Anda di halaman 1dari 45

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Magmatisme

Sumberdaya panas bumi (geotermal) tidak mungkin dapat


dipahami tanpa mempelajari mekanisme pembentukan magma dan kegiatan
vulkanisme. Sistem panasbumi dengan suhu yang tinggi terletak pada tempat-
tempat tertentu, yaitu di sepanjang zona vulkanik punggungan pemekaran benua,
di atas zona subduksi, dan di daerah anomali pelelehan dalam lempeng. Batas-
batas pertemuan lempeng yang bergerak merupakan pusat lokasi kemunculan
sistem hidrotermal magma. Transfer energi panas secara konduktif pada
lingkungan tektonik lempeng diperbesar oleh gerakan magma dan sirkulasi
hidrotermal. Energi panas bumi 50% ada di dalam magma, 43% di dalam batu
kering panas (hot dry rock), dan 7% di dalam sistem hidrotermal.

Pada Gambar 2.1. diperlihatkan sistem magmatisme berkomposisi asam


sampai dengan basa. Sumber panas yang menggerakkan konveksi hidrotermal
terdiri daribeberapa macam geometri dan karakteristik, yaitu

1. Sistem magma asam yang besar, membentuk kaldera utama dan kaldera
yang diisi oleh aliran riolit.
2. Zona dapur magma intermediate sampai dengan magma asam.
3. Rangkaian tubuh magma basaltik, andesitik, dasitik, dan riolitik.
4. Kompleks tubuh magma basaltik kecil dan riolitik.
5. Rangkaian korok/dyke basaltik.

Gambar 2.1.
Evolusi dapur magma asam sebagai fungsi kedudukan tektonik (Hidreth1981).
Menurut Hochstein dan Muffler (1995), transfer panas dari kerak terdiri dari:
1. Transfer panas dari busur vulkanik:
a. Transfer panas oleh erupsi vulkanik.
b. Pelepasan panas secara hampir terus menerus dalam jangka tertentu dari
gunungapi aktif dan pelepasan gas dari kerak yang terintrusi.
c. Anomali transfer konduktif yang tinggi.
d. Transfer konveksi yang hampir terus menerus oleh fluida panasbumi.
2. Transfer panas oleh plume, letaknya tidak berkaitan dengan
tektonik lempeng, tetapi selalu berasosiasi dengan pengangkatan dan
banjir basalt yang banyak. Plume mantel mempunyai jari-jari sekitar
500-1000 km,sedangkan pada plume astenosfer, akibat subduksi,
mempunyai jari-jari sekitar 100 km.
3. Transfer panas dari pelelehan subcrustal oleh underplating akibat
pengumpulan dan pemadatan lelehan kerak di bawah kerak benua.
4. Transfer panas yang berasosiasi dengan subcrustal atau pemekaran kerak.
5. Panas yang terjadi akibat deformasi plastis.

Panas dapat berpindah secara konduksi dan konveksi. Perpindahan panas


secara konduksi adalah perpindahan panas melalui bahan akibat adanya
interaksi atomik/molekul penyusun batuan tersebut dalam mantel. Proses
konveksi perpindahan panas terjadi karena molekul penyusun batuan dapat
berpindah atau dengan kata lain perpindahan panas diikuti oleh perpindahan
massa. Kedua proses inilah yang dominan terjadi di dalam bumi.

Sumber panas di dalam kerak akibat magma felsik (asam) yang dihasilkan oleh
kerak yang leleh sebagian adalah:

1. Panas akibat konduksi lokal dari mantel bersuhu tinggi. Konduksi sangat sulit
untuk memanaskan kerak di atas suhu leleh pada jarak antara mantel bersuhu
tinggi dan Moho (>18-19 km).
2. Panas yang didapat dari pengumpulan magma basaltik. Tingkat akumulasi
magma di bagian bawah kerak tergantung dari stress/tegasan di lapangan.
Tegasan tensile menyebabkan pengumpulan magma basaltik di atas tegasan
hidrostatik dan mengurangi jarak antara mantel bersuhu tinggi dan Moho
sehingga secara mekanik mempercepat pelelehan kerak.
Menurut Wright et.al. (1985) sumberdaya panasbumi yaitu:

a. Sumberdaya batu panas (lebur sebagian >600 C , padat/hot dry rock 90 C


-650 C).
b. Sumberdaya konveksi hidrotermal (dominasi uap 240 C, dominasi air
panas 30-350 C).
c. Sumberdaya hidrotermal lainnya yaitu:
1. Cekungan pengendapan/fluida panas pada akifer regional 30 C -
150 C.
2. Geopressured/fluida panas yang tertekan sampi dengan di atas
tekanan hidrostatis 90 C -200 C.
3. Radiogenic/panas yang dihasilkan oleh peluruhan alamiah unsur
radioaktif U, Th, K 30 C -350 C.

Geometri reservoar hidrotermal di daerah vulkanik merupakan hasil interaksi


yang kompleks dari proses vulkano-tektonik aktif antara lain stratigrafi yang lebih
tua dan struktur geologi. Reservoar panasbumi yang produktif harus memiliki
porositas dan permeabilitas yang tinggi, ukuran cukup besar, suhu tinggi, dan
kandungan fluida yang cukup. Permeabilitas dihasilkan oleh karakteristik
stratigrafi (misal porositas intergranular pada lapilli, atau lapisan bongkah-
bongkah lava) dan unsur struktur (misalnya sesar, kekar, dan rekahan).
Sistem hidrotermal akan kehilangan permeabilitas bersamaan dengan
berjalannya waktu oleh tekanan larutan atau pengendapan mineral-mineral
dari air saat mendingin atau kehilangan CO .Sehingga pemeliharaan permeabilitas
memerlukan perekahan periodik. Re-injeksi pada lapangan panasbumi sangat
diperlukan untuk pengisian kembali reservoar yang uapnya telah digunakan
untuk menggerakan turbin dan mencegah polusi kimia.

Gambar 2.2.
Kompleks lava dome, dimana tefra/piroklastik berperan sebagai reservoar
intrusi lava yang baru sekaligus menjadi sumber baru yang memanaskan
reservoar (Wohletz dan Heiken, 1992).
Gambar 2.2. memperlihatkan gambaran skematis dari suatu sistem panasbumi
di daerah vulkanik yang menghasilkan intrusi lava bersifat asam. Lava yang
naik ke atas berasal dari dapur magma yang merupakan sumber panas.
Sedangkan Gambar 2.3 memperlihatkan suatu gambaran model bawah
permukaan yang dibuat berdasarkan data survai gayaberat (gravity) dan
diinterpretasikan sebagai model penampang geologi.

Gambar 2.3.
Penampang penafsiran data gravitasi lapangan panasbumi Lahendong
(Sudarman, Sumintadireja, dan Ushijima, 1996).

2.2. 7 Busur Magmatisme Dan Produk Yang Dihasilkan

Busur magmatisme atau zona erupsi magma pada dasarnya dikontrol


oleh pergerakan lempeng/ permukaan bumi. Pada awalnya sekitar tahun 1960
an berkembanglah teori lempeng tektonik. Tektonik adalah ilmu yang
memepelajari pergerakan dan deformasi lapisan luar bumi dalam skala besar.
Tektonik lemepeng mempelajari hubungan antara deformasi ini dengan keberadaan
dan pergerakan lempeng atau plates di atas selubung atas yang plastis. Kunci
utama tektonik lempeng adalah adanya lempeng litosfer yang padat dan kaku
terapung di atas selubung bagian atas yang bersifat plastis. Kerak bumi dan
selubung teratas bersifat padat disebut litosfer.
Di bawah samudra tebalnya sekitar 50 km dan dibawah benua sampai 100
km. Lapisan di bawah litosfer adalah astenosfer yaitu lapisan lentur, tidak kaku
atau plastis. Lapisan ini sampai pada kedalamn 500 km di dalam selubung. Litosfer
terdiri dari lempeng-lempeng yang besar dan kecil terapung di atas astenosfer
sebagai lempeng benua dan lempeng samudra. Oleh karena tiap lempeng bergerak
sebagai uit tersendiri di permukaan bumi yang bulat, maka interaksi antar lempeng
terjadi pada batas-batas lempeng. Batas-batas lempeng dapat berbentuk :
a. Divergen ; di mana lempeng lempeng bergerak saling menjauh,
mengakibatkan material dari dari selubung naik ke atas memebentuk lantai
samudra yang baru.
b. Konvergen ; di mana lempeng- lempeng bertemu,menyebabkan salah satu
lempeng menyusup di bawah yang lain, masuk ke selubung
c. Transform ; di mana lempeng saling bergesekan, tanpa membentuk atau
merusak litosfer Produk divergen erat kaitannya dengan pemekaran
lempeng dan pemekaran lempeng sering terjadi pada punggungan samudra.
Disini, di mana lempeng saling menjauh sumbu punggungan samudra ,
terbentuk celah yang segera terisi oleh lelehan batuan yang terinjeksi dari
astenosfer di bawahnya.

Material- material ini perlahan mendingin dan membentuk lantai samudra baru.
Bila dua lempeng bertemu atau bertumbukan, ujung salah satu tertekuk (
melengkung ) kebawah dan menyusup di bawah yang lain. Dan terus turun sampai
ke astenosfer. Karena masuk dalam astenosfer yang suhunya tinggi ia menjadi
panas dan kehilangan kekakuannya. Meskipun pada dasarnya semua zona
konvergen sama, akan tetapi tumbukan lempeng ini dipengaruhi dipengaruhi oleh
tipe material kerak yang terlibat. Tumbukan dapat terjadi antar lempeng benua dan
lempeng samudra, tumbukan dua lempeng samudra, dan tumbukan lempeng benua
dan lempeng benua. Hasil dari pergerakan lempeng ini pun di kemas sebagai zona
atau busur magmatisme. Busur magmatisme tersebut adalah

2.2.1. Back Arc Basin


Terbentuk sebagai hasil sampingan dari zona subduksi,yaitu pertemuan
lempeng benua dan lempeng samudra dimana lemepeng samudra tertekuk ke
bawah menyusup di bawah lempeng benua menuju astenosfer. Gejala ini
diperlihatkan oleh menipisnya kerak dan suatu bukaan cekungan yang
melengkung. Oleh karena itu disebut sebagai cekungan belakang zona subduksi.
Sehingga jenis magma yang di hasilkan pada busur ini adalah magma basaltis.

Gambar 2.4.
Back Arc Basin
2.2.2. Volcanic Arc / Continental Arc
Selain back arc basin produk lain dari zona subduksi sebagai busur
magmatisme adalah volcanic arc atau disebut juga continental arc. Terbentuk
dari pertemuan lempeng benua dengan lempeng samudra dimana lempeng
samudra menyusup ke bawah menuju astenosfer. Gejala ini biasanya di perlihatkan
oleh jajaran gunung api di atas lempeng benua sebagai akibat dari dorongan arus
konveksi dari selubung. Produk magma yang dihasilkan adalah magma
intermediet.

Gambar 2.5.
Volcanic Arc / Continental Arc

2.2.3. Mid Oceanic Ridge / MOR


Mid Oceanic Ridge atau disingkat mor merupakan salah satu busur
magmatisme dari pola divergen yaitu pola pergerakan lempeng yang saling
menjauh. Dalam hal ini lempeng yang saling menjauh adalah dua lempeng samudra
di mana gejala yang di timbulkan oleh pergerakan lempeng ini adalah terbentuknya
gunung api di dasar samudra sebagai akibat dari dorongan arus konveksi yang
mendorong lapisan di atasnya . Jenis magma yang di hasilkan di busur magmatisme
ini adalah magma basaltis.

Gambar 2.6.
Mid Oceanic Ridge / MOR
2.2.4. Island Arc
Sama halnya dengan proses yang terjadi pada pembentukan busur magmatis
volcanic arc yaitu pertemuan anatara dua lempeng. Bedanya pada island arc
lempeng yang bertumbuk adalah dua lempeng samudra dimana salah salah satu
lempeng mununjam ke bawah menuju astenosfer kemudian meleleh pada suhu
tertentu yang menyebabkab arus konveksi ke atas yang mendorong lapisan di
atasnya. Sehingga gejalanya diperlihatkan oleh terbentuknya pulau-pulau di tengah
samudra dan juga gunung api kecil. Jenis magma yang di hasilkan di busur
magmatisme ini adalah magma bertipe basaltis.

Island Arc

Gambar 2.7.
Island Arc

2.2.5. Continental Rift Zone


Proses yang terjadi pada zona ini mirip dengan proses pada busur MOR
yaitu pembentukan yang dikontrol oleh pergerakan divergen. Bedanya pada
mor pergerakan lempenng yang saling menjadi antara dua lempeng samudra
sedangkan pada zona ini pergerakan lempenng yang saling menjauh adalah dua
lempeng benua. Gejala yang di perlihatkan adalah terbentuknya gunung-gunung
api muda dan kecil-kecil di atas dataran benua. Jenis magma yang di hasilkan
adalah jenis magma asam.

Gambar 2.8.
Continental Rift Zone
2.2.6. Oceanic Island ( hotspot )
Merupakan busur magmatisme dimana magma menerobos ke atas melalui
arus konveksi tanpa pergerakan lempeng yang terjadi di lantai samudra. Di
interpretasikan bahwa zona magmatisme ini termasuk zona lemah sehingga magma
dapat menerobos ke atas membentuk rangkaian struktur vulkanik ataupun gunung
api. Jenis magma yang dihasilkan adalah magma basaltis.

Gambar 2.9.
Oceanis Island ( Hotspot)

2.2.7. Continental intraplate ( hotspot )


Sama seperti pada proses pembentukan busur magmatisme pada oceanic
island pada busur continental drift juga terbentuk akibat erupsi langsung oleh
magma yang naik ke atas akibat arus konveksi dari selubung. Bedanya pada busur
ini terjadi di lempeng benua. Gejala yang ditimbulkan juga sama yaitu berupa
struktur vulkanik dan gunung api. Sedangkan magma yang dihasilkan adalah
magma asam.

Gambar 2.10.
Continental Interplate ( Hotspot )
2.3. Magmatisme Pada Zona Subduksi
2.3. Magmatisme Pada Zona Subduksi
Konsep tektonik lempeng menjelaskan bahwa kulit bumi terdiri dari
beberapa bagian lempeng yang kaku (rigid), yang bergerak satu sama lain diatas
massa astenosfer yang plastis dengan kecepatan rata-rata 10cm/tahun atau 100
km/10 juta tahun (Morgan, 1968; Hamilton, 1970 dalam Alzwar dkk., 1988).
Berdasarkan konsep tersebut, maka pergerakan lempeng bumi dapat dibagi
menjadi tiga yaitu konvergen (saling bertumbukan), divergen (saling menjauh) dan
transform (saling berpapasan) (Lockwood& Hazlett, 2010), dimana kegiatan
magmatisme akan terjadi pada batas-batas lempeng ini.

Gambar 2.11..
Lokasi-lokasi terbentuknya magma dalam konteks tektonik lempeng. Pada
ilustrasi diatas terlihat jelas bahwa punggungan tengah samudera (MOR)
menempati urutan pertama sebagai penghasil magma terbesar, diikuti oleh zona
subduksi, oceanic intraplate dan continental intraplate (Schmincke, 2003)
Batas lempeng konvergen salah satunya berupa zona subduksi. Zona
subduksi adalah bagian dari permukaan bumi yang dibentuk oleh penenggelaman
(subduksi) dari lempeng litosfer yang dingin dan tebal sampai ke mantel bumi
(Tatsumi & Eggins, 1995). Zona subduksi dicirikan oleh pembentukan palung-
palung laut dalam, rantai gunung api (Perfit& Davidson, 2000) serta konsentrasi
hiposenter gempa bumi yang tinggi (kebanyakan pada kedalaman 100 km sampai
> 600 km) pada zona Wadati-Benioff (Schmincke, 2003). Subduksi ini akan
membawa batuan dengan komposisi kimia beragam ke dalam mantel seperti kerak
samudera basaltik, peridotit dan sedimen laut dalam (Tatsumi & Eggins, 1995).
Proses subduksi biasanya akan termanifestasi dalam bentuk magmatisme dan
vulkanisme seperti pada Ring of Fire di Samudera Pasifik (Tatsumi & Eggins,
1995).
Proses magmatisme ini terutama dipengaruhi oleh volatil (H2O) yang
terbawa oleh kerak samudera yang menunjam dimana akan mendorong terjadinya
pelelehan sebagian (partial melting). Pelelehan sebagian ini disebabkan oleh
dehidrasi mineral-mineral pembawa air pada kerak samudera yang menunjam
seperti amfibol (d=110 km) dan plogophit (d=200 km) (Tatsumi & Eggins, 1995).

Gambar 2.12.
Vulkanisme diatas zone subduksi. Penunjaman dari kerak samudera yang dingin
menyebabkan upwelling dari mantel panas dibawah busur vulkanik. Senyawa
volatil seperti H2O dilepaskan dari kerak samudera ke mantel diatasnya
sehingga menyebabkan pelelehan (Sigurdsson, 2000)
2.3.1.Pembentukan Magma pada Zona Subduksi
Proses pembentukan magma diperoleh modelnya menggunakan titik leleh
batuan peridotit. Peridotit dipilih karena merupakan penyusun mantel sebagai
sumber asal magma. Pada batuan ini, pelelehan dapat terjadi karena perubahan 3
parameter dasar :tekanan (P), temperatur (T) dan komposisi kimia (X), yaitu
(Schmincke, 2003):
Gambar 2.13.
Tiga model pembentukan magma basa oleh pelelehan sebagian (partial melting)
peridotit dimana a= penambahan temperatur, b=pengurangan tekanan
c=penambahan H2O dan CO2 (Schmincke, 2003)

- Kenaikan temperatur (T) pada kondisi P dan X yang konstan


- Penurunan tekanan P pada T dan X yang konstan
- Perubahan X pada P dan T yang konstan (terutama penambahan fluida
khususnya H2O dan CO2)
- Kombinasi antara satu faktor dengan faktor yang lain (Lockwood &
Hazlett, 2010)

Atom yang menyusun kristal/mineral mempunyai nomor proton dan elektron


tertentu, dan atom yang bermuatan sering disebut ion. Jika energi panas mengenai
ion tersebut, maka akan menyebabkan ikatannya melemah sehingga akhirnya
terjadi pelelehan (Lockwood & Hazlett, 2010). Jika terjadi fluxing atau
percampuran antara mineral dengan mineral/senyawa lainnya, titik pelelehannya
bisa menjadi lebih rendah (Lockwood & Hazlett, 2010)
Kenaikan temperatur pada P&X yang konstan

Berdasarkan percobaan pada peridotit, kenaikan temperatur pada tekanan dan


komposisi kimia konstan dapat menyebabkan suatu batuan mengalami pelelehan
sebagian. (Schimnke, 2003).
Ada beberapa teori yang menyebutkan tentang sumber panas penyebab
kenaikan temperatur, salah satunya adalah peluruhan dari unsur-unsur radioaktif
seperti U, Th dan K yang jumlahnya melimpah sejak pembentukan bumi pada 4,6
milyar tahun yang lalu (Schimnke, 2003) menjadi mineral-mineral yang lebih stabil
dan ringan (Lockwood & Hazlett, 2010). Panas ini terlepas secara konstan dengan
cara bermigrasi ke permukaan bumi yang lebih dingin dan akhirnya teradiasi ke
atmosfer. Selain itu, sumber panas juga bisa berasal dari proses friksi mekanik yang
menghasilkan pelelehan sebagian contohnya pada bagian dasar lempeng litosfer
yang bergerak di sepanjang zona Wadati Benioff.

Tabel 2.1.
Kontribusi relatif dari panas yang dihasilkan oleh peluruhan radioaktif
berdasarkan studi geonutrino (Araki et al (2005) dalam Lockwood & Hazlett
(2010))
Penurunan Tekanan pada Suhu dan Komposisi Kimia yang tetap

Ketika temperatur dari suatu batuan mantel konstan, maka penurunan tekanan
bisa menyebabkan pelelehan sebagian (Schminke, 2003) karena tekanan akan
menjaga ikatan antar ion tetap kuat sehingga strukturnya tetap kristalin
(Lockwood & Hazlett, 2010). Dengan kata lain, panas internal dari batuan yang
naik selama penurunan tekanan cukup untuk memicu terjadinya pelelehan. Proses
ini sangat tepat untuk sistem padatan kering, contohnya ketidakhadiran fluida
(Schminke, 2003)

Proses penurunan tekanan dari material mantel yang naik merupakan


mekanisme pembentukan magma yang paling penting (Schminke, 2003) karena
kebanyakan aktivitas gunung api di dunia dihasilkan dari pelelehan karena
penurunan tekanan ini (Lockwood & Hazlett, 2010)
Penambahan unsur kimia pada suhu dan tekanan yang tetap

Pada proses pembentukan magma yang ketiga, tekanan (P) dan temperatur (T)
adalah dalam kondisi konstan, akan tetapi dengan adanya penambahan fase fluida
seperti H2O dan CO2 maka akan menyebabkan titik pelelehan batuan menjadi
lebih rendah.

Gambar 2.14.
Grafik yang menunjukkan penurunan titik leleh akibat penambahan H2O dan
CO2 pada magma. Suhu pada saat magma belum terkena penambahan unsur
kimia disebut dry solidus (Sigurdsoon, 2000)

2.3.2. Komposisi Magma

Magma merupakan istilah yang diberikan untuk campuran material padat


dan cair yang bersifat mudah bergerak. Pada bumi, material cair (liquid) ini
merupakan campuran dari silikat kompleks dan gas-gas terlarut seperti air,
karbondioksida dan senyawa-senyawa lainnya (Rogers & Hawkesworth, 2000).
Karena batuan beku merupakan manifestasi magma yang paling mudah
diidentifikasi, maka komposisi magma biasa ditentukan menggunakan komposisi
batuan beku. Komposisi batuan beku diuraikan dalam bentuk unsur mayor, unsur
minor dan unsur jarang (Rogers & Hawkesworth, 2000). Unsur-unsur tersebut
menurut Rogers & Hawkesworth (2000) antara lain:
a. Unsur mayor adalah unsur yang mempunyai kelimpahan oksida > 1wt.%,
mengontrol sifat magma serta merupakan penyusun utama mineral esensial.
Contoh: SiO2, Al2O3, FeO, Fe2O3, CaO, MgO dan Na2O
b. Unsur minor mempunyai kelimpahan oksida 0,1-1 % , sebagai pengganti
dari unsur mayor pada mineral esensial atau bisa membentuk sejumlah kecil
mineral aksesoris. Contoh: K2O, TiO2, MnO dan P2O5
c. Unsur jarang mempunyai kelimpahan oksida < 0,1 % berat serta sebagai
pengganti dari unsur mayor maupun unsur minor pada mineral esensial
maupun aksesoris. Contoh: LILE (Cs, Rb, K, Ba, Sr, Pb), HFSE (Sc, Y, Th,
U, Pb, Zr)
d. Unsur volatil dan oksida, pada bagian bumi yang dalam semua unsur volatil
akan larut dalam magma, tetapi ketika tekanan berkurang karena
pergerakan magma keatas maka gas akan membentuk fase uap yang
terpisah dari magma (Nelson, 2012) Contoh: H2O, CO2, SO2, F, Cl, etc.

2.3.3 Diferensiasi Magma


2.3.3.1 Proses Fraksinasi Kristalisasi Magma
Diferensiasi adalah proses dimana terbentuk magma turunan yang secara
kimia dan mineralogi berbeda dari magma asal (parental magma) (Schmincke,
2003).

Gambar 2.15.
Ilustrasi proses fraksinasi kristalisasi pada dapur magma (Tarbuck & Lutgens,
2004)
Diferensiasi diperkirakan terjadi pada dapur magma dengan kedalaman
lebih dari 10 kilometer di kerak bumi, ketika magma dalam kondisi stagnan,
mendingin secara perlahan dan mulai mengkristal (Schmincke, 2003). Proses
diferensiasi meliputi dua hal yaitu fraksinasi kristalisasi (mekanisme utama) dan
asimilasi (Schmincke, 2003).
Selama proses fraksinasi kristalisasi, kristal-kristal mineral yang lebih berat (berat
jenis tinggi) akan tenggelam dalam magma yang berkomposisi lebih asam
membentuk timbunan kristal (cumulates) (Schmincke, 2003).
2.3.3.2 Proses Asimilasi dan Magma Mixing
Proses diferensiasi yang lain yakni asimilasi dan percampuran magma
(magma mixing). Asimilasi ini merupakan perubahan komposisi magma, sebagai
akibat adanya reaksi antara magma dengan batuan dinding yang berkomposisi
berbeda (Schmincke, 2003). Proses asimilasi ini bisa mengubah komposisi kimia
magma secara lebih jauh (Schmincke, 2003). Sedangkan percampuran magma
(magma mixing) ini terjadi ketika magma dari dua dapur magma yang berbeda
menyatu sehingga membentuk magma baru dengan komposisi campuran antara
keduanya.

Gambar 2.16.
Ilustrasi proses asimilasi dan proses percampuran magma yang terjadi pada
dapur magma (Tarbuck & Lutgens, 2004)
Selanjutnya, proses diferensiasi ini akan menyebabkan perubahan komposisi kimia
pada magma menjadi lebih asam (felsic) pada perjalanannya keatas sebelum
mencapai permukaan bumi. Magma yang sudah mengalami perubahan komposisi
kimia akibat proses diferensiasi ini disebut magma turunan (Schminke, 2003).
2.4. Sistem Panas Bumi
Sumber panas bumi berasal dari distribusi suhu dan energi panas di bawah

permukaan bumi. Sumber panas di bawah permukaan ini berasal dari intrusi

magma yang menerobos ke permukaan. Magma ini terbentuk karena tumbukan

antar lempeng, lempeng-lempeng ini bergerak secara perlahan-lahan dan menerus.

Karena panas di dalam astenosfer dan panas akibat gesekan, ujung dari lempengan

tersebut hancur meleleh dan mempunyai temperatur tinggi seperti Gambar 2.17.

(proses magmatisasi).

Gambar 2.17
Proses magmatisasi karena tumbukan antar lempeng (Anonim, 2013)

Pada dasarnya sistem panasbumi terbentuk sebagai hasil perpindahan panas dari

suatu sumber panas ke sekelilingnya yang terjadi secara konduksi dan secara

konveksi. Perpindahan panas secara konduksi terjadi melalui batuan, sedangkan

perpindahan panas secara konveksi terjadi karena adanya kontak antara air dengan

suatu sumber panas.


Pada Gambar 2.18. memperlihatkan model konseptual panasbumi seperti rekahan

dan patahan yang terdapat di permukaan membuat air dapat masuk ke dalam pori-

pori batuan. Air ini lalu menembus ke bawah maupun ke samping selama ada celah

untuk air dapat mengalir. Ketika air samapai ke sumber panas (heat source) maka

temperatur air akan meningkat, maka air akan menguap sebagian dan sebagian lagi

akan tetap menjadi air dengan suhu yang tinggi. Fluida panas ini mentransfer panas

ke batuan sekitar dengan proses konveksi, jika temperatur meningkat maka akan

mengakibatkan bertambahnya volume dan juga tekanan.

Gambar 2.18.
Model konseptual Sistem Panasbumi (Putrohari, 2009)
Fluida panas akan menekan batuan sekitarnya untuk mencari celah atau

jalan keluar dan melepaskan tekanan. Karena tekananya lebih tinggi dibandingkan

tekanan di permukaan maka fluida akan bergerak naik melalui celah-celah. Fluida

tersebut akan keluar sebagai manifestasi permukaan. Bisa dikatakan bahwa dengan

adannya pemunculan beberapa manifestasi terdapat sistem panasbumi dibawah

permukaan daerah sekitar tempat pemunculan manifestasi-manifestasi seperti mata

air panas, kubangan lumpur panas (mud pools), geyser dan manifestasi panasbumi

lainnya.

Sercara garis besar sistem panasbumi dikontrol oleh adanya sumber panas (heat
source), batuan reservoir, lapisan penutup, keberadaan struktur geologi dan daerah
resapan air (Suharno, 2010).
Hochstein dan Browne, (2000) mengkategorikan sistem panasbumi menjadi tiga

sistem, yaitu :

1. Sistem hidrotermal, merupakan proses transfer panas dari sumber panas ke

permukaan secara konveksi, yang melibatkan fluida meteoric dengan atau

tanpa jejak dari fluida dari magmatic. Daerah rembesan berfasa cair dilengkapi

air meteoric yang berasal dari daerah resapan. Sistem ini terdiri atas : sumber

panas, reservoir dengan fluida panas, daerah resapan dan daerah rembesan

panas berupa manifestasi

2. Sistem vulkanik, merupakan proses transfer panas dari dapur magma ke

permukaan melibatkan konveksi fluida magma. Pada sistem ini jarang

ditemukan adanya fluida meteoric.

3. Sistem vulkanik-hidrotermal, merupakan kombinasi dua sistem di atas, yang

diwakili dengan air magmatik yang naik kemudian bercampur dengan air

meteorik.
2.5. Sistem Geotermal dalam Kerangka Tektonik Lempeng
Suhu yang sangat tinggi pada mantel cukup untuk memanasi batuan di
sekitarnya dan menyebabkan terjadinya pelelehan (melting). Batuan yang
meleleh ini disebut magma. Magma yang bersifat liquid ini memiliki densitas
yang rendah daripada macam keperluan, seperti pembangkit tenaga listrik,
pemakaian langsung untuk batuan kompak di sekitarnya, sehingga cenderung
untuk bergerak ke atas menuju permukaan bumi. Dalam perjalanannya menuju
permukaan bumi, kebanyakan magma tidak sampai permukaan melainkan
tinggal di bawah permukaan bumi dan memanasi batuan sekitarnya dan air yang
terkandung dalam batuan tersebut. Magma juga dapat keluar ke permukaan bumi
melalui aktifitas vulkanisme sebagai lava. Energi geotermal yang digunakan oleh
manusia bukanlah energi yang berasal secara langsung dari magma. Manusia
mengekstraksi air yang dipanaskan oleh magma sebagai sumber energi panas
bumi. Energi inilah yang dipergunakan untuk berbagai kolam air panas, dan
sebagainya
Untuk memahami kondisi alamiah dan mengetahui keberadaan
sumberdaya geotermal, perlu dipelajari proses-proses yang menghasilkan
anomali panas bumi tersebut. Secara umum dapat dikatakan proses yang
menghasilkan pembentukan anomali geotermal adalah proses transfer panas ke
permukaan bumi yang disebabkan oleh magma. Proses ini akan menghasilkan
anomali geotermal yang disebabkan oleh aktivitas magmatik. Panas yang dibawa
ini kemudian disimpan untuk sementara (sementara dalam kerangka skala
umur geologi) di dalam kerak bumi dekat permukaan (<10 km; Muffler, 1976
opcit Raybach-Muffler 1981). Magma yang bergerak ke atas menuju kerak bumi
dibedakan antara magma basaltik dan magma silisik. Magma basaltik berasal
dari material dalam mantel yang mengalami partial melting. Apabila magma
ini muncul ke permukaan dan membentuk dyke-dyke serta thin sheet (sill)
maka energi panasnya dilepas dengan cepat sehingga tidak akan terbentuk tubuh
intrusi yang besar.
Tetapi apabila magma ini membeku di kerak bumi pada regime ekstensi,
maka dapat meningkatkan heat flow regional yang kemudian memicu konveksi
hidrotermal di sepanjang sesar-sesar yang terbentuk karena regime konveksi ini.
Magma silisik dapat dihasilkan dari material-material mantel yang mengalami
partial melting ataupun dari diferensiasi magma basaltik. Magma ini memiliki
viskositas yang besar (dibandingkan dengan magma basaltik) sehingga seringkali
terperangkap beberapa kilometer di dalam kerak bumi. Di daerah kontinen,
sumber daya panas bumi umumnya berasosiasi dengan vulkanisme silisik daripada
basaltik.
Aktivitas magmatik dalam skala regional dapat diamati dalam kerangka
tektonik lempeng. Dengan mengetahui jalur aktifitas magmatik ini maka dapat
ditentukan daerah-daerah yang secara geografis memiliki potensi sumber panas
bumi. Konsep tektonik lempeng menyebutkan bahwa magma yang menuju ke
permukaan bumiumumnya berada di sepanjang tepian lempeng (plate boundaries).
Gambar 2.19
.Distribusi daerah geotermal dunia dalam kerangka tekoniknya (Raybach dan
Muffler 1981).

Dengan demikian dapat ditarik suatu hipotesa bahwa sumberdaya


panasbumi yang disebabkan oleh aktifitas magmatik atau intrusi magma
diduga akan berada di sepanjang daerah pemekaran lempeng (spreading
ridges), daerah subduksi (convergent margin), dan peluruhan batuan di tengah
lempeng (intraplate melting anomalies). Gambar 2.19. memperlihatkan
kerangka tektonik bumi dan daerah geotermal yang telah diketahui.

2.6. MANIFESTASI PANASBUMI DI PERMUKAAN


Berbeda dengan sistim minyak-gas, adanya suatu sumber daya panasbumi
di bawah permukaan sering kali ditunjukkan oleh adanya manifestasi panasbumi di
permukaan (geothermal surface manifestation), seperti mata air panas, kubangan
lumpur panas (mud pools), geyser dan manifestasi panasbumi lainnya, dimana
beberapa diantaranya, yaitu mata air panas, kolam air panas sering dimanfaatkan
oleh masyarakat setempat untuk mandi, berendam, mencuci, masak dll. Manifestasi
panasbumi di permukaan diperkirakan terjadi karena adanya perambatan panas dari
bawah permukaan atau karena adanya rekahan-rekahan yang memungkinkan fluida
panasbumi (uap dan air panas) mengalir ke permukaan.

Gambar 2.20
Jenis-jenis Manifestasi Permukaan
Gambar 2.20. memperlihatkan jenis-jenis manifestasi panasbumi di permukaan.
Daerah dimana terdapat manifestasi panasbumi di permukaan biasanya merupakan
daerah yang pertama kali dicari dan dikunjungi pada tahap eksplorasi. Dari
karakterisasi manifestasi panasbumi di permukaan serta kandungan kimia air kita
dapat membuat berbagai perkiraan mengenai sistim panasbumi di bawah
permukaan, misalnya mengenai jenis dan temperatur reservoir. Sebagai ilustrasi
pada Gambar 2.21. diperlihatkan manifestasi panasbumi di lapangan Kamojang

Gambar 2.21.
Manifestasi Permukaan di Lapangan Panasbumi Kamojang (Photo: Sutopo,
1995)
2.6.1. Tanah Hangat (Warm Ground)
Adanya sumber daya panasbumi di bawah permukaan dapat ditunjukkan antara lain
dari adanya tanah yang mempunyai temperatur lebih tinggi dari temperatur tanah
disekitarnya. Hal ini terjadi karena adanya perpindahan panas secara konduksi dari
batuan bawah permukaan ke batuan permukaan
Berdasarkan pada besarnya gradien temperatur, Armstead (1983)
mengklasifikasikan area di bumi sebagai berikut:
Area tidak panas (non-thermal area)
Suatu area diklasifikasikan sebagai area tidak panas apabila gradien temperatur
di area tersebut sekitar 10-40oC/km.
Area panas (thermal area)
Area panas dibedakan menjadi dua, yaitu
Area semi thermal, yaitu area yang mempunyai gradien temperatur sekitar
70-8OoC/km.
Area hyperthermal, yaitu area yang mempunyai gradien temperatur sangat
tinggi. Contohnya adalah di Lanzarote (Canary Island) besarnya gradien
temperatur sangat tingigi sekali hingga besarnya tidak lagi dinyatakan
dalam 0C/km tetapi dalam oC/cm.

Besarnya laju aliran panas (Q) dapat ditentukan dari data konduktivitas panas
batuan pada lapisan paling atas (K) dan dari data gradien temperatur di dekat
permukaan (dT/dz). Secara matematis besarnya laju aliran panas secara konduksi
tersebut dapat dinyatakan sebagai berikut: Q = - K (dT/dz)
Tanah hangat umumnya terjadi di atas tempat terdapatnya sumber daya panasbumi
atau di daerah sekitarnya di mana terdapat manifestasi panasbumi lainnya yang
memancarkan panas lebih kuat, misalnya di sekitar daerah dimana ada uap panas
keluar dari tanah atau steaming ground, atau di daerah sekitar kolam air panas.
Pertumbuhan tumbuh-tumbuhan umumnya tidak terganggu, kecuali bila besarnya
gradien temperatur lebih besar dari 25-30oC/km.
Adanya tanah hangat dapat diketahui dengan mengukur gradien temperatur hingga
kedalaman 1-2 meter. Pengukuran temperatur umumnya dilakukan dengan
membuat lubang hingga kedalaman 1-2 meter. Temperatur di permukaan dan pada
kedalaman 1 meter biasanya diukur dengan menggunakan thermometer atau
thermocouple. Dari data tersebut dapat dihitung besarnya gradien temperatur pada
suatu titik pengamatan.
Untuk mendapatkan gambaran mengenai temperatur di suatu daerah secara
menyeluruh perlu dilakukan pengukuran di beberapa tempat. Dari data yang
diperoleh kemudian dibuat peta temperatur (T-map). Apabila tanah permukaan
yang hangat tersebut terletak di daerah di mana tejadi perubahan musim, variasi
temperatur perlu dikoreksi. Survey seperti dijelaskan diatas sebaiknya dilakukan
diseluruh daerah di mana terdapat manifestasi panasbumi di permukaan. Contoh:
Pengukuran di El Tatio (Chili).
Pengukuran temperatur di daerah ini dilakukan pada kedalaman 2 meter dan
mencakup daerah seluas 20 km2. Survey ini dilakukan dalam jangka waktu
1 tahun.
Pengukuran di lapangan Kamojang (Jawa Barat).
Pengukuran temperatur dilakukan pada kedalaman 0.7 meter dengan jarak
tidak tetap di sepanjang jalan utama dan jalan setapak. Hal ini dilakukan
agar seluruh daerah di mana terdapat uap panas keluar ke permukaan
(steaming ground) dapat tercakup. Dengan mempertimbangkan hal tersebut
survey dilakukan di daerah seluas 1.5 km2. Survey ini dilakukan dalam
waktu sekitar 3 minggu.

Survey yang dilakukan di El Tatio mungkin terlalu lama, sedangkan survey yang
dilakukan di Kamojang dapat dikatakan terlalu singkat.

2.6.2. Permukaan Tanah Beruap (Steaming Ground)


Di beberapa daerah terdapat tempat-tempat di mana uap panas (steam) nampak
keluar dari permukaan tanah. Jenis manifestasi panasbumi ini disebut steaming
ground. Diperkirakan uap panas tersebut berasal dari suatu lapisan tipis dekat
permukaan yang mengandung air panas yang mempunyai temperatur sama atau
lebih besar dari titik didihnya (boiling point).
Besarnya temperatur di permukaan sangat tergantung dari laju aliran uap (steam
flux). Elder (1966) mengelompokkan steaming ground berdasarkan pada besarnya
laju aliran panas seperti diperlihatkan pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2
Steaming Ground
(Elder, 1966)

Tingkat Laju Aliran Panas


Kekuatan (J/s.m2)
Sangat Kuat 500-5000
Kuat 50-500
Lemah <50

intensitas panas di daerah steaming ground diperkirakan dari besarnya gradien


temperatur. Pemetaan temperatur dilakukan dengan cara membagi daerah tersebut
menjadi sejumlah blok berukuran sama, di mana jarak antara satu tempat
pengukuran ke tempat pengukuran lainnya (titik pusat blok) berjarak sekitar 20
meter. Untuk mengukur temperatur dapat digunakan bimetallic strip type
thermometer. Apabila pengukuran temperatur dilakukan di seluruh daerah tersebut,
peta temperatur dapat dibuat dengan skala yang umum digunakan yaitu 1:200 atau
1:100 dan kemudian besarnya kehilangan panas (heat loss) dapat dihitung.
Metoda lain yang dapat digunakan untuk memetakan daerah steaming ground
adalah dengan menggunakan airborne infra-red. Metoda pengukuran cara ini
merupakan metoda pengukuran yang tercepat tetapi sangat mahal.

Steaming ground sangat berbahaya bagi mahluk hidup karena temperatur di daerah
tersebut umumnya cukup tinggi (Gradien temperatur umumnya lebih besar dari
300C/m). Di daerah di mana terdapat steaming ground umumnya tumbuh-
tumbuhan tidak tumbuh karena temperatur yang terlampau tinggi.

2.6.3 Mata Air Panas Atau Hangat (Hot or Warm Spring)

Mata air panas/hangat juga merupakan salah satu petunjuk adanya sumber
daya panasbumi di bawah permukaan. Mata air panas/hangat ini terbentuk karena
adanya aliran air panas/hangat dari bawah permukaan melalui rekahan-rekahan
batuan. Istilah hangat digunakan bila temperatur air lebih kecil dari 50oC dan
istilah panas digunakan bila temperatur air lebih besar dari 50oC.
Sifat air permukaan seringkali digunakan untuk memperkirakan jenis reservoir di
bawah permukaan.
Mata air panas yang bersifat asam biasanya merupakan manifestasi
permukaan dari suatu sistim panasbumi yang didominasi uap.
Sedangkan mata air panas yang bersifat netral biasanya merupakan
manifestasi permukaan dari suatu sistim panasbumi yang didominasi air.
Mata air panas yang bersifat netral, yang merupakan manifestasi permukaan
dari sistim dominasi air, umumnya jenuh dengan silika.
Apabila laju aliran air panas tidak terlalu besar umumnya di sekitar mata air
panas tersebut terbenntuk teras-teras silika yang berwarna keperakan (silica
sinter terraces atau sinter platforms). Bila air panas banyak mengandung
Carbonate maka akan terbentuk teras-teras travertine (travertine terrace).
Namun di beberapa daerah, yaitu di kaki gunung, terdapat mata air panas
yang bersifat netral yang merupakan manifestasi permukaan dari suatu
sistim panasbumi dominasi uap.

2.6.4 Kolam Air Panas (Hot Pools)

Adanya kolam air panas di alam juga merupakan salah satu petunjuk adanya
sumber daya panasbumi di bawah permukaan. Kolam air panas ini terbentuk karena
adanya aliran air panas dari bawah permukaan melalui rekahan-rekahan batuan.
Pada permukaan air terjadi penguapan yang disebabkan karena adanya perpindahan
panas
dari permukaan air ke atmosfir. Panas yang hilang ke atmosfir sebanding dengan
luas area kolam, temperatur pada permukaan dan kecepatan angin.
Kolam air panas dibedakan menjadi tiga, yaitu:
kolam air panas yang tenang (calm pools)
kolam air panas yang mendidih (boiling pools)
kolam air panas yang bergolak (ebulient pools).

Temperatur pada calm pools umumnya di bawah temperatur titik didih (boiling
point). Disini laju aliran air umumnya kecil sekali. Pada boiling pools temperatur
adalah temperatur titik didihnya boiling pools seringkali disertai dengan semburan
air panas, oleh karena itu boiling pools seringkali diklasifikasikan sebagai hot
springs atau mata air panas. Pada ebulient pools yaitu kolam air panas yang
bergolak, adanya letupan-letupan kuat yang muncul secara tidak beraturan
disebabkan karena terlepasnya uap panas pada suatu kedalaman di bawah
permukaan air. Letupan -letupan kecil dapat juga disebabkan karena adanya non-
condensible gas seperti C02.

Gambar 2.22.
Kolam Air Panas di Lapangan Orakei Korako,
New Zealand (Photo: Yanfidra, 1995)

Air panas dapat berasal dari suatu reservoar air panas yang terdapat jauh di bawah
permukaan atau mungkin juga berasal dari air tanah yang menjadi panas karena
pemanasan oleh uap panas.

Bila air tersebut berasal dari reservoar panasbumi maka air tersebut hampir
selalu bersifat netral. Disamping itu air tersebut umumnya jemih dan
berwarna kebiruan.
Bila air tersebut berasal dari air tanah yang menjadi panas karena
pemanasan oleh uap panas maka air yang terdapat di dalam kolam air panas
umumnya bersifat asam. Sifat asam ini disebabkan karena tejadinya
oksidasi H2 didalam uap panas. Kolam air panas yang bersifat asam (acid
pools) umumnya berlumpur dan kehijau-hijauan. Kolam air panas yang
bersifat asam mungkin saja terdapat diatas suatu reservoar air panas.
Gambar 2.23.
Kolam Air Panas di Lapangan Orakei Korako,
New Zealand (Photo:Nenny Saptadji, 1992)

Gambar 2.24.
Kolam Air Panas di Lapangan Ohaki, New Zealand (Photo: Yanfidra, 1995)
2.6.5 Telaga Air Panas (Hot Lakes)

Telaga air panas pada dasamya juga kolam air panas, tetapi lebih tepat
dikatakan telaga karena luasnya daerah permukaan air. Umumnya istilah telaga
dipakai bila luas permukaannya lebih dari 100 m2. Telaga air panas sangat jarang
terdapat di alam karena telaga air panas terjadi karena hydrothermal eruption yang
sangat besar. Contohnya adalah danau Waimangu di New Zealand.
Bila didalam telaga terjadi konveksi, temperatur pada umumnya tidak
berubah terhadap kedalaman. Telaga air panas dapat terjadi di daerah dimana
terdapat reservoar dominasi air ataupun didaerah dimana terdapat reservoar
dominasi uap. Semua telaga air panas yang mempunyai temperatur didasar danau
mendekati titik didih sangat berbahaya dan merupakan tempat yang sangat
memungkinkan untuk tejadinya hidrothermal eruption.

2.6.6 Fumarole

Fumarole adalah lubang kecil yang memancarkan nap panas kering (dry steam)
atau uap panas yang mengandung butiran-butiran air (wet steam).
Apabila uap tersebut mengandung gas H2S maka manifestasi permukaan
tersebut disebut solfatar. Fumarole yang memancarkan uap dengan
kecepatan tinggi kadang-kadang juga dijumpai di daerah tempat terdapatnya
sistim dominasi uap. Uap tersebut mungkin mengandung S02 yang hanya
stabil pada temperatur yang sangat tinggi (>500oC).
Fumarole yang memancarkan uap dengan kandungan asam boric tinggi
umumnya disebut soffioni.

Hampir semua fumarole yang merupakan manifestasi permukaan dari sistim


dominasi air memancarkan uap panas basah. Temperatur uap umumnya tidak lebih
dari 100oC. Fumarole jenis ini sering disebut fumarole basah (wet fumarole).
Di daerah dimana terdapat sistim dominasi uap dapat dijumpai wet fumarole juga
dry fumarole, yaitu fumarole yang memancarkan uap bertemperatur tinggi, yaitu
sekitar 100-150oC. Fumarole jenis ini sangat jarang dijumpai di alam, salah satu
contohnya adalah fumarole di Ketetahi (NZ). Kecepatan fumarole jenis ini
umumnya sangat tinggi (>100 mis).
2.6.7 Geyser

Geyser (Gambar 2.25 dan 2.26) didefinisikan sebagai mata air panas yang
menyembur ke udara secara intermitent (pada selang waktu tak tentu) dengan
ketinggian air sangat beraneka ragam, yaitu dari kurang dari satu meter hingga
ratusan meter. Selang waktu penyemburan air (erupsi) juga beraneka ragam, yaitu
dari beberapa detik hingga beberapa hari. Lamanya air menyembur ke pemukaan
juga sangat beraneka ragam, yaitu dari beberapa detik hingga beberapa jam. Geyser
merupakan manifestasi permukaan dari sistim dominasi air.

Gambar 2.25
Prince of Wales Feathers dan Pohutu Geyser di Daerah Whakarewarewa-
Rotorua, New Zealand, pada waktu erupsi (Photo: Nenny Saptadji, 1993)

Gambar 2.26
Prince of Wales Feathers dan Pohutu Geyser di Daerah Whakarewarewa-
Rotorua setelah aktivitasnya menurun. (Photo: Nenny Saptadji, 1993)
2.6.8 Kubangan Lumpur Panas (Mud Pools)

Kubangan lumpur panas (Gambar 2.27 s.d. 2.29) juga merupakan salah satu
manifestasi panasbumi di permukaan. Kubangan lumpur panas umumnya
mengandung non-condensible gas (CO2) dengan sejumlah kecil uap panas. Lumpur
terdapat dalam keadaan cair karena kondensasi nap panas. Sedangkan letupan-
letupan yang tejadi adalah karena pancaran C02

Gambar 2.27
Mud Pools di lapangan Rotorua, New Zealand (Postcard dari Friend Wholesale,
Rotorua)

Gambar 2.28
Mud Pool di Lapangan Rotorua, New Zealand (Postcard )
Gambar 2.29
Mud Pool di Lapangan Kamojang (Photo: Sutopo, 1996)
2.6.9. SILIKA SINTER

Silika sinter (Gambar 2.13 s.d 2.15) adalah endapan silika di permukaan
yang berwarna keperakan. Umumnya dijumpai disekitar mata air panas dan lubang
geyser yang menyemburkan air yang besifat netral. Apabila laju aliran air panas
tidak terlalu besar umumnya disekitar mata air panas tersebut terbentuk teras-teras
silika yang berwarna keperakan (silica sinter teraces atau sinter platforms). Silika
sinter merupakan manifestasi pernukaan dari sistim panasbumi yang didominasi air.

Gambar 2.30
Silika Sinter yang Terbentuk di Sekitar Waikorohihi Geyser New Zealand
(Photo: Nenny Saptadji, 1992)
Gambar 2.31
Hochestetter Pool dengan Latar Belakang Terase Silika Sinter di Lapangan
Orakei Korako (New Zealand). Kolam Air Panas ini dulunya adalah geyser,
tetapi sejak tahun 1955 tidak lagi aktif dan berubah menjadi kolam air panas.
(Postcard dari Pictorial Publications Limited)

Gambar 2.32
Silika Sinter di Sekitar Kolam Air Panas (Photo: Yanfidra, 1995)
2.6.10 BATUAN YANG MENGALAMI ALTERASI
Alterasi hidrothermal merupakan proses yang terjadi akibat adanya reaksi
antara batuan asal dengan fluida panasbumi. Batuan hasil alterasi hidrotermal
tergantung pada beberapa faktor, tetapi yang utama adalah temperatur, tekanan,
jenis batuan asal, komposisi fuida (hususnya pH) dan lamanya reaksi (Browne,
1984). Proses alterasi hidrotermal yang tejadi akibat adanya reaksi antara batuan
dengan air jenis klorida yang berasal dari reservoir panasbumi yang terdapat jauh
dibawah permukaan (deep chloride water) dapat menyebabkan teriadinya
pengendapan (misalnya kwarsa) dan pertukaran elemen-elemen batuan dengan
fluida, menghasilkan mineral-mineral seperti Chlorite, adularia, epidote. Air yang
bersifat asam, yang terdapat pada kedalaman yang relatif dangkal dan elevasi yang
relatif tinggi mengubah batuan asal menjadi mineral clay dan mineral-mineral
lainnya terlepas. Mineral hidrothernal yang dihasilkan di zona permukaan biasanya
adalah kaolin, alutlite, sulphur, residue silika dan gypsum.

2.7.TERJADINYA SISTIM PANASBUMI

Secara garis besar bumi ini terdiri dari tiga lapisan utama (Gambar 2.32),
yaitu kulit bumi (crust), selubung bumi (mantle) dan inti bumi (core). Kulit bumi
adalah bagian terluar dari bumi. Ketebalan dari kulit bumi bervariasi, tetapi
umumnya kulit bumi di bawah suatu daratan (continent) lebih tebal dari yang
terdapat di bawah suatu lautan. Di bawah suatu daratan ketebalan kulit bumi
umumnya sekitar 35 kilometer sedangkan di bawah lautan hanya sekitar 5
kilometer. Batuan yang terdapat pada lapisan ini adalah batuan keras yang
mempunyai density sekitar 2.7 - 3 gr/cm3.

Gambar 2.33
Susunan Lapisan Bumi
Di bawah kulit bumi terdapat suatu lapisan tebal yang disebut selubung
bumi (mantel) yang diperkirakan mempunyai ketebalan sekitar 2900 km. Bagian
teratas dari selubung bumi juga merupakan batuan keras.

Bagian terdalam dari bumi adalah inti bumi (core) yang mempunyai ketebalan
sekitar 3450 kilometer. Lapisan ini mempunyai temperatur dan tekanan yang sangat
tinggi sehingga lapisan ini berupa lelehan yang sangat panas yang diperkirakan
mempunyai density sekitar 10.2 - 11.5 gr/cm3. Diperkirakan temperatur pada pusat
bumi dapat mencapai sekitar 60000F.
Kulit bumi dan bagian teratas dari selubung bumi kemudian dinamakan litosfir (80
- 200 km). Bagian selubung bumi yang terletak tepat di bawah litosfir merupakan
batuan lunak tapi pekat dan jauh lebih panas. Bagian dari selubung bumi ini
kemudian dinamakan astenosfer (200 - 300 km). Di bawah lapisan ini, yaitu bagian
bawah dari selubung bumi terdiri dari material-material cair, pekat dan panas,
dengan density sekitar 3.3 - 5.7 gr/cm3.

Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa litosfer sebenarnya bukan merupakan


permukaan yang utuh, tetapi terdiri dari sejumlah lempeng-lempeng tipis dan kaku
(Gambar 2.34).

Gambar 2.34
Lempengan-lempengan Tektonik
Lempeng-lempeng tersebut merupakan bentangan batuan setebal 64 - 145 km yang
mengapung di atas astenosfer. Lempeng-lempeng ini bergerak secara perlahan-
lahan dan menerus. Di beberapa tempat lempeng-lempeng bergerak memisah
sementara di beberapa tempat lainnya lempeng-lempeng saling mendorong dan
salah satu diantaranya akan menujam di bawah lempeng lainnya (lihat Gambar
2.35). Karena panas di dalam astenosfere dan panas akibat gesekan, ujung dari
lempengan tersebut hancur meleleh dan mempunyai temperatur tinggi (proses
magmatisasi).

Gambar 2.35
Gambaran Pergerakan Lempengan-lempengan Tektonik (Wahl, 1977)

Adanya material panas pada kedalaman beberapa ribu kilometer di bawah


permukaan bumi menyebabkan terjadinya aliran panas dari sumber panas tersebut
hingga ke pemukaan. Hal ini menyebabkan tejadinya perubahan temperatur dari
bawah hingga ke permukaan, dengan gradien temperatur rata-rata sebesar 300
C/km. Di perbatasan antara dua lempeng (di daerah penujaman) harga laju aliran
panas umumnya lebih besar dari harga rata-rata tersebut. Hal ini menyebabkan
gradien temperatur di daerah tersebut menjadi lebih besar dari gradien tempetatur
rata-rata, sehingga dapat mencapai 70-800C/km, bahkan di suatu tempat di
Lanzarote (Canary Island) besarnya gradien temperatur sangat tinggi sekali hingga
besarnya tidak lagi dinyatakan dalam 0C/km tetapi dalam 0C/cm.
Pada dasarnya sistim panas bumi terbentuk sebagai hasil perpindahan panas
dari suatu sumber panas ke sekelilingnya yang terjadi secara konduksi dan secara
konveksi. Perpindahan panas secara konduksi terjadi melalui batuan, sedangkan
perpindahan panas secara konveksi terjadi karena adanya kontak antara air dengan
suatu sumber panas. Perpindahan panas secara konveksi pada dasarnya terjadi
karena gaya apung (bouyancy). Air karena gaya gravitasi selalu mempunyai
kecenderungan untuk bergerak kebawah, akan tetapi apabila air tersebut kontak
dengan suatu sumber panas maka akan terjadi perpindahan panas sehingga
temperatur air menjadi lebih tinggi dan air menjadi lebih ringan. Keadaan ini
menyebabkan air yang lebih panas bergerak ke atas dan air yang lebih dingin
bergerak turun ke bawah, sehingga terjadi sirkulasi air atau arus konveksi.
Gambar 2.36
Perpindahan Panas Di Bawah Permukaan

Terjadinya sumber energi panasbumi di Indonesia serta karakteristiknya


dijelaskan oleh Budihardi (1998) sebagai berikut. Ada tiga lempengan yang
berinteraksi di Indonesia, yaitu lempeng Pasifik, lempeng India-Australia dan
lempeng Eurasia (Gambar 2.37). Tumbukan yang terjadi antara ketiga lempeng
tektonik tersebut telah memberikan peranan yang sangat penting bagi terbentuknya
sumber energi panas bumi di Indonesia. Tumbukan antara lempeng India-Australia
di sebelah selatan dan lempeng Eurasia di sebelah utara mengasilkan zona
penunjaman (subduksi) di kedalaman 160 - 210 km di bawah Pulau Jawa-
Nusatenggara dan di kedalaman sekitar 100 km (Rocks et. al, 1982) di bawah Pulau
Sumatera.
Hal ini menyebabkan proses magmatisasi di bawah Pulau Sumatera lebih
dangkal dibandingkan dengan di bawah Pulau Jawa atau Nusatenggara. Karena
perbedaan kedalaman jenis magma yang dihasilkannya berbeda. Pada kedalaman
yang lebih besar jenis magma yang dihasilkan akan lebih bersifat basa dan lebih
cair dengan kandungan gas magmatik yang lebih tinggi sehingga menghasilkan
erupsi gunung api yang lebih kuat yang pada akhirnya akan menghasilkan endapan
vulkanik yang lebih tebal dan terhampar luas. Oleh karena itu, reservoir panas bumi
di Pulau Jawa umumnya lebih dalam dan menempati batuan volkanik, sedangkan
reservoir panas bumi di Sumatera terdapat di dalam batuan sedimen dan ditemukan
pada kedalaman yang lebih dangkal.

Gambar 2.37
Konfigurasi Tektonik di Sepanjang Busur Kepulauan Indonesia, Hasil Interaksi
Tiga Lempeng Tektonik: Lempeng Pasifik, Lempeng Indo-Australia dan Lempeng
Eurasia (Budihardi, 1998)
Sistim panas bumi di Pulau Sumatera umumnya berkaitan dengan kegiatan
gunung api andesitis-riolitis yang disebabkan oleh sumber magma yang bersifat
lebih asam dan lebih kental, sedangkan di Pulau Jawa, Nusatenggara dan Sulawesi
umumnya berasosiasi dengan kegiatan vulkanik bersifat andesitis-basaltis dengan
sumber magma yang lebih cair. Karakteristik geologi untuk daerah panas bumi di
ujung utara Pulau Sulawesi memperlihatkan kesamaan karakteristik dengan di
Pulau Jawa.
Akibat dari sistim penunjaman yang berbeda, tekanan atau kompresi yang
dihasilkan oleh tumbukan miring (oblique) antara lempeng India-Australia dan
lempeng Eurasia menghasilkan sesar regional yang memanjang sepanjang Pulau
Sumatera yang merupakan sarana bagi kemunculan sumber-sumber panas bumi
yang berkaitan dengan gunung-gunung api muda. Lebih lanjut dapat disimpulkan
bahwa sistim panas bumi di Pulau Sumatera umumnya lebih dikontrol oleh sistim
patahan regional yang terkait dengan sistim sesar Sumatera, sedangkan di Jawa
sampai Sulawesi, sistim panas buminya lebih dikontrol oleh sistim pensesaran yang
bersifat lokal dan oleh sistim depresi kaldera yang terbentuk karena pemindahan
masa batuan bawah permukaan pada saat letusan gunung api yang intensif dan
ekstensif.

Gambar 2.38
Skema Penampang Tektonik di Bawah Permukaan Tumbukan Antara Dua
Lempeng Menghasilkan Zona Penujaman (Subduksi)
Tabel 2.3
Perbedaan Karakteristik Antara Prospek Panas Bumi
Di Jawa-Bali Dan Sumatera (Budihardi, 1998)

KRITERIA JAWA - BALI SUMATERA

Geologi Umum
- Litologi Andesitik-Basaltik Riolitik-Andesitik
- Ketebalan batuan
volkanik Tebal (>2500 m) Tipis (+/-1200 m)
- Asosiasi struktur Patahan local Patahan regional Sumatera
Kaldera depresi dan patahan sekundernya
- Manifestasi permukaan Fumarol suhu tinggi, Fumarol suhu tinggi dengan
solfatar, mud pool, air steam jet, Solfatar, mata air
panas mendidih,
batuan panas mendidih, batuan
alterasi intensif dan alterasi sangat intensif dan
kurang tersebar luas. tersebar luas.

Reservoir panas bumi di Sumatera umumnya menempati batuan sedimen


yang telah mengalami beberapa kali deformasi tektonik atau pensesaran setidak-
tidaknya sejak Tersier sampai Resen. Hal ini menyebabkan terbentuknya porositas
atau permeabilitas sekunder pada batuan sedimen yang dominan yang pada
akhirnya menghasilkan permeabilitas reservoir panas bumi yang besar, lebih besar
dibandingkan dengan permeabilitas reservoir pada lapangan-lapangan panas bumi
di Pulau Jawa ataupun di Sulawesi.

Survei geologi yang dilakukan oleh Direktorat vulkanologi telah menemukan 244
prospek di Indonesia, yang tersebar di Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Sulawesi, Bali,
kepulauan Nusatenggara, Maluku dan Irian Jaya (Gambar 2.38).

Gambar 2.39
Penyebaran Prospek Panas Bumi di Indonesia (Direktorat Jenderal Migas, 1996)
2.8. KLASIFIKASI DAN MODEL KONSEPTUAL SISTEM GEOTERMAL
Berdasarkan temperatur reservoarnya (Hochstein dan Browne, 2000),
sistem
geotermal diklasifikasikan menjadi:
Temperatur tinggi (>225 C),
Temperatur sedang (125 C -225 C)
Temperatur rendah (<125 C).

Klasifikasi berikut adalah klasifikasi panas bumi yang umum dijumpai di


literatur-literatur.
1. Sistem geotermal konduktif (Raybach dan Muffler,1981, Robert Bowen
1989, Keith Nicholson, 1993)
a. Low Temperature (Low Enthalpy Aquifers)
Sistem panas bumi dalam akifer sedimen dengan porositas dan
permeabilitas yang tinggi, bercirikan temperatur rendah/entalpi rendah
dan berada di daerah dengan heatflow normal atau agak tinggi.
Termasuk dalam kategori ini adalah geopressured zone
b. Hot Dry Rock
Sistem hot dry rock berada di dalam lingkungan temperatur tinggi
dengan permeabilitas rendah. Pada sistem ini sedikitnya dua sumur
harus dibor pada kedalaman kira-kira 4,000 m. Satu sumur digunakan
untuk menekan air ke dalam pori batuan. Air tersebut akan terpanaskan
dan masuk ke dalam sumur ke dua, kemudian mengalir ke atas,
mengisi unit tenaga panas yang memproduksi listrik.
2. Sistem geotermal konvektif (Hochstein dan Browne, 2000, Rybach
dan Muffler,1981, Robert Bowen, 1989, Keith Nicholson, 1993).
a. Volcanic hydrothermal system
Umumnya terdapat di gunung api bertipe stratovolcano atau kaldera
berumur muda. Gambar 2.39. menggambarkan model konseptual sistem
ini.

Gambar 2.40
Volcanic hydrothermal system (Hochstein dan Browne, 2000).
b. High temperature system (Sistem temperatur tinggi)
Sistem geotermal temperatur tinggi yang berasosiasi dengan
pusat vulkanisme pada elevasi tinggi Sistem geotermal temperatur
tinggi ini paling banyak dijumpai di seluruh dunia. Sistem ini dibagi
lagi menjadi 3 tipe berdasarkan permeabilitas batuan reservoar
dibandingkan dengan batuan sekitarnya dan recharge area
(infiltrasi air bawah tanah). Sebelum membagi sistem ini kepada
kelompok yang lebih spesifik lagi,terlebih dahulu perlu diketahui
tipe-tipe reservoar geotermal. Berdasarkan permeabilitasnya,
reservoar, geotermal, dikelompokkan menjadi low permeability, jika
permeabilitasnya, k < 1 sampai 3 milidarcy, moderate permeability,
k = 3-10 milidarcy, dan high permeability, k > 10 milidarcy Pada
sistem geotermal temperatur tinggi, umumnya panas yang mencapai
permukaan adalah panas yang dibawa oleh sirkulasi air meteorik dalam
yang menyapu sumber panas di bawah permukaan, biasanya
berupa batuan plutonik yang membeku. Kemudian air meteorik yang
membawa panas ini naik ke permukaan dengan cara konveksi.
Berdasarkan karakteristik batuan reservoar dan batuan sekitarnya
serta infiltrasi meteorik ke dalam sistem, sistem geotermal temperatur
tinggi yang berasosiasi dengan pusat vulkanismepada elevasi tinggi ini
dibagi menjadi 3 tipe, yaitu
1. Liquid dominated system, k reservoar tinggi, tetapi k dalam
recharge area sedang. Saturasi air dalam reservoar adalah 0,7 < (SI)
< 1.

Gambar 2.41
Liquid dominated system (Hochstein dan Browne, 2000).
2. Natural 2-phase system (sistem dominasi dua fasa; uap dan air),
jika k reservoar dan k recharge area sedang. Saturasi air dalam
reservoar adalah 0,4 < (SI) < 0,7.

Gambar 2.42
Sistem dominasi dua fasa; uap dan air (Hochstein dan Browne, 2000)

.
3. Vapour dominated system (sistem dominasi uap), jika k reservoar
tinggi dan k dalam recharge area kecil (sedikit sekali infiltrasi
air meteorik). Saturasi air (Sl) dalam reservoar adalah 0.4<(Sl)<0.

Gambar 2.43.
Sistem dominasi uap (Hochstein dan Browne, 2000).

c. Sistem geotermal temperatur tinggi yang berada pada elevasi


sedang (moderate terrain).

Sumber panas pada sistem ini adalah batuan kerak bumi yang panas dan luas.
Energi panas dihasilkan dari:
1. Partial melting bagian atas kerak bumi (contoh: New Zealand).
2. Intrusi dyke pada daerah pemekaran lempeng berada dalam batuan basalt
(contoh: Iceland) atau sedimen (contoh: California).
3. Batuan plutonik yang mendingin yang berada sangat dalam di bawah
permukan bumi (bekas jalur subduksi tua yang telah mati).

Pada ketiga model di atas, dapat juga ditemukan liquid dominated geothermal
system, vapour dominated geothermal system, ataupun 2-phase geothermal
system.
Berdasarkan sumber panasnya, sistem geotermal temperatur tinggi yang
berada pada elevasi sedang (moderate terrain) dapat dibagi lagi menjadi:

1. Sistem geotermal bertemperatur tinggi pada elevasi sedang dengan heat


source berasal dari batuan kerak bumi yang panas yang sangat luas
penyebarannya. Morfologi yang mengelilingi sistem ini tidak curam dan
vulkanisme berbentuk kerucut berumur muda yang berada di pinggir-
pinggir reservoar geotermal (Gambar 2.43).
Gambar 2.44
Liquid dominated system pada morfologi relatif datar (Hochstein dan Browne,
2000)

2. Sistem geotermal bertemperatur tinggi pada jalur pemekaran lempeng.


Sistem geotermal ini berada pada batuan basaltik muda pada jalur
pemekaran lempeng seperti di Iceland. Sumber panasnya berasal dari dyke-
dyke atau sill-sill
3. Sistem geotermal bertemperatur tinggi dengan reservoar berupa batuan
sedimen. Sistem ini terbentuk di batuan sedimen sampai metamorf derajat
rendah dengan sumber panas berasal dari batuan beku dalam yang
mendingin (deep cooling pluton) yang kemungkinan adalah hasil subduksi
yang lebih tua daripada subduksi saat ini. Umumnya berada agak jauh dari
zona subduksi saat ini.
4. Sistem geotermal temperatur tinggi dengan sumber panas berupa batuan
kerak bumi yang panas pada lingkungan tabrakan lempeng (plate collision).
Sumber panas sistem ini berasal dari batuan granit berumur muda yang
kemungkinan dihasilkan dari proses shear-heating dari tabrakan lempeng

d. Sistem temperatur sedang dan rendah (Intermediate and low


temperature system)

Sistem ini terbentuk di berbagai kerangka geologi dan hidrologi, baik di


sepanjang batas lempeng aktif maupun di luar batas lempeng aktif. Semua sistem
bertemperatur sedang adalah reservoar liquid dominated (Hochstein dan Browne,
2000).
Umumnya sistem ini menghasilkan energi dari air meteorik yang
masuk sangat dalam ke bawah permukaan, kemudian terpanaskan oleh batuan
yang panas di kerak bumi. Energi ini kemudian dibawa ke permukaan melalui
rekahan-rekahan Berdasarkan geologi dan hidrologi model sistem ini dapat
dikelompokkan lagi menjadi:

1. Sistem geotermal temperatur sedang-rendah berada di atas jalur


Vulkanisme
Umumnya geotermal sistem di jalur vulkanisme adalah sistem
bertemperaturtinggi, tetapi beberapa diantaranya bertemperatur sedang
sampai rendah. Temperatur sedang sampai rendah ini mungkin berasal
dari sumber panas yang awalnya bertemperatur tinggi namun dalam
perjalanan waktu mengalami pendinginan. Selain itu juga, sistem ini juga
ditemui pada daerah busur vulkanik yang telah mati yang batuan
kerak di bawahnya telah mendingin, contohnya di Te Aroha, New
Zealand
2. Sistem Heat Sweep
Reservoar sistem ini dapat berupa batuan vulkanik atau batuan sedimen.
Sistem ini tidak banyak dideskripsi secara detil tetapi beberapa sistem
telah dieksplorasi sampai tingkat lanjut. Sistem ini dapat
dikelompokkan lagi menjadi:
a. Sistem Heat Sweep pada jalur pemekaran lempeng aktif. Contoh yang
sangat baik untuk sistem ini adalah East African Rift. Daerah ini berada
sepanjang kerak bumi yang panas dengan sumber panas berupa batuan
intrusi. Contoh skematik sistem ini dapat dilihat pada Gambar
2.44.berikut.
Gambar 2.45.
Heat sweep system (Hochstein and Browne, 2000)

b. Sistem Heat Sweep pada daerah tumbukan lempeng (plate collision).


Sumber panasnya berupa kerak benua yang mengalami deformasi
(shearing). Infiltrasi air hujan maupun air meteorik yang berasal dari
lelehan salju, masuk dan menyapu sumber panas ini, kemudian
mengalir ke permukaan kembali. Sistem ini banyak ditemukan di daerah
Tibet, Yunan Barat, dan India Utara.

c. Sistem Heat Sweep pada zona rekahan. Sistem ini dapat terbentuk
di daerah dengan topografi agak datar jika fluida mengalir
menuju permukaan bumi melalui zona rekahan di kedalaman yang
cukup dalam pada batuan yang memiliki permeabilitas sangat
tinggi (>100 milidarcy). Batuan tersebut memiliki heat flux yang
tinggi (>70 mW/m ). Heat flux yang tinggi ini dapat terbentuk pada
batuan granit yang elemen-elemen radioaktifnya menghasilkan panas
dari peluruhan radiaktif. Zone rekahannya dapat berukuran sempit
(<100 m) atau lebar (>200 m).

Gambar 2.46.
Sistem Heat Sweep pada zone rekahan (Hochstein dan Browne, 2000).
3. Sistem temperatur rendah
Sistem ini memiliki suhu kurang dari 125 C. Sistem umumnya bersifat
konvektif dengan sistem heat sweep yang dikontrol oleh struktur
Reservoarnya berupa fracture network. Sistem ini jarang terdapat di
jalur gunung api tetapi banyak terdapat di lingkungan geologi yang
kerangka tektonik dan keadaan topografinya memungkinkan terjadi sistem
heat sweep