Anda di halaman 1dari 21

BAB II

PEMBAHASAN

ASTEROID DAN KOMET

Seorang astronom Sisilia, Giuseppe Piazzi (1746-1826), pada malam tahun baru 1801

mengamati langit di daerah rasi Taurus, dia menemukan bintang yang tidak tecantum

pada peta. Selama 2minggu berikutnya, dia mencatat bawah objek ini sediki bergeser

posisinya. Pada mula ia menduga benda ini sebagai komet, tetapi pada tanggal 14

januari, arahnya berubah bergeser kearah Timur dan ini seperti karakteristik planet

superior pada gerak mundurnya ketika oposisi. Piazzi melanjutkan pengamatannya

sampai 11 februari, setelah itu menghentikannya karena sakit.

Dipertengahan januari, Piazzi menulis surat tentang penemuannya ini kepada Bode di

Observatorium Berlin. Sayang sekali surat ini baru sampai saat arah pengamatan

objek langit tersebut sudah berada dekat ke Matahari. Bode menduga objek yang

ditemukan Piazzi ini sebagai missing planet, tetapi karena diamatinya dalam selang

waktu yang pendek yakni sekitar 6 minggu, sehingga para astronom tidak dapat

menghitung orbitnya.

Penemuan planet baru dibantu oleh seorang ahli matematika muda bahasa jerman

Karl Fredrich Gauss (1777-1855), yang telah menemukan teknik matematika baru

untuk perhitungan orbit. Dibulan agustus, Gauss telah berhasil menghitung orbit

objek tersebut dari data-data pengamatan Piazzi yang sedikit tersebut. Diperoleh oleh

Von Zach bawah objek ini sangat dekat dengan dugaan Gauss, yakni pada konstelasi

1
virgo, pada malam tahun baru setahun setelah objek ini pertama kali ditemukan atas

permintaan Piazzi objek ini diberi nama Cares, dewa pertanian dan perlindungan

bangsa sisilia.

Ceres sebagai missing planet seperti di prediksi hukum Bode, datang tak di duga,

karena itu ketika Maret 1802 Heinrich Obel menemukan asteroid ke dua, dan diberi

nama Pallas. Merupakan spekulasi alamia bahwa bila ada tempat untuk dua asteroid,

maka tentu ada tempat lain untuk asteroid lainnya, maka mulailah pencariaan asteroid

lainnya secara sungguh-sungguh. Juno ditemukan tahun 1804, dan Vesta tahun 1807.

Tahun 1845 Karel Henckle menemukan asteroid kelima setelah pencarian selama 15

tahun. Setelah itu planet asteroid yang baru ditemukan lebih sering lagi. Samapi 1890

lebih 300 asteroid telah ditemukan.

Tahun 1891, Maxwolf dari Heidelberg mengajukan teknik potografi astronomi untuk

pencarian asteroid. Kecepatan gerakan angular yang cukup besar (khususnya pada

keadaan oposisi), memberi waktu pencahayaan yang panjang, sehingga akan

meninggalkan jejak pada emulsi potografi, sebagai spasi yang pendek-pendek tidak

titik-titik seperti bintang. Brucia, asteroid ke 323, ditemukan melalui teknik seperti

ini.

Sekarang penemuan asteroid biasanya tanpa disengaja untuk maksud yang lain,

sering ditemukan ketika objek meninggalkan jejak halus pada potografi. Telah dicatat

ribuan asteroid tampak pada potografi oleh National Geographs Society-Palomar

Observatory Sky Survey. Sebagian jejak dari planet asteroid ini diabaikan karena

2
tidak didukung dengan pengamatan dan tiga tempat yang berbeda. Lebih

menguntungkan bila waktu pengamatan dipisahkan beberapa interval minggu,

sebelum elemen-elemen orbitnya ditentukan.

2.1 Orbit Asteroid

Refrensi standar yang mencantumkan elemen-elemen orbital dan kemunculannya

yang singkat dari planet asteroid, di publikasikan oleh sovyet minor planet

ephemendes, edisi 1975, mencantumkan 1816 data asteroid.

Semua asteroid berputar mengelilingi matahari dengan arah yang sama dari barat ke

timur , dan sebagian besar orbitnya terletak hampir sebidang dengan orbit bumi.

Inklinasi rata-rata bidang orbitnya adalah 9, 5 . orbit betulia inkliminasinya paling

besar, yakni 52 .

Sebagian besar asteroid, semi majornya antara 2,3 sampai 3,3 SA . perioda sideralnya

antara 3,5 sampai 6 tahun. Icarius orbitnya paling kecil dengan semi major 1,007 SA,

dan punya eksintrisitas paling besar yakni 0,83 . icarus diketahui sebagai satu-satunya

obyek langit(selain komet dan meteor) dalam sistem tatasurya yang melintas sampai

ke orbit mercuri. Hadaldo merupakan asteroid paling besar.

3
Gambar 2.1
Lintasan orbit beberapa asteroid

Semi majornya 5,282 SA terbesar kedua aksentrisitasnya (e:0,66). Pada titik

aphelonnya lebih jauh dari orbit jupiter. Aksentrisitas rata-rata asteroid adalah 0,15.

Orbit beberapa asteroid diperlihatkan gambar 2.1.

Tiga asteroid diketahui melintasi bumi pada jarak 5.10 km,yakni apollo (1932),

adonis (1936), dan hermes (1937) . Apollo ditemukan lagi setelah pencarian yang

panjang di bulan april 1973. Planet asteroid yang orbitnya sama dengan apollo

disebut keluarga apollo. Dua anggota apollo yang orbitnya diketahui dan kembali

dapat diprdiksi adalah icarius, 14 juni 1968 , melintas pada jarak 6,4.10 km dari

bumi, dan Geographos yang ditemukan oleh National Geographis Society-Palomar

Sky Survey, pada tahun 1964 melintas dengan jarak 104 km dari bumi.

Celah Kirkwood (Kirkwood Gap) dan trojans

Yeng menarik dari distribusi orbit asteroid ini adalah adanya daerah kosong

(celah/gap). Ini dijelaskan oleh Daniel Kiskwood tahun 1866, karena pengaruh

gangguan dari jupiter. Keadaan ini analog dengan pemisahan gelang-gelang saturnus,

4
karena gangguan dari satelit Minas. Celah terjadi pada daerah dimana , asteroid-

asteroid mempunyai periode yang sesuai dengan jupiter. Sebagai contoh, asteroid

pada jarak 5/8 dari jarak jupiter ke matahari, akan mempunyai perioda kali perioda

jupiter. Setiap dua kali mengelilingi matahari , planet ini akan lebih dekat pada

jupiter. Tarikan jupiter ini berlanjut, menjadikan sejumlah asteroid meninggalkan

daerah, meninggalkan daerah , meninggalkan celah.

Solusi Lagrange untuk sistem tiga benda memperlihatkan adanya dua posisi pada

orbit jupiter, dimana asteroid berada.

Pada selang waktu tahun 1906-1908, empat asteroid ditemukan dan bertambah

menjadi 14 sampai tahun 1959. Asteroid ini diberi nama Trojan.

Gambar 2.2
Orbit Trojans

5
2.2 Keadaan Fisis Asteroid

Saat asteroid vesta berposisi, dan pada titik perihelion, tampak redup diaati mata

telanjang, kecuali keadaan ini, semua asteroid hanya tampak bila mmenggunakan

teleskop. Diantaranya yang paling besar , menunjukan bentuk seperti cakram, karena

itu sangat sukar menentukan ukurannya.

Albedo (daya pantul) asteroid dapat dihitung bila ukuran asteroid tersebut diketahui,

karena bila ukurannya diketahui kita dapat menghitung besarnya cahaya yang

mengenainya. Dari pengukurannya, kita dapat mendeduksi berapa besar cahaya yang

dipantulkan ke angkasa. Dengan membandingkan dua besaran ini, kita peroleh

albedonya. Diperoleh harga rata-rata albedo aseroid yang dihitung dari ukurannya,

adalah sekitar 0,1 . bila kita mengasumsilkan asteroid ini mempunyai albedo yang

sama, kita dapat menghitung ukurannya, untuk menentukan kecahayaannya.

Albedo asteroid dapat pula ditentukan dari pengukuran inframerah. Tinjau suatu

asteroid yang berada di dekat oposisinya ( dilihat pada saat fase penuh), radiasi

matahari yang mengenainya, daya pemantulannya A (albedonya), dan daya

penyerapannya A-1. Kemudian diradiasikan kembali sebagai inframerah. Maka

dengan membandingkan cahaya yang dipantulkan asteroid terhadap radiasi yang

dipancarkan kembali, secara langsung kita dapat perbandingan A terhadap A-1. Bila

albedo dapat ditentukan, kita dapat mengitung ukuran asteroid, baik dari cahaya yang

dipantulkannya maupun dari radiasi yang dipancarkannya.

Ukuran secara aproksimmasi beberapa asteroid besar ditunjukan table 2.1 berikut.

6
Table 2.1 diameter asteroid

Asteroid Diameter

Ceres 1070

Pallas 590

Vesta 50

Eunommia 290

Davida 280

Juno 240

Hebe 220

Lebih dari lusinan asteroid mmempunyai diameter 160km, beberapa ratus

berdiameter 40km, dan sebagian besar diameternya tidak lebih dari 1km. bila asteroid

diasumsikan mempunyai densitas yang hamper sama dengan kerak bumi atau bulan,

maka massa asteroid dapat diestimasi dari volumenya. Massa Ceres, asteroid paling

besar, hanya sekitar 1/1800 massa bumi. Kecepatan lepasnya sekitar 0,5 km/det,

karena ceres tidak dapat menahan atmosfir. Dari asteroid yang lebih kecil, seorang

pitcher (pelempar bola pada baseball) yang baik akan mudah melemparkan bolanya

ke angkasa. Karena kecilnya, asteroid tidak mempunyai gravitasi untuk saling

mengikat diantara mereka membentuk gumpalan padat.

Observasi melalui radar pada icarus selama tahun 1968, mempelihatkan

permukaannya sedikit kasar, tidak datar, dan tidak berdebu, mungkin tidak begitu

7
berbeda dengan bulan. Toro diobsevasi tahun 1972, juga memperlihatkan mantel

yang tidak teratur.

Tahun 1901 diperoleh informasi, bahwa asteroid Eros kecahayaannya berubah-ubah

dengan faktor 5 dalam perioda 5 jam 16 menit. Perubahan ini dapat dijelaskan dengan

mudah melalui hipotesa bahwa Eros memiliki bentuk memanjang, seperti batu bata

dan berotasi dalam perioda 5jam 16 menit. Selama perioda posisi Eros dekat dengan

bumi pada tahun 1931, diamati melalui teleskop bahwa bentuknys memanjang dan

berotasi seperti dikonfirmasikan di depan. Panjangnya sekitar 10-20 km dan lebarnya

sekitar 8 km. beberapa asteroid memperlihatkan perubahan kecahayaannya dalam

perioda beberapa jam dan diasumsikan bentuknya seperti Eros dan berotasi .

Gehrel mempelajari variasi cahaya Vesta dan menemukan bahwa rotasinya dari barat

ke timur periodanya 14 jam 41 menit, salah stu sisinya 15% lebih panjang dari sisi

lainnya.

Masa total seluruh asteroid tidaklah diketahui, diperkirakan 1/20 dari massa bulan

atau 1/600 dari massa bumi. Massa total ini sebagian besar terdistribusi pada dua

asteroid terbesar yaitu Ceres dan Pallas. Diyakini terdapat ribuan asteroid yang tidak

dikenal, ukurannya sangat keci dan gabungan massanya tidak memberikan kontribusi

berarti terhadap massa total di atas.

Merupakan pekerjaan yang tidak ringan untuk menemukan, menentukan orbitnya dan

mengkatalogkan semua asteroid. Meskipun demikian jumlah totalnya diestimasi dari

pemilihan daerah langit secara sistimatik. Beberapa penyelidikan telah mengestimasi

8
jumlah asteroid yang diamati melalui pemotretan di daerah Zodiac, dimana asteroid

banyak ditemukan. Jumlahnya yang mempunyai cukup cahaya, meninggalkan jejak

pada hasil pemotretan yang diambil dengan teleskop Palomar Schmidt, diperkirakan

sekitar 100.000 .

2.3 Asteroid dan Permasalahan Mekanika Angkasa

Asteroid sangat berguna dalam menentukan data planet. Bila suatu asteroid melintas

dekat suatu planet yang lebih besar, pengaruh gravitasi terhadap orbit asteroid dapat

diteentukan dari perubahan orbitnya dan ini memungkinkan kita untuk

menghitungmmassa planet pengganggu tersebut. Asteroid (khusunya Icarus)

memberika hasil yang paling baik dalam pengukuran massa Mercurius dan Venus

dan ini memperbaiki perhitungan massa kedua planet diwaktu-waktu sebelumnya.

Sekarang kita dapat menentukan massa planet-planet dari gangguannya terhadap

pesawat luar angkasa.

Icarus melintasi Matahari pada jarak yang lebih dekat dengan mercurius, titik

perihelionnya diprediksi melalui relativitas umum yang berbeda bila diprediksi

melalui Newtonian. Observasi pada orbit Icarus memberikan hasil yang tidak

bergantung pada perubahan relativitas.

Dahulu penentuan orbit asteroid menggunakan metode yang menghasilkan ukuran

dalam satuan SA. Ukuran suatu objek terhadap mmatahari biasanya dapat itentukan

dengan ketelitian yang tinggi , tetapi hanya dalam satuan SA. Ketika suatu asteroid

berada cukup dekat dengan bumi, jaraknya dapat diselidiki langsung dengan

9
triangulasi atau secara tidak langsung dengan mengukur efek gravitasi bumi

terhadapnya. Dalam kasus ini, perbandingan jarak dalam SA dalam km, memberikan

nilai SA.

Sekarang kita menentukan panjang SA jauh lebih akurat yaitu dengan observasi

melalui radar dan dari gangguan planet terhadap pencatat (probe) angkasa luar.

Meskipun demikian, penyelidikan asteroid memainkan peranan yang penting dalam

sejarah dan memungkinkan kita untuk membangun teknik yang pada akhirnya

dipergunakan di dalam teknologi ruang angkasa.

Banyak astonom yang menduga bahwa asteroid dan planet utama lainnya dibentuk

dari material yang sama. Diperkirakan pembentukan asteroid dan meteor dimulai dari

pecahan material yang lebih besar (mungkin planet) ketika berevolusi pada jarak 2,8

SA.

2.4 Komet

Ilmuan yang pertama kali menyelidiki komet adalah Tycho Brahe melalui

observasinya pada komet yang muncul di tahun 1977. Ketika komet berada dekat

atmostfer bumi maka perubahan arah dalam pemunculannya haruslah dapat dideteksi

pengamat yang berpindah posisinya beberapa km. Tetapi Brahe tidak mendeteksi

adanya perubahan ini, hal ini berarti bahwa komet merupakan benda langit. Tidak

terdeteksi paralaks durnal komet, membawanya kepada kesimpulan bahwa jarak

komet 3 kali lebih kecil dari jarak bulan dan berevolusi terhadap matahari.

10
Kepler menggambar secara detail komet yang muncul tahun 1607 (yang akhirnya

disebut komet Halley). Ia mengajukan pandangan bahwa komet ini dan komet-komet

lainnya merupakan benda langit yang melintasi sisti tata surya dengan lintasan lurus.

Dua tulisan ilmiah dipublikasikan tahu 1654 dan 1668 oleh John hevel. Pekerjaan ini

mengandung referensi sistimatik untuk semua komet dan member dasar bagi

penyelidikan berikutnya.

Ketika Newton menerapkan hukum gravitasinya pada gerakan planet-planet, ia

berfikir bagaimana komet dipercepat secara gravitasi oleh matahari. Bila demikian

haruslah orbit komet berupa bagian konik keerucut. Bila komet seperti planet,

orbitnya hampir lingkaran, haruslah tampak pada interval waktu tertentu. Dengan

kata lain, bila komet orbitnya berupa elip yang panjang, haruslah terlihat hanya dalam

perioda yang sangat pendek yakni saat melintas dekat perihelionnya, sebagian besar

komet berada pada orbitnya yang sangat jauh dari matahari untuk dilihat. Karena itu

perioda pergerakan komet haruslah sangat besar. Komet yang tampak dalam jangka

waktu yang pendek dan kemudian terlihat lagi beberapa puluh atau beberapa ratus

tahun dan mungkin saja dianggap sebagai objek langit yang baru. Bagian ujung elip

yang besar dengan aksentrisitas hamper satu tidak bias dibedakan dengan bagian

parabola maka pergerakan komet dengan orbit parabola hampir sama dengan orbit

elip yang sangat panjang. Newton menyimpulkan bahwa komet berinteraksi secara

gravitasi dengan matahari dan bergerak dengan orbit elip yang sangat panjang atau

parabola.

11
2.5 Penemuan Komet

Edmund Halley memperluas stui Newton terhadap gerakan komet ini. Pada tahun

1705 ia mempublikasikan perhitungannya terhadap 24 orbit komet. Ia kemukakan

bahwa elemen orbit komet yang mencul pasca tahun 1531, 1607, dan 1682 adalah

sama. Ia menyimpulkan bahwa ketiga komet tersebut adalah komet yang sama.

Ketiganya kembali pada titik perihelionnya dalam interval waktu 76tahun. Dan

memang ditahun 1758 muncul komet sesuai dengan prediksi Halley.

Alexis Clairaut menghitung perturbasi pada komet yang ditimbulkan planet jupiter

dan saturnus, dan diakhir tahun 1758 ia memprediksi bahwa komet ini akan berada

disekitas periheloinnya selama 30hari, mulai 32 April 1759. Komet ini pertama kali

diamati astronom Amatir Goerge Palitzsch, dimalam natal 1759, 31hari lebih dari

yang diprediksi Clairaut. Komet ini diberi nama Halley sebagai penghormatan pada

orang yang pertama kali berpendapat bahwa komet merupakan anggota tatasurya.

Penyelidikan selanjutnya menunjukan bahwa komet ini melintasi dekat matahari

setiap interval 64 79tahun, sejak 2039 SM. Periodenya berfariasi karena parturbasi

dari planet jovian. Terakhir muncul tahun 1986, dan akan muncul lagi kelak tahun

2060an.

Saat ini sekitar 5-10 komet baru ditemukan setiap tahun. Diantaranya ditemukan
secara tidak sengaja pada hasil pemotretan untuk maksud yang lain, oleh Asronom
amatir. Sebagahian besar komet ini tidak dapat dilihat dengan mata biasa.

12
d

Gambar 2.3
Komet Kahoutek

Adapula yang terlihat dengan mata biasa, seperti komet Arend-Roland dan Mrcos

ditahun 1957, komet bennett tahun 1970 dan komet Kohoutek diakhir tahun 1973

dan awal 1974. Sekitar 2-3 komet yang spektakuler terlihat setiap abadnya, komet

seperti ini tampak dengan mata biasa, meskipun disiang hari. Komet semacam ini

seperti komet Halley, dan komet Ikeya-Seki yang mubcul pada tahun 1965.

2.6 Orbit Komet

Orbit komet, seperti obrit planet, dapat ditentukan melalui Observasi dari tiga tempat

atau lebih posisnya diantara bintang-bintang. Sebagian besar orbitnya tidak dapat

dibedakan dengan parabola, beberapa bentuk elit, dan sebagian kecil seperti

hiperbola.

13
Hanya Komet yang periodenya dapat ditentukan dan yang berbeda dengan komet

berorbit parabol, secara teknik diklasifikasikan sebagai periodik. Komet dengan

perioda yang panjang adalah Pons-Brooks (71tahun) Halley (76tahun), dan Rigollet

(151tahun), yang periodanya paling pendek adalah komet Enncke (3,3tahun).

Gambar 2.4
Lintasan Komet

Sekitar 45 komet diketahui mempunyai inklinasi kurang dari 45 terhadap ekliptika,

bergerak dari barat ke timur (seperti planet), dan mempunyai titik Aphelon yang

jaraknya lebih kecil dari jarak rata-rata planet jupiter ke matahari. Komet-komet ini

dikelompokan pada keluarga komet jupiter, mempunyai perioda antara 5-10tahun.

Dipercaya komet ini pertama kali melintas dekat kematahari obritnya sangat panjang

(seperti kebanyakan komet lainnya), tetapi kemudian obritnya mengecil sebagai

akibat perrturbasi saat komet melintas dekat jupiter.

14
Keanggoataan dalam tatasurya

Karena sebagia besar orbit komet berbentuk parabola dan sebagian kecil berbentuk

hiperbola. Timbul pertanyaan apakah komet merupakan anggota sistim tatasurya ?

atau sebagai pendatang asing dari luar angkasa ? bukti yang meyakinkan menunjukan

bahwa komet merupakan salah satu anggota sistim tatasurya.

Bila komet merupakan pendatang dari luar angkasa, orbinya harusnya hiperbola obrit

elip hanya mungkin terjadi bila komet secara tetap berefolusi terhadap matahari, dan

ini tidak mungkin untuk benda langit pendatang dari luar sistim tatasurya. Demikian

pula orbir parabol hanya mungkin untuk benda yang berinteraksi dengan matahari,

bergerak dengan lintasan dan kecepatan yang relatif hampir sama dengan kecepatan

matahari, jadi diam terhadap matahari (Rest with Respect to the sun). Sehingga

mustahil benda langit semacam ini datang dari luar sistim tatasurya.

Sebagian kecil komet yang tampak berorbit hampir hiperbol, dipercaya mulanya

bergerak mendekati matahari dengan oorbit parabol, mengalami perturbasi saat

lintasannya dekat planet jupiter atau planet lainnya. E.Stromgren menyelidiki gerakan

duapuluh komet dengan orbit hiperbol, dan menemukan bahwa setiap kasus pengaruh

interaksi grafitasi planet telah merubah bentuk orbit dari parabol menjadi hiperbol.

Perturbasi dari planet-planet ini bisa sja mengakibatkan komet lepas dari sistim

tatasurya. Meskipun demikian, belum ditemui komet yang bergerak mendekati

matahari, obritnya betul-betul hiperbol.

15
Selain itu orbit komet, tidak seperti planet, orientasinya random (acak) diruang

angkasa. Bila komet merupakan benda langit dari luar tatasurya, sejumlah besar

haruslah mendekati dari arah hercules, dengan kecepatan sekitar 20km/detik.

Disintegrasi dan kehancuran komet

Beberapa komet yang telah diopservasi memperlihatkan pecah menjadi 2. Contohnya

komet Biella, mempunyai perioda sekitar 7tahun, pertama kali ditemukan tahun 1772.

Saat mendekat ke matahari ditahun 1846, telah pecah menjadi 2 bagian. Kedua komet

kembali pada orbitnya saat muncul lagi tahun 1852, tapi sejak itu tidak muncul lagi.

Tanggal 27 november 1872 dan 27 november 188, terjadi meteor Shower yang

dipercaya para ahli sebagai sisa-sisa bagian komet Biella, sehingga ketidak

munculannya kembali di abad ini dapat dipahami.

Kita akan melihat nanti bahwa gas pada komet terbentuk akibat radiasi panas

matahari sehingga menguapkan intinya. Ini diestimasi bahwa komet menguap setelah

ratusan bahkan ribuan kali melintasi perihelionnya.

Peristiwa pecahnya komet Schaomakr Levy (SL-9) pada tahun 1994 setelah masuk

dalam wilayah orbit Yupiter, sangat menarik. Mestinya komet SL-9 hanya mengitari

matahari. Tapi 1970, ia masuk dalam pengaruh gravitasi Yupiter, daqn mulai

mengitarinya.

Tahun 1992 melewati limit Roche-nya Yupiter. Saat itulah kekuatan materinya yang

rapuh tidak mampu menahan gravitasi Yupiter. Secara perlahan SL-9 pecah, hancur

berkeping-keping, dan jatuh menghujan ke Yupiter.

16
Komet Dengan Orbit Hampir Lingkaran

Ada dua komet yang diketahui mempunyai orbit hampir melingkar, yakni komet

Schawassmann_Wachmann, periodanya 16 tahun, eksentrisitasnya 0,14, orbitnya

antara Jupiter dan Saturnas, yang kedua komet Oterna, periodanya 18 tahun, orbitnya

antara Mars dan Jupiter. Komet schwassmann_Wachmann dalam keadaan normal

tampak kabur, tetapi terkadang sangat terang sampai 100 kalinya. Hal ini dipercaya

karena emisi sinar violet pada partikel bernuatan dari matahari.

2.7 Sifat Fisis Komet

Tidak ada dua komet yang sama, tetaqpi satu karakteristik umum yaqng dipunyai

komet adalah adanya coma, yakni bulatan yang agak terang saat komet melintasi

matahari, ukurannya ada yang lebih besar dari Jupiter. Sering tapi tidak selalu, daerah

terang yang kecil muncul ditengah-tengah coma, daerah ini disebut dengan inti.

Coma dan inti bersama-sama membentuk kepala komet. Beberapa komet saat

melintas dekat matahari, mempunyai ekor yang panjangnya sampai jutaaan km dari

kepalanya.

Inti

Jauh dari matahari, suatu komet menghabiskan sebagian besar waktunya, dalam

keadaan yang sangat dingin, sehingga semua materialnya membeku menjadi padat

didalam inti. Model secara umum dari penguapan komet, pertama kali ditemukan

17
oleh fred whipple tahun 1950. Dia menggambarkannya sebagai gunung es kotor

(dirty iceberg). Sebagai inti berupa debu, batuan, atau material logam, dan sisa sisa

penguapan. Saat komet berada beberapa SA dari matahari, inti mulai panas dan

menguap. Molekul molekul yang menguap membawa partikel partikel padat, dan

mulai membentuk coma. Jauh dari matahari, inti dapat terlihat karena memantulkan

cahaya matahari. Saat coma sudah terbentuk, cahaya yang dipantulkan partikel

paartikel debu masih cahaya matahari, dan gas pada coma menyerap cahaya

ultraviolet radiasi dari matahari, dan mulai berflourosensi. Bila komet cukup dekat ke

matahari (sekitar 5 SA), cahaya yang dipancarkan dengan fluorosensi, umumnya

intensitasnya lebih kuat dari pangtulan materi padat.

Kita dapat menghitung rata rata gas yang menguap dari inti menjadi coma, dari

cahaya yang diserap dan dipancarkan kembali. Dari pengetahuan albedo dan

kecahayaan yang tampak saat komet jauh dan cahaya pantulannya masih cahaya

matahari, dapat dihitung ukuran inti. Inti komet diameternya sekitar 1 sampai 10km,

densitasnya seperti air, kurang dari 2 gr/cm3. Massa komet hanya sekitar 10-10 sampai

10-12 massa bumi.

Coma

Atom atom das didalam koma berkecapatan sekitar 1 km/det, pada kecepatan ini

atom mudah lepas dari inti. Karena lemanya interaksi gravitasi. Karena itu coma

mengembang menjadi besar. Seperti atom atom yang mengurai didalam ruangan,

diameternya sampai 100.000 km bahkan lebih.

18
Setiap komet melintas matahari dan membentuk koma, sebagaian materialnya hilang,

berdasarkan kecahayaan garis emisi dan radiasi coma, menunjukan bahwa 1028

sampai 1029 molekul keluar dari permukaan inti tiap detiknya, atau sekitar beberapa

meter intinya yang hilang, setiap melintasi bperihelionnya. Hal ini menjadi penjelasan

mengapa komet periodik seolah olah muncul lagi sebagai komet yang baru.

19
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Asteroid dan Komet adalah benda yang sangat banyak bertebaran di Luar

angkasa. Ada beberapa dari benda luar angkasa tersebut yang dapat

mengancam bumi bila benda tersebut mendekati dan tertarik oleh grafitasi

bumi sehingga bertabrakan dengan bumi. karena ukurannya yang tidak kecil,

maka ketika bertabrakan dengan bumi akan memberikan dampak ledakan

yang sangat besar, dan biasanya dapat menjadi bencana di bumi.

3.2 Saran

Dengan adanya makalah ini mari kita sadari betapa pentingnya alam semesta

ini, saran kami semoga teman-teman mau ikut memperluas pemahaman nya

tentang alam semesta ini.

20
Daftar pustaka

Arsani dan M, Farchni Rosyid. 2010. Geosains ITB

Bujung, Cyrka A, N. Buku Ajar. Jurusan Fisika. Fakultas Matematika dan Ilmu

Ikhiasul, Ardi Nugroho. 2007. Bumi dan Antariksa. Empat pilar

Kanginaan, M. 1999. FisikaSMU Kelas 2. Erlangga Jakarta

Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Manado.

Tanudidjaja, M,M. 1996. Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa, Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan.

21