Anda di halaman 1dari 29

A.

DEFINISI HALUSINASI
Halusinasi adalah pencerapan tanpa adanya rangsang apapun pada panca
indra seorang pasien, yang terjadi dalam keadaan sadar atau bangun,
dasarnya mungkin organik, fungsional, psikotik ataupun histerik (Maramis,
2004).
Halusinasi adalah perubahan persepsi sensori : keadaan dimana individu
atau kelompok mengalami atau beresiko mengalami suatu perubahan dalam
jumlah, pola atau interpretasi stimulus yang datang ( Carpenito, 2000).
Halusinasi merupakan salah satu gejala yang sering ditemukan pada klien
dengan gangguan jiwa, halusinasi sering diidentifisikasikan dengan
skizofrenia. Dari seluruh klien skizofrenia 70% diantaranya mengalami
halusinasi. Gangguan jiwa lain yang disertai dengan gejala halusinasi adalah
gejala panik defensif dan delirium. Berbeda dengan ilusi dimana klien
mengalami persepsi yang salah terhadap stimulus, salah satu persepsi pada
halusinasi terjadi tanpa adanya stimulus internal dipersepsikan sebagai suatu
yang nyata pada klien-klien.
Halusinasi adalah kesalahan persepsi yang berasal dari lima panca indra
yaitu pendengaran, penglihatan, peraba, pengecap, penghidu (Stuart & Laria,
2005).
Halusinasi adalah ketidak mampuan klien menilai dan merespon pada realitas
klien tidak dapat membedakan rangsangan internal dan eksteral, tidak dapat
membedakan lamunan dan kenyataan, klien tidak mampu memberi respon
secara akurat sehingga tampak berlaku yang sukar dimengerti dan mungkin
menakutkan (Keliat, 2006).
Halusinasi adalah persepsi yang salah atau palsu tetapi tidak ada rangsangan
yang menimbulkannya atau tidak ada obyek (Sunardi, 2005).

B. TEORI HALUSINASI

Menurut Struat & Sundden terjadi halusinasi disebabkan karena:


a. Teori psikoanalisa
Halusinasi merupakan pertahanan ego untuk melawan rangsangan dari luar
yang mengancam, ditekan untuk muncul akan sabar.
b. Teori biokimia
Halusinasi terjadi karena respon metabolisme terhadap stress yang
mengakibatkan dan melepaskan zat halusinogenik neurokimia seperti
bufotamin dan dimetyltransferase.

Menurut Mc. Forlano & Thomas mengemukakan beberapa teori yaitu:


a. Teori psikofisiologi
Terjadi akibat ada fungsi kognitik yang menurun karena terganggunya fungsi
luhur otak, oleh karena kelelahan, karacunan dan penyakit.
b. Teori psikodinamik
Terjadi karena ada isi alam sadar dan akan tidak sadar yang masuk dalam
alam tak sadar merupakan sesuatu atau respon terhadap konflik psikologi
dan kebutuhan yang tidak terpenuhi sehingga halusinasi adalah gambaran
atau proyeksi dari rangsangan keinginan dan kebutuhan yang dialami oleh
klien.
c. Teori interpersonal
Teori ini menyatakan seseorang yang mengalami kecemasan berat dalam
situasi yang penuh dengan stress akan berusaha untuk menurunkan
kecemasan dengan menggunakan koping yang biasa digunakan.

C. KLASIFIKASI HALUSINASI

Halusinasi menurut Rasmun (2001), itu dapat menjadi :

1. Halusinasi Penglihatan (visual, optik ) : tak berbentuk ( sinar, kilapan, atau pola
atau cahaya ) atau yang berbentuk ( orang, binatang, barang yang dikenal ) baik itu
yang berwarna atau tidak.

2. Halusinasi Pendengaran (akustik) : suara manusia, hewan, binatang, mesi,


barang, kejadian alamiah atau musik.

3. Halusinasi Penciuman (olfaktorius) : mencium sesuatu bau.

4. Halusinasi Pengecap (gustatorik) : merasa / mengecap sesuatu.


5. Halusinasi Peraba (taktil) : merasa di raba, disentuh, ditiup, disinari atau seperti
ada ulat bergerak di bawah kulitnya.

6. Halusinasi Kinestetik : merasa badanya bergerak dalam sebuah ruangan, atau


anggota badannya bergerak ( umpamanya anggota badan bayangan atau
phantomlimb)

7. Halusinasi Viseral : perasaan tertentu timbul didalam tubuhnya.

8. Halusinasi Hipnagogik : terdapat ada kalanya pada seorang yang yang normal,
tetap, sebelum tertidur persepsi sensorik bekerja salah.

9. Halusinasi Hipnopompik : seperti nomor 8, tetapi terjadi tepat sebelum terbangun


sama sekali dari tidurnya. Disamping itu ada pula pengalaman halusinatorik dalam
impian yang normal.

10. Halusinasi Histerik : timbul pada nerosa histerik karena konflik emosional.

D. FASE HALUSINASI

Tahapan halusinasi menurut Depkes RI sebagai berikut :


a. Tahap I (fase comforting):
Memberi rasa nyaman, tingkat ansietas sedang, secara umum halusinasi
merupakan suatu kesenangan dengan karakteristik :
1) Klien mengalami ansietas, kesepian, rasa bersalah dan ketakutan.
2) Mencoba berfokus pada pikiran yang dapat menghilangkan ansietas.
3) Pikiran dan pengalaman masih dalam kontrol kesadaran.
Perilaku klien :
a) Tersenyum atau tertawa sendiri.
b) Menggerakkan bibir tanpa suara.
c) Pergerakan mata yang cepat.
d) Respon verbal yang lambat.
e) Diam dan berkonsentrasi.
b. Tahap II (fase condeming):
Menyalahkan, tingkat kecemasan berat, secara umum halusinasi
menyebabkan rasa antipati dengan karakteristik :
1) Pengalaman sensori menakutkan.
2) Merasa dilecehkan oleh pengalaman sensori tersebut.
3) Mulai merasa kehilangan kontrol.
4) Menarik diri dari orang lain.
Perilaku klien :
a) Terjadi peningkatan denyut jantung, pernafasan dan tekanan darah.
b) Perhatian dengan lingkungan berkurang.
c) Konsentrasi terhadap pengalaman sensorinya.
d) Kehilangan kemampuan membedakan halusinasi dengan realitas.
c. Tahap III ( fase controlling):
Mengontrol, tingkat kecemasan berat, pengalaman halusinasi tidak dapat
ditolak lagi dengan karakteristik :
1) Klien menyerah dan menerima pengalaman sensorinya (halusinasi).
2) Isi halusinasi menjadi atraktif.
3) Kesepian bila pengalaman sensori berakhir.
Perilaku klien :
a) Perintah halusinasi ditaati.
b) Sulit berhubungan dengan orang lain.
c) Perhatian terhadap lingkungan berkurang, hanya beberapa detik.
d) Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat, tampak tremor dan
berkeringat.
d. Tahap IV ( fase conquering):
Klien sudah sangat dikuasai oleh halusinasi, klien tampak panik.
Karakteristiknya yaitu suara atau ide yang datang mengancam apabila tidak
diikuti.
Perilaku klien :
a) Perilaku panik.
b) Resiko tinggi mencederai.
c) Agitasi atau kataton.
d) Tidak mampu berespon terhadap lingkungan.

E. TANDA DAN GEJALA HALUSINASI


a. Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul
b. Menghindar dari orang lain (menyendiri)
c. Komunikasi kurang/ tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan
klien lain/ perawat
d. Tidak ada kontak mata, klien sering menunduk
e. Berdiam diri di kamar/ klien kurang mobilitas
f. Menolak berhubungan dengan orang lain, klien memutuskan percakapan atau
pergi jika diajak bercakap-cakap
g. Tidak/ jarang melakukan kegiatan sehari-hari.

Tanda dan gejala halusinasi menurut Keliat B. et al, 2011:

1. Halusinasi pendengaran
a. Bicara atau tertawa sendiri tanpa ada orang lain
b. Memiringkan telinga seperti mendengarkan suara
c. Mendengar suara yang mengajak bicara
d. Mendengar suara yang menyuruh untuk melakukan sesuatu yang
berbahaya
e. Marah-marah tanpa sebab
f. Menutup telinga
2. Halusinasi penglihatan
a. Menunjuk ke arah tertentu yang tidak jelas
b. Ketakutan terhadap sesuatu yang tidak jelas
c. Mengatakan bahwa melihat sesuatu yang tidak ada
3. Halusinasi penghidu
a. Menghisap seperti sedang mencium bau tertentu
b. Menutup hidung
c. Mencium bau, seperti bau darah, urine, feses yang tidak nyata
4. Halusinasi pengecapan
a. Sering meludah sampai muntah
b. Merasa seperti mengecap darah, urine, feses
5. Halusinasi perabaan
a. Menggaruk permukaan kulit padahal tidak ada apa-apa
b. Mengatakan bahwa ada serangga di permukaan kulit
c. Merasa seperti tersengat listrik
F. PROSES TERJADINYA HALUSINASI
1. Faktor Penyebab

Faktor Predisposisi (Struart & Laraia, 2005)

Biologis Psikologis Sosial Budaya

Abnormalitas perkembangan Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien Kondisi sosial budaya
sistem saraf yang berhubungan sangat mempengaruhi respon dan mempengaruhi gangguan
dengan respon neurobiologis yang kondisi psikologis klien. Salah satu sikap orientasi realita seperti :
maladaptif baru mulai dipahami. atau keadaan yang dapat mempengaruhi kemiskinan, konflik sosial
gangguan orientasi realitas adalah budaya (perang, kerusuhan,
penolakan atau tindakan kekerasan bencana alam) dan kehidupan
dalam rentang hidup klien yang terisolasi disertai stress.

Faktor Presipitasi (Keliat, 2006)

Stres Sosial Faktor Lingkungan Faktor Psikologis

Stress dan kecemasan akan Partisipasi klien dengan Integritas kecemasan yang
meningkat bila terjadi kelompok kurang, terlalu ekstrim memanjang disertasi
penurunan stabilitas keluarga, banyak diajak bicara tentang terbatasnya keammpuan
perpisahan dari orang yang objek yang ada di lingkungan, pemecahan masalah mungkin
penting atau diasingkan suasana sepi (isolasi), dapat berkembangnya perubahan
kelompok menyebabkan stress dan sensori persepsi. Klien biasanya
kecemasan mengembangkan koping untuk
menghindari kenyataan yang
tidak menyenangkan

2. Mekanisme Koping

Mekanisme koping merupakan tiap upaya yang diarahkan pada pengendalian stress, termasuk
upaya penyelesaian masalah secara langsung dan mekanisme pertahanan lain yang digunakan
untuk melindungi diri (Fitria, 2009)

Regresi berhubungan dengan masalah Proyeksi sebagai upaya Menarik diri


proses inflamasi dan upaya untuk
untuk menjelaskan
menanggulangi ansietas, hanya sedikit
energy yang tertinggal untuk aktifitas keracunan persepsi
hidup sehari-hari
3. Sumber Koping

Sumber koping merupakan suatu evaluasi terhadap pilihan koping


dan strategi seseorang (Fitria, 2009)

individu Dukungan sosial dan


keyakianan budaya

Dapat mengatasi stress dan ansietas


dengan menggunakan sumber Dapat membantu seseorang
koping yang ada di lingkungannya. mengintegrasikan pengalaman
Sumber koping tersebut dijadikan yang menimbulkan stress dan
sebagai modal untuk menyelesaikan mengadopsi strategi koping
masalah yang efektif

G. POHON MASALAH

Perilaku kekerasan
akibat
Resiko tinggi menciderai diri sendiri,
orang lain dan lingkungan

masalah utama Gangguan persepsi sensori:halusinasi

Rangsangan internal meningkat,


isolasi
rangsang eksternal menurun

Menarik diri
penyebab

Kerusakan interaksi sosial Harga diri rendah

Deficit perawatan diri

Koping individu tidak efektif

Faktor predisposisi Faktor presipitasi


b. Data yang perlu dikaji
Data Obyektif Data Subyektif
Klien berbicara dan tertawa Klien mengatakan mendengar
sendiri bunyi yang tidak berhubungan
Klien bersikap seperti dengan stimulus nyata
mendengar/melihat sesuatu Klien mengatakan melihat
Klien berhenti bicara ditenga gambaran tanpa ada stimulus
kalimat untuk mendengarkan yang nyata
sesuatu Klien mengatakan mencium bau
Disorientasi tanpa stimulus
Klien merasa makan sesuatu
Klien merasa ada sesuatu pada
kulitnya
Klien takut pada
suara/bunyi/gambar yang dilihat
dan didengar
Klien ingin memukul/melempar
barang-barang

H. PENATALAKSANAAN MEDIS HALUSINASI

Penatalaksanaan pasien skizofrenia adalah dengan pemberian obat-obatan dan


tindakan lain, yaitu :

1) Psikofarmakologis
Obat-obatan yang lazim digunakan pada gejala halusinasi pendengaran yang
merupakan gejala psikosis pada pasien skizofrenia adalah obat-obatan anti-
psikosis. Adapun kelompok obat-obatan umum yang digunakan adalah:
2) Terapi kejang listrik atau Elektro Compulcive Therapy (ECT)

3) Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) (Purba, Wahyuni, Nasution, Daulay, 2009).

Standar Asuhan Keperawatan Halusinasi

Tindakan Keperawatan pada pasien halusinasi dengan cara melakukan asuhan


keperawatan sesuai dengan standar asuhan keperawatan halusinasi. Penerapan
standar asuhan keperawatan halusinasi yang dilakukan oleh Carolina (2008) dalam
Wahyuni (2010) menunjukan bahwa dapat meningkatkan kemampuan pasien dalam
mengontrol halusinasi dan juga menurunkan tanda dan gejala halusinasi. Standar
asuhan keperawatan meliputi proses:

2.1 Pengkajian

a. Mengkaji Jenis Halusinasi

Ada beberapa jenis halusinasi pada pasien gangguan jiwa. Kira-kira 70% halusinasi
yang dialami oleh pasien gangguan jiwa adalah halusinasi dengar atau suara, 20%
halusinasi penglihatan, dan 10% halusinasi penghidu, pengecap, perabaan, senestik
dan kinestik. Mengkaji halusinasi dapat dilakukan dengan mengevaluasi perilaku
pasien dan menanyakan secara verbal apa yang sedang dialami oleh pasien.
b. Mengkaji Isi Halusinasi

Ini dapat dikaji dengan menanyakan suara siapa yang didengar, berkata apabila
halusinasi yang dialami adalah halusinasi dengar. Atau apa bentuk bayangan yang
dilihat oleh pasien, bila jenis halusinasinya adalah halusinasi penglihatan, bau apa
yang tercium untuk halusinasi penghidu, rasa apa yang dikecap untuk halusinasi
pengecapan, atau merasakan apa dipermukaan tubuh bila halusinasi perabaan.

c. Mengkaji Waktu, Frekuensi, dan Situasi Munculnya Halusinasi

Perawat juga perlu mengkaji waktu, frekuensi, dan situasi munculnya halusinasi
yang dialami oleh pasien. Hal ini dilakukan untuk menentukan intervensi khusus
pada waktu terjadinya halusinasi, menghindari situasi yang menyebabkan
munculnya halusinasi. Sehingga pasien tidak larut dengan halusinasinya. Dengan
mengetahui frekuensi terjadinya halusinasidapat direncanakan frekuensi tindakan
untuk pencegahan terjadinya halusinasi. Informasi ini penting untuk mengidentifikasi
pencetushalusinasi dan menentukan jika pasien perlu diperhatikan saat mengalami
halusinasi. Ini dapat dikaji dengan menanyakan kepada pasien kapan pengalaman
halusinasi muncul, berapa kali sehari, seminggu. Bila mungkin pasien diminta
menjelaskan kapan persisnya waktu terjadi halusinasi tersebut.

d. Mengkaji Respon Terhadap Halusinasi

Untuk menentukan sejauh mana halusinasi telah mempengaruhi pasien dapat dikaji
dengan menanyakan apa yang dilakukan oleh pasien saat mengalami pengalaman
halusinasi. Apakah pasien masih dapat mengontrol stimulus halusinasi atau sudah
tidak berdaya lagi terhadap halusinasi.

2.2 Tindakan Keperawatan pada Pasien Halusinasi

2.2.1 Tujuan tindakan untuk pasien meliputi :

a. Pasien mengenali halusinasi yang dialaminya.

b. Pasien dapat mengontrol halusinasinya

c. Pasien mengikuti program pengobatan secara optimal.

2.2.2 Tindakan Keperawatan


a. Membantu Pasien Mengenali Halusinasi

Untuk membantu pasien mengenali halusinasi, perawat dapat melakukannya cara


berdiskusi dengan pasien tentang ini halusinasi (apa yang didengar atau dilihat),
waktu terjadinya halusinasi, frekuensi terjadinya halusinasi, situasi yang
menyebabkan halusinasi muncul dan perasaan pasien saat halusinasi muncul.

b. Melatih Pasien Mengontrol Halusinasi.

Untuk membantu pasien agar mampu mengontrol halusinasi perawat dapat melatih
pasien empat cara yang sudah terbukti dapat mengendalikan halusinasi. Keempat
cara tersebut meliputi :

1) Melatih Pasien Menghardik Halusinasi

Menghardik halusinasi adalah upaya mengendalikan diri terhadap halusinasi dengan


cara menolak halusinasi yang muncul. Pasien dilatih untuk mengatakan tidak
terhadap halusinasi yang muncul atau tidak memerdulikan halusinasinya. Kalau ini
bisa dilakukan, pasien akan mampu mengendalikan diri dan tidak mengikuti
halusinasi yang muncul. Mungkin halusinasi tetap ada namun dengan kemampuan
ini pasien tidak akan larut untuk menuruti apa yang ada dalam halusinasinya.
Tahapan tindakan meliputi :

a) Menjelaskan cara menghardik halusinasi

b) Memperagakan cara menghardik

c) Meminta pasien memperagakan ulang

d) Memantau penerapan cara ini, menguatkan perilaku pasien.

2) Melatih Bercakap-cakap dengan Orang Lain

Untuk mengontrol halusinasi dapat juga dengan bercakap-cakap dengan orang lain.
Ketika pasien bercakap-cakap dengan orang lain maka terjadi distraksi, fokus
perhatian pasien akan beralih dari halusinasi ke percakapan yang dilakukan dengan
orang lain tersebut.

Sehingga salah satu cara yang efektif untuk mengontrol halusinasi adalah dengan
bercakap-cakap dengan orang lain.
3) Melatih Pasien Beraktivitas Secara Terjadwal

Untuk mengurangi resiko halusinasi muncul lagi adalah dengan menyibukkan diri
dengan aktivitas yang teratur. Dengan beraktivitas secara terjadwal, pasien tidak
akan mengalami banyak waktu luang sendiri yang seringkali mencetuskan
halusinasi. Untuk itu pasien yang mengalami halusinasi bisa membantu untuk
mengatasi halusinasinya dengan cara beraktivitas secara teratur dari bangun pagi
sampai tidur malam, tujuh hari dalam seminggu. Tahapan intervensi sebagai berikut
:

a) Menjelaskan pentingnya aktivitas yang teratur untukmengatasi halusinasi

b) Mendiskusikan aktivitas yang bisa dilakukan oleh pasien.

c) Melatih pasien melakukan aktivitas

d) Menyusun jadwal aktivitas sehari-hari sesuai dengan aktivitas yang telah dilatih.
Upayakan pasien mempunyai aktivitas dari bangun pagi sampai tidur malam, tujuh
hari dalam seminggu.

e) Memantau pelaksanaan jadwal kegiatan, memberi penguatan terhadap perilaku


pasien yang positif.

4) Melatih Pasien Menggunakan Obat Secara Teratur

Untuk mampu mengontrol halusinasi pasien juga harus dilatih untuk menggunakan
obat secara teratur sesuai dengan program. Pasien gangguan jiwa yang dirawat di
rumah sakit seringkali mengalami putus obat sehingga akibatnya pasien mengalami
kekambuhan. Bila kekambuhan terjadi maka untuk mencapai kondisi seperti semula
akan lebih sulit. Untuk itu pasien perlu dilatih menggunakan obat sesuai program
dan berkelanjutan. Berikut ini tindakan keperawatan agar pasien patuh
menggunakan obat:

a) Jelaskan pentingnya penggunaan obat pada gangguan jiwa

b) Jelaskan akibat bila obat tidak digunakan sesuai programc) Jelaskan akibat bila
putus obat

d) Jelaskan cara mendapatkanm obat/ berobat


e) Jelaskan cara menggunakan obat dengan prinsip 5B (benar obat, benar pasien,
benar cara, benar waktu, dan benar dosis).

2.3 Evaluasi

Evaluasi keberhasilan tindakan keperawatan yang sudah Perawat lakukan untuk


pasien halusinasi adalah sebagai berikut :

2.3.1 Pasien Mempercayai Perawatnya sebagai terapis, ditandai dengan:

a. Pasien mau menerima perawat sebagai perawatnyab.

b. Pasien mau menceritakan masalah yang dia hadapai kepada perawatnya, bahkan
hal-hal yang selama ini dianggap rahasia untuk orang lain.

c. Pasien mau bekerja sama dengan perawat, setiap program yang perawat
tawarkan ditaati oleh pasien.

2.3.2 Pasien menyadari bahwa yang dialaminya tidak ada obyeknya dan merupakan
masalah yang harus diatasi, ditandai dengan:

a Pasien mengungkapkan isi halusinasinya yang dialaminya.

b Pasien menjelaskan waktu, dan frekuensi halusinasi yang dialaminya.

c Pasien menjelaskan situasi yang mencetuskan halusinasi.

d Pasien menjelaskan perasaannya ketika mengalami halusinasi

e Pasien menjelaskan bahwa ia akan berusaha mengatasi halusinasi yang


dialaminya

2.3.3 Pasien dapat Mengontrol Halusinasi, ditandai dengan:

a. Pasien mampu memperagakan empat cara mengontrol halusinasi

b. Pasien menerapkan empat cara mengontrol halusinasi:

1) Menghardik halusinasi.

2) Berbicara dengan orang lain disekitarnya bila timbul halusinasi.


3) Menyusun jadwal kegiatan dari bangun tidur di pagi hari sampai mau tidur pada
malam hari selama tujuh hari dalam seminggu dan melaksanakan jadwal tersebut
secara mandiri.

4) Mematuhi program pengobatan.

2.3.4 Keluarga mampu merawat pasien dirumah, ditandai dengan:

a. Keluarga mampu menjelaskan masalah halusinasi yang dialami oleh pasien.

b. Keluarga mampu menjelaskan cara merawat pasien dirumah.

c. Keluarga mampu memperagakan cara bersikap terhadap pasien.

d. Keluarga mampu menjelaskan fasilitas kesehatan yang dapat digunakan untuk


mengatasi masalah pasien.

e. Keluarga melaporkan keberhasilan merawat pasien (Purba, Wahyuni, Nasution,


Daulay, 2009).

I. ASUHAN KEPERAWATAN

1. Data yang Perlu Dikaji


a. Alasan masuk RS
Umumnya klien halusinasi di bawa ke rumah sakit karena keluarga
merasa tidak mampu merawat, terganggu karena perilaku klien dan hal lain,
gejala yang dinampakkan di rumah sehingga klien dibawa ke rumah sakit
untuk mendapatkan perawatan.
b. Faktor prediposisi
1) Faktor perkembangan terlambat
Usia bayi tidak terpenuhi kebutuhan makanan, minum dan rasa aman.
Usia balita, tidak terpenuhi kebutuhan otonomi.
Usia sekolah mengalami peristiwa yang tidak terselesaikan
2) Faktor komunikasi dalam keluarga
Komunikasi peran ganda
Tidak ada komunikasi
Tidak ada kehangatan
Komunikasi dengan emosi berlebihan
Komunikasi tertutup
Orangtu yang membandingkan anak-anaknya, orangtua yang otoritas
dan konflik dalam keluarga
3) Faktor sosial budaya
Isolasi sosial pada yang usia lanjut, cacat, sakit kronis, tuntutan
lingkungan yang terlalu tinggi.
4) Faktor psikologis
Mudah kecewa, mudah putus asa, kecemasan tinggi, menutup diri,
ideal diri tinggi, harga diri rendah, identitas diri tidak jelas, krisis peran,
gambaran diri negatif dan koping destruktif.
5) Faktor biologis
Adanya kejadian terhadap fisik, berupa : atrofi otak, pembesaran
vertikel, perubahan besar dan bentuk sel korteks dan limbik.
6) Faktor genetik
Telah diketahui bahwa genetik schizofrenia diturunkan melalui
kromoson tertentu. Namun demikian kromoson yang keberapa yang
menjadi faktor penentu gangguan ini sampai sekarang masih dalam
tahap penelitian. Diduga letak gen skizofrenia adalah kromoson nomor
enam, dengan kontribusi genetik tambahan nomor 4,8,5 dan 22. Anak
kembar identik memiliki kemungkinan mengalami skizofrenia sebesar
50% jika salah satunya mengalami skizofrenia, sementara jika di zygote
peluangnya sebesar 15 %, seorang anak yang salah satu orang tuanya
mengalami skizofrenia berpeluang 15% mengalami skizofrenia,
sementara bila kedua orang tuanya skizofrenia maka peluangnya
menjadi 35 %.
c. Faktor presipitasi
Faktor faktor pencetus respon neurobiologis meliputi:
1) Berlebihannya proses informasi pada system syaraf yang menerima
dan memproses informasi di thalamus dan frontal otak.
2) Mekanisme penghataran listrik di syaraf terganggu (mekanisme
penerimaan abnormal).
3) Adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak
berguna, putus asa dan tidak berdaya.
Menurut Stuart (2007), pemicu gejala respon neurobiologis maladaptif
adalah kesehatan, lingkungan dan perilaku.
1) Kesehatan
Nutrisi dan tidur kurang, ketidakseimbangan irama sikardian,
kelelahan dan infeksi, obat-obatan sistem syaraf pusat, kurangnya
latihan dan hambatan untuk menjangkau pelayanan kesehatan.
2) Lingkungan
Lingkungan sekitar yang memusuhi, masalah dalam rumah tangga,
kehilangan kebebasab hidup dalam melaksanakan pola aktivitas sehari-hari,
sukar dala, berhubungan dengan orang lain, isolasi sosial, kurangnya
dukungan sosialm tekanan kerja, dan ketidakmampuan mendapat pekerjaan.
3) Sikap
Merasa tidak mampu, putus asam merasa gagal, merasa punya kekuatan
berlebihan, merasa malang, rendahnya kemampuan sosialisasi,
ketidakadekuatan pengobatan dan penanganan gejala.
4) Perilaku
Respon perilaku klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga,
ketakutan, rasa tidak aman, gelisah, bingung, perilaku merusak, kurang
perhatian, tidak mampu mengambil keputusan, bicara sendiri. Perilaku
klien yang mengalami halusinasi sangat tergantung pada jenis
halusinasinya. Apabila perawat mengidentifikasi adannya tanda-tanda
dan perilaku halusinasi maka pengkajian selanjutnya harus dilakukan
tidak hanya sekedar mengetahui jenis halusinasinya saja. Validasi
informasi tentang halusinasi yang iperlukan meliputi :
Isi halusinasi
Menanyakan suara siapa yang didengar, apa yang dikatakan.
Waktu dan frekuensi
Kapan pengalaman halusianasi munculm berapa kali sehari.
Situasi pencetus halusinasi
Perawat perlu mengidentifikasi situasi yang dialami sebelum
halusinasi muncul. Perawat bisa mengobservasi apa yang
dialami klien menjelang munculnya halusinasi untuk
memvalidasi pertanyaan klien.
Respon klien
Sejauh mana halusinasi telah mempengaruhi klien. Bisa dikaji
dengan apa yang dilakukan oleh klien saat mengalami
pengalamana halusinasi. Apakah klien bisa mengontrol stimulus
halusinasinya atau sebaliknya.
d. Pemeriksaan fisik
Yang dikaji adalah tanda-tanda vital (suhu, nadi, pernafasan dan tekanan
darah), berat badan, tinggi badan serta keluhan fisik yang dirasakan klien.
1) Status mental
Penampilan : tidak rapi, tidak serasi
Pembicaraan : terorganisir/berbelit-belit
Aktivitas motorik : meningkat/menurun
Afek : sesuai/maladaprif
Persepsi : ketidakmampuan menginterpretasikan stimulus yang
ada sesuai dengan nformasi
Proses pikir : proses informasi yang diterima tidak berfungsi
dengan baik dan dapat mempengaruhi proses pikir
Isi pikir : berisikan keyakinan berdasarkan penilaian realistis
Tingkat kesadaran
Kemampuan konsentrasi dan berhitung
2) Mekanisme koping
Regresi : malas beraktifitas sehari-hari
Proyeksi : perubahan suatu persepsi dengan berusaha untuk
mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain.
Menarik diri : mempeecayai oranglain dan asyik dengan stimulus
internal
3) Masalah psikososial dan lingkungan: masalah berkenaan dengan
ekonomi, pekerjaan, pendidikan dan perumahan atau pemukiman.
2. Masalah Keperawatan yang Mungkin Muncul
Ada beberapa diagnosa keperawatan yang sering ditemukan pada klien
dengan halusinasi menurut Keliat (2006) yaitu:
a. Resiko Perilaku kekerasan berhubungan dengan halusinasi pendengaran.
b. Gangguan persepsi sensori: halusinasi berhubungan dengan menarik diri.
c. Isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.
d. Defisit perawatan diri berhubungan dengan isolasi sosial.
RENCANA TINDAKAN
DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI
KEPERAWATAN
Resiko perilaku Selama perawatan diruangan, pasien tidak TINDAKAN PSIKOTERAPI
kekerasan memperlihatkan perilaku kekerasan, dengan a. Pasien
kriteria hasil: BHSP
Dapat membina hubungan saling percaya Ajarkan SP I:
Dapat mengidentifikasi penyebab, tanda dan o Diskusikan penyebab, tanda dan gejala,
gejala, bentuk dan akibat PK yang sering bentuk dan akibat PK yang dilakukan
dilakukan pasien serta akibat PK
Dapat mendemonstrasikan cara mengontrol PK o Latih pasien mencegah PK dengan cara:
dengan cara : fisik (tarik nafas dalam & memeukul bantal)
o Fisik o Masukkan dalam jadwal harian
o Social dan verbal Ajarkan SP II:
o Spiritual o Diskusikan jadwal harian
o Minum obat teratur o Latih pasien mengntrol PK dengan cara
Dapat menyebutkan dan mendemonstrasikan sosial
cara mencegah PK yang sesuai o Latih pasien cara menolak dan meminta
Dapat memelih cara mengontrol PK yang efektif yang asertif
dan sesuai o Masukkan dalam jadwal kegiatan harian
Dapat melakukan cara yang sudah dipilih untuk Ajarkan SP III:
mengontrl PK o Diskusikan jadwal harian
Memasukan cara yang sudah dipilih dalam o Latih cara spiritual untuk mencegah PK
kegitan harian o Masukkan dalam jadawal kegiatan harian
Mendapat dukungan dari keluarga untuk Ajarkan SP IV
mengontrol PK o Diskusikan jadwal harian
Dapat terlibat dalam kegiatan diruangan o Diskusikan tentang manfaat obat dan
kerugian jika tidak minum obat secara
teratur
o Masukkan dalam jadwal kegiatan harian
Bantu pasien mempraktekan cara yang telah
diajarkan
Anjurkan pasien untuk memilih cara mengontrol
PK yang sesuai
Masukkan cara mengontrol PK yang telah dipilih
dalam kegiatan harian
Validasi pelaksanaan jadwal kegiatan pasien
dirumah sakit
b. Keluarga
Diskusikan masalah yang dirasakan keluarga
dalam merawat pasien PK
Jelaskan pengertian tanda dan gejala PK yang
dialami pasien serta proses terjadinya
Jelaskan dan latih cara-cara merawat pasien
PK
Latih keluarga melakukan cara merawat
pasien PK secara langsung
Discharge planning : jadwal aktivitas dan
minum obat
TINDAKAN PSIKOFARMAKO
Berikan obat-obatan sesuai program pasien
Memantau kefektifan dan efek samping obat
yang diminum
Mengukur vital sign secara periodic
TINDAKAN MANIPULASI LINGKUNGAN
Singkirkan semua benda yang berbahaya dari
pasien
Temani pasien selama dalam kondisi
kegelisahan dan ketegangan mulai meningkat
Lakukan pemebatasan mekanik/fisik dengan
melakukan pengikatan/restrain atau masukkan
ruang isolasi bila perlu
Libatkan pasien dalam TAK konservasi energi,
stimulasi persepsi dan realita

Gangguan persepsi Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 TINDAKAN PSIKOTERAPEUTIK


sensori: halusinasi x 24 jam klien mampu mengontrol halusinasi Klien
dengan kriteria hasil: o Bina hubungan saling percaya
Klien dapat membina hubungan saling o Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap
percaya o Observasi tingkah laku klien terkait halusinasinya
Klien dapat mengenal halusinasinya; jenis, isi, o Tanyakan keluhan yang dirasakan klien
waktu, dan frekuensi halusinasi, respon o Jika klien tidak sedang berhalusinasi klarifikasi
terhadap halusinasi, dan tindakan yg sudah tentang adanya pengalaman halusinasi,
dilakukan diskusikan dengan klien tentang halusinasinya
Klien dapat menyebutkan dan mempraktekan meliputi :
cara mengntrol halusinasi yaitu dengan SP I
menghardik, bercakap-cakap dengan orang Identifikasi jenis halusinasi Klien
lain, terlibat/ melakukan kegiatan, dan minum Identifikasi isi halusinasi Klien
obat Identifikasi waktu halusinasi Klien
Klien dapat dukungan keluarga dalam Identifikasi frekuensi halusinasi Klien
mengontrol halusinasinya Identifikasi situasi yang menimbulkan
Klien dapat minum obat dengan bantuan halusinasi
minimal Identifikasi respons Klien terhadap halusinasi
Mengungkapkan halusinasi sudah hilang atau Ajarkan Klien menghardik halusinasi
terkontrol Anjurkan Klien memasukkan cara menghardik
halusinasi dalam jadwal kegiatan harian
SP II
Evaluasi jadwal kegiatan harian Klien
Latih Klien mengendalikan halusinasi dengan
cara bercakap-cakap dengan orang lain
Anjurkan Klien memasukkan dalam jadwal
kegiatan harian
SP III
Evaluasi jadwal kegiatan harian Klien
Latih Klien mengendalikan halusinasi dengan
melakukan kegiatan (kegiatan yang biasa
dilakukan Klien di rumah)
Anjurkan Klien memasukkan dalam jadwal
kegiatan harian
SP IV
Evaluasi jadwal kegiatan harian Klien
Berikan pendidikan kesehatan tentang
penggunaan obat secara teratur
Anjurkan Klien memasukkan dalam jadwal
kegiatan harian
Beri pujian jika klien menggunakan obat
dengan benar.
o Menganjurkan Klien mendemonstrasikan cara
control yang sudah diajarkan
o Menganjurkan Klien memilih salah satu cara
control halusinasi yang sesuai
Keluarga
o Diskusikan masalah yang dirasakn keluarga
dalam merawat Klien
o Jelaskan pengertian tanda dan gejala, dan
jenis halusinasi yang dialami Klien serta
proses terjadinya
o Jelaskan dan latih cara-cara merawat Klien
halusinasi
o Latih keluarga melakukan cara merawat Klien
halusinasi secara langsung
o Discharge planning : jadwal aktivitas dan
minum obat
TINDAKAN PSIKOFARMAKO
Berikan obat-obatan sesuai program Klien
Memantau kefektifan dan efek samping obat
yang diminum
Mengukur vital sign secara periodic
TINDAKAN MANIPULASI LINGKUNGAN
Libatkan Klien dalam kegiatan di ruangan
Libatkan Klien dalam TAK halusinasi
Isolasi Sosial Setelah dilakukan tindakan keperawatan TINDAKAN PSIKOTERAPEUTIK
selama 3 x 24 jam Klien dapat berinteraksi dengan Klien
orang lain baik secara individu maupun secara SP 1
berkelompok dengan kriteria hasil : o Bina hubungan saling percaya
Klien dapat membina hubungan saling o Identifikasi penyebab isolasi sosial
percaya. SP 2
Dapat menyebutkan penyebab isolasi sosial. o Diskusikan bersama Klien keuntungan
Dapat menyebutkan keuntungan berhubungan berinteraksi dengan orang lain dan kerugian
dengan orang lain. tidak berinteraksi dengan orang lain
Dapat menyebutkan kerugian tidak o Ajarkan kepada Klien cara berkenalan dengan
berhubungan dengan orang lain. satu orang

Dapat berkenalan dan bercakap-cakap o Anjurkan kepada Klien untuk memasukan


dengan orang lain secara bertahap. kegiatan berkenalan dengan orang lain
Terlibat dalam aktivitas sehari-hari dalam jadwal kegiatan harian dirumah
SP 3
o Evaluasi pelaksanaan dari jadwal kegiatan
harian Klien
o Beri kesempatan pada Klien mempraktekan
cara berkenalan dengan dua orang
o Ajarkan Klien berbincang-bincang dengan dua
orang tetang topik tertentu
o Anjurkan kepada Klien untuk memasukan
kegiatan berbincang-bincang dengan orang
lain dalam jadwal kegiatan harian dirumah
SP 4
o Evaluasi pelaksanaan dari jadwal kegiatan
harian Klien
o Jelaskan tentang obat yang diberikan (Jenis,
dosis, waktu, manfaat dan efek samping obat)
o Anjurkan Klien memasukan kegiatan
bersosialisasi dalam jadwal kegiatan harian
dirumah
o Anjurkan Klien untuk bersosialisasi dengan
orang lain
Keluraga
o Diskusikan masalah yang dirasakan kelura
dalam merawat Klien
o Jelaskan pengertian, tanda dan gejala isolasi
sosial yang dialami Klien dan proses terjadinya
o Jelaskan dan latih keluarga cara-cara merawat
Klien

TINDAKAN PSIKOFARMAKA
Beri obat-obatan sesuai program
Pantau keefektifan dan efek sampig obat yang
diminum
Ukur vital sign secara periodik

TINDAKAN MANIPULASI LINGKUNGAN


Libatkan dalam makan bersama
Perlihatkan sikap menerima dengan cara
melakukan kontak singkat tapi sering
Berikan reinforcement positif setiap Klien
berhasil melakukan suatu tindakan
Orientasikan Klien pada waktu, tempat, dan
orang sesuai kebutuhannya

Defisit perawatan diri Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien TINDAKAN PSIKOTERAPEUTIK
dapat mandiri melakukan perawatan diri dengan Pasien
kriteria: o Menjelaskan pentingnya kebersihan dan
Dapat menjelaskan pentingnya kebersihan kerapian diri
dan kerapian o Mendiskusikan ciri-ciri badan bersih dan rapi
Menyebutkan ciri-ciri badan yang bersih dan o Menjelaskan manfaat bsdsn bersih dan rapi
rapi dan kerugian jika jika badan tidak bersih dan
Dapat menyebutkan manfaat badan bersih tidak rapi
dan rapi o Mengajarkan cara menjaga kebersihan dan
Dapat menyebutkan kerugian badan badan kerapian diri
yang tidak bersih dan tidak rapi o Memberikan kesempatan pada pasien untuk

Dapat mempraktikan cara melakukan cara mendemonstrasikan cara menjaga

perawatan diri dengan benar kebersihan dan kerapian diri

Badan bersih dan rapi o Menganjurkan pasien memasukan cara

Badan tidak bau menjaga kebersihan dan kerapian kedalam

Dapat melakukan aktifitas perawatan diri jadwal kegiatan harian

secara mandiri Keluarga


o Mendiskusikan kesulitan yang dirasakan
keluarga dalam merawat pasien dengan
masalah deficit perawatan diri
o Menjelaskan ciri-ciri pasien yang mengalami
masalah deficit perawatan diri dan jenis deficit
perawatan diri yang sering dialami oleh pasien
dan proses terjadinya
o Menjelaskan cara cara merawat pasien deficit
perawatan diri
o Melatih keluarga mempraktekan cara merawat
pasien dengan deficit perawatan diri
o Membantu keluarga membuat jadwal aktifitas
perawatan diri bagi pasien dirumah termasuk
minum obat (discharge planning)
TINDAKAN PSIKOFARMAKO
Memberikan obat-obatan sesuai program
pengobatan pasien
Memantau keefektifan dan efeksamping obat
yang diminum
Mengukur vital sign secara periodic (tekanan
darah, nadi dan pernafasan)
TINDAKAN MANIPULASI LINGKUNGAN
Mendukung pasien untuk melakukan
perawatan diri sesuai kemampuan dengan
menyediakan alat-alat untuk perawatan diri
Memberikan pengakuan atau penghargaan
yang positif untuk kemampuannya melakukan
perawatan diri
Jadwalkan pasien melakukan defekasi dan
berkemih, jika pasien mengotori dirinya

Stuart, G.W. (2007). Keperawatan Jiwa. (Edisi 5.). Jakarta : EGC.

Keliat B. A. 2011. Manajemen Keperawatan Psikososial dan Kader Kesehatan Jiwa: CMHN. Jakarta: EGC

Keliat, B.A, Panjaitan, R.U., & Helena, N. (2007). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Edisi 2. Jakarta : EGC

Fitria, Nita. 2009. Prinsip Dasar Dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan Dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
(LP dan SP) Untuk 7 Diagnosis Keperawatan Jiwa Berat Bagi Program S1 Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika