Anda di halaman 1dari 31

Dasar-Dasar Ilmu Tanah

Diposting oleh Buku di 13.24 Minggu, 29 Agustus 2010

BAB I
DEFINISI TANAH, FUNGSI DAN PROFIL TANAH
1. Definisi Tanah

a. Pendekatan Geologi (Akhir Abad XIX)


Tanah: adalah lapisan permukaan bumi yang berasal dari bebatuan yang telah
mengalami serangkaian pelapukan oleh gaya-gaya alam, sehingga membentuk
regolit (lapisan partikel halus).

b. Pendekatan Pedologi (Dokuchaev 1870)


Pendekatan Ilmu Tanah sebagai Ilmu Pengetahuan Alam Murni. Kata Pedo = i
gumpal tanah. Tanah adalah bahan padat (mineral atau organik) yang terletak
dipermukaan bumi, yang telah dan sedang serta terus mengalami perubahan
yang dipengaruhi oleh faktor-faktor: Bahan Induk, Iklim, Organisme, Topografi,
dan Waktu.

c. Pendekatan Edaphologis (Jones dari Cornel University Inggris)


Kata Edaphos = bahan tanah subur. Tanah adalah media tumbuh tanaman.

d. Perbedaan Pedologis dan Edaphologis


Kajian Pedologis
Mengkaji tanah berdasarkan dinamika dan evolusi tanah secara alamiah atau
berdasarkan Pengetahuan Alam Murni. Kajian ini meliputi: Fisika Tanah, Kimia
Tanah, Biologi tanah, Morfologi Tanah, Klasifikasi Tanah, Survei dan Pemetaan
Tanah, Analisis Bentang Lahan, dan Ilmu Ukur Tanah.

Kajian Edaphologis:
Mengkaji tanah berdasarkan peranannya sebagai media tumbuh tanaman.
Kajian ini meliputi: Kesuburan Tanah, Konservasi Tanah dan Air, Agrohidrologi,
Pupuk dan Pemupukan, Ekologi Tanah, dan Bioteknologi Tanah.

Paduan antara Pedologis dan Edaphologis :


Meliputi kajian: Pengelolaan Tanah dan Air, Evaluasi Kesesuaian Lahan, Tata
Guna Lahan, Pengelolaan Tanah Rawa, Pengelolaan Sumber Daya Alam dan
Lingkungan.

e. Definisi Tanah (Berdasarkan Pengertian yang Menyeluruh)


Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai
tempat tumbuh & berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya
tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara; secara kimiawi berfungsi
sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (senyawa organik dan
anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial seperti: N, P, K, Ca, Mg, S, Cu,
Zn, Fe, Mn, B, Cl); dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota
(organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat -
zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman, yang ketiganya secara
integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomass
dan produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan, industri perkebunan,
maupun kehutanan. Definisi tanah secara mendasar dikelompokkan dalam tiga
definisi, yaitu:
1. Menurut ahli geologi (berdasarkan pendekatan Geologis)
Tanah didefiniskan sebagai lapisan permukaan bumi yang berasal dari bebatuan
yang telah mengalami serangkaian pelapukan oleh gaya-gaya alam, sehingga
membentuk regolit (lapisan partikel halus).
2. Menurut Ahli Ilmu Alam Murni (berdasarkan pendekatan Pedologi)
Tanah didefinisikan sebagai bahan padat (baik berupa mineral maupun organik)
yang terletak dipermukaan bumi, yang telah dan sedang serta terus mengalami
perubahan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor: bahan induk, iklim, organisme,
topografi, dan waktu.
3. Menurut Ahli Pertanian (berdasarkan pendekatan Edaphologi)
Tanah didefinisikan sebagai media tempat tumbuh tanaman.
Selain ketiga definisi diatas, definisi tanah yang lebih rinci diung kapkan ahli
ilmu tanah sebagai berikut: "Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang
secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran
sebagai penopang tumbuh tegaknya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan
hara ke akar tanaman; secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai
hara atau nutrisi (baik berupa senyawa organik maupun anorganik sederhana
dan unsur-unsur esensial, seperti: N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl);
dan secara biologis berfungsi sebagai habitat dari orga nisme tanah yang turut
berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat -zat aditif bagi
tanaman; yang ketiganya (fisik, kimiawi, dan biologi) secara integral mampu
menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomass dan produksi baik
tanaman pangan, tanaman sayur-sayuran, tanaman hortikultura, tanaman
obat-obatan, tanaman perkebunan, dan tanaman kehutanan.
2. Fungsi Tanah

a. Tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran.


b. Penyedia kebutuhan primer tanaman (air, udara, dan unsur -unsur hara).
c. Penyedia kebutuhan sekunder tanaman (zat -zat pemacu tumbuh: hormon,
vitamin, dan asam-asam organik; antibiotik dan toksin anti hama; enzim yang
dapat meningkatkan kesediaan hara).
d. Sebagai habitat biota tanah, baik yang berdampak positif karena terlibat
langsung atau tak langsung dalam penyediaan kebutuhan primer dan sekunder
tanaman tersebut, maupun yang berdampak negatif karena merupakan hama &
penyakit tanaman.

Dua Pemahaman Penting tentang Tanah:

1. Tanah sebagai tempat tumbuh dan penyedia kebutuhan tanaman, dan


2. Tanah juga berfungsi sebagai pelindung tanaman dari serangan hama &
penyakit dan dampak negatif pestisida maupun limbah industri yang
berbahaya.

3. Profil Tanah

Profil Tanah adalah irisan vertikal tanah dari lapisan paling atas hingga ke
batuan induk tanah. Profil dari tanah yang berkembang lanjut biasanya
memiliki horison-horison sbb: O A E B - C R. Solum Tanah terdiri dari: O
A E B
Lapisan Tanah Atas meliputi: O A. Lapisan Tanah Bawah : E B.

Keterangan:
O : Serasah / sisa-sisa tanaman (Oi) dan bahan organik tanah (BOT) hasil
dekomposisi serasah (Oa).
A : Horison mineral ber BOT tinggi sehingga berwarna agak gelap.
E : Horison mineral yang telah tereluviasi (tercuci) sehingga kadar (BOT, liat
silikat, Fe dan Al) rendah tetapi pasir dan debu kuarsa (seskuoksida) dan
mineral resisten lainnya tinggi, berwarna terang.
B : Horison illuvial atau horison tempat terakumulasinya bahan -bahan yang
tercuci dari harison diatasnya (akumulasi bahan eluvial).
C : Lapisan yang bahan penyusunnya masih sama dengan bahan induk (R)
atau belum terjadi perubahan.
R : Bahan Induk tanah

Kegunaan Profil Tanah :


a. Untuk mengetahui kedalaman lapisan olah (La pisan Tanah Atas = O - A) dan
solum tanah (O A E B).
b. Kelengkapan atau differensiasi horison pada profil.
c. Warna Tanah.

Komponen Tanah
4 komponen penyusun tanah :
a. Bahan Padatan berupa bahan mineral.
b. Bahan Padatan berupa bahan organik.
c. Air.
d. Udara.

Bahan tanah tersebut rata-rata 50% bahan padatan (45% bahan mineral dan
5% bahan organik), 25% air dan 25% udara.

4. Tanah tanah utama di Indonesia

1. Jenis-jenis tanah pada lahan kering


Tanah-tanah yang biasa terdapat dilahan kering di Indonesia meliputi ordo
ultisol (podsolid merah-kuning), Oxisol, Alfisol, inceptisol, dan Andosol.
Ultisol
Ultisol adalah tanah tua yang sudah mengalami tingkat pelapukan yang lanjut.
Tanah ini dibentuk dari tufa masam, batu pasir, batu endapan pasir masam ;
terletak diatas medan bergelombang hingga berbukit. Vegetasi utama adalah
hutan tropic, padang alang-alang, melastoma dan pepakuan.
Kandungan mineral tanah mineral ini yang dapat dilapuk sangat rendah,
sehingga suplai hara yang berasal dari tanah sangat kecil. Tanah ini bersifat
masam (pH rendah). Kejenuhan basa kurang dari 35 %, kandungan liat tinggi,
dengan kestabilan agregat yang sangat tinggi, kandungan bahan organik
sangat rendah, sehingga miskin akan cadangan haranya.
Oxisol
Oxisol adalah tanah mineral yang kaya akan seskuioksida, telah mengalami
pelapukan lanjut. Kandungan liat tinggi tetapi tidak aktif sehingga KTK rendah
(< 16 Me/100 g liat). Banyak mengandung oksida-oksida besi atau oksida Al.
sifat-sifat khusus tanah ini antara lain cadangan unsur hara sangat rendah,
kesuburan alami sangat rendah, kandungan Al yang dapat dipertukarkan tinggi,
permeabilitas baik, tahan trhadap erosi.
Proses pembentukan tanah yang utama pada tanah oxisol adalah proses
desilikasi dan konsentrasi besi bebas dan kadang-kadang gibsit yang kemudian
mempengaruhi jenis mineral dominan pada tanah tersebut.

Alfisol
Alfosol merupakan tanah-tanah yang mempunyai kandungan liat tinggi di
horison B (horison argilik). Pelapukannya belum lanjut, tanah alfisol banyak
ditemukan di daerah beriklim sedang, tetapi dapat pula ditemukan didaerah
tropika dan subtropika terutama ditempat-tempat dengan tingkat pelapukan
sedang.
Ada dua syarat untuk terbentuknya alfisol yaitu:
Mineral liat kristalin jumlahnya sedang
Terjadi akumulasi liat di horison B yang jumlahnya memenuhi syarat horison
argilik, atau kandik.
Tanah alfisol adalah tanah yang ralatif muda, masih banyak mengandung
mineral primer yang mudah lapuk, mineral liat kristalin, dan kaya unsur hara.
Alfisol dapat ditemukan di daerah datar sampai berbukit. Alfisol merupakan
tanah yang subur, banyak digunakan untuk pertanian, rumput ternak, atau
hutan. Tanah ini mempunyai kejenuuhan basa tinggi, KTK tinggi, dan cadangan
unsur hara tinggi.
Inceptisol
Inceptisol adalah tanah-tanah yang kecuali dapat memiliki epipedon okrik dan
horison albik. Inceptisol merupakan tanah yang belum matang dengan
perkembangan profil yang lebih lemah disbanding dengan tanah matang, dan
masih banyak menyerupai sifat bahan induknya.
Beberapa faktor yang memprngaruhi pembentukan inceptisol adalah :
Bahan induk yang sangat resisten
Posisi dalam landsekap yang ekstrim yaitu daerah curam atau lembah
Permukaan geomorfologi yang muda, sehingga pembentukan tanah belum
lanjut.
Andosol
Tanah ini dujumapi didaerah curah hujan 2000 mm/tahun tanpa bulan kering
yang pasti, iklim tergolong Afs, Cfa, atau CW terbentuk dari bahan induk tufa
atau abu vulkan, terletak diatas medan datar, agak miring, bergelombang
sampai di sekitar puncak gunung berapi. Vegetasi utama adalah hutan tropic
lebat atau hutan daerah iklim sedang. Proses pembentukan tanah adalah
alterasi lemah.
Solum tanah andosol agak tebal, berwarna hitam sampai kuning, mempunyai
horison Al yang jelas dan B lemah, struktur kersai, konsistensi gembur,
berminyak, tidak berbalik bila kering yang kadang-kadang membentuk pasir
palsu dan fragipan, tekstur kaya debu. Reaksi tanah berkisar dari agak masam
sampai netral, berkadar bahan organik kaya dilapidsan permukaan tetapi
menurun dengan jeluk; kerapatan isi < 0,85, kejenuhan basa sedang dengan
KTK liat > 24 Me/100 g, fiksasi P tinggi, mineral liat dominan alofan,
permeabilitas sedang dan peka erosi air atau angin.

2. Jenis-jenis Tanah pada Lahan Basah


Beberapa jenis tanah yang banyak dijumpai pada lahan basah adalah His tosol
dan Entisol.
Histosol
Tanah ini biasa disebut dengan tanah gambut, banyak dijumpai didaerah
dengan curah hujan tahunan > 2500 mm/tahun, air tanah dangkal dan tidak
mempunyai bulan kering yang berarti, iklim tergolong Af / Cf (koppen). Bahan
induk berasal dari bahan organik hutan rawa dan rerumputan. Tanah ini banyak
dijumpai didaerah datar pada dataran rendah atau didaerah cekungan dataran
tinggi.
Tanah Histosol terbentuk bila produksi dan penimbunan bahan organik lebih
besar dari bahan mineralisasinya. Keadaan demikian terdapat di tempat -tempat
yang selalu digenangi air sehingga sirkulasi oksigen sangat terhambat.
Akibatnya dekomposisi bahan organic terhambat dan terjadilah akumulasi
bahan organik.
Tanah ini tidak mempunyai horizon, ketebalan solum tidak lebih dari 0,5 m,
bewarna kroma mantap, teksturnya beragam, tanpa struktur atau berblok di
lapisan atas, bahan organic fibrik, hemik, atau saprik dan bila bertekstur pasir
maka berkadar bahan organic 20 % atau bila bertekstur liat berbahan organik
30 %. Untuk dapat digunakan bagi usaha pertanian tanah histosol harus
dilakukan perbaikan drainase. Akibat perbaikan drainase tersebut terjadilah
penyusunan volume tanah histosol. Kebakaran merupakan bahaya yang sering
terjadi pada tanah histosol yang sudah diperbaiki drainasenya. Kebakaran pada
tanah ini sering terjadi di bawah permukaan tanah sehingga sulit dikendalikan.
Entisol
Tanah ini disebut juga tanah alluvial. Jenis tanah ini dapat dijumpai pada
daerah dengan beriklim beragam, terbentuk dari bahan induk alluvial atau
koluvial. Proses tanpa struktur, konsistensi adalah lembab adalah teguh, basah
adalah plastic, dan kering adalah keras. Reaksi tanah beragam, kadar bahan
organic tergolong rendah, kejenuhan basa sedang hingga tinggi dengan KTK
tinggi, kadar hara tergantung bahan induk, permeabilitas lambat dan peka
erosi. Entisol merupakan tanah yang baru berkembang. Tanah entis ol yang
berasal dari tanah alluvium umumnya merupakan lahan yang subur.

BAB II
SIFAT SIFAT DAN MORFOLOGI TANAH
1. Tekstur Tanah

Tanah disusun dari butir-butir tanah dengan berbagai ukuran. Bagian butir
tanah yang berukuran lebih dari 2 mm disebut bahan kasar tanah seperti
kerikil, koral sampai batu. Bagian butir tanah yang berukuran kurang dari 2
mm disebut bahan halus tanah. Bahan halus tanah dibedakan menjadi:
1. Pasir, yaitu butir tanah yang berukuran antara 0,050 mm sampai dengan 2
mm.
2. Debu, yaitu butir tanah yang berukuran antara 0,002 mm sampai dengan
0,050 mm.
3. Liat, yaitu butir tanah yang berukuran kurang dari 0,002 mm.

Menurut Hardjowigeno (1992) tekstur tanah menunjukkan kasar halusnya


tanah. Tekstur tanah merupakan perbandingan antara bu tir-butir pasir, debu
dan liat. Tekstur tanah dikelompokkan dalam 12 kelas tekstur.
Kedua belas kelas tekstur dibedakan berdasarkan prosentase kandungan pasir,
debu dan liat.

Tekstur tanah di lapangan dapat dibedakan dengan cara manual yaitu dengan
memijit tanah basah di antara jari jempol dengan jari telunjuk, sambil
dirasakan halus kasarnya yang meliputi rasa keberadaan butir -butir pasir, debu
dan liat, dengan cara sebagai berikut:

1. Apabila rasa kasar terasa sangat jelas, tidak melekat, dan tidak dap at
dibentuk bola dan gulungan, maka tanah tersebut tergolong bertekstur Pasir.
2. Apabila rasa kasar terasa jelas, sedikit sekali melekat, dan dapat dibentuk
bola tetapi mudah sekali hancur, maka tanah tersebut tergolong bertekstur
Pasir Berlempung.
3. Apabila rasa kasar agak jelas, agak melekat, dan dapat dibuat bola tetapi
mudah hancur, maka tanah tersebut tergolong bertekstur Lempung Berpasir.
4. Apabila tidak terasa kasar dan tidak licin, agak melekat, dapat dibentuk bola
agak teguh, dan dapat sedikit dibuat gulungan dengan permukaan mengkilat,
maka tanah tersebut tergolong bertekstur Lempung.
5. Apabila terasa licin, agak melekat, dapat dibentuk bola agak teguh, dan
gulungan dengan permukaan mengkilat, maka tanah tersebut tergolong
bertekstur Lempung Berdebu.
6. Apabila terasa licin sekali, agak melekat, dapat dibentuk bola teguh, dan
dapat digulung dengan permukaan mengkilat, maka tanah tersebut tergolong
bertekstur Debu.
7. Apabila terasa agak licin, agak melekat, dapat dibentuk bola agak teguh, dan
dapat dibentuk gulungan yang agak mudah hancur, maka tanah tersebut
tergolong bertekstur Lempung Berliat.
8. Apabila terasa halus dengan sedikit bagian agak kasar, agak melekat, dapat
dibentuk bola agak teguh, dan dapat dibentuk gulungan mudah hancur, maka
tanah tersebut tergolong bertekstur Lempung Liat Berpasir.
9. Apabila terasa halus, terasa agak licin, melekat, dan dapat dibentuk bola
teguh, serta dapat dibentuk gulungan dengan permukaan mengkilat, maka
tanah tersebut tergolong bertekstur Lempung Liat Berdebu.
10. Apabila terasa halus, berat tetapi sedikit kasar, melekat, dapat dibentuk
bola teguh, dan mudah dibuat gulungan, maka tanah tersebut tergolong
bertekstur Liat Berpasir.
11. Apabila terasa halus, berat, agak licin, sangat lekat, dapat dibentuk bo la
teguh, dan mudah dibuat gulungan, maka tanah tersebut tergolong bertekstur
Liat Berdebu.
12. Apabila terasa berat dan halus, sangat lekat, dapat dibentuk bola dengan
baik, dan mudah dibuat gulungan, maka tanah tersebut tergolong bertekstur
Liat.

Hubungan Tekstur Tanah dengan Daya Menahan Air dan Ketersediaan Hara
Tanah bertekstur liat mempunyai luas permukaan yasng lebih besar sehingga
kemampuan menahan air dan menyediakan unsur hara tinggi. Tanah bertekstur
halus lebih aktif dalam reaksi kimia daripada tanah bertekstur kasar. Tanah
bertekstur pasir mempunyai luas permukaan yang lebih kecil sehingga sulit
menyerap (menahan) air dan unsur hara.

2. Struktur Tanah
Struktur tanah merupakan gumpalan kecil dari butir -butir tanah. Gumpalan
struktur tanah ini terjadi karena butir-butir pasir, debu, dan liat terikat satu
sama lain oleh suatu perekat seperti bahan organik, oksida -oksida besi, dan
lain-lain. Gumpalan-gumpalan kecil (struktur tanah) ini mempunyai bentuk,
ukuran, dan kemantapan (ketahanan) yang berb eda-beda.
Struktur tanah dikelompokkan dalam 6 bentuk. Keenam bentuk tersebut
adalah:
1. Granular, yaitu struktur tanah yang berbentuk granul, bulat dan porous,
struktur ini terdapat pada horison A.
2. Gumpal (blocky), yaitu struktur tanah yang berbentuk g umpal membuat dan
gumpal bersudut, bentuknya menyerupai kubus dengan sudut -sudut membulat
untuk gumpal membulat dan bersudut tajam untuk gumpal bersudut, dengan
sumbu horisontal setara dengan sumbu vertikal, struktur ini terdapat pada
horison B pada tanah iklim basah.
3. Prisma (prismatic), yaitu struktur tanah dengan sumbu vertical lebih besar
daripada sumbu horizontal dengan bagian atasnya rata, struktur ini terdapat
pada horison B pada tanah iklim kering.
4. Tiang (columnar), yaitu struktur tanah dengan sumbu vertical lebih besar
daripada sumbu horizontal dengan bagian atasnya membuloat, struktur ini
terdapat pada horison B pada tanah iklim kering.
5. Lempeng (platy), yaitu struktur tanah dengan sumbu vertikal lebih kecil
daripada sumbu horizontal, struktur ini ditemukan di horison A2 atau pada
lapisan padas liat.
6. Remah (single grain), yaitu struktur tanah dengan bentuk bulat dan sangat
porous, struktur ini terdapat pada horizon A.

3. Warna Tanah

Warna tanah merupakan gabungan berbagai warna komponen penyusun tanah.


Warna tanah berhubungan langsung secara proporsional dari total campuran
warna yang dipantulkan permukaan tanah. Warna tanah sangat ditentukan oleh
luas permukaan spesifik yang dikali dengan proporsi volumetrik masing -masing
terhadap tanah. Makin luas permukaan spesifik menyebabkan makin dominan
menentukan warna tanah, sehingga warna butir koloid tanah (koloid anorganik
dan koloid organik) yang memiliki luas permukaan spesifik yang sangat luas,
sehingga sangat mempengaruhi warna tanah. Warna humus, besi oksida dan
besi hidroksida menentukan warna tanah. Besi oksida berwarna merah, agak
kecoklatan atau kuning yang tergantung derajat hidrasinya. Besi tereduksi
berwarna biru hijau. Kuarsa umumnya berwarna putih. Batu kapur berwarna
putih, kelabu, dan ada kala berwarna olive-hijau. Feldspar berwarna merah.
Liat berwarna kelabu, putih, bahkan merah, ini tergantung proporsi tipe mantel
besinya. Selain warna tanah juga ditemukan adanya warna karatan (mottling)
dalam bentuk spot-spot. Karatan merupakan warna hasil pelarutan dan
pergerakan beberapa komponen tanah, terutama besi dan mangan, yang terjadi
selama musim hujan, yang kemudian mengalami presipitasi (pengendapan) dan
deposisi (perubahan posisi) ketika tanah mengalami pengeringan. Hal ini
terutama dipicu oleh terjadinya:
a. Reduksi besi dan mangan ke bentuk larutan, dan
b. Oksidasi yang menyebabkan terjadinya presipitasi.

Karatan berwarna terang hanya sedikit terjadi pada tanah yang rendah kadar
besi dan mangannya, sedangkan karatan berwarna gelap terbentuk apabila besi
dan mangan tersebut mengalami presipitasi. Karatan -karatan yang terbentuk
ini tidak segera berubah meskipun telah dilakukan perbaikan drainase.

Menurut Hardjowigeno (1992) bahwa warna tanah berfungsi sebagai penunjuk


dari sifat tanah, karena warna tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor yang
terdapat dalam tanah tersebut. Penyebab perbedaan warna permukaan tanah
umumnya dipengaruhi oleh perbedaan kandungan bahan organik. Makin tinggi
kandungan bahan organik, warna tanah makin gelap. Sedangkan dilapisan
bawah, dimana kandungan bahan organik umumnya rendah, warna tanah
banyak dipengaruhi oleh bentuk dan banyaknya senyawa Fe dalam tanah. Di
daerah berdrainase buruk, yaitu di daerah yang selalu tergenang air, seluruh
tanah berwarna abu-abu karena senyawa Fe terdapat dalam kondisi reduksi
(Fe2+). Pada tanah yang berdrainase baik, yaitu tanah yang tidak pernah
terendam air, Fe terdapat dalam keadaan oksidasi (Fe3+) misalnya dalam
senyawa Fe2O3 (hematit) yang berwarna merah, atau Fe2O3. 3 H 2O (limonit)
yang berwarna kuning cokelat. Sedangkan pada tanah yang kadang -kadang
basah dan kadang-kadang kering, maka selain berwarna abu -abu (daerah yang
tereduksi) didapat pula becak-becak karatan merah atau kuning, yaitu di
tempat-tempat dimana udara dapat masuk, sehingga terjadi oksidasi besi
ditempat tersebut. Keberadaan jenis mineral kwarsa dapat menyebabkan warna
tanah menjadi lebih terang.

Menurut Wirjodihardjo dalam Sutedjo dan Kartasapoetra (2002) bahwa


intensitas warna tanah dipengaruhi tiga faktor berikut:
1. Jenis mineral dan jumlahnya,
2. Kandungan bahan organik tanah, dan
3. Kadar air tanah dan tingkat hidratasi.

Tanah yang mengandung mineral feldspar, kaolin, kapur, kuarsa dapat


menyebabkan warna putih pada tanah. Jenis mineral feldspa r menyebabkan
beragam warna dari putih sampai merah. Hematit dapat menyebabkan warna
tanah menjadi merah sampai merah tua. Makin tinggi kandungan bahan organik
maka warna tanah makin gelap (kelam) dan sebaliknya makin sedikit
kandungan bahan organik tanah maka warna tanah akan tampak lebih terang.
Tanah dengan kadar air yang lebih tinggi atau lebih lembab hingga basah
menyebabkan warna tanah menjadi lebih gelap (kelam). Sedangkan tingkat
hidratasi berkaitan dengan kedudukan terhadap permukaan air tanah, yan g
ternyata mengarah ke warna reduksi (gleisasi) yaitu warna kelabu biru hingga
kelabu hijau.

Selain itu, Hanafiah (2005) mengungkapkan bahwa warna tanah merupakan:


1. Sebagai indikator dari bahan induk untuk tanah yang baru berkembang,
2. Indikator kondisi iklim untuk tanah yang sudah berkembang lanjut, dan
3. Indikator kesuburan tanah atau kapasitas produktivitas lahan.

Secara umum dikatakan bahwa: makin gelap tanah berarti makin tinggi
produktivitasnya, selain ada berbagai pengecualian, namun secara b erurutan
sebagai berikut: putih, kuning, kelabu, merah, coklat -kekelabuan, coklat-
kemerahan, coklat, dan hitam. Kondisi ini merupakan integrasi dari pengaruh:
1. Kandungan bahan organik yang berwarna gelap, makin tinggi kandungan
bahan organik suatu tanah maka tanah tersebut akan berwarna makin gelap,
2. Intensitas pelindihan (pencucian dari horison bagian atas ke horison bagian
bawah dalam tanah) dari ion-ion hara pada tanah tersebut, makin intensif
proses pelindihan menyebabkan warna tanah menjadi lebih t erang, seperti pada
horison eluviasi, dan
3. Kandungan kuarsa yang tinggi menyebabkan tanah berwarna lebih terang.

Warna tanah ditentukan dengan membandingkan warna tanah tersebut dengan


warna standar pada buku Munsell Soil Color Chart. Diagram warna baku ini
disusun tiga variabel, yaitu:
1. Hue adalah warna spektrum yang dominan sesuai dengan panjang
gelombangnya.
2. Value menunjukkan gelap terangnya warna, sesuai dengan banyaknya sinar
yang dipantulkan.
3. Chroma menunjukkan kemurnian atau kekuatan dari warna spektrum.
Chroma didefiniskan juga sebagai gradasi kemurnian dari warna atau derajat
pembeda adanya perubahan warna dari kelabu atau putih netral (0) ke warna
lainnya (19).

4. Konsistensi Tanah
Konsistensi tanah menunjukkan integrasi antara kekuatan daya kohesi butir-
butir tanah dengan daya adhesi butir-butir tanah dengan benda lain. Keadaan
tersebut ditunjukkan dari daya tahan tanah terhadap gaya yang akan
mengubah bentuk. Gaya yang akan mengubah bentuk tersebut misalnya
pencangkulan, pembajakan, dan penggaruan. Menurut Hardjowigeno (1992)
bahwa tanah-tanah yang mempunyai konsistensi baik umumnya mudah diolah
dan tidak melekat pada alat pengolah tanah.

Penetapan konsistensi tanah dapat dilakukan dalam tiga kondisi, yaitu: basah,
lembab, dan kering. Konsistensi basah merupakan penetapan konsistensi tanah
pada kondisi kadar air tanah di atas kapasitas lapang (field cappacity).
Konsistensi lembab merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar
air tanah sekitar kapasitas lapang. Konsistensi kering merupakan penetapan
konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah kering udara.

Pada kondisi basah, konsistensi tanah dibedakan berdasarkan tingkat


plastisitas dan tingkat kelekatan. Tingkatan plastisitas ditetapkan dari
tingkatan sangat plastis, plastis, agak plastis, dan tidak plastis (kaku).
Tingkatan kelekatan ditetapkan dari tidak lekat, agak lekat, lekat, dan sangat
lekat.

Pada kondisi lembab, konsistensi tanah dibedakan ke dalam tingkat


kegemburan sampai dengan tingkat keteguhannya. Konsistensi lembab dinilai
mulai dari: lepas, sangat gembur, gembur, teguh, sangat teguh, dan ekstrim
teguh. Konsistensi tanah gembur berarti tanah tersebut mudah diolah,
sedangkan konsistensi tanah teguh berarti tanah tersebut agak sulit dicangkul.

Pada kondisi kering, konsistensi tanah dibedakan berdasarkan tingkat


kekerasan tanah. Konsistensi kering dinilai dalam rentang lunak sampai keras,
yaitu meliputi: lepas, lunak, agak keras, keras, sangat keras, dan ekstrim
keras.

Cara penetapan konsistensi untuk kondisi lembab dan kering ditentukan dengan
meremas segumpal tanah. Apabila gumpalan tersebut mudah hancur, maka
tanah dinyatakan berkonsistensi gembur untuk kondisi lembab atau lunak
untuk kondisi kering. Apabila gumpalan tanah sukar hancur dengan cara
remasan tersebut maka tanah dinyatakan berkonsistensi teguh untuk kondisi
lembab atau keras untuk kondisi kering.

Dalam keadaan basah ditentukan mudah tidaknya melekat pada jari, yaitu
kategori: melekat atau tidak melakat. Selain itu, dapat pula berdasarkan
mudah tidaknya membentuk bulatan, yaitu: mudah membentuk bulatan atau
sukar membentuk bulatan; dan kemampuannya mempertahankan bentuk
tersebut (plastis atau tidak plastis).
Beberapa faktor yang mempengaruhi konsistensi tanah adalah:
1. Tekstur tanah,
2. Sifat dan jumlah koloid organik dan anorganik tanah,
3. Struktur tanah, dan
4. Kadar air tanah.
Menurut Hanafiah (2005) bahwa air merupakan komponen penting dalam tanah
yang dapat menguntungkan dan sering pula merugikan. Beberapa peranan yang
menguntungkan dari air dalam tanah adalah:
1. Sebagai pelarut dan pembawa ion-ion hara dari rhizosfer ke dalam akar
tanaman.
2. Sebagai agen pemicu pelapukan bahan induk, perkembangan tanah, dan
differensi horison.
3. Sebagai pelarut dan pemicu reaksi kimia dalam penyedia an hara, yaitu dari
hara tidak tersedia menjadi hara yang tersedia bagi akar tanaman.
4. Sebagai penopang aktivitas mikrobia dalam merombak unsur hara yang
semula tidak tersedia menjadi tersedia bagi akar tanaman.
5. Sebagai pembawa oksigen terlarut ke dalam tanah.
6. Sebagai stabilisator temperatur tanah.
7. Mempermudah dalam pengolahan tanah.
Selain beberapa peranan yang menguntungkan diatas, air tanah juga
menyebabkan beberapa hal yang merugikan, yaitu:
1. Mempercepat proses pemiskinan hara dalam tanah a kibat proses pencucian
(perlin-dian/leaching) yang terjadi secara intensif.
2. Mempercepat proses perubahan horizon dalam tanah akibat terjadinya
eluviasi dari lapisan tanah atas ke lapisan tanah bawah.
3. Kondisi jenuh air menjadikan ruang pori secara keseluruhan terisi air
sehingga menghambat aliran udara ke dalam tanah, sehingga mengganggu
respirasi dan serapan hara oleh akar tanaman, serta menyebabkan perubahan
reaksi tanah dari reaksi aerob menjadi reaksi anaerob.
Hubungan tekstur tanah dan kadar air
Tekstur tanah yang berbeda mempunyai kemampuan menahan air yang
berbeda pula. Tanah bertekstur halus, contohnya: tanah bertekstur liat,
memiliki ruang pori halus yang lebih banyak, sehingga berkemampuan
menahan air lebih banyak. Sedangkan tanah bertekstur kasar, contohnya:
tanah bertekstur pasir, memiliki ruang pori halus lebih sedikit, sehingga
kemampuan manahan air lebih sedikit pula.
Menurut Hardjowigeno (1992) bahwa air terdapat dalam tanah karena ditahan
(diserap) oleh massa tanah, tertahan oleh lapisan kedap air, atau karena
keadaan drainase yang kurang baik. Air dapat meresap atau ditahan oleh tanah
karena adanya gaya-gaya adhesi, kohesi, dan gravitasi. Karena adanya gaya -
gaya tersebut maka air dalam tanah dapat dibedakan menjadi:
1. Air hidroskopik, adalah air yang diserap tanah sangat kuat sehingga tidak
dapat digunakan tanaman, kondisi ini terjadi karena adanya gaya adhesi antara
tanah dengan air. Air hidroskopik merupakan selimut air pada permukaan butir -
butir tanah.
2. Air kapiler, adalah air dalam tanah dimana daya kohesi (gaya tarik menarik
antara sesama butir-butir air) dan daya adhesi (antara air dan tanah) lebih
kuat dari gravitasi. Air ini dapat bergerak secara horisontal (ke samping) atau
vertikal (ke atas) karena gaya-gaya kapiler. Sebagian besar dari air kapiler
merupakan air yang tersedia (dapat diserap) bagi tanaman.
Dalam menentukan jumlah air tersedia bagi tanaman beberapa istilah dibawah
ini perlu dipahami, yaitu:
1. Kapasitas Lapang: adalah keadaan tanah yang cukup lembab y ang
menunjukkan jumlah air terbanyak yang dapat ditahan oleh tanah terhadap
gaya tarik gravitasi. Air yang dapat ditahan oleh tanah tersebut terus menerus
diserap oleh akar-akar tanaman atau menguap sehingga tanah makin lama
semakin kering. Pada suatu saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air
tersebut sehingga tanaman menjadi layu (titik layu permanen).
2. Titik Layu Permanen: adalah kandungan air tanah dimana akar -akar
tanaman mulai tidak mampu lagi menyerap air dari tanah, sehingga tanaman
menjadi layu. Tanaman akan tetap layu baik pada siang ataupun malam hari.
3. Air Tersedia: adalah banyaknya air yang tersedia bagi tanaman, yaitu selisih
antara kadar air pada kapasitas lapang dikurangi dengan kadar air pada titik
layu permanen.
Kandungan air pada kapasitas lapang ditunjukkan oleh kandungan air pada
tegangan 1/3 bar, sedangkan kandungan air pada titik layu permanen adalah
pada tegangan 15 bar. Air yang tersedia bagi tanaman adalah air yang terdapat
pada tegangan antara 1/3 bar sampai dengan 15 bar.
Banyaknya kandungan air dalam tanah berhubungan erat dengan besarnya
tegangan air (moisture tension) dalam tanah tersebut. Besarnya tegangan air
menunjukkan besarnya tenaga yang diperlukan untuk menahan air tersebut di
dalam tanah. Tegangan diukur dalam bar atau atmosfir atau cm air atau
logaritma dari cm air yang disebut pF. Satuan bar dan atmosfir sering dianggap
sama karena 1 atm = 1,0127 bar.
Kemampuan tanah menahan air dipengaruhi antara lain oleh tekstur tanah.
Tanah-tanah bertekstur kasar mempunyai daya menahan air lebih kecil
daripada tanah bertekstur halus. Oleh karena itu, tanaman yang ditanam pada
tanah pasir umumnya lebih mudah kekeringan daripada tanah -tanah bertekstur
lempung atau liat.
Kondisi kelebihan air ataupun kekurangan air dapat mengga nggu pertumbuhan
tanaman.
Beberapa fungsi air bagi pertumbuhan tanaman adalah:
1. Sebagai unsur hara tanaman: Tanaman memerlukan air dari tanah
bersamaan dengan kebutuhan CO2 dari udara untuk membentuk gula dan
karbohidrat dalam proses fotosintesis.
2. Sebagai pelarut unsur hara: Unsur-unsur hara yang terlarut dalam air
diserap oleh akar-akar tanaman dari larutan tersebut.
3. Sebagai bagian dari sel-sel tanaman: Air merupakan bagian dari protoplasma
sel tanaman.
Ketersediaan air dalam tanah dipengaruhi:
1. Banyaknya curah hujan atau air irigasi,
2. Kemampuan tanah menahan air,
3. Besarnya evapotranspirasi (penguapan langsung melalui tanah dan melalui
vegetasi),
4. Tingginya muka air tana dan Kadar bahan organik tanah,
5. Senyawa kimiawi atau kandungan garam-garam,
6. Kedalaman solum tanah atau lapisan tanah.

BAB III
KESUBURAN TANAH
1. Mineral Tanah
Bahan mineral tanah merupakan bahan anorganik tanah yang terdiri dari
berbagai ukuran, komposisi dan jenis mineral. Mineral tanah berasal dari hasil
pelapukan batuan-batuan yang menjadi bahan induk tanah. Pada mujlanya
batuan dari bahan induk tanah mengalami proses pelapukan dan menghasilkan
regolit. Pelapukan lebih lanjut menghasilkan tanah dengan tektur masih kasar.
Ukuran mineral tanah sangat beragam mulai dari ukuran sangat kasar sampai
dengan ukuran yang sangat halus seperti mineral liat. Mineral liat hanya dapat
dilihat dengan bantuan mikroskop elektron. Sifat mineral liat ditentukan dari:
1. Susunan kimia pembentuknya yang tetap dan tertentu, terutama be rkaitan
dengan penempatan internal atom-atomnya,
2. Sifat fisiko-komia dengan batasan waktu tertentu, dan
3. Kecendrungan membentuk geometris tertentu.
Komposisi mineral dalam tanah sangat tergantung dari beberapa faktor sebagai
berikut:
1. Jenis batuan induk asalnya,
2. Proses-proses yang bekerja dalam pelapukan batuan tersebut, dan
3. Tingkat perkembangan tanah.
Bahan induk tanah mineral berasal dari berbagai jenis batuan induk, sehingga
dalam proses pelapukannya akan menghasilkan keragaman mineral tanah yang
lebih tinggi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat hubungan
yang erat antara komposisi mineral bahan induk dengan komposisi mineral
batuannya. Sebagai contoh adalah tanah yang terbentuk dari bahan induk yang
berasal dari batuan basalt dan granit, akan memiliki komposisi mineral tanah
sebagai berikut:
1. Mineral kuarsa,
2. Mineral ortoklas,
3. Mineral mikroklin,
4. Mineral albit,
5. Mineral oligoklas,
6. Mineral muskovit,
7. Mineral biotit.
8. Mineral
Pada tanah-tanah yang mudah melapuk dan peka terhadap proses pencucian
(leaching), seperti tanah Podzol, ditemujkan mineal yang didominasi hanya
jenis mineral: (1) kuarsa, dan (2) ortoklas. Dominasi kedua mineral ini
disebabkan karena kedua mineral ini relatif lebih resisten terhadap pelapukan.
Berbeda dengan tanah-tanah yang belum mengalami pelapukan (kurang
mengalami pelapukan), maka dalam tanah tersebut masih ditemukan mineral
tanah yang beragam dengan komposisi mineral tanah pada setiap lapisan yang
hampir seragam.
Berdasarkan keberadaan silikat dalam mineral tanah, maka mineral dalam
tanah dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu:
(1) kelompok mineral silikat, dan
(2) kelompok mineral bukan silikat.
A. Kelompok Mineral Silikat:
Kelompok mineral silikat dibagi lagi menjadi 11 kelomp ok, yaitu:
1. Struktur Kristal Silikat Lempeng yang masuk kelompok Mineral Liat
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal
silikat lempeng kelompok mineral liat adalah:
Mineral Liat Kaolinit {Si4Al4O10(OH)4}
Mineral Liat Vermikulit {AlMg5(OH)12(Al2Si6)}
Mineral Liat Klorit {AlMg5O20(OH)4}
Mineral Liat Montmorillonit
2. Struktur Kristal Silikat Lempeng yang masuk kelompok Mika
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal
silikat lempeng kelompok mika adalah:
Mineral Muskovit {K2Al2Si6Al4O20(OH)4}
Mineral Biotit {K2Al2Si6(Fe++,Mg)6.O20(OH)4}
3. Struktur Kristal Silikat Lempeng yang masuk kelompok Serpentin
Mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat
lempeng kelompok serpentin adalah:
Mineral Serpentin {Mg3Si2O5(OH)4}
4. Struktur Kristal Silikat Kerangka Feldsfar
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal
silikat kerangka feldsfar adalah:
Mineral Alkali Feldsfar {(Na,K)2O.Al2O3.6SiO2}
Mineral Plagioklas (Na2O.Al2O3.6SiO2)
5. Struktur Kristal Silikat Rantai Kelompok Piroksin
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal
silikat rantai kelompok piroksin adalah:
Mineral Enstatit (MgO.SiO2)
Mineral Hipersten {(Mg,Fe)O.SiO2}
Mineral Diopsit (CaO.MgO.2SiO2)
Mineral Augit {CaO.2(Mg,Fe)O.(Al,Fe)2O3.3SiO2}
6. Struktur Kristal Silikat Rantai Kelompok Amfibol
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal
silikat rantai kelompok amfibol adalah:
Mineral Hornblende {Ca3Na2(Mg,Fe)8(Al.Fe)4.Si14O44(OH)4}
Mineral Termolit {2CaO.5(Mg,Fe)O.8SiO2.H2O}
7. Struktur Kristal Silikat Kelompok Olivin
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal
silikat kelompok olivin adalah:
Mineral Olivin {2(Mg,Fe)O.SiO2}
Mineral Titanit (CaO.SiO2.TiO2)
Mineral Tormalin (Na2O.8FeO.8Al2O3.4B2O3.16SiO2.5H2O)
Mineral Sirkon (ZrO2.SiO2)
8. Struktur Kristal Silikat Kelompok Garnet
Mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat
kelompok garnet adalah:
Mineral Almandit (Fe3Al2Si3O12)
9. Struktur Kristal Silikat Kelompok Epidol
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal
silikat kelompok epidol adalah:
Mineral Soisit (4CaO.3Al2O3.6SiO2.H2O)
Mineral Klinosoisit (4CaO.3Al2O3.6SiO2.H2O)
Mineral Epidot (4CaO.3(Al,Fe)23.6SiO2.H2O)
10. Struktur Kristal Silikat Orto dan Cincin
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat kelompok stru ktur
kristal silikat orto dan cincin adalah:
Mineral Klanit (Al2O3.SiO2)
Mineral Silimanit (Al2O3.SiO2)
11. Struktur Kristal Silikat
Mineral yang termasuk dalam mineral silikat kelompok struktur kristal silikat
adalah:
Mineral Andalusit (Al2O3.SiO2)
B. Kelompok Mineral Bukan Silikat
Kelompok mineral bukan silikat dibagi lagi menjadi 6 kelompok, yaitu:
1. Mineral Fosfat
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan silikat kelompok mineral
fosfat adalah:
Mineral Apatit {Ca4(CaF)(PO4)3} atau {Ca4(CaCl)(PO4)3}
2. Mineral Karbonat
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan silikat kelompok mineral
karbonat adalah:
Mineral Kalsit (CaCO3)
Mineral Dolomit {(Ca, Mg)CO3}
3. Mineral Klorit
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan si likat kelompok mineral
klorit adalah:
Mineral Halit (NaCl)
4. Mineral Sulfat
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan silikat kelompok mineral
sulfat adalah:
Mineral Gipsum (CaSO4.2H2O)
Mineral Jarosit {KFe3(OH)6(SO4)2}
5. Mineral Hidroksida
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan silikat kelompok mineral
hidoksida adalah:
Mineral Gibsit {Al(OH)3}
Mineral Buhmit {Gamma Al.O(OH)}
Mineral Gutit {Alfa FeO.OH}
Mineral Lepidokrosit {Gamma FeO.OH}
6. Mineral Oksida
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan silikat kelompok mineral
oksida adalah:
Mineral Hematit (Fe2O3)
Mineral Ilmenit (FeO.TiO2)
Mineral Rutil (TiO2)
Mineral Anatase (TiO2)
Mineral Brokit (TiO2)
2. Sifat Kimia Tanah
Beberapa sifat kimia tanah yang penting diketahui, meliputi:
1. Reaksi tanah atau pH tanah,
2. Koloid tanah,
3. Kandungan C-organik tanah,
4. Total tanah,
5. C/N tanah,
6. P-total tanah,
7. P-tersedia tanah,
8. Kation-kation basa tanah, meliputi: K, Na, Ca, dan Mg,
9. Kation asam tanah, meliputi: Al, Fe dan H,
10. Kapasitas tukar kation total tanah atau KTK -total tanah,
11. Kapasitas tukar kation efektif tanah atau KTK-efektif tanah,
12. Kejenuhan basa tanah (%),
13. Kejenuhan aluminium tanah (%), dan
14. Kandungan bahan organik tanah.
3. Bahan Organik Tanah
Tanah tersusun dari:
a. Bahan padatan,
b. Air, dan
c. Udara.

Bahan padatan tersebut dapat berupa:


a. Bahan mineral, dan
b. Bahan organik.
Bahan mineral terdiri dari partikel pasir, debu dan liat. Ketiga parti kel ini
menyusun tekstur tanah. Bahan organik dari tanah mineral berkisar 5% dari
bobot total tanah. Meskipun kandungan bahan organik tanah mineral sedikit
(+5%) tetapi memegang peranan penting dalam menentukan Kesuburan Tanah.
Bahan organik adalah kumpulan beragam senyawa-senyawa organik kompleks
yang sedang atau telah mengalami proses dekomposisi, baik berupa humus
hasil humifikasi maupun senyawa-senyawa anorganik hasil mineralisasi dan
termasuk juga mikrobia heterotrofik dan ototrofik yang terlibat dan b erada
didalamnya.

Sumber Bahan Organik Tanah, Bahan organik tanah dapat berasal dari:

1. Sumber primer, yaitu: jaringan organik tanaman (flora) yang dapat berupa:
a. Daun,
b. Ranting dan cabang,
c. Batang,
d. Buah, dan Akar.

2. Sumber sekunder, yaitu: jaringan organik fauna, yang dapat berupa:


kotorannya dan mikrofauna.
3. Sumber lain dari luar, yaitu: pemberian pupuk organik berupa:
a. Pupuk kandang,
b. Pupuk hijau,
c. Pupuk bokasi (kompos), dan
d. Pupuk hayati.

Komposisi Biokimia Bahan Organik Menurut Waksman (1948) dalam Brady


(1990) bahwa biomass bahan organik yang berasal dari biomass hijauan, terdiri
dari: (1) air (75%) dan (2) biomass kering (25%). Komposisi biokimia bahan
organik dari biomass kering tersebut, terdiri dari:

1. Karbohidrat (60%),
2. Lignin (25%),
3. Protein (10%),
4. Lemak, lilin dan tanin (5%).

Karbohidrat penyusun biomass kering tersebut, terdiri dari:


1. Gula dan pati (1% -s/d- 5%),
2. Hemiselulosa (10% -s/d- 30%), dan
3. Selulosa (20% -s/d- 50%).
Berdasarkan kategori unsur hara penyusun biomass kering, terdiri dari:
1. Karbon (C = 44%),
2. Oksigen (O = 40%),
3. Hidrogen (H = 8%), dan
4. Mineral (8%).

Dekomposisi Bahan Organik Proses dekomposisi bahan organik melalui 3 reaksi,


yaitu:
1. Reaksi enzimatik atau oksidasi enzimatik, yaitu: reaksi oksidasi senyawa
hidrokarbon yang terjadi melalui reaksi enzimatik menghasilkan produk akhir
berupa karbon dioksida (CO2), air (H2O), energi dan panas.
2. Reaksi spesifik berupa mineralisasi dan atau immobilisasi unsur hara
essensial berupa hara nitrogen (N), fosfor (P), dan belerang (S).
3. Pembentukan senyawa-senyawa baru atau turunan yang sangat resisten
berupa humus tanah.

Berdasarkan kategori produk akhir yang dihasilkan, maka proses dekomposisi


bahan organik digolongkan menjadi 2, yaitu:
1. Proses mineralisasi, dan
2. Proses humifikasi.

Proses mineralisasi terjadi terutama terhadap bahan organik dari senyawa -


senyawa yang tidak resisten, seperti: selulosa, gula, dan protein. Proses akhir
mineralisasi dihasilkan ion atau hara yang tersedia bagi tanaman.

Proses humifikasi terjadi terhadap bahan organik dari senyawa -senyawa yang
resisten, seperti: lignin, resin, minyak dan lemak. Proses akhir humifikasi
dihasilkan humus yang lebih resisten terhadap proses dekomposisi. Urutan
kemudahan dekomposisi dari berbagai bahan penyusun bahan organik tanah
dari yang terdekomposisi paling cepat sampai dengan yang terdekomposisi
paling lambat, adalah sebagai berikut:
1. Gula, pati, dan protein sederhana,
2. Protein kasar (protein yang leih kompleks),
3. Hemiselulosa,
4. Selulosa,
5. Lemak, minyak dan lilin, serta
6. Lignin.

Humus
Humus dapat didefinisikan sebagai senyawa kompleks asal jaringan organik
tanaman (flora) dan atau fauna yang telah dimodifikasi atau disintesis oleh
mikrobia, yang bersifat agak resisten terhadap pelapukan, berwarna coklat,
amorfus (tanpa bentuk/nonkristalin) dan bersifat koloidal. Ciri -Ciri Humus
Beberapa ciri dari humus tanah sebagai berikut:

1. Bersifat koloidal (ukuran kurang dari 1 mikrometer), karena ukuran y ang


kecil menjadikan humus koloid ini memiliki luas permukaan persatuan bobot
lebih tinggi, sehingga daya jerap tinggi melebihi liat. KTK koloid organik ini
sebesar 150 s/d 300 me/100 g yang lebih tinggi daripada KTK liat yaitu 8 s/d
100 me/100g. Humus memiliki daya jerap terhadap air sebesar 80% s/d 90%
dan ini jauh lebih tinggi daripada liat yang hanya 15% s/d 20%. Humus
memiliki gugus fungsional karboksil dan fenolik yang lebih banyak.
2. Daya kohesi dan plastisitas rendah, sehingga mengurangi sifat lekat tanah
dan membantu granulasi aggregat tanah.
3. Tersusun dari lignin, poliuronida, dan protein kasar.
4. Berwarna coklat kehitaman, sehingga dapat menyebabkan warna tanah
menjadi gelap.

Peranan Bahan Organik Terhadap Tanah Bahan organik dapat berpen garuh
terhadap perubahan terhadap sifat-sifat tanah berikut:
1. Sifat fisik tanah,
2. Sifat kimia tanah, dan
3. Sifat biologi tanah.

Peranan bahan organik terhadap perubahan sifat fisik tanah, meliputi:


1. Stimulan terhadap granulasi tanah,
2. Memperbaiki struktur tanah menjadi lebih remah,
3. Menurunkan plastisitas dan kohesi tanah,
4. Meningkatkan daya tanah menahan air sehingga drainase tidak berlebihan,
kelembaban dan temperatur tanah menjadi stabil,
5. Mempengaruhi warna tanah menjadi coklat sampai hitam,
6. Menetralisir daya rusak butir-butir hujan,
7. Menghambat erosi, dan
8. Mengurangi pelindian (pencucian/leaching).

Peranan bahan organik terhadap perubahan sifat kimia tanah, meliputi:


1. Meningkatkan hara tersedia dari proses mineralisasi bagian b ahan organik
yang mudah terurai,
2. Menghasilkan humus tanah yang berperanan secara koloidal dari senyawa
sisa mineralisasi dan senyawa sulit terurai dalam proses humifikasi,
3. Meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) tanah 30 kali lebih besar
ketimbang koloid anorganik,
4. Menurunkan muatan positif tanah melalui proses pengkelatan terhadap
mineral oksida dan kation Al dan Fe yang reaktif, sehingga menurunkan fiksasi
P tanah, dan
5. Meningkatkan ketersediaan dan efisiensi pemupukan serta melalui
peningkatan pelarutan P oleh asam-asam organik hasil dekomposisi bahan
organik.

Peranan bahan organik terhadap perubahan sifat biologi tanah, meliputi:


1. Meningkatkan keragaman organisme yang dapat hidup dalam tanah
(makrobia dan mikrobia tanah), dan
2. Meningkatkan populasi organisme tanah (makrobia dan mikrobia tanah)

Peningkatan baik keragaman mupun populasi berkaitan erat dengan fungsi


bahan organik bagi organisme tanah, yaitu sebagai:
1. Bahan organik sebagai sumber energi bagi organisme tanah terutama
organisme tanah heterotropik, dan
2. Bahan organik sebagai sumber hara bagi organisme tanah.

Komponen Aktif Tanah


Tekstur tanah tersusun dari tiga komponen, yaitu: pasir, debu dan liat. Ketiga
komponen tersebut dibedakan berdasarkan ukurannya yang berbeda. P artikel
pasir berukuran antara 200 mikrometer sampai dengan 2000 mikrometer.
Partikel debu berukuran antara 2 mikrometer sampai dengan kurang dari 200
mikrometer. Partikel liat berukuran kurang dari 2 mikrometer. Makin halus
ukuran partikel penyusun tanah tersebut akan memiliki luas permukaan partikel
per satuan bobot makin luas. Partikel tanah yang memiliki permukaan yang
lebih luas memberi kesempatan yang lebih banyak terhadap terjadinya reaksi
kimia. Partikel liat persatuan bobot memiliki luas permukaan yang lebih luas
dibandingkan dengan kedua partikel penyusun tekstur tanah lain (seperti: debu
dan pasir). Reaksi-reaksi kimia yang terjadi pada permukaan patikel liat lebih
banyak daripada yang terjadi pada permukaan partikel debu dan pasir
persatuan bobot yang sama. Dengan demikian, partikel liat adalah komponen
tanah yang paling aktif terhadap reaksi kimia, sehingga sangat menentukan
sifat kimia tanah dan mempengaruhi kesuburan tanah.
Mekanisme Penyediaan Unsur Hara untuk Tanaman Sebagai indikator kesubur an
tanah.
a. Beberapa Unsur Hara Yang Dibutuhkan Tanaman
Selama masa pertumbuhan dan perkembangan, tanaman membutuhkan
beberapa unsur hara yang meliputi: Karbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O),
Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium ( Mg), Belerang
(S), Besi (Fe), Mangan (Mn), Boron (B), Mo, Tembaga (Cu), Seng (Zn) dan Klor
(Cl). Unsur hara tersebut tergolong unsur hara Essensial. Unsur hara essensial
ini berdasarkan jumlah kebutuhannya bagi tanaman, dikelompokkan menjadi
dua, yaitu: (1) unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah besar
disebut Unsur Hara Makro, dan (2) unsur hara yang diperlukan tanaman dalam
jumlah kecil disebut Unsur Hara Mikro. Unsur hara makro meliputi: N, P, K, Ca,
Mg, dan S. Unsur hara mikro meliputi: Fe, Mn, B, Mo, Cu, Zn, dan Cl.

b. Mekanisme Penyediaan Unsur Hara


Penyediaan unsur hara untuk tanaman terdiri dari tiga kategori, yaitu:
1. Tersedia dari udara,
2. Tersedia dari air yang diserap akar tanaman, dan
3. Tersedia dari tanah.

Beberapa unsur hara yang tersedia dalam jumlah cukup dari udara adalah:
a. Karbon (C), dan
b. Oksigen (O),

Yaitu dalam bentuk karbon dioksida (CO2). Unsur hara yang tersedia dari air
(H2O) yang diserap adalah: hidrogen (H), karena oksigen dari molekul air
mengalami proses oksidasi dan dibebaskan ke udara oleh tanaman dalam
bentuk molekul oksigen (O2). Sedangkan untuk unsur hara essensial lain yang
diperlukan tanaman tersedia dari dalam tanah. Mekanisme penyediaan unsur
hara dalam tanah melalui tiga mekanisme, yaitu:
1. Aliran Massa (Mass Flow)
2. Difusi
3. Intersepsi Akar

Mekanisme Aliran Massa


Mekanisme aliran massa adalah suatu mekanisme gerakan unsur hara di dalam
tanah menuju ke permukaan akar bersama-sama dengan gerakan massa air.
Selama masa hidup tanaman mengalami peristiwa penguapan air yang dikenal
dengan peristiwa transpirasi. Selama proses transpirasi tanaman berlangsung,
terjadi juga proses penyerapan air oleh akar tanaman. Pergerakan massa air ke
akar tanaman akibat langsung dari serapan massa air oleh akar tana man
terikut juga terbawa unsur hara yang terkandung dalam air tersebut. Peristiwa
tersedianya unsur hara yang terkandung dalam air ikut bersama gerakan massa
air ke permukaan akar tanaman dikenal dengan Mekanisme Aliran Massa. Unsur
hara yang ketersediaannya bagi tanaman melalui mekanisme ini meliputi:
nitrogen (98,8%), kalsium (71,4%), belerang (95,0%), dan Mo (95,2%).
Mekanisme Difusi
Ketersediaan unsurhara kepermukaan akar tanaman, dapat juga terjadi karena
melalui mekanisme perbedaan konsentrasi. Konsentrasi unsurhara pada
permukaan akar tanaman lebih rendah dibandingkan dengan konsentrasi hara
dalam larutan tanah dan konsentrasi unsur hara pada permukaan koloid liat
serta pada permukaan koloid organik. Kondisi ini terjadi karena sebagian besar
unsur hara tersebut telah diserap oleh akar tanaman. Tingginya konsentrasi
unsur hara pada ketiga posisi tersebut menyebabkan terjadinya peristiwa difusi
dari unsur hara berkonsentrasi tinggi ke posisi permukaan akar tanaman.
Peristiwa pergerakan unsur hara yang terjadi karena adanya perbedaan
konsentrasi unsur hara tersebut dikenal dengan mekanisme penyediaan hara
secara difusi. Beberapa unsur hara yang tersedia melalui mekanisme difusi ini,
adalah: fosfor (90,9%) dan kalium (77,7%).

Mekanisme Intersepsi Akar


Mekanisme intersepsi akar sangat berbeda dengan kedua mekanisme
sebelumnya. Kedua mekanisme sebelumnya menjelaskan pergerakan unsur
hara menuju ke akar tanaman, sedangkan mekanisme ketiga ini menjelaskan
gerakan akar tanaman yang memperpendek jarak dengan keberadaan unsur
hara. Peristiwa ini terjadi karena akar tanaman tumbuh dan memanjang,
sehingga memperluas jangkauan akar tersebut. Perpanjangan akar tersebut
menjadikan permukaan akar lebih mendekati posisi dimana unsur hara berada,
baik unsur hara yang berada dalam larutan tanah, permukaan koloid liat dan
permukaan koloid organik. Mekanisme ketersediaan unsur hara tersebut dikenal
sebagai mekanisme intersepsi akar. Unsur hara yang ketersediaannya sebagian
besar melalui mekanisme ini adalah: kalsium (28,6%).

4. Unsur-unsur Hara Esensial


Unsur hara esensial adalah unsur hara yang sangat diperlukan tanaman, dan
fungsinya dalam tanaman tidak dapat digantikan oleh unsur lain, sehingga bila
tidak terdapat dalam jumlah yang cukup didalam tanah, tanaman tidak da pat
tumbuh dengan normal. Unsur-unsur hara esensial ini dapat berasal dari udara,
air atau tanah. Jumlah unsur hara esensial ada 17 yaitu :
Unsur makro : C, H, O, N, P, K, Ca, Mg, dan S
Unsur mikro : Fe, Mn, Cu, Zn, Cl, dan Mo
Unsur hara Makro adalah unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah
besar.
Unsur hara Mikro adalah unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah relatif
sedikit.
Unsur hara siap diserap akar dengan melalui suatu proses dan ada 2 hal yang
perlu diketahui :
1. Diperlukan energi metabolik
Energi metabolik didapat dari pernapasan akar tanaman sehingga penyerapan
unsur hara berkurang bila pernapasan berkurang.
2. Proses penyerapan unsur hara merupakan proses yang selektif (memilih
unsur tertentu)
Dalam proses seleksi ternyata tanaman mem punyai kemampuan memilih
unsure-unsur tertentu untuk diserap. Akar tanaman yang paling aktif dalah
dekat ujung akar yang baru terbentuk atau rambut-rambut akar dimana
kegiatan respirasi adalah yang terbesar.
5. Nitrogen
Peredaran nitrogen
Sumber utama nitrogen untuk tanaman adalah gas nitrogen bebas udara yang
menempati 78% dari volume atmosfer. Nitrogen gas harus diubah menjadi
bentuk nitrat ataupun ammonium melalui proses-proses tertentu agar dapat
digunakan oleh tanaman. Cara utama nitrogen masuk ke dal am tanah adalah
akibat kegiatan jasad renik, baik nyang hidup bebas maupun yang bersimbiosis
dengan tanaman. Dalam hal yang terakhir nitrogen yang diikat digunakan
dalam sintesa asam amino dan protein oleh tanaman inang.
Pada proses peredaran nitrogen tanah terdapat dua hal yang paling
berhubungan yaitu:
Immobilisasi
Mineralisasi
Transformasi Nitrogen
Nitrogen tanah secara umum dapat dibagi dalam dua bentuk yaitu bentuk
organik dan anorganik. Bentuk organik merupakan yang terbesar. Bentuk
anorganik terdapat sebagai bentuk ammonium, nitrit, nitrat, N2O,NO dan gas
N2 yang hanya dapat digunakan Rhizobium. Bentuk N2O dan NO merupakan
bentuk-bentuk yang hilang dari tanah dalam bentuk gas, akibat proses
denitrifikasi.
Pada proses transformasi nitrogen didalam tanah, terjadi melalui tiga tahap
yaitu :
aminisasi
amonifikasi
nitrifikasi
Penambahan Nitrogen
Hingga sekarang telah dikenal dua cara penambatan nitrogen pada tanah :
Penambatan / fiksasi oleh bakteri legum
Penambatan / fiksasi bebas atau azofikasi
Fungsi Nitrogen :
Memperbaiki pertumbuahn vegetative tanaman. Tanaman yang tumbuh pada
tanah yang cukup N bewarna lebih hijau.
Pembentukan protein, penyusun enzim dan molekul klorofil.
Gejala kekurangan Nitrogen :
Tanaman kerdil
Pertumbuhan akar terbatas
Daun-daun kuning da gugur
Gejala kelebihan Nitrogen :
Memperlambat kematangan tanaman (terlalu banyak pertumbuhan
vegetative)
Batang-batang lemah dan mudah roboh
Mengurangi daya tahan tanaman terhadap penyakit
6. Posfor tanah
Posfor merupakan hara makro dan esensial bagi pertumbuhan tanaman. Kadar
posfor tanah juga ditentukan oleh banyak atau sedikitnya cadanagan mineral
yang mengandung posfor dan tingkat pelapukannya.
Peredaran Posfor
Sebagai sumber utama posfor tanah adalah kerak bumi mengandung kurang
lebih 0,12 % posfor. Demikian pula ssemua air yang ada dibumi mengandung
posfat yang kadarnya amat rendah. Sumber posfor alam yang dikenal
mempunyai kadar P adalah batuan beku dan batuan endapan (sedimen),
dimana bahan mineralnya mengandung apatit. Mineral ini merupakan senyawa
karbonat, fluor, clor, atau hidroksi apatit yang mempunyai kadar PO berkisar
15 30 %. Mineral ini sangat sukar larut dalam air dan tidak tersedia bagi
tanaman.
Bentuk-bentuk Posfor Tanah
a. Posfat Anorganik
Sebagai sumber utama posfat anorganik tanah adalah mineralisasi mineral
apatit, penambahan sewaktu pemupukan dan mineralisasi posfat organik.
b. Posfat Organik
Ada tiga kelompok senyawa posfat organik :
1. Fitin dan Derifatnya
2. Asam Nukleat
3. Fosfolipid
Fungsi posfor
Posfor merupakan penyusun setiap sel hidup
Dapat menigkatkan efesiensi kerja kloroplas
Pembelahan sel
Pembentukan albumin
Mempercepat pematangan
Memperkuat batang tidak mudah roboh
Perkembangan akar
Tahan terhadap penyakit
Gejala kekurangan posfor
1. Terjadi gangguan pada pembelahan sel
2. Daun tanaman menjadi hijau tua yang kemudian berubah menjadi ungu
3. Terjadi pada cabang dan batang tanaman muda
4. Menunjukkan terlambatnya masa pemasakan buah dan biji
5. Gejala yang umum adalah terhambatnya pertumbuhan tanaman kerdil serta
perakarannya miskin dan produksi merosot
6. Pada jagung, tongkol jangung menjadi tidak sempurna.
7. Kalium
Kalium merupakan unsur hara ketiga setelah nitrogen dan posfor. Kalium yang
terdapat pada batuan dan mineral dengan melalui proses pemupukan akan
membebaskan kalium kedalam larutan tanah dimana sebagian besar bentuk ini
akan hilang akibat pencucian yang akhirnya akan menumpuk di laut.
Peredaran Kalium
Sumber utama kalium tanah adalah kerak bumi yang mengandung asam dan
mineral kalim. Secara umum diperkirakan bahwa kerak bumi mengandung lebih
kurang 3,11 % K2O, sedangkan air laut mangandung lebih kurang 0,04 % K2O.
Kalium yang terdapat pada batuan dan mineral dengan melalui proses
pemupukan akan membebaskan kalium kedalam larutan tanah dimana sebagian
besar bentuk ini akan hilang akibat pencucian yang akhirnya akan menumpuk
dilaut.
Bantuk-bentuk Kalium Tanah
Berdasarkan ketersediaannya bagi tanaman, maka kalium dalam tanah tanah
dapat digolongkan kedalam bentuk yaitu :
1. Bentuk relatif tidak tersedia
2. Bentuk lambat tersedia
3. Bentuk segera tersedia.
Ketersediaan Kalium dalam Tanah
Sebagian besar dari tanah-tanah mineral mempunyai kadar kalium yang tinggi.
Sebenarnya jumlah ini lebih banyak dibandingkan dengan unsur hara utama
lainnya. Kadang-kadang jumlah ini dapat mencapai 40 hingga 60 ribu Kg
K2O/ha pada lapisan bajak. Namun demikian kalium yang dapat dipertukarkan
tetap sedikit. Sebagian besar kalium berada dalam kalium mineral yang sukar
larut, sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Disamping itu terdapat juga
sejumlah kalium yang di fiksasi oleh mineral tipe 2:1 sehingga untuk
sementara kurang tersedia.
Fungsi Kalium
1. Kalium tidak merupakan unsur penyusun jaringan tanaman
2. Pembentukan pati
3. Mengaktifkan enzim
4. Pembukaan stomata
5. Proses fisiologis dalam tanah
6. Proses metabolic dalam sel
7. Mempengaruhi penyerapan unsure-unsur lain
8. Mempertinggidaya tahan terhadap kekeringa, penyakit
9. Perkembangan akar.
8. Kalsium
Kalsium merupakan kation yang sering dihubungkan dengan kemasaman tanah,
disebabakan ia dapat mengurangi efek kemasaman.
Fungsi Kalsium dalam tanaman
Untuk penyusunan dinding sel tanaman
Pembelahan sel
Untuk tumbuh (elongation)
Gejala kekurangan Kalsium
Tunas dan akar tidak dapat tumbuh 9tidak dapat berkembang) kerana
pembelahan sel terhambat
Pada jagung, ujung-ujung daun menjadi coklat dan melipat serta terkulai ke
bawah selain melekat dengan daun di bawahnya.
9. Magnesium
Seperti halnya kalsium, maka magnesium selalu dihubungkan dengan
kemasaman tanah, karena ionnya dapat mengurangi efek kemasaman tanah.
Dalam hal ini magnesium berperan dapat menggantikan kedudukan ion
hydrogen dari komplek adsorpsi. Tetapi jika dibandingkan dengan kalsium,
maka untuk kenaikkan pH tanah kalsium masih lebih banyak digunakan.
Ketersedian magnesium dapat terjadioleh akibat proses pelapukan dari mineral -
mineral yang mengandung magnesium.

Fungsi magnesium
1. Pembentukan klorofil
2. Sistem enzim (activator)
3. Pembentukan minyak
`10. Belerang
Belerang adalah hara yang esensial bagi pertumbuhan tanaman. Belerang
sangat diperlukan untuk berbagai reaksi dalam sel hidup. Ia merupakan
penyusun dari asam amino metionin dan sistin. Sebagai sumber utama
belerang adalah dari pelapukan mineral yang mengandung belerang dari
atmosfer dan sebagian dari komposisi bahan organic. Dalam hal ini peranan
jasad renik ikut menentukan besarnya belerang yang dapat ditransformasikan
ke dalam tanah.

BAB IV
KESESUAIAN LAHAN

KLASIFIKASI KESESUAIAN LAHAN FAO 1976


Pengertian Keseuaian Lahan: Kesesuaian lahan adalah tingkat kecocokan suatu
bidang lahan untuk suatu penggunaan tertentu.
Pengertian Klasifikasi Kesesuaian Lahan: Klasifikasi kesesuaian lahan adalah
perbandingan (matching) antara kualitas lahan dengan pers yaratan
penggunaan lahan yang diinginkan.
1. Struktur Klasifikasi Keseuaian Lahan
Struktur klasifikasi kesesuaian lahan menurut kerangka kerja FAO 1976 dalam
Rayes (2007) adalah terdiri dari 4 kategori sebagai berikut:
1. Ordo (Order) : menunjukkan keadaan kesesuaian secara umum.
2. Klas (Class) : menunjukkan tingkat kesesuaian dalam ordo.
3. Sub-Klas : menunjukkan keadaan tingkatan dalam kelas yang didasarkan
ada jenis pembatas atau macam perbaikan yang diperlukan dalam kelas.
4. Satuan (Unit) : menunjukkan tingkatan dalam sub-kelas didasarkan pada
perbedaan-perbedaan kecil yang berpengaruh dalam pengelolaannya.
2. Kesesuaian Lahan Pada Tingkat Ordo
Kesesuaian lahan pada tingkat Ordo berdasarkan kerangka kerja evaluasi lahan
FAO (1976) dibedakan menjadi 2 kategori, yaitu:
1. Ordo S : Sesuai (Suitable)
Ordo S atau Sesuai (Suitable) adalah lahan yang dapat digunakan untuk
penggunaan tertentu secara lestari, tanpa atau sedikit resiko kerusakan
terhadap sumber daya lahannya. Penggunaan lahan tersebut akan membe ri
keuntungan lebih besar daripada masukan yang diberikan.
2. Ordo N: Tidak Sesuai (Not Suitable)
Ordo N atau tidak sesuai (not suitable) adalah lahan yang mempunyai
pembatas demikian rupa sehingga mencegah penggunaan secara lestari untuk
suatu tujuan yang direncanakan. Lahan kategori ini yaitu tidak sesuai untuk
penggunaan tertentu karena beberapa alasan. Hal ini dapat terjadi karena
penggunaan lahan yang diusulkan secara teknis tidak memungkinkan untuk
dilaksanakan, misalnya membangun irigasi pada lahan y ang curamyang
berbatu, atau karena dapat menyebabkan degradasi lingkungan yang parah,
seperti penanaman pada lereng yang curam. Selain itu, sering pula didasarkan
pada pertimbangan ekonomi yaitu nilai keuntungan yang diharapkan lebih kecil
daripada biaya yang dikeluarkan.
3. Kesesuaian Lahan pada Tingkat Kelas
1. Pengertian Kelas Kesesuaian Lahan
Kelas kesesuaian lahan merupakan pembagian lebih lanjut dari Ordo dan
menggambarkan tingkat kesesuaian dari suatu Ordo. Tingkat dalam kelas
ditunjukkan oleh angka (nomor urut) yang ditulis dibelakang simbol Ordo.
Nomor urut tersebut menunjukkan tingkatan kelas yang makin menurun dalam
suatu Ordo.

Jumlah kelas yang dianjurkan adalah sebanyak 3 (tiga) kelas dalam Ordo S,
yaitu: S1, S2, S3 dan 2 (dua) kelas dalam Ordo N, yaitu: N1 dan N2.
Penjelasan secara kualitatif dari definisi dalam pembagian kelas disajikan
dalam uraian berikut:
1. Kelas S1
Kelas S1 atau Sangat Sesuai (Highly Suitable) merupakan lahan yang tidak
mempunyai pembatas yang berat untuk penggunaan secar a lestari atau hanya
mempunyai pembatas tidak berarti dan tidak berpengaruh nyata terhadap
produksi serta tidak menyebabkan kenaikan masukan yang diberikan pada
umumnya.

2. Kelas S2
Kelas S2 atau Cukup Sesuai (Moderately Suitable) merupakan lahan yang
mempunyai pembatas agak berat untuk mempertahankan tingkat pengelolaan
yang harus dilakukan. Pembatas akan mengurangi produktivitas dan
keuntungan, serta meningkatkan masukan yang diperlukan.
3. Kelas S3
Kelas S3 atau Sesuai Marginal (Marginal Suitable) mer upakan lahan yang
mempunyai pembatas yang sangat berat untuk mempertahankan tingkat
pengelolaan yang harus dilakukan.Pembatas akan mengurangi produktivitas
dan keuntungan. Perlu ditingkatkan masukan yang diperlukan.
4. Kelas N1
Kelas N1 atau Tidak Sesuai Saat Ini (Currently Not Suitable) merupakan lahan
yang mempunyai pembatas yang lebih berat, tapi masih mungkin untuk diatasi,
hanya tidak dapat diperbaiki dengan tingkat pengetahuan sekarang ini dengan
biaya yang rasional. Faktor-faktor pembatasnya begitu berat sehingga
menghalangi keberhasilan penggunaan lahan yang lestari dalam jangka
panjang.
5. Kelas N2
Kelas N2 atau Tidak Sesuai Selamanya (Permanently Not Suitable) merupakan
lahan yang mempunyai pembatas yang sangat berat, sehingga tidak mungkin
digunakan bagi suatu penggunaan yang lestari.
4. 4 (Empat) Macam Klasifikasi Kesesuaian Lahan
Berdasarkan kerangka kerja evaluasi lahan FAO (1976) dikenal empat macam
klasifikasi kesesuaian lahan, yaitu:
Kesesuaian lahan yang bersifat kualitatif.
Kesesuaian lahan yang bersifat kuantitatif.
Kesesuaian lahan aktual.
Kesesuaian lahan potensial.

Label: Dasar-Dasar Ilmu Tanah