Anda di halaman 1dari 27

Permendikbud No.

75 Tahun 2017
Tentang Komite Sekolah dan
Kebijakan Saber Pungli

Bahan Diskusi
Disampaikan dalam Kegiatan Bimtek Program Penguatan
Pendidikan Karakter Bagi Kepala Sekolah Tahun 2017
Kota Malang
Tanggal 25 April 2017
Oleh : MASRUL LATIF, SIP. M.Si., QIA, CFRA.
Auditor Madya pada Inspektorat Jenderal Kemendikbud.

I N S P E K TO R AT J E N D E R A L P E N D I D I K A N DA N K E B U DAYA A N
MARAKNYA KASUS OTT PUNGLI DI
SEKOLAH
1. (Merdeka.com LM), Kepala Sekolah Menengah Pertama
Negeri (SMPN) 6 Mataram, ditahan Polda NTB
dalam kasus dugaan pungutan liar (pungli) kegiatan persiapan
UNBK
2. (news.detik.com/berita) Oknum kepsek dan guru di Jayapura
tertangkap basah melakukan praktik pungli kepada
siswa di sekolah negeri ..
3. makassar.tribunnews.com/2017/02/24/breaking-news- :
Kepala SMAN 5 Makassar Ditahan di Lapas Klas 1 Makassar
ditahan setelah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus dugaan
pungli di sekolah.
2
LATAR BELAKANG REVITALISASI KOMITE SEKOLAH

1. Kepmendiknas Nomor 44/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah sudah tidak
relevan karena tidak mengacu pada UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas (masih berdasarkan
UU Sisdiknas sebelumnya: UU Nomor 2 Tahun 1989 yang telah dicabut) dan PP Nomor 17 Tahun
2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. Salah satu contoh norma yang sudah
tidak relevan adalah komponen keanggotaan Komite Sekolah masih memasukkan unsur Guru dari
sekolah yang bersangkutan.
2. Optimalisasi tugas dan fungsi Komite Sekolah
3. Menghindari praktik pungli (pungutan liar) baik yang dilakukan Sekolah maupun Komite Sekolah
4. Melindungi masyarakat yang kurang mampu
5. Perlunya transparansi alokasi anggaran dari Pemda/Pemerintah Pusat kepada sekolah dan
akuntablitas pertanggungjawaban penggalangan dana oleh Komite Sekolah.
6. Tujuan: Revitalisasi Komite Sekolah dengan Prinsip Gotong Royong
FUNGSI DAN TUGAS KOMITE SEKOLAH [PASAL 2 & 3]

1. Fungsi Komite Sekolah: Peningkatan MUTU PELAYANAN Pendidikan.


2. Tugas Komite Sekolah
a. Memberikan pertimbangan dalam penentuan dan pelaksanaan
kebijakan pendidikan terkait:
1) Kebijakan dan program Sekolah;
2) RAPBS/RKAS;
3) Kriteria kinerja Sekolah;
4) Kriteria fasilitas pendidikan di Sekolah; dan
5) Kriteria kerjasama Sekolah dengan pihak lain.
b. Menggalang dana dan sumber daya pendidikan lainnya dari
masyarakat melalui upaya kreatif dan inovatif
c. Mengawasi pelayanan pendidikan di Sekolah
d. Menindaklanjuti keluhan, saran, kritik, dan aspirasi masyarakat atas
kinerja Sekolah
KEANGGOTAAN [PASAL 4]
YANG TIDAK DAPAT MENJADI
KOMITE SEKOLAH
Orangtua/wali dari Tokoh
siswa yang masih Masyarakat 1. Guru & Tenaga Kependidikan dari Sekolah
aktif maks 30% yang bersangkutan
Memiliki pekerjaan dan
maks 50% 2. Penyelenggara Sekolah yang
perilaku hidup yang bersangkutan Sekolah Swasta
Diharapkan ketua
menjadi panutan
Komite dari Orang
Tidak termasuk
Tua/Wali ORANG YANG KARENA JABATANNYA BERPOTENSI
anggota/pengurus OPG
dan pengurus Parpol CONFLICT OF INTEREST TERHADAP PENGELOLAAN
ANGGARAN NEGARA
3. Pemerintah Desa
Pakar Pendidikan Jumlah Anggota: 4. Pejabat daerah yang tergabung dalam
5-15 orang Forum Koordinasi Pimpinan
maks 30% Kecamatan/Pimpinan Daerah
Persentase ini merupakan
Pensiunan PTK batas maksimal sampai
5. Anggota DPRD
Berpengalaman di dengan jumlah anggota 6. Pejabat pemerintah pusat/pemda yang
bidang pendidikan memenuhi 100% yang membidangi pendidikan
disesuaikan dengan kondisi
daerah masing-masing.
KEANGGOTAAN & KOORDINASI [PASAL 4 9]
2. METODE PEMBENTUKAN 3. BERAKHIRNYA KEANGGOTAAN

a. Dalam 1 Sekolah: melalui rapat a. Mengundurkan diri


orangtua/wali, dimusyawarahkan dan/atau b. Meninggal dunia
c. Tidak dapat melaksanakan tugas karena
melalui voting. Ditetapkan oleh Kepala
berhalangan tetap
Sekolah (Sesuai dengan PP 17 Tahun 2010) d. Dijatuhi pidana dan telah inkracht
b. Komite Sekolah Gabungan: bagi Sekolah
yang memiliki siswa kurang dari 200 dapat 4. PEMBINA KOMITE SEKOLAH
membentuk Komite Sekolah gabungan dgn Bupati/walikota, camat, lurah/kepala desa
Sekolah Lain. Pembentukannya difasilitasi sesuai dengan wilayah kerjanya
oleh Dinas Pendidikan sesuai
kewenangannya. Ditetapkan oleh Kepala 5. KOORDINASI DAN KONSULTASI
Sekolah yang memiliki siswa paling banyak
Dengan Sekolah, Dewan Pendidikan, Dinas
c. Masa Jabatan: 3 tahun, dapat dipilih
Pendidikan, dan pemangku kepentingan lainnya
kembali 1x
METODE PENGGALANGAN DANA
YANG DAPAT DILAKUKAN OLEH KOMITE SEKOLAH
SMA/SMK NEGERI DI DAERAH YG
BANTUAN SUMBANGAN TIDAK MELAKSANAKAN WAJIB
Definisi: Definisi: Pemberian BELAJAR 12 TAHUN & SEKOLAH
Pemberian SWASTA
PUNGUTAN
uang/barang/jasa oleh
uang/barang/jasa peserta didik, orang Definisi: Penarikan uang
oleh pemangku tua/wali baik Pasal 10 oleh Sekolah kepada
kepentingan perseorangan maupun peserta didik,
satuan pendidikan bersama-sama,
BUKAN
orangtua/walinya yang
di luar peserta masyarakat atau lembaga bersifat wajib, mengikat,
didik atau orang secara sukarela, dan tidak serta jumlah dan jangka
tua/wali, dengan mengikat satuan waktu pemungutannya
syarat yang pendidikan ditentukan
disepakati para
Dana BOS/BOSDA diutamakan untuk kebutuhan pokok
pihak
Sumbangan oleh KS tidak boleh untuk membayar gaji/honor guru dan
sekolah misalkan buku pelajaran, buku di perpustakaan.
Pungutan TIDAK DIPERUNTUKAN untuk pembangunan fisik
tendik. (Permendagri Nomor 31 Tahun 2016 APBD untuk Guru PNS)
atau renovasi bangunan (misalkan tempat ibadah dan ruang
kelas), atau untuk pembelian kendaraan operasional
sekolah.
SKEMA PERBEDAAN BANTUAN, PUNGUTAN DAN SUMBANGAN
ASPEK BANTUAN SUMBANGAN PUNGUTAN
TINDAKAN Pemberian Pemberian Penarikan
BENTUK Uang/Barang/Jasa Uang/Barang/Jasa Uang
PELAKU Pemangku Peserta didik, orang Sekolah
kepentingan satuan tua/wali baik
pendidikan di luar perseorangan maupun
peserta didik atau bersama-sama,
orang tua/wali masyarakat atau lembaga

SIFAT (SYARAT Disepakati para Sukarela, dan tidak Wajib, mengikat, serta
pihak mengikat satuan jumlah dan jangka waktu
DAN
pendidikan pemungutannya
KETENTUAN) ditentukan

Sumbangan WAJIB? INI ADALAH


Iuran WAJIB? PUNGUTAN
MEKANISME PENGGALANGAN DANA [PASAL 10]
YANG HARUS DILAKUKAN SEKOLAH
A. Menyusun Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM), Rencana Kerja Tahunan (RKT), dan Rencana Kegiatan dan
Anggaran Sekolah (RKAS), dengan ketentuan (tertuang dalam Permendikbud Nomor 16 Tahun 2016 tentang BOS):
1. RKAS memuat BOS
2. RKJM disusun setiap 4 (empat) tahun
3. RKJM, RKT, dan RKAS disusun berdasarkan hasil evaluasi diri sekolah
4. RKJM, RKT, dan RKAS harus disetujui dalam rapat dewan guru setelah memperhatikan pertimbangan Komite
Sekolah dan disahkan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pendidikan provinsi/kabupaten/kota sesuai
dengan kewenangannya untuk SD/SDLB/SMP/SMPLB dan SMA/ SMALB/SMK yang diselenggarakan oleh
Pemerintah atau Pemerintah Daerah atau yayasan untuk SD/SDLB/SMP/ SMPLB atau SMA/SMALB/SMK yang
diselenggarakan oleh masyarakat.
B. Menentukan Kebutuhan YANG TELAH DAN TIDAK DIBIAYAI OLEH NEGARA dalam Penyelenggaraan Pendidikan
C. Komite Sekolah membuat proposal yang diketahui Sekolah sebelum melakukan penggalangan dana dan sumber
daya pendidikan lainnya dari masyarakat. Bentuk proposal minimal berisi:
1. Jenis kebutuhan yang tidak dapat dibiayai negara 3. Rencana sumber penggalangan dana
(yang telah diputuskan sebelumnya pada rapat 4. Rencana pelaksanaan (jangka waktu)
Komite Sekolah dengan Sekolah yang disepakati 5. Metode pemberian sumbangan/bantuan
oleh orangtua siswa) 6. Narahubung/Contact Person
2. Besaran anggaran untuk pemenuhan Kebutuhan
MEKANISME PENGGALANGAN DANA [PASAL 10]
D. Hasil penggalangan dana dibukukan pada rekening bersama antara Komite Sekolah dan Sekolah
E. Hasil penggalangan dana dapat digunakan untuk:
1. Menutupi kekurangan biaya Sekolah
2. Pembiayaan program terkait peningkatan mutu sekolah
3. Pengembangan Sarpras
4. Pembiayaan kegiatan operasional Komite Sekolah yang dilakukan sewajarnya dan harus
dipertanggungjawabkan secara transparan (ATK, konsumsi rapat, transportasi)
F. Penggunaan hasil penggalangan dana oleh Sekolah harus mendapatkan persetujuan Komite Sekolah
dan dipertanggungjawabkan secara akuntabel
PEMANFAATAN DAN PELAPORAN HASIL PENGGALANGAN DANA
[Pasal 11] Sumbangan dan [PASAL 12] Larangan untuk KS
Bantuan DILARANG berasal dari: (juga terdapat pada PP 17 Tahun 2010)

a. Perusahaan rokok dan/atau 1. Menjual buku pelajaran, bahan ajar, perlengkapan bahan ajar,
lembaga yang menggunakan pakaian seragam, atau bahan pakaian seragam di Sekolah
merk dagang, logo, semboyan,
2. Melakukan pungutan kepada siswa & orangtua siswa
dan/atau warna yang
diasosiasikan sbg ciri khas 3. Mencederai integritas evaluasi hasil belajar siswa
perusahaan rokok 4. Mencederai integritas seleksi pada PPDB
b. Perusahaan minuman 5. Melaksanakan kegiatan lain yang mencederai integritas
beralkohol dan/atau lembaga 6. Mengambil/mensiasati keuntungan ekonomi dari pelaksanaan
yang menggunakan merk dagang, kedudukan
logo, semboyan, dan/atau warna
7. Memanfaatkan asset Sekolah untuk kepentingan
yang diasosiasikan sbg ciri khas
perusahaan beralkohol pribadi/kelompok diluar untuk urusan Sekolah
c. Partai politik. 8. Melakukan kegiatan politik praktis di Sekolah
9. Mengambil keputusan atau tindakan melebihi kedudukan & tusi
KS
PEMANFAATAN DAN PELAPORAN HASIL PENGGALANGAN DANA

[PASAL 13] Mekanisme Laporan KS

Komite Sekolah menyampaikan laporan kepada orgtua/wali siswa,


masyarakat, dan Kepsek melalui pertemuan berkala paling sedikit 1x
dalam 1 semester

Laporan KS terdiri dari:


a. Laporan kegiatan KS (rutin dan berkala)
b. Laporan hasil perolehan penggalangan dana (dibuat setiap
melakukan penggalangan dana)
KRITERIA MINIMAL FORMAT
LAPORAN TAHUNAN KOMITE SEKOLAH

A. UMUM
SK Pengangkatan Komite Sekolah
Profil Pengurus Komite Sekolah

B. IKHTISAR PROGRAM KEGIATAN SELAMA 1 TAHUN


Dana Yang Tersedia di Awal Tahun Laporan per kegiatan Komite Sekolah berbentuk
Laporan per Kegiatan Komite Sekolah Penggalangan Dana (dituangkan dalam laporan tahunan
Non Penggalangan Dana dan dibuat setiap kegiatan sebagai pertanggungjawaban)
o Ruang Lingkup Kegiatan o Proposal Kegiatan untuk Penggalangan Dana
o Laporan Keuangan o Laporan Pemasukan dari Penggalangan Dana
o Dokumenasi & Hasil kegiatan o Laporan Pengeluaran dari Penggunaan Dana
o Dokumentasi & Hasil Kegiatan
Dana Yang Tersisa Pada Akhir Tahun
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 14:
Ketentuan dalam Permendikbud ini harus disesuaikan dalam jangka
waktu 1 tahun sejak Permendikbud ditetapkan (30 Desember 2016).

1. Maka, batas waktu penyesuaian Komite Sekolah diseluruh Sekolah terhadap


Peraturan Menteri ini paling lambat 30 Desember 2017;
2. Dinas Pendidikan wajib memastikan setiap Sekolah wajib memiliki Komite
Sekolah; dan
3. Sesuai dengan PP Nomor 17 Tahun 2010, pembentukkan Komite Sekolah dapat
menggunakan nomenklatur lain dengan pembentukan, struktur, tugas, dan
fungsi yang sama dengan Komite Sekolah sesuai peraturan perundang-
undangan.
KETENTUAN PENUTUP DAN TINDAK LANJUT

1. Sumbangan, bantuan, dan DAK Fisik tidak dapat dilaksanakan apabila tidak terdapat Komite Sekolah.
2. Pemerintah Daerah membuat aturan tentang batasan yang jelas mengenai apa yang dapat dipungut dan yang
tidak dapat dipungut melainkan dengan sumbangan/bantuan.
3. Regulasi yang dibuat oleh Pemerintah Daerah mengacu pada peraturan perundang-undangan termasuk PP
Nomor 17 Tahun 2010 dan Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016.
4. Regulasi yang dibuat Pemerintah Daerah mengakomodir antara lain: prinsip tidak memungut dari peserta didik
atau orang tua/walinya yang tidak mampu secara ekonomis dan tidak dikaitkan dengan persyaratan akademik
untuk penerimaan peserta didik, penilaian hasil belajar peserta didik, dan/atau kelulusan peserta didik dari
satuan pendidikan.
5. Dengan adanya regulasi tersebut, diharapkan Kepala Sekolah dan Komite Sekolah yang telah melaksanakan
penggalangan dana sesuai dengan peraturan perundang-undangan tidak terkena Tim Saber Pungli maupun
penegak hukum lainnya.
TANTANGAN REVITALISASI KOMITE SEKOLAH
1. Keterlibatan aktif peran anggota KS dan Orang tua/wali
2. Peran Dinas Pendidikan untuk :
a. Memastikan adanya Komite Sekolah ada di setiap Sekolah.
b. mencegah adanya Pungli berkedok sumbangan dan memberatkan orang tua.
c. melakukan pengawasan pada saat memasuki tahun ajaran baru (mulai bulan 5-7) agar jangan ada
pungutan oleh sekolah dan sumbangan oleh KS kepada org tua/wali
3. Bagi daerah yang belum menetapkan Wajib Belajar 12 Tahun maka sebaiknya Perda yang mengatur
penetapan APBS (Anggaran Pendapatan dan Biaya Sekolah) untuk menetapkan iuran wajib (pungutan) oleh
Sekolah, dengan mengatur antara lain :
a. APBS ditetapkan sebelum Tahun Ajaran Baru;
b. disusun oleh Sekolah dan KS dengan wajib memetakan kemampuan wali siswa untuk SMA/SMK
c. APBS harus disetujui DISDIK dan ada waktu bagi DISDIK untuk mencermati bahwa APBS tersebut tidak
membebani orang tua/wali siswa.
d. APBS wajib disosialisasikan kepada seluruh orang tua/wali siswa.
Dasar Hukum Saber Pungli
1. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang
Sistem Pengendalian Intern Pemerintah

2. Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2016 tentang Satuan Tugas Sapu


Bersih Pungutan Liar
3. Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi Nomor 5 Tahun 2016 tentang Pemberantasan Praktek
Pungutan Liar (Pungli) dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi Instansi
Pemerintah
4. Keputusan Mendikbud No. 317/P/2016 ttg Unit Pemberantasan Pungli di
Lingkungan Kemendikbud
5. Keputusan Irjen Kemendikbud No. 1257/2017 ttg Pebentukan Tim
Pelaksana Berpungli di Lingkungan Kemendikbud 17

17
PERPRES NO 87/2016

Optimalisasi Sumber Daya K/L/P untuk berantas Pungutan liar (SATGAS)

SE MenPAN & RB Nomor 5 Tahun 2016

K/L/D
1. Koordinasi dan sinergi
BPKP 2. Quality Assurance

Unit Kerja/SKPD Mengidentifikasi area yang berpotensi APIP


Mendorong dan memantau langkah-langkah unit
pungli dan mengambil langkah-langkah
kerja/SKPD dalam mencegah dan mendeteksi pungli
yang efektif untuk memberantas pungli

SK MENDIKBUD NO 137/P/2016 (UNIT)


SK Irjen Kemendikbud No.1257/2017 (TIM)

Koordinasi dengan Saber Pungli Pusat


Seluruh sektor lini pelayanan pendidikan dan Kebudayaan Anggotanya SPI Unitama
Seluruh sektor lini pelayanan pendidikan
dan Kebudayaan 18
TUGAS SATGAS/UNIT/TIM SABER PUNGLI

TUGAS FUNGSI
INTELIJEN;
MELAKSANAKAN PEMBERANTASAN
PENCEGAHAN;
PUNGUTAN LIAR SECARA EFEKTIF DAN
PENINDAKAN; DAN
EFISIEN DENGAN MENGOPTIMALKAN
YUSTISI.
PEMANFAATAN PERSONIL, SATUAN
KERJA DAN SARANA PRASARANA, BAIK SASARAN
YANG BERADA DI KEMENTERIAN/
SENTRA PELAYANAN PUBLIK DI
LEMBAGA MAUPUN PEMERINTAH KEMENTERIAN/LEMBAGA DAN PEMDA
DAERAH.

19
STRATEGI CEGAH & BERANTAS PUNGLI
STRATEGI PRE EMTIF (PEMBINAAN)
MEMBANGUN BUDAYA ANTI PUNGLI BAIK MASY, APARATUR MAUPUN PENGUSAHA
MENIGKATKAN SOSIALISASI KEPADA MASY DLM GERAKAN NASIONAL
PEMBERANTASAN PUNGLI, PEMDA BEBAS DARI PUNGLI
STRATEGI PENCEGAHAN
MELAKSANAKAN PEMETAAN RAWAN PUNGLI DI SETIAP K/L & PEMDA
MENGOPTIMALKAN FUNGSI SAT WAS INTERNAL BAIK WAS MELEKAT WAS
FUNGSIONAL INTERN DGN JADWAL & PRIORITAS YG TERARAH
MENGOPTIMALKAN SISTEM PELAYANAN PUBLIK YG PRIMA BERBASIS TEKNOLOGI &
INFORMASI
STRATEGI REPRESIF (PENEGAKAN HUKUM)
MENINDAK TEGAS THDP OKNUM APARAT PENYELENGGARA NEGARA/PEGAWAI
NEGERI, MASY YG TERLIBAT DLM PUNGUTAN LIAR SESUAI KETENTUAN PER UU YG
BERLAKU
20
STRUKTUR ORGANISASI UPP K/L

K/L PENANGGUNG JAWAB


MENTERI/ PIMP/KETUA LEMBAGA

KETUA PELAKSANA UNIT


POK AHLI WAS INTERNAL/ PJBT YG DITUNJUK

SEKRETARIAT

KETUA POKJA UNIT


KETUA POKJA UNIT KETUA POKJA UNIT PENINDAKAN KETUA POKJA UNIT
INTELIJEN PENCEGAHAN YUSTISI

UNIT
PEMBERANTASAN
PUNGLI PD KANWIL
STRUKTUR DISESUAIKAN DGN K/L
Faktor penyebab seseorang melakukan pungli
1. Penyalahgunaan wewenang, Jabatan atau kewenangan
seseorang;
2. Faktor mental, karakter atau kelakuan dari pada seseorang;
3. Faktor ekonomi. Penghasilan yang bisa dikatakan tidak
mencukupi kebutuhan hidup tidak sebanding dengan
tugas/jabatan;
4. Faktor kultural & Budaya Organisasi. Budaya yang berjalan terus
menerus sebagai hal biasa;
5. Terbatasnya sumber daya manusia;
6. Lemahnya sistem kontrol dan pengawasan oleh atasan.

22
7 SEKTOR PELAYANAN PUBLIK YG RAWAN PUNGLI
(Inspektur Jenderal Kementerian Dalam Negeri)
1. Sektor perizinan;
2. Sektor pendidikan;
3. Hibah dan bantuan sosial (bansos);
4. Kepegawaian;
5. Dana desa;
6. Pengadaan barang dan jasa serta;
7. Peradilan.
Sektor perizinan dan hibah bantuan sosial yang paling
rawan pungli karena langsung bersentuhan dengan
publik. Di seluruh Kementerian/Lembaga di Pusat,
Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Daerah diharuskan
untuk membentuk Tim Pemberantasan Pungli. (amanah
dari Presiden R.I. Joko Widodo)
23
KEWENANGAN APIP DALAM MENYIKAPI PENYIMPANGAN

Pasal 385 UU Nomor 23 Th 2014 tentang


Pemerintahan Daerah
1. Pengaduan masyarakat atas dugaan
penyimpangan diperiksa oleh APIP dan/atau
Aparat Penegak Hukum;
2. Pemeriksaan Aparat Penegak Hukum terlebih
dahulu harus berkoordinasi dengan APIP;
3. Penyimpangan administrasi diserahkan kepada
APIP, penyimpangan pidana diserahkan kepada
Aparat Penegak Hukum.
24
PUNGLI PENDIDIKAN ANTARA
RANAH ADMINISTRATIF DAN RANAH
PIDANA.
HUKUM ADMINISTRASI HUKUM PIDANA

PP. No. 48 Tahun 2008 Tentang UU No. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan
atas UU No. 31 Tahun 1999 Pemberantasan
Pendanaan Pendidikan Tindak Pidana Korupsi (pasal 12 huruf e).
Permendikbud No. 44 Tahun
2012 Tentang Pungutan dan Pegawai negeri atau penyelenggara negara
yang dengan maksud menguntungkan diri
Sumbangan di Satuan sendiri atau orang lain secara melawan hukum,
Pendidikan Dasar. atau dengan menyalahgunakan kekuasaannya
Permendikbud No. 75 Tahun memaksa seseorang memberikan sesuatu,
membayar, atau menerima pembayaran
2016 Tentang Komite Sekolah dengan potongan, atau untuk mengerjakan
sesuatu bagi dirinya sendiri;

Contoh Kasus 25
Mengacu pada SK Mendikbud dan SK Irjen dapat menggunakan kegiatan al :

1. Audit
2. Fact Finding
3. Monitoring
4. Pendampingan
5. Fasilitasi
6. Sidak dan Kunker
7. Forum Diskusi Terpumpun (FDT) dan
8. Pengawasan lainnya
AUDIT

Beri Nilai