Anda di halaman 1dari 8

PENDIDIKAN

KEWARGANEGARAAN

KELOMPOK 1 : - Adelia Wulandari


- Hasti Annisa
- M. Bambang Kuncoro
BAB 1

BAGAIMANA HAKIKAT PENDIDIKAN


KEWARGANEGARAAN DALAM MENGEMBANGKAN
KEMAMPUAN UTUH SARJANA ATAU PROFESIONAL?

Belajar tentang Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) pada dasarnya


adalah belajar tentang keindonesiaan, belajar untuk menjadi manusia
yang berkepribadian Indonesia, membangun rasa kebangsaan, dan
mencintai tanah air Indonesia. Oleh karena itu, seorang sarjana atau
profesional sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang terdidik perlu
memahami tentang Indonesia, memiliki kepribadian Indonesia, memiliki
rasa kebangsaan Indonesia, dan mencintai tanah air Indonesia. Dengan
demikian, ia menjadi warga negara yang baik dan terdidik (smart and
good citizen) dalam kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara yang
demokratis.

A. Menelusuri Konsep dan Urgensi Pendidikan


Kewarganegaraan dalam Pencerdasan Kehidupanb Bangsa
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012
tentang Pendidikan Tinggi, program sarjana merupakan jenjang
pendidikan akademik bagi lulusan pendidikan menengah atau sederajat
sehingga mampu mengamalkan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui
penalaran ilmiah. Lulusan program sarjana diharapkan akan menjadi
intelektual dan/atau ilmuwan yang berbudaya, mampu memasuki
dan/atau menciptakan lapangan kerja, serta mampu mengembangkan
diri menjadi profesional.
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005
tentang Guru dan Dosen dikemukakan bahwa profesional adalah
pekerjaan atau kegiatan yang dapat menjadi sumber penghasilan, perlu
keahlian, kemahiran, atau kecakapan, memiliki standar mutu, ada norma
dan diperoleh melalui pendidikan profesi. Apakah profesi yang akan
Anda capai setelah menyelesaikan pendidikan sarjana atau profesional?
Perlu Anda ketahui bahwa apa pun kedudukannya, sarjana atau
profesional, dalam konteks hidup berbangsa dan bernegara, bila
memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam peraturan
perundangan, maka Anda berstatus warga negara.
Urgensi pendidikan kewarganegaraan di Indonesia. Kita dapat
mencermati Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas
Pasal 37 Ayat (1) huruf b yang menyatakan bahwa kurikulum
pendidikan dasar dan menengah wajib memuat pendidikan
kewarganegaraan.
Demikian pula pada ayat (2) huruf b dinyatakan bahwa kurikulum
pendidikan tinggi wajib memuat pendidikan kewarganegaraan. Bahkan
dalam UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi lebih eksplisit
dan tegas dengan menyatakan nama mata kuliah kewarganegaraan
sebagai mata kuliah wajib. Dikatakan bahwa mata kuliah
kewarganegaraan adalah pendidikan yang mencakup Pancasila, Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan
Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika untuk membentuk
mahasiswa menjadi warga negara yang memiliki rasa kebangsaan
dancinta tanah air.
Pendidikan Kewarganegaraan penting disuatu negara, terdapat
beberapa istilah kunci yang sudah banyak dikenal untuk menelusuri
pendidikan kewarganegaraan di negara lain. Berikut ini adalah istilah
pendidikan kewarganegaraan hasil penelusuran Udin S. Winataputra
(2006) dan diperkaya oleh Sapriya (2013) sebagai berikut:
Pendidikan Kewarganegaraan (Indonesia)
Civics, Civic Education (USA)
Citizenship Education (UK)
Talimatul Muwwatanah, Tarbiyatul Watoniyah (Timteng)
Educacion Civicas (Mexico)
Sachunterricht (Jerman)
Civics, Social Studies (Australia)
Social Studies (USA, New Zealand)
Life Orientation (Afrika Selatan)
People and Society (Hongaria)
Civics and Moral Education (Singapore)
Obscesvovedinie (Rusia)
Pendidikan Sivik (Malaysia)
Fuqarolik Jamiyati (Uzbekistan)
Grajdanskiy Obrazavanie (Russian-Uzbekistan)
B. Menanya Alasan Mengapa Diperlukan Pendidikan
Kewarganegaraan

- mengapa negara, khususnya Indonesia perlu pendidikan


kewarganegaraan?
- Apa dampaknya bagi warga negara yang telah belajar PKn?
- perlukah sarjana atau profesional belajar pendidikan
kewarganegaraan?
- Untuk apakah sarjana atau profesional belajar pendidikan
kewarganegaraan?

Pertanyaan-pertanyaan di atas, bila dirangkum, meliputi tiga pertanyaan


utama, yakni:
- Apakah sumber historis PKn di Indonesia?
- Apakah sumber sosiologis PKn di Indonesia?
- Apakah sumber politis PKn di Indonesia?
Pertanyaan-pertanyaan pokok ini akan dibahas pada subbab berikut.

C. Menggali Sumber Histori, Sosioligis dan Politik tentang


Pendidikan Kewarganegaran di Indonesia

Secara historis, pendidikan kewarganegaraan dalam arti substansi


telah dimulai jauh sebelum Indonesia diproklamasikan sebagai negara
merdeka. Setelah berdiri Boedi Oetomo, berdiri pula organisasi-organisasi
pergerakan kebangsaan lain seperti Syarikat Islam, Muhammadiyah,
Indische Party, PSII, PKI, NU, dan organisasi lainnya yang tujuan akhirnya
ingin melepaskan diri dari penjajahan Belanda. Pada tahun 1928, para
pemuda yang berasal dari wilayah Nusantara berikrar menyatakan diri
sebagai bangsa Indonesia, bertanah air, dan berbahasa persatuan
bahasa Indonesia.
Secara umum, organisasi-organisasi tersebut bergerak dan bertujuan
membangun rasa kebangsaan dan mencita-citakan Indonesia merdeka.
Indonesia sebagai negara merdeka yang dicita-citakan adalah negara
yang mandiri yang lepas dari penjajahan dan ketergantungan terhadap
kekuatan asing.
Perjuangan mencapai kemerdekaan dari penjajah telah selesai, namun
tantangan untuk menjaga dan mempertahankan kemerdekaan yang hakiki
belumlah selesai.
Prof. Nina Lubis (2008), seorang sejarawan menyatakan,

... dahulu, musuh itu jelas: penjajah yang tidak memberikan


ruang untuk mendapatkan keadilan, kemanusiaan, yang sama
bagi warga negara, kini, musuh bukan dari luar, tetapi dari dalam
negeri sendiri: korupsi yang merajalela, ketidakadilan,
pelanggaran HAM, kemiskinan, ketidakmerataan ekonomi,
penyalahgunaan kekuasaan, tidak menghormati harkat dan
martabat orang lain, suap-menyuap, dll.

Dari penyataan ini tampak bahwa proses perjuangan untuk


menjaga eksistensi negara-bangsa, mencapai tujuan nasional sesuai
cita-cita para pendiri negara-bangsa (the founding fathers), belumlah
selesai bahkan masih panjang. Oleh karena itu, diperlukan adanya
proses pendidikan dan pembelajaran bagi warga negara yang dapat
memelihara semangat perjuangan kemerdekaan, rasa kebangsaan, dan
cinta tanah air.
PKn pada saat permulaan atau awal kemerdekaan lebih banyak
dilakukan pada tataran sosial kultural dan dilakukan oleh para pemimpin
negara-bangsa. Dalam pidato-pidatonya, para pemimpin mengajak
seluruh rakyat untuk mencintai tanah air dan bangsa Indonesia. Pidato-
pidato dan ceramah-ceramah yang dilakukan oleh para pejuang, serta
kyai-kyai di pondok pesantren yang mengajak umat berjuang
mempertahankan tanah air merupakan PKn dalam dimensi sosial
kultural. Inilah sumber PKn dari aspek sosiologis. PKn dalam dimensi
sosiologis sangat diperlukan oleh masyarakat dan akhirnya negara-
bangsa untuk menjaga, memelihara, dan mempertahankan eksistensi
negara-bangsa.
Secara politis, pendidikan kewarganegaraan mulai dikenal dalam
pendidikan sekolah dapat digali dari dokumen kurikulum sejak tahun
1957 sebagaimana dapat diidentifikasi dari pernyataan Somantri (1972)
bahwa pada masa Orde Lama mulai dikenal istilah: (1)
Kewarganegaraan (1957); (2) Civics (1962); dan (3) Pendidikan
Kewargaan Negara (1968). Pada masa awal Orde Lama sekitar tahun
1957, isi mata pelajaran PKn membahas cara pemerolehan dan
kehilangan kewarganegaraan, sedangkan dalam Civics (1961) lebih
banyak membahas tentang sejarah Kebangkitan Nasional, UUD, pidato-
pidato politik kenegaraan yang terutama diarahkan untuk "nation and
character building bangsa Indonesia.
D. Membangn Argumen tentang Dinamika dan Tantangan
Pendidikan Kewarganegaraan

Suatu kenyataan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) telah


mengalami beberapa kali perubahan, baik tujuan, orientasi, substansi
materi, metode pembelajaran bahkan sistem evaluasi. Semua
perubahan tersebut dapat teridentifikasi dari dokumen kurikulum yang
pernah berlaku di Indonesia sejak proklamasi kemerdekaan hingga saat
ini. Inilah ciri khas PKn sebagai mata kuliah dibandingkan dengan mata
kuliah lain. Ontologi PKn adalah sikap dan perilaku warga negara dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Status warga
negara dapat meliputi penduduk yang berkedudukan sebagai pejabat
negara sampai dengan rakyat biasa. Tentu peran dan fungsi warga
negara berbeda-beda, sehingga sikap dan perilaku mereka sangat
dinamis. Oleh karena itu, mata kuliah PKn harus selalu
menyesuaikan/sejalan dengan dinamika dan tantangan sikap serta
perilaku warga negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara.
Secara implisit, setiap konstitusi mensyaratkan kriteria warga negara
yang baik karena setiap konstitusi memiliki ketentuan tentang warga
negara. Artinya, konstitusi yang berbeda akan menentukan profil warga
negara yang berbeda. Hal ini akan berdampak pada model pendidikan
kewarganegaraan yang tentunya perlu disesuaikan dengan konstitusi
yang berlaku.
Pendidikan kewarganegaraan tidak hanya didasarkan pada konstitusi
negara yang bersangkutan, tetapi juga tergantung pada tuntutan
perkembangan zaman dan masa depan. Misalnya, kecenderungan masa
depan bangsa meliputi isu tentang HAM, pelaksanaan demokrasi, dan
lingkungan hidup. Sebagai warga negara muda, mahasiswa perlu
memahami, memiliki kesadaran dan partisipatif terhadap gejala
demikian.

E. Mendeskripsikan Esensi dan Urgensi Pendidikan


Kewarganegaraan untuk Masa Depan

Pada tahun 2045, bangsa Indonesia akan memperingati 100 Tahun


Indonesia merdeka. Bagaimana nasib bangsa Indonesia pada 100 Tahun
Indonesia merdeka? Berdasarkan hasil analisis ahli ekonomi yang
diterbitkan oleh Kemendikbud (2013) bangsa Indonesia akan mendapat
bonus demografi (demographic bonus) sebagai modal Indonesia pada
tahun 2045 (Lihat gambar tabel di bawah). Indonesia pada tahun 2030-
2045 akan mempunyai usia produktif (15-64 tahun) yang berlimpah. Inilah
yang dimaksud bonus demografi. Bonus demografi ini adalah peluang
yang harus ditangkap dan bangsa Indonesia perlu mempersiapkan untuk
mewujudkannya. Usia produktif akan mampu berproduksi secara optimal
apabila dipersiapkan dengan baik dan benar, tentunya cara yang paling
strategis adalah melalui pendidikan, termasuk pendidikan
kewarganegaraan.
Ekonomi Indonesia sangat menjanjikan walaupun kondisinya saat ini
belum dipahami secara luas. Saat ini, ekonomi Indonesia berada pada
urutan 16 besar. Pada tahun 2030, ekonomi Indonesia akan berada pada
urutan 7 besar dunia. Saat ini, jumlah konsumen sebanyak 45 juta dan
jumlah penduduk produktif sebanyak 53%. Pada tahun 2030, jumlah
konsumen akan meningkat menjadi 135 juta dan jumlah penduduk
produktif akan meningkat menjadi 71%.
Nasib sebuah bangsa tidak ditentukan oleh bangsa lain, melainkan
sangat tergantung pada kemampuan bangsa sendiri.
Semuanya sangat tergantung kepada bangsa Indonesia. Demikian pula
untuk masa depan PKn sangat ditentukan oleh eksistensi konstitusi
negara dan bangsa Indonesia. PKn akan sangat dipengaruhi oleh
konstitusi yang berlaku dan perkembangan tuntutan kemajuan bangsa.
Bahkan yang lebih penting lagi, akan sangat ditentukan oleh pelaksanaan
konstitusi yang berlaku.

F. Rangkuman Haikat dan Pentingnya Pendidikan


Kewarganegaraan

- Secara etimologis, pendidikan kewarganegaraan berasal dari kata


pendidikan dan kata kewarganegaraan. Pendidikan berarti
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya, sedangkan kewarganegaraan
adalah segala hal ihwal yang berhubungan dengan warga negara.
- Secara yuridis, pendidikan kewarganegaraan dimaksudkan untuk
membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa
kebangsaan dan cinta tanah air.
- Secara terminologis, pendidikan kewarganegaraan adalah program
pendidikan yang berintikan demokrasi politik, diperluas dengan
sumber-sumber pengetahuan lainnya: pengaruh-pengaruh positif
dari pendidikan sekolah, masyarakat, dan orang tua. Kesemuanya
itu diproses guna melatih para siswa untuk berpikir kritis, analitis,
bersikap dan bertindak demokratis dalam mempersiapkan hidup
demokratis berdasarkan Pancasila dan UUD 1945
- Negara perlu menyelenggarakan pendidikan kewarganegaraan
karena setiap generasi adalah orang baru yang harus mendapat
pengetahuan, sikap/nilai dan keterampilan agar mampu
mengembangkan warga negara yang memiliki watak atau karakter
yang baik dan cerdas (smart and good citizen) untuk hidup dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sesuai
dengan demokrasi konstitusional.
- Secara historis, PKn di Indonesia awalnya diselenggarakan oleh
organisasi pergerakan yang bertujuan untuk membangun rasa
kebangsaaan dan cita-cita Indonesia merdeka.
- Secara sosiologis, PKn Indonesia dilakukan pada tataran sosial
kultural oleh para pemimpin di masyarakat yang mengajak untuk
mencintai tanah air dan bangsa Indonesia.
- Secara politis, PKn Indonesia lahir karena tuntutan konstitusi atau
UUD 1945 dan sejumlah kebijakan Pemerintah yang berkuasa
sesuai dengan masanya.
- Pendidikan Kewarganegaraan senantiasa menghadapi dinamika
perubahan dalam sistem ketatanegaraan dan pemerintahan serta
tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara.
- PKn Indonesia untuk masa depan sangat ditentukan oleh
pandangan bangsa Indonesia, eksistensi konstitusi negara, dan
tuntutan dinamika perkembangan bangsa