Anda di halaman 1dari 10

EKONOMI POLITIK PERSPEKTIF PENDAPATAN

OLEH :

Akbar (A11114013)
Abd Gaffur (A11114018)
Imam Maulana (A11114323)
Andi Amirudin (A11114504)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
EKONOMI POLITIK PERSPEKTIF PENDAPATAN

A. Latar Belakang
Salah satu permasalahan yang dihadapi Indonesia dalam melakukan
pembangunan adalah masalah ketimpangan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia
relatif stabil dan berimbang. Meski demikian, pertumbuhan ekonomi yang baik
itu tidak diimbangi dengan distribusi pendapatan yang merata. 20 tahun terakhir,
jurang antara orang kaya dan miskin di Indonesia tumbuh lebih cepat
dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara. Dilaporkan bahwa
Indonesia berada di 6 peringkat terbawah dunia dalam hal ketimpangan. Harta
dari 4 orang terkaya Indonesia setara dengan gabungan dari Harta 100 juta orang
miskin di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh lapora oxfam dan INFID.
Selain itu, laporan Oxfam dan INFID juga menjelaskan melebarnya
jurang antara si kaya dan miskin merupakan ancaman serius bagi kesejahteraan
masyarakat Indonesia ke depan. Jika masalah ketimpangan ini tidak segera
diatasi, maka upaya pemerintah akan menghadapi tantangan ketidakstabilan
sosial.
Ketimpangan pendapatan di Indonesia merupakan masalah serius.
Menurut Kwik Kian Gie (2009), pertumbuhan yang tinggi ini ternyata dibarengi
oleh ketimpangan yang sangat besar antara Indonesia Bagian Barat dan Indonesia
Bagian Timur, antara perusahaan besar dan perusahaan kecil, antara perkotaan
dan perdesaan, serta antara kelompok etnis yang satu dengan kelompok etnis
lainnya.
2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
Pertumbuhan 6,35 6,01 4,63 6,22 6,49 6,26 5,73 5,06 4,79 5,02
Gini ratio 0,35 0,35 0.37 0.38 0.41 0.41 0.41 0.41 0.41 0.40
Sumber : BPS

Grafik: Pertumbuhan Ekonomi dan Ketimpangan di Indonesia

2
B. Pertumbuhan Ekonomi
1. Definisi Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi adalah proses perubahan kondisi perekonomian
suatu Negara secara berkesinambunga nmenuju keadaan yang lebih baik selama
periode tertentu. Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan juga sebagai proses
kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk
kenaikan pendapatan nasional. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi
keberhasilan pembangunan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi suatu Negara dapat
diukur dengan cara membandingkan GNP tahun yang sedang berjalan dengan
tahun sebelumnya.
Faktor-faktor pertumbuhan ekonomi:
Faktor sumber daya manusia
Sama halnya dengan proses pembangunan, pertumbuhan ekonomi juga
dipengaruhi oleh SDM. Sumber daya manusia merupakan faktor terpenting dalam
proses pembangunan, cepat lambatnya proses pembangunan tergantung kepada
sejauh mana sumberdaya manusianya selaku subjek pembangunan memiliki
kompetensi yang memadai untuk melaksanakan proses pembangunan.
Faktor sumber daya alam
Sebagian besar Negara berkembang bertumpu kepada sumber daya alam
dalam melaksanakan proses pembangunannya. Namun demikian, sumber daya
alam saja tidak menjamin keberhasilan proses pembanguan ekonomi, apabila
tidak didukung oleh kemampuan sumber daya manusianya dalam mengelola
sumber daya alam yang tersedia. Sumber daya alam yang dimaksud diantaranya
kesuburan tanah, kekayaan mineral, tambang, kekayaan hasil hutan dan kekayaan
laut.
Faktor ilmu pengetahuan dan teknologi
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat
mendorong adanya percepatan proses pembangunan, pergantian pola kerja yang
semula menggunakan tangan manusia digantikan oleh mesin-mesin canggih
berdampak kepada aspek efisiensi, kualitas dan kuantitas serangkaian aktivitas
pembangunan ekonomi yangdilakukan dan pada akhirnya berakibat pada
percepatan laju pertumbuhan perekonomian.
Faktor budaya
Faktor budaya memberikan dampak tersendiri terhadap pembanguan
ekonomi yang dilakukan, faktor ini dapat berfungsi sebagai pembangkit atau
pendorong proses pembangunan tetapi dapat juga menjadi penghambat
pembangunan. Budaya yang dapat mendorong pembangunan diantaranya sikap
kerja keras dan kerja cerdas, jujur, ulet dan sebagainya. Adapun budaya yang
dapat menghambat proses pembangunan diantaranya sikap anarkis, egois, boros,
KKN, dan sebagainya.
Sumber daya modal

3
Sumber daya modal dibutuhkan manusia untuk mengolah SDA dan
meningkatkan kualitas IPTEK. Sumber daya modal berupa barang-barang modal
sangat penting bagi perkembangan dan kelancaran pembanguna ekonomi karena
barang-barang modal juga dapat meningkatkan produktivitas.

Trickle Up Effect
Efek trickle up di suatu negara yang menguntungkan orang kaya akan
direalisasikan karena peningkatan penjualan akan relatif terhadap jumlah manfaat
yang diberikan kepada orang miskin . Menurut Efek trickle up berpendapat bahwa
efek ini lebih efektif daripada trickle down effect karena orang miskin lebih
cenderung daripada orang kaya untuk menghabiskan uang mereka . Bahwa
dengan adanya pasar bebas (bebas hambatan baik dari pajak yang berat maupun
bentuk kontrol lain dari pemerintah) akan menyebabkan peningkatan kekayaan
bagi masyarakat secara keseluruhan. Kelompok masyarakat miskin akan
memperoleh bagian dari kekakayaan kelompok masyarakat atas (kaya). Dalam
model ini, kemiskinan relatif meningkat namun pada beberapa kasus tertentu,
trickle up effect justru dapat menurunkan kemiskinan absolut di suatu negara.
Namun, dampak negatif lain yang ditunjukkan dari adanya trickle up effect adalah
kesenjangan yang besar dalam distribusi kekayaan dapat menyebabkan
kesenjangan yang sama besar dalam kekuasaan dan pengaruh , sehingga membuat
model ekonomi ini tidak diinginkan.

Trickle Down Effect


Efek trickle-down biasanya digunakan untuk menggambarkan suatu proses
yang menguntungkan orang kaya yang memberi manfaat bagi masyarakat miskin,
maka Efek trickle-up menyatakan bahwa metode ini dapat menguntungkan orang
miskin secara langsung (misalnya melalui pinjaman mikro) yang nantinya akan
meningkatkan produktivitas masyarakat secara keseluruhan dan dengan demikian
manfaat tersebutakan memberi manfaat bagi orang kaya.

2. Teori-Teori Pertumbuhan

1) Teori Klasik
Ada dua aliran utama pemikiran mengenai pertumbuhan ekonomi
(dilihat dari sisi AS/ produksi), yakni teori klasik dan teori modern dan
diantara, yakni teori klasik dan teori modern diantara kedua ini, teori Neo
Keynes dan Teori Neo Klasik. Dasar pemikiran dari teori klasik ini adalah
pembangunan ekonomi yang diandasi oleh sistem liberal, yang mana
pertumbuhan ekonomi dipacu oleh semangat untuk mendapatkan keuntungan
maksimal.
Jika keuntungan meningkat, tabungan akan meningkat, dan investasi
juga akan bertambah. Hal ini akan menigkat stok modal yang ada. Skala

4
produksi meningkat dan meningkatkan permintaan terhadap tenaga kerja
sehingga tingkat upah juga meningkat. Beberapa teori klasik antara lain
sebagai berikut :
a. Teori Pertumbuhan Adam Smith
Ada tiga faktor penentu proses produksi / pertumbuhan, yaitu ;SDA,
SDM, dan barang modal.

b. Teori Pertumbuhan David Ricardo


Dalam teori ini pertumbuhan ditentukan oleh SDA (dalam arti
tanah), yang terbatas jumlahnya, dan jumlah penduduk yang
menghasilkan jumlah tenaga kerja yang menyesuaikan diri dengan
tingkat upah, di atas atau di bawah tingkat upah alamiah.

c. Teori Pertumbuhan dari Thomas Robert Malthus


Ukuran keberhasilan suatu perekonomian adalah kesejahteraan
negara, yaitu jika PNB potensial meningkat. Sektor dominan
adalah pertanian dan industri.ada dua penentu yang menjadi tolak
ukur yaitu faktor - faktor ekonomi (Tanah, tenaga kerja, modal)
dan faktor faktor non ekonomi seperi Organisasi (keamanan atas
kekayaan, konstitusi dan hukum yang pasti, etos kerja dan disiplin
yang tinggi).
.
d. Teori Marx
Lima tahapan perkembangan perekonomian, yaitu : perekonomian
komunal primitif, perekonomian perbudakan, perekonomian
feodal, perekonomian kapitalis, perekonomian sosialis. Teori
teori yang muncul setelah itu adalah; faktor produksi utama
(tenaga kerja, tanah, dan modal), dan peran teknologi dan ilmu
pengetahuan.

2) Teori Neo Keynes


Model Pertumbuhan yang masuk di dalam Teori Keynes adalah modal
dari Harrod dan Domar yang mencoba memperluas teori Keynes mengenai
keseimbangan Teori Ekonomi. Di dalam model nya lebih memfokuskan :
Investasi (I), s (Marginal Propensity to Save).

3) Teori Neo Klasik


Beberapa model Neo Klasik adalah :
1. Model Pertumbuhan A. Lewis
2. Model pertumbuhan Paul A. Baran
3. Teori Ketergantungan Neo Kolonial
4. Model Pertumbuhan WW. Rostow

5
5. Model Pertumbuhan Solow

4) Teori Modern
Penjelasan pada teori perekonomian diatas hanya dapat menjelaskan
faktor faktor produksi saat negara tersebut dapat maju dengan pesat, tapi dari
hasil analisis yang ada faktor produksi tidak sepenuhnya dapat memperbaiki
negara tersebut dapat maju, contohnya adalah Korea Selatan yang pesat dari hasil
industri tetapi tidak tergantung dari akumulasi modal dan penambaha jumlah
tenaga kerja tetapi faktor lainnya adalah adanya produktifitas kerja yang tinggi
sehinnga membuat kinerja mereka benar benar menghasilkan kinerja ekonomi
yang baik. Jadi dapat disimpulkan bahwa kualitas tenaga kerja lebih penting
dibanding kuantitasnya.

C. Distribusi Pendapatan
Distribusi pendapatan nasional mencerminkan merata atau tidaknya
pembagian hasil suatu negara dikalangan penduduknya. Untuk mengukur
ketidakmerataan distribusi pendapatan, bisa menggunakan distibusi ukuran,
Kurva Lorenz atau Indeks Gini
:
1) Distribusi Ukuran
Distribusi ukuran adalah besar atau kecilnya pendapatan yang diterima
masing-masing orang. Distribusi pendapatan perseorangan (personal
distribution of income) atau distribusi ukuran pendapatan (size distribution of
income) merupakan indikator yang paling sering digunakan oleh para ekonom.
Ukuran ini secara langsung menghitung jumlah penghasilan yang diterima oleh
setiap individu atau rumah tangga. Yang diperhatikan di sini adalah seberapa
banyak pendapatan yang diterima seseorang, tidak peduli dari mana
sumbernya, entah itu bunga simpanan atau tabungan, laba usaha, utang, hadiah
ataupun warisan. Berdasarkan pendapatan tersebut, lalu dikelompokkan
menjadi lima kelompok, biasa disebut kuintil (quintiles) atau sepuluh
kelompok yang disebut desil (decile) sesuai dengan tingkat pendapatan mereka,
kemudian menetapkan proporsi yang diterima oleh masing-masing kelompok.
Selanjutnya dihitung berapa % dari pendapatan nasional yang diterima oleh
masing-masing kelompok, dan bertolak dari perhitungan ini mereka langsung
memperkirakan tingkat pemerataan atau tingkat ketimpangan distribusi
pendapatan di masyarakat atau negara yang bersangkutan

6
2) Kurva Lorenz
Kurva ini memperlihatkan hubungan kuantitatif antara presentase
penerimaan pendapatan penduduk dengan prosentase pendapatan yang benar-
benar diperoleh selama kurun waktu tertentu, biasanya setahun. Perhatikan
gambar berikut!

Dari gambar di atas, sumbu horisontal menggambarkan prosentase


kumulatif penduduk, sedangkan sumbu vertikal menyatakan bagian dari total
pendapatan yang diterima oleh masing-masing prosentase penduduk tersebut.
Sedangkan garis diagonal di tengah disebut garis kemerataan sempurna.
Karena setiap titik pada garis diagonal merupakan tempat kedudukan
prosentase penduduk yang sama dengan prosentase penerimaan pendapatan.
Semakin jauh jarak garis kurva Lorenz dari garis diagonal, semakin tinggi
tingkat ketidakmerataannya. Sebaliknya semakin dekat jarak kurva Lorenz dari
garis diagonal, semakin tinggi tingkat pemerataan distribusi pendapatannya.
Pada gambar di atas, besarnya ketimpangan digambarkan sebagai daerah yang
diarsir

3) Gini Ratio
Indeks Gini atau Koefisien Gini merupakan indikator yang
menunjukkan tingkat ketimpangan pendapatan secara menyeluruh. Nilai
Koefisien Gini berkisar antara 0 hingga 1. Koefisien Gini bernilai 0
menunjukkan adanya pemerataan pendapatan yang sempurna, atau setiap orang
memiliki pendapatan yang sama. Sedangkan, Koefisien Gini bernilai 1
menunjukkan ketimpangan yang sempurna, atau satu orang memiliki segalanya
sementara orang-orang lainnya tidak memiliki apa-apa. Dengan kata lain,
Koefisien Gini diupayakan agar mendekati 0 untuk menunjukkan adanya
pemerataan distribusi pendapatan antar penduduk. Perhatikan tabel

7
Rumus Gini Ratio:

GR = 1 - fi [Yi + Yi-1]

Ket : fi = jumlah persen (%) penerima pendapatan kelas ke i.

Yi = jumlah kumulatif (%) pendapatan pada kelas ke i

4) Kriteria Bank Dunia

Didasarkan pada porsi pendapatan nasional yang dinikmati oleh tiga


lapisan penduduk yakni 40% penduduk berpendapatan terendah, 40%
penduduk berpendapatan menengah, 20% penduduk berpendapatan tertinggi.
Ketimpangan dan ketidakmerataan distribusi dinyatakan parah apabila 40%
penduduk berpendapatan terendah menikmati dari 12% pendapatan nasional.
Ketidakmerataan dianggap sedang bila 40% penduduk termiskin menikmati
12 hingga 17% pendapatan nasional. Sedangkan 40% penduduk yang
berpendapatan terendah menikmati lebih dari 17% pendapatan nasional, maka
ketimpangan dan kesenjangan dikatakan lunak, distribusi pendapatan nasional
dianggap cukup merata.

D. Penyebab Ketimpangan Ekonomi

Berdasarkan data yang diperoleh terkait pertumbuhan ekonomi


Indonesia yang kian meningkat, namun tidak diiringi dengan penurunan Gini
Ratio sehingga terjadi ketimpangan multidimensi antar wilayah antar sektor
antar kelompok pendapatan. Peningkatan pertumbuhan ekonomi juga tidak
dibarengi penurunan signifikan angka kemiskinan dan pengangguran, karena
kue nasional terkonsentrasi pada kelompok 20% terkaya.
Peningkatan pangsa kue dalam kelompok 20% terkaya dalam distribusi
pendapatan nasional dibarengi penciutan pangsa 40% penduduk termiskin.
Usaha pemerintah sudah baik dengan menyebarkan pembangunan, namun
setelah 17 tahun otda, sasaran untuk mendekatkan pelayanan kemasyarakat
dan memperbaiki akses penduduk miskin pada kebutuhan dasar secara umum
belum tercapai. Ini tercermin dari tren angka kemiskinan di daerah. Menurut
Erani Yustika, ketimpangan pembangunan berawal dari kesenjangan

8
penguasaan aset, seperti modal dan lahan. Berdasarkan data BPN,
ketimpangan lahan saat ini berada dikisaran 0,54 (Gini Ratio). Sekitar 70%
asset ekonomi berupa tanah, tambak, kebun, dan property di Negara ini hanya
dikuasi oleh 0,2% penduduk.
Erani melihat pembangunan yang dijalankan Indonesia selama ini
tidak menuju kearah yang benar karena kebijakan yang diambil tidak focus
dan sarat akan kepentingan kelompok. Agenda pembangunan telah dibajak
oleh kepentingan politik, sehingga pembangunan terkonsentrasi pada daerah
atau golongan tertentu saja sehingga memunculkan kesenjangan
kesejahteraan. Pemerintah juga di dikte pihak luar dalam agenda agenda
pembangunan dan banyak agenda yang diambil kerap kali terlepas dari
bingkai besar kebijakan nasional, contohnya kebijakan mobil murah.
Masalah ketimpangan menurut Erani tidak pernah teratasi karena
pemerintah lebih banyak bermain ke hilir padahal masalah ketimpangan ada di
hulu. Insentif kebijakan yang dibuat tak tersusun baik sehingga sektor-sektor
terntu, seperti pangan dan non minyak bumi mengalami kehancuran.
Partisipasi juga tidak dibuka secara lebih luas sehingga akses dan keadilan
tidak menyentuh semua kelompok. Aspek kelembagaan juga tidak didesain
engan lengkap dan ditegakkan secara penuh.
Menurut Joseph E Stiglitz dalam bukunya The Price of Inequality,
mengungkapkan bahwa ketimpangan pendapatan lebih sering terjadi sebagai
akibat keputusan politis ketimbang konsekuensi dari pekerjanya kekuatan
pasar atau makro ekonomi. Artinya, ketimpangan adalah buah dari kebijakan
pemerintah sendiri.
Ketimpangan yang sangat tinggi dapat dikurangi dengan menerapkan
kebijakan-kebijakan yang dapat menurunkan ketimpangan. Contohnya,
koefesien gini di Brazil turun 0,14 . Kebijakan-kebijakan tersebut adalah

1. Menyediakan pelatihan keterampilan bagi tenaga kerja


2. Menyediakan lapangan pekerjaan yang lebih baik
3. Menerapkan pajak progresif kepada masyarakat yang pendapatanyya
tinggi
4. Meningkatkan ketaatan dalam pengumpulan pajak perorangan
5. Menggunakan pajak dan belanja pemerintah untuk mengurangi
ketimpangan dengan memberikan program sosial kepada rakyat miskin.
Misalnya bantuan langsung tunai, mempermudah akses kesehatan dan
memberikan bantuan pendidikan berupa beasiswa

E. Kesimpulan

9
Pertumbuhan yang tinggi dan dketimpangan yang sangat besar
merupakan salah satu permasalahan yang serius. Pemerintah harus
menerapkan kebijakan-kebijakan yang dapat menurunkan ketimpangan. Salah
satu kebijakan yang paling utama dalam menurunkan ketimpangan adalah
dengan menerapkan kebijakan pajak. Pajak adalah cara paling efektif, yaitu
dengan menerapkan pajak progresif kepada golongan kaya untuk membiayai
pengeluaran pemerintah dalam program sosial.
Upaya mengatasi ketimpangan dapat sejalan dengan pertumbuhan dan
peningkatan kesejahteraan. Pemerataan kesempatan merupakan jalan efektif bagi
mobilitas sosial. Karena itu, kronisme dan korupsi yang menghambat mobilitas sosial
harus diminimalkan. Pajak, sekalipun tidak progresif, harus diefektifkan karena
sebagai sumber utama bagi program sosial untuk mengatasi ketimpangan dan
kemiskinan. Investasi pada golongan muda akan sangat menentukan pengurangan
ketimpangan pada masa datang. Program sosial mencakup pendidikan, kesehatan,
dan jaminan sosial lainnya harus ditingkatkan efektivitas dan jangkauan
pelaksanaannya untuk memberikan basis bagi golongan miskin melakukan mobilitas
sosial. Program sosial haruslah fleksibel dan inovatif. Manfaatkan teknologi untuk
mengefektifkan pelaksanaan program sosial

DAFTAR PUSTAKA
http://wandaanindita.blogspot.co.id/2012/11/v-behaviorurldefaultvmlo.html

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/3430615/kekayaan-4-orang-
terkaya-ri-setara-harta-100-juta-orang-miskin

http://sipd.bangda.kemendagri.go.id/datacenter/index.php?page=indeks_gini
http://www.worldbank.org/in/news/feature/2015/12/08/indonesia-rising-divide

https://agusjero.blogspot.co.id/2010/09/pertumbuhan-kemiskinan.html

http://poetrachania13.blogspot.co.id/2011/05/pertumbuhan-dan-distribusi-
pendapatan.html

10