Anda di halaman 1dari 4

Background

Female genital cosmetic surgery (FGCS) is a growing field of plastic surgery, which involves a variety of procedures
designed to enhance or rejuvenate the female genitalia. Types of FGCS include monsplasty, vaginoplasty,
hymenoplasty, labiaplasty, G-spot augmentation, clitoral unhooding, frenuloplasty, perineoplasty, fat injections, and
combinations of these procedures.[1, 2] Surgery to the labium, known as labiaplasty, which is surgical modification of
the labia minora or labia majora, is the focus of this article. Secondary procedures often associated with labiaplasty
also are discussed.

Labia minora reductions are more common than labia majora reductions or augmentations, although both are a
growing field in plastic surgery. Reasons for this increasing popularity include growing cultural acceptance, availability
of Internet genital exposure, and hair removal procedures that expose tissue that previously went unnoticed. [2, 3] The
goal of the procedure is to eliminate functional problems and create labia that are aesthetically appealing. Labiaplasty
surgeries can have substantial psychological benefits for patients who are self-conscious about the appearance of
their genitalia. Patients with severe cases frequently report decreased pain or discomfort with daily activity and sexual
intercourse after the procedure.

Latar Belakang
Operasi Bedah Kosmetik Alat Kelamin Wanita atau dalam bahasa inggris disebut
Female genital cosmetic surgery (FGCS) adalah perkembangan baru dalam bidang
bedah plastic, dimana mengandung beberapa prosedur yang bertujuan untuk
meningkatkan atau meremajakan alat kelamin wanita. Jenis dari FGCS adalah
monsplasty, vaginoplasty, hymenoplasty, labiaplasty, G-spot augmentation /
memperbesar G-Spot, clitoral unhooding/membuka kulit penutup clitoris,
frenuloplasty, perineoplasty, fat injections / suntik lemak, dan kombinasi dari
beberapa tipe. Operasi pada labium, atau yang disebut dengan labiaplasty adalah
modifikasi operasi bedah pada labia minora dan labia mayor yang menjadi focus
pada artikel ini. Prosedur sekunder yang sering berhubungan dengan labioplasty
juga turut dibahas dalam topik ini.
Reduksi atau pengecilan pada Labia Minora lebih umum daripada reduksi
(pengecilan) atau pembesaran pada labia mayora, meskipun kedua hal tersebut
merupakan bidang yang sedang dikembangkan dalam operasi bedah plastic.
Alasannya adalah untuk meningkatkan pemahaman pada masyarakat, termasuk
menumbuhkan budaya penerimaan mengenai teknik tersebut dan memberi
pengetahuan bahwa didalamnya juga terdapat teknik untuk menghilangkan
rambut pada bagian tubuh luar yang tidak diinginkan. Tujuan dari tindakan ini
adalah untuk mengurangi masalah fungsional dan membuat labia yang menarik
dalam segi estetik. Operasi Labiaplasty mempunyai manfaat psikologi untuk
pasien yang kurang percaya diri mengenai penampilan alat kelaminnya. Pada
pasien dengan kasus berat, setelah dilakuakan tindakan operasi sering
dilaporkan mengeluh nyeri atau tidak nyaman saat aktifitas sehari hari dan
hubungan seksual .
.
History of the Procedure
Hypertrophy, or overgrowth, of the labia was historically viewed as an inconsequential variation of the normal labia.
Over the past decade, there has been increasing acknowledgement and understanding of the aesthetic and
functional concerns of patients with large labia.[4]

Sejarah adanya tindakan


Hipertrofi atau pembesaran pada labia dipandang sebagai variasi
pertumbuhan yang tidak normal pada labia. Lebih dari sepuluh tahun
yang lalu, sangat sedikit ahli yang tahu atau bahkan memahami
mengenai masalah estetika dan fungsional pada pasien dengan
pembesaran labia.
The first publication to describe aesthetic labiaplasty was published in 1983. [5]During this time, the only technique
used to reduce the labia minora was the trim method.[6] In the 1990s, alternative labiaplasty techniques developed, [6,
7]including the wedge technique described by Dr. Gary Alter in 1998.[6] Labiaplasty has been growing in popularity

over the past several years. According to the American Society of Aesthetic Plastic Surgeons statistics, a 44%
increase in vaginal rejuvenation procedures from 2012 to 2013 was reported, making this one of the fastest growing
cosmetic procedures.[8]

Publikasi yang ada pertama kali pada tahun 1983 bertujuan untuk menjelaskan
segi estetika pada labiaphasty. Selama ini, hanya ada satu teknik yang
digunakan untuk mengecilkan labia minora disebut dengan trim method.
Pada tahun 1990, terdapat teknik alternative labiaplasthy lain yang berkembang
yaitu wedge teknik yang dippaparkan oleh Dr.Gary Alter pada tahun 1998.
Labiaplasty menjadi terkenal setelah kira- kira lebih dari 7 tahun yang lalu.
Berdasarkan perhitungan statistic American Society of Aesthetic Plastic
Surgeons, rekonstruksi vagina mengalami peningkatan sebanyak 44%
pada tahun 2012 sampai 2013, dan ini merupakan teknik kosmetik
dengan perkembangan tercepat .

This underscores the progressive social acceptance of the procedure, as well as the need for safe and effective
labiaplasty techniques. Current techniques for labiaplasty can be divided into the following 3 groups:

Amputation techniques that involve a linear trimming of the labia minora


A wedge technique that excises tissue along the lower edge towards the labia majora crease
A central labial excision as a deepithelialization that preserves the natural free edge

Berikut ini adalah kelemahan perkembangan dari penerimaan masyarakat akan


teknik operasi tersebut, sebagaimana kebutuhan untuk keamanan dan keefektifan
teknik labioplasty. Teknik terkini untuk labioplasty dapat dibagi menjadi 3
kelompok, yaitu :
a. Teknik amputasi untuk merapikan labia minora
b. Teknik menjepit yang dapat memotong jaringan sepanjang tepi
bawah didepan lipatan labia majora
c. Eksisi pada central labia sebagai deepitelisasi yang menjaga
keaslian tepi bebas labia
Problem
Labia hypertrophy is the increased growth of either the labia minora or labia majora in relationship to one another.
Although labial hypertrophy is not strictly defined yet as a pathologic condition, patients who have aesthetic or
functional concerns may benefit from labial reductions.[9]

Significant hypertrophy of the labia can cause pain, irritation, and discomfort with clothing. The psychological problem
of not feeling normal in comparison to the perceived ideal anatomy cannot be underestimated. [2]

MASALAH
Hypertrophy labia adalah penambahan pertumbuhan tidak hanya labia minora
tetapi juga labia mayora yang keduanya saling berhubungan. Meskipun
hypertrophy labia tidak didefinisikan secara tegas sebelumnya sebagai keadaan
yang patologis, pasien yang memiliki masalah dalam hal estetika atau
fungsional dapat mengambil manfaat dari pengecilan labia/ reduksi labia ini.
Hypertrophy labia yang berat dapat menyebabkan nyeri, iritasi dan tidak
nyaman saat berpakaian. Masalah psikologi yang tidak boleh diabaikan adalah
munculnya perasaan tidak normal pada diri pasien bila dibandingkan dengan
bentuk anatomi ideal lainnya.
Epidemiology
Frequency
Labiaplasty surgeries are expected to continue increasing in frequency as the techniques and procedures become
more defined. Popularity of the procedure is expected to increase as knowledge of the benefits increase.

According to a 2000 study of 163 labia minora reductions, 87% of patients had labiaplasty surgery for aesthetic
reasons, while 64% desired surgery because of discomfort in everyday clothing. [9] In the same study, 85% had
bilateral labiaplasty, compared with 15% who had asymmetric hypertrophy of the labia minora requiring a unilateral
procedure.[9]

It is also purposed that increases in hair removal or changing hair patterns have affected the frequency of labiaplasty
surgeries.[2, 3] A 2009 study analyzing the medias influence on female genital cosmetic surgery (FGCS) showed 84%
of younger women remove pubic hair, compared with only 36% of older women.[10] Of those women, only 50% were
happy with the appearance of their labia.

Additionally, women reported being twice as likely to have cosmetic labia surgery if the cost of the procedure were
lower.[10]

Epidemiology
Angka Kejadian
Bedah labiaplasty diharapkan dapat meningkatkan frekuensi tindakan operasi.
Terkenalnya teknik operasi ini diharapkan juga dapat meningkatkan pengetahuan
akan manfaatnya bagi masyarakat.
Menurut 2000 study dari 163 kasus reduksi labia minora, 87% pasien melakukan
labiaplasty karena alasan estetika, sementara 64% lainnya dikarenakan nyeri atau
ketidaknyamanan saat berpakaian sehari hari. Dalam study yang sama, juga
didapatkan data bahwa 85% pasien melakukan tindakan bilateral labiaplasty,
sementara 15% sisanya dilakukan tindakan unilateral labiaplasty karena
mengalami hypertrophy labia minora asymetric .
Hal ini juga menunjukan bahwa peningkatan hair removal atau merubah bentuk
rambut mempunya dampak pada jumlah operasi labiaplasty. Pada tahun 2009
sebuah study menganalisa efek media masa pada FGCS yang menunjukkan 84%
pada wanita muda mencukur rambut pubis nya, sementara wanita dewasa
sebanyak 36%. Dari beberapa sampel, hanya 50% sampel yang merasa puas akan
penampilan labia nya.
Sebagai tambahan, perempuan dilaporkan dua kali melakukan operasi kosmetik
pada labia bila harga teknik tersebut murah.