Anda di halaman 1dari 25

TUGAS EKONOMI REGIONAL

TEORI PERTUMBUHAN EKONOMI WILAYAH

(Studi kasus di Kabupaten Mamuju)

OLEH :
Andi Amirudin
A11114504
ILMU EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017

1
A. TINJAUAN PUSTAKA

1. Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah

Pertumbuhan ekonomi wilayah adalah pertambahan pendapatan masyarakat yang


terjadi di suatu wilayah, yaitu kenaikan seluruh nilai tambah (added value) yang terjadi di
wilayah tersebut (Tarigan, 2005).

Terdapat beberapa teori pertumbuhan ekonomi daerah/wilayah sebagai berikut :

1). Teori Pertumbuhan Klasik

Adam Smith adalah orang pertama yang membahas pertumbuhan ekonomi secara
sistematis. Inti ajaran Smith adalah agar masyarakat diberi kebebasan yang seluas-luasnya
dalam menentukan kegiatan ekonomi yang terbaik untuk dilakukan. Menurut Smith sistem
ekonomi pasar bebas akan menciptakan efisiensi, membawa ekonomi kepada kondisi full
employment dan menjamin pertumbuhan ekonomi sampai tercapai posisi stationer (stationary
state). Pemerintah tidak perlu terlalu dalam mencampuri urusan perekonomian. Tugas
pemerintah adalah menciptakan kondisi dan menyediakan fasilitas yang mendorong pihak
swasta berperan optiml dalam perekonomian. Pemerintah tidak perlu terjun langsung dalam
kegiatan produksi dan jasa. Sementara peranan pemerintah adalah menjamin keamanan dan
ketertiban serta memberi kepastian hukum dan keadilan bagi para pelaku ekonomi.

John Maynard Keynes mengoreksi pandangan Smith dengan mangatakan bahwa


untuk menjamin pertumbuhan yang stabil pemerintah perlu menerapkan kebijaksanaan fiskal,
kebijaksanaan moneter, dan pengawasan langsung. Adam Smith dan John Maynard Keyneys
tetap mengandalkan mekanisme pasar. Perbedaanya adalah ada yang menginginkan peran
pemerintah yang cukup besar tetapi ada pula yang menginginkan peran pemerintah haruslah
sekecil mungkin.

2) Teori Harrod Domar dalam Sistem Regional

Teori ini dikembangkan hampir pada wakti bersamaan oleh Roy F. Harrod (1948) di
Inggris dan Evsey D. Domar (1957) di Amerika Serikat. Diantara mereka menggunakan
proses perhitungan yang berbeda tetapi memberikan hasil yang sama. Teori ini melengkapi
teori Keynes, dimana Keynes melihatnya dalam jangka pendek (kondisi statis) sedangkan
Harrod Domar melihatnya dalam jangka panjang (kondisi dinamis). Menurut Tarigan
(2004) Teori Harrod Domar didasarkan pada asumsi

a) Perekonomian bersifat tertutup


b) Hasrat menabung (MPS=S) adalah konstan
c) Proses produksi memiliki koefisien yang tetap (constan return to scale)
2
d) Tingkat pertumbuhan angkatan kerja (n) adalah konstan dan sama dengan tingkat
pertumbuhan penduduk.

Atas dasar asumsi-asumsi khusus tersebut, Harrod Domar membuat analisis dan
menyimpulkan bahwa pertumbuhan jangka panjang yang mantap (seluruh kenaikan produksi
dapat diserap oleh pasar) hanya bisa tercapai apabila terpenuhi syarat-syarat keseimbangan
sebagai berikut :

g=K=n

dimana :
g = Growth (tingkat pertumbuhan output)
K = Capital (tingkat pertumbuhan modal
n = Tingkat pertumbuhan angkatan kerja
agar terdapat keseimbangan maka antara tabungan (S) dan investasi (I) harus terdapat
kaitan yang saling menyeimbangkan, padahal peran k untuk menghasilkan tambahan
produksi ditentukan oleh v (capital output ratio = Rasio modal output).

3) Teori Pertumbuhan Neo-Klasik


Teori pertumbuhan neo klasik dikembangkan oleh Robert M. Solow (1970) dari
Amerika Serikat dan TW. Swan (1956) dari Australia. Menurut teori ini tingkat pertumbuhan
berasal dari 3 sumber yaitu akumulasi modal, bertambahnya penawaran tenaga kerja dan
peningkatan teknologi. Teori neo klasik sebagai penerus dari teori klasik menganjurkan agar
kondisi selalu diarahkan untuk menuju pasar sempurna. Dalam keadaan pasar sempurna
perekonomian bisa tumbuh maksimal. Analisis lanjutan dari paham neo klasik menunjukkan
bahwa terciptanya suatu pertumbuhan yang mantap (steady growth), diperlukan suatu tingkat
s (saving) yang pas dan seluruh keuntungan pengusaha diinvestasikan kembali di wilayah itu.
Dalam ekonomi model ekonomi klasik, kebijakan yang perlu ditempuh adalah meniadakan
hambatan dalam perdagangan termasuk perpindahan orang, barang dan modal. Harus dijamin
kelancaran arus barang, modal, tenaga kerja dan dan perlunya penyebarluasan informasi
pasar. Harus diusahakannya terciptanya prasarana perhubungan yang baik dan terjaminnya
keamanan, ketertiban, dan kestabilan politik (Tarigan, 2005).

4) Teori Pusat Pertumbuhan


Pusat pertumbuhan dapat diartikan dengan dua cara, yaitu secara fungsional, pusat
pertumbuhan adalah suatu lokasi konsentrasi kelompok usaha atau cabang industri yang
karena sifat hubungannya memiliki unsur-unsur kedinamisan sehingga mampu mendorong
kehidupan ekonomi baik ke dalam maupun ke luar. Secara geografis, pusat pertumbuhan
adalah suatu lokasi yang banyak memiliki fasilitas dan kemudahan sehingga menjadi pusat
daya tarik. Suatu kota dikatakan sebagai pusat pertumbuhan apabila memiliki empat ciri-ciri
pusat pertumbuhan yaitu sebagai berikut : (Tarigan,2004)

a) Adanya hubungan intern dari berbagai macam kegiatan.


3
Ada keterkaitan antara satu sektor dengan sektor lainnya sehingga apabila ada satu
sektor yang tumbuh akan mendorong pertumbuhan sektor lainnya, karena saling terkait.
Jadi, di dalam kehidupan kota tercipta sinergi untuk saling mendukun terciptanya
pertumbuhan.

b) Adanya unsur pengganda.


Keberadaan sektor-sektor yang saling terkait dan saling mendukung akan
menciptakan efek pengganda. Artinya apabila ada permintaan satu sektor dari luar
wilayah, peningkatan produksi sektor tersebut akan berpengaruh pada sektor lain.
Peningkatan ini akan terjadi beberapa kali putaran pertumbuhan sehingga total kenaikan
produksi dapat beberapa kali lipat dibandingkan dengan kenaikan permintaan di luar
untuk sektor tersebut. Unsur efek pengganda mampu membuat kota memacu
pertumbuhan.

c) Adanya konsentrasi geografis.


Konsentrasi geografis dari berbagai sektor atau fasilitas, selain bisa menciptakan
efisiensi di antara sektor-sektor yang saling membutuhkan, juga meningkatkan daya tarik
dari kota tersebut. Orang yang datang ke kota tersebut bisa mendapatkan berbagai
kebutuhan pada lokasi yang berdekatan. Jadi kebutuhan dapat diperoleh dengan lebih
hemat waktu, biaya, dan tenaga.

d) Bersifat mendorong pertumbuhan daerah belakangnya.


Sepanjang terdapat hubungan yang harmonis di antara kota sebagai pusat
pertumbuhan dengan kota belakangnya maka pertumbuhan kota pusat akan mendorong
pertumbuhan kota belakangnya. Kota membutuhkan bahan baku dari wilayah
belakangnya dan menyediakan berbagai fasilitas atau kebutuhan wilayah belakangnya
untuk dapat mengembangkan diri.

Jadi, kosentrasi kegiatan ekonomi dapat dianggap pusat pertumbuhan bila kosentrasi
tersebut dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi baik di antara sektor di dalam kota
maupun ke daerah belakangnya

5) Teori Pertumbuhan Jalur Cepat yang Disinergikan

Teori Pertumbuhan Jalur Cepat (Turnpike) diperkenalkan oleh Samuelson (2001).


Setiap negara/wilayah perlu melihat sektor/komoditi apa yang memiliki potensi besar dan
dapat dikembangkan dengan cepat, baik karena potensi alam maupun karena sektor itu
memiliki competitive advantage untuk dikembangkan. Artinya dengan kebutuhan modal yang
sama sektor tersebut dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar, dapat berproduksi
dalam waktu relatif singkat dan volume sumbangan untuk perekonomian yang cukup besar.
Agar pasarnya terjamin, produk tersebut harus dapat menembus dan mampu bersaing pada
pasar yang lebih luas. Perkembangan struktur tersebut akan mendorong sektor lain untuk
turut berkembang sehingga perekonomian secara keseluruhan akan tumbuh. Mensinergikan
sektor-sektor adalah membuat sektor sektor saling terkait dan saling mendukung sehingga
4
pertumbuhan sektor yang satu mendorong pertumbuhan sektor yang lain, begitu juga
sebaliknya. Menggabungkan kebijakan jalur cepat dan mensinergikannya dengan sektor lain
yang terkait akan mampu membuat perekonomian tumbuh cepat.

6) Teori Basis Ekspor (Export Base Theory)

Teori basis ekspor adalah bentuk model pendapatan yang paling sederhana. Teori ini
menyederhanakan suatu sistem regional menjadi dua bagian yaitu daerah yang bersangkutan
dan daerah-daerah lainnya. Masyarakat di dalam satu wilayah dinyatakan sebagai suatu
sistem sosial ekonomi. Sebagai suatu sistem, keseluruhan masyarakat melakukan
perdagangan dengan masyarakat lain di luar batas wilayahnya. Faktor penentu (determinan)
pertumbuhan ekonomi dikaitkan secara langsung kepada permintaan akan barang dari daerah
lain di luar batas masyarakat ekonomi regional. Pertumbuhan industri yang menggunakan
sumber daya lokal termasuk tenaga kerja dan material (bahan) untuk komoditas ekspor, akan
meningkatkan kesempatan kerja dan kesejahteraan masyarakat.

Aktivitas dalam perekonomian regional digolongkan dalam dua sektor kegiatan yakni
aktivitas basis dan non basis. Kegiatan basis merupakan kegiatan yang melakukan aktivitas
yang berorientasi ekspor (barang dan jasa) ke luar batas wilayah perekonomian yang
bersangkutan. Kegiatan non-basis adalah kegiatan yang menyediakan barang dan jasa yang
dibutuhkan oleh masyarakat yang berada di dalam batas wilayah perekonomian yang
bersangkutan. Luas lingkup produksi dan pemasarannya adalah bersifat lokal.

Aktivitas basis memiliki peranan sebagai penggerak utama (primer mover) dalam
pertumbuhan suatu wilayah. Semakin besar ekspor suatu wilayah ke wilayah lain akan
semakin maju pertumbuhan wilayah tersebut, dan demikian sebaliknya. Setiap
perubahanyang terjadi pada sektor basis akan menimbulkan efek ganda (multiplier effect)
dalam perekonomian regional.

Analisis basis ekonomi adalah berkenaan dengan identifikasi pendapatan basis


(Richardson 1977). Bertambah banyaknya kegiatan basis dalam suatu wilayah akan
menambah arus pendapatan ke dalam wilayah yang bersangkutan yang selanjutnya
menambah permintaan terhadap barang atau jasa di dalam wilayah tersebut sehingga pada
akhirnya akan menimbulkan kenaikan volume kegiatan non basis. Sebaliknya, berkurangnya
aktivitas basis akan mengakibatkan berkurangnya pendapatan yang mengalir ke dalam suatu
wilayah sehingga akan menyebabkan turunnya permintaan produk dar iaktivitas non basis.
Teori basis ekspor menggunakan dua asumsi, yaitu :

a) asumsi pokok atau yang utama bahwa ekspor adalah satu-satunya unsur eksogen
(independen) dalam pengeluaran. Artinya, semua unsur pengeluaran lain terikat
(dependen) terhadap pendapatan. Secara tidak langsung hal ini berarti diluar pertambahan
alamiah, hanya peningkatan ekspor saja yang dapat mendorong peningkatan pendapatan
daerah karena sektor-sektor lain terikat peningkatannya oleh peningkatan pendapatan
dcaerah. Sektor lain hanya meningkat apabila pendapatan daerah secara keseluruhan

5
meningkat. Jadi satu-satunya yang bisa meningkat secara bebas adalah ekspor. Ekspor
tidak terikat dalam siklus pendapatan daerah;

b) asumsi kedua adalah fungsi pengeluaran dan fungsi impor bertolak dari titik nol sehingga
tidak akan berpotongan. Model teori basis ini adalah sederhana, sehingga memiliki
kelemahan-kelemahan antara lain sebagai berikut :

Menurut Richardson besarnya basis ekspor adalah fungsi terbalik dari besarnya suatu
daerah. Artinya, makin besar suatu daerah maka ekspornya akan semakin kecil
apabila dibandingkan dengan total pendapatan.
Ekspor jelas bukan satu-satunya faktor yang bisa meningkatkan pendapatan daerah.
Ada banyak unsur lain yang dapat meningkatkan pendapatan daerah seperti :
pengeluaran atau bantuan pemerintah pusat, investasi, dan peningkatan produktivitas
tenaga kerja.
Dalam melakukan studi atas satu wilayah, multiplier basis yang dioperoleh adalah
rata-ratanya dan bukan perubahannya. Menggunakan multiplier basis rata-rata untuk
proyeksi seringkali memberikan hasil yang keliru apabila ada tendensi perubahan
nilai multiplier dari tahun ke tahun.
Beberapa pakar berpendapat bahwa apabila pengganda basis digunakan sebagai alat
proyeksi maka masalah time lag (masa tenggang) harus diperhatikan
Ada kasus dimana suatu daerah yang tetap berkembang pesat meski ekspornya
relatif kecil. Pada umumnya hal ini dapat terjadi pada daerah yang terdapat banyak
ragam kegiatan dan satu kegiatan saling membutuhkan dari produk kegiatan lainnya.
Pada daerah ini tetap tercipta pasar yang tertutup tetapi dinamis, dan ini bisa terjadi
apabila syarat-syarat keseimbangan yang dituntut dalam teori Harrod-Domar dapat
dipenuhi.

7) Model pertumbuhan interregional

Model pertumbuhan interregional merupakan perluasan dari teori basis ekspor, yaitu
dengan menambahkan faktor-faktor yang bersifat eksogen. Selain itu, model basis ekspor
hanya membahas daerah itu sendiri tanpa memperhatikan dampak dari daerah tetangga.
Sedangkan model pertumbuhan interregional ini mempertimbangkan dan memasukkan
dampak dari daerah tetangga (Tarigan, 2007 : 58). Sehingga keunggulan dari model
pertumbuhan ini tidak hanya menitikberatkan ekspor sebagai indikator dalam menghitung
pendapatan daerah, tetapi pengeluaran pemerintah dan investasi pun diperhitungkan. Artinya,
kemajuan daerah yang satu memiliki peranan yang sangat penting dalam pertumbuhan
ekonomi daerah-daerah lain yang ada disekitarnya dalam ruang lingkup regional. Oleh karena
itu, perlu adanya penerapkan model pertumbuhan interregional untuk dapat mengetahui
hubungan pertumbuhan ekonomi antara wilayah satu dengan wilayah lain.

6
B. Perkembangan Sektor-Sektor di PDRB Menurut Lapangan
Ushaa di Kabupaten Mamuju ADHK 2010
a) Analisis Pertumbuhan Ekonomi Menurut Sektor PDRB ADHK 2010

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan nilai tambah bruto seluruh barang dan
jasa yang tercipta atau dihasilkan di wilayah domestik suatu negara yang timbul akibat berbagai
aktivitas ekonomi dalam suatu periode tertentu tanpa memperhatikan apakah faktor produksi yang
dimiliki residen atau non-residen. Penyusunan PDRB dapat dilakukan melalui 3 (tiga) pendekatan
yaitu pendekatan produksi, pengeluaran, dan pendapatan yang disajikan atas dasar harga berlaku dan
harga konstan. Berikut data PDRB Kabupatren Mamuju menurut lapangan usaha dengan harga
konstan 2010 pada tabel 1:

Tabel 1 Data PDRB Kabupaten Mamuju Menurut Lapangan Usaha (Juta Rupiah) Harga
Konstan 2010

Dengan data PDRB ini,dapat terlihat berapa laju perumbuhan dan kontribusi masig-
masig sektor terhadap PDRB. Berdasarkan Grafik 1., Perekonomian Kabupaten Mamuju dalam
kurun waktu 2011 sampai 2017 menunjukkan keadaan yang fluktuatif laju Pertumbuhan ekonomi
Kabupaten Mamuju pada tahun 2011 adalah 11,37% atau 4164029,98 namun tahun 2012 dan 2013
mengalami penurunan sebesar 9,92 persen dan 8,84 persen . Setelah itu mengalami sedikit kenaikan
sebesar 8,76 dan turun kembali di tahun 2015 sebesar 7,7 % dan ditahun 2016 mengalami peningkatan
kembali sebesar 7,91% atau 6987598,45

7
Gambar 1 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Mamuju

Menurut Lapangan usaha pertumbuhan tertinggi pada tahun 2016 dicapai oleh
lapangan usaha Pengadaan listrik dan gas sebesar 23,97% diikuti oleh pertumbuhan ekonom
pada lapangan usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib
sebesar 15,57% dan lapangan usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 13,90%
sedangakan pertumbuhan ekonomi pada lapangan usaha yang terrendah adalah sektor Jasa
Perusahaan sebesar 3.24%

Berdasarkan Tabel 2, Secara keseluruhan, laju pertumbuhan PDRB Mamuju untuk masing-
masing lapangan usaha menunjukkan pertumbuhan yang positif. Selain pertumbuhan lapangan usaha
yang telah disebutkan diatas. Diperlukan analisis yang lebih mendalam masing-masing lapangan
usaha berdasarkan sub sektor ekonomi agar dihasilkan informasi yang lebih lengkap Sub Sektor -Sub
Sektor mana sajakah berpenpegaruh terhadap PDRB Kabupaten

Tabel 2 Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten menurut Lapangan Usaha Atas Harga Konstan
2010

8
Tabel 3 Kontribusi Sektor Ekonomi Terhadap PDRB Menurut Lapangan Usaha Harga Konstan
2010

Sedangkan untuk kontribusi PDRB Kabupaten Mamuju dengan menggunakan harga konstan
2010, sektor yang paling mendomominasi dan paling berkontribusi adalah sektor pertanian ,kehutanan
dan perikanan dengan kontribusi berada di atas 30 persen dari tahun 2010-2016.. Pada tabel 2 , Terjadi
penurunan sektor pertanian,kehutanan dan perikanan dari tahun 2010- 2016.. Penurunan Kontribusi
ini menunjukkan bahwa jika kinerja perekonomian Mamuju sedikit demi sedikit akan memicu sektor
lain untuk dapat memberika kontribusi yang besar terhadap PDRB Kabupaten Mamuju.

Menurunnya peranan kategori pertanian, kehutanan dan perikanan dalam perekonomian


Kabupaten Mamuju berdampak terhadap peningkatan peran kategori lainnya misalkan dari tahun
2015 ke 2016 dimana kontribusi pertanian, kehutanan dan perikanan turun 1 persen dari 33,99 persen
menjadi 32,99 persen. Penurunan Sektor pertanian ,kehutanan dan perikanan maka sektor
pertambanagan dan penggalian meningkat dari 3,27 persen menjadi 3,33 persen, sektor pengadaan
lisrik dan gas dari 0,08 persen ke 0,09 persen dan konstruksi dari 10,24 menjadi 10,4 persen

Namun, penurunan sektor pertanian,kehutanan dan perikanan dari tahun 2015 ke 2016 juga
berefek terhadap penurunan sektor lain. Misalnya pada sektor industri pengolahan dari 3,69 persen
turun menjadi 3,51 persen.dan sektor perdagangan besar dan eceran reparasi mobil dan sepeda motor
turun dari 10,09 persen menjadi 9,7 persen

9
Dengan melihat data PDRB, kontrubusi terhadap PDRB dan laju pertumbuhan maka penulis
ingin meneliti sektor-sektor yang berpengaruh besar terhadap PDRB Kabupaten Mamuju

1. Perkembangan Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan

Pertumbuhan PDRB tahun 2011-2016 pada kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan
mengalami keadaan fluktuatf pertumbuhan PDRB. Pada tahun 2011 pertumbuhannya adalaj 10,86
persen. Pada tahun 2012 mengalami perlambatan pertumbuhan dimana tercata pada tahun 2012
pertumbuhannya adalah 6,54 persen dan tahun 2013 mengalami sedikit peningkatan yakni 6,61
persen. Kemudian pada tahun 2014 mengalami peningkatan kembali sebesar 7,24 persen. Dua tahun
setelah yaitu 2015 dan 2016 mengalami perlambatan pertumbuhan diman pada tahun 2015
pertumbuhannya adalah 6,75 persen dan pada 2016 pertumbuhannya adalah 4,26. Dibanding tahun-
tahun sebelumnya pertumbuhan tahun 2016 paling terendah dibdanding lima tahun sebelumnya. Hal
ini dapat terllihat pada tabel 3

Sedangkan kontribusi sekor pertanian, kehutanan dan perikanan dari tahun 2010 samapai
2016 tetap berkonntribusi besar terhadap PDRB dimana selama 7 tahun terakhir sektor pertanian,
kehutanan dan perikana berada diatas 30 persen . Hal ini dapat dilihat pada tabel 4. Walaupun selama
7 tahun terakhir. Mulai tahun 20102016 terus terjadi perlambatan pertumbuhan pada sektor
pertanian, kehutanan dan perikanan .:

Penyebab kontribusi sektor peetanian ,kehutanan dan perikanan memiliki kontribusi besar
terhadap PDRB Mamuju adalah
a. Letak geografis kabupaten mamuju yang diantara perbukitan dan daerah pinggiran pantai
b. Masih banyak tenaga kerja yang bekerja sebagai petani dan nelayan

Tabel 3 Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Mamuju menurut lapangan usaha Atas Harga
Konstan 2010

Tabel 4 Kontribusi PDRB Kabupaten Mamuju menurut lapangan usaha Atas Harga Konstan
2010

10
Kategori ini terdiri dari tiga sub kategori yakni sub kategori pertanian, peternakan, perburuan
dan jasa pertanian; sub kategori kehutanan; dan penebangan kayu dan sub kategori perikanan,
Kategori ini merupakan lapangan usaha yang paling dominan baik dari sisi kontribusi terhadap total
perekonomian maupun dari penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Mamuju. Oleh karena itu harus
dilihat berdasarkan berapa kontribusi masing-masing sub sektor dan laju pertumbuhannya. Berikut
Kontribusi dan laju pertumbuhan masing-masing sub sektor

a. Sub Sektor Pertanian

Kontribusi Sub sektor pertanian atau dalam hal ini sub sektor pertanian, peternakan jasa
pertanian serta perburuan mengalami perlambatan pertumbuhan berdasarkan tabel 4 terhadap PDRB
Kabupaten Mamuju dimana pada tahun 2010 berkontribusi sebesar 26,36 persen. Kemudian, pada
tahun 2011 sampai 2016 terus mengalami perlambatan yaitu pada tahun 2011 turun sebesar 1,78
persen atau menjadi 24,58 persen. Pada tahun 2012 kemudian turun sebesar 0,7 persen. Atau sebesar
24,51 persen. Pada tahun 2013 mengalami penurunan 0,69 persen atau 23,82 persen. Hingga tahun
2014 sampai 2016 terus terjadi perlamabatan dimana pertumbuhannya adalah 23,1 pada tahun 2014,
22,88 persen pada tahun 2015 dan 22,19 pada tahun 2016 . Hal ini dapat dilihat pada tabel 4

Laju pertumbuhan sub sektor pertanian mengalami keadaan fluktuatif. Pada tahun 2011
adalah 7,67 persen . Kemudia mengalami penurunan pada tahun 2012 dan 2013 sebesar 5,72 persen
dan 5,51 persen. Kemudian pada tahun 2014 dan 2015 mengalami sedikit peningkatan sebesar persen
5,56 perse dan 6,67 persen Kemudian Pada tahun 2016 mengalami perlambatan Laju
pertumbuhannya sebesar 4,66 persen . Dibanding tahun sebelum-sebelumnya PDRB tahun 2016 laju
pertumbuhannya paling rendha dibanding 5 tahun tefakhir.

Saat ini, pemerintah sedang membangun bendungan irigasi yang berada di kecamatan Tommo
dan Kecamatan Kalukku Dengan pembangunan bendungan Tommo tersebut maka sawah yang ada di
Kecamatan Tommo, Sampaga, Papalang, dan Kecamatan Pangale, Kabupaten Mamuju akan memiliki
sarana irigasi teknis yang lebih memadai memacu peningkatan produksi pangan Sulbar. Sedangkan
untuk Kecamatan Kalukku,dengan dibangunnya Bendungan Beru-Beru nantinya akan mampu
mengairi ribuan hektare tanaman padi di Kecamatan Kalukku yang selama ini belum memiliki sarana
irigasi teknis karena tidak adanya bendungan di wilayah itu

Dengan proyek infrastruktur tersebut masyarakat petani juga akan semakin sejahtera karena
sawah tadah hujan mereka akan diairi dengan irigasi teknis. Juga akan membuat sektor pertanian
semakin maju dan akan meningkatkan suplai beras dari Sulbar ke daerah lain di Indonesia yang
kekurangan pangan.

11
Gambar 1 Bendungan Irigas yang berada di Kecamatan Tommo

Gambar 2 Bendungan Irigasi yang berada Kecamatan Tommo

12
Denga melihat hal ini, maka teori yang cocok untuk hal ini adalah Teori Pertumbuhan
Jalur Cepat yang Disinergikan, sebab Kecamatan Tommo dan Kecamatan Kalukku
memiliki hasil pertanian atau potensi yang lebih besar dibanding dengan kecamatan
lain sehingga dapat dikembangkan dengan cepat

1) Pertanian Tanaman Pangan

Meliputi semua kegiatan ekonomi yang menghasilkan komoditas bahan pangan. Komoditas
yang dihasilkan oleh kegiatan tanaman pangan meliputi padi, palawija (jagung, kedele, kacang tanah,
kacang hijau, ubi jalar, ubi kayu, palawija lainnya, seperti talas, ganyong, irut, gembili, dll), serta
tanaman serelia lainnya (sorgum/cantel, jawawut, jelai, gandum, dll).

Kabupaten Mamuju merupakan wilayah pengembangan sentra produksi beras yang sangat
prospektif dengan potensi persawahan seluas 155.097 Ha, dengan luas panen 36.078 Ha, sebagian besar
atau sekitar 24.139 Ha merupakan sawah tadah hujan dan selebihnya merupakan sawah irigasi desa

Berdasarkan data BPS,komoditas padi sawah memiliki produksi terbesar di Kabupaten mamuju
dibanding komoditas lain sebanyak 142.075,43 ton dan di kecamatan yang paling besar produksinya di
Kecamatan Tommo sebesar 40.353,75 ton. Dan yang kedua berada Di Kecamtan Kaluku sebesar 36.450,53
ton.

Komoditas terbesar kedua di Kabupaten Mamuju adalah Jagung sebesar 100.412,34 ton dan yang
paling besar produksinya di kecamatan Tommo sebesar 36,328,60 ton. Secara umum penulis melihat
bahwa kecamatan Tommo paling dominan dalam hal produksi pertanian. Sebab, dari 8 komoditas terdapat
5 komoditas produksinya banyak ada di Kecamatan Tommo.

Tabel 1 Data Jumlah Produksi Pertanian Berdasarkan Kecamatan di Kabupaten Mamuju tahun 2016,

2) Tanaman Hortikultura

13
Komoditas yang dihasilkan oleh kegiatan tanaman hortikultura meliputi kelompok komoditi
sayuran, buah-buahan, tanaman biofarmaka, dan tanaman hias. Berdasarkan Tabel 3 yakni data laju
pertumbuhan PDRB menurut lapangan usaha berdasarkan harga konstan tahun 2010. Pada tahun
2010-2013 pada tanaman pangan dan hortikulturan mengalami penurunan laju pertumbuhan .secara
berturut-turut yaitu 3,41 persen, 2,98 persen dan 0,25% namun di tahun 2014-2016 mengalami
peningkatan yang signifikan sebesar 1,57 persen, 6,71 persen dan 22,95 persen.

Sedangkan untuk kontribusinya sub sektor tanaman pangan pada tahun 2010 adalah 9,49
persen. Kemudin pada tahun 2011-2015 mengalami perlambatan pertumbuhan sebesar 8,81 persen
pada tahun 2011, 8,2 persen pada tahun 2012, 7,59 persen pada tahun 2013, 7,08 persen pada tahun
2014 dan 7,02 persen pada tahun 2015. Kemudian meningkat kembali pada tahun 2016 sebesar 8
persen.

Tabel Data Jumlah Produksi Sayur-Sayuran Berdasarkan Kecamatan di Kabupaten Mamuju tahun 2016,

Tabel Data Jumlah Produksi Buah-Buahan Berdasarkan Kecamatan di Kabupaten Mamuju tahun 2016,

3) Tanaman Perkebunan

Komoditas yang dihasilkan oleh kegiatan tanaman perkebunan diantaranya adalah tebu,
tembakau, nilam, jarak, wijen, tanaman berserat (kapas, rosela, rami, yute, agave, abaca, kenaf, dan-
lain-lain), kelapa, kelapa sawit, karet, kopi, teh, kakao, lada, pala, kayu manis, cengkeh, jambu mete,
dan sebagainya.

Laju pertumbuhan PDRB Perkebunan semusim dan tahunan mengalami pertumbuhan yang
fluktuatif , Namun di tahun 2016 laju pertumbuhan di perkebunan semusim dan tahunan mengalami
pertumbuhan yang negatif sebesar -.4,74. Kemungkinan salah satu penyebab nya adalah gagal panen
pada tanaman perkebuban . Sedangkan untuk kontribusinya memiliki kontribusi yang besar dibanding
sub sektor yang lain pada sektor pertanian. Pada tahun 2010, kontribusinya adalah 13, 9 persen.
Kemudian terjadi penurunan pada tahun 2012 dan 2013 sebesar 13,89 persen dan 13,7 persen. Pada

14
tahun 2013 meningkat sebesae 0,06 persen atau 13,76 persen. Lalu tiga tahun setelahnya mengalami
penurunan sebesar 13,62 pada tahun 2014, 13, 52 persen pada tahun 2015 dan 11,94 persen pada
tahum 2016. Tahun 2016 mencatatkan kontribusinya terendah dibanding tahun-tahun sebelumnya.

4) Peternakan dan Jasa Pertanian

Laju pertumbuhan PDRB peternakan dan jasa pertanian mengalami kenaikan dari tahun 2011-
2014 sebesar 4,49 persen, 8,98 persen, 9,87 persen dan 11,38 persen. Namun, di tahun 2015
mengalami penurunan pada tahun 2015-2016 sebesar 10,59 dan 7,29. Sedangkan untuk kontribusinya
pada sub sektor ini dari tahun 2010-2016 masih tetap stabil berada dibawah 3 persen. Berdasarkan
tabel 4

b. Sub Sektor Kehutanan dan Penebangan Kayu

Sub Kategori ini meliputi kegiatan penebangan segala jenis kayu serta pengambil daun-
daunan, getah-getahan, dan akar-akaran, termasuk di sini adalah jasa yang menunjang kegiatan
kehutanan berdasarkan sistem balas jasa/kontrak. Komoditas yang dihasilkan oleh kegiatan kehutanan
meliputi kayu gelondongan (baik yang berasal dari hutan rimba maupun hutan budidaya), kayu bakar,
rotan, bambu, dan hasil hutan lainnya. Dicakup juga dalam kegiatan kehutanan ini adalah jasa yang
menunjang kegiatan kehutanan atas dasar balas jasa (fee) atau kontrak, termasuk kegiatan reboisasi
hutan yang dilakukan atas dasar kontrak

Berdasarkan tabel 3, laju pertumbuhhan pada sub sekor ini,mengalami keadaaan fluktuatif
dimana pada tahun 2011 laju pertumbuhannya adalah 1,96 persen, Kemudian terjadi penurunan pada
tahun 2012 sebesar 0,07 persen dan meningkat pada tahun 2013 sebesar 2,69 persen. Kemudia pada
tahun 2014 peningkatan laju pertumbuhan pada sektor ini cukup signifikan berada di angka 4,07
persen dan di tahun 2015 turun menjadi 4,05 persen. Pada tahun 2016 berada di angka 4,24 persen
.Sedangkan untuk kontribusi pada sub sekor ini dari tahun 2010-2016 masih berada di bawah 1
persen

c. Sub Sektor Perikanan

Sub Kategori ini meliputi semua kegiatan penangkapan, pembenihan, dan budidaya segala
jenis ikan dan biota air lainnya, baik yang berada di air tawar, air payau maupun di laut. Komoditas
yang dihasilkan oleh kegiatan perikanan meliputi segala jenis ikan, crustacea, mollusca, rumput laut,
dan biota air lainnya yang diperoleh dari penangkapan (di laut dan perairan umum) dan budidaya
(laut, tambak, karamba, jaring apung, kolam, dan sawah). Dicakup juga dalam kegiatan perikanan ini
adalah jasa yang menunjang kegiatan perikanan atas dasar balas jasa (fee) atau kontrak
.
Komoditas yang dihasilkan oleh kegiatan perikanan meliputi segala jenis ikan, crustacea,
mollusca, rumput laut, dan biota air lainnya yang diperoleh dari penangkapan (di laut dan perairan
umum) dan budidaya (laut, tambak, karamba, jaring apung, kolam, dan sawah

Berdasarkan tabel 3, laju pertumbuhhan pada sub sekor ini,mengalami keadaaan fluktuatif
dimana pada tahun 2011 laju pertumbuhannya adalah 19,8 persen. Kemudian pada tahun 2011-2016
terus mengalami keadaan fluktuatif. Laju pertumbuhan pada tahun 2016 adalah 5 persen. Sedangkan

15
untuk kontribusinya pada tahun 2010 sebesar 9,85 persen. . Kemudian pada tahun 2011-2016 terus
mengalami keadaan fluktuatif. Kontribusinya pada tahun 2016 adalah 10,48 persen.

2. Perkembangan Pertambangan dan Penggalian

Aktivitas kategori pertambangan dan penggalian di Kabupaten Mamuju selama 2016 mampu
menciptakan nilai tambah sebesar 308,92 miliar rupiah, capaian ini meningkat dari kondisi 2014 yang
sebesar 229,42 miliar rupiah. Jika diukur dengan kondisi tahun dasar 2010, aktivitas kategori
pertambangan dan penggalian pada tahun 2016 menghasilkan nilai tambah hingga 232,37 miliar
rupiah. Lebih tinggi dari 2014 yang sebesar 195,39 miliar rupiah. Selengkapnya pada Tabel 4.2

3. Perkembangan Industri Pengolahan


Pada tahun 2016, perekonomian yang tergolong dalam kategori industri pengolahan di Kabupaten
Mamuju tumbuh sebesar 2,79 persen yang ditandai dengan nilai tambah sebesar 238,92 miliar rupiah
pada tahun 2015 naik menjadi 245,59 miliar rupiah pada tahun 2016 (yang dinilai berdasarkan harga
konstan 2010).

16
4. Perkembangan Pengadaan Listrik dan Gas

Pada tahun 2016, kategori pengadaaan listrik dan gas di Kabupaten Mamuju mengalami
pertumbuhan 23,97 persen. Jika dibandingkan dengan kinerja selama lima tahun terakhir, terlihat jika
pengadaan listrik dan gas di Kabupaten Mamuju pada tahun 2016 menunjukkan peningkatan yang
cukup signifikan. Pada tahun 2010 pengadaan listrik dan gas di Kabupaten Mamuju hanya mampu
tumbuh hingga 17,39 persen, lalu bahkan mengalami perlambatan pada tahun 2011 dan 2012 sebesar
14,73 persen dan 14,41 persen. Lalu megalami sedikit peningkatan sebesar 15,09 persen dan
mengalami perlambatan kembali hingga sebesar 7,12 persen. Kontribusi kategori ini dalam bingkai
ekonomi Kabupaten Mamuju juga terlihat bergerak stagnan pada kisaran 0,06-0,09 persen. Kendati
masih terbilang kecil, akan tetapi kategori ini akan memiliki peluang yang cukup cerah untuk
pengembangan kedepannya mengingat perkembangan Kabupaten Mamuju yang menjadi magnet
pemerintahan di Sulawesi Barat yangmembutuhkan ketersediaan pasokan energi yang mencukupi

Data PDRB Kabupaten Mamuju Menurut Lapangan Usaha Atas harga berlaku pada tahun 2010

5. Perkembangan Pengadaan air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang


Kontribusi pengadaan air,pengeloaan sampah, limbah dan daur ulanh masih sangat sangat
kecil masih berada di bawah 1 persen. Berdarkan tabel .Hal itu dikarenakan di Kabupate Mamuju
belum ada tempat yang digunakan untuk mengolah sampah. Oleh karena itu saat ini pemerintah terus
meningkatkan kinerja pengadaan air, pengelolaan sampah dan limbah serta tempat daur ulang hal ini
dapat dilihat pada tabel

Data PDRB Kabupaten Mamuju Menurut Lapangan Usaha Atas harga berlaku pada tahun 2010

6. Perkembangan Konstruksi

17
Kontribusi kategori konstruksi pada tahun 2010 adalah 11,28 persen. Namun, pada tahun
2011-2013 mengalami sedikit penurunan sebesar 10,05 persen (2011), 10,03 persen (2012) dan 9,91
(2013). Setelah itu di tahun 2014-2016 mengalami peningkatan sebesar 10,09 persen (2014), 10,24
persen (2015) dan 10,4 persen (2016). Sedangkan laju perumbuhan PDRB pada tahun 2011 sebesar
3,64 %. Kemudian ditahun berikutnya yakini 2012-2014 mengalami peningkatan sebesar 5,01 persen
(2012), 7,06 persen (2013) dan 10,78 persen (2014). Kemudia di tahun 2015 mengalami penuruan
sebesar 929 persen dan setelah itu meningkat kembali di tahun 2016 sebesar 9,64 persen.

Tabel Data Laju pertumbuhan dan Kontribusi PDRB

Data PDRB Kabupaten Mamuju Menurut Lapangan Usaha Atas harga berlaku pada tahun 2010

Berkembangnya sektor ini karena saat ini kabupaten mamuju terus memperbaiki infrastruktur
seperti jalan, sanitasi, jaringan irigasi dan hal ini menguntugkan pada perusahaan-perusahaan yang
bergerak di sektor konstruksi.

7. Perkembangan Perdagangan Besar, Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

Selama kurun waktu 2010-2015 , share kategori perdagangan besar dan eceran; reparasi
mobil dan sepeda motor terhadap perekonomian Kabupaten Mamuju pada tahun 2010, kategori ini
memiliki peran hingga 10,35 persen. Lalu mengalami penurunan 10,32 persen pada tahun 2011
kemudian meningkat pada tahun 2012 dan 2013 sebesae 10,6 persen dan 10,59 dan setelah itu pada
tahun 2014-2016 mengalami penurunan sebesar 10,53 persen, 10,09 persen dan 9,7 persen dalam
membentuk PDRB Kabupaten Mamuju. . Menurunnya kinerja kategori ini tidak berarti jika kategori
perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor di Kabupaten Mamuju mengalami
penurunan (kinerja memburuk). Menurunnya capaian kontribusi ini lebih disebabkan oleh adanya
kinerja lapangan usaha lain yang jauh lebih besar. Sedangkan laju pertumbuhan di tahun 2011 adalah
11,03 persen kemudia meningkat sebesar 11,45 % lalu mengalamai penurunan pada tahun 2013-2015
sebesar 9,78 persen, 8,06 persen dan 3,24 persen. Pada tahun 2016 mengalami sedikit kenaikan
sebesar 3,77 persen

Tabel Data Laju Pertumbuhan dan Kontribusi PDRB sektor Perdagangan Besar, Eceran,
Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

18
Data PDRB Kabupaten Mamuju Menurut Lapangan Usaha Atas harga berlaku pada tahun 2010

Besarnya kontribusi PDRB pada sektor ini adalah banyaknya perusahaan yang sudah
memiliki izin. Menurut data bps pada tahun 2016, tercatat perushaan yang mendapatkan izin sebanyak
581 perusahaan.Dari 581 perusahaan terdapat 90 pedagang besar, 85 pedagang menengah, dan 406
pedagang kecil. Selain itu penyebab lainnya adalah adanya sarana perdagangan yang saat ini cukup
besar. Menurut data bps pada tahun 2016 total sarana perdagangan di Kabupaten Mamuju adalah
1231. Dari 1231 sarana perdagangan terdapat 43 Pasar, 26 Swalayan, 69 Toko, 922 Kios dan 171
Warung

8. Perkembangan Transportasi dan Pergudangan


Kinerja kategori transportasi dan pergudangan di Kabupaten Mamuju pada tahun 2016
tumbuh sebesar 15,15 persen. Capaian di tahun ini lebih cepat dari kinerja dua tahun sebelumnya yang
masing-masing tumbuh pada kisaran 9,27 persen (tahun 2014) dan 7,19 persen (tahun 2015). Capaian
pertumbuhan pada skala Kabupaten Mamuju juga nampak lebih tinggi dari pertumbuhan pada level
Sulawesi Barat. Kedepannya kinerja transportasi di Kabupaten Mamuju diharapkan dapat
terus meningkat mengingat Kabupaten Mamuju memiliki moda transportasi yang lebih banyak dari
kabupaten lainnya.

9. Perkembangan Penyediaan Akomodasi Makan dan Minum

19
Kategori penyediaan akomodasi makan dan minum memberikan kontribusi yang relatif stabil
bagi PDRB Kabupaten Mamuju dimana pada tahun 2010-2017 dengan peranan kurang lebih berada
di angka 0,28 persen. Sedangkan laju pertumbuhan ekonomi kategori ini pada tahun 2016 yaitu
sebesar 8,50 persen dibandingkan pada tahun 2015 sebesar 4,42 persen, namun tetap selalu
menunjukkan pertumbuhan yang positif

10. Perkembangan Informasi dan Komunikasi


Kategori informasi dan komunikasi memiliki peranan sebagai penunjang aktivitas di setiap
bidang ekonomi. Dalam era globalisasi, peranan kategori ini sangat vital dan menjadi indikator
kemajuan suatu bangsa, terutama jasa telekomunikasi. Peranan kategori ini terhadap perekonomian di
Kabupaten Mamuju selama tahun 2013-2017 cenderung meningkat yakni secara berturut-turut sebesar
7,15 persen, 7,37 persen, 7,54 persen, dan 7,69 persen. Walaupun tahun 2010 ke 2011 mengalami
penurunan dari 6,9 ke 6,83 persen lalu meningkat kembali di tahun 2012 sebesar 6,94 persen..
Sedangkan laju pertumbuhannya menunjukkan kondisi yang fluktuatif. Padahal di tahun 2010-2014
mengalami peningkatan , yaitu sebesar 11,70 persen tahun 2011, 11,73 persen tahun 2012, 11,73
persen tahun 2013, 12,14 persen tahun 2014, dan mengalami penurunan sebesar 10,22 persen tahun
2015 dan terjadi penurunan lagi sebesar 10,04 persen tahun 2016

20
11. Perkembangan Jasa Keuangan dan Asuransi
Kategori jasa keuangan dan asuransi di Kabupaten Mamuju pada tahun 2016 mengalami
pertumbuhan sebesar 6,64 persen. Capaian pertumbuhan ini melaju lebih cepat dari tahun sebelumnya
yang hanya tumbuh 5,87 persen. Adapun kontribusi kategori keuangan dalam menciptakan PDRB
Kabupaten Mamuju mengalami penurunan dari 2,72 persen dari tahun 2015 menjadi 2,67 persen pada
tahun 2016. Penurunan kontribusi ini tidak menunjukkan jika terjadi penurunan penciptaan nilai
tambah pada kategori ini. Hal ini terlihat dariNTB pada tahun 2015 mencapai 174,23 miliar rupiah
menjadi 185,81 miliar rupiah pada tahun 2016

Tabel

12. Perkembangan Real Estate

Kategori real estate memberikan kontribusi yang relatif stabil bagi PDRB Kabupaten Mamuju
dengan peranan sebesar kurang dari 3 persen. Selama tahun 2010-2017, secara berturut-turut
sumbangan kategori real estate cenderung menurun yaitu sebesar 2,81 persen, 2,65 persen, 2,52
persen, 2,39 persen, 2,33 , 2,31 % dan 2,25 persen . . Sedangkan laju pertumbuhan ekonomi kategori
ini pada tahun 2016 yaitu sebesar 5,06 persen dibandingkan pada tahun 2015 sebesar 6,61 persen,
namun tetap selalu menunjukkan pertumbuhan yang positif.

21
13. Perkembangan Jasa Perusahaan
Selama 5 tahun terakhir, kontribusi kegiatan ekonomi pada kategori jasa perusahaan relatif
tidak banyak berubah, yaitu selalu menunjukkan nilai 0,11 persen atau 0,12 persen dari tahun 2010-
2017. Hal ini menunjukkan pula peranan kategori ini relatif kecil dibandingkan peranan kategori-
kategori lainnya pada perekonomian Mamuju. Sedangkan laju pertumbuhannya mengalami penurunan
dari 6,22persen pada tahun 2015 menjadi 3,24 persen pada tahun 2016. Pada tahun 2010-2014
pertumbuhan kategori jasa perusahaan adalah sebesar 11 persen, 8,37 persen, dan 5,38 persen

14. Perkembangan Administasi Pemerintah, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

Kategori ini meliputi kegiatan yang sifatnya pemerintahan, yang umumnya dilakukan oleh
administrasi pemerintahan termasuk juga perundang-undangan dan penterjemahan hukum yang
berkaitan dengan pengadilan dan menurut peraturannya . Selama tahun 2010-2016 peranannya
meningkat setiap tahunnya, yaitu dengan nilai kontribusi sebesar 9,39 persen, 10,5 persen, 11,6
persen, 12,07 persen, 12,2 persen, 12,74 persen, 13,64 persen Sedangkan laju pertumbuhannya selalu
positif , yaitu sebesar 12,46 persen di tahun 2015 menjadi 15,57 persen di tahun 2016.

15. Perkembangan Jasa Pendidikan

22
Jasa Pendidikan mencakup kegiatan pendidikan pada berbagai tingkatan dan untuk berbagai
pekerjaan, baik secara lisan atau tertulis seperti halnya dengan berbagai cara komunikasi. Kategori ini
juga mencakup pendidikan negeri dan swasta juga mencakup pengajaran yang terutama mengenai
kegiatan olahraga, hiburan dan penunjang pendidikan. Pendidikan dapat disediakan dalam ruangan,
melalui penyiaran radio dan televise, internet dan surat menyurat. Tingkat pendidikan dikelompokan
seperti kegiatan pendidiakn dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi dan pendidikan lain,
mencakup juga jasa penunjang pendidikan dan pendidikan anak usia dini

Pada tahun 2016 kontribusi jasa pendidikan menyumbang sebesar 9,68 persen terhadap total
PDRB Kabupaten Mamuju, meningkat dibandingkan pada tahun 2014 sebesar 6,98 persen. Namun
demikian, kontribusi kategori ini berfluktuatif sepanjang tahun 2010-2014 mengalami penurunan
berturut-turut yaitu 13.23 persen, 13.19 persen, 10.61 persen, 6.99 persen .

16. Perkembangan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial


Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial mencakup kegiatan penyediaan jasa kesehatan dan
kegiatan sosial yang cukup luas cakupannya, dimulai dari pelayanan kesehatan yang diberikan oleh
tenaga profesional terlatih di rumah sakit dan fasilitas kesehatan lain sampai kegiatan perawatan di
rumah yang melibatkan tingkatan kegiatan pelayanan kesehatan sampai kegiatan sosial yang tidak
melibatkan tenaga kesehatan profesional. Kegiatan penyediaan jasa kesehatan dan kegiatan sosial
mencakup: Jasa Rumah Sakit; Jasa Klinik;
Jasa Rumah Sakit Lainnya; Praktik Dokter; Jasa Pelayanan Kesehatan yang dilakukan oleh
Paramedis; Jasa Pelayanan Kesehatan Tradisional; Jasa Pelayanan Penunjang Kesehatan; Jasa
Angkutan Khusus Pengangkutan Orang Sakit (Medical Evacuation); Jasa Kesehatan Hewan; Jasa
Kegiatan Sosial

23
.

Grafik Kontribusi PDRB dan Laju Pertumbuhan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial

Grafik ini mengalami fluktiatif dan rata-rata kontribusi sektor jasa kesehatan dan kegiatan
sosial pada tahun 2010 dan sampai 2016 sebesar 2% hal ini dikarenakan karena fasilitas kesehatan di
kabupaten mamuju masih sangat minim. Walaupun setiap kecamatan sudah punya fasilitas kesehatan
seperti puskesmas. Namun, rumah sakit di kabupaten mamuju hanya 3 rumah sakit yang di tempatkan
di dua kecamatan yakni Kecamatan Simboro dan Kecamtan Mamuju.

17. Perkembangan Jasa Lainnya

Tabel Data Laju Pertumbuhan dan Kontribusi PDRB Sektor Jasa Lainnya

Jasa Lainnya merupakan gabungan 4 kategori pada KBLI 2009. Kategori ini mempunyai
kegiatan yang cukup luas yang meliputi: Kesenian, Hiburan, dan Rekreasi; Jasa Reparasi Komputer
Dan Barang Keperluan Pribadi Dan Perlengkapan Rumah Tangga; Jasa Perorangan yang Melayani
Rumah Tangga; Kegiatan Yang Menghasilkan Barang dan Jasa Oleh Rumah Tangga Yang Digunakan
Sendiri untuk memenuhi kebutuhan; Jasa Swasta Lainnya termasuk Kegiatan Badan Internasional,
seperti PBB dan perwakilan PBB, Badan Regional, IMF, OECD, dan lain-lain

Kontribusi Jasa Lainnya terhadap perekonomian Kabupaten Mamuju relatif kecil yaitu
berturut- turut sejak 2010-2016 sebesar 2,54 persen , 2,49 persen , 2,68 persen ,2,72 persen,
2,87 persen, 2,88 persen, 2,88 persen. Sedangkan laju pertumbuhannya mengalami fluktuatif dari

24
tahun 2011-2016 , yaitu 9.25 persen , 18.38 persen, 9.74 persen, 14.83 persen,,8.18 persen, dan 8.01
persen.

C. Kesimpulan

Dari data PDRB Kabupaten mamuju menurut lapangan usaha dengan menggunakan harga
konstan dari tahun 2010-2016. Kita bisa melihat bahwa

25