Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH ILMIAH MATA KULIAH PANCASILA

PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA

DISUSUN OLEH
ABBY ARIEL H. 14 06 07629
YOSEF HARDIANTO S. 14 06 07755
BERNADETA ARIMBI 14 06 07904
WENNY SUKWANDI 14 06 07908
JEFFREY WONG 14 06 07937
ARISTIARINI ADRIANI 14 06 07971
SWANDARU YEKTI P. 14 06 07984
VIN COSTAR P. 14 06 08085
PAULINE LUCCIANE K. 15 06 08355
BONA VENTURA ANJU A. 15 06 08387

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA
TAHUN AKADEMIK 2017/2018

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat dan
kuasa-Nya Makalah Pancasila sebagai Ideologi Negara ini dapat diselesaikan
tepat pada waktunya.

Makalah ini berisi gagasan terkait Pancasila sebagai ideologi Negara


Kesatuan Republik Indonesia. Di dalamnya terdapat uraian makna dan fungsi
Pancasila sebagai ideologi negara. Makalah ini terdiri dari 3 bab, yaitu
Pendahuluan, Pembahasan, dan Penutup. Pada bab Pendahuluan akan
dipaparkan latar belakang, permasalahan, serta tujuan penyusunan makalah.
Pembahasan atas rumusan masalah pada bab Pendahuluan diuraikan pada
bab Pembahasan dan pada bab Penutup akan dipaparkan kesimpulan dari
uraian pada bab Pembahasan.

Selanjutnya tim penulis ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak


yang telah mendukung terwujudnya makalah ini, termasuk kepada dosen
pengampu mata kuliah Pancasila, teman mahasiswa mata kuliah Pancasila
kelas C, hingga antar rekan kelompok 3 kelas C yang menjadi rekan
pelaksanaan kegiatan perkuliahan.

Tim penulis menyadari masih terdapat kekurangan dalam makalah ini.


Oleh karena itu kritik dan saran atas makalah ini sangat kami harapkan.

Yogyakarta, 11 September 2017

Tim Penulis

2
DAFTAR ISI

COVER ............................................................................................................... 1
KATA PENGANTAR ........................................................................................... 2
DAFTAR ISI ........................................................................................................ 3

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang.............................................................................................. 4
1.2. Rumusan Masalah ........................................................................................ 5
1.3. Tujuan Penulisan Makalah ............................................................................ 5
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Ideologi ....................................................................................... 6
2.2. Lahir dan Tumbuh-Kembangnya Ideologi ..................................................... 11
2.3. Hakikat dan Fungsi Ideologi .......................................................................... 12
2.4. Pancasila sebagai Ideologi Negara ............................................................... 13
2.5. Pancasila sebagai Ideologi Terbuka ............................................................. 15
2.6. Implementasi Pancasila sebagai Ideologi Negara ......................................... 19
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan ................................................................................................... 21

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 22

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Eksistensi Pancasila telah dirasakan dalam kehidupan bermasyarakat,


berbangsa, dan bernegara di setiap harinya. Pancasila telah dikenalkan oleh
generasi muda sejak duduk di bangku sekolah dasar, baik dari upacara rutin
di setiap hari Senin dan hari besar Nasional, Maupun dari proses belajar-
mengajar formal dikelas. Pengetahuan berkaitan dengan Pancasila juga sudah
mulai diberikan sejak di bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Meski
demikian masih banyak pula kawula muda yang tidak mengenal Pancasila
dengan baik.

Pancasila sebagai ideologi negara memiliki makna yang mendalam. Hal


ini dikarenakan Pancasila yang muncul hasil dari kristalisasi nilai-nilai yang ada
dan dianut oleh bangsa Indonesia sejak sebelum kemerdekaan. Dalam
Pancasila terkandung prinsip-prinsip dasar yang telah dipegang oleh para
leluhur dan menjadi jati diri bangsa Indonesia. Namun mirisnya saat ini bangsa
Indonesia sedang dalam kondisi dimana hampir melupakan jati diri nya akibat
arus modernisasi dan globalisasi yang telah masuk ke Indonesia dalam
beberapa dekade terakhir. Banyak orang Indonesia yang status
kewarganegaraannya masih sebagai Warga Negara Indonesia tidak
memahami makna Pancasila. Padahal Pancasila merupakan jati diri
bangsanya.

Menghayati dan merenungkan kembali makna Pancasila menjadi hal


yang penting bagi generasi muda saat ini. Upaya ini diperlukan untuk
memperkuat Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara Indonesia serta
untuk menemukan kembali jati diri bangsa Indonesia. Untuk itu tim penulis
melalui makalah ini menulis mulai dari makna ideologi hingga implementasi
Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia.

4
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan pada sub bab 1.1 di atas maka dapat


dirumuskan permasalahan yang akan diselesaikan pada makalah ini adalah
sebagai berikut.

1. Apakah pengertian ideologi?


2. Bagaimana ideologi lahir dan tumbuh-kembang di masyarakat?
3. Apakah hakikat dan fungsi ideologi bagi suatu negara?
4. Bagaimana Pancasila menjadi ideologi negara Indonesia?
5. Apakah makna Pancasila sebagai ideologi terbuka?
6. Bagaimana implementasi Pancasila sebagai ideologi negara?

1.3 Tujuan Penulisan Makalah

Berdasarkan uraian penjelasan latar belakang dan perumusan masalah


di atas maka tim penulis menyusun makalah ini dengan tujuan sebagai berikut.

1. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami pengertian ideologi.


2. Mahasiswa dapat memahami bagaimana ideologi dapat lahir dan
tumbuh-kembang dalam masyarakat.
3. Mahasiswa dapat memahami hakikat dan fungsi ideologi bagi suatu
negara.
4. Mahasiswa dapat memahami bagaimana Pancasila menjadi ideologi
negara.
5. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami makna Pancasila sebagai
ideologi terbuka.
6. Mahasiswa dapat memahami implementasi Pancasila sebagai ideologi
negara.

5
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Ideologi

Banyak ahli mengemukakan pengertian ideologi. Tiap ahli


menginterpretasikan ideologi menurut sudut pandangnya masing-masing.
Ideologi juga digambarkan dengan beragam bentuk. Pada sub bab ini akan
dijabarkan pengertian ideologi menurut para ahli, pengertian ideologi sebagai
sistem, serta ideologi tertutup dan terbuka.

2.1.1 Pengertian ideologi menurut para ahli

Ideologi berasal dari Bahasa Latin yaitu idea yang berarti daya cipta
sebagai hasil kesadaran manusia dan logos yang berarti ilmu. Istilah ideologi
pertama kali diperkenalkan oleh A. Destut de Tracy (1801), seorang filsuf
Perancis, sebagai gagasan atau ide manusia serta kadar kebenarannya.
Pengertian ini mengalami perluasan arti sebagai keseluruhan pemikiran, cita
rasa, serta segala upaya, terutama di bidang politik. Oleh karena itu biasanya
ideologi selalu mengutamakan asas-asas kehidupan politik dan kenegaraan
sebagai satu kehidupan nasional yang memiliki makna kepemimpinan,
kekuasaan, dan kelembagaan dengan kesejahteraan sebagai tujuannya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ideologi adalah kumpulan


konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang memberikan
arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup, atau cara berpikir seseorang atau
golongan, atau juga paham, teori, dan tujuan yang merupakan satu program
sosial politik. Encyclopedia Internasional menyatakan ideologi sebagai system
of ideas, belief, dand attitudes which underlie the way of live in a particular
group, class, or society. Kalimat ini dapat diartikan sebagai sistem gagasan,
keyakinan, dan sikap yang mendasari cara hidup suatu kelompok, kelas, atau
masyarakat tertentu. Kamus Politik White menyatakan ideologi sebagai The

6
sum of political ideas of doctrines of distinguishable class of group of people.
Kalimat tersebut dapat diartikan sebagai cita-cita politik atau doktrin dari suatu
lapisan masyarakat atau sekelompok manusia yang dapat dibeda-bedakan.
Menurut Hegel, ideologi bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri lepas dari
kenyataan hidup masyarakat, tetapi sebagai produk kebudayaan dan karena
itu dalam arti tertentu merupakan manifestasi kenyataan sosial masyarakatnya.
Menurut Dr. Alfian ideologi adalah suatu pandangan atau sistem nilai yang
menyeluruh dan mendalam tentang bagaimana cara yang sebaiknya, yaitu
secara moral dianggap benar dan adil mengatur tingkah laku bersama dalam
berbagai segi kehidupan. Budiyanto (2007) berpendapat bahwa ideologi
negara merupakan hasil refleksi manusia atas kemampuannya mengadakan
distansi (jarak) dengan dunia kehidupannya. Menurut beliau terdapat
hubungan dialektis antara ideologi dan kenyataan hidup masyarakat sehingga
terjadi pengaruh timbal balik yang terwujud dalam interaksi yang di satu pihak
memicu ideologi agar semakin realistis dan di lain pihak mendorong
masyarakat agar semakin mendekati bentuk yang ideal. Oleh karena itu
ideologi dapat dikatakan sebagai cerminan pola pikir masyarakat sebagai
upaya membentuk masyarakat untuk mencapai cita-cita bangsa.

Secara umum ideologi mewujudkan pandangan khas tentang


pentingnya kerja sama antar manusia dalam bekerja, hubungan manusia
dengan kekuasaan (politik negara), sumber kekuasaan bagi penguasa, dan
tingkat kesederajatan antar manusia. Karena kekhasan ini maka dimungkinkan
suatu ideologi tidak dapat dimengerti dan ditolak oleh kelompok lain dan
mungkin juga suatu ideologi menjadi kaku dan menuntut pengikutnya untuk
patuh terhadap ajarannya.

Secara umum secara umum adalah sekumpulan ide, gagasan, keyakinan,


kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis dalam bidang politik, ekonomi,
sosial, budaya dan keagamaan. Ideologi muncul secara alamiah ditengah
sekelompok masyarakat atau bangsa. Eksistensinya menjadi tanda kekhasan

7
kelompok atau bangsa tersebut. Ideologi ini pada akhirnya menjadi nilai dan
ajaran yang diikuti, disepakati, dan dilaksanakan bersama oleh seluruh orang
dalam kelompok atau wilayah negara tertentu.

2.1.2 Ideologi sebagai suatu sistem

Sesuai dengan kajian Teknik Industri yang mempelajari sistem, ideologi


dapat juga dirumuskan sebagai suatu sistem. Sistem dalam hal ini adalah
sistem berpikir masyarakat untuk mengartikan kehidupan pribadi dan
kehidupan di sekitarnya. Oleh karena itu ideologi menjadi sesuatu yang khas
karena pandangan masyarakat dalam mengartikan kehidupan berbeda satu
sama lain, maka ideologi sering disebut sebagai identitas atau kepribadian
bangsa. Ideologi awalnya digali dari kenyataan yang ada dalam masyarakat
(induktif) kemudia dirumuskan dalam suatu sistem untuk diterapkan kembali
dalam segala aspek kehidupan (deduktif).

Bila ideologi dipandang sebagai suatu sistem maka sistem yang dibentuk
oleh ideologi merupakan suatu sistem yang tertutup. Berdasarkan pengertian
ideologi menurut Budiyanto, ideologi memiliki hubungan dialektis dengan
kenyataan dalam masyarakat. Karena ideologi merupakan pola pikir dan cita-
cita bangsa maka ideologi mengandung kondisi ideal yang diinginkan oleh
masyarakat. Kondisi ideal ini lahir dari kenyataan bahwa masyarakat belum
puas dengan kondisi saat ini sehingga menginginkan perubahan kondisi yang
pada umumnya berubah ke arah yang lebih baik menurut pandangan
masyarakat tersebut. Dengan demikian terdapat perbedaan antara ideologi
dengan kenyataan yang ada. Perbedaan ini menyebabkan adanya interaksi
timbal-balik yang memicu ideologi dan masyarakatnya untuk bergerak
mendekati satu sama lain agar jarak antara ideologi dengan kenyataan yang
ada semakin kecil. Interaksi timbal-balik ini menjadi bukti bahwa ideologi
menjadi suatu sistem tertutup.

8
Ide

Hidup dan
Kehidupan
(Induktif)

Aspek
NEGARA & Kepribadian
Kehidupan
MASYARAKAT Bangsa
(Deduktif)

Sistem
Sistem
Sistem Politik Sosial-
Ekonomi
Budaya

Gambar 2.1 Ideologi Sebagai Suatu Sistem

2.1.3 Ideologi Tertutup dan Ideologi Terbuka

Dalam penafsiran ideologi terdapat dua pengelompokan ideologi


berdasarkan wataknya, yaitu ideologi tertutup dan ideologi terbuka. Ideologi
tertutup adalah ideologi yang bersifat mutlak. Dalam perspektif ini maka
ideologi dapat diartikan sebagai ajaran atau pandangan dunia atau filsafat
yang menentukan tujuan-tujuan dan norma-norma politik dan sosial, yang
ditasbihkan sebagai kebenaran yang tidak boleh dipersoalkan lagi, melainkan
harus diterima sebagai sesuatu yang sudah jadi dan harus dipatuhi. Ideologi
tertutup memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

a. Ideologi yang ada bukan merupakan cita-cita yang hidup dalam


masyarakat, namun cita-cita suatu kelompok yang digunakan sebagai
dasar untuk mengubah masyarakat.

9
b. Saat kelompok dengan ideologinya berhasil menguasai negara maka
ideologi tersebut akan dipaksakan untuk diterapkan semua segi
kehidupan masyarakat tersebut.
c. Ideologi tertutup bersifat totaliter, artinya mencakup semua bidang
kehidupan. Kelompok dengan ideologi tertutup biasanya berusaha
menguasai segi informasi dan pendidikan di dalam masyarakat secepat
mungkin untuk mempengaruhi perilaku masyarakat.
d. Ideologi tertutup tidak mengakui pluralism dan kebudayaan. Selain itu
ideologi tertutup biasanya tidak menjunjung tinggi hak asasi manusia.
e. Ideologi tertutup cenderung menuntut masyarakatnya untuk memiliki
kesetiaan total dan kesediaan untuk berkorban bagi ideologi tersebut.
f. Ideologi tertutup tidak hanya berisi nilai dan cita-cita namun juga
tuntutan konkret dan operasional yang keras, mutlak, serta total.
Berbeda dengan ideologi tertutup, ideologi terbuka adalah ideologi yang
tidak dimutlakkan. Nilai-nilai dan cita-citanya tidak dipaksakan dari luar,
melainkan digali dan diambil dari kekayaan rohani, moral dan budaya
masyarakatnya sendiri. Ideologi terbuka merupakan ideologi yang dapat
berinteraksi dengan perkembangan zaman dan adanya dinamika secara
internal. Ideologi terbuka memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

a. Ideologi terbuka tidak berasal dari keyakinan sekelompok orang


melainkan berupa kesepakatan masyarakat yang mememuat
kekayaan rohani dan budaya masyarakat (falsafah).
b. Ideologi terbuka tidak dibuat oleh negara tetapi ditemukan oleh
masyarakat yang bisa digali dan ditemukan dikehidupan masyarakat,
sehingga ideologi ini menjadi milik masyarakat.
c. Ideologi terbuka tidak memuat hal-hal operasional sehingga setiap
generasi baru perlu menggali kembali falsafah dan mencari
implikasinya dalam situasi mereka.

10
d. Ideologi terbuka cenderung tidak mengekang kebebasan dan
tanggung jawab masyarakat. Ideologi terbuka lebih cenderung untuk
menginspirasi masyarakat untuk berusaha hidup sesuai dengan
falsafah tersebut.
e. Ideologi terbuka mengakui dan menghormati pluralitas sehingga dapat
diterima semua golongan masyarakat.

2.2 Lahir dan Tumbuh-Kembangnya Ideologi

Terdapat dua pandangan lahir dan tumbuh-kembangnya ideologi.


Pandangan pertama menganggap ideologi berawal dari konsep-konsep
abstrak (inkrimental) yang berangsur-angsur tumbuh dan berkembang seiring
dengan tumbuh-kembangnya masyarakat. Semakin lama konsep tersebut
mengakui adanya nilai atau prinsip dasar tertentu yang seiring berjalannya
waktu diterima sebagai suatu kebenaran dan diyakini sebagai pegangan dalam
menjalin kehidupan bersama dalam bentuk norma-norma. Tokoh yang
mendukung pandangan ini adalah M. Syafaat Habib. Menurut beliau ideologi
lahir dan berkembang dari adanya kepercayaan politik yang terbentuk dan
kemauan umum, perjanjian masyarakat sebagai realitas historis.

Pandangan kedua menganggap ideologi sebagai hasil olah pikir para


cendikiawan yang dijabarkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara. Tokoh yang mendukung pandangan ini adalah Thomas
Jefferson dan Karl Marx. Jefferson merumuskan deklarasi kemerdekaan
Amerika Serikat dengan menilai situasi kehidupan yang berkembang di
zamannya yang bernafaskan ideologi liberalism yang individualistik. Dengan
cara yang sama Karl Marx juga melahirkan pemikiran berkaitan dengan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang bernafaskan manifesto
komunis.

11
Diyakini
Dicantumkan
kebenarannya
dalam konstitusi
untuk hidup
negara
bersama

Diakui adanya Dirumuskan


nilai/prinsip dalam deklarasi
dasar negara
IDEOLOGI
NEGARA
Berkembang Dijabarkan dalam
dalam berbagai
masyarakat kehidupan

Pertama Kedua
Hasil olah pikir
Konsep
para
inkrimental
ccendikiawan

Gambar 2.2 Diagram Pandangan Lahir dan Tumbuh-Kembang Ideologi

2.3 Hakikat dan Fungsi Ideologi bagi Suatu Negara

Seperti yang telah dijelaskan pada sub bab 2.1 di atas, ideologi dan
kehidupan masyarakat secara nyata memiliki hubungan dialektis yang mana
terdapat gap atau jarak antara apa yang dicita-citakan dengan apa yang
sedang terjadi dalam kehidupan nyata. Hubungan dialektis ini menyebabkan
adanya interaksi timbal balik yang di satu pihak mendorong ideologi untuk
semakin realistis dan di pihak lain mendorong masyarakat untuk semakin
mendekati ideologi. Eksistensi ideologi mencerminkan pola pikir
masyarakatnya sekaligus membentuk masyarakat untuk menuju cita-citanya.
Hal ini menegaskan bahwa ideologi adalah sebuah pilihan yang menuntut
komitmen untuk mewujudkankannya. Eksistensi ideologi menjadi tidak hanya
sekedar teori saja namun suatu nilai yang dihayati dan menjadi suatu
keyakinan yang dipegang oleh masyarakatnya. Ideologi menjadi suatu hal

12
yang berfungsi sebagai beragam pegangan dalam beragam kehidupan.
Berikut merupakan fungsi ideologi.

a. Struktur kognitif, yaitu keseluruhan pengetahuan yang dapat menjadi


landasan untuk memahami dan menafsirkan dunia dan kejadian-
kejadian alam di sekitarnya.
b. Orientasi dasar, yaitu dengan membuka wawasan yang memberikan
makna serta menunjukkan tujuan dalam kehidupan manusia.
c. Norma-norma yang menjadi pedoman dan pegangan bagi seorang
untuk melangkah dan bertindak.
d. Bekal dan jalan bagi seseorang untuk menemukan identitasnya.
e. Kekuatan yang mampu menyemangati dan mendorong seseorang
untuk menjalankan kegiatan untuk mencapai tujuan.
f. Pendidikan bagi masyarakat untuk memahami, menghayati, serta
bertingkah laku sesuai dengan orientasi dan norma-norma yang
terkandung di dalamnya.

2.4 Pancasila sebagai Ideologi Negara

Sistem filsafat yang telah berkembang dalam kehidupan masyarakat


pada tingkat perkembangan tertentu akan melahirkan sebuah ideologi. Secara
teoritis filosofis, ideologi bersumber pada suatu sistem filsafat dan merupakan
pelaksanaan sistem filsafat tersebut. Di Indonesia terdapat nilai filosifis dan
sosio-budaya yang telah terkristalisasi dalam kehidupan masyarakat jauh
sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1945. Saat ini nilai tersebut dikenal
sebagai Pancasila. Pancasila sebagai ajaran filsafat mencerminkan nilai dan
pandangan mendasar dan hakikat rakyat Indonesia dalam hubungannya
dengan: Ketuhanan, Kemanusiaan, Kenegaraan, Kekeluargaan dan
Musyawarah, serta Keadilan Sosial.

Pancasila yang eksistensinya jauh lebih tua dibandingkan umur


kemerdekaan Indonesia ini pada awalnya memiliki kedudukan sebagai filsafat

13
hidup bagi rakyat Indonesia. Setelah kemerdekaan Indonesia, kedudukan
Pancasila naik tidak lagi menjadi filsafat hidup namun sebagai filsafat negara,
dari kondisi sosio-budaya yang terkristalisasi menjadi nilai filosofis-ideologis
yang konstutisional. Hal ini dikukuhkan berdasarkan Undang-Undang Dasar
1945. Berikut merupakan bagan diagram alir perjalanan Pancasila sebagai
ideologi negara.

Pandangan Mendasar:
1. Paham Ketuhanan
Nilai-nilai Sosio-
2. Paham Kemanusiaan
Budaya yang Nilai-nilai Filosifis
3. Paham Kenegaraan
Terkristalisasi
4. Paham Kekeluargaan & Musyawarah
5. Paham Keadilan Sosial

Living Reality
Filsafat Negara
dalam
(Sistem Nilai)
Masyarakat

Filosifis Ideologis
Pancasila sebagai Pancasila sebagai
yang
Ideologi Nasional Dasar Negara
Konstitusional

Peraturan
Perundang -
Dikukuhkan
Undangan
berdasarkan UUD 1945

Gambar 2.3 Diagram Alir Pancasila sebagai Ideologi Nasional

Sebagai ideologi negara, Pancasila memiliki nilai-nilai sebagai berikut.

a. Nilai dasar, yaitu isi dari sila-sila yang bersifat universal dan
mengandung cita-cita, tujuan, serta nilai-nilai yang baik dan benar yang
berlaku dalam kehidupan masyarakat.
b. Nilai instrumental, yaitu nilai yang menjadi arah lain, kebijakan, strategi,
sasaran, dan lembaga pelaksana dari ideologi.

14
c. Nilai praktis, yaitu nilai yang berkembang dalam kehidupan masyarakat
yang didasari oleh nilai-nilai pancasila.
d. Nilai dasar yang bersifat sistematis, rasional, dan menyeluruh.
e. Nilai normatif, artinya pancasila dijabarkan dalam suatu sistem
kenegaraan dalam bentuk peraturan perundangan-undangan.
f. Nilai realistis, artinya nilai-nilai pancasila merupakan tuntunan dalam
berprilaku yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari.

2.5 Pancasila sebagai Ideologi Terbuka

Menurut Winarno dalam Sri Untari (2012) Pancasila disebut sebagai


ideologi terbuka sebab ideologi Pancasila bersumber pada kondisi obyektif,
konsep, prinsip, dan nilai-nilai orisinal masyarakat Indonesia sendiri. Pancasila
sebagai ideologi bangsa merupakan cita-cita bangsa yang diwujudkan sebagai
perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, Pancasila merupakan
ideologi yang dinamis dan terbuka serta berkembang mengikuti kebutuhan
manusia dan budayanya. Indonesia menganut sistem pemerintahan
demokratis yang di dalamnya membebaskan setiap masyarakat untuk
berpendapat dan melaksanakan sesuatu sesuai dengan keinginannya masing-
masing. Maka dari itu, ideologi Pancasila sebagai ideologi terbuka adalah yang
paling tepat untuk digunakan oleh Indonesia.

Abdulkadir Besar dalam tulisannya tentang Pancasila Ideologi Terbuka


menyebutkan bahwa pada umumnya khalayak memaknai kata terbuka
secara harfiah dalam Pancasila sebagai Ideologi Terbuka. Menurut
Abdulkadir besar Pancasil sebagai Ideologi Terbuka sering dipahami sebagai
beragam konsep dari ideologi lain, terutama dari ideologi liberalism seperti hak
asasi manusia, pasar bebas, mayoritas tunggal, dualisme pemerintahan, serta
konsekuensi logis dari sistem oposisi liberal. Khalayak menganggap nilai-nilai
tersebut diberlakukan sebagai konsep yang inheren dengan ideologi Pancasila.
Menurut Abdulkadir besar anggapan umum yang demikian disebabkan oleh
hal berikut ini.

15
a. Orang yang bersangkutan tidak atau belum memahami ideologi
Pancasila secara memadai, dan

b. Kebebasan individu yang menjadi nilai intrinsik ideologi liberalisme


bukan dipersepsikan sebagai konsep ideologis, tetapi justru
dipersepsikan sebagai konsep yang bersifat objektif universal.

Semua konsep ideologi teralir secara deduktif-logis dari nilai intrinsik


ideologi yang bersangkutan. Nilai intrinsik adalah nilai yang memandang tujuan
dalam dirinya sendiri. Seperangkat nilai intrinsik yang terkandung dalam setiap
ideologi memiliki daya aktif. Hal ini berarti nilai tersebut memberi inspirasi
sekaligus energy kepada para menganutnya untuk mencipta dan berbuat.
Misalnya nilai intrinsik dalam ideologi liberalisme adalah kebebasan individu,
sedangkan dalam ideologi komunis adalah hubungan produksi, sementara itu
dalam ideologi Pancasila adalah kebersamaan.

Berdasarkan penjelasan tersebut maka konsep dari suatu ideologi tidak


dapat diberlakukan pada ideologi lain. Bila hal ini dipaksakan maka terwujudlah
ideologi yang baru.

Menurut Dr. Alfian kekuatan suatu ideologi terletak pada tiga dimensi berikut.

a. Dimensi realitas
Nilai dasar dalam ideologi bersumber dari nilai riil yang hidup dalam
masyarakat yang tertanam dan mengakar dalam masyarakat, terutama
pada waktu ideologi itu lahir. Dengan demikian seluruh masyarakat
mampu menghayati dan merasakan bahwa nilai dasar tersebut adalah
milik mereka.
b. Dimensi idealisme
Nilai dasar ideologi tidak mengandung angan-angan, namun
mengandung idealisme. Nilai dasar ideologi memberi harapan tentang
masa depan yang lebih baik melalui perwujudan dalam praktik sehari-
hari dengan berbagai dimensinya. Ideologi yang tangguh muncul dari

16
pertautan erat antara dimensi realitas dan dimensi idealisme yang
terkandung di dalamnya.
c. Dimensi fleksibilitas (pengembangan)
Ideologi tersebut memiliki keluwesan yang memungkinkan dan memicu
pengembangan pemikiran-pemikiran baru yang relevan terkait ideologi
tersebut, tanpa menghilangkan atau mengingkari jati diri yang
terkandung di dalamnya. Dimensi ini sangat diperlukan untuk
memelihara dan memperkuat relevansinya di masa depan.

Pemikiran Pancasila sebagai ideologi terbuka tersirat dalam Penjelasan


UUD 1945 yang berbunyi sebagai berikut.

Maka telah cukup jika Undang-Undang Dasar hanya memuat garis-garis


besar sebagai instruksi kepada pemerintah pusat dan lain-lain penyelenggara
negara untuk menyelenggarakan kehidupan negara dan kesejahteraan sosial
terurama bagi negara baru dan negara muda, lebih baik hukum dasar yang
tertulis itu hanya memuat aturan-aturan pokok, sedang aturan-aturan yang
menyelenggarakan aturan pokok itu diserahkan kepada undang-undang
yang lebih mudah caranya membuat, mengubah, dan mencabut.

Berdasarkan kutipan di atas tersirat bahwa UUD 1945 memiliki unsur


keterbukaan. Karena dasar dari UUD 1945 adalah Pancasila maka Pancasila,
yang merupakan ideologi nasional, memiliki unsur keterbukaan pula. Gagasan
Pancasila sebagai ideologi terbuka adalah sebagai berikut.

a. Ideologi Pancasila harus mampu menyesuaikan dirinya dengan


perubahan situasi dan kondisi zaman tanpa mengganti atau
meniadakan nilai dasar dan jati diri bangsa Indonesia.
b. Pancasila sebagai ideologi negara yang terbuka memiliki makna
bahwa nilai-nilai dasar dapat dikembangkan sesuai dengan dinamika
kehidupan bangsa Indonesia dan tuntutan perkembangan zaman

17
secara kreatif, dengan memperhatikan tingkat kebutuhan dan
perkembangan masyarakat Indonesia.
c. Pancasila harus mampu memberikan orientasi ke depan,
mengharuskan bangsa Indonesia untuk selalu menyadari situasi
kehidupan yang sedang dan akan dihadapi, terutama menghadapi
arus globalisasi dan keterbukaan.
d. Ideologi Pancasila menghendaki agar bangsa Indonesia tetap
bertahan dalam jiwa dan budaya bangsa Indonesia dalam wadah dan
ikatan NKRI.

Pancasila sebagai ideologi negara yang terbuka memiliki nilai intrinsik,


berupa Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan
Sosial, serta nilai instrumental. Nilai instrumental adalah penentu bentuk
amalan dari nilai intrinsik untuk masa tertentu. Sifat keterbukaan ideologi
berarti nilai instrumental suatu ideologi bersifat dinamis. Hal ini berarti nilai
tersebut dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman, bahkan dapat
diganti dengan nilai instrumental lain demi terpeliharanya relevansi ideologi
dengan tingkat kemajuan masyarakat. Di sisi lain perubahan nilai ini tidak boleh
mengakibatkan pergantian atau peniadaan nilai intrinsiknya. Dengan kata lain
keterbukaan ideologi memiliki batas. Berikut batas keterbukaan ideologi.

i. Batas jenis pertama:


Bahwa yang boleh disesuaikan dan diganti hanya nilai instrumental, nilai
intrinsik mutlak dilarang.

ii. Batas jenis kedua:


Terdiri dari dua norma, sebagai berikut.
Penyesuaian nilai instrumental harus dijaga agar daya kerja nilai
instrumental yang disesuaikan tetap memadai untuk
mewujudkan nilai intrinsik yang bersangkutan.
Nilai instrumental pengganti tidak boleh bertentangan dengan
linea recta nilai instrumental yang diganti. Bila bertentangan

18
maka akan bertentangan pula dengan nilai intrinsik yang berdaya
meniadakan nilai intrinsik yang diganti.

2.6 Implementasi Pancasila sebagai Ideologi Negara

Pancasila yang digulirkan oleh para founding fathers (pendiri negara)


telah melalui pemikiran mendalam sebagai kristalisasi yang digali dari nilai-nilai
sosial-budaya bangsa Indonesia. Oleh karena itu implementasi ideologi
Pancasila sebagai ideologi terbuka bersifat fleksibel dan interaktif. Ideologi
Pancasila bersifat fleksibel karena mengandung nilai berikut.

a. Nilai dasar
Nilai dasar bersifat relatif tetap, terdapat dalam Pembukaan UUD 1945.
Nilai dasar Pancasila akan dijabarkan lebih lanjut menjadi nilai
instrumental dan nilai praksis yang lebih fleksibel, dalam bentuk norma
yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara.

b. Nilai instrumental
Nilai instrumental adalah penjabaran dari nilai dasar secara kreatif dan
dinamis dalam bentuk UUD 1945, Tap MPR, dan peraturan perudang-
undangan yang lain.

c. Nilai Praktis
Nilai praksis merupakan nilai yang secara nyata dilaksanakan dalam
berbagai segi kehidupan nyata. Nilai praksis yang abstrak diwujudkan
dalam bentuk sikap, perbuatan, dan tingkah laku sehari-hari.

Berikut merupakan implementasi Pancasila sebagai ideologi negara.

a. Pancasila yang Diwujudkan sebagai Cita-Cita Negara

Pancasila diimplementasikan sebagai bentuk cita-cita penyelenggaraan


untuk bernegara yang tertulis di ketetapan MPR No. 7 tahun 2001 tentang
Visi Indonesia di Masa Depan. Di dalam ketetapan tersebut juga

19
disebutkan tentang visi Indonesia Masa Depan yang terdiri dari 3 hal yaitu
visi ideal (cita-cita bangsa sesuai dengan pembukaan UUD 1945 alinea
kedua dan keempat), visi antara (visi negara yang berlaku sampai tahun
2020), dan visi lima tahunan (sesuai dengan yang disebutkan dalam
GBHN).

b. Pancasila yang Diwujudkan sebagai Nilai Integratif Bangsa


Pancasila dibuat sebagai sarana sekaligus prosedur untuk menyatukan
perbedaan dan penyelesaian masalah di dalam kehidupan bernegara.
Dalam hal ini Pancasila dijadikan sebagai social ethics yang terkandung di
dalam masyarakat majemuk.

20
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Ideologi lahir dari nilai-nilai yang telah terkristalisasi dalam suatu


masyarakat. Di Indonesia, ideologi negaranya adalah Pancasila yang memiliki
nilai intrinsik Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan
Sosial. Pancasila merupakan ideologi yang digulirkan oleh pada founding
father melalui pemikiran mendalam dan didasarkan oleh penggalian nilai-nilai
yang ada dan diyakini oleh bangsa Indonesia.

Pancasila merupakan ideologi terbuka. Terbuka dalam hal ini tidak


mengandung makna terbuka secara harfiah namun memiliki makna sebagai
ideologi yang masih memiliki batasan. Oleh karena itu implementasi Pancasila
sebagai ideologi terbuka adalah fleksibel dan interaktif, dimana nilai intrinsik
ideologi mutlak tidak dapat diubah namun nilai instrumentalnya dapat
mengalami perubahan sesuai dengan ketentuan yang ada.

21
DAFTAR PUSTAKA

Author, 2015. Pengertian Ideologi Terbuka dan Ideologi Tertutup Beserta Ciri-
Cirinya. www.negeripesona.com/2015/04/pengertian-ideologi-
terbuka-dan-tertutup.html?m=1. Diakses pada 9 September 2017
pukul 13:05 WIB.

Budiyanto, 2006. Pendidikan Kewarganegaraan untuk SMA Kelas X. Jakarta:


Penerbit Erlangga.

-------------, 2007. Pendidikan Kewarganegaraan untuk SMA Kelas XII.


Jakarta: Penerbit Erlangga.

JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, Vol. 1, No. 2, Januari 2017 E-


ISSN 2527-7057, P-ISSN 2545-2683

Soerjanto Poespowardojo.1991. Pancasila Sebagai Ideology Ditinjau Dari


Segi Pandangan Hisup Bersama, dalam Alfian & Oetojo Oesman,
eds. 1991. Pancasila Sebagai Ideologi Dalam Berbagai Bidang
Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara, Jakarta :
BP-7 Pusat.

Winarno, 2011. Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan Edisi Kedua.


Penerbit PT Bumi Aksara : Jakarta.

22