Anda di halaman 1dari 22

BLOK MEDICAL EMERGENCY

RESUME
CASE STUDY 3
AVULSI DAN DISLOKASI TMJ

TUTOR:
drg. Ali Taqwim

DISUSUN OLEH:
HAYI AJI RAHMATILLAH
G1G013057

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

JURUSAN KEDOKTERAN GIGI

PURWOKERTO

2017
A. Avulsi
1. Definisi
Avulsi didefinisikan sebagai keluarnya seluruh gigi dari soket akibat trauma.
Menurut aplikasi Elis dan Davey, suatu kondisi avulsi merupakan bentuk cedera
traumatik kelas V (Dalimunte, 2003). Pada saat gigi secara total keluar dari soketnya
maka tulang alveolar, sementum, ligament periodontal, gingiva, dan pulpa akan
mengalami kerusakan serta terjadi putusnya ligamen-ligamen periodontal.Hal ini
akan mengakibatkan pulpa gigi mengalami nekrosis dan periodonsium rusak parah
(Ram dan Cohenca 2004). Prognosis dari trauma pada gigi avulsi dipengaruhi oleh
3 faktor yaitu tingkat kerusakan atau luas dari kerusakan, kerusakan jaringan lain di
sekitar gigi, kualitas perawatan setelah terjadi trauma dan evaluasi dari
penatalaksanaan selama penyembuhan (Gusmawan, 2014).
Pada saat gigi mengalami avulsi sebaiknya disimpan dalam media
penyimpanan. Cara menyimpan gigi avulsi sebelum di reposisi akan mempengaruhi
keberhasilan perawatan, karena dapat mencegah terjadinya dehidrasi dari sisa
ligament periodontal pada akar gigi setelah keluar dari soket sampai ke praktek
dokter gigi. Macam-macam larutan yang dapat digunakan sebagai media
pernyimpanan adalah larutan garam isotonik, Hanks Balanced Salt Saliva (HBBS),
susu, saliva, dan air. HBBS merupakan media penyimpanan terbaik untuk gigi avulsi
karena dapat menjaga sel sel ligament periodontal tetap hidup dalam 24 jam
dibandingkan saliva dan susu (Walton, 2008).

2. Etiologi Avulsi
Penyebab gigi avulsi adalah trauma. Macam-macam trauma yang dapat
menyebabkan gigi avulsi diantaranya kecelakaan lalu lintas, perkelahian, jatuh,
kecelakaan olahraga, kerusakan jaringan periodontal, dan penyakit sistemik seperti
diabetes mellitus tipe 2 karena memiliki risiko kehilangan tulang alveolar progresif
empat kali lebih besar dibandingkan dengan yang tanpa diabetes. Pasien diabetes
dengan kontrol glikemik yang buruk memiliki risiko kehilangan perlekatan lebih
besar dibandingkan dengan pasien diabetes yang kontrol glikemiknya baik
(Dalimunte, 2003) . Avulsi pada gigi permanen seringkali terjadi pada anak lelaki
usia 7-10 tahun. Hal ini dikarenakan pada usia 7-10 tahun, akar pada gigi permanen
masih belum sepenuhnya matur, hubungan akar dengan tulang alveolar masih lemah,
struktur jaringan periodontal masih longgar, serta tulang alveolar relatif lunak (King
dan Henretig, 2008).

3. Indikasi dan Kontraindikasi


Menurut Saeed dkk. (2014) indikasi dari reposisi gigi antara lain,
a. Indikasi
Tulang alveolar masih baik
Soket alveolar menyediakan tempat untuk gigi avulsi
Gigi avulsi sebaiknya sehat tidak ada karies yang luas, untuk mencegah
kerusakan periodontal
Jarak antara waktu trauma dengan perawatan 15-30 menit lebih dari 2
jam kemungkinan terjadi komplikasi yaitu resobsi akar gigi dan gigi
menjadi non vital sehingga setelah fiksasi diperlukan perawatan
endodontik (Gusmawan, 2014).
b. Kontraindikasi
Gigi permanen yang foramen apikalnya sudah menyempit
Adanya fraktur akar, resobsi tulang alveolar, dan memiliki penyakit
periodontal
Kondisi medis yang tidak mendukung, gangguan imun, anomali, jantung
congenital berat, dan diabetes mellitus.
Gigi yang terlalu lama diluar soket dan gigi sulung. Gigi sulung tidak perlu
di replantasi mengganggu folikel.

4. Kegawatdaruratan
Kerusakan yang terjadi akibat trauma tidak dapat dicegah, tetapi dapat
diminimalisasi. Tindakan utama yang dilakukan bertujuan untuk meminimalkan
terjadinya nekrosis yang terjadi di ligamentum periodontal saat gigi lepas dari
rongga mulut. Tindakan untuk mencegah agar gigi yang avulsi tidak kering
sangatlah penting agar metabolisme fisiologis normal dan morfologi sel-sel
ligamentum periodontal tidak hilang. Oleh karena itu, waktu yang diperlukan untuk
mengembalikan gigi pada soketnya tidak boleh lebih dari 15-20 menit.
Apabila dalam jangka waktu tersebut gigi tidak dapat dikembalikan pada soketnya,
maka gigi harus cepat disimpan dalam media yang sesuai sampai pasien datang ke
klinik gigi untuk replantasi (Trope, 2002).
Perawatan darurat pasien avulsi gigi adalah tindakan yang sangat penting dan
sebaiknya dilakukan segera dengan penatalaksanaan kegawatdaruratan apabila
terjadi trauma. Langkah perawatan darurat yang dapat dilakukan dalam menangani
pasien avulsi gigi pada anak sebagai pertolongan pertama adalah sebagai berikut:
(Walton, 2008).
a. Temukan dan ambil gigi yang avulsi dengan memegangnya pada bagian
mahkota. Jangan sentuh bagian akar.
b. Apabila gigi kotor, bersihkan secara cepat (10 detik) dengan air mengalir yang
dingin, dan masukkan kembali ke dalam soket gigi dengan tekanan ringan oleh
jari
c. Namun apabila tidak memungkinkan, tempatkan gigi pada media
penyimpanan yang sesuai, seperti disimpan dalam mulut diantara pipi bagian
dalam. Namun jika pasien terlalu muda, dapat dilakukan oleh orang tuanya.
Hindari perendaman dengan air. Apabila tidak terdapat HBSS atau susu, dapat
menggunakan larutan lensa kontak untuk menyimpan gigi avulsi selama satu
jam hingga didapatkannya HBSS atau susu dingin. Lensa kontak dapat
mempertahankan lebih banyak sel-sel ligamen periodontal dibandingkan air
pada temperatur ruangan atau dingin (Sigalas dkk., 2004)
d. Segera ke dokter gigi untuk mendapatkan perawatan kegawatdaruratan pada
gigi yaitu replantasi (golden period gigi avulsi 2 jam)

5. Pemeriksaan pasien
a. Pemeriksaan gigi yang avulsi
Gigi avulsi sehat tidak ada karies yang meluas
Gigi avulsi disimpan dalam media khusus. Jarak antara waktu trauma
dengan perawatan 15-30 menit lebih dari 2 jam kemungkinan terjadi
komplikasi yaitu resobsi akar gigi dan gigi menjadi non vital sehingga
setelah fiksasi diperlukan perawatan endodontik (Gismawan, 2014).
b. Pemeriksaan Soket dan Tulang Alveolar
Soket kondisinya masih bagus dan memungkinkan untuk dilakukan
replantasi. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara menekan (palpasi)
pada permukaan fasial dan palatal dari soket. Selanjutnya, soket
dibersihkan dengan larutan salin dan ketika gumpalan darah dan debris
yang berada di dalamnya sudah bersih, periksa dinding soket apakah
terjadi abses atau kolaps.
Pemeriksaan tulang alveolar untuk mengetahui apakah terjadi fraktur
atau tidak dengan radiografi.
Pemeriksaan radiografis pada soket dan daerah sekitarnya, termasuk
jaringan lunak. Three vertical angulation diperlukan untuk mendiagnosis
fraktur horizontal pada akar gigi (Trope, 2002) (Gismawan, 2014).

6. Penatalaksanaan
Keberhasilan perawatan dari gigi yang avulsi dipengaruhi faktor yaitu berapa
lama terjadinya, tempat kejadian, tindakan apa yang dilakukan pertama kali ketika
terjadinya gigi avulsi dan bagaimana cara penanganan gigi avulsi tersebut. Gigi
yang akan dilakukan replantasi mempunyai golden period yaitu 2 jam setelah gigi
itu terlepas. Apabila gigi direplantasi lebih dari 2 jam, kemungkinan gigi akan
menjadi non vital sehingga gigi tersebut perlu mendapat perawatan endodontik
setelah difiksasi. Syarat-syarat gigi yang akan di replantasi, yaitu: (Andersen, 2012)
1. Faktor pasien dan keterbatasan fisik
2. Faktor anatomi gigi dan endodontik
3. Gigi yang avulsi sehat dan sebaiknya tidak terdapat karies yang luas untuk
mencegah kerusakan ligament periodontal
4. Tulang alveolar harus tetap utuh agar dapat menahan gigi, tidak terdapat fraktur
atau penyakit jaringan periodontal
5. Lamanya waktu gigi diluar mulut harus dipertimbangkan
6. Cara menyimpan gigi avulsi sebelum replantasi sangat mempengaruhi
kesuksesan perawatan
7. Faktor operator, kemampuan dan kepercayaan diri dalam perawatan serta
memiliki kemampuan dan ketersediaan bahan dental
Tata laksana avulsi gigi
1. Pengambilan radiografi jika keadaan memungkinkan. Apabila tidak
memungkinkan, dapat ditunda hingga gigi ditempatkan kembali ke dalam
soketnya
2. Anastesi pada regio gigi yang akan direplantasi
3. Tempatkan gigi dalam larutan saline normal. Pegang gigi pada bagian mahkota,
jangan pada bagian akar karena akan merusak sel-sel yang diperlukan untuk
perlekatan gigi pada dinding soket
4. Radiografi soket gigi yang avulsi diamati untuk memeriksa perluasan luka (jika
ada)
5. Soket dibersihkan dari darah beku dan benda asing yang ada secara perlahan dan
hati-hati dengan menggunakan kapas yang telah dibasahi larutan saline yang
steril. Hindari melakukan kuret pada soket
6. Lakukan reposisi gigi dengan meletakkan gigi pada soket dengan tekanan secara
lembut untuk mengembalikan gigi ke posisi semula, rahang atas dan rahang
bawah dioklusikan kemudian segera lakukan splinting. Setelah gigi berada pada
posisi yang sebenarnya, tulang bagian bukal dan lingual ditekan perlahan dengan
menggunakan jari karena kemungkinan soket mengembang saat avulsi
7. Splinting dilakukan dengan menggunakan metode essig, langkah-langkahnya:
a. Persiapan alat
b. Adapasikan kawat primer pada semua gigi yang terlibat, menyusur daerah
singulum, kedua ujung kawat ditautkan
c. Kawat sekunder dimasukkan dari arah palatal/lingual sebelah apikal dan
insisal kawat primer ke labial melalui daerah titik kontak, kedua ujung kawat
ditautkan dan dipelintir searah dengan jarum jam, ditarik dan dipotong 3-4
mm, kemudian diselempitkan ke arah interdental.
8. Pada jaringan lunak yang mengalami laserasi, dilakukan penjahitan pada daerah
servikal untuk mengontrol perdarahan
9. Pengambilan radiografi untuk melihat posis gigi
10. Pemberian medikamentosa berupa antibiotik dan antitetanus
11. DHE, berupa:
Tidak melakukan aktivitas-aktivitas olah raga yang beresiko
Diet makanan lunak selama 2 minggu
Bersihkan gigi dengan sikat yang lembut setiap selesai makan
Gunakan chlorexidine gluconate 0,1% sebagai obat kumur 2x sehari selama
1 minggu
(Andlaw dan Rock, 1982).
Beritahu pasien untuk melakukan kontrol. Pada gigi dengan akar yang sudah
terbentuk sempurna, dianjurkan untuk melakukan ekstirpasi jaringan pulpa
10-14 hari setelah replantasi yang dilanjutkan dengan PSA serta sterilisasi
menggunakan medikamen berbasis kalsium hidroksida untuk periode 2
minggu 6 bulan dan harus diganti setiap 3 6 bulan sampai digantikan
dengan gutta-percha. Pada gigi yang akarnya belum terbentuk sempurna,
perawatan endodonti dilakukan apabila gigi sudah non vital adalah
apeksifikasi. Pasien dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan klinis secara
berkala dimulai satu minggu hingga 5 tahun setelah replantasi (Ram dan
Cohenca, 2004)
Pada kasus gigi avulsi lebih dari satu jam dan gigi tidak bisa dijaga
kebasahannya dalam medium yang sesuai, maka sebelum reposisi dilakukan
pemberian flour pada permukaan akar untuk memperlambat resopsi (Natrium
fluoride 2,4% diasamkan hingga pH 5,5 selama 5-20 menit) (Gismawan, 2014).

8. Kasus
Laki-laki umur 11 datang bersama ayahnya dengan keluhan gigi lepas ketika
berenang. Gigi tersebut lepas 20 menit yang lalu dan dibawa oleh ayahnya dengan
dimasukkan ke dalam air mineral yang dibawanya, pasien dalam kondisi sadar,
tidak terdapat luka pada jaringan lunak. Pemeriksaan ekstraoral tidak terjadi
deformitas, TMJ dalam keadaan normal. Pemeriksaan intraoral menunjukkan
terdapat socket berisi darah di region 21, palpasi (-). Pasien pernah dilakukan
perawatan ke dokter gigi berupa pencabutan gigi sulung dan penambalan gigi
geraham pertama rahang bawah. Tidak ada kelainan sistemik pada pasien.
a. Pemeriksaan Subjektif
Chief complaint = pasien datang bersama ayahnya dengan keluhan gigi

lepas ketika berenang.

Present illness = Gigi tersebut lepas 20 menit yang lalu dan dibawa oleh

ayahnya dengan dimasukkan ke dalam air mineral yang

dibawanya

Post medical = Pasien dalam kondisi sadar dan tidak memiliki riwayat
history penyakit sistemik.

Post dental = Pasien pernah melakukan perawatan ke dokter gigi

history berupa pencabutan gigi sulung dan penambalan gigi

geraham pertama rahang bawah.

Family history = t.a.k

Social history = t.a.k

b. Pemeriksaan Objektif
1. Ekstraoral
tidak terjadi deformitas
TMJ dalam keadaan normal.
2. Intraoral
terdapat socket berisi darah di region 21
palpasi (-)
tidak terdapat luka pada jaringan lunak
b) Pemeriksaan Penunjang, berupa radiografi periapikal
c) Diagnosa
Fraktur kelas V klasifikasi Elis dan Davey
d) Rencana Perawatan
1) Pengambilan radiografi jika keadaan memungkinkan. Apabila tidak
memungkinkan, dapat ditunda hingga gigi ditempatkan kembali ke dalam
soketnya
2) Anastesi pada regio gigi yang akan direplantasi
3) Tempatkan gigi dalam larutan saline normal. Pegang gigi pada bagian mahkota,
jangan pada bagian akar karena akan merusak sel-sel yang diperlukan untuk
perlekatan gigi pada dinding soket
4) Radiografi soket gigi yang avulsi diamati untuk memeriksa perluasan luka (jika
ada)
5) Soket dibersihkan dari darah beku dan benda asing yang ada secara perlahan dan
hati-hati dengan menggunakan kapas yang telah dibasahi larutan saline yang
steril. Hindari melakukan kuret pada soket
6) Lakukan reposisi gigi dengan meletakkan gigi pada soket dengan tekanan secara
lembut untuk mengembalikan gigi ke posisi semula, rahang atas dan rahang
bawah dioklusikan kemudian segera lakukan splinting. Setelah gigi berada pada
posisi yang sebenarnya, tulang bagian bukal dan lingual ditekan perlahan dengan
menggunakan jari karena kemungkinan soket mengembang saat avulsi
7) Splinting dilakukan dengan menggunakan metode essig, langkah-langkahnya:
a. Persiapan alat
b. Adapasikan kawat primer pada semua gigi yang terlibat, menyusur daerah
singulum, kedua ujung kawat ditautkan
c. Kawat sekunder dimasukkan dari arah palatal/lingual sebelah apikal dan
insisal kawat primer ke labial melalui daerah titik kontak, kedua ujung
kawat ditautkan dan dipelintir searah dengan jarum jam, ditarik dan
dipotong 3-4 mm, kemudian diselempitkan ke arah interdental.
8) Pada jaringan lunak yang mengalami laserasi, dilakukan penjahitan pada daerah
servikal untuk mengontrol perdarahan
9) Pengambilan radiografi untuk melihat posisi gigi
10) Pemberian medikamentosa berupa antibiotik dan antitetanus
11) DHE, berupa:
Tidak melakukan aktivitas-aktivitas olah raga yang beresiko
Diet makanan lunak selama 2 minggu
Bersihkan gigi dengan sikat yang lembut setiap selesai makan
Gunakan chlorexidine gluconate 0,1% sebagai obat kumur 2x sehari selama
1 minggu
Beritahu pasien untuk melakukan kontrol 7-10 hari kemudian

B. Dislokasi TMJ
1. Definisi
Dislokasi mandibula adalah suatu gangguan yang terjadi karena pergeseran
sendi. Dislokasi temporomandibular joint (TMJ) adalah suatu gangguan yang terjadi
karena pergeseran sendi antara tulang temporal dengan tulang rahang (mandibula).
Dislokasi dapat pula didefinisikan sebagai pergerakan kondilus kearah depan dari
eminensia artikularis yang memerlukan beberapa bentuk manipulasi untuk
mereduksinya. Dislokasi dapat terjadi satu sisi (unilateral) atau dua sisi (bilateral)
dan dapat bersifat akut atau emergensi, kronis atau long-standing serta kronis yang
bersifat rekuren yang dikenal dengan dislokasi habitual, sehingga penderita akan
mengalami kelemahan yang sifatnya abnormal dari kapsula pendukung dan
Ligamen. Pada sebagian besar kasus, dislokasi terjadi secara spontan saat membuka
mulut terlalu lebar, misalnya menguap, berteriak, makan, bernyanyi atau pada saat
perawatan gigi (Pedersen, 2003).
Dislokasi mandibula merupakan keluhan yang jarang pada bagian gawat
darurat. Sebuah penelitian melaporkan dislokasi TMJ terjadi sebanyak 37 kasus pada
periode 7 tahun, pada sebuah rumah sakit dengan 100.000 kasus emergensi per
tahun. Dislokasi mandibula anterior merupakan yang paling sering terjadi dan
biasanya akibat penyebab nontraumatik. Pada sebuah penelitian terhadap 96 kasus
dislokasi TMJ, didapatkan bahwa dislokasi akut merupakan yang paling sering
terjadi (47,9%), diikuti oleh dislokasi kronik (30,2%), dan dislokasi kronik rekuren
(21,9%). Penyebab dislokasi yang tersering ialah menguap terlalu lebar (45,8%),
diikuti oleh kecelakaan lalu lintas (13,5%). Jenis dislokasi yang paling sering terjadi
adalah dislokasi anterior bilateral (89,6%) (Ugboko dkk, 2005).

2. Etiologi
Terdapat beberapa etiologi terjadinya dislokasi TMJ diantaranya yaitu:
(Ugboko dkk, 2005).
a. Pasien mempunyai fosa mandibular yang dangkal serta kondilus yang tidak
berkembang dengan baik;
b. Anatomi yang abnormal serta kerusakan dari stabilisasi ligament yang akan
mempunyai kecenderungan untuk terjadi kembali (rekuren);
c. Membuka mulut yang terlalu lebar atau terlalu lama;
d. Kelemahan kapsuler yang dihubungkan dengan subluksasi kronis;
e. Diskoordinasi otot-otot karena pemakaian obat-obatan atau gangguan
neurologis.
Terdapat beberapa faktor risiko dislokasi TMJ, antara lain: (Shofi dkk., 2014).
a. Fossa mandibularis yang dangkal
b. Condylus yang kurang berkembang sempurna
c. Ligamen TMJ yang longgar
d. Penyakit jaringan ikat, misalnya sindrom Marfan, sindrom Ehlers-Danlos
Dislokasi kronis rekuren berhubungan dengan kelemahan kapsula dan ligamen
yang diakibatkan oleh penyembuhan yang tidak adekuat dari penyakit degeneratif,
hipermobilitas serta adanya trauma dan oklusal disharmoni yang akan menyebabkan
spasme dari oto-otot masetter dan pterygoid lateralis (Gazali dan Kasim, 2004).

3. Pemeriksaan TMJ
Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa, yaitu: (Gazali dan
Kasim, 2004)
a. Anamnesa, meliputi riwayat apakah pasien sering merasa tidak nyaman pada
rahang setelah membuka dan menutup mulut yang lebar dan apakah pasien
mempunyai riwayat benturan pada rahang yang tanpa disadari telah merubah
posisi kondilus.
b. Pemeriksaan Fisik, dapat dilakukan berdasarkan lama terjadinya dislokasi dan
dilihat dari area terjadinya dislokasi (bilateral atau unilateral).
Dislokasi unilateral
Mandibula dalam keadaan miring dan terletak pada bagian lebih ke
bawah dari yang terkena. Kondisi ini dapat disertai dengan
pembengkakan, lunak saat ditekan, terdapat kelainan disekitar TMJ saat
di palpasi, serta gigi tidak dapat beroklusi secara pasif maupun aktif.
Dislokasi bilateral
Terjadi pada kedua kondilus mandibula dimana pasien terlihat prognatif,
terdapat pembengkakan bilateral, terasa lunak saat dilakukan penekanan
pada kedua sisi TMJ, serta gigi tidak dapat beroklusi secara aktif maupun
pasif karena terdapat hambatan mekanis dan teraba adanya spasme otot
masseter bilateral.
c. Pemeriksaan Penunjang, dilakukan untuk melengkapi pemeriksaan fisik dan
membantu penegakan diagnosa. Macam-macam pemeriksaan penunjang
diantaranya:
1) Sinar X, sinar x pada daerah gigi dan mulut dapat dibagi menjadi dua
golongan: (Schiffman dkk, 2016 )
Sinar X ekstraoral
Sinar X ekstraoral menunjukkan gigi, tetapi fokus utamanya adalah
rahang dan tengkorak. Alat yang termasuk golongan ini tidak
menyediakan detail yang ditemukan pada sinar X intraoral sehingga tidak
digunakan untuk mendeteksi kavitas atau mengidentifikasi masalah gigi
per gigi. Alat ini digunakan untuk melihat gigi impaksi, memantau
tumbuh-kembang rahang dalam hubungannya dengan gigi-geligi dan
mengidentifikasi masalah potensial antara gigi dan rahang beserta TMJ.
Panoramik
Sinar x panoramik membutuhkan suatu alat khusus untuk berotasi
mengelilingi kepala. Sinar x menangkap keseluruhan rahang dan gigi-
geligi dalam satu tembakan. Alat ini digunakan untuk merencanakan
terapi bagi implan gigi, memeriksa gigi geraham bungsu, dan mendeteksi
masalah rahang. Panoramik tidak bagus dalam mendeteksi kavitas,
kecuali kerusakannya sangat parah dan dalam.
Computed Tomography
Disebut juga CT-scan. menunjukkan struktur interior tubuh sebagai
gambaran tiga dimensi. Jenis sinar x ini digunakan untuk
mengidentifikasi masalah pada tulang wajah, seperti tumor atau fraktur.
MRI (Magnetic Ressonance Image)
MRI baik untuk menunjukkan delineasi dari posisi diskus dan jaringan
lunak dari TMJ. Perforasi diskus dan adhesi sendi tidak dapat ditunjukkan
oleh MRI

4. Klasifikasi
Jenis dislokasi dibedakan berdasarkan letak condylus terhadap fossa temporalis
tulang temporal (Okeson, 2003) , sebagai berikut :
a. Dislokasi anterior
Dislokasi anterior terjadi akibat interupsi pada sekuens normal kontraksi
otot saat mulut tertutup setelah membuka ekstrim. Muskulus masseter dan
temporalis mengangkat mandibula sebelum muskulus pterygoideus lateral
berelaksasi, mengakibatkan condylus mandibularis tertarik ke anterior tonjolan
tulang dan keluar dari fossa temporalis. Dislokasi anterior dibedakan menjadi 3,
yaitu :
Dislokasi akut, terjadi akibat trauma atau reaksi distonik namun biasanya
disebabkan oleh pembukaan mulut yang berlebihan seperti menguap,
anestesi umum, ekstraksi gigi, muntah, kejang, dan pada saat prosedur
endoskopik.
Dislokasi kronik akut, terjadi karena mekanisme yang sama pada pasien
dengan faktor resiko seperti fossa mandibularis yang dangkal
(kongenital), kehilangan kapsul sendi akibat riwayat dislokasi
sebelumnya (sindrom hipermobilitas).
Dislokasi kronik, terjadi karena dislokasi TMJ yang tidak ditangani
sehingga condylus tetap berada dalam posisinya yang salah dalam waktu
lama. Pada umumnya dibutuhkan reduksi terbuka.
b. Dislokasi posterior
Dislokasi posterior pada umumnya terjadi akibat trauma fisik langsung
pada dagu dimana condylus mandibulariss tertekan ke posterior ke arah
mastoid. Dislokasi posterior dapat menyebabkan jejas pada meatus acusticus
externus akibat condylus.
c. Dislokasi superior
Dislokasi superior terjadi akibat trauma fisik langsung pada mulut yang
sedang berada dalam posisi terbuka. Sudut mandibula pada posisi ini menjadi
faktor pendukung pergeseran condylus ke arah superior dan dapat
mengakibatkan kelumpuhan nervus fasialis, kontusio serebri dan gangguan
pendengaran.
d. Dislokasi lateral
Dislokasi lateral biasanya terkait dengan fraktur mandibula dimana
condylus bergeser ke arah lateral dan superior serta sering dapat dipalpasi pada
permukaan temporal kepala.

5. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan dislokasi TMJ tergantung pada tingkat keparahan dislokasi,
apakah bersifat akut atau kronis. Pada keadaan akut yang masih memungkinkan
untuk dilakukan reposisi secara manual sebaiknya sesegera mungkin sebelum
spasme otot bertambah dalam. Sedangkan, pada dislokasi kronis rekuren diperlukan
prosedur pembedahan dan non bedah lainnya untuk menghindari redislokasi.
Penatalaksanaan dislokasi TMJ meliputi terapi non bedah dan terapi bedah,
(sesuai dengan indikasinya), diantaranya: (Grossman dkk, 1995)
a. Terapi non bedah
Medikamentosa, tindakan ini dilakukan dengan menggunakan obat-
obatan sebagai berikut:
Analgetika, untuk menghilangkan nyeri dan spasme otot
Antiinflamasi, untuk menghilangkan radang, nyeri, spasme otot,
dan reposisi spontan
Tranquilizer, untuk mengatasi gangguan emosional,
menghilangkan spasme dan reposisi
Sedative, untuk mengatasi ketegangan syaraf, menghilangkan
spasme, dan reposisi
Muscle relaxant, untuk memperoleh relaksasi dan reposisi
Injeksi anestesi lokal intra artikular/intra muscular pada otot
pengunyahan, untuk mengatasi nyeri dan relaksasi otot serta
reposisi
Reposisi
Operator berada didepan pasien
Letakkan ibu jari pada daerah retromolar pad (gigi molar terakhir)
pada kedua sisi mandibula dan jari-jari yang lain memegang
permukaan bawah dari mandibula
Berikan tekanan pada gigi molar rahang bawah untuk
membebaskan kondilus dari posisi terkunci didepan eminensia
artikularis
Dorong mandibula ke belakang untuk mengembalikan ke posisi
anatominya
Reposisi yang berhasil ditandai dengan gigi gigi kembali
beroklusi dengan cepat karena spasme dari otot masseter
Pemasangan barton headbandage untuk mencegah redislokasi dan
membatasi pasien untuk tidak membuka mulut terlalu lebar dalam
24-48 jam
Pemberian obat berupa analgesik dan pelemas otot
Sumber: Grossman dkk,1995
Fiksasi dan Imobilisasi, tujuan utama dari teknik ini yaitu untuk
mengistirahatkan sendi selama masa penyembuhan pasca reposisi.
Tindakan ini dapat dilakukan secara ekstraoral maupun secara
intraoral. Fiksasi secara ekstraoral dapat dilakukan dengan
menggunakan elastic head bandage sedangkan fiksasi secara intra oral
dapat dilakukan dengan cara fiksasi intermaksilar.

Sumber: Grossman dkk, 1995


Perbaikan oklusi gigi, merupakan tindak lanjut dari perawatan
dislokasi TMJ. Teknik ini meliputi perbaikan hubungan oklusi antara
gigi-gigi RA denga RB dan perawatan terhadap maloklusi. Tujuan dari
perbaikan oklusi yaitu untuk mengeliminasi factor predisposisi.
b. Terapi bedah (Pedersen, 2003)
Eminektomi, indikasi utama dilakukan eminektomi adalah dislokasi
kronis recurrent dari processus condylaris mandbula yang tidak bisa
dilakukan secara konservatif. Prosedur dari teknik eminektomi yaitu
pembedahan fossa glenoid melalui cara standar atau dengan insisi
pembuka preauricular bagian anterior. Periosteum diinsisi dan diangkat
kemudian pada tonjolan bagian eminensia artikularis dilakukan
pengurangan atau dihilangkan seluruh luas medio/lateral

Sumber: Pedersen, 2003


Menisektomi
Prosedur ini dilakukan apabila meniskus tidak dapat dilakukan

mobilisasi dengan baik atau terjadi kebocoran/kerusakan pada


meniskus. Prosedur menisektomi yaitu dengan melakukan flap pada

otot temporal sebagai pengganti meniskus (Grossman dkk,1995)

C. Analisa Kasus
1. Skenario
Pasien laki-laki (27 tahun) datan ke RSGM Unsoed bersama istrinya untuk
melakukan pembersihan karang gigi. Pasien mengaku ke dokter gigi setahun yang
lalu untuk pengobatan sariawan di mulutnya dan mempunyai hobi merokok setiap
hari. Setelah dilakukan anamnesa dan pemeriksaan mendalam, terdapat karang gigi
hamper di seluruh regio yang menyebabkan gingivitis, sehingga dokter gigi
memutuskan melakukan prosedur scalling pada pasien tersebut. Prosedur scalling
yang dilakukan memakan waktu cukup lama. Hal mengagetkan terjadi yang
membuat ketakutan pasien dan istriinya. Saat selesai dilakukan prosedur scalling
ternyata mulut pasien tidak bisa menutup. Hal ini mengakibatkan istrinya histeris
tiada henti.
2. Pemeriksaan Subjektif

Chief complaint = Pasien datang ingin melakukan pembersihan karang

gigi

Present illness = t.a.k

Post medical history = t.a.k

Post dental history = Pasien mengaku pernah ke dokter gigi setahun yang

lalu untuk pengobatan sariawan pada mulutnya

Family history = t.a.k

Social history = Pasien memiliki hobi merokok

3. Pemeriksaan Objektif
EO : t.a.k
IO : terdapat adanya karang gigi hamper diseluruh region yang menyebabkan
gingivitis
4. Diagnosa
a. Gingivitis
b. Dislokasi unilateral dekstra TMJ
5. Rencana Perawatan
a. Reduksi
b. Fiksasi
c. Medikasi
d. Kontrol
6. Tata Laksana Dislokasi TMJ
a. Jika kemungkinan ada fraktur, perlu dilakukan ronsen foto terlebih dahulu. Jika
tidak ada trauma, dapat dilakukan penanganan proses secara langsung.
b. Pasien diletakkan pada kursi yang tidak bersandaran dan menempel dinding
sehingga punggung dan kepala pasien bersandar pada dinding.
c. Balut ibu jari dengan kasa yang agak tebal untuk mencegah tergigit nya ibu jari
karena setelah ada dalam posisi yang benar maka rahang akan mengatup dengan
cepat dan keras. Setelah itu gunakan sarung tangan.
d. Posisikan operator ada di depan pasien.
e. Letakkan ibu jari di belakang retromolar pad (dibelakang gigi molar terakhir)
pada kedua sisi mandibula setinggi siku-siku operator dan jari-jari lain
memegang permukaan bawah mandibula.

f. Reposisi yang berhasil ditandai dengan gigi gigi kembali beroklusi dengan
cepat karena spasme dari otot masseter
g. Pemasangan barton headbandage untuk mencegah redislokasi dan membatasi
pasien untuk tidak membuka mulut terlalu lebar dalam 24-48 jam
h. Pemberian obat berupa analgesik dan pelemas otot
i. Edukasikan pada pasien untuk diet lunak (makan makanan yang lunak),
meminum obat secara teratur, tidak membuka mulut terlalu lama dan terlalu
sering.
j. Pasien kontrol kembali 2 hari kemudian untuk mengevaluasi perkembangan
keadaan TMJ.
DAFTAR PUSTAKA

Andersen, L., 2012, Internasional Association Of Dental Traumatology Guidelines For The
Management Of Traumatic Dental Injuries, Dental Traumatology Journal.

Andlaw, J.R., Rock, P.W., 1982, Treatment of injuries, in: a manual of pedodontics,
Edinburgh: Churchill Livingstone,

Bakar, A., 2012, Kedokteran Gigi Klinis, Yogyakarta: Quantum Sinergis Media.
Bradley P, James D, Norman Je., 1994, Injuries of the condylar and coronoid processes.
Philadelphia: WB Saunders Co.
Dalimunthe, T., 2003, Replantasi gigi depan sulung yang avulsi, Dentika Dent Journal 2(8):
249-254.
Gazali, M., Alwin, K., 2004, Dislokasi mandibula ke arah anterior, Jurnal Kedokteran Gigi
Edisi Khusus KOMIT KG, 120-123.

Gisnawan, A, 2014, Penatalaksanaan Replantasi Gigi Anterior Permanen, Skripsi, Fakultas


Kedokteran Gigi UNHAS, Makassar.
Grossman, .LI., Oliet, S., Del Rio, C.E., 1995, Ilmu Endodontik Dalam Praktek Edisi 11.
Jakarta: EGC
King C, Henretig FM., 2008, Textbook of pediatric emergency procedures, Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins 515521

Okeson, J.P., 2003, Management of Temporomandibular Disorder and Occlusion, St. Louis:
Mosby
Ram, D., Cohenca, N., 2004, Treatment for avulsed permanent teeth therapeutic protocols for
avulsed permanent teeth: review and clinical update, Pediatric Dental Journal 3(26):
251-255.

Schiffman E, Ohrbach, R., 2016, Executive summary of the Diagnostic Criteria for
Temporomandibular Disorders for clinical and research applications, J Am Dent Assoc
147 (6): 438-45
Saeed, A., Laleh, A..M., Alireza, K., 2014, Indications And Case Series Of International
Replantation Of Teeth, Iranion Endodontic Journal, 9(1) :71-78.
Shofi, N., Cholil, Sukmana, B.I., 2014, Deskripsi kasus temporomandibular disorder pada
pasien di rsud ulin banjarmasin bulan juni-agustus 2013, Dentino Jurnal Kedokteran
Gigi, 2(1):70-73.

Trope, M., 2002, Clinical management of the avulsed tooth: present strategies and future
directions, Dental Traumatology, (18): 111.

Ugboko, V.I., Oginni, F.O., Ajike, S.O., Olasoji, H.O., Adebayo, E.T., 2005, A survey of
temporomandibular joint dislocation : aetiology, demographics, risk factors and
management in 96 nigerian cases, International journal of oral and maxillofacial
surgery 34(5):499-502.
Walton, R.E., Torabinejad, M., 2008, Prinsip dan Praktik Ilmu Endodonsia, Jakarta: EGC