Anda di halaman 1dari 12
BAB | PENDAHULUAN Ll. LATAR BELAKANG Program pembangunan di Indonesia telah membawa kemajuan pesat di segala bidang kehidupan seperti sektor industri, jasa, properti, pertambangan, transportasi dan bahkan pelayanan Kesehatan. Namun disadari atau tidak dibalik kemajuan tersebut ada potensi dampak negatif yang bisa ditimbulkan, salah satu diantaranya adalah beneana seperti kecelakaan, pencemaran dan penyakit akibat kerja yang mengakibatkan ribuan orang cedera bahkan meninggal dunia setiap tahun, Proses pembangunan belum diimbangi dengan peningkatan kesadaran dan keselamatan kerja sehingea potensi bahaya dan resikonya terus meningkat, Rumah sakit merupakan tempat kerja yang unik dan kompleks untuk menyediakan pelayanan Kesehatan bagi masyarakat, Semakin Iuas pelayanan Kesehatan dan fungsi rumah sakit tersebut, maka akan semakin komplek peralatan dan fasilitas yang dibutubkan, Kerumitan tersebut menyebabkan rumah sakit mempunyai potensi bahaya yang sangat besar, tidak hanya bagi pasien dan tenaga medis, tetapi juga pengunjung rumah sakit. Potensi bahaya di RS, selain penyakit-penyakit infeksi juga ada potensi bahaya- bahaya lain yang mempengaruhi situasi dan kondisi di RS, yaitu kecelakaan (peledakan, kebakaran, kecelakaan yang berhubungan dengan instalasi listrik, dan sumber-sumber idera lainnya), radiasi, bahan-bahan kimia yang berbahaya, gas-gas anastesi, gangguan psikososial dan ergonomi. Oleh karena itu, sudah seharusnya pihak pengelola RS menerapkan upaya-upaya K3 di RS, Selain itu, agar penyelenggaraan K3 RS lebih efektif, efisien dan terpadu, diperlukan sebuah pedoman manajemen K3 di RS, baik bagi pengelola maupun karyawan RS, Dengan adanya program K3 di Indonesia diharapkan mampu menekan tingkat kecelakaan kerja seminimal mungkin, bahkan bila dimungkinkan menghilangkan angka kecelakaan kerja, Sesuai dengan UU No,1/1970 Pasal 5 tentang pengawasan K3 maka, dibutuhkan Ahli K3 yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja sebagai pengawas kegiatan K3 di perusahaan. Sehingga diharapkan dengan adanya pelatihan ealon Abli K3 Umum dapat mengetahui sumber-sumber behaya di lingkungan kerja dan dapat mencegah terjadinya kecelakaan kerja 12, 13. MAKSUD DAN TUJUAN hs Menilai seria menemukan kesesuaian dan ketidaksesuaian semua potensi bahaya terkait bidang instalasi listnik, penanggulangan kebakaran & konstruksi bangunan di area Rumah Sakit Immanuel, Bandung secara sistematis sesuai dengan UU No,1/1970 tentang Keselamatan kerja. Memastikan bahwa pengelotaan Keselamatan dan Kesehatan kerja (K3) bidang instalasi listrik, penanggulangan kebakaran & konstruksi bangunan dilaksanakan sesuai Ketentuan Pemerintah, standar teknis dan standar K3 yang berlaku serta kebijakan yang ditentukan oleh Rumah Sakit Immanuel, Bandung. Merekomendasikan langkah-langkah pengendalian potensi bahaya yang ‘mungkin terjadi dalam bidang instalasi listrik, penanggulangan kebakaran & Konstruksi bangunan sebelum timbul gangguan atau kerugion terhadap tenaga kerja, asset perusahaan dan lingkungan. RUANG LINGKUP Praktek kerja lapangan (PKL) dilaksanakan di Rumah Sakit Immanuel, pada hari Senin tanggal $ September 2014. Yang menjadi perhatian khusus: 1.3.4 instalasi listrik, penanggulangan kebakaran & konstruksi bangunan © Dasar hukum * Alat safety * Pemeriksaan dan pengujian instalasi listrik, penanggulangan kebakaran & konstruksi bangunan 14. DASAR HUKUM Adapun dasar-dasar hukum yang menjadi acuan pengamsatan (observasi) serta yang melandasi kewajiban Rumah Sakit Immanuel dalam penerapan kebijakan K3 dibidang- bidang dalam pembahasan laporan praktek kerja lapangan ini adalah : Instalasi Listrik UU No.1 tahun 1970, psl. 2 (a,9.7, psl. 3 ayat 1, psl. 9 ayat 1 Permenaker No. Per.02/MEN/1989 tentang Pengawasan Instalasi Penyalur Petir Permen No, 03/MEN/1999 tentang Persyaratan Mengenai Lift Kepmenaker No, 407/M/BW/1999 tentang Kompetensi Teknisi Lift Permen OT/MEN/1964 psl. 2 (d), psl. 13 & psl 14 tentang Syarat Kesehatan, Kebersihan Serta Penerangan Dalam Tempat Kerja Kemenaker Na Kep 7S/MEN/200? tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia Mengenai Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000 di Tempat Kerja, Keputusan Dirjen Pembinaan Hubungan Industrial dan Kepengawasan Ketenagakerjaan No. Kep 311/BW/2002 tentang Sertifikasi Kompetensi Keselamatan Kerja Tekhnisi Listrik PULL. 2000, ditetapkan dengan Kepmenakertrans no, 75/MEN/2002 2. Penanggulangan Kebakaran UU No.1 tahun 1970, pst. 2 (a), pst. 3 ayat 1 (bd), psl. 9 ayat (1,3), Permen O7/MEN/1964 psi. 2 (a) tentang Syarat Kesehatan, Kebersihan Serta Penerangan Dalam Tempat Kerja Permen 02/MEN/1983 tentang Instalasi Alarm Automatik Permen 04/MEN/1980 tentang Syarat-Syarat Pemasangan dan Pemeliharaan APAR Permen 03/MEN/1998 tentang Tata Cara Pelaporan dan Pemeriksaan Kecelakaan Permen 08/MEN/VII/2010 psi. 4 ayat 1 (a, b, m) tentang Alat Pelindung Diri Kepmen 186/MEN/1999 tentang Penanggulangan di Tempat Kerja Insiruksi Menteri I/M/B/1997 tentang Pengawasan Khusus K3 Penanggulangan Kebakaran. 3, Pengawasan Konstruksi Bangunan - Undang-Undang No. | Tahun 1970 tentang Keselamsatan dan Kesehatan Kerja, = Undang-Undang No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung. ~ Permennaker No, 1/MEN/1980 tentang K3 Konstruksi Bangunan + SKB Menaker dan Menteri PU No, 174/MEN/I986 DAN No, 104/KPTS/1986 tentang Keselamatan dan Keschatan Kerja Pada ‘Tempat Kegiatan Koniruksi - SE MENAKERTRANS No.321 tahun 2007 tentang Peningkatan Pembinaan dan Pengawasan Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Kegiatan Konstruksi + SK DIRJEN BINWASNAKER No.40/DJPPK/2004 tentang Sertifikasi Kompetenst K3 Pada Kontruksi Bangunan BAB II KONDISI PERUSAHAAN 2.1. GAMBARAN UMUM TEMPAT KERJA RS. Immanuel telah melalui perjalanan panjang sejak tahun 1900 hingga saat ini, dengan salah satu misinya adalah menyelenggarakan pelayanan kesehatan paripurna yang prima dan berbasis keselamatan pasien. Hal ini dibuktikan dengan diraihnya beberapa sertifikasi akreditasi, standarisasi ISO 9001:2008 dan penghargaan-penghargaan yang diperoleh baik dari vendor maupun pemerintah seperti yang diraih pada 31 Mei 2011 saat R.S, Immanuel, menerima penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Drs, HA. Muhaimin Iskandar, M.Si untuk Kecelakaan Nihil © Pelayanan Medis + 1GD 24 jam + Kamar bedah + Pelayanan rawat jalan + Pelayanan tawat inap (357 bed) + Kamar bedah © Pelayanan Pendukung + Hemodialisa + Instalasi laboratorium + Instalasi nutrisi klinik + Radiolog: + Immanuel sleep laboratory + Instalasi farmasi + Instalasi rehab medik + Pelayanan Medical Check Up + Home care © Fasilitas Umum + Lapangan parkir yang luas, nyaman & aman + Minimarket + Taman © Tempat + J. Kopo No.151 Bandung + Phone : +62.22.520 1656 + Fax 1462225224219 22. TEMUAN Setelah dilaksanakan observasi lapangan di Rumah Sakit Immanuel Bandung, dapat kami temukan sebagai berikut : A. Temuan Negatif 1, Hydrant di lantai § tertutup barang-barang 2, Pemasangan beberapa panel pemibagi dan kabel tidak standar |. Tehnisi listrik tidak mempunyai sertfifikasi Grounding penangkal petir tidak ditutup Beberapa pekerja tidak menggunakan APD ‘Terlihat beberapa bagian bangunan yang sudsh rusak yang sewaku-waktu bisa jatuh dan berpotensi menyebabkan kecelakaan bagi orang yang berada di bawahnya a kw B. Temuan Positif : 1, Terdapat Pompa hydrant di rumah pompa Ada pompa listrik: (otomatik), pompa cadangan (genset) dan jockey pump Penempatan Apar ditempatkan pada lemari (box) yang tidak terkunei 3. Panel listrik dan penataan kabel dalam rumah lift sudah dalam kondisi baik dan rapi 4. Sarana keluar masuk pekerja aman, tidak licin 5. Area kerja sudah dipagar sehingga orang yang tidak berkepentingan tidak masuk ke area kerja dan tidak mengganggu konsentrasi tenaga kerja yang sedang 2 ‘melaksanakan tugas ‘Alat kerja berupa tangga yang digunakan sudah sesuai sehingga menjamin keselamatan orang yang menggunakannya_ BAB IIL ANALISA Analisa Temuan Negatif cic uy Pea cor tay Area hydrant i (ardat Tanggap harus steril Hydrantdilaniai 8 arurat dari Kebakaran penempatan lambat barang-— barang lain = _ Pengga “HSE a Sean” Paoranes —_TMBUIKOrSIet Sh nesar - Dapat Renin ei tatel| mmenimbulkan 7, emne aan kabel listrik di panel Derm acalahan | tc toh oe perm: nm —untul ‘Tehnisi listrik tidak jistrik tidak dari lembaga eee standart K3 sorties keselamatan dan kesehatan = UU No.1 th 70 Ps.3 = Instruksi Mentri penanggulangan kebakaran Kepmenakertran s No: 75/MEN/2002 Pasal 2 ayat 1 -UU No: 1 Tahun 1970 Bab Ill Pasal 3 ayat 1 {a) Kepmenakertran s No: 186/MEN/1999- pasal 4 ayat 1 KepDirjen Pembinaan HI dan Pengawasan. Ketenagakerjaan No : 311/BW/2002 Grounding Tersengat penangkal petir aliran petir tidak ditutup = Terpapar debu tidak menggunakan = —terkena pecahan APD. dan benda tajam ‘seperti paku, dsb ‘Terlihat beberapa bagian bangunan yang sudah rusak yang sewaktu-waktu )stuh meni ‘nde eee eter orang lain kecelakaan bagi ‘orang yang berada di bawahnya Bera Dibuat bak kontrol yang memenuhi syarat Perbaikan bagian yang rusak Delo] Penyalur Petir - PUIL 2000 ~ UU No.1 th 70 Ps.95 ayat 2 dan Ps.99 '- UU No.1 th 70 Ps.11 Ge ic Letece nt ay Pompa hydrant Regu Pemadam , Penempatan Apar jumiah dan kesesuiannya Ruang Panel Lift Dan kesesuainnya pemggunaan Lift Sarna keluar masuk pekerja ‘Area kerja pada saat renovasi “Terdapat Pompa hydrant di rumah pompa Ada pompa Listrik (otomatik), pompa cadangan (genset) dan Jockey pump - _ Ditempatkan pada lemari (box) yang tidak terkunci - Penempatan pada posisi yang mudah terlihat - Jumiah dan kesesuainya sudah cukup dan sesuai dengan jenis nya - Sudah di bentuknya regu pemadam kebakaran - Panel listrik dan penataan kabel dalam rumah lift sudah dalam kondisi baik dan rapt ‘Sarana keluar masuk mempunyai ventilasi yang cukup ‘Area kerja sudah dipagar schingga orang yang: tidak berkepentingan tidak ‘masuk ke area kerjadan tidak menggangeu konsentrasi tenaga kerja yanga sedang ‘melaksanakan tugas « UU No.1 Tahun 1970 Pasal 2 (1) - —_Instruksi menteri No. Ins 11/M/B/1997 ~ UU No.1 tahun 1970 Ps. 2 (1) ~ Permenakertrans No. Per- 04/Men/1980, Ps.6 ayat 1 & 2, Ps. 4 a) --Kepmen No186/MEN/1999 -Kepmenaker No. 75/MEN/2002 Ps.2 - Permenaker No : S/MEN/1985 BAB 8 - PUIL 2000 -Permenaker no: 3/MEN/1999 - UU No.1 tahun 1970 Ps.5. - UU No.1 tahun 1970 Ps.10 ‘Tangga yang digunakan sudah sesuai sehingga 6 Alat kerja menjamin keselamatan ‘orang yang menggunakannya Jalur Evakuasi sudah 7, Jalur Evakuasi tory BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 KESIMPULAN - UU No.1 tahun: 1970 Ps.25 sid 27 ie Mea Tenaga Kerja N Ins, L1/M/BW 1997 1. Dari hasil kunjungan dan pemeriksaan di lapangan di RS Immanuel terhadap beberapa tienask yang berkaitan dengan K-3 Pengawasan bidang Instalasi Listrik, wulangan Kebakaran dan Konstruksi Bangunan seeara garis besar sudah baik dotenoaliaesiat tetapi masih sda bebearapa tt yang belum memenuihi standar keselamatan dan kesehatan kerja dan sesegera mungkin dilakukan langkah perbaikan guna kepentingan bersama dalam rangka mewujudkan program K-3, 2. Masih ditemukan tenaga aperator/ tehnisi listrik yang belum memiliki sertfikasi atau surat keputusan penunjukan, hal ini harus segera dilaksanakan agar operator! tehnisi dalam bekerja sesuai dengan standart keselamatan dan Kesehatan kerja. 4.2 SARAN 1, Semua posisi Hydrant & APAR harus dipastikan steril dari tumpukan barang-barang yang bisa menghalangi Instalasi kabel sebaiknya lebih memperhatikan segi kerapihan dan safety dari kemungkinan terjadinya korsteting. Melakukan training dan sertifikasi untuk semua teknisi dan operstor, terutama di bidang listrik Meskipun pekerjaan yang dilakukan dalam skala kecil, Alat Pelindung Diei harus tetap digunakan Perawatan dan perbaikan untuk bagian-bagian bangunan yang rusak harus segera diperbaiki tau dibenkan pengaman agar tidak ada bagian bangunan yang menyebabkan kecelakaan akihat kejatuhan benda Setiap pekerjaan renovasi yang dilakukan, akses bagi pekerja tidak boleh terhalang oleh tumpukkan material atau benda lain dan diberi pembaias dan atau papan peringatan bahwa sedang dilakukan pekerjaan renovasi REFERENSI - UU No.1 tahun 1970 Keselamatan dan Kesehatan Kerja - Permenakertrans No. Per-04/Men/1980 tentang Syarat-Syarat Pemasangan dan Pemeliharaan APAR, + Permenaker No : 5/MEN/1985 tentang Pesawat Angkat dan Angkut - Kepmenakertrans No: 75/MEN/2002 tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) mo. SNI-04-0225-2000 mengenai persyaratan umum instalasi listrik 2000 (PUIL 2000) di tempat kerja. - Kepmenakertrans No : 186/MEN/1999 tentang Penanggulangan Kebakaran Di Tempat Kerja - Kepmenaker No : 2/MEN/1989, Tentang Pengawasan Instalasi Penyalur Petir = PUIL 2000 ditetapkan dengan Kepmenakertrans no. 75/MEN/2002 Instruksi Mentri No. Ins 11/M/B/1997 pengawasan khusus K3 penanggulangan kebakaran Instruksi menteri No. Ins 11/M/B/1997 tentang Pengawasan Khusus K3 Penanggulangan Kebakaran KepDirjen Pembinaan HI dan Pengawasan Ketenagakerjaan No : 311/BW/2002 tentang Sertifikasi Kompetensi Keselamatan dan Kesehatan Kerja Teknisi Listrik