Anda di halaman 1dari 1

Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif berbentuk kokus dan biasanya

tumbuh berkelompok seperti buah anggur. Bakteri ini juga bersifat nonmotil (tidak bisa

bergerak) dan tidak menghasilkan spora (Jawetz,2010). Staphylococcus aureus penyebab

pneumonia nosokomial tersering kedua. Staphylococcus aureus juga dapat menyebabkan

meningitis, yang biasanya terjadi akibat infeksi setelah pembedahan otak atau bakteremia.

Bakteri ini juga dapat menyebabkan infeksi yang amat menyakitkan pada cairan sendi. Infeksi ini

disebut artritis infektif atau septik. Lebih parah lagi adalah osteomyelitis (suatu infeksi tulang

terlokalisasi yang biasanya terjadi pada anak berusia 12 tahun ke bawah) dan infeksi pada katup

jantung yang disebut endokarditis (Freeman dan Cook, 2006). Bakteri Staphylococcus aureus

dapat menjadi resistan terhadap antibiotic apabila mereka mendapat materi genetic baru yang

membawa sifat resistan, salah satunya Staphylococcus aureus yang resitan terhadap methicilin,

strain ini disebut methicilin resistant Staphylococcus aureus (MRSA) (Inweregbu,2005).

Strain resisten ini lebih berbahaya daripada Methicillin Sensitive S. aureus (MSSA). Jika

dampaknya dibandingkan, maka pasien dengan infeksi MRSA lebih mudah mengalami

endokarditis dan sepsis. Pasien dengan bakteremia akibat MRSA dapat mengalami gagal ginjal

yang lebih akut, ketidakstabilan hemodinamik dan ketergantungan terhadap ventilator yang lebih

parah, serta waktu rawat inap yang lebih lama. Kemungkinan pasien meninggal di rumah sakit

selama 30 hari meningkat secara signifikan (p<0,05). Rekurensi terjadi pada 9,4% infeksi S.

aureus yang sudah diterapi dengan antibiotik (Chang et al., 2003).