Anda di halaman 1dari 53

CONTOH SOAL JAWAB AKUNTANSI BIAYA

1. Perusahaan X menetapkan kebijakan bahwa, jika karyawan bekerja lebih dari 45 jam
dalam seminggu, maka mereka memiliki hak untuk memperoleh premi lembur. Dalam hal
ini, tarif lembur adalah 50% dari tarif upah. Jika dalam seminggu seorang karyawan bekerja
selama 50 jam dengan tarif upah Rp 1.500 per jam, maka berapakah total upah yang
diperoleh oleh karyawan tersebut ?
Jawab :
Jam Biasa 45 x Rp 1.500 = Rp 67.500
Lembur 5 x Rp 1.500 = Rp 7.500
Premi Lembur 5 x Rp 750 = Rp 3.750 +
Total Upah Karyawan Tersebut Dalam Satu Minggu = Rp 78.750

2. Misalkan seorang karyawan harus bekerja 45 jam per minggu. Upahnya Rp 500 per jam.
Dari 45 jam kerja tersebut, 10 jam merupakan waktu mengangggur, dan sisanya digunakan
untuk mengerjakan pesanan tertentu. Maka bagaimanakah jurnal untuk mencatat biaya tenaga
kerja tersebut ?
Jawab:
Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja tersebut adalah :
Barang dalam proses -biaya tenaga kerja langsung Rp 17.500
Biaya overhed pabrik sesungguhnya Rp 5.000
Gaji dan Upah Rp 22.500

3. Menurut penyelidikan waktu, jumlah keluaran standar per jam adalah 10 satuan. Jika
upah pokok sebesar Rp 800 per jam, maka tarif upah per satuan adalah Rp 80. Jika karyawan
tidak dapat menghasilkan jumlah standar per jam, ia tetap dijamin mendapatkan upah Rp 800
per jam. Tetapi bila karyawan dapat menghasilakan 15 satuan per jam, maka berapakah upah
yang diperoleh oleh karyawan tersebut ?
Jawab:
Tarif upah per satuan Rp 800 : 10 = Rp 80

Upah standar per jam = Rp 800


Insentif 5 x Rp 80 = Rp 400
Upah yang diterima pekerja per jam = Rp 1.200

4. Suatu perusahaan menetapkan bahwa karyawan harus bekerja selama 5 jam dalam sehari
sehingga, setidaknya jam kerja karyawan selama seminggu adalah 35 jam. Adapun upahnya
adalah sebesar Rp 2.000 per jam. Dari 35 jam kerja tersebut, 5 jam digunakan sebagai waktu
menganggur. Tentukanlah jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja tersebut ?
Jawab:
Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja tersebut adalah :
Barang dalam proses -biaya tenaga kerja langsung Rp 60.000
Biaya overhed pabrik sesungguhnya Rp 10.000
Gaji dan upah Rp 70.000

5. Jika menurut penyelidikan waktu (time study), di butuhkan waktu 10 menit untuk
menghasilkan 1 satuan produk, maka jumlah keluaran standar per jam adalah 6 satuan. Jika
upah pokok sebesar Rp 2400 per jam, maka tarif upah per satuan adalah 400 (Rp 2400 : 6).
Karyawan yang tidak dapat menghasilkan jumlah standar per jam tetap dijamin
mendapatkanupah Rp 2400 per jam, tetapi bila ia dapat menghasilkan 10 satuan per jam (ada

1
kelebihan 4 satuan dari jumlah satuan standar per jam). Maka bagaimana perhitungan
upahnya?
Jawab :
Upah Dasar per jam Rp 2.400
Insentif : 4 x Rp 400 (2.400 : 6) 1.600 +
Upah yang di terima pekerja per jam Rp 4.000

6. Dalam suatu perusahaan, jika karyawan bekerja lebih dari 50 jam dalam seminggu,
maka mereka memiliki hak untuk memperoleh premi lembur. Dalam hal ini, tarif lembur
adalah 50% dari tarif upah. Jika dalam seminggu seorang karyawan bekerja selama 52 jam
dengan tarif upah Rp 1.000 per jam, maka berapakah total upah yang diperoleh oleh
karyawan tersebut ?
Jawab:
Jam Biasa 50 x Rp 1.000 = Rp 50.000
Lembur 2 x Rp 1.000 = Rp 2.000
Premi Lembur 2 x Rp 500 = Rp 1.000 +
Total Upah Karyawan Tersebut Dalam Satu Minggu = Rp 53.000

7. Jika seorang operator mesin bubut, Gunadi, memperoleh Rp 12.000 per jam untuk kerja
biasa dan lemburnya dibayar satu setengah kali tarif biasa, maka preminya adalah Rp 6.000
per jam lembur. Jika dia bekerja 44 jam termasuk 4 jam lembur dalam satu minggu, dan jika
mesin operator bubut diberhentikan selama 3 jam, berapakah total upah Gunadi dan buatlah
jurnalnya?
Jawab :

Tenaga Kerja Langsung 41 jam x Rp 12.000 Rp 492.000


Premi Lembur 4 jam x Rp 6.000 Rp 24.000
(Overhead Pabrik)
Waktu menganggur 3 jam x Rp 12.000 Rp 36.000
(Overhead Pabrik)
Total upah untuk 44 jam Rp 552.000

Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja tersebut adalah :


Barang dalam proses -biaya tenaga kerja langsung Rp 492.000
Biaya overhed pabrik sesungguhnya Rp 60.000
Gaji dan upah Rp 552.000

8. Misalkan Perusahaan A hanya mempekerjakan 3 orang karyawan; Sule, Andre, dan


Nunung. Berdasarkan kartu hadir minggu pertama bulan Maret 2010, bagian pembuat daftar
gaji dan upah membuat daftar gaji dan upah untuk periode yang bersangkutan. Menurut kartu
hadir karyawan Sule bekerja selama seminggu sebanyak 42 jam, dengan upah per jam
Rp 1.500, Karyawan Andre bekerja selama seminggu sebanyak 42 jam dengan tarif upah
Rp 1.250 per jam. Sedangkan Karyawan Nunung bekerja selama periode yang sama, bekerja
40 jam dengan tarif upah Rp 1.200 per jam. Bagaimana penggunaan jam hadir masing-
masing karyawan tersebut menurut kartu jam kerja?
Jawab :
Penggunaan Waktu Kerja Sule Andre Nunung
Untuk pesanan # 103 15 jam 20 jam 20 jam
Untuk pesanan # 108 23 jam 18 jam 10 jam
Untuk menunggu persiapan pekerjaan 4 jam 4 jam 10 jam

2
Dengan demikian upah karyawan tersebut di hitung sebesar Rp 163.500 (42 jam x Rp 1.500,
ditambah 42 jam x Rp 1.250, ditambah 40 jam x Rp 1.200)
Dan di distribusikan sebagai berikut :

Distribusi biaya tenaga kerja Sule Andre Nunung


Dibebankan sebagai BTK langsung
Pesanan # 103 22.500 25.000 24.000
Pesanan # 108 34.500 22.500 12.000
Dibebankan sebagai BOP 6.000+ 5.000 + 12.000 +
Jumlah upah minggu pertama bulan
Maret 2010 63.000 52.500 48.000

PPh yang dipotong oleh Perusahaan


15% dari upah minggu pertama bulan
Maret 2010 9.450 _ 7.875 _ 7.200 _

Jumlah upah bersih yang diterima


Karyawan 53.550 44.625 40.800

9. PT. Maju Terus hanya memperkerjakan 2 orang karyawan, Anisa dan Hasna.
Berdasarkan kartu hadir minggu pertama bulan April 2010, bagian pembuat daftar gaji dan
upah membuat daftar gaji dan upah untuk perioda yang bersangkutan. Menurut kartu hadir,
karyawan Anisa bekerja selama seminggu sebanyak 40 jam, dengan upah per jam Rp 1.500,
sedangkan karyawan Hasna selama perioda yang sama bekerja 30 jam dengan tarif upah Rp
1.000. Menurut kartu jam kerja, penggunaan jam hadir masing-masing karyawan tersebut
disajikan sebagai berikut:
Penggunaan Waktu Kerja Anisa Hasna
Untuk pesanan # 123 15 jam 20 jam
Untuk pesanan # 234 20 jam 10 jam
Untuk menunggu persiapan pekerjaan 5 jam 0 jam

Buatlah jurnal akuntansi biaya gaji dan upah berdasarkan data tersebut!
Jawab : PT MAJU TERUS
BIAYA BAHAN BAKU
MINGGU KE-1 APRIL 2010
Distribusi Biaya Tenaga Kerja Anisa Hasna
Dibebankan sebagai biaya
tenaga kerja langsung:
Pesanan # 123 Rp 22.500 Rp 20.000
Pesanan # 234 Rp 30.000 Rp 10.000
Dibebankan sebagai BOP Rp 7.500 Rp 0

Jumlah upah minggu pertama Rp 60.000 Rp 30.000


bulan April 2010

PPh yang dipotong oleh perusahaan


20% dari upah minggu pertama
bulan April 2010 Rp 12.000 Rp 6.000

Jumlah upah bersih yang diterima

3
karyawan Rp 48.000 Rp 24.000
Atas dasar rekapitulasi gaji dan upah tersebut, Bagian Akuntansi kemudian menjurnal:
Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Rp 82.500
Biaya Overvead Pabrik Rp 7.500
Gaji dan Upah Rp 90.000
Atas dasar bukti kas keluar, Bagian Akuntansi membuat jurnal sebagai berikut:
Gaji dan Upah Rp 90.000
Utang PPh Karyawan Rp 18.000
Utang Gaji dan Upah Rp 72.000
Atas dasar daftar gaji dan upah yang telah ditandatangani karyawan, Bagian Akuntansi
membuat jurnal sebagai berikut:
Utang Gaji dan Upah Rp 72.000
Kas Rp 72.000
Penyetoran PPh karyawan ke Kantor Perbendaharaan Negara dijurnal oleh Bagian
Akuntansi sebagai berikut:
Utang PPh Karyawan Rp 18.000
Kas Rp 18.000

10. Perusahaan ABC hanya memperkerjakan 3 orang karyawan, Fitriani, Lala dan
Meddy. Berdasarkan kartu hadir minggu pertama bulan November 2010, bagian pembuat
daftar gaji dan upah membuat daftar gaji dan upah untuk perioda yang bersangkutan.
Menurut kartu hadir, karyawan Fitriani bekerja selama seminggu sebanyak 35 jam, dengan
upah per jam Rp 1.000; karyawan Lala bekerja selama seminggu sebanyak 35 jam, dengan
upah per jam Rp. 1.200; sedangkan Meddy selama perioda yang sama bekerja 45 jam dengan
tarif upah Rp 1.500. Menurut kartu jam kerja, penggunaan jam hadir masing-masing
karyawan tersebut disajikan sebagai berikut:

Penggunaan Waktu Kerja Fitriani Lala Meddy


Untuk pesanan # 432 15 jam 20 jam 25 jam
Untuk pesanan # 321 15 jam 15 jam 10 jam
Untuk menunggu persiapan pekerjaan 5 jam 0 jam 10 jam

Buatlah jurnal akuntansi biaya gaji dan upah berdasarkan data tersebut!

Jawab: PT ABC
BIAYA BAHAN BAKU
MINGGU KE-1 NOVEMBER 2010
Distribusi Biaya Tenaga Kerja Fitriani Lala Meddy
Dibebankan sebagai biaya
tenaga kerja langsung:
Pesanan # 432 Rp 15.000 Rp 24.000 Rp 37.500
Pesanan # 321 Rp 15.000 Rp 18.000 Rp 15.000
Dibebankan sebagai BOP Rp 5.000 Rp 0 Rp 15.000

Jumlah upah minggu pertama Rp 35.000 Rp 42.000 Rp 67.500


bulan November 2010

PPh yang dipotong oleh perusahaan


20% dari upah minggu pertama

4
bulan November 2010 Rp 7.000 Rp 8.400 Rp 13.500

Jumlah upah bersih yang diterima


Karyawan Rp 28.000 Rp 33.600 Rp 54.000

Atas dasar rekapitulasi gaji dan upah tersebut, Bagian Akuntansi kemudian menjurnal:

Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Rp 124.500


Biaya Overvead Pabrik Rp 20.000
Gaji dan Upah Rp 144.500

Atas dasar bukti kas keluar, Bagian Akuntansi membuat jurnal sebagai berikut:

Gaji dan Upah Rp 144.500


Utang PPh Karyawan Rp 28.900
Utang Gaji dan Upah Rp 115.600

Atas dasar daftar gaji dan upah yang telah ditandatangani karyawan, Bagian Akuntansi
membuat jurnal sebagai berikut:

Utang Gaji dan Upah Rp 115.600


Kas Rp 115.600

Penyetoran PPh karyawan ke Kantor Perbendaharaan Negara dijurnal oleh Bagian


Akuntansi sebagai berikut:

Utang PPh Karyawan Rp 28.900


Kas Rp 28.900

5
CONTOH SOAL DAN JAWABAN AKUNTANSI BIAYA PERUSAHAAN INDUSTRI

PT. Damai Abadi sebuah perusahaan yang bergerak dalam industry mainan anak-anak.
Perusahaan merencanakan akan menyusun Laporan Laba / Rugi dan Laporan Harga Pokok
Produksi dan Penjualan secara terpisah.

Berikut ini data biaya yang diperlukan oleh perusahaan tersebut untuk tahun 2015 :
Penjualan Rp. 150.000.000
Pembelian Bahan Rp. 35.000.000
Ongkos angkut pembelian Rp. 600.000
Retur dan potongan pembelian Rp. 1.800.000
Bahan penolong Rp. 5.000.000
Tenaga kerja langsung Rp. 7.500.000
Listrik pabrik Rp. 1.250.000
Penyusutan mesin dan peralatan pabrik Rp. 1.600.000
Pajak bumi dan bangunan pabrik Rp. 1.000.000
Asuransi pabrik Rp. 1.200.000
BOP lain-lain Rp. 4.100.000
Pendapatan piutang Rp. 2.500.000
Biaya bunga Rp. 3.000.000
Biaya pemasaran Rp. 25.000.000
Biaya administrasi dan umum Rp. 15.000.000

Data Persediaan awal dan akhir :


Keterangan Awal Akhir
Bahan Rp 2.000.000 Rp 1.500.000
Produk dalam proses Rp 1.450.000 Rp 1.750.000
Produk selesai Rp 2.000.000 Rp 1.250.000

Catatan :
Pemakaian bahan langsung dan bahan tidak langsung menggunakan satu rekening yaitu
rekening bahan.

Diminta :

Susunlah laporan harga pokok produksi dan penjualan untuk tahun 2015.
Susunlah laporan laba/rugi perusahaan untuk tahun 2015.

6
Penyelesaian :

1. Laporan harga pokok produksi dan penjualan

PT. DAMAI ABADI


Laporan Harga Pokok Produksi dan Penjualan
Untuk Tahun berakhir 31 Desember 2015

Persediaan bahan awal Rp. 2.000.000


Pembelian bahan Rp. 35.000.000
Ongkos angkut pembelian Rp. 600.000 +
Rp. 35.600.000
Retur dan potongan pembelian Rp. 1.800.000 -
Pembelian bahan Rp. 33.800.000 +
Bahan tersedia untuk di pakai Rp. 35.800.000
Kurang :
Bahan penolong Rp. 5.000.000
Persediaan bahan akhir Rp. 1.500.000 +
Rp. 6.500.000 -
Bahan baku langsung digunakan Rp. 29.300.000
Tenaga kerja langsung Rp. 45.000.000
BOP :
- Bahan penolong Rp. 5.000.000
- Tenaga kerja tidak langsung Rp. 7.500.000
- Listrik pabrik Rp. 1.250.000
- Penyusutan mesin dan peralatan pabrik Rp. 1.600.000
- Pajak Bumi dan Bangunan Pabrik Rp. 1.000.000
- Asuransi pabrik Rp. 1.200.000
- BOP lain-lain Rp. 4.100.000 +
- Total BOP Rp. 21.650.000 +
Biaya Produksi Rp. 96.450.000
Persediaan produk dalam proses awal Rp. 1.450.000 -
Rp. 95.000.000
Persediaan produk dalam proses akhir Rp. 1.750.000 -
Harga Pokok Produksi Rp 93.250.000
Persediaan Pokok selesai awal Rp. 2.000.000 +

7
HPP tersedia untuk dijual Rp. 95.250.000
Persediaan Pokok selesai akhir Rp. 1.250.000 +
Harga Pokok Penjualan Rp. 94.000.000

2. Laporan Laba / Rugi


PT. DAMAI ABADI
Laporan Laba / Rugi
Untuk Tahun berakhir 31 Desember 2015
Penjualan Rp150.000.000
HPP Rp94.000.000 -
Laba kotor Rp56.000.000
Biaya Operasi
Beban Pemasaran Rp25.000.000
Beban Administrasi Rp15.000.000 +
Total Biaya Operasi Rp40.000.000 -
Laba Operasi Rp16.000.000
Pendapatan lain-lain
Pendapatan Piutang Rp2.500.000 +
Rp18.500.000
Biaya lain-lain
Biaya Bunga Rp3.000.000 -
Laba bersih sebelum pajak Rp15.500.000
Pajak 30% Rp4.650.000 -
Laba bersih setelah pajak Rp10.850.000

Akuntansi Biaya sering dipakai pada perusahaan manufaktur, dimana perusahaan itu membeli
barang mentah, memprosesnya dan menjualnya. Tidak seperti perusahaan dagang yang hanya
membeli barang dan menjualnya lagi. Karena di perusahaan manufaktur kita memproses
berarti dapat disimpulkan bahwa kita mengolah barang mentah menjadi barang jadi. Untuk
menentukan Harga Pokok Produksi maka diperlukan biaya- biaya yang terlibat dalam
memproses barang . Adalah sbb :

Biaya Bahan Baku

Biaya yang timbul karena adanya pemakaian bahan baku / bahan mentah dalam
proses memproduksi barang/ produk

BTKL ( Biaya Tenaga Kerja Langsung )

8
Biaya yang timbul karena pemakaian tenaga kerja yang digunakan untuk mengolah/
memproduksi barang. Jadi, gaji untuk membayar tenaga kerja ini disebut Biaya
Tenaga Kerja Langsung.

BOP (Biaya Overhead Pabrik )

Biaya yang timbul karena pemakaian fasilitas untuk mengolah barang berupa
mesin,alat,tempat kerja dan kemudahan lainnya.

Yang termasuk dalam BOP adalah :

1. Bahan Penolong

2. BTKTL ( Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung )

3. Beban Listrik pabrik


4. Biaya operasional pabrik

selain ketiga komponen diatas, terdapat biaya komersial. Biaya komersial adalah biaya yang
timbul diluar dari kegiatan produksi seperti biaya pemasaran dan biaya admin dan umum.
Nah, tanpa basa- basi mari kita langsung ke contoh soal

PT. SUBUR bergerak dibidang pembuatan tas. Pada bulan Februari 2012 perusahaan
memproduksi 400 produk dengan harga rp. 150.000,00 per produk. Berikut adalah rincian
biaya yang dikeluarkan prusahaan :

1. Pembelian bahan baku Rp.4.000.000 dan bahan penolong 30% dari pembelian bahan
baku.
2. Ongkos angkut pembelian Rp. 180.000
3. Potongan pembelian 4% dari pembelian bahan baku langsung
4. Perusahaan menggaji 20 karyawan dengan gaji Rp. 400.000 perbulan dan seorang
manajer sebesar Rp. 1000.000
5. Perusahaan mengeluarkan biaya listrik Rp. 430.000, biaya penyusutan Rp 190.000,
biaya asuransi pabrik rP 120.000, Biaya lain-lain sebesar Rp.285.000
6. Biaya Admin dan umum sebesar Rp 850.000, biaya pemasaran Rp. 750.000
7. pajak sebesar 10%
8. 3% dari penjualan adalah potongan penjualan.

Dibawah ini adalah data- data mengenai nilai persediaan perusahaan :


Persediaan ( inventory) awal akhir
Bahan Baku Rp 480.000 Rp. 220.000
Barang dalam proses Rp. 440.000 Rp. 530.000
Barang Jadi Rp. 670.000 Rp. 430.000
Diminta :

1. Hitung besar biaya bahan baku !


2. Hitung biaya overhead pabrik !

9
3. Hitung biaya Produksi !
4. Hitung Harga pokok produksi !
5. Hitung Harga Pokok Penjualan !
6. Hitung Laporan Rugi Laba !

JAWABAN :

1. Menghitung besarnya biaya bahan baku :

Pesediaan bahan baku awal Rp. 480.000


Pembelian bahan baku Rp. 4.000.000
Ongkos angkut pemb Rp. 180.000 +
Rp. 4.180.000
Potongan pembelian Rp. (160.000)
Pembelian Bersih Rp. 4.020.000+
Bahan baku siap digunakan Rp. 4500.000
Persediaan Bahan baku akhir Rp. (220.000)
Biaya bahan baku RP. 4.280.000

*akhirnya ketemu deh.. Biaya bahan baku dalam pembuatan tas milik PT.SUBUR
sebesar Rp.4.280.000 . Jika masih bingung potongan pembelian dari mana, yaitu 4%
dari pembelian bahan baku ( 4% x 4.000.000 ) *

2. Menghitung Biaya Overhead Pabrik

Bahan Penolong Rp. 1.200.000


BTKL Rp. 1.000.000
Biaya Listrik Pabrik Rp. 430.000
Biaya Asuransi Rp. 120.000
Biaya Depresiasi Rp. 190.000
Biaya lain-lain Rp. 285.000+

Biaya Overhead Pabrik Rp. 3.225.000

*AKhirnya BOP udah berhasil ditemukan.. jika kalian bingung BTKL sebesar
1.000.000 dapat darimana, biaya tersebut didapat dari Gaji manajer. Karena manajer
tidak ikut langsung dalam pembuatan bahan baku, maka biaya gaji manajer
dimasukkan dalam BOP*

3. Menghitung Biaya Produksi

Biaya Bahan Baku Langsung Rp. 4.280.000


Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp. 8.000.000
BOP Rp. 3.225.000+

Biaya Produksi Rp.15.505.000

Dalam mencari Biaya Produksi, Biaya Tenaga Kerja Langsung (BTKL) didapat dari 20
orang karyawan dengan gaji perbulan Rp. 400.000 , jadi ( 20 x 400.000 = 8.000.000)

10
Karena karyawan secara langsung ikut memproduksi bahan baku, jadi tenaga mereka
diklasifikasikan sebagai BTKL.

4. Menghitung Besarnya Harga Pokok Produksi

Persediaan BDP awal Rp. 440.000


Biaya Produksi Rp. 15.505.000+
Barang Dalam Proses Rp. 15.945.000
Persediaan BDP akhir Rp. (530.000)
Harga Pokok Produksi Rp. 15.415.000

Kayanya gak ada yang perlu dijelasin dalam menghitung HP Produksi karena nilai
persediaan BDP sudah diketahui diatas..

5. Menghitung besarnya Harga Pokok Penjualan

Barang jadi awal Rp. 670.000


HP Produksi Rp. 15.415.000+
Barang tersedia utk dijual Rp. 16.085.000
Persediaan barang jadi akhir Rp. (430.000)
HP Penjualan Rp. 15.655.000

*untuk menghitung HP Penjualan saya rasa gak ada yang sulit, karena nilai nominal
Barang jadi awal sudah diketahui disoal.

6. Laporan R/L

PT. SUBUR
INCOME STATEMENT
FEBRUARI 2012

Penjualan Rp60.000.000
Potongan penjualan Rp1.800.000 -
Penjualan bersih Rp58.200.000
HPP Rp15.655.000 -
Laba kotor Rp42.545.000
Beban usaha :
Beban pemasaran Rp750.000
Biaya admin dan umum Rp850.000 +
Total beban usaha Rp1.600.000 -
Laba sebelum pajak Rp40.945.000
Pajak 10% Rp4.094.500 -
Laba bersih setelah pajak Rp36.850.500

ini dia klimaks dari entri ini. LAPORAN RUGI LABA. Bila kalian bingung dapat
darimana aja jumlah nominal diatas, saya akan beritahu perhitungannya.. Penjualan
sebesar 60.000.000 didapat dari ( 400 produk x Rp. 150.000 / unit), sedangkan potongan
penjulan sebesar 1.800.000 didapat dari 3% dari penjualan, ( 3% x 60.000.000), dan
pajak sebesar Rp. 4.094.500 didapat dari (10% x laba sebelum pajak)

11
AKUNTANSI BIAYA METODE HARGA POKOK PROSES (Contoh Soal
dan Penyelesaian)

1. PRODUK DIOLAH MELALUI SATU DEPARTEMEN PRODUKSI

Contoh Soal:
PT. Yudhistira Telecomm (perusahaan yang memproduksi komponen smartphone) mengolah
produknya secara masal melalui satu departemen. Adapun biaya yang dikeluarkan selama
bulan Januari 2013 adalah sbb :

Biaya Bahan Baku 162.500.000


Biaya Bahan Penolong 100.000.000
Biaya Tenaga Kerja 185.000.000
Biaya Overhead Pabrik 200.000.000
Total 647.500.000

Jumlah produk yang dihasilkan adalah :


-Barang Jadi sebanyak 4.500 kg
-Barang Dalam Proses sebanyak 500 kg (100% BBB dan BBP, 80% BTK, 60% BOP)
Diminta
A. Buatlah Harga Pokok Per satuan
B. Hitunglah Harga Pokok Produk Jadi dan Persediaan Produk Dalam Proses
C. Buatlah Jurnal pencatatan biaya produksi yang diperlukan

Jawab:
A.
Mencari Unit Equivalen

Unit Equvalen = Barang Jadi + ( 100% x BDP)

BBB dan BBP = 4500 +(100% x 500) = 5000


BTK = 4500 + (80% * 500) = 4900
BOP = 4500 + (60% * 500) = 4800

untuk mencari harga per satuannya agar lebih mudah kita gunakan tabel berikut :

Unsur Jumlah Unit Biaya Per


Biaya Biaya Equivalen satuan

BBB 162.500.000 5.000 32.500

BBP 100.000.000 5.000 20.000

BTK 185.000.000 4.900 37.755

BOP 200.000.000 4.800 41.667

TOTAL 647.500.000 131.922


Biaya per satuan = Jumlah Biaya : Unit Equivalen

12
B.
Menghitung HP Produk Jadi = Produk Jadi x Total Biaya per satuan
HP Produk dlm Proses = Unit equivalen - Barang Jadi

HP Produk Jadi (4.500 x 131.922) 593.649.000


HP Produk Dalam Proses:
-BBB (5000 - 4500) 16.200.000
-BBP (5000 - 4500) 10.000.000
-BTK (4900 - 4500) 15.102.000
-BOP (4800 - 4500) 12.500.100
53.802.100
647.451.100
Total HP Produk jadi dan produk dalam proses harus balance, kalau selisih sedikit
tidak apa karena adanya pembulatan pada pecahan desimal

C.

Jurnal Pemakaian Bahan Baku

BDP-BBB 162.500.000
Persediaan Bahan Baku 162.500.000

Jurnal Pemakaian Bahan Penolong

BDP-BBP 100.000.000
Persediaan Bahan Penolong 100.000.000

Jurnal Penggajian

BOP-BTK 185.000.000
Kas 185.000.000

Jurnal Mencatat BOP

BDP-BOP 200.000.000
Macam-Macam Biaya 200.000.000

Jurnal Mencatat Harga Produk Jadi

Persediaan Produk Jadi 593.649.000


BDP-BBB 146.250.000
BDP-BBP 90.000.000
BDP-BTK 169.897.000
BDP-BOP 187.501.500

Jurnal Mencatat Harga Produk Dalam Proses

Persediaan Produk Dlm Proses 53.852.100


BDP-BBB 16.250.000
BDP-BBP 10.000.000

13
BDP-BTK 15.102.000
BDP-BOP 12.500.000

Contoh Soal Dan Jawaban Perhitungan Harga Pokok Proses 1 Departemen Akuntansi
Biaya
Soal:
CV Sentari adalah sebuah perusahaan tepung terbesar di Jawa Barat, Berikut data produksi dan
biaya selama bulan maret 2010 sbb:
Unit Dimasukan Dalam Proses 1200 KG
Unit Barang yang Selesai Diproses 700 KG
Unit Produk Dalam Proses dengan tingkat penyelesaian BBB 100%, BBP 100%, B. Konversi 40%
sebanyak 500 KG
Biaya yang dikeluarkan dalam Bulan Maret 2010 sbb:
BBB Rp 30000
BBP Rp 19200
BTK Rp 9000
BOP Rp 17100
Diminta:
a) Hitunglah unit ekuivalensi untuk BBB, BBP, dan B. Konversi
b) Buat Laporan Harga Pokok Produksi
c) Buat Jurnal yang Diperlukan

Jawab:
a) Menghitung Unit Ekuivalensi

Unsur Biaya
Total Biaya Unit Ekuivalensi Per KG
Produksi

700 KG + 100% X 500KG = 1200


B. Bhn Baku Rp 30000 Rp 25
KG

700 KG + 100% X 500KG = 1200


B. Bhn Penolong Rp 19000 Rp 16
KG

700 KG + 40% X 500KG = 900


B. Tenaga Kerja Rp 9000 Rp 10
KG

700 KG + 40% X 500KG = 900


B. Overhead Rp 17100 Rp 19
KG

Rp 75300 Rp 70

catatan: Biaya Konversi = Biaya Tenaga Kerja dan Biaya Overhead

14
Harga Pokok Produk Jadi = 700 X 70 = Rp 49000

Harga Pokok Produk Dalam Proses (500 KG)

. BBB = 100% X 500 X 25 = 12500

. BBP = 100% X 500 X 16 = 8000

. BTK = 40% X 500 X 10 = 2000

. BOP = 40% X 500 X 19 = 3800

Rp 26300

Rp 75300

b) Laporan Harga Pokok Produksi

Data Produksi

Dimasukan dalam Proses 1200 KG

Produk Jadi yang Ditransfer Ke Gudang 700 KG

Produk Dalam Proses (BBB 100%, BBP 100%

BTK 40%, BOP 40%) 500 KG

1200 KG

Biaya yang dibebankan dalam bulan maret 2010:

Total Per KG

BBB Rp 30000 Rp 25

BBP Rp 19200 Rp 16

BTK Rp 9000 Rp 10

BOP Rp 17100 Rp 19

Rp 75300 Rp 70

15
Perhitungan Biaya

Harga Pokok Produk Jadi yang Ditransfer ke Gudang

700 KG @ Rp 70 Rp 49000

Harga Pokok Persediaan Produk Dalam Proses Akhir:

. BBB 12500

. BBP 8000

. BTK 2000

. BOP 3800

Rp 26300

Jumlah Biaya Produksi yang Dibebankan Rp 75300

c) Jurnal yang dibutuhkan dalam pencatatan biaya produksi:

. Pencatatan BBB

BDP - BBB 30000

Persdiaan Bhn Baku 30000

. Pencatatan BBP

BDP - BBP 19200

Persediaan Bhn Penolong 19200

. Pencatatan BTK

BDP - BTK 9000

Gajih dan Upah 9000

. Pencatatan BOP

BDP - BOP 17100

Berbagai rekening 17100

yang di Kredit

16
Pencatatan Produk Jadi

Persediaan Produk Jadi 49000

BDP - BBB 17500 (700 X 25)

BDP - BBP 11200 (700 X 16)

BDP - BTK 7000 (700 X 10)

BDP - BOP 13300 (700 X 19)

. Pencatatan Produk Dalam Proses

Persediaan Produk Dalam Proses 26300

BDP - BBB 12500

BDP - BBP 8000

BDP - BTK 2000

BDP - BOP 3800

Catatan:

BBB : Biaya Bahan Baku

BBP : Biaya Bahan Penolong

BTK : Biaya Tenaga Kerja

BOP : Biaya Overhead Pabrik

BDP : Barang Dalam Proses

17
Contoh Soal Analisis Biaya Overhead Pabrik

KASUS 1

PT. BIRU LAUT membebankan biaya overhead pada produk dengan tarif yang telah
ditentukan di muka. Berikut ini budget dan realisasi dari biaya overhead pabrik dalam tahun
1997.

Diminta :

1. Berapakah BOP Tetap dan Variabel yang dianggarkan dan yang direalisasikan.
2. Hitung Tarif BOP Tetap maupun Variabel berdasarkan :
1. Jam mesin (Rp.) pada kapasitas mesin 75.000 jam mesin.
2. Biaya bahan baku (%).
3. Jam kerja langsung (Rp.) pada kapasitas 60.000 jam kerja langsung.
4. Unit produksi (Rp.) pada kapasitas produksi 750.000 unit.
5. Biaya tenaga kerja langsung (%).
3. Menganalisa selisih BOP, jika realisasi kapasitas yang dicapai 70.000 jam mesin.

JAWABAN KASUS 1 :

1. Dianggarkan Direalisasikan

BOP Tetap Rp. 8.625.000,- Rp. 8.775.000,-

BOP Variabel Rp. 9.375.000,- Rp. 9.300.000,-

2. a) Tarif BOP Tetap = Rp. 8.625.000,- / 75.000 = Rp. 115,-

Tarif BOP Tetap = Rp. 9.375.000,- / 75.000 = Rp. 125,-

b) Tarif BOP Tetap = (8.625.000,- / 15.000.000) x 100 % = 57,5 %

Tarif BOP Tetap = (Rp. 9.375.000,- / 15.000.000) x 100 % = 62,5 %

c) Tarif BOP Tetap = 8.625.000,- / 60.000 = Rp. 143,75

Tarif BOP Tetap = Rp. 9.375.000,- / 60.000 = Rp. 156,25

18
d) Tarif BOP Tetap = 8.625.000,- / 750.000 = Rp. 11,50

Tarif BOP Tetap = Rp. 9.375.000,- / 750.000 = Rp. 12,50

e) Tarif BOP Tetap = (8.625.000,- / 13.000.000) x 100 % = 66,35 %

Tarif BOP Tetap = (Rp. 9.375.000,- / 13.000.000) x 100 % = 72,12 %

3.

KASUS 2

Pihak akuntan diminta oleh pihak manajemen PT. WEKA dalam menghitung tarif biaya
overhead pabrik yang didasarkan pada berbagai macam kapasitas. Di bawah ini adalah data
yang digunakan untuk perhitungan tarif BOP :

Diminta :

1. Hitunglah tarif biaya overhead apbrik pada masing-masing tingkat kapasitas.


2. Jika jam sesungguhnya dan biaya overhead pabrik sesungguhnya sama dengan
estimasi pada kapasitas yang sesungguhnya diharapkan, berapakah jumlah
pembebanan (Lebih atau Kurang) biaya overhead pabrik pada tingkat kapasitas :

19
1. Penjualan Rata-rata.
2. Kapasitas Normal.
3. Kapasitas Praktis.

JAWABAN KASUS 2 :

1. Perhitungan Tarif BOP

2. Perhitungan pembebanan Lebih atau Kurang biaya overhead pabrik :

KASUS 3

Pihak manajemen PT. SARI BAKTI UTAMA menetapkan tarif biaya overhead pabrik
Rp. 100,- setiap satu kwintal produksi. Jika dalam satu bulan perusahaan menghasilkan
2.500 kwintal, maka anggaran biaya overhead pabrik sebesar Rp. 410.000,- . Pada saat
produksi mencapai 7.500 kwintal, maka anggaran biaya overhead pabrik sebesar Rp.
710.000,- . Pada bulan April 1997 lalu, perusahaan menghasilkan produk sebanyak 6.000
kwintal, sehingga biaya overhead pabrik yang dikeluarkan sebesar Rp. 550.000,-

Diminta :

1. Tarif Biaya Overhead Pabrik Variabel.


2. Anggaran Biaya Overhead Pabrik Tetap.
3. Kapasitas Normal.
4. Biaya Overhead Pabrik yang dibebankan pada bulan April 1997.
5. Selisih Biaya Overhead Pabrik pada bulan April 1997, yang dirinci menjadi :
1. Selisih Anggaran.
2. Selisih Kapasitas.

20
JAWABAN KASUS 3 :

4. Biaya Overhead Pabrik yang dibebankan pada bulan April 1997 :

Kapasitas sesungguhnya pada bulan April 1997 = 6.000 kwt

BOP dibebankan pada bulan April 1997 = 6.000 kwt x Rp. 100,- = Rp. 600.000,-

21
Metode Harga Pokok Pesanan
Job Order Cost Method

PT. Kangen Berat adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang percetakan dengan
menggunakan metode harga pokok pesanan. Pada bulan November 2014 perusahaan
mendapat pesanan untuk mencetak brosur sebanyak 5.000 lembar dari CV. Selalu
Menanti dengan harga yang dibebankan adalah Rp. 2.500,- per lembar. Pada bulan
yang sama perusahaan juga menerima pesanan sebanyak 50 spanduk dari CV. Ingin
Berjumpa dengan harga Rp. 425.000,- per buah. Pesanan dari CV. Selalu Menanti
diberi kode pesanan ELANG-01 dan pesanan dari CV. Ingin Berjumpa diberi nomor
ELANG-02.

Data Kegiatan dan Produksi

1. Pada tanggal 11 November 2014 dibeli bahan baku dan penolong dengan cara kredit
yakni sebagai berikut :

Bahan Baku

Kertas untuk brosur Rp. 2.150.000,-

Kain putih 200 meter Rp. 3.750.000,-

Bahan Penolong

Bahan Penolong B1 Rp. 450.000,-

22
Bahan Penolong B2 Rp. 550.000,-

2. Dalam pemakaian bahan baku dan penolong untuk memproses pesanan ELANG-01
dan ELANG-02 diperoleh informasi sebagai berikut :

23
Bahan baku kertas dan bahan penolong B1 digunakan untuk memproses pesanan ELANG-
01, sedangkan bahan baku kain dan bahan penolong B2 dipakai untuk memproses
pesanan ELANG-02.

24
3. Untuk penentuan Biaya Tenaga Kerja yang dikeluarkan oleh departemen produksi
menggunakan dasar jam tenaga kerja langsung dengan perhitungan sebagai berikut.

a. Upah langsung untuk pesanan ELANG-01 240 jam @Rp. 9.000,-.

b. Upah langsung untuk pesanan ELANG-02 menghabiskan sebanyak 360 jam @Rp. 9.000,-.

c. Upah tidak langsung adalah Rp. 2.500.000,-.

d. Gaji Karyawan Bagian Pemasaran dikeluarkan sebesar Rp. 4.000.000,-.

e. Gaji Karyawan Bagian Administrasi & Umum sebesar Rp. 2.250.000,-.

4. Pencatatan Biaya Overhead Pabrik. Perusahaan dalam hal ini menggunakan tarif
BOP sebesar 150% dari Biaya Tenaga Kerja Langsung, baik pesanan ELANG-01 dan
ELANG-02.

Biaya overhead pabrik sesungguhnya terjadi dalam kaitannya dengan pesanan di


atas, adalah sebagai berikut.

Biaya pemeliharaan gedung Rp. 500.000

Biaya depresiasi gedung pabrik Rp. 1.000.000

Biaya depresiasi mesin Rp. 1.500.000

Biaya pemeliharaan mesin Rp. 250.000

Biaya asuransi gedung pabrik & mesin Rp. 750.000

25
5. Pencatatan Harga Pokok Produk Jadi. Berdasarkan informasi untuk pesanan
ELANG-01 telah selesai dikerjakan.

6. Pencatatan Harga Pokok Produk Dalam Proses. Berdasarkan informasi diketahui


bahwa untuk pesanan ELANG-02 masih dalam proses penyelesaian.

7. Pencatatan Harga Pokok Produk yang dijual. Pesanan ELANG-01 telah diserahkan
kepada pemesan. Dan dari penyerahan tersebut pemesan akan membayar dengan cara
kredit.

DIMINTA

Berdasarkan informasi di atas, buatlah jurnal yang diperlukan berdasarkan Metode


Harga Pokok Pesanan.

Penyelesaian :

Metode Harga Pokok Pesanan

Job Order Cost Method

Jurnal-Jurnal yang diperlukan :

1. Pencatatan Pembelian Bahan Baku & Penolong

Persediaan Bahan Baku Rp. 5.900.000,-

Hutang Dagang Rp. 5.900.000,-

Persediaan Bahan Penolong Rp. 1.000.000,-

Hutang Dagang Rp. 1.000.000,-

26
2. Pencatatan Pemakaian Bahan Baku & Penolong

BDP Biaya Bahan Baku Rp. 5.900.000,-

Persediaan Bahan Baku Rp. 5.900.000,-

BOP Sesungguhnya Rp. 1.000.000,-

Persediaan Bahan Penolong Rp. 1.000.000,-

3. Pencatatan Biaya Tenaga Kerja

a. Pencatatan Biaya Tenaga Kerja yang terutang

Gaji & Upah Rp. 14.150.000,-

Utang Gaji & Upah Rp. 14.150.000,-

b. Pencatatan Distribusi Biaya TK

Biaya TK Langsung Rp. 5.400.000,-

Biaya TK Tdk Langsung Rp. 2.500.000,-

Biaya Pemasaran Rp. 4.000.000,-

Biaya Adm & Umum Rp. 2.250.000,-

Gaji & Upah Rp. 14.150.000,-

27
c. Pembayaran Gaji & Upah

Utang Gaji & Upah Rp. 14.150.000,-

Kas Rp. 14.150.000,-

4. Pencatatan Biaya Overhead Pabrik

BDP Biaya Overhead Pabrik Rp. 8.100.000,-

BOP yg Dibebankan Rp. 8.100.000,-

BOP yg Sesungguhnya Rp. 4.000.000,-

Persediaan Bahan Bangunan Rp. 500.000,-

Akum. Depr. Gedung Pabrik Rp. 1.000.000,-

Akum. Depr. Mesin Rp. 1.500.000,-

Persediaan Suku Cadang Rp. 250.000,-

Persekot Asuransi Rp. 750.000,-

BOP yg Dibebankan Rp. 8.100.000,-

BOP yg Sesungguhnya Rp. 8.100.000,-

Selisih BOP :

Untuk menentukan selisih BOP dicari dengan cara membandingkan antara jumlah BOP
yang dibebankan dengan jumlah seluruh BOP yang sesungguhnya terjadi.

Berdasarkan soal di atas, selisih BOP dapat ditentukan dengan cara :

BOP yang Sesungguhnya:

Jurnal No. #2 Rp. 1.000.000,-

Jurnal No. #3b Rp. 2.500.000,-

Jurnal No. #4 Rp. 4.000.000,-

Jumlah BOP yg Sesungguhnya Rp. 7.500.000,-

BOP yang Dibebankan Rp. 8.100.000,-

(Selisih pembebanan lebih)

28
Jurnal Selisih BOP

BOP yg Sesungguhnya Rp. 600.000,-

Selisih BOP Rp. 600.000,-

5. Pencatatan Harga Pokok Produk Jadi (ELANG-01)

Persediaan Produk Jadi Rp. 8.000.000,-

BDP- Biaya Bahan Baku Rp. 2.600.000,-

BDP- Biaya TK Langsung Rp. 2.160.000,-

BDP- Biaya Overhead Pabrik Rp. 3.240.000,-

6. Pencatatan Harga Pokok Produk Dlm Proses (ELANG-02)

Persediaan PDP Rp. 12.400.000,-

BDP- Biaya Bahan Baku Rp. 4.300.000,-

BDP- Biaya TK Langsung Rp. 3.240.000,-

BDP- Biaya Overhead Pabrik Rp. 4.860.000,-

7. Pencatatan Harga Pokok Produk yg Dijual

Harga Pokok Produksi Rp. 8.000.000,-

Persediaan Produk jadi Rp. 8.000.000,-

Piutang Dagang Rp. 12.500.000,-

Harga Pokok Produksi Rp. 12.500.000,-

29
AKB Metode Harga Pokok Pesanan Full Costing (Contoh Kasus)
Contoh:

PT. Accorner merupakan perusahaan yang bergerak di bidang percetakan. Semua pesanan
diproduksi berdasarkan spesifikasi yang diminta oleh pemesan dan biaya produksi
dikumpulkan menurut pesanan yang diterima. Perusahaan menggunakan pendekatan full
costing dalam penentuan harga pokok produksi. Dalam mencatat biaya produksi, setiap
pesanan diberikan nomor pesanan dan setiap dokumen sumber dan dokumen pendukung
diberi indentitas nomor pesanan yang bersangkutan. Pada bulan november 20X2, PT
Accorner mendapat pesanan untuk mencetak undangan sebanyak 1500 lembar dari PT
Rimendi dengan harga Rp 3.000 per lembar. Dalam bulan yang sama perusahaan juga
menerima pesanan untuk mencetak pamflet iklan sebanyak 20.000 lembar dari PT. Oki
dengan harga Rp 1.000 per lembar. Pesanan dari PT Rimendi diberi nomor 101 dan pesanan
dari PT Oki diberi nomor 102. Kegiatan produksi dan kegiatan lain untuk memenuhi pesanan
tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pembelian bahan baku dan bahan penolong

Bahan baku dan bahan penolong yang dibeli pada tanggal 3 November untuk keperluan
produksi adalah sebagai berikut:

Perusahaan membeli bahan baku dan bahan penolong secara kredit. Bahan baku dan bahan
penolong dibeli oleh bagian pembelian. Bahan tersebut disimpan didalam gudang menanti
hingga saatnya digunakan dalam proses produksi. Perusahaan menggunakan dua rekening
kontrol untuk mencatat persediaan bahan: Persediaan Bahan Baku dan Persediaan Bahan
Penolong. Pembelian bahan baku dan bahan penolong di atas dicatat sebagai berikut:

30
2. Pemakaian bahan baku dan bahan penolong dalam proses produksi

Untuk dapat mencatat bahan baku dan bahan penolong dalam tiap pesanan, perusahaan
menggunakan dokumen yang disebut bukti permintaan dan pengeluaran barang gudang.
Dokumen ini diisi oleh bagian produksi dan diserahkan ke bagian gudang untuk meminta
bahan baku yang dibutuhkan untuk memenuhi pesanan. Kemudian, bagian gudang akan
mengisi jumlah bahan baku yang diserahkan ke bagian produksi pada dokumen tersebut.
Dokumen tersebut selanjutnya digunakan sebagai dokumen sumber untuk dasar pencatatan
pemakaian bahan. Untuk memproses pesanan 101 dan 102 digunakan bahan sebagai berikut:

Jumlah bahan baku yang dipakai (Rp 1.350.000 + Rp 4.125.000) = Rp 5.475.000

Sementara itu, bahan penolong yang digunakan untuk memproses kedua pesanan tersebut
adalah sebagai berikut:

Atas dasar bukti permintaan dan pengeluaran gudang tersebut, jurnal yang diperlukan adalah
sebagai berikut:

Karena dalam metode harga pokok pesanan harus dipisahkan antara biaya langsung dengan
biaya tidak langsung maka pemakaian bahan penolong yang merupakan biaya tidak langsung
dicatat dengan mendebet rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya dan mengkredit
Persediaan Bahan Penolong.
Kenapa bukan dengan mendebet rekening Barang Dalam Proses Biaya Overhead Pabrik?
Rekening Barang Dalam Proses Biaya Overhead Pabrik hanya didebet untuk mencatat
biaya overhead pabrik berdasarkan tarif yang ditentukan dimuka. Jadi pemakaian bahan baku
akan dijurnal sebagai berikut:

31
3. Pencatatan biaya tenaga kerja

Untuk mencatat biaya tenaga kerja, terlebih dahulu dipisahkan antara upah langsung dan
upah tidak langsung. Upah langsung dicatat dengan mendebet rekening Barang Dalam Proses
Biaya Tenaga Kerja Lansung sedangkan upah tidak langsung dicatat dengan menggunakan
rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya. Misalkan biaya tenaga kerja yang
dikeluarkan oleh departemen produksi adalah sebagai berikut:

Pencatatan biaya tenaga kerja dilakukan dengan tahap-tahap berikut:

a. Pencatatan biaya tenaga kerja yang terutang oleh perusahaan

b. Pencatatan distribusi biaya tenaga kerja

Karena biaya tenaga kerja terdiri dari beberapa unsur biaya yakni biaya tenaga kerja lansung,
biaya tenaga kerja tidak langsung, dan biaya non produksi (gaji karyawan bagian adm dan
bagian pemasaran) maka diperlukan adanya distribusi biaya tenaga kerja sehingga jurnal
untuk mencatat transaksi biaya tersebut adalah sebagai berikut:

c. Pencatatan pembayaran gaji dan upah

Gaji dan upah yang dibayarkan akan dicatat dengan jurnal berikut:

32
4. Pencatatan biaya overhead pabrik

Pencatatan biaya overhead pabrik dibagi menjadi dua yakni biaya overhead pabrik
berdasarkan tarif yang ditentukan di muka dan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya
terjadi. Biaya overhead pabrik berdasarkan tarif yang ditentukan di muka adalah biaya
overhead pabrik yang dibebankan kepada produk pesanan. Tarif biaya overhead pabrik ini
umumnya dihitung di awal tahun anggaran berdasarkan angka anggaran biaya overhead
pabrik. Biaya overhead pabrik berdasarkan tarif yang ditentukan di muka di catat mendebet
rekening Barang Dalam Proses Biaya Overhead Pabrik dan mengkredit rekening Biaya
Overhead yang Dibebankan. Biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi merupakan
biaya overhead pabrik yang benar-benar terjadi pada saat proses produksi dan dicatat dengan
mendebet rekening kontrol Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya. Secara periodik (biasanya
akhir bulan) biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk akan dibandingkan
dengan biaya overhead pabrik sesungguhnya dengan mendebet rekening Biaya Overhead
Pabrik yang Dibebankan dan mengkredit rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya
kemudian dihitung selisihnya. Misalkan biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada
produk adalah sebesar 150% dari biaya tenaga kerja masing-masing produk sehingga biaya
overhead pabrik yang dibebankan pada masing-masing produk adalah sebagai berikut:

Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik yang dibebankan di atas adalah:

Misalkan selama proses produksi terdapat biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi
selain yang disebut dalam jurnal #4 dan #6 seperti berikut:

Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi seperti disebut di
atas adalah sebagai berikut:

33
Untuk mengetahui apakah biaya overhead pabrik yang dibebankan menyimpang dari biaya
overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi maka saldo rekening Biaya Overhead Pabrik
yang Dibebankan ditutup ke rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya.

Setelah itu kita hitung saldo Biaya Overhead Pabrik yang sesungguhnya terjadi seperti
berikut:

Selisih tersebut akan dipindahkan ke rekening Selisih Biaya Overhead Pabrik dengan
mencatat jurnal berikut:

5. Pencatatan harga pokok produk jadi

Harga pokok produk yang sudah jadi dapat dihitung dari informasi biaya yang dikumpulkan
dalam kartu harga pokok pesanan yang bersangkutan. Misalkan produk yang sudah selesai
diproduksi adalah pesanan 101 . Harga pokok produk pesanan 101 berdasarkan kartu harga
pokok pesanan adalah sebagai berikut:

Harga pokok produk pesanan 101 dicatat dengan jurnal berikut:

34
6. Pencatatan harga pokok yang masih dalam proses

Pada akhir periode, kemungkin terdapat produk yang masih dalam proses produksi. Biaya
yang telah dikeluarkan untuk pesanan tersebut dapat dilihat dalam kartu harga pokok pesanan
yang bersangkutan kemudian dibuat jurnal untuk mencatat persediaan produk dalam proses
dengan mendebet rekening Persediaan Produk Dalam Proses dan mengkredit rekening
Barang Dalam Proses. Misalkan produk yang masih dalam proses adalah pesanan 102 dengan
rincian biaya berdasarkan kartu harga pokok pesanan adalah sebagai berikut:

Jurnalnya adalah:

7. Pencatatan harga pokok produk yang dijual

Harga pokok produk yang diserahkan kepada pemesan dicatat dengen mendebet rekening
Harga Pokok Penjualan dan mengkredit Persediaan Produk Jadi. Untuk pesanan 101
jurnalnya adalah sebagai berikut:

8. Pencatatan pendapatan penjualan produk

Pendapatan dicata dengan mendebet rekening Piutang Dagang (penjualan dilakukan secara
kredit) dan mengkredit rekening Hasil Penjualan. Di awal disebutkan bahwa harga jual untuk
pesanan 101 adalah Rp 3000 per lembar dengan jumlah sebanyak 1500 lembar sehingga
jumlah keseluruhannya adalah RP 4.500.000. Jurnal yang dibuat adalah sebagai berikut:

35
METODE HARGA POKOK PESANAN
Pembahasan metode harga pokok produksi diawali dengan uraian prosedur pencatatan biaya
bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik, dan pencatatan harga pokok
produk jadi yang ditransfer ke bagian gudang dari bagian produksi. Berikut ini adalah contoh
pengumpulan biaya produksi dengan menggunakan metode harga pokok pesanan dan
pendekatan full costing dalam penentuan harga pokok produksi.

Contoh 1 :
PT. Eliona berusaha dalam bidang percetakan. Semua pesanan diproduksi berdasarkan
spesifikasi dari pemesan, dan biaya produksi dikumpulkan menurut pesanan yang diterima.
Pendekatan yang digunakan perusahaan dalam penentuan harga pokok produksi adalah Full
Costing. Untuk dapat mencatat biaya produksi, tiap pesanan diberi nomor, dan setiap
dokumen sumber dan dokumen pendukung diberi identitas nomor pesanan yang
bersangkutan. Dalam bulan November 19X1, PT. Eliona mendapat pesanan untuk mencetak
undangan sebanyak 1.500 lembar dari PT. Rimendi. Harga yang dibebankan kepada pemesan
tersebut adalah Rp. 3.000 per lembar. Dalam bulan yang sama perusahaan juga menerima
pesanan untuk mencetak pamflet iklan sebanyak Rp. 20.000 per lembar dari PT.OKI, dengan
harga yang dibebankan kepada pemesan sebesar Rp. 1.000 perlembar. Pesanan dari
PT.Rimendi diberi nomor 101 dan pesanan dari PT.OKI diberi nomor 102. Berikut ini adalah
kegiatan produksi dan kegiatan lain untuk memenuhi pesanan tersebut.

1. Pembelian bahan baku dan bahan penolong


Pada tanggal 3 November perusahaan membeli bahan baku dan bahan penolong berikut ini :
Bahan Baku :
Kertas jenis X 85 ream @ Rp. 10.000 Rp. 850.000
Kertas jenis Y 10 roll @ Rp. 350.000 Rp.3.500.000
Tinta Jenis A 5 kg @ Rp. 100.000 Rp. 500.000
Tinta Jenis B 25 kg@ Rp. 25.000 Rp. 625.000
Jumlah bahan baku yang dibeli Rp.5.475.000

Bahan Penolong :
Bahan penolong P 17 kg @ Rp. 10.000 Rp. 170.000
Bahan penolong Q 60 liter @ Rp. 5.000 Rp. 300.000
Jumlah bahan penolong yang dibeli Rp. 470.000
Jumlah total Rp.5.945.000

Bahan baku dan bahan penolong tersebut dibeli oleh bagian pembelian. Bahan tersebut
kemudian disimpan dalam gudang menanti saatnya dipakai dalam proses produksi untuk
memenuhi pesanan tersebut. Perusahaan menggunakan dua rekening kontrol untuk
mencatat persediaan bahan :Persediaan bahan baku dan persediaan bahan penolong .
Pembelia bahan baku dan bahan penolong dijurnal sbb :
Jurnal 1 :
Dr. Persediaa bahan baku Rp. 5.475.000
Cr. Hutang dagang Rp. 5.475.000

Jurnal 2 :
Dr. Persediaa bahan baku Rp.470.000
Cr. Hutang dagang Rp. 470.000

2. Pemakaian bahan baku dan bahan penolong dalam produksi

36
Untuk dapat mencatat bahan baku yang digunakan dalam pesanan, perusahaan menggunakan
dokumen yang disebut bukti permintaan dan pengeluaran barang gudang. Dokumen ini diisi
oleh bagian produksi dan diserahkan kepada bagian gudang untuk meminta bahan yang
diperlukan oleh bagian produksi. Bagian gudang akan mengisi jumlah bahan yang diserahkan
kepada bagian produksi pada dokumen tersebut, dan kemudian dokumen ini dipakai sebagai
dokumen sumber untuk dasar pencatatan pemakaian bahan.

Bahan baku untuk pesanan 101 :


Kertas jenis X 85 ream @ Rp. 10.000 Rp.850.000
Tinta jenis A 5 Kg@ Rp.100.000 Rp.500.000
Jumlah bahan baku untuk pesanan 101 Rp.1.350.000

Bahan baku untuk pesanan 102 :


Kertas jenis Y 10 roll Rp. 350.000 Rp.3.500.000
Tinta jenis B 25 Kg@ Rp.25.000 Rp. 625.000
Jumlah bahan baku untuk pesanan 102 Rp.4.125.000
Total bahan baku yang dipakai Rp.5.475.000

Pada saat memproses dua pesanan tersebut, perusahaan menggunakan bahan penolong sbb:
Bahan penolong P 10 kg @ Rp. 10.000 Rp. 100.000
Bahan penolong Q 40 liter @ Rp. 5.000 Rp. 200.000
Jumlah bahan penolong yang dipakai dalam produksi Rp. 300.000

Jurnal untuk mencatat pemakaian bahan baku sbb : (jurnal 3)


Dr. Barang Proses-Biaya Bahan Baku Rp. 5.475.000
Cr. Persediaan Bahan Baku Rp. 5.475.000

Pencatatan pemakaian bahan baku dalam metode harga pokok pesanan dilakukan dengan:
a. Mendebet rekening barang dalam proses
b. Mengkredit persediaan bahan baku atas dasar dokumen bukti permintaan dan pengeluaran
barang gudang.
c. Pendebetan rekening barang dalam proses diikuti dengan pencatatan rincian bahan baku
yang dipakai dalam kartu harga pokok pesanan .

37
PT. Eliona Yogyakarta
KARTUHARGA POKOK PESANAN 101

No. Pesanan : 101 Pemesan : PT.Rimendi


Jenis Produk : Undangan Sifatpesanan : Segera
Tgl.Pesan : 2 November 1986 Jumlah : 1.500 exemplar
Tgl Selesai : 22 November 1986 HargaJual : Rp. 4.500.000

BIAYA BAHAN BAKU


BIAYA TENAGA KERJA
BIAYA OVERHEAD PABRIK
Tgl
No
Ket
Jumlah
Tgl
No. Kartu Jam Kerja
Jumlah
Tgl
Dasar
Tarif
Jumlah

Kertas X
Tinta A

850.000
500.000

900.000

B. TngKerja Langsung
150 %
1.350.000

Jumlah
1.350.000

Jmh
900.000

Jmh

1.350.000

Jumlah Total Biaya Produksi adalah


3.600.00

38
PT. Eliona Yogyakarta
KARTUHARGA POKOK PESANAN 102

No. Pesanan : 102 Pemesan : PT. Oki


Jenis Produk : Pamflet iklan Sifatpesanan : Biasa
Tgl.Pesan : 15 November 1986 Jumlah : 20.000 Lembar
Tgl Selesai : 16 Desember 1986 HargaJual : Rp. 20.000.000

BIAYA BAHAN BAKU


BIAYA TENAGA KERJA
BIAYA OVERHEAD PABRIK
Tgl
No
Ket
Jumlah
Tgl
No. Kartu Jam Kerja
Jumlah
Tgl
Dasar
Tarif
Jumlah

Kertas X
Tinta B

3.500.000
625.000

5.000.000

B. TngKerja Langsung
150 %
7.500.000

Jumlah
4.125.000

Jmh
5.000.000

Jmh

7.500.000

Jumlah Total Biaya Produksi adalah


16.625.000

39
Dalam metode harga pokok pesanan :
1. Harus dipisahkan antara biaya produksi langsung dan biaya produksi tidak langsung.
2. Bahan penolong yag merupakan unsur biaya produksi tidak langsung dicatat pemakaiannya
dengan Mendebet rekening kontrol biaya overhead pabrik sesungguhnya. Rekening
Barang Dalam Proses didebet untuk mencatat pembebanan biaya overhead pabrik
berdasarkan tarif yang ditentukan dimuka.

Jurnal pencatatan pemakaian bahan penolong sbb: (jurnal 4)


Dr. Biaya overhead pabrik sesungguhnya Rp. 300.000
Cr.Persediaan bahan penolong Rp.
300.000

3. Pencatatan biaya tenaga kerja


Dalam metode harga pokok pesanan :
1. Harus dipisahkan antara upah tenaga kerja langsung dangan upah kerja tak langsung.
2. Upah tenaga kerja langsung dicatat dengan mendebet rekening barang dalam proses dan
dicatat dalam kartu harga pokok pesanan yang bersangkutan.
3. Upah tenaga kerja tak langsung dicatat dengan mendebet rekening biaya overhead pabrik
yang sesungguhnya.

Dari contoh diatas biaya tenaga kerja yang dikeluarkan dalam departemen produksi sbb::
Upah langsung untuk pesanan 101 : 225 jam @ Rp. 4.000 Rp. 900.000
Upah langsung untuk pesanan 101 : 225 jam @ Rp. 4.000 Rp. 5.000.000
Upah tidak langsung Rp. 3.000.000
Jumlah upah Rp. 8.900.000
Gaji karyawan administrasi dan umum Rp. 4.000.000
Biaya gaji karyawan bagian pemasaran Rp. 7.500.000
Jumlah gaji Rp. 11.500.000
Jumlah biaya tenaga kerja Rp. 20.400.000

Pencatatan biaya tenaga kerja dilakukan melalui 3 tahap berikut :


1. Pencatatan biaya tenaga kerja yang terutang oleh perusahaan
2. Pencatatan distribusi biaya tenaga kerja
3. Pencatatan pembayaran gaji dan upah

Dari data diatas, jurnal untuk mencatat biaya tenaga : (jurnal 5)


1. Pencatatan biaya tenaga kerja yang terutang oleh perusahaan
DR. Gaji dan upah Rp. 20.400.000
CR. Utang gaji dan upah Rp. 20.400.000
2. Pencatatan distribusi biaya tenaga kerja
Karena biaya tenaga kerja terdiri dari berbagai unsur biaya, maka perlu diadakan
distribusi biaya tenaga kerja sbb:
Biaya Tenaga Kerja Langsung : dibebankan kepada pesanan yang bersangkutan dengan
mendebit rekening barang dalam proses dan mencatatnya dalam kartu harga pokok pesanan
yang bersangkutan.
Pencatatan pembayaran gaji dan upah :
Merupakan unsur biaya produksi tidak langsung dan dicatat sebagai unsur biaya overhead
pabrik serta didebetkan dalam rekening biaya overhead pabrik yang sesungguhnya.
Biaya Tenaga Kerja Nonproduksi :

40
Merupakan unsur biaya nonproduksi dan dibebankan ke dalam rekening kontrol biaya
administrasi dan umum atau biaya pemasaran.
Jurnal distribusi biaya tenaga kerja diatas jurnal 6
Dr. Barang dalam proses-biaya tenaga kerja langsung Rp. 5.900.000
Dr. Barang dalam proses-biaya tenaga kerja langsung Rp. 3.000.000
Dr. Barang dalam proses-biaya tenaga kerja langsung Rp. 4.000.000
Dr. Barang dalam proses-biaya tenaga kerja langsung Rp. 7.500.000
Cr. Gaji dan upah Rp. 20.400.000

Pencatatan pembayaran gaji dan upah (jurnal 7)


Dr. Utang gaji dan upah Rp. 20.400.000
Cr. Kas Rp. 20.400.000

5. Pencatatan biaya overhead pabrik


Pencatatan biaya overhead pabrik dibagi menjadi dua :
a. Pencatatan biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk berdasarkan tarif yang
ditentukan dimuka dan pencatatan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi.
b. Pembebanan produk dengan biaya overhead pabrik berdasarkan tarif yang dicatat dengan
mendebet rekening barang dalam proses dan mengkredit rekening biaya overhead pabrik
yang dibebankan.
c. Biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi dicatat dengan mendebet rekening kontrol
biaya overhead pabrik sesungguhnya.
Secara periodik (misalnya akhir bulan ) biaya overhead pabrik yang sesungguhnya
dibandingkan dengan biaya overhead pabrik yang dihitung berdasarkan tarif dihitung
selisihnya . Perbandingan ini dilakukan dengan menutup rekening biaya overhead yang
dibebankan ke dalam rekening biaya overhead pabrik yang sesungguhnya.
Dari contoh diatas , misalnya biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk atas
dasar tarif sebesar 150% dari biaya tenaga kerja langsung. Dengan demikian biaya overhead
pabrik yang dibebankan kepada tiap pesanan dihitung sbb:
Pesanan 101: 150 % X Rp. 900.000 = Rp. 1.350.000
Pesanan 102: 150% X Rp. 5.000.000 = Rp. 7.500.000
Jumlah biaya overhead pabrikk yang dibebankan Rp. 8.850.000

Jurnal untuk mencatat pembebanan biaya overhead pabrik kepada pesanan sbb:
(jurnal 8)
Dr. Brg Dlm Proses-Biaya Overhead pabrik 8.850.000
Cr.Biaya overhead pabrik yang dibebankan 8.850.000

Misalnya biaya overhead yang sesungguhnya terjadi (selain biaya bahan penolong
Rp. 300.000 dan biaya tenaga kerja tidak langsung sebesar Rp. 3.000.000. seperti tersebut
dalam jurnal 4 dan 6 :
Biaya depresiasi mesin Rp. 1.500.000
Biaya depresiasi gedung pabrik Rp. 2.000.000
Biaya asuransi gedung pabrik dan mesin Rp. 700.000
Biaya pemeliharaan mesin Rp. 1.000.000
Biaya pemeliharaan gedung Rp. 500.000
Jumlah Rp. 5.700.000

Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi adalah sbb: (jurnal
9)

41
Dr. By. Overhead pabrik sesungguhnya Rp. 5.700.000
Cr. Akumulasi depresiasi mesin Rp. 1.500.000
Cr. Akumulasi depresiasi gedung Rp. 2.000.000
Cr. Persekot asuransi Rp. 700.000
Cr.Persediaan suku cadang Rp. 1.000.000
Cr.Persediaan bahan bangunan Rp. 500.000

Untuk mengetahui apakah biaya overhead pabrik yang dibebankan berdasarkan tarif
menyimpang dari biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi, saldo rekening biaya
overhead pabrik yang dibebankan ditutup ke rekening biaya overhead pabrik yang
sesungguhnya.Jurnal penutup adalah sbb:

Jurnal 10 :
Dr. Biaya overhead pabrik yang dibebankan Rp. 8.850.000
Cr. Biaya overhead pabrik yang sesungguhnya Rp.
8.850.000

Selisih biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk dengan biaya overhead pabrik
yang sesungguhnya terjadi dalam suatu periode akuntansi ditentukan dengan menghitung
saldo rekening biaya overhead pabrik yang sesunggguhnya.
Setelah jurnal diatas (jurnal 10) dibukukan saldo rekening biaya overhead pabrik yang
sesungguhnya adalah sbb:
Debit :
Jurnal 4 Rp.300.000
Jurnal 6 Rp.3.000.000
Jurnal 9: Rp.5.700.000
Jumlah debet Rp. 9.000.000
Kredit :
Jurnal 10 Rp. 8.850.000
Selisih pembebanan 150.000

Selisih biaya overhead pabrik pada akhirnya dipindahkan ke rekening selisih biaya overhead
pabrik. Jika terjadi selisih pembebanan kurang, maka dibuat jurnal :
Jurnal 11:
Dr. Biaya overhead pabrik Rp.150.000
Cr. Biaya overhead pabrik sesungguhnya
Rp.150.000

5.Pencatatan harga pokok produk jadi


Pesanan yang telah selesai diproduksiditransfer ke bagian oleh bagian produksi. Harga pokok
pesanan yang telah selesai diproduksi dapat dihitung dari informasi biaya yang dikumpulkan
dalam kartu harga pokok pesanan yang bersangkutan.
Harga pokok pesanan 101 :
Biaya bahan baku Rp. 1.350.000
Biaya tenaga kerja langsung Rp. 900.000
Biaya overhead pabrik Rp. 1.350.000
Jumlah harga pokok pesanan 101 Rp. 3.600.000

Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi tersebut adalah sbb:
Jurnal 12 :

42
Dr. Persediaan Produk jadi Rp. 3.600.000
Cr.Barang dalam proses-By. Bhn baku Rp. 1.350.000
Cr.Barang dalam proses-By. Tenaga kerja langsung Rp. 900.000
Cr.Barang dalam proses-By. Overhead pabrik Rp. 1.350.000

6.Pencatatan harga pokok produk dalam proses


Pada akhir periode kemungkinan terdapat pesanan yang belum selesai diproduksi .
Biaya yang telah dikeluarkan untuk pesanan tersebut dapat dilihat dalam kartu harga pokok
pesanan yang bersangkutan.Kemudiaan dibuat jurnal untuk mencatat persediaan produk
dalam proses dan mengkredit rekening barang dalam proses.
Jurnal 13:
DR.Persediaan Produk Dalam Proses Rp. 6.625.000
CR.BDP-By bhn baku Rp. 4.125.000
CR.BDP-By Tenaga kerja langsung Rp. 5.000.000
CR.BDP-By overhead pabrik Rp. 7.500.000

7.Pencatatan harga pokok produk yang dijual


Harga pokok produk yang diserahkan kepada pemesan dicatat dalam rekening harga
pokok penjualan dan rekening persediaan produk jadi.
Jurnal 14 :
Dr.Harga pokok penjualan Rp. 3.600.000
CrPersediaan produk jadi Rp. 3.600.000

8.Pencatatan pendapatan penjualan produk


Pada awal contoh ini telah disebutkan disebutkan bahwa pesanan 101 berupa pesanan 101
berupa pesanan 1500 lbr undangan dengan harga harga jual Rp. 1500 perlembar atau total
harga Rp. 4.500.000. Maka jurnal yang dibuat untuk mencatat piutang kepada pemesan sbb :
Jurnal 15 :
Dr. Piutang Dagang Rp. 4.500.000
Cr.Penjualan Rp. 4.500.000

Soal Latihan

1. Menurut daftar gaji dan upah yang dibuat oleh bagian personalia, biaya tenaga kerja yang
harus dibayar oleh suatu perusahaan terdiri dari unsur berikut ini :
Upah langsung karyawan pabrik Rp. 200.000
Upah tidak langsung karyawan pabrik Rp. 900.000
Gaji karyawan administrasi dan umum Rp. 2.000.000
Gaji karyawan pemasaran Rp. 1.500.000

Atas dasar data tersebut, buatlah jurnal untuk mencatat utang gaji dan upah, distribusi gaji
dan upah serta pembayaran gaji dan upah.

2. Suatu perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan mengolah produknya melalui dua
departemen produksi A dan B, berikut ini adalah transaksi biaya produksi perusahaan
tersebut untuk mengolah pesanan no. B-109 dalam bulan Januari 19X1 :

43
Jenis Biaya Departemen A Departemen B
Biaya bahan baku Rp. 150.000
Biaya tenaga kerja langsung Rp. 500.000 Rp. 675.000
Biaya overhead pabrik Rp. 5.000/jam mesin 200%biayatenagakerja
langsung
Jam mesin 200 400

Pada akhir bulan Januari tersebut, pesanan B-109 telah selesai dikerjakan dan diserahkan
kepada pemesan dengan harga jual Rp. 5.000.000.
Atas dasar data tersebut diatas, buatlah jurnal untuk mencatat transaksi :
a. Terjadinya biaya produksi untuk mengolah pesanan B 109 tersebut
b. Harga pokok produk jadi
c. Penjualan pesanan B 109

3. PT.X yang berproduksi berdasarkan pesanan, menghitung tarif biaya overhead pabriknya
sebesar Rp. 1.500 perjam mesin. Dalam suatu bulan perusahaan tersebut memproduksi 3
pesanan dengan waktu pengerjaan sbb:
Pesanan 250 200 jam mesin
Pesanan 251 150 jam mesin
Pesanan 252 400 jam mesin
Dalam bulan tersebut jumlah biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi adalah
sebagai berikut :
Biaya tenaga kerja tidak langsung pabrik Rp. 370.000
Biaya bahan penolong 350.000
Biaya depresiasi gedung pabrik 200.000
Biaya depresiasi mesin 150.000
Jumlah Rp.1.070.000
Atas dasar data tersebut :
a. Buatlah jurnal untuk mencatat :
1. Pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk
2. Biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi
3. Penutupan rekening biaya overhead pabrik yang dibebankan
b. Hitunglah pembebanan lebih atau kurang biaya overhead pabrik.

44
1. METODE HARGA POKOK PROSES PRODUK DIOLAH MELALUI SATU
DEPARTEMEN PRODUKSI
Contoh 1.
PT Risa Rimendi mengolah produknya secara massa melalui satu departemen produksi.
Jumlah biaya yang dikeluarkan selama bulan Januari 19x1 disajikan dalam gambar 3.1
Biaya bahan baku Rp 5.000.000
Biaya bahan penolong Rp 7.500.000
Biaya tenaga kerja Rp 11.250.000
Biaya overhead pabrik Rp 16.125.000
Total biaya produksi Rp 39.875.000
Jumlah produk yang dihasilkan selama bulan tersebut adalah :
Produk jadi 2.000 kg
Produk dalam proses pada akhir bulan, dengan tingkat penyelesaian
sebagai berikut: Biaya bahan baku : 100 %;biaya bahan penolong 500 kg
100 %, biaya tenaga kerja 50 %; biaya overhead pabrik 30 %.

Data produksi PT Risa Rimendi Bulan Januari 19x1


Masuk ke dalam proses: 2.500 kg
Produk jadi : 2000 kg
Produk dalam proses akhir 500 kg

Perhitungan harga pokok produksi per satuan


Unsure biaya Total biaya Unit ekuivalensi Biaya produksi per
produksi satuan
(1) (2) (3) (2);(3)
Bahan baku Rp 5.000.000 2.500 Rp 2.000
Bahan penolong Rp 7.500.000 2.500 3.000
Tenaga kerja Rp 11.250.000 2.250 5.000
Overhead pabrik Rp 16.125.000 2.150 7.500
39.875.000 17.500

Perhitungan harga pokok produk jadi dan persediaan produk dalam proses

Harga pokok produk jadi : 2.000 x Rp 17.500 Rp 35.000.000


Harga pokok persediaan produk dalam proses
Biaya bahan baku : 100 % x 500 x Rp 2.000 = Rp 1.000.000
Biaya bahan penolong 100 % x 500 x Rp 3.000= Rp 1.500.000
Biaya tenaga kerja 50 % x 500 x Rp 5.000= Rp 1.250.000
Biaya overhead pabrik 30 % x 500 x rp 7.500= Rp 1.125.000 Rp 4.875.000
Jumlah biaya produksi bulan januari 19x1 Rp 39.875.000

Jurnal pencatatan biaya produksi


jurnal untuk mencatat biaya bahan baku ;
Barang dalam proses- biaya bahan baku Rp 5.000.000
Persediaan bahan baku Rp 5.000.000

Jurnal untuk mencatat biaya bahan penolong


Barang dalam proses- biaya bahan penolong Rp 7.500.000
Persediaan bahan penolong Rp 7.500.000

45
Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja
Barang dalam proses- biaya tenaga kerja Rp 11.250.000
Gaji dan upah Rp 11.250.000

JurnaL untuk mencatat biaya overhead pabrik


Barang dalam proses- biaya overhead pabrik Rp 16.125.000
Berbagai rekening yang dikredit Rp 16.125.000

Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang
Persediaan produk jadi Rp 35.000.000
Barang dalam proses- biaya bahan baku Rp 4.000.000
Barang dalam proses- biaya bahan penolong Rp 6.000.000
Barang dalam proses-biaya tenaga kerja Rp 10.000.000
Barang dalam proses- biaya overhead pabrik Rp 15.000.000

Jurnal mencatat harga pokok persediaan produk dalam proses yang belum selesai dioleh
pada akhir bulan januari 19 x1

Persediaan produk dalam proses Rp 4.875.000


Barang dalam proses biaya bahan baku Rp 1.000.000
Barang dalam proses biaya bahan penolong Rp 1.500.000
Barang dalam proses- Biaya tenaga kerja Rp 1.250.000
Barang dalam proses biaya overhead pabrik Rp 1.125.000

2. METODE HARGA POKOK PROSES PRODUK DIOLAH MELALUI LEBIH DARI


SATU DEPARTEMEN PRODUKSI
Perhitungan biaya produksi per satuan produk yang dihasilkan oleh departemen setelah
departemen pertama adalah merupakan perhitungan yang bersifat kumulatif. Karena produk
yang dihasilkan oleh departemen setelah departemen pertama telah merupakan produk jadi
dari departemen sebelumnya, yang membawa biaya produksi dari departemen produksi
sebelumnyua tersebut, maka harga pokok produk yang dihasilkan oleh departemen setelah
departemen pertama terdiri dari:
a. biaya produksi yang dibawa dari departemen sebelumnya
b. biaya produksi yang ditambahkan dalam departemen setelah departemen pertama

46
Contoh2:
PT eliona sari memiliki 2 departemen produksi untk menghasilkna produknya : Departemen
A dan Departemen B. Data produksi dan biaya produksi ke dua departemen tersebut untuk
bulan Januari 19 x1 disajikan dalam gambar berikut :

Data produksi Bulan Januari 19x1


Departemen Departemen
A B
Produk yang dimasukkan dalam proses 35.000 kg
Produk selesai yang ditransfer ke Departemen B 30.000 kg
Produk selesai yang ditransfer ke gudang 24.000 kg
Produk dalam proses akhir bulan 5.000 kg 6.000 kg
Biaya yang dikeluarkan bulan Januari 19x1
Biaya bahan baku Rp 70.000 Rp 0
Biaya tenaga kerja Rp 155.000 Rp 270.000
Biaya overhead pabrik Rp 248.000 Rp 405.000
Tingkat penyelesaian produk dalam produk proses
akhir 100%
Biaya bahan baku 20% 50%
Biaya konversi

Perhitungan harga pokok produksi per satuan departemen A


Unsur biaya Total biaya Unit ekuivalensi Biaya produksi per
produksi kg
Bahan baku Rp 70.000 35.000 Rp 2
Tenaga kerja 155.000 31.000 5
Overbead pabrik 248.000 31.000 8
Total Rp 173.000 Rp 15

Perhitungan harga pokok produk jadi dan persediaan produk dalam proses dep A

Harga pokok produk jadi : 30.000 x Rp 15 Rp 450.000


Harga pokok persediaan produk dalam proses
Biaya bahan baku : 100 % x 5.000 x Rp 2 = Rp 10.000
Biaya tenaga kerja 20 % x 5.000 x Rp 5 = Rp5.000
Biaya overhead pabrik 20 % x 5.000 x Rp 8= Rp 8.000
Rp 23.000
Jumlah biaya produksi Departemen A bulan januari 19x1 Rp 473.000

Jurnal pencatatan biaya produksi departemen A


Jurnal untuk mencatat biaya bahan baku :
Barang dalam proses-biaya bahan baku departemen A Rp 70.000
Persediaan bahan baku Rp 70.000

Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja :


Barang dalam proses- biaya tenaga kerja departemen A Rp 155.000
Gaji dan upah Rp 155.000

Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik departemen A

47
Barang dalam proses- biaya overhead pabrik departemen A Rp 248.000
Berbagai rekening yang di kredit Rp 248.000

Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi yang ditransfer oleh departemen A ke
departemen B:
Barang dalam proses biaya bahan baku departemen B Rp 450.000
Barang dalam proses- biaya bahan baku departemen A Rp 60.000
Barang dalam proses-biaya tenaga kerja departemen A Rp 150.000
Barang dalam proses-biaya overhead pabrik departemen A Rp 240.000

Jurnal untuk mencatat harga pokok persediaan produk dalam proses yang belum selesai
diolah dalam department A pada akhir bulan januari 19x1

Persediaan produk dalam proses-departemen A Rp 23.000


Barang dalam proses- biaya bahan baku departemen A Rp 10.000
Barang dalam proses-biaya tenaga kerja departemen A Rp 5.000
Barang dalam proses-biaya overhead pabrik departemen A Rp 8.000
Perhitungan harga pokok produksi per satuan departemen B
Unsur biaya Total biaya Unit ekuivalensi Biaya produksi per
produksi kg
Tenaga kerja 270.000 27.000 10
Overbead pabrik 405.000 27.000 15
Total Rp 675.000 Rp 25

Perhitungan harga pokok produk jadi dan persediaan produk dalam proses dep B

Harga pokok produk selesai yang di transfer departemen B ke


gudang
Harga pokok dari departemen A : 24.000 x Rp 15 Rp 360.000
Biaya yang ditambahkan oleh departemen B : 24.000x Rp 25 600.000

Total harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang 960.000


24.000 x Rp 40
Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir
Harga pokok dari departemen A : 6.000 x Rp 15 90.000
Biaya yang ditambahkan oleh departemen B:
Biaya tenaga kerja 50 % x 6.000 x Rp 10 = Rp30.000
Biaya overhead pabrik 50 % x 6.000 x Rp 15= Rp 45.000 Rp 75.000
Total harga pokok persediaan produk dalam proses departemen B 165.000
Jumlah biaya produksi kumulatif Departemen B bulan januari 19x1 Rp 1.125.000

jurnal pencatatan biaya produksi departemen B

Jurnal untuk mencatat penerimaan produk dari departemen A: :


Barang dalam proses biaya bahan baku departemen B Rp 450.000
Barang dalam proses- biaya bahan baku departemen A Rp 60.000
Barang dalam proses-biaya tenaga kerja departemen A Rp 150.000
Barang dalam proses-biaya overhead pabrik departemen A Rp 240.000

48
Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja :
Barang dalam proses- biaya tenaga kerja departemen B Rp 270.000
Gaji dan upah Rp 270.000

Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik departemen B


Barang dalam proses- biaya overhead pabrik departemen B Rp 405.000
Berbagai rekening yang di kredit Rp 405.000

Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi yang ditransfer oleh departemen B ke
gudang
Persediaan produk jadi Rp 960.000
Barang dalam proses- biaya bahan baku departemen B Rp 360.000
Barang dalam proses-biaya tenaga kerja departemen B Rp 240.000
Barang dalam proses-biaya overhead pabrik departemen B Rp 360.000

Jurnal untuk mencatat harga pokok persediaan produk dalam proses yang belum selesai
diolah dalam department A pada akhir bulan januari 19x1

Persediaan produk dalam proses-departemen B Rp 165.000


Barang dalam proses- biaya bahan baku departemen B Rp 90.000
Barang dalam proses-biaya tenaga kerja departemen B Rp 30.000
Barang dalam proses-biaya overhead pabrik departemen B Rp 45.000

3. PENGARUH TERJADINYA PRODUK YANG HILANG DALAM PROSES


TERHADAP PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUK PER SATUAN

Pengaruh terjadinya produk yang hilang pada awal proses terhadap perhitungan harga
pokok produksi per satuan

Contoh3:
PT eliona sari memiliki 2 departemen produksi untk menghasilkna produknya : Departemen
A dan Departemen B. Data produksi dan biaya produksi ke dua departemen tersebut untuk
bulan Januari 19 x1 disajikan dalam gambar berikut :

Data produksi Bulan Januari 19x1


Departemen Departemen
A B
Produk yang dimasukkan dalam proses 1.000 kg
Produk selesai yang ditransfer ke Departemen B 700 kg
Produk selesai yang ditransfer ke gudang 400 kg
Produk dalam proses akhir bulan, dengan tingkat
penyelesaian sebagai berikut :
Biaya bahan baku & penolong 100 % biaya 200 kg
konversi 40 % 100 kg
Biaya bahan penolong 60 %, biaya konversi 50 %
Produk yang hilang pada awal proses 100 kg 200 kg

49
Biaya produksi Bulan Januari 19 x1

Departemen A Departemen B
Biaya bahan baku Rp 22.500 Rp -
Biaya bahan penolong 26.100 16.100
Biaya tenaga kerja 35.100 22.500
Biaya overhead pabrik 45.800 24.750

Perhitungan biaya produksi per unit departemen A bulan januari 19 x1


Jenis biaya Jumlah produk yang dihasilkan Biaya produksi Biaya per kg
oleh departemn A ( unit Departemen A produk yang
ekuivalensi) dihasilkan
oleh
departemen A
Biaya bahan 700 kg + 100 % x 200 kg = 900 Rp 22.500 Rp 25
baku kg
Biaya bahan 700 kg + 100 % x 200 kg = 900 26.100 29
penolong kg
Biaya tenaga 700 + 40%x200kg=780kg 35.100 45
kerja
Biaya overhead 700 + 40%x200kg=780kg 46.800 60
pabrik
Rp 130.500 Rp 159

Perhitungan biaya produksi Departemen A bulan Januari 19x1

Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen B : 700 x Rp 111.300


Rp 159
Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir bulan ( 200 Kg)
Biaya bahan baku 200 kg x 100 % x Rp 25 = 5.000
Biaya bahan penolong 200 kg x 100 % x Rp 29 = 5.800
Biaya tenaga kerja 200 kg x 40 %x Rp 45= 3.600
Biaya overhead pabrik 200 kg x 40 %x Rp 60= 4.800 Rp 19.200
Jumlah biaya produksi Departemen A Rp 130.500

Produk yang hilang pada awal proses di Departemen setelah departemen pertama

Perhitungan penyesuaian harga pokok per unit dari departemen A

Harga pokok produksi per satuan produk yang berasal dari departemen Rp 159,00
A
Rp 111.300 : 700
Harga pokok produksi per satuan produk yang berasal dari departemen Rp 222.60
A setelah adanya produk yang hilang dalam proses di Departemen B
sebanyak 200 kg adalah Rp 111.300 : ( 700 kg-200 kg)
Penyesuaian harga pokok produksi per satuan produk yang berasal dari Rp 63.60
Departemen A

50
Perhitungan biaya produksi per unit Departemen B bulan januari 19 x1

Jenis biaya Jumlah produk yang Jumlah biaya produksi Biaya per kg
dihasilkan oleh yang ditambahkan di yang
departemen B ( unit departemen B ditambahkan
ekuivalensi) Departemen B
Biaya bahan 400 kg + 60 % x Rp 16.100 Rp 35
penolong 100 kg = 460 kg
Biaya tenaga kerja 400 kg + 50 %x 100 Rp 22.500 Rp 50
kg = 450 kg
Biaya overhead 400 kg + 50 %x 100 Rp 24.750 Rp 55
pabrik kg = 450 kg
Rp 63.350 Rp 140

Perhitungan biaya produksi departemen B bulan Januari 19x1


Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke gudang 400 kg @ Rp 145.040
Rp 362.60
Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir bulan ( 100 kg):
Harga pokok dari departemen A : 100 kg x Rp 222.6= Rp 22.260
Biaya bahan penolong : 100 kg x 60 % x Rp 35 = 2.100
Biaya tenaga kerja : 100 kg x 50 % x Rp 50 = 2.500
Biaya overhead pabrik : 100 kg x 50 %x Rp 55 =2.750 Rp 29.610
Jumlah kumulatif dalam departemen B Rp 174.650

Pengaruh terjadinya produk yang hilang pada akhir proses terhadap perhitungan
harga pokok produksi per satuan

Contoh:
PT eliona sari memiliki 2 departemen produksi untk menghasilkna produknya : Departemen
A dan Departemen B. Data produksi dan biaya produksi ke dua departemen tersebut untuk
bulan Januari 19 x1 disajikan dalam gambar berikut :

Data produksi Bulan Januari 19x1


Departemen Departemen
A B
Produk yang dimasukkan dalam proses 1.000 kg
Produk selesai yang ditransfer ke Departemen B 700 kg
Produk selesai yang ditransfer ke gudang 400 kg
Produk dalam proses akhir bulan, dengan tingkat
penyelesaian sebagai berikut :
Biaya bahan baku & penolong 100 % biaya 200 kg
konversi 40 % 100 kg
Biaya bahan penolong 60 %, biaya konversi 50 %
Produk yang hilang pada akhir proses 100 kg 200 kg

Biaya produksi Bulan Januari 19 x1


Departemen A Departemen B

51
Biaya bahan baku Rp 22.500 Rp -
Biaya bahan penolong 26.100 16.100
Biaya tenaga kerja 35.100 22.500
Biaya overhead pabrik 45.800 24.750

Perhitungan biaya produksi per unit departemen A bulan januari 19 x1

Jenis biaya Jumlah produk yang dihasilkan oleh Biaya Biaya per kg
departemn A ( unit ekuivalensi) produksi produk yang
Departemen dihasilkan oleh
A departemen A
Biaya bahan 700 kg + 100 % x 200 kg + 100 kg= Rp 22.500 Rp 22.5
baku 1000 kg
Biaya bahan 700 kg + 100 % x 200 kg+ 100 kg = 26.100 26.10
penolong 1000 kg
Biaya tenaga 700 + 40%x200kg + 100 kg = 880kg 35.100 39.89
kerja
Biaya overhead 700 + 40%x200kg+ 100 kg = 880kg 46.800 53.18
pabrik
Rp 130.500 Rp141.67

Perhitungan biaya produksi Departemen A bulan Januari 19x1

Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen B : 700 x Rp 99.169


Rp 141.67
Penyesuaian harga pokok produk selesai karena adanya produk yang 14.167,00
hilang pada akhir proses 100 xRp 141,67
Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke departemen B setelah 113.334,40
disesuaikan : 700 x Rp 161,91
Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir bulan ( 200 Kg)
Biaya bahan baku 200 kg x 100 % x Rp 22.5 = 4.500
Biaya bahan penolong 200 kg x 100 % x Rp 26.1 = 5.220
Biaya tenaga kerja 200 kg x 40 %x Rp 39.89= 3.191,2
Biaya overhead pabrik 200 kg x 40 %x Rp 53.18= 4.254,4 Rp 17.165.60
Jumlah biaya produksi Departemen A Rp 130.500,00

Produk yang hilang pada akhir proses di departemen produksi setelah departemen
produksi pertama

52
Perhitungan biaya produksi per unit Departemen B bulan januari 19 x1

Jenis biaya Jumlah produk yang dihasilkan oleh Jumlah biaya Biaya per kg
departemen B ( unit ekuivalensi) produksi yang
yang ditambahkan di
ditambahkan Departemen B
di
departemen B
Biaya bahan penolong 400 kg + 60 % x 100 kg + 200 kg = Rp 16.100 Rp 24.39
660 kg
Biaya tenaga kerja 400 kg + 50 % x 100 kg + 200 kg = Rp 22.500 Rp 34.62
650 kg
Biaya overhead pabrik 400 kg + 50 % x 100 kg + 200 kg = Rp 24.750 Rp 38.08
650 kg
Rp 63.350 Rp 97.09

Perhitungan biaya produksi Departemen B bulan Januari 19x1

Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen B : 400 x Rp 64.764,00


Rp 161.91
Biaya yang ditambahkan departemen B 400 x Rp 97.09 38.836,00
Harga pokok produk yang hilang pada akhir proses : 200 kg ( Rp 51.800,00
161.91+Rp 97.09
Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke departemen B setelah 155.400,00
disesuaikan : 400 x Rp 388.5
Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir bulan ( 100 Kg)
Harga pokok dari departemen A : 100 kg x Rp 161.91 = Rp 16.191,00
Biaya bahan penolong 100 kg x 60 % x Rp 24.39 = 1.463.3
Biaya tenaga kerja 100 kg x 50 %x Rp 34.62= 1.731
Biaya overhead pabrik 100 kg x 50 %x Rp 38.08= 1.904 Rp 21.289.40
Jumlah biaya produksi Departemen B Rp 176.689.40

F. CONTOH SOAL
PT Aquana memproduksi air mineral dengan merk Fresh. Perusahaan ini memiliki BDP
per 1 Januari 2008 sebanyak 10.000 liter dan dalam bulan Januari 2008 perusahaan
memproses 50.000 liter. Pada akhir bulan Januari 2008 perusahaan memiliki BDP akhir
sebanyak 20.000 liter.
Diminta: berapa liter produk selesai selama bulan Januari 2008?
Jawaban:

Produk selesai dihitung dg formula sbb:


Persediaan BDP awal 10.000
Produk masuk proses periode ini 50.000
Total unit yang diproses 60.000
Persediaan BDP akhir (20.000 )
Produk selesai 40.000

53