Anda di halaman 1dari 21

OPERASI TEKNI KIMIA III

Ekstraksi ( Definisi, dan Prinsip Dasar )

Oleh :Kelompok

ABU BAKAR 12.2015.0

INDRA PRATAMA 12.2015.050

DWI AYU KURNIANTI 12.2015.0

DOSEN PENGAJAR : Netty Herawati, ST.,MT.

FAKULTAS TEKNIK

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG

2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Metode pemisahan merupakan aspek penting dalam bidang kimia karena


kebanyakan materi yang terdapat di alam berupa campuran.Untuk memperoleh materi
murni dari suatu campuran, kita harus melakukan pemisahan.Berbagai teknik pemisahan
dapat diterapkan untuk memisahkan campuran.Perusahaan air minum, memperoleh air
jernih dari air sungai melalui penyaringan pasir dan arang.Air murni untuk keperluan
laboratorium atau farmasi diperoleh melalui teknik pemisahan destilasi. Untuk
memisahkan minyak bumi menjadi komponen-komponennya seperti elpiji, bensin,
minyak tanah, dilakukan melalui teknik pemisahan destilasi bertingkat.Logam aluminium
dipisahkan dari bauksit melalui teknik pemisahan elektroforesis.Itulah beberapa contoh
teknik pemisahan yang berguna untuk memperoleh materi yang lebih murni.Melalui
teknik pemisahan ternyata menghasilkan materi yang lebih penting dan lebih mahal
nilainya.

Pembahasan pada bab ini akan difokuskan pada teknik pemisahan ekstraksi.
Ekstraksi pelarut pada umumnya digunakan untuk memisahkan sejumlah gugus yang
diinginkan dan mungkin merupakan gugus pengganggu dalam analisis secara
keseluruhan. Kadang-kadang gugus-gugus pengganggu ini diekstraksi secara selektif.
Teknik pengerjaan meliputi penambahan pelarut organik pada larutan air yang
mengandung gugus yang bersangkutan. Dalam pemilihan pelarut organik diusahakan
agar kedua jenis pelarut (dalam hal ini pelarut organik dan air) tidak saling tercampur satu
sama lain. Selanjutnya proses pemisahan dilakukan dalamcorong pemisah dengan jalan
pengocokan beberapa kali. Partisi zat-zat terlarut antara dua cairan yang tidak dapat
campur (immiscible).

Diantara berbagai jenis metode pemisahan, ekstraksi pelarut atau disebut juga
ekstraksi air merupakan metode pemisahan yang paling baik dan popular. Alasan
utamanya adalah bahwa pemisahan ini dapat dilakukan baik dalam tingkat makro ataupun
mikro.Seseorang tidak memerlukan alat yang khusus atau canggih kecuali corong
pemisah. Prinsip metode ini didasarkan pada distribusi zat terlarut dengan perbandingan
tertentu antara dua pelarut yang tidak saling bercampur seperti benzene, karbon
tetraklorida atau kloroform.Batasannya adalah zat terlarut dapat ditransfer pada jumlah
yang berbeda dalam kedua fase pelarut.Teknik ini dapat digunakan untuk preparative dan
pemurnian.Mula-mula metode ini dikenal dalam kimia analisis, kemudian berkembang
menjadi metode yang baik, sederhana, cepat dan dapat digunakan untuk ion-ion logam
yang bertindak sebagai tracer (pengotor) dan ion-ion logam dalam jumlah makrogram.

1.2 Rumusan Masalah


1. Definisi dari ekstraksi dan klasifikasinya ?
2. apa saja macam - macam metode ekstraksi pelarut?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui Definisi dari ekstraksi dan klasifikasinya ?
2. Untuk mengetahui macam macam metode dari ekstraksi ?
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Ekstraksi

Ekstraksi pelarut menawarkan banyak kemungkinan yang menarik untuk pemisahan


analitis. Bahkan di mana tujuan primernya bukanlah analitis namun preparatif,
ekstrasi pelarut dapat merupakan suatu langkah penting dalam urutan yang menuju ke
suatu produk murninya dalam laboratorium organik, anorganik atau biokimia.
Meskipun kadang-kadang digunakan peralatan yang rumit, namun seringkali hanya
diperlukan sebuah corong pisah. Seringkali suatu permisahan ekstrasi pelarut dapat
diselesaikan dalam beberapa menit.

Ekstraksi merupakan proses pemisahan, penarikan atau pengeluaran suatu komponen


cairan/campuran dari campurannya. Biasanya menggunakan pelarut yang sesuai
dengan kompnen yang diinginkan.Cairan dipisahkan dan kemudian diuapkan sampai
pada kepekatan tertentu. Ekstraksi memanfaatkan pembagian suatu zat terlarut antar
dua pelarut yang tidak saling tercampur untuk mengambil zat terlarut tersebut dari
satu pelarut ke pelarut lain.

Ekstraksi memegang peranan penting baik di laboratorium maupun industry. Di


laboratorium, ekstraksi seringkali dilakukan untuk menghilangkan atau memisahkan
zat terlarut dalam larutan dengan pelaurt air yang diekstraksi dengan pelarut lain
seperti eter, kloroform, karbondisulfida atau benzene.

1. Tujuan Ekstraksi

Tujuan ekstraksi adalah untuk menarik semua komponen kimia yang terdapat dalam
simplisia. Ekstraksi ini didasarkan pada perpindahan massa komponen zat padat ke
dalam pelarut dimana perpindahan mulai terjadi pada lapisan antar muka, kemudian
berdifusi masuk ke dalam pelarut.
Secara umum, terdapat empat situasi dalam menentukan tujuan ekstraksi:

a. Senyawa kimia telah diketahui identitasnya untuk diekstraksi dari organisme.


Dalam kasus ini, prosedur yang telah dipublikasikan dapat diikuti dan dibuat
modifikasi yang sesuai untuk mengembangkan proses atau menyesuaikan
dengan kebutuhan pemakai.
b. Bahan diperiksa untuk menemukan kelompok senyawa kimia tertentu, misalnya
alkaloid, flavanoid atau saponin, meskipun struktur kimia sebetulnya dari
senyawa ini bahkan keberadaannya belum diketahui. Dalam situasi seperti ini,
metode umum yang dapat digunakan untuk senyawa kimia yang diminati dapat
diperoleh dari pustaka. Hal ini diikuti dengan uji kimia atau kromatografik yang
sesuai untuk kelompok senyawa kimia tertentu
c. Organisme (tanaman atau hewan) digunakan dalam pengobatan tradisional, dan
biasanya dibuat dengan cara, misalnya Tradisional Chinese medicine (TCM)
seringkali membutuhkan herba yang dididihkan dalam air dan dekok dalam air
untuk diberikan sebagai obat. Proses ini harus ditiru sedekat mungkin jika
ekstrak akan melalui kajian ilmiah biologi atau kimia lebih lanjut, khususnya
jika tujuannya untuk memvalidasi penggunaan obat tradisional.
d. Sifat senyawa yang akan diisolasi belum ditentukan sebelumnya dengan cara
apapun. Situasi ini (utamanya dalam program skrining) dapat timbul jika
tujuannya adalah untuk menguji organisme, baik yang dipilih secara acak atau
didasarkan pada penggunaan tradisional untuk mengetahui adanya senyawa
dengan aktivitas biologi khusus.

Proses pengekstraksian komponen kimia dalam sel tanaman yaitu pelarut organik
akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat
aktif, zat aktif akan larut dalam pelarut organik di luar sel, maka larutan terpekat akan
berdifusi keluar sel dan proses ini akan berulang terus sampai terjadi keseimbangan
antara konsentrasi cairan zat aktif di dalam dan di luar sel.
2. Klasifikasi Ekstaksi

Beberapa cara dapat mengklasifikasikan system ekstraksi. Cara kalsik adalah


mengklasifikasi berdasarkan sifat zat yang diekstraksi, sebagai khelat atau system ion
berasosiasi. Akan tetapi klasifikasi sekarang didasarkan pada hal yang lebih ilmiah,
yaitu proses ekstraksi. Bila ekstraksi ion logam berlangsung, maka proses ekstraksi
berlangsung dengan mekanisme tertentu. Berarti jika ekstraksi berlangsung melalui
pembentukan khelat atau struktur cincin, ekstraksi dapat diklasifikasikan sebagai
ekstraksi khelat. Misalkan ekstraksi uranium dengan 8-hidrosikuinilin pada kloroform
atau ekstraksi besi dengan cupferron pada pelarut yang sama.[3]

Banyak pemisahan penting ion logam telah dikembangkan yang pada pembentukan
senyawaan kelat dengan aneka reagensia organik, contoh, perhatikan reagensia 8-
kuinolinol (8-hidroksikuinolina) yang dirujuk dengan nama trivialnya, oksina,
Reagensia ini membentuk molekul yang netral, tak-larut dalam air, larutan kloroform
atau karbon tetraklorida dengan ion logam; senyawan kelat .

Jika oksina kita singkat sebagai HOx, dapatlah kita tulis reaksi sebagai :

Cu2+ + 2HOx Cu(Ox)2 + 2H

Suatu zat pengkelat lain yang sangat penting untuk ekstraksi pelarut dari ion logam
adalah difeniltiokarbazon atau ditizon .Ditizon dan kelat logamnya sangat tak-dapat
larut dalam air, tetapi dapat larut dalam pelarut semacam kloroform dan karbon
letraklorida. Larutan reagensia itu sendiri adalah hijau tua, semenlara kompleks logam
adalah violet tua, merah, jingga, kuning atau warna lain bergantung pada ion
logamnya, logam yang membentuk ditizonat antara lain Mn, Fe, Co, Ni, Cu, Zn, Pd,
Ag, Cd, In, Sn, dan Pb. Konsentrasi kelat dalam ekstrak itu normalnya ditetapkan
secara spektrofotometris.

Golongan ekstraksi berikutnya dikenal sebagai ekstraksi melalui solvasi sebab spesies
ekstraksi disolvasi ke fase organik.Contoh dari golongan ini adalah ekstraksi besi (III)
dari asam hidroklorida dengan dietileter atau ekstraksi uranium dari media asam nitrat
dengan tributilfosfat.Kedua ekstraksi tersebut dimungkinkan akibat solvasi spesies
logam ke fase organik.
Umumnya, garam logam yang sederhana cenderung menjadi lebih dapat larut dalam
pelarut yang sangat polar seperti air daripada dalam pelarut organik yang tetapan
dielektriknya jauh lebih rendah. Banyak ion disolvasikan oleh air, dan energi solvasi
itu disumbangkan untuk merusak kisi kristal garam. Lagi pula dibutuhkan kerja yang
lebih kecil untuk memisahkan ion-ion yang muatannya berlawanan dalam pelarut
dielektrik tinggi. Kemudian, biasanya diperlukan terbentuknya suatu spesies yang tak
bermuatan jika suatu ion harus diekstrak dari dalam air ke dalam suatu pelarut
organik. Telah kita saksikan suatu contoh hal ini dalam ekstraksi logam yang dirubah
menjadi senyawaan kelat 8-quinolinol netral. Ion logam terikat dalam senyawaan
kelat itu oleh ikatan kimia tertentu, yang seringkali sebagian besar karakternya
kovalen.

Sebaliknya kadang-kadang, suatu spesies tak bermuatan yang dapat di-eksjrak ke


dalam suatu pelarut organik diperoleh lewat asosiasi ion-ion yang muatannya
berlawanan. Memang harus diakui bahwa sukar untuk membedakan antara pasangan
ion dan suatu molekul netral. Agaknya jika komponen-komponen-nya tetap bersama-
sama di dalam air, spesies itu akan disebut suatu molekul; jika komponen itu cukup
dipisahkan oleh air sehingga tak dapat dideteksi sebagai suatu kesatuan, maka entitas
itu akan disebut suatu pasangan ion jika memang muncul demikian dalam suatu
pelarut takpolar.

Suatu contoh yang lazim dari suatu sistem ekstraksi yang melibatkan pembentukan
pasangan ion dalam fasa organiknya dijumpai dalam penggunaan tetraphenilarsonium
kloirida untuk mengekstrak permanganat, perrenat, dan perteknetat dari air ke dalam
kloroform. Spesies yang berpindah ke dalam fase organik adalah suatu pasangan ion,
[(C6H5)4As+,J. Serupa pula ekstraksi ion uranil, UO]+, dari dalam larutan nitrat
berair ke dalam pelarut seperti eter (sebuah proses penting dalam kimia uranium)
melibatkan suatu asosiasi dari [UO2+, 2NO]. Diduga bahwa ion uranil disolvasi baik
oleh eter maupun oleh air, suatu fakta yang tak diragukan lagi mempermudah
penembusan fasa organik oleh suatu pasangan ion yang kemudian menyesuaikan diri
lebih ke karakter dari pelarut itu.
Golongan ekstraksi ketiga adalah proses yang melibatkan pembentukan pasangan ion.
Ekstraksi berlangsung melalui pembentukan spesies netral yang tidak bermuatan
diekstraksi ke fase organic.Contoh yang terbaik dari golongan ini adalah ekstraksi
scandium dengan triotilamin atau uranium dengn trioktilamin.Dalam hal ini pasangan
ion terbentuk antara Sc atau U dalam asam mineral bersama-sama dengan amina
berberat molekul tinggi.

Sedangkan kategori terakhir merupakan ekstraksi sinergis.Nama yang digunakan


menyatakan adanya efek saling memperkuat yang berakibat penambahan ekstraksi
dengan memanfaatkan pelarut pengekstraksi.Misalkan ekstraksi Uranium dengan
Tributilfosfat (TBP) bersama-sama dengan 2-thenoyltrifluoroaseton
(TTA).Walaupun TBP maupun TTA masing-masing dapat mengekstraksi Uranium
namun jika kita menggunakan campuran dari dua pengekstraksi tersebut, kita
mendapatkan kenaikan pada hasil ekstarksi.Karena itulah ekstraksi jenis ini disebut
sbagai ekstaraksi sinergis.

Pelarut organic yang dipilih untuk ekstraksi pelarut adalah mempunyai kelarutan yang
rendah dalam air (< 10%), dapat menguap sehingga memudahkan penghilangan
pelarut organic setelah dilakukan ekstraksi, dan mempunyai kemurnian yang tinggi
untuk meminimalkan adanya kontaminasi sampel.Beberapa masalah sering dijumpai
ketika melakukan ekstraksi pelarut yaitu terbentuknya emulsi, analit terikat kuat pada
partikulat, analit terserap oleh partikulat yng mungkin ada, analit terikat pada senyawa
yang mempunyai berat molekul tinggi, dan adanya kelarutan analit secara bersama-
sama dalam kedua fase.Terjadinya emulsi merupakan hal yang sering dijumpai.Oleh
karena itu, jika emulsi antara kedua fase ini tidak dirusak maka recovery yang
diperoleh kurang bagus. Emulsi dapat dipecah dengan cara:

a. Penambahan garam ke dalam fase air (salting out)


b. Pemanasan atau pendinginan corong pisah yang digunakan
c. Penyaringan melalui glass-wood
d. Penyaringan dengan menggunakan kertas saring
e. Penambahan sedikit pelarut organic yang berbeda
f. Sentrifugasi
Jika senyawa-senyawa yang akan dilakukan ekstraksi pelarut berasal dari plasma
maka ada kemungkinan senyawa tersebut terikat pada protein sehingga recovery yang
dihasilkan rendah. Teknik yang dapat digunakan untuk memisahkan senyawa yang
terikata pada protein meliputi:

a. Penambahan detergen
b. Penambahan pelarut organic yang lain
c. Penambahan asam kuat
d. Pengenceran air
e. Penggantian dengan senyawa yang mampu mengikat lebih kuat.
2.2 Macam-macam Metode Ekstraksi

Teknik ekstraksi dapat dibedakan menjadi tiga cara yaitu ekstraksi bertahap (batch-
extraction = ekstraksi sederhana), ekstraksi kontinyu (ekstraksi samapi habis), dan
ekstraksi arah berlawanan (counter current extraction).Ekstraksi bertahap merupakan
cara yang paling sederhana. Caranya cukup dengan menambahkan pelarut
pengekstraksi yang tidak bercampur dengan pelarut semula kemudian dilakukan
pengocokan sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi zat yang akan diekstraksi
pada kedua lapisan, setelah ini tercapai lapisan didiamkan dan dipisahkan. Ekstraksi
kontinyu digunakan bila perbandingan distribusi relaitf kecil sehingga untuk
pemisahan yang kuantitatif diperlukan beberapa tahap ekstraksi.Efesiensi yang tinggi
pada ekstraksi tergantung pada viskositas fase dan factor-faktor lain yang
mempengaruhi kecepatan tercapainya suatu kesetimbangan, salah satu diantaranya
adalah dengan menggunakan luas kontak yang besar. Ekstraksi kontinyu counter
current, fase cair pengekstraksi dialirkan dengan arah yang berlawanan dengan
larutan yang mengandung zat yang akan diekstraksi. Biasanya digunakan untuk
pemisahan zat, isolasi atau pemurnian.Sangat penting untuk fraksionasi senyawa
orgnik tetapi kurang bermanfaat untuk senyawa-senyawa an-organik.

ada beberapa macam metode ekstraksi yang dapat di jelaskan sebagai berikut :
1. metode maserasi

Maserasi istilah aslinya adalah macerare (bahasa Latin, artinya merendam) : adalah
sediaan cair yang dibuat dengan cara mengekstraksi bahan nabati yaitu direndam
menggunakan pelarut bukan air (pelarut nonpolar) atau setengah air, misalnya etanol
encer, selama periode waktu tertentu sesuai dengan aturan dalam buku resmi
kefarmasian (Farmakope Indonesia, 1995).

Gambar 1 : alat Maserasi

Penyarian zat aktif yang dilakukan


dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari yang sesuai selama tiga
hari pada temperatur kamar terlindung dari cahaya, cairan penyari akan masuk ke
dalam sel melewati dinding sel. Isi sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi
antara larutan di dalam sel dengan di luar sel. Larutan yang konsentrasinya tinggi akan
terdesak keluar dan diganti oleh cairan penyari dengan konsentrasi rendah ( proses
difusi ). Peristiwa tersebut berulang sampai terjadi keseimbangan konsentrasi antara
larutan di luar sel dan di dalam sel. Selama proses maserasi dilakukan pengadukan
dan penggantian cairan penyari setiap hari. Endapan yang diperoleh dipisahkan dan
filtratnya dipekatkan.
Keuntungan dari metode ini :

a. Unit alat yang dipakai sederhana, hanya dibutuhkan bejana perendam


b. Beaya operasionalnya relatif rendah
c. Prosesnya relatif hemat penyari
d. Tanpa pemanasan

Kelemahan dari metode ini :

a. Proses penyariannya tidak sempurna, karena zat aktif hanya mampu


terekstraksi sebesar 50% saja
b. Prosesnya lama, butuh waktu beberapa hari.

Cairan penyari yang digunakan dapat berupa air, etanol, air-etanol, atau pelarut lain.
Bila cairan penyari digunakan air maka untuk mencegah timbulnya kapang, dapat
ditambahkan bahan pengawet, yang diberikan pada awal penyarian.

Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan
sederhana dan mudah diusahakan.

Kerugian cara maserasi adalah pengerjaanya lama,dan penyariannya kurang


sempurna.

Maserasi dapat dilakukan modifikasi misalnya :

a. Digesti

Digesti adalah cara maserasi dengan menggunakan pemanasan lemah, yaitu pada
suhu 400 500C. Cara maserasi ini hanya dapat dilakukan untuk simplisia yang zat
aktifnya tahan terhadap pemanasan. Dengan pemanasan diperoleh keuntungan antara
lain:

Kekentalan pelarut berkurang, yang dapat mengakibatkan berkurangnya


lapisan-lapisan batas.
Daya melarutkan cairan penyari akan meningkat, sehingga pemanasan
tersebut mempunyai pengaruh yang sama dengan pengadukan.
Koefisien difusi berbanding lurus dengan suhu absolute dan berbanding
terbalik dengan kekentalan, sehingga kenaikan suhu akan berpengaruhpada
kecepatan difusi. Umumnya kelarutan zat aktif akan meningkat bila suhu
dinaikkan.
Jika cairan penyari mudah menguap pada suhu yang digunakan, maka perlu
dilengkapi dengan pendingin balik, sehingga cairan akan menguap kembali ke
dalam bejana.
b. Maserasi dengan Mesin Pengaduk

Penggunaan mesin pengaduk yang berputar terus-menerus, waktu proses maserasi


dapat dipersingkat menjadi 6 sampai 24 jam.

c. Remaserasi

Cairan penyari dibagi menjadi, Seluruh serbuk simplisia di maserasi dengan cairan
penyari pertama, sesudah diendapkan, tuangkan dan diperas, ampas dimaserasi lagi
dengan cairan penyari yang kedua.

d. Maserasi Melingkar

Maserasi dapat diperbaiki dengan mengusahakan agar cairan penyari selalu bergerak
dan menyebar. Dengan cara ini penyari selalu mengalir kembali secara
berkesinambungan melalui sebuk simplisia dan melarutkan zat aktifnya.

e. Maserasi Melingkar Bertingkat

Pada maserasi melingkar, penyarian tidak dapat dilaksanakan secara sempurna,


karena pemindahan massa akan berhenti bila keseimbangan telah terjadi masalah ini
dapat diatasi dengan maserasi melingkar bertingkat (M.M.B), yang akan didapatkan:

Serbuk simplisia mengalami proses penyarian beberapa kali, sesuai dengan bejana
penampung. Pada contoh di atas dilakukan 3 kali, jumlah tersebut dapat diperbanyak
sesuai dengan keperluan.
Serbuk simplisia sebelum dikeluarkan dari bejana penyari, dilakukan
penyarian.dengan cairan penyari baru. Dengan ini diharapkan agar memberikan hasil
penyarian yang maksimal

Hasil penyarian sebelum diuapkan digunakan dulu untuk menyari serbuk simplisia
yang baru,hingga memberikan sari dengan kepekatan yang maksimal.

Penyarian yang dilakukan berulang-ulang akan mendapatkan hasil yang lebih baek
daripada yang dilakukan sekalidengan jimlah pelarut yang sama.

2. Metode sokletasi

sokletasi adalah suatu metode / proses pemisahan suatu komponen yang terdapat
dalam zat padat dengan cara penyaringan berulang ulang dengan menggunakan
pelarut tertentu, sehingga semua komponen yang diinginkan akan terisolasi.

Pengambilan suatu senyawa organik dari suatu bahan alam padat disebut ekstraksi.
Jika senyawa organik yang terdapat dalam bahan padat tersebut dalam jumlah kecil,
maka teknik isolasi yang digunakan tidak dapat secara maserasi, melainkan dengan
teknik lain dimana pelarut yang digunakan harus selalu dalam keadaan panas
sehingga diharapkan dapat mengisolasi senyawa organik itu lebih efesien. Isolasi
semacam itu disebut sokletasi.

Penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara serbuk simplisia ditempatkan
dalam klonsong yang telah dilapisi kertas saring sedemikian rupa, cairan penyari
dipanaskan dalam labu alas bulat sehingga menguap dan dikondensasikan oleh
kondensor bola menjadi molekul-molekul cairan penyari yang jatuh ke dalam
klonsong menyari zat aktif di dalam simplisia dan jika cairan penyari telah mencapai
permukaan sifon, seluruh cairan akan turun kembali ke labu alas bulat melalui pipa
kapiler hingga terjadi sirkulasi. Ekstraksi sempurna ditandai bila cairan di sifon tidak
berwarna, tidak tampak noda jika di KLT, atau sirkulasi telah mencapai 20-25 kali.
Ekstrak yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan.
Gambar 2. Instrumen dalam Ekstraksi
Soxhlet

Nama-nama instrumen dan fungsinya :

a. Kondensor berfungsi sebagai pendingin, dan juga untuk mempercepat proses


pengembunan.
b. Timbal berfungsi sebagai wadah untuk sampel yang ingin diambil zatnya.
c. Pipa F berfungsi sebagai jalannya uap, bagi pelarut yang menguap dari proses
penguapan.
d. Sifon berfungsi sebagai perhitungan siklus, bila pada sifon larutannya penuh
kemudian jatuh ke labu alas bulat maka hal ini dinamakan 1 siklus.
e. Labu alas bulat berfungsi sebagai wadah bagi sampel dan pelarutnya
f. Hot plate berfungsi sebagai pemanas larutan

Kelemahan dan kekurangannya

Keunggulan sokletasi :

a. Sampel diekstraksi dengan sempurna karena dilakukan berulang ulang.


b. Jumlah pelarut yang digunakan sedikit.
c. Proses sokletasi berlangsung cepat.
d. Jumlah sampel yang diperlukan sedikit.
e. Pelarut organik dapat mengambil senyawa organik berulang kali.
Kelemahan sokletasi :

a. Tidak baik dipakai untuk mengekstraksi bahan bahan tumbuhan yang mudah
rusak atau senyawa senyawa yang tidak tahan panas karena akan terjadi
penguraian.
b. Harus dilakukan identifikasi setelah penyarian, dengan menggunakan
pereaksi meyer, Na, wagner, dan reagen reagen lainnya.
c. Pelarut yang digunakan mempunyai titik didih rendah, sehingga mudah
menguap.
3. Metode Perkolasi

Perkolasi adalah proses ekstraksi simplisia dengan jalan melewatkan pelarut yang
sesuai secara lama pada simplisia dalam suatu percolator atau metode ekstraksi cara
dingin yang menggunakan pelarut mengalir yang selalu baru. Perkolasi banyak
digunakan untuk ekstraksi metabolit sekunder dari bahan alam, terutama untuk
senyawa yang tidak tahan panas (termolabil). Ekstraksi dilakukan dalam bejana yang
dilengkapi kran untuk mengeluarkan pelarut pada bagian bawah. Perbedaan utama
dengan maserasi terdapat pada pola penggunaan pelarut, dimana pada maserasi
pelarut hanya di pakai untuk merendam bahan dalam waktu yang cukup lama,
sedangkan pada perkolasi pelarut dibuat mengalir.

Penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara serbuk simplisia dimaserasi selama 3
jam, kemudian simplisia dipindahkan ke dalam bejana silinder yang bagian bawahnya
diberi sekat berpori, cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui simplisia
tersebut, cairan penyari akan melarutkan zat aktif dalam sel-sel simplisia yang dilalui
sampai keadan jenuh. Gerakan ke bawah disebabkan oleh karena gravitasi, kohesi,
dan berat cairan di atas dikurangi gaya kapiler yang menahan gerakan ke bawah.
Perkolat yang diperoleh dikumpulkan, lalu dipekatkan.

4. Metode Refluks

Metode Reflux merupakan metode ektraksi cara panas (membutuhkan pemanasan


pada prosesnya), secara umum pengertian refluks sendiri adalah ekstraksi dengan
pelarut pada temperatur titik didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut yang
ralatif konstan dengan adanya pendingin balik. Ekstraksi dengan cara ini pada
dasarnya adalah ekstraksi berkesinambungan.

Penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara sampel dimasukkan ke dalam
labu alas bulat bersama-sama dengan cairan penyari lalu dipanaskan, uap-uap cairan
penyari terkondensasi pada kondensor bola menjadi molekul-molekul cairan penyari
yang akan turun kembali menuju labu alas bulat, akan menyari kembali sampel yang
berada pada labu alas bulat, demikian seterusnya berlangsung secara
berkesinambungan sampai penyarian sempurna, penggantian pelarut dilakukan
sebanyak 3 kali setiap 3-4 jam. Filtrat yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan.

5. Metode Destilasi uap

Distilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan
perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan.

Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini
kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan. Zat yang memiliki titik didih
lebih rendah akan menguap lebih dulu. Metode ini termasuk sebagaiunit operasi kimia
jenis perpindahan massa. Penerapan proses ini didasarkan pada teori bahwa pada
suatu larutan, masing-masing komponen akan menguap pada titik didihnya. Model
ideal distilasi didasarkan pada Hukum Raoult dan Hukum Dalton.

Penyarian minyak menguap dengan cara simplisia dan air ditempatkan dalam labu
berbeda. Air dipanaskan dan akan menguap, uap air akan masuk ke dalam labu sampel
sambil mengekstraksi minyak menguap yang terdapat dalam simplisia, uap air dan
minyak menguap yang telah terekstraksi menuju kondensor dan akan terkondensasi,
lalu akan melewati pipa alonga, campuran air dan minyak menguap akan masuk ke
dalam corong pisah, dan akan memisah antara air dan minyak atsiri.

6. Ekstraksi Cair-Cair

Ekstraksi cair-cair (liquid extraction, solvent extraction): yaitu pemisahan solute dari
cairan pembawa (diluen) menggunakan solven cair. Campuran diluen dan solven
tersebut bersifat heterogen (immiscible, tidak saling campur), dan jika dipisahkan
terdapat 2 fase, yaitu fase diluen (rafinat) dan fase solven (ekstrak).

Fase rafinat = fase residu, berisi diluen dan sisa solut.

Fase ekstrak = fase yang berisi solut dan solven.

Pemilihan solven menjadi sangat penting. Dipilih solven yang memiliki sifat antara
lain:

a. Solut mempunyai kelarutan yang besar dalam solven, tetapi solven sedikit
atau tidak melarutkan diluen,
b. Tidak mudah menguap pada saat ekstraksi,
c. Mudah dipisahkan dari solut, sehingga dapat dipergunakan kembali,
d. Tersedia dan tidak mahal.

Pada ekstraksi cair-cair, satu komponen bahan atau lebih dari suatu campuran
dipisahkan dengan bantuan pelarut. Proses ini digunakan secara teknis dalam skala
besar misalnya untuk memperoleh vitamin, antibiotika, bahan-bahan penyedap,
produk-produk minyak bumi dan garam-garam. logam. Proses inipun digunakan
untuk membersihkan air limbah dan larutan ekstrak hasil ekstraksi padat cair.

Ekstraksi cair-cair terutama digunakan, bila pemisahan campuran dengan cara


distilasi tidak mungkin dilakukan (misalnya karena pembentukan aseotrop atau
karena kepekaannya terhadap panas) atau tidak ekonomis. Seperti ekstraksi padat-
cair, ekstraksi cair-cair selalu terdiri atas sedikitnya dua tahap, yaltu pencampuran
secara intensif bahan ekstraksi dengan pelarut, dan pemisahan kedua fasa cair itu
sesempurna mungkin.

Berbagai jenis metode pemisahan yang ada, ekstraksi pelarut atau juga disebut juga
ekstraksi air merupakan metode pemisahan yang paling baik dan popular. Pemisahan
ini dilakukan baik dalam tingkat makro maupun mikro. Prinsip distribusi ini
didasarkan pada distribusi zat terlarut dengan perbandingan tertentu antara dua zat
pelarut yang tidak saling bercampur. Batasannya adalah zat terlarut dapat ditransfer
pada jumlah yang berbeda dalam kedua fase terlarut. Teknik ini dapat digunakan
untuk kegunaan preparatif, pemurnian, pemisahan serta analisis pada semua kerja.

Berbeda dengan proses retrifikasi, pada ekstraksi tidak terjadi pemisahan segera dari
bahan-bahan yang akan diperoleh (ekstrak), melainkan mula-mula hanya terjadi
pengumpulan ekstrak (dalam pelarut). Suatu proses ekstraksi biasanya melibatkan
tahap-tahap berikut:

a. Mencampurkan bahan ekstrak dengan pelarut dan membiarkannya saling


kontak. Dalam hal ini terjadi perpindahan massa dengan cara difusi pada
bidang antar muka bahan ekstraksi dan pelarut. Dengan demikian terjadi
ekstraksi yang sebenarnya, yaitu pelarut ekstrak.
b. Memisahkan larutan ekstrak dari refinat, kebanyakan dengan cara
penjernihan atau filtrasi.
c. Mengisolasi ekstrak dari larutan ekstrak dan mendapatkan kembali pelarut.
Umumnya dilakukan dengan mendapatkan kembali pelarut. Larutan ekstrak
langsung dapat diolah lebih lanjut atau diolah setelah dipekatkan.

Gambar 3. Corong pemisah, digunakan ekstraksi cair-cair


BAB III

KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan

Ekstraksi merupakan proses pemisahan, penarikan atau pengeluaran suatu komponen


cairan/campuran dari campurannya.

Beberapa masalah sering dijumpai ketika melakukan ekstraksi pelarut yaitu


terbentuknya emulsi.Emulsi dapat dipecah dengan cara:

1. Penambahan garam ke dalam fase air (salting out)

2. Pemanasan atau pendinginan corong pisah yang digunakan

3. Penyaringan melalui glass-wood

4. Penyaringan dengan menggunakan kertas saring

5. Penambahan sedikit pelarut organic yang berbeda

6. Sentrifugasi

Teknik yang dapat digunakan untuk memisahkan senyawa yang terikat pada protein
meliputi:[20]

1. Penambahan detergen

2. Penambahan pelarut organic yang lain

3. Penambahan asam kuat

4. Pengenceran air

5. Penggantian dengan senyawa yang mampu mengikat lebih kuat

Macam Macam Metode Ekstraksi Adalah sebagai berikut :

1. Maserasi
2. Sokletasi
3. Perkolasi
4. Refluks
5. Destrilasi Uap
6. Ekstraksi Cair Cair
DAFTAR PUSTAKA

Aritikelteknikkimia. ( 28 Desember 2011 ). Ekstraksi Cair Cair. Diperoleh 16 Oktober


2017. Dari http://artikelteknikkimia.blogspot.co.id/2011/12/ekstraksi-cair-cair.html
EndraJuniandi. ( 16, Juli 2016 ). Malakah metode ekstraksi sokletasi. Diperoleh 15
Oktober 2017. Dari http://endrajuniandi.blogspot.co.id/2016/07/makalah-metode-
ekstraksi-sokletasi.html
Headwiqlissundy. ( 15 Desember 2015 ). Makalah fitokimia metode ekstraksi. Diperoleh
16 Oktober 2017. Dari http://headwiqlissundy.blogspot.co.id/2015/12/makalah-
fitokimia-metode-ekstraksi.html
MayaPuspita. ( 12 November 2011 ). Ekstraksi dengan metode maserasi. Diperoleh 16
Oktober 2017. dari https://mayapusmpuspuspita.wordpress.com/2011/11/12/ekstraksi-
dengan-metode-maserasi/
MayaPuspita. ( 26 Oktober 2011 ). Ekstraksi dengan metode destilasi. Diperoleh 16
Oktober 2017. Dari https://mayapusmpuspuspita.wordpress.com/2011/10/26/ekstraksi-
dengan-metode-destilasi/