Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kation golongan kedua dibagi menjadi 2 sub golongan, yaitu sub golongan
tembaga dan sub golongab arsenik. Dasar dari pembagian ini adalah kelarutan
endapan sulfida dalam aluminium polisulfida. Sementara sulfida dari sub
golongan tembaga tak larut dalam reagensia ini, sulfida dari sub golongan
arsenik melarut dengan membentuk garam tio.
Sub golongan tembaga terdiri dari Merkurium (ll), Timbal (II), Bismut (ll),
Tembaga (ll), dan Kadmium (ll), klorida, nitrat, dan sulfat dari kation-kation
sub-golongan tembaga sangat mudah larut dalam air. Sulfida, hidroksida, dan
karbonatnya tak larut.
Sub-golongan arsenik terdiri dari arsenik (lll), arsenik(v), stibium (lll), timah
(ll), dan timah (IV).
Berdasarkan latar belakang diatas maka dilakukan percobaan ini.

B. Rumusan Masalah
Bagaimana mengidentifikasi kation golongan ll yang terdapat pada sampel ?

C. Tujuan
Untuk mengidentifikasi kation golongan ll yang terdapat pada sampel
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada dasarnya konsep analisis kimia dapat dibagi atau 2 bagian, yakni
analisis kualitatif yaitu analisis yang berhubungan dengan identifikasi suatu zat
atau campuran yang tidak diketahui. Analisis kuantitatif yaitru analisis kimia
yang menyangkut penentuan jumlah zat tertentu yang ada didalam suatu sampel.
Analisis kualitatif sistematik kation-kation di klasifikasikan dalam 5 golongan
menurut sifat-sifat kation terhadap beberapa regenesia golongan kation yang
paling umum adalah larutan (HCl), larutan His, larutan (NaOH). Klasifikasi ini
didasarkan pada suatu kation bereaksi vegenesia. Reagensia ini dengan
membentuk endapan atau tidak. (Svehla, 1985: 203)

Golongan ll disebut juga golongan sulfida, kation golongan yang dapat


bereaksi dengan asam klorida. Tetapi membentuk endapan dengan hidrogen
sulfida dalam suasana asam mineral encer. Ion-ion golongan ini adalah
merkurium, bismut, tembaga, kadmium, arsenic, stibium, dan timah. Reagensia
golongan ini hidrogen sulfida (H2S) dengan konsentrasi ion sulfida di kontrol
dengan mengatur konsentrasi H+ (dalam suasana asam). Reaksi pada golongan ini
menyebabkan endapan-endapan dengan berbagai warna. (Luhbandjhono,1977:
13)

1. Merkurium (Hg2+)
Merkurium (raksa) adalah bagian logam cair yang berwarna putih
keperakan pada suhu kamar pengantar panas yang buruk dan dapan bereaksi
dengan oksigen.
2. Bismut (Bi3+)
Bismut adalah logam putih kemerahan, kristalin. Titik leburnya 271-5 C.
Ia dapat larut dalam asam klorida disebabkan oleh potensial standarnya.
3. Tembaga (Cu2+)
Tembaga adalah logam merah mudah yang lunak dapat di tempa dan
diliat. Ia melebur pada 1038C karena potensial electroda standarnya positif. Ia
tak larut dalam asam klorida dan asam sulfat encer, meskipun dengan adanya
oksigen. Ia bisa larut sedikit. Asam nitrat yang sedang pekatnya (8m) dengan
mudah melarutkan tembaga.
4. Kadmium (Cd2+)
Kadmium adalah logam putih keperakan yang dapat ditempa dan liat. Ia
melarut dengan lambat dalam asam encer dengan melepaskan hydrogen (
disebabkan potensial elektrodanya yang negatif).
5. Arsenik (As2+)
Arsenik adalah zat padat yang berwarna abu-abu seperti baja, gelas, dan
memiliki kilo logam, jika dipanaskan arsenik bersublimasi dan timbul bau
seperti bau bawang putih yang khas, ketika dipanaskan dalam aliran udara yang
bebas.
6. Stibium ( Sb2+)
Stibium adalah logam putih keperakan yang mengkilap dan melebur pada
630C. Stibium tak larut dalam asam klorida. Dalam asam sulfat pekat yang
panas ia melarut perlahan-lahan dengan membentuk ion.

7. Timah (Sn2+)
Timah adalah logam putih perak yang dapat ditimpa dan diliat pada suhu
tubuh biasa. Tetapi pada suhu rendah menjadi getas karena berubah menjadi
suatu modifikasi aloptri yang berlainan. (Svehla, 1985:203)
BAB III

METODE PERCOBAAN

A. Waktu Dan Tempat


Hari/Tanggal : Senin, 31 oktober 2016
Pukul : 10.00-11.50
Tempat : laboratorium analis kesehatan stikes mega rezky

B. Alat Dan Bahan


A. Alat
1. Pipet tetes
2. Tabung reaksi
3. Rak tabung

B. Bahan
1. CuSO4 1%
2. CdSO4 1%
3. NH3
4. NaOH 1%
5. KI 10 %

C. Prosedur Kerja
1. Siapkan tabung reaksi sebanyak 4 buah dan beri label sesui nama sampel
2. Masing-masing tabung reaksi diisi 5 tetes CuSO4 1%
3. Tambahkan pada tiap tabung reaksi secara berurutan , 5 tetes NH3, dan 5 tetes
KI 10% pada tabung 4.
4. Amati dan catat perubahan yang terjadi pada masing-masing tabung
5. Ulangi langkah 1-4 menggunakan CdSO4 1%
BAB IV

HASIL PENGAMATAN

A. Hasil Pengamatan
LARUTAN WARNA ENDAPAN
CuSO4 + NH3 Biru Tidak terdapat
endapan
CuSO4+NaOH Biru Tidak terdapat
endapan
CuSO4 + KI Kuning Endapan putih
CdSO4+ NH3 Putih Tidak terdapat
endapan
CdSO4+ NaOH Putih Tidak terdapat
endapan
CdSO4+ KI bening Tidak terdapat
endapan
B. Reaksi
a. Cuso4
1. Cu + NH3 Endapan biru
2 Cu 2+ + SO42- + 2 NH3 +2H2O Cu (OH)2 .CuSO4 +2NH4+
Terjadi warna biru tua jika reagensia berlebih.
Cu (OH)2 . CuSo4 + 8 NH3 2[Cu(NH3)4]2+ + SO42+ + 2
OH-
Jika larutan mengandung garam amonium ,maka endapan tidak terjadi.
2. Cu + NaOH Endapan biru tembaga (i) hidroksida
Cu2+ + 2 OH- Cu(OH)2
3. CU + KI endapan putih larutan coklat tua
2 Cu2+ + 5 I- 2CuI + I3-

b. CdSO4

1. Cd + NH3 endapan putih kodmium (ii0 hidroksida

Cd2+ +2 NH3 + 2 OH- Cd (OH)2 + 2 NH4+

Endapan akan larut jika reageansia yang ditambahkan berlebih.

Cd (OH)2 + 4 NH3 [Cd(NH3)4]2+ + 2 OH-

2. Cd + NaOH Endapan putih kodmium (ii) hidroksida

Cd2+ + 2 OH- Cd (OH)2

4. Cd +KI tidak membentuk endapan.


C. Pembahasan

Dalam metode analisis kualitatif, kita menggunakan beberapa pereaksi


diantaranya pereaksi golongan dan pereaksi spesifik,kedua pereaksi ini dilakukan
untuk mengetahui jenis kation atau anion suatu larutan. Metode dalam melakukan
analisis kualitatif ini dilakukan secara konfensional yaitu memakai cara visual
yang berdasarkan kelarutan .pengujian kelarutan dilakukan pertama tama dengan
mengelompokkan ion ion yang memiliki kemiripan sifat pada percobaan uji
kation golongan ll digunakan pereaksi CuSO4 1% dan CdSO4 1%. Pada
percobaan pertama yaitu sampel CuSO4 yang ditambahkan larutan NH3 sebanyak
5 tetes dan tidak menghasilkan endapan, dengan larutan berwarna biru.

Dengan reaksi :

2 Cu 2+ + SO42- + 2 NH3 +2H2O Cu (OH)2 .CuSO4 +2NH4+

Terjadi warna biru tua jika reagensia berlebih.

Cu (OH)2 . CuSo4 + 8 NH3 2[Cu(NH3)4]2+ + SO42+ + 2 OH-

Hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa ketika
ditambahkan larutan amonia terjadi endapan barium hidroksida karena
kelarutannya yang felatif tinggi. Jika larutan yang basa itu terkena udara luar,
sedikit karbon dioksida akan diserap dan terjadi kekeruhan yang ditimbulkan oleh
barium karbonat .( svehla,1985:296)

Ketidak sesuaian hasil percobaan ini dengan teoritas kemungkinan disebabkan


oleh kesalahan praktikum pada saat memberikan tetes demi tetes larutan pereaksi
pada tabung yang berisi sampel tidak melalui dinding tabung reaksi, sehingga
larutan sampel dengan pereaksi tidak bereaksi dengan sempurna, dan juga
pereaksi yang digunakan terlalu pekat atau terlalu encer. Pada percobaan
selanjutnya, penambahan NaOH sebanyak 5 tetes pada CuSO4 tidak menghasilkan
endapan, dengan larutan berwarna biru.
Dengan reaksi:

Cu2+ + 2 OH- Cu(OH)2

Hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa ketika
ditambahkan larutan natrium hidroksida akan membentuk endapan biru tembaga
(l) hidroksida, Ketidak sesuaian hasil percobaan ini dengan teoritas kemungkinan
disebabkan oleh kesalahan praktikum pada saat memberikan tetes demi tetes
larutan pereaksi pada tabung yang berisi sampel tidak melalui dinding tabung
reaksi, sehingga larutan sampel dengan pereaksi tidak bereaksi dengan sempurna,
dan juga pereaksi yang digunakan terlalu pekat atau terlalu encer. Pada percobaan
selanjutnya, penambahan KI sebanyak 5 tetes pada CuSO4 menghasilkan endapan
putih, dengan larutan berwarna coklat tua.

Dengan reaksi :

2 Cu2+ + 5 I- 2CuI + I3-

Ketidak sesuaian hasil percobaan ini dengan teoritas kemungkinan disebabkan


oleh kesalahan praktikum pada saat memberikan tetes demi tetes larutan pereaksi
pada tabung yang berisi sampel tidak melalui dinding tabung reaksi, sehingga
larutan sampel dengan pereaksi tidak bereaksi dengan sempurna, dan juga
pereaksi yang digunakan terlalu pekat atau terlalu encer.

Selanjutnya uji kation Cd2+ dalam larutan CdSO4 dengan penambahan larutan
NH3 sebanyak 5 tetes, tidak menghasilkan endapan dengan larutan berwarna putih.

Dengan reaksi :

Cd+ +2 NH3 + 2 OH- Cd (OH)2 + 2 NH4+

Endapan akan larut jika reageansia yang ditambahkan berlebih.

Cd (OH)2 + 4 NH3 [Cd(NH3)4]2+ + 2 OH-


Hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa ketika
ditambahkan larutan amonia terdapat endapan putih kadmium (ll) hidroksida. (
svehla,1985:296).

Ketidak sesuaian hasil percobaan ini dengan teoritas kemungkinan disebabkan


oleh kesalahan praktikum pada saat memberikan tetes demi tetes larutan pereaksi
pada tabung yang berisi sampel tidak melalui dinding tabung reaksi, sehingga
larutan sampel dengan pereaksi tidak bereaksi dengan sempurna, dan juga
pereaksi yang digunakan terlalu pekat atau terlalu encer.

Pada percobaan selanjutnya, penambahan NaOH sebanyak 5 tetes pada CdSO4


tidak menghasilkan endapan, dengan larutan berwarna putih.

Dengan reaksi:

Cd2+ + 2OH- Cd (OH)2

Hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa ketika
ditambahkan larutan larutan natrium hidroksida akan membentuk endapan putih
kadmium (ll) hidroksida, Ketidak sesuaian hasil percobaan ini dengan teoritas
kemungkinan disebabkan oleh kesalahan praktikum pada saat memberikan tetes
demi tetes larutan pereaksi pada tabung yang berisi sampel tidak melalui dinding
tabung reaksi, sehingga larutan sampel dengan pereaksi tidak bereaksi dengan
sempurna, dan juga pereaksi yang digunakan terlalu pekat atau terlalu encer. Pada
percobaan terakhir , penambahan KI sebanyak 5 tetes pada CdSO4 tidak
menghasilkan endapan dengan larutan warna bening.

Dengan reaksi :

Cd+KI tidak membentuk endapan

Hal ini sama dengan teoritas yang menyatakan bahwa pada saat ditambahkan
kalium kromat tak terjadi endapan dari larutan-larutan encer, tak pula dari larutan-
larutan peka dengan adanya asam asetil ( svehla,1985:29).
BABV

PENUTUP

A.Kesimpulan

Uji kation golongan 2 dilakukan untuk mengetahui hasil warna larutan dan
endapan dari reaksi CuSO4 + Na2CO3(1%) menghasilkan warna larutan biru
muda dan endapan biru, reaksi CuSO4 + NH3(2%) menghasilkan warna larutan
biru dan tidak ada endapan , reaksi CuSO4 + NaOH (0,5%) menghasilkan warna
larutan biru dan tidak ada endapan , reaksi CuSO4 + KI (0,5%) menghasilkan
warna larutan kuning dan endapan putih .

Uji kation golongan 2 dilakukan untuk mengetahui hasil warna larutan dan
endapan dari reaksi CdSO4 + Na2CO3 (1%) menghasilkan warna larutan putih dan
endapan putih , reaksi CdSO4 + NH3 (2%) menghasilkan warna larutan putih dan
tidak memiliki endapan , reaksi CdSO4 + NaOH (0,5%) menghasilkan warna
larutan putih dan tidak memiliki endapan ,reaksi CdSO4 + KI (0,5) menghasilkan
warna larutan putih dan tidak memiliki endapan.

B.Saran

Sebaiknya dalam melakukan penetesan larutan harus melalui dinding


tabung agar hasil yang diperoleh lebih spesifik
Sebaiknya mengamati hasil warna dari percobaan dengan teliti
DAFTAR PUSTAKA

Svehla.G. 1985. Analisis Anorganik Kualitatif Makro Dan Semimikro.

Jakarta: PT. Kalman Media Pustaka

Catton.F.Albert, 1989. Kimia Organik Dasar jakarta: Universitas Indonesia

Petrucci.Ralph, 1989. Kimia Dasar. Jakarta: Erlangga

Sunardi, 2000. Kimia. Bandung: Mas Bandung