Anda di halaman 1dari 10

PERTUMBUHAN DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN KONTROVERSI

IMPLIKASI KUVA U TERBALIK DARI KUZNET KURVA LORENZ,


KOEFISIEN GINI KEMISKINAN RELATIF DAN ABSOLUT
A. PERTUMBUHAN EKONOMI
1. Definisi Pertumbuhan Ekonomi
Menurut Boediono : Pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan output per kapita yang
terus-menerus dalam jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi adalah proses dimana terjadi
kenaikan produk nasional bruto riil atau pendapatan nasional riil. Jadi perekonomian
dikatakan tumbuh atau berkembang bila terjadi pertumbuhan output riil. Definisi
pertumbuhan ekonomi yang lain adalah bahwa pertumbuhan ekonomi terjadi bila ada
kenaikan output perkapita. Pertumbuhan ekonomi menggambarkan kenaikan taraf hidup
diukur dengan output riil per orang. Pertumbuhan ekonomi dalam bahasa inggris diistilahkan
dengan economic growth mengandung pengertian proses kenaikan output per kapita dalam
jangka panjang atau perubahan tingkat kegiatan ekonomi yang terjadi Dari tahun ke tahun.
Model pembangunan yang dilakukan Indonesia pada masa awal orde baru diprioritaskan pada
pertumbuhan ekonomi. Tujuannya adalah untuk mengatrol kondisi ekonomi yang sedang
jatuh pada masa itu. Cara yang paling cepat adalah dengan cara konglomerasi yaitu
mendorong peningkatan investasi dan pembangunan dengan padat modal. Sedangkan
prioritas kedua adalah pada stabilisasi, karena tanpa adanya stabilisasi maka pembangunan
tidak akan berlangsung dengan baik. Itulah sebabnya mengapa pemerintah Indonesia pada
masa itu menetapkan stabilisasi sebagai salah prioritas utama dalam pelaksanaan
pembangunan. Sedangkan pemerataan pembangunan dan hasil hasilnya justru menjadi
prioritas ketiga.

2. Ciri-Ciri Terjadinya Pertumbuhan Ekonomi


a. Kenaikan penawaran tenaga kerja
Penawaran tenaga kerja yang meningkat dapat menghasilkan keluaran yang lebih banyak.
Jika stok modal tetap sementara tenaga kerja naik, tenaga kerja baru cenderung akan kurang
produktif dibandingkan tenaga kerja lama. Penurunan produktivitas itu disebut hasil (per unit
masukan) yang menurun (diminshing returns). Hasil (per unit masukan) yang berkurang
dapat terjadi jika stok modal suatu bangsa bertumbuh lebih lamban dari angkatan kerjanya.
b. Kenaikan modal fisik
Kenaikan stok modal dapat juga menaikkan keluaran, bahkan jika tidak disertai oleh
kenaikan angkatan kerja. Modal fisik menaikkan baik produktivitas tenaga kerja maupun
menyediakan secara langsung jasa yang bernilai. Adalah mudah untuk melihat bagaimana
modal menyediakan jasa secara langsung.
c. Kenaikan modal SDM
Perusahaan dapat melakukan investasi dalam modal SDM melalui pelatihan d tempat kerja
(on the job training). Pemerintah melakukan investasi dalam modal SDM dengan melakukan
program-program untuk menyediakan kesehatan dan memberikan pelatihan kerja dan
pendidikan sekolah.
d. Kenaikan produktivitas
Pertumbuhan yang tidak dapat dijelaskan oleh kenaikan kuantitas masukan dapat dijelaskan
hanya dengan kenaikan produktivitas masukan tersebut setiap unit masukan tertentu
memproduksi lebih banyak keluaran. Produktivitas masukan dapat dipengaruhi oleh faktor-
faktor temasuk perubahan teknologi, kemajuan pengetahuan lain, dan ekonomisnya skala
produksi.

3. Ukuran Pertumbuhan Ekonomi


Apakah yang menjadi alat yang bisa digunakan untuk mengetahui adanya pertumbuhan
ekonomi suatu negara? Menurut M. Suparko dan Maria R. Suparko ada beberapa macam alat
yang dapat digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi yaitu :
a. Produk Domestik Bruto PDB adalah jumlah barang dan jasa akhir yang dihasilkan dalam
harga pasar. Kelemahan PDB sebagai ukuran pertumbuhan ekonomi adalah sifatnya yang
global dan tidak mencerminkan kesejahteraan penduduk.
b. PDB per Kapita atau Pendapatan Perkapita PDB per kapita merupakan ukuran yang lebih
tepat karean telah memperhitungkan jumlah penduduk. Jadi ukuran pendapatn perkapita
dapat diketahui dengan membagi PDB dengan jumlah penduduk.
c. Pendapatan Per jam Kerja Suatu negara dapat dikatakan lebih maju dibandingkan negara
lain bila mempunyai tingkat pendapatan atau upah per jam kerja yang lebih tinggi daripada
upah per jam kerja di negara lain untuk jenis pekerjaan yang sama.

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi


1. Faktor Sumber Daya Manusia, Sama halnya dengan proses pembangunan, pertumbuhan
ekonomi juga dipengaruhi oleh SDM. Sumber daya manusia merupakan faktor terpenting
dalam proses pembangunan, cepat lambatnya proses pembangunan tergantung kepada
sejauhmana sumber daya manusianya selaku subjek pembangunan memiliki kompetensi yang
memadai untuk melaksanakan proses pembangunan.
2. Faktor Sumber Daya Alam, Sebagian besar negara berkembang bertumpu kepada sumber
daya alam dalam melaksanakan proses pembangunannya. Namun demikian, sumber daya
alam saja tidak menjamin keberhasilan proses pembanguan ekonomi, apabila tidak didukung
oleh kemampaun sumber daya manusianya dalam mengelola sumber daya alam yang
tersedia. Sumber daya alam yang dimaksud dinataranya kesuburan tanah, kekayaan mineral,
tambang, kekayaan hasil hutan dan kekayaan laut.
3. Faktor Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang semakin pesat mendorong adanya percepatan proses pembangunan, pergantian pola
kerja yang semula menggunakan tangan manusia digantikan oleh mesin-mesin canggih
berdampak kepada aspek efisiensi, kualitas dan kuantitas serangkaian aktivitas pembangunan
ekonomi yang dilakukan dan pada akhirnya berakibat pada percepatan laju pertumbuhan
perekonomian.
4. Faktor Budaya, Faktor budaya memberikan dampak tersendiri terhadap pembangunan
ekonomi yang dilakukan, faktor ini dapat berfungsi sebagai pembangkit atau pendorong
proses pembangunan tetapi dapat juga menjadi penghambat pembangunan. Budaya yang
dapat mendorong pembangunan diantaranya sikap kerja keras dan kerja cerdas, jujur, ulet dan
sebagainya. Adapun budaya yang dapat menghambat proses pembangunan diantaranya sikap
anarkis, egois, boros, KKN, dan sebagainya.
5. Sumber Daya Modal, Sumber daya modal dibutuhkan manusia untuk mengolah SDA dan
meningkatkan kualitas IPTEK. Sumber daya modal berupa barang-barang modal sangat
penting bagi perkembangan dan kelancaran pembangunan ekonomi karena barang-barang
modal juga dapat meningkatkan produktivitas. Dua hal esensial harus dilakukan untuk
mencapai pertumbuhan ekonomi adalah, pertama sumber-sumber yang harus digunakan
secara lebih efisien. Ini berarti tak boleh ada sumber-sumber menganggur dan alokasi
penggunaannya kurang efisien. Yang kedua, penawaran atau jumlah sumber-sumber atau
elemen-elemen pertumbuhan tersebut haruslah diusahakan pertambahannya.

Elemen-elemen yang memacu pertumbuhan ekonomi tersebut adalah sebagai berikut.


1. Sumber-sumber Alam Elemen ini meliputi luasnya tanah, sumber mineral dan tambang,
iklim, dan lain-lain. Beberapa negara sedang berkembang sangat miskin akan sumber-sumber
alam, sedikitnya sumber-sumber alam yang dimiliki meruoakan kendala cukup serius.
Dibandingkan dengan sedikitnya kuantitas serta rendahnya persediaan kapital dan sumber
tenaga manusia maka kendala sumber alam lebih serius.
2. Sumber-sumber Tenaga Kerja Masalah di bidang sumber daya manusia yang dihadapi oleh
negara-negara sedang berkambang pada umumnya adalah terlalu banyaknya jumlah
penduduk, pendayagunaannya rendah, dan kualitas sumber-sumber daya tenaga kerja sangat
rendah.
3. Kualitas Tenaga Kerja Kualitas tenaga kerja yang rendah negara-negara sedang
berkembang tak mampu mengadakan investasi yang memadai untuk menaikkan kualitas
sumber daya manusia berupa pengeluaran untuk memelihara kesehatan masyarakat serta
untuk pendidikan dan latihan kerja.
4. Akumulasi Kapital Untuk mengadakan akumulasi kapital diperlukan pengorbanan atau
penyisihan konsumsi sekarang selama beberapa decade. Di negara sedang berkembang,
tingkat pendapatan rendah pada tingkat batas hidup mengakibatkan usaha menyisihkan
tabungan sukar dilakukan. Akumulasi kapital tidak hanya berupa truk, pabrik baja, plastik
dan sebagainya; tetapi juga meliputi proyek-proyek infrastruktur yang merupakan prasyarat
bagi industrialisasi dan pengembangan serta pemasaran produk-produk sektor pertanian.
Akumulasi kapital sering kali dipandang sebagai elemen terpenting dalam pertumbuhan
ekonomi. Usaha-usaha untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi dilakukan dengan
memusatkan pada akumulasi kapital. Hal ini karena, pertama, hampir semua negara-negara
berkembang mengalami kelangkaan barang-barang kapital berupa mesi-mesin dan peralatan
produksi, bangunan pabrik, fasilitas umum dan lain-lain. Kedua, penambahan dan perbaikan
kualitas barang-barang modal sangat penting karena keterbatasan tersedianya tanah yang bisa
ditanami .

B. DISTRIBUSI PENDAPATAN
1. Definisi Distribusi Pendapatan
Pada umumnya ada 3 macam indikator distribusi pendapatan yang sering digunakan dalam
penelitian. Pertama, indikator distribusi pendapatan perorangan. Kedua, kurva Lorenz.
Ketiga, koefisien gini. Masing-masing indikator tersebut mempunyai relasi satu sama
lainnya. Semakin jauh kurva Lorenz dari garis diagonal maka semakin besar ketimpangan
distribusi pendapatannya. Begitu juga sebaliknya, semakin berimpit kurva Lorenz dengan
garis diagonal, semakin merata distribusi pendapatan. Sedangkan untuk koefisien gini,
semakin kecil nilainya, menunjukkan distribusi yang lebih merata. Demikian juga sebaliknya.
Kuznets (1995) dalam penelitiannya di negara-negara maju berpendapat bahwa pada tahap-
tahap pertumbuhan awal, distribusi pendapatan cenderung memburuk, namun pada tahap-
tahap berikutnya hal itu akan membaik. Penelitian inilah yang kemudian dikenal secara luas
sebagai konsep kurva Kuznets U terbalik. Sementara itu menurut Oshima (1992) bahwa
negara-negara Asia nampaknya mengikuti kurva Kuznets dalam kesejahteraan pendapatan.
Ardani (1992) mengemukakan bahwa kesenjangan/ketimpangan antar daerah merupakan
konsekuensi logis pembangunan dan merupakan suatu tahap perubahan dalam pembangunan
itu sendiri.

2. Distribusi Ukuran
Distribusi ukuran adalah besar atau kecilnya pendapatan yang diterima masing-masing orang.
Distribusi pendapatan perseorangan (personal distribution of income) atau distribusi ukuran
pendapatan (size distribution of income) merupakan indikator yang paling sering digunakan
oleh para ekonom. Ukuran ini secara langsung menghitung jumlah penghasilan yang diterima
oleh setiap individu atau rumah tangga. Yang diperhatikan di sini adalah seberapa banyak
pendapatan yang diterima seseorang, tidak peduli dari mana sumbernya, entah itu bunga
simpanan atau tabungan, laba usaha, utang, hadiah ataupun warisan. Berdasarkan pendapatan
tersebut, lalu dikelompokkan menjadi lima kelompok, biasa disebut kuintil (quintiles) atau
sepuluh kelompok yang disebut desil (decile) sesuai dengan tingkat pendapatan mereka,
kemudian menetapkan proporsi yang diterima oleh masing-masing kelompok. Selanjutnya
dihitung berapa % dari pendapatan nasional yang diterima oleh masing-masing kelompok,
dan bertolak dari perhitungan ini mereka langsung memperkirakan tingkat pemerataan atau
tingkat ketimpangan distribusi pendapatan di masyarakat atau negara yang bersangkutan.

3. Kurva Lorenz
Sumbu horizontal menyatakan jumlah penerimaan pendapatan dalam persentase kumulatif.
Misalnya, pada titik 20 kita mendapati populasi atau kelompok terendah (penduduk yang
paling miskin) yang jumlahnya meliputi 20 persen dari jumlah total penduduk. Pada titik 60
terdapat 60 persen kelompok bawah, demikian seterusnya sampai pada sumbu yang paling
ujung yang meliputi 100 persen atau seluruh populasi atau jumlah penduduk. Sumbu vertikal
menyatakan bagian dari total pendapatan yang diterima oleh masing-masing persentase
jumlah (kelompok) penduduk tersebut. Sumbu tersebut juga berakhir pada titik 100 persen,
sehingga kedua sumbu (vertikal dan horisontal) sama panjangnya. GAMBAR KURVA
LORENZ Setiap titik yang terdapat pada garis diagonal melambangkan persentase jumlah
penerimanya (persentase penduduk yang menerima pendapatan itu terdapat total penduduk
atau populasi). Sebagai contoh, titik tengah garis diagonal melambangkan 50 persen
pendapatan yang tepat didistribusikan untuk 50 persen dari jumlah penduduk. Titik yang
terletak pada posisi tiga perempat garis diagonal melambangkan 75 persen pendapatan
nasional yang didistribusikan kepada 75 persen dari jumlah penduduk. Garis diagonal
merupakan garis "pemerataan sempurna" (perfect equality) dalam distribusi ukuran
pendapatan. Persentase pendapatan yang ditunjukkan oleh titik-titik di sepanjang garis
diagonal tersebut persis sama dengan persentase penduduk penerimanya terhadap total
penduduk. Kurva Lorenz memperlihatkan hubungan kuantitatif actual antara persentase
jumlah penduduk penerima pendapatan tertentu dari total penduduk dengan persentase
pendapatan yang benar-benar mereka peroleh dari total pendapatan selama, misalnya, satu
tahun. Sumbu horisontal dan sumbu vertikal dibagi menjadi sepuluh bagian yang sama;
sumbu vertikal mewakili kelompok atau kategori (jumlah-jumlah) pendapatan, sedangkan
sumbu yang horisontal melambangkan kelompok-kelompok penduduk atau rumah tangga
yang menerima masing-masing dari kesepuluh kelompok pendapatan tersebut. Titik A
menunjukkan bahwa 10 persen kelompok terbawah (termiskin) dari total penduduk hanya
menerima 1,8 persen total pendapatan (pendapatan nasional). Titik B menunjukkan bahwa 20
persen kelompok terbawah yang hanya menerima 5 persen dari total pendapatan, demikian
seterusnya bagi masing-masing 8 kelompok lainnya. Perhatikanlah bahwa titik tengah,
menunjukkan 50 persen penduduk hanya menerima 19,8 persen dari total pendapatan.

4. Koefisien Gini dan Ukuran Ketimpangan


Agregat Koefisien gini adalah ukuran statistik pertebaran paling menonjol digunakan sebagai
ukurab ketidaserataan distribusi pendapatan atau ketidakmerataan distribusi kekayaan. Hal ini
ditetapkan sebagai rasio dengan nilai antara 0 dan 1, koefisien Gini yang rendah
menunjukkan lebih sama distribusi pendapatan atau kekayaan, sedangkan koefisien Gini yang
tinggi menunjukkan ketidakmerataan distribusi. 0 berkaitan dengan kesetaraan sempurna
(setiap orang memiliki pendapatan yang sama persis) dan 1 berkaitan dengan ketidaksetaraan
sempurna (di mana satu orang memiliki semua pendapatan, sementara orang lain memiliki
pendapatan nol).
Keuntungan dengan menggunakan indeks gini sebagai ukuran ketidakmerataan adalah :
o Koefisien Gini menunjukkan ukuran ketidaksetaraan melalui sebuah alat analisis rasio,
daripada variabel tidak representatif dari sebagian besar masyarakat, seperti pendapatan per
kapita atau produk domestik bruto.
o Dapat digunakan untuk membandingkan distribusi pendapatan penduduk di berbagai sektor
maupun negara, misalnya koefisien Gini untuk daerah perkotaan yang berbeda dari daerah
pedesaan di banyak negara (walaupun di negara Amerika Serikat nilai koefisien gini di
wilayah perkotaan dan pedesaan hampir sama).
o Indeks gini dapat membandingkan lintas daerah atau lintas negara dan mudah
diinterpretasikan. PDB statistik sering dikritik karena tidak mewakili perubahan bagi seluruh
penduduk. Indeks gina akan menunjukkan seberapa besar pendapatan perkapita ternyata
mengalami ketimpangan. Jadi meskipun pendapatan perkapita naik, namun apabila indeks
gini masih tinggi artinya kemiskinan bisa jadi masih ada dalam masyarakat
o Koefisien Gini yang dapat digunakan untuk menunjukkan bagaimana distribusi pendapatan
telah berubah dalam suatu negara selama periode waktu tertentu, sehingga sangat mungkin
untuk melihat apakah ketidakmerataan meningkat atau menurun.

KG = Angka Koefisien Gini


X = Proporsi jumlah rumah tangga kumulatif dalam kelas i
fi = Proporsi jumlah rumah tangga dalam kelas i
Yi = Proporsi jumlah pendapatan rumah tangga kumulatif kelas i

Pengukuran tingkat ketimpangan atau ketidakmerataan pendapatan yang relatif sangat


sederhana pada suatu negara dapat diperoleh dengan menghitung rasio bidang yang terletak
antara garis diagonal dan kurva Lorenz dibagi dengan luas separuh bidang di mana kurva
Lorenz itu berada. Pada Figur 5-6, rasio yang dimaksud adalah rasio atau perbandingan
bidang A terhadap total segitiga BCD. Rasio inilah yang dikenal sebagai rasio konsentrasi
Gini (Gini concentration ratio) yang seringkali disingkat dengan istilah koefisien Gini (Gini
coefficient). Koefisien Gini adalah ukuran ketidakmerataan atau ketimpangan (pendapatan/
kesejahteraan) agregat (secara keseluruhan) yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan
sempurna) hingga satu (ketimpangan yang sempurna). Angka ketimpangan untuk negara-
negara yang ketimpangan pendapatan di kalangan penduduknya dikenal tajam berkisar antara
0,50 hingga 0,70. Untuk negara-negara yang distribusi pendapatannya dikenal relatif paling
baik (paling merata), berkisar antara 0,20 sampai 0,35. 5.

Hipotesis Kuznets
Data data ekonomi periode 1970 1980, terutama mengenai pertumbuhan ekonomi dan
distribusi pendapatan terutama di LDS (Less Developing Countries), terutama di negara
negara yang mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat, seperti Indonesia,
menunjukan seakan akan korelasi positif antara laju pertumbuhan ekonomi dan tingkat
kesenjangan ekonomi. Semakin tinggi pertumbuhan produk domestik bruto, atau semakin
tinggi tingkat pendapatan per kapita, maka semakin besar perbedaan antara kaum miskin dan
kaum kaya. Bahkan studi yang dilakukan di negara negara Eropa Barat, menunjukkan bahwa
pertumbuhan ekonomi tidak atau justru membuat ketimpangan antara kaum miskin dan kaum
kaya semakin melebar. Jantti (1997) dalam Tulus Tambunan (2003) mengemukakan bahwa
fenomena tersebut timbul karena adanya perubahan suplly of labor (masuknya buruh murah
dari Turki, atau negara Eropa Timur kedalam pasar buruh di Eropa Barat). Berdasarkan fakta
tersebut, muncul pertanyaan: mengapa terjadi trade-off antara pertumbuhan dan kesenjangan
ekonomi dan untuk berapa lama? Kerangka pemikiran ini yang melandasi Hipotesis Kuznets.
Yaitu, dalam jangka pendek ada korelasi positip antara pertumbuhan pendapatan perkapita
dengan kesenjangan pendapatan. Namun dalam jangka panjang hubungan keduanya menjadi
korelasi yang negatif. Artinya, dalam jangka pendek meningkatnya pendapatan akan diikuti
dengan meningkatnya kesenjangan pendapatan, namun dalam jangka panjang peningkatan
pendapatan akan diikuti dengan penurunan kesenjangan pendapatan. Fenomena ini dikenal
dengan nama Kurva U terbalik dari Hipotesis Kuznets. Namun, hipotesis Kuznets ini mulai
dipertanyakan. Beberapa studi yang mengambil data time series membuktikan bahwa dalam
beberapa negara yang masih bertumpu pada sektor pertanian (rural economy) menunjukan
hubungan negatif. Ini berarti bertolak belakang dari hipotesis Kuznets. Pemahaman atas
variabel-variable tersebut akan membuktikan bahwa negara pertanian tidak identik dengan
kemiskinan atau mungkin lebih tepatnya adalah kesejahteraan pun bisa meningkat di negara-
negara yang berbasis pertanian. Procovitch pernah menyampaikan beberapa dugaannya
tentang sebab-sebab terjadinya kepincangan pembagian pendapatan yakni pertumbuhan
ekonomi, pertumbuhan penduduk, perkembangan kota desa, dan sistem pemerintahan yang
bersifat plutokratis. Beberapa aspek yang telah diduga oleh Procovits pada tahun 1955
dikembangkan oleh Kuznets, yang sampai dewasa ini masih dikenal dengan hipotesa
Kuznets, yang menimbulkan kontroversi di kalangan peneliti distribusi pendapatan di
berbagai negara. Hipotesa ini menyatakan bahwa hubungan tingkat pertumbuhan ekonomi
dengan tingkat kepincangan pembagian pendapatan pada tahap ini menjadi negatif. Jadi,
tahap pertama pembangunan ekonomi akan mengalami tingkat kepincangan pembagian
pendapatan yang semakin memburuk, stabil dan akhirnya menurun. Pola perkembangan ini
menurut Kuznets tidak terlepas dari kondisi sosial dan ekonomi suatu masyarakat.
Penyebabnya adalah terjadinya konsentrasi kekayaan pada kelompok atas, kurang efektifnya
pajak yang progresif, dan terjadinya akumulasi pemilikan modal. Chiswick menyatakan
bahwa dengan meningkatnya pembangunan ekonomi, kesenjangan pembagian penghasilan
masyarakat juga meningkat, karena semakin cepat ekonomi berkembang, maka orang
mengharapkan hasil yang semakin tinggi dari pendidikannya; sementara, kesempatan
pendidikan sangat terbatas. Tingkat partisipasi penduduk dalam lapangan pekerjaan berkaitan
dengan jumlah penduduk muda yang sedang sekolah atau sedang bekerja. Pekerja-pekerja
muda yang tingkat pendidikan dan keterampilannya relatif rendah akan memperoleh upah
yang rendah pula, dan hal ini akan membuat pembagian pendapatan semakin senjang.
Sebaliknya, jika penduduk muda ini masih tetap menambah ilmu pengetahuan dan
meningkatkan kemampuan dan keterampilannya, berakibat berkurangnya kelompok
penduduk yang berpendapatan rendah sehingga akibat selanjutnya adalah tingkat kesenjangan
distribusi pendapatan pun akan menurun.

6. Ketimpangan Distribusi Pendapatan di Indonesia Masalah ketimpangan dalam distribusi


pendapatan dapat ditinjau dari tiga segi, yaitu :
a. Distribusi Pendapatan Antar Golongan
Pendapatan Jika dilihat dari hasil penelitian SUSENAS dengan menggunakan koefisien Gini,
maka akan terlihat bahwa distribusi pendapatan di daerah perkotaan di Jawa lebih buruk
daripada daerah di luar Jawa, begitu pula dengan daerah pedesaannya daerah Jawa memiliki
tingkat kesenjangan distribusi pendapatan yang rendah bila dibandingkan dengan daerah di
luar Jawa.
b. Distribusi Pendapatan Antara Daerah Perkotaan dan Pedesaan
Menurut Gupta dari World Bank, pola pembangunan Indonesia memperlihatkan suatu urban
bias, yaitu pembangunan yang berorientasi ke daerah perkotaan, dengan tekanan yang berat
pada sektor industri yang terorganisir, yang merupakan sebab terjadinya ketimpangan
distribusi pendapatan yang lebih parah lagi di kemudian hari. Menurut Micahel Lipton,
seorang ekonom Inggris, urban bias seringkali terjadi di negara-negara berkembang seperti
Indonesia di mana alokasi sumber-sumber daya lebih banyak diprioritaskan di daerah
perkotaan daripada pertimbangan pemerataan atau efisiensi. Kembali kita perhatikan
penjelasan teori ekonomi yang dualistik tentang terjadi kesenjangan pembagian pendapatan di
negara-negara sedang berkembang, maka pertama-tama relavansinya terlihat dalam pola
kesenjangan yang berbeda antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Oshima menjelaskan
keadaan ini (kesenjangan di desa lebih tinggi dari pada di kota), sebagai hal yang unik. Dia
meramalkan kesenjangan tersebut akan lebih lebar jika proses pembangunan pedesaan masih
akan berlanjut.
c. Distribusi Pendapatan Antar Daerah
Ketimpangan dalam perkembangan ekonomi antar berbagai daerah di Indonesia serta
penyebaran sumber daya alam yang tidak merata menjadi penyebab tidak meratanya
distribusi pendapatan antar daerah di Indonesia khususnya.

Ketimpangan yang besar dalam distribusi pendapatan atau kesenjangan ekonomi dan tingkat
kemiskinan merupakan dua masalah besar di banyak negara berkembang, tak terkecuali di
Indonesia. Berawal dari distribusi pendapatan yang tidak merata yang kemudian memicu
terjadinya ketimpangan pendapatan sebagai dampak dari kemiskinan. Hal ini akan menjadi
sangat serius apabila kedua masalah tersebut berlarut-larut dan dibiarkan semakin parah, pada
akhirnya akan menimbulkan konsekuensi politik dan sosial yang dampaknya cukup negatif.
Negara Indonesia secara geografis dan klimatalogis merupakan negara yang mempunyai
potensi ekonomi yang sangat tinggi. Dengan garis pantai yang terluas di dunia, iklim yang
memungkinkan untuk pendayagunaan lahan sepanjang tahun, hutan dan kandungan bumi
Indonesia yang sangat kaya, merupakan bahan (ingredient) yang utama untuk membuat
negara menjadi negara yang kaya. Suatu perencanaan yang bagus yang mampu
memanfaatkan semua bahan baku tersebut secara optimal, akan mampu mengantarkan negara
Indonesia menjadi negara yang makmur Indikator yang sering digunakan untuk mengetahui
kesenjangan distribusi pendapatan adalah rasio gini dan criteria Bank Dunia (BPS, 1994).
Nilai rasio gini (gini ratio) berkisar antara nol dan satu. Bila rasio gini sama dengan nol
berarti distribusi pendapatan amat merata sekali karena setiap golongan penduduk menerima
bagian pendapatan yang sama. Secara grafis, ini ditunjukkan oleh berimpitnya kurva lorens
dengan garis kemerataan sempurna. Namun, bila rasio gini sama dengan satu menunjukan
bahwa terjadi ketimpangan distribusi pendapatan yang sempurna karena seluruh pendapatan
hanya dinikmati oleh satu orang saja. Singkatnya, semakin tinggi nilai rasio gini maka
semakin timpang distribusi pendapatan suatu negara. Sebaliknya, semakin rendah nilai rasio
gini berarti semakin merata distribusi pendapatan. Kriteria Bank Dunia mendasarkan
penilaian distribusi pendapatan atas pendapatan yang diterima oleh 40% penduduk
berpendapatan terendah.
Kesenjangan distribusi pendapatan dikategorikan:
1. Tinggi, bila 40% penduduk berpenghasilan terendah menerima kurang dari 12% bagian
pendapatan.
2. Sedang, bila 40% penduduk berpenghasilan terendah menerima 12 hingga 17% bagian
pendapatan
3. Rendah, bila 40%, penduduk berpenghasilan terendah menerima lebih dari 17% bagian
pendapatan.

7. Kemiskinan Absolut dan Kemiskinan Relatif


1. Kemiskinan absolut (melihat jumlah penduduk dibawah garis kemiskinan).
2. Kemiskinan relatif (hubungan populasi terhadap distribusi pendapatan).
Beban Kemiskinan Global Terjadi pada negara yang memiliki populasi yang besar pada
kelompok-kelompok tertentu (kaum wanita), Anak anak (sisi pendidikan dan kesehatan).
Beban tersebut dapat dilihat dari extreme poverty line dan poverty line.

Perbedaan Kemiskinan dengan Ketimpangan Pendapatan.


- Kemiskinan berkaitan dengan standar hidup yang absolut.
- Sedangkan Ketimpangan pada standar hidup relatif dari seluruh masyarakat.

Kategori ketimpangan ditentukan dengan menggunakan kriteria seperti berikut:


ketimpangan pendapatan tinggi
ketimpangan pendapatan sedang
ketimpangan pendapatan rendah
Ketimpangan makro-ekonomi berdampak pada hampir seluruh sektor ekonomi nasional yang
melahirkan kemiskinan struktural rakyat pribumi, akibat terbatasnya akses di sektor ekonomi
dan keuangan. Andaikan pendapatan nasional terbagi merata dan berkeadilan, seorang pejabat
setidaknya bisa memperoleh gaji (penghasilan sah) yang mencukupi, sehingga bisa
menjalankan tugasnya dengan baik, yaitu melayani dan melindungi masyarakat. Tapi,
sebagian besar pendapatan nasional (GNP) masuk ke kantong konglomerat, sedangkan
negara hanya mendapat porsi kecil GNP, sehingga negara tidak mampu menggaji pegawainya
secara pantas, sehingga pada kenyataannya penghasilan resmi Lurah kita jauh di bawah rata-
rata GNP. Akibat ketimbangan distribusi pendapatan nasional, maka pada umumnya pejabat
negara berpenghasilan di bawah rata-rata pendapatan nasional.

KEPUSTAKAAN
Mark Skousen.2006. Teori-Teori Ekonomi Modern. Jakarta: Prenada Media
Sadono Sukirno.2006.Mikro Ekonomi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Sadono Sukirno.2006.Makro Ekonomi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
www.aw.com/todaro
http://makalah-artikel-online.blogspot.com/2009/05/faktor-faktor-yang-mempengaruhi.html

Referensi

http://poetrachania13.blogspot.co.id/2011/05/pertumbuhan-dan-distribusi-pendapatan.html

Badan Pusat Statistik (BPS) baru baru ini merilis adanya penurunan sedikit indeks
ketimpangan pendapatan sebesar 0,01 yaitu dari 0,41 (2014) menjadi 0,40 (2015) di tengah
keprihatinan ekonomi nasional saat ini. Meski penurunan indeks itu terkesan ada perbaikan,
kondisi sebagian besar masyarakat Indonesia masih hidup dengan penghasilan minimal US$2
atau setara Rp 26.000 per hari.

Indeks ketimpangan yang lazim dikenal dengan Koefisien Gini mencerminkan


ketimpangan pendapatan rakyat dibandingkan dengan produk domestik bruto (PDB), yang
apabila skalanya mendekati nol mengindikasikan adanya pemerataan pendapatan yang
sempurna. Sebaliknya bila skalanya mendekati angka satu, mencerminkan suatu ketimpangan
yang sempurna. Rasio Gini Indonesia pada 2010/2011 tercatat 0,36 meningkat menjadi 0,41
(2014/15) dan 0,40 pada periode 2015/2016.
Adalah konsep ekonomi berkeadilan sebenarnya sebuah antagonis dari sistem ekonomi pada
masa orde baru. Dalam pemerintahan Orba maupun Reformasi, penekanan tentang sektor
ekonomi lebih mengedepankan pada kemakmuran(trickling-down effect approach).
Paradigma tersebut dapat dilihat dengan ciri utamanya adalah sentralisasi kebijaksanaan
pengelolaan ekonomi dan keuangan negara serta target stabilisasi politik yang bersifat
represif oleh pemerintah pusat. Strategi pembangunan serupa ini terutama dimaksudkan
untuk merealisasikan target pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan harapan selanjutnya
akan tercipta peluang kerja yang luas dan merata akibat adanya mekanisme tersebut.

Meski tidak dapat disangkal bahwa strategi pembangunan serupa itu telah memberikan hasil,
diantaranya telah tercipta transformasi struktural dalam beberapa aspek kehidupan berbangsa
dan bernegara, seperti ditunjukkan oleh angka-angka pertumbuhan ekonomi dan pendapatan
per kapita yang cukup menakjubkan, penurunan angka jumlah orang miskin dan lain
sebagainya, namun menurut banyak pengamat hasil tersebut hanya bersifat semu. Karena
hasil yang diperoleh bukan diciptakan dan dinikmati oleh sebagian besar masyarakat
Indonesia, tetapi hanya untuk kepentingan segelintir masyarakat tertentu (konglomerat).

Melihat gambaran tersebut, kita perlu memberikan wawasan ke depan perlu adanya konsep
yang lebih mengedepankan keadilan. Yaitu pendekatan ekonomi berkeadilan lebih
didahulukan baru kemakmuran (equity with growth approach) bukan mendahulukan
kemakmuran baru keadilan(trickling-down effect approach ). Karena sudah menjadi
kebiasaan yang latah pada setiap manusia jika mereka mencapai kemakmuran, mereka akah
melupakan orang lain dan lingkungan sekitrarnya.

Ini mirip dengan sistem ekonomi Pancasila, kesejahteraan rakyat adalah prioritas utama.
Kalau dalam ekonomi kapitalisme, perekonomian hanya dikuasai oleh sebagi orang saja
sedangkan dalam ekonomi komunisme lebih condong pada sosialisme dengan proteksi
pemerintah yang kuat, maka ekonomi pancasila berada di tengah- tengah antara keduanya.

Persamaan konsepsi adalah adil sesuai umum, persamaan hukum menjelaskan bahwa di mata
hukum kedudukan orang itu sama. Moderat berarti tengah tengah sehingga dalam
mengambil keputusan, orang harus menempatkan posisi pada tengah tengah dengan tidak
bermaksu memihak manapun. Sedangkan Proporsional adalah Adil tidak selalu diartikan
sebagai kesamaan hak, namun hak ini disesuaikan dengan ukuran setiap individu atau
proporsional, baik dari sisi tingkat kebutuhan, kemampuan, pengorbanan, tanggung jawab,
ataupun kontribusi yang diberikan oleh seseorang.

Proporsional tidak saja berkaitan dengan konsumsi, namun juga pada distribusi pendapatan.
Suatu distribusi yang adil tidak selalu harus merata, namun perlu tetap memperhatikan
ukuran dari masing-masing individu yang ada; mereka yang ukurannya besar perlu
memperoleh besar dan yang kecil memperoleh jumlah yang kecil pula.

Ekonomi Pancasila juga mengikuti mekanisme pasar. Dalam arti kebebasan individu tetap
berjalan tetapi tetap ada proteksi dari pemerintah. Pemerintah tidak membiarkan pasar
berjalan bebas tanpa kendali. Karena dikhawatirkan ketidakadilan dan saling menindas antar
pelaku ekonomi akan terjadi. Dengan adanya proteksi regulasi berupa aturan-aturan tersebut
dapat terciptalah suatu keadilan. Setelah itu, kemakmuran masyarakat bukan hanya sekadar
mimpi di tengah hari bolong, tapi harus benar-benar terwujud. Semoga!

http://www.neraca.co.id/article/68522/ketimpangan-distribusi-pendapatan
Pilihan untuk mengatasi ketimpangan di Indonesia

Ketimpangan yang semakin tinggi dapat dihindari. Kebijakan pemerintah dapat membantu
Indonesia memutus rantai ketimpangan antar generasi, dengan mengatasi penyebab
ketimpangan.

Contohnya, koefisien Gini di Brazil turun 14 poin setelah upaya bersama untuk menurunkan
ketimpangan melalui kebijakan fiskal. Sebaliknya, menurut data tahun 2012, kebijakan fiskal
Indonesia hanya menurunkan koefisien Gini sebesar 3 angka.

Pilihan bagi pemerintah Indonesia termasuk:

Memperbaiki layanan umum. Kunci bagi generasi berikut terletak pada peningkatan
pelayanan umum di tingkat desa, camat, dan kabupaten, karena hal ini dapat
memperbaiki kesehatan, pendidikan dan peluang keluarga berencana bagi semua
masyarakat.
Memperkuat program perlindungan sosial seperti bantuan tunai bersyarat dan
beasiswa pendidikan.
Menambah peluang pelatihan keterampilan bagi tenaga kerja.
Menyediakan lapangan kerja yang lebih baik.
Menggunakan pajak dan belanja pemerintah untuk mengurangi ketimpangan.
Meningkatkan ketaatan dalam pengumpulan pajak perorangan.

Dukungan masyarakat cukup kuat untuk adanya kebijakan perlindungan sosial yang
memberikan bantuan langsung kepada masyarakat miskin dan rentan. Lebih dari setengah
responden survei berpendapat kemiskinan bisa disebabkan oleh faktor-faktor di luar kendali
seseorang, misalnya latar belakang mereka atau pengalaman buruk. Hampir setengah dari
seluruh responden mendukung program perlindungan sosial sebagai tindakan kebijakan yang
penting.

http://www.worldbank.org/in/news/feature/2015/12/08/indonesia-rising-divide