Anda di halaman 1dari 24

TUJUAN INSTRUKSIONAL

MAKALAH
Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Evaluasi Pendidikan IPA yang
dibimbing oleh Nanang Purwanto., M.Pd.

Oleh
Putri Pramitha Sari (17208153040)
Ma'ruf Rizal (17208153054)
Nazil Restu Wahyuningsih (17208153059)

JURUSAN TADRIS BIOLOGI


FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG
September 2017

1
DAFTAR ISI

BAB I : PENDAHULUAN 3
A. Rumusan Masalah ......................................................................... 3
B. Tujuan Penulisan ........................................................................... 4
BAB II : PEMBAHASAN 5
A. Macam-macam Tujuan Pendidikan ............................................... 3
B. Tujuan Instruksional ...................................................................... 7
C.Merumuskan Tujuan Instruksional................................................. 8
D. Taksonomi Tujuan Pembelajaran .................................................. 11
E. Langkah-langkah Merumuskan Tujuan Instruksional Khusus ...... 19
F. Tingkah Laku Akhir ...................................................................... 21
G. Ukuran Keberhasilan ..................................................................... 22
BAB III : PENUTUP ..................................................... 23
A. Kesimpulan.................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA

2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap negara tentu mempunyai cita-cita dan tujuan pendidikan warga
negaranya.Cita-cita bangsa Indonesia adalah terbentuknya manusia pancasila
bagi seluruh warga negaranya.Tujuan pendidikannya telah disajikan dengan
cita-cita tersebut.
Semua institusi atau lembaga pendidikan harus mengerahkan segala
kegiatan distribusi atau lembaga pendidikan harus mengarahkan segala
kegiatan disekolahnya bagi percepatan tujuan itu.Inilah yang disebut dengan
tujuan umum pendidikan yang secara ekplisit tertera di garis-garis besar
haluan negara.
Semua aparatur pemerintah termasuk petugas-petugas pendidikan harus
terlebih dahulu memahami makna dari rumusan tersebut dan
menerjemahkannya dalam bentuk rumusan tujuan yang sesuai dengan tingkat
dan jenis pendidikan yang diselenggarakan pada lembaga pendidikan.Inilah
yang disebut sebagai tujuan instruksional.
Semua tujuan pendirian sekolah harus berakibat atau harus berpedoman
kepada tujuan umum atau tujuan pendidikan nasional yang telah disebut.
Perumusan suatu tujuan pendidikan yang menetapkan hasil yang harus
diperoleh siswa selama belajar, dijabarkan atas pengetahuan dan pemahaman,
keterampilan, sikap dan nilai yang telah menjadi milik mahasiswa.Adanya
tujuan tertentu memberikan arah pada usaha para pengelola pendidikan dalam
berbagai taraf pelaksanaan.Dengan demikian usaha mereka menjadi tidak sia
sia karena bekerja secara profesional dengan berpedoman pada patokan yang
jelas.

3
B. Rumusan masalah
1. Apa definisi dari tujuan Instruksional ?
2. Bagaimana taksonomi dari tujuan pembelajaran ?
3. Bagaimana langkah-langkah untuk merumuskan tujuan instruksional ?

C. Tujuan penulisan
1. Untuk mengetahui definisi dari tujuan Instruksional
2. Untuk mngetahui taksonomi dari tujuan pembelajaran
3. Untuk mengetahui langkah-langkah untuk merumuskan tujuan
instruksional

4
BAB II

PEMBAHASAN

A. Bermacam-Macam Tujuan Pendidikan


Setiap negara tentu mempunyai cita-cita tentang warga negaranya akan
diarahkan. Cita-cita tersebut dimanifestasikan dalam bentuk tujuan akan
pendidikannya. Sebagai contoh, negara ingin mengarahkan warga negaranya
menjadi manusia yang sehat jasmani dan rohaninya maka tujuan pendidikannya
telah disejajarkan dengan cita-cita tersebut.
cita-cita bangsa Indonesia adalah terbentuknya manusia Pancasila bagi
seluruh warga negaranya. Tujuan pendidikannya telah disejajarkan dengan cita-
cita tersebut.Semua institusi atau lembaga pendidikan harus mengarahkan segala
kegiatan di sekolahnya bagi pencapaian tujuan itu.lnilah yang disebut dengan
tujuan umum pendidikan yang secara eksplisit tertera di dalam Garis-Garis Besar
Haluan Negara.
Semua aparatur pemerintah termasuk petugas-petugas pendidikan, harus
terlebih dahulu memahami makna dari rumusan tersebut dan menerjemahkannya
dalam bentuk rumusan tujuan yang sesuai dengan tingkat dan jenis pendidikan
yang diselenggarakan pada lembaga tersebut.Inilah yang disebut sebagai tujuan
instruksional.Tujuan ini sudah khusus diperuntukkan bagi tujuan penyelenggaraan
sekolah/institusi ini.Semua tujuan pendirian sekolah harus berkiblat kepada tujuan
umum atau tujuan pendidikan nasional yang telah disebut.
Dengan demikian maka tujuan pendidikan nasional memiliki fungsi sebagai
frame of reference untuk selanjutnya dijabarkan menjadi tujuan instruksional.
Sebagai pendalaman berikut ini adalah kutipan rumusan tujuan umum tersebut:
"Pengembangan di bidang pendidikan didasarkan atas falsafah negara
Pancasila dan diarahkan untuk membentuk manusia-manusia pembangunan yang
ber-Pancasila dan untuk membentuk manusia Indonesia yang sehat jasmani dan
rohaninya memiliki pengetahuan dan keterampilan, dapat mengembangkan
kreativitas dan tanggung jawab dapat menyuburkan sikap demokrasi dan penuh
tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi

5
pekerti yang luhur, mencintai bangsanya dan mencintai sesama manusia sesuai
dengan ketentuan termaktub dalam UUD 1945."
Kegiatan-kegiata yang muncul dalam pola kesamaan pendidikan, didasarkan
pada rumusan tujuan pendidikan nasional ini.Sedangkan materinya perlu diisi dari
hasil studi empiris tentang harapan-harapan masyarakat mengenai kemampuan
pengetahuan dan sikap yang harus dimiliki oleh para lulusan.
Selanjutnya, sebagai tindak lanjut dari penjabaran tujuan umum menjadi
tujuan institusional, adalah perumusan lain telah disiapkan oleh para ahli bidang
studi, sebagai penanggung Jawab program kurikuler.Untuk dapat memenuhi
harapan dicapainya penguasaan terhadap program kurikuler ini, dirumuskanlah
suatu tujuan yang disebut tujuan kurikuler.Tujuan kurikuler adalah tujuan yang
dirumuskan untuk masing-masing bidang studi. Sebegitu jauh pembicaraan
tentang tujuan ini, apabila digambarkan dalam bentuk skema akan terlihat seperti
berikut:

Tujuan umum pendidikan


nasional

Pend. Pend. Pend. Pend. matema Ilmu Ilmu Bahasa


Agam moral Olahr Bahasa tika pengeta pengeta inggris
TI
a panca aga indone huan huan Dst
sila sia alam sosial
Tkur.Tkur.Tkur.Tkur.Tkur.Tkur.Tkur.Tkur.
TI = Tujuan Institusional
Tkur = Tujuan Kurikuler

Dari skema tersebut akan mudah dipahami bahwa:


1) Tujuan institusional adalah tujuan dari masing-masing institusia lembaga.
Misalnya:
-tujuan Sekolah Dasar,
-tujuan Sekolah Menengah Pertama,

6
-tujuan Sekolah Pendidikan Guru,
dan sebagainya yang masing-masing sudah dicanangkan sesuai dengan
harapan lulusannya.
2) Tujuan kurikuler adalah tujuan dari masing-masing bidang studi.
Misalnya:
-tujuan pelajaran Pendidikan Agama,
-tujuan pelajaran Matematika,
-tujuan pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial,
dan sebagainya, yang akan berbeda dari satu bidang studi ke bidang stud
lain, dan juga dari tingkat institusi yang satu ke tingkat institusi yang lain.
Akan tetapi antara tujuan kurikuler suatu institusi ada hubungan dengan
tujuan kurikuler institusi yang lain.
3) Tiap-tiap tujuan, baik institusional maupun tujuan kurikuler selalu
merupakan sumbangan bagi tercapainya tujuan umum, yakni tujuan
pendidikan nasional.

B. Tujuan Instruksional (Structional Objectives)


Materi sesuatu bidang studi tidak mungkin menjadi milik kita, tanpa pelajari
terlebi dahulu, baik sendiri maupun diajarkan oleh guru. Proses atau kegiatan
mempelajari materi ini terjadi dalam saat situasi belajar-mengajar atau
(instruksional) Dari perkataan pengajaran atau instruksional inilah maka timbul
istilah tujuan instruksional, yaitu tujuan yang menggambarkan kemampuan,
keterampilan dan sikap yang harus dimiliki oleh siswa.1
Di dalam merumuskan tujuan instruksional harus diusahakan agar tampak
bahwa setelah tercapainya tujuan itu terjadi adanya perubahan pada diri anak yang
meliputi kemampuan intelektual, sikap/minat maupun keterampilan yang oleh
Bloom dan dan kawan-kawannya dikenal sebagai aspek kognitif, aspek afektif,
dan aspek psikomotor.
Apakah Tujuan Instruksional Itu Memang Perlu?
Bekerja tanpa diketahui arahnya sama halnya dengan berlayar tanpa diketahui
mau ke pulau mana kapal akan dilarikan. Kapal itu akan berputar-putar saja di

1
Suharsimi Arikanto.2008.Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan.Jakarta: Bumi Aksara.hal. 145
7
tengah lautan luas, menghadap ke barat, kadang-kadang menghadap ke timur dan
sebagainya dan akhirnya tidak diketahui apa hasil yang telah dilakukan. Demikian
pula halnya dengan mengajar, Guru yang tidak mengetahui apa tujuan
mengajarnya tidak akan jelas setiap kegiatan yang dilakukan.
Dahulu ada kecenderungan bagi guru untuk menentukan tujuan pelajarannya
pada masalah penyelesaian bahan. Dalam satu jam mengajar guru telah
menargetkan berapa babatau berapa bagian bahan akan diselesaikan dalam jam
pelajaran itu. Akibatnya guru tersebut akan terpaku bahan, dan apabila dilihat
waktunya hampir habis, ia cepatkan menerangkannya agar target yang telah
ditetapkan tercapai, tanpa memperhatikan apakah siswanya dapat memahami
pelajarannya atau tidak.
Dalam pembaruan sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia sekarang ini,
setiap guru dituntut untuk menyadari tujuan dari kegiatannya mengajar dengan
titik tolak kebutuhan siswa. Oleh karena itu dalam merancang sistem belajar yang
akan dilakukannya, langkah pertama yang ia lakukan adalah membuat tujuan
instruksional. Dengan tujuan instruksional:
(1) Guru mempunyai arah untuk:
-memilih bahan pelajaran,
-memilih prosedur (metode) mengajar.
(2) siswa mengetahui arah belajarnya
(3) Setiap guru mengetahui batas-batas tugas dan wewenangnya mengajarkan
suatu bahan sehingga diperkecil kemungkinan timbulnya celah (gap) atau saling
menutup (overlap) antara guru.
(4) Guru mempunyai patokan dalam mengadakan penilaian kemajuan belajar
siswa,
(5) Guru sebagai pelaksana dan petugas-petugas pemegang kebijaksanaan
(decisionmaker) mempunyai kriteria untuk mengevaluasi kualitas maupun
efisiensi pengajaran.

C. Merumuskan Tujuan Instruksional


Pengertian Tujuan Pembelajaran Tujuan pembelajaran (instructional
objective) adalah perilaku hasil belajar yang diharapkan terjadi, dimiliki, atau

8
dikuasai oleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tertentu.Hal
ini didasarkan berbagai pendapat tentang makna tjuan pembelajaran atau tujuan
instruksional.Magner (1962) mendefinisikan tujuan pembelajaran sebagaitujuan
perilaku yanghendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh peserta didik
sesuaikompetensi.Sedangkan Dejnozka dan Kavel (1981) mendefinisikan tujuan
pembelajaran adalah suatu pernyataan spefisik yangdinyatakan dalam bentuk
perilaku yang diwujudkan dalam bentuk tulisan yangmenggambarkan hasil belajar
yang diharapkan. Percival dan Ellington (1984) mendefinisikan tujuan
instruksional adalah suatupernyataan yang jelas menunjukkan penampilan /
keterampilan yang diharapkansebagai hasil dari proses belajar. Pengertian lain
menyebutkan, tujuan pembelajaran adalah pernyataan mengenai keterampilan atau
konsep yang diharapkan dapat dikuasai oleh peserta didik pada akhir priode
pembelajaran (Slavin, 1994). Tujuan pembelajaran merupakan arah yang hendak
dituju dari rangkaian aktivitas yang dilakukan dalam proses pembelajaran. Tujuan
pembelajaran dirumuskan dalam bentuk perilaku kompetensi spesifik, aktual, dan
terukur sesuai yang diharapkan terjadi, dimiliki, atau dikuasai siswa setelah
mengikuti kegiatan pembelajaran tertentu.2
Penyusunan tujuan pembelajaran merupakan tahapan penting dalam
rangkaian pengembangan desain pembelajaran. Dari tahap inilah ditentukan apa
dan bagaimana harus melakukan tahap lainnya. Apa yang dirumuskan dalam
tujuan pembelajaran menjadi acuan untuk menentukan jenis materi, strategi,
metode, dan media yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Tanpa
tujuan yang jelas, pembelajaran akan menjadi kegiatan tanpa arah, tanpa fokus,
dan menjadi tidak efektif.
Fungsi dan Manfaat Perumusan Tujuan Pembelajaran Tujuan belajar
berfungsi sebagai acuan dari semua komponen rancangan atau desain
instruksional.Oleh karena itu tujuan belajar harus dirumuskan secara tepat/jitu
sesuai dengan tingkah laku/kemampuan aktual yang harus dimiliki oleh
mahasiswa (pembelajar) setelah selesai belajar sebagai suatu kebulatan

2
http://curriculumstudy.files.wordpress.com/2007/11/media-pembelajaran.pdf . Diakses
tanggal 28 September 2017 pukul 17.03

9
kompetensi. Struktur komponen-komponen itu dalam keterkaitannya dapat dilihat
pada bagan 2 (Soekoer, 1994):

Gambar 2. Link and Mach Antar Komponen Rancangan Instruksional

Sesuai dengan bagan diatas, Tujuan Belajar harus dirumuskan paling dulu
kemudian baru komponen-komponen yang lain. Adapun manfaat yang dapat
diperoleh dari perumusan tujuan pembelajaran adalah: (1) menentukan tujuan
proses pembelajaran, (2) menentukan persyaratan awal pembelajaran, (3)
merancang strategi pembelajaran, (4) memilih media pembelajaran, (5) menyusun
instrumen evaluasi pembelajaran, dan (6) melakukan tindakan perbaikan
pembelajaran.
Telah disebutkan bahwa tujuan instruksional adalah tujuan yang menyatakan
adanya sesuatu yang dapat dikerjakan atau dilakukan siswa setelah
pengajaran.Siswa tidak mempunyai kemampuan untuk mengerjakan ataupun
melakukan.Contoh:
Sebelum ada pengajaran, siswa belum dapat membuat tabel spesifikasi,
sesudah pengajaran diberikan siswa dapat membuat tabel spesifikasi.
Jadi dalam diri siswa terjadi perubahan tingkah laku selama mengikuti
program pengajaran, atau dengan lain perkataan, perubahan tingkah laku itu
merupakan hasil dari adanya proses belajar mengajar. Oleh karena baik guru
maupun siswa perlu mengetahui perubahan apakah yang telah terjadi pada waktu
pengajaran, maka perlu adanya perumusan yang jelas bagi tujuan instruksional itu.

10
D. Taksonomi Tujuan Pembelajaran
Bloom dan kawan-kawan pada tahun 1956 menyusun klasifikasi (taxonomy)
tujuan pendidikan/belajar. Menurut mereka Tujuan Pendidikan/Belajar dibagi
menjadi tiga ranah(domain), yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Namun
demikian hingga sekarang mereka hanya dapat mengembangkan ranah kognitif
dan afektif. Sedangkan ranah psikomotor dikembangkan orang lain,yaitu Simson
pada tahun 1967 dan Harrow pada tahun 1972.

1. Taksonomi Tujuan Kognitif


Ranah Kognitif berisi tentang perilaku-perilaku yang menekankan aspek
intelektual atau pengetahuan. Berikut beberapa kategori dalam ranah
kognitif :
a. Mengingat
Tujuan pembelajarannya adalah menumbuhkan kemampuan untuk
meretensi materi pelajaran sama seperti materi yang diajarkan,
kategori proses kognitif yang tepat adalah Mengingat. Proses
mengingat adalah mengambil pengetahuan yang dibutuhkan dari
memori jangka panjang.Pengetahuan yang dibutuhkan ini boleh jadi
Pengetahuan Faktual, Koseptual, Prosedural, atau Metakognitif, atau
kombinasi dari beberapa pengetahuan ini.
Mengenali
Proses Mengenali adalah mengambil pengetahuan yang
dibutuhkan dari memori jangka panjang untuk membandingkannya
dengan informasi yang baru saja diterima.Dalam mengenali, siswa
mencari di memori jangka panjang suatu informasi yang identik
atau mirip sekali dengan informasi yang baru diterima (seperti
terjadi dalam memori kerja). Istilah lain dari mengenali adalah
mengidentifikasi.
Mengingat Kembali
Proses mengingat kembali adalah mengambil pengetahuan yang
dibutuhkan dari memori jangka panjang ketika soalnya
menghendaki demikian. Dalam mengingat kembali, siswa mencari
informasi di memori jangka panjang dan membawa informasi
11
tersebut ke memori kerja untuk diproses. Istilah lain untuk
mengingat kembali adalah mengambil.
b. Memahami
Seperti yang disinggung sebelumnya, jika tujuan utama
pembelajarannya adalah menumbuhkan kemampuan retensi, fokusnya
ialah Mengingat. Akan tetapi, bila tujuan pembelajarannya adalah
menumbuhkan kemampuan transfer, fokusnya ialah lima proses
kognitif lainnya, Memahami sampai Mencipta. Dari kelimanya, proses
kognitif yang berpijak pada kemampuan transfer dan ditekankan di
sekolah-sekolah dan perguruan tinggi ialah Memahami.Siswa
dikatakan Memahami bila mereka dapat mengkonstruksi makna dari
pesan-pesan pembelajaran, baik yang bersifat lisan, tulisan ataupun
grafis, yang disampaikan melalui pengajaran, buku, atau layar
komputer.
Menafsirkan
Menafsirkan terjadi ketika siswa dapat mengubah informasi dari
satu bentuk ke bentuk lain. Menafsirkan berupa pengubahan kata-
kata jadi kata-kata lain, gambar dari kata-kata, kata-kata jadi
gambar, angka jadi kata-kata, kata-kata jadi angka, not balok jadi
suara musik, dan semacamnya. Nama-nama lainnya adalah
menerjemahkan, memparafrasakan, menggambarkan, dan
mengklarifikasi.
Mencontohkan
Proses kognitif mencontohkan terjadi manakala siswa memberikan
contoh tentang konsep atau prinsip umum. Mencontohkan
melibatkan proses identifikasi ciri-ciri pokok dari konsep atau
prinsip umum. Nama-nama lain untuk mencontohkan adalah
mengilustrasikan dan memberi contoh.
Mengklasifikasikan
Proses kognitif mengklasifikasikan terjadi ketika siswa mengetahui
bahwa sesuatu (misalnya, suatu contoh) termasuk dalam kategori
tertentu (misalnya, konsep atau prinsip). Mengklasifikasikan

12
melibatkan proses mendeteksi ciri-ciri atau pola-pola yang sesuai
dengan contoh dan konsep atau prinsip tersebut.
Mengklasifikasikan adalah proses kognitif yang melengkapi proses
mencontohkan. Nama-nama lain dari mengklasifikasikan adalah
mengtegorikan dan mengelompokkan.
Merangkum
Proses kognitif merangkum terjadi ketika siswa mengemukakan
satu kalimat yang merepresentasikan informasi yang diterima atau
mengabstraksikan sebuah tema. Merangkum melibatkan proses
membuat ringkasan informasi, misalnya maksa suatu adegan
drama, dan proses mengabstraksikan ringkasannya, misalnya
menentukan tema atau point-point pokoknya. Nama-nama lain
untuk merangkum adalah menggeneralisasi dan mengabstraksi.
Menyimpulkan
Proses kognitif menyimpulkan menyertakan proses menemukan
pola dalam sejumlah contoh. Menyimpulkan terjadi ketika siswa
dapat mengabstraksiskan sebuah konsep atau prinsip yang
menerangkan contoh-contoh tersebut dengan mencermati ciri-ciri
setiap contohnya dan yang terpenting, dengan menarik hubungan
diantara ciri-ciri tersebut.
Proses menyimpulkan melibatkan proses kognitif membandingkan
seluruh contohnya. Misalnya, untuk menentukan angka berapa
pada urutan selanjutnya, siswa harus mengidentifikasi polanya.
Proses kognitif lain yang terkait adalah menggunakan pola itu
untuk menciptakan contoh baru. Inilah contoh mengeksekusi, yang
merupakan proses kognitif dalam kategori Mengaplikasikan.
Menyimpulkan dan mengeksekusi sering dipakai secara bersamaan
dalam tugas-tugas kognitif.
Menyimpulkan berbeda dengan mengatribusikan (proses kognitif
yang terdapat dalam kategori Menganalisis). Mengatribusikan
hanya berpusat pada sisi pragmatisnya, yaitu menentukan sudut
pandang atau tujuan pengarang, sedangkan menyimpulkan berpusat

13
pada penarikan pola informasi yang disuguhkan. Cara lain untuk
membedakan antara kedua proses ini adalah bahwa
mengatribusikan dapat diterapkan secara luas dalam situasi yang
didalamnya siswa harus membaca antarbaris, terutama ketika
mereka berusaha menentukan sudut pandang pengarang. Sementara
itu, menyimpulkan terjadi dalam konteks yang memberikan harapan
akan apa yang disimpulkan. Nama-nama lain dari menyimpulkan
adalah mengekstrapolasi, menginterpolasi, memprediksi, dan
menyimpulkan.
Membandingkan
Proses kognitif membandingkan melibatkan proses
mendeteksi persamaan dan perbedaan antara dua atau lebih objek,
peristiwa, ide, masalah, atau situasi, seperti menentukan bagaimana
suatu peristiwa terkenal (misalnya, skandal politik terbaru)
menyerupai peristiwa yang kurang terkenal (misalnya, skandal
politik terdahulu). Membandingkan meliputi pencarian
korespondensi satu-satu antara elemen-elemen dan pola-pola pada
satu objek, peristiwa atau ide dan elemen-elemen dan pola-pola
pada satu objek, peristiwa, atau ide lain. Nama-nama lainnya
adalah mengontraskan, memetakan, mencocokkan.
Menjelaskan
Proses kognitif menjelaskan berlangsung ketika siswa dapat
membuat dan menggunakan model sebab-akibat dalam sebuah
sistem. Model ini dapat diturunkan dari teori (sebagaimana sering
kali terjadi dalam sains) atau didasarkan pada hasil penelitian atau
pengalaman (sebagaimana kerap kali terjadi dalam ilmu sosial dan
humaniora). Penjelasan yang lengkap melibatkan proses membuat
model sebab-akibat, yang mencakup setiap bagian pokok dari suatu
sistem atau setiap peristiwa penting dalam rangkaian peristiwa, dan
proses menggunakan model ini untuk menentukan bagaimana
perubahan pada satu bagian dalam sistem tadi atau sebuah
peristiwa dalam rangkaian peristiwa tersebut memengaruhi

14
perubahan pada bagian lain. Nama lain dari menjelaskan adalah
membuat model.
c. Mengaplikasikan
Proses kognitif mengaplikasikan melibatkan penggunaan prosedur
prosedur tertentu untuk mengerjakan soal latihan atau menyelesaikan
masalah. Mengaplikasikan berkaitan erat dengan pengetahuan
prosedural. Kategori mengaplikasikan terdiri dari dua proses kognitif
yakni mengeksekusi (ketika tugasnya hanya soal latihan) dan
mengimplementasikan (ketika tugasnya merupakan masalah).
Mengeksekusi
Dalam mengeksekusi, siswa secara rutin menerapkan prosedur
ketika menghadapi tugas yang sudah familiar.Mengeksekusi lebih
sering diasosiasikan dengan penggunaan keterampilan dan
algoritme ketimbang dengan teknik dan metode.
Mengimplementasikan
Mengimplementasikan belangsung saat siswa memilih dan
menggunakan sebuah prosedur untuk menyelesaikan tugas yang
tidak familiar.Mengimplementasikan lebih sering diasosiasikan
dengan penggunaan tehnik dan metode ketimbang keterampilan
dan algoritme.
d. Menganalisis
Menganalisis melibatkan proses memecah-mecah materi jadi bagian-
bagian kecil dan menentukan bagaimana hubungan antar bagian dan
antara setiap bagian dan struktur keseluruhannya. Kategori proses
menganalisis ini meliputi proses-proses kognitif membedakan,
mengorganisasi, dan mengantribusikan. Tujuan pendidikan yang
diklasifikasikan dalam menganalisis mencakup belajar untuk
menentukan potongan-potongan informasi yang relavan atau penting,
menentukan cara-cara untuk menata potongan-potongan informasi
tersebut, dan menentukan tujuan dibalik informasi itu.
Membedakan

15
Membedakan melibatkan proses memilah-milah bagian-bagian
yang relavan atau penting dari sebuah struktur. Membedakan
terjadi sewaktu siswa mendiskriminasikan informasi yang relavan
dan tidak relavan, yang penting dan tidak penting.
Mengorganisasi
Mengorganisasi melibatkan proses mengidentifikasi elemen-
elemen komunikasi atau situasi dan proses mengenali bagaimana
elemen-elemen ini membentuk sebuah struktur yang keheren.
Dalam mengorganisasi, siswa membangun hubungan-hubungan
yang sistematis dan koheren antar potongan informasi.
Mengantribusikan
Mengantribusikan terjadi karena siswa dapat menentukan sudut
pandang, pendapat, nilai, atau tujuan, di balik komunikasi.
Mengantribusikan melibatkan proses deskonstruksi yang di
dalamnya siswa menentukan tujuan pengarang suatu tulisan yang
diberikan oleh guru.
e. Mengevaluasi
Mengevaluasi didefinisikan sebagai membuat keputusan berdasarkan
kriteria dan standar.Kriteria-kriteria yang paling sering digunakan
adalah kualitas, efektivitas, efisiensi, dan konsistensi.Kriteria-kriteria
ini ditentukan oleh siswa.Standar-standarnya bisa bersifat kuantitatif.
Memeriksa
Memeriksa melibatkan proses menguji inkonsistensi atau kesalahan
internal dalan suatu operasi atau produk. Misalnya, memeriksa
terjadi ketika siswa menguji apakah suatu kesimpulam sesuai
dengan premis-premisnya atau tidak.
Mengkritik
Mengkritik melibatkan proses penilaian suatu produk atau proses
berdasarkan kriteria dan standar eksternal. Dalam mengkritik,
siswa mencatat ciri-ciri positif dan negatif dan negatif dari suatu
produk dan membuat keputusan setidaknya sebagian berdasarkan
ciri-ciri tersebut.

16
f. Mencipta
Mencipta melibatkan proses menyusun elemen-elemen jadi sebuh
keseluruhan yang koheren atau fungsional. Tujuan- tujuan yang
diklasifikasikan dalam mencipta meminta siswa membuat produk baru
dengan mengorganisasi sejumlah elemen atau bagian jadi suatu pola
atau struktur yang tidak pernah ada sebelumnya.
Merumuskan
Merumuskan melibatkan proses menggambarkan maslaah dan
membuat pilihan atau hipotesis yang memenuhi kriteria-kriteria
tertentu.
Merencanakan
Merencanakan melibatkan proses merencanakan metode penyelesaian
masalah yang sesuai dengan kriteria-kriteria masalahanya, yakni
membuat rencana untuk menyelesaikan masalah. Merencanakan
adalah mempraktikkan langkah-langkah untuk menciptakan solusi
yang nyata bagi suatu masalah.
Memproduksi
Memproduksi melibatkan proses melaksanakan rencana untuk
menyelesaikan masalah yang memenuhi spesifikasi-spesifikasi
tertentu. Tujuan yang memasukkan orisinalitas atau kekhasan
merupakan tujuan memproduksi.
2. Taksonomi Tujuan Afektif
Krathwohl, Bloom dan Maisa (1964) mengembangkan taksonomi
tujuan yang berorientasikan kepada perasaan atau afektif. Taksonomi ini
menggambarkan proses seseorang di dalam mengenali dan mengadopsi nilai
dan sikap tertentu yang menjadi pedoman baginya dalam bertingkah laku.
Krathwohl mengelompokkan tujuan afektif ke dalam lima kelompok yaitu:
a. Pengenalan/penerimaan (Receiving)
Tujuan pembelajaran kelompok ini mengharapkan peserta didik untuk
mengenal, bersedia menerima dan memperhatikan berbagai
stimulus.Dalam hal ini peserta didik bersikap pasif, sekedar mendengarkan
atau memperhatikan saja.

17
b. Pemberian Respon (responding)
Tujuan pembelajaran kelompok ini menekankan keinginan untuk berbuat
sesuatu sebagai reaksi terhadap suatu gagasan, benda atau sistem nilai
lebih dari sekedar pengenalan saja. Dalam hal ini peserta didikdiharapkan
untuk menunjukkan perilaku yang diminta, misalnya: berpartisipasi, patuh,
atau memberikan tanggapan secara sukarela bila diminta.
c. Penghargaan Terhadap Nilai (Valuing)
Penghargaan terhadap nilai merupakan perasaan, keyakinan atau
tanggapan bahwa suatu gagasan, benda atau cara berpikir tertentu
memiliki nilai (worth). Dalam hal ini peserta didik secara konsisten
berperilaku sesuai dengan suatu nilai meskipun tidak ada pihak lain yang
meminta atau mengharuskan. Nilai dan value ini dapat saja dipelajari dari
orang lain, misalnya: instruktur, dosen, teman, atau keluarga.
d. Pengorganisasian (Organizing)
Pengorganisasian menunjukkan saling berhubungan antara nilai-nilai
tertentu dalam suatu sistem nilai, serta menentukan nilai mana yang
mempunyai prioritas lebih tinggi daripada nilai yang lain. Dalam hal ini
peserta didik menjadi committed terhadap suatu nilai. Dia diharapkan
untuk mengorganisasikan berbagai nilai yang dipilihnya ke dalam satu
sistim nilai dan menentukan hubungan diantara nilai-nilai tersebut.
e. Pengamalan (characterization)
Pengamalan berhubungan dengan pengorganisasian dan pngintegrasian
nilai-nilai ke dalam suatu sistem nilai pribadi.Hal ini diperlihatkan melalui
perilaku yang konsisten dengan sistem nilai tersebut.Pada tingkat ini
peserta didik bukan saja telah mencapai perilaku-perilaku pada tingkatan-
tingkatan yang lebih rendah, tetapi telah mengintegrasikan nilai-nilai
tersebut ke dalam suatu filsafat hidup yang lengkap dan meyakinkan.
Perilaku yang ditunjukkan peserta didik akan selalu konsisten dengan
filsafat hidup tersebut. Filsafat hidup tersebut merupakan bagian dari
karakter.

Pengelompokan tujuan-tujuan afektif tersebut bersifat hierarkhis, dengan


pengenalan sebagai tingkat yang paling rendah (sederhana) dan pengamalan
18
sebagai tingkat paling tinggi.Makin tinggi tingkat tujuan dalam hierarkhi
semakin besar pula keterlibatan dan komitmen seseorang terhadap tujuan
tersebut.

3. Taksonomi Tujuan Psikomotor


Tujuan pembelajaran kawasan psikomotor dikembangkan oleh Harrow
(1972), terdiri dari lima tingkat sebagai berikut:
a. Meniru (Limitation) Tujuan pembelajaran pada tingkat ini mengharapkan
peserta didik untuk dapat meniru suatu perilaku yang dilihatnya.
b. Manipulasi (Manipulation) Pada tingkat ini peserta didik diharapkan untuk
melakukan suatu perilaku tanpa bantuan visual sebagaimana perilakau
pada tingkat meniru. Peserta didik diberi petunjuk berupa tulisan atau
instruksi verbal dan diharapkan melakukan tindakan yang diminta.
c. Ketetapan Gerakan (Precision) Pada tingkat ini peserta didik diharapkan
menunjukkan suatu perilaku tanpa menggunakan contoh visual maupun
petunjuk tertulis, dan melakukannya dengan lancar, tepat, seimbang, dan
akurat.
d. Artikulasi (Articulation) Pada tingkat ini peserta didik diharapkan untuk
menunjukkan serangkaian gerakan dengan akurat, urutan yang benar, dan
kecepatan yang tepat.
e. Naturalisasi (Naturalization) Pada tingkat ini peserta didik diharapkan
melakukan gerakan tertentu secara spontan atau otomatis. Peserta didik
melakukan gerakan tersebut tanpa berpikir lagicara melakukan dan
urutannya.

E. Langkah-Langkah Yang Dilakukan Dalam Merumuskan Tujuan


Instruksional Khusus
Penyusunan Tujuan Pembelajaran (TP) yang baik perlu melibatkan unsur-
unsur yang dikenal dengan ABCD, yang berasal dari empat kata sebagai
berikut: A = Audience B = Behavior C = Condition D = Degree

A = Audience adalah pelaku yang menjadi kelompok sasaran


pembelajaran, yaitu siswa. Dalam TP harus dijelaskan siapa siswa yang
19
mengikuti pelajaran itu. Keterangan mengenai kelompok
siswa/mahasiswa yang akan manjadi kelompok sasaran pembelajaran
diusahakan sespesifik mungkin. Misalnya, siswa/mahasiswa jenjang
pendidikan apa, kelas berapa, semester berapa, dan bahkan klasifikasi
pengelompokan siswa/mahasiswa tertentu. Batasan yang spesifik ini
penting artinya agar sejak awal mereka yang tidak termasuk dalam
batasan tersebut sadar bahwa bahan pembelajaran yang dirumuskan atas
dasar TP itu belum tentu sesuai bagi mereka.Mungkin bahan
pembelajarannya terlalu mudah, terlalu sulit.Atau tidak sesuai dengan
kebutuhannya.

B = Behavior adalah perilaku spesifik khusus yang diharapkan dilakukan


peserta didik setelah selesai mengikuti proses pembelajaran. Perilaku ini
terdiri atas dua bagian penting, yaitu kata kerja dan objek. Kata kerja
menunjukkan bagaimana peserta didik mempertunjukkan sesuatu,
seperti: menyebutkan, menganalisis, menyusun, dan sebagainya.

C = Condition adalah kondisi yang dijadikan syarat atau alat yang


digunakan pada saat peserta didik diuji kinerja belajarnya. TP yang baik
di samping memuat unsur penyebutan audens (peserta didik sebagai
subyek belajar) dan perilaku, hendaknya pula mengandung unsur yang
memberi petunjuk kepada penyusun tes mengenai kondisi atau dalam
keadaan bagaimana siswa diharapkan mempertunjukkan perilaku yang
dikehendaki pada saat diuji.

D = Degree adalah derajat atau tingkatan keberhasilan yang ditargetkan


harus dicapai peserta didik dalam mempertunjukkan perilaku hasil belajar.
Target perilaku yang diharapkan dapat berupa: melakukan tanpa salah,
dalam batas waktu tertentu, pada ketinggian tertentu, atau ukuran
tingkatan keberhasilan lainnya.
Berikut adalah contoh perumusan TP :
Diberikan gambar, bahan dan alat-alat

20
C
Mahasiswa Jurusan Bangunan dapat membuat
A B
sebuah kusen pintu yang harus selesai dalam waktu 180 menit dan hasilnya
D

memenuhi standar Industri

Melalui pngamatan Siswa


C A
Dapat menyebutkan ciri-ciri benda padat dan cair
B
Minimal 3
D

Melalui Pengamatan bagian-bagian bunga


C
Peserta didikDapat menyebutkan Paling sedikit 4 bagian bunga
A B D

F. Tingkah Laku Akhir


Tingkah laku akhir adalah tingkah laku yang diharapkan setelah seseorang
mengalami proses belajar. Di sini tingkah laku ini harus menampakkan diri dalam
suatu perbuatan yang dapat diamati dan diukur (observable and measurable)
Contoh:
-menuliskan kalimat perintah.
-mengalikan pecahan persepuluhan,
-menggambarkan kurva normal,
-menyebutkan batas-batas Daerah Istimewa Yogyakarta,
-menerjemahkan bacaan bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia,
-menceritakan kembali uraian guru,

21
-mendemonstrasikan cara mengukur suhu,
-mengutarakan pendapatnya mengenai sesuatu yang didikemukakanguru,
-menjelaskan hasil bacaan dengan kalimat sendiri,
dan lain-lain lagi yang berujud kata kerja perbuatan/operasional (actionverb)
yang dapat diamati dan diukur.

G. Ukuran Keberhasilan
misalnya:
-Dengan penulisan yang betul
-Urut dari yang paling tinggi
-Dengan bahasanya sendiri
Dengan demikian maka rangkaian kata-kata dalam rumusan TIK menjadi:
-Siswa dapat menjumlahkan bilangan yang terdiri dari puluhan dan satuan
dengan penulisan yang betul.
-Siswa dapat menunjukkan letak gnung-gunung yang ada di Jawa Tengah,
urut dari yang paling tinggi.
-Siswa dapat menceritakan kembali isi bacaan tentang kisah keluarga dengan
bahasanya sendiri.
Kata-kata bercetak miring itulah yang menunjukkan standar keberhasilan.
Standar keberhasilan adalah komponen TIK yang menunjukkan seberapa jauh
tingkat keberhasilan yang dituntut oleh penilai bagi tingkah laku pelajar pada
situasi akhir. Tingkatan keberhasilan dapat dinyatakan dalam Jumlah maupun
persentase misalnya:
-dengan 75% betul,
-sekurang-kurangnya 5 dari 10,
-Tanpa kesalahan.
Dengan tambahan tingkat keberhasilan ini maka bunyi rumusan TIK menjadi.
-Siswa dapat menjumlahkan bilangan yang terdiri dari puluhan dan satuan
tanpa kesalahan.
-Siswa dapat menyebutkan kembali kota-kota yang ada di Jawa Barat urut
dari yang paling barat, dengan hanya 25% kesalahan
Yang umum dikerjakan sampai saat ini hanya sampai tingkah laku akhir saja.

22
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Tujuan Instruksional yaitu tujuan yang menggambarkan kemampuan,
keterampilan dan sikap yang harus dimiliki oleh siswa. Di dalam merumuskan
tujuan instruksional harus diusahakan agar tampak bahwa setelah tercapainya
tujuan itu terjadi adanya perubahan pada diri anak yang meliputi kemampuan
intelektual, sikap/minat maupun keterampilan yang oleh Bloom dan dan kawan-
kawannya dikenal sebagai aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotor.
Penyusunan tujuan pembelajaran merupakan tahapan penting dalam
rangkaian pengembangan desain pembelajaran. Dari tahap inilah ditentukan apa
dan bagaimana harus melakukan tahap lainnya. Apa yang dirumuskan dalam
tujuan pembelajaran menjadi acuan untuk menentukan jenis materi, strategi,
metode, dan media yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Tanpa
tujuan yang jelas, pembelajaran akan menjadi kegiatan tanpa arah, tanpa fokus,
dan menjadi tidak efektif.
Menurut Bloom Tujuan Pendidikan/Belajar dibagi menjadi tiga
ranah(domain), yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Namun demikian
hingga sekarang mereka hanya dapat mengembangkan ranah kognitif dan afektif.
Sedangkan ranah psikomotor dikembangkan orang lain,yaitu Simson pada tahun
1967 dan Harrow pada tahun 1972.
Penyusunan Tujuan Pembelajaran (TP) yang baik perlu melibatkan unsur-
unsur yang dikenal dengan ABCD, yang berasal dari empat kata sebagai berikut:
A = Audience B = Behavior C = Condition D = Degree.
Tingkah laku akhir adalah tingkah laku yang diharapkan setelah seseorang
mengalami proses belajar. Di sini tingkah laku ini harus menampakkan diri dalam
suatu perbuatan yang dapat diamati dan diukur.
Standar keberhasilan adalah komponen TIK yang menunjukkan seberapa jauh
tingkat keberhasilan yang dituntut oleh penilai bagi tingkah laku pelajar pada
situasi akhir. Tingkatan keberhasilan dapat dinyatakan dalam Jumlah maupun
persentase
23
DAFTAR PUSTAKA

http://curriculumstudy.files.wordpress.com/2007/11/media-pembelajaran.pdf.
Diakses tanggal 28 September 2017 pukul 17.03

Suharsimi Arikanto; 2008; Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan; Jakarta: Bumi


Aksara

24