Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

PRAKTEK COMPOUNDING & DISPENDING


KOMUNIKASI INFORMASI dan EDUKASI
RESEP 8

KELOMPOK A2/8

1. HANIFATI EKA S / 1720343757


2. HARDIANTI S / 1720343758

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2017
RESEP 8

dr. KURNIAWAN, Sp.M


Spesialis Penyakit Mata
SIP.231.DS.088.I.2012
Praktek : Sore jam 17.00 20.00
Jl Singosari 17 Surakarta
Tel. 0271 765 5432

Surakarta, 12-9-2015

Iter 2x
R/ Lyteers ed fl 1
S 4 dd gtt 1 ODS

No iter!
R/ Baquinor ed fl 1
S 4 dd gtt 1 ODS

Pro : Ibu Dalikum


Umur : 78 th
Obat tidak boleh diganti tanpa sepengetahuan Dokter
COPY RESEP

APOTEK SEHAT FARMA


Jl. Kuningan 5 Solo
Apoteker : Hardianti Sabaruddin, S.Farm, Apt.
SIPA : 231/per/XVI2012

COPY RESEP

Nama dokter : dr. Kurniawan,Sp.M


Alamat dokter : Jl. Singosari 17 Surakarta
Nama pasien : Ibu Dalikum / 78 tahun
Tanggal Resep : Surakarta, 12-9-2015
No Resep : 1 a,b

Iter 2x
R/ Lyteers ed fl 1
S 4 dd gtt 1 ODS

det orig

No iter!
R/ Baquinor ed fl 1
S 4 dd gtt 1 ODS

det
KONJUNGTIVITIS

A. DEFINISI
Konjungtivitis merupakan peradangan pada konjungtiva (lapisan luar mata dan
lapisan dalam kelopak mata) yang disebabkan oleh mikro-organisme (virus, bakteri,
jamur, chlamidia), alergi, iritasi bahan-bahan kimia.
Konjungtivitis lebih dikenal sebagai pink eye, yaitu adanya inflamasi pada
konjungtiva atau peradangan pada konjungtiva, selaput bening yang menutupi bagian
berwarna putih pada mata dan permukaan bagian dalam kelopak mata. Konjungtivitis
terkadang dapat ditandai dengan mata berwarna sangat merah dan menyebar begitu
cepat dan biasanya menyebabkan mata rusak. Beberapa jenis konjungtivitis dapat
hilang dengan sendiri, tetapi ada juga yang memerlukan pengobatan (Suzzane, 2001).

B. ETIOLOGI
Banyak hal yang dapat menyebabkan konjungtivitis. Bisa disebabkan oleh
infeksi seperti bakteri, virus, parasit dan jamur, bisa juga disebabkan oleh non infeksi
seperti alergi, iritasi yang lama pada mata,zat-zat yang bersifat toksik atau karena ada
kelainan sistemik lain seperti Sindroma Steven Johnson .
Konjungtivitis yang disebabkan oleh infeksi terjadi akibat kontaminasi
langsung dengan mikroorganisme patogen (seperti kontak dengan tangan, handuk,
berenang), ditambah lagi dengan adanya faktor pendukung seperti menurunnya
system kekebalan tubuh sebagai mekanisme pertahanan terhadap reaksi infeksi
inflamasi akan memperberat munculan klinis konjungtivitis (Suzzane, 2001).

C. PATOFISIOLOGI
Konjungtiva mengandung epitel skuamosa yang tidak berkeratin dan
substansia propria yang tipis, kaya pembuluh darah. Konjungtiva juga memiliki
kelenjar lakrimal aksesori dan sel goblet.
Konjungtivitis alergika disebabkan oleh respon imun tipe 1 terhadap alergen.
Alergen terikat dengan sel mast dan reaksi silang terhadap IgE terjadi, menyebabkan
degranulasi dari sel mast dan permulaan dari reaksi bertingkat dari peradangan. Hal
ini menyebabkan pelepasan histamin dari sel mast, juga mediator lain termasuk
triptase, kimase, heparin, kondroitin sulfat, prostaglandin, tromboksan, dan leukotrien.
histamin dan bradikinin dengan segera menstimulasi nosiseptor, menyebabkan rasa
gatal, peningkatan permeabilitas vaskuler, vasodilatasi, kemerahan, dan injeksi
konjungtiva (Mansjoer, 2000).
Konjuntivitis infeksi timbul sebagai akibat penurunan daya imun penjamu dan
kontaminasi eksternal. Patogen yang infeksius dapat menginvasi dari tempat yang
berdekatan atau dari jalur aliran darah dan bereplikasi di dalam sel mukosa
konjungtiva. Kedua infeksi bakterial dan viral memulai reaksi bertingkat dari
peradangan leukosit atau limfositik meyebabkan penarikan sel darah merah atau putih
ke area tersebut. Sel darah putih ini mencapai permukaan konjungtiva dan
berakumulasi di sana dengan berpindah secara mudahnya melewati kapiler yang
berdilatasi dan tinggi permeabilitas (Ilyas, 2000).
Pertahanan tubuh primer terhadap infeksi adalah lapisan epitel yang menutupi
konjungtiva. Rusaknya lapisan ini memudahkan untuk terjadinya infeksi. Pertahanan
sekunder adalah sistem imunologi (tear-film immunoglobulin dan lisozyme) yang
merangsang lakrimasi.
Konjungtiva karena lokasinya terpapar pada banyak mikroorganisme dan
faktor lingkungan lain yang menganggu. Beberapa mekanisme melindungi permukaan
mata dari substansi luar. Pada film air mata, unsur berairnya mengencerkan materi
infeksi, mukus menangkap debris dan kerja memompa dari palpebra secara tetap
menghanyutkan air mata ke duktus air mata dan air mata mengandung substansi
antimikroba termasuk lisozim. Adanya agens perusak, menyebabkan cedera pada
epitel konjungtiva yang diikuti edema epitel, kematian sel dan eksfoliasi, hipertrofi
epitel atau granuloma. Mungkin pula terdapat edema pada stroma konjungtiva (
kemosis ) dan hipertrofi lapis limfoid stroma (pembentukan folikel). Sel-sel radang
bermigrasi dari stroma konjungtiva melalui epitel ke permukaan. Sel-sel ini kemudian
bergabung dengan fibrin dan mukus dari sel goblet, membentuk eksudat konjungtiva
yang menyebabkan perlengketan tepian palpebra saat bangun tidur.
Adanya peradangan pada konjungtiva ini menyebabkan dilatasi pembuluh-
pembuluh konjungtiva posterior, menyebabkan hiperemi yang tampak paling nyata
pada forniks dan mengurang ke arah limbus. Pada hiperemia konjungtiva ini biasanya
didapatkan pembengkakan dan hipertrofi papila yang sering disertai sensasi benda
asing dan sensasi tergores, panas, atau gatal. Sensasi ini merangsang sekresi air mata.
Transudasi ringan juga timbul dari pembuluh darah yang hiperemia dan menambah
jumlah air mata. Jika klien mengeluh sakit pada iris atau badan silier berarti kornea
terkena.
D. MANIFESTASI KLINIS
Mengenali tanda dari konjungtivitis berupa:
1. Hiperemia: mata tampak merah akibat dilatasi pembuluh darah. Jika tanpa disertai
infiltrasi seluler, menandai iritasi seperti angin, matahari, dan asap.
2. Epifora: lakrimasi yang berlebihan sebagai respons terhadap sensasi benda asing dan
iritan yang harus dibedakan dengan transudat. Transudat ringan yang timbul akibat
pelebaran pembuluh darah dapat bercampur dengan air mata.
3. Eksudasi: kuantitas dan sifat eksudar (mukoid, purulen, berair, atau berdarah)
bergantung dengan etiologi penyakit.
4. Pseudoptosis: jatuhnya kelopak bola mata karena infiltrasi pada otot Muller yang
dapat ditemukan pada konjungtivitis parah seperti keratokonjungtivitis trakoma.
5. Hipertrofi papiler: reaksi konjungtiva yang tidak spesifik berupa papil berukuran
kecil, halus, dan seperti beludru. Papil berwarna kemerahan pada infeksi bacterial,
sedangkan bentuk cobblestone ditemui pada konjungtivitis vernal.
6. Kemosis: pembengkakan konjungtiva yang sering ditemukan pada konjungtivitis
alergika, bakterial (konjungtivitis gonokokus), dan adenoviral.
7. Folikel: hiperplasia limfoid lokal konjungtiva yang terdiri dari sentrum germinativum
yang paling sering ditemukan pada infeksi virus. Selain infeksi virus, ditemui pula
pada infeksi parasit dan yang diinduksi oleh obat idoxuridine, dipivefrin, dan miotik.
8. Pseudomembran: terbentuk akibat proses eksudatif dimana epitel tetap intak ketika
pseudomembran dibuang.
9. Konjungtiva lignose: terbentuk pada pasien yang mengalami konjungtivitis
membranosa berulang.
10. Flikten: diawali dengan perivaskulitis limfositik yang kemudian berkembang menjadi
ulkus konjungtiva. Selain itu, flikten menandakan reaksi delayed hipersensitivitas
terhadap antigen microbial.
11. Limfadenopati preaurikular: pembesaran kelenjar getah bening yang dapat disertai
rasa nyeri pada infeksi akibat herpes simpleks, konjungtivitis inklusi, atau trakoma.
E. KLASIFIKASI KONJUNGTIVITIS
Menurut penyebab terjadinya, konjungtivitis dibagi menjadi beberapa bagian :
1. Konjungtivitis bakteri.
Konjungtivitis bakteri dapat dibagi menjadi empat bentuk, yaitu:
a. Hiperakut, biasanya disebabkan oleh Neisseria gonnorhoeae, Neisseria kochii
dan N meningitidis
b. Akut, biasanya disebabkan oleh Streptococcus pneumonia dan Haemophillus
aegyptyus
c. Subakut, biasanya disebabkan oleh Haemophillus influenza dan E.coli
d. Kronik , biasanya disebabkan oleh Staphylococcus aureus, Maxella lacunata
2. Konjungtivitis klamidia.
a. Trachoma (Chlamydia trachomatitis serotype A-C)
b. Konjungtivitis inklusi (Chlamydia trachomatitis serotype D-K)
c. Limfogranuloma venerum (LGV)
3. Konjungtivitis viral
a. Konjungtivitis folikuler virus akut : demam faringokonjungtivitis (Adenovirus
tipe 3 dan 7), keratokonjungtivitis epidemika (Adenovirus tipe 8 dan 19), virus
herpes simplex, konjungtivitis hemoragik akut (Enterovirus tipe 70)
b. Konjungtivitis folikuler virus menahun: virus moluscum kontagiosum
c. Blefarokonjungtivitis karena virus: varicella, herpes zooster
4. Konjungtivitis ricketsia
Konjungtivitis non purulen dengan hiperemia
5. Konjungtivitis jamur
a. eksudatif menahun: Candida
b. Granulomatosa: Rhinosporum seeeberi, Sporotix schenckii
6. Konjungtivitis parasit
Konjungtivitis dan blefarokonjungtivitis menahun: Ascaris lumbricoides, Taenia
solium, Schistosa haematobium
7. Konjungtivitis alergi.
a. Reaksi hipersensitivitas segera (humoral)
b. Reaksi hipersensitivitas tertunda (seluler)
c. Penyakit autoimun
8. Konjungtivitis kimia atau iritatif
a. Iatrogenik: miotika Idoxuridine, obat topical lain, larutan lensa kontak
b. Berhubungan dengan pekerjaan: asam, basa, asap, angin, cahaya, ultraviolet
9. Etiologi yang tidak dapat diketahui
Folikulitis, konjungtivitis folikuler maenahun, psoriasis, dermatitis herpetiformis,
epidermolisis bulosa, konjungtivitis ligneosa.

F. PENATALAKSANAAN
1. Non Farmakologi
Bila konjungtivitis disebabkan oleh mikroorganisme, pasien harus diajari
bagaimana cara menghindari kontaminasi mata yang sehat atau mata orang lain.
Dapat memberikan intruksi pada pasien untuk tidak menggosok mata yang sakit
dan kemudian menyentuh mata yang sehat, mencuci tangan setelah setiap kali
memegang mata yang sakit, dan menggunakan kain lap, handuk, dan sapu tangan
baru yang terpisah untuk membersihkan mata yang sakit.

2. Farmakologi
a. Penatalaksanaan Konjungtivitis Bakteri
Pengobatan kadang-kadang diberikan sebelum pemeriksaan
mikrobiologik dengan antibiotic tunggal seperti Kloramfenikol, Gentamisin,
Tobramisin, Eritromisin, Sulfa.
Bila pengobatan tidak memberikan hasil setelah 3-5 hari maka
pengobatan dihentikan dan ditunggu hasil pemeriksaan mikrobiologik. Pada
konjungtivitis bakteri sebaiknya dimintakan pemeriksaan sediaan langsung
(pewarnaan Gram atau Giemsa) untuk mengetahui penyebabnya. Bila
ditemukan kumannya maka pengobatan disesuaikan. Apabila tidak ditemukan
kuman dalam sediaan langsung, maka diberikan antibiotic spectrum luas
dalam bentuk tetes mata tiap jam atau salep mata 4-5x/hari. Apabila memakai
tetes mata, sebaiknya sebelum tidur diberi salep mata (sulfasetamid 10-15 %).
Apabila tidak sembuh dalam 1 minggu, bila mungkin dilakukan pemeriksaan
resistensi, kemungkinan difisiensi air mata atau kemungkinan obstruksi duktus
nasolakrimal.
b. Penatalaksanaan Konjungtivitis Virus
Pengobatan umumnya hanya bersifat simtomatik dan antibiotik
diberikan untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder. Dalam dua minggu
akan sembuh dengan sendirinya. Hindari pemakaian steroid topikal kecuali
bila radang sangat hebat dan kemungkinan infeksi virus Herpes simpleks telah
dieliminasi.
Konjungtivitis viral akut biasanya disebabkan Adenovirus dan dapat
sedmbuh sendiri sehingga pengobatan hanya bersifat suportif, berupa
kompres, astrigen, dan lubrikasi. Pada kasus yang berat diberikan antibodi
untuk mencegah infeksi sekunder serta steroid topikal. Konjungtivitis herpetik
diobati dengan obat antivirus, asiklovir 400 mg/hari selama 5 hari. Steroid
tetes deksametason 0,1 % diberikan bila terdapat episkleritis, skleritis, dan
iritis, tetapi steroid berbahaya karena dapat mengakibatkan penyebaran
sistemik. Dapat diberikan analgesik untuk menghilangkan rasa sakit. Pada
permukaan dapat diberikan salep tetrasiklin. Jika terjadi ulkus kornea perlu
dilakukan debridemen dengan cara mengoles salep pada ulkus dengan swab
kapas kering, tetesi obat antivirus, dan ditutup selama 24jam.

c. Penatalaksanaan Konjungtivitis Alergi


Umumnya kebanyakan konjungtivitis alergi awalnya diperlakukan
seperti ringan sampai ada kegagalan terapi dan menyebabkan kenaikan
menjadi tingkat sedang. Penyakit ringan sampai sedang biasanya mempunyai
konjungtiva yang bengkak dengan reaksi konjungtiva papiler yang ringan
dengan sedikit sekret mukoid. Kasus yang lebih berat mempunyai giant papila
pada konjungtiva palpebranya, folikel limbal, dan perisai (steril) ulkus kornea.
a) Alergi ringan
Konjungtivitis alergi ringan identik dengan rasa gatal, berair, mata
merah yang timbul musiman dan berespon terhadap tindakan suportif,
termasuk air mata artifisial dan kompres dingin. Air mata artifisial
membantu melarutkan beragam alergen dan mediator peradangan yang
mungkin ada pada permukaan okuler.
b) Alergi sedang
Konjungtivitis alergi sedang identik dengan rasa gatal, berair dan mata
merah yang timbul musiman dan berespon terhadap antihistamin topikal
dan/atau mast cell stabilizer. Penggunaan antihistamin oral jangka pendek
mungkin juga dibutuhkan.
Mast cell stabilizer mencegah degranulasi sel mast; contoh yang paling
sering dipakai termasuk sodium kromolin dan Iodoxamide. Antihistamin
topikal mempunyai masa kerja cepat yang meredakan rasa gatal dan
kemerahan dan mempunyai sedikit efek samping; tersedia dalam bentuk
kombinasi dengan mast cell stabilizer. Antihistamin oral, yang mempunyai
masa kerja lebih lama, dapat digunakan bersama, atau lebih baik dari,
antihistamin topikal. Vasokonstriktor tersedia dalam kombinasi dengan
topikal antihistamin, yang menyediakan tambahan pelega jangka pendek
terhadap injeksi pembuluh darah, tapi dapat menyebabkan rebound injeksi
dan inflamasi konjungtiva. Topikal NSAID juga digunakan pada
konjungtivitis sedang-berat jika diperlukan tambahan efek anti-
peradangan.
c) Alergi berat
Penyakit alergi berat berkenaan dengan kemunculan gejala menahun
dan dihubungkan dengan peradangan yang lebih hebat dari penyakit
sedang. Konjungtivitis vernal adalah bentuk konjungtivitis alergi yang
agresif yang tampak sebagai shield coneal ulcer. Rujukan spesialis harus
dipertimbangkan pada kasus berat atau penyakit alergi yang resisten,
dimana memerlukan tambahan terapi dengan kortikosteroid topikal, yang
dapat digunakan bersama dengan antihistamin topikal atau oral dan mast
cell stabilizer. Topikal NSAID dapat ditambahkan jika memerlukan efek
anti-inflamasi yang lebih lanjut. Kortikosteroid punya beberapa resiko
jangka panjang terhadap mata termasuk penyembuhan luka yang terlambat,
infeksi sekunder, peningkatan tekanan intraokuler, dan pembentukan
katarak. Kortikosteroid yang lebih baru seperti loteprednol mempunyai
efek samping lebih sedikit dari prednisolon. Siklosporin topikal dapat
melegakan dengan efek tambahan steroid dan dapat dipertimbangkan
sebagai lini kedua dari kortikosteroid. Dapat terutama sekali berguna
sebagai terapi lini kedua pada kasus atopi berat atau konjungtivitis vernal.
SKRINING RESEP

I. Skrining Administrasi
Nama dokter Ada dr. Kurniawan,Sp.M
Alamat dokter Ada Jl. Singosari 17 Surakarta
Nomor surat izin praktek Ada 231.DS.088.I.2012
Tanggal resep Ada 12 September 2015
Tanda R/ Ada R/ Lyteers ed fl 1
Nama obat Ada S 4 dd gtt 1 ODS
Aturan pakai Ada R/ Baquinor ed fl 1
S 4 dd gtt 1 ODS
Tanda tangan dokter Ada Ada
Nama pasien Ada Ibu Dalikum
Umur pasien Ada 78 th
Berat badan pasien - -
Alamat Pasien - -

II. Skrining Farmasetika


1. Cendo Lyteers

Kandungan : Natrium klorida 8,64 mg, kalium klorida 1,32 mg


Golongan Obat : Miotik dan Antigalukoma
Bentuk Sediaan : Tetes Mata
Dosis : 3-4 kali sehari 1-2 tetes pada mata yang kering.
Dosis dalam R/ : 4x sehari 1 tetes mata kiri kanan
Cara Pakai :
Cuci tangan dengan air dan sabun
Pastikan kondisi ujung botol tetes tidak rusak
Posisikan tubuh berdiri atau keadaan duduk didepan
cermin.
Condokkan kepala ke belakang tarik kelopak mata
menggunakan jari telunjuk
Pegang tetes dengan menggunakan tangan lainnya sedekat
mungkin dengan kelopak mata tanpa menyentuh ujung
botol tetes mata
Tekan botol tetes secara berlahan 1-2 tetes dimasukkan
kedalam kantung kelopak bawah mata.
Tutup mata selama 2-3 menit dan bersihkan cairan berlebih
pada wajah menggunakan tissue.
Jangan menyeka atau membilas ujung obat botol tetes mata
Ulangi tata cara tersebut pada mata yang lain jika perlu
Tutup kembali obat tetes mata dengan rapat.
Cucilah kembali tangan dengan air sabun untuk
membersohkan sisa obat yang mungkin menempel.
Setelah oat tetes mata dibuka, sebaiknya disimpan di
tempat yang sejuk dan gelap
Jangan menggunakan obat tetes mata secara bersama-sama
atau bergantian. Satu obat tetes mata hanya untuk satu
orang.
Jika menggunakan lebih dari satu orang tetes mata, maka
setelah menggunakan obat yang pertama sebaiknya menanti
hingga 2 menit barulah kemudian menggunakan obat tetes
mata yang berikutnya
Jauhkan obat tetes mata dari jangkuan anak-anak
Hindari pemakain kontak lensa saat meneteskan mata,
karena obat dan pengawet yang ada dalam obat akan dapat
terakumulasi didalam lensa kontak.
Lama pemakaian Obat tetes mata satu bulan, terhitung
setelah membuka obat tersebut.
Sediaan : Botol Plastik 5 ml, 15 ml

2. Baquinor

Kandungan : Siprofloksasin 3mg/ml


Golongan Obat : Antimikroba
Bentuk Sediaan : Tetes Mata
Dosis : Ulkus kornea 2 tetes tiap 15 menit selama 6 jam pertama
kemudian 2 tetes tiap 30 menit 6 jam berikutnya.
Konjungtivitis bakterial 1-2 tetes pada kantung konjungtiva
tiap 2 jam selama 2 hari dan 1-2 tetes tiap 4 jam untuk 5
hari berikutnya.
Dosis dalam R/ : 4x sehari 1 tetes mata kiri kanan
Cara Pakai :
Cuci tangan dengan air dan sabun
Pastikan kondisi ujung botol tetes tidak rusak
Posisikan tubuh berdiri atau keadaan duduk didepan
cermin.
Condokkan kepala ke belakang tarik kelopak mata
menggunakan jari telunjuk
Pegang tetes dengan menggunakan tangan lainnya sedekat
mungkin dengan kelopak mata tanpa menyentuh ujung
botol tetes mata
Tekan botol tetes secara berlahan 1-2 tetes dimasukkan
kedalam kantung kelopak bawah mata.
Tutup mata selama 2-3 menit dan bersihkan cairan berlebih
pada wajah menggunakan tissue.
Jangan menyeka atau membilas ujung obat botol tetes mata
Ulangi tata cara tersebut pada mata yang lain jika perlu
Tutup kembali obat tetes mata dengan rapat.
Cucilah kembali tangan dengan air sabun untuk
membersohkan sisa obat yang mungkin menempel.
Setelah oat tetes mata dibuka, sebaiknya disimpan di
tempat yang sejuk dan gelap
Jangan menggunakan obat tetes mata secara bersama-sama
atau bergantian. Satu obat tetes mata hanya untuk satu
orang.
Jika menggunakan lebih dari satu orang tetes mata, maka
setelah menggunakan obat yang pertama sebaiknya menanti
hingga 2 menit barulah kemudian menggunakan obat tetes
mata yang berikutnya
Jauhkan obat tetes mata dari jangkuan anak-anak
Hindari pemakain kontak lensa saat meneteskan mata,
karena obat dan pengawet yang ada dalam obat akan dapat
terakumulasi didalam lensa kontak.
Lama pemakaian Obat tetes mata satu bulan, terhitung
setelah membuka obat tersebut.
Sediaan : Botol Plastik 5 ml

III. Skrining Klinik


1. Cendo Lyteers
Indikasi : Sebagai pelembut atau emolien dan pengganti air mata untuk
penggunaan lensa kontak, pelicin / lubrikan untuk air mata
buatan dan pengganti air mata disaat kekurangan air mata.
Kontraindikasi : -
Efek samping : tidak memiliki efek samping jika digunakan sesuai anjuran
dokter. Jika timbul gejala reaksi alergi hentikan pemakaian
segera hubungi dokter atau apoteker anda.
2. Baquinor
Indikasi : Ulkus kornea yang disebabkan Pseudomonas Aeroginosa,
Serratia Marcescens, Staph Aureus , Strep Epidermidis,
Strep Pneumoniae, Strap Virdans. Konjungtivitis yang
disebabkan Staph Aureus, Strep Epidermidis, Strep
Pneumoniae.
Kontraindikasi : Hipersensitif
Efek samping : Rasa terbakar, gatal, hiperemia konjungtiva.
SIMULASI KOMUNIKASI ANTARA APOTEKER DENGAN PASIEN

Suatu malam di apotek Sehat Farma Surakarta datanglah seorang Ibu paruh baya dengan
anaknya membawa resep dokter ke dalam apotek tersebut. Mengetahui kedatangannya,
senyum Apoteker di apotek tersebut mengembang seakan menyambut kedatangan pasien.

Apoteker : selamat malam Bu, selamat datang di Apotek Sehat Farma


Pasien : iya malam Mbak
Apoteker : ada yang bisa saya bantu Bu, perkenalkan saya Hanifati Eka Septiani
apoteker di apotek ini
Pasien : Iya Mbak, saya mau menebus resep (memberikan resep)
Apoteker : ini benar dengan Ibu Dalikum sendiri?
Pasien : saya anaknya Mbak, panggil saja mba Hardianti Sabaruddin, ini Ibu saya
Ibu Dalikumnya (memperlihatkan Ibu Dalikum)
Apoteker : baik mba saya baca resepnya dulu (membaca resep).
Pasien : iya Mbak
Apoteker : begini mba, ini obatnya ada dua, semuanya obat tetes mata yaitu cendo
lyteers dan baquinor. Ini dokter juga menuliskan untuk penebusan resepnya
untuk obat cendo lyteers bisa dibeli sebanyak 3 kali mba, obat ini gunanya
untuk pengganti air mata disaat mata ibu matanya kering, untuk yang obat
baquinor ini sebagai antibiotiknya untuk obat ini hanya bisa dibeli sekali saja
ya mba, Nanti saya berikan juga salinan resepnya supaya bisa membeli obat
cendo lyteersnya
Pasien : och gitu Mbak, kalau saya dan Ibu saya diberi edukasi tentang obat ini
bisa? Soalnya setahu saya antibiotik itu diminum ini kok tetes mata ya dan
supaya paham cara menggunakannya
Apoteker : och.. iya baik mba Hardianti dengan senang hati saya akan membantu. Mari
ikut saya ke ruang konseling saja supaya nyaman memberikan edukasinya
Pasien : oke Mbak, kita ke tempat konseling saja (kemudian mereka berdua menuju
ke tempat konseling yang ada di apotek)
Apoteker : Ibu dan mba silahkan duduk. Mba, tadi pada saat Ibunya periksa apakah
dokter sudah menjelaskan tentang penyakit Ibu?
Pasien : sudah Mbak, katanya saya terkena sakit mata yang disebabkan infeksi nama
penyakitnya konjungtiva Mbak
Apoteker : och.. begitu ya mba, untuk khasiat dan penggunaan obat tetes matanya
sudah dokter jelasin belum?
Pasien : belum Mbak, saya habis periksa langsung diberi resep aja suruh langsung ke
apotek
Apoteker : och.. iya baik mba.. sebelum saya siapkan obatnya, saya akan jelaskan
tentang penyakit yang diderita Ibu mba, penyakit konjungtiva itu merupakan
penyakit mata yang disebabkan bakteri, virus, alergi, dan iritasi pada mata
ibu mba
Pasien : och., begitu ya Mbak, berarti ibu saya terkena konjungtiva itu karena
keseringan berpergian menggunakan motor dan tidak menggunakan
kacamata jadi mata ibu saya iritasi dan terkena bakteri
Apoteker : iya bu.. kebanyakan oarang yang terkena konjungtiva itu karena iritasi mata
yang disebabkan debu sehingga matannya iritasi dan terkena bakteri
Pasien : och.. iya Mbak
Apoteker : sekarang, saya siapkan obatnya dahulu ya bu
Pasien : och.. iya Mbak
Beberapa saat kemudian....
Apoteker : maaf mba kalau menunggu lama. Begini, ini obatnya (menunjukkan obat
lyteers dan baquinor) dipakai empat kali satu tetes mata kanan dan kiri, untuk
penggunaannya bisa secara bergantian atau diberi jeda waktu pemberian obat
tetes matanya, bisa dipakai baquinor kemudian ditunggu sekitar 5 menit agar
obatnya masuk sempurna dalam mata kemudian digunakan lyteersnya. Untuk
obat kedua obat ini (menunjukkan obat lyteers dan Baquinor) tidak harus
sampai habis bila sekiranya mata Ibu sudah tidak merasa kering dan sakit
bisa dihentikan kok Bu, ini fungsinya (menunjukkan obat lyteers) untuk
pengganti air mata disaat mata Ibu kering sedangkan obat ini (menunjukkan
obat Baquinor) fungsinya sebagai antibiotik untuk membunuh dan
menghambat bakteri yang menyebabkan iritasi mata ibu, obat ini tidak perlu
dihabiskan ya bu karena dapat menimbulkan penurunan daya penglihatan.
Och iya Bu Hardianti, ini untuk salinan resepnya yang saya bilang diawal
tadi, jadi bila obat cendo lyteers sudah habis Ibu bisa membelinya kembali di
apotek dengan membawa salinan resep ini (sambil memberikan salinan
resep)
Pasien : och.. iya Mbak. kalau untuk cara menggunakan obatnya bagaimana ya
Mbak?
Apoteker : cuci tangan dengan air dan sabun, kemudian pastikan kondisi ujung botol
obat tetes mata tidak rusak, setelah itu posisikan tubuh berdiri atau keadaan
duduk didepan cermin, condongkan kepala ke belakang tarik kelopak mata
menggunakan jari telunjuk, pegang obat tetes mata sedekat mungkin dengan
kelopak mata tanpa menyentuh ujung botol obat tetes mata. Selanjutnya
tekan botol tetes secara berlahan 1 tetes dimasukkan kedalam kantung
kelopak bawah mata. Tutup mata selama 2-3 menit dan bersihkan cairan
yang jatuh pada wajah menggunakan tissue. Jangan membilas ujung obat
botol tetes mata. Ulangi tata cara tersebut pada mata satunya ya. Setelah
gunakan obatnya tutup kembali dengan rapat. Dan cuci tangan dengan air
sabun untuk membersihkan sisa obat yang mungkin menempel. Sebaiknya
mba Dian yang rutin memberikan tetes matanya ini ya, mengingat Ibu
Dalikum sudah beranjak tua, dikhawatirkan obatnya tidak masuk secara
maksimal
Pasien : iya Mbak, saya tinggal berdua dengan Ibu saya saja kok, yang jelas saya
akan memberikan obat tetes secara rutin. Obat ini ada efek sampingnya tidak
Mbak?
Apoteker : untuk efek sampingnya, itu terasa gatal tapi cuman beberapa menit saja
Mbak
Pasien : baik Mbak, jadi kalau misal gatal setelah menggunakan obat tidak usah
dikucek ya matanya?
Apoteker : iya benar Bu Hani, tolong nanti kalau Ibu Dalikum mengucek matanya
suruh ditahan sebentar itu bisa juga efek obat mulai bereaksi dimata. Och ya
Bu Hani, untuk lama pemakaian obat tetes mata steril ini satu bulan,
terhitung setelah membuka obat dan sebaiknya Ibu mencatat pada botol
obatnya tanggal dan bulan pertama kali membuka obatnya untuk
memudahkan Ibu mengingatnya. Dan jangan lupa perhatikan kondisi ujung
obat tetes matanya ya Bu
Pasien : baik Mbak, nanti saya akan menuliskan waktu pembukaan obat di botolnya,
och ya Mbak ini kan obat steril tetes mata ya? Lalu penyimpanan obatnya
gimana ya?
Apoteker : Ibu dapat menyimpannya di suhu kamar, terhindar dari sinar matahari
langsung, tidak panas atau tidak lembab, jangan di lemari pendingin
Pasien : siyap Mbak
Apoteker : apakah Ibu sudah mengerti dengan penjelasan obatnya tadi?
Pasien : begini kan Mbak, dipakai empat kali satu tetes mata kanan dan kiri, untuk
penggunaannya secara bergantian atau diberi jeda waktu pemberian obat
tetes matanya, bisa dipakai baquinor kemudian ditunggu sekitar 5 menit agar
obatnya masuk sempurna dalam mata kemudian digunakan lyteersnya. Untuk
obat ini (menunjukkan baquinor) harus di pakai terus sampai habis karena ini
obat antibiotik agar bakteri dimata Ibu Dalikum mati dengan seluruhnya
sedangkan obat ini (menunjukkan obat lyteers) tidak harus sampai habis bila
sekiranya matanya sudah tidak merasa kering bisa dihentikan, ini fungsinya
untuk pengganti air mata disaat mata kering. Kalau penggunaan tetes
matanya cuci tangan dengan air dan sabun, kemudian pastikan kondisi ujung
botol obat tetes mata tidak rusak, setelah itu posisikan tubuh berdiri atau
keadaan duduk didepan cermin, condongkan kepala ke belakang tarik
kelopak mata menggunakan jari telunjuk, pegang obat tetes mata sedekat
mungkin dengan kelopak mata tanpa menyentuh ujung botol obat tetes mata.
Selanjutnya tekan botol tetes secara berlahan 1 tetes dimasukkan kedalam
kantung kelopak bawah mata. Tutup mata selama 2-3 menit dan bersihkan
cairan yang jatuh pada wajah menggunakan tissue. Jangan membilas ujung
obat botol tetes mata. Ulangi tata cara tersebut pada mata satunya ya. Setelah
gunakan obatnya tutup kembali dengan rapat. Dan cuci tangan dengan air
sabun untuk membersihkan sisa obat yang mungkin menempel
Apoteker : iya bu benar
Pasien : apakah ada larangan yang harus dihindari Ibu saya ya Mbak?
Apoteker : tidak ada Bu, saya sarankan Ibu Dalikum banyak mengkonsumsi buah dan
sayuran seperti wortel, alpukat, tomat, karena banyak mengandung vitamin A
yang dapat meningkatkan kesehatan mata. Menghindari kontaminasi mata
yang sehat atau mata orang lain, tidak menggosok mata yang sakit dan
kemudian menyentuh mata yang sehat, mencuci mata dengan air bersih,
mencuci tangan setelah setiap kali memegang mata yang sakit, menggunakan
kain lap, handuk, dan sapu tangan baru yang terpisah untuk membersihkan
mata yang sakit, bila keluar rumah bisa menggunakan kacamata supaya
menghindari iritasi yang lebih parah
Pasien : och gitu ya Mbak, makasih banyak atas edukasinya
Apoteker : iya sama-sama Bu, mungkin ada yang ditanyakan lagi?
Pasien : tidak Mbak sudah jelas sekali kok. Untuk pembayarannya dimana ya
Mbak?
Apoteker : bisa dikasir Bu. Semoga Ibu Dalikum lekas sembuh
Pasien : iya Mbak terima kasih
DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, Suzzane C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC

Ilyas, Sidarta dkk. 2002. Ilmu Penyakit Mata Perhimpunan Dokter Spesialis Mata
Indonesia. Jakarta : CV. Sagung Seto

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2 Ed. III. Jakarta: Media
Aeuscualpius.