Anda di halaman 1dari 14

Inilah Pengertian Kesehatan Lingkungan

Dan Menurut Para Ahli


Sora N

Pengertian kesehatan lingkungan dan menurut para ahli di artikel ini. Kesehatan
lingkungan adalah suatu ilmu dan seni dalam mencapai keseimbangan antara lingkungan dan
manusia, ilmu dan juga seni dalam pengelolaan lingkungan sehingga dapat tercapai kondisi
yang bersih, sehat, nyaman dan aman serta terhindar dari gangguan berbagai macam
penyakit. Ilmu Kesehatan Lingkungan mempelajari dinamika hubungan interaktif antara
kelompok penduduk dengan berbagai macam perubahan komponen lingkungan hidup yang
menimbulkan ancaman/berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat umum.

Di bawah ini Pengertian kesehatan lingkungan menurut para ahli

Menurut, Slamet Riyadi Ilmu Kesehatan Lingkungan adalah bagian integral dari
ilmu kesehatan masyarakat yang khusus mempelajari dan menangani hubungan
manusia dengan lingkungannya dalam keseimbangan ekologi dengan tujuan membina
& meningkatkan derajat kesehatan maupun kehidupan sehat yang optimal.
Lalu menurut, H.J. Mukono Ilmu Kesehatan Lingkungan merupakan ilmu yang
mempelajari hubungan timbal balik antara faktor kesehatan dan faktor lingkungan.
Sedangkan menurut, WHO (World Health Organization) Kesehatan lingkungan
adalah suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia & lingkungan agar
dapat menjamin keadaan sehat dari manusia.
Dan menurut, Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI)
Kesehatan lingkungan adalah suatu kondisi lingkungan yang mampu menopang
keseimbangan ekologi yang dinamis antara manusia & lingkungannya untuk
mendukung tercapainya kualitas hidup manusia yang sehat & bahagia.

apa itu kesehatan lingkungan?

Ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan

Inilah ruang lingkupnya menurut WHO, diantaranya ada 17 (tujuh belas):


1. Penyediaan Air Minum.
2. Pengelolaan air buangan & pengendalian pencemaran.
3. Pembuangan sampah padat.
4. Pengendalian vektor. (Pengendalian vektor adalah semua usaha yang dilakukan untuk
mengurangi atau menurunkan populasi vektor dengan maksud mencegah atau
pemberantas penyakit yang ditularkan vektor atau gangguan yang diakibatkan oleh
vektor.)
5. Pencegahan atau pengendalian pencemaran tanah oleh ekskreta manusia. (Ekskreta
maksudnya semua zat yang tidak dipakai lagi oleh tubuh dan yang harus dikeluarkan
dari dalam tubuh.)
6. Higiene makanan, termasuk higiene susu.
7. Pengendalian pencemaran udara.
8. Pengendalian radiasi.
9. Kesehatan kerja
10. Pengendalian kebisingan.
11. Perumahan & pemukiman.
12. Aspek kesling & transportasi udara.
13. Perencanaan daerah & perkotaan.
14. Pencegahan kecelakaan.
15. Rekreasi umum & pariwisata.
16. Tindakan tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan epidemic atau
wabah, bencana alam & perpindahan penduduk.
17. Dan yang terakhir, Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin
lingkungan.

Tujuan Kesehatan lingkungan

Yang pertama untuk melakukan Koreksi, memperkecil/memodifikasi terjadinya bahaya dari


lingkungan terhadap kesehatan serta kesejahteraan hidup manusia. Lalu yang kedua untuk
pencegahan, mengefisienkan pengaturan berbagai sumber lingkungan untuk meningkatkan
kesehatan dan juga kesejahteraan hidup manusia serta untuk menghindarkan dari bahaya
penyakit.

Itulah artikel menganai definisi atau pengertian kesehatan lingkungan, somoga dapat
membantu dan bermanfaat.

Pengertian dan ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan

Pengertian sehat menurut WHO adalah Keadaan yg meliputi kesehatan fisik, mental, dan
sosial yg tidak hanya berarti suatu keadaan yg bebas dari penyakit dan kecacatan.
Sedangkan menurut UU No 36 / 2009 Tentang kesehatan : Kesehatan adalah keadaan sehat,
baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk
hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Pengertian Lingkungan Menurut A.L. Slamet Riyadi (1976) adalah Tempat pemukiman
dengan segala sesuatunya dimana organismenya hidup beserta segala keadaan dan kondisi
yang secara langsung maupun tidak dpt diduga ikut mempengaruhi tingkat kehidupan
maupun kesehatan dari organisme itu.
Terdapat beberapa pendapat tentang pengertian Kesehatan Lingkungan sebagai berikut :

Pengertian Kesehatan Lingkungan Menurut World Health Organisation (WHO) pengertian


Kesehatan Lingkungan : Those aspects of human health and disease that are determined by
factors in the environment. It also refers to the theory and practice of assessing and
controlling factors in the environment that can potentially affect health. Atau bila
disimpulkan Suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan lingkungan
agar dapat menjamin keadaan sehat dari manusia.
Menurut HAKLI (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia) Suatu kondisi lingkungan
yang mampu menopang keseimbangan ekologi yang dinamis antara manusia dan
lingkungannya untuk mendukung tercapainya kualitas hidup manusia yang sehat dan
bahagia.
Apabila disimpulkan Pengertian Kesehatan Lingkungan adalah Upaya perlindungan,
pengelolaan, dan modifikasi lingkungan yang diarahkan menuju keseimbangan ekologi pada
tingkat kesejahteraan manusia yang semakin meningkat.

Ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan

Kontribusi lingkungan dalam mewujudkan derajat kesehatan merupakan hal yang essensial di
samping masalah perilaku masyarakat, pelayanan kesehatan dan faktor keturunan.
Lingkungan memberikan kontribusi terbesar terhadap timbulnya masalah kesehatan
masyarakat.

Ruang lingkup Kesehatan lingkungan adalah :

Menurut WHO

1. Penyediaan Air Minum


2. Pengelolaan air Buangan dan pengendalian pencemaran
3. Pembuangan Sampah Padat
4. Pengendalian Vektor
5. Pencegahan/pengendalian pencemaran tanah oleh ekskreta manusia
6. Higiene makanan, termasuk higiene susu
7. Pengendalian pencemaran udara
8. Pengendalian radiasi
9. Kesehatan kerja
10. Pengendalian kebisingan
11. Perumahan dan pemukiman
12. Aspek kesling dan transportasi udara
13. Perencanaan daerah dan perkotaan
14. Pencegahan kecelakaan
15. Rekreasi umum dan pariwisata
16. Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan epidemi/wabah, bencana
alam dan perpindahan penduduk.
17. Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin lingkungan.

Menurut UU No 23 tahun 1992 Tentang Kesehatan, ruang lingkup kesehatan lingkungan antara lain
:

1. Penyehatan Air dan Udara


2. Pengamanan Limbah padat/sampah
3. Pengamanan Limbah cair
4. Pengamanan limbah gas
5. Pengamanan radiasi
6. Pengamanan kebisingan
7. Pengamanan vektor penyakit
8. Penyehatan dan pengamanan lainnya : Misal Pasca bencana.

Lingkungan sehat menurut Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009

Merupakan lingkungann yang bebas dari unsur-unsur yang menimbulkan gangguan


kesehatan, antara lain:

1. limbah cair;
2. limbah padat;
3. limbah gas;
4. sampah yang tidak diproses sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan pemerintah;
5. binatang pembawa penyakit;
6. zat kimia yang berbahaya;
7. kebisingan yang melebihi ambang batas;
8. radiasi sinar pengion dan non pengion;
9. air yang tercemar;
10. udara yang tercemar; dan
11. makanan yang terkontaminasi.

Home
Contact Us
Daftar Isi
Free PublicHealth Article

Pojok Kesehatan Masyarakat

Pojok Artikel Kesling, Promkes, Epidemiologi, KIA, Gizi

Info Diet
Inspeksi Sanitasi
New Public Health Information
Public Health Information
Sanitarian Guide
Uncategorized
You are here :

Home

Sanitarian Guide

Sanitasi Lingkungan

Sanitasi Lingkungan
Munif Arifin June 5, 2013 Sanitasi Lingkungan2013-06-04T22:45:02+00:00 Sanitarian Guide 1
Comment

Beberapa Pengertian Tentang Sanitasi Lingkungan

Penyakit-penyakit berbasis lingkungan masih merupakan penyebab utama kematian di


Indonesia. Kecenderungan ini juga semakin mendapatkan legitimasi seiring dengan
munculnya Flu Burung dan Flu Babi, dua penyakit yang sangat berkaitan dengan sanitasi
lingkungan.

Bahkan pada kelompok bayi dan balita, penyakit-


penyakit berbasis lingkungan menyumbangkan
lebih 80% dari penyakit yang diderita oleh bayi
dan balita. Keadaan tersebut mengindikasikan
masih rendahnya cakupan dan kualitas intervensi
kesehatan lingkungan (Data Susenas 2001)

Munculnya kembali beberapa penyakit menular


sebagai akibat dari semakin besarnya tekanan
bahaya kesehatan lingkungan yang berkaitan
dengan masalah sanitas i- cakupan air bersih dan
jamban keluarga yang masih rendah, perumahan yang tidak sehat, pencemaran makanan oleh
mikroba, telur cacing dan bahan kimia, penanganan sampah dan limbah yang belum
memenuhi syarat kesehatan, vektor penyakit yang tidak terkendali (nyamuk, lalat, kecoa,
ginjal, tikus dan lain-lain), pemaparan akibat kerja (penggunaan pestisida di bidang pertanian,
industri kecil dan sektor informal lainnya), bencana alam, serta perilaku masyarakat yang
belum mendukung ke arah pola hidup bersih dan sehat.

Para ahli kesehatan masyarakat sebetulnya sudah sangat sepakat dengan kesimpulan H.L
Bloom yang mengatakan bahwa kontribusi terbesar terhadap terciptanya peningkatan derajat
kesehatan seseorang berasal dari kualitas kesehatan lingkungan dibandingkan faktor yang
lain. Namun energi dan kebijakan anggaran agaknya masih masih sangat cenderung kepada
program yang bersifat kuratif.

Bahkan, lebih jauh menurut hasil penelitian para ahli, ada korelasi yang sangat bermakna
antara kualitas kesehatan lingkungan dengan kejadian penyakit menular maupun penurunan
produktivitas kerja. Pendapat ini menunjukkan bahwa demikian pentingnya peranan
kesehatan lingkungan bagi manusia atau kualitas sumber daya manusia.
Pengertian sehat menurut WHO adalah Keadaan yg meliputi kesehatan fisik, mental, dan
sosial yg tidak hanya berarti suatu keadaan yg bebas dari penyakit dan kecacatan..

Sedangkan menurut UU No 23 / 1992 Tentang kesehatan Keadaan sejahtera dari badan, jiwa
dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Pengertian Lingkungan Menurut A.L. Slamet Riyadi (1976) adalah Tempat pemukiman
dengan segala sesuatunya dimana organismenya hidup beserta segala keadaan dan kondisi
yang secara langsung maupun tidak dpt diduga ikut mempengaruhi tingkat kehidupan
maupun kesehatan dari organisme itu.

Terdapat beberapa pendapat tentang pengertian Kesehatan Lingkungan sebagai berikut :

Pengertian Kesehatan Lingkungan Menurut World Health Organisation (WHO) pengertian


Kesehatan Lingkungan : Those aspects of human health and disease that are determined by
factors in the environment. It also refers to the theory and practice of assessing and
controlling factors in the environment that can potentially affect health. Atau bila
disimpulkan Suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan lingkungan
agar dapat menjamin keadaan sehat dari manusia.
Menurut HAKLI (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia) : Suatu kondisi lingkungan
yang mampu menopang keseimbangan ekologi yang dinamis antara manusia dan
lingkungannya untuk mendukung tercapainya kualitas hidup manusia yang sehat dan
bahagia.
Apabila disimpulkan Pengertian Kesehatan Lingkungan adalah : Upaya perlindungan,
pengelolaan, dan modifikasi lingkungan yang diarahkan menuju keseimbangan ekologi pada
tingkat kesejahteraan manusia yang semakin meningkat.

Sanitasi

Beberapa pengertian Sanitasi (dari berbagai sumber) :

Sanitation is the hygienic means of


preventing human contact from the hazards
of wastes to promote health. Hazards can be
either physical, microbiological, biological
or chemical agents of disease. Wastes that
can cause health problems are human and
animal feces, solid wastes, domestic
wastewater (sewage, sullage, greywater),
industrial wastes, and agricultural wastes.
Hygienic means of prevention can be by
using engineering solutions (e.g. sewerage
and wastewater treatment), simple
technologies (e.g.latrines, septic tanks), or
even by personal hygiene practices (e.g.
simple handwashing with soap)-WHO
Disease Base on Environment
Munif Arifin July 2, 2015 Disease Base on Environment2015-07-02T13:41:31+00:00 Sanitarian
Guide 2 Comments

Peranan Udara dalam Rumah dan Penyebaran Penyakit Berbasis


Lingkungan

Rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan terkait erat dengan penyakit berbasis
lingkungan, dimana kecenderungannya semakin meningkat akhir-akhir ini Dari sisi
epidemiologis, telah terjadi pula transisi yang cukup cepat terhadap beberapa penyakit
menular, seperti penyakit SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome), Flu Burung,
Leptospirosis. Demikian pula dengan penyakit demam berdarah, keracunan makanan dan
diare yang mulai mewabah kembali di beberapa daerah di Tanah Air dan bahkan sampai
menyebabkan kematian.

Penyakit-penyakit berbasis lingkungan masih merupakan penyebab utama kematian di


Indonesia. Bahkan pada kelompok bayi dan balita, penyakit-penyakit berbasis lingkungan
menyumbangkan lebih 80% dari penyakit yang diderita oleh bayi dan balita. Keadaan
tersebut mengindikasikan masih rendahnya cakupan dan kualitas intervensi kesehatan
lingkungan (Data Susenas 2001)

Munculnya kembali beberapa penyakit menular sebagai akibat dari semakin besarnya tekanan
bahaya kesehatan lingkungan yang berkaitan dengan cakupan air bersih dan jamban keluarga
yang masih rendah, perumahan yang tidak sehat, pencemaran makanan oleh mikroba, telur
cacing dan bahan kimia, penanganan sampah dan limbah yang belum memenuhi syarat
kesehatan, vektor penyakit yang tidak terkendali (nyamuk, lalat, kecoa, ginjal, tikus dan lain-
lain), pemaparan akibat kerja (penggunaan pestisida di bidang pertanian, industri kecil dan
sektor informal lainnya), bencana alam, serta perilaku masyarakat yang belum mendukung ke
arah pola hidup bersih dan sehat.
Para ahli kesehatan masyarakat sangat sepakat dengan kesimpulan Bloom yang mengatakan
bahwa kontribusi terbesar terhadap terciptanya peningkatan derajat kesehatan seseorang
berasal dari kualitas kesehatan lingkungan dibandingkan faktor yang lain. Bahkan, lebih jauh
menurut hasil penelitian para ahli, ada korelasi yang sangat bermakna antara kualitas
kesehatan lingkungan dengan kejadian penyakit menular maupun penurunan produktivitas
kerja. Pendapat ini menunjukkan bahwa demikian pentingnya peranan kesehatan lingkungan
bagi manusia atau kualitas sumber daya manusia.

Rumah sehat merupakan salah satu sarana untuk mencapaiderajat kesehatan yang optimum.
Untuk memperoleh rumah yang sehat ditentukan oleh tersedianya sarana sanitasi
perumahan.Sanitasi rumah adalah usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan pada
pengawasan terhadap struktur f isik dimana orang menggunakannya untuk tempat tinggal
berlindung yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia.Sarana sanitasi tersebut antara lain
ventilasi, suhu,kelembaban, kepadatan hunian, penerangan alami, konstruksi bangunan,
sarana pembuangan sampah, sarana pembuangankotoran manusia dan penyediaan air bersih
(Azwar, 1990).
Kualitas udara dipengaruhi oleh adanya bahan polutan diudara. Polutan di dalam rumah
kadarnya berbeda dengan bahan polutan di luar rumah. Peningkatan bahan polutan di dalam
ruangan dapat pula berasal dari sumber polutan di dalam ruangan seperti asap rokok, asap
dapur, pemakaian obat nyamuk bakar (Mukono, 1997).Penyakit infeksi saluran pernafasan
akut ( ISPA) masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama.Hal ini
disebabkan masih tingginya angka kejadian penyakit ISPAterutama pada balita. Proporsi
kematian yang ada di Indonesia tahun 1998 disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan akut
mencakup20% 30% dari seluruh kematian balita (Depkes RI, 2000).

Terkait dengan aspek udara ini, ketersediann ventilasi yang berperan


dalam proses penyediaan udara segar ke dalam
dan pengeluaran udara kotor dari suatu ruangan tertutup secara
alamiah maupun mekanis, penting diperhatikan. Tersedianya udara segar dalam rumah
atau ruangan amat dibutuhkan manusia, sehingga apabila suatu
ruangan tidak mempunyai sistem ventilasi yang baik dan over
crowded maka akan menimbulkan keadaan yang dapat merugikan kesehatan.

Rumah yang memenuhi syarat ventilasi baik akan


mempertahankan kelembaban yang sesuai dengan temperatur kelembaban udara.
Standart luas ventilasi rumah,
menurut Kepmenkes RI No. 829 tahun 1999, adalah minimal 10% luas lantai. Menurut
Frinck (1993) setiap ruang yang dipakai sebagai ruang kediaman sekurang-
kurangnya terdapat satu jendela lubang
ventilasi yang langsung berhubungan dengan udara luar bebas rintangan dengan luas
10% luas lantai. Ruangan yang ventilasinya kurang baik a kan membahayakan
kesehatan khususnya saluran pernapasan. Terdapatnya bakteri di
udara disebabkan adanya debu dan uap air. Jumlah bakteri udara
akan bertambah jika penghuni ada yang menderita penyakit saluran pernapasan, seperti
TBC, Influenza, dan ISPA.

Dalam pengertian ventilasi ini dari aspek fungsi juga tercakup jendela. Luas ventilasi atau
jendela adalah luas lubang untuk proses penyediaan udara segar dan pengeluaran udara kotor
baik secara alami atau mekanis. Ventilasi atau jendela mempunyai peran dalam rumah untuk
mengganti udara ruangan yang sudah terpakai.

Penerangan alami diperoleh dengan


masuknya sinar matahari ke dalam ruangan melalui jendela, celah
maupun bagian lain dari rumah yang terbuka, selain berguna untuk penerangan sinar ini
juga mengurangi kelembaban ruangan, mengusir
nyamuk atau serangga lainnya dan membunuh kuman penyebab penyakit tertentu,
misalnya untuk membunuh bakteri adalah cahaya pada panjang gelombang 4000 A sinar
ultra violet (Azwar, 1990).

Penyakit atau gangguan saluran pernapasan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang buruk.
Lingkungan yang buruk tersebut dapat berupa kondisi fisik perumahan yang tidak
mempunyai syarat seperti
ventilasi, kepadatan penghuni, penerangan dan pencemaran udara
dalam rumah. Lingkungan perumahan sangat berpengaruh terhadap terjadinya ISPA.
Cahaya matahari disamping berguna untuk menerangi
ruangan, mengusir serangga (nyamuk) dan tikus, juga dapat
membunuh beberapa penyakit menular misalnya TBC, cacar,
influenza, penyakit kulit atau mata, terutama matahari langsung.
Selain itu sinar matahari yang menga ndung sinar ultra violet baik untuk pertumbuhan
tulang anak anak.

Dasar Pelaksanaan AMDAL


Munif Arifin May 11, 2015 Dasar Pelaksanaan AMDAL2015-05-
11T01:41:59+00:00 Sanitarian Guide 1 Comment

AMDAL Latar Belakang, Tujuan,


Kegunaan, dan Dasar Pelaksanaannya

Dasar Hukum Pelaksanaan AMDAL

Kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup


menurut Undang-undang Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup. diselenggarakan atas
tanggungjawab negara, asas pembangunan
berkelanjutan, dan asas manfaat untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang
berwawasan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan
pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya, yaitu terciptanya keselarasan, keserasian dan
keseimbangan antara manusia dengan lingkungan, antara manusia dengan Tuhan yang Maha
Esa, manusia dengan manusia; terjaminnya kepentingan generasi saat ini dan akan datang;
tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup serta terkendalinya pemanfaatan sumberdaya
secara bijaksana.
Berdasarkan kebijaksanaan tersebut, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL),
merupakan salah satu instrumen kebijaksanaan pengelolaan lingkungan. Pelaksanaan
AMDAL terhadap sesuatu rencana usaha atau kegiatan dimaksudkan untuk mengetahui
dampak besar dan penting, dan menetapkan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan
Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).
Sesuai UU No. 23 tahun 1997 tersebut, dinyatakan bahwa kegiatan yang diprakirakan dapat
menimbulkan suatu dampak besar dan penting pada lingkungan dan sekitarnya diwajibkan
melakukan studi tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Peraturan
pelaksanaa dari Undang-Undang ini dituangkan di dalam Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.
Tujuan dilaksanakannya Studi ANDAL

1. Mengidentifikasikan rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilakukan terutama


yang berpotensi menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup.
2. Mengidentifikasikan komponen-komponen lingkungan hidup yang akan terkena
dampak besar dan penting
3. Memprakirakan dan mengevaluasi rencana usahan dan atau kegiatan yang
menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup.
4. Merumuskan RKL dan RPL.

Kegunaan dilaksanakannya Studi ANDAL


Bagi Pemerintah :

1. Membantu pemerintah dalam proses pengambilan keputusan, perencanaan dan


pengelolaan lingkungan dalam hal pengendalian dampak negatif dan mengembangkan
dampak positif yang meliputi aspek biofisik, sosial ekonomi, budaya dan kesehatan
masyarakat.
2. Mengintegrasikan pertimbangan lingkungan dalam tahap perencanaan rinci pada
suatu kegiatan Pembangunan.
3. Sebagai pedoman dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan pada suatu kegiatan
Pembangunan.

Bagi Pemrakarsa :

1. Mengetahui permasalahan lingkungan yang mungkin timbul di masa yang akan


datang dan cara-cara pencegahan serta penanggulangan sebagai akibat adanya
kegiatan suatu pembangunan.
2. Sebagai pedoman untuk melakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan
3. Sebagai bahan penguji secara komprehensif dari kegiatan pengelolaan dan
pemantauan lingkungan untuk kemudian mengetahui kekurangannya.

Bagi Masyarakat

1. Mengurangi kekuatiran tentang perubahan yang akan terjadi atas rencana kegiatan
suatu pembangunan.
2. Memberikan informasi mengenai kegiatan Pembangunan Industri , sehingga dapat
mempersiapkan dan menyesuaikan diri agar dapat terlibat dalam kegiatan tersebut.
3. Memberi informasi tentang perubahan yang akan terjadi, sehingga masyarakat dapat
memanfaatkan dampak positif dan menghindarkan dampak negatif.
4. Sebagai bahan pertimbangan untuk berpartisipasi dalam kegiatan pengelolaan
lingkungan.

Pada pelaksanaan studi AMDAL terdapat beberapa komponen dan parameter lingkungan
yang harus dijadikan sebagai sasaran studi, antara lain :

1. Komponen Geo-Fisik-Kimia antra lain : Iklim dan Kualitas Udara, Fisiografi,


Geologi, Ruang, Lahan dan Tanah, Kualitas Air Permukaan,
2. Komponen Biotis antara lain : Flora, Fauna, Biota Sungai, Biota Air Laut
3. Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya antara lain : Sosial Ekonomi , Sosial Budaya
4. Komponen Kesehatan Masyarakat antara lain Sanitasi Lingkungan dan Kesehatan
Masyarakat

Peraturan Perundang-Undangan
Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pelaksanaan Studi Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan (AMDAL) antara lain :

1. Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1960 Tentang Pokok -pokok Agraria.


2. Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati
dan Ekosistem (Lembaran Negara RI Tahun 1990 No. 49 Tahun 1990 Tambahan
Lembaran Negara No 3419).
3. Undang-Undang RI No. 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Permukiman
4. Undang-Undang RI No. 14 Tahun 1992 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
5. Undang-Undang RI No. 24 Tahun 1992 Tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1992 No. 115, Tambahan Lembaran Negara No 3501).
6. Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1994 Tentang Pengesahan United Nations
Conventation On Biological Diversity (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa
Mengenai Keanekaragaman Hayati
7. Undang-Undang RI No 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
(Lembaran Republik Indonesia Tahun 1997 No. 68 Tambahan Lembaran Negara No.
3699).
8. Undang-Undang RI No 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah
9. Undang-Undang RI No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan
10. Peraturan Pemerintah RI No. 22 Tahun 1982 Tentang Tata Pengaturan Air.
11. Peraturan Pemerintah RI No. 28 Tahun 1985 Tentang Perlindungan Hutan.
12. Peraturan Pemerintah RI No 35 Tahun 1991 Tentang Sungai.
13. Peraturan Pemerintah RI No.69 Tahun 1996 Tentang Pelaksanaan Hak dan
Kewajiban, serta Bentuk dan Tata Cara Peran serta Masyarakat dalam Penataan
Ruang.
14. Peraturan Pemerintah RI No. 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah untuk
Penggantian.
15. Peraturan Pemerintah RI No. 27 Tahun 1999 Tentang Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 No. 59
Tambahan Lembaran Negara No.3838).
16. Peraturan Pemerintah RI No. 41 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran
Udara.
17. Peraturan Pemerintah RI No. 20 Tahun 2001 Tentang Pembinaan dan Pengawasan
Pembangunan
18. Peraturan Pemerintah RI No. 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air.
19. Keputusan Presiden RI No 32 Tahun 1990 Tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.
20. Keputusan Presiden RI No 75 Tahun 1990 Tentang Koordinasi Pengelolaan Tata
Ruang Nasional.
21. Keputusan Presiden RI No. 552 Tahun 1993 Tentang Pengadaan Tanah Pelaksanaan
Pembangunan untuk Kepentingan Umum.
22. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No.
02/MENKLH/1988 tentang Pendoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan
23. Keputusan Menteri PU.No 45/PRT/1990 tentang Pengendalian Mutu Air pada
Sumber-sumber Air.
24. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-30/MENLH /7/1992 tentang
Panduan Pelingkupan untuk Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL.
25. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 056/1994 tentang Pedoman
Mengenai Ukuran Dampak Penting.
26. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. 103.K/008/M.PE/1994 tentang
Pengawasan atas Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana
Pemantauan Lingkungan dalam Bidang Pertambangan dan Energi.
27. Keputusan Menteri PU. No 58/KPTS/1995 Petunjuk Tata Laksana AMDAL Bidang
Pekerjaan Umum.
28. Keputusan Menteri PU.No. 148/KPTS/1995 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan
RKL dan RPL, Proyek Bidang Pekerjaan Umum.
29. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-13/MENLH /3/1995 tentang
Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak.
30. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-43/MENLH/ 10/1996
tentang Kriteria Kerusakan Lingkungan Bagi Usaha atau Kegiatan Penambangan
Bahan Galian Golongan C Jenis Lepas di Daratan.
31. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-48/MENLH/ 11/1996
tentang Baku Mutu Tingkat Kebisingan.
32. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-49/MENLH/ 11/1996
tentang Baku Tingkat Getaran.
33. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-50/MENLH /11/1996
tentang Baku Tingkat Kebauan.
34. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-45/MENLH/10/1997 tentang
Indeks Standar Pencemar Udara.
35. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-03/MENLH /1/1998 tentang
Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kawasan Industri.
36. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 17 tahun 2001 tentang Jenis
Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan Hidup.
37. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 37 Tahun 2003 tentang Metoda
Analisis Kualitas Air Permukaan dan Pengambilan Contoh Air Permukaan.
38. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 110 Tahun 2003 tentang Pedoman
Penetapan Daya Tampung Beban Pencemaran Air pada Sumber Air.
39. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 112 Tahun 2003 tentang Baku
Mutu Air Limbah Domestik.
40. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 142 Tahun 2003 tentang Pedoman
Mengenai Syarat dan Tata Cara Perizinan serta Pedoman Kajian Pembuangan Air
Limbah ke Air atau Sumber Air.
41. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. KEP-
205/BAPEDAL/07/1996 tentang Pedoman Teknis Pengendalian Pencemaran Udara
Sumber Tidak Bergerak.
42. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. KEP-299/11/1996
tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL.
43. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. KEP-105 tahun
1997 tentang Panduan Pemantauan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan
(RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).
44. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No.
107/BAPEDAL/2/1997 tentang Perhitungan dan Pelaporan serta Informasi Indeks
Standar Pencemar Udara.
45. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. KEP-124/12/1997
tentang Panduan Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat dalam Penyusunan AMDAL.
46. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. 08 tahun 2000
tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL.
47. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. 09 tahun 2000
tentang Pedoman Penyusunan AMDAL.
48. Peraturan Daerah terkait yang relevan lainnya dengan studi ini.

Peraturan peraturan tersebut tergantung / menyesuaikan juga pada jenis kegiatan yang
dilaksanakan/direncanakan.
Masalah Penyakit Berbasis Lingkungan
munif May 26, 2012 Masalah Penyakit Berbasis Lingkungan2012-05-26T23:22:49+00:00 Public
Health Information No Comment

Masalah dan Pengendalian Penyakit Berbasis Lingkungan di Indonesia

Penyakit Berbasis Lingkungan adalah suatu kondisi patologis berupa kelainan fungsi atau
morfologi suatu organ tubuh yang disebabkan oleh interaksi manusia dengan segala sesuatu
disekitarnya yang memiliki potensi penyakit. Berdasarkan definisi ini, faktor penyebab yang
paling dominan karena lingkungan, disamping juga faktor perilaku.

Penyakit-penyakit berbasis lingkungan masih merupakan penyebab utama kematian di


Indonesia. Bahkan pada kelompok bayi dan balita, penyakit-penyakit berbasis lingkungan
menyumbangkan lebih 80% dari penyakit yang diderita oleh bayi dan balita. Keadaan
tersebut mengindikasikan masih rendahnya cakupan dan kualitas intervensi kesehatan
lingkungan (Data Susenas 2001)

Munculnya kembali beberapa penyakit menular sebagai akibat dari semakin besarnya tekanan
bahaya kesehatan lingkungan yang berkaitan dengan cakupan air bersih dan jamban keluarga
yang masih rendah, perumahan yang tidak sehat, pencemaran makanan oleh mikroba, telur
cacing dan bahan kimia, penanganan sampah dan limbah yang belum memenuhi syarat
kesehatan, vektor penyakit yang tidak terkendali (nyamuk, lalat, kecoa, ginjal, tikus dan lain-
lain), pemaparan akibat kerja (penggunaan pestisida di bidang pertanian, industri kecil dan
sektor informal lainnya), bencana alam, serta perilaku masyarakat yang belum mendukung ke
arah pola hidup bersih dan sehat.

Para ahli kesehatan masyarakat sangat sepakat dengan kesimpulan Bloom yang mengatakan
bahwa kontribusi terbesar terhadap terciptanya peningkatan derajat kesehatan seseorang
berasal dari kualitas kesehatan lingkungan dibandingkan faktor yang lain. Bahkan, lebih jauh
menurut hasil penelitian para ahli, ada korelasi yang sangat bermakna antara kualitas
kesehatan lingkungan dengan kejadian penyakit menular maupun penurunan produktivitas
kerja. Pendapat ini menunjukkan bahwa demikian pentingnya peranan kesehatan lingkungan
bagi manusia atau kualitas sumber daya manusia.

Masalah Penyakit Berbasis Lingkungan di Indonesia

Tantangan yang dihadapi Indonesia terkait dengan masalah air minum, higiene dan sanitasi
masih sangat besar. Hasil studi Indonesia Sanitation Sector Development Program (ISSDP)
tahun 2006 menunjukkan 47% masyarakat masih berperilaku buang air besar ke sungai,
sawah, kolam, kebun dan tempat terbuka (Depkes RI, 2008).