Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat telah merambah ke


berbagai sektor termasuk juga dalam sector kesehatan. Secara generik, alasan
utama menggunakan teknologi informasi adalah agar mampu memberikan
pelayanan kesehatan masyarakat secara lebih efisien, meningkatkan efektivitas
dan produktivitas kerja serta menguatkan fungsi stratejik organisasi kesehatan
masyarakat dengan memanfaatkan informasi kesehatan dari berbagai sumber.
Sehingga, seorang praktisi kesehatan masyarakat harus mampu menggunakan
informasi kesehatan secara efektif, memanfaatkan teknologi informasi secara
efektif serta mengembangkan, mengelola dan memelihara program teknologi
informasi kesehatan masyarakat secara efektif pula.

Meskipun dunia kesehatan (dan medis) merupakan bidang yang bersifat


information-intensive, akan tetapi adopsi teknologi informasi relatif tertinggal.
Sebagai contoh, ketika transaksi finansial secara elektronik sudah menjadi salah
satu prosedur standar dalam dunia perbankan, sebagian besar rumah sakit di
Indonesia baru dalam tahap perencanaan pengembangan billing system. Meskipun
rumah sakit dikenal sebagai organisasi yang padat modal-padat karya, tetapi
investasi teknologi informasi masih merupakan bagian kecil. Di AS, negara yang
relatif maju baik dari sisi anggaran kesehatan maupun teknologi informasinya,
rumah sakit rerata hanya menginvestasinya 2% untuk teknologi informasi.

Di sisi yang lain, masyarakat menyadari bahwa teknologi informasi


merupakan salah satu tool penting dalam peradaban manusia untuk mengatasi
(sebagian) masalah derasnya arus informasi. Teknologi informasi dan komunikasi
pada saat ini adalah bagian penting dalam manajemen informasi. Di dunia medis,
dengan perkembangan pengetahuan yang begitu cepat (kurang lebih 750.000
artikel terbaru di jurnal kedokteran dipublikasikan tiap tahun), dokter akan cepat
tertinggal jika tidak memanfaatkan berbagai tool untuk mengudapte
perkembangan terbaru. Selain memiliki potensi dalam memfilter data dan
mengolahnya menjadi informasi, Teknologi Informasi juga mampu
menyimpannya dengan jumlah kapasitas yang jauh lebih banyak jika
1
dibandingkan dengan cara-cara manual. Konvergensi dengan menggunakan
teknologi komunikasi juga memungkinkan data kesehatan di-share secara mudah
dan cepat. Disamping itu, teknologi memiliki karakteristik perkembangan yang
sangat cepat. Setiap dua tahun, akan muncul produk baru dengan kemampuan
pengolahan yang dua kali lebih cepat dan kapasitas penyimpanan dua kali lebih
besar serta berbagai aplikasi inovatif terbaru. Dengan berbagai potensinya ini,
adalah naif apabila manajemen informasi kesehatan di rumah sakit tidak
memberikan perhatian istimewa.faktor yang mempengaruhi keberhasilan serta
refleksi bagi komunitas rekam medis.

1.2 Rumusan Masalah

Dari penjelasan latar belakang diatas dapat di rumuskan masalah sebagai


berikut :

1. Bagaimanakah Sistem Informasi Sumber Daya Manusia rumah sakit ?

2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi dalam Sistem Informasi


Sumber Daya Manusia rumah sakit?

3. Mencari tahu hambatan dan kendala di dalam SDM rumah sakit?

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan dari makalah ini adalah:

1. Untuk mengetahui bagaimana sistem Informasi Sumber Daya manusia rumah


sakit.

2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dalam Sistem Informasi


Sumber Daya Manusia rumah.

3. Untuk mencari tahu hambatan dan kendala di dalam SDM rumah sakit.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Konsep Dasar Sistem Informasi

Informasi dapat diperoleh dari sistem informasi (Information system).


Sistem informasi didefinisikan oleh Robert A. Leitch dan K. Roscoe Davis
sebagai berikut: Sistem informasi adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi
yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian, mendukung
operasi, bersifat manajerial dan kegiatan strategis dari suatu organisasi dan
menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan yang diperlukan. Di dalam suatu
informasi terdapat beberapa komponen yang terkait dengan system informasi
yaitu :

1. Pemakai

2. Tujuan

3. Masukan proses keluaran

4. Data

5. Teknologi

6. Model

7. Pengendali

System informasi dapat digambarkan sebagai berikut:

Teknologi

Masukan Proses Keluaran

Model Pengendalian

Bagan 1.Komponen yang terkait dalam system informasi

3
2.2 Sistem informasi Sumber Daya manusia

Personil merupakan salah satu sumber daya fisik yang mengalir melalui
perusahaan yang diakui sebagai sumber daya yang berharga, dan departemen
sumber daya manusia berperan penting dalam arus tersebut. Departemen sumber
daya manusia, disebut SDM, merupakan suatu area fungsional perusahaan, yang
melaksanakan fungsi staf. SDM bertanggung jawab membawa personil dari
lingkungan ke perusahaan. Hal ini mencakup perekrutan, pewawancaraan dan
pengujian. Setelah personil diterima, SDM menyimpan catatan-catatan pegawai
dan keluarganya. Jika personil berhenti kerja, SDM melakukan wawancara keluar
untuk memperoleh pandangan mengenai kebijakan sumber daya manusia
perusahaan, dan mengatur program pensiun dari pegawai yang pensiun, atau
dengan kata lain, sumber daya manusia mendukung area fungsional lain dengan
membantu mendapatkan personil baru, mempersiapkan personil untuk melakukan
tugasnya, dan menangani semua pencatatan yang berhubungan dengan pegawai dan
mantan pegawai.

Sistem yang menyediakan informasi mengenai sumber daya manusia


perusahaan adalah sistem informasi sumber daya manusia (human resource
information system). HRIS mengumpulkan dan memelihara data yang menjelaskan
sumber daya manusia, mengubah data tersebut menjadi informasi, dan melaporkan
informasi itu kepada pemakai.

Subsistem input HRIS yang mengadakan penelitian khusus mengenai


pekerjaan-pekerjaan perusahaan dilaksanakan oleh subsistem penelitian sumber
daya manusia. Penelitian ini mengungkapkan tugas-tugas pekerjaan yang harus
dilaksanakan, pengetahuan dan keahlian yang diperlukan, dan tingkat kompensasi
yang sesuai.

2.3 Pengertian Sistem Informasi Rumah Sakit

Sistem informasi rumah sakit adalah suatu tatanan yang berurusan dengan
pengumpulan data, pengelolaan data, penyajian informasi, analisa dan
penyimpulan informasi serta penyampaian informasi yang dibutuhkan untuk
kegiatan rumah sakit.

4
Pengembangan Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) yang berbasis
komputer (Computer Based Hospital Information System) akan berhasil dengan
baik, apabila memperhatikan konsep-konsep dasar pengembangan sistem
informasi.

Pada dasarnya rancang bangun/desain SIRS, secara global (rancangan


global) adalah identik antara satu rumah sakit dengan rumah sakit lainnya dan
yang membedakannya adalah dalam rancangan rinci. Secara global SIRS dibagi
menjadi 6 subsistem, yaitu:

1.Subsistem Layanan Kesehatan, yang dijabarkan lagi menjadi 3 modul, yaitu

(a) Modul Rawat Jalan,

(b) Modul Rawat Inap dan

(c) Modul Penunjang Medis,

2.Subsistem Rekam Medis,

3 Subsistem Personalia,

4.Subsistem Keuangan,

5.Subsistem Sarana/Prasarana dan

6.Subsistem Manajemen Rumah Sakit.

Rancangan global SIRS dapat dikatakan relatif stabil untuk waktu yang
lama, selama fungsi/tugas utama rumah sakit tidak berubah secara mendasar.
Dalam melakukan pengembangan SIRS, pengembang haruslah bertumpu dalam 2
hal penting yaitu (1) kriteria dan kebijakan pengembangan SIRS dan (2) sasaran
dari pengembangan SIRS tersebut. Adapun tahapan yang dilakukan dalam
pengembangan SIRS terdiri dari 6 tahapan, yaitu

(1) Penyusunan RencanaInduk Pengembangan SIRS,

(2) Penyusunan Rancangan Global SIRS,

(3) Penyusunan RancanganDetail/Rinci SIRS,

(4) Pembuatan Prototipe,

(5) Implementasi SIRS,

(6) Operasionalisasi dan Pemantapan SIRS


5
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Sistem Informasi Sumber Daya Manusia rumah


sakit Keterkaitan SI SDMRS

Keterkaitan antara berbagai hal yang terkait dengan system informasi Sumber
Daya Manusia Rumah sakit, dapat dilihat seperti pada gambar berkut ini:

Sub fungsi Manajemen SDM

Perencanaan

Staffing

Pengembangan karir

Menajemen kerja

Kompensasi

Kualitas suasana kerja

Lingkungan Sistem Informasi lain

Legal SIM

Politik

Sosial Di dalam Organisasi

SDM Payroll

General

6
System Informasi di luar Proses manajemen strategic

Organisasi Pengembangan

Asuransi pelayanan

Dana pension Diversifikasi

Konsultan Merger

Pajak Akusisi

Bagan 2. Keterkaitan SI SDMRS

Pengembangan SI SDMRS

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam rangka pengembangan


system Informasi Sumber Daya Manusia Rumah Sakit,adanya hal hal yang perlu
diperhatikan seperti di bawah ini.

1. Fungsi Spesifik

2. Formulir dan tampilan khusus

3. Laporan tersendiri

4. Analisis khusus

5. Elemen Data yang Unik

Keadaan diatas memberikan gambaran adanya kekhususan pada system


informasi jenis ini, sehingga akan, yang memerlukan dan perhatian akan petingnya
pedoman tailor made.

7
Siklus Hidup SI SDMRS

Secara umum siklus hidup pengembangan sistem terdiri atas enam tahap, yaitu :

1. Perencanaan Sistem

2. Analisis sistem

3. Rancangan sistem general (atau konseptual)

4. Evaluasi dan pemilihan sistem

5. Rancangan sistem terinci (atau fungsional)

6. Implementasi system

Perencanaan Sistem

Perencanaan sistem menyangkut estimasi dari kebutuhan-kebutuhan fisik,


tenaga kerja dan dana yang dibutuhkan untuk mendukung pengembangan sistem
serta untuk mendukung operasinya setelah diterapkan.

Proses dari perencanaan sistem dapat dikelompokkan dalam 3 proses utama, yaitu:

1. Merencanakan proyek-proyek sistem, terdiri dari:

a.mengkaji tujuan, perencanaan strategi dan taktik perusahaan

b. mengidentifikasi proyek-proyek sistem;

c. menetapkan sasaran proyek-proyek sistem;

d. menetapkan kendala proyek-proyek sistem;

e. menentukan proyek-proyek sistem prioritas;

f. membuat laporan perencanaan sistem; dan

g. meminta persetujuan manajemen.

2. Mempersiapkan proyek-proyek sistem yang akan dikembangkan, terdiri dari:

a. menunjuk team analis; dan

b. mengumumkan proyek pengembangan sistem.

3. Mendefinisikan proyek-proyek sistem dikembangkan, terdiri dari:


a.mengidentifikasi kembali ruang lingkup dan sasaran proyek sistem

b.melakukan studi kelayakan, dengan cara melakukan penelitian

8
Analisis Sistem

Sebelum melakukan perancangan sistem informasi yang baru pada suatu


perusahaan, maka harus dilakukan analisis sistem terlebih dahuluuntuk
memperoleh gambaran yang jelas mengenai kelebihan dan kekurangan sistem
yang sedang berjalan. Analisis sistem (system analysis) dapat didefinisikan
sebagai berikut:

Analisis sistem adalah penguraian dari suatu sistem informasi yang utuh ke
dalam beberapa bagian komponennya dengan maksud untuk mengidentifikasikan
dan mengevaluasi permasalahan, kesempatan, hambatan yang terjadi dan
kebutuhan yang diharapkan sehingga dapat diusulkan perbaikannya. Dalam
menganalisis sebuah sistem, tahapan dasar yang harus dilakukan adalah:

1. Mengidentifikasi masalah (identify)

Merupakan langkah pertama yang harus dilakukan dalam analisis sistem.


Masalah dapat didefinisikan sebagai suatu pertanyaan yang diinginkan untuk
dipecahkan. Menentukkan titik keputusan dimana letak penyebab masalahnya
sehingga proses pemecahan masalahnya dapat lebih terarah.

2. Memahami kerja dari sistem yang ada (understand)

Memahami kerja dari sistem yang ada, dengan cara mempelajari secara
terinci bagaimana sistem yang sedang berjalan tersebut beroperasi. Data yang
diperlukan dapat diperoleh dengan melakukan penelitian. Analis sistem perlu

mempelajari apa dan bagaimana operasi sistem yang ada sebelum mencoba
menganalisis permasalahan, kelemahan dan kelebihan sistem tersebut.

3. Menganalisis sistem (analize)

Mempelajari data dan informasi yang diperoleh dari sistem yang sedang
berjalan, kemudian melakukan analisis sistem secara keseluruhan serta
permasalahan yang terjadi untuk menemukan jawaban apa penyebab sebenarnya
dari masalah yang timbul. Penelitian dilakukan dengan menjawab pertanyaan
seperti: apa yang dikerjakan, bagaimana mengerjakannya, siapa yang
mengerjakannya, dimana dikerjakannya. Untuk menganalisis kelemahan sistem

9
dapat dilakukan dengan menjawab beberapa pertanyaan seperti: mengapa
dikerjakan, perlukah dikerjakan, apakah telah dikerjakan dengan baik.

4. Laporan hasil analisis (report)

Membuat suatu urutan kejadian dalam analisis dan memberikan


keterangan serta gambaran yang jelas dengan alat bantu analisis sistem,sehingga
memudahkan penggunaan dalam memahaminya dan juga sebagai dokumentasi
bagi pengembangan sistem selanjutnya.

Aplikasi Teknologi Informasi untuk Mendukung Manajemen Informasi


Kesehatan

Perangkat keras meliputi beberapa perangkat yaitu perangkat input


(keyboard, monitor, touch screen, scanner, mike, camera digital, perekam video,
barcode reader, maupun alat digitasi lain dari bentuk analog ke digital). Perangkat
keras ini bertujuan untuk menerima masukan data/informasi ke dalam bentuk
digital agar dapat diolah melalui perangkat komputer. Selanjutnya, terdapat
perangkat keras pemroses yang lebih kita kenal dengan sebutan CPU (central
procesing unit) dan memori komputer. Perangkat keras ini berfungsi untuk
mengolah serta mengelola sistem komputer dengan dikendalikan oleh sistem
operasi komputer. Selain itu, terdapat juga perangkat keras penyimpan data baik
yang bersifat tetap (hard disk) maupun portabel (removable disk). Perangkat keras
berikutnya adalah perangkat outuput yang menampilkan hasil olahan komputer
kepada pengguna melalui monitor, printer, speaker, LCD maupun bentuk respon
lainnya.

Selanjutnya dalam perangkat lunak dibedakan sistem operasi dan


perangkat aplikasi dimana contoh untuk perangkat system informasi adalah
Windows, Linux atau Mac yang memiliki tugas untuk mengelola hidup matinya
komputer, menghubungkan media input dan output serta mengendalikan berbagai
perangkat lunak aplikasi maupun utiliti di komputer. Sedangkan perangkat
aplikasi adalah program praktis yang digunakan untuk membantu pelaksanaan
tugas yang spesifik seperti menulis, membuat lembar kerja, membuat presentasi,
mengelola database dan lain sebagainya. Selain itu terdapat juga program utility
yang membantu sistem operasi dalam pengelolaan fungsi tertentu seperti
manajemen memori, keamanan komputer dan lain-lain.

10
Pada aspek infrastruktur, kita mengenal ada istilah jaringan komputer baik
yang bersifat terbatas dan dalam kawasan tertentu (misalnya satu gedung) yang
dikenal dengan nama Local Area Network maupun jaringan yang lebih luas,
bahkan bisa meliputi satu kabupaten atau negara atau yang dikenal sebagai Wide
Area Network (WAN). Saat ini, aspek infrastruktur dalam teknologi informasi
seringkali disatukan dengan perkembangan teknologi komunikasi. Sehingga
muncul istilah konvergensi teknologi informasi dan komunikasi. Perangkat PDA
(personal digital assistant) yang berperan sebagai komputer genggam tetapi sarat
dengan fungsi komunikasi (baik Wi-Fi, bluetooth maupun GSM) merupakan salah
satu contoh diantaranya.

Perangkat keras (baik input, pemroses, penyimpan, maupun output),


perangkat lunak serta infrastruktur, ketiga-tiganya memiliki potensi besar untuk
meningkatkan efektivitas maupun efisiensi manajemen informasi kesehatan.

Beberapa contoh penting penggunaan sistem informasi di dalam SDM


Rumah Sakit:

1. Rekam medis berbasis komputer (Computer based patient record)

Salah satu tantangan besar dalam penerapan teknologi informasi dan


komunikasi di rumah sakit adalah penerapan rekam medis
berbasis komputer. Dalam laporan resminya, Intitute of Medicine mencatat bahwa
hingga saat ini masih sedikit bukti yang menunjukkan keberhasilan penerapan
rekam medis berbasis komputer secara utuh, komprehensif dan dapat
dijadikan data model bagi rumah sakit lainnya. Pengertian rekam medis
berbasis Komputer bervariasi, akan tetapi, secara prinsip adalah penggunaan
database untuk mencatat semua data medis, demografis serta setiap event dalam
manajemen pasien dirumah sakit. Rekam medis berbasis komputer akan
menghimpun berbagai data klinis pasien baik yang berasal dari hasil pemeriksaan
dokter, digitasi dari alat diagnosisi (EKG, radiologi, dll), konversi hasil
pemeriksaan laboratorium maupun interpretasi klinis. Rekam medis berbasis
komputer yang lengkap biasanya disertai dengan fasilitas sistem
pendukung keputusan (SPK) yang memungkinkan pemberian alert, reminder,
bantuan diagnosis maupun terapi agar dokter dapat mematuhi protokol klinik.

11
2. Teknologi penyimpan fortable

Salah satu aspek penting dalam pelayanan kesehatan yang menggunakan


pendekatan rujukan (referral system) adalah continuity of care. Dalam konsep ini,
pelayanan kesehatan di tingkat primer memiliki tingkat konektivitas yang tinggi
dengan tingkat rujukan di atasnya. Salah satu syaratnya adalah adanya komunikasi
data medis secara mudah dan efektif. Beberapa pendekatan yang dilakukan
menggunakan teknologi informasi adalah penggunaan smart card (kartu cerdas
yang memungkinkan penyimpanan data sementara). Smart card sudah digunakan
di beberapa negara Eropa maupun AS sehingga memudahkan pasien, dokter
maupun pihak asuransi kesehatan. Dalam smart card tersebut, selain data
demografis, beberapa data diagnosisi terakhir juga akan tercatat. Teknologi
penyimpan portabel lainnya adalah model web based electronic health record
yang memungkinkan pasien menyimpan data sementara kesehatan mereka di
Internet. Data tersebut kemudian dapat diakses oleh dokter atau rumah sakit
setelah diotorisasi oleh pasien. Teknologi ini merupakan salah satu model aplikasi
telemedicine yang tidak berjalan secara real time.

Aplikasi penyimpan data portabel sederhana adalah bar code (atau kode
batang). Kode batang ini sudah jamak digunakan di kalangan industri sebagai
penanda unik merek datang tertentu. Hal ini jelas sekali mempermudah
supermarket dan gudang dalam manajemen retail dan inventori. Food and Drug
Administration (FDA) di AS telah mewajibkan seluruh pabrik obat di AS untuk
menggunakan barcode sebagai penanda obat. Penggunaan bar code juga akan
bermanfaat bagi apotik dan instalasi farmasi di rumah sakit dalam mempercepat
proses inventori. Selain itu, penggunaan barcode juga dapat digunakan sebagai
penanda unik pada kartu dan rekam medis pasien.

Teknologi penanda unik yang sekarang semakin populer adalah RFID (radio
frequency identifier) yang memungkinkan pengidentifikasikan identitas melalui
radio frekuensi. Jika menggunakan barcode, rumah sakit masih memerlukan
barcode reader, maka penggunaan RFID akan mengeliminasi penggunaan alat
tersebut. Setiap barang (misalnya obat ataupun berkas rekam medis) yang disertai
dengan RFID akan mengirimkan sinyal terus menerus ke dalam database
komputer. Sehingga pengidentifikasian akan berjalan secara otomatis.

12
3. Teknologi nirkabel

Pemanfaatan jaringan computer dalam dunia medis sebenarnya sudah


dirintis sejak hampir 40 tahun yang lalu. Pada tahun 1976/1977, University of
Vermon Hospital dan Walter Reed Army Hospital mengembangkan local area
network (LAN) yang memungkinkan pengguna dapat log on ke berbagai
komputer dari satu terminal di nursing station. Saat itu, media yang digunakan
masih berupa kabel koaxial. Saat ini, jaringan nir kabel menjadi primadona karena
pengguna tetap tersambung ke dalam jaringan tanpa terhambat mobilitasnya oleh
kabel. Melalui jaringan nir kabel, dokter dapat selalu terkoneksi ke dalam
database pasien tanpa harus terganggun mobilitasnya.

4. Komputer genggam (Personal Digital Assistant)

Saat ini, penggunaan komputer genggam (PDA) menjadi hal yang semakin
lumrah di kalangan medis. Di Kanada, limapuluh persen dokter yang berusia di
bawah 35 tahun menggunakan PDA. PDA dapat digunakan untuk menyimpan
berbagai data klinis pasien, informasi obat, maupun panduan terapi/penanganan
klinis tertentu. Beberapa situs di Internet memberikan contoh aplikasi klinis yang
dapta digunakan di PDA seperti epocrates. Pemanfaatan PDA yang sudah disertai
dengan jaringan telepon memungkinkan dokter tetap dapat memiliki akses
terhadap database pasien di rumahs akit melalui jaringan Internet. Salah satu
contoh penerapan teknologi telemedicine adalah pengiriman data radiologis
pasien yang dapat dikirimkan secara langsung melalui jaringan GSM. Selanjutnya
dokter dapat memberikan interpretasinya secara langsung PDA dan memberikan
feedback kepada rumah sakit.

3.2 Faktor faktor yang mempengaruhi dalam Sistem Informasi Sumber


Daya Manusia rumah sakit

Subsistem penelitian sumber daya manusia mengumpulkan data melalui


proyek penelitian khusus yaitu :

a. Penelitian suksesi, dilakukan untuk mengidentifikasi orang-orang dalam


perusahaan yang merupakan calon bagi posisi yang akan tersedia.

b. Analisis dan evaluasi jabatan, mempelajari setiap jabatan dalam suatuarea


untuk menentukan lingkup dan mengidentifikasikan pengetahuandan keahlian
yang diperlukan.
13
c. Penelitian keluhan, membuat tindak lanjut atas keluhan yang di sampaikan
pegawai untuk berbagai alasan. Subsistem output HRIS yang mencakup
semua aplikasi yang membantu perusahaan mengantisipasi kebutuhan SDM
di masa depan, seperti bagan organisasi, perkiraan gaji, analisis/evaluasi
pekerjaan, dan pembuatan model kerja adalah subsistem perencanaan tenaga
kerja. Sedangkan subsistem perekrutan digunakan untuk menelusuri lamaran-
lamaran kerja sebelum dipanggil, juga untuk melakukan pencarian internal
untuk mengidentifikasi pegawai yang patut dipertimbangkan untuk
kesempatan kerja yang berkembang dalam perusahaan. Sumber daya manusia
melaksanakan empat kegiatan utama, yaitu :

1. Perekrutan dan Penerimaan

SDM membantu membawa pegawai baru ke dalam organisasi


denganmemasang iklan lowongan kerja dengan memberitahukan posisi
yang dibutuhkan melalui Koran atau Radio, dan mengurus ujian bagi
pegawai.

2. Pendidikan dan Pelatihan

Selama periode kepegawaian, SDM dapat mengatur berbagai program


pendidikan dan pelatihan yang diperlukan untuk meningkatkan
pengetahuan dan keahlian kerja pegawai.

3. Manajemen Data

SDM menyimpan database yang berhubungan dengan pegawai, dan


memproses data tersebut untuk memenuhi kebutuhan informasi
pemakai. Manajemen data adalah bagian dari manajemen sumber daya
informasi yang mencakup semua kegiatan yang memastikan bahwa
sumber daya data perusahaan akurat, mutakhir, aman dari gangguan
dan tersedia bagi pemakai. Kegiatan manajemen data mencakup :

a. Pengumpulan data

Data yang diperlukan dikumpulkan dan dicatat dalam suatu formulir


yang disebut dokumen sumber yang berfungsi sebagai input bagi
sistem.

b. Integritas dan pengujian

14
Data tersebut diperiksa untuk meyakinkan konsistensi dan
akurasinya berdasarkan suatu peraturan dan kendala yang telah
ditentukan sebelumnya.

c. Penyimpanan

Data disimpan pada suatu medium seperti pita magnetik atau


piringan magnetik.

d. Pemeliharaan Data baru ditambahkan, data yang ada diubah, dan


data yang tidak lagi diperlukan dihapus agar sumber daya tetap
mutakhir.

e. Keamanan

Data dijaga untuk mencegah penghanta dijaga untuk mencegah


penghanunaan.

f. Organisasi Data disusun sedemikian rupa untuk memenuhi


kebutuhan informasi pemakai.

g. Pengambilan Data tersedia bagi pemakai.

4. Penghentian dan administrasi tunjangan

Selama seseorang dipekerjakan oleh perusahaan mereka menerima


paket tunjangan seperti: rumah sakit, asuransi kesehatan. Setelah
penghentian, SDM mengurus program pensiun perusahaan bagi mantan
pegawai yang berhak.

Salah fungsi operasional Manajemen Sumber Daya Manusia adalah


fungsi pengadaan. Kegiatan pengadaan pegawai merupakan kegiatan yang
sangat penting, sulit dan sangat kompleks karena untuk mendapatkan dan
menempatkan orang-orang yang kompeten serasi serta efektif tidaklah
semudah menempatkan berbagai peralatan seperti mesin yang telah
memiliki fungsi yang jelas dan tidak akan berubah fungsi karena mesin
adalah benda mati sedangkan pengadaan dan penempatan pegawai
merupakan kegiatan yang berhubungan dengan manusia. Pengertian
pengadaan menurut Hasibuan, pengadaan adalah proses penarikan, seleksi,
penempatan, orientasi dan induksi untuk mendapatkan karyawan yang
efektif dan efisien membantu tercapainya tujuan organisasi.
15
Pengadaan pegawai ini merupakan langkah pertama dan
mencerminkan berhasil-tidaknya suatu organisasi mencapai tujuannya. Jika
pegawai yang diterima kompeten, maka usaha untuk mewujudkan tujuan
relatif mudah, sebaliknya bila pegawai yang diperoleh kurang memenuhi
persyaratan maka sulit bagi organisasi untuk mencapai tujuannya.

3.3 Hambatan dan Kendala dalam sumber daya manusia rumah sakit

Namun demikian, tidak dipungkiri bahwa masih banyak kendala dalam


penerapan teknologi informasi untuk manajemen kesehatan di rumah sakit. Jika
masih dalam taraf pengembangan sistem informasi transaksi (misalnya data
administratif, keuangan dan demografis) problem sosiokltural tidak terlalu
kentara. Namun demikian, jika sudah sampai aspek klinis, tantangan akan
semakin besar. Di sisi lain, persoalan kesiapan SDM seringkali menjadi
pengganjal.

Pemahaman tenaga kesehatan di rumah sakit terhadap potensi TI kadang


menjadi lemah karena pemahaman yang keliru. Oleh karena itu penguatan pada
aspek pengetahuan dan ketrampilan merupakan salah satu kuncinya. Disamping
itu, tentu saja adalah masalah finansial. Tanpa disertai dengan bantuan tenaga ahli
yang baik, terkadang investasi TI hanya akan memberikan pemborosan tanpa ada
nilai lebihnya. Yang terakhir adalah kecurigaan terhadap lemahnya aspek security,
konfidensialitas dan privacy data medis.

16
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat telah merambah ke


berbagai sektor termasuk juga dalam sector kesehatan. Secara generik, alasan
utama menggunakan teknologi informasi adalah agar mampu memberikan
pelayanan kesehatan masyarakat secara lebih efisien, meningkatkan efektivitas dan
produktivitas kerja serta menguatkan fungsi stratejik organisasi kesehatan
masyarakat dengan memanfaatkan informasi kesehatan dari berbagai sumber.
Sehingga, seorang praktisi kesehatan masyarakat harus mampu menggunakan
informasi kesehatan secara efektif, memanfaatkan teknologi informasi secara
efektif serta mengembangkan, mengelola dan memelihara program teknologi
informasi kesehatan masyarakat secara efektif pula.

B. Saran

1. Sistem informasi rekam medis rawat jalan yang dikembangkan hanya dapat
menampilkan penggunaan obat dan reagen pada periode waktu tertentu,
sehingga perlu dikembangkan agar dapat digunakan untuk mengetahui
persediaan (stok) obat dan reagen.

2. Pengguna (user) sistem yang berbeda-beda (bagian pendaftaran, bagian pemberi


pelayanan, bagian barang/obat, bagian rekam medis) maka sistem informasi
rekam medis rawat jalan ini perlu dikembangkan menjadi multi user.

3. Apabila sistem informasi rekam medis rawat jalan yang dikembangkan ini akan
diaplikasikan, maka perlu disediakan fasilitas/sarana yang mendukung.

17
DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Asrul. Pengantar Administrasi Kesehatan Edisi ketiga. Binarupa Aksara,


Jakarta, 1996.

Indrajit RE, Djokopranoto R. Manajemen Persediaan, Grasindo, Jakarta, 2003.

LPIU, MMRS. Makalah Seminar Sehari Menuju Komputerisasi Rekam Medis


Rumah Sakit, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 1994.

Shofari, Bambang. Pengelolaan Sistem Rekam medis. Perhimpunan Organisasi


Profesional Perekammedisan, Informatika Kesehatan Indonesia.Semarang, 2005.

Wijono, Djoko. Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan. Teori, strategi dan


aplikasi. Vol 2. Airlangga University Press, Surabaya, 1999.

18