Anda di halaman 1dari 8

PRARANCANGAN PABRIK ETILEN OKSIDA DARI ETILEN

MELALUI PROSES OKSIDASI UDARA

Macam - macam proses


Etilen oksida secara komersial dapat diproduksi dengan beberapa proses
antara lain:
1. Proses Klorohidrin
Proses klorohidrin terdiri atas dua reaksi utama yaitu reaksi
pembentukan etilen klorohidrin dan reaksi pembentukan etilen oksida dari
etilen klorohidrin. Reaksinya adalah:
C2H4 + HOCl HOCH2CH2Cl (I.1)
HOCH2CH2Cl + Ca(OH)2 C2H4O + CaCl + H2O (I.2)
Reaksi pertama berlangsung dalam reaktor packed tower pada
tekanan 2-3 bar dan suhu 27-43 C dengan yield 85%-90%. Pada reaktor
pertama ini perlu pengendalian yang cermat untuk pencegahan terbentuknya
produk reaksi samping, yaitu etilen dioksida (Kirk-Othmer, 1998)
Produk dari reaktor pertama berupa cairan etilen klorohidrin yang
keluar dari dasar packed tower. Selanjutnya direaksikan dengan slurry
Ca(OH)2 dalam reaktor hidrolisa pada suhu 100 C. Yield reaksi kedua adalah
90%-95%. Hasil reaktor kedua berupa uap etilen oksida yang kemudian
dikondensasikan dan dialirkan ke unit pemurnian (Mc Ketta 1984).
Pada proses pemurnian etilen oksida memerlukan beberapa menara
distilasi yang disusun seri. Meskipun proses ini tergolong sederhana, tetapi
biaya modalnya tinggi karena harga material konstruksinya mahal.
2. Proses Oksidasi langsung
Pembentukan etilen oksida dengan proses oksidasi langsung dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Oksidasi langsung dengan oksigen teknis
Dalam proses ini terjadi reaksi pembentukan etilen oksida dan reaksi
samping menghasilkan karbon dioksida dan air. Reaksi utama (1):

CH O
2 4( g ) 1 O2 C2 H 4
298K ,1atm
(g) 0,103 kJ / mol (I.3)
2
Reaksi samping (2):
C H
2 4( g )
3O2( g ) 2CO2( g ) 2H 2O( g ) 1,323 kJ / mol (I.4)
298K ,1atm

Reaksi dijalankan dalam reaktor fixed bed multitibe pada tekanan 20-
30 bar dan suhu 220-235 C dengan mengggunakan katalis perak.
Konversi per-pass dijaga rendah sekitar 8%-12% untuk mendapatkan
selektivitas yang tinggi, yaitu 75%-82%. Selain terbentuk etilen oksida,
juga terbentuk produk samping yang berupa gas CO2 dan H2O.
Konsentrasi CO2 yang dihasilkan berlebih 15% mol sehingga perlu
rangkaian CO2 absorber dan CO2 stripper untuk pengurangan kandungan

CO2 sebelum gas keluar dapat di-recycle ke reaktor lagi. Selain itu guna
mencegah efek eksplosivitas etilen terhadap oksigen, maka perlu
pertambahan nitrogen dalam siklus reaktor (Kirk-Othmer, 1998).
b. Oksidasi langsung dengan oksidasi udara
Proses ini terdiri dari reaksi utama dan reaksi samping, yaitu seperti
pada reaksi (3) dan (4) di atas. Dari segi reaksi, pada dasarnya sama
dengan menggunakan oksigen teknis, yaitu dijalankan pada suhu 220-277
C dan tekanan 10-30 bar dengan katalis perak. Konversi per-pass bisa
lebih tinggi, yaitu sekitar 20%-30% dengan selektivitas 63%-75%.
Dengan digunakannya udara dengan kadar nitrogen tinggi, maka
tidak memerlukan gas diluen khusus karena nitrogen udara berfungsi
sebagai diluen untuk pencegahan eksplosivitas. Namun kemudian, dengan
digunakannya udara sebagai oksidator yang mengandung banyak nitrogen,
maka diperlukan purging sebagian reaktan yang tidak bereaksi sebelum di-
recycle dalam reaktor untuk mencegah akumulasi nitrogen dalam reaktor
(Kirk-Othmer, 1998).
Perbandingan antara berbagai proses tersebut, dapat dilihat pada tabel I.

Tabel I. Perbandingan beberapa proses pembuatan Etile Oksida

Proses Klorohidrin Proses Oksidasi Udara Proses Oksidasi Oksigen


Yield 85% 95% 63%-75% 75%-82%
Konversi n.a 20%-65% 8%-12%

Suhu 27 43 oC 220 - 277 C 220 - 235 C


Tekanan 2 3 bar 10 20 bar 20 30 bar
Produk samping Kalsium klorida, air Karbon dioksida, air Karbon dioksida, air
Biaya Material konstruksi Pada skala besar Pada skala menengah
mahal, proses lama (55.000-275.000 (22.000-55.000
yang sudah ton/tahun) lebih murah ton/tahun) lebih murah
ditinggalkan investasi awalnya investasi awalnya

Dari ketiga proses tersebut dipilih pembuatan etilen oksida dengan proses
oksidasi berbasis udara dengan pertimbangan sebagai berikut:
a. Investasi awal tidak terlalu tinggi
b. Konversi yang dihasilkan lebih besar daripada proses yang lain
c. Pemisahan produk utama dan produk samping tidak terlalu sulit.
Kegunaan produk

Etilen oksida umumnya digunakan sebagai bahan pensteril yang baik.


Dalam kehidupan sehari-hari digunakan mensterilkan bahan-bahan seperti
pakaian, perabot rumah tangga, bahkan bulu binatang. Etilen oksida juga
digunakan sebagai pestisida. Di dunia kedokteran etilen oksida dikenal sebagai
bahan pensteril peralatan bedah di rumah sakit. Bahan-bahan yang terbuat dari
plastik, dan alat-alat lain yang tidak tahan panas dan tidak dapat disterilkan
dengan uap. Selain untuk penggunaan langsung, etilen oksida merupakan bahan
baku pembuatan monoetilen glikol, dietilen glikol, trietilen glikol, polietilen
glikol, polietilen oksida, etilen glikol eter, etanolamin, dan akrilonitril (Kirk-
Othmer, 1998).

Sifat fisis dan kimia


Bahan baku pembuatan etilen oksida adalah etilen dan udara. Sifat fisis
dan kimia bahan baku dan produk tersebut tercantum pada Tabel II.
Tabel II. Data sifat fisis dan kimia bahan baku dan produk
Bahan baku Produk
Sifat Fisis dan Kimia Udara
Etilen Katalis Etilen Oksida
Oksigen Nitrogen
CH O N
Rumus Kimia 2 4 2 2 Ag C 2H 4 O
Fasa (STP) Gas Gas Gas Padat Gas
Berat Molekul 28,05 32,00 28,02 107,88 44,05
o
Titik didih normal, C -103 -183 -195,8 -- 13, 5
Tekanan kritis, bar 56,32 49,8 34 -- 71,94
Suhu kritis, K 282,36 154,6 126,2 -- 460,15
3
Densitas, g/cm 0,2174 0,436 0,3109 -- 0,314

Spesifikasi Bahan Baku dan Produk


Bahan baku pembuatan etilen oksida adalah etilen dan udara. Etilen oksida
memiliki komposisi 99,7% etilen oksida dan 0,03% air sesuai spesifikasi produk
etilen oksida di pasaran.
Tabel III. Data sifat fisis dan kimia bahan baku dan produk
Bahan baku Produk
Sifat Fisis dan Kimia Udara
Etilen Katalis Etilen Oksida
Oksigen Nitrogen
CH O N
Rumus Kimia 2 4 2 2 Ag C 2H 4 O
Fasa (STP) Gas Gas Gas Padat Gas
Berat Molekul 28,05 32,00 28,02 107,88 44,05
o
Titik didih normal, C -103 -183 -195,8 -- 13, 5
min 99,7% Etilen
99,85% Etilen min 17,5% Ag
Komposisi 21% 79% Oksida
0,15% Etana max 82% Al2O3 max 0,3% impuritas
3
Densitas, g/cm 0,2174 0,436 0,3109 -- 0,314
Tinjauan Proses
Dasar proses pembuatan Ethylene Oxide dari Ethylene sesuai dengan
proses yang ditemukan Lefort (lihat persamaan I.3). Reaksi ini merupakan reaksi
oksidasi yang berlangsung dengan adanya katalis perak dan memiliki reaksi
samping yang menghasilkan CO2 dan air sebagai hasil pembakaran sempurna
etilen (Meyers, 1986). Kilty dan Sachtler menyatakan bahwa reaksi pembentukan
etilen oksida berlansung di permukaan katalis (Persamaan (II.1)).
fast 2
O2 4Ag (adjacent ) 2O (ads) 4Ag (adj) (II.1)
slow 2
O2 Ag O (ads) Ag (II.2)
commit to user
very slow 2

O2 4Ag (nonadjacent) 2O ( ads) 4Ag (adj) (II.3)


Etilena bereaksi dengan superoksida (O2) membentuk etilen oksida (Persamaan
(II.4)).

CH O (ads) C HO O (II.4)
2 4 2 2 4 (ads)

Kilty dan Sachtler menyatakan bahwa atom-atom oksigen yang dihasilkan oleh
reaksi (II.4) bergabung kembali pada tingkat yang tidak signifikan dan bereaksi
dengan etilena, sehingga oksidasi totalnya sebagai berikut:
C2 H 4 6O(ads) 2CO2 2H 2O (II.5)
(Mc. Ketta, 1984)
Reaksi berjalan secara eksotermis atau endotermis dapat diketahui dengan
menghitung panas reaksi (H) pada suhu 25 oC (298 K) dan tekanan 1 atm.
Persamaan reaksi:

C H
2 4( g ) 1 O2 C2 H 4O( g )
298K ,1atm
105,14 kJ / kmol
2 (II.6)
C2 H 4( g ) 3O2( g ) 2CO2( g ) 2H 2O( g ) 1323,158 kJ / kmol
298K ,1atm
(II.7)
(Smith-Van Ness, 1987)

Dari persamaan (II.6) dan (II.7) dapat diketahui bahwa:


Ho 298 untuk reaksi (1) = - 105,14 kJ/kmol
Ho 298 untuk reaksi (2) = -1323,158 kJ/kmol
Data-data harga Hof untuk masing-masing komponen pada 298 K adalah:
Hof C2H4 = 52510 kJ/kmol
Hof O2 = 0 kJ/kmol
Hof C2H4O = -52630 kJ/kmol
Hof H2O = -241814 kJ/kmol
Hof CO2 = -393510 kJ/kmol
Jika H = (-) maka reaksi bersifat eksotermis
Jika H = (+) maka reaksi bersifat endotermis
(Smith-Van Ness, 1987)

Untuk reaksi (1):


Dalam hubungan ini:
Ho 298(1) = Hof produk - Hof reaktan
Ho 298(1) = -52630 (52510 + 0)
= - 105,14 kJ/kmol
Untuk reaksi (2):
Ho 298(2) = Hof produk - Hof reaktan

Ho 298(2) = (-393510 x 2) + (-241814 x 2) (52510 + (3 x 0))


= - 1323,158 kJ/kmol
Dari hasil perhitungan di atas, harga H masing-masing reaksi bernilai
negatif, maka dapat disimpulkan bahwa kedua reaksi tersebut bersifat eksotermis.
Sedangkan reaksi berjalan searah atau bolak-balik dapat diketaui dari harga
konstanta kesetimbangan (K), menurut persamaan (II.5).

G 0
ln K
RT (II.8)
Dimana :

G0 = energi bebas Gibbs


R = konstanta gas
T = suhu
K = konstanta keseimbangan reaksi
Pengaruh suhu pada konstanta kesetimbangan dinyatakan dalam persamaan Vant
Hoff (Persamaan (II.5)):

d ln K G 0
dT RT 2
Dimana Go untuk masing-masing komponen adalah sebagai berikut:
Go C2H4 = 68840 kJ/kmol
o
G O2 = 0 kJ/kmol
Go C2H4O = -13230 kJ/kmol
Go H2O = -228590 kJ/kmol
Go CO2 = -394370 kJ/kmol

(Perry, 2008)
Diagram Alir Proses dan Tahapan Proses
Secara garis besar, proses pembuatan ethylene oxide dari ethylene dapat
dikelompokkan menjadi 3 tahapan, yaitu :
1. Tahap Penyiapan Bahan Baku
2. Tahap Sintesa Etilen Oksida
3. Tahap Pemurnian Produk
Penjelasan dari masing-masing unit adalah sebagai berikut ;
1. Tahap Penyiapan Bahan Baku
Tahapan ini bertujuan untuk:
a. Mengubah fase etilen yang disimpan dalam bentuk cair menjadi fase gas,
agar sesuai dengan fase reaksi yang terjadi di reaktor. Dalam hal ini etilen
disimpan dalam bentuk cair pada suhu -45 oC dan tekanan 13,1 bar.

b. Udara pada tekanan 1 bar dan suhu 30 oC dinaikkan tekanannya dengan


kompresor 2 stage sampai diperoleh tekanan 17,1 bar. Kemudian udara,
gas etilen dan gas recycle dicampur dan dinaikkan suhunya sampai suhu
250 oC. Selanjutnya reaktan siap masuk ke dalam reaktor pada tekanan
17,1 bar.

2. Tahap Sintesa Etilen Oksida


Tahap sintesa etilen osida ini bertujuan untuk mereaksikan reaktan
membentuk Etilen Oksida. Reaksi berlangsung dalam sebuah reaktor jenis
fixed bed multi tube yang di dalam tube-nya berisi katalis perak. Reaksi
berlangsung pada fase gas pada suhu 250-277 oC dan tekanan 17,1 bar.
Reaksi-reaksi yang terjadi di dalam reaktor lihat persamaan (II.6) dan
persamaan (II.7)
Karena reaksi bersifat eksotermis, maka reaksi disertai dengan
pelepasan panas. Akibatnya akan terjadi peningkatan suhu. Untuk mencegah
hal tersebut digunakan pendinginan. Pendingin berupa saturated water dan
menghasilkan saturated steam untuk pemanas alat-alat penukar panas.
Keluaran reaktor kemudian diturunkan tekanannya menggunakan turbin
ekspander menjasi 3,1 bar. Hasil ekspansi kemudian didinginkan oleh CD-01.
Karena ada sebagian air mengembun, keluaran CD-01 kemudian dipisahkan
di separator (S-01). Fraksi cair disalurkan ke unit pengolahan limbah,
sedangkan fraksi gas masuk ke dalam absorber (ABS-01) yang beroperasi

pada suhu 40oC dan tekanan 3 bar.


3. Tahap Pemurnian Hasil
Tahap ini bertujuan untuk memisahkan produk yaitu etilen oksida dari
campuran gas dan kemudian dimurnikan hingga mencapai komposisi yang
diinginkan. Gas keluaran reaktor yang telah didinginkan akan masuk ke
absorber. Di sini etilen oksida akan diserap oleh air sebagai absorben. Air
penyerap masuk dari puncak menara dan melarutkan etilen oksida. Hasil
serapan ini kemudian dimasukkan ke dalam sebuah menara distilasi (MD-01).
Hasil atas menara distilasi adalah produk etilen oksida dengan kemurnian
99,7%. Setelah dikondensasi, sebagian hasil atas akan dikembalikan ke
menara distilasi sebagai refluk sedangkan lainnya akan disimpan di tangki
etilen oksida pada kondisi cair.