Anda di halaman 1dari 16

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa laporan keuangan

perusahaan-perusahaan yang masuk dalam kategori Kompas 100 periode

2012-2016. Data-data sampel penelitian ini diperoleh dari situs Indonesia

Stock Exchange www.idx.co.id dan laman resmi masing-masing

perusahaan.

2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian akan dilakukan secara bertahap berdasarkan waktu

yang ditentukan oleh lembaga yang terkait yaitu dimulai dari bulan April

sampai Agustus 2017. Adapun rincian kegiatan penelitian dapat diuraikan

sebagai berikut:

Tabel 3.1. Rincian Kegiatan Penelitian


Tahun 2017
No. Jenis Kegiatan April Mei Juni Juli Agustus
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. a. Pengajuan judul
b. Penyusunan dan
pengajuan proposal
2. BAB I & II
3. a. BAB III
b. Pengumpulan data
4. a. Analisis data
b. BAB IV dan V
c. Menyusun laporan
penelitian

70
71

B. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain

korelasional. Penelitian korelasi adalah penelitian yang dilakukan oleh

peneliti untuk mengetahui tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih,

tanpa melakukan manipulasi terhadap data yang memasng sudah ada

(Arikunto, 2010). Penelitan ini juga merupakan penelitian empiris yang

mencoba memberikan bukti tentang pengaruh pengadopsian IFRS dan Good

Corporate Governance yang diproksikan dari komite audit, komisaris

independen, kepemilikan institusional, dan kepemilikan manajerial terhadap

kualitas laba pada perusahaan-perusahaan yang masuk dalam kategori Kompas

100 periode 2012-2016. Rancangan penelitian ini dapat digambarkan dalam

skema sebagai berikut:

Pengadopsian IFRS
(X1)

H1
Komite Audit
(X2) H2

Kualitas Laba Perusahaan-Perusahaan


Komisaris Independen H3 yang Masuk dalam Kategori Kompas 100
(X3) Periode 2012-2016
(Y)
H4

Kepemilikan Institusional
(X4)
H5

Kepemilikan Manajerial
(X5)

H6

Gambar 3.1. Model Penelitian tentang Pengaruh Pengadopsian IFRS dan Good
Corporate Governance terhadap kualitas Laba pada Perusahaan-
Perusahaan yang Masuk dalam Kategori Kompas 100 Periode
2012-2016
72

Berdasarkan model penelitian tersebut di atas, dapat diuraikan variabel-

variabel penelitian ini yaitu:

1. Variabel bebas atau independent variable (X)

Menurut Sugiyono (2013) variabel bebas merupakan variabel yang

mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel

dependen (terikat). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pengadopsian

IFRS dan Good Corporate Governance yang diproksikan dari komite audit,

komisaris independen, kepemilikan institusional, dan kepemilikan

manajerial.

a. Pengadopsian IFRS (X1)

Perusahaan dikatakan telah mengadopsi IFRS apabila perusahaan

telah menerapkan IFRS secara penuh untuk melaporkan keuangan

perusahaan. Pengadopsian IFRS secara penuh dilakukan mulai tahun 2012

setelah PSAK direvisi yang secara material sesuai dengan IFRS versi 1

Januari 2009.

Pengukuran adopsi IFRS perusahaan menggunakan variabel dummy

dengan kategori atau indeks sebagai berikut:

0 = Apabila perusahaan belum menerapkan IFRS secara penuh dalam

pelaporan keuangan. Hal ini terjadi pada periode 2010-2011 sebelum

pengadopsian penuh IFRS secara penuh yang ditandai dengan revisi

PSAK yang secara material belum sesuai dengan IFRS versi 1

januari 2009.
73

1 = Apabila perusahaan telah menerapkan IFRS secara penuh dalam

pelaporan keuangan. Hal ini terjadi pada periode 2012-2013 setelah

pengadopsian IFRS secara penuh yang ditandai dengan revisi PSAK

yang secara material telah sesuai dengan IFRS versi 1 Januari 2009.

b. Komite Audit (X2)

Komite audit adalah komite yang dibentuk oleh dewan komisaris

dalam rangka membantu tugas dan fungsinya (Salim, 2005). Komite

audit memiliki peran untuk menjalankan fungsi pengawasan dan

pengendalian. Treadway Commission mengatakan bahwa komite audit

sebaiknya bertemu minimal empat kali dalam satu tahun. FCGI (2002)

menyatakan bahwa komite audit sebaiknya mengadakan pertemuan

komite audit sebanyak tiga sampai empat kali dalam satu tahun untuk

melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab mengenai pelaporan

keuangan. Pengukuran yang digunakan pada proksi komite audit adalah

frekuensi pertemuan komite audit. Frekuensi pertemuan komite audit

dipilih sebagai pengukuran untuk melihat seberapa rutin pertemuan

komite audit dilakukan dalam satu tahun.

FREK = Jumlah Pertemuan Komite Audit dalam Satu Tahun

c. Komisaris Independen (X3)

Komite Nasional Kebijakan Governance (2006) menyatakan bahwa

komisaris independen adalah anggota dewan komisaris yang tidak

terafiliasi dengan manajemen, anggota dewan komisaris lainnya, dan

pemegang saham mayoritas, serta bebas dari hubungan bisnis dan/atau


74

hubungan lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk

bertindak independen atau semata-mata demi kepentingan perusahaan.

Komisaris independen dapat dihitung dengan menggunakan rasio jumlah

anggota komisaris independen terhadap jumlah keseluruhan anggota

dewan komisaris (Rachmawati dan Triatmoko, 2007).

Jumlah komisaris independen


Komisaris Independen = Jumlah anggota dewan komisaris yang ada x 100%

d. Kepemilikan Institusional (X4)

Kepemilikan institusional merupakan kepemilikan perusahaan oleh

institusi tertentu. Beiner, dkk. (2004) mendefinisikan kepemilikan

institusional sebagai jumlah persentase hak suara yang dimiliki oleh

institusi. Dalam penelitian ini, kepemilikan institusional diukur dengan

rasio jumlah saham yang dimiliki institusi terhadap jumlah saham yang

beredar.

Jumlah saham investor institusional


Kepemilikan Institusional = Jumlah saham yang beredar

e. Kepemilikan Manajerial (X5)

Kepemilikan manajerial merupakan kepemilikan saham yang

dimiliki oleh manajemen sebuah perusahaan. Dengan kata lain, pihak

manajemen menjadi bagian dari pemegang saham perusahaan.

Kepemilikan manajerial dihitung dengan rasio saham yang dimiliki oleh


75

pihak manajemen terhadap jumlah saham yang beredar (Pranata dan

Machfoedz, 2003).

Jumlah saham manajemen


Kepemilikan Manajerial = Jumlah saham yang beredar

2. Variabel terikat atau dependent variable (Y)

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kualitas laba. Kualitas

laba diukur dengan proksi discretionary accrual. Pengukuran dengan proksi

ini biasa digunakan untuk menilai adanya tindakan manajemen laba yang

hanya memihak pada kepentingan manajemen sendiri. Laba yang

berkualitas tinggi adalah laba yang bebas dari tindakan rekayasa dan

manipulasi.

Pengukuran kualitas laba melalui discretionary accrual dihitung

dengan model Jones yang telah dimodifikasi dengan pendekatan Dechow,

dkk. (1995). Discretionary accrual dihitung dengan menselisihkan total

accruals dan nondiscretionary accrual. Nilai discretionary accrual yang

lebih tinggi, menggambarkan kualitas laba yang lebih rendah. Penghitungan

discretionary accrual memiliki langkah-langkah sebagai berikut:

TAC (total accrual) = laba bersih (net income) arus kas operasi (cash

flow from operation) ............................................ (1)

TAC/At-1 = 1 (1/At-1) + 2 (REVt- RECt /At-1)

+ 3 (PPEt/At-1) + ............................................ (2)

NDA = 1 (1/At-1) + 2 (REVt-RECt)/At-1)

+ 3 (PPEt/At-1) .................................................. (3)


76

Nilai discretionary accrual didapat dari penghitungan sebagai berikut:

DAC = TAt /At-1-NDA ............................................................................. (4)

Keterangan:

At-1 = Total aset pada periode t-1

REVt = Perubahan pendapatan dalam periode t

PPEt = Property, Plant, and Equipment

1, 2, 3 = koefisien regresi

DAC = Discretionary accrual pada periode t

NDA = Non discretionary accrual

RECt = Perubahan piutang bersih dalam periode t

Nilai DAC positif bermakna bahwa manajemen laba terjadi dengan

menaikkan laba. Sebaliknya, nilai DAC negatif bermakna bahwa

manajemen laba terjadi dengan menurunkan laba. Selanjutnya, nilai DAC

diabsolutkan untuk melihat secara keseluruhan keberadaan manajemen laba,

baik dengan cara menaikkan maupun menurunkan laba perusahaan. Nilai

absolut DAC yang tinggi, mengindikasikan kualitas laba yang rendah.

C. Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling

1. Populasi

Menurut Sugiyono (2013) populasi adalah wilayah generalisasi yang

terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik

tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik

kesimpulannya. Pada penelitian ini, perusahaan yang diteliti adalah pada


77

perusahaan-perusahaan yang masuk dalam kategori Kompas 100 periode

2012-2016.

2. Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel

Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki

oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2013). Sampel penelitian ini adalah

perusahaan-perusahaan yang masuk dalam kategori Kompas 100 periode

2012-2016. Alasan pemilihan sampel dari perusahaan yang tercatat di

Indeks Kompas 100 Bursa Efek Indonesia adalah karena saham-saham

yang terpilih untuk dimasukkan dalam indeks Kompas 100 ini memiliki

likuiditas yang tinggi, nilai kapitalisasi pasar yang besar, dan merupakan

saham-saham yang memiliki fundamental dan kinerja yang baik. Sehingga

pemilihan sampel dari perusahaan yang tercatat di Indeks Kompas 100

diharapkan dapat mewakilkan penelitian mengenai kualitas laba dengan

baik. Jenis sampel dalam penelitian ini adalah purposive sampling dan

penelitian ini bersifat cross sectional. Kriteria pemilihan sampel dalam

penelitian ini adalah:

a. Perusahaan-perusahaan yang masuk dalam kategori Kompas 100

periode 2012-2016;

b. Seluruh perusahaan yang masuk dalam kategori Kompas 100 secara

berturut-turut pada periode 2012-2016;

c. Laporan keuangan telah diaudit oleh auditor independen;

d. Perusahaan tersebut tidak mengalami kerugian; dan


78

e. Data-data tersedia secara lengkap dalam laporan keuangan dan tahunan

yang diterbitkan BEI.

D. Teknik Pengumpulan Data

Pemilihan teknik pengumpulan data harus relevan dengan kebutuhan data

penelitian. Pada penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan

adalah teknik dokumentasi. Teknik dokumentasi yaitu mencari data yang

berupa dokumen. Menurut Sugiyono (2013) dokumen merupakan catatan

peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau

karya-karya monumental dari seseorang. Untuk melengkapi data, dilakukan

pola studi kepustakaan dengan menelaah dan mengkaji bahan bacaan yang

relevan dengan topik yang diteliti. Dokumen-dokumen yang digunakan sebagai

data dalam penelitian ini berupa laporan keuangan perusahaan-perusahaan

yang t masuk dalam kategori Kompas 100 secara berturut-turut pada periode

2012-2016 yang menjadi sampel dalam penelitian, serta literatur, jurnal

maupun referensi dari sumber lain yang terkait dengan penelitian ini.

Teknik dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan

strategi arsip. Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Indonesia Stock Exchange www.idx.co.id dan laman resmi masing-masing

perusahaan. Periodisasi data penelitian yang mencakup data periode tahun

2012 sampai dengan 2016 dipandang cukup mewakili data yang dibutuhkan

dalam penelitian.
79

E. Teknik Analisis Data

1. Analisis Deskriptif

Menurut Ghozali (2016), statistik deskriptif memberikan gambaran

atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar

deviasi, varian, maksimum, minimum, sum, range, kurtosis, dan skewness

(kemencengan distribusi). Analisis deskriptif digunakan untuk

mendeskripsikan data yang ada dalam penelitian ini yang terdiri dari

pengadopsian IFRS (X1), komite audit (X2), komisaris independen (X3),

kepemilikan institusional (X4), kepemilikan manajerial (X5), dan kualitas

laba (Y). Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah standar

deviasi, mean, maksimum dan minimum.

2. Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik digunakan untuk menguji BLUE, meliputi beberapa

uji berikut ini:

a. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinieritas bertujuan untuk mengetahui apakah ditemukan

adanya korelasi yang sangat kuat antar variabel bebas (Ghozali, 2016).

Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi yang sangat

kuat di antara variabel bebas. Multikolinieritas dapat dilihat dari nilai

tolerance dan variance inflation factor (VIF). Tolerance mengukur

variabilitas variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh

variabel independen lainnya. Nilai tolerance yang rendah sama dengan

nilai VIF tinggi (karena VIF=1/tolerance) dan menunjukkan adanya


80

kolonieritas yang tinggi. Nilai yang umum dipakai adalah nilai tolerance

< 0,10 atau sama dengan VIF > 10. Walaupun multikolinieritas dapat

dideteksi dengan nilai tolerance dan VIF, tetapi tetap tidak mengetahui

variabel-variabel bebas mana sajakah yang saling berkorelasi (Ghozali,

2016).

Cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinieritas adalah

dengan melihat nilai tolerance dan VIF (variance inflation factor) dari

output SPSS. Apabila nilai tolerance lebih dari 0,1 dan VIF kurang dari

10 maka pada masing-masing variabel bebas tidak terjadi

multikolinieritas (Priyatno, 2010).

b. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedasitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model

regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke

pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke

pengamatan lain tetap, maka disebut homoskesdastisitas dan jika berbeda

maka disebut heteroskedastisitas (Ghozali, 2016).

Model regresi yang baik adalah jika terjadi homoskedastisitas.

Untuk mengetahui ada tidaknya gejala ini, digunakan uji koefisien

korelasi Spearman rho. Apabila nilai signifikansi > 0,05, maka dalam

persamaan regresi tidak terjadi heteroskedastisitas.

c. Uji Normalitas Data

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model

regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal.


81

Seperti diketahui bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual

mengikuti distribusi normal. Kalau asumsi ini dilanggar maka uji statistik

menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil (Ghozali, 2016). Model

regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati

normal. Metode yang digunakan untuk uji normalitas adalah one sample

kolmogorov-smirnov yang diolah dengan program SPSS (Ghozali, 2016).

Apabila nilai probabilitas signifikansi > 0,05, maka data terdistribusi

normal.

d. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya korelasi

antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada

periode t-1 (sebelumnya). Model regresi yang baik adalah regresi yang

bebas dari autokorelasi (Ghozali, 2016). Untuk mendeteksi ada tidaknya

autokorelasi dengan menggunakan uji Durbin-Watson (DW Test).

Menurut Ghozali (2016) pengambilan keputusan ada tidaknya

autokorelasi adalah sebagai berikut:

Tabel 3.2. Kriteria Pengujian Autokorelasi

Hipotesis nol Keputusan Jika


Tidak ada autokorelasi positif Tolak 0 < d < dl
Tidak ada autokorelasi positif No decision dl d du
Tidak ada korelasi negatif Tolak 4 dl < d < 4
Tidak ada korelasi negatif No decision 4 du d 4 dl
Tidak ada autokorelasi, Tidak ditolak du < d < 4 - du
positif atau negatif
Sumber: Ghozali (2016)
82

3. Analisis Regresi Linear Berganda

Analisis regresi digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan antara

dua variabel atau lebih serta menunjukkan arah hubungan antara variabel

dependen dengan variabel independen (Ghozali, 2016). Teknik estimasi

variabel dependen yang melandasi analisis regresi disebut Ordinary Least

Squares (OLS) atau pangkat kuadrat terkecil biasa. Mengacu pada pendapat

Gujarati (dalam Ghozali, 2016) asumsi utama yang mendasari model regresi

linear klasik dengan menggunakan model OLS yang digunakan dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut:

ABSDACi,t = 0 + 1IFRSi,t + 2FREKi,t + 3KOMINi,t + 4KIi,t + 5MOWNi,t +

Keterangan notasi:

ABSDACi,t : Absolut discretionary accruals (kualitas laba) perusahaan i


pada waktu t
1IFRSi,t : Pengadopsian IFRS perusahaan i pada waktu t.
FREKi,t : Frekuensi pertemuan komite audit perusahaan i pada waktu
t.
KOMINi,t : Komisaris independen perusahaan i pada waktu t
KIi,t : Kepemilikan institusional perusahaan i pada waktu t
MOWNi,t : Kepemilikan manajerial perusahaan i pada waktu t
0 : konstanta (constant)
1 - 5 : koefisien regresi variabel bebas 1 sampai dengan 5
: Error (kesalahan pengganggu)
83

4. Uji Hipotesis

a. Analisis Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh

kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen.

Besarnya koefisien determinasi ini adalah antara 0 sampai dengan 1.

Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen

dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang

mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir

semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel

dependen (Ghozali, 2016).

Pada penelitian ini analisis koefisien determinasi (R2)

menggunakan nilai Adjusted R Square. Menurut Priyatno (2010) nilai

koefisien determinasi (R2) dapat diketahui dari output tabel Model

Summary pada program SPSS. Adjusted R Square adalah nilai R Square

yang telah disesuaikan, nilainya selalu lebih kecil dari R Square. Untuk

regresi dengan lebih dari dua variabel bebas digunakan Adjusted R

Square sebagai koefisien determinasi. Adapun perbedaan nilai R Square

dan Adjusted R Square adalah pada faktor koreksi (derajat bebas). R

Square tidak memiliki faktor koreksi sehingga jika dalam model, variabel

bebas terus ditambah, maka nilainya akan terus membesar. Sementara

itu, penambahan variabel bebas belum tentu menaikkan angka Adjuster R

Square sebab ia mampu menjelaskan apakah proporsi keragaman

variabel dependen mampu dijelaskan oleh variabel bebas atau tidak.


84

Penambahan nilai variabel bebas tentu belum menjadi jaminan nilai

Adjusted R Square meningkat sebab bisa saja terdapat variabel yang

sebenarnya tidak mampu menjelaskan proporsi keragaman variabel

dependen malah masuk dalam model sehingga secara implisit merusak

model.

b. Uji Parsial dengan Menggunakan Uji Statistik t

Mengacu pada pendapat Riduwan dan Sunarto (2015), langkah-

langkah uji parsial (uji statistik t) adalah sebagai berikut:

1) Merumuskan hipotesis

Ho : b1, b2, b3, b4, b5 = 0, berarti variabel X1, X2, X3, dan X4 secara

parsial tidak mempengaruhi variabel terikat

Y.

Ho : b1, b2, b3, b4, b5 0, berarti variabel X1, X2, X3, dan X4 secara

parsial mempengaruhi variabel terikat Y.

2) Menentukan nilai kritis (t tabel)

Dipilih level of significant : = 0,05 (5%)

Derajat bebas pembagi (df2) = n k

3) Menentukan nilai t

Nilai statistik t (thitung) dapat dicari dengan rumus:

bi
t hitung =
SE (bi )
dimana :

bi = koefisien regresi

SE (bi) = standard error koefisien regresi


85

4) Kriteria pengujian :

Ho ditolak, bila p < signifikansi (), dimana = 0,05

Ho diterima, bila p > signifikansi (), dimana = 0,05

c. Uji Simultan dengan Menggunakan Uji Statistik F

Langkah-langkah uji simultan (uji statistik F) adalah sebagai

berikut:

1) Merumuskan hipotesis

Hipotesis dalam Uji F ini adalah:

Ho : b1, b2, b3, b4, b5 = 0 berarti secara simultan tidak ada

pengaruh antara variabel independen

dengan variabel dependen.

Ha : b1 b2 b3 b4 b5 0 berarti secara simultan ada pengaruh

antara variabel independen dengan

variabel dependen.

2) Menentukan nilai Ftabel

Dipilih level of significant () = 0,05 (5%)

df. pembilang (df1) = k = 5

df. penyebut (df2) = (k 1) (n k)

3) Menghitung nilai Fhitung

Hasil pengolahan dengan menggunakan komputer program SPSS.

4) Kriteria uji:

Ho ditolak, bila p < signifikansi (), dimana = 0,05

Ho diterima, bila p > signifikansi (), dimana = 0,05.