Anda di halaman 1dari 48

Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

PEDOMAN
PRAKTEK
KLINIS
PENYAKIT DALAM
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

DAFTAR ISI

Hal

DIABETES MELLITUS

KETO-ASIDOSIS DIABETIKUM

HIPOGLIKEMIA

DISIPLIDEMIA

DEMAM BERDARAH DENGUE

DEMAM TIFOID

DISPEPSIA

INTOKSIKASI ORGANOFOSFAT

HIPERTENSI

FEVER OF UNKNOWN ORGIN

DIARE KRONIK

HEMATEMESIS MELENA

PANKREATITIS AKUT

ILEUS PARALITIK

ULKUS PEPTIKUM

HEPATITIS VIRUS AKUT

HEPATITIS VIRUS KRONIK

KISTA TIROID

BATU SALURAN KEMIH

INFEKSI HIV / AIDS

RENJATAN / SHOCK ANAFILAKSIS

URTIKARIA KARENA OBAT


Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Panduan Praktik Klinis Diabetes Mellitus

1. Nama Penyakit / Diagnosis : DIABETES MELLITUS


2. Pengertian : Suatu penyakit Metabolik yang ditandai oleh
Hiperglikemia akibat defek obat
Kerja Insulin (Resistensi Insulin) di hati
(peningkatan produksi glukosa 3rogres) dan
jaringan prefier (otot dan lemak).
Sekresi Insulin oleh sel beta 3rogress
Atau keduanya
3. Klasifikasi Diabeetes : I . DM tipe 1 (destruksi sel B, umumya diikuti defisiensi
Mellitus (DM) insulin 3rogress)
Immune-mediated
Idiopatik
II. DM tipe 2 (bervariasi mulai dari predominan resistusi
insulin dengan defisiensi insulin 3rogress sampai
predominan defek sekretorik dengan resistensi insulin).
III. Tipe spesifikasi lain:
Defek 3rogres pada fungsi sel B.
Defek 3rogres pada kerja insulin.
Penyakit eksokrin pankreas.
Endokrinopati.
Diinduksi obat atau zat kimia
Infeksi
Bentuk tidak lazim dari Immune-mediated DM
Sindrom 3rogres lain, yang kadang berkaitan
dengan DM.
IV. DM gestasional
4. Diagnosis : Terdiri dari
Diagnosis DM
Diagnosis komplikasi DM
Diagnosis penyakit penyerta.
Pemantauan pengendalian DM
Anamnesis
Keluhan khas DM : poliuria, polidipsia, polifagia,
penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan
sebabnya.
Keluhan tidak khas DM : lemah, kesemutan gatal,
mata kabur, disfungsi pada pria, pruritus vulvae
pada wanita.
5. Faktor resiko pada DM : Usia >45 tahun
Tipe 2: Berat badan : >110% berat badan idaman atau
indeks masa tubuh (IMT) >23kg/m2
Hipertensi (TD 140/90 mmHG).
Riwayat DM dalam garis keturunan
Riwayat abortus berulang , melahirkan bayi ,
cacat, atau BB lahir bayi >4.000 gram
DM gestasional
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Riwayat gula terganggu (TGT) atau glukosa darah


puasa terganggu (GDPT).
Penderita penyakit jantung korroner, tuberkulosis,
hiperteroidisme.
Kolesterol HDL 35 MG/DL dan atau trigliserida
250 mg/Dl.
6. Pemeriksaan fisik lengkap : Tinggi badan, berat badan, tekanan darah, lingkar
pinggang.
Tanda neuropati
Mata (Visus, lensa mata dan retina)
Gigi mulut
Keadaan kaki (termasuk rabaan nadi kaki), kulit
dan ,kuku.
7. Kriteria progressif DM dan : Kadar glukosa darah sewaktu (plasma vena) 250
gangguan toleransi glukosa mg/dL atau
Kadar glukosa darah puasa (plasma vena) 126
mg/dL atau
Kadar glukosa plasma 200 mg/dL pada 2 jam
sesudah beban glukosa 75 gram pada TTGO.
8. Diagnosis Banding : Hiperglikemia reaktif, toleransi glukosa terganggu (TGT),
Glokosa darah puasa terganggu (GDPT)
9. Pemeriksaan Penunjang : Pemeriksaan laboratorium
Hb, leukosit, hitung jenis leukosit, laju endap
darah.
Glukosa darah puasa dan 2 jam sesudah makan.
Urinalisis rutin, proteinuria 24 jam, CCT ukur,
Kreatinin
SGPT, Albumin/Globulin
Kolesterol total, kolesterol LDL, Trigliserida
HbA1C
Albuminuri mikro.
10. Pemeriksaan penunjang lain : EKG, foto thorak, funduskopi.
11. Terapi : Eduksi meliputi pemahaman tentang
Penyakit DM,makna dan perlunya pengendalian
dan pemantauaan DM, penyulit DM,interveransi
farmakologis,hipoglikemia, masalah khusus yang
dihadapi, cara menggembangkan 4rogre
pendukung dan menggajarkan keterampilan, cara
mempergunakan fasilitas perawatan kesehatan.
12. Perencanaan makanan : Standard yang dianjurkan adalah makanan dengan
komposisi:
Karbohidrat 60-70 %,protein 10-15 % dan lemak 20-25 %
Jumlah kandungan kolestrol <300mg/hari. Diusahakan
lemak berasal dari sumber lemak tidak jenuh(MUFA =
Mono Unsaturated FattyAcid) dan membatasi PUFA
(Poly Unsaturated Fatty Acid) dan asam lemak jenuh.
Jumlah kandungan serat 25g/hr,diutamakan serat larut.
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Jumlah kalori perhari:


Laki-laki : 30kal/kg BB idaman.
Wanita : 25 kal/kg BB idaman.
Penyesuaian (terhadap kalori/hari):
Status gizi
BB genuk -20%
BB lebih -10%
BB kurang -20%
Umur>40 tahun
Stress
(infeksi, operasi, dll) + (10 s/d 30%)
Aktifitas
Ringan +10%
Sedang +20%
Berat +30%
Hamil
Trismester I, II +300 kal
Trismester III laktasi +500 kal

Rumus Brocca:
Berat badan idaman + (tinggi badan 100%)-10%
Pria < 160 cm dan wanita < 150cm, tidak dikurangi 10@
lagi.
BB kurang : <90 % BB idaman
BB normal : 90 110 % BB idaman
BB lebih : 110 120 % BB idaman
Gemuk : >120 % BB idaman
13. Latihan jasmani : Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan teratur (3-4 kali
seminggu selama kurang lebih 30menit).
Prinsip : continuous rytmycal interval progressive
endurance.
14. Intervensi farmakolgis : Obat Hiplogemia Oral (OHO).
Pemicu insulin (insulin secretaogue) : sulfonilurea,
glinid.
Penambah sensitifitas terhadap insulin :
metformin,tiazolidindion
Penghambat absorpsi glukosa : penghambat,
glukosadiase alfa.
15. Insulin : Indikasi
Penurunan berat badan yang cepat
Hiperglikemia berat yang disertai ketosis
Ketoasidosis diabetic.
Hiperglikemia hipersmolar non ketotik.
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Panduan Praktek Klinis Nyeri Akut Abdomen Kanan Atas

1. Nama Penyakit / Diagnosis : NYERI AKUT ABDOMEN KANAN ATAS


2. Kriteria Diagnosis : Riwayat nyeri mendadak daerah adomen kanan atas/
epigastrium.
Nyeri dapat menjalar ke daerah pinggang dan kearah
bahu atau dirasakan menembus kebelakang. Nyeri dapat
bersifat kolik atau terus menerus.
- Demam
- Mual dan Muntah
Pemeriksaan Fisik
Tanda-tanda peritonitis lokal daerah abdomen kanan
atas
3. Diagnosis Diferensial : - Kolisistilis akut
- Pankreatitis
- Perforasi tukak
4. Pemeriksaan Penunjang : 4.1 Laboratorium :
- Rutin
- Khusus : faal hati, amilase darah & rutin
4.2 USG
4.3 Foto polos abdomen 3 posisi
5. Konsultasi : Spesialis bedah
6. Perawatan RS : Rawat inap segera
7. Terapi : - Puasa
- Pemasangan pipa lambung
- IVFD
Pembedahan akan dilakukan bila peritonitis
meluas melebihi satu kuadran atau ada udara
bebas foto abdomen
8. Standard RS : RS Tipe C
9. Penyulit : Peritonitis umum dan sepsis
10. Inform concent ( tertulis ) : Perlu
11. Standard Tenaga : Spesialis Bedah
12. Lama Perawatan : 2 3 hari
13. Masa Pemulihan : 5 7 hari
14. Output : Bila diagnosis kolesistitis akus, perlu tindakan
kolesistektomi setelah 2 bulan.
15. PA : -
16. Autopsi / Risalah Rapat : -
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Panduan Praktek Klinis Hemorhoid

1. Nama Penyakit / Diagnosis : HEMORHOID


2. Kriteria Diagnosis : - Buang air besar berdarah segar tanpa nyeri /
lendir
- Darah tidak bercampus dengan faeces atau darah
menetes
- Tonjolan yang besar dari anus bila b.a.b masuk
sendiri atau dimasukan secara manual
- Pemeriksaan colok dubur tidak ada kelainan
3. Diagnosis Diferensial : - Karsinoma rekti
- Polip rekti
- Prolaps ani
4. Pemeriksaan Penunjang : Anuskopi / Proktoskopi
5. Konsultasi : Dirujuk bila hemorrhoid derajat III/ derajat IV
(inkarserata)
6. Perawatan RS : - Dirawat efektif untuk derajat III
- Dirawat segera untuk derajat IV
7. Terapi : 7.1 Medik :
- Diet tinggi serat
- Laksan ringan bila ada riwayat obstipasi
- Supositoria
- Sit bath (dengan larutan permanganas Kalicus)
- Terapi sklerosing
7.2 Bedah :
- Hemorhoidektomi pada Hemorhoid derajat III &
IV
8. Standard RS : Tipe C
9. Penyulit : - Pendarahan anemia sekunder
- Infeksi
- Akibat tindakan pembedahan dapat timbul fisura
ani atau stenosis ani
10. Inform concent ( tertulis ) : Perlu
11. Standard Tenaga : Dokter umum untuk terapi medis
Spesialis Bedah untuk tindakan pembedahan
12. Lama Perawatan : Pada tindakan pembedahan rata-rata 3 5 hari
13. Masa Pemulihan : 1 minggu pasca bedah
14. Output : Sembuh total.
15. PA : -
16. Autopsi / Risalah Rapat : -
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Panduan Praktek Klinis Keto-Asidosis Diabetikum

1. Nama Penyakit / Diagnosis : KETO-ASODOSIS DIABETIKUM


2. Pengertian : Ketoasidosis diabetikum adalah kondisi dekompensasi
metabolik akibat defisiensi insulin absolut atau relatife
dan merupakan komplikasi akut diabetes melitus yang
serius. Gambaran klinis utama ketoasidosis diabetikum
(KAD) adalah hipierglikemia, ketosis dan asidosis
metabolik, faktor pencetus : infeksi, infark miokard
akut, pankreatitis akut penggunaan obat golongan
steroid, penghentian atau pengurangan dosis insulin.
3. Diagnosis Klinis : Keluhan poliuria, polidipsi.
Riwayat berhenti menyuntik insulin.
Demam / infeksi.
Muntah.
Nyeri perut.
Kesadaran : Komposmentis, delirium, koma.
Pernafasan cepat dan dalam (Kusssmaul).
Dehidrasi (turgor kulit menurun, lidah dan bibir
kering).
Dapat disertai syok hipovolemik.
4. Kriteria diagnosis : Kadar glukosa : > 250 mg/dL
pH : < 7,35
HCO3 : rendah
Anion gap : tinggi
Keton serum : positif dan atau ketonuria
5. Diagnosis Banding : Ketosisi diabetik : hiperglikemi hiperosmolar non
ketotik / hyperglycemic hyperosmolar state, ensefalopati
uremikum, asidosis uremikum, minum alkohol, ketosis
alkoholik, ketosisi hipoglikemia, ketosis starvasi, asidosis
laktat, asidosis hiperkloremik, kelebihan salisilat, drug-
induced acidosis, ensefalopati karena infeksi, trauma
kapitis.
6. Pemeriksaan Penunjang : Pemeriksaan cito: gula darah, elektrolit, ureum,
kreatinin, aseton darah, urin rutin, analisa gas darah,
EKG.
7. Pemantauan : Gula darah: tiap jam,
Na+, K+, CL- : tiap 6 jam selama 24 jam, selanjutnya
sesuai keadaan.
Analisa gas darah : bila pH < 7 saat masuk -
diperiksa setiap 6j am s/d pH 7,1 selanjutnya setiap
hari sampai stabil.
Pemeriksaan lain (sesuai indikasi): kultur darah,
kultur urin, kultur pus.
8. Terapi Akses interavena (iv) 2 jalur, salah satunya di cabang 3
way:
I. Cairan:
NaCL 0,9 % diberikan 1-2 L pada 1 jam
pertama, lalu I L pada jam
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

kedua, lalu 0,5 L pada jam ketiga dan keempat,


dan 0,25 L pada jam, kelima dan keenam,
selanjutnya sesuai kebutuhan.
Jumlah cairan yang diberikan dalam 15 jam
sekitar 5 L.
Jika Na+ >155 mEq/L 4 ganti cairan dengan NaCL
0,45
Jika GD < 200 mg/dL 4 ganti cairan dengan
Dextrose 5%

II. Insulin (regular insulin = RI)


Diberikan setelah 2 jam rehidrasi cairan
RI bolus 180 mU/KgBB IV, dilanjutkan:
RI drip 90 mU/KgBB/jam dalam NaCL 0,9%
Jika GD < 200mg/dL : kecepatan dikurangi 4 RI
drip 45 mU/KgBB/jam dalam NaCL 0,9%
Jika GD stabil 200 - 300 mg/dL selama l2jam 4 RI
drip 1-2 U/jam IV, disertai sliding scale setiap
6jam:
GD RI
(mg/dL) (Unit, subkutan)
< 200 0
200-250 5
250-300 10
300-350 15
> 350 20
Jika kadar GD ada yang < 100 mg/dL: drip RI
dihentikan
Setelah sliding scale setiap 6jam, dapat
diperhitungkan kebutuhan insulin sehari dibagi
3 dosis sehari subkutan, sebelum makan (bila
pasien sudah makan).

III. Kalium
Kalium (KCL) drip bersamaan dengan drip RI,
dengan dosis 50mEq/6jam. Syarat: tidak ada gagal
ginjal, tidak ditemukan gelombang T yang lancip
dan tinggi pada EKG, dan selanjutnya urin cukup
adekuat.
Bila kadar K+pada pemeriksaan elektrolit kedua:
< 3,5 drip KCL 75mEq/6jam
3,0-4,5 drip KCL 50mEq/6jam
4,5-6,0 drip KCL 25mEq/6jam
> 6,0 4 drip dihentikan
Bila sudah sadar, diberikan K+ oral selama
seminggu.
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

IV. Natrium bikarbonat


Drip 100 mEq bila pH < 7,0, drip KCL 26mEq drip.
50 mEq bila pH 7,0- 7,1, drip KCL 75mEq/ drip.
Juga diberikan pada asidosis laktat dan hiperkalemia
yang mengancam.

V. Tatalaksana umum
Oksigen bila P02 < 80 mmHg.
Antibiotika adekuat.
Heparin: bila ada KID atau hiperosmolar (> 380
mOsm/L) Terapi disesuaikan dengan pemantauan
klinis..
Tekanan darah, frekuensi nadi, frekuensi
pernafasan, temperatur setiap jam
Kesadaran setiap jam.
Keadaan hidrasi (tugor, lidah) setiap jam.
Produksi urin setiap jam, balans cairan.
Cairan infus yang masuk setiap jam, Dan
pemantauan laboratorik (lihat pemeriksaan
penunjang).
9. Komplikasi : Syok hipovolemik, edema paru, hipertrigliseridemia,
infark miokard akut, hipoglikemia, hipokalemia,
hiperkloremia, edema otak, hipokalsemia.
10. Prognosis : Dubia ad malam, tergantung pada usia, komorbid,
adanya infark miokard akut, sepsis, syok
11. Panduan Pelayanan Medik : 1. PERKENI. Petunjuk Praktis Pengelolaan Diabetes
PB PAPDI Melitus Tipe 2. 2002.
2. Waspdji S. Kegawatan pada Diabetes Melitus. In:
Prosiding Simposium Penatalaksanaan Kedaruratan
di Bidang llmu Penyakit dalam. Jakarta. 15 -16 April
2000: 83- 8.
3. Soewndo P. Ketoasidosis Diabetikum. In: Prosiding
Simposium Penatalaksanaan Kedaruratan di Bidang
Ilmu Penyakit dalam. Jakarta. 15 -16 April 2000: 89-
96.
4. Kitabchi AE, Umpierrez GE, Murphy MB, Barret EJ,
Kreisberg RA, Malone JL, et all Management of
Hyperglycemic Crises in Patients With diabetes.
Diabetes Care, Jan 2001;24 (1):131-51.
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Panduan Praktek Klinis Hipoglikemi

1. Nama Penyakit / Diagnosis : HIPOGLIKEMI


2. Pengertian : Hipoglikemia adalah keadaan dimana kadar glukosa
darah < 60 mg/dL, atau kadar glukosa darah < 80 mg/dL
dengan gejala klinis. Hipoglikemia pada DM terjadi
karena:
Kelebihan obat atau dosis obat: terutama insulin, atau
obat hipoglikemik oral.
Kebutuhan tubuh akan insulin yang relatif menurun:
gagal ginjal kronik, pasta persalinan.
Asupan makan tidak adekuat: jumlah kalori atau
waktu makan tidak tepat.
Kigiatan jasmani berlebihan.
3. Diagnosis : Gejala dan tanda klinis:
Stadium parasimpatik : lapar, mual, tekanan darah
turun.
Stadium gangguan otak ringan : lemah, lesu, sulit
bicara, kesulitan menghitung sementara.
Stadium simpatik : keringat dingin pada muka, bibir
atau tangan gemetar.
Stadium gangguan otak berat : tidak sadar, dengan
atau tanpa kejang.

Anamnesis
Penggunaan preparat insulin atau obat hipoglikemik
oral : dosis terakhir, waktu pemakaian terakhir,
perubahan dosis.
Waktu makan terakhir, jumlah asupan gizi.
Riwayat jenis pengobatan dan dosis sebelumnya.
Lama menderita DM, komplikasi DM.
Penyakit penyerta : ginjal, hati, dll.
Penggunaan obat sistemik lainnya : penghambat
adrenergik , dll.

Pemeriksaan fisik : pucat, diaphoresis, tekanan darah,


frekuensi denyut jantung, penurunan kesadaran, defisit
neurologik fokal transien.

Trias Whipple untuk hipoglikemia secara umum:


1. Gejala yang konsisten dengan hipoglikemia.
2. Kadar glukosa plasma rendah.
3. Gejala mereda setelah kadar glukosa plasma
meningkat.
4. Diagnosis Banding : Hipoglikemia karena:
Obat:
- (sering) : insulin, sulfonilurea, alkohol
- (kadang) : kinin, pentamidine
- (jarang) : salisilat, sulfonamid
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Hiperinsulinisme endogen: insulinoma, kelainan sel


13 jenis lain, sekretagogue (sulfonilurea), autoimun,
sekresi insulin ektopik.
Penyakit kritis: Gagal hati, gagal ginjal, gagal
jantung, sepsis, stravasi dan inanisi.
Defesiensi endokrin: kortisol, growth hormone,
glikagon, epinefrin.
Tumor non- sells : sarkoma, tumor adrenokortikal,
hepatoma, leukimia, limfoma, melanoma.
Pasca-prandial: reaktif (setelah operasi gaster),
diinduksi alkohol.
5. Pemeriksaan Penunjang : Kadar glukosa darah (GD), tes ginjal, tes fungsi hati, C-
peptide
6. Terapi Stadium permulaan (sadar)
Berikan gula murni 30 gram (2 sendok makan) atau
sirop/permen gula murni (bukan pemanis pengganti
gula atau diet gula diabetes) dan makanan yang
mengandung karbohidrat.
Hentikan obat hipoglikemik sementara.
Pantau gula darah sewaktu 1-2 jam.
Pertahankan GD 200mg/dL (bila sebelumnya tidak
sadar).
Cari penyebab.

Stadium lanjut (koma hipoglikemi atau tidak sadar


dan curiga hipoglikemi)
1. Berikan larutan Dextrose 40% sebanyak 2 flakon (=
50 ml) bolus intera vena
2. Diberikan cairan dextrose 10% per infus, 6 jam per
kolf
3. Periksa GD sewaktu (GDs) kalau memungkinkan
dengan glukometer
Bila GDs <50mg/dL + bolus dextrose 40%
50ml IV
Bila GDs <1000mg/dL +bolus dextrose 40%
25m1 IV
4. Periksa GDs setiap I jam setelah pemberian Dextrose
40%
Bila GDs <50mg/dL + bolus dextrose 40%
50m1 IV
Bila GDs <100mg/dL + bolus dextrose 40%
25m1 IV
Bila GDs <100-200mg/dL tanpa bolus dextrose
40%
Bila GDs >200mg/dL pertimbangkan
penurunan kecepatan drip dextrose 10% 50m1 IV
5. Bila GDs >100mg/dL sebanyak 3 kali berturut-turut,
pemantauan GDs setiap 2 jam, dengan perotokol
sesuai dengan diatas. Bila GDs > 200mg/dL 4
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

pertimbangkan mengganti infus dengan dextrose 5%


atau NaCL 0,9%
6. Bila GDs >I00mg/dL sebanyak 3 kali berturut-turut,
pemantauan GDs setiap 4 jam, dengan perotokol
sesuai dengan diatas. Bila GDs > 200mg/dL
pertimbangkan mengganti infus dengan dextrose 5%
atau NaCL 0,9%
7. Bila GDs >100mg/dL sebanyak 3 kali berturut-turut,
Slidding scale setiap 6jam
GD - RI
(mg/dL) (Unit, subkutan)
< 200 0
200-250 5
250-300 10
300-350 15
> 350 20
8. Bila hipoglikemi belum teratasi, dipertimbangkan
pemberian antagonis insulin, seperti: adrenalin,
kortison dosis tinggi, atau glukagon 0,5-1 mg IV/IM
(bila penyebabnya insulin).
9. Bila pasien belum sadar, GDs sekitar 200mg/dl :
Hidrokortison 100mg per 4jam selama 12 jam atau
Deksametason 10mg IV bolus dilanjutkan 2mg tiap
6jam dan Manitol 1,5-2g/KgBB IV setiap 6-8jam.
Cari penyebab lain penurunan kesadaran menurun
7. Komplikasi : Kerusakan otak, koma, kematian.
8. Prognosis : Dubia.
9. Panduan Pelayanan Medik PERKENI. Petunjuk Praktis Pengelolaan Diabetes
PB PAPDI Melitus Tipe 2. 2002.
Waspdji S. Kegawatan pada Diabetes Melitus. In :
Prosiding Simposium Penatalaksanaan Kedaruratan
di Bidang Ilmu Penyakit dalam. Jakarta. 15 -16 April
2000: 83- 8.
Cryer PE. Hypglycemis. In Braunwald E, Fauci AS,
Kasper DL, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL,
Harrison's Principles of Internal Medecine 15`h ed.
Ney York: MC Graw-Hill; 2001.p. 2138 - 43.
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Panduan Praktek Klinis Dislipidemia


1. Nama Penyakit / Diagnosis : DISLIPIDEMIA
2. Pengertian : Dislipidemia merupakan kelainan metabolisme lipid
yang ditandai oleh kelainan (peningkatan atau
penurunan) fraksi lipid dalam plasma. Kelainan fraksi
lipid yang utama adalah kenaikan kolesterol total,
kenaikan kadar trigliserid serta penurunan kadar
kolesterol 1-IDL. Dalam proses terjadinya aterosklerosis
ketiganya mempunyai peran penting dan berkaitan,
sehingga dikenal sebagai triad lipid. Secara klinis
dislipidemia diklasifikasikan menjadi 3, yaitu:
Hiperkolesterolemia, hipertrigliseridemia, dan campuran
Hiperkolesterolemia dan hipertrigliseridemia.
3. Diagnosis :
Klasifikasi kadar Klasifikasi
kolesterol :

Kolesterol LDL: <100mg/dL Optimal


100-129mg/dL Hampir optimal
130-159mg/dL Borderline tinggi
160-189mg/dL Tinggi
>190mg/dL Sangat tinggi

Kolesterol total: <200mg/dL Idaman


200-239mg/dL Borderline tinggi
>-240mg/dL Tinggi

Kolesterol HDL: <40mg/dL Rendah


>60mg/dl Tinggi

Untuk mengevaluasi risiko penyakit jantung koroner


(PJK), perlu diperhatikan faktor-faktor risiko lainnya:
Faktor risiko positif:
- Merokok
- Umur (pria >45 tahun, wanita >55 tahun)
- Kolesterol HDL rendah
- Hipertensi (TD > 140/90 atau dalam terapi
antihipertensi)
- Riwayat penyakit jantung koroner dini dalam
keluarga (First degree: pria <25 tahun, wanita <65
tahun)
Faktor risiko negatif:
- Kolesterol HDL tinggi: mengurangi 1 faktor risiko
dari perhitungan total.
ATP III menggunakan Framingham Risk score (FRS)
untuk menghitung besarnya risiko penyakit jantung
koroner (PJK) pads pasien >2 faktor risiko, meliputi:
umur, kadar kolesterol total, kolesterol HDL, kebiasaan
merokok, dan hipertensi. Penjumlahan skor pada FRS
akan menghasilkan angka persentase risiko PJK dalam
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

10 tahun.
Ekivalen risiko PJK mengandung risiko kejadian
koroner mayor yang sebanding dengan kejadian PJK,
yakni >20% dalam 10 tahun, terdiri dari:
Bentuk klinis lain dari aterosklerosis: penyakit arteri
perifer, aneurisma aorta abdominalis, penyakit arteri
karotis yang simptomatis,
Diabetes
Faktor risiko multipel yang mempunyai risiko PJK
dalam 10 tahun >20%
Peningkatan kadar trigiliserida juga merupakan faktor
risiko independen untuk terjadinya PJK. Faktor yang
mempengaruhi tingginya trigliserida:
Obesitas, berat badan lebih
Inaktivitas fisik
Merokok
Asupan alkohol berlebihan
Diet tinggi karbohidrat (>60% asupan energi)
Penyakit DM tipe 2, gagal ginjal kronik, sindrom
nefrorik
Obat: kortikosteroid, estrogen, retinoid,
penghambatan adrenergik-beta dosis tinggi
Kelainan genetik (riwayat keluarga)
4. Klasifikasi derajat : Normal : < 150mg/dL
hipertrigliseridemia Borderline tinggi : 150-199mg/dL
Tinggi : 200-499mg/dL
Sangat tinggi : >500mg/dL
5. Diagnosis Banding : Hiperkolesterolemia sekunder, karena hipotiroidisme,
penyakit hati obstruksi, sindrom nefrotik, anoreksia
nervosa, porfiria intermiten akut, obat (progestin,
siklosporin, thiazide).
Hipertrigliseridemia sekunder karena obesitas, DM,
penyakit ginjal kronik, lipodistrofi, glycogen storage
disease, alkohol, bedah bypass ileal, stres, sepsis,
kehamilan, obat (estrogen, isotretinoin, penghambat
beta,glukokortikoid, resin peningkat bile-acid,
thiazide), hepatitis akut, lupus eritematosus sistemik,
gammopati monoklonal: myeloma multipel, limfoma
AIDS: inhibitor protease.
HDL rendah sekunder, karena malnutrisi, obesitas,
merokok, penghambat betas teroid anabolik.
6. Pemeriksaan Penunjang : Skrining dianjurkan pada semua pasien berusia 20
tahun, setiap 5 tahun sekali:
Kadar kolesterol total, LDL, HDL, trigliserida, glukosa
darah, tes fungsi hati, urin lengkap, tes fungsi ginjal,
TSH, EKG.
7. Terapi : Untuk hiperkolesterolemia:
Penatalaksanaan Non-farmakologis (Perubahan gaya
hidup):
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Diet, dengan komposisi:


- Lemak jenuh < 7% kalori total
- PUFA hingga 10% kaloti total
- MUFA Hingga 10% kaloti total
- Lemak total 25 - 35% kalori total
- Karbohidrat 50 - 60% kalori total
- Protein hingga 15% kalori total
- Serat 20 - 30 g/hari
- Kolesterol <200 mg/hari
Latihan jasmani
Penurunan berat badan bagi yang gemuk
Menghentikan kebiasaan merokok, minuman alkohol

Pemantauan profil lipid dilakukan setiap 6 minggu. Bila


target sudah tercapai (lihat tabel target dibawah ini),
pemantauan setiap4-6 bulan.
Bila setiap 6 minggu PGH, target belum tercapai:
intensifkan penurunan lemak dan kolesterol,
tambahkan stanol/steroid nabati, tingkatkan konsumsi
serat dan kerjasama dengan dietisien.
Bila setelah 6 minggu berikutnya terapi non-
farmakologis tidak berhasil menurunkan kadar
kolesterol LDL, maka terapi farmakologis mulai
diberikan, dengan tetap meneruskan pengaturan
makan dan latihan jasmani.

Terapi farmakologis:
Golongan statin :
- Simvastatin 5 - 40 mg
- Lovastantin 10 - 80 mg
- Pravastantin 10 - 40 mg
- Fluvastantin 20 - 80 mg
- Atorvastantin 10 - 80 mg

Golongan bile acid sequestrant:


- Kolestiramin 4 - 16 g
Golongan nicotinic acid:
- Nicotin acid (immediated release) 2 x 100 mg s.d.
1,5 - 3 g

Target Kolesterol LDL (mg/dL)


Kategori Target Kadar LDL Kadar LDL untuk
Risiko LDL untuk mulai PGH mulai terapi
PJK atau < 100 > 100 farmakologis
130
Ekivalen PJK (100 - 129:
(FRS > 20%) opsional)
Faktor risiko > 2 < 130 > 130 (FRS 10 - 12%)
(FRS : < 20%) > 130 (160 - 189: opsional)
Faktor risiko 0-1 <160 > 190
> 160 (160 - 189: opsional)
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Terapi hiperkolesterolemia untuk pencegahan primer,


dimulai dengan statin atau bile acid sequestrant atau
Nicotinic acid
Pemantauan profil lipid dilakukan setiap 6 minggu. Bila
target sudah tercapai (lihat tabel target diatas),
pemantauan setiap 4 -6 bulan. Bila setelah 6 minggu
target belum tercapai: intensifkan/ naikan dosis statin
atau kombinasi dengan yang lain. Bila setelah 6 minggu
berikutnya terapi non-farmakologis tidak berhasil
menurunkan kadar kolesterol LDL, maka terapi
farmakologis diintensifkan.
Pasien dengan PJK, kejadian koroner mayor atau
dirawat untuk prosedur koroner diberi terapi obat saat
pulang dari RS jika kolesterol LDL > 100 mg/dL.
8. Pasien dengan : Penatalaksanaan non farmakologis sesuai diatas.
hipertrigliseridemia Penatalaksanaan farmakologis
Target tercapai:
- Pasien dengan trigliserida borderline tinggi atau
tinggi: tujuan utama terapi adalah mencapai target
kolesterol LDL.
- Pasien dengan trigliserid tinggi: target sekunder
adalah kadar kolesterol non HDL, yakni sebesar
30mg/dL lebih tinggi dari target kadar kolesterol
LDL (lihat tabel diatas).
- Pendekatan terapi obat:
1. Obat penurun kadar kolesterol LDL, atau
2. Dotambahkan obat fibrat atau nicotinic acid.
Golongan fibrat terdiri dari:
Gemfibrozil 2 x 600 mg atau I x 900 mg
Fenofibrat 1 x 200 mg
Penyebab primer dari dislipidemia sekunder, juga harus
ditatalaksana.
9. Komplikasi : Aterosklerosis, penyakit jantung koroner, strok,
pankreatitis akut
10. Prognosis : Dubia ad Bonam
11. Panduan Pelayanan Medik : 1. PERKENI. Konsesus PengelolaanDislipidemia pada
PB PAPDI Diabetes Melitus di Indonesia. 1995.
2. Expert Panel on Detection, Evaluation, and Tretment
of High Blood Cholesterol in Adults. Executifve
Summary of the Third Report of the National
Cholesterol Education Program (NCEP) Expert
Panel on Detection, Evaluation, and Tretment of
High Blood Cholesterol in Adult (Adult Teratment
Panel III) JAMA.May 16,2001; 285(19): 2486- 97.
3. Semiardji G National Cholesterol Education
Program - Adult Teratment Panel III (NCEP - A TP
III): adakah yangt baru? Makalah Siang Klinik
Bagian Metabolik Endokrinologi Bagian Ilmu
Penyakit Dalam, 2002.
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

4. Ginsberg HN, Goldberg IJ, Disorder of Lipoprotein


Metabolism. In Braunwald E, Fauci AS, Kasper DL,
Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, Harrison's
Principles of Internal Medecine 15th ed. Ney York:
MC Graw-Hill; 2001.p. 2245 - 57
5. Suyono S. Terapi Dislipidemia, Bagaimana
memilihnya dan sampai Kapan?Prosiding
Simposium Current Treatment in Internal Medicine
2000. Jakarta, 11-12 november 2000: 185- 99.
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

1. Nama Penyakit / Diagnosis : DEMAM BERDARAH DENGUE


2. Pengertian : Demam berdarah dengue merupakan penyakit demam
akut yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan
melalui gigitan nyamuk Aedes aegypty dan Aedes
Albopictus serta memenuhi kriteria WHO untuk demam
berdarah -dengue (DBD)
3. Diagnosis : Kriteria diagnosis WHO 1997 untuk DBD harus
memenuhi:
Demam atau riwayat demam akut, antara 2-7 hari,
biasanya bifasik. Terdapat minimal satu dari
manifestasi perdarahan berikut ini:
- Uji toniquet positif(> 20 petekie dalam 2,54 cm 2 )
- Petekie, ekimosi atau purpura
- Perdarahan mukosa, saluran cerna, bekas suntikan,
atau tempat lain.
- Hematemesis atau melena
Trombositopenia (< 100.000/mm3 )
Terdapat minimal satu tanda - tanda leakage:
- Hematokrit meningkat 20% dibanding hematokrit
rata-rata pada usia, jenis kelamin dan populasi
yang sama
- Hematokrit turun hingga > 20% dari hematokrit
awal, setelah pemberian cairan.
- Terdapat efusi pleura, efusi perikard, asites, dan
hipoproteinemia

Derajat
I. Demam disertai gejala konstitusional yang tidak
khas, manifestasi perdarahan hanya berupa uji
torniquet positif dan / atau mudah memar
II. Derajat I disertai perdarahan spontan
III. Terdapat kegagalan sirkulasi: nadi cepat dan
lemah atau hipotensi, disertai kulit dingin dan
lembab serta gelisah
IV. Renjatan: tekanan darah dan nadi tidak teratur,
DBD derajat III dan IV digolongkan dalam
sindrom renjatan dengue
4. Diagnosis Banding : Demam akut lain yang bermanifestasi trombositopenia
5. Pemeriksaan Penunjang : Hb, Ht, lokosit, trombosit, serologi dengue
6. Terapi : Non-farmakologis : tirah baring, makanan lunak
Farmakologis:
Simtomatis: antipiretik parasetamol bila demam
Tatalaksana terinci dapat dilihat pada lampiran
protokol tatalaksana DBD
- Cairan interavena : Ringer Laktat atau ringer
asetat 4-6 jam/kolf
Koloid/ plasma ekspander pads DBD stadium III
dan IV bila diperlukan
- Tranfusi trombosit dan komponen darah sesuai
indikasi
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

- Pertimbangan heparinisasi pada DBD stadium III


dan IV dengan koagulan intravaskuler diseminata
(KID)
7. Komplikasi : Renjatan, perdarahan, KID
8. Prognosis : Bonam
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Panduan Praktek Klinis Demam Tifoid


1. Nama Penyakit / Diagnosis : DEMAM TIFOID
2. Pengertian : Demam tifoid merupakan penyakit sistemik akut yang
disebabkan oleh infeksi kuman Salmonella typhi atau
Salmonella paratyphi.
3. Diagnosis : Anamnesis: demam naik secara bertangga pada
minggu pertama lalu demam menetap (kontinyu) atau
remiten pada minggu kedua. Demam terutama sore/
malam hari, sakit kepala, nyeri otot, anoreksia, mual,
muntah, obstipasi, atau diare.
Pemeriksaan fisik: febris, kesadaran berkabut,
bradikardi relatif (peningkatan suhu l oC tidak diikuti
peningkatan denyut nadi 8x/menit), lidah yang
berselaput (kotor ditengah, tepi dan ujung merah,
serta tremor), hepatomegali, splenomegali, nyeri
abdomen, roseola (jarang pada orang Indonesia).
Laboratorium: dapat ditemukan lekopeni, lekositosis,
atau leukosit normal, aneosinofil, limfopenia,
peningkatan LED, anemia ringan, trombositopeni,
gangguan fungsi hati, kultur darah (biakan empedu)
positif atau peningkatan titer uji widal > 4 kali
setelah satu minggu memastikan diagnosis. Kultur
darah negatif tidak menyingkirkan diagnosis, uji
widal tunggal dengan titer antibodi 0 1/320 atau H
1/640 disertai gambaran klinis khas menyokong
diagnosis.

Hepatitis Tifosa
Bila memenuhi 3 kriteria Khosla (1990) : hepatomegali,
ikterik, kelainan laboratorium, (antara lain : bilirubin
>30,6 umol/l, peningkatan SGOT/SGPT, penurunan
indeks PT), kelainan histopatologi.

Tifoid Karier
Ditemukannya kuman Salmonella typhi dalam biakan
feses atau urine pada seseorang tanpa tanda-tanda klinis
infeksi atau pada seseorang setelah I tahun pasca-
demam tifoid.
4. Diagnosis Banding : Infeksi virus, malaria
5. Pemeriksaan Penunjang : Darah perifer lengkap, tes fungsi hati, serologi, kultur
darah (biakan empedu)
6. Terapi : Non-farmakologis :
tirah baring, makanan lunak rendah serat

Farmakologis:
Simtomatis
Antimikroba:
- Pilihan utama: kloramfenikol 4x 500 mg sampai
dengan 7 hari bebas demam.
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Alternatif lain:
- Tiamfenikol 4x 500 mg (komplikasi hematologi
lebih rendah dibandingkan kloramfenikol)
- Kotrimoksasol 2x2 tablet selama 2 minggu.
- Ampisilin dan amoksisilin 54-150 mg/KgBB
selama 2 minggu
- Sefalosporin generasi III; yang terbukti efektif
adalah seftriakson 3-4 gram dalam dekstrose 100
cc selama jam per-infus sekali sehari, selama 3-
5 hari dapat pula diberikan sefotaksim 2-3 x 1
gram, sefoperazon 2 x 1 gram
- Flurokuinolon (demam umumnya lisis pada hari
III atau menjelang hari IV)
Norfloksasin 2x 400 mg/hari selama 14 hari
Ciproflolsasin 2x 500 mg/hari selama 6 hari
Ofloksasin 2x 400 mg/hari selama 7 hari
Pefloksasin 400 mg/hari selama 7 hari
Fleroksasin 400 mg/hari selama 7 hari
Pada kasus toksik tifoid (demam tifoid disertai
gangguan kesadaran dengan atau tanpa kelainan
neurologis lainnya dan hasil pemeriksaan cairan otak
masih dalam batas normal) langsung diberikan
kombinasi kloramfenikol 4x500 mg dengan ampisilin
4x1 gram dan deksametason 3x5 mg.
Kombinasi antibiotika hanya diindikasikan pads
toksik tifoid, peritonitis atau perforasi, renjatan
septik.
Steroid hanya diindikasikan pada toksik tifoid atau
demam tifoid yang mengalami renjatan septik
dengan dosis 3x3 mg

Kasus tifoid karier:


* Tanpa kolelitiasis
-3 pilihan regimen terapi selam 3 bulan
-Ampisilin l00mg/KgBB/hari + Probenesid
30 mg/KgBB/hari
-Amoksisilin 100mg/KgBB/hari + Probenesid
30mg/KgBB/hari
- Kotrimoksazol 2x2 tablet/hari
* Dengan kolelitiasis kolesitektomi + regimen
tersebut diatas selama 28 hari atau kolesitektomi +
salah satu regimen berikut:
- Ciprofloksasin 2x 750mg/hari
- Norfloksasin 2x400 mg/hari
* Infeksi Schitosoma haematobium pada traktus
urinarius eradikasi Schitosoma haematobium:
- Prazikuantel 40mg/KgBB dosis tunggal, atau
- Metrifonat 7,5 -1Omg/KgBB bila perlu berikan 3
dosis, interavena 2 minggu
Setelah eradikasi berhasil, diberikan regimen terapi
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

untuk tifoid karier seperti diatas.

Perhatian : Pada kehamilan flurokuinolon dan


kotrimoksazol tidak boleh digunakan. Kioramfenikol
tidak dianjurkan pads trimester III. Tiamfenikol tidak
dianjurkan pada trimester I. Obat yang dianjurkan
golongan beta laktam: ampisilin, amoksisilin, dan
sefalospori generasi III (seftriakson)
7. Komplikasi : Intestinal: Perdarahan intestinal, perforasi usus, ileus
paralitik, pankreatitis. Ekstra-intestinal: kardiovaskuler
(kegagalan sirkulasi perifer, miokarditis, trombosis,
tromboflebitis), hematologik (anemia hemolitik,
trombositopenia, KID), paru (pneumonia, empiema,
pleuritis), hepatobilier (hepatitis, kolesistitis), ginjal
(spondilitis, artitis), neuropesikiatrik (toksik tifoid)
8. Prognosis : Bonam, bila penyakit berat, pengobatan terlambat/ tidak
adekuat atau ada komplikasi berat, prognosis
dubia/malam
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Panduan Praktek Klinis Dispepsia


1. Nama Penyakit / Diagnosis : DISPEPSIA
2. Pengertian : Dispepsia merupakan kumpulan gejala atau sindrom
yang terdiri atas nyeri ulu hati, mual, kembung, muntah,
rasa penuh, atau cepat kenyang dan sendawa
3. Diagnosis : Anamnesis terdapatnya kumpulan gejala tersebut diatas.
4. Diagnosis Banding : Penyakit refluks gastroesofageal
Irritable Bowel Syndrome
Karsinona saluran cerna bagian atas
Kelainan pankreas dan kelainan hati
5. Pemeriksaan Penunjang : Endoskopi saluran cerna bagian atas dan biopsi,
pemeriksaan terhadap adanya infeksi Hellicobacter
pylori, pemeriksaan fungsi hati, amilase dan lipase,
fosfates alkali dan gama GT, USG abdomen.
6. Terapi : Suportif: nutrisi
Pengobatan empirik selama 4 minggu
Pengobatan berdasarkan etiologi
7. Komplikasi : Tergantung etiologi dispepsia

.
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Panduan Praktek Klinis Intoksikasi Organofosfat


1. Nama Penyakit / Diagnosis : INTOKSIKASI ORGANOFOSFAT
2. Pengertian : Intoksikasi Organofosfat Merupakan intoksikasi akibat
zat yang mengandung organofosfat.
3. Diagnosis : Anamnesis: riwayat minum / kontak dengan zat yang
mengandung organofosfat, muntah
Pemeriksaan fisik: bradikardi, pupil miosis,
penurunan kesadaran, tanda-tanda aspirasi
Laboratorium: pemeriksaan bahan muntah atau darah
mengandung organofosfat
4. Pemeriksaan Penunjang : DPL, elektrolit, nitogen torak, EKG, pemeriksaan
organofosfat
5. Terapi : Bilas lambung pakai NGT
Atropinisasi
6. Komplikasi : Gagal nafas, blok AV
7. Prognosis : Dubia.
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Panduan Praktek Klinis Hipertensi


1. Nama Penyakit / Diagnosis : HIPERTENSI
2. Pengertian : Hipertensi adalah keadaan tekanan darah yang sama atau
melebihi 140 mmHg sistolik dan/ atau sama atau
melebihi 90 mmHg diastolik pada seorang yang tidak
sedang makan obat antihipertensi.
3. Klasifikasi tekanan darah : Klasifikasi TD sistolik TD diastolic
berdasarkan joint national (mmHg) (mmHg)
committee VII : Normal < 20 dan < 80
Pre-hipertensi 120-139 atau 80 - 89
Hipertensi stage I 140 - 159 atau 90-99
Hipertensi stage 2 160 atau > 100
4. Diagnosis : Klasifikasi berdasarkan rata-rata pengukuran tekanan
darah yang dilakukan minimal 2 kali tiap kunjungan
pada 2 kali kunjungan atau lebih dengan
menggunakan cuff yang meliputi minimal 80% lengan
atas pada pasien dengan posisi duduk dan telah
beristirahat 5 menit.
Tekanan sistolik = suara fase I dan tekanan diastolik =
suara fase 5
Pengukuran pertama harus pada kedua sisi lengan
untuk menghindarkan kelainan pembulu darah perifer.
Pengukuran tekanan darah pada waktu berdiri
diindikasikan pads pasien dente resiko hipotensi
postural (lanjut usia, DM, dll)
Faktor resiko kardiovaskuler:
- Hipertensi
- Merokok
- Obesitas (IMT > 30)
- Inaktivitas fisik
- Dislipidemia
- DM
- Mikroalbuminuria atau < 60 ml/menit
- Usia (laki-laki >55 tahun, Perempuan >65 tahun)
- Riwayat keluarga dengan penyakit kardiovaskuler
dini (laki-laki >55 tahun Perempuan >65 tahun)
Kerusakan organ sasaran:
- Jantung: hipertrofi ventrikel kiri, angina, atau
riwayat infark miokard, riwayat revaskularisasi
koroner, gagal jantung
- Otak: Stroke atau Transient ischemic attack (TIA)
- Penyakit ginjal kronik
- Penyakit arteri perifer
- Retinopati

Penyebab hipertensi yang telah diindikasi: sleep


apnea, akibat obat atau berkaitan dengan obat,
penyakit ginjal kronik, aldosteronisme primer,
penyakit renovaskuler, terapi steroid kronik dan
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

sindrom cushing, feokromositoma, koarktasi aorta,


penyakit tiroid atau paratiroid
5. Diagnosis Banding : Peningkatan tekanan darah akibat whiet coat retension,
rasa nyeri, peningkatan tekanan interaserebral,
ensefalitis, akibat obat, dll
6. Pemeriksaan Penunjang : Urinalisis, tes fungsi ginjal, gula darah, elektrolit, profil
lipid, foto toraks, EKG ; sesuai penyakit penyerta: asam
urat, aktivitas renin plasma, aldoesteron, katekolamin
urin, USG pembuluh darah besar, USG ginjal,
Ekokardiografi
7. Terapi : Modifikasi gaya hidup dengan target tekanan darah <
140/90 mmHg atau 130/80 mmHg pada pasien DM
atau penyakit ginjal kronis.Bila target tidak tercapai
maka diberikan obat inisial.
Obat inisial dipilih berdasarkan:
1. Hipertensi tanpa compelling indication:
a. Pada hipertensi stage I dapat diberikan diuretik.
Pertimbangkan pemberian penghambat ACE,
penyekat reseptor beta, penghambat kalsium,
atau kombinasi.
b. Pada hipertensi stage II dapat diberikan
kombinasi 2 obat, biasanya golongan diuretik,
tiazid dan penghambat ACE atau antagonis
reseptor All atau penyakit reseptor beta atau
penghambat kalsium.
2. Hipertensi dengan compelling indication. Lihat
Label petujuk pemilihan obat pada compilling
indication. Obat-obat antihipertensi lain dapat
diberikan bila dibutuhkan misalnya diuretik,
antagonis reseptor All, penghambat ACE,
penyekat reseptor beta, atau penghambat kalsium.
Pada pengguna penghambat ACE atau antagonis
reseptor ALL: evaluasi kretinin dan kalium serum,
bila terdapat peningkatan kreatinin > 35% atau timbul
hiperkalemia hares dihentikan
Kondisi khusus lain:
- Obesitas dan sindrom metabolik(terdapat 3 atau
lebih keadaan berikut: lingkar pinggang laki-laki >
102 cm atau perempuan >89 cm, toleransi glukosa
terganggu dengan gula darah puasa > 110 mg/dL,
tekanan darah minimal 130/ 85MMEG, Trigliserida
tinggi > 150mg/dl, kolesterol HDL rendah
<40mg/dL pads laki-laki atau <50 mg/dL pada
perempuan) untuk modifikasi gaya hidup yang
intensif dengan pilihan terapi utama golongan
penghambat ACE. Pilihan lain adalah antagonis
reseptor All, penghambat kalsium, dan penghambat
- Hipertrofi ventrikel kiri untuk tatalaksana tekanan
darah yang agresif termasuk penurunan berat badan,
restrik asupan natrium dan terapi dengan semua
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

kelas antihipertensi kecuali vasodilator langsung,


hidralazin dan minoksidil.

Petunjuk pemilihan obat pada compelling indication


Kondisi resiko Obat-obat yang direkomendasikan
Penyekat
tinggi Dg
Diuretic reseptor Penghambat Antagonis Penghambat Antagonis
compelling
ACE Reseptor AII Kalsium Aldosteron
indication
Gagal jantung

Pasca infark
miokard

Risiko tinggi
Peny. Koroner

DM

Penyakit ginjal
kronik

Pencegahan
stroke berulang

- Penyakit arteri perifer semua kelas antihipertensi,


tatalaksana faktor resiko lain, dan pemberian aspirin
- Lanjut usia, termasuk penderita hipertensi sistolik
terisolasi - diuretik (tiazid) sebagai lini pertama,
dimulai dengan dosis rendah 12,5 mg/hari.
Penggunaan obat antihipertensi lain dengan
mempertimbangkan penyakit penyerta
- Kehamilan - pilihan terapi adalah golongan metildopa,
penyekat reseptor B, antagonis kalsium, dan
vasodilator. Penghambat ACE dan antagonis reseptor
All tidak boleh digunakan selama kehamilan.
8. Komplikasi : Hipertrofi ventrikel kiri, proteinuria dan gangguan fungsi
ginjal, aterosklerosis pembuluh darah, retinopati, stroke
atau TIA, infark miokard, angina pectoris, gagal jantung.
9. Prognosisi : Bonam.
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Panduan Praktek Klinis Fever Unknown Origin


1. Nama Penyakit / Diagnosis : FEVER OF UNKNOWN ORGIN
2. Pengertian : Fever of unknown orgin (FUO) klasik adalah
demam>38,3 C selama lebih dari 3 minggu, sudah
dilakukan pemeriksaan intensif selama 3 hari bila
pasien dirawat atau minimal 3 kali kunjungan pasien
rawat jalan tetapi belum dapat ditentukan penyebab
demam. Penyebab: infeksi, neoplasma, penyakit
kolagen dan vascular.
FUO pads pasien HIV adalah demam >38,3 C
selama 4 minggu atau lebih pada pasien rawat jalan
atau minimal 4 hari pada pasien yang dirawat dengan
hasil pertumbuhan mikroorganisme negative dari
dugaan focus infeksi. Penyebab: infeksi, obat,
sarcoma, limfoma.
FUO pada pasien netropenia ( jumlah lekosit PMN
<500/mm3 )adalah demam >38,3 C, dalam 3 hari
perawatan pertumbuhan mikroorganisme masih
negative dari dugaan infeksi. Penyebab: infeksi
FUO pada geriatri adalah demam >38,3'C, dalam
3hari perawatan atau minimal 3 kali kunjungan
pasien rawat jalan belum dapat ditentukan penyebab
dari demam. Penyebab: neoplasma, penyakit
kolagen, infeksi.
FUO pada pasien pediatri (usia<18 tahun) adalah
demam >38,3 C selama lebih dari 8 hari,sudah
dilakukan pemeriksaan intensif selama 3 hari bila
pasien dirawat atau minimal 3 kali kunjungan pasien
rawat jalan tetapi belum dapat ditentukan penyebab
demam. Penyebab: infeksi, penyakit kolagen,
neoplasma.
FUO pada pasien nosokomial demam >38,3 C
timbul pada pasien yang dirawat di RS dan pada saat
mulai dirawat serta masa permulaan perawatan tidak
terjangkit infeksi, penyebab demam tak diketahui
dalam waktu 3 hari termasuk hasil pertumbuhan
mikroogganisme negative dari dugaan focus infeksi.
Penyebab: infeksi.
FUO iatrogenic adalah demam >38,3 C akibat
penggunaan obat: penisilin, sefalosporin,
sulfonamide, atropine, fenitoin, prokainamida,
amfoterisin, interferon, interleukin, rifampisin, INH,
makrolida, klindamisin, vankomisin, aminoglikosida,
allopurinol.
3. Diagnosis : Anamnesis dan Pemeriksaan Fisis:
Riwayat penyakit secara terperinci: pola demam, ada
tidaknya infeksi saluran nafas atas, infeksi saluran
nafas bawah, kaku leher, nyeri perut, disuria, atau
sakit pinggang, diare, abses atau radang tonsil dan
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

otot, nyeri dan pembengkakan sendi, atau tanpa


kelainan spesifik.
Riwayat pekerjaan, perjalanan, kontak dengan orang
sakit atau hewan, trauma fisik atau bedah, obat-
obatan, (termasuk rokok, alkohol, narkoba), keadaan
kulit pasien, kelenjar getah bening, lubang orifices
pasien.

Laboratorium: sesuai mikroorganisme dan organ terkait


4. Diagnosis Banding : Infeksi, penyakit kolagen, neoplasma, efek samping
obat
5. Pemeriksaan Penunjang : Pemeriksaan hematologi, kimia darah, UL,
mikrobiologi, imunologi radiologi, EKG, biopsi jaringan
tubuh, pencitraan, sidikan (scanning),
endoskopi/peritoneoskopi, angiografi, limfografi,
tindakan bedah (laparatomi percobaan), uji pengobatan.
6. Terapi : Simtomatis.
Uji terapeutik dengan antibiotika, kortikosteroid, atau
obat antiinflamasi non steroid tidak dianjurkan
kecuali bila penyakit progesif dan potensial fatal
sehingga terapi empirik diperlukan.
7. Komplikasi : Sepsis, renjatan sepsis.
8. Prognosis : Dubia
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Panduan Praktek Klinis Diare Kronik


1. Nama Penyakit / Diagnosis : DIARE KRONIK
2. Pengertian : Diare kronik adalah diare yang berlangsung lebih dari
15 hari sejak awal diare.
3. Diagnosis : Diare dengan lama lebih dari 15 hari.
4. Diagnosis Banding : Kelainan pankreas, kelainan usus halus dan usus besar,
kelainan PEM dan tirotoksikosis, kelaian hati, sindrom
kolon iritable tipe diare.
5. Pemeriksaan Penunjang : Pemeriksaan tinja.
Pemeriksaan darah: DPL, kadar feritin, SI-IBC, kadar
vitamin B12 darah, kadar asam folat darah, albumin
serum, eosinofil darah, serologi amuba (IDT), widal,
pemeriksaan imunodefisiensi: (CD4, CD8), feses
lengkap dan darah samar.
Pemeriksaan anatomi usus: Barium enema/ colon in
loop ( didahului BNO), kolonoskopi, ileoskopi, dan
biopsi, Barium follw through atau enteroclysis,
ERCP, USG abdomen, CT scan abdomen.
Fungsi usus dan pankreas: tes fungsi ileum dan
yeyunum, tes fungsi pankreas, tes schilling, CEA dan
Ca 19-9.
6. Terapi Non farmakologis: diet lunak tidak merangsang,
tinggi kalori, tinggi protein, bila tidak tahan laktosa
diberikan rendah laktosa, bila maldigesti lemak
diberikan rendah lemak. Bila penyakit Crohn dan
kolitis ulserativa diberikan rendah serat pada keadaan
akut. Pertahankan minum yang baik, bila perlu infus
untuk mencegah dehidrasi.
Farmakologis:
- Bila sesak nafas dapat diberikan oksigen, infus
untuk memberikan cairan dan elektrolit.
- Antobiotik bila terdapat infeksi.
- Bila penyebab amuba/ parasit/ giardian dapat
diberikan metronidazol.
- Bila alergi makanan/ obat/ susu, diobati dengan
menghentikan makanan/ obat penyebab alergi
tersebut.
- Keganasan/ polip diobati dengan pengangkatan
kanker / polip.
- TB usus diobati dengan OAT.
- Diare karena kelainan endokrin, diobati dengan
kelainan endokrinnya.
- Malabsorsi diatasi dengan pemberian enzim. -
Kolitis diatasi sesuai jenis kolitis.
7. Komplikasi : Dehidrasi sampai syok hipovolemik, sepsis, gangguan
elektrolit, dan asam basa gas darah, gagal ginjal akut,
kematian.
8. Prognosis : Dubia ad bonam
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Panduan Praktek Klinis Hematemesis Melena

1. Nama Penyakit / Diagnosis : HEMATEMESIS MELENA


2. Pengertian : Hematemesis adalah muntah darah berwarna hitam ter
yang berasal dari saluran cerna bagian atas. Melena
adalah buang air besar (BAB) warna hitam ter yang
berasal dari saluran cerna bagian atas. Yang dimaksud
dengan saluran cerna bagian atas adalah saluran cerna
diatas (Proksimal) ligamentum wreitz mulai dan
jejunum proksimal, duodenum, gaster dan esofagus.
3. Diagnosis : Muntah dan BAB darah warna hitam dengan sindroma
dyspepsia, bila ada riwayat makan obat OAINS, jamu
pegal linu, alcohol yang menimbulkan erosi/ulkus
peptikum, riwayat sakit kuning/hepatitis. Keadaan
umum pasien sakit ringan sampai berat, dapat disertai
gangguan kesadaran (prekoma hepatikum) dapat terjadi
syok hipovolemik.
4. Diagnosis Banding : Hemoptoe, hematoskezia.
5. Pemeriksaan Penunjang : DPL, hemostasis lengkap atau masa perdarahan, masa
pembekuan, masa protombin, elektrolit ( Na, K, Cl),
pemeriksaan fungsi hati (Cholinesterase,
albumin/globulin, SGOT/SGPT, petanda hepatitis B dan
C, endoskopi SCBA diagnostic atau foto rontgen OMD,
USG hati.
6. Terapi : Non farmakologis: tirah baring, puasa, diet
hati~lambung per NGT untuk dekompresi, pantau
perdarahan.
Farmakologis:
Tranfusi darah PRC, pada kasus varises tranfusi
sampai dengan Hb l0 gr%, pada kasus non varises
tranfusi sampai dengan Hb l2 gr%.
Sementara menunggu darah dapat diberikan
pengganti plasma (misalnya dekstran/hemacel) atau
NaCl 0,9% atau RL.
Untuk penyebab non varises:
1. Injeksi antagonis reseptor H2 atau penghambat
pompa proton
2. Sitoprotektor. Sukralfat 3-4 x 1 gram atau
Teprenon 3x1 tab
3. Antasida
4. Injeksi vitamin K untuk pasien dengan penyulit
hati kronis atau sirosis hati
Untuk penyebab varises:
1. Somatostatin bolus 250 ug = drip 250 gram
intravena atau okreotide (sandostatin) 0,1
mg/2jam. pemberian diberikan sampai perdarahan
berhenti atau bila mampu diteruskan 3 hari setelah
sklero terapi ligasi varises esofagus.
2. Propanolol, dimulai dosis 2 x 10 mg dosis dapat
ditingkatkan hingga tekanan diastolik turun 20
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

mmHg atau denyut turun 20% (setelah keadaan


stabil) 3hematemesis melena (-).
3. Isosorbit dinitrat/mononitrat 2 x 1 tablet/hari
hingga keadaan umum stabil.
4. Metoklorpamid 3 x 10 mg/hari.

Bila ada gangguan hemostasis obati sesuai kelainan.


Pada pasien dengan pecah varises/ penyakit hati
kronik/sirosis hati diberikan:
1. Laktulosa 4 x 1 sendok makan.
2. Neomisin 4 x 500 mg.
Obat ini diberikan sampai tinja normal.

Prosedur bedah dilakukan sampai tindakan emergensi


atau elektif Bedah emergensi di indikasi bila pasien
masuk dalam keadaan gawat I-II.
7. Komplikasi : Syok hipovolemik, aspirasi pneumonia, gagal ginjal
akut, sindrom hepatorenal, koma hepatikum, anemia
karena perdarahan
8. Prognosis : Dubia
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Panduan Praktek Klinis Pankreatitis Akut

1. Nama Penyakit / Diagnosis : PANKREATITIS AKUT


2. Pengertian : Pankreatitis akut adalah reaksi peradangan pancreas
yang akut.
3. Diagnosis : Keadaan umum pasien seperti dyspepsia sedang
sampai berat, gelisah kadang disertai gangguan
kesadaran.
Demam, ikterus, gangguan hemodinamik, syok dan
takikardia, bising usus menurun (ileus paralitik).
Penyakit penyerta yang meningkatkan resiko: Batu
empedu, trauma, tindakan bedah abdomen, diabetes
mellitus, hipertiroidism, alkoholisem, ulkus
peptikum, leptospirosis, demam berdarah dengue.

4. Diagnosis Banding : Preforasi ulkus pepetikum, kolangitis akut, kolesistitis


akut, apendisitis akut, nefrolitiasis kanan akut, infark
miokard akut inferior.
5. Pemeriksaan Penunjang : DPL, amylase serum, lipase serum, gula darah, kalsium
serum, LDL serum, fungsi ginjal, SGOT/SGPT, analisa
gas darah, elektrolit.
6. Terapi : Non farmakologis: Puasa dan pemasangan infus untuk
nutrisi parenteral total sampai amilae dan lipase serum
normal/ mendekati normal dan pads selang nasogastrik
cairan lambung <300 cc, dan pasien tak merasakan nyeri
ulu hati.

Farmakologis:
Analgesik dan sedative, infuse cairan, pasang selang
lambung.
Antibiotik bila ada infeksi.
Penghambat sekresi enzim pancreas.
Prosedur pembedahan pada infeksi berat berupa
drainase cairan.
7. Komplikasi : Pseudokista pancreas, abses pancreas, peradangan
hemoragik, nekrosisi organ sekitar, pembentukan fistel,
ulkus duodenum, ikterus obstruksi, asites, sepsis.
8. Prognosis : Dubia ad bonam (tergantung berat ringannya
pankreatitis akut, gangguan kriteria RANSON)

.
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Panduan Praktek Klinis Ileus Paralitik

1. Nama Penyakit / Diagnosis : ILEUS PARALITIK


2. Pengertian : Ileus paralitik adalah keadaan abdomen akut berupa
kembung /distensi usus karena usus tidak dapat bergerak
(mengalami dismotilitas), pasien tak dapat buang air
besar.
3. Diagnosis : Perut kembung (distensi), bising usus menurun atau
menghilang.
Muntah, bias disertai diare, tak bisa buang air besar.
Dapat disertai demam.
Keadaan umum pasien sakit ringan sampai berat,
biasanya disertai penurunan kesadaran, syok.
Pada colok dubur: rektum tidak kolaps, tidak ada
kontraksi.
Adanya penyakit yang meningkatkan resiko: batu
empedu, trauma, tindakan bedah di abdomen, DM,
hipokalemia, obat spasmolitik, pankreatitis akut,
pneumonia, dan semua jenis infeksi tubuh.

Pemeriksaan fisik: Keadaan umum pasien sakit ringan


sampai berat, bisa disertai penurunan kesadaran,
demam, tanda dehidrasi, syok. Pada pemeriksaan
abdomen didapatkan distensi, bising usus yang menurun
sampai hilang.
4. Diagnosis Banding : Ileus obstruktif.
5. Pemeriksaan Penunjang : DPL, amylase-lipase, gula darah, kalium serum, analisa
gas darah, foto abdomen 3 posisi.
6. Terapi : Non farmakologis:
- Puasa dan nutrisi parenteral total sampai bising
usus positif atau dapat buang angina melalui
dubur.
- Pasang selang lambung dan dekompresi.
- Pasang kateter urine.
Farmakologis:
- Infus cairan, rata-rata 2,5-3 liter/hari disertai
elektrolit.
- Natrium dan kalium sesuai kebutuhan /24jam.
- Nutrisi parenteral yang adekuat sesuai kebutuhan
kalori basal ditambah kebutuhan lain.
Terapi etiologi.
7. Komplikasi : Syok hipovolemik, septicemia, sampai sepsis,
malnutrisi.
8. Prognosis : Dubia ad bonam
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Panduan Praktek Klinis Ulkus Peptikum

1. Nama Penyakit / Diagnosis : ULKUS PEPTIKUM


2. Pengertian : Ulkus peptikum adalah salah satu penyakit saluran cerna
bagian atas yang kronis.
3. Diagnosis : Faktor resiko: umur, penggunaan obat-obatan aspirin
atau OAINS, kuman Helicobacter pylori.
Anamnesis: terdapat nyeri epigastrium, dyspepsia,
nausea, vomitus, anoreksia, dan kembung.
4. Diagnosis Banding Ulkus gaster, ulkus duodenum, dyspepsia non ulkus.
5. Pemeriksaan Penunjang : Barium dobel kontras.
Endoskopi saluran cerna bagian atas.
6. Terapi : Tanpa komplikasi
Suportif: nutrisi.
Memperbaiki/ menghindari factor resiko.
Pemberian obat-obatan: antasida, antagonis reseptor
H2, proton pump inhibitor, pemberian obat-obatan
untuk mengikat asam empedu, prokinetik, pemberian
obat untuk eradikasi kuman Helicobacter pylori,
pemberian obat-obatan untuk meningkatkan factor
defensive.

Dengan komplikasi
Pada tukak peptic yang berdarah dilakukan
penatalaksanaan umum atau suportif sesuai dengan
penatalaksanaan hematemesis melena secara umum.

Penatalaksanaan/ tindakan khusus


Tindakan/ terapi hemostatik per endoskopi dengan
adrenalin dan etoksisklerol atau obat. fibrinogen
trombin atau tindakan hemostatik dengan head probe
atau terapi laser atau terapi koagulasi listrik atau
bipolar probe.
Pemberian obat somatostatin jarak pendek.
Terapi embolisasi arteri melalui arteriografi.
Terapi bedah/ operasi, bila semua pengobatan
tersebut dilaksanakan tetap masuk dalam keadaan
gawat 1 s.d.11 maka pasien masuk dalam indikasi
operasi.
7. Komplikasi : Perdarahan ulkus, perforasi.
8. Prognosis : Dubia
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Panduan Praktek Klinis Hepatitis Virus Akut

1. Nama Penyakit / Diagnosis : HEPATITIS VIRUS AKUT


2. Pengertian : Hepatitis virus akut inflamasi hati akibat infeksi virus
hepatitis yang berlangsung selama <6 bulan.
3. Diagnosis : Anamnesis: mual malaise, anoreksia, rasa tidak
nyaman pada perut, urin berwarna gelap.
Pemeriksaan fisik: ikterus, hepatomegali.
Laboratorium: ALT dan AST meningkat > 3 kali
normal.
4. Diagnosis Banding : Hepatitis akibat cha. hepatitis alkoholik, penyakit
saluran empedu, leptospirosis.
5. Pemeriksaan Penunjang : Laboratorium: SGOT, SGPT, fosfates alkali, bilirubin,
seromarker (IgM anti HAV, HBs Ag, IgM anti HBc.
anti HCV, IgM anti HEV).
6. Terapi : Tirah baring, diet seimbang, pengobatan suportif.
7. Komplikasi : Hepatitis fulminan, kolestasis berkepanjangan, hepatitis
kronik.
8. Prognosis : Bonam
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Panduan Praktek Klinis Hepatitis Virus Kronik

1. Nama Penyakit / Diagnosis : HEPATITIS VIRUS KRONIK


2. Pengertian : Hepatitis virus kronik adalah suatu sindrom klinis dan
patologis yang disebabkan oleh bermacam-macam
etiologi, ditandai oleh berbagai tingkat peradangan dan
nekrosis pada hati.
3. Diagnosis : Anamnesisi: umumnya tanpa keluhan.
Pemeriksaan f sik: bias ditemukan hepatomegali.
Laboratorium: petanda virus hepatitis B dan C
positif.
USG: hepatitis kronik.
Biopsi hati: peradangan dan fibrosis hati.
4. Diagnosis Banding : Perlemakan hati (fatty liver)
5. Pemeriksaan Penunjang : Pemeriksaan laboratorium seperti pada hepatitis akut.
USG hati.
Biopsi hati.
6. Terapi : Hepatitis B kronik: lamivudin.
Hepatitis C kronik: interferon a + ribavirin
7. Komplikasi : Sirosis hati, karsinoma hepatoselular.
8. Prognosis : 20% akan berkembang menjadi sirosis hati
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Panduan Praktek Klinis Kista Tiroid

1. Nama Penyakit / Diagnosis : KISTA TIROID


2. Pengertian : Kista tiroid adalah nodul kistik pada jaringan tiroid,
merupakan 10-25% dari seluruh nodul tiroid.Insiden
keganasan pada nodul kurang dibandingkan nodul solid.
Pada nodul kistik komplek masih mungkin merupakan
suatu keganasan. Sebagian nodul kistik mempunyai
bagian yang solid.
3. Diagnosis : Anamnesis
Sejak kapan benjolan timbul
Rasa nyeri spontan atau tidak spontan, berpindah
atau tetap
Cara membesarnya :cepat atau lambat
Pada awalnya berupa satu benjolan yang membesar
menjadi beberapa benjolan atau hanya pembesaran
leher saja
Riwayat keluarga
Riwayat penyinaran daerah leher pads waktu
kecil/muda
Perubahan suara
Gangguan menelan
Sesak nafas
Penurunan berat badan
Keluhan tirotoksikosis

Pemeriksaan fisik
Umum
Lokal:
Nodul tunggal atau majemuk,atau difus
Nyeri tekan
Konsistensi: kistik
Permukaan
Perlengketan pada jaringan sekitarnya
Pendesakan atau pendorongan trakea
Pembesaran kelenjar getah bening regional
Pembertons signa
Penilaian risiko keganasan:
Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang mengarahkan
diagnostic penyakit timid jinak, tetapi tak sepenuhnya
menyingkirkan kemungkinan kanker tiroid.
Riwayat keluarga dengan struma nodosa atau difusa
jinak
Riwayat keluarga dengan tiroiditas Hashimoto atau
penyakit tiroid autoimum
Gejala hipotiroidisme
Nyeri berhubungan dengan nodul
Nodul lunak,mudah digerakkan
Multi nodul tanpa nodul yang dominan,dan konsisten
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

sama.

Anamnesa dan pemeriksaan fisik yang meningkatkan


kecurigaan ke arah keganasan tiroid
Umur < 20 tahun atau > 70 tahun
Gender laki-laki
Nodul disertai disfagia, serak, atau obtruksi jalan
nafas
Pertumbuhan nodul cepat (beberapa minggu-bulan)
Riwayat radiasi daerah leher waktu usia anak-anak
atau dewasa (juga meningkatkan insiden penyakit
nodul tiroid jinak)
Riwayat keluarga kanker tiroid medular
Nodul yang tunggal,berbatas tegas,keras irregular
dan sulit digerakkan,paralisis pita suara
Temuan limfadenopati servikal
Metastasis jauh (paru-paru,dll)

Langkah diagnostic awal : TSHs.FT4


Bila basil : non toksik -> Langkah diagnosis II
->Pungsi aspirasi kista dan BAJAH bagian solid dari
kista tiroid
4. Diagnosis Banding : Kista tiroid, kista degenerasi, kaesinoma tiroid
Pemeriksaan Penunjang
USG tiroid
- Dapat membedakan bagian padat dan cair
- Dapat untuk memadu BAJAH: menemukan
bagian solid
- Gambaran USG kista=kurang lebih bulat,
seluruhnya hipoekoik sonolusen,dinding tipis
Sitologi cairan kista dengan prosedur sitospin
Biopsi aspirasu jarum halus (BAJAH): pada bagian
yang solid
5. Terapi : Fungsi aspirasi seluruh cairan kista
Bila kista regresi ->Observasi
Bila kista rekuren, Klinis kecurigaan ganas rendah ->
fungsi aspirasi dan observasi
Bila kista rekuren, klinis kecurigaan ganas tinggi ->
operasi lobektomi
6. Komplikasi : -
7. Prognosis : Dubia ad bonam, tergantung tipe dan jenis
histopatologinya
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Panduan Praktek Klinis Batu Saluran Kemih

1. Nama Penyakit / Diagnosis : BATU SALURAN KEMIH


2. Pengertian : Batu saluran kemih adalah batu di traktus urinarius
mencangkup ginjal, ureter, vesika urinaria.
3. Diagnosis : Anamnesis : nyeri/kolik ginjal dan saluran kemih,
pinggang pegal, gejala onfeksi saluran kemih,
hematuria, riwayat keluarga.
Pemeriksaan fisik : Nyeri ketok sudut
kostovetebra, nyeri tekan perut bagian bawah,
terdapat tanda balotemen.
Labotatorium : hematuri,bayangan radio opak pads
foto BNO, filling defect pads IVP atau pielografi
antegrad/retrograde, gambaran batu di ginjal atau
kandung kemih serta hidronefrosis pads USG.
4. Diagnosis Banding : Nefrokalsinosis
Lokasi batu : batu ginjal, batu ureter, batu vesika
Jenis batu : asam urat, kalsium, struvite
5. Pemeriksaan Penunjang : Urinalis, kultur urin dan resistensi kuman
Fungsi ginjal, elektrolit darah (kalsium, fosfor)
Urin 24 jam (kalsium, sitrat, oksalat, asam urat)
Asam urat darah
Hormon paratiroid
BNO-IVP
USG Abdomen
Pielografi antegrad/retrograde, renogram
Analisa batu
6. Terapi : Nonfarmakologis
Batu kalsium : kurangi asupan garam dan protein
hewani
Batu urat : diet rendah asam urat
Minum banyak (2,51/hari) bila fungsi ginjal masih
baik

Farmakologis :
Antispasmodik bila ada kolik
Antimikroba bila ada infeksi
Batu kalsium : kalium sitrat
Batu urat : alupurinol

Bedah
Pielotomi
ES WL
Nefrostomi
7. Komplikasi : Kolik, obstruksi, infeksi saluran kemih, gangguan
fungsi ginjal
8. Prognosis : Bonam
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Panduan Praktek Klinis Infeksi Saluran Kemih

1. Nama Penyakit / Diagnosis : INFEKSI SALURAN KEMIH


2. Pengertian : Infeksi saluran kemih (ISK) adalah infeksi akibat
terbentuknya koloni kuman di saluran kemih. Kuman
mencapai saluran kemih melalui cara hematogen dan
asending.
3. Faktor Risiko : Kerusakan atau kelainan anatomi saluran kemih berupa
obtruksi internal oleh jaringan parut, endapan obat
intratubular, refluk, instrumentasi saluran kemih,
kontriksi arterivena, hipertensi, analgetik, ginjal
polikistik, kehamilan, DM atau pengaruh obat-obatan
estrogen.

ISK sederhana/takberkomplikasi
ISK yang terjadi pada perempuan yang tidak hamil dan
tidak terdapat disfungsi structural ataupun ginjal

ISK Berkomplikasi
ISK yang berlokasi selain di vesika urinaria, ISK pada
anak-anak, laki-laki, atau ibu hamil
4. Diagnosis : Anamnesis : ISK bawah: frekuensi, disuria terminal,
polakisuria, nyeri suprapibik. ISK atas : nyeri pinggang,
demam, menggigil, mual, muntah, hematuri.
Pemeriksaan Fisik : febris, nyeri tekan suprapubik,
nyeri ketok sudut kostoveterbra.
Laboratorium : lekositosis, lekosituria, kultur urin
(+), bakteriuria .
5. Diagnosis Banding : ISK sederhana, ISK berkomplikasi Pemeriksaan
Penunjang
DPL, urinalis, kultur urin dan tes resistensi kuman,
fungsi ginjal, gula darah.
BNO-IVP
USG Ginjal
6. Terapi : Nonfarmakologis
Banyak minum bila fungsi ginjal masih baik
Menjaga hygiene genetalia eksretna Farmakologis
Antimikroba berdasarkan pola kuman yang ada; Bila
hasil tes resistensi kuman sudah ada, pemberian
antimikroba disesuaikan.
ISK tak bergejala pada perempuan menopause tidak
perlu pengobatan
ISK pads perempuan hamil tetap diberikan
pengobatan meski tidak bergejala
Pengobatan untuk ISK pads laki-laki usia < 50 tahun
harus di berikan selama 14 hari; usia > 50 tahun
pengobatan selama 4 - 6 minggu
Infeksi jamur kandida diberikan flukonazol 200-400
mg/hari selama 14 hari.Bila infeksi dapat terjadi pads
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

pasien dengan cateter dicabut lalu dilakukan irigasi


kandung kemih dengan amfoterisin selama 5 hari
7. Komplikasi : Batu saluran kemih, obtruksi saluran kemih, sepsis,
infeksi kuman yang multi resistensi, gangguan fungsi
ginjal
8. Prognosis : Bonam

Tabel I. Antimikroba pada ISK bawah tak


berkomplikasi
Antimikroba Dosis Lama Terapi
Trimetropim-Sulfametoksazol 2x 160/800 mg 3 hari
Trimetropim 2x100 mg 3 hari
Siprofloksasin 2x 100-250 mg 3 hari
Levofloksasin 2x250 mg 3 hari
Sefikim 1 x400 mg 3 hari
Sefpodoksim proksetil 2x 100 mg 3 hari
Nitrofurantoin makrokristal 4x50 mg 7 hari
Nitrofurantoin monohidrat 2x 100 mg 7 hari
makrokristal
Amoksisilin/klavulanat 2x500 mg 7 hari

Tabel 2.Obat parenteral pada ISK atas akut


berkomplikasi
Antimikroba Dosis Interval
Sefepim I gram 12 jam
Siprofloksasin 400 mg 12 jam
Levofloksasin 500 mg 24 jam
Ofloksasin 400 mg 12 jam
Gentamisin (+ampisilin) 3-5 mg/kgBB 24 jam
1 mg/kgBB 8 jam
Ampisilin (+gentamisin 1-2 gram 6 jam
Tikarsilin-klavulanat 3,2 gram 8 jam
Piperasilin-tazobaktam 3,375 gram 2-8j am
Imipenem-silastatin 250-500 mg 6-8jam
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Panduan Praktek Klinis Infeksi HIV AIDS

1. Nama Penyakit / Diagnosis : INFEKSI HIV/AIDS


2. Pengertian : Pasien dinyatakan terbukti terinfeksi HIV bila dari
pemeroksaan penunjang.
3. Diagnosis : Adanya faktor risiko penularan
Diagnosis HIV : tes ELISA 3 kali reaktif dengan
Reagan yang berbeda Stadium WHO
Stadium 1: asimtomatik,limfadenopati generalisata.
Stadium 2:
- Berat badan turun < 10
- Manifestasi mukokutan minor (dermatitis
seboroik,prurigo,infeksi jamur kuku,ulkus oral
rekuren,cheilitis angularis)
- Herpes zoster dalam 5 tahun terakhir
- Infeksi saluran napas atas rekuren
Stadium 3
- Berat badan turun > 10
- Diare yang tidak diketahui penyebab,> 1 bulan
- Kandidiasis oral
- Oral hairy leucoplakia Tuberculosis paru
- Infeksi bakteri berat (pneumonia, piomiositis)
Stadium 4
- HIV wasting syndrome
- Pnemonia Pneuumocystis carinii
- Toksoplasma serebral
- Kriptosporidiosis dengan diare > 1 bulan
- Sitomegalovirus pads organ selain hati, limpa atau
kelenjar getah bening (misalnya retinitis CMV)
- Infeksi herpes simpleks, mikokutan (>1 bulan)
atau visceral
- Progressive multifocal leucoencephalopathy
- Mikosis endemic diseminata
- Kandidiasis esophagus, trakea, dan bronkus
- Mikobakteriosis atipik, diseminata atau paru
- Sepyikemia salmonella non-tifosa
- Tuberculosis ektrapulmonar
- Limfoma
- Sarkoma Kaposi
- Ensefalopati HIV
4. Diagnosis Banding : Penyakit imunodefisiensi primer
5. Pemeriksaan Penunjang : Anti-HIV ELISA
Anti HIV Western Blot
Antigen p-24
Hitung CD4
Jumlah virus HIV dengan RNA-PCR
Pemeriksaan penunjang untuk diagnosis infeksi
oportunistik.
6. Terapi : Konseling
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Terapi suportif
Terapi infeksi oportunistik dan pencegahan infeksi
oportunistik
Terapi antiretrovirus kombinasi,efek samping dan
penanganannya
Vaksinasi pada penderita HIV/AIDS
Terapi pasca paparan HIV (post exposure
prophylaxis)
Penatalaksanaan infeksi HIV pada kehamilan
Penatalaksanaan koinfeksi HIV dengan hepatitis C
dan hepatitis B
7. Komplikasi : Infeksi oportunistik, kanker terkait HIV, dan
manifestasi HIV pada organ lain
8. Prognosis : Tergantung stadium penyakit
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Panduan Praktek Klinis Renjatan Anafilaksis

1. Nama Penyakit / Diagnosis : RENJATAN ANAFILAKSIS


2. Pengertian : Renjatan anafilaksis adalah keadaan gawat darurat yang
ditandai dengan (hipotensi) penurunan tekanan darah
sistolik < 90 mmHg akibat respon hipersmsivitas tipe I
(adanya reaksi antigen dengan antibody Ig E)
3. Diagnosis : Hipotensi takikardi, akral dingin, oliguria yang dapat
disertai gejala klinis lain berupa :
Reaksi sistemik ringan : rasa geli/gatal serta sangat,
rasa penuh di mulut dan tenggorokan, hidung
tersumbat dan terjadi edema di sekitar mata, kulit
gatal, mata berair, bersin-bersin, onset biasanya 2
jam setelah paparan antigen
Reaksi sistemik sedang : seperti reaksi sistemik
ringan, ditambah spasme bronkus dan atau edema
saluran napas, sesak, batuk, mengi, angioedema,
urtikaria menyeluruh, mual, muntah, gatal, badan
terasa hangat, gelisah, onset seperti reaksi anafilaktik
ringan.
Reaksi sistemik berat : terjadi mendadak, seperti
reaksi sistemik ringan-sedang yang bertambah berat.
Spasme bronkus, edema laringsuara serak,
stridorsesak napas, sianosis, henti napas. Edema dan
hipermotilitas saluran cerna sehingga sakit menelan,
kejang perut, diare dan muntah. Kejang uterus,
kejang umum. Gangguan kardiovaskuler, aritmia
jantung, koma.
4. Diagnosis Banding : Renjatan kardiogenik, renjatan hipovolemik.
5. Pemeriksaan Penunjang : Darah rutin, ureum, kreatinin, elektrolit, analisa gas
darah, EKG
6. Terapi : A. Untuk renjatan
1. Adrenalin larutan 1 : 1000, 0,3-0,5 ml
subkutan/intramuskuler pads lengan atas atau
paha. Bila renjatan anafilaksis disebabkan
sengatan serangga berikan suntikan adrenalin
kedua 0,1-0,3 ml pads tempat sengatan kecuali
bila sengatan di kepala, leher, tangan dan kaki.
Terapi dapat dilanjutkan dengan infuse adrenalin
1 ml (1 mg) dalam dektrose 5 % 250 cc dimulai
dengan kecepatan 1 uq/menit dapat di tingkatkan
sampai 4 uq/menit sesuai keadaan tekanan darah.
Hati-hati pads orang tua dengan kelainan jantung
atau gangguan kardiovaskuler lainnya.
2. Pasang tourniquet proksimal dari suntikan atau
sengatan serangga, dilonggarkan 1-2 menit setiap
10 menit
3. Oksigen bila sesak, mengi, sianosis 3-5 1/menit
dengan sungkup atau kanul nasal.
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

4. Antihistamin intravena, intramuskuler atau oral

Rawat pasien di ICU bila dengan tindakan di atas tidak


membaik, dilanjutkan dengan terapi:
1. IVFD Dektrose 5% dalam 0,45% NaCL 2-3 I/m2
permukaan tubuh.
2. Dopamin 0,3-1,2 mg/kgBB/jam bila tekanan darah
tidak membaik
3. Kortikostreroid 7-10 mg hidricortison/kgBB
intravena dilanjutkan dengan 5 mg/kgBB Tiap 6 jam,
yang di hentukan setelah 72 jam.
B. Bila disertai spasme bronkus maka pads pasien
diberikan inhalasi beta -2 agonis.0,9% 10 ml
diberikan berlahan lahan dalam 20 menit, bila perlu
dilanjutkan dengan infuse aminofilin 0,2-1,2
ml/kgBB/jam.

C. Bila disertai edema hebat saluran napas atas maka


pasien dilakukan intubasi dan trakeostomi.

D. Pemantauan paling sedikit 24 jam. Komplikasi


Renjatan ireversibel, kegagalan multi organ failure.
7. Prognosis : Tergantung organ yang terlibat dan beratnya gejala.
8.
Panduan Praktik Klinis RS Medirossa Cibarusah

Panduan Praktek Klinis Urtikaria Karena Obat

1. Nama Penyakit / Diagnosis : URTIKARIA KARENA OBAT


2. Pengertian : Urtikaria karena obat adalah kelainan kulit dan mukosa
yang diinduksi obat berupa papul kemerahan yang cepat
berubah menjadi lepuhan.
3. Diagnosis : Riwayat minum obat sebelumnya yang dapat
menginduksi penyakit, missal OAINS, sulfonamide,
antikonvulsan, penisilin dan tetrasiklin.
Gejala prodormal berupa gejala radang saluran napas
atas : demam, batuk, sakit kepala, malaise, nyeri
menelan. Papul kemerahan yang cepat berubah menjadi
lepuhan. Dalam beberapa hari terjadi erosi multiple
pads membrane mukosa, lepuhan, macula purpura.
Daerah yang terkena lepuhan dan pelepasan kulit <10%
4. Diagnosis Banding : Toxic epidermal necrotican (TEN),eritema multiformis
5. Pemeriksaan Penunjang : - Hitung eosinofil, elektrolit
- Foto torak
- Kultur pus dari kulit, kultur sputum.
6. Terapi : 1. Hentikan obat penyebab
2. Rawat dipusat luka bakar, skin graft dini untuk
mencegah infeksi bakteri
3. Monitor cairan dan elektrolit, termasuk monitor
jumlah urin.
4. Monitor infeksi sekunder dengan melakukan kultur
berkala dari darah dan mukokutan 5. Pemberian
makanan tinggi kalori
6. Penggantian cairan dan elektrolit
7. Suction, postural drainase, nebulizer, terapi infeksi
paru segera 8.Konsultasi mata
9. Irigasi mata dengan salin hangat, cairan lubrikan
mata
10. Antasida cairan dan antagonis 1-12 bila ada ulserasi
gastrointestinal
11. Antibiotik tergantung hasil kuyltur.
7. Komplikasi : Sepsis, syok hipovolemik, syok septic
8. Prognosis : Tergantung beratnya gejala

Anda mungkin juga menyukai