Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN

PEMBERIAN IMUNISASI DPT I

A. Konsep Dasar Imunisasi


1. Pengertian

Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan


memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang
mewabah atau berbahaya bagi seseorang.Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti
kebal atau resisten. Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan memberikan
kekebalan atau resistensi pada penyakit itu saja, sehingga untuk terhindar dari
penyakit lain diperlukan imunisasi lainnya (Umar,2006).
Imunisasi adalah usaha memberikan kekebalan kepada bayi dan anak dengan
memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti bodi untuk
mencegah terhadap penyakit tertentu (Hidayat,2008).
Imunisasi adalah upaya yang dilakukan dengan sengaja memberikan kekebalan
atau imunitas pada bayi dan anak sehingga terhindar dari penyakit (Supartini,2002).
Imunisasi adalah pemberian satu atau lebih anti gen yang infeksius pada
seorang individu untuk merangsang system imun dan memproduksi anti bodi yang
akan mencegah infeksi (Schwartz,2004).

2. Tujuan

Secara umum tujuan imunisasi antara lain:

a. Tujuan diberikan imunisasi adalah diharapkan anak menjadi kebal terhadap


penyakit sehingga dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas serta dapat
mengurangi kecacatan akibat penyakit tertentu.
b. Melalui imunisasi, tubuh tidak mudah terserang penyakit menular
c. Imunisasi sangat efektif mencegah penyakit menular
d. Imunisasi menurunkan angka mordibitas (angka kesakitan) dan Mortalitas (angka
kematian) pada balita

3. Manfaat Imunisasi

a. Menghindarkan bayi dari serangan penyakit.


Dengan memberikan imunisasi pada anak sejak dini diharapkan kesehatan anak
akan tetap terjaga hingga anak tumbuh menjadi lebih aktif dan juga dewasa.
1
b. Memperkecil kemungkinan terjadinya penyakit menular.
c. Memberikan imunisasi pada anak sejak dini berarti telah menambah jumlah anak
yang memiliki kekebalan tubuh yang tinggi terhadap serangan penyakit.
d. Meningkatkan kesehatan nasional.
Manfaat imunisasi bagi anak dan bayi selain dapat menghindarkan dari penyakit
menular juga dapat meningkatkan kesehatan anak dalam taraf nasional. Sehingga
anak-anak akan merasa aman karena terbebas dari penyakit-penyakit berbahaya
yang bisa menular.

4. Sasaran Imunisasi

Sasaran imunisasi untuk anak-anak adalah:

a. Semua anak di bawah usia 1 tahun


b. Anak-anak lain yang belum mendapat imunisasi lengkap
c. Anak usia sekolah (imunisasi booster / ulangan)
d. Calon pengantin dan ibu hamil untuk imunisasi TT.

5. Jenis Imunisasi

Imunisasi sebagai salah satu cara untuk menjadikan kebal pada bayi dan anak dari
berbagai penyakit, diharapkan bayi atau anak tetap tumbuh dalam keadaan sehat. Pada
dasarnya dalam tubuh sudah memiliki pertahanan secara sendiri agar berbagai kuman
yang masuk dapat dicegah, pertahan tubuh tersebut meliputi pertahanan nonspesifik
dan pertahanan spesifik, proses mekanisme pertahanan dalam tubuh pertama kali
adalah pertahanan nonspesifik seperti complemen dan makrofag dimana complemen
dan makrofag ini yang pertama kali a3kan memberikan peran ketika ada kuman yang
masuk ke dalam tubuh. Setelah itu maka kuman harus melawan pertahanan tubuh
yang kedua yaitu pertahanan tubuh spesifik terdiri dari system humoral dan seluler.
System pertahanan tersebut hanya bereaksi terhadap kuman yang mirip dengan
bentuknya. System pertahanan humoral akan menghasilkan zat yang disebut
imonuglobulin (IgA, IgM, IgG, IgE, IgD) dan system pertahanan seluler terdiri dari
limfosit B dan limfosit T, dalam pertahanan spesifik selanjutnya akan menghasilkan
satu sel yang disebut sel memori, sel ini akan berguna atau sangat cepat dalam
bereaksi apabila sudah pernah masuk ke dalam tubuh, kondisi ini yang digunakan
dalam prinsip imunisasi. Berdasarkan proses tersebut diatas maka imunisasi dibagi
menjadi dua yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif.

2
a. Imunisasi aktif
Merupakan pemberian zat sebagai antigen yang diharapkan akan
terjadi suatu proses infeksi buatan sehingga tubuh mengalami reaksi
imonologi spesifik yang menghasilkan respons seluler dan humoral serta
sel memori, sehingga apabila benar-benar terjadi infeksi maka tubuh
secara cepat dapat merespons. Dalam imunisasi aktif terdapat empat
macam kandungan dalam setiap vaksinnya antara lain :
1) Antigen merupakan bagian dari vaksin yang berfungsi sebagai zat atau
mikroba guna terjadinya semacam infeksi buatan dapat berupa poli
sakarida, toksoid atau virus dilemahkan atau bakteri dimatikan.
2) Pelarut dapat berupa air steril atau juga berupa cairan kultur jaringan.
3) Preservatif, stabilizer, dan antibiotika yang berguna untuk menhindari
tubuhnya mikroba dan sekaligus untuk stabilisasi antigen.
4) Adjuvant yang terdiri dari garam aluminium yang berfungsi untuk
meningkatkan imonogenitas antigen.
b. Imunisasi pasif
Merupakan pemberian zat (immunoglobulin) yaitu suatu zat yang
dihasilkan melalui suatu proses infeksi yang dapat berasal dari plasma
manusia atau binatang yang digunakan untuk mengatasi mikroba yang
diduga sudah masuk di dalam tubuh yang terinfeksi. Dalam pemberian
imunisasi pada anak dapat dilakukan dengan beberapa imunisasi yang
dianjurkan diantaranya:
1) Imunisasi DPT (Diphteri, Pertusis, dan Tetanus)
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah
terjadinya penyakit diphteri. Imunisasi DPT ini merupakan vaksin
yang mengandung racun kuman diphteri yang telah dihilangkan sifat
racunnya akan tetapi masih dapat merangsang pembentukan zat anti
(Toxoid). Frekuensi pemberian imunisasi DPT adalah 3 kali dengan
maksud pemberian pertama zat anti terbentuk masih sangat sedikit
(tahap pengenalan) terhadap vaksin dan mengaktifkan organ organ
tubuh membuat zat anti, kedua dan ketiga terbentuk zat anti yang
cukup. Waktu pemberian imunisasi DPT antara umur 2 11 bulan
dengan interval 4 minggu. Cara pemberian imunisasi DPT melalui
intramuscular. Efek samping pada DPT mempunyai efek ringan dan
3
efek berat, efek ringan seperti pembengkakan dan nyeri pada tempat
penyuntikan, demam sedangkan efek berat dapat menangis hebat
kesakitan kurang lebih 4 jam, kesadaran menurun, terjadi kejang,
enchefalopati, dan syok.
Difteri adalah suatu penyakit akut yang bersifat toxin mediated
diseases dan disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphateriae.
Nama kuman ini berasal dari Yunani Dipthera yang berarti Leather
hide. Penyakit ini disebutkan pertama kali oleh Hypocrates pada abad
ke 5 SM dan epidemic pertama dikenal pada abad ke 6 oleh Aetius.
Bakteri ini ditemukan pertama kali pada membrane penderita difteri
tahun 1883 oleh klebs. Antitoksin ditemukan pertama kali pada akhir
abad ke 19 sedang toksin dibuat sekitar tahun 1920. Difteri adalah
suatu hasil gram positif. Produksi toksin terjadi hanya bila kuman
tersebut mengalami lisogenisasi oleh bakteriofag yang mengandung
informase genetic toksin (Stephanie, 2003).
Pertusis Partusis atau batuk rejan/ batuk seratus hari adalah
suatu penyakit akut yang disebabakan oleh bakteri Borditella Pertussis.
Ledakan kasus pertusis pertama kali terjadi sekitar abad 16, menurut
laporan Guillaume De Bailluo pada tahun 1578 di Paris dan kuman itu
sendiri baru dapat diisolasi pada tahun 1906 oleh Jules Bordet dan
Octave Gengoy. Sebelum ditemukannya vaksin pertusis, penyakit ini
merupakan penyakit tersering yang menyerang anak-anak dan
merupakan penyebab utama kematian
Tetanus Tetanus adalah suatu penyakit akut yang sering
bersifat fatal yang disebabkan oleh eksotoksin produksi kuman
Clostridium tetani (Ranuh, 2002).
2) Imunisasi Polio
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah
terjadinya penyakit poliomyelitis yang dapat menyebabkan
kelumpuhan pada anak. Kandungan vaksin ini adalah virus yang
dilemahkan. Frekuensi pemberian imunisasi Polio adalah 4 kali. Waktu
pemberian imunisasi Polio antara umur 0 11 bulan dengan interval 4
minggu. Cara pemberian imunisasi Polio melalui oral.

4
3) Imunisasi Hepatitis B
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah
terjadinya hepatitis yang kandungannya adalah HbsAg dalam bentuk
cair. Frekuensi pemberian imunisasi hepatitis 3 kali. Waktu pemberian
imunisasi hepatitis B pada umur 0 11 bulan. Cara pemberian
imunisasi hepatitis ini adalah intramuscular.
4) Imunisasi HiB (Haemophilus influenza tipe B)
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah
terjadinya penyakit influenza tipe B. Vaksin ini adalah bentuk
polisakarida murbi (PRP: Purified Capsular Polysacharide) kuman H.
Influenza tipe B antigen dalam vaksin tersebut dapat dikonjugasi
dengan protein protein lain seperti Toxoid tetanus (PRP T), Toxoid
diphteri (PRP D atau PRP CR 50), atau dengan kuman
monongokokus. Pada pemberian imunisasi awal dengan PRP T
dilakukan dengan 3 suntikan dengan interval 2 bulan kemudian vaksin
PRP OMPC dilakukan dengan 2 suntikan dengan interval 2 bulan,
kemudian boosternya dapat diberkan pada usia 18 bulan.

5
6. Cara Dan Waktu Pemberiaan Imunisasi

Berikut ini adalah cara pemberiaan dan waktu yang tepat untuk pemberian
imunisasi. Cara Pemberiaan Imunisasi Dasar. (Petunjuk Pelaksanaan Program
Imunisasi di Indonesia, DepKes 2000, hlm. 40)

Dosis Selang Cara Pemberian


Pemberian Umur
Vaksin Waktu
Imunisasi Pemberiaan
Pemberiaan

0,05 Intrakutan tepat di


BCG 1 kali cc 0-11 bulan insersio muskulus
deltoideus kanan.

0,5 Intramuskular.
DPT 3 kali 4 minggu 2-11 bulan
cc

2tetes Di teteskan ke
Polio 4 kali 4 minggu 0-11 bulan
mulut.

0,5 Subkutan,
Campak 1 kali cc 4 minggu 9-11 bulan biasanya di lengan
kiri atas.

Hepatitis 0,5 Intrmuskular pada


3 kali 4 minggu 0-11 bulan
B cc paha bagian luar.

0,5 Intramuskulus
TT 3 kali
cc

7. Pemberian Imunisasi

Apapun imunisasi yang diberikan, ada beberapa hal penting yang harus
diperhatikan perawat, yaitu sebagai berikut.

a. Orang tua anak harus ditanyakan aspek berikut.


1) Status kesehatan anak saat ini, apakah dalam kondisi sehat atau sakit,

6
2) Pengalaman/reaksi terhadap imunisasi yang pernah didapat sebelumnya,
3) Penyakit yang dialami di masa lalu dan sekarang.
b. Orang tua harus mengerti tentang hal-hal yang berkaitan dengan penyakit yang
dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) terlebih dahulu sebelum menerima
imunisasi (informed consent). Pengertian mencakup jenis imunisasi, alasan
diimunisasi, manfaat imunisasi, dan efek sampingnya. Catatan imunisasi yang lalu
(apabila sudah pernah mendapat imunisasi sebelumnya), pentingnya menjaga
kesehatan melalui tindakan imunisasi.
c. Pendidikan kesehatan untuk orang tua. Pemberian imunisasi pada anak harus
didasari pada adanya pemahaman yang baik dari orang tua tentang imunisasi
sebagai upaya pencegahan penyakit. Pada akhirnya diharapkan adanya kesadaran
orang tua untuk memelihara kesehatan anak sebagai upaya meningkatkan
pertumbuhan dan perkembangan anak.
d. Kontraindikasi pemberiaan imunisasi. Ada beberapa kondisi yang menjadi
pertimbangan untuk tidak memberikan imunisasi pada anak, yaitu:
1) Flu berat atau panas tinggi dengan penyebab yang serius
2) Perubahan pada system imun yang tidak dapat member vaksin virus hidup
3) Sedang dalam pemberian obat-obat yang menekan system imun, seperti
sitostatika, transfuse darah, dan imonoglobulin
4) Riwayat alergi terhadap alergi terhadap pemberian vaksin sebelumnya seperti
pertusis.

8. Konsep Imunisasi DPT


a. Definisi
Imunisasi DPT suatu kombinasi vaksin penangkal difteri, pertusis,dan
tetanus. Imunisasi DPT adalah suatu vaksin 3-in-1 yang melindungi terhadap
difteri, pertusis dan tetanus.
Terdiri dari :
1) Toxoid difteri raccun yang dilemahkan Bordittela pertusis bakteri yang
dilemahkan
2) Toxoid tetanus racun yang lemahkan (+) aluminium fosfat dan mertiolat.
b. Tujuan
1) Mencegah penyakit difteri

7
Difteri adalah penyakit yang bermula dari infeksi pada hal ini
terkadang nyaris tanpa disertai radang tenggorokan yang menyebabkan
saluran pernapasan tersumbat, kerusakan jantung dan kematian.Serta bisa
menyebabkan infeksi paru-paru dan kerusakan otak.
2) Mencegah terjadinya pertusis
Penyakit batuk biasanya banyak terjadi pada anak balita.Penyebab
penyakit ini adalah kuman Haemophylus pertusis.Kuman ini biasanya
berada di saluran pernafasan.Bila anak-anak dalam keadaan daya tahan
tubuhnya melemah, maka kuman tersebut mudah sekali menyerang dan
menimbulkan penyakit.Penularannya melalui cairan yang keluar dari
hidung yang tersembur keluar waktu batuk atau bersin.Perawatan dan
pencegahan penyakit ini tidak terlalu sulit. Bila anak tidak begitu
menderita dan cuaca cukup baik, boleh ia dibawa keluar agar dapat
menghirup udara segar dan bersih. Makanan sebaiknya diberikan yang
ringan-ringan dan cukup bergizi. Pencegahan penyakit ini dengan
imunisasi DPT .
3) Mencegah Tetanus
Tetanus adalah manifestasi sistemik tetanus disebabkan oleh absorbsi
eksotoksin sangat kuat yang dilepaskan oleh clostridiumtetani pada masa
pertumbuhan aktif dalam tubuh manusia.Penyebab penyakit ini adalah
clostridiumtetani yang hidup anaerob, berbentuk spora selama di luar
tubuh manusia, tersebar luas di tanah dan mengeluarkan toksin bila dalam
kondisi baik.Toksin ini dapat menghancurkan sel darah merah, merusak
leukosit dan merupakan tetanosporasmin yaitu toksinyang neurotropik
yang dapat menyebabkan ketegangan dan spasme otot.
c. Etiologi
1. Etiologi Difteri
Penyebabnya adalah Corynebacterium diphteriae. Bakteri ini
ditularkan melalui percikan ludah yang berasal dari batuk penderita atau
benda maupun makanan yang telah terkontaminasi oleh bakteri. Biasanya
bakteri ini berkembangbiak pada atau disekitar selaput lendir mulut atau
tenggorokan dan menyebabkan peradangan. Pewarnaan sediaan langsung
dapat dilakukan dengan biru metilen atau biru toluidin. Basil ini dapat
ditemukan dengan sediaan langsung dari lesi.
8
Basil Difteria mempunyai sifat: Membentuk psedomembran yang
sukar diangkat, mudah berdarah, dan berwarna putih keabu-abuan yang
meliputi daerah yang terkena terdiri dari fibrin, leukosit, jaringan nekrotik
dan kuman. Mengeluarkan eksotoksin yang sangat ganas dan dapat
meracuni jaringan setelah beberapa jam diserap dan memberikan gambaran
perubahan jaringan yang khas terutama pada otot jantung, ginjal, dan
jaringan saraf.
2. Etiologi Pertusis
Penyebab pertusis adalah Bordetella pertusis atau Hemopilus
pertussis.Bordetella pertusis adalah suatu kuman yang kecil ukuran 0,5-1 um
dengan diameter 0,2-0,3 um, ovoid kokobasil, tidak bergerak, gram negatif,
tidak berspora, berkapsul dapat dimatikan pada pemanasan 50C tetapi
bertahan pada suhu rendah 0- 10C dan bisa didapatkan dengan melakukan
swab pada daerah nasofaring penderita pertusis yang kemudian ditanam pada
media agar Bordet-Gengou.
3. Etiologi Tetanus
Penyakit tetanus disebabkan oleh kuman klostridium tetani. Kuman ini
banyak terdapat dalam kotoran hewan memamah biak seperti sapi, kuda,
dan lain-lain sehingga luka yang tercemar dengan kotoran hewan sangat
berbahaya bila kemasukan kuman tetanus. Tusukan paku yang berkarat
sering juga membawa clostridium tetani ke dalam luka lalu berkembang
biak. Bayi yang baru lahir ketika tali pusarnya dipotong bila alat pemotong
yang kurang bersih dapat juga kemasukan kuman tetanus.
Clostiridium tetani adalah kuman yang berbentuk batang seperti
penabuh genderang berspora, golongan gram positif, hidup anaerob. Kuman
ini mengeluarkan toksin yang bersifat neurotoksik (tetanus spasmin), yang
mula-mula akan menyebabkan kejang otot dan saraf perifer setempat.
Timbulnya tetanus ini terutama oleh clostiridium tetani yang didukung oleh
adanya luka yang dalam dengan perawatan yang salah.
d. Patofisiologi
1. Patofisiologi Difteri
Kuman berkembang biak pada saluran nafas atas, dan dapat juga pada
vulva, kulit, mata, walaupun jarang terjadi. Kuman membentuk
pseudomembran dan melepaskan eksotoksin. Pseudomembran timbul lokal
9
dan menjalar dari faring, laring, dan saluran nafas atas. Kelenjar getah
bening akan tampak membengkak dan mengandung toksin. Eksotoksin bila
mengenai otot jantung akan mengakibatkan terjadinya miokarditis dan
timbul miralisis otot-otot pernafasan bila mengenai jaringan saraf. Sumbatan
pada jalan nafas sering terjadi akibat dari pseudomembran pada laring dan
trakea dan dapat menyebabkan kondisi yang fatal.
2. Patofisiologi Pertusis
Bordetella pertusis diitularkan melalui sekresi udara pernapasan yang
kemudian melekat pada silia epitel saluran pernapasan. Basil biasanya
bersarang pada silia epitel thorak mukosa, menimbulkan eksudasi yang
mukopurulen, lesi berupa nekrosis bagian basal dan tengah epitel thoraks,
disertai infiltrate netrofil dan makrofag. Mekanisme patogenesis infeksi
bordetella pertusis yaitu perlengketan, perlawanan, pengerusakan lokal dan
diakhiri dengan penyakit sistemik. Perlengketan dipengaruhi oleh FHA
(filamentous Hemoglutinin), LPF (lymphositosis promoting factor), proten
69 kd yang berperan dalam perlengketan Bordetella pertusis pada silia yang
menyebabkan bordetella pertusis dapat bermultipikasi dan menghasilkan
toksin dan menimbulkan whooping cough.
Di mana LFD menghambat migrasi limfosit dan magrofag di daerah
infeksi. Perlawanan karena sel target dan limfosit menjadi lemah dan mati
oleh karena ADP (toxin mediated adenosine disphosphate) sehingga
meningkatkan pengeluaran histamine dan serotonin, blokir beta adrenergic,
dan meningkatkan aktivitas insulin. Sedang pengerusakan lokal terjadi
karena toksin menyebabkan peradangan ringan disertai hyperplasia jaringan
limfoid peribronkial sehingga meningkatkan jumlah mucus pada permukaan
silia yang berakibat fungsi silia sebagai pembersih akan terganggu akibatnya
akan mudah terjadi infeksi sekunder oleh streptococcus pneumonia, H
influenzae, staphylococos aureus. Penumpukan mucus akan menyebabkan
plug yang kemudian menjadi obstruksi dan kolaps pada paru, sedang
hipoksemia dan sianosis dapat terjadi oleh karena gangguan pertukaran
oksigen saat ventilasi dan menimbulkan apneu saat batuk. Lendir yang
terbentuk dapat menyumbat bronkus kecil sehingga dapat menimbulkan
emfisema dan atelektasis. Eksudasi dapat pula sampai ke alveolus dan

10
menimbulkan infeksi sekunder, kelainan paru itu dapat menimbulkan
bronkiektasis.
3. Patofisiologi Tetanus
Penyakit tetanus terjadi karena adanya luka pada tubuh seperti luka
tertusuk paku, pecahan kaca atau kaleng, luka tembak, luka bakar, luka yang
kotor dan pada bayi dapat melalui tali pusat. Organisme multipel membentuk
toksin yaitu tetanospasmin yang merupakan toksin kuat dan atau neurotropik
yang dapat menyebabkan ketegangan dan spasme otot, dan mempengaruhi
sistem saraf pusat. Kemudian tetanolysin yang tampaknya tidak signifikan.
Eksotoksin yang dihasilkan akan mencapai pada sistem saraf pusat
dengan melewati akson neuron atau sistem vaskuler. Kuman ini menjadi
terikat pada sel saraf atau jaringan saraf dan tidak dapat lagi dinetralkan oleh
antitoksin spesifik. Namun toksin yang bebas dalam peredaran darah sangat
mudah dinetralkan oleh arititoksin.
Hipotesa cara absorbsi dan bekerjanya toksin adalah pertama toksin
diabsorbsi pada ujung saraf motorik dan melalui aksis silindri dibawa ke
kornu anterior susunan saraf pusat. Kedua toksin diabsorbsi oleh susunan
limfatik, masuk ke dalam susunan saraf pusat.
Toksin bereaksi pada myoneural junction yang menghasilkan otot
menjadi kejang dan mudah sekali terangsang. Masa inkubasi 2 hari sampai 2
bulan dan rata-rata 10 hari. Kasus yang sering terjadi adalah 14 hari.
Sedangkan untuk neonatus biasanya 5 sampai 14 hari.

11
e. Pathway

12
f. Manifestasi Klinik
1. Manifestasi Klinik Difteri
a) Difteria Hidung
Difteria hidung pada awalnya menyerupai common cold, dengan
gejala pilek ringan tanpa atau dengan disertai gejala sistemik ringan.
Sekret hidung berangsur menjadi serosanguinus dan kemudian
mukopurulen menyebabkan lecet pada nares dan bibir atas. Pada
pemeriksaan tampak membran putih pada daerah septum nasi. Absorbsi
toksin sangat lambat dan gejala sistemik yang timbul tidak nyata
sehingga diagnosis lambat dibuat.
b) Difteria Tonsil Faring
Gejala difteria tonsil-faring adalah anoreksia, malaise, demam
ringan, dan nyeri menelan. Dalam 1-2 hari kemudian timbul membran
yang melekat, berwarna putih kelabu dapat menutup tonsil dan dinding
faring, meluas ke uvula dan palatum molle atau ke bawah ke laring dan
trakea. Usaha melepaskan membran akan mengakibatkan perdarahan.
Dapat terjadi limfadenitis servikalis dan submandibular, bila
limfadenitis terjadi bersamaan dengan edema jaringan lunak leher yang
luas, timbul bullneck. Selanjutnya, gejala tergantung dari derajat
penetrasi toksin dan luas membran. Pada kasus berat, dapat terjadi
kegagalan pernafasan atau sirkulasi. Dapat terjadi paralisis palatum
molle baik uni maupun bilateral disertai kesukaran menelan dan
regurgitasi. Stupor, koma, kematian, bisa terjadi dalam waktu 7-10 hari.
Pada kasus sedang, penyembuhan terjadi secara berangsur-angsur dan
bisa disertai penyulit miokarditis atau neuritis. Pada kasus ringan
membran akan terlepas dalam 7-10 hari dan biasanya terjadi
penyembuhan sempurna.
c) Difteria Laring
Biasanya merupakan perluasan difteria faring. Pada difteria
faring primer, gejala toksik kurang nyata oleh karena mukosa laring
mempunyai daya serap toksin yang rendah dibandingkan mukosa faring
sehingga gejala obstruksi saluran nafas atas lebih mencolok. Gejala
klinis difteri laring sukar dibedakan dari tipe infectious croups yang lain,
seperti nafas berbunyi, stridor yang progresif, suara parau dan batuk
13
kering. Pada obstruksi laring yang berat terdapat retraksi suprasternal,
interkostal dan supraklavikular. Bila terjadi perlepasan membran yang
menutup jalan nafas bisa terjadi kematian mendadak.
Pada kasus berat, membran dapat meluas ke percabangan
trakeobronkial. Apabila difteria laring terjadi sebagai perluasan dari
difteria faring, maka gejala yang tampak merupakan campuran gejala
obstruksi dan toksemia.
2. Manifestasi Klinis Pertusis
Masa inkubasi Bordetella pertusis adalah 6-12 hari (rata rata 7 hari).
Sedang perjalanan penyakit terjadi antara 6-8 minggu. Ada 3 stadium
Bordetella pertusis:
a) Stadium kataral (1-2 minggu)
Menyerupai gejala ispa: rinore dengan lendir cair, jernih,
terdapat injeksi konjungtiva, lakrimasi, batuk ringan iritatif kering dan
intermiten, panas tidak begitu tinggi, dan droplet sangat infeksius.
b) Stadium paroksimal atau spasmodic (2-4 minggu)
Frekwensi derajat batuk bertambah 5-10 kali pengulangan batuk
kuat, selama ekspirasi diikuti usaha insprasi masif yang mendadak
sehingga menimbulkan bunyi melengking (whooop) oleh karena udara
yang dihisap melalui glotis yang menyempit. Muka merah, sianosis,
mata menonjol, lidah menjulur, lakrimasi, salivasi, petekia di wajah,
muntah sesudah batuk paroksimal, apatis, penurunan berat badan, batuk
mudah dibangkitkan oleh stress emosiaonal dan aktivitas fisik. Anak
dapat terberak-berak dan terkencing-kencing. Kadang-kadang pada
penyakit yang berat tampak pula perdarahan subkonjungtiva dan
epistaksis.
c) Stadium konvalesens (6-8 minggu)
Whoop mulai berangsur-angsur menurun dan hilang 2-3 minggu
kemudian tetapi pada beberapa pasien akan timbul batuk paroksimal
kembali. Episode ini akan berulang-ulang untuk beberapa bulan dan
sering dihubungkan dengan infeksi saluran napas bagian atas yang
berulang.
3. Manifestasi Klinis Tetanus

14
a) Trismus (kesukaran membuka mulut) karena spasme otot-otot
mastikatoris Kakukuduk sampai opistotonus (karena ketegangan otot-
otot trunki)
b) Ketegangan pada otot dinding perut
c) Kejang tonik terutama bila dirangsang karena toksin yang terdapat pada
cornu anterior
d) Risus sardonikus karena spasme otot-otot muka (alis tertarik ke atas)
sudut mulut tertarik ke luar dan ke bawah, bibir tertekan kuat pada gigi
e) Kesukaran menelan, gelisah, iritabel, mudah dan sensitif pada
rangsangan eksternal, nyeri kepala, nyeri anggota badan sering
merupakan gejala dini
f) Laringospasme dan tetani predisposisi untuk respiratory arrest,
atelektasis dan pneumonia. Demam biasanya tidak ada atau ada tapi
ringan. Bila ada demam kemungkinan prognosis buruk
g) Tenderness pada otot-otot leher dan rahang
g. Penatalaksanaan Medis
1. Penatalaksanaan Medis Difteri
Anti Diphteria Serum (ADS) diberikan sebanyak 20.000 IU/kgbb/hari
selama 2 hari berturut-turut. Antibiotika diberikan penisilan 50.000 IU/
kgbb/hari sampai 3 hari bebas panas. Dimaksudkan untuk mencegah
timbulnya komplikasi miokarditis yang sangat berbahaya. Dapat diberikan
prednison 2 mg/kgbb/hari selama 3 minggu yang kemudian dihentikan
secara bertahap.
2. Penatalaksanaan Medis Pertusis
Antibiotik Eritromisin dengan dosis 50 mg / kg BB / hari dibagi dalam
4 dosis. Obat ini menghilangkan B. Pertussis dari nasofaring dalam 2-7 hari (
rata-rata 3-6 hari) dan dengan demikian memperpendek kemungkinan
penyebaran infeksi. Eritromisin juga menggugurkan atau menyembuhkan
pertussis bila diberikan dalam stadium kataral, mencegah dan
menyembuhkan pneumonia dan oleh karena itu sangat penting dalam
pengobatan pertusis khususnya pada bayi muda.
Ampisilin dengan dosis 100 mg / kg BB / hari, dibagi dalam 4 dosis.
Ekspektoran dan mukolitik.Kodein diberikan bila terdapat batuk-batuk yang
hebat sekali. Luminal sebagai sedative
15
3. Penatalaksanaan Medis Tetanus
Dirawat di ruangan perawatan intensif. Pemberian ATS 20.000 U
secara IM didahului oleh uji kulit dan mata. Anti kejang dan penenang
(fenobarbital bila kejang hebat, diazepam, largaktil). Antibiotik. Diit tinggi
kalori dan protein. Perawatan isolasi. Pemberian oksigen pemasangan NGT
bila perlu intubasi dan trakeostomi bila indikasi. Pemberian terapi intravena
bila indikasi
h. Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi DPT
1. Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat
menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal. Difteri disebabkan oleh C.
diphteriae,sering timbul di negara dengankeadaan kesehatan lingkungan
tidak baik; jarang timbul di negara-negara industri. Dalam tahun 1983
dilaporkan46.800kasusdi 160 negara, kira-kira10%diantaranya meninggal
dunia. Penderita dapat menulari orang lain melalui kontak perorangan
setelah sakit selama 4 minggu atau lebih. Gejala meliputi demam, tak enak
badan dan sakit tenggorokan. Basil difteri di tenggorokan
mengeluarkantoksin yang dapat berakibat fatal bagi jantung dan susunan
saraf. Imunisasi lengkap DPT pada bayi di dunia, mencapai 47%.
2. Pertusis (batuk rejan) adalah inteksi bakteri pada saluran udara yang ditandai
dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernafasan yang melengking.
Pertusis berlangsung selama beberapa minggu dan dapat menyebabkan
serangan batuk hebat sehingga anak tidak dapat bernafas, makan atau
minum. Pertusis juga dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti
pneumonia, kejang dan kerusakan otak. Pertusis disebabkan oleh B.
pertussis. Diperkirakan kasus pertusissejumlah 51 juta dengan kematian
lebih dari 600.000 orang; namun hanya 1,1 juta penderita dilaporkan dari
163 negara dalam tahun 1983. Hampir 80% anak-anak yang tidak
diimunisasi menderita sakit pertusis sebelum umur 5 tahun. Kematiankarena
pertusis, 50% terjadi pada bayi (umur < 1 tahun). Pertusis ditularkan melalui
kontak dari orang ke orang, dan penderita dapat menularkan penyakitsejak
timbulnya gejala awal. Masa inkubasi penyakit 6 12 hari. Gejala awal
pertusis menyerupai influensa, yakni pilek, bersin-bersin, batuk dan demam
(stadiumcatarrhalis) kemudian diikuti stadium spasmodic dan konvalesen.

16
3. Tetanus adalah infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada
rahang serta kejang. Tetanus neonatorum disebabkan oleh pemotongan tali
pusat dengan alatyang tak steril, atau menutupinya dengan bahan-bahan
seperti abu, lumpur sehingga terinfeksi dengan bakteri tetanus. Kasus
tetanus di dunia diperkirakan 30 mengenai 800.000 bayi yang baru lahir
setiap tahun. Pada tahun 1983 dilaporkan10.000 tetanus neonatorum dari 74
negara. Hampir 100% bayi yang menderitatetanus neonatorum, meninggal
dunia. Penyakit tetanus ditandai dengan kejang-kejang yang berkembang ke
seluruh tubuh. Saat ini hanya 14% ibu hamil didunia ini yang
mendapatkan imunisasi TT dua dosis. Bayi yang dilahirkan olehibu yang
telah mendapatkan vaksinasi tetanus toxoid (IT) pada waktu hamil,
akanmendapatkan kekebalan selama 12 minggu dari sejak di dilahirkan.
i. Waktu Pemberian imunisasi DPT
Booster pertama biasanya diberikan pada umur sekitar 2 sampai 11 bulan
dan yang selanjutnya diberikan pada usia sekitar 4-5 tahun (Alimul, 2003 :72).
Imunisasi dasar vaksin DPT diberikan setelah berusia 2 bulan sebanyak 3 kali
(DPT I, II dan III) dengan interval tidak kurang dari 4 minggu. Imunisasi DPT
ulangan diberikan satu tahun sejak imunisasi DPT III, kemudian saat masuk
sekolah (56 tahun) dan saat meninggalkan sekolah dasar (12 tahun).Menurut
program dilanjutkan dengan TT dikelas 2 dan 3 SD.
j. Cara Pemberian imunisasi DPT
Imunisasi DPT diberikan dengan cara injeksi intra muskuler (IM) pada
paha sebanyak 0,5 ml. Pemberian dilakukan 3 kali dengan interval 4 minggu.
k. Efek samping imunisasi DPT
1. Panas
Kebanyakan anak akan menderita panas pada sore hari setelah
mendapat imunisasi DPT, tapi panas ini akan sembuh dalam 1 2 hari.
Anjurkan agar jangan dibungkus dengan baju tebal dan dimandikan dengan
cara melap dengan air yang dicelupkan ke air hangat.
2. Rasa sakit di daerah suntikan
Sebagian anak merasa nyeri, sakit, kemerahan, bengkak.
3. Peradangan

17
Bila pembengkakan terjadi seminggu atau lebih, maka hal ini mungkin
disebabkan peradangan, mungkin disebabkan oleh jarum suntik yang tidak
steril karena:
a) Telah tersentuh,
b) Sebelum dipakai menyuntik jarum diletakkan diatas tempat yang tidak
steril,
c) Sterilisasi kurang lama,
d) Pencemaran oleh kuman.
l. Kontraindikasi imunisasi DPT
Imunisasi DPT tidak boleh diberikan kepada anak yang sakit parah, pernah
menderita kejang atau pada penyakit gangguan kekebalan (defisiensi
imunologik).Sakit batuk, pilek, demam atau diare yang sifatnya ringan, bukan
merupakan kontraindikasi yang mutlak. Dokter akan mempertimbangkan
pemberian imunisasi, seandainya anak anda sedang menderita sakit ringan.

18
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN IMUNISASI
1. Pengkajian
a. Wawancara
1) Biodata klien secara lengkap.
2) Keluhan utama
3) Riwayat penyaki sekarang
4) Riwayat penyakit keluarga
5) Riwayat antenatal
6) Riwayat persalinan
7) Riwayat neonates
8) Riwayat imunisasi yang lalu
9) Riwayat alergi
10) Pola nutrisi
11) Pola eliminasi
12) Pola hygiene
13) Pola istirahat
14) Pola aktivitas
b. Pemeriksaan Fisik
1) Pemeriksaan status general
a) Keadaan umum
b) Kesadaran
c) Tinggi badan
d) Berat badan
e) Lingkar kepala
f) Lingkar lengan
g) Lingkar dada
2) Pengukuran Fisiologis
a) Suhu
b) Nadi
c) Pernapasan
3) Pengkajian head to toes
a) Kepala
b) Mata
c) Hidung
19
d) Mulut
e) Telinga
f) Leher
g) Thorax
h) Abdomen
i) Ekstremitas
j) genitalia
2. Diagnosa Keperawatan
a. Terjadinya peningkatan kekebalan tubuh terhadap penyakit DPT dan polio
b. Resiko terjadinya peningkatan suhu tubuh
3. Intervensi dan Implementasi
a. Diagnosa 1
Diagnosa : Terjadinya peningkatan kekebalan tubuh terhadap penyakit DPT dan
polio
Tujuan : Memberikan kekebalan pada bayi terhadap penyakit difteri, pertusis,
tetanus dan polio
Intervensi:
1) Beritahu ibu hasil pemeriksaan fisik bayinya.
Rasional : Ibu klien mempunyai hak dalam mengetahui hasil
pemeriksaan yang dilakukan. Dengan memberitahu ibu hasil
pemeriksaan fisik bayinya, ibu menjadi tahu dan mengerti
tentang keadaan bayinya saat ini sehingga ibu tidak khawatir
tentang kesehatan bayinya.
2) Beritahu ibu bahwa bayinya akan diimunisasi DPT/HB-1 dan Polio2.
Rasional : Pemberitahuan sebelumnya membuat ibu tahu dan
mengerti. Dengan memberitahu ibu bahwa bayinya akan
diimunisasi DPT/HB-1 dan Polio2 menjadikan ibu mengerti
bahwa bayinya telah mendapat imunisasi tersebut sehingga
ibu tenang akan kekebalan bayinya.
3) Jelaskan efek samping yang timbul setelah pemberian imunisasi DPT/HB-1
dan Polio2.
Rasional : Efek samping yang timbul pada imunisasi DPT/HB-1 dan
Polio2 adalah timbul demam setelah pemberian imunisasi.
Dengan menjelaskan efek samping yang timbul setelah
20
pemberian imunisasi, ibu menjadi tidak cemas bila efek
samping itu timbul sehingga ibu dapat mengambil tindakan
yang tepat untuk efek samping tersebut.
4) Siapkan alat dan atur posisi klien.
Rasional : Persiapan alat sebelumnya dan mengatur posisi klien
dengan benar akan mempermudah pelaksanaan imunisasi.
Dengan menyiapkan alat dan mengatur posisi klien dengan
benar akan mempermudah proses imunisasi sehingga tidak
memakan waktu yang lama.
5) Lakukan pengecekan vaksin.
Rasional : Salah satu prosedur pemberian obat adalah tepat obat.
Dengan melakukan pengecekan vaksin dapat mengetahui
dan menghindari adanya kesalahan dan kerusakan dalam
pemberian vaksin sehingga dapat menunjang keberhasilan
imunisasi.
6) Suntikan vaksin sesuai dengan prosedur.
Rasional : Tindakan sesuai dengan prosedur menunjang keberhasilan
tindakan. Dengan menyuntikan vaksin sesuai dengan
prosedur dapat menunjang keberhasilan imunisasi sehingga
bayi mendapatkan kekebalan terhadap penyakit campak.
7) Dokumentasikan hasil imunisasi pada KMS.
Rasional : Tindakan dokumentasi sangat diperlukan pada setiap
tindakan yang merupakan bukti telah dilakukan tindakan.
Dengan menuliskan pada KMS tanggal dan jenis imunisasi
sebagai bukti pada tanggal tersebut telah dilakukan imunisasi
DPT/HB-1 dan Polio 2 sehingga tidak terjadi pengulangan
pemberian imunisasi dan sebagai alat memantau
perkembagan bayi.
8) Motivasi ibu untuk melakukan kontak dengan nakes untuk mematau
perkembangan bayinya hingga usia 5 tahun.
Rasional : Motivasi sangat diperlukan agar ibu selalu ingat akan pesan
yang kita berikan. Dengan memotivasi ibu untuk melakukan
kontak dengan nakes untuk memantau perkembangan
bayinya hingga usia 5 tahun menjadikan ibu selalu membawa
21
bayinya ke posyandu atau pelayanan kesehatan tiap
bulannya.
b. Diagnosa 2
Diagnosa : Resiko terjadinya peningkatan suhu tubuh
Tujuan : Tidak terjadi peningkatan suhu
Intervensi:
1) Berikan obat antipiretik
Rasional : Antipiretik dapat menurunkan suhu tubuh
2) Anjurkan ibu memberikan kompres hangat pada bayi bila demam muncul
Rasional : membantu menurunkan suhu tubuh.
3) Anjurkan ibu memakaikan pakaian longgar pada bayi bila demam muncul
Rasional : mempercepat penguapan.
4) Anjurkan ibu untuk tetap memberikan ASI pada bayinya.
Rasional : menjaga kebutuhan cairan tubuh bayi tetap terpenuhi.
5) Observasi suhu tubuh
Rasional : memantau peningkatan suhu tubuh.

22
DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, aziz Alimul A. 2008. Buku Saku Praktikum Anak. Jakarta : EGC

Schwartz, M. Wiliam. 2004. Clinical Handbook of Pediatrics. Jakarta : EGC

Mansjoer.Arif.2008.Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2.Jakarta: Media Aesculapius

Marimbi, hanum.2010.Tumbuh Kembang Status Gizi dan Imunisai Dasar pada


Balita.Yogyakarta:Nuha Medika

Sudarti.2010.Asuahan Kebidanan Neonatus, Bayi dan Anak Balita.Yogyakrta:Nuha Medika I

23

Anda mungkin juga menyukai