Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH TBP

Problem Based Learning

Dosen : Dra. Edwita, M.Pd


Disusun oleh :
Radhita May Putri Setyani (3215154303)

Pendidikan Fisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Jakarta

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang sudah memberi taufik, dan
hidayahNya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas pembuatan Makalah
Teori Belajar dan Pembelajaran dengan judul Problem Based Learning.
Makalah ini berisi tentang pengertian, karakteristik, ciri-ciri, tujuan,
unsur-unsur, konsep dasar Problem Based Learning dan lainnya. Makalah ini
disusun dengan tujuan agar para pembaca bisa menambah pengetahuan,
wawasan, serta mengetahui tentang Problem Based Learning.
Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada guru Teori Belajar
dan Pembelajaran saya Dra. Edwita, M.Pd yang telah membimbing saya
untuk menyelesaikan makalah ini, orangtua saya yang mendukung, serta
narasumber dan pihak-pihak lainnya yang terlibat. Saya mohon maaf atas
ketidaksempurnaan makalah ini.

Jakarta, 1 Desember 2016

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul i
Kata Pengantar .... ii
Daftar Isi ........................................................................................................................ iii
Bab I Pendahuluan ..... 1

1.1 Latar Belakang ... 1


1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 2
1.3 Tujuan ................... 2
Bab II Pembahasan ... 3
2.1 Pengertian PBL ......................................................................................... 3
2.2 Karakteristik PBL ..................................................................................... 4
2.3 Ciri-ciri PBL ............................................................................................. 4
2.4 Tujuan PBL .............................................................................................. 5
2.5 Unsur-unsur PBL ..................................................................................... 5
2.6 Teori belajar yang mendukung PBL ......................................................... 6
2.7 Konsep dasar PBL ......................................................................................... 6
2.8 Model langkah-langkah PBL .................................................................... 7
2.9 Sintaks PBL ............................................................................................. 8
2.10 Peranan guru dalam PBL ....................................................................... 9
2.11 Penilaian dan evaluasi PBL ....................................................................... 10
2.12 Keunggulan dan kelemahan PBL .......................................................... 10
Bab III Penutup ......................... 12
3.1 Kesimpulan .................... 12
3.2 Saran ........................... 12
Daftar Pustaka ............................ iv

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada saat ini banyak kesulitan yang dihadapi peserta didik dalam belajar. Hal ini
disebabkan karena proses belajar didalam kelas yang begitu-begitu saja atau cenderung
membosankan bagi peserta didik, dan juga proses pembelajaran di kelas yang masih
memposisikan peserta didik sebagai objek belajar, bukan sebagai individu yang harus
dikembangkan potensi yang dimilikinya. Hal ini dapat mematikan potensi peserta didik
atau membuat peserta didik jenuh. Apalagi bila peserta didik hanya mendengarkan guru di
depan kelas menjelaskan, sehingga mudah sekali peserta didik merasa bosan dengan materi
yang diberikan. Akibatnya, peserta didik tidak paham dengan apa yang baru saja
disampaikan oleh guru.

Oleh karena itu, sekarang banyak inovasi dalam pembelajaran yang dilakukan oleh
sekolah-sekolah. Misalnya inovasi Pembelajaran Kuantum, Kompetensi, Kontekstual, dan
Problem Based Learning. Untuk mengatasi kejenuhan dalam proses belejar-mengajar dan
meningkatkan kualitas diri siswa.

Salah satu inovasi dalam pembelajaran yaitu Problem Based Learning, Problem
Based Learning ini merupakan progam student center yang dimana siswa belajar tentang
subjek dalam konteks yang beraneka ragam, dan masalah yang benar-benar terjadi (nyata).
Tujuan dari Problem Based Learning ini sendiri adalah untuk menolong perkembangan
pengetahuan siswa secara fleksibel, efektif, dan terampil dalam memecahkan masalah.
Pada model pembelajaran berbasis masalah berbeda dengan model pembelajaran
yang lainnya, dalam model pembelajaran ini, peranan guru adalah menyodorkan berbagai
masalah, memberikan pertanyaan, dan memfasilitasi investigasi dan dialog. Guru
memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menetapkan topik masalah yang akan
dibahas, walaupun sebenarnya guru telah menetapkan topik masalah apa yang harus
dibahas. Hal yang paling utama adalah guru menyediakan perancah atau kerangka
pendukung yang dapat meningkatkan kemampuan penyelidikan dan intelegensi peserta
didik dalam berpikir. Proses pembelajaran diarahkan agar peserta didik mampu
menyelesaikan masalah secara sistematis dan logis. Model pembelajaran ini dapat terjadi
jika guru dapat menciptakan lingkungan kelas yang terbuka dan jujur, karena kelas itu
sendiri merupakan tempat pertukaran ide-ide peserta didik dalam menanggapi berbagai
masalah.
Jika dilihat dari sudut pandang psikologi belajar, model pembelajaran ini
berdasarkan pada psikologi kognitif yang berakar dari asumsi bahwa belajar adalah proses
perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman. Melalui model pembelajaran ini

1
peserta didik dapat berkembang secara utuh, artinya bukan hanya perkembangan kognitif,
tetapi peserta didik juga akan berkembang dalam bidang affektif dan psikomotorik secara
otomatis melalui masalah yang dihadapi.
Model pembelajaran berbasis masalah mengambil psikologi kognitif sebagai
dukungan teoritisnya. Fokus pembelajaran pada model ini menekankan pada apa yang
peserta didik pikirkan selama mereka terlibat dalam proses pembelajaran, bukan pada apa
yang mereka kerjakan dalam proses pembelajaran.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian Problem Based Learning ?
2. Bagaimana Karakteristik Problem Based Learning ?
3. Apa ciri-ciri Problem Based Learning ?
4. Apa tujuan Problem Based Learning ?
5. Apa unsur-unsur yang terdapat dalam Problem Based Learning ?
6. Teori Belajar apa yang mendukung Problem Based Learning ?
7. Apa saja konsep dasar Problem Based Learning
8. Sebutkan model langkah-langkah Problem Based Learning ?
9. Bagaimana sintaks pada Problem Based Learning ?
10. Apa Peranan Guru Dalam Problem Based Learning ?
11. Bagaimana penilaian dan evaluasi pada Problem Based Learning ?
12. Apa keunggulan dan kelemahan Problem Based Learning ?

1.3 Tujuan
a. Menambah wawasan pembaca mengenai model pembelajaran berbasis masalah.
b. Pembaca dapat memahami dan mendesain sendiri model pembelajaran berbasis
masalah.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Problem Based Learning


(Problem-Based Learning) adalah suatu pembelajaran yang di awali dengan
menghadapkan siswa pada suatu masalah. Problem based Learning atau dalam Bahasa
Indonesia adalah Pembelajaran Berbasis Masalah yang berarti suatu pendekatan
pembelajaran yang dimulai dengan menyelesaikan suatu masalah, tetapi untuk
menyelesaikan masalah itu peserta didik memerlukan pengetahuan baru untuk dapat
menyelesaikannya.

Pendekatan pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning/PBL) adalah


konsep pembelajaran yang membantu guru menciptakan lingkungan pembelajaran yang
dimulai dengan masalah yang penting dan relevan (bersangkut-paut) bagi peserta didik,
dan memungkinkan peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih realistik
(nyata).

Bern dan Erickson (2001:5) menegaskan bahwa pembelajaran berbasis masalah


merupakan strategi pembelajaran siswa dalam memecahkan masalah dengan
mengintegrasikan berbagai konsep dan keterampilan dari berbagai disiplin ilmu. Strategi
ini meliputi mengumpulkan dan menyatukan informasi, mempresentasikan penemuan.

Pembelajaran berbasis masalah melibatkan peserta didik dalam proses


pembelajaran yang aktif, kolaboratif, berpusat kepada peserta didik, yang mengembangkan
kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan belajar mandiri yang diperlukan untuk
menghadapi tantangan dalam kehidupan dan karier, dalam lingkungan yang bertambah
kompleks sekarang ini. Pembelajaran Berbasis Masalah dapat pula dimulai dengan
melakukan kerja kelompok antar peserta didik. peserta didik menyelidiki sendiri,
menemukan permasalahan, kemudian menyelesaikan masalahnya dibawah petunjuk
fasilitator (guru).

Pembelajaran berbasis masalah menyarankan kepada peserta didik untuk mencari


atau menentukan sumber-sumber pengetahuan yang relevan. Pembelajaran berbasis
masalah memberikan tantangan kepada peserta didik untuk belajar sendiri. Dalam hal ini,
peserta didik lebih diajak untuk membentuk suatu pengetahuan dengan sedikit bimbingan
atau arahan guru sementara pada pembelajaran tradisional, peserta didik lebih diperlakukan
sebagai penerima pengetahuan yang diberikan secara terstruktur oleh seorang guru.

Pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu model pembelajaran inovatif


yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada peserta didik. PBL adalah suatu

3
model pembelajaran yang melibatkan peserta didik untuk memecahkan suatu masalah
melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga peserta didik dapat mempelajari pengetahuan
yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki ketrampilan untuk
memecahkan masalah.

Untuk mencapai hasil pembelajaran secara optimal, pembelajaran dengan


pendekatan pembelajaran berbasis masalah perlu dirancang dengan baik mulai dari
penyiapan masalah yang yang sesuai dengan kurikulum yang akan dikembangkan di kelas,
memunculkan masalah dari peserta didik, peralatan yang mungkin diperlukan, dan
penilaian yang digunakan. Pengajar yang menerapkan pendekatan ini harus
mengembangkan diri melalui pengalaman mengelola di kelasnya, melalui pendidikan
pelatihan atau pendidikan formal yang berkelanjutan.

Oleh karena itu, pengajaran berdasarkan masalah merupakan pendekatan yang


efektif untuk pengajaran proses berfikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini membantu peserta
didik untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun
pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya. Pembelajaran ini cocok
untuk mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks.

2.2 Karakteristik Problem Based Learning


Karakterisktik pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut:
a. Pembelajaran menjadi strating point
b. Permasalahan yang diangkat adalah permasalahan yang ada di dunia
c. Permasalahan membutuhkan persepektif ganda (multiple perspective),
d. Permasalahan akan menantang pengetahuan yang dimiliki oleh siswa, sikap, dan
kompetensi yang kemudian membutuhakn identifikasi kebutuhan belajar dan
bidang baru dalam belajar,
e. Permasalahan akan mengembangan ketrampilan inquiry dan pemecahan masalah
sehingga solusi dari masalah tersebut dapat diketahui.

2.3 Ciri-ciri Problem Based Learning

Ciri-ciri utama Problem-Based Learning adalah sebagai berikut :


1. Strategi pembelajaran berbasis masalah merupakan rangkaian aktivitas
pembelajaran. Maksudnya adalah dalam pembelajaran ini tidak hanya
mengharapkan peserta didik mendengarkan, mencatat, kemudian menghafal materi
pelajaran, tetapi melalui strategi pembelajaran berbasis masalah ini peserta didik
harus aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data dan akhirnya
menyimpulkannya.

4
2. Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. Strategi
pembelajaran berbasis masalah mempunyai kata kunci masalah. Artinya, tanpa
masalah tidak mungkin ada proses pembelajaran.
3. Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara
ilmiah. Berpikir disini sama halnya dengan menggunakan metode ilmiah, yaitu
proses berpikir deduktif dan induktif. Proses berpikir ini dilakukan secara
sistematis dan empiris, sistematis artinya berpikir ilmiah dilakukan melalui
tahapan-tahapan tertentu, sedangkan empiris artinya proses penyelesaian masalah
didasarkan pada data dan fakta yang jelas.

2.4 Tujuan Problem Based Learning

Tujuan Problem Based Learning adalah :


1. Membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan
pemecahan masalah.
2. Menjadikan siswa berusaha berpikir kritis dan mampu mengembangkan
kemampuan analisisnya serta menjadi pembelajar yang mandiri.
3. Memberikan dorongan kepada peserta didik untuk tidak hanya sekedar berpikir
sesuai yang bersifat konkret tetapi lebih dari itu berpikir terhadap ide-ide yang
abstrak dan kompleks.

2.5 Unsur-unsur Problem Based Learning

Unsur-unsur yang mendasari Problem Based Learning adalah :

1. Integrated Learning. Pembelajaran yang mengintegrasikan seluruh bidang


pelajaran dengan bersifat menyeluruh serta melibatkan aspek-aspek perkembangan
anak.
2. Contextual Learning, yaitu anak belajar sesuatu yang nyata, terjadi, dan dialami
dalam kehidupannya. Sehingga, anak merasakan langsung manfaat belajar.
3. Constructivist Learning, yaitu anak membangun pemikirannya melalui pengalaman
langsung (hand on experience).
4. Active Learning, yaitu anak sebagai subyek belajar yang aktif menentukan,
melakukan dan mengevaluasi.
5. Learning Interesting, yaitu bahwa pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan
bagi anak karena anak terlibat langsung dalam menentukan masalah.

5
2.6 Teori Belajar yang mendukung Problem Based Learning

Teori belajar yang mendukung Problem Based Learning adalah :


1. Teori Belajar Bermakna dari David Ausubel
Ausubel (Rusman,2010) membedakan antara belajar bermakna (meaningfull
learning) dengan belajar menghafal (rote learning). Belajar bermakna merupakan
proses belajar dimana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang
sudah dimiliki seseorang yang sedang belajar. Belajar menghafal diperlukan bila
seseorang memperoleh informasi baru dalam pengetahuan yang sama sekali tidak
berhubungan dengan yang telah diketahuinya. Kaitannya dengan Problem Based
Learning dalam hal mengaitkan informasi baru dengan stuktur kognitif yang
telah dimiliki oleh siswa.

2. Teori Belajar Vigostsky


Perkembangan intelektual terjadi pada saat individu berhadapan dengan
pengalaman baru dan menentang serta ketika berusaha untuk memecahkan masalah
yang berikan. Dalam upaya menempatkan pemahaman, individu berusaha
mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan awal yang telah dimilikinya
kemuadian membangun pengetahuan baru. Rusman (2006:244) Vigostsky
meyakini bahwa interaksi sosial dengan teman lain memacuh terbentuknya ide baru
dan memperkaya perkembangan intelektual siswa. Kaitannya dengan Problem
Based Learning dalam hal mengaitkan informasi baru dengan stuktur kognitif
yang telah dimiliki oleh siswa melalui kegiatan belajar dalam interaksi sosial
dengan teman lain.

3. Teori belajar jerome S. Brunner


Metode penemuan merupakan metode dimana siswa menemukan kembali, bukan
menemukan yang sama sekali yang benar-benar baru. Belajar penemuan sesuai
dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia dengan sendirinya
memberikan hasil yang lebih kuat, berusaha sendiri memberikan hasil yang lebih
baik, berusaha sendiri mencari pemecahan masalah serta disukung oleh
pengetahuan yang menyertainya, serta menghasilkan pengetahuan yang benar-
benar bermakna.

2.7 Konsep dasar Problem Based Learning

Model pembelajaran berbasis masalah adalah pembelajaran yang menekankan


padaproses penyelesaian masalah. Dalam implementasi model pembelajaran berbasis
masalah, guru perlu memilih bahan pelajaran yang memiliki permasalahan yang dapat
dipecahkan. Model pembelajaran berbasis masalah ini dapat diterapkan dalam kelas jika :

6
1. Guru bertujuan agar peserta didik tidak hanya mengetahui dan hafal materi
pelajaran saja, tetapi juga mengerti dan memahaminya.
2. Guru mengiginkan agar peserta didik memecahkan masalah dan membuat
kemampuan intelektual siswa bertambah.
3. Guru menginginkan agar peserta didik dapat bertanggung jawab dalam belajarnya.
4. Guru menginginkan agar peserta didik dapat menghubungkan antara teori yang
dipelajari di dalam kelas dan kenyataan yang dihadapinya di luar kelas.
5. Guru bermaksud mengembangkan kemampuan peserta didik dalam menganalisis
situasi, menerapkan pengetahuan, mengenal antara fakta dan pendapat, serta
mengembangkan kemampuan dalam membuat tugas secara objektif.

2.8 Model Langkah-Langkah Problem Based Learning

Ada beberapa pilihan dalam model ini, model-model tersebut diantaranya yaitu:

1. Model Pannen dkk.


Menurut Pannen dkk. (2001) proses pembelajaran PBL biasanya mengikuti
tahapan-tahapannya seperti roda.

2. John Dewey
Seorang ahli pendidikan berkebangsaan Amerika memaparkan 6 langkah dalam
pembelajaran berbasis masalah ini :
a) Merumuskan masalah. Guru membimbing peserta didik untuk menentukan
masalah yang akan dipecahkan dalam proses pembelajaran, walaupun
sebenarnya guru telah menetapkan masalah tersebut.
b) Menganalisis masalah. Langkah peserta didik meninjau masalah secara kritis
dari berbagai sudut pandang.
c) Merumuskan hipotesis. Langkah peserta didik merumuskan berbagai
kemungkinan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki.
d) Mengumpulkan data. Langkah peserta didik mencari dan menggambarkan
berbagai informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah.

7
e) Pengujian hipotesis. Langkah peserta didik dalam merumuskan dan mengambil
kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan
f) Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah. Langkah peserta didik
menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan hasil
pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan.

3. David Johnson & Johnson, memaparkan 5 langkah melalui kegiatan kelompok


1) Mendefinisikan masalah. Merumuskan masalah dari peristiwa tertentu yang
mengandung konflik hingga peserta didik jelas dengan masalah yang dikaji.
Dalam hal ini guru meminta pendapat peserta didik tentang masalah yang
sedang dikaji.
2) Mendiagnosis masalah, yaitu menentukan sebab-sebab terjadinya masalah.
3) Merumuskan alternatif strategi. Menguji setiap tindakan yang telah dirumuskan
melalui diskusi kelas.
4) Menentukan & menerapkan strategi pilihan. Pengambilan keputusan tentang
strategi mana yang dilakukan.
5) Melakukan evaluasi. Baik evaluasi proses maupun evaluasi hasil.

2.9 Sintaks Problem Based Learning

Sintaks atau langkah-langkah pada Problem-Based Learning dapat dilihat pada


tabel 1. berikut.

Fase Aktivitas Guru Aktivitas Siswa

Fase 1
Orientasi siswa Guru mrnyampaikan tujuan Siswa mendengarkan
terhadap masalah belajar, menjelaskan logistik tujuan belajar yang
autentik yang diperlukan, dan disampaikan oleh guru
memotivasi menggunakan dan mempersiapkan
kemampuannya memecahkan logistik yang diperlukan.
maslah.

Fase 2
Mengorganisasi Guru membantu siswa Siswa mendefinisikan
siswa dalam mendefinisikan dan dan mengorganisasikan
belajar mengorganisasikan tugas tugas belajar yang di
belajar yang diangkat. angkat.
Fase 3
Membantu siswa Guru mendorong siswa untuk Siswa mengumpulkan

8
secara individual mengumpulkan informasi informasi yang sesuai,
atau kelompok yang sesuai, melaksanakan melaksanakan
dalam eksperimen, untuk eksperimen, dan
melaksanakan memperoleh jawaban yang berusaha menemukan
penelitian sesuai atas masalah. jawaban atas masalah
yang di angkat.
Fase 4
Mengembangkan Guru membantu siswa dalam Siswa merencanakan dan
dan menyajikan merencanakan dan menyiapkan karya,video,
hasil karya menyiapkan karya seperti dan menyampaikannya
laporan, video, model-model pada teman lain.
dan membantunya untuk
menyampaikan kepada teman
lain.

Fase 5
Analisis dan Guru membantu siswa Siswa melakukan refleksi
evaluasi proses melakukan refleksi kegiatan kegiatan penyelidikannya
pemecahan penyelidikannya dan proses dan proses yang
masalah. yang telah dilakukan dilakukan.

2.10 Peranan guru dalam Problem Based Learning

1. Menyiapkan Perangkat Berpikir Siswa


Beberapa hal yang dapat dilakukan guru untuk menyiapkan siswa dalam PBL
adalah:
1) membantu siswa mengubah cara berpikir
2) menjelaskan apakah PBL itu? Pola apa yang dialami oleh siswa?
3) memberi siswa ikhtisar siklus PBL, struktur, dan batasan waktu
4) mengomunikasikan tujuan, hasil dan harapan
5) menyiapkan siswa untuk pembaruan dan kesulitan yang akan menghadang
6) membantu siswa merasa memiliki masalah.

2. Menekankan Belajar Kooperatif


PBL menyediakan cara untuk inqury yang bersifat kolaborasi dan belajar Bray,dkk
dalam Rusman (2011;235) mengambarkan inquiry kolaboratif sebagai proses di
mana orang melakukan refleksi dan kegiatan secara berulang-ulang, mereka bekerja
dalam tim untuk menjawab pertanyaan penting. Dari pendapat diatas dapat

9
disimpulkan bahwa pada Pembelajaran Berbasis Masalah lebih menekankan
pembelajaran inquiry kolaboratif yang di kerjakan dengan tim secara berkelompok.

3. Memfasilitasi Pembelajaran Kelompok Kecil dalam Pembelajaran Berbasis


Masalah
Belajar dalam kelompok kecil lebih mudah dilakukan apabila anggota berkisar
antara 1 sampai 10 siswa atau bahkan lebih sedikit dengan satu orang guru. Guru
dapat menggunakan berbagai teknik belajar kooperatif untuk mengabungkan
kelompok-kelompok tersebut dalam langkah-langkah yang beragam dalam siklus
PBM untuk menyatukan ide, berbagai hasil belajar, dan penyajian ide.

4. Melaksanakan Pembelajaran Berbasis Masalah


Guru mengatur lingkungan belajar untuk mendorong penyatuan dan pelibatan siswa
dalam masalah. Guru juga memaikan peran aktif dalam memfasilitasi inquiry
kolaboratif dan proses belajar siswa.

2.11Penilaian dan Evaluasi Problem Based Learning

Prosedur-prosedur penilaian harus disesuaikan dengan tujuan pengajaran yang


ingin dicapai dan hal yang paling utama bagi guru adalah mendapatkan informasi penilaian
yang reliabel dan valid.
Prosedur evaluasi pada model pembelajaran berbasis masalah ini tidak hanya cukup
dengan mengadakan tes tertulis saja, tetapi juga dilakukan dalam bentuk checklist, reating
scales, dan performance. Untuk evaluasi dalam bentuk performance atau kemampuan ini
dapat digunakan untuk mengukur potensi peserta didik untuk mengatasi masalah maupun
untuk mengukur kerja kelompok. Evaluasi harus menghasilkan definisi tentang masalah
baru, mendiagnosanya, dan mulai lagi proses penyelesaian baru.

2.12Keunggulan dan Kelemahan Problem Based Learning

Sebagai suatu model pembelajaran, model pembelajaran berbasis masalah memiliki


beberapa keunggulan, diantaranya :

1. Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami
isi pelajaran.
2. Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan peserta didik serta memberikan
kepuasan untuk menentukan pengetahuan baru bagi peserta didik.
3. Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran peserta didik.
4. Pemecahan masalah dapat membantu peserta didik bagaimana mentrasfer
pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.

10
5. Pemecahan masalah dapat membantu peserta didik untuk mengembangkan
pengetahuan barunya dan bertanggungjawab dalam pembelajaran yang mereka
lakukan.
6. Melalui pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai peserta
didik.
7. Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan peserta didik untuk
berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan
dengan pengetahuan baru.
8. Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan pada peserta didik untuk
mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
9. Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat peserta didik untuk secara terus
menerus belajar.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran berbasis masalah
harus dimulai dengan kesadaran adanya masalah yang harus dipecahkan. Pada tahapan ini
guru membimbing peserta didik pada kesadaran adanya kesenjangan atau gap yang
dirasakan oleh manusia atau lingkungan sosial. Kemampuan yang harus dicapai oleh
peserta didik, pada tahapan ini adalah peserta didik dapat menentukan atau menangkap
kesenjangan yang terjadi dari berbagai fenomena yang ada.
Disamping keunggulannya, model ini juga mempunyai kelemahan, yaitu :

1. Manakala peserta didik tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan
bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa
enggan untuk mencoba.
2. Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup
waktu untuk persiapan.
3. Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang
sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.

11
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pembelajaran Berbasis Masalah yang berasal dari bahasa Inggris Problem-based


Learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dimulai dengan menyelesaikan suatu
masalah, tetapi untuk menyelesaikan masalah itu peserta didik memerlukan pengetahuan baru
untuk dapat menyelesaikannya.

Tujuan yang ingin dicapai pleh SPBM adalah kemampuan siswa untuk berpikir kritis,
analistus dan logis untuk menemukan alternatif pemecahan masalah melalui eksplorasi data secara
empiris dalam rangka menumbuhkan sikap ilmiah.

Pembelajaran ini dimulai dengan menghadirkan suatu masalah yang relevan dengan
kehidupan siswa, selanjutnya melalui peran guru sebagai fasilitator siswa dibimbing untuk
menyelesaikan permasalahan tersebut. Suatu masalah dapat digunakan untuk mengenalkan suatu
konsep atau melatih keterampilan, untuk itu penting bagi guru untuk dapat menggunakan model
PBM dalam mengenalkan konsep ataupun melatih keterampilan suatu konsep.

3.2 Saran

Sebagai calon tenaga pendidik kita seharusnya mengerti dan memahami cara dan hal-hal
yang berkaitan dengan perkembangan peserta didiknya dalam proses belajar dan mengajar,
sehingga kita mengetahui dan memahami pula strategi apa yang bisa dipakai dalam proses
pembelajaran, guna untuk menciptak proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan
menyenangkan untuk anak didik, karena berhasil atau tidaknya suatu pembelajaran bukan hanya
dinilai dari hasil evaluasi tetapi juga dalam proses pembelajaran.

12
DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal. 2012. Evaluasi Pembelajaran. Bandung : PT Remaja RosdaKarya.

Aunurrahman. 2012. Belajar dan Pembelajaran..Bandung : Alfabeta.

Muhammad, R., dan Sofan, A.. 2013. Strategi & Desain Pengembangan system

Pembelajaran. Jakarta : Prestasi Pustakaraya.

Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.

Jakarta : Kencana Prenada Media Group.

Rusman. 2012. Seri Manajemen Sekolah Bermutu: Model-Model Pembelajaran,

Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

iv