Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK

PERCOBAAN G-3
TEGANGAN PERMUKAAN CAIRAN CARA CINCIN DU NOUY

Nama : Winda Amelia


NIM : 90516008
Kelompok : 02
Tanggal Praktikum : 20 September 2017
Tanggal Pengumpulan : 27 September 2017
Asisten : Didi Benu

LABORATORIUM KIMIA FISIK


PROGRAM STUDI MAGISTER PENGAJARAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2017
TEGANGAN PERMUKAAN CAIRAN CARA CINCIN DU NOUY

I. Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah:
- Menentukan tegangan permukaan cairan tunggal atau larutan.
- Menentukan tegangan antar muka dua cairan yang tak saling bercampur

II. Dasar Teori:


Permukaan zat cair mempunyai sifat ingin merenggang sehingga permukaannya seolah-
olah ditutupi oleh suatu lapisan yang elastis. Hal tersebut disebabkan adanya gaya tarik-
menarik antar partikel sejenis didalam zat cair sampai ke permukaan. Di dalam cairan, tiap
molekul ditarik oleh molekul lain yang sejenis di dekatnya dengan gaya yang sama ke
segala arah. Akibatnya tidak terdapat sisa (resultan) gaya yang bekerja pada masing-masing
molekul. Adanya gaya atau tarikan kebawah menyebabkan permukaan cairan berkontraksi
dan berada dalam keadaan tegang. Tegangan tersebut dinamakan tegangan permukaan
(Sukardjo, 2002).
Tegangan antar muka adalah gaya per satuan panjang yang terjadi pada antar muka
antara fase cair yang tidak dapat tercampur. Seperti tegangan muka, satuannya adalah
dyne/cm. Tegangan antar muka selalu lebih kecil dari tegangan muka, sebab gaya adesi
antara dua fase cair yang membentuk antar muka lebih besar dari gaya adesi antara fase cair
dan fase gas yang membentuk antar muka. Dengan demikian, jika dua macam zat cair dapat
bercampur sempurna, maka tidak akan ada tegangan antar muka cairannya (Giancoli, 2001).
Tegangan permukaan suatu zat cair dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya suhu
dan zat terlarut. Keberadaan zat terlarut dalam suatu cairan akan mempengaruhi besarnya
tegangan permukaan terutama molekul zat yang berada pada permukaan cairan berbentuk
lapisan monomolekular yang disebut dengan molekul surfaktan. Penambahan zat terlarut
akan meningkatkan viskositas larutan, sehingga tegangan permukaan akan bertambah besar.
Tetapi apabila zat yang berada dipermukaan cairan membentuk lapisan monomolecular,
maka akan menurunkan tegangan permukaan, zat tersebut biasa disebut dengan surfaktan
(Atkins, 1994).
III. Data Pengamatan:
1) Hasil pengukuran massa cairan dengan piknometer:
massa massa
massa
sampel + piknometer
Sampel sampel
piknometer kosong
(gram)
(gram) (gram)
Aseton 39,11 19,09 20,02
Air (Aquades) 44,93 19,53 25,40
Toluena 40,63 19,09 21,54
Kloroform 56,87 19,09 37,78
Larutan NaCl 46,06 19,53 26,53
Larutan MgCl2 46,97 19,53 27,44
Metanol 39,85 19,53 20,32
air : metanol
75:25 44,00 19,09 24,91
air : metanol
50:50 42,93 19,09 23,84
air : metanol
25:75 41,41 19,09 22,32

2) Hasil pengukuran tegangan permukaan cairan:


Pbaca rata-
Pbaca (dyne/cm)
rata
Sampel I II III (dyne/cm)
Air (Aquades) 79 79,5 79 79,17
Aseton 29 28 29 28,67
Kloroform 33,5 33 33 33,17
Toluena 34 33,5 33 33,50
Larutan MgCl2 72 73 73,5 72,83
Larutan NaCl 79,5 80 80 79,83
Metanol 30 29 28 29,00
Air : metanol
50:50 43 45 44,5 44,17
Air : metanol
25:75 34 34 34 34,00
Air : metanol
75:25 54,5 54,5 54,5 54,50
3) Hasil pengukuran tegangan antar muka cairan:

Pbaca (dyne/cm) Pbaca


Sampel rata-rata
I II III (dyne/cm)
Air + kloroform 36 37 36 36,33
Air + toluena 13 15 15 14,33

IV. Pengolahan Data:


Penentuan volume piknometer
+
V piknometer =

Penentuan massa jenis zat


+
piknometer =

Tabel 4.1. Hasil Perhitungan massa jenis cairan pada suhu


Massa Massa massa
Massa
sampel + piknometer V jenis
Sampel sampel
piknometer kosong piknometer larutan
(gram)
(gram) (gram) (mL) (gram/mL)
Aseton 39,110 19,090 20,020 0,786
Air
(aquades) 44,930 19,530 25,400 0,997
Toluena 40,630 19,090 21,540 0,845
Kloroform 56,870 19,090 37,780 1,483
Larutan
NaCl 46,060 19,530 26,530 1,041
Larutan
MgCl2 46,970 19,530 27,440 25,482 1,077
Metanol 39,850 19,530 20,320 0,797
Air:metanol
75:25 44,000 19,090 24,910 0,978
Air:metanol
50:50 42,930 19,090 23,840 0,936
Air:metanol
25:75 41,410 19,090 22,320 0,876

Faktor koreksi cairan:


0,01452 1,679
Fr = 0,7250 + 2 () + 0,04534
Dimana:
Keliling
cincin ( c ) 5,99200 cm
R/r 53,60000
r/R 0,01866
rapat massa 0,00120 gram/
udara mL

Tegangan permukaan cairan:


= P rata-rata x Fr

Tabel 4.2. Hasil Perhitungan tegangan permukaan cairan dengan Fr:

Pbaca (dyne/cm) Pbaca massa jenis


sampel rata-rata (gram/mL) Fr (dyne/cm)
I II III (dyne/cm)
air 79 79,5 79 79,17 1,00 0,94 74,41
aseton 29 28 29 28,67 0,79 0,97 27,69
kloroform 33,5 33 33 33,17 1,48 0,95 31,64
toluena 34 33,5 33 33,50 0,85 0,97 32,45
larutan
MgCl2 72 73 73,5 72,83 1,08 0,99 72,17
larutan
NaCl 79,5 80 80 79,83 2,79 0,96 76,58
metanol 30 29 28 29,00 0,35 1,00 29,05
air +
kloroform 36 37 36 36,33 1,00 36,20
air +
toluena 13 15 15 14,33 0,80 11,41
air :
metanol
50:50 43 45 44,5 44,17 1,55 0,96 42,36
air :
metanol
25:75 34 34 34 34,00 1,19 0,96 32,62
air :
metanol
75:25 54,5 54,5 54,5 54,50 0,75 0,99 54,22

Galat dari tegangan permukaan zat ()



% Galat = x 100 %

Tabel 4.3 Hasil pengukuran galat tegangan permukaan:
(dyne/cm) %
sampel
Percobaan Literatur Erorr
Air 74,410 72,000 3,239
aseton 27,690 27,600 0,325
kloroform 31,640 27,500 13,085
toluena 32,450 28,400 12,481
metanol 29,050 22,700 21,859
air : metanol 42,360
50:50 26,500 37,441
air : metanol 32,620
25:75 32,300 0,981

air : metanol 54,220


75:25 45,300 16,451

V. Pembahasan:
VI. Kesimpulan:
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa bahwa:
1. Tegangan permukaan suatu cairan tunggal atau larutan dengan menggunakan Fr
sebagai berikut:
Pbaca
sampel rata-rata (dyne/cm)
(dyne/cm)
air 79,17 74,41
aseton 28,67 27,69
kloroform 33,17 31,64
toluena 33,50 32,45
larutan MgCl2 72,83 72,17
larutan NaCl 79,83 76,58
metanol 29,00 29,05

air : metanol 50:50 44,17 42,36

air : metanol 25:75 34,00 32,62

air : metanol 75:25 54,50 54,22


2. Tegangan antar muka suatu cairan yang tidak bercampur dengan menggunakan Fr
sebagai berikut:
Pbaca
sampel rata-rata (dyne/cm)
(dyne/cm)
air +
kloroform 36,33 36,20
air +
toluena 14,33 11,41

VII. Daftar Pustaka:


Atkins, P. W. 1994. Kimia Fisik edisi ke-4 jilid 1. Erlangga: Jakarta.
Giancoli, Douglas C. 2001. Fisika jilid 1. Erlangga: Jakarta.
Sukardjo. 2002. Kimia Fisika. Rineka Cipta. jakarta
Nama : Winda Amelia
NIM : 90516008
Prodi : Magister Pengajaran Kimia

PERTANYAAN

1) Bagaimana cara penentuan antar muka dari cairan yang kecil kerapatannya ke cairan
yang lebih besar kerapatannya?
Penentuan tegangan antar muka dapat dilakukan dengan metode cincin Du Nouy.
Prinsipnya sama seperti pada pengukuran tegangan permukaan cairan tunggal yaitu
gaya yang diperlukan untuk melepaskan cincin pt-Ir dari permukaan sebanding
dengan tegangan permukaan dan tegangan antar muka. Pada penentuan tegangan antar
muka terbentuk dua fase cairan yang tidak bercampur, dimana cairan yang besar
kerapatannya berada di bawah dan yang kerapatannya lebih kecil berada diatas. Cincin
dicelupkan hingga kurang lebih 0,5 cm dari lapisan keduanya. Perhitungan tegangan
antarmuka tersebut melibatkan dua rapat massa yaitu rapat massa di bawah antar
muka dan rapat massa di atas antar muka.
2) Jelaskan cara lain untuk penentuan dengan prinsip yang sama seperti cara cincin Du
Nouy?
Penentuan tegangan permukaan dengan prinsip yang sama seperti cara cincin Du
Nouy dapt dilakukan dengan menggunakan kawat lurus yang bentuknya dibuat
segiempat. Proses pengerjaannya sama, akan tetapi terdapat perbedaan sedikit dalam
perhitungan tegangan permukaan dimana keliling lingkaran (c) diganti dengan keliling
persegi empat.
3) Bagaimana pengaruh suhu pada tegangan permukaan? Jelaskan dengan Rumus
Ramsay-Shields?
Berikut di bawah ini rumus Ramsay-Shields yang menjelaskan pengaruh suhu
terhadap tegangan:
(M. V)2/3 = k (tc 6 - t)
dimana berat molekul (M), volume molar (V), suhu (t), dan suhu kritis (tc). Persamaan
di atas menjelaskan bahwa suhu yang tidak terlalu dekat dengan suhu kritis, energi
permukaan molar cairan sebanding dengan (tc 6 - t), dimana t adalah suhu dan tc
adalah suhu kritis. Semakin besar suhu, maka energi kinetik yang dimiliki oleh suatu
molekul semakin besar. Hal tersebut menyebabkan percepatan gerak partikel molekul
sehingga daerah yang diperlukan molekul untuk bergerak semakin luas.
Lampiran

Anda mungkin juga menyukai