Anda di halaman 1dari 4

C.

Kelebihan dan Kelemahan LEISA (Low External Input Sustainable


Agriculture)
Penerapan sistem LEISA memiliki kelebihan sebagai berikut. Pertama,
mampu mengurangi input pupuk buatan dengan memanfaatkan bahan-bahan
organik, alami, dan hayati (mikroorganisme berguna) yang dapat melestarikan
kesuburan lahan, sehingga dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil,
dan selanjutnya dapat meningkatkan pendapatan petani (Sumarni, 2014).
Kedua, sistem LEISA tidak meninggalkan limbah (zero waste), semua
termanfaatkan dalam siklus produksi. Dalam PERLABEK, tanaman
menghasilkan biomasa jerami padi yang bisa digunakan oleh tanaman itu
sendiri sehingga pemupukan dapat dikurangi sebesar 31.2%, pembuatan pakan
itik sebesar 10.4% dan ikan 71,5% (Mustikarini, 2010). Ketiga, sistem LEISA
merupakan solusi tepat bagi pengembangan lahan kritis (seperti lahan pasca
penambangan) yang tidak subur menjadi lahan yang sangat produktif dengan
konsep agroekosistem sehingga mampu menambah pendapatan masyarakat.
Misalnya, pada lahan pasca penambangan dapat dikembalikan kesuburannya
dengan penambahan amelioran seperti biosolid (pupuk kandang, kompos,
limbah hasil pertanian dan serbuk gergaji) (Mustikarini, 2010).
Keempat, pada sistem produksi pangan, khususnya padi, persepsi
ekosentris diwujudkan dalam bentuk SRI (System of Rice Intensification) atau
LEISA (Low External Inputs Sustainable Agriculture) oleh pengaruh paham
ekosentrisme, sedangkan penganut antroposentrisme menggunakan teknologi
Revolusi Hijau atau HICF (High Inputs Commercial Farming). Paham
ekosentris berfokus pada pelestarian sumber daya alam; teknologi tradisional
yang diterapkan oleh nenek moyang dulu, seperti penanaman varietas lokal
dengan pemupukan organik dan penggunaan biopestisida sebagai cara untuk
mengendalikan hama/penyakit tanaman, adalah metode yang dianjurkan.
Sedangkan, paham antroposentris berfokus pada kebutuhan manusia akan
pangan, papan, sandang yang harus dipenuhi dengan teknologi maju tanpa
perhatian terhadap kelestarian sumberdaya alam. Pada praktiknya, konsep eko-
antro (perpaduan persepsi ekosentris dan antroposentri) lebih baik untuk
diterapkan (Fagi, 2013).
Kelima, input yang rendah menekankan pada efisiensi input dan
peningkatan karakter ekologi sistem pertanian untuk menunjang keberlanjutan
produksi pertanian sehingga dapat terjadi keseimbangan orientasi antara
ekonomi dan kelestarian lingkungan (Karyanto, 2010). Di samping itu,
pemanfaatan sumberdaya yang ada (internal input) perlu dilakukan dengan
seoptimal mungkin, sehingga dapat meningkatkan efisiensi pula. Misalnya,
pada usaha peternakan sumberdaya yang perlu dioptimalkan penggunaannya,
yaitu: sumberdaya alam seperti bahan baku pakan lokal dan bibit ternak lokal.
Salah satunya pemanfaatan jerami padi sebagai pakan ternak dengan
peningkatan nutrisinya melalui fermentasi (Diwyanto, 2002). Dan terakhir,
sistem LEISA dapat memberikan pendapatan berkala yang mampu membantu
masyarakat memenuhi kebutuhan hidup secara kontinyu. LEISA dengan
program PERLABEK (padi-ikan-itik) yang dirancang sebagai suatu
agroekosistem mampu menghemat pemasukan faktor produksi
(Mustikarini, 2010).
Dalam penerapan LEISA juga masih terdapat kelemahan-kelemahan
sebagai berikut. Pertama, penerapan LEISA pada awal kegiatan akan
memerlukan modal besar karena merupakan gabungan dari kegiatan pertanian,
perternakan dan perikanan. Untuk memulai penerapan LEISA harus dipilih
faktor produksi yang bernilai tinggi, berkesinambungan memberikan
pendapatan secara ekonomis dan tidak memerlukan modal besar diawalnya. Di
sisi lain, kemampuan permodalan masyarakat masih rendah, sehingga
penerapan LEISA terhambat. Kedua, tingkat keyakinan masyarakat masih
rendah terhadap keuntungan yang diadapatkan. Hal ini dikarenakan tidak
adanya bimbingan dan dukungan secara terus-menerus pada masyarakat,
sehingga mereka akan mudah merasa gagal dan segera meninggalkan usaha
yang sebenarnya menguntungkan (Mustikarini, 2010).
Dan yang terakhir, Reeves (1989) dalam Fagi (2013) mengklarifikasi
LEISA dan HICF kaitannya dengan keberlanjutan (sustainability) dari
pembangunan pertanian, sustainable diartikan sebagai supportable. Artinya
pertanian yang berlanjut adalah yang mampu memenuhi kebutuhan penduduk
yang jumlahnya terus meningkat. Tingkat masukan (inputs) dan keluaran
(outputs) dijadikan dasar penilaian dari keberlanjutan dan konsekuensinya yang
timbul. Jika tingkat masukan (input) rendah dan tingkat keluaran (output)
rendah, akan tercapai keberlanjutan dengan konsekuensi produksi tidak
mencukupi, sehingga jumlah impor besar. Sedangkan, jika tingkat masukan
(input) rendah dan tingkat keluaran (output) tinggi, tidak ada keberlanjutan
dengan konsekuensi degradasi sumber daya meluas, unsur hara terkuras, dan
erosi semakin parah (lahan kering). Jadi, dalam penerapan LEISA masih
terdapat konsekuensi yang harus dihadapi.
DAFTAR PUSTAKA

Diwyanto, Kusuma., Bambang R Prawiradiputra, dan Darwinsyah Lubis. 2002.


Integrasi Tanaman-Ternak dalam Pengembangan Agribisnis yang
Berdaya Saing, Berkelanjutan dan Berkerakyatan. WARTAZOA,
Vol.12(1).
Fagi, Achmad M. 2013. Ketahanan Pangan Indonesia Dalam Ancaman: Strategi
dan Kebijakan Pemantapan dan Pengembangan. Analisa Kebijakan
Pertanian, Vol.11(1).
Karyanto, Puguh. 2010. Kerangka Konseptual (Conceptual Framework) untuk
Analisis Pertanian Upland Berkelanjutan. Seminar Nasional
Pendidikan Biologi FKIP UNS.
Mustikarini., Lestari T, dan Santi R. 2010. Penerapan Paket Teknologi LEISA
(Low External Input And Sustainable Agriculture) Pada Lahan Pasca
Penambangan Timah Di Kecamatan Mendo Barat, Bangka. Jurnal
Pertanian dan Lingkungan, Vol.3(1):22-27.
Sumarni., Setiawati W, dan Hudayya A. 2014. Pengelolaan Hara dan Tanaman
untuk Mendukung Usahatani Cabai Merah Menggunakan Input Luar
Rendah di Dataran Tinggi. Jurnal Hortikultura, Vol.24(2):142.