Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Cropwat
Cropwat merupakan sebuah program komputer untuk perhitungan kebutuhan
air tanaman dan kebutuhan irigasi berdasarkan data tanah, iklim dan tanaman.
Selain itu, program ini memungkinkan pengembangan jadwal irigasi untuk kondisi
manajemen yang berbeda dan perhitungan penyediaan air untuk berbagai skema
pola tanaman. Cropwat juga dapat digunakan untuk mengevaluasi praktek-praktek
irigasi petani dan untuk menilai kinerja tanaman di bawah kedua kondisi tadah
hujan dan irigasi. Cropwat ini menggunakan model FAO Penman-Monteith dalam
perhitungan ETo, dan dapat menghitung kebutuhan air tanaman (ETm) serta neraca
lengas tanah. Program ini dapat dikembangkan untuk penjadwalan irigasi dalam
berbagai kondisi manajemen dan kondisi ketersediaan air, mengevaluasi produksi
tanaman di lahan kering, dampak kekeringan, serta efisiensi praktek irigasi.
Anggraeni (2012) menjelaskan bahwa Sofware Cropwat 8.0 adalah program
komputer untuk perhitungan kebutuhan air tanaman dan kebutuhan irigasi
berdasarkan data tanah, iklim dan tanaman. Selain itu, program ini memungkinkan
pengembangan jadwal irigasi untuk kondisi manajemen yang berbeda dan
perhitungan pasokan skema air untuk berbagai pola tanaman. Sofware Cropwat 8.0
juga dapat digunakan untuk mengevaluasi praktek-praktek irigasi petani dan untuk
menilai kinerja tanaman yang berhubungan dengan kebutuhan air.
Versi CROPWAT 8.0 merupakan versi terbaru yang telah dikembangkan oleh
Divisi Pengembangan Tanah dan Air FAO. Semua prosedur perhitungan yang
digunakan dalam CROPWAT 8.0 didasarkan pada dua publikasi FAO dari Irigasi
dan Drainase Series, yakni, Nomor 56 Crop Evapotranspiration Guidelines for
computing crop water requirements dan No 33 berjudul Yield response to water.
CROPWAT 8.0 adalah program berbasis Windows pada versi DOS sebelumnya.
Terlepas dari antarmuka pengguna sepenuhnya didesain ulang, CROPWAT 8.0
untuk Windows mencakup sejumlah fitur baru dan diperbarui, termasuk:
1. Bulanan, dan harian dekade input data iklim untuk perhitungan
evapotranspirasi acuan (ETo).
2. Kompatibilitas untuk memungkinkan penggunaan data dari database
CLIMWAT.
3. Kemungkinan untuk memperkirakan data iklim dalam ketiadaan nilai yang
terukur
4. Dekade dan perhitungan harian kebutuhan air tanaman berdasarkan algoritma
perhitungan diperbarui termasuk penyesuaian nilai tanaman-koefisien.
5. Perhitungan kebutuhan air tanaman dan penjadwalan irigasi untuk padi &
padi gogo, menggunakan prosedur baru dikembangkan untuk menghitung
kebutuhan air termasuk periode penyiapan lahan.
6. Jadwal irigasi disesuaikan pengguna interaktif.
7. Air tabel keluaran keseimbangan tanah harian.
8. Tabungan mudah dan pengambilan sesi dan jadwal irigasi ditetapkan
pengguna.
9. Presentasi grafis dari input data, kebutuhan air tanaman dan jadwal irigasi.
10. Mudah impor / ekspor data dan grafik melalui clipboard atau file teks ASCII.
11. Rutinitas pencetakan yang luas, mendukung semua printer-berbasis windows.
12. Konteks-sensitif sistem bantuan.
13. Antarmuka multibahasa dan sistem bantuan: Inggris, Spanyol, Prancis dan
Rusia.
Model CROPWAT awalnya dikembangkan oleh FAO di tahun 1999 untuk
perencanaan dan pengelolaan proyek irigasi. Versi terbaru dinamakan CROPWAT
for WINDOWS yang dapat dioperasikan melalui interface window, merupakan
hasil kerjasama antara Land and Water Development Division of FAO, Institute of
Irrigation and Development Studies of Southampton UK dan National Water
Research Center (NWRC) Egypt. Input datanya meliputi: data meteorologi, tanah
dan tanaman. Perhitungan ET potensial menggunakan metode Penman-Monteith
dan perhitungan hujan efektif dengan metode USDA soil conservation service
method (Smith,1992).
Input yang diperlukan dimasukkan, model Cropwat for Windows dapat
menghitung dalam setiap dekade: (1) koefisien tanaman, (2) evapotranspirasi
tanaman, (3) hujan efektif, (4) kebutuhan air tanaman dan (5) perkolasi. Model juga
dapat mengestimasi jadwal irigasi masing-masing tanaman dengan lima skenario:
(1) setiap irigasi didefinisikan oleh pelaksana, (2) irigasi di bawah atau di atas titik
deplesi air tanah (%RAW), (3) irigasi pada interval tetap pada setiap fase, (4) defisit
irigasi dan (5) tanpa irigasi. Kemudian cropwat for windows mulai mensimulasi
neraca air pada lahan, meliput : (1) lama irigasi, tanggal dan ketebalan irigasi, (2)
deplesi lengas tanah, (3) jumlah perkolasi, (4) evapotranspirasi aktual dan (5) hasil
tanaman (Allen, R.G at all, 1998).
Kebutuhan air irigasi dihitung berdasarkan evapotranspirasi acuan (ET0) dan
dikombinasikan dengan pola tanam dan jadwal tanam, sehingga akan diketahui
jumlah kebutuhan airnya. Kebutuhan air yang akan dihitung terdiri dari kebutuhan
air pada perencanaan awal pemerintah Kabupaten Kampar dan kebutuhan air
eksisting Daerah Irigasi Sawah. Evapotranspirasi acuan (ETo) dihitung dengan
menggunakan metoda Penman Modifikasi dari data-data yang tersedia pada stasiun
klimatologi. Nilai koefisien (Kc) tanaman dipilih berdasarkan tanaman yang
dibudidayakan di Daerah Irigasi. Perhitungannya selain menentukan kebutuhan air
tanaman dari evapotranspirasi, perlu diketahui juga berapa keter-sediaan air di
lahan. Ketersediaan air di lahan ada-lah air yang tersedia di suatu lahan pertanian
yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air irigasi di lahan itu sendiri.
Ketersediaan air di lahan yang dapat digunakan untuk pertanian tediri dari dua
sumber, yaitu konstribusi air tanah dan hujan efektif (Hasibuan, 2010).
CROPWAT 8.0 untuk Windows dikembangkan menggunakan Visual Delphi
4.0 dan berjalan pada platform Windows berikut: 95/98/ME/2000/NT/XP dan
Vista. Contoh gambar tampilan pada Cropwat 8.0 dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Contoh Gambar Tampilan pada Cropwat 8.0


1.1 Kelebihan Cropwat
Adapun kelebihan pada aplikasi Cropwat 8.0 adalah:
1. Memudahkan dan mempercepat proses input data baik data cuaca, curah
hujan maupun pemanenan pada komoditas tanaman pertanian.
2. Tersimpannya database dengan terstruktur sehingga akan memudahkan
dalam mengubah atau membuka data yang lama.
3. Pada penggunaan aplikasi Cropwat, proses alur penggunaan aplikasi
sangat mudah dipahami untuk pemula.
4. Lebih praktis, cepat dan mudah. Selain itu aplikasi Cropwat merupakan
aplikasi gratis yang dapat digunakan oleh setiap orang.

1.3 Kekurangan Cropwat


Sedangkan untuk kekurangan pada aplikasi Cropwat 8.0 yaitu:
1. Pada aplikasi Cropwat hasil data yang hanya berkisar dua angka
dibelakang koma.
2. Proses memasukkan data harus teliti karena akan memengaruhi hasil
menjadi berbeda akibat salah perhitungan.
3. Pengguna kurang mengerti proses perhitungan karena hasil yang
didapatkan tidak dengan perhitungan manual.
BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN

2.1 Hasil

Gambar 2. Data Bulanan Cuaca di Bandung

Gambar 3. Data Curah Hujan di Bandung


Gambar 4. Data Tanaman Jagung (Crop)

Gambar 5. Data Kebutuhan Air pada Jagung (CWR)


Gambar 6. Data Tanaman Padi Gogo (Crop)

Gambar 7. Data Kebutuhan Air pada Padi (CWR)

2.2 Pembahasan
Pada praktikum irigasi drainase kali ini, kita membahas perhitungan
kebutuhan air tanaman dengan CROPWAT 8. Data yang dimasukkan
menggunakan aplikasi CROPWAT 8 adalah data bulanan suhu minimum dalam
derajat celcius, suhu maksimum dalam derajat celcius, kelembaban dalam persen,
kecepatan angin dalam km/hari, dan lama penyinaran matahari dalam jam. Dan dari
data tersebut diperoleh nilai Rad (MJ/m2/hari) dan nilai evapotranspirasi acuan
(ETo). Data yang digunakan adalah data stasiun di bandung dengan ketinggian 791
meter dengan garis lintang 6,88 derajat Selatan dan garis bujur 107,60 derajat
Timur. Dengan menggunakan data daerah tersebut diperoleh nilai rata-rata untuk
suhu minimumnya adalah 16,0 derajat celcius, suhu maksimum 29,9 derajat celcius,
kelembaban 75 persen, kecepatan angin 4 km/hari, dan lama penyinaran matahari
7,1 jam. Dan nilai Rad rata-rata yang diperoleh adalah 19,5 MJ/m2/hari serta nilai
evapotranspirasi acuan rata-ratanya (ETo) adalah 3,62 mm/hari. Dengan nilai
evapotranspirasi yang didapatkan bisa diketahui kebutuhan lingkungan,
sekumpulan vegetasi, atau kawasan pertanian untuk melakukan evapotranspirasi
yang ditentukan oleh intensitas penyinaran matahari, kecepatan angin, luas daun,
temperatur udara, dan tekanan udara seperti yang diperoleh pada data di atas. Nilai
evapotranspirasi (ETo) juga bisa dikatakan jumlah kebutuhan air tanaman.
Diperoleh data pemanenan tanaman jagung yang ditanam pada tanggal 19
Maret dan dipanen pada tanggal 1 Juli. Data nilai Kc yang diperoleh pada gambar
pemanenan jagung dapat dicari nilai koefisien Kc setiap bulan dalam jangka waktu
sepuluh hari. Pada bulan Maret dengan 3x10 hari diperoleh nilai Kc-nya adalah 0,3.
Dalam 4 bulan tersebut dengan sepuluh hari pertama pada bulan Maret merupakan
masa awal untuk pemanenan tanaman jagung. Dari sepuluh hari kedua sampai
dengan sepuluh hari kedua Maret merupakan masa perkembangan untuk
pemanenan tanaman jagung. Dari sepuluh hari akhir Maret sampai dengan sepuluh
hari akhir Mei merupakan masa pertengahan untuk pemanenan tanaman jagung.
Dan 2x10 hari dalam bulan Juni merupakan masa akhir untuk pemanenan tanaman
jagung.
Selanjutnya dilakukan perhitungan data bulanan hujan di kota Bandung
menggunakan CROPWAT 8 dengan metode perhitungan curah hujan USDA S.C.
Data hujan pada bulan Januari diperoleh 221 mm dan curah hujan yang diperoleh
adalah 142,9 mm. Data hujan pada bulan Februari diperoleh 191 mm dan curah
hujan yang diperoleh adalah 132,6 mm. Data hujan pada bulan Maret diperoleh 244
mm dan curah hujan yang diperoleh adalah 148,7 mm. Data hujan pada bulan April
diperoleh 267 mm dan curah hujan yang diperoleh adalah 151,7 mm. Data hujan
pada bulan Mei diperoleh 177 mm dan curah hujan yang diperoleh adalah 126,9
mm. Data hujan pada bulan Juni diperoleh 76 mm dan curah hujan yang diperoleh
adalah 66,8 mm. Data hujan pada bulan Juli diperoleh 68 mm dan curah hujan yang
diperoleh adalah 60,6 mm. Data hujan pada bulan Agustus diperoleh 65 mm dan
curah hujan yang diperoleh adalah 58,2 mm. Data hujan pada bulan September
diperoleh 87 mm dan curah hujan yang diperoleh adalah 74,9 mm. Data hujan pada
bulan Oktober diperoleh 163 mm dan curah hujan yang diperoleh adalah 120,5 mm.
Data hujan pada bulan November diperoleh 265 mm dan curah hujan yang
diperoleh adalah 150,6 mm. Dan data hujan pada bulan Desember diperoleh 287
mm dan curah hujan yang diperoleh adalah 153,7 mm.
Dengan data tersebut dapat maka dapat dikatakan bahwa di kota Bandung
memiliki curah hujan yang tinggi namun pada bulan Juni-September curah hujan
tidak terlalu tinggi. Itu juga dibuktikan dari kedua data yang diperoleh pada
tanaman jagung dan padi ladang memiliki curah hujan yang cukup tinggi
dikarenakan penanaman tidak dilakukan pada rentang bulan Juni-September yang
memiliki curah hujan rendah.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Adapun beberapa kesimpulan yang dapat ditarik dari praktikum ini yaitu:
1. Nilai evapotranspirasi (ETo) adalah jumlah kebutuhan air tanaman.
2. Pemanenan tanaman jagung dan padi ladang melalui 4 tahap yaitu masa
awal, masa perkembangan, masa pertengahan, dan masa akhir
pemanenan.
3. Kota Bandung memiliki curah hujan yang tinggi namun pada bulan Juni-
September curah hujan tidak terlalu tinggi.

3.2 Saran
Ada beberapa saran yang harus diperhatikan dalam praktikum kali ini,
diantaranya:
1. Sebaiknya untuk lebih memahami kerja aplikasi dengan diterangkan
terlebih dahulu bagaimana cara kerjanya.
2. Aplikasi yang diterapkan sebaiknya diberikan masternya kepada
praktikan, karena tidak semua laptop praktikan bisa meng-install aplikasi
tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Allen, R.G., at all. 1998. Crop evapotranspiration : Guidelines for computing crop
water requirements, Irrigation and Drainage Paper 56, FAO, Rome, Italy.

Hasibuan. 2010. Analisa Kebutuhan Air Irigasi Daerah Irigasi Sawah Kabupaten
Kampar. Riau. Jurusan Teknik Sipil Universitas Riau. JURNAL APTEK Vol.
3 No. 1.

Smith M. 1992. CROPWAT, a computer program for irrigation planning and


management, Irrigation and Drainage Paper 46, FAO, Rome, Italy.

Anggraeni. 2012. Analisis Kebutuhan Irigasi Padi Berdasarkan Metode KP-01 dan
CROPWAT 8. Terdapat pada: http://repository.ipb.ac.id/handle/12345
6789/57943 (Diakses pada 18 Maret 2017 pukul 22:42 WIB)