Anda di halaman 1dari 40

TUGAS KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

LAPORAN KASUS INDIVIDU

GIZI BURUK DENGAN SEVERE STUNTING DAN ISPA

Oleh
Sandra Yuliana Andini Putri
H1A 012 052

Pembimbing:
dr. Lina Nurbaiti, M.Kes, FISPH, FISCM
dr. Anom Josafat, MPH

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

PUSKESMAS NARMADA

2017

1
BAB I
PENDAHULUAN
Masalah gizi pada anak merupakan masalah gizi dan kesehatan masyarakat di
Indonesia yang belum teratasi. Riskesdas tahun 2013 menyatakan bahwa Indonesia
mengalami beban ganda permasalahan gizi seperti berat badan kurang (underweight),anak
pendek (stunting), gizi buruk (wasting), dan berat badan berleebih (overweight). Dari
tahun 2007-2011 proporsi penduduk miskin di Indonesia mengalami penurunan sebesar
16,6 12,5%, tetapi masalah gizi tidak menunjukkan penurunan secara signifikan.1,2

Menurut UNICEF tahun 2012, sebanyak 16 provinsi di Indonesia menunjukkan


prevalensi berat badan kurang yang memperngaruhi 20 persen atau lebih anak-anak dan
prevalensi berat badan kurang sangat tinggi terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat
melebihi 30%. 1,2

Masalah gizi terutama anak pendek (stunting) mengahambat perkembangan anak


muda dengan dampak negatif yang berlangsung hingga kehidupan selanjutnya. Studi
menunjukkan bahwa anak pendek sangat berhubungan dengan prestasi pendidikan yang
buruk, lama pendidikan yang menurun dan pendapatan yang rendah sebagai orang dewasa
nantinya. Efek jangka panjang yang terjadi pada individu maupun masyarakat seperti
berkurangnya fungsi kognitif, buruknya perkembangan fisik, menurunnya produktivitas,
menurunnya kualitas kesehatan serta meningkatnya resiko penyakit degeneratif. Stunting
atau gangguan pertumbuhan linear dapat mengakibatkan penurunan Intelligence Quotient
(IQ) pada anak, gangguan perkembangan psikomotor, dan integrasi neurosensori. UNICEF
menyebutkan bahwa stunting merupakan prediktor buruknya kualitas sumber daya
manusia yang diterima secara luas, menurunkan kemampuan produktif suatu bangsa di
masa yang akan datang. 1,2

Gizi kurang tidak terjadi secara tiba-tiba namun diawali dengan adanya kenaikan
berat badan balita yang tidak cukup. Dalam periode waktu 6 bulan, bayi yang tidak naik
berat badannya 2 kali, akan berisiko mengalami gizi kurang. Bila frekuensi berat badan
tidak naik lebih sering,maka risiko untuk menjadi gizi kurang akan semakin besar3.
Beragam penyebab utama dari masalah gizi, diantaranya adalah adalah status sosial
ekonomi, ketidaktahuan ibu tentang pemberian gizi yang baik untuk anak, dan Berat
Badan Lahir Rendah (BBLR), asupan makanan keluarga, faktor infeksi, dan pendidikan
ibu menjadi penyebab.

2
Di wilayah Puskesmas Narmada angka kejadian gizi buruk di Puskesmas
Gunungsari naik turun. Dari data 5 tahun terakhir, jumlah kasus gizi buruk pada tahun
2013 tidak ditemukan kasus gizi buruk di wilayah Puskesmas Narmada, sedangkan tahun
2014 ditemukan 7 kasus. Kemudian mengalami penurunan pada tahun 2015 sebanyak 1
kasus dan terjadi pada tahun 2016 menjadi 6 kasus. Pada tahun 2017 (hingga bulan April)
ditemukan hanya 1 kasus yaitu balita dengan gizi buruk dan HIV.

Untuk gizi kurang, kasus yang ditemukan cukup banyak di wilayah kerja
puskesmas narmada dalam 3 tahun terakhir. Pada tahun 2015 ditemukan 40 kasus gizi
kurang, kemudian pada tahun 2016 ditemukan 97 kasus, dan tahun 2017 (hingga bulan
April) ditemukan 27 kasus gizi kurang.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menanggulangi masalah gizi adalah
adanya deteksi dini dan intervensi awal secara tepat. Puskesmas memiliki peranan yang
sangat penting demi tercapainya tujuan tersebut sebagai ujung tombak dalam pelayanan
kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, laporan ini akan membahas tentang penapisan dan
pencegahan gizi buruk di masyarakat umumnya dan di masyarakat di wilayah Puskesmas
Narmada pada khususnya.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Gambaran Penyakit Gizi Buruk dan Gizi Kurang di Puskesmas Narmada
Selama beberapa tahun terakhir ini, angka kejadian gizi buruk di Puskesmas
Gunungsari naik turun. Dari data 5 tahun terakhir, jumlah kasus gizi buruk pada tahun
2013 tidak ditemukan kasus gizi buruk di wilayah Puskesmas Narmada, sedangkan
tahun 2014 ditemukan 7 kasus. Kemudian mengalami penurunan pada tahun 2015
sebanyak 1 kasus dan terjadi pada tahun 2016 menjadi 6 kasus. Pada tahun 2017
4,5,6,7,8
(hingga bulan April) ditemukan hanya 1 kasus.

Grafik 1. Data Gizi Buruk selama Tahun 2013 2016

Total Kasus Gizi Buruk di Puskesmas


Narmada
8

4
Jumlah Pasien
3

0
2013 2014 2015 2016 2017

Untuk gizi kurang, kasus yang ditemukan cukup banyak di wilayah kerja
puskesmas narmada dalam 3 tahun terakhir. Pada tahun 2015 ditemukan 40 kasus gizi
kurang, kemudian pada tahun 2016 ditemukan 97 kasus, dan tahun 2017 (hingga bulan
April) ditemukan 27 kasus gizi kurang.

2.2 Klasifikasi Status Gizi

2.2.1 Definisi dan Kriteria Gizi Buruk

Gizi Buruk ditentukan berdasarkan beberapa pengukuran antara lain:

4
Pengukuran klinis : metode ini penting untuk mengetahui status gizi balita tersebut
gizi buruk atau tidak. Metode ini pada dasarnya didasari oleh perubahan-perubahan
yang terjadi dan dihubungkan dengan kekurangan zat gizi. Hal ini dapat dilihat
pada jaringan epitel seperti kulit,rambut,atau mata.
Pengukuran antropometrik : pada metode ini dilakukan beberapa macam
pengukuran antara lain pengukuran tinggi badan,berat badan, dan lingkar lengan
atas. Beberapa pengukuran tersebut, berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas
sesuai dengan usia yang paling sering dilakukan dalam survei gizi. Di dalam ilmu
gizi, status gizi tidak hanya diketahui denganmengukur BB atau TB sesuai dengan
umur secara sendiri-sendiri, tetapi juga dalam bentuk indikator yang dapat
merupakan kombinasi dari ketiganya.
Berdasarkan Berat Badan menurut Umur (BB/U) diperoleh kategori :
1. Tergolong gizi buruk jika hasil ukur lebih kecil dari -3 SD.
2. Tergolong gizi kurang jika hasil ukur -3 SD sampai dengan < -2 SD.
3. Tergolong gizi baik jika hasil ukur -2 SD sampai dengan 2 SD.
4. Tergolong gizi lebih jika hasil ukur > 2 SD.
Berdasarkan pengukuran Tinggi Badan (24 bulan-60 bulan) atau Panjang badan (0
bulan-24 bulan) menurut Umur (PB/U) diperoleh kategori :
1. Sangat pendek jika hasil ukur lebih kecil dari -3 SD.
2. Pendek jika hasil ukur 3 SD sampai dengan < -2 SD.
3. Normal jika hasil ukur -2 SD sampai dengan 2 SD.
4. Tinggi jika hasil ukur > 2 SD.
Berdasarkan pengukuran Berat Badan menurut Tinggi badan atau Panjang Badan
(BB/TB):
1. Sangat kurus jika hasil ukur lebih kecil dari -3 SD.
2. Kurus jika hasil ukur 3 SD sampai dengan < -2 SD.
3. Normal jika hasil ukur -2 SD sampai dengan 2 SD.
4. Gemuk jika hasil ukur > 2 SD.
Balita dengan gizi buruk akan diperoleh hasil BB/TB sangat kurus, sedangkan balita
dengan gizi baik akan diperoleh hasil normal. 2

5
2.2.2 Epidemiologi

WHO dalam berbagai publikasinya telah mengumumkan bahwa penyebab


kematian nomor satu di dunia termasuk di Asia dan Indonesia adalah PTM (Penyakit
Tidak Menular). Di Indonesia penyebab kematian karena penyakit menular menurun dari
44,2 persen tahun 1995 menjadi 28,1 persen tahun 2007. Sedangkan pada periode yang
sama kematian karena PTM meningkat hampir 50 persen dari 41,7 persen menjadi 59,5
persen.

Saat ini Indonesia menduduki peringkat kelima di dunia dalam kasus gizi buruk.
Kemenkes memprioritaskan penanggulangan gizi buruk di enam provinsi yaitu Jawa Barat,
Jawa Timur, Gorontalo, Sulawesi Barat, NTB dan NTT karena masih banyaknya kasus
gizi buruk yang ditemukan.

Secara nasional sudah terjadi penurunan prevalensi kurang gizi (berat badan
menurut umur) pada balita dari 17,8 persen tahun 2010 menjadi 19,6 persen tahun 2013.
Penurunan terjadi pada prevalensi gizi buruk yaitu dari 5,4 persen pada tahun 2007
menjadi 4,9 persen tahun 2010 dan meningkat kembali menjadi 5,9 persen pada tahun
2013. Tidak terjadi penurunan pada prevalensi gizi kurang, yaitu naik menjadi 13,9 persen.
Prevalensi pendek pada balita tahun 2013 adalah 37,2 persen, meningkat dari 35,6 persen
pada tahun 2010. Sedangkan pada tahun 2013 prevalensi sangat pendek menunjukkan
penurunan, dari 18,8 persen tahun 2007 dan 18,5 persen tahun 2010. Prevalensi sangat
kurus secara nasional tahun 2013 masih cukup tinggi yaitu 5,3 persen, terdapat penurunan
dibandingkan tahun 2010 (6,0 %) dan tahun 2007 (6,2 %). Demikian pula halnya dengan
prevalensi kurus sebesar 6,8 persen juga menunjukkan adanya penurunan dari 7,3 persen
(tahun 2010) dan 7,4 persen (tahun 2007). Secara keseluruhan prevalensi anak balita kurus
dan sangat kurus menurun dari 13,6 persen pada tahun 2007 menjadi 12,1 persen pada
tahun 2013
Walaupun secara nasional terjadi penurunan prevalensi masalah gizi pada balita,
tetapi masih terdapat kesenjangan antar provinsi. Terdapat 18 provinsi yang memiliki
prevalensi gizi kurang dan buruk diatas prevalensi nasional. Masih ada 15 provinsi dimana
prevalensi anak pendek di atas angka nasional, dan untuk prevalensi anak kurus. Untuk
prevalensi pendek pada balita masih ada 15 provinsi yang memiliki prevalensi diatas
prevalensi nasional, dan untuk prevalensi anak kurus teridentifikasi 19 provinsi yang
memiliki prevalensi diatas prevalensi nasional. 1,2

6
2.2.3 Gizi Buruk

Gizi buruk berdasarkan gejala klinisnya dapat dibagi menjadi 3 :

2.2.3.1 Klasifikasi Marasmus

Marasmus merupakan salah satu bentuk gizi buruk yang paling sering ditemukan pada
balita. Hal ini merupakan hasil akhir dari tingkat keparahan gizi buruk. Gejala marasmus
antara lain anak tampak kurus, rambut tipis dan jarang, kulit keriput yang disebabkan
karena lemak di bawah kulit berkurang, muka seperti orang tua (berkerut), balita cengeng
dan rewel meskipun setelah makan, bokong baggy pant, dan iga gambang.

2.2.3.2 Kwashiorkor

Kwashiorkor adalah suatu bentuk malnutrisi protein yang berat disebabkan oleh asupan
karbohidrat yang normal atau tinggi dan asupan protein yang inadekuat.Seperti
marasmus,kwashiorkor juga merupakan hasil akhir dari tingkat keparahan gizi buruk.
Tanda khas kwashiorkor antara lain pertumbuhan terganggu, perubahan mental,pada
sebagian besar penderita ditemukan oedema baik ringan maupun berat, gejala
gastrointestinal, rambut kepala mudah dicabut, kulit penderita biasanya kering dengan

7
menunjukkan garis-garis kulit yang lebih mendalam dan lebar, sering ditemukan
hiperpigmentasi, pembesaran hati, anemia ringan, pada biopsi hati ditemukan perlemakan.

2.2.3.3 Marasmic-Kwashiorkor

Marasmic-kwashiorkor gejala klinisnya merupakan campuran dari beberapa gejala klinis


antara kwashiorkor dan marasmus dengan Berat Badan (BB) menurut umur (U) < 60%
baku median WHO-NCHS yang disertai oedema yang tidak mencolok.

2.2.4. Faktor risiko

Faktor risiko gizi buruk antara lain :

- Asupan makanan

Asupan makanan yang kurang disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain tidak
tersedianya makanan secara adekuat, anak tidak cukup atau salah mendapat makanan
bergizi seimbang, dan pola makan yang salah. Kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan balita
adalah air, energi, protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Memilih makanan
yang tepat untuk balita harus menentukan jumlah kebutuhan dari setiap nutrien,
menentukan jenis bahan makanan yang dipilih, dan menentukan jenis makanan yang akan
diolah sesuai dengan hidangan yang dikehendaki.

Sebagian besar balita dengaan gizi buruk memiliki pola makan yang kurang
beragam. Pola makanan yang kurang beragam memiliki arti bahwa balita tersebut
mengkonsumsi hidangan dengan komposisi yang tidak memenuhi gizi seimbang.
Berdasarkan dari keseragaman susunan hidangan pangan, pola makanan yang meliputi gizi
seimbang adalah jika mengandung unsur zat tenaga yaitu makanan pokok, zat pembangun
dan pemelihara jaringan yaitu lauk pauk dan zat pengatur yaitu sayur dan buah.

- Status sosial ekonomi

Sosial adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat sedangkan ekonomi adalah
segala usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan untuk mencapai kemakmuran hidup
Sosial ekonomi merupakan suatu konsep dan untuk mengukur status sosial ekonomi
keluarga dilihat dari variabel tingkat pekerjaan. Rendahnya ekonomi keluarga, akan
berdampak dengan rendahnya daya beli pada keluarga tersebut. Selain itu rendahnya
kualitas dan kuantitas konsumsi pangan, merupakan penyebab langsung dari kekurangan

8
gizi pada anak balita. Keadaan sosial ekonomi yang rendah berkaitan dengan masalah
kesehatan yang dihadapi karena ketidaktahuan dan ketidakmampuan untuk mengatasi
berbagai masalah tersebut. Balita dengan gizi buruk pada umumnya hidup dengan
makanan yang kurang bergizi.

- Pendidikan ibu

Kurangnya pendidikan dan pengertian yang salah tentang kebutuhan pangan dan
nilai pangan adalah umum dijumpai setiap negara di dunia. Kemiskinan dan kekurangan
persediaan pangan yang bergizi merupakan faktor penting dalam masalah kurang gizi.
Salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya kemiskinan adalah pendidikan yang
rendah. Adanya pendidikan yang rendah tersebut menyebabkan seseorang kurang
mempunyai keterampilan tertentu yang diperlukan dalam kehidupan. Rendahnya
pendidikan dapat mempengaruhi ketersediaan pangan dalam keluarga, yang selanjutnya
mempengaruhi kuantitas dan kualitas konsumsi pangan yang merupakan penyebab
langsung dari kekurangan gizi pada anak balita.

- Penyakit penyerta

Balita yang berada dalam status gizi buruk, umumnya sangat rentan terhadap
penyakit. Seperti lingkaran setan, penyakit-penyakit tersebut justru menambah rendahnya
status gizi anak. Penyakit-penyakit tersebut adalah:

1. Diare persisten : sebagai berlanjutnya episode diare selama 14 hari atau lebih
yang dimulai dari suatu diare cair akut atau berdarah (disentri). Kejadian ini sering
dihubungkan dengan kehilangan berat badan dan infeksi non intestinal.

2. Tuberkulosis : Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh


Mycobacterium tuberculosis, yaitu kuman aerob yang dapat hidup terutama di paru
atau di berbagai organ tubuh hidup lainnya yang mempunyai tekanan parsial
oksigen yang tinggi. Bakteri ini tidak tahan terhadap ultraviolet, karena itu
penularannya terjadi pada malam hari. Tuberkulosis ini dapat terjadi pada semua
kelompok umur, baik di paru maupun di luar paru.

3. HIV AIDS : HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus.


HIV merupakan retrovirus yang menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh
manusia dan menghancurkan atau mengganggu fungsinya. Infeksi virus ini

9
mengakibatkan terjadinya penurunan sistem kekebalan yang terus-menerus, yang
akan mengakibatkan defisiensi kekebalan tubuh.

4. Pneumonia :

Beberapa keadaan seperti gangguan nutrisi (malnutrisi), usia muda, kelengkapan


imunisasi, kepadatan hunian, defisiensi vitamin A, dan defisiensi Zn merupakan
faktor resiko untuk terjadinya gagal tumbuh yang berujung pada kondisi gizi buruk.

Penyakit tersebut di atas dapat memperburuk keadaan gizi melalui gangguan intake
makanan dan meningkatnya kehilangan zat-zat gizi esensial tubuh. Terdapat hubungan
timbal balik antara kejadian penyakit dan gizi kurang maupun gizi buruk.Anak yang
menderita gizi kurang dan gizi buruk akan mengalami penurunan daya tahan, sehingga
rentan terhadap penyakit. Di sisi lain anak yang menderita sakit akan cenderung menderita
gizi buruk.

- Berat Badan Lahir Rendah

Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500
gram tanpa memandang masa gestasi sedangkan berat lahir adalah berat bayi yang
ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir. Pada BBLR zat anti kekebalan kurang
sempurna sehingga lebih mudah terkena penyakit terutama penyakit infeksi. Penyakit ini
menyebabkan balita kurang nafsu makan sehingga asupan makanan yang masuk kedalam
tubuh menjadi berkurang dan dapat menyebabkan gizi buruk.

- Kelengkapan imunisasi

Kelompok yang paling penting untuk mendapatkan imunisasi adalah bayi dan
balita karena meraka yang paling peka terhadap penyakit dan sistem kekebalan tubuh
balita masih belum sebaik dengan orang dewasa. Apabila balita tidak melakukan
imunisasi, maka kekebalan tubuh balita akan berkurang dan akan rentan terkena penyakit.
Hal ini mempunyai dampak yang tidak langsung dengan kejadian gizi. Imunisasi tidak
cukup hanya dilakukan satu kali tetapi dilakukan secara bertahap dan lengkap terhadap
berbagai penyakit untuk mempertahankan agar kekebalan dapat tetap melindungi terhadap
paparan bibit penyakit.

10
- ASI

Hanya 14% ibu di Indonesia yang memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif kepada
bayinya sampai enam bulan. Rata-rata bayi di Indonesia hanya menerima ASI eksklusif
kurang dari dua bulan.

Selain ASI mengandung gizi yang cukup lengkap, ASI juga mengandung antibodi
atau zat kekebalan yang akan melindungi balita terhadap infeksi. Hal ini yang
menyebabkan balita yang diberi ASI, tidak rentan terhadap penyakit dan dapat berperan
langsung terhadap status gizi balita. Selain itu, ASI disesuaikan dengan sistem pencernaan
bayi sehingga zat gizi cepat terserap. Berbeda dengan susu formula atau makanan
tambahan yang diberikan secara dini pada bayi. Susu formula sangat susah diserap usus
bayi. Pada akhirnya, bayi sulit buang air besar. Apabila pembuatan susu formula tidak
steril, bayi akan rawan diare.

Malnutrisi energi protein (MEP) merupakan salah satu dari empat masalah gizi
utama di Indonesia. Prevalensi yang tinggi terdapat pada anak di bawah umur lima tahun
(balita) serta pada ibu hamil dan menyusui. Berdasarkan Riskesdas 2007, 13% balita
menderita gizi kurang dan 5,4% balita menderita gizi buruk. Pada Risdesdas 2010, 13%
balita menderita gizi kurang sedangkan angka gizi buruk turun menjadi 4,9%.

Berdasarkan lama dan beratnya kekurangan energi protein, MEP diklasifikasikan


menjadi MEP derajat ringan-sedang (gizi kurang) dan MEP derajat berat (gizi buruk). Gizi
kurang belum menunjukkan gejala klinis yang khas, hanya dijumpai gangguan
pertumbuhan dan anak tampak kurus. Pada gizi buruk, di samping gejala klinis didapatkan
kelainan biokimia sesuai dengan bentuk klinis. Pada gizi buruk didapatkan 3 bentuk klinis
yaitu kwashiorkor, marasmus, dan marasmik kwashiorkor, walaupun demikian
penatalaksanaannya sama.

- Infeksi Akut Persisten


Infeksi akut yag berjalan persisten (diare, pneumonia, TB) menyerang balita yag
pada awalnya tidak mengalami gizi buruk, namun dengan adanya paparan infeksi akut
yang terus berulang akan melemahkan sistem imun, sehingga mengurangi asupan nutrisi,
sehingga mejadi gizi kurang dan lanjut menjadi gizi b uruk apabila tidak di terapi dengan
adekuat.

11
2.2.5 Tatalaksana

MEP berat ditata laksana melalui 3 fase (stabilisasi, transisi dan rehabilitasi)
dengan 10 langkah tindakan seperti tabel di bawah ini :7,8

Tabel 1. Sepuluh Langkah Tatalaksana MEP Berat

No Fase Stabilisasi Transisi Rehabilitasi


Hari ke 1-2 Hari ke 2-7 Minggu ke-2 Minggu ke 3-7
1. Hipoglikemia
2. Hipotermia
3. Dehidrasi
4. Elektrolit
5. Infeksi
6. Mulai Pemberian
Makanan (F-75)
7. Pemberian
Makanan untuk
Tumbuh Kejar (F-
100)
8. Mikronutrien Tanpa Fe Dengan Fe
9. Stimulasi
10. Tindak Lanjut

Tabel 2. Komposisi F-75, F-100, dan F-135 Beserta Nilai Gizi Masing-Masing
Formula

Bahan makanan Per 1000 ml F-75 F-100 F-135


Formula WHO
Susu skim bubuk G 25 85 90
Gula pasir g 100 50 65
Minyak sayur g 30 60 75
Larutan elektrolit ml 20 20 27
Air sampai ml 1000 1000 1000

12
Nilai gizi
Energi Kkal 750 1000 1350
Protein g 9 29 33
Laktosa g 13 42 48
Kalium mmol 36 59 63
Natrium mmol 6 19 22
Magnesium mmol 4,3 7,3 8
Seng mg 20 23 30
Tembaga (Cu) mg 2,5 2,5 3,4
% Energi protein - 5 12 10
% Energi lemak - 36 53 57
Osmolaritas mosm/l 413 419 508

2.2.5.1 Cara Membuat Formula WHO7,8

Formula WHO 75

Campurkan gula dan minyak sayur, aduk sampai rata dan tambahkan larutan mineral mix,
kemudian masukkan susu skim sedikit demi sedikit, aduk sampai kalis dan berbentuk gel.
Encerkan dengan air hangat sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai homogen dan
volume menjadi 1000 ml. Larutan ini bisa langsung diminum. Masak selama 4 menit, bagi
anak yang disentri atau diare persisten.

Formula WHO 100

Campurkan gula dan minyak sayur, aduk sampai rata dan tambahkan larutan mineral mix,
kemudian masukkan susu skim sedikit demi sedikit, aduk sampai kalis dan berbentuk gel.
Encerkan dengan air hangat sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai homogen dan
volume menjadi 1000 ml. Larutan ini bisa langsung diminum atau dimasak dulu selama 4
menit. 3,7,8

2.2.5.2 Medikamentosa

1. Pengobatan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.


Rehidrasi secara oral dengan Resomal, secara parenteral hanya pada dehidrasi berat
atau syok.

13
2. Atasi/cegah hipoglikemia.
GDA < 50 mg/dl 50 ml D10% bolus IV evaluasi tiap 2 jam beri makanan tiap
2 jam.
3. Atasi gangguan elektrolit.
Beri cairan rendah Na (resomal).
Makanan rendah garam.
4. Atasi/cegah dehidrasi.
Penilaian dehidrasi denyut nadi, pernafasan, frekuensi kencing, air mata.
Cairan resomal peroral 5 ml/kgbb.
5. Atasi/cegah hipotermia.
Suhu < 36 hangatkan, berikan makanan tiap 2 jam.
6. Antibiotika sebagai pengobatan pencegahan infeksi:
a. Bila tidak jelas ada infeksi, berikan kotrimoksasol selama 5 hari.
b. Bila infeksi nyata: Ampisilin IV selama 2 hari, dilanjutkan dengan oral
sampai 7 hari, ditambah dengan gentamisin IM selama 7 hari.
7. Mulai pemberian makanan.
Fase awal faali hemostasis kurang jadi harus hati-hati.
Pemberian porsi kecil, sering, rendah laktosa oral nasogastrik.
Kalori 80-100 kal?Kgbb/ hari, cairan 130 ml/hari.
8. Atasi penyakit penyerta yang ada sesuai pedoman.
9. Vitamin A (dosis sesuai usia, yaitu <6 bulan : 50.000 SI, 6-12 bulan : 100.000 SI,
>1 tahun : 200.000 SI) pada awal perawatan dan hari ke-15 atau sebelum pulang.
10. Multivitamin-mineral, khusus asam folat hari pertama 5 mg, selanjutnya 1 mg per
hari.
11. Tindakan kegawatan
a. Syok (renjatan)
Syok karena dehidrasi atau sepsis sering menyertai KEP berat dan sulit
membedakan keduanya secara klinis saja.
Syok karena dehidrasi akan membaik dengan cepat pada pemberian cairan
intravena, sedangkan pada sepsis tanpa dehidrasi tidak akan membaik
dengan cepat. Hati-hati terhadap terjadinya overhidrasi.
Pedoman pemberian cairan:
Berikan larutan dextrosa 5% : NaCl 0.9% (1:1) atau larutan ringer dengan
kadar dextrosa 5% sebanyak 15 ml/KgBB dalam satu jam pertama.

14
Evaluasi setelah 1 jam:
i. Bila ada perbaikan klinis (kesadaran, frekuensi nadi dan pernafasan)
dan status hidrasi, maka syok disebabkan dehidrasi. Ulangi
pemberian cairan seperti di atas untuk 1 jam berikutnya, kemudian
lanjutkan dengan pemberian Resomal/penggantil, per
oral/nasogastrik, 10 ml/kgBB/jam selama 10 jam, selanjutnya mulai
berikan formula khusus (-75/pengganti).
ii. Bila tidak ada perbaikan klinis maka anak menderita syok septik.
Dalam hal ini, berikan cairan rumat sebanyak 4 ml/kgBB/jam dan
berikan transfusi darah sebanyak 10 ml/kgBB secara perlahan-lahan
(dalam 3 jam). Kemudian mulailah pemberian formula (F-
75/pengganti).
b. Anemia berat
Tranfusi darah diperlukan bila:
i. Hb < 4 g/dl
ii. Hb 4-6 g/dl disertai distress pernafasan atau tanda gagal jantung
Tranfusi darah:

1. Berikan darah segar 10 ml/kgBB dalam 3 jam


Bila ada tanda gagal jantung, gunakan packed red cells untuk
transfusi dengan jumlah yang sama.
2. Beri furosemid 1 mg/kgBB secara i.v pada saat transfusi dimulai.
Perhatikan adanya reaksi tranfusi (demam, gatal, Hb-uria, syok).
Bila pada anak dengan distres nafas setelah transfusi Hb tetap < 4
g/dl atau antara 4-6 g/dl, jangan ulangi pemberian darah.

12. Berikan stimulasi sensorik dan dukungan emosional


Kasih sayang, lingkungan yang ceria, bermain.
13. Tindak lanjut di rumah
Beri makanan sering energi dan protein padat.

15
Tabel 3. Cara Membuat Resomal

Terdiri dari:
Bubuk WHO-ORS* /Oralit untuk 200 ml : 1 pak
Gula pasir : 10 gram
Larutan elektrolit/mineral mix** : 8 ml
Ditambah air sampai larutan menjadi : 400 ml
Setiap 1 liter cairan Resomal ini mengandung 37,5 mEq Na, 40 mEq, dan 1,5 mEq Mg
*Bubuk WHO-ORS untuk 1 liter mengandung 2,6 g NaCl, 2,9 g trisodium citrat sesuai
formula baru, 1,5 g KCl dan 13,5 gram glukosa.
**Lihat Tabel 4.

Tabel 4. Komposisi Larutan Mineral Mix

Kandungan Jumlah
Kalium klorida 89,5 g
Trikalium sitrat 32,4 g
Magnesium klorida (MgCl2.6H2O) 30,5 g
Seng asetat 3,3 g
Tembaga sulfat 0,56 g
Natrium selenate 10 mg
Kalium iodide 5 mg
Air sampai volume mencapai 1000 ml

2.2.5.3 Suportif / Dietetik

1. Oral (enteral): sesuai kebutuhan energi, protein dan cairan sesuai fase-fase tata
laksana gizi buruk.
2. Intravena (parenteral): hanya atas indikasi tepat.
Tabel 5. Kebutuhan Energi, Protein dan Cairan Sesuai Fase Tatalaksana Gizi Buruk
Stabilisasi (F75) Transisi (F75 F100) Rehabilitasi (F100)
Energi 80-100 kkal/kgbb/hr 100-150 kkal/kgbb/hr 15-220/kgbb/hr
Protein 1-1,5 g/kgbb/hr 2-3 g/kgbb/hr 4-6 g/kgbb/hr
Cairan 100-130 ml/kgbb/hr Bebas sesuai kebutuhan
Bila ada edema berat: energi
100 ml/kgbb/hr

16
Hal penting yang harus diperhatikan:

1. Jangan beri Fe sebelum minggu ke-2.


2. Jangan berikan cairan IV, kecuali syok atau dehidrasi berat.
3. Jangan beri protein terlalu tinggi.
4. Jangan beri diuretik pada kwashiorkor.
5. Jangan beri infus albumin pada kwashiorkor.
2.2.5.4 Memberikan Stimulasi Sensorik dan Dukungan Emosional

Pada anak gizi buruk terjadi perkembangan mental dan perilaku karenanya harus
diberikan:

1. Kasih sayang
2. Lingkungan yang ceria
3. Terapi bermain terstuktur selama 15 30 menit/hari (permainan ci luk ba, dl)
4. Aktifitas fisik segera setelah sembuh
5. Keterlibatan ibu (memberi makan, memandikan, bermain dan sebagainya.
2.2.5.5 Kriteria Pemulangan Balita Gizi Buruk dari Ruang Rawat Inap

1. Balita:
a. Selera makan sudah bagus, makanan yang diberikan dapat dihabiskan
b. Ada perbaikan kondisi mental
c. Balita sudah dapat tersenyum, duduk, merangkak, berdiri atau berjalan,
sesuai dengan umurnya
d. Suhu tubuh berkisar antara 36,5 37,5 C
e. Tidak ada muntah atau diare
f. Tidak ada edema
g. Terdapat kenaikan berat badan > 5 g/kgBB/hr selama 3 hari berturut-turut
atau kenaikan sekitar 50 g/kgBB/minggu selama 2 minggu berturut-turut
h. Sudah berada di kondisi gizi kurang (sudah tidak gizi buruk)
2. Ibu / Pengasuh:
a. Sudah dapat membuat makanan yang diperlukan untuk tumbuh kejar di
rumah
b. Ibu sudah mampu merawat serta memberikan makan dengan benar kepada
balita
c.

17
3. Institusi Lapangan:
Institusi lapangan telah siap untuk menerima rujukan pasca perawatan.

2.2.5.6 Pemantauan
1. Kriteria Sembuh: BB/TB > -2 SD
2. Tumbuh Kembang:
a. Memantau status gizi secara rutin dan berkala
b. Memantau perkembangan psikomotor
3. Edukasi
Memberikan pengetahuan pada orang tua tentang:
a. Pengetahuan gizi
b. Melatih ketaatan dalam pemberian diet
c. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan

2.2.5.7.Tindak Lanjut di Rumah Bagi Anak Gizi Buruk


1. Bila gejala klinis dan BB/TB-PB -2 SD dapat dikatakan anak sembuh
2. Pola pemberian makan yang baik dan stimulasi harus tetap dilanjukan di rumah
setelah penderita dipulangkan
Beri contoh kepada orang tua:
1. Menu dan cara membuat makanan dengan kandungan energi dan zat gizi yang
padat, sesuai dengan umur, berat badan anak.
2. Terapi bermain terstuktur
Sarankan:

1. Memberikan makanan dengan porsi kecil dan sering, sesuai dengan umur anak
2. Membawa anaknya kembali untuk kontrol secara teratur:
Bulan I : 1x/minggu
Bulan II : 1x/2 minggu
Bulan III-IV : 1x/bulan
3. Pemberian suntikan/imunisasi dasar dan ulangan (booster)
4. Pemberian vitamin A dosis tinggi setiap 6 bulan sekali (dosis sesuai umur)

18
2.2.5.8 Langkah Promotif/Preventif

Malnutrisi energi protein merupakan masalah gizi yang multifaktorial. Tindakan


pencegahan bertujuan untuk mengurangi insidens dan menurunkan angka kematian. Oleh
karena ada beberapa faktor yang menjadi penyebab timbulnya masalah tersebut, maka
untuk mencegahnya dapat dilakukan beberapa langkah, antara lain:

a. Pola Makan
Penyuluhan pada masyarakat mengenai gizi seimbang (perbandingan jumlah
karbonhidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral berdasarkan umur dan berat
badan)
b. Pemantauan tumbuh kembang dan penentuan status gizi secara berkala (sebulan
sekali pada tahun pertama)
c. Faktor sosial
Mencari kemungkinan adanya pantangan untuk menggunakan bahan makanan
tertentu yang sudah berlangsung secara turun-temurun dan dapat menyebabkan
terjadinya MEP.
d. Faktor ekonomi
Dalam World Food Conference di Roma tahun 1974 telah dikemukakan bahwa
meningkatnya jumlah penduduk yang cepat tanpa diimbangi dengan bertambahnya
persediaan bahan makanan setempat yang memadai merupakan sebab utama krisis
pangan, sedangkan kemiskinan penduduk merupakan akibat lanjutannya.
Ditekankan pula perlunya bahan makanan yang bergizi baik di samping
kuantitasnya.
e. Faktor infeksi
Telah lama diketahui adanya interaksi sinergis antara MEP dan infeksi. Infeksi
derajat apapun dapat memperburuk keadaan status gizi. MEP, walaupun dalam
derajat ringan, menurunkan daya tahan tubuh terhadap infeksi. 3,7,8,9,10

19
BAB III

LAPORAN KASUS

3.1 Identitas Pasien

Nama : An. Z.A


Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 24 bulan
BBL : 2700 gram
Tanggal Lahir : 9 Mei 2015
Alamat : Sembung Barat
Tanggal Pemeriksaan : 15 Mei 2017

Identitas Keluarga
Identitas Ibu Ayah
Nama Ny. N Tn. H

Umur 22 th 30 th

Pendidikan SMA S1

Pekerjaan Tidak Bekerja Guru Honorer

Status Menikah

3.2 Heteroanamnesis (orang tua pasien)

Keluhan Utama :
Berat badan tidak pernah naik.

Keluhan Tambahan :
- Batuk berdahak
- Pilek

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien dibawa oleh orangtuanya ke Posyandu Mawar Desa Sembung Barat
untuk penimbangan secara rutin dan imunisasi campak booster. Sebelum imunisasi,

20
dilakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan terhadap pasien. Dari hasil
pengukuran ditemukan bahwa BB/U pasien terletak dibawah garis merah sejak
berusia 14 bulan. Orang tua pasien memberikan informasi bahwa pasien tidak pernah
naik berat badannya sejak 10 bulan terakhir.

Riwayat Penyakit Dahulu :

Pada usaat usia 10 bulan pasien sempat mencret selama 4 hari kemudian
dibawa berobat ke puskesmas. Orang tua pasien memberikan informasi bahwa
pasien tidak pernah naik berat badannya sejak 10 bulan terakhir, dan terus
mengalami batuk dan pilek yang kambuh-kambuhan sejak pasien berusia 6 bulan
lebih. Riwayat batuk lama terus menerus, kejang demam disangkal.

Riwayat Pengobatan :
Pasien tidak pernah dirawat di rumah sakit. Selama ini apabila pasien
mengalami batuk atau pilek, orangtua pasien akan membawa berobat ke Puskesmas
Narmada. Ketika usia 10 bulan pasien sempat mencret dan dibawa berobat ke
Puskesmas dan diberikan oralit serta zinc.

Riwayat Penyakit Keluarga :

Orang tua pasien menyangkal adanya penyakit keturunan dalam keluarga


baik ibu pasien dan ayah pasien seperti penyakit jantung, diabetes melitus,
hipertensi, alergi ataupun asma.

Riwayat Kehamilan dan Riwayat Persalinan :


Pasien merupakan anak pertama dari kehamilan ibu yang pertama.
Kehamilan ibu tidak diketahui segera, karena sehabis pemakain KB pil menstruasi
dikatakan tidak teratur. Selama hamil, ibu pasien mengaku rutin memeriksakan
kehamilannya setiap bulan di posyandu. Adanya sakit berat seperti tekanan darah
tinggi, kejang, perdarahan, ataupun trauma selama hamil disangkal. Ibu pasien juga
tidak pernah meminum obat-obatan selain yang diberikan oleh dokter ataupun jamu
selama hamil, kecuali vitamin penambah darah yang diberikan di posyandu.

Pasien lahir secara normal dibantu oleh bidan di posyandu Menurut ibu saat
lahir, pasien langsung menangis dan warna kulit bayi kemerahan. Berat badan pasien
saat lahir adalah 2700 gram, panjang badan lahir 48 cm.

21
Riwayat Imunisasi :

Pasien mendapatkan imunisasi dasar lengkap di posyandu sesuai jadwal.

BCG (+) pada umur 1 bulan

Polio (3x) pada umur 0,2,3 bulan

Hepatitis (3x) pada umur 0, 2, 3 bulan

DPT (3x) pada umur 2, 3,4 bulan

Campak (1x) pada umur 9 bulan

Riwayat Nutrisi :

Pasien sudah berhenti diberikan ASI sejak 2 minggu yang lalu. Saat ini pasien
diberikan makanan yang sama dengan makanan keluarga yang lain. Orang tua pasien
mengaku bahwa nafsu makan pasien tidak baik dan sulit untuk diberikan makan.
Susu formula terkadang diberikan apabila pasien yang meminta. Ibu pasien mengaku
ASI tidak langsung diberikan sejak lahir dikarenakan ASI belum keluar, sehingga
pasien mendapatkan susu formula selama 1 hari kemudian baru ASI. Pasien telah
mendapatkan makanan pendamping ASI pada usia 6 bulan berupa bubur.

Riwayat Tumbuh Kembang :

Pasien saat ini sudah bisa berjalan. Pasien dapat mengucapkan kalimat yang terdiri
dari 2 kata atau lebih panjang namun pengucapan belum terlalu jelas. Perkembangan
sosial pasien dapat pasien berinteraksi dengan teman sebaya dilingkungan
rumahnya.

22
Iktisar Keluarga

Riwayat Sosial dan Lingkungan

Pasien tinggal bersama kedua orang tua serta paman dan bibinya. Pasien berasal dari
keluarga ekonomi menengah. Pendapatan keluarga berasal dari ayah pasien yang
bekerja sebagai guru honorer yaitu sekitar Rp 500.000 per bulan yang dibayar tiap 3
bulan sekali.

Rumah tinggal pasien terdiri dari 3 ruang tidur, 1 ruang keluarga, 1 dapur. Luas
rumah pasien 8x6 meter, didepan rumah terdapat kandang burung dara.
Pekarangan tidak berpagar dan menyatu dengan tetangga. Jarak dengan rumah
tetangga sekitar 3m yang terletak disebelah timur. Lantai rumah terbuat dari semen,
dinding rumah berupa tembok batu bata, dan atap rumah terbuat dari genteng.
Jendela dirumah pasien hanya 3 buah yang berada di dapur dan ruang tengah. Kamar
pasien dan orang tuanya menyatu dengan dapur, terdapat satu jendela dikamar pasien
yang menghadap ke dapur. Namun jendela tersebut tidak pernah dibuka. Sehingga
suasana didalam kamar terasa agak lembab dan tidak terlalu terang.

Untuk MCK, keluarga pasien tidak memiliki jamban. Didekat rumah pasien terdapat
sungai, untuk kebutuhan BAB dan BAK dilakukan di bilik yang pembuangannya
mengarah ke sungai. Untuk minum, langsung diambil dari pancuran mata air tanpa
dimasak terlebih dahulu. Pancuran tersebut merupakan mata air galian yang letaknya

23
di seberang sungai dan dialirkan melalui pipa bambu. Untuk mencapai pancuran
tersebut harus turun ke arah sungai melalui turunan setapak yang cukup curam dan
licin. Untuk memasak, mencuci piring, dan mencuci baju, sumber air yang
digunakan adalah air sumur yang terletak disamping rumah.

Ibu pasien mengaku bahwa ayah pasien tidak merokok Untuk memasak, keluarga
pasien menggunakan kompor gas, namun terkadang pasien mengaku menggunakan
kompor minyak untuk memasak. Diakui saudara-saudara sepupu pasien yang tinggal
berdekatan dengan rumah pasien dan sering main berkunjung ke rumah pasien juga
sering mengalami batuk, pilek, demam, dan sesak namun membaik setelah berobat.

Disekitar rumah pasien terdapat pohon-pohon yang cukup besar sehingga rumah
terkesan teduh. Sekitar 2 meter didepan teras rumah terdapat kandang burung. Jarak
antar rumah lain cukup jauh dan pekarangan rumah pasien menyatu dengan tetangga,
tanpa ada pagar pembatas dan disebelah utara langsung berbatasan dengan sungai
tanpa ada pagar yang membatasi. Di pekarangan tersebut banyak hewan ternak
seperti ayam dan bebek yang berkeliaran. Sampah rumah tangga keluarga
dikumpulkan pada tanah galian sampah yang terletak dipekarangan yang nantinya
dibakar di tempat itu, jarak pembakaran sampah sekitar 8 meter dari rumah.

Pasien sering meminta uang untuk jajan di warung berupa snack, permen, dan
makanan ringan lainnya,sehingga pasien merasa kenyang dan susah untuk makan.
Pasien juga dibiarkan bermain di pekarangan dipekarangan tanpa memakai sandal
dan terkadang pasien bermain hingga siang sehingga tidak tidur siang. Adanya
faktor internal meliputi kondisi pasien dan peran orangtua yang sangat berperan
terhadap timbulnya penyakit pada pasien, namun faktor eksternal yaitu lingkungan
juga mungkin sangat berpengaruh untuk memudahkan terjadinya penyakit secara
berulang. Secara keseluruhan keadaan dalam rumah dan lingkungannya masih
kurang terjaga kebersihan dan kerapihannya.

24
Denah Rumah

Ket:
Pintu
Jendela

Rumah Tampak Depan

Bagian Dapur

25
Kamar Pasien dan Orang Tua

Sumur Untuk Mencuci

WC Jalan menurun menuju sumber mata air

26
A

Sumber mata air galian warga setempat, digunakan untuk minum

3.3 Pemeriksaan Fisik

Status Present

Keadaan umum : sedang

Kesadaran : E4V5M6 (compos mentis)

Nadi : 120 kali/menit, reguler, kuat angkat

Respirasi : 35 kali/menit, reguler

Suhu aksila : 36,6 0C

Berat badan : 7,3 kg

27
BBL : 2,7 kg

Panjang badan : 73,5 cm

28
Status gizi : Berdasarkan Zscore kurva WHO

29
Kurva BB/U

Kurva TB/U

30
Kurva BB/TB

Kesan:

BB/U= <-3 SD gizi buruk


TB/U= <-3SD sangat pendek
BB/PB = -3SD (-2 SD) kurus
Status General

Kepala : normochepal, rambut sedikit kemerahan


Mata : Anemis -/-, Ikterus -/-, Refleks pupil +/+ isokor, cowong (-)

THT

Telinga : hiperemis (-), edema (-), sekret (-), bagian dalam sde
Hidung : nafas cuping hidung (-), rinore (+) bening
Tenggorokan : hiperemis (-)
Mukosa bibir : Pucat (-), sianosis (-)

31
Leher

Inspeksi : benjolan (-), peningkatan vena jugularis (-)


Palpasi : pembesaran kelenjar (-)
Thorax
Cor :
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS IV MCL kiri, kuat angkat (-),
thrill (-)
Perkusi : Sde
Auskultasi : S1 S2 Normal, regular, murmur (-), gallop (-)
Pulmo :

Inspeksi : Gerakan dada simetris (+), retraksi minimal (+) epigastrik


Palpasi : Focal fremitus N/N
Perkusi : Sonor, batas jantung-paru dbn
Auskultasi : Vesikuler +/+, Rhonki -/- Wheezing -/-
Abdomen :

Inspeksi : Distensi (-)


Auskultasi : Bising usus (+) normal
Palpasi : Hepar-Lien tidak teraba
Perkusi : timpani, dalam batas normal
Ekstremitas :

Akral hangat (+), sianosis (-), edema (-)

Pemeriksaan Penunjang :-

Diagnosis Kerja :

BB/U= <-3 SD gizi buruk


TB/U= <-3SD sangat pendek
BB/PB = -3SD (-2 SD) kurus
ISPA

32
Rencana Terapi :
Pemeriksaan Darah Lengkap
Pemeriksaan Feses
Modisco (susu skim, gula pasir, minyak, margarine cair)
Edukasi dan Konseling Keluarga Pasien
- Menjelaskan kepada orang tua pasien bahwa masalah gizi anak merupakan hal
yang kompleks dan membutuhkan tindak lanjut yang menyeluruh.
- Memberi contoh cara pembuatan larutan modisco
- Menjelaskan mengenai penyakit infeksi saluran nafas yang diderita, beserta
faktor risiko yang mungkin dapat menyebabkan keluhan serupa dapat berulang
- Menganjurkan pasien agar tetap menjaga kebersihan dan memperhatikan gizi
pasien untuk pertumbuhan dan perkembangannya.

33
Diagnosis Holistik
a. Aspek personal
Pasien dikeluhkan berat badan tidak pernah naik, disertai batuk pilek.
b. Aspek klinik
Gizi buruk dengan ISPA
c. Aspek risiko internal
Pasien sering mengalami keluhan serupa berupa infeksi pada saluran pernapasan
sejak kecil. Usia pasien yang masih 2 tahun serta kondisi gizi buruk yang dialami
dapat menurunkan daya tahan tubuh pasien sehingga mudah terkena infeksi.
d. Aspek keluarga
Kurangnya kepekaan keluarga terhadap kebersihan lingkungan rumah serta
kurang memperhatikan gizi pada anak sehingga anak mudah terkena infeksi
berulang dan gangguan pertumbuhan.

34
Determinan Kesehatan

BIOLOGIS

Sistem kekebalan tubuh LINGKUNGAN


lebih lemah karena
faktor usia dan status Keadaan sosial dan ekonomi yang rendah,
nutrisi yang buruk yaitu pemasukan rumah tangga yang
hanya berasal dari gaji ayah pasien
sebagai pegawai honor
PERILAKU
Ayah pasien jarang dirumah karena
mengajar hingga sore hari
Kebersihan Diri
Usia ibu yang masih muda dan pasien
Pasien terbiasa dibiarkan
merupakan anak pertama sehingga
bermain dipekarangan rumah Gizi Buruk +
pengalaman dalam mengasuh dan
tanpa memakai sandal Severe Stunting
+ ISPA pengetahuan mengenai makanan sehat dan
Sumber Air Minum
bergizi masih kurang.
Pada keluarga pasien ini, air
Pola asuh yang sering menuruti kemauan
yang dikonsumsi diambil dari
anak untuk jajan di warung berupa snack,
sumber mata air warga sekitar
permen, dan makanan ringan
yang langsung dikonsumsi
lainnya,sehingga pasien merasa kenyang
tanpa dimasak terlebih dahulu
PELAYANAN dan susah untuk makan. Pasien juga tidak
Pemberian Makan Pendamping
dibiasakan memakai alas kaki saat
ASI KESEHATAN bermain di halaman,
Pemberian makanan
Akses air bersih, yang berasal dari sumber
pendamping Asi yang tidak
Tidak melibatkan dokter mata air warga yang langsung diminum
adekuat dapat mempengaruhi
dalam penanganan dan tanpa dimasak
kenaikan berat badan
pemeriksaan menyeluruh Tidak memiliki jamban
agar mengetahui penyebab Leta pintu dan jendela kamar di dalam
gangguan kenaikan berat dapur sehingga mengakibatkan ventilasi
badan pasien udara terganggu
Sistem perujukan dan Tempat pembuangan sampah
monitoring evaluasi yang dipekarangan serta hewan ternak seperti
kurang baik. ayam dan bebek berkeliaran di halaman,
dan banyak kotoran ayam di halaman,
yang berpotensi meningkatkan penularan
penyakit fecal oral

35
BAB V

PEMBAHASAN

Suatu penyakit dapat terjadi oleh karena adanya ketidak seimbangan faktor-faktor
utama yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Paradigma hidup sehat
yang diperkenalkan oleh H. L. Bloom mencakup 4 faktor yaitu faktor biologis (keturunan),
perilaku (gaya hidup) individu atau masyarakat, faktor lingkungan (sosial ekonomi, fisik,
politik) dan faktor pelayanan kesehatan (jenis, cakupan dan kualitasnya), namun yang
paling berperan dalam terjadinya gizi buruk adalah faktor perilaku dan lingkungan .

Menurut World Bank 2011 (diadaptasi dari UNICEF 1990 & Ruel 2008), gizi buruk
disebabkan oleh penyebab langsung dan tidak langsung. Penyebab langsung diantaranya
adalah asupan pangan/ gizi dan kesehatan. Penyebab tidak langsung diantaranya
aksesibilitas pangan, pola asuh, air minum atau sanitasi, serta pelayanan kesehatan. Berikut
adalah faktor-faktor penyebab terjadinya gizi buruk di mayarakat:

1. Faktor Biologis
Sistem kekebalan tubuh pasien lebih lemah dibandingkan dengan anak usia
sebayanya karena status nutrisinya yang buruk dan usia yang masih ballita. Hal ini
mengakibatkan pasien menjadi lebih rentan terhadap penyakit infeksi dan bila tidak
ditangani akan menyebabkan penurunan status gizi yang lebih buruk lagi.

2. Faktor Lingkungan

Sosio-ekonomi rendah
Pasien termasuk dalam keluarga dengan sosio-ekonomi yang rendah. Status sosial
ekonomi merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk dikarenakan rendahnya status
sosial ekonomi akan berdampak pada daya beli makanan. Hal Rendahnya kualitas
dan kuantitas makanan merupakan penyebab langsung dari gizi buruk pada balita.
Status sosial ekonomi yang kurang sebenarnya dapat diatasi jika keluarga tersebut
mampu menggunakan sumber daya yang terbatas, seperti kemampuan untuk memilih
bahan yang murah tetapi bergizi dan distribusi makanan yang merata dalam
keluarga.

36
Pengetahuan dan pendidikan ibu/orang yang mengasuh
Latar belakang pendidikan seseorang merupakan salah satu unsur penting yang dapat
mempengaruhi keadaan gizi karena dengan tingkat pendidkan yang lebih tingggi
diharapkan pengetahuan atau informasi tentang gizi yang dimiliki menjadi lebih baik.
Masalah gizi sering timbul karena ketidaktahuan atau kurang informasi tentang gizi
yang memadai.
Ibu dari anak balita gizi buruk mempunyai pengetahuan gizi dan praktek pemberian
makanan bayi lebih rendah dibandingkan ibu dari anak balita gizi baik. Demikian
pula aktifitas dan kegiatan ibu dari anak dengan gizi buruk lebih rendah
dibandingkan dengan ibu dari anak gizi kurang maupun gizi baik. Semakin rendah
pendidikan ayah dan ibu status gizi anak semakin jelek.
Ada dua sisi kemungkinan hubungan tingkat pendidikan orang tua dengan keadaan
gizi anak balita. Pertama, tingkat pendidikan kepala keluarga secara langsung.
Kedua, pendidikan ibu modal utama dalam menunjang perekonomian rumah tangga,
juga berperan dalam pola penyusunan makanan rumah tangga maupun dalam pola
pengasuhan anak.

Pola asuh anak


Usia ibu yang masih muda dan pasien merupakan anak pertama sehingga
pengalaman dalam mengasuh dan pengetahuan mengenai makanan sehat dan bergizi
masih kurang. Kualitas pengasuhan balita yang buruk dan rendahnya pendidikan
akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas asupan makanan balita yang
menyebabkan balita tersebut mengalami gizi buruk. Pada pasien ini, pola asuh yang
terjadi adalah pola asuh permisif, dimana ibu selalu menuruti kemauan anaknya salah
satunya adalah ketika anak meminta uang untuk jajan di warung.
Lingkungan Rumah
Lingkungan rumah pasien terbilang beresiko bagi pasien yang memang memiliki
riwayat ISPA sebelumnya. Pintu dan jendela kamar yang terletak didalam dapur
mengganggu proses ventilasi sehingga terasa lembab dan gelap.
Gangguan gizi dan infeksi sering saling berhubungan dan akan memberikan dampak
yang lebih buruk dibandingkan bila kedua faktor tersebut masing-masing bekerja
sendiri-sendiri. Infeksi memperburuk taraf gizi dan sebaliknya, gangguan gizi
memperburuk kemampuan anak untuk mengatasi penyakit.

37
Akses air bersih
Akses atau keterjangkauan anak dan keluarga terhadap air bersih dan kebersihan
lingkungan besar pengaruhnya terhadap pengasuhan anak. Makin tersedia air bersih
yang cukup untuk keluarga serta makin dekat jangkauan keluarga terhadap pelayanan
dan sarana kesehatan, makin kecil resiko anak terkena penyakit dan kekurangan gizi.
Sanitasi
keluarga pasien tidak memiliki jamban. Didekat rumah pasien terdapat sungai, untuk
kebutuhan BAB dan BAK dilakukan di bilik yang pembuangannya mengarah ke
sungai.

3. Perilaku

Kebersihan Diri
Pasien terbiasa dibiarkan bermain dipekarangan rumah tanpa memakai sandal
Sumber Air Minum
Pada keluarga pasien ini, air yang dikonsumsi diambil dari sumber mata air warga
sekitar yang langsung dikonsumsi tanpa dimasak terlebih dahulu
Pemberian Makan Pendamping ASI
Pemberian makanan pendamping Asi yang tidak adekuat dapat mempengaruhi
kenaikan berat badan.
4. Pelayanan kesehatan
Tidak melibatkan dokter dalam penanganan dan pemeriksaan menyeluruh agar
mengetahui penyebab gangguan kenaikan berat badan pasien
Sistem perujukan dan monitoring evaluasi yang kurang baik.

38
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Terjadinya gizi kurang pada anak ini berkaitan dengan empat determinan kesehatan yaitu
faktor biologis, lingkungan perilaku dan faktor pelayanan kesehatan. Namun faktor yang
paling mempengaruhi pada keadaan pasien adalah faktor lingkungan yang kurang
memadai seperti social ekonomi yang kurang dan rendahnya tingkat pendidikan orang
yang mengasuh anak tersebut serta faktor perilaku seperti pola asuh yang kurang tepat.
Pola asuh yang kurang tepat, sanitasi air yang kurang memadai, serta pemberian makanan
tidak seimbang dan adanya penyakit infeksi menyebabkan pasien mengalami gizi buruk.

Saran
Mengingat dampak negatif yang ditimbulkan, maka adanya masalah gizi anak harus segera
ditangani. Pemerintah dan petugas kesehatan mempunyai kewenangan dan tanggung jawab
yang besar sebagai pelaksana langsung program kesehatan termasuk gizi buruk.
Koordinasi antara bagian gizi dengan bagian promosi kesehatan agar lebih ditingkatkan
terutama dalam melakukan sosialisasi berupa penyuluhan yang berkaitan dengan cara
pemberian makan yang benar untuk balita.

39
DAFTAR PUSTAKA

1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Profil Data Kesehatan


Indonesia 2013. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
2. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2013. Laporan Hasil Riset
Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional 2010. Jakarta: Kementerian Kesehatan
RI.
3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Pedoman Pelayanan Anak Gizi
Buruk. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI.
4. Tim Penyusun. 2012. Data Puskesmas Narmada Tahun 2012. Puskesmas
Narmada.
5. Tim Penyusun. 2013. Data Puskesmas Narmada Tahun 2013. Puskesmas
Narmada.
6. Tim Penyusun. 2014. Data Puskesmas Narmada Tahun 2014. Puskesmas
Narmada.
7. Tim Penyusun. 2015. Data Puskesmas Narmada Tahun 2015. Puskesmas
Narmada.
8. Tim Penyusun. 2016. Data Puskesmas Narmada Tahun 2016. Puskesmas
Narmada.
9. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Petunjuk Teknis Tata Laksana
Anak Gizi Buruk: Buku I. Jakarta: Departemen Kesehatan.
10. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Petunjuk Teknis Tata Laksana
Anak Gizi Buruk: Buku II. Jakarta: Departemen Kesehatan.
11. WHO Indonesia. 2009. Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Rujukan
Tingkat Pertama di Kabupaten. Jakarta: WHO Indonesia.
12. WHO. 1999. Management of Severe Malnutrition: a Manual for Physicians and
Other Senior Health Workers. Geneva: World Health Organization.

40