Anda di halaman 1dari 6

PULP CAPPING

Pulp capping merupakan suatu perawatan endodontik pada gigi vital dengan pulpa terbuka atau
pulpa selapis dentin tipis, tetapi pulpa belum mengalami keradangan yang persisten. tujuan untuk
pemeliharaan vitalitas pulpa, melindungi pulpa terhadap rangsangan suhu, kimia dan mekanik.
Faktor yang mempengaruhi pulp capping :

1. Perforasi pulpa
Ukuran : makin besar makin buruk, penyebab : karies lebih buruk daripada trauma
mekanis, lamanya : terkait keterlibatan bakteri lebih 24 jam.
2. Faktor sistemik
Gangguan hormonal, sehingga respon terhadap peradangan terganggu, defisiensi vitamin
C: penyembuhan menurun, penyakit sistemik : penyembuhan menurun.
3. Usia pasien
Foramen apikal lebar : suplai darah baik, prognosis baik.
4. Jaringan periodontal
Sehat : prognosis baik
5. Asepsis
Harus tercapai, untuk mencegah kontaminasi bakteri.
A. INDIKASI PULP CAPPING
1. Gigi masih vital
2. Terdapat lesi karies yang dalam dan tanda gejala secara radiografis sangat dekat
dengan pulpa tetapi tidak mengenai pulpa.
3. Bisa dilakukan pada gigi permanen dan atau gigi sulung.
B. KONTRAINDIKASI PULP CAPPING
1. Pasien merasa nyeri spontan dan nyeri pada malam hari.
2. Terdapat pembengkakan, fistula, peka terhadap perkusi
3. Gigi goyang secara patologi
4. Resorbsi akar eksterna dan interna
5. Radiolusen diperiapeks atau diantara akar.
C. ALAT BAHAN DAN KEGAGALAN PERAWATAN
Kegagalan pulp capping ditandai dengan adanya rasa sakit spontan, setelah 1-2 tahun ada
resorbsi akar atau radiolusen periapikal. penyebab kegagalan yaitu salah diagnose, obat
diletakkan pada bagian pendarahan, pemakaian bahan kaustik seperti : alcohol, fenol,
kresol, H202.
D. PROSEDUR DAN PERBEDAAN PERAWATAN PULP CAPPING DIRECT DAN
INDIRECT
1. Pulp capping indirect
a. Definisi : melindungi dan mempertahankan vitalitas gigi dengan karies yang dan
jaringan pulpa masih tertutup oleh dentin yang selapis tipis yang disertai tanda-
tanda pulpitis reversibel. Gigi belum menunjukkan peradangan yang persisten.
b. Tujuan : mempertahankan vitalitas jaringan pulpa, melindungi pulpa terhadap
rangsangan suhu, kimia dan mekanik, menghilangkan dentin terinfeksi, pulpa
recovery oleh obat-obat indirect pulp capping (Merangsang terbentuknya dentin
reparative pada gigi karies yang sudah dalam ).
c. Indikasi : gigi vital, pulpitis reversibel, tidak ada keluhan spontan, terdapat karies
profunda dan jaringan pulpa masih tertutup lapisan dentin yang tipis, tidak ada
gejala klinik,
d. Kontraindikasi : Gigi vital dengan keluhan spontan (pulpitis irreversible), adanya
resorbsi prosessus alveolaris, pelebaran ligament periodontal.
e. Dasar teori : bahwa terdapat affected demineralized dentin yang terletak antara
lapisan terluar dentin yang terinfeksi dengan jaringan pulpa, apabila infected
dentin dibersihkan maka, affected demineralized dentin dapat teremineralisasi
kembali (remineralisasi) dan odontoblast akan membentuk dentin tersier.
f. Bahan bahan yang dipakai:
1) ZnOE
Mengurangi rasa sakit, sebagai basis isolasi panas dibawah restorasi logam,
melindungi pulpa, mematikan bakteri dalam jaringan karies. Tidak digunakan
pada pulpa yang terbuka. Contoh : calvitec dan kalzinol
2) Ca(OH)2
Ph alkalis : mempertahankan suasana alkali lokal jaringan pulpa yang penting
untuk pembentukan dentin, mempertahankan sifat bakterisid yag efektif
karena bakteri tidak dapat hidup pada PH alkalis (9,5-11). Contoh : calxyl,
dycal, pulp dent, calplus.
3) MTA
Mengandung : tricalsium silicate, dicalsium silicate, tricalsium aluminate,
tetracalsium aluminate, calcium sulfate, bismuth oxide. MTA :mampu
memicu pembentukan dentin reparative tanpa penyebabkan inflamasi pulpa.
Contoh : pro root.
4) Resin modified calcium silicate
Light cure, bisa digunakan untuk direct dan indirect pulp capping, semen,
base, liner. Contoh : theracal
g. Prosedur kerja:
1) Isolasi
2) Pembersihan kavitas, jaringan karies diambil.
3) Sub base : ZnOE (4:1) : kalsium hidroksida
4) Basis (: GIC tipe 3 (lining and base )
5) Tumpatan sementara
Aplikasi bahan pulp capping pada dinding pulpa terdalam, aplikasi bahan
basis setebal 1-2 mm pada dinding pulpa, aplikasi temporary filling
(tumapatan sementara).
6) Pada kunjungan kedua : kontrol setelah 7 hari (idealnya 6-8 minggu)
anamnesa : apabila tidak ada keluhan, tidak ada gejala klinis, tes vitalitas :
termal dingin (pada bagian labial atau bukal), tumpatan sementara dibuka,
pembuatan tumpatan tetap.
2. Pulp capping direct
1. Definisi : pemberian bahan proteksi pulpa atau bahan kaping pulpa pada gigi,
dengan pulpa yang terbuka dengan tujuan untuk mempertahankan vitalitas pulpa.
(perawatan endodontic pada gigi vital dengan pulpa sudah terbuka namun belum
mengalami peradangan yang persisten).
2. Tujuan : terbentuk dentin tersier berupa jembatan dentin (dentin bridge
formation/dentinal bridge) pada pulpa yang terbuka sehingga pulpa tetap vital.
3. Indikasi:1) pada pulpa yang terbuka : karena faktor mekanis misalnya terjadi
perforasi pada waktu pengeboran sehingga terjadi perdarahan dan
timbul rasa nyeri.
2) pada gigi dengan pulpa terbuka karena trauma yang mengakibatkan
tanduk pulpa sedikit terbuka, sehingga terjadi perdarahan dan timbul
nyeri.
3) pada pulpitis reversibel dengan karies yang dalam dan waktu
membersihkan jaringan karies pulpa menjadi terbuka, sehingga terjadi
perdarahan dan timbul rasa nyeri.
4. Kontraindikasi : ada keluhan spontan, gig goyang> 20 , pelebaran ligamen
periodontal, radiografik : adanya kelainan pulpa dan periapikal,
perdarahan yang berlebihan pada perforasi, eksudat dari perforasi
pulpa, perforasi pulpa yang sudahlama terjadi.
5. tingkat keberhasilan direct pulp capping tergantung pada : riwayat sakit, sedikit
perdarahan yang terjadi, keberhasilan pengambilan jaringan karies,
keberhasilan pengambilan debris, menajeman asepsis, penutupan yang
sempurna oleh bahan pulp capping dirct, jarak waktu perforasi dengan
perawatan, umur pasien.
6. bahan pulp capping direct : syarat bahan : tidak terllu mengiritasi jaringan pulpa,
merangsang pembentukan dentinal bridge, antiseptic dan sedative,
isolator, dapat diletakkan diatas daerah perforasi tanpa tekanan, cepat
mengeras, tidak kontraksi maupun ekspansi.
Bahan :
1) CaOH2
Akan mematikan kira-kira 1,5 mm jaringan pulpa dibawahnya, bila terdapat
inflamasi pulpa, akan menghilangkan lapisan superfisialnya. PH yang tinggi
(12,5) akan menyebabkan terjadinya nekrosis likuefaksi pada sebagian besar
permukaan superfisial pulpa. Toksisitas Ca(OH)2 akan berkurang pada lapisan
pulpa yang lebih dalam, menyebabkan nekrosisi koagulasi pulpa yang hanya
menimbulkan iritasi sedang. Lapisan yang lebih dalam lagi terdapat jaringan
pulpa sehat. Pada area nekrosis koagulasi ini akan merangsang respon radang
dengan pembentukan jaringan keras (hard tissue barrier) berupa jembatan dentin.
2) MTA
3) Resin modified calcium silicate
7 Prosedur kerja
Kunjungan 1 : a. asepsis (larutan dibersihkan dengan larutan antiseptic, keringkan
dengan kapas steril (tidak boleh disemprot).
b. jaringan karies diambil.
c. kavitas dibersihkan
d. bila ada perdarahan : dihentikan dengan cotton pellet yang telah
dibasahi saline/ air steril sekitar 1 menit.
e. subbase CaOH2 jangan sampai terdoronng masuk karena
memperparah keradangan
f. untuk menambah kekuatan dan kekerasan ditutup dengan semen
seng oksida fosfat
g. tumpat sementara.
Kunjungan II : a. dilakukan setelah 4-8 minggu.
b. dilakukan pemeriksaan subjektif apakah selama perawatan ada rasa
sakit atau tidak bila timbul rasa sakit, perawatan kapping pulpa
dianggap gagal, selanjutnya dilakukan perawatan saluran akar. Bila
tidak ada keluhan diteruskan pemeriksaan objektif : erkusi dan tes
vitalitas.
c. bila hasil perkusi dan palpasi negative dan tes vitalitas positif maka
dikatakan perawatan pulpa berhasil.
d. tumpatan sementara dikeluarkan dan dilanjutkan dengan restorasi
permanen : komposit, inlay atau onlay.
E. MEKANISME PEMBENTUKAN DENTIN SEKUNDER
a. Pembentukan dentin sekunder
Pembentukan dentin berlangsung seumur hidup, dan dentin yang terbentuk setelah
gigi-gigi terkalsifikaasi seluruhnya dan berfungsi disebut dentin sekunder. Dentin
sekunder memberi tambahan pada dentin primer dan sering muncul dalam suatu
lapisan diatas dentin pada pertautan pulpa. Dentin sekunder terbentuk setelah gigi
erupsi sempurna. Dapat terlihat secara mikroskopis dari dentin primer karena tubuli
membengkok tajam dan menghasilkan sautu garis demarkasi. Dentin sekunder
ditumpuk secara tidak rata pada dentin primer dengan kecepatan rendah dan
mempunyai pola incremental dan struktur tubular tubular kurang teratur dibandingkan
dentin primer. Misalnya dentin sekunder ditumpuk dalam kualitas lebih besar pada
dasar dan atap pulpa
b. Pembentukan dentin reparative

Dentin reparative merupakan dentin yang bekerja ketika adanya suatu injuri
seperti karies, prosedur operatif, bahan restorasi, abrasi, erosi atau trauma. Jaringan
ini ditandai oleh tubuli yang tidak teratur. Sebaliknya suatu lesi karies yang agresif
atau rangsangan mendadak lainakan merangsang produksi dentin reparatif dengan
tubuli yang lebih sedikit dan lebih tidak teratur. Apabila odontoblas terkena injuri
yang tidak dapat dipengaruhi, odontoblas yang hancur akan meninggalkan tubuli
yang kosong, yang disebut dead tract, kecuali bila pulpa terlalu atrofik. Karena
dentin reparative mempunyai lebih sedikit tubuli, namun mampu berfungi sebagai
lapisan yang akan merintangi masuknya produk atau zat yang membahayakan ke
dalam pulpa. Bila karies berkembang dan lebih banyak odontoblas yang tidak dapat
diperbaiki, lapisan dentin reparative akan menjadi lebih atubular dan dapat inklusi sel
yaitu odontoblas terjebak. Pada penghilangan karies, sel mesenkim daerah kaya sel
akan berkembang menjadi odontoblas untuk mengganti jaringan yang mengalami
nekrosis. Odontoblas yang baru terbentuk ini dapat menghasilkan dentin yang teratur.
Daerah diantara dentin sekunder dan dentin reparative disebut kalsiotraumatik.
Pembentukan dentin sekunder dan dentin reparative sama hanya berbeda lokasi
deposisinya.

Bila gangguan lingkungan cukup kuat, odontoblas dan prosessus tubularnya akan
mati, sehingga tubulus akan menjadi kosong. Bila terjadi pengumpulan tubulus yang
kosong maka tubulus akan gelap pada gambaran mikroskopis dan disebut saluran
akar yang mati. Ujung pulpa dari tubulusnya biasanya tertutup dentin reparative, dan
setelah waktu tertentu tubulus akan terkalsifikasi dan pola tubular pada dentin yang
terpotong akan tersumbat disebut dentin sklerotik. Pertahanan terhadap karies yang
dalam berlanjut terjadi dalam bentuk dentin reparative yang terdeposit dalam kamar
pulpa dan tubulus dentin. Jika proses karies melebihi kecepatan dari respon pulpa,
dasar dentin keras tidak akan terbentuk. Atau jika kondisi ini parah, dentin lunak
berhubungan langsung dengan pulpa. Gigi dengan kavitas yang dalam pada eskavasi
dari dentin yang nekrosis akan tetap utuh. Jika lapisan dentin tetap solid dihilangkan
dan pulpa berhasil menahan serangan proses karies yang hebat akan dijumpai selapis
tipis yang keras dengan permukaan licin dan mengkilap.