Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN KASUS

HIPERBILIRUBINEMIA
E.C. BREASTFEEDING JAUNDICE

Moderator :
dr. Anies Nuringtyas, Sp.A

Disusun Oleh :
Adrianus Kevin
FK UKRIDA - 11.2016.098

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


PERIODE 7 AGUSTUS 2017 14 OKTOBER 2017
RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT
GATOT SOEBROTO
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
JAKARTA
BAB 1

STATUS PEMERIKSAAN PASIEN

Identitias Pasien

Nama Pasien : Bayi Ny. A

Jenis Kelamin : Perempuan

Usia / Tanggal lahir : 17 Agustus 2017

No Rekam Media : 862xxx

Agama : Islam

Pekerjaan : Dibawah umur

Alamat : Jakarta Timur

Tanggal Masuk Rumah Sakit : 23 Agustus 2017

Identitas Orang Tua

Data Orang Tua Ayah Ibu

Nama Tn. A Ny. A

Umur 32 tahun 28 tahun

Perkawinan ke 1 1

Pendidikan S1 Teknik D3 Farmasi

Pekerjaan TNI CKM PNS

Pangkat Kapten PNS II / d

Agama Islam Islam


A. Riwayat Penyakit

Keluhan utama : kuning

Riwayat Penyakit Sekarang

Bayi perempuan berumur 6 hari datang kontrol ke Poli Anak RSPAD dengan keluhan
kuning sejak 4 hari yang lalu. Kuning terlihat sejak 3 hari setelah kelahiran. Bayi terlihat aktif, tidak
terlihat lemas, minum ASI, refleks menghisap baik. Bayi minum ASI sebanyak 5 kali sehari. Tidak
ada demam, tidak terlihat kebiruan pada mulut dan jari-jari bayi, tidak terlihat bengkak pada bagian
tangan dan kaki bayi. Bayi buang air kecil 5 kali sehari warna kuning dan buang air besar 3 kali
sehari warna kuning kecoklatan.

Riwayat Kehamilan

Ibu bayi dengan G1P0A0 gravid 38 minggu, HPHT lupa. Usia 28 tahun rutin melakukan
melakukan kontrol kehamilan dengan dokter dan bidan, pada trimester I sebanyak 1 kali, trimester
II sebanyak 1 kali, dan trimester III sebanyak 2 kali. Ibu menerima toksoid tetanus sebanyak 2 kali.
Ini merupakan kehamilan pertama. Ia tidak pernah melakukan tes skrining TORCH (toksoplasma,
rubela, cytomegalovirus, herpes simpleks, atau HIV), tidak menggunakan kontrasepsi. Riwayat
makanan cukup dalam hal kualitas dan kuantitas. Selama kehamilan ibu tidak mengalami keputihan,
demam tinggi, muntah hebat, sakit kuning, infeksi saluran kemih, kontak dengan penderita campak,
tuberkulosis, mengonsumsi obat-obatan pada usia kehamilan muda seperti antibiotik, anti-malaria,
obat penenang, anti-mual, jamu, merokok, minum-minuman keras. Ia tidak memelihara binatang
tertentu, seperti kucing atau anjing. Golongan darah ibu B Rhesus (+) dan bapak AB Rhesus (+).

Riwayat Kelahiran

Ibu datang ke RSPAD pada tanggal 17 Agustus 2017 pukul 07.30 WIB dengan Pembukaan
4-5cm, tinggi fundus uteri 31 cm. Leopold 1 bokong, Leopold 2 puki, Leopold 3 kepala, Leopold 4
divergen. Vulva vagina tidak ditemukan kelainan, portio tebal lunak, tidak ada darah, tidak ada
keputihan.
Bayi lahir pukul 09.00 WIB secara sectio caesarea atas indikasi plasenta letak rendah.
Apgar score 8/9. Jenis kelamin perempuan, berat badan 3325 gram, panjang badan bayi 50 cm,
lingkar kepala 36 cm, lingkar dada 33 cm, dan lingkar perut 33 cm. Bayi menangis kuat, akral
hangat, gerak aktif, kulit merah.

Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat malnutrisi, bayi prematur, kuning, penyakit hati, anemia, tuberkulosis, penyakit bawaan,
penyakit keturunan tidak ada.

Riwayat Tumbuh Kembang : belum dapat dievaluasi

Pemeriksaan Fisis

Berat badan : 3015 gr

Panjang badan : 50 cm

Lingkar kepala : 36 cm (normocephali)

Keadaan umum : Menangis kuat

Kesadaran : Compos mentis

Frekuensi denyut jantung : 150 x/menit, teratur

Suhu : 36,8c

Pernapasan : 50 x/menit

Kulit : ikterik, kramer 5

Kepala : Normocephali, cephal hematom (-), caput succadaenum (-)

Mata : Konjungtiva anemis -/-, Sklera ikterik +/+, pupil isokor

Telinga : bentuk cukup baik, tulang rawan belum sempurna

Hidung : septum deviasi (-), napas cuping hidung (-)

Leher : KGB dan tiroid tidak membesar


Mulut : Langit-langit intak, bibir sianosis (-)

Paru-paru

Inspeksi : simetris, dalam batas normal, retraksi intercostals (-)

Palpasi : dalam batas normal

Perkusi : tidak dilakukan

Auskultasi : kanan : suara napas vesikular, wheezing (-), ronkhi (-)

: kiri : suara napas vesikular, wheezing (-), ronkhi (-)

Jantung

Inspeksi : pulsasi iktus cordis tidak terlihat

Palpasi : teraba iktus cordis pada sela iga IV linea midclavicula kiri

Perkusi : tidak dilakukan

Auskultasi : BJ I-II murni regular, gallop (-), murmur (-)

Abdomen:

Inspeksi : tampak datar, umbilical terawat, retraksi epigastrium (-), venektasi tidak ada

Palpasi : dinding perut lemas, turgor kulit baik, hati dan limfa tidak teraba

Perkusi : tidak dilakukan

Auskultasi : bising usus (+), normal

Genitalia : perempuan

Anus : Ada

Ekstremitas

Inspeksi : deformitas (-), edema (-) sianosis (-)


Palpasi : krepitasi (-), a.dorsalis pedis teraba pada kedua tungkai. Waktu pengisian
kapiler < 3 detik

Refleks neonatus:

Refleks mencari (rooting) : (+)

Refleks menggengam (grasping) : (+)

Refleks menghisap (sucking) : (+)

Refleks Moro : (+)

Score Down

Kriteria 0 1 2 Nilai

Pernapasan < 60 x/menit 60-80x/menit >80 x/menit 0

Retraksi Tidak ada retraksi Retraksi ringan Retraksi berat 0

Sianosis hilang dengan Sianosis mentap walaupun 0


Sianosis Tidak ada sianosis
pemberian oksigen diberi oksigen

Udara masuk bilateral Penurunan ringan udara 0


Air Entry Tidak ada udara masuk
baik masuk

Dapat didengar dengan Data didengar tanpa alat 0


Merintih Tidak merintih
steteskop bantu

Total : 0

Kesan : Tidak ada gawat napas


Hasil Pemeriksaan Laboratorium Klinik (Tanggal 23-08-2017)

Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan

Hematologi

Golongan Darah B

Rhesus Positif

Kimia Klinik

Bilirubin Total 16.89 * < 1.5 mg/dL

Bilirubin Direk 0.54 * < 0.3 mg/dL

Bilirubin Indirect 16.35 * < 1.1 mg/dL


BAB II
RESUME

1. Anamnesis

Ibu bayi dengan G1P0A0 gravid 38 minggu, lahir secara sectio caesarea atas indikasi
plasenta letak rendah, Apgar score 8/9. Jenis kelamin perempuan, bayi menangis kuat, akral
hangat, gerak aktif, kulit merah. Berat badan bayi 3325 gram, panjang badan bayi 50 cm,
lingkar kepala 36 cm, lingkar dada 33 cm, dan lingkar perut 33 cm. Bayi terlihat kuning
setelah di rawat > 24 jam, dan semakin kuning setelah masuk hari ke-3, tidak demam, minum
ASI, reflek menghisap kuat dan terlihat aktif. Bayi minum ASI 5 kali sehari. Bayi buang air
kecil 5 kali sehari warna kuning dan buang air besar 3 kali sehari warna kuning kecoklatan.

2. Pemeriksaan Fisis

Berat badan : 3015 gr

Keadaan umum : Bayi tenang

Kesadaran : Compos Mentis

Nadi : 150 x/menit

Pernapasan : 50 x/menit

Suhu : 36,8 C

3. Status generalis

Kulit : ikterik, kramer 5

Kepala : Normocephali, cephal hematom (-), caput succadaenum (-)

Mata : Konjungtiva anemis -/-, Sklera ikterik +/+, pupil isokor


Abdomen:

Inspeksi : tampak datar, umbilical terawat, retraksi epigastrium (-)

Palpasi : dinding perut lemas, turgor kulit baik, hati dan limfa tidak teraba

Perkusi : tidak dilakukan

Auskultasi : bising usus (+), normal

Ekstremitas

Inspeksi : deformitas (-), edema (-) sianosis (-)

Palpasi : krepitasi (-), a.dorsalis pedis teraba pada kedua tungkai, waktu pengisian
kapiler < 3 detik

4. Pemeriksaan Penunjang

Hasil Pemeriksaan Laboratorium Klinik (Tanggal 23-08-2017)

Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan

Hematologi

Golongan Darah B

Rhesus Positif

Kimia Klinik

Bilirubin Total 16.89 * < 1.5 mg/dL

Bilirubin Derek 0.54 * < 0.3 mg/dL

Bilirubin Indirect 16.35 * < 1.1 mg/dL


5. Diagnosa Banding

Hiperbilirubinemia e.c. breastfeeding jaundice

d.d. breastmilk jaundice

6. Diagnosa Kerja

Hiperbilirubinemia e.c. breastfeeding jaundice

7. Tata Laksana

A. Pemberian ASI ad Libitum

B. Jaga kehangatan bayi (S = 36,5 oC - 37,5 oC)

C. Fototerapi 1 lampu

D. Monitor asupan gizi dan cairan, tanda-tanda dehidrasi, diuresis

8. Prognosis

quo ad vitam = dubia ad bonam

quo ab fungtionam = dubia ad bonam

quo ad sanationam = dubia ad bonam

9. Follow Up

Tanggal 24-8-2017

Kuning berkurang.
S Bayi tidak muntah, toleransi minum baik, tidak demam dan
tidak sesak.
BAK ada 5 x/hari.
KU : gerak aktif, tangis kuat
HR : 154 x/menit
RR : 54 x/menit
S : 37oC
US / UP : 7 hari / 7 hari
BBL / BBS : 3325 / 3025
Kulit : ikterik, kramer 3
Kepala : normocephali, UUB datar
Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera ikterik
O THT : tidak ada sekret
Mulut : tidak sianosis
Thorax : simetris, retraksi tidak ada
Cor : BJ I-II murni reguler, tidak ada murmur dan gallop
Pulmo : Bunyi normal vesikuler, tidak ada wheezing dan
rhonki
Abdomen : datar, supel, BU (+) normal, tidak ada
organomegali
Ekstremitas : akral hangat, CRT < 3 detik
Breastfeeding jaundice
Fototerapi 1 lampu
P Monitor KU, TTV, toleransi minum
Diet ASI ad libitum (8 x 60-65 ml) po

Tanggal 25-8-2017

Kulit bayi sudah tidak tampak kuning.


S Bayi tidak muntah, toleransi minum baik, tidak demam dan
tidak sesak.
BAK ada 6 x/hari.

KU : gerak aktif, tangis kuat


HR : 144 x/menit
RR : 51 x/menit
S : 36,8oC
US / UP : 7 hari / 7 hari
O BBL / BBS : 3325 / 3025
Kulit : tidak ada kelainan
Kepala : normocephali, UUB datar
Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera ikterik
THT : tidak ada sekret
Mulut : tidak sianosis
Thorax : simetris, retraksi tidak ada
Cor : BJ I-II murni reguler, tidak ada murmur dan gallop
Pulmo : Bunyi normal vesikuler, tidak ada wheezing dan
rhonki
Abdomen : datar, supel, BU (+) normal, tidak ada
organomegali
Ekstremitas : akral hangat, CRT < 3 detik
A Breastfeeding jaundice
P Pasien pulang
BAB III
Tinjauan Pustaka

Neonatus Hiperbilirubinemia

1. Definisi

Kata ikterus (jaundice) berasal dari kata Perancis jaune yang berarti kuning. Ikterus
adalah perubahan warna kulit, sklera mata atau jaringan lainnya (membran mukosa) yang
menjadi kuning karena pewarnaan oleh bilirubin yang meningkat kadarnya dalam sirkulasi
darah dan jaringan (> 2 mg/ 100 ml serum). Penumpukan bilirubin dalam aliran darah
menyebabkan pigmentasi kuning dalam plasma darah yang menimbulkan perubahan warna
pada jaringan yang memperoleh banyak aliran darah tersebut. Kadar bilirubin serum akan
menumpuk jika produksinya dari heme melampaui metabolisme dan ekskresinya.
Ketidakseimbangan antara produksi dan pembersihan dapat terjadi akibat pelepasan prekursor
bilirubin secara berlebihan ke dalam aliran darah atau akibat proses fisiologi yang
mengganggu ambilan hepar, metabolisme ataupun ekskresi metabolit ini.1

Ikterus yang ringan dapat dilihat paling awal di sklera mata, dan bila ini terjadi kadar
bilirubin sudah berkisar antara 2-2,5 mg/dL (34-43 mmol/L) atau sekitar 2 kali batas atas
kisaran normal. Kadar bilirubin direk normal adalah : 0-0,3 mg/dL, dan kadar normal
bilirubin total: 0,3-1,0 mg/dL.2

Jaringan sklera kaya dengan elastin yang memiliki afinitas yang tinggi terhadap
bilirubin, sehingga ikterus pada sklera biasanya merupakan tanda yang lebih sensitif untuk
menunjukkan hiperbilirubinemia daripada ikterus yang menyeluruh. Tanda dini yang serupa
untuk hiperbilirubinemia adalah warna urin yang gelap yang terjadi akibat ekskresi bilirubin
lewat ginjal dalam bentuk bilirubin glukoronid.1

2. Epidemiologi

Ikterus Neonatorum adalah keadaan ikterus yang terjadi pada bayi baru lahir hingga
usia 2 bulan setelah lahir. Dikemukakan bahwa angka kejadian ikterus terdapat pada 60% bayi
cukup bulan dan 80% bayi kurang bulan.1
Angka kejadian Ikterus pada bayi sangat bervariasi, di RSCM persentase ikterus
neonatorum pada bayi cukup bulan sebesar 32,1% dan pada bayi kurang bulan sebesar 42,9%,
sedangkan di Amerika Serikat sekitar 60% bayi menderita ikterus baru lahir menderita ikterus,
lebih dari 50%. Bayi-bayi yang mengalami ikterus itu mencapai kadar bilirubin yang melebihi
10 mg.1

Saat ini angka kelahiran bayi di Indonesia diperkirakan mencapai 4,6 juta jiwa per
tahun, dengan angka kematian bayi sebesar 48/1000 kelahiran hidup dengan ikterus
neonatorum merupakan salah satu penyebabnya sebesar 6,6%.3

3. Etiologi
Peningkatan kadar bilirubin yang berlebihan dapat disebabkan oleh faktor/ keadaan,
antara lain: 4,5

Hemolisis akibat inkompatibilitas ABO atau isoimunisasi Rhesus(Rh), defisiensi Glukosa 6


phosphate dehidrogenase (G6PD), sferositosis herediter dan pengaruh obat

Infeksi, septikemia, sepsis, meningitis, infeksi saluran kemih, infeksi intra uterin
Polisitemia.
Ekstravasasi sel darah merah, sefalhematom, kontusio, trauma lahir.
Ibu diabetes.
Asidosis.
Hipoksia/asfiksia.
Penurunan ekskresi bilirubin terkonjugasi dalam empedu akibat faktor intrahepatik dan
ekstra hepatik yang bersifat fungsional atau disebabkan oleh obstruksi mekanik.

Sumbatan traktus digestif yang mengakibatkan peningkatan sirkulasi enterohepatik.

4. Patogenesis

Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan. Kejadian
yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban bilirubin pada sel hepar
yang terlalu berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran
eritrosit, polisitemia, memendeknya umur eritrosit janin/bayi, meningkatnya bilirubin dari
sumber lain, atau terdapatnya peningkatan sirkulasi enterohepatik.5
Gangguan ambilan bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar
bilirubin tubuh. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein Y berkurang atau pada keadaan
proten Y dan protein Z terikat oleh anion lain, misalnya pada bayi dengan asidosis atau
dengan anoksia/hipoksia. Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan kadar bilirubin
adalah apabila ditemukan gangguan konjugasi hepar (defisiensi enzim glukoranil transferase)
atau bayi yang menderita gangguan ekskresi, misalnya penderita hepatitis neonatal atau
sumbatan saluran empedu intra/ekstra hepatik.5

Pada derajat tertentu, bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh.
Toksisitas ini terutama ditemukan pada bilirubin indirek yang bersifat sukar larut dalam air
tapi mudah larut dalam lemak. Sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologik pada sel
otak apabila bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. Kelainan yang terjadi pada otak
ini disebut kernikterus atau ensefalopati biliaris. Pada umumnya dianggap bahwa kelainan
pada susunan saraf pusat tersebut mungkin akan timbul apabila kadar bilirubin indirek lebih
dari 20 mg/dl. Mudah tidaknya bilirubin melalui sawar darah otak ternyata tidak hanya
tergantung dari tingginya kadar bilirubin tetapi tergantung pula pada keadaan neonatus sendiri.
Bilirubin indirek akan mudah melalui sawar daerah otak apabila pada bayi terdapat keadaan
imaturitas, berat lahir rendah, hipoksia, hiperkarbia, hipoglikemia, dan kelainan susunan saraf
pusat yang terjadi karena trauma atau infeksi.3

5. Diagnosis
Ikterus dapat timbul saat lahir atau setiap saat selama masa neonatus, tergantung
pada etiologinya. Ikterus biasanya dimulai pada daerah wajah dan ketika kadar serum
bilirubin bertambah akan turun ke abdomen dan selanjutnya ke ekstremitas. Untuk
menegakkan diagnosis diperlukan langkah-langkah mulai dari anamnesis, pemeriksaan fisis
dan pemeriksaan laboratorium.6

Hal hal penting yang menunjang diagnosis meliputi:7

Waktu terjadinya onset ikterus. Waktu timbulnya ikterus mempunyai arti penting pula
dalam diagnosis dan penatalaksanaan penderita karena saat timbulnya ikterus mempunyai
kaitan erat dengan etiologinya.

Riwayat kehamilan dengan komplikasi (obat-obatan, ibu DM, gawat janin, malnutrisi intra
uterin, infeksi intranatal)

Usia gestasi
Riwayat persalinan dengan tindakan atau komplikasi

Riwayat ikterus, kernikterus, kematian, defisiensi G6PD, terapi sinar, atau transfusi tukar
pada bayi sebelumnya

Inkompatibilitas darah (golongan darah ibu dan janin)


Riwayat keluarga yang menderita anemia, pembesaran hepar dan limpa.

Munculnya gejala-gejala abnormalitas seperti apnu, kesulitan menyusu, intoleransi susu,


dan ketidakstabilan temperatur.

Bayi menunjukkan keadaan lesu, dan nafsu makan yang jelek

Gejala-gejala kernikterus
Secara klinis ikterus pada neonatus dapat dilihat segera setelah lahir atau beberapa
hari kemudian. Amati ikterus pada siang hari dengan cahaya sinar yang cukup. Ikterus akan
terlihat lebih jelas dengan sinar lampu dan bisa tidak terlihat dengan penerangan yang kurang,
terutama pada neonatus yang kulitnya gelap. Tekan kulit secara ringan memakai jari tangan
untuk memastikan warna kulit dan jaringan subkutan. Penilaian ikterus akan lebih sulit lagi
apabila penderita sedang mendapatkan terapi sinar.8

Klasifikasi Ikterus Neonatorum

Ikterus Fisiologis
Ikterus neonatorum fisiologis merupakan hasil dari terjadinya fenomena berikut:4,9,10

Peningkatan produksi bilirubin karena peningkatan penghancuran eritrosit janin (hemolisis).


Hal ini adalah hasil dari pendeknya umur eritrosit janin dan massa eritrosit yang lebih

tinggi pada neonatus (kadar hemoglobin/ Hb neonatus cukup bulan sekitar 16,8 gr/dl).

Kapasitas ekskresi yang rendah dari hepar karena konsentrasi rendah dari ligan protein
pengikat di hepatosit (rendahnya ambilan) dan karena aktivitas yang rendah dari glukuronil

transferase, enzim yang bertanggung jawab untuk mengkonjugasikan bilirubin dengan

asam glukuronat sehingga bilirubin menjadi larut dalam air (konjugasi).

Sirkulus enterohepatikus meningkat karena masih sedikitnya flora normal di usus dan
gerakan usus yang tertunda akibat belum ada ambilan nutrisi.

Pada keadaan normal, kadar bilirubin indirek bayi baru lahir adalah 1-3 mg/dl dan

naik dengan kecepatan < 5 mg/dl/24 jam, dengan demikian ikterus fisiologis dapat terlihat
pada hari ke-2 sampai ke-3, berpuncak pada hari ke-2 dan ke-4 dengan kadar berkisar 5-6
mg/dL (86-103 mol/L), dan menurun sampai di bawah 2 mg/dl antara umur hari ke-5 dan

ke-7. Secara umum karakteristik ikterus fisiologis adalah sebagai berikut: 4

Timbul pada hari kedua ketiga.

Kadar bilirubin indirek setelah 24 jam tidak melewati 15 mg % pada neonatus cukup bulan
dan 10 mg % per hari pada neonatus kurang bulan

Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak melebihi 5 mg % perhari

Kadar bilirubin direk kurang dari 1 mg %

Kadar bilirubin indirek pada bayi cukup bulan menurun sampai pada kadar orang dewasa (1
mg/dl) pada umur 10-14 hari.

Tidak mempunyai dasar patologis.


Pada bayi prematur kenaikan bilirubin serum cenderung sama atau lebih lambat

daripada kenaikan bilirubin bayi cukup bulan, tetapi jangka waktunya lebih lama, biasanya

menimbulkan kadar yang lebih tinggi, puncaknya dicapai pada hari ke-4 dan ke-7.4

Ikterus yang berhubungan dengan pemberian ASI

Ikterus yang berhubungan dengan pemberian ASI dapat berupa breastfeeding jaundice (BFJ) atau
breastmilk jaundice (BMJ).

Breastfeeding jaundice

Selain mengalami ikterus fisiologis bayi yang mendapat ASI eksklusif akan mengalami BFJ.
Penyebab BFJ adalah kekuranan asupan makanan biasanya timbul pada hari ke-2 atau ke-3 pada
waktu ASI belum banyak sehingga sirkulasi enterohepatik meningkat. Breastfeeding jaundice tidak
memerlukan pengobatan dan jangan diberi air putih atau air gula. Untuk mengurangi terjadinya BFJ
perlu tindakan sebagai berikut:11

- Bayi setelah lahir apabila memungkinkan diletakkan ke dada ibunya untuk mencari puting
dan setelah menemui puting dibiarkan menghisap payudara ibunya selama 15 menit. Untuk
ini kadang-kadang bayi memerlukan 60 menit atau lebih.
- Posisi dan perlekatan bayi pada payudara harus benar.
- Bayi disusukan sesuai kemauannya tetapi paling kurang 8 kali sehari.
- Jangan diberikan air putih, air gula atau apapun lainnya sebelum ASI keluar karena ini akan
mengurangi asupan susu.
- Monitor apakah ASI sudah banyak yaitu dengan melihat buang air kecil bayi paling kurang
6-7 kali sehari dan buang air besar 3-4 kali sehari.

Breastmilk jaundice

Pada tahun 1963 Aries untuk pertama kalinya mendeskripsikan breastmilk jaundice. Karakteristik
BMJ adalah kadar bilirubin indirek yang masih meningkat setelah 4-7 hari pertama, berlangsung
lebih lama dari ikterus fisiologis yaitu 3-12 minggu dan tidak ada penyebab lainnya yang dapat
menyebabkan ikterus. Penyebab BMJ berhubungan dengan pemberian ASI dari seseorang ibu
tertentu dan biasanya akan timbul pada setiap bayi yang disusukannya bergantung pada kemampuan
bayi tersebut mengkonjugasi bilirubin indirek (misalnya seorang bayi prematur akan lebih berat
ikterusnya).11

Penyebab BMJ belum jelas, namun ada beberapa faktor yang diperkirakan memegang peran:

- Terdapatnya hasil metabolisme progesteron yaitu pregnane-3-alpha 20 beta-diol di dalam


ASI yang menghambat uridine diphosphoglucoronic acid (UDPGA) glucoronyl transferase
- Adanya peningkatan konsentrasi asam lemak bebas yang nonesterified yang menghambat
fungsi glukoronid transferase di hati.
- Peningkatan sirkulasi enterohepatik oleh karena adanya 1) peningkatan aktivitas beta-
glukoronidase di dalam ASI dan dengan demikian di dalam usus bayi yang mendapat ASI
dan 2) keterlambatan pembentukan flora usus pada bayi yang mendapat ASI
- Defek pada aktivitas uridine diphosphate-glucoronyl transferase (UGT1A1) pada bayi yang
homozigot atau heterozigot untuk varian sindrom Gilbert.

Perbandingan breastfeeding jaundice dan breastmilk jaundice

BFJ BMJ

Awitan (hari) Usia 2-5 5-10

Lama (hari) 10 > 30

Volume ASI Kurang sering diberi ASI Tidak tergantung volume


atau ASI masih sedikit. ASI.

Lebih sering pada anak Semua anak dari seorang


pertama. ibu.
Buang air besar Tertunda dan jarang Normal

Kadar bilirubin Tertinggi 15 mg/dL Bisa mencapai > 20 mg/dL

Pengobatan Tidak ada, sangat jarang Fototerapi, sangat jarang


fototerapi transfusi tukar

Berhubungan dengan Nilai Apgar yang rendah, Tidak diketahui


penambahan air gula atau
air, prematuritas

Diagnosis BMJ

Semua penyebab ikterus harus disingkirkan. Melalui anamnesis dapat diketahui apakah anak
sebelumnya juga mengalami ikterus. Sekitar 70% anak sebelumnya juga mengalami BMJ. Beratnya
ikterus tergantung pada kematangan hati untuk mengkonjugasi kelebihan bilirubin indirek. Untuk
kepastian diagnosis apabila bila kadar bilirubin telah mencapai di atas 16 mg/dL selama lebih dari
24 jam adalah dengan memeriksa kadar bilirubin 2 jam setelah menyusu dan kemudian
menghentikan pemberian ASI selama 12 jam (tentu bayi mendapat cairan dan kalori dari makanan
pengganti ASI dan ASI tetap diperah agar produksi tidak berkurang). Setelah 12 jam kadar bilirubin
diperiksa ulang, bila penurunannya lebih dari 2 mg/dL maka diagnosis dapat dipastikan dan bila
kadar bilirubin kurang dari 15 mg/dL maka ASI dapat diberikan lagi.11
Kadar bilirubin diperiksa ulang untuk melihat apakah ada peningkatan kembali. Pada
sebagian besar kasus penghentian ASI untuk beberapa lama akan memberi kesempatan hati
mengkonjugasi bilirubin indirek yang berlebihan tersebut, sehingga apabila ASI diberikan kembali
kenaikannya tidak akan banyak dan kemudian berangsur menurun. Apabila kadar bilirubin tidak
turun maka penghentian pemberian ASI dilanjutkan sampai 18-24 jam dengan mengukur kadar
bilirubin setiap 6 jam. Apabila kadar bilirubin tetap meningkat setelah penghentian pemberian ASI
selama 24 jam maka jelas penyebabnya bukan karena ASI dan ASI boleh diberikan kembali sambil
mencari penyebab ikterus lainnya.Terapi ikterus neonatorum secara umum adalah:11

1. Mengobati penyebab
Memberikan antibiotik bila penyebabnya adalah infeksi.
2. Memperbaiki hidrasi
Terutama dengan memberikan minum untuk mengurangi sirkulasi enterohepatik.
3. Terapi Sinar
Menggunakan sinar dengan panjang gelombang 450-600 nm, sinar biru panjang gelombang
425-475 nm, dan sinar putih panjang gelombang 380-700 nm. Indikasi terapi sinar adalah
bila kadar bilirubin meningkat mendekati indikasi transfusi tukar, biasanya kadar 4 mg di
bawah kadar transfusi tukar, biasanya kadar 4 mg di bawah kadar transfusi tikar
Komplikasi terapi sinar antara lain suhu meningkat, dehidrasi, diare, kulit menjadi merah,
dan yang penting adalah dampak psikologis karena harus dipisah dari ibunya.
4. Transfusi tukar
Kriteria pemberian transfusi tukar pada bayi cukup bulan dan kurang bulan dapat dilihat
pada tabel di bawah ini:

Kriteria transfusi tukar pada bayi cukup bulan


Transfusi tukar Transfusi tukar
Usia Pertimbangkan Terapi sinar apabila terapi bersama terapi
(jam) terapi sinar (mg/dL) sinar intensif sinar intensif
(mg/dL) gagal (mg/dL) (mg/dL)

< 24 - - - -

25-48 > 11,8 > 14,7 > 20 > 25,3

49-72 > 14,7 > 18,2 > 25,3 > 30

> 72 > 17 > 20 > 25,3 > 30

Transfusi tukar pada bayi kurang bulan


Usia (jam) Berat < 1500 g Berat 1500-2000 g Berat > 2000 g
(mg/dL) (mg/dL) (mg/dL)

< 24 > 10-15 > 15 > 16

25-48 > 10-15 > 15 > 20

48-72 > 10-15 > 15 > 17

> 72 > 15 > 17 > 18


Ikterus Patologis
Peningkatan level bilirubin indirek yang lebih tinggi lagi tergolong patologis yang dapat

disebabkan oleh berbagai keadaan. Beberapa keadaan berikut tergolong dalam ikterus

patologis, antara lain:4,13

Timbul dalam 24 jam pertama kehidupan.

Bilirubin indirek untuk bayi cukup bulan > 13 mg/dL atau bayi kurang bulan >10 mg/dL.

Peningkatan bilirubin total> 5 mg/dL/24 jam.

Kadar bilirubin direk > 2 mg/dL.

Ikterus yang disertai proses hemolisis (inkompatabilitas darah, defisiensi G6PD, atau
sepsis)

Ikterus yang disertai oleh: berat lahir <2000 gram, masa gestasi 36 minggu, asfiksia,
hipoksia, sindrom gawat napas pada neonatus,infeksi, trauma lahir pada kepala,

hipoglikemia

Ikterus klinis yang menetap setelah bayi berusia >8 hari (pada aterm) atau >14 hari (pada
prematur).

Tingginya kadar bilirubin yang dapat menimbulkan efek patologik tersebut tidak

selalu sama pada tiap bayi tergantung usia gestasi, berat badan bayi dan usia bayi saat terlihat

kuning. Penyebab yang sering adalah hemolisis akibat inkompatibilitas golongan darah atau

Rh (biasanya kuning sudah terlihat pada 24 jam pertama), dan defisiensi enzim G6PD.8

6. Pemeriksaan Fisis

A. Kondisi umum, penentuan usia gestasi neonatus, berat badan, tanda-tanda sepsis,

status hidrasi.

B. Tanda-tanda kern ikterus seperti letargi, hipotonia, kejang, opistotonus, high pitch

cry.

C. Pucat, plethora, sefalhematom, perdarahan subaponeurotik.

D. Tanda-tanda infeksi intrauterin, peteki dan splenomegali.


E. Progresi ikterus sefalo-kaudal pada ikterus berat.
7. Penatalaksanaan

Tujuan utama dalam penatalaksanaan ikterus neonatorum adalah untuk


mengendalikan agar kadar bilirubin serum tidak mencapai nilai yang dapat menimbulkan kern
ikterus atau ensefalopati bilirubin, serta mengobati penyebab langsung ikterus. Pemberian
fototerapi, dan jika tidak berhasil dilanjut dengan transfuse tukar dapat dilakukan untuk
mempertahankan kadar maksimum bilirubin total dibawah kadar maksimum pada bayi
preterm dan bayi cukup bulan yang sehat. Pemberian substrat yang dapat menghambat
metabolisme bilirubin (plasma atau albumin), mengurangi sirkulasi enterohepatik (pemberian
kolesteramin), terapi sinar atau transfusi tukar, merupakan tindakan yang juga dapat
mengendalikan kenaikan kadar bilirubin.10,12

Umur (Jam) Fototerapi Fototerapi & persiapan Transfuse tucker pika


transfuse tucker foto terrapin gaggle

< 24 jam - - -

24 - 28 jam 15 - 18 25 20

49 - 72 jam 18 - 20 30 25

> 72 jam 20 30 25

> 2 minggu Transfusi tukar Transfusi tucker Transfusi tukar

Fototerapi
Pengaruh sinar terhadap ikterus telah diperkenalkan oleh Cremer sejak 1958. Banyak teori

yang dikemukakan mengenai pengaruh sinar tersebut. Teori terbaru mengemukakan bahwa terapi

sinar menyebabkan terjadinya isomerisasi bilirubin. Energi sinar mengubah senyawa yang

berbentuk 4Z, 15Z-bilirubin menjadi senyawa berbentuk 4Z, 15E-bilirubin yang merupakan bentuk

isomernya. Bentuk isomer ini mudah larut dalam plasma dan lebih mudah diekskresi oleh hepar ke

dalam saluran empedu. Peningkatan bilirubin isomer dalam empedu menyebabkan bertambahnya
pengeluaran cairan empedu ke dalam usus, sehingga peristaltik usus meningkat dan bilirubin akan

lebih cepat meninggalkan usus halus.6,12

Fototerapi tetap menjadi standar terapi hiperbilirubinemia pada bayi. Fototerapi yang

efisien dapat menurunkan konsentrasi bilirubin serum secara cepat. Pembentukan lumirubin yang

merupakan isomer bilirubin, komponen yang larut air merupakan prinsip eliminasi bilirubin dengan

fototerapi. Faktor yang menentukan pembentukan lumirubin antara lain: spektrum dan jumlah dosis

cahaya yang diberikan.6

Fototerapi yang intensif dapat membatasi kebutuhan akan transfusi tukar. Fototerapi

(penyinaran 11-14 W/cm2/nm) dan pemberian asupan sesuai kebutuhan (feeding on demand)

dengan formula atau ASI dapat menurunkan konsentrasi bilirubin serum > 10 mg/dl dalam 2-5 jam.

Saat ini, banyak bayi mendapatkan fototerapi dalam dosis di bawah rentang terapeutik yang optimal.

Tetapi terapi ini cukup aman, dan efeknya dapat dimaksimalkan dengan meningkatkan area

permukaan tubuh yang terpapar dan intensitas dari sinar.6

Bayi yang diterapi dengan fototerapi ditempatkan di bawah sinar (delapan bohlam lampu
fluoresense) dan lebih baik dalam keadaan telanjang dengan mata tertutup. Temperatur dan status
hidrasi harus terus dipantau. Fototerapi dapat sementara dihentikan selama 1 2 jam untuk
mempersilahkan keluarga berkunjung atau memberikan ASI atau susu formula. Waktu yang tepat
untuk memulai fototerapi bervariasi tergantung dari usia gestasi bayi, penyebab ikterus, berat badan
lahir, dan status kesehatan saat itu. Fototerapi dapat dihentikan ketika konsentrasi bilirubin serum
berkurang hingga sekitar 4-5 mg/dl.6

Terapi sinar konvensional dan intensif


Secara umum terapi sinar dibagi menjadi terapi sinar konvensional dan intensif. Terapi

sinar konvensional menggunakan panjang gelombang 425-475 nm. Intensitas cahaya yang biasa

digunakan adalah 6-12 mwatt/cm2 per nm. Cahaya diberikan pada jarak 35-50 cm di atas bayi.

Sedangkan fototerapi intensif menggunakan intensitas penyinaran >12 W/cm2/nm dengan area

paparan maksimal.12

Jumlah bola lampu yang digunakan berkisar antara 6-8 buah, terdiri dari biru (F20T12),

cahaya biru khusus (F20T12/BB) atau daylight fluorescent tubes. Cahaya biru khusus memiliki

kerugian karena dapat membuat bayi terlihat biru, walaupun pada bayi yang sehat, hal ini secara

umum tidak mengkhawatirkan. Untuk mengurangi efek ini, digunakan 4 tabung cahaya biru khusus

pada bagian tengah unit terapi sinar standar dan dua tabung daylight fluorescent pada setiap bagian

samping unit.12

Kelainan Mekanisme yang mungkin terjadi

Bronze baby syndrome Berkurangnya ekskresi hepatik hasil

penyinaran bilirubin

Diare Bilirubin indirek menghambat lactase

Hemolisis Fotosensitivitas mengganggu sirkulasi eritrosit

Dehidrasi Bertambahnya Insensible Water Loss (30-

100%) karena menyerap energi foton

Ruam kulit Gangguan fotosensitasi terhadap sel mast kulit

dengan pelepasan histamine


Transfusi tukar
Transfusi tukar adalah suatu tindakan pengambilan sejumlah kecil darah yang dilanjutkan

dengan pemasukan darah dari donor dalam jumlah yang sama. Teknik ini secara cepat

mengeliminasi bilirubin dari sirkulasi. Antibodi yang bersirkulasi yang menjadi target eritrosit juga

disingkirkan. Transfusi tukar sangat menguntungkan pada bayi yang mengalami hemolisis oleh

sebab apapun. Satu atau dua kateter sentral ditempatkan, dan sejumlah kecil darah pasien

dikeluarkan, kemudian ditempatkan sel darah merah dari donor yang telah dicampurkan dengan

plasma. Prosedur tersebut diulang hingga dua kali lipat volume darah telah digantikan. Selama

prosedur, elektrolit dan bilirubin serum harus diukur secara periodik. Jumlah bilirubin yang dibuang

dari sirkulasi bervariasi tergantung jumlah bilirubin di jaringan yang kembali masuk ke dalam

sirkulasi dan rata-rata kecepatan hemolisis. Pada beberapa kasus, prosedur ini perlu diulang untuk

menurunkan konsentrasi bilirubin serum dalam jumlah cukup. Infus albumin dengan dosis 1

gr/kgBB 1 4 jam sebelum transfusi tukar dapat meningkatkan jumlah total bilirubin yang dibuang

dari 8,7 12,3 mg/kgBB, menunjukkan kepentingan albumin dalam mengikat bilirubin.12

Sejumlah komplikasi transfusi tukar telah dilaporkan, antara lain trombositopenia,

trombosis vena porta, enterokolitis nekrotikan, gangguan keseimbangan elektrolit, graft-versus-host

disease, dan infeksi. Oleh sebab itu transfusi tukar hanya didindikasikan pada bayi dengan kriteria

sebagai berikut:

a. Titer anti Rh lebih dari 1 : 16 pada ibu

b. Penyakit hemolisis berat pada bayi baru lahir

c. Gagal fototerapi intensif

d. Kadar bilirubin direk >3,5 mg/dl di minggu pertama

e. Serum bilirubin indirek > 25 mg/dl pada 48 jam pertama

f. Hemoglobin < 12 gr/dl

g. Bayi pada resiko terjadi ensefalopati bilirubin

h. Munculnya tanda-tanda klinis yang memberikan kesan kern ikterus pada kadar bilirubin

berapapun.
Penggunaan transfusi tukar menurun secara drastis setelah pengenalan prosedur fototerapi, dan

optimalisasi fototerapi lebih lanjut dapat membatasi penggunaannya.12

Transfusi pengganti digunakan untuk: 12

1. Mengatasi anemia akibat proses isoimunisasi.

2. Menghilangkan sel darah merah yang tersensitisasi

3. Menghilangkan serum bilirubin

4. Meningkatkan albumin bebas sehingga meningkatkan jumlah bilirubin yang terikat albumin.

Darah Donor Untuk Tranfusi Tukar 12

Darah yang digunakan harus golongan

Gunakan darah baru (usia < 7 hari), whole blood. Kerjasama dengan dokter kandungan dan Bank
Darah adalah penting untuk persiapan kelahiran bayi yang membutuhkan tranfusi tukar

Pada penyakit hemolitik rhesus, jika darah disiapkan sebelum persalinan, harus golongan O
dengan rhesus (-), crossmatched terhadap ibu. Bila darah disiapkan setelah kelahiran, dilakukan

juga crossmatched terhadap bayi.

Pada inkompatibilitas ABO, darah donor harus golongan O, rhesus (-) atau rhesus yang sama
dengan ibu dan bayinya. Crossmatched terhadap ibu dan bayi yang mempunyai titer rendah

antibodi anti A dan anti B. Biasanya menggunakan eritrosit golongan O dengan plasma AB, untuk

memastikan bahwa tidak ada antibodi anti A dan anti B yang muncul.

Pada penyakit hemolitik isoimun yang lain, darah donor tidak boleh berisi antigen tersensitisasi
dan harus di crossmatched terhadap ibu.

Pada hiperbilirubinemia yang nonimun, darah donor ditiping dan crossmatched terhadap plasma
dan eritrosit bayi.

Tranfusi tukar biasanya memakai 2 kali volume darah (2 volume exchange) yaitu sekitar 160
ml/kgBB (dengan asumsi volume darah bayi baru lahir adalah 80 ml/kgBB, sehingga diperoleh

darah baru sekitar 87%.

Simple Double Volume. Push-Pull Tehcnique.


Jarum infus dipasang melalui kateter vena umbilikalis atau vena saphena magna. Darah
dikeluarkan dan dimasukkan bergantian.
Isovolumetric. Darah secara bersamaan dan simultan dikeluarkan melalui arteri umbilikalis dan
dimasukkan melalui vena umbilikalis dalam jumlah yang sama.

Partial Exchange Tranfusion. Tranfusi tukar sebagian, dilakukan biasanya pada bayi dengan
polisitemia.

Di Indonesia, untuk kasus kedaruratan, transfusi tukar pertama menggunakan golongan darah O
rhesus positif.

Setiap 4-8 jam kadar bilirubin harus di cek. Hemoglobin harus diperiksa setiap hari sampai stabil.

Transfusi tukar harus dihentikan apabila terjadi: 12

- Emboli, trombosis

- Hiperkalemia, hipernatremia, hipokalsemia, asidosis, hipoglikemia

- Gangguan pembekuan karena pemakaian heparin

- Perforasi pembuluh darah

Komplikasi tranfusi tukar 12

- Vaskular: emboli udara atau trombus, trombosis

- Kelainan jantung: aritmia, overload, henti jantung

- Gangguan elektrolit: hipo atau hiperkalsemia, hipernatremia, asidosis

- Koagulasi: trombositopenia, heparinisasi berlebih

- Infeksi: bakteremia, hepatitis virus, sitomegalik, enterokolitis nekrotikan

- Lain-lain: hipotermia, hipoglikemia.

4. Terapi farmakologis

Fenobarbital telah digunakan sejak pertengahan tahun 1960 untuk meningkatkan konjugasi

dan ekskresi bilirubin dengan mengaktivasi enzim glukoronil-transferase, tetapi penggunaanya

kurang efektif. Percobaan yang dilakukan pada mencit menunjukkan fenobarbital mengurangi

metabolisme oksidatif bilirubin dalam jaringan saraf sehingga meningkatkan resiko efek
neurotoksik. Pemberian fenobarbital akan membatasi perkembangan ikterus fisiologis pada bayi
baru lahir bila diberikan pada ibu dengan dosis 90 mg/24 jam sebelum persalinan atau pada saat

bayi baru lahir dengan dosis 10 mg/kg/24 jam. Meskipun demikian fenobarbital tidak secara rutin

dianjurkan untuk mengobati ikterus pada neonatus karena:12,14

a. Pengaruhnya pada metabolisme bilirubin baru terlihat setelah beberapa hari pemberian.

b. Efektivitas obat ini lebih kecil daripada fototerapi dalam menurunkan kadar bilirubin.

c. Mempunyai pengaruh sedatif yang tidak menguntungkan.

d. Tidak menambah respon terhadap fototerapi.

Beberapa penelitian juga menguji efektivitas dari enzim bilirubin oksidase yang diperoleh

dari fungi. Bilirubin tidak terkonjugasi dimetabolisme oleh enzim bilirubin oksidase. Ketika darah

melalui filter yang mengandung bilirubin oksidase tersebut maka > 90% bilirubin didegradasi

dalam sekali langkah. Prosedur tersebut terbukti bermanfaat dalam terapi hiperbilirubinemia

neonatorum, tetapi belum diujikan secara klinis. Lebih lanjut, kemungkinan dapat terjadi reaksi
alergi pada penggunaan prosedur tersebut karena enzim diperoleh dari fungus.14

Indikasi untuk merujuk ke RS 8

Ikterus timbul dalam 24 jam kehidupan

Ikterus hingga di bawah umbilikus

Ikterus yang meluas hingga ke telapak kaki harus dirujuk segera karena kemungkinan

membutuhkan transfusi tukar.

Riwayat keluarga dengan penyakit hemolitik yang signifikan atau kernikterus

Neonatus dengan keadaan umum yang kurang baik

Ikterus memanjang > 14 hari.

8. Pencegahan

Reduksi bilirubin dalam sirkulasi enterohepatik

Bayi baru lahir yang tidak diberi asupan secara adekuat dapat meningkatkan sirkulasi
enterohepatik bilirubin, karena keadaan puasa dapat meningkatkan akumulasi bilirubin.
Peningkatan jumlah asupan oral dapat mempercepat ekskresi bilirubin, sehingga pemberian ASI
yang sering atau asupan tambahan dengan susu formula efektif dalam menurunkan kadar bilirubin
serum pada bayi yang sedang menjalani fototerapi. Sebaliknya, asupan tambahan dengan air atau
dekstrosa dapat mengganggu produksi ASI, sehingga dapat meningkatkan konsentrasi bilirubin.1

Tidak ada obat-obatan atau agen-agen lain yang dapat menurunkan sirkulasi enterohepatik
bilirubin. Pada tikus percobaan, karbon aktif dapat berikatan dengan bilirubin dan meningkatkan
ekskresinya, tetapi efikasi dari karbon aktif tersebut pada bayi belum pernah diujikan. Pada sebuah
penelitian, penggunaan agar pada bayi yang sedang menjalani fototerapi secara signifikan dapat
menurunkan durasi fototerapi dari 48 jam menjadi 38 jam. Cholestyramine yang digunakan untuk
terapi ikterus obstruktif, dapat meningkatkan ekskresi bilirubin melalui ikatan dengan asam empedu
di dalam intestinal dan membentuk suatu kompleks yang tidak dapat diabsorbsi.12,14

Inhibisi produksi bilirubin

Metalloporfirin sintetis dapat menghambat produksi bilirubin dengan menjadi inhibitor


kompetitif enzim heme-oksigenase. Pada bayi prematur dengan berat lahir 1500-2500 gram, dosis
tunggal mesoporfirin timah intramuskular (6 mol/kg) yang diberikan dalam 24 jam pertama
kelahiran dapat menurunkan kebutuhan fototerapi sebesar 76%, dan menurunkan konsentrasi
puncak bilirubin serum sebesar 41%. Satu-satunya efek yang merugikan adalah eritema sementara
akibat fototerapi. Walaupun tampak sangat menjanjikan, metalloporfirin saat ini belum disetujui
penggunaannya pada bayi baru lahir.14

Pencegahan ensefalopati bilirubin

Sekali bilirubin terakumulasi, peningkatan pH otak dapat membantu mencegah ensefalopati,


karena bilirubin lebih mudah larut dalam suasana alkali. Pada bayi baru lahir dengan
hiperbilirubinemia berat, alkalinisasi yang cukup (pH 7,45 7,55) dapat diperoleh dengan infus
bikarbonat atau dengan menggunakan strategi ventilator untuk menurunkan tekanan parsial karbon
dioksida sehingga pH meningkat.14

9. Komplikasi

Perhatian utama pada hiperbilirubinemia adalah potensinya dalam menimbulkan kerusakan

sel-sel saraf, meskipun kerusakan sel-sel tubuh lainnya juga dapat terjadi. Bilirubin dapat

menghambat enzim-enzim mitokondria serta mengganggu sintesis DNA. Bilirubin juga dapat

menghambat sinyal neuroeksitatori dan konduksi saraf (terutama pada nervus auditorius) sehingga

menimbulkan gejala sisa berupa tuli saraf. 14


Kerusakan jaringan otak yang terjadi seringkali tidak sebanding dengan konsentrasi bilirubin

serum. Hal ini disebabkan kerusakan jaringan otak yang terjadi ditentukan oleh konsentrasi dan

lama paparan bilirubin terhadap jaringan.14

Komplikasi ikterus neonatorum adalah Ensefalopati bilirubin atau kernikterus, yaitu ikterus

neonatorum yang berat dan tidak ditatalaksana dengan benar dan dapat menimbulkan komplikasi

ensefalopati bilirubin. Hal ini terjadi akibat terikatnya asam bilirubin bebas dengan lipid dinding sel

neuron di ganglia basal, batang otak dan serebellum yang menyebabkan kematian sel. Pada bayi

dengan sepsis, hipoksia dan asfiksia bisa menyebabkan kerusakan pada sawar darah otak. Dengan

adanya ikterus, bilirubin yang terikat ke albumin plasma bisa masuk ke dalam cairan ekstraselular.

Sejauh ini hubungan antara peningkatan kadar bilirubin serum dengan ensefalopati bilirubin telah

diketahui. Tetapi belum ada studi yang mendapatkan nilai spesifik bilirubin total serum pada bayi

cukup bulan dengan hiperbilirubinemia non hemolitik yang dapat mengakibatkan terjadinya

gangguan pada kecerdasan atau kerusakan neurologik yang disebabkannya.14

Faktor yang mempengaruhi toksisitas bilirubin pada sel otak bayi baru lahir sangat

kompleks dan belum sepenuhnya dimengerti. Faktor tersebut antara lain: konsentrasi albumin serum,

ikatan albumin dengan bilirubin, penetrasi albumin ke dalam otak, dan kerawanan sel otak

menghadapi efek toksik bilirubin. Bagaimanapun juga, keadaan ini adalah peristiwa yang tidak

biasa ditemukan sekalipun pada bayi prematur dan kadar albumin serum yang sebelumnya

diperkirakan dapat menempatkan bayi prematur berisiko untuk terkena ensefalopati bilirubin. Bayi

yang selamat setelah mengalami ensefalopati bilirubin akan mengalami kerusakan otak permanen

dengan manifestasi berupa cerebral palsy, epilepsi dan keterbelakangan mental atau hanya cacat

minor seperti gangguan belajar dan perceptual motor disorder.14


BAB III

Analisis Kasus

Berdasarkan hasil anamnesa bayi kuning mulai tampak jelas 3 hari setelah kelahiran di
wajah dan badan. Penyebaran kuning sampai pada telapak tangan dan kaki bayi dan sklera bayi
terlihat ikterik. Hasil ini mendukung tinjauan pustaka yang didapat dan menurut tinjauan pustaka
derajat Kramer untuk bayi kasus ini adalah Kramer 5 karena penyebaran kuning sampai pada
telapak tangan dan kaki bayi. Hasil laboratorium yang didapat untuk bilirubin total adalah 16,89
mg/dL. Bayi terhitung menderita hiperbilirubinemia jika kadar bilirubin total darah mencapai kadar
lebih dari 5 mg/dL. Hasil laboratorium mendukung diagnosa hiperbilirubinemia pada bayi.

Untuk klasifikasi jenis hiperbilirubinemia bayi pada kasus ini, dilakukan perbandingan
antara hasil anamnesa, pemeriksaan fisis, dan hasil laboratorium yang didapat dengan tinjauan
pustaka. Adapun diagnosa akhir untuk kasus ini adalah hiperbilirubinemia e/c breastfeeding
jaundice. Bayi pada kasus ini merupakan bayi pertama, sedangkan insiden hiperbilirubinemia e/c
breastfeeding jaundice lebih sering didapat pada anak pertama. Ibu bayi mengatakan bayi minum
ASI sebanyak 5x / hari. Breastfeeding jaundice disebabkan karena kurangnya asupan ASI bayi. Hal
ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kurangnya produksi ASI ibu, kurangnya
pemberian ASI perharinya dan kurangnya refleks minum bayi. Bayi pada kasus ini kurang banyak
minum ASI, adapun jumlah asupan ASI normal untuk bayi adalah 750 mL per hari.

Onset kuning pada bayi di kasus ini adalah 3 hari setelah kelahiran. Penemuan ini sesuai
dengan tinjauan pustaka dimana onset breastfeeding jaundice terjadi pada hari ke 2-5. Berdasarkan
hasil penemuan ini, maka diagnosa breastfeeding jaundice sesuai dengan hasil yang didapat pada
kasus. Tatalaksana untuk kasus ini adalah pemberian ASI, fototerapi, dan monitor asupan gizi dan
cairan untuk mencegah dehidrasi yang dapat disebabkan karena fototerapi. Adapun fototerapi
dilakukan atas pertimbangan jumlah bilirubin total darah mencapai lebih dari 14,7 mg/dL (bilirubin
total bayi 16,89 mg/dL).
Daftar Pustaka

1. Ritarwan, Kiking. Ikterus. Bagian Perinatologi Fakultas Kedokteran USU/RSU H. Adam Malik.
2011. Sumatra Utara. USU digital library.

2. David C. Dugdale. Medline plus. Oct 2013; [diakses Agustus 2017] Available
fromhttp://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/003479.htm

3. Reisa Maulidya Tazami, Mustarim, Shalahudden Syah. Gambaran Faktor Risiko Ikterus
Neonatorum pada Neonatus di Ruang Perinatologi RSUD Raden Mattaher Jambi Tahun 2013.
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Jambi.

4. Kliegman, Robert M.Neonatal Jaundice And Hyperbilirubinemia Dalam :Behrman


RE, Kliegman RM, Jenson HBEditors. Nelson Textbook Of Pediatrics. 17Th Edition.
Philadelphia: Saunders;2004. p. 592-8

5. Sukadi A. Hiperbilirubinemia. Dalam: Kosim MS, Yunanto A, Dewi R,Sarosa GI, Usman A,
penyunting. Buku ajar neonatologi. Edisi 1. Jakarta: IDAI. 2008.h.147-69.

6. Maisels M. J& Mcdonagh, Antony F.Phototherapy For Neonatal Jaundice. New England
Journal of Medicine;2008p.358:920-8.

7. Hassan R.Ikterus Neonatorum dalam :Hassan R, Alatas H, editors Ilmu kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran UI. Jilid ke-2. Jakarta. 2007. h.519-22,1101-23.

8. American Academy of Pediatrics, Subcommittee on Hyperbilirubinemia. In : Management Of


Hyperbilirubinemia The Newborn Infant 35 Or More Weeks Of Gestation. Pediatrics;
2004. p.114, 297-316.

9. Gartner, Lawrence M. Neonatal Jaundice. Pediatrics Review;1994.Vol. 15. p. 422-32

10. Hansen, Thor W.R. Core Concepts: Bilirubin Metabolism. Neoreviews.2010. vol. 11. p.316-22.

11. Hadinegoro SR, Prawitasari T, Endyami B, Kadim M, Sjakti HA. Ikterus hemolitik pada
neonatus. Diagnosis dan Tata Laksana Penyakit Anak dengan Gejala Kuning. Jakarta:
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia RSUPN Dr.
Cipto Mangunkusumo. 2007;16-19.

12. Ennery P, Eidman A, Tevenson D. Neonatal Hyperbilirubinemia. New England Journal of


Medicine,2001. Vol. 344, No. 8.
13. Depkes RI. Dalam : Buku Bagan MTBM (Manajemen Terpadu Bayi Muda Sakit). Metode
Tepat Guna untuk Paramedis, Bidan dan Dokter. Depkes RI; 2001.

14. Etika R, Harianto A, Indarso F, Damanik, Sylviati M. Dalam : Hiperbilirubinemia Pada


Neonatus.Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fk Unair/Rsu Dr. Soetomo Surabaya; 2004.