Anda di halaman 1dari 10

MORFOLOGI SERANGGA

Oleh :
Nama : Gibran Muhammad Tri R
NIM : B1K014025
Rombongan : III
Kelompok :1
Asisten : Quraisy Zakky

LAPORAN PRAKTIKUM ENTOMOLOGI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Serangga tergolong dalam Filum Arthrophoda, Sub Filum Mandibulata,


Kelas Insecta. Ruas yang membangun tubuh serangga terbagi atas tiga bagian yaitu,
kepala (caput), dada (toraks) dan perut (abdomen). Sesungguhnya serangga terdiri
dari tidak kurang dari 20 segmen. Enam Ruas terkonsolidasi membentuk kepala, tiga
ruas membentuk thoraks, dan 11 ruas membentuk abdomen. Serangga dapat
dibedakan dari anggota Arthropoda lainnya karena adanya 3 pasang kaki (sepasang
pada setiap segmen thoraks) (Romoser dan Stoffolano, 1998).
Serangga mendominasi rantai makanan dan jaring makanan dalam urutan
kedua. Serangga mengkonsumsi makanan yang berbeda-beda tergantung jenis
serangga yaitu sebagai dekomposer, hidup di kayu yang mati, indikator dalam air,
herbivora, sebagai predator dan parasitisme. Mereka hidup di air dan di tanah selama
sebagian atau selama hidupnya. Pola hidup serangga yaitu soliter dan berkelompok.
Serangga bisa terlihat dengan jelas, bisa meniru objek lain dan bersembunyi.
Serangga ada yang aktif pada malam hari dan ada pula yang aktif pada siang hari.
Serangga bisa hidup pada kondisi yang ekstrem, misalnya pada cuaca panas, dingin,
basah, kering dan tak terduga (Susanto, 2000).
Masing-masing spesies serangga merupakan bagian dari sebuah kumpulan
besar suatu koloni serangga, jadi apabila terjadi penurunan populasi maka akan
mempengaruhi komplisitas dan kelimpahan organisme lain. Beberapa serangga
memiliki fungsi ekologis mereka. Sebagai contoh, rayap mengkorversi selulosa
dalam tropis tanah sehingga menjadi sumber penataan tanah. Serangga berhubungan
erat dengan kelangsungan hidup manusia, serangga tertentu merusak kesehatan
manusia, mempengaruhi pertanian dan hortikultura. Serangga sangat menguntungkan
bagi manusia, menyediakan bahan makanan untuk manusia, contohnya lebah madu
yang menyediakan madu dan sekaligus sebagai polinator untuk pertanian (Susanto,
2000).
B. Tujuan

Tujuan dari praktikum morfologi serangga adalah mahasiswa dapat


menjelaskan pembagian tubuh serangga secara umum, menjelaskan dan
menunjukkan alat-alat yang terdapat di daerah kaput, dan abdomen serta dapat
membedakan serangga jantan dan betina.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Salah satu alasan mengapa serangga memiliki keanekaragaman dan


kelimpahan yang tinggi adalah kemampuan reproduksinya yang tinggi, serangga
bereproduksi dalam jumlah yang sangat besar, dan pada beberapa spesies bahkan
mampu menghasilkan beberapa generasi dalam satu tahun. Kemampuan serangga
lainnya yang dipercaya telah mampu menjaga eksistensi serangga hingga kini adalah
kemampuan terbangnya. Hewan yang dapat terbang dapat menghindari banyak
predator, menemukan makanan dan pasangan kawin, dan menyebar ke habitat baru
jauh lebih cepat dibandingkan dengan hewan yang harus merangkak di atas
permukaan tanah (Lilies, 1991).
Keanekaragaman serangga telah terdapat pada periode Carboniferous (sekitar
300 juta tahun yang lalu). Pada periode Permian (270 juta tahun yang lalu) beberapa
kelompok serangga telah menyerupai bentuk yang dijumpai sekarang. Sayap pada
serangga mungkin pada awalnya berevolusi sebagai perluasan kutikula yang
membantu tubuh serangga itu menyerap panas, kemudian baru menjadi organ untuk
terbang. Pandangan lain menyarankan bahwa sayap memungkinkan hewan itu
meluncur dari vegetasi ke tanah, atau bahkan berfungsi sebagai insang dalam
serangga akuatik. Hipotesis lain menyatakan bahwa sayap serangga berfungsi untuk
berenang sebelum mereka berfungsi untuk terbang (Latifah et al, 2015).
Tubuh serangga beruas-ruas dan ruas-ruas tersebut dapat dikelompokkan
menjadi tiga bagian yaitu kepala, toraks (dada) dan abdomen (perut). Pada kepala
terdapat mata, antena dan alat-alat mulut. Pada dada terdapat tiga pasang kaki, pada
dada bagi serangga yang bersayap terdapat satu pasang sayap atau dua pasang sayap
(Lilies 1991).
Serangga mempunyai rangka luar eksoskeleton yang berfungsi untuk
memperkokoh tubuh dan tempat melekatnya otot. Sistem otot serangga lebih
kompleks dari golongan invertebrata lainnya. Pada beberapa jenis serangga terdapat
dari beberapa ratus sampai beberapa ribu otot, misalnya pada belalang terdapat 900
otot, dan pada ulat kupu-kupu terdapat 4000 otot (Jasin, 1987).
III. MATERI DAN METODE

A. Materi

1.1. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah bak preparat, pinset,
mikroskop stereo, dan kapas
1.2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam Belalang kayu (Valanga nigricornis),

Jangkrik (Gryllus sp.) jantan dan betina, kloroform, dan alkohol 70%

B. Metode

1. Disiapkan alat dan bahan


2. Ditetesi kapas dengan kloroform, dimasukkan kapas kedalam botol
pembunuh serangga menggunakan pinset
3. Dimasukkan belalang ke dalam botol pembunuh dengan menggunakan
pinset, lalu tutup botol, tunggu sampai obyek mati.
4. Diambil belalang yang telah mati dengan menggunakan pinset, kemudian
celupkan ke dalam alkohol 70%, lalu angkat.
5. Diamati morfologi belalang, hitung segmen pada tubuh belalang .
6. Diperhatikan bagian-bagian yang tampak dengan menggunakan mikroskop
stereo.
7. Diamati perbedaan antara belalang jantan dengan belalang betina .
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Gambar 1.1 Jankrik (Gryllus sp.)

Gambar 1.2 Belalang kayu (Valanga nigricornis)


B. Pembahasan

Secara morfologi, tubuh serangga dewasa dapat dibedakan menjadi tiga


bagian utama. Ketiga bagian tubuh serangga dewasa adalah kepala(caput), dada
(thorax), dan perut (abdomen). Caput merupakan sebuah konstruksi yang padat dan
keras dan terdapat beberapa suture yang menurut teori evolusi caput tersebut terdiri
dari enam ruas yang mengalami penyatuan yang meliputi satu pasang mata faset,
beberapa buah mata oseli, satu pasang antenna, dan alat mulut. Toraks terdiri dari
tiga ruas yang jelas terlihat yaitu protoraks, mesotoraks, dan metatoraks. Kaki pada
serangga terdapat pada segmen sternum (ventral) toraks dimana setiap satu pasang
kaki terdapat pada satu segmen dan sayap pada serangga terdapat pada bagian notum
(dorsal) serangga yang bertempat pada mesotoraks dan metatoraks. Abdomen adalah
bagian tubuh serangga yang terdiri dari 11 segmen diaman pada segmen ke-11
tereduksi dan berubah menjadi alat tambahan yang meliputi sersi, epiprok dan
periprok (Jasin, 1987).
Berdasarkan fungsinya, bagian utama pada serangga memiliki fungsinya
masing-masing. Caput adalah tempat dimana mata oceli, mata majemuk, antenna,
dan mulut berada. Mata serangga terdiri dari dua macam yaitu mata majemuk dan
mata oseli. Mata majemuk berfungsi sebagai pendeteksi warna dan bentuk,
sedangkan mata oseli atau biasa disebut mata tunggal berfungsi sebagai pendeteksi
intensitas cahaya. Mata majemuk terdiri dari beberapa ommatidia dan mata tunggal
terdiri dari satu. Sebagai contoh, mata majemuk capung terdiri dari 28.000
ommatidia dan satu ommatidiumnya berukuran + 10 m. Antena serangga berjumlah
dua atau sepasang, berupa alat tambahan yang beruas-ruas dan berpori yang
berfungsi sebagai alat sensor. Bagian-bagian antena adalah antenifer, soket, scape,
pedicel, meriston, dan flagelum. Bentuk antena serangga sangat bervariasi
berdasarkan jenis dan stadiumnya. Mulut serangga digunakan untuk makan, ada
beberapa tipe mulut pada serangga yaitu penggigit-pengunyah, penggigit-pengisap,
penusuk-pengisap, penjilat-pengisap, dan pengisap (Borror, 1992).
Toraks adalah bagian yang menghubungkan antara caput dan abdomen.
Torak juga merupakan daerah lokomotor pada serangga dewasa karena pada torak
terdapat tiga pasang kaki dan dua atau satu pasang sayap (kecuali ordo Thysanura
tidak bersayap). Diantara toraks dan caput terdapat leher serangga, yang merupakan
daerah bermembran yang disebut cervix. Pada bagian cervix terdapat sepasang
cervical sklerit. Sepasang cervical sklerit ini berfungsi sebagai engsel yang
menghubungkan antara caput dengan torak. Pada beberapa serangga cervix sklerit ini
menyatu dengan pleura pada protoraks. Kaki serangga dewasa berjumlah tiga
pasang, sedangkan pada fase pradewasa jumlah kakinya sangat bervariasi tergantung
spesiesnya. Secara umum kaki serangga terdiri dari beberapa ruas yaitu trochantin,
coxa, trochanter, femur, tibia, tarsus,pretarsus, dan claw. Sayap serangga terdiri dari
dua atau satu pasang. Serangga bersayap pada fase dewasa dan pradewasa khusus
pada Ephemeroptera yang biasa disebut fase subimago/preimago. Sayap serangga
secara umum berupa lembaran yang bervena berfungsi untuk terbang. Venasi sayap
ini penting untuk diketahui sebagai dasar untuk menentukan spesies serangga
tertentu, khususnya bangsa lalat dan tawon (Price, 1984).
Abdomen serangga merupakan bagian tubuh yang memuat alat pencernaan,
ekskresi, dan reproduksi. Bagian dorsal dan ventral mengalami sklerotisasi
sedangkan bagian yang menghubungkannya berupa membran. Bagian dorsal yang
mengalami sklerotisasi disebut tergit, bagian ventral disebut sternit, dan bagian
ventral berupa membran disebut pleura (Price, 1984). Kelenjar pada serangga
termasuk kedalam sistem reproduksi yang belum berfungsi sepenuhnya sebelum
mereka dewasa. Pembentukan sistem reproduksi biasanya terjadi setelah imaginal
molt termasuk morfogenesis dan differensiasi sitology. Pada belalang betina, bagian
belakang perut terdapat ovipositor yang berfungsi untuk meletakkan telurnya (Strum,
2016).
Berikut adalah klasifikasi serangga yang digunakan selama praktikum
menurut Borror (1992):
Klasifikasi belalang kayu Klasifikasi Jangkrik
Regio : Eukarya Regio : Eukarya
Regnum : Animalia Regnum : Animalia
Phylum : Arthropoda Phylum : Arthropoda
Classis : Insecta Classis : Insecta
Ordo : Orthoptera Ordo : Orthoptera
Familia : Acrididae Familia : Gryllidae
Genus : Valanga Genus : Gryllus
Species : Valanga nigricornis Species : Gryllus sp.
V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa :


1. Secara umum bagian tubuh serangga dibedekan menjadi caput, toraks dan
abdomen.
2. Pada daerah caput terdapat enam segmen yang meliputi satu pasang mata
faset, beberapa buah mata oseli, satu pasang antenna, dan alat mulut
3. Pada daerah toraks terdiri dari tiga segmen yang jelas terlihat yaitu protoraks,
mesotoraks, dan metatoraks, dimana pada toraks dapat ditemukan sayap dan
3 pasang kaki.
4. Pada daerah abdomen terdiri dari terdiri dari 11 segmen diaman pada segmen
ke-11 tereduksi dan berubah menjadi alat tambahan yang meliputi sersi,
epiprok dan periprok.
5. Perbedaan serangga jantan dan betina adalah aedeagus pada serangga jantan
dan spermatecca pada serangga betina atau dengan melihat ada tidaknya
ovipositor yang biasanya ditemukan pada serangga betina.
DAFTAR REFERENSI

Borror. 1992. Pengenalan Pelajaran Serangga, edisi VI. Yogyakarta : Gajah Mada
University Press.
Jasin, M. 1987. Sistematika Hewan (Invertebrata dan Vertebrata). Surabaya: Sinar
Wijaya.
Latifah N., Dharmono, dan Naparin, A. 2015. Inventarisasi Spesies Belalang Di
Kawasan Hutan Galam Desa Tabing Rimbah Kecamatan Mandastana
Kabupaten Barito Kuala. Jurnal Wahana-Bio. 16:92-116.
Lilies, S. C. 1991. Kunci Determinasi Serangga. Yogyakarta: Kasinus.
Price, P. W. 1984. Insect Ecology. New Jersey: John Willey & Sons.
Romoser, W.S., and Stoffolano, J.G. 1998. The Science of Entomology (fourth
edition). New York: McGraww Hill Company.
Strum, R. 2016. Morphology and development of the accessory glands in various
female cricket species. Arthropod Structure & Development. 45:585-593.
Susanto P., 2000. Pengantar Ekologi. Yogyakarta : Departemen Pendidikan
Nasional.