkaulah Tuhan kami), kami menjadi
saksi (QS. Al-Araf: 172)

Selain itu, suara adzan juga berfaedah untuk mendidik aqidah dan kepercayaan yang
benar dan merupakan awal dari serangkaian proses pendidikan selanjutnya. Hanya dengan

2
aqidah yang benar sajalah seseorang dapat mengarungi hidup secara sempurna melalui tauhid
yang benar demi kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Pelaksanaan adzan dan iqamah dilakukan pada saat sang bayi sudah dibersihkan dari
cairan dan kotoran lainnya. Lantunan adzan dikumandangkan di telinga bayi sebelah kanan,
sedangkan iqamah dilantunkan di telinga bayi sebelah kiri. Hal ini berfungsi agar kedua
telinga sang bayi terbentengi oleh suara kalimat tauhid. Ditambah kalimat Qad qaamatis
shalah pada saat iqamah yang mengisyaratkan bahwa terdapat penegasan tentang
penghambaan diri manusia kepada Allah dan sebagai sarana berkomunikasi antara manusia
dengan Allah melalui penegakan shalat.
Dengan demikian, pelantunan adzan dan iqamah bertujuan tidak lain sebagai sarana
doa serta seruan kepada bayi agar senantiasa beriman dan bertaqwa kepada Allah swt.

2. Tahnik dan Brokohan Untuk Bayi


Tahnik artinya suapan pertama dari makanan yang diberikan pada bayi yang baru
lahir. Pada umumnya, makanan yang akan ditahnik terlebih dahulu dilumat atau dihaluskan,
kemudian diberikan kepada sang bayi sambil menggosok-gosokkannya kelangit-langit mulut.
Terkadang makanan yang akan diberikan juga diberi madu dengan maksud sebagai pelatihan
bagi sang bayi untuk dapat makan, memberikan rangsangan terhadap makanan dan minuman,
dan menjaga kondisi fisik dan kesehatan bayi agar tahan terhadap serangan penyakit.
Brokohan artinya meminta doa dan keberkahan. Maksudnya ialah serangkaian acara
mulai dari pelaksanaan adzan dan iqamah di telinga bayi, memohon doa kepada para ulama
dan masyarakat bagi keselamatan si jabang bayi hingga memberi nama dalam rangka
memperingati kelahiran bayi dalam wujud selamatan atau kenduri.
Pelaksanaan brokohan sudah menjadi tradisi yang sudah turun-temurun dilakukan
oleh masyarakat Asia Tenggara dan sebagian masyarakat muslim Indonesia, sebab asal-usul
tradisi ini sebenarnya meniru kebiasaan yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. 1400
tahun yang lalu. Dalam sebuah hadits disebutkan:

3
Dari Aisyah r.a. berkata: Asma binti Abu Bakar telah keluar sewaktu hijrah. Padahal pada
waktu itu ia sedang berat mengandung bayi Abdullah bin Zubair. Pada saat ia melewati dan
sampai di Quba, ia melahirkan Abdullah. Setelah lahir, ia keluar menemui Rasulullah saw.
supaya beliau meletakkan sesuatu pada langit-langit mulut anaknya. Lalu Rasulullah saw.
mengambil anak tersebut darinya dan meletakkannya ke pangkuannya, kemudian beliau
meminta buah kurma. Aisyah berkata, Kami harus mencarinya terlebih dahulu sebelum
diberikan kepada beliau. Beliau meludahkannya ke dalam mulut anak tersebut sehingga
yang pertama kali masuk ke perutnya adalah ludahnya Rasulullah saw. Selanjutnya Asma
berkata, kemudian Rasulullah saw. mengusap kepala anak tersebut sembari mendoakannya
dan menamainya dengan nama Abdullah. Kemudian apabila anak itu berumur tujuh ata
delapan tahun, ia datang dan berbaiat kepada Rasulullah saw., karena ayahnya, Zubair,
memerintahkannya berbuat demikian. Rasulullah saw. tersenyum ketika melihat anak itu
menghadapnya, kemudian ia berbaiat kepada beliau. (HR. Muttafaqun Alaih, al-Bayan,
hadits no. 1257).
Dalam hadits lain juga diceritakan:

Diriwayatkan oleh Aisyah r.a. isteri Nabi saw, katanya: Rasulullah saw. selalu diserahkan
beberapa orang bayi supaya didoakan dengan keberkatan serta mentahnik mereka. Sebaik
sahaja beliau diserahkan seorang bayi, bayi tersebut kencing diatas beliau. Beliau meminta
sedikit air kemudian mencurahkannya di atas kencing tersebut tanpa membasuhnya. (HR.
Muttafaqun Alaih, al-Bayan, hadits no. 158).
Jadi tidak benar apabila tradisi ini disebut-sebut sebagai bidah yang dilarang dalam
Islam hanya karena sebab tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Sehingga
munculnya tradisi ini walaupun secara penyebutan istilah berbeda dengan apa yang pernah
dilakukan oleh beliau, tetapi intinya sama saja tetap bersumber dari sunnah Rasulullah saw.

4
3. Ritual Barakahan
Sebagaimana acara brokohan di atas, setiap bayi yang baru lahir kemudian oleh
Rasulullah saw. didoakan. Doa merupakan salah satu komponen paling penting dalam Islam
dan sebagai perisai orang-orang mukmin. Tak terkecuali bagi sang bayi, sangat dianjurkan
untuk didoakan agar ia memperoleh kebaikan dalam beragama Islam dan kebahagiaan di
dunia maupun akhiratnya. isteri Rasulullah saw, Aisyah r.a. menuturkan:

Setiap bayi yang dihadapkan kepada Rasulullah saw., maka beliau mendoakannya,
menyuapinya dengan kurma yang sudah dikunyah, dan mendoakannya dengan keberkahan
(HR. Abu Daud).
Pelaksanaan doa dalam acara barakahan di antaranya:
1. Ayat Kursi 7 kali,
2. Surat Alam Nasyrah 3 kali,
3. Surat al-Qadr 7 kali,
4. Surat al-Ikhlas 7 kali,
5. Surat al-Falaq 1 kali
6. Surat an-Naas 1 kali
7. dan Surat al-Fatihah 1kali, dan dilanjutkan dengan doa:

Dan sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar bayi beserta keturunannya terhindar
dari godaan syetan yang terkutuk (QS. Ali-Imran: 36).
Sedangkan para tetangga dan kerabat dekat dianjurkan untuk menjenguk saudaranya
yang sedang dikaruniai anak. Hal ini dimaksudkan untuk mendoakan anak tersebut supaya
menjadi anak yang shaleh dan berbakti kepada orang tua.

4. Mengebumikan Ari-Ari
Mengebumikan ari-ari dalam istilah lain ialah mengubur tali pusar yang sewaktu
masih berada di dalam kandungan ibunya menjadi bagian dari tubuh sang bayi. Dalam tradisi
Islam, semua yang termasuk bagian dari tubuh manusia dianjurkan dikubur atau
dikebumikan, seperti kuku, rambut dan bagian-bagian tubuh yang lain akibat pembunuhan

5
atau kematian seseorang yang tidak lazim. Termasuk tali pusar (ari-ari), darah dan semua
yang menyertai kelahiran bayi ini tetap disyariatkan untuk dikubur.
Tradisi mengebumikan ari-ari ini sudah cukup populer dikenal oleh masyarakat Jawa
sejak dahulu yang hingga saat inipun masih tetap dilestarikan. Merujuk pada ketentuan
syariat, masyarakat muslim Jawa meyakini bahwa tradisi seperti ini menjadi suatu hal yang
sangat utama, ari-ari beserta batirnya supaya dikebumikan layaknya orang yang sudah
mati. Sebab, mengubur anggota badan atau semua yang termasuk di dalamnya adalah anjuran
yang sangat ditekankan demi menghormati (memuliakan) pemiliknya.
Semua anggota-anggota tubuh manusia, sebagaimana di atas adalah organ-organ vital
ketika sang bayi berada dalam kehidupan di alam kandungan. Namun atas qudrah dan
sunnatullah, di saat sang bayi berpindah dari alam kandungan menuju alam dunia, organ-
organ ini akan tidak berfungsi dan mengalami kematian dengan sendirinya. Sehingga organ-
organ tersebut ketika masih berada di dalam kandungan ibunya juga memiliki nyawa selama
mendampingi anaknya hingga melahirkan. Maka dari itu, wajar bila masyarakat
memperlakukannya sebagaimana manusia, yakni dengan mengebumikan atau menguburnya.
Adapun pelaksanaannya ialah seperti proses pemakaman, namun dalam pengebumian
ari-ari ini, ditambah dengan pemberian kunyit, bunga, dan lainnya. Terkadang ditambah pula
dengan pemasangan lampu, lilin dan dimasukkan ke dalam takir. Akan tetapi penambahan
ini dianggap sangat berlebihan dikarenakan tidak adanya kejelasan akan maksud dan
tujuannya secara syari, sehingga dipandang haram hukumnya dalam norma agama.

5. Tradisi Njagong Bayi dan Sepasaran


Sebagaimana syukuran dan barakahan di atas, tradisi njagong atau majelis dzikir
bagi kelahiran sang bayi juga ditradisikan oleh masyarakat Jawa pada umumnya. Para
tetangga dan sanak saudara diundang untuk datang ke tempat orang yang baru melahirkan
dalam rangka membaca doa dan dzikir. Acara ini ditujukan sebagai rasa syukur dan ungkapan
kebahagiaan atas kelahiran si jabang bayi selaku calon generasi penerus bagi keluarga dan
masyarakat sekitar.
Kata njagong ini berasal dari bahasa jawa yang berarti duduk-duduk bercengkerama
bersama sambil menikmati hidangan. Para undangan datang dalam rangka turut berbahagia
atas kelahiran sang buah hati dari orang yang mempunyai hajat. Tuan rumah juga ikut
njagongi (menemani ngobrol) para undangannya sambil makan bersama, yang makanan yang
disuguhkan tersebut dimaksudkan sebagai sedekah.
Dalam pelaksanaan njagong ini, para undangan beserta tuan rumah diminta untuk
membacakan kitab-kitab Maulid Nabi Muhammad saw, seperti al-Barzanji (berzanjian),

6
shalawat Burdah Syaikh al-Bushairi (burdahan), dan kitab maulid ad-Dibai (dibaan),
terkadang pula dibacakan kitab manaqib. Pembacaan beberapa kitab-kitab tersebut
dimaksudkan untuk memohon keberkahan kepada Allah melalui kemuliaan Rasul-Nya
sehingga semua yang dihajatkan mendapat ridha dari Allah swt. Tradisi ini berlangsung lima
hari hingga pada puncak acaranya ialah pada hari kelima, yakni diadakan tradisi sepasaran.

6. Menindik Telinga Bagi Anak Perempuan


Khusus anak perempuan, pada saat pelaksanaan aqiqah biasanya disertai dengan
tradisi melubangi daun telinga yang nantinya dimaksudkan untuk tempat dipasangnya anting-
anting atau tindik. Tradisi ini memang belum ada pada zaman Rasulullah dengan tidak
adanya pernyataan langsung dari beliau tentang hal ini. Sehingga tradisi menindik telinga
anak perempuan dihukumi boleh (mubah) asal diniatkan untuk tempat perhiasan semata.
Namun untuk anak laki-laki hukumnya makruh, bahkan haram apabila akan menyerupai
wanita.
Tradisi menindik ini sebenarnya sudah ditradisikan oleh Nabiyullah Ibrahim as.
Ceritanya ialah suatu ketika Nabi Ibrahim diusir oleh keluarganya karena menyebarkan
agama Tauhid. Kemudian dia lari ke utara (ke arah Haran). Di sanapun juga dimusuhi
masyarakat sehingga ia pindah ke Kanaan (Palestina Selatan). Namun karena suatu sebab, ia
dan isterinya pindah kembali ke Mesir. Ternyata disana terdapat seorang Raja yang justru
menginginkan isterinya, yang tak lain bernama Sarah. Kemudian Ibrahim mencari akal agar
istrinya supaya tidak jadi diperistri oleh Raja tersebut, yaitu dengan cara melubangi daun
telinga milik Sarah. Menurut masyarakat Mesir pada masa lalu, wanita yang diketahui
telinganya lubang dikategorikan sebagai orang yang cacat, yang menandakan bahwa ia adalah
seorang budak. Dengan demikian, sang Raja mengurungkan niatnya untuk memperisteri
Sarah.
Setelah tidak jadi memperistri Sarah, sang raja malah menghadiahkan seorang wanita
dari keturunan Habsyi kepada Ibrahim. Wanita tersebut tak lain adalah Hajar, ibunda Ismail.
Beberapa saat kemudian, Sarah kaget dan marah-marah ketika melihat daun telinganya
berlubang. Maka dari itu, Ibrahim menutupi daun telinga istrinya dengan emas agar ia lebih
kelihatan cantik. Nah, dari kisah inilah kemudian berkembang menjadi budaya masyarakat
setempat, tak terkecuali oleh masyarakat Jawa.
Tidak hanya menindik daun telinga perempuan, khitan bagi anak laki-laki juga
merupakan tradisi dari Nabi Ibrahim as. yang sampai saat ini tetap dilaksanakan. Begitupun
budaya memakai sarung, yang akar sejarahnya juga berasal dari bapaknya Ismail as. Ini.
Singkat cerita, saat Nabi Ibrahim as. berkhitan pada umur 97 tahun, beliau menggunakan kain

7
penutup yang lebar sejenis sarung. Maka dari itulah, nabi kita tercinta Rasulullah
saw.membiarkan kebiasaan tersebut agar tetap dilestarikan sebagai bentuk penghormatan
terhadap tradisi yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim as. Begitu pula agama Islam yang
sudah dirintis sebelumnya oleh Nabi Ibrahim as. dalam bingkai agama Tauhid.

Allah swt. berfirman:

Katakanlah: Benarkah (apa yang telah difirmankan) Allah? Maka ikutilah agama Ibrahim
yang lurus, dan bukankah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (QS. Ali Imran: 95).

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): Ikutilah millah Ibrahim seorang yang
hanif. Dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (QS. An-Nahl: 123).

8
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Tradisi Jawa mengenai kelahiran seorang anak misalnya, sebenarnya sudah
berlangsung sejak lama, bahkan penuh dengan pengkultusan, kemusyrikan dan
kemubadziran. Lalu oleh usaha kreatifitas wali songo diubahlah kebiasaan tersebut menjadi
sebuah tradisi yang Islami. Di antara kebiasaan yang lazim dilakukan orang Jawa yang telah
diakulturasikan dengan tradisi Islam berkenaan dengan kelahiran seorang anak, sebagai
berikut :
1. Melantunkan adzan dan iqamah
2. Mentahnik bayi dan memintakan berkah untuk bayi
3. Mendoakan bayi yang baru lahir dan mensyukuri kelahirannya
4. Mengebumikan ari-ari
5. Tradisi njagong dan sepasaran
6. Menindik telinga anak perempuan

B. Saran dan kritik


Dari semua penjelasan yang pemakalah paparkan, pemakalah berharap saran serta
kritik dari para pembaca agar pemakalah dapat memperbaiki dan menyempurnakan kualitas
dari pembuatan makalah serta meningkatkan mutu isi dari makalah tersebut.

9
DAFTAR PUSTAKA

https://irfanyudhistira.wordpress.com/2012/06/01/tradisi-masyarakat-jawa-tentang-kelahiran/
Sholikhin, Muhammad. 2010. Ritual dan Tradisi Islam Jawa. Yogyakarta: Narasi

10