Anda di halaman 1dari 12

Asam alkanoat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

(Dialihkan dari Asam karboksilat)


Langsung ke: navigasi, cari

Rumus bangun umum asam alkanoat. R (radikal) dapat berupa gugus fungsional
lain

Asam alkanoat (atau asam karboksilat) adalah segolongan asam organik


alifatik (rantai terbuka) yang memiliki gugus fungsional karboksil (biasa
dilambangkan dengan COOH). Semua asam alkanoat adalah asam lemah.
Dalam pelarut air, sebagian molekulnya terionisasi dengan melepas atom H
menjadi ion H+.

Asam karboksilat dapat memiliki lebih dari satu gugus fungsional. Asam
karboksolat yang memiliki dua gugus karboksil disebut asam dikarboksilat
(alkandioat), jika tiga disebut asam trikarboksilat (alkantrioat), dan seterusnya.

Asam karboksilat dengan banyak atom karbon (berantai banyak) lebih umum
disebut sebagai asam lemak karena sifat-sifat fisiknya.

Turunan asam karboksilat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

Dalam kimia organik, turunan asam karboksilat adalah kelompok senyawa


organik yang memiliki gugus karbonil dan memiliki sebuah atom elektronegatif
(oksigen, nitrogen atau halogen yang terikat pada atom karbon karbonil. Turunan
senyawa karboksilat berbeda dengan keton dan aldehida yang memiliki gugus
karbonil tapi tidak terikat dengan atom elektronegatif. Keberadaan atom
elektronegatif ini menyebabkan perubahan signifikan pada reaktifitas senyawa
ini. Kelompok-kelompok senyawa yang termasuk turunan asam karboksilat
adalah:

Etanol

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

Templat:Chembox Elements

Etanol

Nama Sistematis Ethanol


Ethyl alcohol; grain alcohol; pure alcohol;
Nama lain
hydroxyethane; drinking alcohol; ethyl hydrate
Identifikasi
Nomor CAS [64-17-5]
Nomor RTECS KQ6300000
SMILES CCO
Sifat
Penampilan colorless clear liquid
Densitas 0.789 g/cm3
Titik leleh
114.3 C, 159 K, -174 F

Titik didih
78.4 C, 352 K, 173 F
Kelarutan dalam air Fully miscible
Keasaman (pKa) 15.9
Viskositas 1.200 mPas (cP) at 20.0 C
Momen dipol 5.64 fCfm (1.69 D) (gas)
Bahaya
Klasifikasi EU Templat:Hazchem F

NFPA 704 3
1
0

R11 Templat:R20 Templat:R21 Templat:R22


Frasa-R
Templat:R36
Frase-S S2 S7 S16
Titik nyala 286.15 K (13 C or 55.4 F)
Senyawa terkait
Senyawa terkait methanol, propanol
Kecuali dinyatakan sebaliknya, data di atas berlaku
pada temperatur dan tekanan standar (25 C, 100 kPa)

Sangkalan dan referensi

Etanol (disebut juga etil-alkohol atau alkohol saja), adalah alkohol yang paling
sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Karena sifatnya yang tidak
beracun bahan ini banyak dipakai sebagai pelarut dalam dunia farmasi dan
industri makanan dan minuman. Etanol tidak berwarna dan tidak berasa tapi
memilki bau yang khas. Bahan ini dapat memabukkan jika diminum. Etanol
sering ditulis dengan rumus EtOH. Rumus molekul etanol adalah C 2H5OH atau
rumus empiris C2H6O.

Daftar isi
[sembunyikan]
1 Sejarah
2 Pembuatan
3 Penggunaan

4 Referensi

[sunting] Sejarah

Etanol telah digunakan manusia sejak zaman prasejarah sebagai bahan


pemabuk dalam minuman beralkohol. Residu yang ditemukan pada peninggalan
keramik yang berumur 9000 tahun dari China bagian utara menunjukkan bahwa
minuman beralkohol telah digunakan oleh manusia prasejarah dari masa
Neolitik.[1]

Etanol dan alkohol membentuk larutan azeotrop. Karena itu pemurnian etanol
yang mengandung air dengan cara penyulingan biasa hanya mampu
menghasilkan etanol dengan kemurnian 96%. Etanol murni (absolut) dihasilkan
pertama kali pada tahun 1796 oleh Johan Tobias Lowitz yaitu dengan cara
menyaring alkohol hasil distilasi melalui arang.

Lavoisier menggambarkan bahwa etanol adalah senyawa yang terbentuk dari


karbon, hidrogen dan oksigen. Pada tahun 1808 Saussure dapat menentukan
rumus kimia etanol. Limapuluh tahun kemudian (1858), Couper menerbitkan
rumus bangun etanol. Dengan demikian etanol adalah salah satu senyawa kimia
yang pertama kali ditemukan rumus bangunnya.[2]
[sunting] Pembuatan

Etanol dapat dibuat dengan beberapa cara sebagai berikut:

Etanol untuk konsumsi umumnya dihasilkan dengan proses fermentasi


atau peragian bahan makanan yang mengandung pati atau karbohidrat,
seperti beras, dan umbi. Alkohol yang dihasilkan dari proses fermentasi
biasanya berkadar rendah. Untuk mendapatkan alkohol dengan kadar
yang lebih tinggi diperlukan proses pemurnian melalui penyulingan atau
distilasi. Etanol untuk keperluan industri dalam skala lebih besar
dihasilkan dari fermentasi tetes, yaitu hasil samping dalam industri gula
tebu atau gula bit.

Melalui sintesis kimia melalui antara reaksi gas etilen dan uap air dengan
asam sebagai katalis. Katalis yang dipakai misalnya asam fosfat. Asam
sulfat dapat juga dipakai sebagai katalis, namun dewasa ini sudah jarang
dipakai.

Metanol
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari


Methanol

Nama Sistematis methanol


hydroxymethane
methyl alcohol
Nama lain methyl hydrate
wood alcohol
carbinol
Identifikasi
Nomor CAS [67-56-1]
Nomor RTECS PC1400000
SMILES CO
Sifat
Rumus molekul CH3OH
Massa molar 32.04 g/mol
Penampilan colorless liquid
Densitas 0.7918 g/cm, liquid

Titik leleh
97 C, -142.9 F (176 K)

Titik didih
64.7 C, 148.4 F (337.8 K)
Kelarutan dalam air Fully miscible
Keasaman (pKa) ~ 15.5
Viskositas 0.59 mPas at 20 C
Momen dipol 1.69 D (gas)
Bahaya
Flammable (F)
Klasifikasi EU
Toxic (T)

NFPA 704 3
3
1

Frasa-R R11, R23/24/25, Templat:R39/23/24/25


Frase-S (S1/2), S7, S16, S36/37, S45
Titik nyala 11 C
Senyawa terkait
ethanol
alkanols terkait propanol
butanol
chloromethane
Senyawa terkait
methoxymethane
Kecuali dinyatakan sebaliknya, data di atas berlaku
pada temperatur dan tekanan standar (25 C, 100 kPa)

Sangkalan dan referensi

Metanol, juga dikenal sebagai metil alkohol, wood alcohol atau spiritus,
adalah senyawa kimia dengan rumus kimia CH3OH. Ia merupakan bentuk
alkohol paling sederhana. Pada "keadaan atmosfer" ia berbentuk cairan yang
ringan, mudah menguap, tidak berwarna, mudah terbakar, dan beracun dengan
bau yang khas (berbau lebih ringan daripada etanol). Ia digunakan sebagai
bahan pendingin anti beku, pelarut, bahan bakar dan sebagai bahan additif bagi
etanol industri.

Metanol diproduksi secara alami oleh metabolisme anaerobik oleh bakteri. Hasil
proses tersebut adalah uap metanol (dalam jumlah kecil) di udara. Setelah
beberapa hari, uap metanol tersebut akan teroksidasi oleh oksigen dengan
bantuan sinar matahari menjadi karbon dioksida dan air.

Reaksi kimia metanol yang terbakar di udara dan membentuk karbon dioksida
dan air adalah sebagai berikut:

2 CH3OH + 3 O2 2 CO2 + 4 H2O

Api dari metanol biasanya tidak berwarna. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati
bila berada dekat metanol yang terbakar untuk mencegah cedera akibat api yang
tak terlihat.

Karena sifatnya yang beracun, metanol sering digunakan sebagai bahan additif
bagi pembuatan alkohol untuk penggunaan industri; Penambahan "racun" ini
akan menghindarkan industri dari pajak yang dapat dikenakan karena etanol
merupakan bahan utama untuk minuman keras (minuman beralkohol). Metanol
kadang juga disebut sebagai wood alcohol karena ia dahulu merupakan produk
samping dari distilasi kayu. Saat ini metanol dihasilkan melului proses multi
tahap. Secara singkat, gas alam dan uap air dibakar dalam tungku untuk
membentuk gas hidrogen dan karbon monoksida; kemudian, gas hidrogen dan
karbon monoksida ini bereaksi dalam tekanan tinggi dengan bantuan katalis
untuk menghasilkan metanol. Tahap pembentukannya adalah endotermik dan
tahap sintesisnya adalah eksotermik.

[sunting] Sejarah

Dalam proses pengawetan mayat, orang Mesir kuno menggunakan berbagai


macam campuran, termasuk di dalamnya metanol, yang mereka peroleh dari
pirolisis kayu. Methanol murni, pertama kali berhasil diisolasi tahun 1661 oleh
Robert Boyle, yang menamakannya spirit of box, karena ia menghasilkannya
melalui distilasi kotak kayu. Nama itu kemudian lebih dikenal sebagai pyroxylic
spirit (spiritus). Pada tahun 1834, ahli kimia Perancis Jean-Baptiste Dumas dan
Eugene Peligot menentukan komposisi kimianya. Mereka juga memperkenalkan
nama methylene untuk kimia organik, yang diambil dari bahasa Yunani methy =
"anggur") + hl = kayu (bagian dari pohon). Kata itu semula dimaksudkan untuk
menyatakan "alkohol dari (bahan) kayu", tetapi mereka melakukan kesalahan.

Kata methyl pada tahun 1840 diambil dari methylene, dan kemudian digunakan
untuk mendeskripsikan "metil alkohol". Nama ini kemudian disingkat menjadi
"metanol" tahun 1892 oleh International Conference on Chemical Nomenclature.
Suffiks [-yl] (indonesia {il}) yang digunakan dalam kimia organik untuk
membentuk nama radikal-radikal, diambil dari kata "methyl".

Pada tahun 1923, ahli kimia Jerman, Matthias Pier, yang bekerja untuk BASF
mengembangkan cara mengubah gas sintesis (syngas / campuran dari karbon
dioksida and hidrogen) menjadi metanol. Proses ini menggunakan katalis zinc
chromate (seng kromat), dan memerlukan kondisi ekstrim tekanan sekitar 30
100 MPa (3001000 atm), dan temperatur sekitar 400 C. Produksi metanol
modern telah lebih effisien dengan menggunakan katalis tembaga yang mampu
beroperasi pada tekanan relatif lebih rendah.

Penggunaan metanol sebagai bahan bakar mulai mendapat perhatian ketika


krisis minyak bumi terjadi di tahun 1970-an karena ia mudah tersedia dan murah.
Masalah timbul pada pengembangan awalnya untuk campuran metanol-bensin.
Untuk menghasilkan harga yang lebih murah, beberapa produsen cenderung
mencampur metanol lebih banyak. Produsen lainnya menggunakan teknik
pencampuran dan penanganan yang tidak tepat. Akibatnya, hal ini menurunkan
mutu bahan bakar yang dihasilkan. Akan tetapi, metanol masih menarik utuk
digunakan sebagai bahan bakar bersih. Mobil-mobil dengan bahan bakar
fleksibel yang dikeluarkan oleh General Motors, Ford dan Chrysler dapat
beroperasi dengan setiap kombinasi etanol, metanol dan/atau bensin.

[sunting] Produksi

Saat ini, gas sintesis umumnya dihasilkan dari metana yang merupakan
komponen dari gas alam. Terdapat tiga proses yang dipraktekkan secara
komersial.

Pada tekanan sedang 1 hingga 2 MPa (1020 atm) dan temperatur tinggi (sekitar
850 C), metana bereaksi dengan uap air (steam) dengan katalis nikel untuk
menghasilkan gas sintesis menurut reaksi kimia berikut:

CH4 + H2O CO + 3 H2

Reaksi ini, umumnya dinamakan steam-methane reforming atau SMR,


merupakan reaksi endotermik dan limitasi perpindahan panasnya menjadi
batasan dari ukuran reaktor katalitik yang digunakan.

Metana juga dapat mengalami oksidasi parsial dengan molekul oksigen untuk
menghasilkan gas sintesis melalui reaksi kimia berikut:

2 CH4 + O2 2 CO + 4 H2

reaksi ini adalah eksotermik dan panas yang dihasilkan dapat digunakan secara
in-situ untuk menggerakkan reaksi steam-methane reforming. Ketika dua proses
tersebut dikombinasikan, proses ini disebut sebagai autothermal reforming.
Rasio CO and H2 dapat diatur dengan menggunakan reaksi perpindahan air-gas
(the water-gas shift reaction):

CO + H2O CO2 + H2,

untuk menghasilkan stoikiometri yang sesuai dalam sintesis metanol.


Karbon monoksida dan hidrogen kemudian bereaksi dengan katalis kedua untuk
menghasilkan metanol. Saat ini, katalis yang umum digunakan adalah campuran
tembaga, seng oksida, dan alumina, yang pertama kali digunakan oleh ICI di
tahun 1966. Pada 510 MPa (50100 atm) dan 250 C, ia dapat mengkatalisis
produksi metanol dari karbon monoksida dan hidrogen dengan selektifitas yang
tinggi:

CO + 2 H2 CH3OH

Sangat perlu diperhatikan bahwa setiap produksi gas sintesis dari metana
menghasilkan 3 mol hidrogen untuk setiap mol karbon monoksida, sedangkan
sintesis metanol hanya memerlukan 2 mol hidrogen untuk setiap mol karbon
monoksida. Salah satu cara mengatasi kelebihan hidrogen ini adalah dengan
menginjeksikan karbon dioksida ke dalam reaktor sintesis metanol, dimana ia
akan bereaksi membentuk metanol sesuai dengan reaksi kimia berikut:

CO2 + 3 H2 CH3OH + H2O

Walaupun gas alam merupakan bahan yang paling ekonomis dan umum
digunakan untuk menghasilkan metanol, bahan baku lain juga dapat digunakan.
Ketika tidak terdapat gas alam, produk petroleum ringan juga dapat digunakan.
Di Afrika Selatan, sebuah perusahaan (Sasol) menghasilkan metanol dengan
menggunakan gas sintesis dari batu bara.

[sunting] Kegunaan

Metanol digunakan secara terbatas dalam mesin pembakaran dalam,


dikarenakan metanol tidak mudah terbakar dibandingkan dengan bensin.
Metanol campuran merupakan bahan bakar dalam model radio kontrol.

Salah satu kelemahan metanol sebagai bahan bakar adalah sifat korosi terhadap
beberapa logam, termasuk aluminium. Metanol, merupakan asam lemah,
menyerang lapisan oksida yang biasanya melindungi aluminium dari korosi:
6 CH3OH + Al2O3 2 Al(OCH3)3 + 3 H2O

Ketika diproduksi dari kayu atau bahan oganik lainnya, metanol organik tersebut
merupakan bahan bakar terbarui yang dapat menggantikan hidrokarbon. Namun
mobil modern pun masih tidak bisa menggunakan BA100 (100% bioalkohol)
sebagai bahan bakar tanpa modifikasi. Metanol juga digunakan sebagai solven
dan sebagai antifreeze, dan fluida pencuci kaca depan mobil.

Penggunaan metanol terbanyak adalah sebagai bahan pembuat bahan kimia


lainnya. Sekitar 40% metanol diubah menjadi formaldehyde, dan dari sana
menjadi berbagai macam produk seperti plastik, plywood, cat, peledak, dan
tekstil.

Dalam beberapa pabrik pengolahan air limbah, sejumlah kecil metanol


digunakan ke air limbah sebagai bahan makanan karbon untuk denitrifikasi
bakteri, yang mengubah nitrat menjadi nitrogen.

bahan bakar direct-metanol unik karena suhunya yang rendah, operasi pada
tekanan atmofser, mengijinkan mereka dibuat kecil. Ditambah lagi dengan
penyimpanan dan penanganan yang mudah dan aman membuat metanol dapat
digunakan dalam perlengkapan elektronik.

Anda mungkin juga menyukai