Anda di halaman 1dari 24

DOSIS RESPON OBAT DAN INDEKS TERAPI

A. Tujuan
Setelah menyelesaikan percobaab ini diharapkan dapat :
1. Memperoleh gambaran bagaimana merancang experiment untuk memperoleh DE 50 dan DL 50.
2. Memahami konsep indeks terapi dan implikasi-implikasinya.

B. Dasar Teori
Dosis dan respon pasien berhubungan erat dengan potensi relative farmakologis dan efikasi maksimal obat
dalam kaitannya dengan efak terapefik yang di harapkan. Adapun respon dosis sangat dipengaruhi oleh :
1. Dosis yang di berikan.
2. Penurunan / kenaikkan tekanan darah.
3. Kondisi jantung.
4. Tingkat metabolisme dan ekskresi.
Respon obat masing masing individu berbeda beda. Respon idiosinkratik biasanya disebabakan
oleh perbedaana genetic pada metabolism obat / mekanisme -mekanisme munologik, termasuk rasa
alergi. Empat mekanisme umum yang mempengaruhi kemampuan merespon suatu obat :
1. Perubahan konsentrasi obat yang mencapai reseptor.
2. Variasi dalam konsentrasi suatu ligan reseptor endogen.
3. Perubahan dalam jumlah / fungsi reseptor reseptor.
4. Perubahan perubahan dalam komponen respondastal dari seseptor.
( Katzung Bertram , 2001 )
Hubungan dosis obat persen responsif :
Untuk menimbulkan efek obat dengan intensitas tertentu pada populasi dipelukan satu kisaran dosis. Jika
dibuat distribusi frekuensi dari individu yang responsif (dalam 10%) pada kisaran dosis tersebut (dalam log
dosis) maka akan diperoleh kurba distribusi normal
Hubungan antara dosis obat dengan respon penderita
obat : Potensi suatu obat dipengaruhi oleh absorbsi, distribusi, biontransformasi, metabolisme, ekskresi.
Kemampuan bergabung dengan reseptor dan sistem efektor. Atau ukuran dosis obat yang diperlukan untuk
menghasilkan respons.
maksimal : Efek maks obat dinyatakan sebagai efikasi (kemanjuran) maksimal / disebut saja dengan efikasi.
Efikasi tergantung pada kemampuan obat tersebut untuk menimbulkan efeknya setelah berinteraksi
dengan reseptor. Efikasi dapat dibatasi timbulnya efek yang tidak diinginkan, sehingga dosis harus dibatasi.
Yang berarti bahwa efek maksimal tidak tercapai. Tiap obat mempunyai efikasi yang berbeda. Misalnya :
Morphin, mampu menghilangkan semua intensitas nyeri, sedangkan aspirin hanyan menghilangkan nyeri
ringan sampai sedang saja.
(Sulistina, ed IV, 1994)
Untuk menyatakan toksisitas akut sesuatu obat, umumnya dipakai ukuran LD50 (medium lethal dose
50) yaitu suatu dosis yang dapat membunuh 50% dari sekelompok binatang percobaan. Demikian juga
sebagai ukuran dosis efektif (dosis terapi) yang umum digunakan sebagai ukuran ialah ED 50 (median
effective dose), yaitu dosis yang memberikan efek tertentu pada 50% dari sekelompok binatang percobaan.
LD50 ditentukan dengan memberikan obat dalam dosis yang bervariasi (bertingkat) kepada
sekelompok binatang pecobaan.LD50 ditentukan dengan memberikan obat dalam dosis yang bervariasi
(bertingkat) kepada sekelompok binatang percobaan. Setiap binatang diberikan dosis tunggal. Setelah
jangka waktu tertentu (misalnya 24 jam) sebagian biantang percobaan ada yang mati, dan persentase ini
diterakan dalam grafik yang menyatakan hubungan dosis (pada absis) dan persentase binatang yang mati
(pada ordinat)
LD secara variable menyatakan bahwa dosis ini akan membunuh binatang-banatang dengan
sensitivitasnya rata-rata hamper sama. LD 50 merupakan suatu hasil dari pengujian (assay) dan bukanlah
pengukuran kuantitatif. LD 50 bukanlah merupakan nilai mutlak, dan akan bervariasi dari satu laboratorium
ke laboratorium lain, dan malahan pada laboratorium yang sama akan berbeda hasilnya setiap kali
dilakukan percobaan.
Oleh karena itu kondisi-kondisi pada percobaan pengujian harus dicatat, demikian pula spesies dan
strain binatang yang digunakan harus sama pada setiap kali dilakukan percobaan. Demikian pula cara
pemberian, konsentrasi zat penambah untuk melarutkan obat atau untuk membuat dalam bentuk variable
atau bubuk dan besarnya volume yang diberikan harus seteliti mungkin dan dicatat. Diet, suhu lingkungan
dan lain-lain variable tidak selalu dapat dikontrol dengan baik. Oleh karena itu suatu standar yang
berhubungan dikontrol dengan baik. Dengan pemberian obat ini harus diteliti sebagai pembanding.
(James Olson,2000)
Indeks terapeutik
Indeks terapeutik adalah suatu ukuran keamanan obat karena nilai yamg besar menunjukkan bahwa
terdapat suatu batas yang luas / lebar di antara dosis dosis yang efektif dan dosis yang foksik.
Indeks terapeutik ditentinova dengan mengukur frekuensi respon yang diinginkan dan respon toksik pada
berbagai dosis obat.
Indeks terapeutik suatu obat adalah rasio dari dosis yang menghasilkan tolensitas dengan dosis yang
menghasilkan suatu respon yang efektif.
Indeks terapeutik = LD5
ED50 ( Mary J.Myceh, 2001)
Indeks terapi adalah rasio antara dosis toksik dan dosis efektif atau menggambarkan keamanan
relatif sebuah obat pada penggunaan biasa. Diperkirakan sebagai rasio LD50 (Dosis Lethal pada 50%
kosis) terhadap ED50 (Dosis efektif pada 50% kasus). Karena efek berbeda mungkin perlu dosis berbeda.
Istilah LD50 sering dalam toksikologi yaitu dosis yang akan membunuh 50% dari populasi
experimental. Misal : untuk obat impromine, dosis oral 625 mg/kg diberi pada 100 tikus akan mematikan
50 diantaranya.
(dr. Jan Tambayong.2003)
Indeks terapi suatu obat dinyatakan dalam pernyataan berikut :
Indeks terapi = TD50 atau CD50
ED50 ED50
Obat ideal menimbulkan efek terapi pada semua pasien tanpa menimbulkan efek toksik pada
seorang pun pasien, oleh karena itu
TD1 1
ED99
Suatu ukuran obat, obat yang memiliki indeks terapi tinggi lebih aman dari pada obat yang memiliki
indek terapi lebih rendah
TD50 : Dosis yang toksik pada toksik 50% hewan yang menerima dosis tersebut, kematiaan merupakan toksisitas
terakhir.
(Jonet.L. Stringer MD.Ph)

Efek suatu senyawa obat tergantung pada jumlah pemberian dosisnya. Jika dosis yang diberi
dibawah titik ambang (subliminsal dosis), maka tidak akan didapatkan efek. Respon tergantung pada efek
alami yang diukur. Kenaikan dosis mungkin akan meningkatkan efek pada intensitas tersebut. Seperti obat
antipiretik atau hipotensi dapat ditentukan tingkat penggunaannya, dalam arti bahwa luas (range)
temperature badan dan tekanan darah dapat diukur.
Hubungan dosis efek mungkin berbeda-beda tergantung pada sensitivitas indivdu yang sedang
menggunakan obat tersebut. Sebagai contoh untuk mendapatkan efek yang sama kemungkina dibitihkan
dosis yang berbeda pada individu yang berbeda. Variasi individu dalam sensitifitas secara khusus
mempunyai efek semua atau tak satupun sama.
Hubungan frekuensi dosis dihasilkan dari perbedaan sensitifitas pada individu sebagai suatu
rumusan yang ditunjukan pada suatu log distribusi normal. Jika frekuensi kumulatif (total jumlah binatang
yang memberikan respon pada dosis pemberian) diplotkan dalam logaritma maka akan menjadi bentuk
kurva sigmoid. Pembengkokan titik pada kurva berada pada keadaan dosis satu-separuh kelompok dosis
yang sudah memberikan respon. Range dosis meliputi hubungan dosis-frekuensi memcerminkan variasi
sensitivitas pada individi terhadap suatu obat.
Evaluasi hubungan dosis efek di dalam sekelompok subyek manusia dapat ditemukan karena
terdapat perbedaan sensitivitas pada individu-individu yang berbeda. Untuk menentukan variasi biologis,
pengukauran telah membawa pada suatu sampel yang representative dan didapatkan rata-ratanya. Ini
akan memungkinkan dosis terapi akan menjadi sesuai pada kebanyakan pasien.
(Lullmann, 2000)
Indeks teraupetik merupakan suatu ukuran keamanan obat karena nilai yang besar menunjukkan
bahwa terdapa suatu batas yang luas / lebar diantara dosis-dosis yang toksik.
Penentuan indeks teraupetik
Indeks teraupetik ditentukan dengan mengukur frekuensi respon yang diinginkan dan respon toksik pada
berbagai dosis obat.
Aspek kuantitatif eliminasi obat melalui ginjal
ektif : Penurunan konsentrasi obat dalam plasma dari darah arteri ke vena ginjal
an ekskresi : Eliminasi dari suatu obat biasanya mengikuti kinetik firstorder dan konsentrasi obat dalam plasma turun
secara exponensia menurut waktu. Ini biasa digunakan untuk menentukan waktu paruh obat.
Volume distribusi dan waktu paruh obat
Waktu paruh suatu obat berbanding terbalik dengan bersihan dan secara langsung proporsional terhadap
volume distribusi.
- Keadaan klinis yang meningkatkan waktu paruh obat penting untuk dapat menduga para penderita yang
mana memungkinkan waktu paruh obat akan memanjang.
(Mary J. Mycek, dkk. 2001)
C. Alat dan Bahan
Alat : - Spuit injeksi dan jarum (1-2 ml)
- Sarung tangan
- Stopwatch
n : - Luminal
- Hewan uji (mencit)

E. Data Pengamatan

Kelompok Uji Waktu Refleks Balik Badan Hewan Uji


Dosis No Pemberian
Hilang Kembali Mati Hidup
1 08.21
2 08.24 11.58
3 08.12 12.09
48mg/kg BB
4 08.29
5 08.33
6 08.17
1 08.29 15.20 05.00
2 08.49 09.17 22.05
3 08.26 08.48 22.00
76,8mg/kg BB
4 08.40 15.23 05.15
5 08.43 09.01 21.50
6 08.22 09.03 21.55
1 07.49 09.05 06.54
2 08.02 08.24 06.40
3 08.07 08.31 08.38
122,8mg/kg BB
4 08.09 08.34 07.54
5 08.24 08.42 07.38
6 08.17 08.39 07.54
1 08.02 08.06 01.40
2 08.04 08.27
3 08.09
196,6 mg/kg BB
4 08.14 08.19 15.48
5 08.18 08.31 14.00
6 08.19 08.26 18.14
1 08.12 08.15 09.40
2 08.15 08.19 08.46
3 08.36 08.41 15.20
314,57mg/kgBB
4 08.39 08.43 11.20
5 08.43 08.45 10.25
6 08.50 08.53 15.57

F. Perhitungan
1. LARUTAN STOCK

Kadar stok injeksi Luminal = 100 mg/ ml


10 x
100 mg/ 10 ml

2. PERHITUNGAN DOSIS
Mencit 1: 20,4 gram/1000 gram x 48 mg: 0,9792 mg
Mencit 2: 19,3 gram/1000 gram x 48 mg: 0,9264 mg
Mencit 3: 21,3 gram/1000 gram x 48 mg: 1,0224 mg
Mencit 4: 21,9 gram/1000 gram x 48 mg: 1,0512 mg
Mencit 5: 19,9 gram/1000 gram x 48 mg: 0,9552 mg
Mencit 6: 20,6 gram/1000 gram x 48 mg: 0,988 mg

3. VOLUME PEMBERIAN
1. 0,9792 mg x 1 ml : 0,00979 2ml x 40 = 0,39168 unit
100 x 10
3,9168 4 unit
2. 0,9264 mg x 1 ml : 0,009264 ml x 40 = 0,37056 unit
100 x 10
3,7056 4 unit
3. 1,0224 mg x 1 ml : 0,010224 ml x 40 = 0,40896 unit
100 x 10
4,0896 4 unit

4. 1,0512 mg x 1ml : 0,010512 ml x 40 = 0,42084 unit


100 x 10
4,2048 4 unit
5. 0,9552 mg x 1ml : 0,09552 ml x 40 = 0,38208 unit
100 x 10
3,8208 4 unit
6. 0,988 mg x 1ml : 0,00988 ml x 40 = 0,3952 unit
100 x 10
3,952 4 unit
Dosis Hasil Pengamatan Jumlah mencit ED LD
(mg/kg bb) Uji
30 Tidak ada yang tidur 6 0 0
48 Tidur 2 6 2 0
76,8 Tidur 6 6 6 0
122,88 Tidur 6 6 6 0
196,61 Mati 4 6 6 4
314,57 Mati 6 6 6 6

Dosis % Respon ED % Respon LD Log Dosis


(mg/kg bb)
ED = inv log 1,71 =
30 0% 0% 1,48
48 40 % 0% 1,68 51,286
76,8 100 % 0% 1,88 LD = inv log 2,21 =
122,88 100 % 0% 2,09 162,18
196,61 100 % 80 % 2,29 Indeks Terapi
314,57 100 % 100 % 2,50
= LD = 162,18 = 3,162
1 (Maka Luminal Aman )
ED 51,286

GRAFIK INDEKS TERAPI


G. Pembahasan
Indeks terapi adalah rasio antara dosis toksik dan dosis efektif atau menggambarkan keamanan
relatif sebuah obat pada penggunaan biasa. Diperkirakan sebagai rasio LD50 (Dosis Lethal pada 50%
kosis) terhadap ED50 (Dosis efektif pada 50% kasus). Sedangkan jendela terapeutik adalah kisaran
konsentrasi plasma suatu obat yang akan menghasilkan respon atau jarak antara MEC dan MTC. Untuk
mengetahiu indeks terapi suatu obat dengan memberikan tingkatan dosis/ dosis yang berbeda pada hewan
uji.
Hewan uji dipuasakan dahulu tujuannya agar tidak terjadi interaksi yang tidak diinginkan, juga
dengan tidak adanya sari-sari makanan dalam darah diharapkan obat yang diberikan dapat diabsorbsi
dengan cepat dan lengkap. Dilakukan pemberian secara intraperitorial yaitu obat yang diinjeksikan melaui
rongga perut. Dengan pemberian secara intraperitorial ini diharapkan efek yang cukup cepat, kerena dalam
rongga perut terdapat banyak pembuluh darah, sehingga obat yang diinjeksikan akan menembus
membrane pembuluh darah dan masuk ke pembuluh darah. Hewan uji diamati apakah timbul efek atau
tidak. Timbulnya efek ditandai dengan hilangnya righting reflex atau hilangnya reflek balik badan. Dipilih
obat luminal karena bersifat sedative sehingga efek dapat diamati.
Pada dosis 30 mg/kg BB tidak menimbulkan efek. Dosis 48 mg/kg BB, 76,8 mg/kg BB, 122,88
mg/kg BB menimbulkan efek. Sedangkan pada dosis 196,61 mg/kg BB dan 314,57mg/kg BB menimbulkan
kematian hewan uji. Pada dosis kecil tidak menimbulkan efek karena jumlah reseptor yang ada lebih
banyak dari jumlah obat sehingga efek tidak timbul. Sedangkan pada dosis 196,61 mg/kg BB dan
314,57mg/kg BB menimbulkan kematian karena jumlah obat melebihi jumlah reseptor sehingga kadar obat
yang tidak berikatan dengan reseptor/ kadar obat bebas di darah meningkat sehingga menimbulkan toksis.
Dari data pengamatan dari kelompok mencit dengan dosis 48 mg/ kg BB yang tidur atau menerima
efek hanya 2 mencit. Hal ini disebabkan karena kadar biologis dan ketahanan mencit berbeda- beda
terhadap obat dengan dosis pemberian yang sama. Pada percobaan luminal yang diberikan tidak
mengalami induksi enzim karena hanya sekali diberikan atau tidak berulang- ulang.
Pengamatan dilakukan selama 24 jam, hal ini disesuaikan dengan t dari luminal. T adalah
waktu yang diperlukan obat untuk tereliminasi sebagian. Acuan yang dipakai adalah t karena setelah
melewati t artinya obat sudah mengalami peluruhan, jika tidak terjadi reflex balik badan maka obat
dengan kadar yang diberikan tidak menimbulkan efek. Semua hewan uji mengalami t kecuali pada
hewan uji yang mati.
Hubungan dosis-respon sangatlah penting dalam hasil terapi dan percobaan farmakologi. Data
dosis-respon digambarkan dengan grafik atau kurva, dimana ukuran respon berada pada posisi ordinat (y)
dan log dosis pada posisi absis (x). Pada kurva tersebut digambarkan konsentrasi obat untuk dapat
menghasilkan efek maksimum, potensi obat, efikasi, dan keamanan obat. Keamanan suatu obat dapat
terlihat dari indeks terapinya. Semakin curam kurva maka obat tersebut semakin tidak baik.
Setelah dilakukan pengamatan dan diperoleh data dosis respon, maka dibuat kurva log dosis-
respon. Digunakan log dosis agar pembuatan skalanya lebih mudah dan kurva tersebut akan lebih teliti.
Dilakukan perhitungan untuk mencari Indeks Terapi dengan rumus IT=LD 50/ED50dimana LD50 = 162,18
ED50 = 51,286 maka diperoleh nilai IT = 3,162. Ini menunjukkan bahwa luminal aman digunakan dengan
nilai IT 1 atau indeks terapi luminal lebar, artinya dengan sedikit penambahan dosis tidak menyebabkan
efek toksis.

H. KESIMPULAN
Indeks terapi yang dihasilkan sebesar 3,162. Semakin besar indeks terapi dari suatu obat, maka obat
tersebut semakin aman karena dengan penambahan dosis tidak menyebabkan efek toksis.

I. DAFTAR PUSTAKA
Stringer L, Jonet. 2008. Konsep Dasar Farmakologi Untuk Mahasiswa,Jakarta : ECG
Katzug, R-Bertram G., 1989, Farmakologi Dasar dan Klinik edisi 3, Jakarta; EGC.
Lullmann, Heinz, dkk., 2000, Color Atlas of Pharmacology 2ndedition, New York; Thieme
Stuttgart
Maycek, Mary J.,2001, Farmakologi Ulasan Bergambar edisi 2 , Jakarta : Widya Medika.
Olson, James, 2000, Belajar Mudah Farmakologi, Jakarta : ECG
Tjay, Tan Hoan, 2007, Obat-Obat Penting, Jakarta ; PT. Elex Media Komputindo.
DOSIS RESPON OBAT DAN INDEKS
TERAPI

I. TUJUAN PERCOBAAN

1. Memperoleh gambaran bagaimana rancangan eksperimen untuk memperoleh DE50 dan DL50

2. Memahami konsep indeks terapi dan implikasi implikasinya.

II. PRINSIP

1. Indeks Terapi

Indeks terapi adalah rasio antara dosis yang menimbulkan kematian pada 50% dari hewan percobaan yang
digunakan (LD50) dibagi dosis yang memberikan efek yang diteliti pada 50% dari hewan percobaan yang
digunakan (ED50).

Indeks terapi

Semakin besar indeks terapi obat semakin besar efek terapeutiknya.

2. Dosis respon obat

Jika dosis meningkat maka intensitas efek obat pada makhluk hidup juga meningkat.

Jika dosis berlebih maka akan menyebabkan over dosis bahkan kematian karena rentang indeks terapinya
terlalu rendah sehingga menimbulkan efek toksik.

Jika dosis kurang maka tidak akan menimbulkan efek teurapeutik.

III. TEORI

Dasar-dasar Kerja Obat

Dalam farmakologi, dasar-dasar kerja obat diuraikan dalam dua fase yaitu fase farmakokinetik
dan fase farmakodinamik. Dalam terapi obat, obat yang masuk dalam tubuh melalui berbagai cara
pemberian umumnya mengalami absorpsi, distribusi, dan pengikatan untuk sampai ke tempat kerja (
reseptor ) dan menimbulkan efek , kemudian dengan atau tanpa biotransformasi ( metabolisme ) lalu di
ekskresi kan dari tubuh. proses tersebut dinyatakan sebagai proses farmakokinetik. Farmakodinamik,
menguraikan mengenai interaksi obat dengan reseptor obat; fase ini berperan dalam efek biologik obat
pada tubuh (Adnan,2011).
Gambar : Proses Farmakokinetik Obat (Schmitz et al, 2003).

Absorpsi

Jumlah obat yang dapat diabsorbsi oleh tubuh, dinyatakan dengan bioavailalabilitas obat.
Tingginya nilai bioavailabilitas obat tergantung pada banyak factor, yang menentu -kan bagaimana molekul
obat melewati barier saluran gastrointestinal dan berhasil memasuki pembuluh darah dan diangkut sampai
ke reseptornya.

Faktor-faktor tersebut antara lain :

1. cara preparasi dan bentuk sediaan

2. ukuran molekul

3. kelarutan molekul dalam lipid : yang lebih mudah larut dalam lipid, bioavailabilitasnya lebih tinggi

4. kelarutan dalam air dan lipid : yang larut dalam keduanya, bioavailabilitasnya sangat baik; yang larut
hanya dalam air, bioavailabilitasnya rendah karena molekul mudah terdisosiasi.

5. transport aktif

6. interaksi dengan makanan

7. stabilitas di dalam usus

8. pengosongan lambung

9. adanya metabolisme dalam usus dan di dalam hati

10. factor individu pasien itu sendiri dan faktor keadaan patologik dari pasien (Adnan,2011).

Beberapa faktor yang penting dibahas dibawah ini :

1. Obat harus menembus sawar (barrier) sel di berbagai jaringan (transport lintas membran , dan sebagian
kecil ada yang melewati celah antar sel atau melintasi endotel kapiler)

2. Membran sel

3. Cara transport obat melintasi membran ( semipermiabel ), dapat melalui:

a. Difusi pasif ( dari sisi yang kadarnya tinggi ke sisi yang kadarnya rendah

b. Transport aktif ( Bersifat selektif , melibatkan energi dan komponen-komponen membrane sel)

c. Pinositosis yaitu cara transport dengan membentuk vesikel, misalnya makromolekul protein

d. Difusi terfasilitasi (Kee et al, 1994).


Cara Pemberian Obat

a. Cara pemberian obat per oral :

Cara ini paling umum dilakukan karena mudah, aman dan murah. Namun untuk obat yang diberikan
melalui oral, ada tiga faktor yang mempengaruhi bioavailabilitas :

1. Faktor obatnya sendiri (larut dalam lipid, air atau keduanya.

2. Faktor penderita ( keadaan patologik organ-organ pencernaan dan metabolisme )

3. Interaksi dalam absorpsi di saluran cerna. (interksi dengan makanan) sebagai tugas mandiri

b. Cara pemberian obat melalui suntikan :

Keuntungan pemberian obat secara parenteral dibandingkan per oral, yaitu :

1. Efeknya timbul lebih cepat dan teratur

2. Dapat diberikan pada penderita yang tidak kooperatif, tidak sadar atau muntah-muntah.

3. Sangat berguna dalam keadaan darurat

Kelemahan cara pemberian obat melalui suntikan :

1. Dibutuhkan cara aseptis

2. Menyebabkan rasa nyeri

3. Kemungkinan terjadi penularan penyakit lewat suntikan

4. Tidak bisa dilakukan sendiri oleh penderita

5. Tidak ekonomis

c. Pemberian Obat Melalui Paru-paru :

Cara ini disebut cara inhalasi, hanya dilakukan untuk obat yang berbentuk gas atau cairan yang
mudah menguap, misalnya anestetik umum dan obat dalam bentuk aerosol. Absorpsi melalui epitel paru
dan mukosa saluran napas (Adnan,2011).

Distribusi
Distribusi obat terjadi melalui dua fase berdasarkan penyebaran-nya, yaitu:

1. Distribusi fase pertama : yaitu ke organ-organ yang perfusinya sangat baik ( jantung, hati, ginjal dan otak
), terjadi segera setelah penyerapan, selanjutnya.

2. Distribusi fase kedua : yaitu ke organ-organ yang perfusinya tidak begitu baik ( otot, visera, kulit, dan
jaringan lemak ) (Schmitz et al, 2003).

Obat yang mudah larut dalam lemak akan melintasi membrane sel dan terdistribusi ke dalam sel,
obat yang tidak larut dalam lemak sulit menembus membrane sel sehingga distribusinya terbatas terutama
di cairan ekstrasel. Distribusi terbatasi oleh ikatan obat pada protein plasma dan hanya obat bebas yang
dapat berdifusi kedalam sel dan mencapai keseimbangan (Schmitz et al, 2003).

Farmakodinamik
Cabang ilmu yang mempelajari efek biokimia dan fisiologi obat serta mekanisme kerjanya disebut
farmakodinamik.

Mekanisme kerja obat yaitu :

1. Obat dapat mengubah kecepatan kegiatan faal ( fisiologi ) tubuh

2. Obat tidak menimbulkan suatu fungsi baru, tetapi hanya memodulasi fungsi yang sudah ada ( ini tidak
berlaku bagi terapi gen )

Tujuan mempelajari mekanisme kerja obat ialah untuk :

1. Meneliti efek utama obat

2. mengetahui interaksi obat dengan sel

3. Mengetahui respon khas yang terjadi

Interaksi Obat Dengan Biopolimer

Semua molekul obat yang masuk dalam tubuh, kemungkinan besar berikatan dengan konstituen
jaringan atau biopolimer seperti protein, lemak, asan nukleat, mukopolisakarida, enzim biotransformasi dan
reseptor. Pengikatan obat oleh biopolimer dipengaruhi oleh bentuk konformasi molekul obat dan
pengaturan ruang dari gugus-gugus fungsional senyawa obat. Interaksi obat dapat berupa:

(1) Interaksi tidak khas dan ;

(2) Interaksi khas.

a. Interaksi tidak khas adalah interaksi yang hasilnya tidak menghasilkan efek yang berlangsung lama dan
tidak menyebabkan perubahan struktur molekul obat maupun biopolimer. Interaksi ini bersifat reversibel (
terpulihkan ) dan tidak menghasilkan respons biologis. Contohnya : Interaksi obat yang hanya merubah
lingkungan fisika-kimia dari struktur badan ( protein jaringan, asam nukleat, mukopolisakarida, air dan
lemak ), misalnya : anestetik umum merubah struktur air didalam otak; diuretik osmotik merubah tekanan
osmotik dalam ginjal.

b. Interaksi khas adalah interaksi yang menyebabkan perubahan struktur makromolekul reseptor sehingga
timbul rangsangan perubahan fungsi fisiologis normal yang dapat diamati sebagai respons biologis.
Interaksi dengan reseptor dan interaksi dengan enzim biotransformasi, merupakan interaksi khas.
(Adnan,2011).

Indeks Terapi
Indeks terapi hanya berlaku untuk satu efek, maka obat yang mempunyai beberapa efek terapi
juga mempunyai beberapa indeks terapi. Contoh : Aspirin mempunyai efek analgetik dan antirheumatik.
Indeks terapi atau batas keamanan obat aspirin sebagai analgetik lebih besar dibandingkan dengan indeks
terapi sebagai antireumatik karena dosis terapi antireumatik lebih besar dari dosis analgetik (Adnan,2011).

Meskipun perbandingan dosis terapi dan dosis toksik sangat bermanfaat untuk suatu obat, namun
data demikian sulit diperoleh dari penelitian klinik.( sulit mendapatkan responden yang bersedia untuk uji
klinik ). Maka dari itu selektifitas obat dinyatakan secara tidak langsung yaitu diperhitungkan dari data : (1)
pola dan insiden efek samping yang ditimbulkan obat dalam dosis terapi, dan (2) persentase penderita
yang menghentikan obat atau menurunkan dosis obat akibat efek samping. (Adnan,2011).
Harus diingat bahwa gambaran atau pernyataan bahwa obat cukup aman untuk kebanyakan
penderita, tetapi tidak menjamin keamanan untuk setiap penderita karena selalu ada kemungkinan timbul
respons yang menyimpang. Contohnya : penisilin dapat dinyatakan aman untuk sebagian besar penderita
tetapi dapat menyebabkan kematian untuk penderita yang alergi terhadap obat tersebut. (Adnan,2011).

Respons individu terhadap obat sangat bervariasi, yaitu dapat berupa: (1) Hiperaktif (dosis rendah
sekali sudah dapat memberikan efek); (2) Hiporeaktif (untuk mendapatkan efek, memerlukan dosis yang
tinggi sekali); (3) Hipersensitif ( orang alergi terhadap obat tertentu ); (4) Toleransi ( untuk mendapatkan
efek obat yang pernah di konsumsi sebelumnya, memerlukan dosis yang lebih tinggi); (5) Resistensi (efek
obat berkurang karena pembentukan genetik); (6) Idiosikrasi (efek obat yang aneh , yang merupaka reaksi
alergi obat atau akibat perbedaan genetik) (Adnan,2011).

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Aksi Obat

1. Berat badan

2. Umur

3. Jenis kelamin

4. Kondisi patologik pasien

5. Genetik ( Idiosinkrasi )

6. Cara pemberian obat :

a. Yang memberikan efek sistemik : - oral; sublingual; bukal;-parenteral;- implantasi subkutan; rektal;

b. Yang memberikan efek lokal :- inhalasi; -topikal ( pada kulit ) : salep, krim , lotion ; - obat-obat pada mukosa
: tetes mata, tetes telinga (Adnan,2011).

Hipnotika & Sedatif

Hipnotik Sedatif merupakan golongan obat depresan susunan saraf pusat (SSP) yang relatif tidak
selektif, mulai dari yang ringan yaitu menyebabkan kantuk, menidurkan, hingga yang berat yaitu hilangnya
kesadaran, keadaan anestesi, koma dan mati, bergantung kepada dosis. Pada dosis terapi obat sedatif
menekan aktivitas, menurunkan respon terhadap rangsangan emosi dan menenangkan. Obat Hipnotik
menyebabkan kantuk dan mempermudah tidur serta mempertahankan tidur yang menyerupai tidur
fisiologis.Obat hipnotika dan sedatif biasanya merupakan turunan Benzodiazepin. Beberapa obat Hipnotik
Sedatif dari golongan Benzodiazepin digunakan juga untuk indikasi lain, yaitu sebagai pelemas otot,
antiepilepsi, antiansietas dan sebagai penginduksi anestesis (Anonym, 2006).

(Anonym, 2006).

Tiopental

Tiopentaladalah sebuah obat tidur yang diberikan secara intravena untuk induksi anestesi umum
atau untuk produksi anestesi lengkap durasi pendek. Hal ini juga digunakan untuk hipnosis dan untuk
kontrol negara kejang. Telah digunakan pada pasien bedah saraf untuk mengurangi
tekanan intrakranial meningkat. Tidak menghasilkan eksitasi apapun tetapi memiliki analgesik miskin dan
sifat otot relaksasi. Dosis kecil telah terbukti anti analgesik dan menurunkan ambang nyeri (Martindale,
1996).

(Adriano, 2007).

Farmakodinamik

Thiopental, obat tidur, digunakan untuk induksi anestesi sebelum penggunaan lain agen anestesi umum
dan untuk induksi anestesi untuk prosedur bedah, diagnostik, terapeutik atau pendek berhubungan
dengan rangsangan nyeri yang minimal (Adriano, 2007).

Thiopental adalah depresan ultrashort-acting dari sistem saraf pusat yang menginduksi hipnosis
dan anestesi, tetapi tidak analgesia. Ini menghasilkan hipnosis dalam waktu 30 sampai 40
detik injeksi intravena. Pemulihan setelah dosis kecil cepat, dengan beberapa mengantuk dan
amnesia retrograde (Adriano, 2007).

Dosis intravena berulang menyebabkan anestesi berkepanjangan karena jaringan


lemak bertindak sebagai reservoir, mereka menumpuk Pentothal dalam konsentrasi 6 sampai 12 kali lebih
besar dari konsentrasi plasma, dan kemudian melepaskan obat secara
perlahan menyebabkan anestesi berkepanjangan (Adriano, 2007).

IV. BAHAN, ALAT, DAN HEWAN PERCOBAAN

Hewan Percobaan : Mencit jantan

(bobot badan rata-rata 20-25 kg)

Bahan Obat : 1. Tiopental natrium

2. NaCl Fisiologis

Alat : 1. Alat suntik 1 ml

2. Timbangan hewan
V. PROSEDUR

Mencit dibagi menjadi 4 kelompok dan masing-masing terdiri dari 4 ekor. Setiap mencit pada
setiap kelompok diberi tanda supaya mudah dikenal. Obat (Tiopental Natrium) diberikan secara
intraperitonial kepada setiap mencit dan setiap kelompok diberikan dosis yang meningkat. Dosis yang
diberikan adalah sebagai berikut:

Kelompok

II

III

IV

Jumlah mencit yang kehilangan righting reflex diamati dan dicatat pada setiap kelompok dan
angka tersebut dinyatakan dalam persentase serta jumlah mencit yang mati pada setiap kelompok tersebut
juga dicatat. Kemudian grafik dosis-respon dibuat pada ketas grafik log pada ordinat presentase hewan
yang memberikan efek (hilang righting refleks atau kematian) pada dosis yang digunakan.

VI. HASIL PENGAMATAN

Kelompok 1

Berat Badan Dosis Mulai

31,1 gram 75 mg/kg

28 gram 150 mg/kg

36,8 gram 300 mg/kg

21,8 gram NaCL 2%

Kelompok 2
Berat Badan Dosis Mulai

26,3 gram 75 mg/kg

28 gram 150 mg/kg

18,9 gram 300 mg/kg

29,2 gram NaCL 2%

Kelompok 3

Berat Badan Dosis Mulai

33,8 gram 75 mg/kg

29 gram 150 mg/kg

32,4 gram 300 mg/kg

33,5 gram NaCL 2%

Kelompok 4

Berat Badan Dosis Mulai

28 gram 75 mg/kg

22,7 gram 150 mg/kg

32,3 gram 300 mg/kg

29,7 gram NaCL 2%

Data Kurva Log Probit

Dosis Akumulasi
(mg/kg) Log Observasi Hewan Hewan Mati Hidup Total Rasio %
Dosis kematian mati hidup kematian kematian

75 1,875 1/4 1 3 1 6 7 1/7 14%

150 2,176 3/4 3 1 4 3 7 4/7 57%

300 2,477 2/4 2 2 6 3 8 6/8 75%

Jumlah kematian diganti oleh jumlah mencit yang kehilangan righting reflex.

VII. PERHITUNGAN DAN GRAFIK

Perhitungan Dosis

Kelompok 1

BB (konversi) = 20 mg

Volume maksimal = 0,5 mL

Volume obat yang diberikan :

Mencit I :

Mencit II :

Mencit III :

Mencit IV :

Kelompok 2

BB (konversi) = 20 mg

Volume maksimal = 0,6 mL

Volume obat yang diberikan :

Mencit I :

Mencit II :
Mencit III :

Mencit IV :

Kelompok 3

BB (konversi) = 20 mg

Volume maksimal = 0,5 mL

Volume obat yang diberikan :

Mencit I :

Mencit II :

Mencit III :

Mencit IV :

Kelompok 4

BB (konversi) = 20 mg

Volume maksimal = 0,5 mL

Volume obat yang diberikan :

Mencit I :

Mencit II :

Mencit III :

Mencit IV :

VIII. PEMBAHASAN

Percobaan dosis respon obat dan indeks terapi ini bertujuan untuk memperoleh (LD50) dan (ED50)
serta memahami konsep indeks terapi pada hewan percobaan, yaitu mencit dengan berat sekitar 20 g.
Sementara obat yang diujikan indeks terapinya adalah tiopental natrium. Selain obat, digunakan juga NaCl
fisiologis sebagai kontrol negatif.

Penyuntikan dilakukan secara intraperitonial. Cara pemberian secara intraperitonial yaitu mencit
disuntik di bagian abdomen bawah sebelah garis midsagital dengan posisi abdomen lebih tinggi daripada
kepala, dan kemiringan jarum suntik 10. Pemberian secara intraperitonial dimaksudkan agar absorbsi
pada lambung, usus dan proses bioinaktivasi dapat dihindarkan, sehingga didapatkan kadar obat yang
utuh dalam darah karena sifatnya yang sistemik.

Mencit kelompok IV disiapkan sebanyak 4 ekor dengan berat masing-masing yaitu 28 g, 22,7 g,
32,3 g, dan 29,7 g. Terdapat pula mencit dari kelompok I dengan berat masing-masing yaitu 31,1 g, 28 g,
36,8 g, dan 21,8 g. Sedangkan mencit kelompok II memiliki berat masing-masing yaitu 26,3 g, 28 g, 18,9
g, 29,2 g. Mencit kelompok III memiliki berat masing-masing yaitu 33,8 g, 29 g, 32,4 g, dan 33,5 g. Enam
belas ekor mencit ini digunakan untuk masing- masing variasi dosis serta sebagai kontrol negatif. Berat
badan mencit digunakan untuk mendapatkan hasil konversi dosis. Setelah pemberian obat righting reflex
masing- masing mencit dicatat pada waktu yang telah ditentukan. Righting reflex atau disebut juga static
reflex adalah bermacam gerakan refleks untuk mengembalikan posisi normal badan dari keadaan yang
dipaksakan atau melawan tenaga yang membuat badan bergerak ke arah yang tidak normal.

Obat yang digunakan adalah tiopental natrium. Tiopental natrium adalah obat anti cemas dari
golongan benzodiazepine. Tiopental natrium merupakan salah satu obat golongan hipnotik sedatif.
Hipnotik atau obat tidur adalah zat-zat yang dalam dosis terapi diperuntukkan meningkatkan keinginan
untuk tidur dan mempermudah atau menyebabkan tidur. Bila obat ini diberikan dalam dosis lebih rendah
untuk tujuan menenangkan, maka dinamakan sedatif.

Hipnotik sedatif merupakan golongan obat depresan susunan saraf pusat yang relatif tidak selektif,
mulai dari yang ringan, yaitu menyebabkan tenang atau kantuk, menidurkan hingga yang berat, yaitu
hilangnya kesadaran, keadaan anestesi, koma, dan mati bergantung kepada dosis. Hipnotik dapat dibagi
dalam beberapa kelompok yakni senyawa barbiturate dan benzodiazepine, obat lain (seperti meprobamat
dan opipramol), serta obat obsolet (seperti kloralhidrat). Bila digunakan dalam dosis yang meningkat, suatu
sedatif (misalnya fenobarbital), akan menimbulkan efek berturut-turut peredaan, tidur, dan pembiusan total.
Sedangkan pada dosis yang lebih besar lagi, dapat menimbulkan koma, depresi pernapasan, dan
kematian. Penggunaan tiopental natrium sebagai hipnotik sedatif telah menurun karena efeknya yang
kurang spesifik terhadap sistem saraf pusat.

Tiopental natrium bekerja dengan meningkatkan efek GABA(gamma aminobutyric acid) di otak.
GABA adalah neurotransmitter (suatu senyawa yang digunakan oleh sel saraf untuk saling berkomunikasi)
yang menghambat aktifitas di otak. Diyakini bahwa aktifitas otak yang berlebihan dapat menyebabkan
kecemasan dan gangguan jiwa lainnya. Dengan adanya interaksi benzodiazepin-reseptor, afinitas GABA
terhadap reseptornya akan meningkat, dan dengan ini kerja GABA akan bertambah. Dengan diaktifkannya
reseptor GABA, saluran ion klorida akan terbuka dan dengan demikian ion klorida akan lebih banyak yang
mengalir masuk ke dalam sel. Hal ini akan menyebabkan hiperpolarisasi sel bersangkutan dan sebagai
akibatnya kemampuan sel untuk dirangsang akan berkurang.

Efek samping tiopental natrium yang paling sering adalah mengantuk, lelah, dan ataksia
(kehilangan keseimbangan). Walaupun jarang, tiopental natrium dapat menyebabkan reaksi paradoksikal,
kejang otot, kurang tidur, dan mudah tersinggung. Bingung, depresi, gangguan berbicara, dan penglihatan
ganda juga merupakan efek yang jarang dari tiopental natrium. Obat ini dibuat dalam tiga variasi dosis
yaitu 75 mg/kg, 150 mg/kg, dan 300 mg/kg untuk mengetahui konsentrasi obat yang dapat memberikan
efek pada hewan percobaan.

Dosis yang diberikan kepada setiap mencit meningkat. Pada masing-masing kelompok yaitu
mencit I diberikan tiopental natrium dengan dosis 75 mg/kg BB. Pada mencit II diberikan tiopental
natrium dengan dosis 150 mg/kg BB. Pada mencit III diberikan tiopental natrium dengan dosis 300 mg/kg
BB. Dan pada mencit IV diberikan NaCl fisiologis. Variasi dosis yang digunakan sama pada semua
kelompok mencit sehingga terdapat 12 mencit yang diberi perlakuan obat dan 4 mencit sebagai kontrol
negatif.

Pertama, mencit ditandai ekornya masing-masing terlebih dahulu agar mudah dalam
membedakannya. Kemudian mencit-mencit tersebut ditimbang pada neraca Ohauss yang telah dikalibrasi.
Setelah mendapatkan berat badan mencit, maka jumlah dosis yang akan diberikan dapat diketahui. Jumlah
obat yang diberikan disesuaikan dengan berat mencit.
Volume obat yang didapat melalui perhitungan pada kelompok IV yaitu mencit I adalah 0,7 mL ;
mencit II 0,56 mL ; mencit III 0,8 mL ; mencit IV 0,74 mL. Pada kelompok I yaitu mencit I adalah 0,78 mL ;
mencit II 0,7 mL ; mencit III 0,92 mL ; mencit IV 0,55 mL. Pada kelompok II yaitu mencit I adalah 0,78 mL
; mencit II 0,84 mL ; mencit III 0,57 mL ; mencit IV 0,87 mL. Pada kelompok III yaitu mencit I adalah 0,845
mL ; mencit II 0,725 mL ; mencit III 0,81 mL ; mencit IV 0,8375 mL. Setelah didapatkan jumlah dosis yang
akan disuntikkan, maka keempat mencit yang telah diketahui berat badannya disuntik secara
intraperitonial. Diperlukan adanya suatu perlakuan khusus pada mencit sebelum penyuntikkan supaya
mencit-mencit tersebut terkondisikan, sehingga tingkat keamanan, ketepatan, dan keakuratan
penyuntikkan dosis dapat teratasi.

Dari hasil percobaan, pada kelompok IV dengan kadar obat 150 mg dan 300 mg, efek obat sudah
terlihat pada mencit. Namun, pada dosis 75 mg terlihat efek obat yang lebih sedikit jika dibandingkan
dengan pemberian dosis 150 mg dan 300 mg. Dalam percobaan ini, tidak ada mencit yang mengalami
kematian. Hal ini dapat disebabkan dosis obat yang terlalu kecil. Mencit tetap aktif bergerak seperti biasa.
Efek terapi dari pemberian obat dengan dosis 150 mg pada mencit II dengan bobot 22,7 g mulai terlihat
saat 15 menit setelah pemberian obat. Mencit terlihat diam dan seperti tertidur namun ketika diberi
perlakuan (dipegang), mencit tetap bergerak seperti biasa. Setelah 33 menit pemberian obat, mencit tidak
kehilangan righting reflex tetapi terlihat mengantuk. Sedangkan pada mencit III dengan bobot 32,3 g dan
pemberian dosis 300 mg efek obat terlihat pada menit ke 16. Mencit inilah yang kehilangan righting
reflexnya. Karena ketika diberi perlakuan (dipegang) dan tubuhnya dibalikkan, mencit tetap diam dan tidak
memberikan perlawanan. Pada mencit I dengan bobot 28 g dan pemberian dosis 75 mg efek obat tidak
terlihat. Mencit tetap aktif bergerak seperti biasa seperti pada mencit IV yang berfungsi sebagai kontrol
negatif. Pada mencit ini pun tidak terdapat tanda-tanda kehilangan righting reflex. Hal ini disebabkan
pemberian dosis yang terlalu kecil atau penyuntikkan yang tidak tepat. Pemberian obat secara
intraperitonial cukup sulit karena diperlukan perkiraan yang tepat agar suntikan tidak terkena organ lain
dan menimbulkan pendarahan. Selain itu karena pada saat pemberian obat, suspensi obat tidak dikocok
terlebih dahulu sehingga dosis dalam obat tidak tersebar merata.

Pada kelompok I seluruh variasi pemberian dosis obat yaitu 75 mg, 150 mg, dan 300 mg efek obat
sudah terlihat. Pada mencit I dengan bobot 31,1 g dan pemberian dosis 75 mg, mencit menunjukkan tanda-
tanda kehilangan righting reflex setelah 56 menit pemberian obat. Pada mencit II dengan bobot 28 g dan
pemberian dosis 150 mg, mencit menunjukkan tanda-tanda kehilangan righting reflex setelah 9 menit 38
detik pemberian obat. Pada mencit III dengan bobot 36,8 g dan pemberian dosis 300 mg, mencit
menunjukkan tanda-tanda kehilangan righting reflex setelah 46 menit pemberian obat. Hal ini menunjukkan
bahwa pemberian obat secara intraperitonial sudah benar dan tepat sehingga seluruh mencit yang diberi
variasi dosis kehilangan righting reflexnya. Tetapi seharusnya pada mencit III waktu kehilangan righting
reflexnya lebih cepat dibanding dosis lain karena efek obat akan meningkat sesuai dengan peningkatan
jumlah dosis. Hal yang terlihat dari hasil percobaan adalah berkebalikan yaitu dosis 150 mg lebih cepat
dari dosis 300 mg. Hal ini disebabkan penyuntikkan pada mencit II yang mengenai organ lain sehingga
mencit pun cepat tidak sadarkan diri.

Pada kelompok II hanya pada variasi pemberian dosis obat 150 mg saja yang memberikan efek.
Hal ini terjadi pada mencit II dengan bobot 18,9 g dan setelah 43 menit pemberian obat, mencit ini
mulai kehilangan righting reflexnya. Sedangkan pada mencit I dengan dosis 75 mg dan mencit II dengan
dosis 300 mg mencit tetap bergerak aktif seperti biasa sama dengan kontrol negatifnya yaitu mencit IV
yang diberi NaCl fisiologis. Seharusnya efek obat meningkat seiring dengan peningkatan pemberian dosis,
tetapi hasil percobaan tidak menunjukkan seperti itu. Hal ini dapat terjadi karena pada saat pemberian obat,
suspensi obat tidak dikocok terlebih dahulu sehingga dosis dalam obat tidak tersebar merata. Selain itu
karena penyuntikkan obat tidak tepat di bagian abdomen bawah sehingga obat tidak berefek.

Pada kelompok III seluruh variasi pemberian dosis obat yaitu 75 mg, 150 mg, dan 300 mg efek
obat tidak terlihat. Mencit I, II, dan III tetap bergerak aktif seperti biasa sama dengan kontrol negatifnya
yaitu mencit IV. Tidak terlihat tanda-tanda mencit kehilangan righting reflexnya. Hal ini dapat terjadi karena
penyuntikkan obat tidak tepat di bagian abdomen bawah sehingga obat tidak berefek. Pemberian obat
secara intraperitonial cukup sulit karena diperlukan perkiraan yang tepat agar suntikan tidak terkena organ
lain dan menimbulkan pendarahan. Selain itu karena pada saat pemberian obat, suspensi obat tidak
dikocok terlebih dahulu sehingga dosis dalam obat tidak tersebar merata.

Kemudian setelah data mengenai jumlah mencit yang memberikan efek didapat, data yang
dinyatakan dengan angka tersebut dinyatakan dalam persentase dan dimasukkan kedalam grafik dosis
respon. Grafik dosis-respon digambarkan, dengan cara pada kertas grafik log pada ordinat persentase
hewan yang memberikan efek (hilang righting reflex atau kematian) pada dosis yang digunakan. Grafik
dosis-respon digambarkan menurut pemikiran paling representative untuk fenomena yang diamati dengan
memperhatikan sebesar titik-titik pengamatan. Hubungan terapi suatu obat dengan kurva dosis
respon terdiri dari dua :

1. Kurva dosis yang terjal

Dengan dosis kecil menyebabkan respon obat yang cepat ( efektifitas obat besar) tetapi toksissitasnya
besar.

Rentang efek teurapeutiknya besar atau luas.

2. Kurva dosis respon datar atau landai.

Dosis yang diperlukan relative lebih besar untuk mendapatkan respon yang lebih cepat (efektifitas
berkurang) tetapi toksisitasnya kecil.

Rentang efek teurapeutiknya kecil atau sempit.


Obat yang ideal menimbulkan efek terapi pada semua penderita tanpa menimbulkan efek toksik
pada seorang penderita pun. Oleh karena itu,

Indeks terapi = dan untuk obat ideal : .

Pada umumnya intensitas efek obat akan meningkat jika diberi dosis yang meningkat. Dari hasil
percobaan terlihat bahwa semakin tinggi dosis obat yang diberikan, efek yang ditimbulkan obat semakin
meningkat. Pada dosis 75 mg terdapat 1 mencit yang memperlihatkan efek obat. Pada dosis 150 mg
terdapat 3 mencit yang memperlihatkan efek obat. Pada dosis 300 mg terdapat 2 mencit yang
memperlihatkan efek obat. Waktu efek tiopental natrium lebih cepat pada dosis 300 mg dibandingkan
dengan dosis 150 mg.

Pembahasan Grafik

Data grafik

No Dosis (mg/Kg)

1 75

2 150

3 300

Grafik yang di dapat menunjukkan bahwa seiring dengan penambahan dosis, maka rentang
keefektifan obat makin tinggi dan mendekati efek toksik. Selain itu, rentang antara koordinat kedua dan
ketiga (dosis 2 dan 3) serta hasil pengamatan menunjukkan bahwa rentang keefektifan obat pendek,
dengan kata lain keamanan obat kurang baik. Karena, dilihat dari hasil pengamatan, dapat dianggap bahwa
dosis kedua (150 mg/Kg) merupakan batas efektivitas obat (ED50), namun belum dapat dipastikan dengan
benar nilai pasti ED50 nya karena belum sempat diuji spesifikkan terhadap dosis spesifik. Selain itu, dari
data yang didapat, batas toksik obat diperkirakan ada pada dosi kedua (150 mg/Kg) karena pada dosis
tersebut menimbulkan 57% kematian, namun belum dapat diambil dan LD50nya karena pengujiannya tidak
dilakukan.

Pembahasan perhitungan

Dari hasil penimbangan mencit, didapat berat badan mencit 1 hingga 4 secara berurutan, yaitu : 28
g; 22,7 g; 32,3 g; dan 29,7 g. Kemudian, untuk menyesuaikan dosis obat dengan dosis yang diberikan
kepada mencit, maka dosis di sesusaikan dengan berat badan mencit percobaan dibandingkan terhadap
berat badan umum mencit. Kemudian, dikalikan batas maksimal pemberian dosis intraperitonial, yaitu 0,5.
Batas ini diambil dengan harapan dosis ini cocok dan aman untuk hewan percobaan terhadap dosis obat.
Berikut rumus yang digunakan :

Dengan perhitungan dari rumus tersebut, didapat variasi dosis sebagai berikut :
Mencit Dosis O

1 Fenobarbital 7

2 Fenobarbital 1

3 Fenobarbital 3

4 NaCl

Pembahasan Hasil

Dari hasil pengamatan yang didapat, dapat diambil kesimpulan bahwa batas efektifitas obat berada
pada dosis 150 mg/Kg dan rentang keamanan obat cukup pendek. Selain itu, batas toksik perkiraan berada
pada dosis 150 mg/Kg namun LD50 tidak dapat ditentukan. Kemudian, dilihat dari segi waktu
kehilangan righting reflex hewan uji yang lama, kemungkinan hal itu terjadi karena obat yang diberikan
kurang merata, karena saat mengambil obat dengan suntikan, obat tidak dikocok terlebih dahulu sehinga
penyebarannya kurang merata dan mengakibatkan efek obat berlangsung lama.

IX. SIMPULAN
1. Berdasarkan hasil percobaan pemberian dosis obat terhadap hewan percobaan yaitu
mencit, LD50 dan ED50 tidak diperoleh karena datanya tidak mencukupi.

2. Indeks terapi adalah rasio antara dosis yang menimbulkan kematian pada 50% dari hewan percobaan
yang digunakan (LD50) dibagi dosis yang memberikan efek yang diteliti pada 50% dari hewan percobaan
yang digunakan (ED50).

Indeks terapi
Semakin besar indeks terapi obat maka semakin besar efek terapeutiknya

DAFTAR PUSTAKA

Adnan.2011.Farmakologi.Tersedia di http://kesmasunsoed.blogspot.com/2011/02/ pengantar-


farmakologi.html [diakses tanggal 20 Maret 2011]

Adriano. 2007. Sodium Thiopental. Tersedia di http://www.chm.bris.ac.uk/ motm/sodium-


pentothal/sodiumjm.htm [diakses tanggal 20 Maret 2011]
Anonym. 2006. Obat Sedatif dan Hipnotik. Tersedia di http://medicastore.com
/apotikonline/obat_saraf_otot/obat_bius.htm [diakses tanggal 20 Maret 2011]

Kee, Joyce L dan Evelyn R. Hayes. 1994. Farmakologi, Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC

Martindale, William. 1996. Martindale: The Extra Pharmacopoeia. UK : Royal Pharmaceutical Society

Schmitz, Gary Hans Lepper dan Michael Heidrich. 2003. Farmakologi dan Toksikologi. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke Twitter

Read more: http://laporanakhirpraktikum.blogspot.com/2013/07/gg.html#ixzz4SIKQbT1f

Anda mungkin juga menyukai