Anda di halaman 1dari 27

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN PENGELOLAAN KELAS

Pengelolaan kelas adalah ketrampilan bertindak seorang guru yang didasarkan


kepada pengertian tentang sifat-sifat kelas dan kekuatan yang mendorong mereka
bertindak. Selanjutnya berusaha untuk memahami dan mendiagnosa situasi kelas dan
kemampuan untuk bertindak selektif serta kreatif untuk memperbaiki kondisi,
sehingga dapat menciptakan situasi belajar dan mengajar yang baik. Aspek aspek
yang perlu diperhatikan :

a. Sifat-sifat kelas.

b. Kekuatan pendorong tindakan kelas.

c. Memahami situasi kelas.

d. Mendiagnosis situasi kelas.

e. Bertindak selektif.

f. Bertindak kreatif.

g. Untuk memperbaiki kondisi kelas.

Pengelolaan kelas adaiah suatu alat untuk mengembangkankeriasama dan


dinamika kelas yang stabil, walaupun banyak gangguan dan perubahan dalam
lingkungan.1

Manajemen kelas adalah proses pemberdayaan sumber daya baik material


element maupun human element di dalam kelas oleh guru, sehingga memberikan
dukungan terhadap kegiatan belajar siswa dan mengajar guru. Sebagai sebuah proses
maka dalam pelaksanaannya manajemen kelas memeliki kegiatan-kegiatan yang
harus dilakukan guru. Dalam manajemen kelas guru melakukan sebuah proses atau

1
Made Pidarta.Pengelolaan Kelas. (Surabaya : Usaha Nasional), hlm. 9
tahapan-tahapan kegiatan yang dimulai dari merencanakan, melaksanakan dan
mengevaluasi, sehingga apa yang dilakukannya merupakan satu kesatuan yang utuh
dan saling terkait. Selain Itu bahwa dalam manajemen Juga terkandung maksud
bahwa kegiatan yang diIakukan efektlf mengenai sasaran yang hendak dicapai dan
efisien tidak menghambur-hamburkan waktu, uang dan sumber daya Iainnya. Titik
akhir dari kegiatan manajemen adalah tujuan dengan produktivitas kerja yang tinggi.2

Pengelolaan kelas ditinjau dari paham lama dan paham baru adalah sebagai
berikut:

Paham lama : pengelolaan kelas ialah mempertahankan ketertiban kelas.

Pengertian baru : pengelolaan kelas ialah proses seleksi dan menggunakan alat-alat
yang tepat terhadap problem dan situasi pengelolaan kelas. Guru bertugas
menciptakan, memperbaiki, dan memelihara sistem/organisasi kelas. Sehingga
individu dapat memanfaatkan kemampuannya, bakatnya, dan energinya pada tugas-
tugas individual.

Pengajaran yang bersifat transaksi memakai dua pola aktivitas yaitu


pengajaran dan pengelolaan. Pengajaran terutama bersifat individual sedang
pengelolaan bersifat kelompok artinya individu dapat mencapai perkembangan
dengan baik hanya dalam kelompok dengan berintegrasi, kerjasama, dan merupakan
kesatuan yang bulat. lni yang disebut pendekatan anak, yang mencakup situasi
kelompok dan self-discipline. Ketrampilan guru yang dimaksud di sini ialah
mengembangkan kemampuan untuk menterjemahkan konsep ke dalam tindakan bagi
kemajuan kelas.

Pengelolaan kelas dapat dideskripsikan sebagai proses mengorganisasi dan


mengkoordinasi kemauan murid-murid untuk menyelesai kan tujuan pendidikannya.

2
Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan. (2009). Manajemen Pendidikan. Bandung:
Jurusan Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia. Halm 108
Proses ini mambutuhkan seleksi dan panggunaan alat-alat yang cocok dangan
problem pengalolaan dan situasl kalas yang tarjadi pada waktu tertentu.

Pangelola kelas menciptakan pola aktivitas yang berbeda-beda sesuai dangan


kondisi; guru-guru akan menciptakan kondisi dan mempertahankannya sehingga
Individu-individu dapat memanfaatkan rasionalnya, bakat kreatifnya terhadap tugas-
tugas pendidikan yang menantang. Hal ini merupakan organisasi kelas yang
efektif,yang mencakup selaksi metode yang sesuai dangan situasi.3

2.2 TUJUAN PENGELOLAAN KELAS

Keberhasilan sebuah kegiatan dapat dilihat dari hasil yang dicapainya. Tujuan
adaIah titik akhir dari sebuah kegiatan dan dari tujuan itu juga sebagai pangkal tolak
pelaksanaan kegiatan selanjutnya. Keberhasilan sebuah tujuan dapat dilihat dari
efektivitas dalam pencapaian tujuan itu serta tingkat efisiensi dari penggunaan
berbagai sumber daya yang dimiliki. Dalam proses pengelolaan kelas
keberhasilannya dapat dilihat dari tujuan apa yang ingin dicapainya, oleh karena itu
guru harus menetapkan tujuan apa yang hendak dicapai dengan kegiatan pengelolaan
atau manajemen kelas yang dilakukannya.

Manajemen kelas pada umumnya bertujuan untuk meningkatkan efektivitaS


dan efisiensi dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Adapun Kegiatan pengelolaan
fisik dan pengelolaan sosio-emosional merupakan bagian dalam pencapaian tujuan
pembelajaran dan belajar siswa. Ketercapauan tujuan pengelolaan kelas seperti
dikemukakan oleh A.C. Wragg dapat dideteksi atau dilihat dari:

Anak-anak memberikan respon yang setimpal terhadap perlakuan yang sopan dan
penuh perhatian dari orang dewasa. Artinya bahwa perilaku yang diperlihatkan
siswa seberapa tinggi, seberapa baik dan seberapa besar terhadap pola periIaku
yang diperlihatkan guru kepadanya di dalam kelas.

3
Made Pidarta.Pengelolaan Kelas. (Surabaya : Usaha Nasional), hlm. 11-12
Mereka akan bekerja dengan rajin dan penuh konsentrasi dalam melakukan tugas-
tugas yang sesuai dengan kemampuannya. Perilaku yang diperlihatkan guru
berupa kinerja dan pola perilaku orang dewasa dalam nilai dan norma balikannya
akan berupa peniruan dan pencontohan oleh siswa baik atau buruknya Amat
bergantung kepada bagaimana perilaku itu diperankan. Adapun indikator
keberhasilan dalam pengelolaan kelas adalah: Terciptanya suasana/kondisi
belajar mengajar yang kondusif (tertib, Iancar, berdisiplin dan bergairah)
Terjadinya hubungan interpersonal yang baik antara guru dengan siswa dan antara
siswa dengan siswa (Alam S : 2003)

Sedangkan tujuan manajemen kelas menurut Dirjen PUOD dan Durjen


Dikdasmen (1996) adalah sebagai berikut:

Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun
sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan peserta dldlk untuk
mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin
Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya
interaksi pembelajaran
Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan
memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan soaal, emosional dan
intelektual siswa dalam kelas.
Membina dan membimblng siswa sesuai dengan Iatar belakang social, ekonomi,
budaya serta sifat-sifat individualnya.4

2.3 ASPEK DALAM PENGELOLAAN KELAS

Manajemen kelas harus dilakukan oleh guru guna memberikan dukungan


terhadap keberhasilan belajar anak. Keberhasilan dalam pembeiajaran akan
ditentukan oleh seberapa mampu guru dalam memfasilitasi anak dengan kegiatan

4
Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan. (2009). Manajemen Pendidikan. Bandung:
Jurusan Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia. Halm 110-111
manajerial terhadap kelas, keberhasilan dalam memanage keIas yang dilakukan guru
harus melihat beberapa aspek dalam kelas. Aspek-aspek yang periu diperhatikan
dalam manajemen kelas yang baik adalah meliputi sifat kelas, pendorong kekuatan
kelas, situasi kelas, tindakan efektif dan kreatif. (Manman Rachman:1999)

Sebagai sebuah kegiatan, manajemen kelas yang harus dilakukan oleh guru
terutama untuk tingkat SD, aspek-aspek yang perlu diperhatikan dan dikembangkan
adalah sebagai berikut:

a. Mengecek kehadiran

b. Mengumpulkan hasil pekerjaan siswa, memeriksa dan menilai hasil pekerjaan

c. Pendistribusian alat dan bahan

d. Mengumpulkan informasi dari siswa

e. Mencatat data

f. Pemeliharaan arsip

g. Menyampaikan materi pelajaran

h. Memberikan tugas.5

2.4 FUNGSI PENGELOLAAN KELAS

Fungsi manajemen kelas sebenarnya merupakan penerapan fungsi-fungsl


manajemen yang diaplikasikan di dalam kelas oleh guru untuk mendukung tujuan
pembelajaran yang hendak dicapainya. Datam pelaksanaannya fungsI-fungsi
manajemen tersebut harus disesualkan dengan dasar filosofis dari pendidikan
(belajar, mengajar) di dalam kelas. Fungsi-fungsi manajeriial yang harus dilakukan
oleh guru itu meliputi :

Merencanakan

5
Ibid. hlm: 114
Merencanakan adalah membuat suatu target-target yang akan dicapai atau diraih di
masa depan. Dalam organisasi merencanakan adalah suatu proses memikirkan dan
menetapkan secara matang arah, tujuan dan tindakan sekaligus mengkaji berbagai
sumber daya dan metode/teknik yang tepat.

Mengorganisasikan

Mengorganisasikan berarti: (1) menentuan sumber daya dan kegiatan yang


ditbutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi. (2) merancang dan mengembangkan
kelompok kerja yang berisi orang yang mampu membawa organisasi pada tujuan, (3)
menugaskan seseorang atau kelompok orang dalam suatu tanggung jawab tugas dan
fungsi tertentu, (4) mendelegasikan wewenang kepada individu yang berhubungan
dengan keleluwasaan melaksanakan tugas. Dengan rincian tersebut, manajer
membuat suatu struktur formal yang dapat dengan mudah dipahami orang dan
menggambarkan suatu posisi dan fungsi seseorang di dalam pekerjaannya.

Memimpin

Seorang pemimpin dalam melaksanakan amanatnya apabila ingin dipercaya dan


diikuti harus memiliki sifat kepemimpinan yang senantiasa dapat menjadi pengarah
yang didengar ide dan pemlkirannya oleh para anggota organaisasi. Hal ini tidak
semata mata mereka cerdas membuat keputusan tetapi dibarengi dengan memiliki
kepribadian yang dapat dijadlkan suri tauladan.

Mengendalikan

Pengendalian adalah proses untuk memastikan bahwa aktivstas sebenarnya sesuai


dengan aktivitas yang direncanakan. Proses pengendalian dapat mellbatkan beberapa
elemen yattu; (1) menetapkan standar kinerja, (2) mengukur kinerja, (3)
membandingkan unjuk kerja dengan standar yang telah ditetapkan, (4) mengambil
tindakan korektif saat terdeteksi penyimpangan.6

6
Ibid. Hal 114-115
Konsep dasar yang berguna dalam teori pengelolaan kelas ialah penempatan
individual, tempat kelompok, tempat sekolah dan faktor- faktor lingkungan yang
mempengaruhi komponen-komponen tadi. Ju ga termasuk sifat-sifat kelas, peranan
dan motif individu dalam kelomkok, sifat-sifat kelompok kerja penyesuaian yang
terjadi dalam perilaIku koIektif dan pandangan pemimpin/guru kelas dalam mengaiar.

Fungsi pengelolaan kelas ditinjau dari analisis problem adalah :

1. Memberi dan melengkapi fasilitas untuk segala macam tugas


2. Memelihara agar tugas-tugas itu dapat berjalan lancar.

Memfasilitasi tugas-tugas termasuk :

a. Membantu kelompok dalam pembagian tugas.


b. Membantu pembentukan kelompok.
c. Membantu keriasama dalam menemukan tujuan-tujuan organisasi.
d. Membantu individu agar dapat bekerjsama dalam kelompok atau kelas.
e. Membantu prosedur kerja.
f. Merubah kondisi kelas.

Yang perlu diperhatikan dalam memelihara tugas-tugas agar lancar ialah :

a. Individu dengan sifat-sifatnya bergantung, apatis, nangisan, agresif,


permusuhan, dan sebagainya.
b. Yang paling penting yang mempengaruhi kehidupan individual adalah
teman-teman kelompoknya dalam kelas. Variabel-variabel kelompok ini
ialah :
Kesatuan.
Interaksi dan komunikasi.
Sruktur.
Tujuan.
c. Organisasi sekoiah dapat membantu memelihara kelancaran tugas-tugas.
d. Antar hubungan individu, keias/kelompok, dan organisasi sekolah merupakan
sebagai sistem social.7

2.5 STATUS PENGELOLAAN KELAS

Kini pola aktivitas guru yang terpenting adalah mengelola, mengorganisasi,


dan mengkoordinasi usaha kemauan murid-murid dalam menyelesaikan tuiuan
pendidikan. Jadi tugas guru : mengelola, mengontrol, mengatur atau mendisiplin,
adalah sudah salah. Setiap aspek program pendidikan bergantung kepada apakah
murid-murid dalam kelompok kelas digunakan secara efektif dan apakah individu-
individu ditingkatkan kerjasamanya, dikoordinasi gar berfungsi dalam sistem
kelompok/kelas tersebut.

Bertahun-tahun para guru mengatakan bahwa problem mereka yang paling


urgen bukan pada pengajaran, tetapi pada masalah pengelolaan. Mereka menunjukkan
ketidak puasannya kepada teori dan praktek lama. Banyak guru meninggalkan jabatan
guru sebab gagal mengelola kelas secara sukses.

Tugas guru :

a. Harus mengenal sebanyak mungkin masing-masing murid.


b. Punya pengetahuan dan ketrampilan mengorganisasi kelas.
c. Punya kemampuan mengenal problem kelas.
d. Dapat menciptakan dan memelihara Iingkungan belaiar.
e. Dapat menangani problem pengelolaan kelas secara efektif, sebaik teknik
mengajar. (mengelola dan mengajar sama-sama memegang peranan penting
dalam mensukseskan murid belaia)l.
f. Guru yang tidak bisa mendidik/mengaiar adalah karena tidak bisa mengelola
kelas.

7
Made Pidarta.Pengelolaan Kelas. (Surabaya : Usaha Nasional), hlm. 9-10
Tugas-tugas torsebut di atas akan barhasii dipelajari bile dilaksanakan dengan
"learning by doing."8

Pendekatan pengelolaan kelas yang disebut kontrol seringkali tidak


menyalesaikan masalah. Kontrol dikatakan akan balk bila guru :

1. Berbicara jelas, menarik dan barsikap bersahabat.

2. Tindakan profesional separti hormat dan anggun.

3. Memberikan kepercayaan diri sendiri, kepada anak dengan mangarahkan kelas


untuk mengetahui secara pasti apa yang diharapkan

4. Mempertahankan self kontrol sepanjang waktu.

Bila pengelolaan kelas dipandang sebagai self dlsiplin, membutuhkan belajar


mengontrol diri sendiri. Ini tidak merupakan hukuman, atau memelihara ketertiban,
atau kontrol yang ketat, melainkan membimbing anak-anak ke arah self disiplin.

Suatu pendekatan disiplin adalah menekankan pencapaian tuiuan. Hal ini


mungkin dicapai dengan cara self disiplin, seperti menghormati kebenaran orang lain,
mengembangkan kesadaran bertanggungjawab, menvesuaikan tuntutan kepada
bermacam-macam situasi, menemukan tugas-tugas yang harus dikeriakan, dan
sebagainya. Pendekatan lni juga menekankan proses kepemimpinan demokrasi. Di
sini banyak dipraktekkan "student government" untuk mendisiplin pejabat-pejabat
kelas. Kedudukan guru sebagai salah seorang anggota kelas keria kelompok dan
diskusi banyak dipraktekkan.

Pendekatan disiplin kelas ini ditinjau dari pengelolaan kelas tidak banyak
memberikan efektivitas proses belajar mengajar, sebab praktek guru selalu mengarah
kepada pencapaian tujuan. Tidak menjelaskan metoda. tidak iuga menilai situasi
pengelolaan sebagaI ialan mencapai tuiuan.

Tugas guru dalam pengelolaan kelas ialah :

8
Ibid., hal. 13-14
Mengarahkan usaha-usaha guru itu sendiri.
Mengadakan keriasarna antar guru.
Membimbing anak-anak yang susah menyesuaikan dirl.
Memodifikasi perilaku anak dalam kelas agar cocok akan kebutuhan-kebutuhan
program pendidikan.
Untuk keperluan pengarahan dan pembimbingan guru harus melakukan persuasi,
membangkitkan katahati dan moral murid-murid.
Memberi hadiah, dan hukuman, mangontrol kelas dengan hukurnan terselubung
agar tidak ditentang terang-terangan oleh anak-anak.

Tugas pengelolaan kelas ialah menciptakan kondisi dalam kelompok kelas,


yang berupa lingku ngan kelas yang baik, yang memungkinkan para siswa berbuat
sesuai dengan kediriannya, seperti halnya dalam lingkungan masyarakat.9

2.6 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MANAJEMEN KELAS

Berhasilnya manajemen kelas daIam memberikan dukungan terhadap


pencapaian tujuan pembelajaran yang akan dicapai, banyak dipengaruhi oleh berbagai
faktor. Faktor-faktor tersebut meIekat pada kondisi fisik kelas dan pendukungnya,
juga dipengaruhi oleh faktor non fisik (sosio-emosional) yang melekat pada guru.
Untuk mewujudkan pengelolaan kelas yang baik, ada beberapa faktor yang
mempengaruhinya antara Iain:

1) Kondisi fisik

Lingkungan fisik tempat belajar mempunyai pengaruh penting terhadap hasil


pembelajaran. Lingkungan fisik yang menguntungkan dan memenuhi syarat minimal
mendukung meningkatnya intensitas proses pembelajaran dan mempunyai pengaruh

9
Ibid., hal. 16-17
positif terhadap pencapaian tujuan pengajaran. Lingkungan fisik yang dimaksud
meliputi:

a) Ruangan tempat berlangsungnya proses belajar mengajar

Ruangan tempat belajar harus memungkinkan semua siswa bergerak leluasa, tidak
berdesak-desakan dan saling menganggu antara siswa yang satu dengan lainnya pada
saat melakukan aktivitas belajar. Besarnya ruangan kelas tergantung pada jenis
kegiatan dan jumlah siswa yang melakukan kegiatan. Jika ruangan itu tersebut
mempergunakan hiasan, pakailah hiasan-hiasan yang mempunyai nilai pendidikan.

b) Pengaturan tempat duduk

Dalam mengatur tempat duduk yang penting adalah memungkinkan terjadinya


tatap muka, dengan demikian guru dapat mengontrol tingkah laku siswa. Pengaturan
tempat duduk akan mempengaruhi kelancaran proses belajar mengajar.

c) Ventilasi dan pengaturan cahaya

Suhu, ventilasi dan penerangan (kendati pun guru sulit mengatur karena sudah
ada) adalah aset penting untuk terciptamyasuasana belajar yang nyaman. Oleh karena
itu, ventilasi harus cukup menjamin kesehatan siswa.

d) Pengaturan penyimpanan barang-barang

Barang-barang hendaknya disimpan pada tempat khusus yang mudah dicapai


kalau segera diperlukan dan akan dipergunakan bagi kepentingan belajar. Barang-
barang yang karena nilai praktisnya tinggi dan dapat disimpan di ruang kelas seperti
buku pelajaran, pedoman kurikulum, kartu pribadi dan sebagainya, hendaknya
ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu gerak kegiatan siswa.
Tentu saja masalah pemeliharaan juga sangat penting dan secara periodik harus dicek
dan recek. Hal Iainnya adalah pengamanan barang-barang tersebut. Baik dari
pencurian maupun barang-barang yang mudah meledak atau terbakar.
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam penciptaan Ilingkungan fisik tempat
belajar adaiah kebersihan dan kerapihan. Seyogyanya guru dan siswa turut aktjf
dalam, membuat keputusan mengenai tata ruang, dekorasi dan sebagainya.

1) Kondisi Sosio-Emosional

Kondisi sosio-emosional dalam kelas akan mempunyai pengaruh cukup besar


terhadap proses belajar mengajar, kegairahan siswa dam efektifitas tercapainya tujuan
pengajaran. Kondisi sosio-emosional tersebut meliputi :

a. Tipe kepemimpinan
Peranan guru dan tipe kepemimpinan guru akan mewarnai suasana emosional
di daiam kelas. Apakah guru melaksanakan kepemimpinannya secara
demokratis, Iaisez faire atau demokratis. Kesemuanya itu memberikan
dampak kepada peserta didik.
b. Sikap guru
Sikap guru dalam menghadapi siswa yang melanggar peraturan sekolah
hendaknya tetap sabar, dan tetap bersahabat dengan suatu keyakinan bahwa
tingkah laku siswa akan dapat diperbaiki. Kalaupun guru terpaksa membenci,
bencilah tingkah lakunya bukan membenci siswanya. Terimalah siswa dengan
hangat sehingga ia insyaf akan kesalahannya. Berlakulah adil dalam
bertindak. Ciptakan satu kondisi yang menyebabkan siswa sadar akan
kesalahannya sehingga ada dorongan untuk memperbaiki kesalahannya.
c. Suara guru
Suara guru, walaupun bukan faktor yang besar, turut mempengaruhi dalam
proses belajar mengajar. Suara yang melengking tinggi atau senantiasa tinggi
atau malah terlalu rendah sehingga tidak terdengar oleh siswa akan
mengakibatkan suasana gaduh, bisa jadi membosankan sehingga pelajaran
cenderung tidak diperhatikan. Suara hendaknya relatif rendah tetapi cukup
jelas dengan volume suara yang penuh dan kedengarannya rileks cenderung
akan mendorong siswa untuk memperhatikan pelajaran, dan tekanan suara
hendaknya bervariasi agar tidak membosankan siswa.
d. Pembinaan hubungan baik (rapart)
Pembinaan hubungan baik (raport) antara guru dan siswa dalam masalah
pengelolaan kelas adalah hal yang sangat penting. Dengan terciptanya
hubungan baik guru-siswa, diharapkan siswa senantiasa gembira, penuh
gairah dan semangat, bersikap optimistik, relaistik dalam kegiatan belajar
yang sedang dilakukannya serta terbuka terhadap hal-hal yang ada pada
dirinya.

3) Kondisi Organisasional

Kegiatan rutin yang secara organisasionaI dilakukan baik tingkat kelas


maupun tingkat sekolah akan dapat mencegah masalah pengelolaan kelas. Dengan
kegiatan rutin yang telah diatur secara jelas dan telah dikomunikasikan kepada semua
siswa secara terbuka sehingga jelas pula bagi mereka, akan menyebabkan
tertanamnya pada diri setiap siswa kebiasaan yang baik. Di samping itu mereka akan
terbiasa bertingkah laku secara teratur dan penuh disiplin pada semua kegiatan yang
bersifat rutin itu. Kegiatan rutinitas tersebut antara lain:

Pergantian pelajaran
Guru berhalangan hadir
Masalah antar siswa
Upacara bendera
Kegiatan Iain.10

2.7 PENGELOLAAN KELAS INDOOR

Kegiatan manajemen kelas (pengelolaan kelas) meliputi dua kegiatan yang secara
garis besar terdiri dari;

- Pengaturan orang (siswa)

10
Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan. (2009). Manajemen Pendidikan. Bandung: Jurusan
Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia. Hal. 111-114
Siswa adalah orang yang melakukan aktivitas dan kegiatan di kelas yang
ditempatkan sebagai objek dan k arena perkembangan Ilmu pengetahuan dan
kesadaran manusia, maka siswa bergerak kemudian menduduki fungsi sebagai
subjek. Artinya siswa bukan barang atau objek yang hanya dikenai akan tetapi juga
merupakan objek yang memiliki potensi dan pilihan untuk bergerak. Pergerakan yang
terjadi dalam konteks pencapaian tujuan tidak sembarang, artinya dalam hal ini fungsi
guru tetap memillki proporsi yang besar untuk dapat membimbing, mengarahkan dan
memandu setiap akivitas yang harus dllakukan siswa. Oleh karena itu pengaturan
orang atau siswa adaIah bagaimana mengatur dan menempatkan siswa dalam kelas
sesuai dengan potensi intelektual dan perkembangan emosionalnya. Siswa diberikan
kesempatan untuk memperoleh posisi dalam belajar yang sesuai dengan minat dan
keinginannya.

-Pengaturan fasilitas

Aktivitas dalam kelas baik guru maupun siswa dalam kelas kelangsungannya akan
banyak dipengaruhi oleh kondisi dan situasi fisik lingkungan kelas. Oleh karena itu
lingkungan fisik kelas berupa sararan dan prasarana kelas harus dapat memenuhi dan
mendukung interaksi yang terjadi, sehingga harmonisasi kehidupan kelas dapat
berlangsung dengan baik dari permulaan masa kegiatan belajar mengajar sampai
akhir masa belajar mengajar. Kriteria minimal meiiputi aman, estetika, sehat, cukup,
bermutu, dan nyaman, yang terpenting bahwa dengan fasilitas yang minim dapat
diatur dengan baik sehingga daya gunanyalebih tinggi. Pengaturan fasilitas adalah
kegiatan yang harus dilakukan siswa, sehingga seluruh siswa dapat terfasilitasi dalam
aktivitasnya di dalam kelas. Pengaturan fisik kelas diarahkan untuk meningkatkan
efektivitas belajar siswa sehingga siswa merasa senang, nyaman, aman, dan beIajar
dengan baik.
Adapun secara Iebih terperinci kegiatan-kegiatan yang perlu dilaksanakan dalam guru
dalam manajemen kelas sebagai aspek-aspek manajemen Kelas yang tertuang dalam
petunjuk pengelolaan kelas adalah:
-Mengecek kehadiran siswa. Siswa di Iihat keberadaannya satu persatu
terutama diarahkan untuk melihat kesiapannya dalam mengikuti proses belajar
mengajar, kesiapan secara fisik terutama mental karena dengan perhatian dari awal
akan memberikan dorongan kepada mereka untuk dapat mengikuti kegiatan dalam
kelas dengan baik.
- Mengumpulkan hasil pekerjaan siswa, memeriksa dan menilai hasil
pekerjaan tersebut. Pekerjaan yang sudah diberikan hendaknya dengan cepat
dikumpulkan dan diberikan komentar singkat sehingga rasa penghargaan yang tinggi
dapat memberikan motivasi atas kerja yang sudah dilakukan.
- Pendistribusian bahan dan alat. Apabila ada alat dan bahan be1ajar yang
harus didistribusikan maka secara adil dan proporsional setiap siswa memperoleh
kesempatan untuk melakukan praktik atau menggunakan alat dan bahan dalam proses
belajarnya.
-Mengumpulkan informasi dari siswa. Banyak informasi yang berguna bagi
guru dan bagi siswa itu sendiri yang dapat diperoleh dari siswa baik yang berupa
informasi tentang pribadi siswa maupun berkaitan dengan pekerjaan-pekerjaan siswa
yang harus dan sudah dikerjakan.

-Mencatat data. Data-data siswa baik secara perorangan maupun kelompok


yang menyangkut individu maupun pekerjaan sangat penting untuk dicatat karena
akan mendukung guru dalam memberikan evaluasi akhir terhadap pencapaian hasil
pekerjaan siswa.

-Pemeliharaan arsip. Arsip-arsip tentang kegiatan dalam kelas kelas disimpan


dan ditata dengan rapih dan dipelihara sebgai tanggungjawab bersama sehingga dapat
memberikan informasi baik bagi guru maupun bagi siswa.

-Menyampaikan materi pelajaran. Tugas utama guru adalah memberikan


informasi tentang bahan belajar yang harus dilakukan siswa dengan terartur dan dapat
menggunakan berbagai media dan informasi yang ada dalam kelas.

-Memberikan tugas/PR. Penugasan adalah proses memberikan tanggungjawab


kepada siswa untuk melakukan kegiatan secara mandiri dan dapat mengevaluasi
kemampuan secara sendiri.

Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan para guru, khususnya guru baru dalam
pertemuan pertama dengan siswa di kelas menurut Dirjen PUOD dan Dirjen
Dikdasmen (1996:13) adalah:
2) Ketika bertemu dengan siswa, guru harus:
-Bersikap tenang dan percaya diri Tidak menunjukkan rasa cemas, muka
masam atau sikap tidak simpatik.
-Memberikan salam lalu memperkenalkan diri.
-Memberikan format isian tentang data pribadi siswa atau guru menyuruh
siswa menulis riwayat hidupnya secara singkat.

2) Guru memberikan tugas kepada siswa dengan tertib dan lancar.

3) Mengatur tempat duduk siswa dengan tertib dan teratur.

4) Menentukan tata cara berbicara dan tanya jawab.

5) Bertindak disiplin baik terhadap siswa maupun terhadap diri sendiri.

2.8 PENGELOLAAN KELAS OUTDOOR

Menurut Vera (2012:17) pembelajaran di luar kelas adalah suatu kegiatan


yang melibatkan alam secara langsung untuk dijadikan sebagai sumber
belajar.Pembelajaran di luar kelas atau Outdoor Study merupakan upaya untuk
mengarahkan siswa untu melakukan aktivitas yang dapat membawa mereka
mengamati lingkungan sekitar, sesuai dengan materi yang diajarkan. Sehingga,
pendidikan di luar kelas lebih mengacu pada pengalaman dan pendidikan lingkungan
yang sangat berpengaruh pada kecerdasan siswa (Vera, 2012:18).
Sejalan dengan pemikiran Smith dalam Sumarmi (2012:89-90) yang
menyatakan bahwa studi lapangan mempunyai kekuatan untuk mengaplikasikan ide
secara umum yang ada di kelas ke dalam dunia nyata.11
Outdoor learning merupakan salah satu strategi pembelajaran yang
memanfaatkan alam sebagai sumber belajar. Pendekatan ini berpengaruh terhadap
minat dan hasil belajar siswa (Ali, 2008; Syawiji, 2009), Namun kegiatan Outdoor

11
Ratna Daniarti, Jurnal Pendidikan Humaniora, Vol. 2, Juni 2014, hal. 103
learning sering belum mendekati konteks pembelajaran yang memberi kesempatan
kepada siswa untuk melakukan kegiatan inkuiri.
Dalam kegiatan Outdoor learning yang dilakukan siswa hanya sekedar
melakukan pengamatan saja, dan mengutamakan kegiatan pembelajaran yang
menyenangkan, sedangkan ketrampilan proses ilmiah siswa kurang terasah. Outdoor
learning dapat digabungkan dengan pendekatan inkuiri yang berpotensi
mempengaruhi hasil belajar siswa, baik dalam ranah kognitif, afektif dan
psikomotornya. Masih sedikit sekali informasi mengenai pengaruh Outdoor learning
berbasis inkuiri terhadap hasil belajar siswa.
Outdoor learning jarang dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar, karena
berkaitan dengan sulitnya pengelolaan kelas yang merepotkan guru dan dalam
pelaksanaanya membutuhkan manajemen waktu yang ketat. Padahal banyak sekali
keuntungan yang diperoleh dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber
belajar. Melalui pemanfaatan lahan di sekitar sekolah memungkinkan siswa untuk
belajar secara langsung mengenai fenomena alam berdasarkan pengamatannya sendiri
sehingga proses pembelajaran lebih bermakna (Saptono 2009). Oleh sebab itu
Outdoor learning penting untuk diterapkan dalam pembelajaran. Begitu juga dengan
inkuiri, Scientific inquiry penting dikembangkan dalam pembelajaran sains pada tiap
jenjang pendidikan karena dalam pembelajaran siswa dilibatkan secara maksimal
sehingga dapat menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah
(Rustaman, 2005; Wibowo, 2010; Gul 2002).12
Suyadi menyebutkan bahwa pembelajaran outdoor learning mempunyai
banyak manfaat bagi siswa karena kemasan pembelajaran lebih menarik dan
menyenangkan bagi anak, serta pembelajaran tersebut lebih bermakna karena akan
dihadapkan pada situasi dan keadaan yang sebenarnya atau bersifat alami (Husamah,
2013: 25), selain itu sumber belajar lebih variatif dan rekreatif sehingga siswa tidak
jenuh dan bosan dalam belajar serta siswa lebih bersemangat dan lebih berkonsentrasi
pada pembelajaran yang disampaikan oleh guru. Outdoor learning juga sebagai

12
Satiningtyas, dkk, Unnes Journal of Biology Education, 2012., hal. 196
wahana belajar siswa yang lebih luas sehingga siswa lebih mengenal dunia nyata dan
akan tertanam image pada diri siswa bahwa dunia sebagai kelas. Hal ini didukung
dengan asumsi convincing preservice teachers that they can affectively teach science
is another goal, the outdoor field experiences described in this study can contibute to
meeting these goals (Sarah & North 2009: 10).
Outdoor learning tidak hanya memiliki banyak manfaat, akan tetapi model
pembelajran outdoor learning akan lebih efektif jika disajikan dengan berbantua
model pembelajaran lainnya yang menarik. Model pembelajaran group investigation
merupakan salah satu model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama antar
anggota kelompok. Model pembelajaran group investigation dapat diterapkan untuk
mengembangkan sikap ilmiah siswa. Asumsi dari Fie et al. (2004) mengatakan
bahwa It is also not uncommon to assume that learners would have acquired these
skills and the processes of group work from their experiences on social interactions
and discourse. Therefore, modeling of Group Investigation is one way to address this
problem.13

a) Cara-cara untuk menggunakan sumber-sumber dalam lingkungan

Ada bermacam-macam cara untuk menggunakan sumber-sumber dalam


lingkungan untuk kepentingan pelajaran. Pada umumnya kita dapat membaginya
dalam dua golongan:

1. Membawa anak kedalam lingkungan dan masyarakat untuk keperluan


pelajaran (karyawisata, service projects, school camping, survey, interview).
2. Membawa sumber-sumber dari masyarakat ke dalam kelas untuk kepentingan
pelajaran (resource persons, benda-benda, seperti pameran atau koleksi).

Kedua jenis itu tidak lepas satu sama lain, karena murid-murid sering mengunjungi
lingkungannya lalu membawa benda-benda dan contoh-contoh kedalam kelas.

13
Novi Yuliyanti, dkk. Jurnal of Primary Education, Unnes. 2015., hal. 153
b) Membawa Kelas ke dalam Masyarakat
a. Field Trip atau Karyawisata
Karyawisata mempunyai nilai-nilai sebagai berikut:
a. Memberi pengalaman-pengalaman langsung. Anak belajar dengan
menggunakan segala macam alat dria. Satu karyawisata lebih berharga
daripada seratus gambar.
b. Membangkitkan minat baru atau memperkuat minat yang telah ada.
c. Memberi motivasi kepada murid untuk menyelidiki sebab musabab
sesuatu.
d. Menanamkan kesadaran akan masalah-masalah yang terdapat di dalam
masyarakat.
e. Memberi pengertian yang lebih luas tentang kehidupan dalam masyarakat.
f. Mengembangkan hubungan sosial dengan masyarakat.14
Merencanakan karyawisata
Setiap karyawisata harus direncanakan dengan cermat. tanpa persiapan usaha
itu pasti gagal. karyawisata biasanya dilakukan dengan tujuan-tujuan sebagai
berikut
a. Membangkitkan minat untuk suatu unit yang akan dilakukan.
b. Mengumpulkan bahan mengenai suatu masalah.
Persiapan/perencanaan
1. Merumuskan dan menjelaskan tujuan karyawisata.
Anak-anak harus semua mengetahui apa sebab mereka pergi dan apa yang
diharapkan dari masing-masing. Mereka harus melihat hubungan
karyawisata dengun masalah yang mereka hadapi.
2. Menyuruh murid-murid lebih dahulu mempelajari serba sesuatu mengenai
apa yang akan dikunjungi itu.

14
Prof. Dr. S. Nasution, M.A. Didaktik Asas-Asas Mengajar. (Jakarta : Bumi Aksara), hal.
132-133
3. Menyediakan sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan jawaban
sebagai hasil karyawisata itu.
4. Menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan karyawisata itu.
5. Meminta izin dari objek yang akan diamati.
6. Mengunjungi obyek itu lebih dahulu agar dapat mengadakan perencanaan
yang teliti.
7. Mengadakan pembicaraan dengan orang-orang yang diminta bantuannya.
8. Mengurus soal keuangan, pengangkutan, usaha menjamin keselamatan
anak dan sebagainya.
9. Meminta surat izin dari orang tua murid.
10. Membuat rencana tertulis tentang karyawisata, beserta waktu, tempat yang
dikunjungi dan daftar nama-nama murid. Salinannya diberikan kepada
kepala sekolah.15
Pelaksanaan karyawisata.
Periksa surat-surat orang tua, jumlah murid berdasarkan daftar nama-nama
murid. Pelihara ketertiban selama karyawisata. Sebaiknya anak-anak sendiri
mendiskusikan peraturan-peraturan selama karyawisata itu. Laksanakan
karyawisata itu menurut waktu yang telzh direncanakan. Bawa semua anak-
anak kembali ke sekolah. Periksa apakah semua anak hadir. Sekali-kali jangan
bolehkan anak-anak pulang sendiri ke rumah dari tempat obyek yang
dikunjungi.
Follow-up karyawisata.
Setiap karyawisata harus dibicarakan. kemudian dinilai, dan ditafsirkan. Beri
kesempatan kepada anak untuk menceritakan pengalaman masing-masing.
Tanyakan apakah mereka menemukan fakta- fakta baru. Selidiki apakah
karyawisata itu mencapai tujuan yang ditentukan lebih dahulu. Apakah
karyawisata itu memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mereka
sediakan. Apakah kekurangan-kekurangan. kesalahan-kesalahan, kesulitan-
kesulitan yang dialami, selama karyawisata itu. Bicarakan juga kelakuan

15
Ibid., hal. 134
murid-murid selama karyawisata itu. Suruh anak-anak membuat laporan,
menyusun pameran tentang benda-benda atau barang-barang yang mereka
kumpulkan selama karyawisata itu. Suruh anak menulis surat menyatakan
terima kasih kepada semua orang atau instansi yang memberikan bantuan.
b. Melakukan Survey
Dengan survey dimaksud suatu usaha untuk memperoleh keterangan-
keterangan faktual tentang suatu aspek dari masyarakat dengan penyelidikan yang
sistematis. Survey ini mungkin sederhana, misalnya penyelidikan jumlah sepeda
yang digunakan oleh murid-murid suatu sekolah pada suatu hari, atau dapat juga
kompleks, seperti meny-elidiki kesempan-kesempatan bekerja bagi lulusan SMA
di berbagai lapangan. Pokok-pokok lain untuk survey diselidiki ialah keadan
perumaham, pemeliharaan kesehatan, keadaan makanan rakyat, nama buku-buku
yangg dibaca oleh anak-anak, penjagaan, keselamatan buruh dalam berbagai
perusahaan, kesenian rakyat, adat istiadat daerah, industri suatu daerah, roda
pemerintaham daerah, kejahatan,dan sebagainya. Kalau survey itu kompleks
maka perlu digunakan bermacam-macam cara penyelidikan seperti karyawisata,
interview, dan lain-lain. Agar survey itu berhasil, diperlukan beberapa syarat
yakni:
a) Sekolah itu harus bersifat community-oriented dan mempunyai
hubungan yang baik dengan masyarakat. Masyarakat harus rela dan
suka memberi bantuannya.
b) Anak-anak harus diikutsertakan membuat perencanaan,sehingga
mereka jelas menyadari problema. yang dihadapi.
c) Guru hendaknya telah mempunyai pengalaman tentang cara belajar
serupa ini. Sebelum menjalankan proyek yang kompleks hendaknya
dimulai dengan pokok-pokok proyek yang sederhana.
d) Pokok yang dipilih hendaknya :
Penting bagi masyarakat
Menarik bagi anak-anak untuk dipelajari
Dapat diselidiki berdasarkan kesanggupan anak
Memungkinkan anak-anak memperoleh keterangan-
keterangan,yang cukup banyak.
Bertalian erat dengan kurikulum sekolah
Menjamin adanya bantuan dan kerja sama dari masyarakat.

Langkah-langkah dalam menjalankan survey

Perencanaan survey.
1. Pilih suatu pokok yang memenuhi syarat-syarat seperti di atas. Anak-
anak turut serta dalam diskusi untuk menentukan pokoknya. Berikan
motivasi agar anak-anak bergiat untuk mempelajarinya.
2. Usahakan agar anak-anak mendapat gambaran umum tentang masalah
itu dengan memberikan keterangan-keterangan. Sumh anak-anak
membaca buku-buku tertentu. Minta orang-orang sumber memberi
ceramah tentang pokok itu.
3. Cari hubungan masalah itu dengan kurikulum. Masalah itu
dimaksudkan untuk memberi pengalaman-pengalaman dan
pengetahuan kepada anak-anak sesuai dengan tujuan dan kurikulum
sekolah.
4. Rumuskan problema itu dengan jelas dan bagi pokok itu dalam
sejumlah sub-masalah.
5. Biasanya sebelum survey itu dijalankan minta pendapat guru-guru lain
serta persetujuan kepala sekolah dan bantuan/kerja sama dari golongan-
golongan tertentu dalam masyarakat.
6. Bicarakan keterangan-keterangan apa yang akan dicari dan teknik apa
digunakan untuk memperolehnya.
7. Bentuk kelompok-kelompok yang menjalankan tugas-tugas tertentu
untuk menyelesaikan survey itu.
Menjalankan survey.
1. Periksa bahwa setiap kelompok memahami tugasnya serta cara untuk
melaksanakannya.
2. Usahakan agar anak-anak terus-menerus bekerja mengumpulkan dan
menyusun bahan keterangan.
3. Periksalah secara teratur laporan-laporan yang disusun oleh anak-anak.
bantu anak-anak menyusun laporan-laporan, membuat grafik, gambar, dan
sebagainya.
4. Atur waktu bagi setiap kelompok untuk memberikan laporannya.
5. Pilih suatu panitia untuk merangkumkan hasil seluruh kelompok menjadi
suatu laporan dari survey itu.
Follow-up.
1. Hasil suatu survey hendaknya dituangkan dalam suatu laporan yang dapat
disampaikan kepada kalangan-kalangan yang berkepentingan dalam
masyarakat. Untuk menyiapkan grafik-grafik, gambar-gambar dan lain-
lain dapat diminta bantuan guru menggambar dan sebagainya.
2. Beritahukan hasil survey itu kepada lingkungan yang lebih luas melalui
surat kabar sekolah, pameran, siaran radio, ceramah-ceramah, dan
sebagainya.
3. Adakah evaluasi tentang apa yang telah dilakukan untuk mencari cara-cara
memperbaikinya di kemudian hari.
4. Anjurkan melakukan "social action" atau aksi sosial. Hasii survey itu
hendaknya disertai dengan perbuatan dan kegiatan untuk memperbaiki
masyarakat.

c. Menjalankan Usaha Pengabdian Masyarakat (Service Projects)

Dengan "service projects", dimaksud kegiatan-kegiatan yang dijalankan oleh


murid-murid untuk memperbaiki salah satu aspek dari kehidupan masyarakat. Setiap
sekolah yang menyebutkan dirinya suatu "community school" harus membuktikannya
dengan service projects" atau proyek pelayanan atau pengabdian masyrakat. Yang
dapat. mengabdi kepada masyarakat bukan hanya pergurun tinggi melainkan setiap
jenis dan tingkat sekolah. Servuce projects mungkin merupakan follow-up dari suatu
survey atau karyawisata.

Masalah-masalah survey dapat dijadikan service projects antara lain


memperindah kampung atau kota, membunuh tikus memperindah sekolah, memberi
bantuan kepada korban bencana alam. mengadakan gerakan kebersihan , dan
sebagainya.

Langkah-langkah menjalankan service projects

Perencanaan
Agar proyek pengabdian masyarakat ini berhasil harus diadakan musyawarah
antara murid-murid, guru, dan tokoh-tokoh atau badan-badan tertentu dalam
masyarakat. Dalam perencanaan itu harus diperhatikan haI-hal yang berikut:
1. Harus ditemukan suatu aspek kehidupan masyarakat yang memerlukan
perbaikan.
2. Proyek yang dipilih harus:
Penting dan berguna bagi masyarakat
Dapat dikerjakan oleh anak-anak jadi sesuai dengan kesanggupan
mereka
Harus bermanfaat bagi perkembangan pribadi anak, jadi bertalian
dengan kurikulum dan tujuan sekolah.
3. Rumuskan proyek itu dengan jelas. Anak-anak harus memahami
proyek itu dengan mengetahui tugas masing-masing.
4. Minta persetujuan kepala sekolah dan orang tua.
5. Usahakan bantuan dari badan-badan dan kalangan tertentu dalam
masyarakat. Usahakan agar masyarakat memahami, menghargai, dan
membantu proyek itu.
6. Perkirakan pembiayaan untuk alat-alat dan keperluan-keperluan lain
untuk proyek itu.
7. Bagi kelas dalam kelompok-kelompok yang mempunyai tugas. tugas
tertentu.
Menjalankan proyek itu.
1. Selidiki apakah setiap anak, setiap kelompok telah jelas memahami
tugasnya.
2. Periksa apakah anak-anak telah mempunyai alat-alat dan perlengkapan
yang diperlukan.
3. Beri bantuan kepada setiap kelompok di mama diperlukan.
4. Minta progres report atau laporan kegiatan dari tiap kelompok.
5. Tinjau rencana kerja selama proyek itu berjalan dan adakah perubahan
bila perlu.
Follow-up dan evaluasi.
1. Adakan evaluasi tentang perencanaan dan pelaksanaan proyek itu.
2. Diskusikan hasil-hasil proyek itu. Perubahan kelakuan, sikap, dan
pengertian-pengertian apa yang diperleh anak-anak.
3. Bicarakan sumbangan-sumbangan apa yang telah diabdikan anak-anak
kepada masyarakat.
4. Minta pendapat dan penilaian orang tua dan masyarakat tentang
proyek itu.
5. Bicarakan hubungan hasil-hasil proyek itu dengan kurikulum serta
tujuan sekolah.
6. Bicarakan saran-saran untuk perbaikan pelaksanaan proyek di masa
depan.

d. Interviu

Dengan interviu dimaksud situasi-situasi tak formal di mana murid-murid


mengajukan pertanyaan kepada orang dewasa dengan tujuan untuk memperoleh
informasi atau pendapat. Untuk melakukan interviu dengan baik perlu dijalankan
langkah-langkah yang berikut :

Merencanakan interview.
1. Rumuskan tujuan interviu itu. lni dapat dicapai dengan
mendiskusikanya.
2. Tentukan siapa yang akan diinterviu. Ada baiknya unmk mengetahui
sebanyak mungkin tentang orang itu.
3. Bicarakan atau selidiki cara-cara yang baik untuk melakukan interviu.
4. Rencanakan bersama kelas penanyaan-pertanyaan yang akan diajukan
5. Tentukan panitia yang terdiri atas tiga empat orang yang akan
menjalankan interviu itu.
6. Kunjungi orang yang akan diinterviu untuk menentukan waktu yang
dapat disediakannya, sambil menjelaskan tujuan interviu itu dan
menyampaikan daftar pertanyaan yang akan diajukan nanti.
Melaksanakan interviu.
1. Ketua panitia wawancara memperkenalkan teman-temannya kepada
orang yang akan interviu itu.
2. Ketua panitia itu mulai menginterviu dengan mengajukan pertanyaan
pertama dari daftar pertanyaan itu.
3. Semua murid yang menginterviu mengadakan catatan selama interviu.
4. Ketua panitia mengusahakan agar jawaban-jawaban sesuai dengan
tujuan interviu itu.
5. Ketua panitia mengakhiri interviu pada waktunya dengan ucapan
terima kasih.

Mengevaluasi interviu.
1. Setiap murid menyusun suatu laporan berdasarkan catatan yang
dibuatnya selama wawancara itu.
2. Panitia menyiapkan suatu laporan mengenai seluruh interview itu dan
mendiskusikan apakah katerangan yang diperoleh sudah objektuf dan
mencukupi ataukah masih diperlukan sumber- sumber lain.
3. Melaporkan hasil interviu kepada kelas. Hasil interviu disampaikan
kepada kelas. Murid-murid dianjurkan untuk mengajukan pertanyaan-
pertanyaan.

e. Perkemahan Sekolah (School Camping)

Dengan jalan berkemah, kita membawa anak secara langsung ke dalam alam
lingkungan, sehingga anak-anak Iebih mengenal dunia sekitarnya. Perkemahan
banyak mempunyai nilai edukatif seperti memupuk rasa tanggung jawab, jiwa gotong
royong, perasaan sosial, keakraban dengan alam raya dan lain-lain.Akan tetapi
perkemahan sekolah ini belum cukup di lakukan oleh sekolah-sekolah berhubungan
dengan kesulitan biaya, alat-alat transpor dan lain-lain. Lagi pula perkemahan sekolah
memberi tanggung jawab yang berat kepada guru-guru yang memimpinnya.
Walaupun demikian, dengan persiapan yang cermat serta bantuan orang tua, setiap
guru dapat menjalankannya dengan tujuan pendidikan.16

16
Ibid., hal. 135-142