Anda di halaman 1dari 13

PEMERIKSAAN SEL-SEL IMUN GRANULOSIT DAN AGRANULOSIT

Oleh :
Nama : Nadya Denris Talitha Syarifah
NIM : B1J014120
Rombongan : II
Kelompok : 3
Asisten : Risa Umami

LAPORAN PRAKTIKUM IMUNOBIOLOGI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sistem imun merupakan sistem koordinasi respons biologis yang bertujuan


melindungi integritas dan identitas individu serta mencegah invasi organisme dan
zat yang berbahaya di lingkungan yang dapat merusak dirinya. Sistem imun
mempunyai 3 fungsi utama yaitu kemampuan untuk mengenal dan membedakan
berbagai molekul target sasaran, kemampuan membedakan antara antigen diri dan
antigen asing dan kesanggupan melalui pengalaman kontak sebelumnya dengan
zat asing patogen untuk bereaksi lebih cepat dan lebih kuat daripada kontak
pertama. Sistem imun menurut sel tubuh dibagi menjadi sistem imun humoral dan
sistem imun seluler. Sistem imun humoral terdiri atas antibodi (imunoglobulin)
dan sekret tubuh (saliva, air mata, serumen, keringat, asam lambung, pepsin, dll).
Sistem imun dalam bentuk seluler berupa makrofag, limfosit, neutrofil beredar di
dalam tubuh (Kresno, 2001).
Sel yang memegang peran peran penting dalam respon imun spesifik
adalah limfosit. Limfosit berfungsi mengatur dan bekerja sama dengan sel-sel lain
dalam sistem fagosit makrofag untuk menimbulkan respon immunologik.
Limfosit seperti halnya monosit, termasuk kelompok sel agranulosit tetapi
terdapat perbedaan fungsi antara limfosit dan monosit. Monosit berperan dalam
respon imun non-spesifik, sedangkan limfosit berperan dalam respons imun
spesifik. Limfosit mempunyai 2 populasi, yaitu limfosit T (sel T) yang berperan
dalam respons imun seluler, serta limfosit B (sel B) yang berperan dalam respon
imun humoral (Amik, 2009).
Sel darah putih disebut leukosit. Kondisi dimana kualitas leukosit rendah
di dalam tubuh bisa terjadi ketika penurunan produksi dari leukosit dari sumsum
tulang belakang. Di dalam darah manusia, normal didapati jumlah leukosit rata-
rata 5000-9000 sel/mm3, bila jumlahnya lebih dari 12000, keadaan ini disebut
leukositosis, bila kurang dari 5000 disebut leukopenia. Leukosit dapat melakukan
gerakan amuboid dan melalui proses diapedesis leukosit. Dilihat dalam mikroskop
cahaya maka sel darah putih mempunyai granulosit, yang dalam keadaan hidup
berupa tetesan setengah cair, dalam sitoplasmanya dan mempunyai bentuk inti
yang bervariasi, yang tidak mempunyai granula, sitoplasmanya homogen dengan
inti bentuk bulat atau bentuk ginjal (Effendi, 2003).
Sel leukosit terdiri dari 2 kategori yaitu granulosit dan agranulosit.
Granulosit atau disebut juga polimorfonuklear yaitu sel darah putih yang di
dalamnya terdapat granula antara lain eosinofil, basofil, neutrofil. 75 % dari
komponen leukosit adalah sel granulosit dan sel ini dibentuk di dalam sumsum
tulang belakang. Agranulosit merupakan bagian dari sel darah putih yang
mempunyai 1 sel lobus dan sitoplasmanya tidak mempunyai granula antara lain
limfosit dan monosit (Paulsen, 2000).

1.2 Tujuan

Tujuan praktikum acara ini adalah untuk mengetahui sel-sel imun


granulosit dan agranulosit beserta fungsi dan bentuknya serta mengetahui
presentase sel-sel imun pada berbagai hewan.
II. MATERI DAN CARA KERJA

2.1 Materi

Bahan yang digunakan pada acara praktikum kali ini adalah darah
manusia, mencit, ayam, ikan, methanol, larutan giemsa, dan akuades.
Alat yang digunakan pada acara praktikum kali ini adalah object glass,
spuit injeksi, lancet, dan mikroskop.

2.2 Cara Kerja

1. Darah diambil dari masing-masing preparat, dengan cara:


Manusia : jari ditusuk dengan lanset.
Ikan : diambil darah dari jantung menggunakan spuit injeksi.
Ayam : diambil darah dari vena jugularis (sayap).
Mencit : diambil darah dari vena caudal (ekor), ekor digunting
ujungnya, diurut sampai darahnya keluar.
2. Darah diteteskan pada ujung object glass, tetesan darah pertama dibersihkan
terlebih dahulu, kemudian segera diapus ke arah depan sekaligus dengan object
glass yang lain (dipilih yang tepinya rata) dengan membentuk sudut 45.
3. Preparat apusan darah difiksasi dengan methanol selama 5 menit.
4. Preparat apusan dibilas dengan air kran untuk menghilangkan sisa methanol,
kemudian dikering-anginkan.
5. Preparat apusan diwarnai dengan larutan Giemsa yang telah diencerkan selama
20 menit, kemudian dicuci dengan air mengalir, dikeringkan.
6. Jenis-jenis leukosit pada setiap preparat diperiksa, dihitung dalam 100 sel
leukosit dan hasilnya dinyatakan dalam persen dengan rumus:
Jumlah sel teramati
x100%
100 sel
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Tabel 3.1 Tabel data Hasil Pengamatan Sel-Sel Immun Granulosit dan
Agranulosit

Limfosit Monosit Neutrofil Eosinofil Basofil

Ikan 62,12% 10,6% 4,54% 18,18% 4,54 %

Manusia 43,75% - 56,35% - -

Mencit 53,12 % 9,37% 18,75 % 15,62% 3,12%

Ikan 87,71 % - - - 12,28 %

Ayam
83,67% 4,08% 10,2% 2,04% -

Gambar 3.1 Pengamatan sel-sel imun di mikroskop pada lapang


pandang : (a) 1 (b) 2 (c) 3 (d) 4 (e) 5 (f) 6 (g) 7 (h) 8 (i) 9
(j) 10
Perhitungan:
Sel-sel imun pada darah mencit :
17
1. Limfosit = x 100% = 53,12 %
32
6
2. Neutrofil = 32 x 100% = 18,75 %
5
3. Eosinofil = 32 x 100% = 15,62%

1
4. Basofil = 32 x 100% = 3,12%

3
5. Monosit = 32 x 100% = 9,37%
3.2 Pembahasan

Berdasarkan hasil praktikum pemeriksaan sel imun rombongan II dapat


diketahui persentase basofil, eosinofil, neutrofil batang, neutrofil segmen, limfosit
dan monosit setiap kelompok menunjukkan hasil yang berbeda. Pada preparat
darah ikan kelompok 1 didapatkan persentase eosinofil 18,18%, basofil 4,54%,
neutrofil batang 3,03%, neutrofil segmen 1,51%, limfosit 62,12%, dan monosit
10,6%. Preparat darah Manusia didapatkan persentase eosinofil dan basofil tidak
ada, neutrofil 56,35%, limfosit 43,75%, dan monosit tidak ada. Preparat darah
mencit didapatkan persentase eosinofil 15,62%, basofil 3,12%, neutrofil 18,75%,
limfosit 53,12%, dan monosit 9,37%. Preparat darah ikan kelompok 4 didapatkan
persentase eosinofil tidak ada, basofil 12,28%, neutrofil tidak ada, limfosit 57,71
%, dan monosit tidak ada, serta preparat darah ayam didapatkan persentase
eosinofil 2,04%, basofil tidak ada, neutrofil 10,2%, limfosit 58,67%, dan monosit
4,08%. Menurut Bevelander (1988), basofil dalam leukosit jumlahnya sangat
sedikit yaitu 0-1%, eosinofil 2-5%, neutrofil batang sekitar 2-6 %, neutrofil
segmen 50-70%, limfosit pada manusia berjumlah 20-25% dan monosit 2-8%. Hal
ini menunjukkan persentase sel imun pada preparat tidak sesuai dengan pustaka.
Kemungkinan hal ini terjadi karena praktikan yang salah menentukan jenis sel
imun yang diamati sehingga hasil persentase tidak sesuai.
Pertahanan imun terdiri dari sistem imun alamiah atau nonspesifik
(natural/innate) dan didapat atau spesifik (adaptive/acquired). Sistem imun
nonspesifik merupakan pertahanan tubuh terdepan dalam menghadapi serangan
berbagai mikroorganisme, tidak ditujukan terhadap mikroorganisme tertentu dan
telah ada dalam tubuh kita dan berfungsi setelah kita lahir. Sistem imun spesifik
hanya dapat menghancurkan benda asing yang sudah dikenal sebelumnya
sehingga disebut spesifik. Bila tubuh terpajan kembali dengan benda asing yang
sama, maka benda asing tersebut akan dikenal lebih cepat kemudian dihancurkan
(Baratawidjaya, 2002).
Sel yang memiliki granula sitoplasma disebut granulosit sedangkan sel
tanpa granula disebut agranulosit.
a. Granulosit
1. Neutrofil
Neutrofil merupakan sel imun dengan jumlah terbanyak di dalam darah
yang membantu melindungi tubuh melawan infeksi bakteri dan jamur.
Neutrofil berkembang di sumsum tulang dari hematopoietic stem cell dan
neutrofil yang mature dicirikan dengan nukleus yang bersegmen dan granula
yang berisi lebih dari 700 protein (Kruger et al., 2015). Ada 2 jenis neutrofil,
yaitu neutrofil berbentuk pita (imature, belum matang) dan neutrofil
bersegmen (mature, matang). Menurut Sloane (2003), neutrofil memiliki
granula kecil berwarna merah muda dalam sitoplasmanya. Nukleusnya
memiliki tiga sampai lima lobus yang terhubungkan dengan benang kromatin
tipis. Diameternya mencapai 9 m samapai 12 m.
2. Eosinofil
Eosinofil memiliki granula sitoplasma yang kasar dan besar, dengan
pewarnaan oranye kemerahan. Sel ini memiliki nukleus berlobus dua, dan
berdiameter 12 m sampai 15 m. Berfungsi sebagai fagositik lemah.
Jumlahnya akan meningkat saat terjadi alergi atau penyakit parasit, tetapi akan
berkurang selama stress berkepanjangan. Selain itu eosinofil juga membunuh
parasit, merusak sel-sel kanker dan berperan dalam respon alergi.
3. Basofil
Basofil memiliki sejumlah granula sitoplasma besar yang bentuknya tidak
beraturan dan akan berwarna keunguan sampai hitam serta memperlihatkan
nukleus berbentuk S. diameternya sekitar 12 m sampai 15 m. Basofil juga
berperan dalam respon alergi. Sel ini mengandung histamin.
b. Agranulosit
1. Limfosit
Limfosit merupakan sel utama pada sistem getah bening yang berbentuk
sferis, berukuran yang relatif lebih kecil daripada makrofag dan neutrofil.
Selain itu, limfosit bergaris tengah 6-8 m, 20-30% dari leukosit darah,
memiliki inti yang relatif besar, bulat sedikit cekung pada satu sisi.
Sitoplasmanya sedikit dan kandungan basofilik dan azurofiliknya sedikit.
Limfosit-limfosit dapat digolongkan berdasarkan asal, struktur halus, surface
markers yang berkaitan dengan sifat imunologisnya, siklus hidup dan fungsi
(Efendi, 2003). Limfosit dibagi ke dalam 2 kelompok utama :
1. Limfosit B berasal dari sel stem di dalam sumsum tulang dan tumbuh
menjadi sel plasma, yang menghasilkan antibodi.
2. Limfosit T terbentuk jika sel stem dari sumsum tulang pindah ke kelenjar
thymus, dimana mereka mengalami pembelahan dan pematangan. Di
dalam kelenjar thymus, limfosit T belajar membedakan mana benda asing
dan mana bukan benda asing. Limfosit T dewasa meninggalkan kelenjar
thymus dan masuk ke dalam pembuluh getah bening dan berfungsi sebagai
bagian dari sistem pengawasan kekebalan.
2. Monosit
Monosit merupakan sel leukosit yang besar 3-8% dari jumlah leukosit
normal, diameter 9-10 um tapi pada sediaan darah kering diameter mencapai
20 m atau lebih. Inti biasanya eksentris, adanya lekukan yang dalam
berbentuk tapal kuda. Sitoplasma relatif banyak dengan pulasan wrigh berupa
bim abu-abu pada sajian kering. Granula azurofil, merupakan lisosom primer,
lebih banyak tapi lebih kecil. Ditemui retikulum endoplasma sedikit. Juga
ribosom, poliribosom sedikit, banyak mitokondria. Aparatus Golgi
berkembang dengan baik, ditemukan mikrofilamen dan mikrotubulus pada
daerah identasi inti. Monosit terdapat dalam darah, jaringan ikat dan rongga
tubuh. Monosit tergolong fagositik mononuclear (system retikuloendotel) dan
mempunyai tempat-tempat reseptor pada permukaan membrannya. Untuk
imunoglobulin dan komplemen (Efendi, 2003).
Alat dan bahan yang digunakan adalah object glass, mikroskop, darah
manusia, mencit, ikan dan ayam, methanol, larutan giemsa dan aquades. Masing-
masing fungsi dari alat dan bahan yang digunakan adalah: object glass yang
berfungsi sebagai tempat pembuatan apusan darah preparat, mikroskop digunakan
untuk membantu dalam melihat struktur sel-sel imun dalam darah, aquades
digunakan untuk mencuci preparat apusan darah yang kelebihan warna giemsa pada
saat pewarnaan, larutan giemsa digunakan untuk mewarnai apusan darah agar
terlihat lebih jelas ketika diamati di bawah mikroskop, methanol untuk memfiksasi
apusan darah dan darah agar darah menempel pada object glass, mencit, ayam dan
ikan digunakan sebagai sampel darah yang akan dibuat apusan darah. Sel
polimorphonuclear neutrofil tampak dengan gelap inti biru, kemerahan granula
ungu dan pucat sitoplasma merah muda. sel eosinofil yang dengan inti biru, merah
oranye-merah butiran dan sitoplasma biru sedangkan sel basofil dengan ungu untuk
inti biru gelap dan butiran ungu gelap. limfosit dan monosit sel yang dengan ungu
gelap inti dan sitoplasma langit biru. Jumlah sel yang berbeda di satu bidang
mikroskopis dihitung secara independen (Mastoi et al., 2012).
Metode yang digunakan dalam pemeriksaan sel imun adalah dengan
menggunakan metode apus darah. Metode apus darah merupakan metode yang
digunakan untuk menghitung jumlah dan jenis leukosit. Pembuatan apus darah
dilakukan dengan menyiapkan object glass dan dibersihkan kemudian ditetesi
dengan 1 tetes sampel darah, tarik object glass dari ujung dengan arah ke depan
dengan menggunakan object glass yang lain dengan membentuk sudut 450 hingga
terbentuk kapilarisasi, kemudian dorong object glass kearah menjauhi sisi kanan
object glass sehingga terbentuk film tipis yang baik. Preparat yang sudah terbentu
apusan darah difiksasi selama 10 menit setelah itu diwarnai dengan larutan giemsa.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan apus darah, seperti
tebal film atau lapisan harus diperhatikan, fiksasi apusan penting untu menjaga
bentuk sel-sel tetap normal seperti bentuk aslinya, sebaiknya diberi zat warna dan
ditutup dengan cover glass (Sugria, 2011).
Menurut Roberts (1978), sel darah merah pada ikan, reptil, aves dan amfibi
memiliki inti lonjong dan berfungsi untuk mengikat oksigen. Sel darah merah pada
ikan berbeda dengan sel darah merah pada mamalia, pada sel darah mamalia tidak
berinti dan berbentuk bikonkaf. Metode yang digunakan dalam perhitungan sel-sel
imun dapat dilakukan dengan rumus sebagai berikut:

% = 100%
100

(Affandi et al., 1992).


Menurut Suprayudi et al., (2006), faktor-faktor yang mempengaruhi
fluktuasi perhitungan sel-sel imun dalam sampel darah yaitu kondisi kesehatan
hewan atau manusia yang diambil darahnya, teknik pembuatan preparat apus darah
yaitu tebal tidaknya pewarnaan yang diberikan, keadaan alat-alat yang digunakan
dan ketelitian saat pengidentifikasian sel-sel darah. Aktivitas fagositosis
dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya adalah umur, nutrisi serta tingkatan
stress. Usia atau stadium perkembangan hewan juga merupakan faktor yang
penting. Antigen spesifik dari kekebalan humoral dan selular merupakan pusat
untuk beradaptasi terhadap respon imun secara keseluruhan pada hewan dewasa.
Hewan neonatal dan anak hewan mengandalkan terutama pada imunitas bawaan,
maternal antibody, mediator yang bersirkulasi pada respon peradangan dan
fagositosis (Betrisna, 2010). Faktor lain yang mempengaruhi pembentukan respon
imun adalah hormon cortisol. Limfosit dan hormon cortisol akan meningkat
jumlahnya seiring dengan peningkatan jumlah konfigurasi protein asing dalam
darah (Mardihasbullah et al., 2013).
IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:


1. Leukosit granulosit yaitu neutrofil segmen, neutrofil batang, basofil, dan eosinofil,
berfungsi sebagai respon imun non spesifik. Leukosit agranulosit yaitu monosit dan
limfosit, berfungsi untuk respon imun spesifik. Bentuk basofil dan neutrofil
berbentuk bulat, eosinofil berbentuk bulat dan mempunyai 2 lobi, limfosit
berbentuk bulat dengan inti yang besar dan monosit berbentuk menyerupai limfosit
besar dengan inti berbentuk ginjal.
2. Persentase sel-sel imun pada mencit yang digunakan untuk praktikum yaitu
eosinofil 15,62%, basofil 3,12%, neutrofil 18,75%, limfosit 53,12%, dan monosit
9,37%.
DAFTAR REFERENSI

Affandi, R., D.S. Safei, M.F. Rahardjo and Sulistiono. 1992. Ikhtiologi: Suatu
Pedoman Kerja Laboratorium. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Amik. 2009. Inflammasi. Jakarta: EGC.
Baratawidjaja, K.G. 2002. Imunologi Dasar Edisi 5. Jakarta: FKUI Press.

Bevelander, G. 1988. Dasar-Dasar Histologi. Jakarta: Erlangga.


Effendi, Z. 2003. Peranan Leukosit Sebagai Anti Inflamasi Alergik dalam Tubuh.
Sumatera: Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Kresno S.B. 2001. Imunologi Diagnosis dan Prosedur Laboratorium Edisi Keempat.
Jakarta: FKUI.

Kruger, P., Mona, S., Alexander, N.R.W., Nikolaus, R., Markus, R., Hors, V.B.,
Charaf, B., Dirk, R., Julia, S., Dominik, H. 2015. Neutrophils: Between Host
Defence, Immune Modulation, and Tissue Injury. PLoS Pathogens 11(3):1-23.
Mardihasbullah, E., M. Idris, & K. Sabilu. 2013. Akumulasi Nikel (Ni) Dalam Darah
Ikan Bandeng (Chanos chanos Forskal) yang Dibudidayakan di Sekitar Area
Tambang. Jurnal Mina Laut Indonesia, 1(1):1-9.
Mastoi, A.M., Mithun, S., Anila, M., Anuar, H., Faizah, S & Anil. 2012. Differences
in Haematological Parameters in Normal, Infected and Immune-Primed
Fingerlings of Red Tilapia (Oreochromis mossambicus x Oreochromis
niloticus). Biological Forum An International Journal, 4(11), Pp. 90-97.
Paulsen, D.F. 2000. Histology & Cell Biology 4th ed. Singapore :Lange Medical
Books/McGraw-Hill.
Roberts R.J. 1978. Fish Pathology. London: Ballier Tindall.

Sloane, E. 2003. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. Jakarta: EGC.


Sugria, A. 2011. Pemeriksaan kadar Leukosit Mencit yang diberi Ekstrak Temulawak,
Jahe dan Kunyit. Makassar : Makassar University.

Suprayudi, M.A. 2006. Pengaruh Penambahan Bahan-Bahan Imunostimulan dalam


Formulasi Pakan Buatan terhadap Respon Imunitas dan Pertumbuhan Ikan
Kerapu, Bebek, Cromileptes altivelis. Jurnal Akuakultur Indonesia. 5(1), pp. 77-
86.