Anda di halaman 1dari 12

REVISI

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU MATERIAL KEDOKTERAN GIGI II

TOPIK : Glass Ionomer Cement (GIC)


KELOMPOK : C7
HARI PRAKTIKUM : Kamis
TANGGAL PRAKTIKUM : 14 September 2017
PEMBIMBING : Prof. Dr. Anita Yuliati, drg, M.Kes.

NAMA:

1. Ragil Maulana 021611133077

2. Virna Septianingtyas 021611133142

3. Dian Pramita Ayu 021611133143

4. Vina Zavira Nizar 021611133144

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS AIRLANGGA

SURABAYA

2017

0
1. TUJUAN
a. Mahasiswa mampu memanipulasi GIC untuk material restorasi
menggunakan alat dan bahan dengan tepat dan benar.
b. Mahasiswa mampu membedakan setting time GIC berdasarkan
variasi rasio bubuk/cairan dengan tepat dan benar.

2. ALAT DAN BAHAN


2.1 Bahan

a. Bubuk dan cairan GIC tipe II (GC Gold Label Universal


Restorative II, Japan, No.23 yellow brown, expired by Agustus
2016)
2.2 Alat

a. Pengaduk plastik

b. Glass slab

c. Cetakan teflon diameter 5 mm, tebal 2 mm

d. Plastic filling instrument

e. Sonde

f. Pisau model

g. Stopwatch

h. Paper pad

i. Sendok takar G

1
Gambar 2.1 Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum GIC sebagai berikut: (a) Bubuk dan
cairan GIC tipe II, (b) Pengaduk plastik, (c) Plastic filling instrument, (d) Sonde, (e)
Pisau model, (f) Glass slab, (g) Cetakan teflon, (h) Paper pad

3. CARA KERJA
a. Material dan alat yang digunakan untuk praktikum dipersiapkan terlebih
dahulu.

b. Cetakan teflon diletakkan di atas glass slab.

c. Botol bubuk GIC dikocok terlebih dahulu. Botol bubuk GIC dibuka
penutupnya dan dimiringkan sedikit saat bubuk akan diambil. Bubuk
diambil menggunakan sendok takar sebanyak satu sendok dengan cara
ringan tanpa menekan bubuk ke dinding botol. Bubuk pada sendok takar
diratakan dengan menggunakan bagian teratas dari botol untuk
menyingkirkan bubuk yang berlebihan pada sendok takar. Setelah itu,
sendok takar yang berisi bubuk diletakkan di atas paper pad dan diketuk
ringan hingga seluruh bubuk jatuh dalam keadaan menyatu. Bubuk
kemudian dibagi menjadi dua bagian sama rata.

2
d. Cairan GIC diteteskan sebanyak satu tetes di atas paper pad di area dekat
bubuk dengan cara memegang botol secara vertikal 1 cm di atas paper
pad dan ditekan sedikit sampai cairan menetes.

e. Stopwatch diatur pada posisi 00:00, waktu setting time dicatat saat bubuk
dan cairan pertama kali bersentuhan. Bagian pertama dari bubuk GIC
yang telah dibagi dua digeser ke dekat ke cairan, kemudian dicampurkan
dan diaduk selama 10 detik. Setelah itu, bagian bubuk yang kedua
dimasukkan dan diaduk selama 25-30 detik (maksimum 60 detik).
Pengadukan dilakukan dengan cara menekan, memutar, dan melipat
hingga semua bubuk tercampur rata dengan cairan.

f. Hasil pengadukan GIC yang telah homogen dikumpulkan menjadi satu


dan diambil dengan pengaduk plastik. Setelah itu, hasil pengadukan GIC
dimasukkan ke dalam cetakan teflon sedikit demi sedikit dengan
menggunakan plastic filling instrument. Permukaan lalu diratakan
(stopwatch masih tetap menyala).

g. Setelah adonan GIC pada permukaan teflon rata, mulai dilakukan


pengukuran setting time dengan cara menusuk permukaan GIC
menggunakan sonde. Penusukan dilakukan dengan interval 5 detik
sampai pada permukaan sampel tidak terdapat bekas tusuk sonde.

h. Setting time dicatat sejak awal pencampuran hingga semen mengeras


(tidak ada bekas tusuk sonde).

i. GIC yang telah mengeras dilepaskan dari cetakan.

j. Setelah itu prosedur yang sama kembali dilakukan pada perbandingan


bubuk dan cairan GIC : 1 dan 1 : 1.

3
4. HASIL PRAKTIKUM

Tabel 4.1 hasil setting time Glass Ionomer Cement (GIC)

No. Konsistensi Bubuk Cairan Setting Time


1 Normal 1 sendok 1 tetes 6 menit 38 detik
2 Encer sendok 1 tetes 6 menit 20 detik
sendok 1 tetes 6 menit 30 detik
Rata-rata 6 menit 25
detik
3 Kental 1 sendok 1 tetes 5 menit 10 detik

Glass Ionomer Cement (GIC) yang digunakan pada praktikum ini adalah
GIC tipe II yang biasa digunakan sebagai bahan restorasi. Hasil setting time yang
didapatkan berdasarkan variasi dari rasio bubuk dan cairan GIC. Perbedaan rasio
bubuk dan cairan didapatkan dengan mengubah jumlah dari bubuk GIC,
sedangkan cairan GIC dibuat tetap sebanyak 1 tetes. Hasil yang didapatkan dirata-
rata dan didapatkan hasil setting time untuk konsistensi adonan GIC normal
adalah 6 menit 38 detik, konsistensi encer 6 menit 25 detik, dan konsistensi kental
selama 5 menit 10 detik.
Pada praktikum yang telah dilakukan, pengukuran setting time dibantu dengan
sonde. Menurut teori, pengukuran setting time seharusnya dilakukan
menggunakan jarum gillmore ataupun batang akrilik. Penggunaan alat ukur yang
tidak sesuai mengakibatkan waktu setting menjadi kurang akurat.

5. PEMBAHSAN
GIC adalah semen yang dikembangkan pada tahun 1970 untuk mengurangi
risiko kerusakan pulpa. Penggunaan asam poliakrilat membuat GIC mampu
mengikat struktur gigi. GIC telah digunakan sebagai restorasi estetik gigi anterior,
misalnya, lokasi Kelas III dan V, sebagai semen luting, sebagai perekat untuk alat
ortodontik dan restorasi antara, sebagai pit and fissure sealants, sebagai liner dan
basis,dan sebagai core buildup materials. GIC diklasifikasikan di bawah ini
(Anusavice, 2013 hal 320):
Type I: Luting crowns, bridges, and orthodontic brackets
Type IIa: Esthetic restorative cements
Type IIb: Reinforced restorative cements
Type III: Lining cements, base

A. Komposisi GIC
Semen glass ionomer terdiri dari bubuk kaca yang larut dalam air dan cairan
polyacid yang ketika dicampur akan membentu suatu massa padat setelah setting.
Bubuk glass ionomer terdiri dari aluminosilikat yang berfungsi sebagai sumber
ion untuk reaksi pembentukan semen. Komponen kaca dibuat dengan proses
sintering yang terdiri dari campuran silika bubuk (SiO2), alumina (Al2O3), kriolit
(Na3AlF6), aluminium trifluorida (AlF3), fluorit (CaF2) dan aluminium fosfat
(AlPO4) pada suhu 1000-1500oC tergantung jenis material yang digunakan (Baig
dan Fleming, 2015).

Tabel 5.1 Komposisi tiga tipe Glass Ionomer Cement (Anusavice, 2013
hal 321)

Komponen liquid GIC, awalnya hanya terdiri dari larutan asam akrilat yang
memiliki cara kerja dan proses setting yang buruk dan rentan terhadap gelasi. Cara
memperbaiki hal tersebut, asam tartarat ditambahkan ke homopolimer asam
akrilat. Asam tartarat memiliki berberapa peran, yaitu pengendali pada cairan GIC
yang memungkinkan glasses digunakan secara lebih luas, menurunkan viskositas,
memperpanjang waktu penyimpanan sebelum terjadi pembentukan gel,
memperpanjang working time, dan memperpendek waktu setting. Untuk
mengurangi gelasi, methanol ditambahkan ke homopolimer asam akrilat.
Tujuannya adalah mengurangi pembentukan ikatan hidrogen intermolekul antara
rantai polimer dan gelasi tertunda (Baig, Fleming, 2015, Anusavice, 2013 hal
321).

Gambar 5.1 Struktur berbagai jenis asam alkenoat yang membentuk polyacid pada
GIC (Anusavice, 2013 hal 321).

Gambar 5.2 Diagram yang menggambarkan struktur GIC. Partikel biru solid mewakili partikel
kaca yang tidak bereaksi yang dikelilingi oleh gel (struktur berbayang biru muda)
yang terbentuk saat ion Al3 + dan Ca2 + dilepaskan dari kaca sebagai akibat serangan
oleh asam poliakrilat. Ion Ca2 + dan Al3 + membentuk polisisis dengan gugus COO-
dari asam poliakrilat untuk membentuk struktur cross-linked. Kelompok karboksil
bereaksi dengan kalsium dalam enamel dan dentin (Anusavice, 2013 hal 322).
Pada percobaan digunakan GIC dengan SIK expired Agustus 2016.
Dihasilkan setting time yang lebih lama , yaitu 6:38 detik untuk rasio bubuk dan
cairan 1:1; 6 menit 20 detik dan 6 menit 30 detik untuk rasio bubuk dan cairan :
1; serta 5 menit 10 detik untuk rasio bubuk dan cairan 1 : 1. Berdasarkan
keterangan produk , GIC yang masih normal memiliki setting tima yang lebih
cepat daripada GIC expired yaitu 5 menit 10 detik. Hal ini disebabkan karena
tartaric acid dalam GIC SIK expired tidak dapat berfungsi secara maksimal
sehingga setting time lebih lama. Asam tartaric sendiri berfungsi meningkatkan
working time dan memperpendek setting time. (Powers, 2006).

B. Reaksi Setting Glass Ionomer Cement (GIC)


Saat manipulasi, terjadi reaksi asam basa antar komponen yang menyebabkan
GIC dapat mengeras. Ketika bubuk dan larutan GIC dicampur, asam mulai
mendegradasi kaca, melepaskan kalsium, aluminium, sodium, dan ion fluoride.
Asam poliakrilik melakukan cross-linked dengan menggunakan ion kalsium.
Walaupun begitu 24 jam kemudian ion kalsium akan digantikan oleh ion
aluminium. Ion sodium dan fluoride tidak berperan dalam cross-linked semen.
Beberapa ion sodium akan menggantikkan ion hidrogen dalam kelompok
karboksilik dan ion fluoride akan tersebar dalam fase cross-link (matrik) pada saat
semen set (Anusavice, 2013, p 321).
Pada fase cross link akan dihidrasi hingga siap. Bagian partikel glass yang
tidak larut dilapisi dengan gel silika yang terbentuk pada permukaan partikel
glass. Demikian, semen yang setting mengandung partikel glass yang tidak larut
dengan dilapisi gel silika yang menempel pada matrik amorf dari kalsium yang
telah dihidrasi dan aluminium polysalt yang mengandung fluoride (Anusavice,
2013, p 321).
Gambar 5.2 Struktur kimia (a) asam polyacrilic acid dan (b) cross-linking ion Ca dan
ion Al ( McCabe, 2008:247).

Reaksi setting glass ionomer cement melibatkan pembentukan garam melalui


reaksi gugus asam dengan kation yang dilepaskan dari permukaan partikel glass.
Sifat cross-linked garam polyalkenoate diilustrasikan pada Gambar 4.1 (b). Pada
saat pencampuran antara bubuk dengan cairan, asam dari cairan perlahan-lahan
akan mendegradasi lapisan luar partikel glass dari bubuk dengan melepaskan ion
Ca2+ dan Al3+. Selama tahap awal setting, ion Ca2+ dilepaskan lebih cepat sehingga
dapat bereaksi dengan polyacid untuk membentuk produk reaksi yang mirip
dengan gambar 4.1. Sementara itu, ion Al3+ dilepaskan lebih lambat dan baru
terlibat dalam pada tahap setting berikutnya, yang dimana sering disebut sebagai
tahap reaksi sekunder atau tahap kedua (Mc cabe, 2008, p 247)

Gambar 5.3 Diagram illustrasi reaksi setting dari GIC (Mc Cabe, 2008 hal 248).

Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi setting time : (Anusavice


et al, 2013)
a. Temperatur

Sebuah lempengan kaca dingin dan kering dapat digunakan untuk


menghambat reaksi setting dan menambah working time.

b. Ukuran Partikel Powder


Ukuran maksimum partikel adalah 50 m untuk restoratif semen dan 15
m untuk luting agent

c. Asam Tartarat

Asam tartarat dapat memperpanjang working time, tetapi memperpendek


setting time.

d. W:P Ratio

Semakin sedikit jumlah bubuk sedikit, semakin cepat setting. Begitu


sebaliknya.

Pada rasio normal, ketika bubuk dan cairan semen glass ionomer
dicampurkan, bubuk akan menghasilkan ion kalsium (Ca2+) dan ion aluminium
(Al3+). Kemudian terjadi akan cross-link antara kation dengan polyacid sehingga
membentuk polialkenoate yang dapat membuat permukaan menjadi keras
(setting). Waktu yang dibutuhkan untuk setting adalah 5 menit 10 detik.
Glass ionomer cement dengan konsistensi encer lebih lama mencapai setting
time karena sisa reaksi lebih banyak terbentuk, sebagai akibat dari banyaknya
jumlah sisa asam poliakriliat. Hal ini berakibat pada pembentukan salt gel matrix
yang akan menjadi berjauhan karena banyaknya sisa reaksi yang berada diantara
celah partikel. Hal ini menyebabkan glass ionomer cement konsistensi encer lebih
lama setting timenya. Setting time berlangsung lebih lama karena memiliki rasio
W/P tinggi sehingga bubuk akan menghasilkan Ca2+ dan Al3+ dengan jumlah yang
sedikit. Cross-link yang terjadi antara kation dengan polyacid yang membentuk
polialkenoate akan berlangsung lama karena terdapat sisa asam yang menunggu
kation dari bubuk terurai untuk melakukan cross-link sehingga waktu pengerasan
berjalan lambat, yaitu 6 menit 30 detik dan 6 menit 20 detik.
Sedangkan saat menggunakan rasio powder sebanyak 1 dan liquid
sebanyak 1 tetes didapatkan setting time selama 5 menit 10 detik. Setting time
yang didapatkan lebih cepat dari pada konsistensi encer sehingga pencampuran
yang dilakukan lebih susah. Pada rasio kental, rasio bubuk dan cairan yang tinggi
akan mengakibatkan setting time lebih cepat karena bubuk semen glass ionomer
akan menghasilkan Ca2+ dan Al3+ lebih banyak dibandingkan cairan asam. Cross-
link yang terjadi antara kation dengan polyacid membentuk polyalkenoate tidak
perlu menunggu terurainya kation sehingga proses pengerasan berlangsung cepat.
Hasil percobaan pada rasio yang sama ternyata memiliki setting time yang
berbeda. Hal ini dikarenakan oleh adanya dua perbedaan penakaran rasio W/P
semen, pencampuran, pengadukan, dan termasuk cara menggores menggunakan
sonde untuk mengecek kekerasan semen yang dihasilkan.

C. Manipulasi GIC

Bubuk Glass Ionomer Cement (GIC) yang dicampur dengan cairan yang
memiliki kekentalan seperti asam karboksilat mempunyai w:p ratio 1,3:1 hingga
1,35:1, sedangkan yang dicampur dengan cairan berkonsistensi seperti air
memiliki rasio bubuk : cairan 3,3:1 hingga 3,4:1. Bubuk dan cairan diletakkan di
atas paper pad atau glass lab. Bubuk dibagi menjadi dua bagian yang sama.
Bagian pertama dicampur dengan cairan terlebih dahulu dengan spatula kaku
sebelum bagian kedua ditambahkan. Semen harus segera diaplikasikan karena
waktu kerja (working time) setelah pencampuran adalah sekitar 2 menit pada suhu
kamar (23oC). GIC sangat sensitive apabila terkena kontak dengan air selama
setting, sehingga cara pengisolasian ggigi yang akan ditempatkan restorasi harus
benar. Setting time GIC adalah 6 hingga 8 menit setelah pencampuran. Ketika kita
melakukan manipulasi pada pasien dan ternyata dalam waktu 5 menit GIC sudah
setting, hal yang harus dilakukan adalah menunggunya hingga 8 menit. Hal itu
peru dilakukan karena bisa saja bagian luar GIC sudah setting tetapi sangat
mungkin jika bagian dalam belum setting (Craig dan Powers, 2002).
Rasio w:p yang direkomendasikan oleh produsen untuk GIC harus diikuti.
Waktu pencampuran tidak boleh melebihi 45 sampai 60 detik, tergantung
pabrik.Campuran harus memiliki penampilan yang mengkilap, hal ini
menunjukkan tidak adanya reaksi polyacid di permukaan. Asam sisa pada
permukaan penting untuk ikatan (bonding) pada gigi. Penampilan kusam
menunjukkan bahwa asam sisa tidak cukup untuk ikatan (bonding) pada gigi
(Anusavice et al, 2013).

6. KESIMPULAN
a. Mahasiswa mampu menggunakan alat dan bahan dengan benar dalam
proses manipulasi GIC untuk restorasi.
b. Mahasiswa mapu menghitung setting time GIC berdasarkan variasi rasio
bubuk/cairan dengan benar, dengan hasil 6 menit 38 detik pada kosistensi
normal, 6 menit 25 detik pada kosistensi encer, dan 5 menit 10 detik pada
kosistensi kental.

7. DAFTAR PUSTAKA
Anusavice, Shen dan Rawls. 2013. Phillips Science of dental materials. 12th ed.
USA: WB Saunders Co. pp 320-323
Craig RG dan Powers JM. 2002. Restorative Dental Materials 11th ed. Missouri:
Mosby Inc. Pp 614-616
McCabe, JF dan Walls, AWG. 2008. Applied Dental Materials 9th ed. Oxford:
Blackwell, Inc. Pp. 247-248
Baig MS, Fleming GJP. 2015. Conventional glass-ionomer material: A review of
the developments in glass powder, polyacid liquid and the strategies of
reinforcement. Journal of Dentistry, vol.34, no. 8, Pp 897-912.
Richard VN. 2013. Introduction to Dental Materials 4th ed. Philadelphia: Elsevier.
Pp. 97-98