Anda di halaman 1dari 5

PUSKESMAS PUGER No.

Dokumen PROTAP-UPU-03
No. Revisi. 00
PROTAP
Tanggal 01 September 2007
ASMA BRONCHIALE
Halaman 1 / 5
UNIT KERJA : Unit Pelayanan Umum PETUGAS : DOKTER/PERAWAT

1. Tujuan

Sebagai acuan dalam dalam penatalaksanaan asma bronchiale di Puskesmas Puger

2. Ruang Lingkup

Semua Pasien dengan gejala asma bronchiale yang datang di unit pelayanan 24 jam
dan unit pelayanan umum di Puskesmas Kecamatan Cilandak

3. Ketrampilan Petugas

Dokter Umum
Perawat Terampil

4. Bahan dan Alat


4.1 Bahan
4.1.1 adrenalin
4.1.2 Kortikosteroid hidrokortison
4.1.3 Aminofilin Bolus ( Teofilin)
4.1.4 Agonis 2 ( Isap dan Oral )
4.2 Alat
4.2.1 Spirometri/Peak flow meter
4.2.2 Stetoskop
4.2.3 Tensimeter
4.2.4 Tabung Oksigen ( Set)
4.2.5 Nebulator

5. Uraian Umum
5.1. Definisi
Asma Bronchiale adalah Gangguan inflamasi kronik jalan napas yang melibatkan berbagai
sel inflamasi. Dasar dari penyakit ini adalah hiperaktifitas bronchus dalam berbagai
tingkat, obstruksi jalan napas dan gejala pernapasan (mengi dan sesak)

5.2. Klasifikasi Derajat Asma

DERAJAT GEJALA GEJALA MALAM FUNGSI PARU


ASMA
Intermitten 1. Gejala < 1 kl / mg 2 kali / bulan VEPI atau APE 80
Mingguan 2. Tanpa gejala dluar %
serangan
3. Serangan singkat
4. Fungsi paru
asimptomatik dan
normal luar
serangan
Persistensi 1. Gejala > 1 kl/ mg tapi > 2 kali VEPI atau APE 80
Ringan < 1 kl / hr seminggu % normal
Mingguan 2. Serangan dapat
mengganggu
aktifitas dan tidur

Persistensi 1. Gejala harian > 1 kl seminggu VEPI atau APE > 60


Sedang 2. Menggunakan obat % tetapi 80 %
PUSKESMAS PUGER No.Dokumen PROTAP-UPU-03
No. Revisi. 00
PROTAP
Tanggal 01 September 2007
ASMA BRONCHIALE
Halaman 2 / 5
UNIT KERJA : Unit Pelayanan Umum PETUGAS : DOKTER/PERAWAT

Harian setiap hari normal


3. Serangan dapat
mengganggu
aktivitas dan tidur
4. Serangan 2 kl / mg,
bisa berhari-hari
Persistensi 1. Gejala terus Sering VEPI atau APE < 80
Berat menerus % normal
Kontinu 2. Aktifitas fisik
terbatas
3. Sering serangan

5.3. Manifestasi Klinis


Gejala yang timbul biasanya berhubungan dengan beratnya derajat hiperaktivitas
bronkus. Obstruksi jalan napas dapat reversible secara spontan maupun dengan
pengobatan. Gejala-gejala asma antara lain :
5.3.1. Bising mengi ( Wheezing ) yang terdengar dengan atau tanpa stetoskop
5.3.2. Batuk produktif, sering pada malam hari
5.3.3. Napas atau dada seperti tertekan. Gejalanya bersifat paroksismal, yaitu
membaik pada siang hari dan memburuk pada malam hari

5.4. Diagnosis
Diagnosis asma berdasarkan,
5.4.1. Anamnesis : Riwayat perjalanan penyakit, faktor-faktor yang berpengaruh
terhadap asma, riwayat keluarga dan riwayat adanya alergi, serta gejala
gejala klinis.
5.4.2. Pemeriksaan fisik
5.4.3. Pemeriksaan laboratorium : darah ( terutama eosinofil, Id E Total, Ig E
Spesifik )
5.4.4. Tes fungsi paru dengan spirometri atau peak flow meter untuk menentukan
adanya obstruksi jalan napas.

5.5. Penatalaksanaan
Tujuan terapi asma adalah :
5.5.1. Menyembuhkan dan mengendalikan gejala asma
5.5.2. Mencegah kekambuhan
5.5.3. Mengupayakan fungsi paru senormal mungkin serta mempertahankannya
5.5.4. Mengupayakan aktivitas harian pada tingkat normal termasuk exercise
5.5.5. Menghindari efek samping obat asma
5.5.6. Mencegah obstruksi jalan napas yang irreversibel
5.6. Pengobatan asma jangka panjang berdasarkan beratnya penyakit :

DERAJAT ASMA OBAT OBAT PELEGA


PENGONTROL
( HARIAN )
ASMA 1. Tidak perlu 1. Bronkhodilator aksi singkat, yaitu
PERSISTENSI inhalasi agonis beta 2 bila perlu
2. Intensitas pengobatan tergantung berat
eksaserbasi
3. Inhalasi agonis beta 2 atau kromolin
dipakai sebelum aktivitas atau pajanan
alergen
PUSKESMAS PUGER No.Dokumen PROTAP-UPU-03
No. Revisi. 00
PROTAP
Tanggal 01 September 2007
ASMA BRONCHIALE
Halaman 3 / 5
UNIT KERJA : Unit Pelayanan Umum PETUGAS : DOKTER/PERAWAT

ASMA PERSISTENSI 1. Inhalasi kortokosteroid 1. Inhalasi agonis beta 2 aksi


RINGAN 200 500 g / kromolin / singkat bila perlu dan
nedokromil / teofilin tidak melebihi 3 4 kali
lepas lambat sehari
2. Bila perlu ditingkatkan
800 g atau di
tambahkan brokhodilator
aksi lama terutama untuk
mengontrol asma malam.
Dapat diberikan agonis
beta 2 aksi lama inhalasi
atau oral atau teofilin
lepas lambat
ASMA PERSISTENSI 1. Inhalasi kortikosteroid 1. Inhalasi agonis beta 2 aksi
SEDANG 800 2000 g singkat bila perlu dan
2. Bronkhodilator aksi lama tidak melebihi 3 4 kali
terutama untuk sehari
mengontrol asma malam,
berupa agonis beta aksi
lama inhalasi atau oral
atau teofilin lepas lambat
ASMA PERSISTENSI 1. Inhalasi kortikostreod
BERAT 800 2000 g atau lebih
2. Bronkhodilator aksi lama,
berupa agonis beta 2
inhalasi atau oral atau
teofilin lepas lambat
3. Kortikosteroid oral
jangka panjang

5.7. Obat obatan anti asma


5.7.1. Bronkhodilator
5.7.1.1. Agonis 2 :
Obat ini mempunyai efek bronkhodilatasi. Terbutalin, Salbutamol
dan Feneterol memiliki lama kerja 4 6 jam, sedangkan agonis
2 long acting bekerja lebih dari 12 jam seperti salmeterol,
formoterol, bambuterol dan lain-lain. Bentuk aerosol dan inhalasi
memberikan efek bronkhodilatasi yang sama dengan dosis yang
jauh lebih kecil yaitu sepersepuluh dosis oral

5.7.1.2. Metil Xantin


Teofilin termasuk golongan ini. Efek bronkhodilatornya berkaitan
dengan konsentrasi di dalam serum. Efek samping obat ini dapat
ditekan dengan pemantauan kadar teofilin serum dalam
pengobatan jangka panjang.

5.7.1.3. Anti Kolinergik


Golongan ini menurunkan tonus vagus instrinsik dari saluran
napas.
5.7.2. Anti Inflamasi
Anti inflamasi menghambat inflamasi jalan napas dan mempunyai efek
supresi dan profilaksis
5.7.2.1. Kortikosteroid
PUSKESMAS PUGER No.Dokumen PROTAP-UPU-03
No. Revisi. 00
PROTAP
Tanggal 01 September 2007
ASMA BRONCHIALE
Halaman 4 / 5
UNIT KERJA : Unit Pelayanan Umum PETUGAS : DOKTER/PERAWAT

5.7.2.2. Natrium kromolin merupakan anti inflamasi non steroid

5.8. Therapi Serangan Asma Akut

BERATNYA SERANGAN THERAPI LOKASI


Ringan Terbaik 1. Dirumah
Aktivitas hampir normal 1. Agonis 2 isap (MDI) 2 isap boleh
Bicara dalam kalimat diulangi 1 jam kemudian atau tiap
penuh 20 menit dalam 1 jam
Denyut nadi < 100 / m Alternatif
( APE > 60 % ) 2. Agonis 2 oral dan atau 3 x - 1
tablet ( 2 mg ) oral
3. Teofilin 75 150 mg
4. Lama terapi menuntut kebutuhan

Sedang Terbaik 1. Puskesmas


Hanya mampu berjalan 1. 1. Agonis 2 secara nebulasi 2,5 2. Klinik Rawat Jalan
jarak dekat. Bicara 5 mg, dapat diulangi s/d 3 kali 3. UGD
dalam kalimat putus dalam 1 jam pertama dan dapat 4. Praktek Dokter
putus. Denyut nadi dilanjutkan setiap 1 4 jam Umum
100 200 / m ( APE kemudan 5. Rawat Rumah Sakit
40 60 % ) Alternatif bila respon ( - )
2. Agonis 2 im / adrenalin s..k dalam 2 4 jam
3. Teofilin i.v 5 mg / kgbb/iv pelan-
pelan dan
4. Steroid iv / kortison 100 200 mg,
i.m dexametason 5 mg iv
5. Oksigen 4 liter / menit

Berat Terbaik 1. UGD


Sesak pada istiahat, 1. 1. Agonis 2 secara nebulasi 2. Rawat bila respon ( - )
Bicara dalam kata dapat diulangi s/d 3 x dalam 1 dalam 2 3 jam
terputus-putus jam pertama selanjutnya dapat 3. Pertimbangkan rawat
Denyut nadi > 120 x / diulangi tiap 1 4 jam ICU bila cenderung
m ( Ape < 40 % ) 2. 2.Teofilin iv dan infus memburuk
3. 3. Steroid iv dapat diulagi dari
8 12 jam
4. Agonis 2 sk /iv / 6 jam
5. Oksigen 4 liter / menit
6. Pertimbangkan nebulasi
Ipratropium bromide 200 tetes

Mengancam jiwa Terbaik ICU


Kesadaran menurun, 1. Lanjutkan terapi sebelumnya
kelelahan, pertimbangkan intubasi dan
sianosis, Henti ventilasi mekanik.
napas Pertimbangkan anestesi umum
untuk terpai pernapasan
intensif

5.9. Penatalaksanaan Serangan Asma ( Awal )


PUSKESMAS PUGER No.Dokumen PROTAP-UPU-03
No. Revisi. 00
PROTAP
Tanggal 01 September 2007
ASMA BRONCHIALE
Halaman 5 / 5
UNIT KERJA : Unit Pelayanan Umum PETUGAS : DOKTER/PERAWAT

5.9.1. Oksigenasi 4 6 liter / menit


5.9.2. Agonis 2 ( salbutamol 5 mg / feneterol 2,5 mg / terbutalin 10 mg ) inhalasi
nebulasi dan pemberiannya dapat diulang setiap 20 menit sampai 1 jam.
Pemberiannya Agonis 2 dapat secara subkutan atau iintra vena dengan
dosis salbutamol 0,25 mg atau terbutalin 0,25 mg dalam larutan dektrose 5
% dan diberikan perlahan
5.9.3. Aminofilin bolus iv 5 6 mg / kgbb, jika sudah menggunakan obat ini dalam
12 jam sebelumnya maka cukup diberikan setengah dosis
5.9.4. Adrenalin 0,3 ml subkutan
5.9.5. Kortikosteroid hidrokortison 100 200 mg iv diberikan jika tidak ada respon
segera atau pasien sedang menggunakan steroid oral atau dalam serangan
sangat berat
5.9.6. Rujuk ke RS terdekat apabila respon ( - ) dalam 2 4 jam penatalaksanaan

6. Indikator kinerja
Gejala asma bronchiale dapat di atasi / berkurang

7. Catatan Mutu
7.1 Status pasien Unit Pelayanan Umum
7.2 Buku register harian unit pelayanan umum
7.3 Lembaran resep
7.4 Form resep umum luar
7.5 Form rujukan pasien umum
7.6 Form rujukan pasien (ASKES, ASKESKIN dan Umum)
7.7 Buku Register rujukan pasien

Disahkan Oleh Dibuat Oleh

Dr. Santoso Gunawan Dr. Yukhi


Kepala Puskesmas Pengendali UPU