Anda di halaman 1dari 51

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

1. Teori Keagenan (Agency Theory)

Sutedi (2012) menyatakan bahwa Untuk memahami corporate

governance, jalan yang paling dekat adalah memahami teori agensi (agency

theory). Teori ini memberikan wawasan analisis untuk bisa mengkaji

dampak dari hubungan agen dengan prinsipal atau prinsipal dengan

prinsipal. Menurut Emirzon (2007: 19) teori Jensen dan Meckling

menjelaskan bahwa:

Hubungan keagenan ini sebagai suatu kontrak di mana satu atau lebih
pihak (principal) memberikan tugas kepada pihak lain (agen) untuk
melaksanakan jasa dan pendelegasian wewenang dalam pengambilan
keputusan. Hubungan inilah yang dinamakan teori keagenan.

Teori keagenan (agency theory) merupakan basis teori yang mendasari

praktik bisnis perusahaan yang dipakai selama ini. Teori tersebut berakar

dari sinergi teori ekonomi, teori keputusan, sosiologi, dan teori organisasi.

Prinsip utama teori ini menyatakan adanya hubungan kerja antara pihak

yang memberi wewenang (principal) yaitu investor dengan pihak yang

menerima wewenang (agensi) yaitu manajer, dalam bentuk kontrak kerja

sama. Perbedaan kepentingan ini bisa saja disebabkan ataupun

menyebabkan timbulnya informasi asymmetri (kesenjangan informasi)

antara pemegang saham dan organisasi. Deskripsi bahwa manajer adalah

19
20

agen bagi para pemegang saham atau dewan direksi adalah benar sesuai

teori keagenan.

Teori keagenan ini menggambarkan bahwa seseorang akan melakukan

sesuai kepentingan individu. Eisendhart (1989) menyatakan bahwa teori

keagenan menggunakan tiga asumsi sifat manusia, yaitu: (1) Manusia pada

umumnya mementingkan diri sendiri (self interest), (2) Manusia memiliki

daya pikir terbatas mengenai persepsi masa mendatang (bounded

rationality), dan (3) Manusia selalu menghindari risiko (risk averse). Dalam

hal ini, para pemegang saham hanya mementingkan investasi mereka dan

manajer hanya mementingkan kompensasi yang didapat. Akibatnya, terjadi

kesenjangan informasi antara pemegang saham dan manajemen.

Rebecca (2012) menjelaskan bahwa pemisahan antara fungsi

kepemilikan dan pengelolaan perusahaan menimbulkan kemungkinan

terjadinya agency problem yang dapat menyebabkan agency conflict, yaitu

konflik yang timbul sebagai akibat keinginan manajemen (agent) untuk

melakukan tindakan yang sesuai dengan kepentingannya yang dapat

mengorbankan kepentingan pemegang saham (principal). Kenyataannya

seorang manajer memiliki lebih banyak informasi tentang perusahaan

dibandingkan dengan para pemegang saham. Ini merupakan sebuah

keuntungan bagi seorang manajer untuk meningkatkan kesejahteraan dirinya

sendiri.

Demi memenuhi tuntutan pemegang saham, manajer akan berusaha

menampilkan laba, harga saham, dan dividen yang tinggi. Manajer


21

melakukan ini karena penilaian kinerja mereka dinilai berdasar pada

kepuasan pemegang saham melihat laba yang tinggi untuk dialokasikan

pada pembagian dividen. Hal ini menyebabkan terjadinya permainan

akuntansi yang menyalahi aturan. Masalah keagenan dapat terjadi karena

para pemegang saham memiliki keterbatasan dalam memonitor kinerja yang

dilakukan oleh manajer sebagai agent-nya, apakah mereka bekerja sesuai

dengan yang diharapkan ataupun tidak (Nugroho, 2014). Pengawasan

kepada agen perlu dilakukan dengan baik serta memadai.

2. Kualitas Laba

a. Pengertian Kualitas Laba

Kualitas laba sangat menentukan informasi akuntansi yang baik.

Kualitas laba mengacu pada kemampuan laba yang dilaporkan untuk

mencerminkan laba sejati perusahaan, serta kegunaan laba yang

dilaporkan untuk memprediksi laba masa depan (Darabi, dkk., 2012).

Bellovary, dkk. (2005) mendefinisikan kualitas laba sebagai kemampuan

laba dalam merefleksikan kebenaran laba perusahaan dan membantu

memprediksi laba mendatang, dengan mempertimbangkan stabilitas dan

persistensi laba. Laba mendatang merupakan indikator kemampuan

membayar deviden masa mendatang (Surifah, 2010).

Kualitas laba perusahaan merupakan salah satu informasi penting

yang tersedia untuk publik dan dapat digunakan investor untuk menilai

perusahaan. Kualitas laba dalam akuntansi juga merujuk kepada

kemasukakalan seluruh laba yang dilaporkan oleh perusahaan (Knechel,


22

Salterio dan Ballou, 2007). Kualitas laba yang buruk ditunjukkan ketika

suatu perusahaan menyajikan laba tidak sesuai dengan laba yang

sebenarnya, sehingga informasi yang terkandung didalamnya menjadi

bias dan berdampak menyesatkan para kreditor dan investor dalam

pengambilan keputusan (Rinawati, 2011).

Schipper dan Vincent (2003) menjelaskan kualitas laba

menunjukkan tingkat kedekatan laba yang dilaporkan dengan hicksian

income, yang merupakan laba ekonomik yaitu jumlah yang dapat

dikonsumsi dalam satu periode dengan menjaga kemampuan perusahaan

pada awal dan akhir periode tetap sama. Kualitas laba akuntansi

ditunjukkan oleh kedekatan atau korelasi antara laba akuntansi dan laba

ekonomik. Angka laba akan lebih bermakna jika laba tersebut mencakup

perubahan kemakmuran dan penciptaan nilai sebagai hasil kinerja

ekonomik atau dapat pula diartikan perubahan laba akuntansi diharapkan

merefleksikan pula perubahan ekonomi perusahaan.

Kualitas laba juga dapat didefinisikan menurut perspektif

kebermanfaatannya. Schipper dan Vincent (2003) mengelompokkan

konstruk kualitas laba dan dan cara pengukurannya sebagai berikut:

1) Berdasarkan sifat runtun waktu laba

Kualitas laba meliputi: persistensi, prediktabilitas (kemampuan

memprediksi) dan variabilitas. Persistensi mengacu pada laba yang

berkelanjutan dan lebih bersifat permanen. Persistensi sebagai kualitas

laba ditentukan berdasarkan perspektif kemanfaatannya dalam


23

pengambilan keputusan khususnya dalam penilaian ekuitas.

Kemampuan prediksi menunjukkan kapasitas laba dalam memprediksi

butir informasi tertentu, misalnya laba di masa datang. Berdasarkan

konstruk variabilitas, laba berkualitas tinggi adalah laba yang

mempunyai variabilitas relatif rendah atau laba yang smooth.

2) Berdasarkan hubungan laba-kas-akrual

Kualitas laba dapat diukur dengan berbagai ukuran, seperti: rasio kas

operasi dengan laba, perubahan akrual total, estimasi discreationary

accruals dan estimasi hubungan akrual-kas. Dengan menggunakan

ukuran rasio kas operasi dengan laba, kualitas laba ditunjukkan oleh

kedekatan laba dengan aliran kas operasi. Laba yang semakin dekat

dengan aliran kas operasi mengindikasikan laba yang semakin

berkualitas. Dengan menggunakan ukuran perubahan akrual total, laba

yang berkualitas adalah laba yang mempunyai perubahan akrual total

kecil. Pengukuran ini mengasumsikan bahwa perubahan total akrual

disebabkan oleh perubahan discretionary accruals. Estimasi

discretionary accruals dapat diukur secara langsung untuk

menentukan kualitas laba. Semakin kecil discretionary accruals

semakin tinggi kualitas laba dan sebaliknya. Keeratan hubungan

antara akrual dan aliran kas juga dapat digunakan untuk mengukur

kualitas laba. Semakin erat hubungan antara akrual dan aliran kas,

semakin tinggi kualitas laba.


24

3) Berdasarkan konsep kualitatif rerangka konseptual (FASB 1978)

Laba yang berkualitas adalah laba yang bermanfaat dalam

pengambilan keputusan yaitu yang memiliki karakteristik relevansi,

reabilitas, komparabilitas. Dalam penelitian empiris koefisien regresi

harga dan return saham pada laba (dan ukuran-ukuran terkait yang

lain, misalnya aliran kas) diinterpretasikan sebagai ukuran kualitas

laba berdasarkan karakteristik relevansi dan reliabilitas.

4) Berdasarkan keputusan implementasi

Pengertian kualitas laba dari segi implementasi terbagi menjadi dua

pendekatan, yaitu: kualitas laba berhubungan negatif dengan

banyaknya pertimbangan, estimasi, dan prediksi yang dilakukan oleh

penyusun laporan keuangan. Semakin banyak pertimbangan dan

estimasi yang digunakan dalam menyusun laporan keuangan, semakin

rendah kualitas laba. Pendekatan kedua menyatakan kualitas laba

berhubungan negatif dengan besarnya keuntungan yang diambil oleh

manajemen dalam menggunakan pertimbangan agar menyimpang dari

tujuan standar (manajemen laba). Manajemen laba yang semakin besar

mengindikasi kualitas laba yang semakin rendah, dan sebaliknya.

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Laba

Jun (2009) menyatakan bahwa kualitas laba dipengaruhi oleh

beberapa faktor, yaitu:


25

1) Standar Akuntansi

Perbedaan standar akuntansi di suatu perusahaan dapat menyebabkan

perbedaan kualitas laba. Webster dan Thornton menemukan

perbedaan kualitas laba yang dapat dilihat dari discreationary

accruals pada perusahaan yang menganut GAAP dan perusahaan yang

menganut IAS.

2) Karakteristik Perusahaan

Karakteristik perusahaan yang dapat mempengaruhi kualitas laba

adalah komposisi pemegang saham, keberadaan pemegang saham

pengendali dan ukuran perusahaan. Beberapa penelitian menemukan

tindakan manajemen laba dapat berkurang pada perusahaan yang

memiliki komposisi pemegang institusional yang lebih tinggi.

3) Karakteristik Komisaris dan Komite Audit

Fungsi pengawasan yang melekat pada dewan komisaris mampu

meningkatkan kualitas laba dengan cara membatasi tindakan

manajemen laba yang dilakukan oleh manajemen perusahaan.

Dechow, dkk. (2002) mengungkapkan keberadaan komisaris

independen mampu menurunkan praktik manajemen di suatu

perusahaan. Sedangkan Vafeas (2005) membuktikan bahwa jumlah

pertemuan komite audit berhubungan positif dengan kualitas laba.

4) Karakteristik Manajerial

Karakteristik manajerial yang dapat mempengaruhi kualitas laba

misalnya: kompensasi, reputasi, gender, tingkat perputaran, usia, dan


26

sebagainya. Kalyta dan Magnan (2008) mengungkapkan adanya

kompensasi yang berbentuk tunai, rencana bonus maupun program

pensiun perusahaan dapat mempengaruhi manajer untuk melakukan

manajemen laba.

c. Manfaat Kualitas Laba

Laporan keuangan yang dipublikasikan oleh perusahaan merupakan

sumber informasi dasar bagi pihak eksternal perusahaan dalam

pengambilan keputusan. Tujuan diterbitkannya laporan keuangan adalah

menyediakan informasi keuangan bagi pengambilan keputusan

penanaman modal investor, pihak kreditur maupun keputusan-keputusan

lain yang berhubungan dengan bisnis perusahaan (SFAC No.1).

Hal tersebut mengisyaratkan jika informasi keuangan dalam

laporan keuangan merupakan informasi penting yang berpengaruh bagi

banyak pihak. Oleh karena itu, informasi keuangan tersebut harus

berkualitas tinggi karena informasi keuangan yang berkualitas tinggi

akan meminimalkan adanya kesenjangan asimetri informasi antara

pemegang saham dan manajemen perusahaan (Vafeas, 2005).

Informasi laba juga merupakan komponen yang menarik bagi pihak

ekstenal perusahaan dalam melakukan penilaian investasi maupun

keputusan kerjasama bisnis (Schipper dan Vincent, 2003). Para analis

keuangan menggunakan informasi laba untuk meramalkan nilai

pengembalian investasi di masa yang akan datang. Dewan komisaris dan

para pemilik institusional menggunakan informasi laba untuk menilai


27

kenerja perusahaan dan kualitas manajemen perusahaan. Sedangkan para

pemegang saham memerlukan informasi laba sebagai dasar penentuan

bonus berbasis laba maupun penghargaan kepada para eksekutif

perusahaan (Peasnell et all, 2000). Isu mengenai kualitas laba menjadi

penting seiring dengan kebutuhan para penggun laporan keuangan

terhadap informasi laba yang tekandung dalam laporan keuangan.

Kualitas laba yang tinggi akan meningkatkan nilai kebermanfaatan

laporan keuangan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan.

d. Pengukuran Kualitas Laba

Menurut Atwood, dkk. (2010) kualitas laba dapat diukur dengan

asosiasi antara laba sekarang dan aliran kas masa datang. Meskipun

demikian kualitas laba merupakan konsep multidimensional, yang tidak

memiliki definisi dan pengukuran secara pasti.

Para peneliti menjelaskan kualitas laba dalam berbagai versi.

Kualitas laba, menurut Schipper dan Vincent (2003), menunjukkan

tingkat kedekatan laba yang dilaporkan dengan hicksian income, yang

merupakan laba ekonomik yaitu jumlah yang dapat dikonsumsi dalam

satu perioda dengan menjaga kemampuan perusahaan pada awal dan

akhir periode tetap sama. Schipper dan Vincent (dalam Tohir, 2013),

mengelompokkan konstruk kualitas laba dan pengukurannya menjadi

empat, yaitu:
28

1) Berdasarkan sifat runtun waktu laba, kualitas laba meliputi:

persistensi, prediktabilitas (kemampuan prediksi), dan variabilitas

Atas dasar persistensi, laba yang berkualitas adalah laba yang

persisten yaitu laba yang berkelanjutan, lebih bersifat permanen dan

tidak bersifat transitori. Persistensi sebagai kualitas laba ini ditentukan

berdasarkan perspektif kemanfaatannya dalam pengambilan keputusan

khususnya dalam penilaian ekuitas. Kemampuan prediksi

menunjukkan kapasitas laba dalam memprediksi butir informasi

tertentu, misalnya laba di masa datang. Dalam hal ini, laba yang

berkualitas tinggi adalah laba yang mempunyai kemampuan tinggi

dalam memprediksi laba di masa datang. Berdasarkan konstruk

variabilitas, laba berkualitas tinggi adalah laba yang mempunyai

variabilitas relatif rendah atau laba yang smooth.

2) Kualitas laba didasarkan pada hubungan laba kas akrual yang dapat

diukur dengan berbagai ukuran, yaitu: rasio kas operasi dengan laba,

perubahan akrual total, estimasi abnormal/discretionary accruals

(akrual abnormal/ kebijakan), dan estimasi hubungan akrual kas

Dengan menggunakan ukuran rasio kas operasi dengan laba, kualitas

laba ditunjukkan oleh kedekatan laba dengan aliran kas operasi. Laba

yang semakin dekat dengan aliran kas operasi mengindikasi laba yang

semakin berkualitas. Dengan menggunakan ukuran perubahan akrual

total, laba berkualitas adalah laba yang mempunyai perubahan akrual

total kecil. Pengukuran ini mengasumsikan bahwa perubahan total


29

akrual disebabkan oleh perubahan discretionary accruals. Estimasi

discretionary accruals dapat diukur secara langsung untuk

menentukan kualitas laba. Semakin kecil discretionary accruals

semakin tinggi kualitas laba dan sebaliknya. Selanjutnya, keeratan

hubungan antara akrual dan aliran kas juga dapat digunakan untuk

mengukur kualitas laba. Semakin erat hubungan antara akrual dan

aliran kas, semakin tinggi kualitas laba.

3) Kualitas laba dapat didasarkan pada Konsep Kualitatif Rerangka

Konseptual (Financial Accounting Standards Board, FASB, 1978)

Laba yang berkualitas adalah laba yang bermanfaat dalam

pengambilan keputusan yaitu yang memiliki karakteristik relevansi,

reliabilitas, dan komparabilitas/konsistensi. Pengukuran masing-

masing kriteria kualitas tersebut secara terpisah sulit atau tidak dapat

dilakukan. Oleh sebab itu, dalam penelitian empiris koefisien regresi

harga dan return saham pada laba (dan ukuran-ukuran terkait yang lain

misalnya aliran kas) diinterpretasi sebagai ukuran kualitas laba

berdasarkan karakteristik relevansi dan reliabilitas.

4) Kualitas laba berdasarkan keputusan implementasi meliputi dua

pendekatan

Dalam pendekatan pertama, kualitas laba berhubungan negatif dengan

banyaknya pertimbangan, estimasi, dan prediksi yang diperlukan oleh

penyusun laporan keuangan. Semakin banyak estimasi yang

diperlukan oleh penyusun laporan keuangan dalam mengimplementasi


30

standar pelaporan, semakin rendah kualitas laba, dan sebaliknya.

Dalam pendekatan kedua, kualitas berhubungan negatif dengan

besarnya keuntungan yang diambil oleh manajemen dalam

menggunakan pertimbangan agar menyimpang dari tujuan standar

(manajemen laba). Manajemen laba yang semakin besar mengindikasi

kualitas laba yang semakin rendah, dan sebaliknya.

Kualitas laba sangat dibutuhkan untuk pengambilan keputusan para

stakeholder. Tidak adanya keseragaman dalam dimensi dan pengukuran

kualitas laba, memberikan banyak kemungkinan metode maupun teknik

pengukuran. Kebanyakan peneliti menelusuri kualitas laba ini dengan

menggunakan prinsip dan dimensi yang ada pada kerangka konseptual

pelaporan keuangan. Beberapa ukuran yang mencakup sebagian besar

dari dimensi conceptual framework yang ada dalam IFRS, yaitu: (i) nilai

peramalan atau nilai umpan balik; (ii) ketepatan waktu; (iii) netralitas;

(iv) penyajian yang jujur. selain dari dimensi conceptual framework yang

ada dalam IFRS, juga menambahkan dimensi lain yaitu: (v)

konservatisme (Wardhani, 2009).

Kualitas laba dapat diukur salah satunya melalui discreationary

accruals (DACC) yang dihitung dengan cara mencari selisih antara total

accruals (TAit) dan nondiscreationary accruals (NDAit). Discreationary

accruals (DACC) digunakan karena estimasi dari discreationary

accruals dapat diukur secara langsung untuk menentukan kualitas laba.

Semakin kecil discreationary accruals, maka semakin tinggi kualitas


31

labanya. DACC dapat diukur dengan menggunakan rumus sebagai

berikut (Dechow, dkk. 1995):

1) Menghitung Total Accruals

TAit = NIit CFOit

Keterangan:

TAit = Total akrual perusahaan i tahun t

NIit = Laba bersih perusahaan i tahun t

CFOit = Arus kas dari aktivitas operasi bersih perusahaan i tahun t

2) Menentukan Tingkat Akrual yang Normal

TAit/Ait-1 = 1 (1/Ait-1) + 2 ((Revt - Rect) / Ait-1)

+ 3 (PPEt/ Ait-1) + e

Keterangan:

TAit = Total akrual perusahaan i tahun t

Ait-1 = Total aset perusahaan i pada periode ke t-1

Revt = Perubahan pendapatan perusahaan i pada periode ke t

Rect = Perubahan piutang perusahaan i pada periode ke t

PPEt = Aset tetap perusahaan i pada periode ke t

1 2 3 = Koefisien regresi

e = error
32

3) Menghitung Nondiscreationary Accruals

NDAit = 1 (1/Ait-1) + 2 (Revt - Rect)/Ait-1) + 3 (PPEt/Ait-1)

Keterangan:

NDAit = Nondiscreationary Accruals perusahaan i pada periode t

Ait-1 = Total aset perusahaan i pada periode ke t-1

Revt = Perubahan pendapatan perusahaan i pada periode ke t

Rect = Perubahan piutang perusahaan i pada periode ke t

PPEt = Aset tetap perusahaan i pada periode ke t

e = error

4) Menghitung Discreationary Accruals

DACCit = TAit/ Ait-1 NDAit

Keterangan:

DACCit = Discreataionary accruals perusahaan i pada periode ke t

NDAit =Nondiscreataionary accruals perusahaan i pada periode ke t

TAit = Total accruals perusahaan i pada periode ke t

3. IFRS (International Financial Reporting Standard)

IFRS merupakan standar internasional untuk penyusunan pelaporan

keuangan yang ditekankan untuk digunakan seluruh dunia untuk tujuan

penyamaan standarisasi pelaporan keuangan. Standar Akuntansi

Internasional disusun oleh empat organisasi utama dunia yaitu Badan

Standar Akuntansi Internasional (IASB), Komisi Masyarakat Eropa (EC),

Organisasi Internasional Pasar Modal (IOSOC), dan Federasi Akuntansi


33

Internasional (IFAC). Pada tahun 2000, International Accounting Standards

Committee (IASC), yang pada tahun 2001 berubah menjadi International

Accounting Standards Board (IASB), berusaha melakukan harmonisasi

standar-standar yang berbeda dengan menerbitkan International Accounting

Standards (IAS), yang sekarang dikenal dengan International Financial

Reporting Standards (IFRS) (Wardhani, 2009). IASB adalah badan

independen yang menerbitkan, mengembangkan, dan mendorong

penggunaan standar IFRS di seluruh dunia.Standar IFRS bertujuan untuk

meningkatkan kualitas informasi akuntansi dan pelaporan keuangan.

Dalam pengintegrasian pelaporan keuangan, terjadi pro-kontra

sebelum diadopsi sebagai standar pelaporan keuangan oleh negara-negara di

seluruh dunia. Ball (dalam Natalia, 2010) memberikan catatan tentang

pengadopsian IFRS, yaitu:

a. Aturan akuntansi yang seragam secara intemasional merupakan lompatan

faith, belum teruji oleh pengalaman atau oleh suatu hasil akademik oleh

organisasi besar.

b. Penekanan IFRS pada fair value accounting terutama dalam pelaporan di

lesser-developed nations.

c. lnsentif dari pembuat atau penyiap (manajer) dan penegak atau enforcers

(auditor, courts, pengatur, politikawan) terutama masih lokal, dan akan

membuat perbedaan dalam kualitas pelaporan yang akan cenderung

untuk swept under the rug dari keseragaman.


34

d. Satu pihak mempunyai standar tertinggi, sehingga rejim pelaporan

berkualitas rendah akan tertarik untuk bebas menggunakan brand name

IFRS. Hal tersebut berarti penggunaan brand name IFRS sebagai tanda

dari kualitas oleh suatu negara akan membuang informasi tentang

perbedaan kualitas pelaporan, dan tidak mengijinkan rejim pelaporan

keuangan berkualitas tinggi untuk memberikan tanda bahwa mereka

mengikuti standar yang lebih baik daripada rejim yang berkualitas

rendah.

e. Keseragaman standar intemasional mengurangi kompetisi antara sistem

yang ada, sehingga mengurangi inovasi.

f. lmplikasi jangka panjang dari suatu politik global adalah adanya risiko

IASB (atau penggantinya) menjadi suatu badan yang berorientasi

common law secara kuat, representatif, peningkatan kesadaran politik,

pengutuban, dan birokratis (Natalia, 2010).

Selain pihak yang setuju mengadopsi lFRS, Ball (dalam Natalia,

2010) menuliskan ada sedikit pihak yang tidak setuju bahwa derajat

keseragaman dalam aturan akuntansi adalah optimal pada setiap tingkat,

misalnya perusahaan, industri, negara, atau dunia. Pihak yang tidak setuju

akan menyatakan bahwa melebarkan globalisasi pasar dan politik

menyiratkan sejumlah penyempitan dari perbedaan aturan antar bangsa,

meskipun demikian tingkat keseragaman optimal merupakan hal yang tidak

jelas. Hal tersebut dijelaskan oleh Ball (dalam Natalia, 2010) bahwa
35

pengadopsian IFRS adalah suatu eksperimen ekonomi dan politik untuk

suatu lompatan faith, yang belum diketahui hasil akhirnya.

IFRS disusun berdasarkan principles-based standards. Keunggulan

principles-based standards dibandingkan rule-based standards adalah

perusahaan dapat mengimplementasikan standar akuntansi sesuai dengan

karakteristik khusus yang dimilikinya sehingga pelaporan keuangan yang

dihasilkan akan lebih mencerminkan nilai ekonomis perusahaan (Wardhani,

2009). Ashbaugh dan Pincus (2001) menunjukkan bahwa dengan semakin

konvergennya GAAP lokal suatu negara terhadap standar akuntansi

internasional maka persyaratan pengungkapannya akan lebih banyak dan

pembatasan pilihan metode akuntansinya juga semakin besar. Selain itu,

Barth, dkk. (dalam Wardhani (2009) menyatakan bahwa dengan

menggunakan IFRS, maka kualitas akuntansi dapat diperbaiki dengan

menghilangkan alternatif-alternatif metode akuntansi yang kurang dapat

merefleksikan kinerja perusahaan dan yang dapat digunakan untuk

pengelolaan laba.

Menurut Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) (Qomariah,

2013), tingkat pengadopsian IFRS dapat dibedakan menjadi 5 tingkat:

a. Full Adoption; Suatu negara mengadopsi seluruh standar IFRS dan

menerjemahkan IFRS sama persis ke dalam bahasa yang negara tersebut

gunakan.
36

b. Adopted; Program konvergensi PSAK ke IFRS telah dicanangkan IAI

pada Desember 2008. Adopted maksudnya adalah mengadopsi IFRS

namun disesuaikan dengan kondisi di negara tersebut.

c. Piecemeal; Suatu negara hanya mengadopsi sebagian besar nomor IFRS

yaitu nomor standar tertentu dan memilih paragraf tertentu saja.

d. Referenced (konvergence); Sebagai referensi, standar yang diterapkan

hanya mengacu pada IFRS tertentu dengan bahasa dan paragraf yang

disusun sendiri oleh badan pembuat standar.

e. Not adopted at all; Suatu negara sama sekali tidak mengadopsi IFRS.

Negara-negara pengadopsi IFRS memiliki variasi-variasi dalam

mengadopsi standar IFRS. beberapa variasi tersebut yaitu (Samekto, 2013):

a. IFRS digunakan sebagai standar nasional, dengan penambahan

penjelasan yang material.

b. IFRS digunakan sebagai standar nasional dengan penambahan standar

nasional itu sendiri dengan topik yang tidak tercover pada IFRS.

c. Standar nasional akuntansi dibangun secara terpisah namun berbasis dan

memiliki kesamaan yang relevan pada IFRS, standar nasional umunya

menyediakan tambahan penjelasan yang material.

d. Standar akuntansi nasional dibangun secara terpisah tetapi berbasis dan

umumnya sama dengan IFRS dalam beberapa kasus.

e. Tidak terdapat standar nasional yang diatur, IFRS secara resmi tidak

diadopsi namun selalu digunakan.


37

Dalam melakukan konvergensi IFRS, terdapat dua macam strategi

adopsi, yaitu big bang strategy dan gradual strategy. Big bang strategy

mengadopsi penuh IFRS sekaligus, tanpa melalui tahapan-tahapan tertentu.

Strategi ini digunakan oleh negara -negara maju. Sedangkan pada gradual

strategy, adopsi IFRS dilakukan secara bertahap. Strategi ini digunakan oleh

negara-negara berkembang seperti Indonesia.Terdapat 3 tahapan dalam

melakukan konvergensi IFRS di Indonesia, yaitu (Narendra, 2013):

a. Tahap Adopsi (2008 2011), meliputi aktivitas dimana seluruh IFRS

diadopsi ke PSAK, persiapan infrastruktur yang diperlukan, dan evaluasi

terhadap PSAK yang berlaku.

b. Tahap Persiapan Akhir (2011), dalam tahap ini dilakukan penyelesaian

terhadap persiapan infrastruktur yang diperlukan. Selanjutnya, dilakukan

penerapan secara bertahap beberapa PSAK berbasis IFRS.

c. Tahap Implementasi (2012), berhubungan dengan aktivitas penerapan

PSAK IFRS secara bertahap. Kemudian dilakukan evaluasi terhadap

dampak penerapan PSAK secara komprehensif.

Sangat penting untuk membedakan istilah adopsi IFRS dan

konvergensi IFRS. Pada level negara, adopsi berarti standar akuntansi

nasional secara langsung digantikan dengan IFRS. Posisi ini diambil oleh

negara-negara anggota European Union (EU) yang sejak tahun 2005

memberlakukan IFRS secara penuh. Sedangkan konvergensi adalah

mekanisme bertahap yang dilakukan suatu negara untuk mengganti standar

akuntansi nasionalnya dengan IFRS. Walaupun bukan merupakan adopsi


38

penuh, konvergensi menunjukkan perbedaan yang minimal dengan IFRS.

Perbedaan yang ada biasanya dalam hal waktu penerapan atau sedikit

pengecualian dalam pengaturan standar tertentu. Istilah adopsi dan

konvergensi digunakan secara bergantian. Kadangkala istilah adopsi IFRS

juga termasuk menunjukkan konvergensi IFRS, kecuali dinyatakan lain

(Qomariah, 2013).

Manfaat menggunakan suatu standar yang berlaku secara internasional

(IFRS) yang bisa dirasakan oleh perusahaan menurut Roberts, dkk. (dalam

Situmorang, 2011) adalah:

a. Penurunan dalam hal biaya

b. Penurunan/pengurangan resiko ketidakpastian dan misunderstanding

c. Komunikasi yang lebih efektif dengan investor

d. Perbandingan dengan anak perusahaan dan induk persahaan di negara

yang berbeda dapat dilakukan

e. Perbandingan mengenai contaractual terms seperti lending contracts dan

bonus atas kinerja manajemen.

Implementasi IFRS di Indonesia dapat memberikan dampak positif

dan negatif dalam dunia bisnis dan jasa audit. Berikut ini beberapa dampak

dalam penerapan IFRS (Narendra, 2013):

a. Akses ke pendanaan internasional akan lebih terbuka karena laporan

keuangan akan lebih mudah dikomunikasikan ke investor global.

b. Relevansi laporan keuangan akan meningkat karena lebih banyak

menggunakan nilai wajar.


39

c. Kinerja keuangan (laporan laba rugi) akan lebih fluktuatif apabila harga-

harga fluktuatif.

d. Smoothing income menjadi semakin sulit dengan penggunaan balance

sheet approach dan fair value.

e. Principle-based standards mungkin menyebabkan keterbandingan

laporan keuangan sedikit menurun yakni bila penggunaan professional

judgment ditumpangi dengan kepentingan untuk mengatur laba (earning

management).

f. Penggunaan off balance sheet semakin terbatas.

Demi menjawab kepentingan stakeholder khususnya para investor,

banyak perusahaan-perusahaan yang telah mengadopsi penuh IFRS secara

sukarela. Saat standar internasional tidak berbeda dengan standar nasional,

maka tidak akan ada masalah, yang menjadi masalah apabila standar

internasional berbeda dengan standar nasional. Menurut DSAK IAI, apabila

hal ini terjadi, maka yang didahulukan adalah standar nasional (Samekto,

2013).

4. Good Corporate Governance

a. Pengertian Good Corporate Governance

Good corporate governance merupakan konsep yang harus dimiliki

semua perusahaan untuk diterapkan pada seluruh aspek bisnis

perusahaan. Konsep dan asas Good corporate governance bertujuan

untuk memastikan tercapainya tujuan dan keuntungan seluruh pihak yang

memiliki kepentingan di perusahaan. Forum for Corporate Governance


40

in Indonesia (FCGI, 2001) mendefinisikan good corporate governance

sebagai seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang

saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah,

karyawan serta pemegang kepentingan internal dan eksternal lainnya

yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka.

Pasal 1 Surat Keputusan Menteri BUMN No. 117/M-MBU/2002

tanggal 31 Juli 2002 tentang Penerapan good corporate governance pada

BUMN menyatakan bahwa corporate governance adalah suatu proses

dan struktur yang digunakan oleh organisasi BUMN untuk mengikat

keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai

pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan

pemangku kepentingan (stakeholder) lainnya, berlandaskan peraturan

perundang-undangan dan nilai-nilai etika.

Pengertian dari corporate governance menurut Turnbull Report di

Inggris pada bulan April tahhun 1999 yang dikutip oleh Tsugoki

Fujinuma (dalam Effendi, 2009) adalah sebagai berikut:

Corporate governance is a companys system of internal control,


which has as its principal aim the management of risks that are
significant to the fulfilment of its business objectives, with a view to
safeguarding the companys assets and enchancing over the time
the value of the shareholders investment.

Definisi di atas dapat diartikan sebagai suatu sistem pengendalian

internal perusahaan yang mempunyai tujuan utama mengelola risiko

yang signifikan untuk memenuhi tujuan bisnisnya melalui pengamanan


41

asset perusahaan serta meningkatkan nilai investasi pemegang saham

dalam jangka panjang.

Menurut Bank Dunia (dalam Effendi, 2009), yang dimaksud

dengan Good Corporate Governance adalah kumpulan hukum,

peraturan, dan kaidah-kaidah yang wajib dipenuhi, yang dapat

mendorong kinerja sumber-sumber perusahaan agar berfungsi dengan

efisien dalam rangka menghasilkan nilai ekonomi jangka panjang yang

berkesinambungan bagi para pemegang saham secara khususnya dan

bagi masyarakat sekita pada umumnya.

Definisi dari GCG secara singkatnya adalah seperangkat sistem

yang dibuat guna mengorganisir perusahaan sebagai upaya menghasilkan

nilai tambah perusahaan oleh berbagai pihak yang memiliki kepentingan

terhadap perusahaan tersebut.

b. Prinsip-prinsip Good Corporate Governance

Konsep Good Corporate Governance memiliki prinsip-prinsip

yang harus dimiliki dan dijalankan oleh perusahaan. Organization for

Economic Cooperation and Development (OECD) dalam Nugroho

(2014) mengembangkan lima prinsip good corporate governance, yaitu:

1) Perlindungan terhadap hak-hak pemegang saham.

2) Persamaan perlakuan terhadap seluruh pemegang saham termasuk

pemegang saham asing dan minoritas.

3) Peranan pemangku kepentingan yang terkait dengan perusahaan.

4) Keterbukaan dan transparansi.


42

5) Akuntabilitas dewan komisaris.

Demi terwujudnya prinsip Good Corporate Governance di

perusahaan, ada beberapa asas-asas yang menjadi dasar untuk

menjalankan prinsip Good Corporate Governance. Asas-asas GCG

disusun oleh Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) di dalam

Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia tahun 2006,

yaitu:

1) Transparansi (Transparency)

Untuk menjaga obyektivitas dalam menjalankan bisnis, perusahaan

harus menyediakan informasi yang material dan relevan dengan cara

yang mudah diakses dan dipahami oleh pemangku kepentingan.

Perusahaan harus mengambil inisiatif untuk mengungkapkan tidak

hanya masalah yang disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan,

tetapi juga hal yang penting untuk pengambilan keputusan oleh

pemegang saham, kreditur dan pemangku kepentingan lainnya.

2) Akuntabilitas (Accountability)

Perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara

transparan dan wajar. Untuk itu perusahaan harus dikelola secara

benar, terukur dan sesuai dengan kepentingan perusahaan dengan tetap

memperhitungkan kepentingan pemegang saham dan pemangku

kepentingan lain. Akuntabilitas merupakan prasyarat yang diperlukan

untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan.


43

3) Responsibilitas (Responsibility)

Perusahaan harus mematuhi peraturan perundang-undangan serta

melaksanakan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan

sehingga dapat terpelihara kesinambungan usaha dalam jangka

panjang dan mendapat pengakuan sebagai good corporate citizen.

4) Independensi (Independency)

Untuk melancarkan pelaksanaan asas GCG, perusahaan harus dikelola

secara independen sehingga masing-masing organ perusahaan tidak

saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain.

5) Kewajaran dan Kesetaraan (Fairness)

Dalam melaksanakan kegiatan, perusahaan harus senantiasa

memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku

kepentingan lainnya berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan

(KNKG, 2006).

c. Mekanisme Good Corporate Governance

Ada beberapa mekanisme Good Corporate Governance yang

sering dipakai dalam berbagai penelitian mengenai Good Corporate

Governance yang bertujuan untuk mengurangi konflik keagenan. Pada

penelitian ini, mekanisme yang digunakan adalah: komite audit,

komisaris independen, kepemilikan institusional, dan kepemilikan

manajerial.
44

a) Komite Audit

Perusahaan yang telah go public wajib, diwajibkan oleh Bursa

Efek Indonesia untuk memiliki komite audit. Komite audit adalah

komite yang dibentuk oleh dewan komisaris dalam rangka membantu

tugas dan fungsinya (Salim, 2005). Komite audit mempunyai peran

yang sangat penting dan strategis dalam hal memelihara kredibilitas

proses penyusunan laporan keuangan seperti halnya menjaga

terciptanya sistem pengawasan perusahaan yang memadai serta

dilaksanakannya good corporate governance (Herianto, 2013).

Dengan berjalannya fungsi komite audit secara efektif maka kontrol

terhadap perusahaan akan lebih baik sehingga konflik keagenan yang

terjadi akibat keinginan manajemen untuk meningkatkan

kesejahteraannya sendiri dapat diminimalisasi (Rachmawati dan

Triatmoko, 2007).

Demi menjaga komunikasi yang baik didalam komite audit

maka pertemuan ini perlu dilakukan, dan untuk mengurangi asimetri

informasi yang dimiliki di antara para anggota komite audit, serta baik

dilakukan untuk meyatukan suara atau pendapat yang berbeda-beda

diantara anggota audit (Nugroho, 2014). Ruwita (2012) menjelaskan

bahwa menurut Treadway Comission komite audit sebaiknya bertemu

minimal empat kali dalam satu tahun, sedangkan artikel FCGI (2002)

menyatakan bahwa komite audit sebaiknya mengadakan pertemuan

komite audit sebanyak tiga sampai empat kali dalam satu tahun untuk
45

melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab mengenai pelaporan

keuangan.

Bradbury, dkk. (dalam Suaryana, 2007) mengungkapkan selain

bertugas meningkatkan kredibilitas laporan keuangan, komite audit

juga bertugas menelaah kebijakan akuntansi yang diterapkan oleh

perusahaan, menilai pengendalian internal, menelaah sistem pelaporan

eksternal dan kepatuhan terhadap peraturan. Dalam melaksanakan

tugasnya, komite audit menyediakan komunikasi formal antara dewan,

manajemen, auditor internal dan auditor eksternal dengan tujuan agar

proses audit internal maupun audit eksternal dilakukan dengan baik.

Hasil yang baik dari proses audit internal dan audit eksternal akan

meningkatkan akurasi laporan keuangan sehingga mampu

meningkatkan kepercayaan stakeholder terhadap laporan keuangan

perusahaan (Anderson, dkk. dalam Suaryana, 2007).

Pada tanggal 21 Juli 2001, Direksi PT Bursa Efek Jakarta

mengeluarkan surat bernomor: KEP-339/BEJ/07-2001 tentang

ketentuan Umum Pencatatan Efek Bersifat Ekuitas di Bursa. Pada

poin C diatur mengenai komite audit yang menjelaskan bahwa komite

audit beranggotakan minimal tiga orang independen dan salah satunya

harus berasal dari komisaris independen yang merangkap sebagai

komite audit (Suaryana, 2007: 1). Pembentukan komite audit ini

selaras dengan tujuan penyelenggaraan perusahaan yang baik (good

corporate governance). Keberadaan komite audit juga merupakan


46

bagian dari checks and balance dalam suatu perusahaan yang pada

akhirnya ditujukan untuk memberikan perlindungan kepada para

stakeholder.

b) Komisaris Independen

Komisaris independen merupakan pihak yang tidak memiliki

keterkaitan dengan kegiatan operasional perusahaan yang memiliki

kompetensi dan keahlian untuk kepentingan perusahaan. Komite

Nasional Kebijakan Governance (2006) menyatakan bahwa komisaris

independen adalah anggota dewan komisaris yang tidak terafiliasi

dengan manajemen, anggota dewan komisaris lainnya, dan pemegang

saham mayoritas, serta bebas dari hubungan bisnis dan/atau hubungan

lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak

independen atau semata-mata demi kepentingan perusahaan.

Adanya komisaris independen diharapkan mampu meningkatkan

peran dewan komisaris sehingga tercipta tatakelola yang baik dalam

perusahaan (Herianto, 2013). Melalui perannya dalam menjalankan

fungsi pengawasan, komposisi dewan komisaris dapat mempengaruhi

pihak manajemen dalam menyusun laporan keuangan sehingga dapat

diperoleh suatu laporan laba yang berkualitas (Boediono, 2005).

Kompetensi komisaris independen yang memadai dapat mencegah

atau mengurangi timbulnya konflik-konflik yang terjadi di dalam

sebuah perusahaan. Menutur peraturan BAPEPAM I-A, proporsi


47

dewan komisaris dalam sebuah perusahaan sekurang-kurangnya 30%

dari jumlah seluruh anggota dewan komisaris.

c) Kepemilikan Institusional

Kepemilikan institusional merupakan kepemilikan atas

perusahaan oleh institusi tertentu. Institusi merupakan sebuah lembaga

yang memiliki kepentingan besar terhadap investasi yang dilakukan

termasuk investasi saham (Murwaningsari, 2009). Menurut Pozen

(dalam Murwaningsari, 2009) investor institusi dapat dibedakan

menjadi dua yaitu investor pasif dan investor aktif. Investor pasif tidak

terlalu ingin terlibat dalam pengambilan keputusan manajerial,

sedangkan investor aktif ingin terlibat dalam pengambilan keputusan

manajerial. Institusi memiliki peran yang vital dalam melakukan

pengawasan efektif pada perusahaan.

Kepemilikan institusional merupakan kepemilikan saham oleh

pemerintah, institusi keuangan, institusi badan hukum, institusi luar

negeri, dunia perwalian serta institusi lainnya pada akhir tahun (Shien,

dkk. dalam Anindhita, 2010). Jensen dan Meckling (1976)

menjelaskan bahwa kepemilikan institusional memiliki peran yang

sangat penting dalam meminimalisi konflik keagenan yang terjadi

antara manajer dan pemegang saham.

Menurut Wicaksono (2013) tingkat kepemilikan institusional

yang tinggi akan menimbulkan usaha pengawasan yang lebih besar

oleh pihak investor institusional sehingga dapat mengurangi perilaku


48

oportunistik manajer. Kepemilikan suatu perusahaan dapat terdiri atas

kepemilikan institusional, kepemilikan individual, atau campuran

keduanya dengan proporsi tertentu. Investor institusional memiliki

beberapa kelebihan dibanding dengan investor individual, diantaranya

yaitu:

a) Investor institusional memiliki sumber daya yang lebih daripada

investor individual untuk mendapatkan informasi.

b) Investor institusional memiliki profesionalisme dalam menganalisis

informasi, sehingga dapat menguji tingkat keandalan informasi.

c) Investor institusional secara umum memiliki relasi bisnis yang

lebih kuat dengan manajemen.

d) Investor institusional memiliki motivasi yang kuat untuk

melakukan pengawasan lebih ketat atas aktivitas yang terjadi di

dalam perusahaan (Tohir, 2013).

Rachmawati dan Triatmoko (2007) menyatakan bahwa dalam

hubungannya dengan fungsi monitor, investor institusional diyakini

memiliki kemampuan untuk memonitor tindakan manajemen lebih

baik dibandingkan investor individual. Terdapat dua perbedaan

pendapat mengenai investor institusional. Pendapat pertama

berdasarkan pada pandangan bahwa investor institusional adalah

pemilik sementara (transfer owner) sehingga hanya terfokus pada laba

sekarang (current earnings). Perubahan pada laba periode sekarang

dapat mempengaruhi keputusan investor institusional. Jika perubahan


49

tersebut tidak dirasa menguntungkan oleh investor, maka investor

dapat melikuidasi sahamnya. Investor institusional biasanya memiliki

saham dengan jumlah besar, sehingga apabila mereka melikuidasi

sahamnya akan mempengaruhi nilai saham secara keseluruhan. Dalam

rangka menghindari tindakan likuidasi yang dilakukan para investor

institusional, manajer cenderung akan melakukan earnings

management.

Pendapat kedua menyatakan investor institusional sebagai

investor yang berpengalaman (sophisticated). Berdasarkan pandangan

ini, investor lebih terfokus pada laba masa datang (future earnings)

yang lebih relatif lebih besar dari laba sekarang. Investor institusional

telah menghabiskan lebih banyak waktu dalam melakukan analisis

investasi dan mereka memiliki akses atas informasi yang terlalu mahal

perolehannya bagi investor lain. Investor institusional akan melakukan

monitoring secara efektif dan tidak akan mudah diperdaya dengan

tindakan manipulasi yang dilakukan manajer (Bushee dalam Robert

dan Jao, 2011).

d) Kepemilikan Manajerial

Kepemilikan manajerial merupakan kepemilikan saham yang

dimiliki oleh pihak manajemen perusahaan. Dengan demikian pihak

manajemen juga berperan sebagai pemegang saham perusahaan.

Kepemilikan manajerial terhadap saham perusahaan dipandang dapat

menyelaraskan potensi perbedaan kepentingan antara pemegang


50

saham luar dengan manajemen sehingga permasalahan keagenan

diasumsikan akan hilang apabila seorang manajer adalah juga

sekaligus sebagai pemilik (Jensen dan Meckling, 1976).

Menurut Nugroho (2014), hal ini dapat terjadi dengan adanya

kebijakan perusahaan untuk membayarkan upah atau gaji seorang

manajer dengan cara mengganti uang tunai dengan lembaran saham

atas nama perusahaan tersebut.

Berdasarkan teori keagenan, perbedaan kepentingan antara

pemegang saham dan manajer akan menimbulkan konflik yang

disebut dengan konflik keagenan (agency conflict). Konflik

kepentingan akan sangat potensial terjadi dalam perusahaan. Oleh

karena itu, dibutuhkan suatu mekanisme pengawasan yang dapat

melindungi para pemegang saham. Mekanisme pengawasan tersebut

baik dari internal maupun eksternal perusahaan akan menimbulkan

biaya agensi. Oleh karena itu, salah satu cara mengurangi biaya agensi

adalah dengan adanya kepemilikan saham oleh pihak manajemen

(Haruman, 2008).

Enggar dan Akhmad (2013) mendefinisikan kepemilikan

manajerial merupakan saham perusahaan yang dimiliki manajemen

perusahaan. Kepemilikan manajerial juga diartikan sebagai proporsi

pemegang saham dari pihak manajemen yang secara aktif ikut dalam

pengambilan keputusan perusahaan seperti direksi dan komisaris.


51

Kepemilikan manajerial dalam sebuah perusahaan, akan

memberikan keuntungan bagi perusahaan. Transparansi dan

keterbukaan akan tercapai jika terdapat kepemilikan manajerial dalam

perusahaan. Semakin besar proporsi kepemilikan saham manajemen

pada perusahaan maka manajemen cenderung berusaha lebih giat

untuk kepentingan pemegang saham yang tidak lain adalah dirinya

sendiri (Herianto, 2013). Oleh karena itu, kepemilikan manajerial

dipandang sebagai salah satu solusi untuk memecahkan masalah

konflik kepentingan yang terjadi.

Menurut Itturiaga dan Sanz (dalam Enggar, 2013) struktur

kepemilikan manajerial dapat dijelaskan dari dua sudut pandang yaitu

pendekatan keagenan (agency approach) dan pendekatan

ketidakseimbangan (asymmetric information approach). Pendekatan

keagenan menganggap kepemilikan manajerial sebagai sebuah

instrumen atau alat untuk mengurangi konflik keagenan diantara

beberapa klaim (claim holder) terhadap perusahaan. Pendekatan

ketidakseimbangan informasi memandang mekanisme kepemilikan

manajerial sebagai suatu cara untuk mengurangi ketidakseimbangan

informasi antara insider dan outsider melalui pengungkapan informasi

di dalam pasar modal.


52

B. Penelitian Terdahulu

Beberapa penelitian terdahulu tentang pengaruh pengadopsian IFRS dan

Good Corporate Governance terhadap kualitas laba adalah sebagai berikut.

Tabel 2.1. Penelitian Terdahulu


Peneliti/Tahun/ Variabel Teknik
No. Hasil Penelitian
Judul Penelitian Analisis Data
1. Herianto. a. Independen: Good a. Jenis Keberadaan komite
(2013). Corporate penelitian: audit, proporsi
Pengaruh Good Governance penelitian komisaris
Corporate b. Dependen: kualitas kuantitatif independen,
Governance laba b. Populasi: kepemilikan
Terhadap perusahaan- institusional dan
Kualitas Laba perusahaan kepemilikan
Perusahaan manufaktur manajerial
Manufaktur yang terdaftar berpengaruh postif
yang Terdaftar di Bursa Efek terhadap kualitas
Di Bursa Efek Indonesia laba perusahaan
Indonesia pada tahun
2008-2011
c. Teknik
pengumpulan
data:
dokumentasi
d. Teknik
analisis data:
uji asumsi,
regresi linear
berganda, uji
hipotesis (uji
t, uji koefisien
determinasi)
2. Ismail, dkk. a. Variabel bebas: a. Jenis a. Risiko perusahaan,
(2013). adoption of IFRS- penelitian: kualitas audit, dan
Earnings Based Accounting penelitian komite audit
Quality Standards kuantitatif berpengaruh
and The b. Variabel terikat: b. Populasi: terhadap tax
Adoption Earnings Quality perusahaan avoidance
of IFRS-Based manufaktur b. Ukuran
Accounting yang terdaftar perusahaan,
Standards di BEI 2009- multinational
Evidence 2012 yang company,
From an dipilih dengan kepemilikan
Emerging teknik institusional, dan
Market purposive proporsi dewan
sampling komisaris tidak
c. Teknik berpengaruh
53

Peneliti/Tahun/ Variabel Teknik


No. Hasil Penelitian
Judul Penelitian Analisis Data
pengumpulan terhadap tax
data: avoidance
dokumentasi
d. Teknik
analisis data:
uji asumsi,
regresi linear
berganda, uji
kelayakan
model (Uji R2,
uji F, uji
hipotesis)
3. Krismiaji, dkk. a. Variabel bebas: a. Jenis Adopsi IFRS
(2013). adopsi IFRS penelitian: meningkatkan
Pengaruh b. Variabel terikat: penelitian relevansi informasi
Adopsi kualitas informasi kuantitatif dan reliabilitas
International b. Populasi: informasi.
Financial perusahaan
Reporting manufaktur
Standard periode 2011-
terhadap 2013
Kualitas c. Teknik
Informasi pengumpulan
Akuntansi data:
dokumentasi
d. Teknik
analisis data:
uji asumsi,
regresi linear
berganda, uji
hipotesis
4. Taruno. (2013). a. Variabel bebas: a. Jenis Mekanimse
Pengaruh Komisaris penelitian: corporate
Corporate Independen dan penelitian governance
Governance Kepemilikan kuantitatif, berperngaruh
terhadap Institusional. deskriptif positif terhadap
Kualitas b. Variabel b. Populasi:
kualitas
Laba : Intervening : perusahaan
Manajemen Manajemen Laba manufaktur laba tapi tidak
Laba sebagai c. Variabel terikat: yang terdaftar berpengaruh
Variabel kualitas laba di Bursa Efek terhadap
Intervening Indonesia manajemen laba,
(BEI) tahun dan manajemen
2009-2012 laba bukan
c. Teknik variabel
pengumpulan
data:
dokumentasi
54

Peneliti/Tahun/ Variabel Teknik


No. Hasil Penelitian
Judul Penelitian Analisis Data
d. Teknik
analisis data:
uji asumsi,
regresi linear
berganda, uji
hipotesis
5. Syarif dan a. Variabel bebas: a. Jenis a. Tingkat
Pasaribu. tingkat penelitian: konvergensi IFRS
(2014). konvergensi IFRS penelitian berpengaruh
Pengaruh dan perlindungan kuantitatif terhadap kualitas
Tingkat bagi investor b. Populasi: laba
Konvergensi b. Variabel terikat: seluruh b. Perlindungan bagi
IFRS dan kualitas laba perusahaan investor tidak
Perlindungan c. Variabel kontrol: yang terdaftar berpengaruh
Bagi Investor ukuran perusahaan, di bursa efek terhadap kualitas
Terhadap tingkat negara laba
Kualitas Laba pertumbuhan Indonesia, c. Perlindungan bagi
pada penjualan, arus kas Malaysia, investor tidak
Perusahaan- operasi, tingkat Singapura, berpengaruh dalam
Perusahaan yang pertumbuhan aset dan India pada memoderasi
Terdaftar di 2009-2012 pengaruh tingkat
Bursa Efek c. Teknik konvergensi IFRS
Negara: pengumpulan terhadap kualitas
Indonesia, data: laba
Malaysia, dokumentasi
Singapura, dan Teknik
India analisis data:
statistik
deskriptif,
pengujian
pemilihan
model OLS,
pengujian
asumsi klasik,
dan pengujian
hipotesis
6. Oktaviani, Nur, a. Variabel bebas: a. Jenis a. Kepemilikan
dan Ratnawati. Good Corporate penelitian: institusional,
(2015). Governance studi pustaka dewan komisaris
Pengaruh Good b. Variabel terikat: b. Populasi: dan komite audit
Corporate kualitas laba perusahaan berpengaruh
Governance c. Variabel manufaktur signifikan terhadap
Terhadap intervening: yang terdaftar manajemen laba
Kualitas Laba manajemen laba di BEI pada b. Kepemilikan
dengan tahun 2009- manajerial dan
Manajemen 2012 dewan direksi tidak
Laba Sebagai berpengaruh
Variabel signifikan terhadap
55

Peneliti/Tahun/ Variabel Teknik


No. Hasil Penelitian
Judul Penelitian Analisis Data
Intervening c. Teknik manajemen laba
pengumpulan c. Kepemilikan
data: institusional,
dokumentasi kepemilikan
d. Teknik manajerial, dewan
analisis data: komisaris, dewan
Metode direksi dan komite
Analisis audit berpengaruh
Statistik signifikan terhadap
Deskriptif, Uji kualitas laba
Normalitas d. Manajemen laba
Data, Uji berpengaruh
Asumsi Klasik signifikan terhadap
dan Metode kualitas laba.
Analisis Jalur e. Kepemilikan
(Path institusional,
Analysis) dewan komisaris
dan komite audit
yang berpengaruh
signifikan terhadap
kualitas laba
melalui manajemen
laba sebagai
variabel
intervening
f. Kepemilikan
manajerial dan
dewan direksi tidak
berpengaruh
signifikan terhadap
kualitas laba
melalui manajemen
laba sebagai
variabel
intervening.

C. Kerangka Berpikir

Kualitas laba perusahaan merupakan tolak ukur penting dari kualitas

informasi akuntansi perusahaan. Kualitas laba dipengaruhi oleh penggunaan

standar akuntansi. Selain standar akuntansi sebagai faktor eksternal, faktor

internal memiliki peran yang sangat penting. Faktor-faktor internal


56

mencerminkan komitmen manajemen dan pihak internal perusahaan dalam

memberikan informasi yang transparan, akurat dan tidak menyesatkan bagi

investornya. Hal tersebut merupakan suatu bagian dari implementasi good

corporate governance.

IFRS merupakan standar akuntansi internasional yang dikeluarkan oleh

International Accounting Standard Board (IASB) pada Juni 2003. IFRS

merupakan hasil dari komitmen IASCF (IASB dan Trustees) dalam hal

mengembangkan seperangkat standar akuntansi global yang berkualitas tinggi,

dapat dipahami dan diterapkan. IFRS merupakan standar akuntansi

internasional setelah pendahulunya International Accounting Standards (IAS)

tidak diterbitkan lagi oleh International Accounting Standards Committee

(IASC) setelah dibubarkannya IASC yang kemudian digantikan dengan

dibentuknya IASB. IASB kemudian mengadopsi IAS dan tetap

memberlakukannya sembari menerbitkan standar baru yaitu IFRS. Adopsi,

konvergensi maupun penerapan IFRS juga mencakup IAS.

Kualitas laba yang baik diharapkan terealisasi dengan adanya adopsi

IFRS. Standar akuntansi yang digunakan secara global ini, melakukan

pembatasan terhadap sejumlah metode akuntansi seta memiliki aturan yang

lebih ketat. Laporan keuangan yang dihasilkan dapat mencerminkan kualitas

laba dari perusahaan tersebut. Meski begitu, banyak perusahaan mengambil

keputusan akuntansi yang menghasilkan laporan keuangan terlihat baik.

Tentunya, manajer turut andil dalam penyajian informasi yang ada di dalam

laporan keuangan. Manajer merupakan pihak yang bertanggung jawab atas


57

keakuratan dan kewajaran laporan keuangan. Kontrol utama terhadap integritas

sistem akuntansi dan catatan keuangan dipegang oleh manajer dalam pelaporan

keuangan. Penilaian terhadap akuntansi keuangan dapat melibatkan kebebasan

manajerial (managerial discretion). Meski begitu, dalam praktiknya, mayoritas

manajemen menggunakan kebebasan manajerial tersebut untuk melakukan

manajemen laba. Hasil penelitian Ismail et al. (2013), memperlihatkan tingkat

manajemen laba lebih rendah setelah pengadopsian IFRS dan nilai relevansi

laba lebih tinggi setelah pengadopsian IFRS. Mekanisme good corporate

governance di sebuah perusahaan dapat menghilangkan konflik keagenan yang

terjadi.

Hasil penelitian Herianto (2013) menunjukkan keberadaan komite audit,

proporsi komisaris independen, kepemilikan institusional dan kepemilikan

manajerial berpengaruh postif terhadap kualitas laba perusahaan. Dalam

pencapaian Good Corporate Governance diperlukan komite audit yang efektif.

Untuk membangun komite audit yang efektif maka prinsip dan landasan yang

harus dipegang oleh komite audit meliputi independensi, transparansi dan

disclousure, akuntabilitas dan tanggung jawab serta sikap yang adil. Ada

beberapa manfaat dari pembentukan komite audit dalam perusahaan. Pertama,

dalam hal penyusunan laporan keuangan perusahaan, komite audit

melaksanakan pengawasan independen atas penyusunan laporan keuangan dan

pelaksanaan audit ekstern. Kedua, komite audit memberikan pengawasan

independen atas proses pengelolaan resiko dan kontrol. Ketiga, komite audit

melaksanakan pengawasan independen atas proses pelaksanaan yang baik


58

penting dalam mempengaruhi kualitas pelaporan keuangan yang pada akhirnya

akan mempengaruhi kualitas laba. Komite audit membantu dewan komisaris

perusahaan melakukan pemeriksaan yang dianggap perlu terhadap pelaksanaan

fungsi manajemen dalam melaksanakan pengelolaan perusahaan serta

melaksanakan tugas penting berkaitan dengan sistem pelaporan keuangan yang

dilakukan oleh manajemen dan auditor independen. Apabila komite audit

bersikap independen dalam melaksanakan tugasnya maka pengendalian yang

diterapkan akan efektif. Pengendalian yang efektif akan berpengaruh terhadap

kinerja perusahaan yang pada akhirnya akan menghasilkan laba yang

berkualitas.

Pengaruh dewan komisaris dalam suatu perusahaan lebih ditekankan

pada fungsi monitoring dari implementasi kebijakan direksi. Peran komisaris

ini diharapkan akan meminimalisir permasalahan agensi yang timbul antara

dewan direksi dengan pemegang saham. Oleh karena itu, dewan komisaris

seharusnya dapat mengawasi kinerja direksi yang dihasilkan sesuai dengan

kepentingan pemegang saham. Dewan komisaris yang kecil akan efektif dalam

melakukan tindakan pengawasan dibandingkan dengan dewan komisaris yang

berukuran besar. Ukuran dewan komisaris yang besar dianggap kurang efektif

dalam menjalankan fungsinya karena sulit berkomunikasi, sulit berkordinasi

dalam membuat keputusan. Proporsi komisaris independen merupakan salah

satu karakteristik dewan yang berhubungan dengan kandungan informasi.

Melalui fungsi pengawasan, proporsi dewan komisaris dapat mempengaruhi


59

pihak manajemen dalam menyusun laporan keuangan sehingga dapat diperoleh

suatu laporan laba yang berkualitas.

Konsentrasi kepemilikan institusional merupakan saham perusahaan

yang dimiliki oleh institusi atau lembaga seperti perusahaan asuransi,

perusahaan investasi dan kepemilikan institusi lain. Institusi merupakan sebuah

lembaga yang memiliki kepentingan besar terhadap investasi yang dilakukan

termasuk investasi saham sehingga biasanya institusi menyerahkan tanggung

jawab pada divisi tertentu untuk mengelola investasi perusahaan tersebut.

Karena institusi memantau secara profesional perkembangan investasinya

maka tingkat pengendalian terhadap tindakan manajemen sangat tinggi

sehingga potensi kecurangan dapat ditekan. Keberadaan institusi inilah yang

mampu menjadi alat monitoring efektif bagi perusahaan. Kepemilikan

institusional memiliki peranan penting dalam meminimalisasi konflik keagenan

yang terjadi antara manajer dan pemegang saham. Keberadaan investor

institusional dianggap mampu menjadi mekanisme monitoring yang efektif

dalam setiap keputusan yang diambil oleh manajer. Kepemilikan institusional

memiliki arti penting dalam memonitor manajemen karena dengan adanya

kepemilikan oleh institusional akan mendorong peningkatan pengawasan yang

lebih optimal terhadap kinerja manajemen sehingga manajemen akan lebih

berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Dari sudut pandang teori akuntansi, manajemen laba sangat ditentukan

oleh motivasi manajer. Manajemen yang berbeda akan menghasilkan besaran

manajemen laba yang berbeda antara manajer yang sekaligus sebagai


60

pemegang saham dan manajer yang tidak sebagai pemegang saham.

Manajemen laba dilakukan oleh manajer pada faktor-faktor fundamental

perusahaan yaitu intervensi pada penyusunan laporan keuangan perusahaan

berdasarkan akuntansi akrual. Kepemilikan manajemen adalah proporsi

pemegang saham dari pihak manajemen yang secara aktif ikut dalam

pengambilan keputusan perusahaan. Dengan adanya kepemilikan manajemen

dalam sebuah perusahaan akan menimbulkan dugaan yang menarik bahwa

kualitas laba perusahaan meningkat sebagai akibat kepemilikan manajemen

yang meningkat. Kepemilikan oleh manajemen yang besar akan mendorong

manajer untuk berusaha semaksimal mungkin melakukan tindakan-tindakan

yang dapat memaksimalkan kemakmurannya. Hal tersebut didasarkan pada

logika bahwa peningkatan proporsi saham yang dimiliki manajer akan

menurunkan kecenderungan manajer untuk melakukan tindakan yang

berlebihan. Dengan demikian akan mempersatukan kepentingan manajer

dengan pemegang saham dan hal ini berdampak positif terhadap kualitas laba

perusahaan.

Berdasarkan beberapa acuan teori yang digunakan dalam penelitian ini,

dapat disusun kerangka pemikiran sebagai berikut:


61

Pengadopsian IFRS
(X1)

H1
Komite Audit
(X2) H2

Kualitas Laba Perusahaan-Perusahaan


Komisaris Independen H3 yang Masuk dalam Kategori Kompas 100
(X3) Periode 2012-2016
(Y)
H4

Kepemilikan Institusional
(X4)
H5

Kepemilikan Manajerial
(X5)

H6

Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran Penelitian

D. Hipotesis Penelitian

1. Pengaruh Pengadopsian IFRS terhadap Kualitas Laba pada

Perusahaan-Perusahaan yang Masuk dalam Kategori Kompas 100

Periode 2012-2016

International Financial Reporting Standards (IFRS) sebagai standar

akuntansi yang berlaku internasional disusun berdasarkan principal-based.

Wardhani (2009) menyatakan bahwa keunggulan principles-based ini

adalah perusahaan dapat mengimplementasikan standar akuntansi sesuai


62

dengan karakteristik khusus yang dimilikinya sehingga pelaporan keuangan

yang dihasilkan akan lebih mencerminkan nilai ekonomis perusahaan.

Ashbaugh dan Pincus (2001) menerangkan bahwa dengan semakin

konvergennya GAAP lokal suatu negara terhadap standar akuntansi

internasional maka persyaratan pengungkapannya akan lebih banyak dan

pembatasan pilihan metode akuntansinya juga semakin besar. Barth, dkk.

(2007) juga menjelaskan bahwa dengan menggunakan IFRS, maka kualitas

akuntansi dapat diperbaiki dengan menghilangkan alternatif-alternatif

metode akuntansi yang kurang dapat merefleksikan kinerja perusahaan dan

yang dapat digunakan untuk pengelolaan laba.

Penelitian telah banyak dilakukan berkaitan dengan pengaruh

pengadopsian IFRS pada negara-negara di dunia. Hasil penelitian Ismail,

dkk. (2013) menjelaskan bahwa tingkat manajemen laba lebih rendah

setelah dan nilai relevansi semakin tinggi setelah pengadopsian IFRS.

Penelitian yang dilakukan Qamariah (2013) juga menyatakan bahwa

pengadopsian IFRS berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Selain

itu, Krismiaji, dkk. (2013) meneliti hubungan kualitas informasi akuntansi.

Kualitas informasi akuntansi dalam penelitian ini adalah kualitas laba. Hasil

penelitian ini adalah relevansi dan reliabilitas informasi meningkat setelah

adopsi IFRS (Krismiaji, dkk. 2013).

Keunggulan standar IFRS yang membatasi alternatif-alternatif metode

akuntansi yang kurang tepat, dapat mengurangi praktik manajemen laba di


63

perusahaan. Sehingga, pengadopsian IFRS dapat mencerminkan kinerja

perusahaan dan pengelolaan laba yang baik.

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu, dalam penelitian ini dapat

dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:

H1 : Diduga pengadopsian IFRS berpengaruh terhadap kualitas laba pada

perusahaan-perusahaan yang masuk dalam kategori Kompas 100

periode 2012-2016.

2. Pengaruh Komite Audit terhadap Kualitas Laba pada Perusahaan-

Perusahaan yang Masuk dalam Kategori Kompas 100 Periode 2012-

2016

Dalam teori keagenan, konflik kepentingan antara manajemen dan

pemegang saham menyebabkan munculnya kemungkinan manajer

melakukan tindakan manipulasi laba yang tidak diharapkan. Keberadaan

dan tugas komite audit sangat penting di perusahaan dengan perannya

sebagai pengawas laporan keuangan, auditor, dan sistem pengendalian

perusahaan. Rachmawati dan Triatmoko (2007) mengungkapkan bahwa

dengan berjalannya fungsi komite audit secara efektif maka kontrol terhadap

perusahaan akan lebih baik sehingga konflik keagenan yang terjadi akibat

keinginan manajemen untuk meningkatkan kesejahteraannya sendiri dapat

diminimalisasi. Komite audit yang bertanggung jawab untuk mengawasi

laporan keuangan, mengawasi audit eksternal, dan mengamati sistem

pengendalian internal (termasuk audit internal) dapat mengurangi sifat

oportunistik manajemen yang melakukan manajemen laba dengan cara


64

mengawasi laporan keuangan dan melakukan pengawasan pada audit

eksternal (Siallagan dan Machfoedz, 2006). Komite audit memiliki

tanggung jawab kepada dewan komisaris perusahaan. Artikel FCGI (2002)

menyatakan bahwa komite audit sebaiknya mengadakan pertemuan komite

audit sebanyak tiga sampai empat kali dalam satu tahun untuk

melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab mengenai pelaporan

keuangan.

Penelitian Anderson, dkk. (2003) mempengaruhi kandungan informasi

dari laba yang diukur dengan ERC. Peningkatan independensi dan aktivitas

komite audit berpengaruh positif terhadap kandungan informasi dari laba.

Selain itu, penelitian yang dilakukan Susanti, dkk. (2010) menunjukkan

keberadaan komite audit berpengaruh terhadap kualitas laba. Penelitian

Siallagan dan Machfoedz (2006) menyatakan bahwa keberadaan komite

audit mempunyai pengaruh positif terhadap kualitas laba. Hal ini memberi

bukti bahwa keberadaan komite audit dapat meningkatkan efektifitas kinerja

perusahaan.

Persepsi komite audit sangat dibutuhkan oleh para investor. Investor

tidak dapat mengawasi dan mengamati secara langsung kualitas informasi

yang disampaikan perusahaan. Kualitas laba sebagai satu informasi penting

bagi para investor, membutuhkan peran komite audit yang memberikan

persepsi dan penilaian informasi keuangan melalui hasil pengawasan yang

dilakukan.
65

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu, dalam penelitian ini dapat

dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:

H2 : Diduga komite audit berpengaruh terhadap kualitas laba pada

perusahaan-perusahaan yang masuk dalam kategori Kompas 100

periode 2012-2016.

3. Pengaruh Komisaris Independen terhadap Kualitas Laba pada

Perusahaan-Perusahaan yang Masuk dalam Kategori Kompas 100

Periode 2012-2016

Mengacu pada teori keagenan (agency theory), konflik keagenan yang

terjadi antara manajemen dan investor mengakibatkan para manajer

berusaha untuk memperlihatkan kondisi laba yang baik dengan cara apapun

demi mendapat penilaian kinerja manajemen yang baik dan memuaskan.

Sehingga, perlu tindakan pengawasan ketat untuk mengatasi hal ini. Maka

dengan adanya dewan komisaris independen dapat membantu para

pemegang saham untuk mengawasi perilaku para manajernya, sehingga para

manajer tidak dapat dengan mudah untuk bertindak dengan leluasa untuk

meningkatkan kesejahteraan dirinya sendiri (Nugroho, 2014). Komisaris

independen merupakan posisi terbaik untuk melaksanakan fungsi

monitoring agar tercipta perusahaan yang good corporate governance

(Susanti, dkk. 2010).

Penelitian Lai (2005) menjelaskan bahwa dewan komisaris

independen efektif dalam mengurangi manajemen laba ketika komisaris

independen merupakan minoritas dalam dewan komisaris. Hasil penelitian


66

Xie, dkk. (2001) menunjukkan bahwa persentase dewan komisaris

independen berpengaruh negatif secara signifikan terhadap akrual kelolaan.

Penelitian lain yang diungkapkan Fama dan Jensen (1983) menerangkan

bahwa (komisaris independen) dapat bertindak sebagai penengah dalam

perselisihan yang terjadi diantara para manajer internal dan mengawasi

kebijakan manajemen serta memberikan nasihat kepada manajemen.

Kredibilitas dan independensi dewan komisaris independen sangat

dibutuhkan dalam menjalankan fungsi pengawasan. Adanya dewan

komisaris independen yang menjalankan tugas dengan baik, akan

mengurangi tindakan penyelewengan manajemen dalam mengungkapkan

informasi keuangan, termasuk informasi laba yang sangat penting.

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu, dalam penelitian ini dapat

dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:

H3 : Diduga komisaris independen berpengaruh terhadap kualitas laba pada

perusahaan-perusahaan yang masuk dalam kategori Kompas 100

periode 2012-2016.

4. Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Kualitas Laba pada

Perusahaan-Perusahaan yang Masuk dalam Kategori Kompas 100

Periode 2012-2016

Kepemilikan institusional akan mengawasi kinerja manajemen.

Melalui fungsi kepemilikan institusional, konflik antara manajemen dan

pemegang saham dapat dikurangi. Investor institusional memiliki informasi

yang lebih lengkap dibandingkan investor individual (Rachmawati dan


67

Triatmoko, 2007). Karena institusi memantau secara profesional

perkembangan investasinya maka tingkat pengendalian terhadap tindakan

manajemen sangat tinggi sehingga potensi kecurangan dapat ditekan

(Lastanti dalam Purwaningtyas, 2011).

Hasil penelitian Midiastuty dan Machfoedzs (2003) menjelaskan

bahwa kepemilikan institusional memiliki hubungan positif yang sangat

signifikan dengan ERC yang merupakan proksi dari kualitas laba. Herianto

(2013) juga memberikan hasil penelitian yang sama, yaitu kepemilikan

institusional berpengaruh positif terhadap kualitas laba. Semakin besar

kepemilikan institusionalnya maka semakin tinggi pula kualitas labanya.

Hashim dan Devi (2008) dalam penelitiannya di Malaysia menyatakan

bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif dan signifikan terhadap

kualitas laba perusahaan.

Sebagai pihak yang melakukan pengawasan pada manajemen,

menggambarkan pentingnya posisi kepemilikan institusional dalam

penerapan good corporate governance yang bebas dari konflik kepentingan.

Akses yang dimiliki investor institusional yang lebih cepat dan relevan pada

pengelolaan laba, dapat dimanfaatkan untuk mengantisipasi segala bentuk

tindakan menyimpang.
68

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu, dalam penelitian ini dapat

dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:

H4 : Diduga kepemilikan institusional berpengaruh terhadap kualitas laba

pada perusahaan-perusahaan yang masuk dalam kategori Kompas 100

periode 2012-2016.

5. Pengaruh Kepemilikan Manajerial terhadap Kualitas Laba pada

Perusahaan-Perusahaan yang Masuk dalam Kategori Kompas 100

Periode 2012-2016

Dalam teori keagenan, konflik kepentingan antara kedua pihak akan

menyebabkan manajer melakukan tindakan yang tidak diinginkan.

Kepemilikan manajerial adalah tingkat atau proporsi kepemilikan yang

dimiliki oleh manajer di perusahaan. Karena manajer memiliki posisi yang

sama dengan pemilik lainnya, maka pandangan manajer akan sama dengan

para stakeholder lainnya. Dengan demikian, manajer juga menginginkan

informasi yang jauh dari tindakan manipulasi.

Penelitian Warfield, dkk. (1995) menemukan bukti bahwa

kepemilikan manajerial berhubungan secara negatif dengan discretionary

accrual. Penelitian Siallagan dan Machfoeds (2006) mengenai pengaruh

kepemilikan manajerial terhadap kualitas laba yang diukur dengan

discrectionary accrual menyatakan bahwa kepemilikan manajerial

berpengaruh positif terhadap kualitas laba. Penelitian lain yang dilakukan

oleh Midiastuty dan Machfoedzs (2003) menemukan hasil yang positif dan
69

signifikan antara kepemilikan manajerial dan ERC sebagai proksi dari

kualitas laba.

Tingkat kepemilikan yang cukup signifikan dan berpengaruh terhadap

perusahaan dapat mengatasi konflik kepentingan yang sangat merugikan.

Kepemilikan manajer yang besar di perusahaan akan mempersatukan

kepentingan antara manajer dan pemegang saham lainnya.

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu, dalam penelitian ini dapat

dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:

H5 : Diduga kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap kualitas laba

pada perusahaan-perusahaan yang masuk dalam kategori Kompas 100

periode 2012-2016.