Anda di halaman 1dari 105

AL MAWAQIF WAL MUKHOTOBAT

(Yang ditegakkan berdiri dan diajak bertutur kata)

Judul : Melihat Allah


Terjemahan : oleh Mustafa Mahmud
Penerbit : PT. Bina Ilmu Surabaya Tanpa tahun
Penyadur : Pujo Prayitno

ULASAN
ABDUL HASAN ASY-SYADZILI

Dokter Abdul Halim Mahmoud dalam bukunya yang berjudul Abdul Hasan
Asy-Syadzily yang diterbitkan di tahun 1387 H 1967 H. Mengatakan bahwa
beliau adalah seorang Arif Billah, seorang sufi penuh perjuangan, lahir di tahun
593 H wafat 656 H.

Dalam singgungannya yang singkat, diterangkan bagaimana pendapat Asy-


Syadzilly mengenai Asy Syeikh Muhammad Bin Abdul Jabbar An-Nafri,
penulis kitab Almawaqif wal Mukhotobat, kata beliau : Kitab itu bukan
sembarang kitab, tidak mudah, yang kesukarannya sudah pasti sukar, oleh
karena isinya mengibaratkan tentang hal-hal ruhani, meninggi dan tidak
mungkin bagi seseorang dapat mendalami selain Kawan-kawan ahli rasa
(dzauqiah) yang tinggi pula pengertian dan kemauannya, tak mungkin seluruh
kitab itu dipahami kecuali oleh orang khusus di bidangnya.

Dan dalam hal ini Abdul Hasan Asy-Syadzilly penuh berhasrat hendak
Meringankan dan Menggampangkan kandungan isi kitab itu, agar mereka
yang berkeemampuan bersedia untuk menerima, dapat memahami. Dan beliau
dalam hal ini bersedia menyediakan Kunci pembukanya bagi setiap yang
merindukan alam hikmat kebijaksanaan; sayang sekali sampai akhir hayat niat
baik beliau belum sampai terlaksana.

Dalam buku ini disebutkan pula bahwa Ibn Athaillah membawakan sebuah
kisah : Pada suatu hari pernah terjadi suatu pertemuan di Cairo di rumah Azky
As Sarrakh, dalam pertemuan tersebut Asy Syeikh Abdul Hasan Asy-Syadzilly
memegang sebuah kitab Almawaqif wal Mukhotobat Kitab tersebut beliau
baca di hadapan Ibn Athaillah dan Abdul Abbas Am Marsi...
Berdasarkan pada tulisan Doktor Abdul Halim Mahmoud mengenai kehidupan
Asy-Syadzily (yang pernah berguru pada Abdus Salam bin Masysy) teranglah
sudah bahwa buku Almawaqif wal Mukhotobat karangan Asy-Syeikh
Muhammad bin Abdul Jabbar An-Nafri yang kami terjemahkan dan disusun
dalam Bahasa Indonesia dengan Judul Melihat Allah sudah dikenal dan
diketahui oleh Ibn Athaillah As-Iskandari penulis kitab :Al Hikam yang sudah
tidak asing lagi bagi kita, bahwa sudah dikenal pula oleh Abul Abbas Al-Marsi
(Guru Ibn Athaillah) murid Abul Hasan Asy-Syadzilly. Dalam buku tersebut
terdapat banyak persamaan perihal kata-kata Allah berkata kepadaku dan
lain-lain yang serupa dengan itu. Semoga ridha dan Rahmat Allah kepada
beliau-beliau..........
1. TENTANG TAUHID
Allah berseru kepada hamba-Nya. (Pahami QS.Al-Insylqaq 84.6).
Wahai hamba, engkau tiada memiliki sesuatu pun, kecuali apa yang Aku
kehendaki untuk menjadi milikmu. Tiada juga engkau memiliki dirimu, karena
Akulah Maha Pencipta-Nya; Tiada pula engkau memiliki jasadmu, maka
Akulah yang membentuk-Nya; Hanya dengan pertolongan-Ku engkau dapat
berdiri; dan dengan Kalimat-Ku engkau datang ke dunia ini.

Wahai hamba! Katakanlah Tiada Tuhan melainkan Allah, kemudian tegakkan


berdiri di jalan yang benar, maka Tiada Tuhan melainkan AKU. Dan tiada pula
wujud yang sebenarnya wujud kecuali untuk-Ku, dan segala yang selain
daripada-Ku, adalah dari bantuan tangan-Ku dan dari tiupan Roh-Ku.

Wahai hamba! Segala sesuatu adalah kepunyaan-Ku, bagi-Ku dan untuk-Ku,


jangan sekali-kali engkau merebut apa yang menjadi kepunyaan-Ku.
Kembalikan segala sesuatu kepada-Ku, niscaya akan Ku buahkan
pengembalianmu dengan tangan-Ku dan Ku tambah padanya dengan
kemurahan-Ku. Serahakan segala sesuatu kepada-Ku, niscaya Ku selamatkan
engkau dari segala sesuatu.

Ketahuilah, bahwa hamba-Ku yang terpercaya, adalah yang mengembalikan


segala yang selain-ku kepada Ku. Tengoklah dengan pandangan tajam kepada-
Ku, bagaimana cara-Ku melakukan pembagian, niscaya engkau akan melihat
pemberian dan penolakan merupakan dua bentuk yang dinamakan, agar dengan
demikian engkau mengenal-Ku.

Hai hamba! Sesungguhnya engkau telah melihat Daku sebelum dunia


terhampar dan engkau mengenal siapa yang telah engkau lihat. Dan kepada-
Ku-lah engkau akan kembali.Aku ciptakan sesgala sesuatu untuk mu dan Aku
labuhkan tirai (Hijab) atasmu. Lalu engkau pun tertutup dengan tirai dirimu
sendiri, kemudian Aku menghijab engkau dengan diri-diri yang lain, yang mana
diri-diri yang lain itu menyeru kepadamu dan pada dirinya dan menjadi
penghijab dari pada Ku.

Setelah kesemuanya itu, maka Aku-pun kembali menyata di balik kesemuanya


itu, dan dari belakang kesemuanya itu Ku perkenalkan diri-Ku; Ku katakan
kepadamu bahwasanya Aku-lah Maha Pencipta; Aku yang menciptakan
kesemuanya itu dan bahwasanya Aku menjadikan engkau Khalifah (Pengurus
yang berkuasa di Bumi) atas kesemuanya itu dan ketahuilah bahwa kesemuanya
itu adalah amanah (titipan) pada sisi-mu. Dan diharuskan pada pengemban
amanah itu untuk mengembalikannya.

Maka telitilah dirimu setelah engkau mempercayai-Ku, sudahkah engkau


mengembalikan segala sesuatu itu kepada-Ku ?? Dan sudahkah engkau
memenuhi perjanjian yang telah engkau buat dengan Ku..????

Dan ... barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan
memberinya pahala yang besar (QS. Al-FtKh 48:1).
Dan sesungguhnya... kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa
akan perintah itu, dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat
(QS.Thaha 20:115)

Hai hamba!!! Ku ciptakan segala sesuatu itu untukmu, maka bagaimana Aku
akan rela kalau engkau peruntukan dirimu bagi sesuatu itu. Sesungguhnya Aku
melarang engkau untuk menggantungkan dirimu pada sesuatu (Selain-Ku)
karena Aku pencemburu padamu.

Hai Hamba!!!! Aku tidak rela engkau peruntukan dirimu bagi sesuatu, walau
harapanmu akan surga sekalipun, karena sesungguhnya... Aku ciptakan engkau
hanya untuk-Ku; supaya engkau berada di sisi-Ku; Di sisi yang tiada sisi, dan di
mana yang tiada mana.

Ku Ciptakan engkau atas pola gambar-Ku seorang diri, tunggal, mendengar,


melihat dan berkemauan serta berbicara. Dan aku jadikan engkau mempunyai
kemampuan untuk TAJALLINYA (menyatakan) nama-nama-Ku, dan... tempat
untuk pemeliharaan-Ku.

Engkau adalah sasaran pandangan-Ku... tiada dinding penghalang yang


memisahkan antara-Ku dan antaramu.
Engkau teman duduk se majelis dengan-Ku, maka tiada pembatas antara-Ku
dan antaramu.

Hai hamba!! Tiada antara-Ku dan antaramu... antara Aku lebih dekat
kepadamu, maka pandanglah kepada-Ku, karena aku senang memandang
kepadamu.
oooooOOOOOOOOooooooo
2. U J I A N
<*> Hikmah yang terkandung di balik penciptaan dunia dan ujian bagi
manusia<*>
Al-Imam An-Nafri mengatakan : Bahwa tubuh (Jasad) itu adalah suatu hakikat
yang akan sirna dan bahwa tubuh itu merupakan batu ujian yang diciptakan
oleh Allah untuk menguji Roh.

Sifat-sifat manusiawi dengan apa yang ada padanya dari syahwat-syahwat dan
keinginan-keinginan serta kemauan-kemauan yang diikiuti dengan pelanggaran-
pelanggaran, adalah juga sebagai cobaan dan ujian dari tujuan Roh.

Tiada wujud yang sebenarnya, kalau ditilik dari sifat manusia yang dikaitkan
dengan kemanusiaan, tetapi yang ada hanyalah daya yang merangsang untuk
menguji Roh agar dapat diketahui dan dikenal sampai di martabat yang dapat
dicapai.

Apakah Roh itu bisa mencapai nisbatnya kepada Allah, lalu Roh mengarahkan
segenap kemampuannya untuk merindukan dan mencintai Allah, ataukah Roh
itu tertarik oleh jasad dengan memanjakan syahwat-syahwatnya.

Di Sinilah letak Ujian itu.


Allah berseru dengan tutur kata-Nya : (Pahami QS.Al-Insylqaq 84.6).

Sesungguhnya Aku dahirkan syahwat itu sebagai dinding kukuh yang


menghijab atasmu untuk tawajjuhmu (menuju ke tujuanmu yang sebenarnya)
dan.... andaikan engkau melihat dirimu sendiri sebagai engkau melihat kepada
langit-langit dan bumi, tentu saja akan nampak olehmu bahwa yang
menyaksikan itu adalah engkau, pribadimu, tanpa adaya syahwat dan
keinginan.

Karena pengujian-Ku kepadamu maka aku coba engkau dengan syahwat-


syahwat yang bersifat tidak menetap pada dirimu di bawah kekuasaan
hukummu dan tidak pula bisa menetap pada dirimu atas dasar epndirianmu,
maka... sifat kemanusiaanmu itu yang condong dan berkeinginan, dan ia pulalah
yang mengejar kepuasan, tetapi sebenarnya engkau tidak ondong ke situ dan
tidak pula berkeinginan maupu mengejar kepuasan dan kelezatan.

Engkau yang sebenarnya adalah di balik dindng yang merupakan syahwat dan
di belakang tabir penutup sifat kemanusiaan. Engkau yang sejati adalah suatu
roh yang suci bersih, tanpa noda syahwat, dan berada jauh di atas ketinggian
sifat kemanusiaan tanpa condong pada apa pun dan tidak pula berkeinginan.

Dari arah lain DIA menyeru : Hai hamba !! Engkau dalam keadaan lapar lalu
engkau lahap makanan, maka hal yang demikian engkau bukan daripada-Ku;
dan AKU pun bukan dari padamu (yang dimaksud .. ialah seorang hamba yang
berdaya untuk mengalahkan tabiatnya sendiri, adalah menjadi dalil yang nyata
bahwa haba tersebut telah mengenal dirinya dan telah pula mencapai kemuliaan
nasabnya dengan adanya suatu pertalian roh yang erat dan berkait kepada
ALLAH.... bukan jasad yang bernasab pada tanah).

Di alam Al-Quran disebutkan peristiwa Thalud yang berkata kepada bala


tentaranya :
Sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan sebuah sungai, maka
barangsiapa yang minum daripadanya (sepuas penghilang dahaganya) maka ia
bukan dari golonganku, dan barang siapa yang tidak merasakan kesegaran,
maka ia dari golonganku, kecuali orang yang hanya menyauk sekali sauk
dengan tangannya (sekedar pembasah tenggorokan). (QS. Al-Baqarah 2:249).

Ayat tersebut di atas mengandung juga hikmah puasa, maka... yang demikian
itu merupakan kenyataan roh tentang dirinya dan kesanggupannya untuk
menahan diri dari perbuatan (menginginkan kepuasan) jasad dari apa yang
menjadi ujian untuknya. Begitu halnya bila seorang sedang berpuasa menolak
makanan berarti telah memahami sifatnya (yang asli), bahwa roh itu tidak
memerlukan makanan dan minuman.

Allah berseru kepada hamba-Nya : Aku ciptakan engkau adalah melulu


untuk-Ku, tinggal di samping-Ku, untuk menjadi sasaran pandangan-Ku dan
dalam lingkungan pemeliharaan-Ku.

Dan Aku telah membangun di sekitarmu bendungan yang mengelilingi dari


segala jurusan demi cemburu-Ku atasmu.
Kemudian Aku berkehendak untuk menguji engkau, lalu aku Buka pada
bendungan tadi pintu-pintu sebanyak apa yang telah Ku ciptakan, dan sebanyak
bilangan apa yang telah Ku nyatakan dari pengaruh-pengaruh yang
merangsang.

Dan di luar setiap pintu, Ku tumbuhkan sebatang pohon yang rindang yang
dikelilingi genangan mata air yang jernih sejuk, dan Aku hauskan engkau!!!

Lalu aku pun bersumpah demi karunia-karunia-Ku, selama engkau menjarak


keluar daripada-Ku untuk minum, melainkan akan Ku sia-siakan engkau,
jangan diharapkan engkau akan dapat kembali berdampingan dengan-Ku, dan
tidak pula engkau akan berhasil mendapatkan minuman yang engkau harap-
harapkan, maka.... sesungguhnya jika terjadi hal demikian, berarti engkau telah
sesat jalan daripada-Ku dan engkau telah melupakan bahwa Aku adalah
sebenarnya minuman Yang Maha Tunggal dan rumah tempatmu berlindung
yang tunggal bagimu, dan sesungguhnya Akulah Allah Pencipta segala sesuatu.
Dari pada-Kulah segala pertolongan dan bantuan, dan dengan Aku pulalah
kehidupan sejati yang sesungguhnya.

3. Arti Makna Nama-Nya YANG MAHA PERKASA


Allah berseru kepada hamba-Nya. (Pahami QS.Al-Insylqaq 84.6).

Tidaklah Aku dapat dipandang oleh mata, tidak pula dapat dilihat oleh
pandangan; Tidak pula Ilmu pengetahuan dapat menghampiri kepada-Ku;

Aku tidak dapat dikenal oleh sejauh pengenalan.


Aku Yang Maha Perkasa yang tidak dapat dicapai bagaimanapun, dan... tak
dapat dijumpai walau dengan sebutan nama-Ku.
Setiap ucapan kata telah nampak bernyata, maka Akulah yang menciptakannya
dan merangkai huruf-hurufnya. Tidak akan melampaui kesemuanya itu adalah
bahasa-bahasa yang dikenal dan diketahui yang disifatkan. Aku adalah yang
tidak dapat dijangkau dan diserupakan dengan apapun. Laisa Kamitslihi Syai-
un (QS.Asy-Syura 42:11).
Akulah Allah Yang Maha Suci yang tidak dapat dimasuki dan dijumpai oleh
tubuh-tubuh dan tidak oleh huruf-huruf sekalipun dan tidak pula dapat dicapai
oleh kalimat-kalimat.
Hai Hamba!! Jangan salah terka bahwa setiap yang dhahir itu dapat dilihat...
Akulah Raja yang menyata dengan Kemurahan dan tersembunyi dengan
Keperkasaan.
Hai hamba!! Akulah Yang Dahir yang tidak dapat dilihat dan dipandang oleh
mata, dan Akulah Yang Batin yang tidak dapat disentuh oleh prasangka dan
persangkaan yang bagaimanapun.
Hai hamba!! Akulah Yang Maha Kekal, yang mana kekekalan Ku tidak dapat
diberitakan oleh abad; Dan Akulah Yang Esa yang jauh dari bilangan dan
perhitungan.

Setiap sesuatu akan dituntut oleh asal mulanya, sebagaimana tubuh dintuntut
oleh asa mulanya. Yang Satu itu AKU, Yang Maha Tunggal dan sendirian, dan
tidaklah Aku dari sesuatu lalu sesuatu itu akan menuntut pada-Ku.
Dan tidaklah Aku dengan sesuatu, maka sesuatu itu akan menyertai Ku.
Aku adalah mutlak, tiada satu pun ikatan, dan Aku bebas tanpa ada sesuatu
yang menentukan.

4. BERSANDING BERSAMA ALLAH


Allah berseru kepada hamba-Nya. (Pahami QS.Al-Insylqaq 84.6).
Apabila eggkau berhimpun dengan selain Ku, kemudian berpisah, niscaya
tidak dapat engkau berhimpun (lagi).

Hendaklah enggkau bersanding dengan Ku, niscaya engkau akan berhimpun


dengan yang menghimpun segala yang bersanding dengan Ku. Dan engkau
akan mendengar dengan pendengaran yang mendengarkan segala pendengaran,
maka engkan akan mencakup selain dirimu dan engkau akan memberitakan
tentang DIA dan tidaklah engkau akan dicakup oleh selainmu lalu DIA
memberitakan perihalmu.

Orang yang berdiri di Hadirat Ku tidaklah ia akan ditawan oleh pesona


keindahan dan tidaklah ia dikejutkan oleh kegentaran, karena ia melihat Yang
Nayat (Adh-Dhahir) dan bukan kenyataan-kenyataan (yang berbilang) Ia akan
melihat keindahan yang bukan dapat dinamakan keindahan lagi. Ia akan
nampak Yang Mutlak yang tidak lagi terikat (Al Mqayyad), ia akan melihat
yang menentukan dan bukan yang ditentukan.

Wajah Ku hanya Ku peruntukan bagi para yang berdiri di Hadirat Ku;


Pekabaranku baga para Pengenal-Pengenal Diri Ku (Arifin).
Karenatu, bersucilah engkau untuk berdiri tegak (Al Waqfah), Jika tidak
demikian halmu, Akan Ku campakan engkau, jangan sampai ada atasmu
kekuasaan lain selain Ku semata-mata.
Dengan pendirian yang demikian, engkau akan melihat segala sesuatu selain
Allah itu, dengan kelainan yang senyata-nyatanya dan berlepas dirilah engkau
dari kesemuanya itu.

5. H U R U F
Allah berseru kepada hamba-Nya. (Pahami QS.Al-Insylqaq 84.6).

Huruf dirangkai menjadi perkataan, dari perkataan menjadi pendapatan;


Pendapatan bersama dengan perkataan akan menjadi bilangan. Pendapatan
disatukan dengan bilangan perkataan, dan bilangan perkataan disatukan dengan
bilangan pendapatan menimbulkan kekuatan magis. Dan atas dasar hukum
Peringatan hal yang demikian adalah masuk dalam kekufuran.

Hukum bilangan kata adalah hukum bantah-membantah (senketa) yang satu


berlawanan dengan yang alin, hal demikian membawa kepada kepiluan dan
kecemasan, hal yang demikian adalah kemustahilan belaka dan menjadikan
ketergantungan dan keguncangan.

Asma (nama-nama) dan sifat-sifat dan Afal (perbuatan-perbuatan) adalah


hijab belaka atas Zat Ilahiat. Karena sesungguhnya Zat Illahiat itu tidak dapat
menerima pembatasan. Zat Illahiat itu berada pada tingkat ketinggian, sedang
pelepasan (Penanggalan - Tajried) dan Ama dan Sifat adalah urut-urutan yang
menurun (Tanazzilat).

Asma dengan zat asmanya berdiri tanpa perbuatan, asma dapat berbuat hanya
dikarenakan Zat Allah semata. Dan... sesungguhnya persoalannya berkisar
bagaikan perkakas dan alat-alat. Dan Huruf di dalam Surga adalah merupakan
alat-alat dan perkakas.

Para Malaikat yang membangun Mahligai-mahligai dan memancarkan sumber-


sumber mata air, yang menciptakan makanan-makanan dan menyediakan
minuman-minuman, kesemuanya adalah huruf. Dan huruf itu adalah Maqam
(kedudukan) yang diberikan kepada para Malaikat, dan pra Malaikat tiada
kesanggupan untuk melampauinya (melangkah lebih dari batas yang ditugaskan
padanya).

Adapun manusia, maka ia memperoleh kesanggupan untuk lewat melalui dan


melangkah serta melampaui lalu keluar daripadanya agar bisa sampai kepada
maqam bersanding Kedudukan bertetangga dekat kepada Zat Illahiat
sepenuhnya.

Allah berseru kepada hamba-Nya :


Huruf itu sifatnya lemah, tidak berkesanggupan untuk memberitakan tentang
dirinya, apalagi memeberitakan tentang-Ku.

Akulah pencipta huruf dan mahruf apa yang diberitakan oleh huruf.
Aku jadikan dari rangkaian huruf itu menjadi Asma, dan susunannya menjadi
bahasa dan bberapa ibarat agar dengannya manusia yang menjadi penghuni
alam ini dapat berbicara. Jangan dilupakan bahwa kesemuanya ini Aku yang
menjadikan dan Aku berada di atas segala.

Apa yang Aku ciptakan sebagaimana halnya huruf, tidaklah mempunyai


kemampuan hukum apapun atas Ku dan tiada menyentuh sedikit pun atas Zat
Ku.

Telah kukatakan kepada huruf dengan gaya huruf itu sendiri, maka tiadalah
lesan (penyalur huruf) itu dapat menyaksikan Daku dan tiadalah Aku dikenal
oleh huruf itu.
Barangsiapa yang telah kucintai daripada penyanding-penyanding Ku dan
pencinta-pecintaKu, maka Aku pun berkenan berkata-kata kepadanya, kata-
kataku tanpa ibarat (tanpa bahasa dan tanpa rangkaian huruf); Dan orang itu
pun akan diajak bicara oleh batu-batu dan bata-bata, dan bagi orang itu cukup
mengatakan terhadap sesuatu Jadilah maka Jadi. Andaikan Ku katakan
dengan ibarat, tentu saja ucapan Ku itu akan dikembalikan oleh ibarat kepada
diri ibarat itu tentang apa-apa yang diibaratkan dan dengan apa-apa yang
diibaratkan. Dan pastilah hal yang demikian menjadikan tirai pendinding karena
kembalinya itu dan sekalipun yang mana berarti tiak dapat berbuat apa-apa.

Allah berseru kepada seorang bijak (yang sudah mencapai pengenalan sejati) :
Enyahkan jauh-jauh dari dirimu segala apa yang engkau lihat, lepaskan dirimu
dari daya tarik apapun dan dari pengaruh yang bagaimanapun juga, terutama
dari rangsangan-rangsangan. Keluarlah engkau dari ilmu pengetahuan, amal-
amalmu, pengenalan marifatmu, bahkan dari dirimu dan namamu sekalipun.
Keluarlah engkau dari huruf dan mahruf.

Lemparkan segala ibarat ke belakang punggungmu dan campakan arti makna ke


belakang ibarat, dan lemparkan pendapat ke belakang arti makna dan masuklah
engkau seorang diri (tunggal), niscaya engkau akan melihat Aku sendiri. (Itulah
kebenaran pandangan matahati)Selanjutnya untuk mencapai tingkat yang
demikian bagi si salik (orang yang berjalan menuju kepada Allah) memerlukan
melepas-bebaskan dirinya dari segala sesuatu, baik pengetahuannya, ama
perbuatannya, sifatnya bahkan diri dan namanya dalam ari keluar dari
kebanggan diri. Janagan hendaknya sampai terucapkan dari lesan Aku si anu
yang telah mencapai derajat demikian, aku adalah seorang arif yang bijak,
yang berilmu dan yang telah membuat karangan-karangan. Bukan hanya itu
saja, tetapi ia harus keluar dari sihirnya, kalimat dan fitnahnya ibarat (ucapan)
... keluar dari tabiat dan keinginan-keinginan (syahwat)... keluar dari adat
istiadatnya, dan dari kesemuanya itu dikembalikan apapun yang ada pada
dirinya kepada Allah Subhanahu wa Taala (Semata-mata). Ia harus mencuci
tangannya (sebersih-bersihnya) baik dari pangkat dan kejayaannya serta
kekuasaannya.

Itulah sebenarnya penelenjangan yang sewajibnya untuk dapat masuk ke


Hadirat Illahy, dan itu adalah suatu perjalanan rohani yang tidak dapat
dicapai oelah setiap orang, malainan oleh orang-orang tertentu.

Allah berseru kepada seorang yang Arif :


Andaikan perjalananmu berhenti hanya sampai kepada huruf, lalu engkau
dikuasainya sebagaimana tawanan, dan terpengaruhlah oleh rahasia-rahasianya,
dan tergoda oleh teka-tekinya, agar supaya engkau dapat merajalela atas
manusia-manusia, niscaya akan Ku catat engkau dari golongan ahli sihir yang
tidak berjaya, dan dari penyembah-penyembah huruf yang mereka itu adalah
(terang-terangan) berlaku syirik kepada Ku mereka adalah penyembah-
penyembah huruf selain daripada Ku, dan menuntut nama itu dari selain Ku.

(Bila) Aku memberitahukan kepadamu tentang rahasia huruf, maka itu adalah
suatu malapetaka yang gawat segawat-gawatnya.
Engkau dapat mengenal rahasia huruf, sedang engkau berada di dalam
kemanusiaanmu, niscaya gilalah akal budimu.
Engkau dapat mengenal rahasia Asma (Nama-nama), sedangkan engkau berada
di dalam kemanusiaanmu, biscaya gilalah akal budimu.

Hai hamba!! Tiada ijin bagimu, kemudian tiada ijin bagimu, kemudian
tujuhpuluh kali tiada ijin bagimu untuk membeberkan terhadap apa yang Daku
percayakan kepadamu dari rahasia-rahasia huruf-Ku dan nama-nama Ku. Dan
... bagaimana engkau masuk ke dalam khazanah Ku, dan bagaimana engkau
mengambil dari huruf-huruf itu satu huruf dengan keperkasaan Ku dan
Kekuasaan Ku, dan... bagaimana engkau melihat Ku???

6. ARTI AYAT : Dan Bahwa Hanya Kepada Tuhanlah Kesudahan


Segala Sesuatu (Qs. An Najm 53:42)
Allah berseru kepada hamba-Nya. (Pahami QS.Al-Insylqaq 84.6).
Engkau berhasil mendapatkan segala sesuatu daripada Ku, maka dimanakah
kekayaanmu???
Engkau ku luputkan dari segala sesuatu, maka dimanakah kefakiranmu??
Aku yang melindungi engkau dari api neraka, maka dimana letak ketenengan
dirimu??
Ku menangkan engkau dari Surga, maka dimana pula letak kenikmatanmu??
Hanya Aku ketenangan mu, dan di sisi Ku kediamanmu, dan di anatara kedua
tangan Ku tempat berdirimu, andaikan engkau ingin mengetahui.
Akulah, kesudahn itu.
Dan tiada kebahagiaan tana kesudahan itu.
Ku ciptakan engkau untuk Ku... berada di sanding Ku... supaya engkau
menjadi tatapan pandangan Ku dan Aku menjadi tujuan pandangan mu.

Aku tidak rela engkau hanya berada dalam kedudukan berdzikir saja, atau
ibadah saja, maka Ku dirikan pintu-pintu dan jalan-jalan. Aku sampaikan
engkau agar dapat mencapai untuk melihat Ku, sebagaimana ayat di bawah ini :

Hai manusia, sesungguhnya engkau telah bersusah payah dengan kegiatan


kerjamu untuk menuju Tuhan mu, maka pastilah engkau akan menjumpai Nya
(QS. Al-Insyqaq 84:6).
Tafsiran dari Kad khu ilallahi adalah kerja giat penuh dengan kesungguhan
untuk tujuan menemui Nya. Tanpa jumpa dengan DIA, tiadalah arti
ketenangan dan kebahagiaan.

7. ARTI MAKNA ISLAM


Allah berseru kepada hamba-Nya. (Pahami QS.Al-Insylqaq 84.6).
Hendaklah engkau menyerahkan kepada Ku dengan sepenuh hatimu, dan
menyerah kepada perantara-perantara dengan tubuhnmu; Supaya engkau
bersama Ku dengan kemauan kerasmu, dan bersama selain Ku dengan akal
budimu.

Maka engkau senantiasa menghimpun kemauan kerasmu atas Ku, tiada bagian
bagi selain Ku terhadap dirimu kecuali hanya kehadiranmu bersamanya, dengan
akal budimu saja, maka jangan engkau bersukaria atas karunia yang
dianugrahkan-Nya kepadamu dan jangan cepat-cepat marah kepada orang yang
menyakiti hatimu, jangan pula bermegah karena kejayaanmu dan menepuk dada
menyombongkan ilmu pengetahuanmu.

Waspadalah, jangan terperdaya terhadap karunia-Ku dan jangan putus harapan


karena Ujian dan cobaan Ku, dan jangan jinak bermanja dengan sesuatu selain
Ku.
Laksanakan saja apa yang menjadi perintah Ku tanpa menoleh ke belakang,
halmu jika demikian sama dengan Malaikat Ku yang berkemauan teguh.
Bila negkau berlengah-lengah menanti perintah Ku, sedangkan engkau sudah
menegetahui, maka hal yang demikian terang-terangan engkau melanggar
perintah Ku.

8. SEBUTAN AKU
Tidak akan diucapkan kalmiat AKU melainkan oleh orang yang berkawan
dengan kelengahan dan oleh setiap orang yang terhijab oleh hakikat :

Ku, pesona dunia masih mencengkeram dirimu, masing-masing akan


menyambar dirimu dengan seruan kepada zat dirinya, engkau masih saja dalam
kegaiban yang kelam daripada Ku.
Maka apabila engkau telamelihat AKU dan Aku pun telah bernyata di
hadapanmu, tetapkan keteguhanmu, maka tiada Aku lagi malinkan AKU.

Telah ku ciptakan untukmu dan untuk sesuatu menjadi tujuan, antara lain
tujuan itu adalah Cintamu kepada dirimu sendiri itulah tetesan faham
(kalimat) yang engkau warisi, kata-katamu aku adalah egomu sendiri (AKU
berlepas diri dari anggapan yang demikian). Dan tidak lain Zat itu melainkan
kepunyaan Ku, dan tidak lain Aku itu kecuali untuk Ku semata. AKULAH
yang DIA itu AKU, adapun hakikatmu, bukanlah zat dan bukan pula persoalan,
hanya sesungguhnya engkau berada pada pembagian yang bersifat wahami
(dugaan), hal ini disebabkan karana caramu berpikir dan pencapaianmu pada
pendakian jiwa dan persoalan.

Engkau dalam setiap saat terbagi kepada menyaksikan dan disaksikan, dua
menjadi satu dalam bentuk penyatuan... jiwa yang mencapai dan persoalan yang
dicapai... adapun hakikatmu sendiri tersembunyi jauh di balik penyatuan ini,
meninggi atasnya, jauh dari segala itu semua. Engkau bukan lagi zat dan
penyatuan, tetapi engkau hanyalah roh dari Roh Ku, tiada nisbah bagimu
melainkan pada-Ku.

Engkau tidak mengungkapkan hakikat ini, kecuali di kala terangkat daripadamu


tirai penutup dan engkau memandang Ku, ketika itulah lenyap keadaan dirimu
yang menyatu, penyatuan yang bersifat serba duga (wahami), lalu engkau
menyadari atas hakikat dirimu dan engkau dapati dirimu yang sebenarnya yang
bukan zat dan bukan pula dari persoalan, tetapi hanya semurni-murninya roh;
yang sederhana (Basithah) sutu yang tidak terbagi, (Jauhar) tunggal, meninggi,
tiada nisbah melainkan kepada Ku, maka engkau tidak lagi mengulangi dan
mengatakan AKU tetapi mengatakan Engkaulah Tuhanku, dan telah
engkau ketahui, bahwa AKU adalah untuk Ku semata, dan bahwa engkau
adalah hamba Ku.

Seruan Allah kepada para arifin : Jikau engkau sudah tiba kepada melihat Ku,
maka tidak akan ada tuntutan, dan apabila tidak ada tuntutan maka hilanglah
sebab, dan jika sebab telah musnah maka tiada lagi nisbah, sempai di sini
sirnalah hijab.

9. ILMU PENGETAHUAN
ILMU adalah merupakan satu upaya untuk mencapai sesuatu yang terdiri dari
bagian-bagian dalam ulah lingkungannya, dan penempuhannya diperlukan
adanya gerak dan perjalanan disertai tata tertib dan peraturan-peraturannya
yang tertentu yang ada padanya; Yaitu ilmu pengetahuan yang membahas
tentang ketentuan-ketentuan.

- Bilmaqadir = tentang kadar banyaknya.


- Alkammiyat = dan tentang hubungan-hubungannya
- Al ilaqat = Akan tetapi ilmu itu agak lemah terutama untuk mencapai teka-
teki yang memerlukan pemecahan, Apakah ini dan apakah itu (Almahiyat),
dan pula untuk mencapai hakikat-hakikat yang ada taraf kesudahannya. Dan
ilmu itu dalam persoalan ini kedudukannya tidak lebih dari alat yang kurang
mempunyai kesempurnaan yang malahan kadang-kadang menyesatkan.

Al Imam An Nafri berkata :


Ilmu itu sendiri merupakan tirai penutup atas apa yang sudah menjadikan
pengetahuannya; yang seyogyanya tidak demikian halnya.
Seorang yang banyak berilmu (Ulama) terdinding oleh kesadarannya sendiri,
sama halnya dengan si dungu terdinding oleh kelengahannya. Sungguh pun
begitu ilmu itu mencerai-beraikan akal si alim, disebabkan karena ilmu itu
terpetak-petak dalam beberapa bidang dan arah tujuan pemikiran.
Ilmu itu sendiri memiliki jalan-jalan dan saluran-saluran, lalu sampai kepada
cabang-cabang. Tiap-tiap cabang mempunyai jalan keluar sendiri-sendiri,
sampai di sini tidak dapat dielakkan lagi akan terjadinya perselisihan, dan dari
perselisihan menjurus ke arah kesesatan.

Akal, setelah mengetahui kesemuanya itu, lalu mengadakan penyaringan di


antara pelbagai macam kemungkinan-kemungkinan, maka terperosoklah ia ke
dalam aneka ragam kesimpang-siuran..

Dan Allah dalam seruan-Nya menyampaikan :


Seorang yang berilmu masih dalam ikatan serba dua Menyaksikan dan
disaksikan, begitu pula halnya seorang pengenal (Arifin) ... yang tidak... dan
yang lain halnya... adalah seorang Waqif di Hadirat Ku (orang yang berdiri
tegak di tempat penghentian pencapaian), ia adalah tunggal... karena dia telah
sirna (fana) meniadakan keserba-duaan lagi, menyadari dan kembali pada
pribadinya sendiri dalam kesederhanaan dan kesatuannya (ringan lunglai
terlepas dari daya tarik apappun dan senyawa-menyatu).

Maka seharusnya puncak dari ilmu, akal dan pikiran itu mengembalikan pada
kedudukan asalnya dari segi bagian-bagian dan kenyataan-kenyataan kepada
Yang SATU ialah Allah Maha Penciptanya. Dari sini bertolak ke arah
pengenalan (Makrifah) barau dapat disebut orang arif. Tetapi pandang
pengenalan seorang sufi jauh dari kesemuanya ini, lebih tinggi menjulang dan
tidak menilai ilmu, karena pengenalannya kepada Allah semata-mata, makrifat
yang tunggal, mengenal ke Esaan-Nya, dalam sifat-sifat-Nya, Asma-Nya, Af-al-
Nya, Taqdis-Nya dan ke Maha Sucian-Nya.

Selanjutnya Allah berseru :


Hai hamba yang berilmu! Bilamana ilmumu dapat melepaskan engkau dari
ilmu mu, maka engkau akan tiba pada perjalanan pengenalan (Makrifat), tetapi
kalau engkau menyatu dengan ilmu mu, maka ilmu itu akan menjadi penghijab
bagimu; Dudukkan ilmu itu pada tempat yang seyogyanya menjadi penghantar
ke arah makrifat dan bukan engkau yang menyatu dengan ilmu mu.

Setelah engkau tiba di ambang pintu makrifat, dan memasukinya, maka


engkau akan terheran-heran dan menginsafi kebodohanmu di hadapan Zat
Illahiat dan inti mula pertamanya.

(Kunhiha) serta apa sebenarnya DIA (Manhiat) terungkaplah di sini lunglainya


pencapaian, itulah pencapaian dan kedunguan adalah puncak makrifat, maka
terhujamlah dalam sanubarimu akan arti sebenarnya dari Tiada satupun yang
menyamai-Nya.

Seorang sufi mewejang : Kebodohan, kedunguan adalah tirai penutup yang


asli dan tak mungkin tersingkap tentang Zat Ilahiat, kecuali pada Hari
Kebangkitan (Kiamat) kala seorang hamba dikehendaki-Nya untuk memandang
dengan pandangan mata.

Adapun sebelum itu maka tiadalah mungkin melihat Allah dengan terang-
terangan, dan apa yang dialami seorang abid ialah menyaksikan Allah pada
sesuatu yang di dalamnya terdapat bekas dari tangan pembuatnya, ayat-ayat-
Nya, hikmah-Nya, tadbir-Nya (yang diuraikan-Nya). Dan itu merupakan
penglihatan akal serta matahati atau melihat Nur-Nya.
Adapun Zat, akan tetap tinggal terselubung oleh selimut gaib yang mutlak.

Dan di kala seorang abid mencapai puncak makrifat, maka ia menyadari akan
kebodohannya di hadapan Zat itu; Dan menyadari pula akan kelemahan semua
usaha-usaha dan cara-cara yang selama ini diandalkan; ia akan memulai
perjalanannya kepada Allah dengan menempuh penyaksian. Maka akan
keluarlah ia dari alam nyata selain Allah. Keluar dari ilmunya, amalnya,
makrifatnya, ifatnya, namanya dan juga kelura huruf dan ibarat, dan apa saja
yang diibaratkan oleh huruf dan oleh ucapan ibarat.

Dengan pelepasan, penanggalan segalanya itu tadi adalah pintu untuk mencapai
Penglihatan serta jalan masuk menuju Hadirat-Nya dan penghentian jalan
terakhir dari penyaksian maka ia masuk didorong oleh kekuatan cahaya yang
menetap (tidak membiarkan dan tidak meninggalkan).

Yang demikian adalah, apa yang diuraikan dalam gambaran seorang sufi
Penglihatan hati (Ruyah Qolbiah) terhadap Zat yang tertutup terselubung dan
terhijab dengan Nur demi Nur-Nya; dan itu merupakan permulaan disertai
kenyataan yang dikawani oleh poros tempat persembunyian segala sesuatu dan
(dikawani) pula oleh keadaan dari kelenyapan yang sepenuh-penuhnya... tiada
sesuatu... selain Nur itu.

Ketahuilah bahwa Nur itu bukanlah Zat, tetapi hanyalah suatu ayat (tanda bukti)
dari sekian banyaknya tanda-tanda bukti, dan juga sebagai hijab dari sekian
banyaknya hijab-hijab dan juga isim dari berbagai Asma-Nya (nama-nama-
Nya) dan Asma adalah hijab atas yang bernama dan yang dinamai.

Dan ini bukanlah penyaksian pandangan mata. Dalam hal ini penyaksian
pandangan mata tidak mungkin sama sekali selagi di dunia ini, dan tidaklah
bagi insan yang memiliki bentuk jasad insani. Hal ini sebagaimana yang
diungkapkan dari apa yang terjadi, dan apa yang dialami Nabi Musa As. Yang
tidak memiliki daya kemampuan memandang, hingga jatuh pingsan; dan bukti
yang dijadikan contoh tidak pula memiliki kemampuan tersebut hingga hancur
lumat berbutir-butir,

Di dalam Al Quran surat Al Araf 7:143 :


Dan tatkala Musa datang di tempat yang telah ditentukan, dan Tuhannya
berkata-kata dengannya, lalu berkatalah Musa :Wahai Tuhanku!
Perlihatkanlah diri-Mu padaku supaya aku dapat memandang-Mu. Ia pun
berfirman : Tidak sekali-kali engkau dapat melihatk-Ku, tetapi pandanglah ke
bukit itu; jika ia dapat tetap di tempatnya, maka engkau akan melihat pada-
Ku, Maka tatkala Allah memperlihatkan diri kepada bukit tadi, bukit itupun
hancur luluh menjadi lumat dan jatuhlah Musa dalam keadaan tak sadar diri.
Maka tatkala sadar, berkatalah Musa Maha Suci Engkau! Aku taubat kepada-
Mu, dan aku adalah orang pertama yang beriman kepada Mu.

Perhatikan! Musa tidak jatuh pingsan karena melihat Zat Ilahy, tetapi ia baru
melihat tajallinya Zat atas sesuatu yang lain, yakni bukit itu, baru tajalli-Ny
saja, dapatkah engkau membayangkan betapa mungkin terjadi jika sekiranya
Musa melihat Zat-Nya.

Dalam ilmu penegtahuan insani terdapat segi tantangan, karenanya setiap


sesuatu tujuan pemikiran diiringi oleh pemikiran akal yang menguraikan
kebalikannya. Demikian juga kejahilan insani, yang di dalam kejahilannya
terdapat tantangan (dari kebalikannya). Tidak demikian halnya dengan ilmu
pengetahuan Rabbani (Ilahy) yang Ladunni (Ilmu yang didapat langsung dari
Alloh), maka ilmu yang demikian, begitu juga kebodohan yang berupa
pengetahuan ketidaktahuan, maka ia adalah suatu kejahilan yang asli, yang
tiada tantangan kebalikannya, karena kejahilan terhadap Zat Ilahiat adalah
merupakan sampainya kepada hakikat yang terakhir, yang berkesudahan
(nihaiyah), justru Allah itu Yang Maha Suci (Majhul al-Hawiyah) yang tak
dapat diketahui karena tiada sapun yang menyerupai-Nya (Dan itulah sifat
Zatiyah).

Allah berseru kepada hamba-Nya :


Keluarlah engkau dari ilmumu yang kebalikannya adalah kejahilan, keluarlah
engkau dari makrifat yang kebalikannya adalah pengingkaran... niscaya
engkauakan jinak terhadap apa yang engkau ketahui, Ilmu itu berseteru dengan
kejahilan, dan kejahilan itu adalah huruf... kejahilan itu menjadi seteru ilmu
dalam kejahilannya terdapat huruf.

Keluarlah engkau dari huruf, niscaya engkau mengetahui ilmu yang tiada
seterunya, yaitu Ilmu Rabbani (jika engkau sudah sampai ke taraf ilmu ini),
maka engkau akan menjahili suatu kejahilan yang tiada lagi berseteru dengan
kejahilan yang berupa pengetahuan. (Al Jahlul Irfani).

Jika engkau telah mengetahui suatu ilmu yang tiada seteru, dan jika engkau
menjahili kejahilan yang tiada bersetru pula, maka engkau bukan lagi tergolong
dari penduduk bumi dan langit.

Jika engkau sudah bukan lagi menjadi penduduk bumi, maka Aku tidak akan
membebani engkau pekerjaan ahli bumi; Juga kalau engkau tidak lagi menjadi
peduduk langit, maka Akupun tidak lagi membebani engkau menjadi pekerja
ahli langit.

Pekerjaan-pekerjaan ahi bumi adalah keserakahan dan kerakusan, kelengahan


dan menghambakan diri pada hawa nafsu dan kepada semua yang nampak di
permukaan bumi ini, yang saling kejar mengejar memperebutkan aneka
perhiasan. Sedangkan pekerjaan ahli langit adalah Zikir dan tadziem
(membesarkan Nama Tuhan) dan itulah penghambaan ahli langit terhadap
Tuhan, dan itulah yang menjadikan mereka jinak dengan ketenangan kepada
Allah.

Dan penghambaan itu merupakan hijab yang terdekat, yang mana Aku dari
balik-Nya berhijab pula dengan sifat keperkasaan; dan kelengahan itu pun suatu
hijab yang jauh, yang mana Aku dari baliknya berhijab dengan semua dan apa-
apa yang telah Ku ciptakan dari segala sesuatu saling pengaruh-mempengaruhi.

10. R A H A S I A
As-sir (rahasia), adalah laksana sesuatu yang terselubung dalam kelembutan
dan kehalusan, yang tersembunyi di dalam diri manusia, halnya seperti keadaan
roh, hati dan matahati.

Kami biasa mengucapkan : Naiknya sudah sampai pada pencapaian Rahasia


Tuhan; ucapan ini rumus untuk sebutan maut, yakni keluarnya roh dari tubuh.
Dan Allah berseru kepada hamba-Nya :
Hai hamba!! Sirmu yang tersembunyi itu berkekuatan melebihi kekuatan bumi
dan langit.
Sermu dapat memandang tanpa biji mata, mendengar tanpa daun telinga, Sirmu
tidak bertempat tinggal di dalam rumah-rumah dan tidak pula makan buah-
buahan. Sirmu tidak mengenal malam dan tidak mengembara di siang hari.

Sirmu tidak diketahui oleh akal dan pikiran, dan tidak pula berhubungan
dengan hukum sebab-akibat..
Sirmu hidup dalam abad demi abad, sedang jasadmu hidup dlam waktu yang
ditentukan.
Aku berada di belakang sirmu;.. Pengetahuan sirmu tidak mengetahui akan
Daku, dan isyarat-isyarat sirmu tidak sampai menyaksikan Daku.
Bila telah engkau yakin tentang sirmu, maka engkau bukan lagi engkau....
sedangkan engkau-engkau itu adalah tetap engkau.
Engkau daripada Ku.... Engkau kemudian daripada Ku
Sedangkan segala sesuatu di alam wujud ini datangnya kemudian daripadamu
dapat mengalahkan engkau asalkan engkau mengenal kedudukanmu dan
membiasakan (melazimi) duduk di dalam maqammu, maka yang demikian itu
engkau lebih kuat dari kandungan huruf dan asma; lebih kuat dari segala apa
yang nyata di dalam dunia dan akhirat.

Jika engkau telah meyakini akan sirmu, maka yakin pulalah engkau akan
Daku; daripada Ku lah adanya segala sesuatu. Akulah yang menyatakan segala
sesuatu; Akulah yang DIA itu AKU.

Aku tidak berada di dalam sesuatu, dan aku berlepas diri dari pada sesuatu,
dan tidak pula Aku berdiam di dalam sesuatu; dan tidaklah Aku di dalam Aku,
dan tidaklah Aku daripada siapa pun, dan Aku tidak terjawab oleh pertanyaan
Bagaimana?? Dan tidak pula oleh ucapan tanaya Apa pun.

Aku adalah Yang Maha Esa, Maha Tunggal dan menjadi kembalinya segala
macam pinta (Shomad) tidak ada yang dapat menyatakan adanya menjadi nyata
selain Ku.
Aku telah mendhahirkan alam semesta, yang bersifat teguh-tetap (alam benda)
dan apa bila Aku bernyata niscaya Aku akan melenyapkannya, dan apabila Aku
berkehendak; niscaya Aku mengembalikannya kepada mendahirkannya pula
dengan pakaian-pakaian sementara , serta aneka ragam logam-logam yang
terdapat di mana-mana (Yakni pakaian ruang dan waktu ... masa dan mana).

Maka peliharalah batasmu antara Manawiyah dan tsabatiyah (yang tidak tetap
dan yang tetap) antara roh dan jasad.

Segala sesuatu akan dituntut oleh dari mana ia berasal (jasad barasal dari
tanah, maka tanah itu akan menuntut) dan tiadalah Aku dengan sesuatu, maka
sesuatu itu akan berkhusus dengan Ku; Tiadalah Aku ditentukan, dan
sesungguhnya Aku mutlak (bebas).

11. SOPAN SANTUN BERTUTUR KATA BERSAMA ALLAH


Hai hamba !! Janganlah engkau menentukan dan menguraikan apa-apa yang
menjadi keperluanmu, tetapi hendaklah engkau menyembunyikannya, lalu
ucapkanlah :
YA Tuhan, tengoklah hambamu ini yang berdatang sembah dalam keadaan
durhaka penuh dosa,... tolonglah akan daku dalam urusanku, dakulah semua
kemalangan itu,,,, hanya Engkaulah yang dapat memilih mana yang baik
untukku; dakulah yang bodoh terhadap masalahku di antara kedua tangan Mu.
Hindarkanlah daripadaku tindak memilih atas-Mu.

Hai hamba! Tindak memohon kepada Ku hendaknya diiringi dengan


pernyataan yang bijak... maka akan ku perlihatkan kepadamu apa yang selama
ini engkau sembunyikan dan apa yang engkau nyatakan ... katakanlah;

Ya Tuhan! Daku bersama Mu sahaja, agar tiada satu pun menyambarku dan
ditarik mejauh dari Mu, daku bersama Mu sahaja, agar tidak mengenal selain
Mu; ,,, Jadikanlah daku melihat Mu untuk selama-lamanya; Ku mohon apa
yang Engkau Ridloi...Anugrahkanlah daku kecintaan pada Mu.

Ya Tuhan!! Daku memohon dengan segala kerendahan dan sepenuh hati,


dapatlah daku menjadi hiasan antara kedua tangan Mu; pakaikan untuk ku
pakaian indah yang menjadi hamparan tibanya karunia Mu; Jadikanlah pula
daku selalu memandang Mu menurut kehendak dan kemauan Mu dan menjadi
sasaran gairah cemburu Mu.

Hai hamba! Ucapkanlah kata-katamu dengan penuh rasa penyesalan!


Tuhanku yang melihat akan daku, maka bagaimanakah daku melihat selain
Nya.

Telah daku lihat pula daku saksiskan, maka sekali-kali daku tidak melihat Nya;
daku bersenang-senang dan bergembira ria, maka sekali-kali daku tidak melihat
Nya; daku murung, daku bersedih, maka sekali-kali daku tidak melihat Nya;
daku lapar dan menanggung derita, maka sekali-kali daku tidak melihat Nya;
daku kenyang tidak juga sekali-kali daku melihat Nya... daku menyembah pada
Nya; maka sekali-kali tidak juga melihat Nya.
Oh Tuhanku! Kemanakah seharusnys daku pergi? Sedangkan Engkau yang
meakukan segala tindak.

Tutur kata siapa lagi yang hendak daku dengarkan, bukankah setiap lesan
mengucapkan tutu kata Mu? Dengan siapa pula daku menggabungkan diri
dalam himpunan? Sedangkan Engkau berada di setiap himpunan.

Tak pelak lagi ya Tuhan, Engkau berada di setiap mata yang melihat.

12. DENGARKAN ISI PERJANJIAN PENGANGKATANMU


Aku ditegakkan berdiri di antara kedua tangan Nya; lalu ia berseru :
Tiada kufitrahkan padamu agar engkau tunduk kepada ilmu pengetahuan, tiada
pula Ku didik engkau agar berdiri di depan pintu-pintu selain pintu Ku; tida
pula Aku mengambil kawan duduk semajelis agar engkau mengajukan
permohonan pada Ku untuk duduk bersama selain Ku. Hendaklah engkau
ketahui siapakah engkau, maka pengetahuanmu tentang dirimu adalah
merupakan suatu peraturan bagimu yang tiada akan roboh, dan suatu
ketenangan untuk mu yang tiada akan lenyap.

Engkau adalah hamba K.


Engkau hidup dengan Ku, karena tiupan roh Ku, dan kepada Ku engkau
kembali, dan dengan Ku engkau akan bangkit, dan kepada Ku engkau bernasab.
Ku ciptakan engkau agar engkau menjadi tatapan pandangan Ku, dan engkau
akan menjadi pengurai Nama-nama Ku; Ku ciptakan dunia ini untukmu dan
pula Ku sujudkan kepadamu; dan Ku ciptakan segala sesuatu demi engkau, Ku
bentuk engkau demi Aku supaya engkau menjadi ahli Hadirat Ku; Ku pilih
engkau demi kemuliaan himpunan Ku; Ku gemarkan engkau bersama Ku; Ku
fitrahkan engkau sesuai dengan gambaran Ku.

Dengarkan perjanjian wilayahmu (Pengankatanmu) :


Jangan engkau bertakwil atas Ku dengan menggunakan ilmu pengetahuanmu,
taatilah hukum-hukum Ku tanpa takwil dan tanpa saling berbantah.

Janganlah engkau menjarak daripada Ku... demi untuk kepentinganmu sendiri...


manakala engkau keluar, hendaklah keluar kepada Ku; dan engkau masuk,
hendaklah mesuk pula kepada Ku; dan engkau tidur, maka tidurlah dalam
penyerahan kepada Ku; dan bila engkau bangun, maka hendaklah engkau
bangun penuh dengan rasa tawakal kepada Ku; dan bila engkau makan
hendaklah engkau menyadari bahwa makananmu itu dari tangan Ku; dan bila
engkau minum, hendaklah engkau menyadari pula bahwa engkau meneguk
minuman dari tangan Ku.

Mohonlah pertolongan dengan berdoa kepada Ku, agar engkau bisa tegak
berdiri di dalam maqammu di antara kedua tangan Ku... Kalau tidak ... maka
diammu itu menyeru kepadamu tentang apa-apa yang telah diketahui perihal
dirimu, maka waspadalah engkau kepada Ku, jangan sampai diammu itu
menjadi seruan kepada dirimu, sednagkan engkau mengesankan bahwa diammu
itu adalah taqarub (berhampir diri) kepada Ku.

Bagaimana engkau melepaskan pendanganmu ke arah langit dan bumi,


matahari dan bulan, dan kepada segala sesuatu apapun, sedangkan engkau telah
mengetahui, bahwa kesemuanya itu terang dan nyata daripada Ku.

Kesemuanya itu mensucikan diri Ku dengan menyampaikan puja-pujiannya


kepada Ku dan mengucapkan kata tulus Laisa Kamitslihi Syaiun... Tiada satu
pun yang menyamai Nya... Janganlah engkau menyingkir dari patokan
pandangan yang demikian ini, agar tidak dirampas oleh pandangan-pandangan
lain. Dan jangan lupa engkau mengeluarkan sifatmu dari cara memandang
yang demikian, kaena nantinya engkau dirampas oleh sifatmu sendiri.

Bila engkau tidak melepaskan sifatmu keluar dalam pandangan ini, akan ku
tan engkau akan menulis atas dahimu wilayah Ku (pemeliharaan Ku), dan akan
engkau saksikan bahwa sesungguhnya Aku berada bersamamu di mana pun
engkau berada. Dan akan ku dudukan engkau di dalam maqam ishmad (maqam
yang tidak luput dalam penjagaan Ku), dan akan Ku tetapkan engkau dalam
sopan santun dari segala syahwat keinginanmu, dan engkau kan merasakan
malu untuk selalu berada di dalam tata cara adat-isitadatmu. SesungBahwa
syahwat-syahwat itu menjadi hijab penutup atasmu untuk menguji
kecintaanmu, maka jika engkau menetapkan pilihan kepada Ku dan tidak
memilih keinginan-keinginan lain, niscaya ku ungkapkan untukmu zatmu
sendiri dan tiada lagi Aku menutupi engkau dengan aneka keinginan-keinginan
syahwat. Ketahuilah, bahwa syahwat itu mendatangi engkau melalui jasad
tubuhmu. Adapun zatmu maka Ku ciptakan atas dasar suci murni tiada condong
melainkan hanya kepada Ku sendiri.

Katakanlah pada lubuk hati nuranimu, agar berdiri tegak di anatara kedua
tangan Ku, tiada dengan sesuatu dan tiada pula untuk sesuatu, niscaya Ku
bangun mahligai yang sangat besar di belakangmu, dan kekuasaan agung di
bawah kedua telapak kakimu.
Hendaklah engkau memohon bantuan hanya dari Ku sahaja, jangan dari Ilmu
Ku, dan jangan pula dari dirimu, dengan demikian engkau menjadi hamba Ku,
berada di sisi Ku dan dapat pengertian perihal Ku.

Hendaklah halmu menjadi demikian laksana TUHAN YANG HADIR, dalam


alam semesta yang gaib dan pudar. Maka inilah hiasan sifatnya barang siapa
yang aku malu daripadanya.

13. PENGLIHATAN
Allah berseru kepada hamba-Nya. (Pahami QS.Al-Insylqaq 84.6).

Hai hamba! Menundukan kepala ke bawah, adalah merupakan lalu-lintas dunia


dan akhirat, dan melepaskan pandangan adalah merupakan penjara dunia dan
akhirat (penglihatan adalah laksana penjara dunia dan akhirat dalam arti jika
penglihatanmu engkau menjadikan sedemikian rupa, memandang wajah ayu
dan cantik, maka di balik wajah ayu dan cantik terbukalah pintu penjara dan
engkau menjadi budaknya, maka engkau akan luput kehilangan arah dari dunia
dan akhirat).

Orang yang menoleh ke kanan dan ke kiri sudah tidak layak lagi berjalan
bersama Ku (karena dia sudah disibukan oleh pikirannya yang tidak menyatu
lagi, sudah bercerai berai dan tidak lagi mendengar kata-kata Ku).

Hai hamba ! Perihalah hatimu dari jurusan matamu, kalau tidak, maka engkau
tidak lagi dapat memeliharanya untuk selama-lamanya.
Hai hamaba! Peliharalah matamu, niscaya Ku jaga hatimu (Yakni Ku pelihara
hatimu dari ketidaktetapan dan ketidakmantapan)
Jagalah syahwatmu, niscaya Ku cukupi hajatmu

Peliharalah kedua matamu serta serahkan dan tinggalkan kesemuanya pada


Ku... bila telah engkau pelihara kedua, niscaya terpeliharalah hatimu dalam puri
kerajaan Ku (yakni sudah tidak lagi terpengaruh oleh perbagai macam yang
menarik perhatianmu, dan tidak lagi tergoda dari ketidaktetapan dan ketidak
mantapan, dan engkau Ku beri kemampuan untuk mengarahkan dan
menghimpun tekad yang kuat dan kemauan yang teguh. Itulah yang Ku
maksudkan dengan puri kerajaan Ku)

Hai hamba! Jangan engkau memandang apapun yang Ku perlihatkan padamu


dengan pandangan terpesona yang akan menyerumu kepada rasa kepuasan, dan
janganlah engkau merendahkan diri terhadap pada sesuatu pun. Jika engkau
telah terpesona melihat selain Ku, lalu engkau merasa tergoda, maka katakanlah
:
YA Tuhan... inilah ujian Mu! Maka Aku akan merahmatimu!

14. TENTANG JAUH DAN DEKAT


Hai hmba! Berulang kali Ku perkenalkan diri Ku padamu, tetapi engkau belum
juga mengenal Ku, hal yang demikian berarti engkau menjauhkan diri daripada
Ku. Engkau sudah mendengar tutur-kata Ku dari lubuk hati sanubarimu, tetapi
engkau belum juga mengetahui bahwa itu adalah kata-kata Ku, hal yang
demikian sama halnya engkau telah menjauhkan diri daripada Ku.

Engkau dapat melihat dirimu, sedangkan Aku lebih dekat dari dirimu, itulah
pengertian menjauh yang sebenarnya.

Hai hamba! Engkau akan tetap tinggal terhijab dengan hijab tabiatmu sendiri;
Sekalipun telah Ku ajarkan padamu, ilmu pengetahuan Ku, dan kerap juga
engkau mendengarkan kata-kata Ku, hingga engkau berpindah kepada
kedudukan bekerja dengan Ku.

Adapun si Waqif (Yang berhenti dan berdiri tegak di Hadirat Ku) maka ia telah
memasuki tipa rumah, maka tiada lagi rumah-rumah yang dapat
menampungnya; ia sudah merasakan segala macam minuman tetapi masih tetap
merasa dahaga; lai ia sampai ke pada Ku, dan Aku adalah tempat tinggalnya,
dan di sisi Ku adalah tempat penghentian dan berdirinya.

Al Waqwah (penghentian untuk berdiri tegak di Hadirat Allah), adalah di balik


apa yang dikatakan, dan makrifat itu adalah puncak yang di katakan, sedangkan
ilmu pengetahuan itu adalah apa yang dapat di katakan.

Bila engkau melihat selain Ku, takan dapat lagi enggkau melihat Ku
Jangan putusa harapan daripada Ku... Andaikan engkau datang kepada Ku
dengan segala ucapan dan tutur kata yang buruk, maka ampunan Ku lebih besar
lagi. Dan jangan pula engkau bercanda dan berani pula kepada Ku. Andaikan
engkau mendatangi Ku dengan semua uacapanmu dan tutur katamu yang baik,
tentu hujat Ku lebih utama.

15. KHUSUS DAN UMUM


Allah berseru kepada hamba-Nya. (Pahami QS.Al-Insylqaq 84.6).

Bukanlah suruhan Ku yang berupa ilmu pengetahuan yang Ku tujukan


kepadamu, dari jurusan hatimu, itu untuk memindahkan kedudukanmu dari
umum kepada khusus.

Bukan pula di kala Aku memerintahkan kepadamu untuk membuang segala apa
yang Ku berikan padamu berupa ilmu-ilmu dan pengetahuan-pengetahuan itu
demi kegairahan Ku atasmu. Dan bukan pula supaya Aku memilihmu untuk diri
Ku. Itu semua adalah agar engkau keluar daripada makrifat kepada penyaksian,
dan dari khusus yang tingkat khususnya khusus, supaya negkau utuh untuk Ku,
sebagaimana Aku menjadi untukmu, menjadi sasaran pandanganmu dan engkau
menjadi sasaran pandangan Ku.

Tiada lagi antara Ku dan antaramu batas pemisah sesuatu pun, baik nama-
nama Ku, atau ilmu-ilmu Ku apalagi nama-nama atau ilmu-ilmumu.

Hendaklah engkau titipkan namamu kepada Ku sampai tiba saatnya Aku


menjumpaimu dengan (nama). Jangan ada lagi antara Ku antaramu nama, ilmu
dan makrifat yang membatasai, maka untuk Hadirat Ku telah Ku bentuk engkau
bukan untuk hijjab. Maka pada Hadirat Ku tidak satupun lagi yang mampu
menguasaimu, karena sesungguhnya engkau adalah kemudian daripada Ku, dan
sesuatu apapun yang Ku nyatakan adalah kemudian daripadamu.

16. SETIAP YANG BERBEKAL AKAN TERKALAHKAN


Aku ditegakkan berdiri di atas permukaan laut, maka kulihat bahtera demi
bahtera saling tenggelam, yang tersisa hanya keping-keping papan yang
berserakan di sana-sini Kemudian tiba saatnya papan-papan itu tenggelam
juga. Lalu Dia berseru kepadaku : Tiada satupun yang naik di permukaan laut
itu akan selamat, dan setiap yang berbekal akan terkalahkan.

Ia pun berseru pula : Barang sapa yang mau menerjunkan dirinya dan tidak
mau naik, berarti mau menghadang bahaya.

Lanjutnya : Siapa yang naik juga dan tidak mau menempuh bahaya, niscaya
akan binasa!.

Dan kata Nya : Dalam menempuh bahaya masih ada sebagian darapan dari
keselamatan. Dan ombak yang ketika itu datang menggunung menganggkat
pula apa-apa yang ada di bawah permukaan laut dan dihempaskan ke tepi
pantai.

Lalu kata Nya : Cahaya terang di atas permukan laut tak dapat di capai, dan
dasar laut yang gelap gulita tak dapat dikuasai, dan di antara keduanya ikan-
ikan juga tidak dapat terjamin keselamatannya.

Dan lanjut Nya pula : Jangan engkau naik ke permukaan laut, maka Aku akan
menghijabmu dengan bekal bawaanmu sendiri dan jangan pula terjun ke dalam
laut, yang demikian halnya sama saja; Aku tetap akan menghijab dengannya.

Lalu kata Nya kepadaku : Di laut itu ada batas-batas, maka yang mana yang
akan mendukungmu?.

Dan kata Nya : Bila engkeu merelakan dirimu pada lautan, lalu engkau
terjunkan dirimu ke dalamnya, tidak yang demikian menjadikan dirimu sama
dengan hewan laut.

Dan kata Nya : Terperdayalah engkau! Jika Aku menunjukan engkau atas
selain Ku!

Kata Nya pula : Bila engkau membinasakan dirimu berkorban untuk selain Ku,
maka engkau adalah bagi siapa yang engkau rela berkorban itu

Dan kata Nya : Dunia itu bagi barangsiapa yang Ku singkairkan jauh daripada
dunia, dan bagi barangsiapa yang Ku singkirkan dunia itu daripada dirinya; Dan
akhirat itu bagi barangsiapa yang Ku datangkan untuk menghadap (mendekat)
kepadanya, dan Ku jadikan pula ia suka menghadap kepada Ku.

17. MASUKLAH PADA KU SEORANG DIRI


Hendaklah engkau bekerja tanpa melihat pekerjaan itu :
Hendaklah engkau bersedekah tanpa memandang sedekah itu!
Engkau melihat amal perbuatanmu walau baik sekalipun, tidak layak bagi Ku
untuk meandangnya, maka janganlah engkau masuk kepada Ku dengannya.

Sesungguhnya jika engkau datang kepada Ku berbekal amal perbuatanmu,


maka akan Ku sambut dedatanganmu dengan penagihan-penagihan dan
perhitungan. Dan jika engkau mendatangi Ku dengan ilmu pengetahuanmu,
maka Ku sambut dengan tuntutan. Dan jika engkau mendatangiku dengan
makrifat, sambutan Ku adalah Hujat, sedang hujat Ku lebih utama dan lebih
seharusnya.

Hendaklah engkau singkirkan ikhtiar (memilih), niscaya pasti Aku singkirkan


tuntutan. Hendaklah engkau lepaskan ilmu pengetahuanmu, amal perbuatanmu,
makrifatmu, sifatmu, namamu dan dari segala yang nyata, supaya dengan
demikian engkau bertemu dengan Ku seorang diri.

Bila engkau menemui Ku, dan ada di antara Ku dan antaramu sesuatu dari
kenyataan-kenyataan itu, sedangkan Aku-lah yang menciptakan segala yang
yang nyata, Aku lebih dahulu menyingkirkan daripadanya, demi cinta.. guna
mendekatimu, maka janganlah engkau membawa kenyataan-kenyataan dalam
menemui Ku, jika masih saja demikian halmu, maka tiada kebaikan
daripadamu.

Jika engkau mengethaui di kala engkau masuk kepada Ku, pastilah engkau akan
memisahkan diri dari para Malaikat, sekalipun mereka itu saling bantu-
membantu kepadamu, karena keenggananmu maka hendaknya jangan ada lagi
penolong selain Ku.

Jangan engkau melangkah ke luar dari rumahmu tanpa mengharapkan keridaan


Ku, karena Aku-lah yang bakal menunggumu dan menjadi petunjukmu.

Temuilah Aku dalam kesendirianmu, sekali atau dua kali sehabis


menyelesaikan shalatmu, niscaya Ku jaga malam dan siang harimu, Ku jaga
pula hatimu, Ku jaga pula urusanmu, juga kemauan kerasmu.

Tahukah engkau bagaimana hendaknya engkau datang menjumpai Ku seorang


diri? Hendaknya engkau melihat tibanya Hidayah Ku kepadamu, karena
kemurahan Ku bukan karena amalmu engkau memperoleh pengampunan Ku
dan bukan pula oleh ilmu pengetahauanmu.

Serahkanlah kembali kepadaku buku-buku ilmu pengetahuan, dan catatan-


catatan amalmu, niscaya Ku buka kedua tangan Ku, Ku terima dan Ku buahkan
dengan keberkahan Ku dan Ku lebihi dengan kemurahan Ku.

18. BERDIRI DI ANTARA KEDUA TANGAN ALLAH


Bila engkau didatangi Kalam (pena), lalu ia mengatakan kepadamu : Ikutlah
aku! Ketahuilah yang berada di sisi ilmu itu adalah Aku, hendaknya mendengar
daripada Ku, akulah yang menggariskan rahasia-rahasia itu. Hendaklah engkau
menyerahkan diri pada Ku saja, tidaklah engkau dapat melangkahi Aku dan
mencapai Ku, maka katakanlah kepada Kalam. Enyahlah daripadaku hai
kalam! Yang menyatakan aku adalah yang menyatakanmu, dan yang
memeperlakukan aku adalah yang memeperlakukan engkau, yang menciptakan
aku adalah yang menciptakanmu. Daripada Nya aku mendengar dan daripada
mu, kepada Nya aku berserah diri, dan bukan kepadamu.

Jika ku dengar ucapanmu, niscaya aku terhijab, bila ku serahkan diriku padamu,
niscaya aku menjadi lemah, bila aku mengikutimu nicaya akau jatuh di
perbatasan dan menemui beberapa persimpangan yang tidak menetu
jurusannya.

Bila mendatangi engkau Arasy... dengan serba kemegahannya yang


memepesonakan, diiringi pula oleh para Malaikat yang tak henti-hentinya
bertasbih, lalu engkau di panggil ke arah dirinya, maka sahutilah panggilannya
itu Enyahlah engkau wahai Arasy! Perhatianku bukan di sisimu dan
berdiriku di sekitarmu!.

. Perhentianku di sisi Allah yang menciptakan dirimu, dan Ia lebih besar


daripadamu di dalam arena ke Agungan dan Keindahan, lebih memukau dari
keindaanmu dalam tingkatan perhiasan, maka berdirimu karena pertolongan
Nya, engkau berhujat kepada Nya, memerlukan bantuan Nya. Adapin Dia
maka Dia berdiri dengan Zat Nya; Jamal Nya daripada Nya; Keindahan Nya
dari pada Nya. Keagungan Nya daripada Nya, tiada dari selain Nya.

Bila engkau berkehendak supaya jangan ada sesuatupun yang melintas


kepadamu selain Ku, dan bila engkau berhasrat ke luar (melepaskan diri) dari
segala yang nyata, maka hendaklah engkau berdiri di dalam ketiadaan (anafi) di
ambang pintu (LA) (tiada) Ilaha illallah (Tuhan melainkan Allah) dan
ketahuilah, bahwa an-nafi tidak akan tercapai kecuali dengan Ku. Aku nanti
yang akan menafikanmu daripada yang lain-lain dan Ku isbathkan engkau
dengan karunia Ku dalam bertetangga dengan Ku dan di sisi Ku.

Hendaklah engkau berdiri di Hadirat Ku, bukan untuk mendengar daripada


Ku, dan bukan untuk mendapat tahu daripada Ku, dan bukan untuk saling
bertutur kata, tetapi hanyalah untuk saling pandang-memandang, tetapkanlah
pendirianmu dalam pendirian ini hingga tiba saatnya Aku bersabda kepadamu,
Maka apabila Aku bersabda hendaklah engkau menangis, menyesali sabda-
sabda Ku yang termakan oleh usiamu yang telah lanjut berlalu.
Bila engkau telah berdiri di Hadirat Ku, jangan hendaknya engkau keluar dari
maqammu, sehingga andaikan engkau dijumpai, di kala menyaksikan Aku, oleh
runtuhnya langit dan hancurnya bumi, engkau akan tetap juga dan tidak akan
pergi menyingkir.

Bila engkau telah mengenal, bagaimana engkau berdiri di antara ke Dua


Tangan Ku, demi untuk Zat Ku dan Wajah Ku semata, bukan untuk keperluan
apapun, baik dari pembicaraan maupun tutur kata Ku, maka sesungguhnya
engkau telah mengenal ka Agungan Hadirat Ku.

Dan barang siapa sudah mengenal akan ke Agungan Hadirat Ku, akan Ku
haramkan apapun selain Ku, dan akan Ku jadikan menjadi ahli pemeliharaan
Ku.

Bila engkau di datangi oelh pendatang (A Warid) yaitu Khatir Rabbani


(lintasan hati yang datang dari Tuhan), maka hendaklah engkau ucapkan :
Yaa man auradal waarida asy hidnii malakuuti birrikafii dzikrika wadziqnii
khanaana dzikri kafii isyhaa dika
Wahai Allah yang mendatangkan Al Warid, persaksikan padaku ke Agungan
kasih sayang Mu dalam zikirku kepada Mu, dan anugrahilah padaku rasa
kerinduan dalam zikirku kepada Mu dalam engkau mempersaksikan.

19. KEGAIBAN, PENGLIHATAN DAN PENYAKSIAN


Kegaiban (ketidak hadiran) adalah sesuatu kelalaian, hal yang demikian banyak
dirasakan oleh manusia-manusia ahli dunia, disebabkan karena melihat sesuatu
pada zat dirinya, maka yang demikian itu bagaikan membuka peluang untuk
disambar oleh sesuatu-sesuatu itu; dan sesuatu-sesuatu itu saling panggil-
memanggil hingga engkau akan terbagi-bagi di antaranya dan tercerai-beraikan
oleh panggilan masing-masing itu.

Jelas yang demikian membuatmu gaib daripada Yang Maha Tunggal lagi
Berdiri Sendiri. Hanya dengan Pertolongan Nya engkau dapat tegak berdiri,
tetapi engkau alihkan penglihatanmu untuk segala sesuautu hingga engkau
menerjunkan diri untuk mendapatkan agar memilikinya, atau waspada
daripadanya, takut ke padanya, merendah-rendah membujuk merayunya.

Adapun Penglihatan, maka ia adalah: Penglihatanmu kepada Allah dan


Kekuasaan Nya atas segala sesuatu itu, menunjukan betapa lemahnya segala
sesuatu itu dengan zat dirinya masing-masing, dan sangat sedikit sekali daya
upaya, yang hanya merupakan suatu pinjaman dari Allah yang membentuknya
serta mendirikannya, maka kesemuanya itu tiada berkemampuan untuk
menarikmu dengan zat-zatnya, dan lemah sekali untuk membagi-bagikan kesan
dan lemah pula untuk mempengaruhimu dengan segi-segi yang mencerai
beraikan. Hanya Allah sajalah Zat Yang Maha Suci yang dapat menghimpun
kemauan kerasmu kepada Nya. Dan menyatakan Nya di balik cela-cela sesuatu
itu yang dapat melenyapkan zat-zatnya dan zat dirinya.

Adapun Penyaksian, maka ia adalah : Penghapus leburan segala sesuatu


dengan tata laksana ke dalam Nur Illahiat yang melimpah ruah yang meliputi
segala-galanya, dan itulah yang kami istilahkan Penyaksian dengan Hati.

20. HIJAB HIJAB


Hijab-hijab Zat Ilahiat itu, dala lima :
1. Hijab A yan (Ayan = segala mahluk yang diciptakan oleh Allah).
2. Hijab Ilmu
3. Hijab Huruf
4. Hijab Asma (Nama-nama)
5. Hijab Kejahilan (kebodohan)

Dunia dan akhirat dan apa yang ada di antara keduanya dari makhluk-makhluk,
adalah hijab Ayan dan setiap ain (mata) dari kesemuanya itu adalah hijab
Ayan atas dirinya sendiri dan hijab atas selainnya.

Dan Hijab Ilmu dikembalikan pada hijab ayan, karena ilmu itu hasil
pembahasan terhadapnya dan terhadap pada peraturan-peraturannya.
Dan hijab huruf adalah hijab hukum...
Dan Asma (nama-nama) adalah hijab atas apa yang dinamai..
Terakhir adalah Hijab Kejahilan (kebodohan) yang mana tidak dapat
diungkapkan melainkan pada Hari Kebangkitan (Hari kiamat).

21. APA-APA YANG DISERUKAN ALLAH KEPADA HAMBA-NYA


1. Hai hamba Bila engkau telah menghilangkan (melalaikan) hikmat
kebijaksanaan apa yang telah engkau ketahui, maka apa yang akan ngkau
perbuat dengan ilmu yang tiada engkau ketahui itu ?

2. Hai hamba! Kesedihan yang menimpa dirimu, adalah kesedihan yang


sebenar-benarnya, (yakni bilai engkau telah melalaikan Daku, maka
sesungguhnya engkau telah melalaikan sesuatu yang tiada lagi gantinya).

3. Hai hamba! Jika bukan karena Shomad Ku (shomad = kesudahan dari


semua pinta), niscaya engkau tidak menemukan tujuan permintaanmu. Dan jika
bukan karena Dawam Ku (dawam = yang terus menerus tanpa hentinya)
niscaya engkau bosan,

4. Hai hamba! Aku lebih utama bagimu daripada apa yang Kunyatakan,
sedangkan engkau lebih utama bagi Ku dari apa yang Ku sembunyikan.

5. Tanda ampunanku di dalam suatu ujian, ialah bahwa ujian itu menjadi suatu
ilmu pengetahuan bagimu.

6. Siapa yang Ku bodohkan, Ku beri dalih dengan kejahilan, Aku bermuslihat


dengan ilmu pengetahuan Ku terhadap siapa yang Ku bodohkan.

7. Hai Hamba! Andaikan Ku beritahukan padamu apa yang terkandung di


dalam penglihatanmu itu, maka pastilah engkau akan merasa sedih masuk ke
dalam surga.

8. Hai Hamba! Barang siapa yang sudah melihat Ku, maka ia akan dapat
melampaui ucapan dan diam dan melangakahi Ilmu pengetahuan dan
kebodohan dan melangkahi epmbatasan.

9. Hai Hamba! Manakala engkau memohon, hendaklah engkau berdiri


menghadap kepada Ku, niscaya engkau Ku beri, Jangan sekali-kali engkau
berdiri menghadap kepada permohonanmu, yang demikian membuatmu terhijab
dan Ku tolak.

10. Aku sendiri adalah bukti nyata, dan tiada selain Ku yang dapat
dijadikan bukti.

11. Tanda-tanda keyakinan adalah keteguhan, dan tanda-tanda keteguhan


adalah keamanan dalam menghadapi bahaya.

12. Siapa yang menyembah kepada Ku demi wajah Ku, niscaya akan
kekal. Siapa yang menymbah pada Ku karena takut siksa Ku, niscaya akan
berhenti tanpa kelanjutan; dan siapa yang menyembah pada Ku karena rakus
dalam kenikmatan Ku, niscaya akan putus.
13. Jika engkau makan dari uluran tangan Ku, niscaya jasad tubuhmu
tidak akan menaatimu untuk engkau ajak bermaksiat pada Ku.

14. Hai hamba! Buatlah bendungan di depan pintu hatimu, dan jangan
diperkenankan masuk selain Ku, engkau pun hendaknya menjadi pengawas atas
bendungan itu dan tinggalah sekali di dalamnya, hatimu adalah rumahku,
sampai tiba saatnya saling jumpa dalam pertemuan.

15. Letakkan dosa-dosamu di bawah telapak kakimu, dan letakkan


kebaikanmu di bawah dosa-dosamu.

16. Huruf itu adalah huruf Ku, dan ilmu itu adalah ilmu Ku, sedangkan
engkau adalah hamba Ku, bukan hamba huruf Ku, bukan pula hamba ilmu Ku.

17. Hai Hamba! Jangan engkau berdiri di persimpangan, niscaya engkau


akan diarahkan ke perbagai jurusan, dan janganlah engkau berdiri di dalam
ilmu, niscaya engkau akan diarahkan ke pelbagai pengetahuan-pengetahuan,
dan janganlah engkau keluar dari Hadirat Ku, niscaya engkau akan disambar
kenyataan-kenyataan.

18. Hai Hamba! Bila engkau tertawan oleh nama Ku, niscaya engkau
akan diserahkan kepada namamu sendiri, dan bila engkau tertangkap oleh sifat
Ku, maka engkau akan diserahkan kepada sifatmu sendiri, dan bila yang
menahanmu selain dari Ku, niscaya engkau akan dikembalikan kepada dirimu
sendiri, dan bila dirimu sendiri yang mengambilmu maka engkau akan
diserahkan kepada musuh dirimu.

19. Hendaklah engkau berdiri di Hadirat Ku; jika engkau berkata-kata,


maka itulah tutur kata Ku; jika engkau menghukum, maka Akulah hakim itu.

20. Huruf dan apa yang diuraikan oleh huruf adalah serambi ilmu, dan
ilmu itu adalah serambi makrifah, dan makrifah adalah serambi nama, dan
nama itu adalah serambi dari apa yang dinamakan.

21. Hai hamba! Engkau telah menerima baik setiap undangan, mengapa
undanganKu tidak?? Hai hamba! Gantungkanlah ucapanmu kepada Ku, niscaya
perbuatanmu pun akan bergantung padaKu; jika perbuatanmu sudah bergantung
pada Ku, maka akan berkelangsungan pemikiranmu dalam beribadat kepada
Ku, dan akan masygul lah hati dan batin mu. Hai hamba! Meyerahlah kepada
Ku, dengan demikian Ku buka pintu untukmu, agar engkau dapat bergantung
pada Ku.
22. Hai hamba! Jangan engkau berputus harapan daripada Ku, niscaya
engkau terlepas dari perlindungan Ku; bagaimana engkau berputus asa daripada
Ku, sedangkan dalam hatimu terdapat utusan Ku dan juru bicara Ku.

23. Hai Hamaba! Penghuni maqam-maqam itu adalah daripada Ku,


mereka tidak menghendaki apapun dan tidak membiasakan apaun dan tidak
pula jinak pada sesuatu apapun.

24. Bila tiba hari kiamat, maka berdatanganlah jiwa-jiwa menuju kepada
Nur Ku. Apabila di dunia Jiwa ddan Nur Ku telah saling berkaitan, maka
terbukalah hijab, tetapi jika tidak, maka tetaplah sebagaimana adanya dahulu.

25. Hai hamba! Jika engkau berada di sisi Ku, tiada satupun di alam
semesta ini yang membekas pada dirimu; engkau tidak girang dengan apa yang
engkau peroleh , dan tiak pula menyesali apa yang luput daripadamu. Engkau
berada di sisi Yang Maha Pencipta Segala, engkau telah cukup kaya, tidak
memerlukan lagi apa-apa yang ada di alam semesta.

26. Hai hamba! Jika dirimu menentagmu, maka laporkan tantangannya


kepada Ku.

27. Hai hamba! Segala sesuatu Ku beri keperkasaan untuk


menyambarmu dari dirimu sendiri, maka jika terjadi hal yang demikian,
bermohonlah engkau akan pertolongan Ku. Maka akan Ku perlihatkan
keperkasaan Ku, lalu Ku himpun engkau dengan keperkasaan Ku.

28. Hai Hamba! Akulah Allah. Telah Ku jadikan segala sesuatu itu
mempunyai kelemahan (ketidaksanggupan) dan Ku jadikan setiap kelemahan
itu kefakiran.

29. Hamba Ku yang sebenar-benarnya adalah yang memarahi dirinya


sendiri demi Aku, dan tidak rela pada dirinya sendiri; Hamba Ku yang sebenar-
benarnya adalah yang tetap berzikir kepada Ku tanpa diselingi oleh kealpaan.

30. Hendklah engkau jadikan terjemahn, tafsiran dan huruf-huruf itu


sebagai alat dan kendaraan untuk sampai kepada Ku yang merupakan untaian
kata-kata.

31. Hai hamba! Janganlah engkau menukarkan Daku dengan sesuatupun,


maka tiadalah sesuatu yang memadai dan menanadingi Ku.
32. Hai hamba! Jangan hendaknya engkau menyertai yang fana. Hai
hamba! Hendaklah engkau dala segala hal bersama Ku saja, niscaya Ku utus
padamu pada hari Aku bernyata suatu tanda dan alamat yang akan
meneguhkanmu, maka engkau tidak dikenai oleh kengerian dan ketakuatan, dan
tiada pula digemparkan oleh apa yang mendahsyatkan.

33. Hai hamba! Engkau akan bebas di dlam maqam Hadirat Ku! Tiada
satu pun baik perkataan-perkataan maupun perbuatan-perbuatan yang
memanggil dan menyeru padamu.

34. Hai hamba! Kosongkanlah hatimu dari kedamaian apapun, niscaya


engkau tidak lagi punya tandingan; Jika engkau menyimpan yang damai, maka
apa yang bertentangan akan menjadi tandinganmu. Yang damai akan
mengakibatkan keselamatan dan yang bertentangan akan mengakibatkan
kebinasaan.

35. Hai hamba! Sekali-kali engkau tidak akan mengenal Ku, sebelum
engkau melihat bagaimana Aku menganugrahkan dunia ini dalam kemwewahan
dan kelezatan, yang mana engkau sendiri telah mengetahui terhadap seseorang
yang durhaka, maka engkaupun akan rela terhadap apa yang Ku jauhkan
daripadamu, dan engkau akan mengetahui akan apa yang Ku palingkan, agar
Ku jauhkan engkau dari hijab Ku. Hai hamba! Ketahuilah bahwa ada suatu janji
antaramu dan antara ahli dunia ini akan lenyap, dan engkau akan melihat
kedudukanmu dan kedudukan ahli dunia ini.

36. Yang berdiri di anatar kedua tanganKu, tangannya akan menjulang


tinggi atas langit dan bumi, jauh di atas surga dan neraka, maka tidak ia akan
berpaling menoleh kepada kesemuanya ini. Akulah yang mencukupinya... tiada
dasar makrifatnya kecuali di atas landasan Ku; dan tiadalah ilmu pengetahuan
serta renungan hatinya melainkan berkisar antara kedua tangan Ku.

37. Hai hamba! Robohkan apa yang telah engkau bangun dengan kedua
tanganmu, sebelum Aku merobohkan dengan kedua tangan Ku.

38. Engkau adalah hamba selama engkau di kuasai.

39. Hai hamba! Bila engkau tidak melihat Ku di dalam sesuatu, maka
penglihatanmu adalah kelalaian belaka.

40. Hai hamba! Bila engkau telah melihat Ku di dalam du hal yang
saling bertentangan dengan sekali pandang, maka sesungguhnya Aku sudah
memilihmu untuk diri Ku.

41. Hai hamba! Di dalam Aku melemahkan engkau di antara orang-


orang yang lemah, dan menguatkan engkau di antara orang-orang yang kuat,
tidaklah engkau merasakan cinta Ku.

42. Hai Hamba! Tidaklah dapat dibenarkan saling bertutur kata,


melainkan yang satu berkata dan yang lain diam, tetapi hendaklah engkau diam
dan dengarkan tutur kata Ku.

43. Hai hamba! Engkau telah membuat rumus dan telah engkau
terangkan pula maksudmu dengan kefasehan lidah, toh kesudahannya kepada
Ku Juga.

44. Hai Hamba! Hendaklah engkau perhatikan apa yang dengannya


engkau menjadi baik, itulah harga dirimu di sisi Ku.

45. Penglihatan itu adalah suatu ilmu yang mengekalkan, maka


hendaknya terus engkau ikuti, dengan demikian akan membawa kemenangan
bagimu atas dua hal yang saling berlawanan.

46. Hai hamba! Jangan hendaknya engkau jinak pada sesuatu selain Ku,
lalu engkau menuju kepada Ku; maka serta merta Aku akan menolakmu dan Ku
kembalikan engkau pada sesuatu itu.

47. Dengan sikap membenci dunia adalah lebih baik daripada beribadah
untuk akhirat.

48. Rumahmu di akhirat kelak yang daripada Ku, laksana hatimu


sekarang di dunia ini daripada Ku.

49. Hendaklah engkau tidur, sedang engkau melihat pada Ku, begitulah
nanti di kala Aku mewaafatkan engkau, engkau akan melihat pada Ku.

50. Hendaklah engkau bangun dari tidurmu, sedangkan engkau melihat


pada Ku, begitu pulalah nanti di kala engkau Ku bangkitkan di Hari Kiamat,
engkau akan melihat pada Ku pula.

51. Hai hamba! Ketahuilah bahwa penyakit dan obat itu bagi orang yang
lalai.
52. Salian Ku tolak engkau dengan pelbagai hijab, kemudian Ku buka
untukmu pintu-pintu dan lorong untuk tobat, yang demikian itu adalah peluang
Ku bagimu agar engkau melintasi hijab itu menuju kesudahan pintu-pintu itu.

53. Hai hamba! Aku bukannya untuk sesuatu, lalu sesuatu itu akan
meliputi Ku, bukan pula engkau untuk sesuatu lalu sesuatu itu meliputimu;
tetapi sesungguhnya engkau hanyalah untuk Ku dan dengan Ku.

54. Hai hamba! Jangan dikira setiap yang terbuka itu dapat dilihat. Aku
adalah Raja yang terbuka dengan Kemuliaan, yang berhijab dengan
Keperkasaan.

55. Hendaklah engkau melihat segala sesuatu sedangkan engkau melihat


pada Ku, sama halnya dengan engkau menghukum padanya dan ia tidak dapat
menghukum padamu.

56. Hai hamba! Engkau ditimpa suatu persoalan, maka katakanlah


Tuhanku! Tuhanku! Niscaya Ku jawab : Labbaik! Labbaik! Labbaik!!!

57. Bila engkau melihat Ku, sedangkan engkau tidak melihat apapun
yang daripada Ku, maka sesungguhnya enggkau sudah melihat Ku benar-benar.

58. Hai hamba! Bila engkau melihat Ku, berarti engkau berada di sisi
Ku; bila engkau tidak melihat Ku, berarti engkau berada di sisimu sendiri.
Maka selayaknya engkau berada di sisi siapa yang datang dengan membawa
kebaikan.

59. Hai hamba! Aku telah memuliakanmu dan Ku jadikan segala sesuatu
itu bersikap lembut dan lunak kepadamu, maka sekali-kali Aku tidak rela
dengan berhentimu sampai di situ, sangat sekali Ku sayangkan! Demi perhatian
terhadap padamu dan atasmu.

60. Hai hamba! Bila engkau telah melihatku! Tiadalah akan sirna bahaya
itu sebelum sirna angan-anganmu.

61. Bila engkau telah menafikan (meniadakan) apapun selain Ku,


niscaya engkau akan bertemu kepaa Ku dengan sebanyak bilangan dari apa
yang telah Ku ciptakan dari kebaikan-kebaikan itu.

62. Engkau menjadi hamba assiwa selama engkau telah melihat bagi dia
bekas.

63. Barangsiapa telah melihat Ku, niscaya ia akan menyaksikan bahwa


sesuatu itu adalah milik Ku, dan barangsiapa yang sudah menyaksikan bawa
sesuatu itu adalah milik Ku, engganlah ia mengadakan tali hubungan
dengannya, dan selama engau mengikatkan tali hubungan dengan sesuatu,
hingga dari satu segi engkau melihat bahwa sesuatu itu kepunyaanmu dan di
segi-segi lain engkau melihat bahwa sesuatu itu adalah milik Ku, niscaya
engkau tidak akan mengikatkan tali hubungan.

64. Hai hamba! Ucapkanlah : Labbaika Wasaadaika Walkhairu Bika


Waminka Wailaika Waiyadaika Artinya : Aku selalu menaati Mu, Menuruti
Seruan Mu, dan kebaikan itu adalah dengan Mu, daripada Mu, kembali kepada
Mu, dan di kedua tangan Mu.

65. Hai hamba! Hilangkanlah kebiasaanmu berikhtiar (memilih) niscaya


akan Ku buang sama sekali tuntutan Ku itu.

66. Hai hamba! Manakala negkau telah melihat Ku, maka apapun selain
Ku (Assiwa) kesemuanya itu adalah merupakan suatu dosa.

67. Hai hamba! Aku telah mencintaimu, lalu Aku bermaqam di dlam
makrifatmu terhadap segala sesuatu; lalu engkau mengenal Ku demi segala
sesuatu dan mengingkari segala sesuatu.

Hai hamba! Bila engkau telah melihatKu, maka hendaklah engkau berada di
dalam kegaiban laksana jembatan yang menjadi tempat lalu lintas segala
sesuautu tanpa hentinya.

68. Hai hamba! Perselisihan itu disebabkan oelhe pertentangan


kebalikannya *Adh dhiddah), sedangkan melihat pada Ku, tiada satu pun
pertentangan maupun perlawanan.

69. Hai hamba! Bila engkau telah melihat Ku, sangat Aku rindukan
padamu untuk datang menjumpai Ku diantara kedua tangan Ku. Maka sekali-
kali tidaklah Aku maqamkan engkau dengan selain Ku.

70. Hai hamba! Puncak kemanjaan Ku padamu ialah, bahwa Aku


bertutur kata, yang mana dengan Firman Ku, Aku perintahkan padamu untuk
mengulang baca. Yang dimaksud adalah (QS. Al Isra 17:111).
71. Hai hamba! Akulah yang membangkitkan keinginan-keinginan, cita-
cita, maka bila engkai didatangi olehnya, hendaklah engkau ucapkan : Ya
Tuhan! Selamatkanlah kami dari utusan-utusan Mu.

72. Hai hamba! Apabila Aku menjadi terang-cemerlang bagimu, nicaya


akan putus segala sebab musabab, dan apabila engkau telah melihat Ku, niscaya
akan putus segala nisbah.

73. Aku telah menguji engkau antara ilmu Ku dan ilmumu, dan Ku uji
pula antara hukum Ku dan hukummu.

74. Pengetahuan-pengetahuan yang bersumber dari selain Ku, dapat


diingkari oleh pengetahuan-pengetahuan yang berasal daripada Ku.

75. Ucapan segala sesuatu merupakan hijabnya, apabila berkata, maka


segala sesuatu terhijab oleh ucapannya sendiri.

76. Makrifat yang bersikap diam dapat menghukum, dan makrifat yang
berbicara dapat menyeru.

77. Aku lebih dekat dari apa yang dirasakan dengan ilmu pengetahuan,
dan Aku lebih jauh untuk dicapai dengan ilmu penegetahuan.

78. Aku ditegakkan berdiri di antara kedua tangan Nya, lalu ia pun
mengajukan pertanyaan : Apakah engkau melihat selain Ku? Kujawab :
Tidak....... Lalu ia berkata pula : Sekali-kali tiadalah engkau dapat melihat Ku
melainkan di antara kedua tangan Ku. Inilah dia! Engkau menyingkir dan
melihat kepada selain Ku, niscaya engkau tidak akan melihat Ku lagi....... Bila
engkau melihatnya (selain Ku), maka janganlah engkau mengingkari dia;
Jagalah wasiat Ku baik-baik, jangan sampai hilang karena bila hilang, kafirlah
kamu... Jika dia berkata padamu dengan sebutan kata AKU maka hendaknya
engkau mempercayainya, maka sesungguhnya Aku telah membenarkan; Dan
bila dia mengatakan padamu kata dia maka hendaknya engkau mendustakan
dia, karena Aku telah mendustakan dia.

79. Telah terungkaplah bagiku wajah segala wajah, kesemuanya kulihat


saling bergantung kepada wajah Nya; kulihat pula jasad, maka kesemuanya
bergantung pada titah Nya, baik perintah maupun larangan Nya, lalu ia pun
berkenan berkata kepadaku : Pandanglah wajah Ku lalu ku pandang.... lalu ia
pun berkata lagi : Bukan selain Ku.... kujawab : Bukan selain Mu.... Lalu
katanya lagi : Lihatlh wajahmu sendiri Lalu kulihat wajahku ..... Ia pun
berlanjut lagi .... Bukan lainmu!.... maka kujawab : Bukan lainku..... maka
iapun berkata lagi : Engkau adalah seorang faqih, maka hendaklah engkau
keluar!....... akupun keluar dan berusaha mendalami ilmu fiqih, telah sah bagiku
membalik mata (Qolbul ain), maka akupun mengikuti dengan cara ilmu
fiqih. Akupun datang kembali dengan membawa bekal ilmu ini, dan ia pun
berkata : Aku tidak mau melihatmu dengan berbekal bikinan *mashnu)......
(membalik mata ... itu adalah perkataan ... sesuatu yang dikatakan); bahwa mata
sesuautu (ainusy syai) atau mahiyatnya (apa yang ia nya) dan zatnya adalah
mata Allah (ainullah), zat Allah (semata-mata) itu adalah suatu persoalan yang
dibuat-buat (mulaffaq) sama dengan diada-adakan, yakni uraiannya tersusun
dari huruf-huruf (talfieq) yang memutar balikan kebenaran. Hakikat itu jauh
dari huruf dan jauh dari uraian huruf.... yang mungkin dapat diuraikan dalam
maudhu, persoalan ini ialah Bahwa zat dari segala sesuautu itu bergantung
pada zat Allah, tetapi jangan salah tafsir bahwa itu adalah mata zat Ilahiat (zat
Allah). Jika tidak maka kami dengan demikian telah membalikkan mata dan
telah memalsu kebenaran (Al Haqiqat). Firman Allah, yang artinya :
Sesungguhnya Aku hendak menciptakan manusia dari tanah, maka bila ia
telah Ku bentuk dan Ku tiupkan dari sebagian roh Ku dalam dirinya,
hendaklah kamu sujud kepadanya (QS. Shad 38:71-72). Ruh anak Adam,
adalah dari Ruh Alloh.... ia suatu tiupan dari ruh Alloh dan berkaitan dengan zat
Allah..... tetapi sesungguhnya ia bukanlah ia..... karena zat Ilahiat tiada satu pun
yang menyamai Nya (Laisa Kamitslihi Syaiun).

80. Hai hamba! Kepada kalian Ku sampaikan : Andaikan benar-benar


kalian telah melihat bahwa Dialah yang berkuasa menyempitkan dan
melapangkan, tentu kalian akan cuci tangan dari nasab keturunanmu yang mulia
itu.

81. Hai hamba! Kehalusan Ku tiada bertara, Akulah yang meneguhkan


apa-apa selain Ku (assiwa), maka lenyaplah apa-apa yang selain Ku.... Dan
tiadalah tandingan keperkasaan Ku, maka segala keperkasaan-keperkasaan akan
lenyap. Aku yang menyirnakan yang selain Ku dan apapun yang diperlihatkan
olehnya.

82. Hai hamba! Akulah yang Dhahir, tiada dapat dicapai oleh
penglihatan mata; dan Akulah yang Bathin yang tidak dapat dijangkau oleh
prasangka apapun, dan Akulah yang Daim (terus menerus tanpa kesudahan)
tidak dapat diberitakan oleh abad demi abad, dan Akulah yang tunggal, dan
tidak dapat dimiripi oleh bilangan dan hitungan... Segala sesuatu akan ditutntut
oleh asal mulanya. Dan Akulah Yang Satu, Yang Tunggal dan Yang Maha
Esa.... Aku tidak berasal dari sesuatu. Lalu sesuatu itu akan berkhusus dengan
Ku.

83. Sekali-kali tidak sampai kemampuanmu untuk mencakup dan


melingkupi sifat Ku, umpamakan saja keindahan (Al Jamal) ini adalah sifatKu,
untuk Ku, dan kepunyaan Ku, karena Aku meliputi segala sesuatu.

84. Semua ilmu pengetahuan ibarat lorong-lorong ... tiada jalan-jalan dan
lorong-lorong yang sampai kepada makrifat. Makrifat itu adalah induk segala
tujuan dan puncak segala kesudahan.... Bila engkau telah berada di maqam
makrifat, maka akan terungkaplah pandangan tembus (Kasyaf) dan bagimu
mata keyakinan (Ainul yaqin) terhadap pada Ku.. pada taraf ini--- gaiblah
makrifatmu dan engkau pun gaib pula pada dirimu sendiri, inilah hukum
makrifat yang berlaku .... Bila makrifatmu tidak dapat menghukum dirimu,
maka Akulah yang tampil menjadi hakim. Sapaimu di taraf ini berarti engkau
sudah mencapai puncak ilmu, dan diwajibkan pdamu agar engkau berbicara
sambil menunggu ijin Ku, maka dengan bicaramu itu engkau akan menyaksikan
murka Ku, manakala engkau diam, maka hilang pula murka Ku, bila engkau
bicara... makrifat itu selalu disebut dalam Al Kitab... Kedudukannya lebih
tinggi, baik nilai maupun martabatnya dari ilmu pengetahuan, karena makrifat
itu adalah hasil pencapaian terhadap hakikat-hakikat yang menyeluruh, sedang
ilmu pengetahuan itu adalah pencapaian terhadap persoalan-persoalan yang
terbagi-bagi bidangnya. Mengenai penyaksian jauh lebih tinggi dari
keduanya, karena penyaksian itu adalah hasil dari kebulatan tekad yang disertai
dengan usaha yang gigih terhadap kebenaran, dengan ikut sertanya upaya hati
dan pengalaman, maka itulah yang menghasilkan penyaksian, dan penyaksian
itu adalah setinggi-tingginya keyakinan.

85. Bagiku.... bahwa memohon keridhaan Nya itu adalah merupakan


kemaksiatan pada Nya, kemudian ia berkata kepadaku : Hendaklah engkau
taat kepada Ku, Lalu engkau merasa telah menaati Nya, maka yang demikian
engkau sudah bohong besar, Ia pun melanjutkan L Engkau tidak mentaati Ku,
tida pula Aku diaati oleh sesuatu pun .... Baru kalilah aku melihat ke Esaan
yang sebenar-benarnya. Arti ayat : Kepunyaan Nya jua bahtera-bahtera yang
berlayar di lautan dengan layar-layar yang tinggi menjulang )QS. Ar Rahman
55:25). Perhatikan ayat tersebut di atas, bahwa Allah menyatakan jika bahtera-
bahtera itu adalah milik Nya, sekalipun milik kita pada lahirnya; Dialah yang
membina, sekalipun pada lahirnya kita yang membuat. Ingat renungkan! Kita
membina dengan ilmu Nya, dengan pengetahuan Nya, peraturan-peraturan Nya,
serta ilham Nya, begitu pula halnya dengan taat, tiada Ia ditaati oleh siapa yang
menaatiNya, melainkan ketaatannya adalah kemurahan Nya... Inilah Tauhid itu.

86. Aku telah ditegakkan berdiri di antara kedua tangan Nya, lalu ia
berkata kepada ku : Aku tiada rela engkau menjadi utuk sesuatu, dan tidak
pula rela jika semua itu menjadi untukmu... Ku sucikan engkau, Aku bertasbih
padamu. Maka janganlah engkau mentasbihkan Ku. Aku yang membuatmu!
Bagaimana engkau dapat mensucikan Ku?

87. Jangan engkau duduk di atas jamban-jamban, engkau akan


dikerumuni anjing-anjing dan akan saling menggonggong padamu, hendaklah
engkau duduk di atas mahligai yang kukuh kuat, di suatu tempat yang pintu-
pintunya tertutup rapat, dan jangan ada yang menyertaimu; Jangan
menghiraukan apapun, baik sianr matahari ataupun kicauan burung-burung,
maka tutuplah wajah dan telingamu, karena sesungguhnya bila engkau
memandang selain Ku; niscaya engkau akan menyembahnya, dan jika engkau
yang dipandang oleh sesuatu, maka engkaulah yang akan disembah.

88. Kulihat segala mata terbelalak memandang kepada Nya, tetapi apa
yang dilihat? Segala sesuatu yang terpandang menjadi hijab belaka. Tundukan
kepalamu ke bawah, dan lihatlah ke dalam, niscaya terlihat.

89. Hamba-hamba sahaya berada di dalam surga, sedangkan orang-orang


merdeka berada di neraka.

90. Bila tiada kaan bagimu untuk kau ajak duduk bersama, maka Akulah
yang menyertaimu.

91. Engkau pasti akan mati, tetapi tidak demikian dengan ingatan Ku
padamu.

92. Perhitunganmu meleset, berarti salah dan kesalahan itu berarti tidak
benar.

93. Di antara makhluk-makhluk Tuhan, ada di antaranya yang seakan-


akan tidak layak menjadi makhluk sama sekali.

94. Engkau didalam segala hal, ibarat baunya baju dengan baju.

- Engkau ibarat arti makna seluruh alam semesta;


- Engkau bagaikan kitab yang menghimpun sedangkan alam semesta
merupakan lembaran-lembaran halamannya.
95. Aku ini sangat cemburu padamu, dari sebab itu Aku membuat
beberapa larangan untukmu.

96. Katakanlah kepada orang yang risau hatinya daripada Ku, bahwa
kerisauan itu berpangkal dari dirimu sendiri; karena Aku lebih baik untukmu
dari segala sesuatu.

97. Bila engkau melihat Ku di dalam dirimu, sebagaimana engkau


melihat Ku di dalam segala sesuatu, niscaya berkuranglah cintamu terhadap
dunia.

98. Aku dengan sesuatu tidak akan berhimpun, begitu pula engkau tiak
akan berhimpun dengan sesuatu.

99. Hidup yang manakah untukmu di dunia ini setelah Aku bernyata :

- Hari kematian itu adalah hari penyatuan, dan


- Hari yang kekal abadi itu adalah hari kesenangan.

100. Aku telah menggodamu dengan tidak adanya kepercayaanmu


sepenuhnya pada umurmu.

101. Antara Ku dan antara mu tidak dapat diketahui. Guna apa lagi
dituntut.

102. Aku ditegakkan berdiri di dalam sifat Ketunggalan (Al


Wahdaniah), lalu ia pun berkata kepdaku : Telah Ku jadikan nyata segala
sesuatu saling menunjuk kepada Ku; dan mengungkapkan perihal Ku.
Sebagaimana Aku menjadikannya di saat yang bersamaan, memanggil kepada
dirinya dan menghijab daripada Ku; maka nasib setiap insan yang dikarenakan
penghijab-penghijab itu seakan-akan menggantungkan dirinya pada penghijab-
penghijab itu. Zikir Ku, Ku khususkan terhadap setiap yang Ku jadikan nyata,
dan zikir Ku adalah pengungkap semisal hijab juga... Bila Aku bernyata
tiadalah engkau akan melihat apapun di sekelilingmu lagi

103. Hendaknya engkau katakan : Ilahy! Jangan kiranya Engkau biarkan


diriku diporak-porandakan huruf di dalam makrifatku kepada Mu.

104. Masih jugkah menyusahkan dirimu, dari segala apa yang datangnya
daripadamu? Maka hal ini akan u ampuni. Jangan kiranya ada yang
menyusahkan dirimu. Segala apa yang datang daripadaku yang menyusahkan
dirimu akan Ku palingkan semua. Bila engkau sanggup melakukan apa yang Ku
haruskan padamu mengatasi keduanya ini, niscaya engkau menjadi seorang
Wali.

105. Bila engkau bukan dari ahli Hadirat (yang selalu bersama Allah),
tentu saja khatir (lintasan hati) itu akan selalu mendatangimu dan semua siwa
itu merupakan khatir; dan tidak akan memberi manfaat malinkan berupa ilmu,
dan ilmu itu sifatnya selalu bertentangan satu sama lain. Maka untuk
menyelamatkan dari pertentangan diperlukan perjuangan. Engkau tidak akan
sanggup melakukan perjuangan tanpa Aku, dan tidak pula ilmu kecuali dengan
Ku, Hendaknya engkau berdiri bersama Ku, maka dengan demikian barulah
engkau menjadi ahli Hadirat Ku.

106. Aku dihentikan di dalam ikhtiar lalu ia berkata : Kalian akan


menderita sakit dan dokter akan selalu rajin menjenguk di waktu pagi dan
petang, kata-kata yang diucapkan para dokter itu adalah kata-kata Ku dan
mereka mengimani ilmu kedokteran, tetapi tidak beriman kepada Ku; Si
penderita pun patuh kepada dokter dan menurut berpantang makan, tetapi tidak
berpuasa untuk Ku.

107. Sudah layak jika Aku memperkenalkan diri kepadamu dengan bala
(ujian dan cobaan) Aku tidak akan lenyap dan bala itu berasal daripada Ku..
Pengalamanmu terhadap bala itu berasal daripada Ku... pengenalanmu terhadap
bala menjadi bala pula ... dan tiada seorang pun dapat melarikan diri dari bala,
karena bala itu daripada Ku.

108. Aku dihentikan dalam Perjanjian dalam keadaan tegak berdiri, Ia


pun berkenan bertutur kara padaku :

- Keluarkan dosamu demi ampunan Ku.


- Lemparkan kebaikanmu demi karunia Ku.
- Tanggalkan ilmu mu demi ilmu Ku.
- Singkirkan makrifatmu demi makrifat Ku.
- Tegaklah berdiri bersama Ku saja.
Bila engkau tetap saja berdiri, maka segala sesuatu akan mengarahkan dayanya
dan menarik-narik padamu serta menghijab mu.
- Berada di sisi Ku
Maka aku akan bersamamu. Akulah yang akan menghadapi rintangan dan
halangan.
109. Bermula adalah tahap penyaksian (Al musyahadah) dengan
menafikan khatir (lintasan hati) kemudian menafikan makrifat, lalu menafikan
dirinya sendiri yang bermakrifat, terakhir menafikan aku (Al ana).

110. Tolonglah Daku! Niscaya engkau menjadi kawan Ku. Bila Aku sudi
engkau kawani, maka Ku berikan padamu kekuatan dan pertolongan Ku, Dan
Ku beri ilmu dari ilmu Ku.

111. Engkau mempelajari ilmu itu untuk bermegah-megahan di hadapan


para ulama dan untuk berdebat dengan para jahil, dan untuk engkau jadikan
bahan musyawarah, rapat maupun muktamar, dan.... untuk mengeruk
keuntungan duniawi... neraka... neraka!.

112. Bila engkau telah keluar dari tabiatmu, keluar dari sifatmu, keluar
dari amalmu dan keluar dari ilmumu, maka keluar pulalah engkau dari
namamu; Dan bila engkau sudah keluar dari namamu, jatuhlah engkau ke dalam
nama Ku. Bila engkau telah jatuh ke dalam nama Ku, akan terlihatlah padamu
tanda-tanda pengingkaran, dan segala sesuatu itu akan serentak mengadakan
perlawanan kepdamu berupa fitnah dan engkaupun memunafikan setiap khatir
hatimu... Nah! Sekarang setiap yang melawanmu akan berhadapan dengan Ku!.

113. Hendaklah engkau meneliti dan melihat dengan apa engkau


memperoleh ketenangan, maka sesungguhnya tempat tidurmu adalah kuburan.

114. Di antara ilmu-ilmu pendekatan (Al Qurb) hendaklah engkau ketahui


bagaimana Aku berhijab dengan suatu sifat yang engkau kenali.

115. Barang siapa berdiri di maqam makrifat, kemudian ia keluar, sedang


ia sudah mengetahui keberhasilannya mendekati Aku, dan ia tetap tinggal di
luar, akan kunyalakan api untuknya seorang diri.

116. Di antara ilmu-ilmu yang dapat dijangkau mata, pada satu saat akan
engkau lihat ilmu-ilmu itu akan bungkam di dalam kelemahannya; tetapi lain
halnya dengan ilmu-ilmu hijab, maka ia tetap akan lancar berbicara.

117. Sifat-sifat yang dapat diungkap oleh tutur kata adalah sifat-sifatmu,
dalam arti dan makna, tetapi sifat-sifat Ku yang tidak dapat diungkap dengan
tutur kata bukanlah sifat-sifatmu dan tidak juga dari sifat-sifatmu.
Bila Aku berbicara padamu dengan ucapan dan ibarat, tiada wewenang hukum
memberikan kunci pembuka; karena ibarat dan ucapan itu berbalik kepada
dirimu sendiri. Adapun bila Aku berbicara kepadamu tanpa ibarat, niscaya batu-
batu dan bata-bata akan bicara padamu. Dan engkau dalam kedudukan ini
tinggal berkata Jadilah maka jadi

118. Ibaarat dan ucapan itu adalah rangkaian huruf, dan tidaklah huruf itu
mempunyai wewenang hukum apapun. Perkenalan Ku kepadamu melalui ibarat
dan tutur kata adalah persiapan untuk perkenalan yang tidak seisertai ibarat.
Pemikiran-pemikiran itu melaui huruf, dan lintasan-lintasan hati itu dari
pemikiran, tetapi ingatan kepada Ku yang murni adalah terpisah di balik huruf
dan pemikiran.

119. Yang nanti akan engkau temui di dalam kematianmu, ialah apa yang
engkau alami di kala hidupmu kini : Arti Ayat : Barangsiapa selagi di dunia
ini buta, maka kelak di akhiratpun akan buta dan lebih sesat jalannya (QS. Al
Isra 17:72).

120. Jangan menanyakan tentang makrifat Ku, dan jangan menanyakan


tentang AKU. Hendaklah engkau ketahui, bahwa tiadalah Aku diserupai oleh
sesuatu pun (Laisa Kamitslihi Syaiun).

121. Jangan dihiraukan penaggilan selain panggilan Ku, sekalipun ia


memanggilmu berdalih ayat-ayat Ku. Jangan engkau hadiri sekalipun ia datang
mengundangmu dengan ayat-ayat Ku; karena sesungguhnya, segala sesuatu itu
Aku ciptakan memanggil pada diri masing-masing dan menghijab daripada Ku.

122. Bulatkan tekadmu! Keraskan kemampuanmu paa Ku! Dengan Ku


engkau akan kekal, dan putuslah engkau darpadamu : Arti Ayat : Dan kepada
Tuhanmulah hendaklah engkau pusatkan kemauanmu (QS. Al Inssyirakh 94:8).

123. Jika engkau serang hatimu, dan hatimu tidak membalas menyerang,
maka engkau benar-benar tergolong dari para arifin.

124. Bagaimana para arifin tidak sedih sedangkan mereka melihat Aku
meneropong perbuatan buruknya dan Ku katakan : Jadilah gambar agar dilihat
oleh pembuatnya. Dan juga Ku katakan kepada perbuatan baiknya : Jadilah
lukisan agar dilihat oleh pelukisnya

125. Timbanglah makrifatmu sebagaimana engkau menimbang


penyesalanmu.

126. Hati orang arif melihat keabadian, sedangkan matanya melihat


ketentuan waktu.
127. Katakan kepada para arifin! : hendaklah kalian mendengar bukan
hanya untuk mengenal saja; Hendaklah kalian diam, dan bukan hanya untuk
mengenal melulu!; Sesungguhnya Ia mengenalkan diri Nya padamu
sebagaimana engkau bermaqam di sisi Nya.

128. Katakanlah kepada hati orang-orang arif : Janganlah kalian keluar


dari keadaan kalian, sekalipun kalian sudah memberi petunjuk kepada siapa
yang sesat. Apakah kalian menghendaki kesesatan daripada Ku, lalu memberi
petunjuk kepada Ku??

129. Katakanlah Ilahy Aku memohon kepada Mu, dengan Engkau!....


sekedar kesanggupan suatu permohonan, aku bermunajat dengan Mu, kepada
kemurahan Mu!

130. Wahai yang saling berselisih! Janganlah engkau mengharapkan


(memperoleh) petunjuk dari yang saling berselisih; Bila ia memberi petunjuk
padamu, niscaya engkau akan berhimpun bersamanya dan memadu satu tujuan;
Dan bila ia tidak memberi petunjuk padamu niscaya engkau akan berserakan
terpecah belah, karena engkau mengikuti perselisihan yang datang dari
segalajurusan.

131. Masih ketinggalan satu ilmu, berarti masih tinggal satu bahaya; masih
tersisa tambatan hati, berarti masih ditunggu satu bahaya; masih kurang lengkap
suatu akal pikiran, berarti masih ada bahaya yang menanti; masih ada suatu
kemauan keras atau kepiluan, berarti masih diintai bahaya.

132. Huruf itu adalah satu penjuru dari beberapa penjuru iblis;

133. Sesungguhnya engkau sudah melihat keabadian, dan tiadalah


keabadian itu dapat diuraikan dan diibaratkan.

Keabadian itu adalah satu sifat dari sifat-sifat Ku.


Keabadian itu telah bertasbih (mensucikan) demi untuk Ku.
Dari tasbihnya, maka Ku ciptakan malam dan siang, dan keadaannya bagaikan
tirai penutup yang membentang bagi setiap hati dan segala rahasia-rahasia. Lalu
Ku pilih engkau, tirai siang Ku buka dan tabir malam Ku singkap supaya
engkau dapat melihat Ku.

Kuberikan padamu daya, agar engkau mampu melihat terbelahnya langit, dan
memandang bagaimana Ku turunkan perintah Ku yang datangnya dari sisi Ku,
laksana tibanya siang dan datangnya malam.

134. Engkau telah mengenal Ku, dan mengenal ayat-ayat Ku. Barangsiapa
yang telah mengenal ayat-ayat Ku, maka ia pun telah bebas lepas dari
tanggungan alasan apapun. Bila engkau sedang duduk, jadikanlah ayat-ayat Ku
berdiri di sekatarmu; dan jangan keluar jika engkau keluar, keluar pulalah
engkau dari benteng Ku. (Yang dimaksud dengan ayat adalah kamimat Tauhid).

135. Adab sopan santun para wali-wali itu, ialah mereka tiada mengurusi
sesuatu dengan kemauan keras, sekalipun mereka mengetahui dengan tinjauan
akal dan budi luhurnya.

136. Bila engkau di datangi oleh panggilan hatimudan engkau lengah tiada
melihat Ku, maka sesungguhnya engkau sudah dilambai oleh lidah api Ku,
maka sebagaimana yang dilakukan oleh para wali-wali Ku (orang-orang yang
beriman dan bertakwa) niscaya akan Ku perlakukan terhadap padamu
sebagaimana layaknya Aku memperlakukan para wali Ku, maka katakanlah :
YA Allah! Inilah malapetaka uji cobaan Mu! Maka ku harapkan kelembutan
Mu, terhadap padaku, dan limpahkanlah kasi sayang Mu, padaku.

137. Orang yang berdiri di hadirat Ku, melihat makrifat itu baikan arca-
arca, dan melihat ilmu bagaikan azlam (anak panah peramal nasib).

138. Ilmu yang mantap tak berbeda dengan kejahilan yang mantap.

139. Pembersih tubuh adalah air, dan pembersih hati adalah menundukan
pandangan dari siwa....... Ketahuilah! Bahwa hati yang tertambat pada siwa
adalah najis, dapat disucikan hanya dengan tobat.

140. Hai hamba! Ynag membuat siwa hingga dapat nyata adalah Kau;
yang memperlakukan dan yang menggerakan adalah Aku; dia dtang dan pergi
dikarenakan Aku. Tinggalkan dia! Tetaplah di sisi Ku, Kalau tidak! Maka
tidak pula aku memilihmu.... Siwa adalah tempat pertentangan, yang
berlawanan, yang berserakan, berbilang-bilang, bercerai berai..... Hanya Aku
lah Yang Tunggal tanpa lawan tanpa tantangan.

141. Hai hamaba! Janganlah engkau menjadikan Aku sebagai utusanmu


kepada sesuatu, maka sesuatu itu kana menjadi Tuhna layaknya. Jika sampai
terjadi yang demikian, maka engkau akan ku tulis dari golongan orang-orang
yang berbuat olok-olok pada Ku disertai pengetahun.
142. Hai hamba! Hendaklah engkau menghentikan kemauan keras mu di
kala engkau berada di antara kedua tangan Ku. Bila engkau dapati di anataranya
(kemauan kerasmu) dan antara Ku selain Ku, maka lemparkanlah dia (siwa)
dengan penglihatanmu kepada Ku dari balik belakangnya (siwa). Kalau dia
(siwa) masih tetap ada, maka tatapkan wajahmu kepada Ku, niscaya engkau
melihat bagaimana Ku jadikan dia (siwa), maka ssampaimu di sini tidaklah
akan Ku katakan lagi Ambilah atau tinggalkanlah.

143. Pelhralah baik-baik keadaan halmu agar dengan kemauan keras mu


engkau memandang Ku. Jangan hendaknya kemauan kerasmu engkau
pandang dalam kemauan kerasmu, hal yang demikian membuatmu
berpandangan kepada dua larangan dan dua perintah, dan engkau sendiri berada
di bawah dua Pemerintahan.

144. Hai hamba! Bila engkau berdiri untuk melakukan shalat, maka
hendaklah engkau jadikan segala sesuatu berada di bawah kedua telapan
kakimu.

145. Hai hamba! Hendaklah engkau berlindung kepada Ku dari selain Ku,
sekalipun selain Ku itu mendatangimu dengan keridaan Ku.

146. Selama masih ada sesuatu di antara Ku dan antaramu, maka engkau
adalah hamba dari sesuatu itu.

147. Hai hamba! Pilihlah Aku! Aku terbitkan atasmu segala sesuatu
dengan kekayaan yang tiada lagi engkau berhajat apapun lagi; dan jangan selain
Ku yang menjadi pilihanmu, maka Aku pun akan gaib. Kemalangan apa yang
akan menimpamu? Halangan apa yang akan menghadangmu?? Itulah bila aku
gaib... engkau akan terperosok ke lembah hina, dirimu menjadi rendah dalam
perhambaan dan kejahatan terhadap pada sesuatu.

148. Hai hamba! Jika pembagian itu telah terangkat, akan menjadikan
sama, tiada perbedaan yang menyedihkan dan yang menggembirakan (yakni
bila terangkat hijab) yang memisahkan engkau daripada Ku, niscaya semeua
siwa tiada bernilai lagi, baik yang menyedihkan maupun yang menyenangkan.

149. Pengenalan akan nama Allah Yang Maha Agung (Ismullahi Al


Adham) adalah pertama-tamanya fitnah. Bila Aku meniadakan daripadamu
tuntutan yang diajukan nama itu, maka lenyap pulalah tuntutan lawan nama itu.

150. Aku adalah lebih baik bagimu dari dirimu sendiri; bila engkau lalai
Aku yang mengingatkanmu; bila engkau berpaling Akulah yang
mendatangimu; Seakan-akan Aku membuat bangunan indah anggun penuh
kemuliaan karena ingatan Ku padamu atau merasa senang bersamamu tanpa
kegelisaha... Akulah Yang Maha Kaya, tiada memerlukan daripadamu dan
daripada segala sesuatu.

151. Bila engkau telah melihat Ku di balik sesuatu, lalu engkau


mendurhakai Ku, maka durhakamu itu adalah atas kesadaran. Barangsiapa
mendurhakai Ku atas kesadaran, maka berarti telah memerangi Ku.

Aku sediakan bagi yang mendurhakai Ku suatu alasan dan..


Aku sediakan pula bagi yang berperang dengan Ku suatu medan peperangan,
dimana akan Ku biarkan baik engkau maupun yang dengannya engkau
memerangi Ku....
Dan perlindungan Ku datang dari arah belakang, yang mana Aku akan
mencerai-beraikanmu; Jika Aku mencerai-beraikanmu berarti engkau akan Ku
lenyapkan.

152. Ilmu yang menunjuk pada Ku, adalah laksana lorong yang menuju
pada Ku... Ilmu yang tidak menuju pada Ku, ialah suatu hijab yang menggoda.

153. Tidak akan sampai panggilanmu di belakang hijab, kecuali dengan


menyingkirkan hijab itu; yang demikian adalah keharusan bagi setiap
peerkenalan Ku terhadap siapa yang telah melihat Ku.

154. Aku telah bersumpah atas diri Ku sendiri, bahwa tiadalah


meninggalkan barangsiapa yang meninggalkan sesuatu demi untuk Ku;
melainkan akan Ku berikan padanya ganti yang lebih baik dari apa yang
ditinggalkan itu.

155. Hai hamba! Mengapa pikiranmu bersimpang siur, den mengapa duka
citamu engkau simpan bermalam hingga sampai pagi belum juga terlepas
daripadamu.... Engkau adalah wali Ku, dan Aku lebih utama bagimu, serahkan
saja kepda Ku Zat rahasiamu maka Akulah yang menghadapi segala
kesimpang siuran dan Aku lebih mengetahui daripadamu. Sebagian sifat dari
seorang wali ialah : Tiadanya merasa heran atas sesuatu dan berpantang
meminta apapun. Bagaimana tidak demikian dia sudah melihat Ku apa yang
layak diherankan lagi sedang ia melihat Allah, dan apa yang akan diminta?
Sedang ia melihat Allah.

156. Sesungguhnya mereka yang bangun di malam hari, ialah mereka


yang menuju pada Ku, bukan untuk wirid yang ditentukan maupun bacaan yang
dipahami... di sanalah .... Ku sambut kedatangannya dengan wajah Ku, maka ia
pun berdiri dengan Qoyyumiati (berdiri Ku sendiri) tiada pinta dan tiada apapun
yang diajukan pada Ku. Bila Aku hendak bicara padanya, akan Ku laksanakan;
bila Aku hendak memberi pengertian, Ku tanamkan pengertian. Hai hamba!
Ahli wirid manakala telah sampai ke tujuannya, mereka akan berhenti dan
menyingkir, dan ahli juzu (membaca Al Quran yang sudah sampai pada
batasnya) setelah dipelajari, juga akan berhenti dan menyingkir. Tidak
demikian halnya dengan dengan Ahli Ku karena baginya tiada batas lagi
Maka, bagaimanakah mereka akan menyingkir?

157. Hai hamba! Bila engkau telah melihat Ku, lalu engkau menetap
dalam suasana melihat Ku, maka akan Ku tuanggkan malapetaka guna
mengujimu, dan Ku berikan keteguhan hati padamu agar kau tetap tinggal
dalam maqammu.... tetapi bila engkau lepas dari melihat Ku maka Ku timpa
padamu sebagian dari malapetaka dan Aku lemahkan engkau untuk
menghadapinya, lalu engkau akan mengalami rasa menjauh karena
kelemahanmu Ku gerakan engkau berhasrat untuk memohon pertolongan pada
Ku, maka kasih sayang Ku akan menarikmu dan mengangkatmu kembali ke
maqam melihat Ku

158. Hai hamba! Ketahuilah benar-benar bahwa segala sesuatu itu adalah
milik Ku, maka janganlah engkau mencoba-coba merebut kepunyaan Ku.

159. Hai hamba! Hendaklah lesanmu senada denngan suara hatimu,


dimana Aku bernyata dalam hatimu... jika tidak, maka Aku akan berhijab
daripadamu dengan dirimu.... resapilah nasihat Ku ini ke seluruh jangatmu dan
dalamilah hingga ke tulang belulangmu.

160. Hai hamba! Bila engkau telah mengenal keabadian, maka engkau
telah melihat satu sifat As Shumud. (Ash Shumud ialah tempat bergantung
pada Yang Maha Kekal, dan tempat meminta dari yang bergantung pada Nya
segala sesuatu, baik yang dimaksud maupun yang disengaja ataupun yang
dituju yang kekal tanpa kesudahan).

161. Hai hamba! Apa yang telah Ku ungkapkan bagimu tentang


keabadian, Ku iringi pula dengan penutup kepadamu tentang hukum-hukum
manusiawi sesuai dengan apa yang telah Ku-ungkapkan untukmu itu.

162. Hai hamba! Jika malam harimu engkau khusukan untuk Ku, dan
siang harimu engkau gunakan untuk ilmu Ku, maka engkau akan menjadi
seorang besar dari pembesar-pembesar para hamba Ku.

163. Pangkal keteguhan dan kekuatan itu ialah : Meninggalkan


larangan.
164. Makin luasnya penglihatan, makin menyempitnya ibarat.

165. Barangsaiapa yang selalu ingat pada Ku dan sudah terbiasa serta
menjadi tabiatnya pula, maka berarti ia telah membuat suatu perjanjian di sisi
Ku guna keselamatan dirinya.

166. Mereka yang membenarkan Aku dengan kegaiban dan beriman pada
Ku tanpa melihat Ku, maka Aku akan menyertainya pada hari dihimpun, dan
akan Ku kawani di dalam suasana yang mengerikan, dan Ku kirim kepadanya
keteguhan dalam menghadapi kegoncangan, lalu akan Ku teguhkan atas apa
pun yang dialami, sebagaimana mereka telah mengawani Aku di balik tirai
penutup itu.

167. Hai hamba! Jangan hendaknya engkau menjadi orang yang terhijab
hanya karena apa yang cocok dengan seleramu atau dengan kemampuan.

168. Hai hamba! Siapa yang mengenal Ku dengan Ku, berarti mengenal
dengan satu perkenalan yang tidak dapat diingkari lagi kemudian hari sama
sekali.

169. Hai hamba! Aku tidak dapat dikenal oleh siapapun tanpa Aku
memperkenalkan diri Ku padanya.

170. Hai hamba! Bila engkau melihat Aku menyingkirkan siwa


daripadamu, tetap Aku tidak menyingkirkan engkau daripadanya; maka halmu
yang demikian tanyakan kepada orang yang alim dan bahkan kepada yang jahil
sekalipun tentang Ku, maka engkau akan melalui jalan yang aman dan jalan
berbahaya. Hai hamba! Bila engkau melihat Aku menyingkirkan siwa
daripadamu, sedang Aku tidak menyingkirkan engkau daripadanya, maka
cepat-cepatlah engkau lari kepada Ku dari fitnah Ku sambil memohon
perlindungan Ku daripada makar Ku.

171. Aku ibarat tamu bagi kekasih-kekasih Ku yang mulia, bila mereka
menjumpai Ku segera membeberkan rahasia-rahasianya dan dengan penuh
khidmat menguraikan ikhtiarnya kepada Ku.

172. Tidak berlaku atasmu hukum di dalam tidurmu, melainkan apa yang
telah mengiringi engkau dengan tidurmu, dan tidak lupa berlaku atasmu hukum
di dalam kematianmu, melainkan apa yang telah mengiringi engkau dengan
kematianmu.

173. Bila Aku tidak gaib dikala engkau makan, niscaya Ku putuskan agar
engkau tidak lagi berpayah-payah untuk mencari makan.

174. Hamba Ku yang berada di dalam Hadirat Ku ia dapat melihat


nama itu tidak memiliki kekuatan hukum apapun selain Ku .... itulah maqam
yang mengejutkan (Al Buhut) maqam terakhir, yang mana semua hati berhenti
di situ.

175. Bila engkau menafikan nam (al ism), maka tibalah engkau pada
wusul artinya : telah sampai .... Bila tiada terlintas padamu nam, maka
tibalah engkau pada ittisal artinya : hubungan.... Bila engkau dalam
hubungan, maka engkaupun Berkehendak dan berkemauan seakan-akan
engkau menafikan nam itu, dan tidak lagi terlintas nam itu; disebebkan
karena sangatnya tarikan kuat (Al Wajdu Bilmusamma) dari yang dinamai....
Itulah tingkat yang tinggi, derajat paling atas tentang kecintaan terhadap Zat
Ilahiat.

176. Engkau yang hilang dalam kelenyapan, dan Aku lah yang mendapati
dan menemukan, cukup kiranya engkau untuk Ku......

177. Engkau yang dicari dan Aku lah yang menemukan; Akulah yang
dicari dan engkau yang menemukan. Bukan dari kita siapa yang gaib!

- Bila selain Ku yang engkau temukan, semoga engkau memenangkan


peperangan.
- Bila Aku yang engkau temukan, engkaupun akan bingung tanpa bersama
Ku, dan akan terheran-heran kecuali di sisi Ku.

178. Jika engkau tidak melihat Ku, janganlah engkau meninggalkan nama
Ku.
- Bila engkau tidak melihat Ku di balik dua tantangan dengan sekaligus, maka
engkau tidak akan mengenal Ku.
- Bila engkau sudah tidak dapat melihat Ku ditambah pula dengan
kelengahan, maka itulah puncak hawa nafsu.
- Aku tidaklah berkesudahan hingga dapat dilihat di balik segala sesuatu.

179. Perjuangan pertama menuju pada Ku, hendaknya engkau memandang


pada Ku tanpa berkedip sekejap pun.

180. Hendaklah engkau mengatasi urusan dan persoalanmu dengan penuh


rasa takut, niscaya Aku teguhkan hatimu dengan kemauan kerasmu; Jangan
hendaknya engkau mengatasi dengan harapan dan angan-angan, niscaya akan
Ku bongkar manakala sudah hampir mencapai penyelesaian.

181. Bila selain Ku yang engkau jadikan penuntunmu, niscaya engkau


syirik kepada Ku, maka hendaklah engkau lari ke arah ddua pelarian, satu
pelarian ke arah langgananmu, dan satu pelarian dari tangan Ku.

182. Bila engkau tidak melazimkan zikir... menyebut dan mengingat


nama-nama Ku, sifat-sifat Ku dan pujian-pujian untuk Ku, niscaya yang
seharusnya zikir itu untuk Ku... berbalik pada dirimu sendiri, dari sifat Ku
menjadi sifatmu.

183. Nama itu memisahkan antara yang bernama dan yang dinamai, dan
memisahkan pula antara yang dinamai dan arti nama itu sendiri.

184. Lazimilah berbaik sangka, niscaya akan engkau lampaui hujat Ku


(dalil Ku) dan barang siapa yang sudah melintasi hujat Ku, sampailah kepada
Ku.

185. Tengoklah kepada Ku, bagaimana Aku mencabut kemashgulanmu


terhadap selain Ku.... sati di antara dua! Aku cemburu atasmu atau Ku
campakan engkau!

186. Sebelum perjuangan (mujahadah), mulailah terlebih dahulu


menyingkirkan dengan perjuangan, maka Aku lah yang tampil dengan api
kekerasan.... cintamu kepada siwa adalah siwa pula, dan api itupun siwa juga.
Tugas api adalah membumbung naik menjulang ke atas hati, akan terlihatlah
siwa dan apa yang daripadanya, saling bergabung dan berkaitan.

187. Singkirkan alasan-alasanmu, niscaya terlihat olehmu Aku bertahta


tanpa keraguan.

188. Pencinta-pecinta Ku adalah mereka yang sudah tiak mempnyai


pendapat lagi.

189. Andaikan engkau bisa menjadi baik untuk sesuatu, niscaya tidaklah
Aku menyatakan wajah Ku bagimu.
- Satu kebajikan berbanding sepuluh; Hal ini bagi orang yang tidak melihat
wajah Ku; Tetapi bagi yang sudah melihat wajah Ku, satu kebajikan itu sendiri
merupakan dosa. Kebaikan orang-orang yang berbakti adalah merupakan dosa
bagi orang yang didekatkan.

190. Bila siwa itu menjadi khatir yang tercela, niscaya runtuhlah surga dan
neraka.
191. Mohonlah ampunan Ku atas amal perbuatan hati, akan Ku teguhkan
engkau dari berbolak-baliknya hatimu.
192. Aku jadikan engkau jelek terhadap segala sesuatu, yang demikian
agar engkau terhijab dari antaramu dan antara Nya; jangan dilobangi hijab itu
untuk maksud perkenalan, bila terjadi yang demikian Ku kirim kepadamu
kehina-dinaan.

193. Al Wahdaniah (ketunggalan) adalah satu sifat dari sifat-sifat (Adz


dzatiah)nya Zat.

194. Benar itu ialah tidak berdustanya lisan.

- Ash Shidq itu ialah larangan lisan untuk berdusta, dan Ash Shiddiqiah
adalah larangan bagi hati untuk berdusta.
- Kedustaan hati mengikat janji tanpa perbuatan.
- Pendustaan hati ialah mendengarkan pada kedustaan itu.
- Kedustaan hati adalah menginginkan keinginan-keinginan.
- Pendusta itu adalah bahasa yang menguraikan selain Ku, dan Al Haq dan Al
Haqiqi adalah bahasa Ku.

195. Hati yang sudah melihat Ku adalah bejana malapetaka.


196. Aku telah bersumpah, bahwa tiadalah Aku didapati melainkan di
dalam shalat; Aku yang menenggelamkan malam dan membentangkan siang.
197. Bila engkau berdiri berhadap-hadapan di antara kedua tangan Ku,
semua akan berteriak memanggilmu, maka waspadalah, jangan di dengar walau
dengan hatimu, kalau engkau dengar, sama halnya engkau menerima
panggilannya.
- Bila Ilm yang memanggilmu dengan himpunan segala macam isinya di
waktu engkau melakukan shalat lalu engkau jawab dengan mengiakan, maka
jelas engkau telah terpisah daripada Ku.

198. Hai hamba! Hendaklah engkau keluar dari kemauan yang menjadi
kepentingamu, niscaya engkau akan keluar di atas batasmu.
199. Ia berkata kepadaku.. Di dalam surga itu segala apa yang mungkin
terlintas dalan ingatan dan pemikiran... sedangkan kenyataannya kesemuanya
itu jauh lebih bessar lagi, dan di dalam neraka itu juga segala apa yang mungkin
terlintas dalam engatan dan pemikiran.... sedangkan kenyataannya kesemuanya
itu jauh lebih besar lagi.

- Aku lah yang berada di balik kenikmatan surga itu.


- Andaikan kenikmatan surga itu telah mengenal Ku, niscaya ia akan putus
dari menghidangkan kelezatan-kelezatannya.
- Barangsiapa yang telah mengenal kenikmatan memandang wajah Ku serta
kenikmatan berada di Hadirat Ku, niscaya ia akan menyesali apa yang telah
hilang selama berada dalam kelezatan surgawi, yang hanya kelezatan indra dan
jasmani, dan ia akan rindu dan duka selama luput dari berpandangan kepada
wajah Ku.

200. Yang menjadi penghalangmu daripada Ku di dunia ini, itu jugalah


yang akan menjadi penghalangmu di akhirat kelak.

201. Hai hamba! Kawanilah Aku dengan sirmu (rahasia hatimu), niscaya
Aku menemanimu dalam kehidupanmu!..... Kawanilah Aku dalam
kesendirianmu! Niscaya Aku menemanimu dalam pergaulan.... Kawanilah Aku
dalam khalwatmu! Niscaya Aku menemanimu dalam himpunanmu!.

202. Hai hamba! Pemisah antara Ku dan antaramu adalah cintamu pada
dirimu, maka enyakanlah dan jangan hendaknya menjadi hijab pnutup dirimu.

203. Hai hamba! Telah syirik siapa yang dihentikan oleh tutur kata..... dan
ikhlaslah barangsiapa yang dihentikan oleh yang bertutur kata.

204. Ucapkanlah : MAULAYA WAJJIHNI BIWAJHIKA LIWAJHIKA


Wahai pelindung diriku, arahkanlah diriku dengan wajah Mu untuk menatap
Zat Wajahmu

205. Hai hamba! Bila engkau bersandar kepada sesuatu, maka engkau
akan berpegang teguh pada sandaranmu, berarti engkau telah berpegang teguh
pada selain Ku; Dan akan Ku tulis engkau sebagai orang yang musyrik.

206. Hai hamba! Telah Ku ciptakan segala sesuatu semuanya untukmu,


sedangkan Aku jauh lebih dari segala sesuatu itu, Akulah yang mempunyai
karunia-karunia itu, maka belakangilah sesuatu-sesuatu itu di punggungmu dan
palingkanlah wajahmu menghadap pada Ku.

22. SAMPAI KEPADA ALLAH


Tuhan ku berseru kepada ku : Hnedaklah engkau berjalan menuju kepada Ku,
dan Akulah yang menjadi pandu penuntunmu. Maka akupun berjalan... kulihat
diriku sendiri; Ia pun berseru lagi :
Lalui semuanya! Arahkan tujuanmu kepada Ku saja. Sungguhpun bila engkau
berhenti bersama dirimu yang tercela, niscaya engkau akan binasa, dan bila
engkau berhenti dengan dirimu yang terpuji, niscaya engkau terhijab.

Sungguh, bila engkau telah terhijab dengan panggilan-panggilan yang terpuji


itu, maka engkau akan didatangi oleh panggilan-panggilan yang tercela, dan
dengan paksa engkau akan di tawan, penyebabnya tak lain karena engkau
terhijab.

Aku pun melanjutkan perjalanan, maka kulihat akal pikiranku. Sambung Nya :
Lalui saja dan jangan diperdulikan, tetapkan tujuanmu pada Ku! Bila akal yang
datang akan disusul oleh hikmat kebijaksanaan; dan bila ia pergi maka ia pun
akan melihat dirinya. Bila ia membawamu masuk ke dalam hikmat
kebijaksanaan, ia pun akan berkata kepadamu Ikutlah aku, maka kekuasaan
sudah berada di tangannya.

Bila ia datang, maka engkaupun akan menyertainya kepada hikmat


kebijaksanaan; Bila ia pergi engkaupun akan mengikutinya menuju kepada
hijab. Langkahi saja siapa-siapa yang datang dan siap-siapa yang pergi. Aku
teruskan perjalanan... ujarNya pula : Engkau telh melewati bahaya itu!... kulihat
kerajaan duniawi seluruhnya dengan sekali pandang; Berkata pula Tuhan
kepadaku : Lalui dan langkahi apa-apa yang berada di dalamnya! Maka
kesemuanya itu adalah kesenangan nafsumu dan impian-impiannya.

Kemudina kulihat kerajaan-kerajaan semuanya dengan sekali pandang; Kata


Nya pula : Lalui dan langkahi apa-apa yang berada di dalamnya! Maka
kesemuanya itu adalah kesenangan akal budimu dan rumahnya. ..... Aku pun
melalui, kemudian kulihat hikmah kebijaksanaan menyambut.

Kedatanganku dan membukakan pintu-pintu, dan di balik pintu-pintu itu


terdapat pintu-pintu lagi, yang di dalamnya terdapat khazanah-khazanah, dan
khazanah-khazanah itu berisi pula harta-harta kekayaan, lalu akupun didatangi
oleh akal, jiwa, ilmu dan makrifat, semuanya serempak mendatangiku; maka
Tuhan pun berkenan berkata padaku : engkau sudah menjalani segala sesuatu!..

Lemparkan himat kebijaksanaan kepada orang-orangnya dan buatlah perjanjian


dengan mereka, supaya mereka membangun gedung-gedung dan rumah-
rumahnya; inilah apa yang mereka tuju, mereka menginginkan agar engkau
bercerai, dan mereka menceraikan engkau. Tetap sajalah engkau berjalan
menuju pada Ku! Dan kesemuanya itu tidak layak bagimu utuk engkau tempati,
engkaupun bukan penghuni yang herus menetap untuk selama-lamanya di sana!

Kembali aku berjalan lagi, kulihat orang-orang lalu lalang dan mereka yang
berjalan, kulihat pula para ulama dan para zahid dan para muttaqien. Lalu
berkatalah Tuhan padaku : Orang-orang yang lalu lalang akan sejurus dengan
arah tujuannya; dan sekali-kali tiadalah orang yang lalu-lalang itu akan
mengajakmu kecuali kepada maqam dan iqamahnya, dimana mereka berada;
Maka bila engkau tertarik oleh orang alim atau ulama, engkau akan diundang
kepada ilmu penegtahuannya; bila engkau menyukai orang arif, engkaupun
akan dilambai kepada makrifat; lintasi saja mereka itu semua. Kesemuanya itu
adalah lalu-lintasmu dan bukan tujuanmu, juga bukan tempatmu untuk tinggal...

Aku melanjutkan berjalan lagi ... ku lihat segala sesuatu, kulihat wajah di balik
wajahnya, dan apa yang berada di balik arti dan makna, kesemuanya
menawarkan diri padaku dan berlomba menariku dengan berbagai usaha agar
aku berpaling padanya. Tuhan pun berkata lagi : Segala sesuatu itu menawarkan
diri melalui penglihatanmu yang memandang, dan mengaitkan akan arti dan
makn dengan selera penggembaraanmu itu; waspadalah pada pandanganmu,
jangan menengok kepada sesuatu agar mereka jemu dan menutup lesannya
supaya tidak lagi menawarkan apa-apa padamu; Simpanlah kemauan kerasmu
dari segala arti dan makna, dan himpunlah atas Ku. Sungguh jika mereka itu
tidak melihat engkau berkemauan keras, niscaya mereka tidak menawarkan dan
menarik-narimu.... Akupun menahan pandanganku dan menaggalkan kemauan
kerasku. Dengan nada gembira Ia pun berseru : Marhaban!! Terhadap hati
hamba Ku yang sunyi dari segala sesuatu. Lalu Ia pun bersabda : Engkau telah
lulus! Engkau sudah melewati alam semesta (Al Kauniah) dan sekarang tiba
dalam perjumpaan dengan Pencipta Alam Semesta (Al Mukawwin).

Di saat itu aku mendengar Sabda-Nya : KUN (jadilah) disusul pula oleh sabda
Nya : Jangan engkau berhenti dalam pesona KUN Lalui! Lewati! Walaupun
Kun itu sumber pokok alam semesta; Jangan engkau dibawa-bawa hingga
turun ke bawah lagi dari maqammu. Kulalui Kun dengan merendah-rendah;
Sabdanya pula : Akulah Allah.... Ku sahuti : Engkaulah Allah Engkau
pelindung ku (Maulaya) yang menfitrahkan daku untuk berdiri di antara kedua
tangan Mu yang menjadi persai untukku dari sambaran perintah dan larangan
Mu.

23. PENGLIHATAN YANG AGUNG


Tuhan bertutur kata kepadaku : Pertama hijab adalah hijab bagi penglihatan (Ar
Ruyah) dari penglihatan beralih ke hijab Pendengaran... engkau mendengar
demi untuk Allah; Dan pendengaran itupun bertingkat-tingkat ... dari
pendengaran demi untuk Allah ,... beralih ke hijab. Diam untuk Allah dan diam
itupun bertingkat-tingkat pula.

Tutur katanya pula : Bagaimana hingga engkau diam membisu? Mengapa tidak
engkau pikirkan? Mengapa engkau tidak berkemauan? Akupun menjawab :
Maluaya (pelindungku)! Bagaimana aku tidak memikir? Maliaya, bagaimana
aku tidak berkemauan?

Dian pun membalas : Bila sudah jelas bagimu bahwa Aku lah pelaksana segala
sesuatu, untuk apa pula engkau memikir? Jika sudah terlihat segala sesuatu
adalah perbuatan Ku, sedang engkau telah memikirkan, niscaya jiwamu akan
datang kepadamu memberi jawaban: Yang ini perbuatan Nya dan yang ini
perbuatan mu.

Bila engkau dihadapkan pada pemisahan, sebenarnya tidak ada pemisahan...


Niscaya akan berpisahlah engkau.... Bila engkau diperlihatkan tercerainya...
tiada perceraian yang sebenarnya.... niscaya engkau bercerai pula.... Bila
terputus kaitan oleh perceraian, engkau akan datang kepa Ku dengan
mempersiapkan pengaduan dan perbantahan serta meu merebut apa yang Ku
punyai.... Ketahuilah, engkau telah melihat kepada Ku, bahwa Aku lah
pelaksana merangkap pelaku atas segala sesuatu, jangan dengan ilmu untuk
mengetahui pelaksana dan pelaku segala sesuatu....dengan demikian engkau
akan membisu demi untuk Ku, dan tidak lagi engkau akan memikirkan.
Sesungguhnya pembahasan mendalam dalam ilmu pengetahuan itulah yang
menyebabkan terbersit engkau agar berfikir.

Tuhan berkata pula padaku : Bila telah tertangkap olehmu antara perbuatan dan
yang melakukan dari balik punggungmu, bukan di anatar kedua tanganmu ...
dan engkau telah melihat tiada antara Ku dan antaramu engkau dan tiada di
antara Ku dan antaramu perbuatan, niscaya tiadalah engkau berkemauan keras.
Tuhan menyambung lagi kata Nya : Aku mempunyai perkataan-perkataan suatu
pandangan berupa kata; dan Aku mempunyai perbuatan-perbuatan suatu
pandangan berupa Pelaksanaan dan Aku mempunyai ilmu-ilmu suatu
pandangan berupa Ilmiah dan terhadap segaala sesuatu pandangan berupa
Berdirinya (Qoyyumiah). Dan setiap yang memandang berkisar pada siapa
yang melihatnya, apa yang dilihatnya (Pandangan berupa ucapan kata).

Dan pandangan berupa ilmu, ialah alim ulama yang mengatakan dalam suatu
ketika... Aku merasa bahwa Allah mengilhami diriku dengan ungkapan yang
demikian,,,; maka ia seakan-akan melihat Allah dalam ilmunya.

Dian Ia bertuturkata lagi kepadaku : Orang yang sudah memiliki penglihatan


dalam berkata-kata, ia melihat Ku bila ia berkata, dan ia di atas sesuatu bahaya;
juga para alim yang sudah melihat Ku tahu benar adanya bahaya.

Akupun bertanya kepada Nya : Maulaya, apakah gerangan bahaya itu ??? IA
menjawab : Ucapan dan tutur katanya tidaklah terus menerus baginya dan tidak
berkekalan, maka apabila ia berpisah dengan penyebab yang ia dapat melihat,
niscaya ia akan berpisah dengan penglihatan itu, maka inilah bahaya itu...
berpisah dengan tutur kata niscaya ia akan berpisah dengan penglihatan,
berpisah dengan ilmu niscaya ia akan berpisah dengan penglihatan.

Katanya pula : Yang mempunyai penglihatan berupa kata-kata, ia melihat Ku


bila ia berkata, dan tiada melihat Ku manakala ia diam, maka berarti
penglihatannya yang sebenarnya dalam tutur katanya. ... tetapi sebesar-besar
melihat adalah dalam diam bukan dalam ucapannya.... dan engkau dapat
melihat yang demikian itu sedangkan ia tidak dapat melihatnya, karena
sesungguhnya engkau melihat Ku tidak dalam tutur kata, melihat Ku tidak
dalam perbuatan, melihat Ku tidak ilmu dan melihat Ku tidak dalam amal,
maka engkau sudah memiliki Penglihatan Yang Agung, engka melihat Allah
dalam segala sesuatu, dalam diam dan dalam ucapan, engkau melihat Nya tanpa
dinding penutup antaramu dan antara Nya.

Perktaan itu dinding penutup dari penglihatan.... begitu juga halnya ilmu dan
amal, sesungguhnya Aku mempunyai hamba-hamba yang sanggup melihat dari
balik tirai hijab, maka bila engkau telah melihat Ku bukan dari bawah tirai,
bukan juga dari bawah nama, maka sesungguhnya engkau telah melihat Ku
dengan Penglihatan Yang Agung. Aku mempunyai hamba-hamba yang tidak
membesar-besarkan penglihatan ini, karena telah tersingkap nyata dan tidak Ku
ijinkan tirai penutup bagi mereka, telah Ku angkat pula nama dari mereka,
sudah tidak Ku ijinkan lagi nama menjadi penghalang baginya.

Lalu ku ajukan pertanyaan manja kepada Nya : Maulaya, apakah tabir penutup
itu? Dan apakah nama itu? Ia pun menjawab : Tabir penutup dan nama itu
adalah perkataan yang mana di dalamnya, kesedihan dan ketakutan, ia melihat
Ku di dalamnya, dan apabila ia telah melihat Ku dan sudah tidak melihat tabir
pnutup dan tidak melihat nama di antara Ku dan antaranya, niscaya ia
tercengang dan akan disngkap oleh keheran-heranan (Al Buhtu wal buhut).

Dan ia berkata kepadaku : Hai yang memiliki Penglihatan Yang Agung


engkau dapat melihat orang yang dapat melihat, orang yang beramal, orang
yang berdiri tegak, engkau dapat melihat pada penglihatan mereka, dan dikala
mereka keluar dari penglihatan mereka. Dan kata Nya : Tiada saling duduk
bersama semajlis, kecuali yang sudah di tahap Penglihatan Yang Agung dan
lanjut Nya : Yang saling berkawan duduk adalah mereka yang di ambang
penglihatan dan di belakang dari kanan kiri ambang pintu itu diddapati
Baussifah (Yang sudah keluar dari sifat manusiawi ketika mereka sudah berada
di ambang pintu).

Yang mempunyai penglihatan itu ada dua : Pertama yang mempunyai Asma
dan tabir penutup, dan itulah seorang kawan duduk yang berbahaya; Karena
bukanlah kawan duduk yang mengakui Aku sebagai Tuhannya yang dapat ia
melihat pada Ku di dalam hijab, maka ia adalah kawan duduk bagi apa-apa
yang ia melihat Ku di dalamnya dan bukanlah ia kawan duduk Ku;
Kdua : Yang berpisah dari nama-nama serta dari tabir penutup... ia akan
tercengang, ia akan melihat Aku dalam keheran-heranan.

Perkenankanlah ku ajukan pertanyaan ini : Maulaya; Apakah Al Buhut


(keheran-heranan) itu? Jawabnya : Keheran-heranan itu adalah hendaknya ia
keluar dari nama-nama dan tabir penutup, lalu ia melihat Aku, maka ia akan
merasakan ketenangan dengan penglihatannya, dan di ssaat itu tidak sepatah
ucapanku dan juga tidak sepatah pun ucapan dari padanya.

24. SOPAN SANTUN BERMAJELIS


(1)
Yang membeberkan hajat kebutuhan dan keluh kesah kepada Ku, telah jelas
terlontar dari lisannya jalan pelarian
Simpanlah hajat kebutuhanmu dalam hatimu dan jangan engkau beberkan,
niscaya Aku menjadi tempat pelarianmu dan bukan lisanmu.
Sesorang yang tenang tenteram, ialah siapa yang menjadikan Aku tempat
pelariannya, bukan lisannya; lisan-lisan itu tidak mendapat perlindungan Ku,
dan kata-kata pun tidak pula mendapat pertolongan Ku. Hendaklah engkau
menutup lisanmu agar diam, dan engkau sajalah yang berdiri di antara kedua
tangan Ku

(2)
Kawanku yang semajelis adalah hamba-hamba Ku yang paling dekat pada
Ku, melebihi dekatnya dari pada mereka yang melihat Ku... Duduk semajelis
dengan Ku adalah buah dari Penglihatan Yang Agung yaitu melihat Ku
dalam segala sesuatu dan pada setiap waktu, dan barangsiapa yang
mencapainya, maka ssampai pula kepada ketenangan dan ketentraman di bawah
ssayap ke Maha Agungan dan Ketetapan nan Teguh.
Kawan Ku yang semajelis adalah kawan duduk Ku, sudah enggan berkawan
duduk dengan selain Ku; Kalau bersama Kitab Ku, ia pun akan berpisah dengan
Ku; atau bila ia berkawan duduk dengan sunnah Nabi SAW. Maka keluarlah ia
dari majelis Ku. Ia hanya dapat keluar kepada sunnah dan Kitab karena hajat
yang mesti, darurat, yang artinya bahwa hanya dengan izin dan perintah dari
pada Ku, barulah ia dapat keluar dan berkawan duduk bersama hamba-hamba
Ku.

(3)
Bila engkau melihat Ku, jangan hendaknya engkau menjadi kawan duduk
Ku; Penglihatan itu jangan diartikan izin untuk berkawan semajelis, melainkan
bila penglihatan itu adalah Penglihatan Yang Agung yang dengannya engkau
melihat Ku dalam segala sesuatu dan pada setiap waktu.
Duka cita itu adalah sifat hamba Ku. Barang siapa yang menghambakan diri
pada Ku, akan memperoleh kesedihan hingga sampai ke tahap Milhat Ku dan
yang sudah melihat Ku akan bersedih pula sebelum sampai pada Berkawan
duduk semajelis Dan barang siapa yang Berkawan duduk semajelis dengan
Ku disusul pula oleh kesedihan Luput daripada Ku. Karena Aku yang akan
meluputkan . Keluputan itu aalah sifat Ku, karenanya, duka cita dan kesedihan
itu akan selalu menyertainya. Sesungguhnya yang menyertainya itu adalah jru
bicara dari lisan-lisan di bawah pemeliharaan Ku. Adapun Berita gembira (Al
Busyra) adalah juru bicara dari lisan-lisan keridhaan Ku; Jangan hendaknya
engkau berhenti, baik dalam duka maupun suka, berdirilah hanya untuk Ku,
sebagaimana layaknya para Kawan duduk semajelis dengan Ku, berdiri di
anatara kedua tangan Ku. Baru tahap inilah Nur Cahaya Ku akan memancar,
menyinar, menjulang naik ke lubuk hatimu.
(4)
Di dalam kawan duduk semajelis, sudah tiadalagi zikir, dan tiada pula
berzikir, dalam ia memandang tidak berbalik kembali pandangannya, paham.....
tiada ucap pemahamannya.

(5)
Sudah berkesudahan keteguhann ilmu-ilmu pada ketenangan makrifat, telah
berkesudahan ketentuan makrifat pada budi pekerti penglihatan, telah
berkesudahan budi pekerti penglihatan pada budi pekerti kawan duduk
semajelis. Kesemuanya telah berlalu, kesemuanya sudah dikenal dan dialami,
maka ia pun akan melihat Ku antara hati dan kemauan kerasnya, dan antara
lidah dan tutur katanya.
Maka berserulah Ia kepda Ku Seorang kawan duduk semajelis sudah tidak
lagi memohon fatwa dan tidak pula memohon perkenan, tidak juga pertolongan
apalagi minta-minta, ungkapan pun juga tidak..
Bila fatwa yang diminta, maka ia pun menurun kepada ilmu, bila yang diminta
perkenan, balik lagi ia kepada makrifat, jika pertolongan yang diharapkan,
turunlah ia ke hajat, dan jika ia masih minta-minta, jelas dia turun ke kefakiran,
jika ungkapan yang diharapkan ia turun ke berpaling.
IA pun melanjutkan tutur kata Nya : Di sini, kawan duduk semajelis, baginya
dari setiap sesuatu itu berupa ilmu, dan dari setiap ilmu itu adalah zikir, itulah
sebenar-benar hamba Ku yang sudah sepenuhnya melingkupi segala himpunan.
Selanjutnya : Pandanglah apa yang dilihat Kawan duduk Ku ia sudah melihat
takdir-takdir, dan melihat bagaimana Aku menghalau takdir demi takdir, dan
melihat bagaimana Aku mengulangi takdir-takdir itu dengan aneka cara yang
Ku kehendaki; karena sesungguhnya Akulah yang memulai penciptaan
kemudian mengulanginya (Al Mubdi-u wal Muied). Keyakinannya itu terlihat
merupakan Nur antara kedua tangan Ku... Nur, cahaya berpadu cahaya yang
bermakrifat. Dan ia melihat Ku, sebagaimana Aku menjulangkan Nur demi Nur
... Cahaya demi cahaya...atas siapa yang Ku kehendaki.... tampak semua itu,
terlihat semua ilmu dan semua kejahilan, sehingga tampaklah Duka dan
waham; Terlihat jelas bagaiana cara Ku menimpakan Dua dan waham dengan
apa dan kepada siapa yang Ku kehendaki. Hati demi hati terlihat jinak dan
tenang manakala duduk bersama Ku semajelis.
Disambung pula kata Ny : Seorang yang sudah Ku jadikan Kawan duduk
semajelis tidak lagi ke derajat ilmu dan makrifat, kecuali dalam keadaan
mendesak, kalaupun mendatangninya juga, maka datangnya dengan penuh cara
yang sopan, begitu selesai apa yang diperlukan, ia pun surut ke tempat asalnya.
Mendatangi dengan cara yang demikian, niscaya derajat ilmu dan makrifatnya
tetap diperoleh tanpa kehilangan derajatnya yang semula. Ia akan Dimiliki
dan tidak akan dilepaskan dan tidak memperoleh kemenangan.

(6)
Bila engkau duduk di antara kedua tangan Ku, dan masih ada padamu ilmu
dan makrifat yang saling berkaitan pada dirimu, niscaya Aku akan
mengeluarkan engkau dari majelis Ku untuk kembali masuk ke dalam ilmu dan
makrifat, dan Ku serahkan padamu menentukan pilihan untuk mengambil
keputusan dan hukum antaranya dan antaramu.
Bila putusanmu duduk dalam ilmu, maka ilmu itu tidak mendatangimu dengan
kepuasan, lalu engkau pindah kepada makrifat, maka makrifat itu tidak
mendatangimu dengan kepuasan; Kedudukan saja engkau di antara kedua
tangan Ku. Dalam Majelis Ku tidak akan dimasuki oleh langganan-langganan.
Kawan duduk Ku tidak akan menoleh ke belakang dan tiada lisan yang akan
mengajak bicara.

(7)
Kawan dudu Ku itu sudah melihat pada Ku, bagaimana Aku memegang
segala sesuatu dan bagaimana sesuatu-sesuatu itu tidak dapat saling berpegang
tanpa Aku, sedangkan ia sudah melihat bahwa segala sesuatu adalah buatan Ku,
tidak dapat berdiri tegak melainkan dengan Ku. Tiada juga dikecualikan duka
cita dan waham, tiada pula benih-benih buah buahan yang berserakan di jalan-
jalan, tidak juga batu merah tembok bangunan, semua, semua... Maka segala
sesuatu itu dalam genggaman Ku. Jika telah fana kawan duduk Ku, baru Ku
ungkapkan tirai hijab, dan lumatlah langit-langit dan bumi-bumi demi
kerinduan kepada mereka agar mereka menjadi kawan duduk dan dekat
bersanding dalam majelis Ku yang baru.

25. KESABARAN
Pintu yang terdekat dengan pintu Ku adalah pintu kesabaran. Demikianlah kata
Tuhan kepadaku: Tiada pintu lagi antar Ku dan antaranya, dan pintu-pintu lain
berada di belakang pintu sabar. Setiap pintu satu hijab, dan pintu kesabaran
tidaklah berhijab, maka hendaklah engkau iqamah di dalamnya.

Engkau menginginkan Tuhanmu?


Hendaklah engkau memandang kepada Nya dan bersabar, hingga Dia yang
mendahuli!
Engkau menginginkan Tuhan mu?
Hendaklah engkau memandang kepada Nya dengan kekhusukan, sampai Dia
yangmengajakmu!

Tutur Tuhan kepadaku : Bila engkau menjadi seorang yang mulaia dengan
kesabaran atas Ku dan kesabaran atas Ku itu menjadikan engkau mulia; Karena
sesungguhnya engkau telah berdiri di Gerbang Kesabaran, berarti engkau
berdiri di kemuliaan, maka ucapkanlah kalimat-kalimat kesabaran. Dan kata
Nya : Kalimat-kalimat pintu kesabaran ialah : Ya... Tuhan ku! Engkaulah yang
berkuasa berbuat atas segala sesuatu.

IA telah mendatangi hamba Nya dengan suruhan : Hendaklah engkau


mengerjakan sesuatu ini dan itu!! I mendatangi hamba Nya dengan membawa
hijab, agar hamba Nya tidak melihat amal perbuatannya!
Ia pula yang menguji.
Ia pula yang mencoba.
Hamba itu telah termakan fitnah oleh amal perbuatannya.
Lalu apa yang dikerjakan oleh si hamba itu?
Ia harus bersabar demi tuhannya, ia harus bersabar atas Tuhannya, hingga tiba
saatnya Keyakinan mendatanginya.
Bila ia diserang dengan tebasan pedang hendaklah ia maju menghadapinya.
Arti Ayat : Bukanlah kamu yang membunuh mereka, tetapi Allah-lah yang
membunuh mereka (QS. Al Anfal 8:17).

Maka inilah ungkapan hakikat, Dialah yang membunuh kuffar itu ... satu
persamaan yang terjasdi, pada dhahirnya ... Kaum Mislimin telah bersabar!
Penuh ketabahan serta gigih mempertahankan ... mereka diserang oleh pedang
mereka, malahan maju dan tetap melakukan perlawanan. Bila mengatakan
Hendaklah kalian melakukan peperangan dan saling bunuh membunuhlah!
Lakukanlah! Laksanakan! Dan berjihadlah dengan penuh perasaan mengetahui
akan kebenaran, bahwa Dia lah yang membunuh dan Dia lah yang
melaksanakan segala sesuatu.

Dan Ia bertutur kata kepadaku : Bila aku telah datang kepadamu dalam
penglihatanmu kepada Ku, maka sudah tidak ada lagi kemuliaan. Kemuliaan
telah tunduk kepada Yang Maha Mulia, dan Yang Maha Mulia telah
mendatangi hamba-Nya.

Aku telah mendatangkan engkau kepada Ku, dalam penglihatan Mu itu engkau
telah berada di maqam kemuliaan. Bila engkau berpaling, maka Aku lah yang
meluruskan. Bila engkau menoleh, Aku lah yang mengembalikan.

Seru Nya Pula : Pintu Hadirat Ku, ialah pintu kesabaran atas Ku.

Dan kata Nya : Di dalam pintu kesabaran atas Ku engkau akan dapat
mengetahui siapa engkau dan siapa namamu di sisi Ku.

Dan kata Nya : Ilmu itu tangga naik menuju makrifat, setelah itu ia akan
melihat dirinya dan tiada lagi terlihat makrifat... makrifat itu tangga naik
menuju penghentian (Al Waqwah) penghentian itu tangga naik menuju rahasia
(As Sir), setelah itu akan terlihat penghentian dan tidak lagi terlihat rahasia
Dan setelah itu tidak terlihat lagi selain Nya.

Lalu Ia bertutur kata padaku : Sesungguhnya engkau telah melihat segala


sesuautu, dan engkau akan melihatnya apapbila ia naik, apa yang terlihat adalah
dirinya sendiri; maka engkau jangan naik kepada sesuatu sekalipun ia
mengungkapkan tentang dirinya kepadamu. Jangan pula engkau bersembunyi di
kala sesuatu itu mendatangi untuk mengikutimu, tetapi bersembunyilah
manakala ia mengajakmu berbicara.

26. SIAPA PELINDUNGKU DARI HAWA NAFSU


Aku dihentikan di ilmu Nya, maka kulihat bagaimana ulah Nya membuat
derita. Dan Dia membuat kebahagiaan oleh sesuatu sebab, yang mana sebab itu
adalah Dia sendiri.

Kulihat pula tiadalah Ia mendhahirkan ilmu itu. Kulihat pula cara-cara Nya
memalingkan kekufuran dan memalingkan keimnanan. Akupun menjerit
memohon pertolongan ... Hai ilmu! Tolonglah kau! Ilmu menjawab : Tempat
kembaliku adalah ilmu Nya... aku menoleh ke makrifat : Hai makrifat!
Tolonglah aku! Jawabnya : Tempat kembaliku kepada ilmu Nya!... Aku takut!
Kengerianku menjawab : Aku tidak bisa menolongmu. Akupun berdoa Ya
Tuhan ku Ia menjawab L Labbaika Kusahuti :Labbaika w Sadaika.... Ia
berkata : Apa pintamu? Teguhkan aku; Selamatkan daku dari hawa nafsu:

Ketahuilah! Tutur Nya... Hawa nafsu itu adalah utusan dari utusan-utusan
keperkasaan Ku yang teguh, yang telah Ku kirimkan kepadamu, dan didalam
hawa nafsu itu terdapat api-Ku, apabila hawa nafsu itu datang, niscaya api-Ku
datang pula, maka masukilah! Bagaimana caraku memasukinya?... Jangan
engkau memohon pertolongan dengan ilmu dan jangan dengan makrifat,
keduanya jika engkau minta pertolongan, maka engkaulah beserta ilmu dan
makrifat yang menjadi tawanan hawa nafsu.

Dan ketahuilah... tiada penolong dari hawa nafsu itu kecuali Allah.... Dan
sekali-kali tiadalah engkau dapat keluar dari Api hawa Nafsu dengan lmumu
dan tidak juga dengan makrifatmu. Dan api itu akan membakar bagian-bagian
dirimu yang sudah minta tolong pada ilmu dan makrifat, bila telah selesai
membakar, maka engkau akan suci bersih dan enggkau sudah mencapai...
Bahwa tiada penolong selain Ku ... lalu engkau akan menjerit pada Ku, Aku
pun segera mendatangimu, lalu Ku singkirkan api Ku, maka tidak lagi akan
kembali padamu.

27. PERTIMBANGAN AMAL DAN PERTIMBANGAN IMAN


Tuhan berkata kepadaku : Aku telah menimbang amal perbuatan para orang
yang beramal, maka kesemuanya tidak dapat menandingi sekurang-kurangnya
makrifat para arifin yang paling sedikit.

Dan Allah melanjutkan : Bahwa amah sholeh apabila dilakukan oleh selian
para arifin Bilah akan berkesudahan sia-sia, gugur atau hapus sama sekali,
maka amal tersebut bagaikan abu yang ditiup angin dengan keras pada Hari
Badai,... maka tumpukan amal yang membukit tidak dapat menandingi zarrah
dari iman, karena tiadalah pembuat amal itu dalam hakekatnya kecuali Allah...
dan tiada yang berbuat perbuatan selain Nya.

Sehingga ada orang yang mengakui bahwa di sampingnya suatu perbuatan.. lalu
ia mengatakan Aku telah mengamalkan

Perhatikanlah : Bahwa hanya dengan maktifat orang dapat beramal, dan bukan
dengan amal orang dapat bermakrifat.

28. AKAL BUDI


Akal budi itu menjelaskan kepadaku : Kediamanku di dalam hikmat
kebijaksanaan, rumah hikmat kebijaksanaan tiada berpintu, dan tiada pagar,
mudah dimasuki ... kebenaran dan kebatilan tiada berbeda, yang indah dan yang
buruk dapat memasukinya.
Sluruh rumah dipenuhi dengan pintu-pintu dan itulah rumah tanpa atap tanpa
naungan, tiada juga tanah untuk dasar rumah itu, segala sesuatu bebas masuk ke
dalam, segala sesuatu boleh berkata sesuka hati, pengaduan apapun ku terima,
boleh saja aku dimusuhi dan aku berada di setiap kemauan.

Engkau telah memasuki Hadirat itu dan engkau telah meninggalkan aku dengan
Nur cahaya maqammu, tetapi aku tetap bersamamu, aku tidak akan
meninggalkan engkau, karena maqamku itu ada di dalammu, maka tiada ku
terima pemberitahuan apappun daripadamu dan aku pun tidak mengerti
sikapmu... demikianlah penjelasan akal.

(Akal budi itu suatu alat untuk mengenal dan mengetahui sesuatu, serta
menjadi tali penghubung pula, dan kesudahannya ia dapat mencapai hikmat
kebijaksanaan untuk membina dan menyusun dengan satu perhitungan yang
tepat. Dan inilah batas-batasnya serta melangkahi dengan berupaya menuju
kepada Nur Cahaya Hadirat... dan di dalam Nur Cahaya Hadirat itu sang akal
budi tidak memahami apapun karena sudah bukan maqamnya lagi).

29. JALAN LALU DAN PENYEBERANGAN


Seorang wali yang melazimi di maqam Hadirat berkata : Makrifatku terhadap
segala sesuatu merupakan makrifat yang pulang pergi, maka tiadalah maqam
bagiku dalam ilmu dan tidak pula dalam makrifat.

Aku hanya melewati jalan lalu saja.

Bagaimana engkau dapat melalui ilmu-ilmu itu dan bagaimana pula engkau
melewati makrifat-makrifat itu

Hendaknya engkau jangan mendengar, agar tidak menjawab.. jangan pula


menoleh agar tidak berpisah... Maka Allah itu berada di depan segala sesuatu.
(Dalam sebuah hadits Nabawi yang mulia)
Hendaknya engkau hidup di dunia ini bagaikan pendatang asing yang lewat di
jalan lalu

(Arti dan makna Hadist di atas ialah, hendaknya seorang abid itu menghimpun
kemauan kerasnya kepada Allah meskipun dikelilingi oleh daya tarik dan
rangsangan-rangsangan duniawi yang menawan, walaupun rangsangan-
rangsangan itu berupa ilmu-ilmu dan majkrifap-makrifat. Bagi seorang abid
hendaknya Walau memasuki tetap dalam tujuan dan hanya lewat dan lalu
menuju yang lebih tinggi... yaitu kepada Allah semata, yang nampak di depan
untuk selama-lamanya yang juga menjadi sasaran ilmu dan makrifat).

Bila engkau memasuki ilmu-ilmu, maka masukilah sebagai musafir lalu....


anggaplah jalan lalu dari sebuah lorong, maka jangan sekali-kali berhenti
supaya tidak didatangi oleh para pembinanya yang akan merangsangmu dengan
rumah-rumah indah karyanya, maka akan terlihatlah padamu Nur Cahaya Ku
telah menggunakan tenaganya memancar di atas rumah-rumah mereka.
Engkaupun akan tinggal di dalamnya rumah-rumah mereka dengan nyaman dan
gembira tidak lepas dari Nur Cahaya Ku yang yang telah memancarkan
menjulang naik, maka engkau tidak berhenti berdiri kecuali atas Ku. Engkau
tinggal bersma mereka, yang sebenarnya aalah engkau tinggal bersama Ku,
tidak bersama mereka.

Bila engkau menghendaki Aku naik atasmu dengan Nur Cahaya Ku, niscaya
Aku naik; Dan jika engkau kehendaki Aku mengutusmu kepada Nur Cahaya
Ku, niscaya Ku utus.

30. PENGLIHATAN KUN


Hendaklah engkau terbang menuju kepada Ku Wahai hamba Ku! Jika engkau
tidak sanggup maka Menyebranglah Wahai yang lemah.

Jika kedua cara di atas tidak mampu engkau lakukan, maka cara terakhir adalah
menjeritlah kepada Ku. Wahai yang karam! Hingga engkau tiba di maqam
tempatmu berdiri pada Ku, agar dengan demikian Ku angkat engkau ke tempat
penghentian sebelum KUN (jadilah).

Baik yang engkau lihat maupun yang engkau dengar di tempat penghentian, itu
semua adalah ilmu Ku, tidak dapat engkau mengetahui dalam maqam mu yang
rendah.

Yang sudah engkau ketahui adalah giliranmu yang pertama, yaitu kehidupanmu
di dunia ini, hal ini jangan hendaknya engkau datang pada Ku dengan sesuatu
dari apa-apa yang telah terungkap padamu. Dan sesungguhnya, Aku akan
mengeluarkan engkau kepada kekuasaan kerajaan Ku dalam kehidupan di
akhirat.
Adapun giliran mu yang ke dua, adalah dari apa yang tidak engkau ketahui dan
tidak akan Ku beritahukan padamu dalam maqam yang sekarang ini, dan kata
pasti yang berlaku untukmu.

Dalam sebuah Hadis Syarif, Rasulullah Saw. Bersabda :


Tidak seorang pun dari padamu yang dapat masuk surga dengan amal
perbuatannya, hanya dengan Karunia dan Rahmat Allah juga

Maka, temuilah Aku, dan jangan membawa serta amal perbuatan, lemparkan
semua itu! Jangan engkau mengucapkan Aku telah mengamalkan Aku telah
beramal Hendaklah engkau masuk pada Ku tanpa daya tanpa upaya, tanpa
tenaga tanpa kekuatan, kecualai dengan Ku, Dengan demikian engkau benar-
benar menjadi seorang Arif.

31. JANGAN BERBANTAH MENGENAI HUKUM-HUKUM KU


Bahwasanay Aku mempunyai hamba-hamba bila Ku ajak bicara mereka tidak
mengajukan pertanyaan sesuatupun untuk pengertiannya; Dan bila Aku berkata
kepada mereka pun tidak membaantah, bila Ku perintahkan sesuatu, tidak juga
bersedih.

Mengapa mereka harus murung?

Barangsiapa yang bersedih hatinya dalam sesuatu persoalan, niscaya ia akan


jatuh antara maju dan mundur, Dan siapa yang mengajukan pertanyaan untuk
mencari pengertian dalam pembicaraan, niscaya akan jatuh antara kemantapan
dan kebimbangan.

Hanya hamba Ku yang sebenar-benaranya yang langsung bertindak untuk


segera melakukan dan melaksanakan perintah Ku.... tiada ia menyanyakan
untuk pengertian dan tiada juga membantah atau bersedih. Keadaannya laksana
Malaikat yang berhati teguh. (Orang yahudi suka berbantah seperti yang
terkandung di QS. Al Baqarah 67 -71).

Jika engkau membantah perihal hukum-hukum Ku, maka engkau menganggap


dirimu seakan-akan Tuhan dan engkau sependirian dengan lawan Ku, dan itu
adalah suatu kekufuran semata-mata dan tidaklah hal yang sedemikian itu
memperoleh pemberian apa-apa, selagi negkau tetap menjadikan dirimu sebagai
tuhan lawan Tuhan mu, maka jangan menanti pemberian Nya, penuhilah hajat
kebutuhan dirimu sendiri.
Pemberian itu hanya Ku peruntukan bagi hamba Ku yang melazimi pendirian
sebagai layaknya seorang hamba dari ke Maha Agungan Tuhan .. Allah
berfirman, yang tafsirnya :
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembah Ku (QS. Adz-Dzariah 51 -56).

32. N A F S U
Aku telah ditegakkan berdiri di hadapan nafsu, maka kulihat kekuasaan serta
kerajaan keseluruhannya, lengkap disertai dengan bangunan-bangunan,
mahligai-mahligai dan ku lihat di samping nasfu ilmu seluruhnya, Makrifat
semuanya, Akal budi dengan kecerdasannya, kesemuanya itu sebagai
pelayan-pelayannya, nama-nama, huruf sebagai tentaranya dan pembantu-
pembantunya.

Dan Tuhan bertutur kata kepadaku : Nafsu itu adalah musuhmy! Maka jangan
mengajak berbicara! Ajakan bicaramu akan disertai ilmu, sesungguhnya
tiadalah engkau dapat mengajaknya bicara melainkan dengan ilmu, sedangkan
ilmu itu bala tentaranya dan akal budi itu pelayan-pelayannya, nafsu itu tidak
putus-putusnya berbicara, Ia tidak dapat diam lalu mendengarkan dengan baik;
Bila engkau ajak bicara ia pura-pura mendengarkan, sedangkan ia hanya mau
mendengarkan kata dan suara hatinya, serta keinginan-keinginannya sendiri
saja.

Dan Tuhan melanjutkan tutur kata Nya : Bila engkau mau menaklukkan nafsu
itu dan menguasai raumah-rumahnya, bila engkau mau menundukan nafsu,
maka jangan sekali-kali mengajaknya berbicara, dan sembunyikan laparnya,
sebagaimana ia menyembunyikan kenyangnya. Sembunyikan di balik belakang
di mana ia memanggilnya serta merta meninggalkan tentaranya dan
meninggalkan mahligai-mahligainya, dan balik kembali membawa persoalan
yang sama, yaitu mengajakmu bicara tentang persoalan lapar, bukan persoalan
yang lain, maka jangan disahuti bicaranya dan jangan pula menyambutnya,
karena sesungguhnya bila engkau melayaninya bicara atau menjawab bagaikan
engkau memberi peluang padanya untuk menarikmu dan merangsangmu, lalu ia
akan berani-berani mengeluarkanmu dari pada apa yang selama ini engkau
rahasiakan dan sembunyikan.

Dan bila ia telah berhasil mengeluarkan mu daripada apa yang engkau


rahasiakan dan sembunyikan, niscaya ia akan memperoleh kemenangan. Dan
andaikan engkau mengajaknya bicara dengan ilmu, niscaya ia akan
mengalahkanmu, karena ilmu dan makrifat itu adalah bala tentaranya.

Itulah perumpamaan tentang nafsu, ibarat engkau mengejar-ngejar musuhmu


yang berada di hadapan antara kedua tanganmu, sehingga apabila engkau dapat
menduduki dan menguasai rumah-rumahnya niscaya ia akan keluar
menyelonong dari belakang punggung mu. Maka hendaklah engkau
merahasiakan dan menyembunyikan laparnya nafsu dan hendaklah engkau
tetap berteguh merahasiakan dan menyembunyikan, sebaliknya jangan engkau
merahasiakan dan menyembunyikan kedudukan dan kemauan nafsu itu, karena
dengan demikian engkau akan keluar dari merahasiakan (laparnya) kepada
merahasiakan, dan menyembunyikan kepada menyembunyikan.

Maka setelah kesemuanya itu engkau sembunyikan dan engkau merahasiakan,


maka keluarlah dari nafsu itu satu persatu, dari segala ilmu, dari segala
makrifat, dari segala kekuasaan kerajaan dan tinggalah ia (nafsu) itu berdiri di
depan pintu penyembunyian dan merahasiakan. Dengan tak bosan-bosannya
iapun menyajikan acara yang diulang-ulang, yakni mengajakmu bicara tentang
lapar dan berusaha mengeluarkan aku daripadanya, tetapi aku tinggal tetap
teguh dan waspada merahasiakan dan meneyembunyikan.

Maka tiadalah ia menuntutku kecuali kepadanya, maka akupun tinggal tetap


bertahan, karena sesungguhnya itu adalah benteng pertahananku yang kokoh
yang tiada ia dapat mengajakku bicara tentangnya. Dan tiadalah ia akan sampai
kepadaku elainkan dari pintunya.

33. PENGHENTIAN MEMANDANG WAJAH-NYA


AkPenghentian Memandang Wajah-Nya kemudian Ia bertutur kata kepadaku
: Turunlah sejenak ke bawah dan lihatlah segala sesuatu! Lepaskan
pandanganmu ke padanya, kemudian berbalik lagi kepada Ku!; Akupun turun
diiringi Nur Vaha Nya; maka kulihat segala sesuatu aku tidak lagi melihat
keindahan dan tidak juga keburukan; tiada lagi ada jarak, mana yang jauh dan
mana yang dekat, tidak lagi ku lihat pertentangan, tidak pula yang berpadu,
tetapi ku lihat hikmah kebijaksanaan, ku lihat pekerjaan yang sebenarnya, ku
lihat peraturan dan takdir, kesemuanya merupa dalam bentuk yang sebenarnya.
(Sebab pandangan kita selama ini hanya melihat dari segi sebagian sudut ilmu
yng sangat terbatas; Bila kita meiluhat bersuluh obor Nur Allah, niscaya iab
itu merupa sifat keharusan yang layak untuk dipakaikan kepada makhluk, dan
segala kekuranagn itu sebagai suatu Hikmat kebijaksanaan dan kita akan
mengiyakan sesuatu hukum, bahwa tiada kemungkinan lebih indah dari adanya
yang sudah ada).

Dan kulihat Allah di depan dan di belakang apa yang ku lihat, dan aku melihat
Nya di dalam segala yang ku lihat.

Tutur katanya pula : Engkau telah melihat Al Haqm telah memandang Al Haq;
Kemudian aku di bawa naik kepada Nya dan bersamaku Nur Cahaya Nya, lelu
akau berhenti di maqamku dimana aku dapat melihat Nya sendiri yang berbuat
dan tiada yang berbuat selain Nya (Al Haq Allah).

Tutur katanya pula : Pandang baik-baik siapa yang mendatangimu! Maka akal
budi yang datang kepada ku sambil menanyakan nama-nama dari apa yang
sudah ku lihat dan ditanyakan pula akan arti dan makna nama-nama tadi.

Langusng Tuhan menegurku : Jangan di jawab, jika engkau jawab, maka


engkau akan turun kepadanya. Segera ia pun menyingkir; Tunjukan jalan
kepdanya agar dia masuk ke lorong dan melihat dengan Nur apa yang telah
engkau lihat; Barulah ia nanti akan beriman dan tidak meragukan lagi;
Bagaimana ia akan ragu, sedangkan ia melihat Ku? Yang meragu itu hanyalah
mereka-meraka yang terhijab; Aku dian tiada menjawab: Ia pun menyerah
kepada ku dan menunduk kan mukanya.

Tidak lama ia kembali lagi dan menyingkir lagi, balik lagi datang, padahal ia
dalam perjalanan menyingkir, dia diliputi ingkar dan penolakan dari apa yang
sudah diketahui dan atas apa yang sudah diserahkan; Ia menyeru sekuat-
kuatnya Hai bantahan!!! ... Hai Sanggahan!!!.... Hai di mana!!.... Hai
mengapa!!>.... maka ia (akal budi) telah dijumpai segala sesuatu, kecuali
Hikmat Kebijaksanaan.

34. SIFAT RAGU (WAS - WAS)


Tuhan berseru kepada ku :

Bila engkau di datangi keraguan, maka ia akan mendatangimu dengan


berbekal Bagaimana dan itulah juru bicaranya dan itu adalah tanda tanyanya,
agar engkau berbalik pada ilmu pengetahuan. Bila engkau masuk ke dalam
ilmu, maka jatuhlah engkau di antara dan dan perginya Akal budi. Bila
engkau masuk kepda makrifat, maka ia tidak mendatangimu dengan
Bagimana karena baginya sudah tiada Bagaimana lagi. Katakanlah kepada
was-was itu : Dengan DIA, aku telah mengenal sifat Nya, dan bukan sifat Nya
aku mengenal DIA; Dengan DIA aku dapat mengenal Ilmu pengetahuan, dan
bukan dengan ilmu pengetahuan aku mengenal DIA; Dengan DIA aku
mengenal makrifat, dan bukan dengan makrifat akau mengenal DIA.

Bagimana itu berdiri di antara kedua tangan Nya, dan dikirim oleh Nya
kepada siapa yang dikehendaki Nya; Bagaimana itu batu ujian tentang Dia,
dan menjadi rangsangan untuk menambah pengetahuan makrifat kepada Nya.

Dan Bagaimana itu ku lihat dikirim juga kepada para alim ulama dan kepada
arif bijaksana, dan diberitahukan kepada mereka bahwa Bagimana itu suatu
bentuk keragu-raguan dan was-was. Dan tiadalah dengan penglihatan mereka
kepada Nya, mereka akan terlindungi dari rangsangan Bagimana.

Dai berbuat yang demikian agar mereka itu menyaksikan Maha Kaya Nya dari
makrifat mereka kepada Nya dengan sejelas-jelasnya dan seterang-terangnya,
supaya mereka menyaksikan pula Maha Perkasa Nya dan Kodrat Nya dengan
jelas, serta mengetahui bahwa apa yang dianugrahkan kepada mereka daripada
Nya dengan seterang-terangnya.

Dan Dia berkata kepada ku : Bila was-was itu telah mendatangimu, maka
katakanlah kepadanya inilah perbuatan itu yang sudah terang dan jelas tanpa
keraguan; perbuatan itu adalah sesuatu yang dibuat, yang berbuat sudah jelas
dan terang tidak perlu diragukan dan diawas-awasi karena sesungguhnya Dia-
lah yang berbuat; Dan inilah sifat yang berbuat, maka tentang itu aku
mengajukan pertanyaan dan aku telah ragu dan was-was; Dia telah
memberitahukan kepadaku tentang sifat Nya senantiasa berdiri bersama Nya.

35. BUKTI NYATA


Tuhan ku berseru kepadaku :
(1)
Ilmu Ku itu menceraikanmu daripada Ku, dan karunia Ku memalingkanmu
daripada Ku; Hendaklah engkau menjadi dengan Ku (bukan dengan ilmu Ku
dan bukan dengan karunia Ku); Ku nyatakan ini padamu tanpa sebab yang
menghukum, yang mana hukum itu telah nyata dalam segala sebab, Engkaupun
akan memikul segala sesuatu yang mana segala sesuatu itu tiada sanggup
memikulmu, dan engkau akan meliputi segala yang nyata tidak dapat meliputi
engkau.
(2)
Bukti nyata Bukanlah suatu perkataan, dan ia dalam perkataan; bukan pula
ilmu dan ia dalam ilmu, bukan pula makrifat, tetapi ia di dalam makrifat.
(3)
Bukti nyata itu, ialah yang dapat dengannya engkau mengenal dalam engkau
melihat dengan penglihatanmu pada Ku, dan makrifat itu ialah apa yang
dengannya engkau dapat mengenal dalam kegaiban Ku; Makrifat itu juru bicara
Ku untuk bukti Ku yang nyata, sedang Bukti nyata itu jru bicara Berdiri Ku
sendiri (Qoyyumiati); Dan Diam itu, ialah hukum dari Bukti nyata dan
Ucapan itu dari hukum-hukum makrifat.
(4)
Bukan sembarang yang melihat Ku dapat melihat Wajah Ku, tetapi yang telah
melihat Wajah Ku itulah yang sungguh-sungguh telah melihat Ku; Jika engkau
melihat Ku dalam suasana kenikmatan, berarti engkau sudah melihat Wajah Ku,
dan siapa melihat Ku tidak dalam kenikmatan berarti tidak melihat Wajah Ku,
tidak ghalib atasnya melihat Ku, dan siapa yang melihat Wajah Ku ghalib
atasnya melihat Ku.

Sekali-kali engkau tidaklah dapat melihat Ku, sehingga engkau melihat Aku
berbuat, dan tidaklah engkau dapat melihat perbuatan Ku hingga engkau
menyerah pada Ku
(5)
Bila engkau melihat Ku dalam kejadian malapetaka, maka Aku telah dilihat
oleh umum, dan bila engkau melihat Ku dalam suasana kenikmatan niscaya
engkau akan menjadi baik untuk selama-lamanya, dan tiada engkau akan gaib
dengan apa-apa yang nyata.

Bila engkau telah melihat Ku, tiadalah engkau dapat diselamatkan melainkan
oleh penglihatanmu kepada Ku itu; Dan bila engkau tidak dapat melihat Ku,
tiadalah engkau dapat diselamatkan kecuali oelh keikhlasanmu kepada Ku; Bila
engkau telah melihat Ku; niscaya engkau akan dapat melihat apa yang berasal
dari tanah serupa dengan tanah itu pula.

Apabila engkau mengajak berbicara, maka bicaralah menurut asal mula


kejadiannya (Yakni, hendaklah engkau berbicara kepada tanah, niscaya engkau
akan selamat dari rangsangannya).

(6)
Sesungguhnya engkau telah melihat Kusebelum sesuatu, maka hendaknya
engkau melihat Ku dalam kedatangan sesuatu, maka hendaknya engkau
menjadi pengganti Ku atas sesuatu itu; Jika tidak, maka sesuatu itu akan
menjadikanmu sebagai pengganti atas sesuatu itu.
(7)
Aku telah bersumppah atas Diri Ku, tiada bertetangga dengan Ku kecuali siapa-
siapa yang telah mendapatkan dengan Ku, atau dengan apa yang daripada Ku.

Inilah sifat Ahli naungan yang terhampar maka hendaklah engkau melihat
dirimu! Termasuk golongan yang tersingkir daripada Nya; atau golongan yang
disampaikan kepada Nya.

Hendaklah engkau menjadi Ahli Nya dalam kehidupanmu, niscaya engkau


mengalami kesejukanmu, niscaya engkau mengalami kesejukannya dan
kedamaian Nya di saat kematianmu.

Bila engkau tidak menjadi Ahli Nya dalam kehidupanmu kini, maka tidaklah
engkau menjadi baik dalam kematianmu kelask.

(8)
Siapa yang tidak mau menyerahkan kepada Ku apa yang telah diketahui,
niscaya akan Ku buka apa yang telah diketahui, niscaya akan Ku buka baginya
pintu-pintu pendapat tentang hal yang berkaitan dengan pengetahuan, lalu ia
condong memasukinya, dan akan Ku dorong masuk ke dalamnya, maka
terhijablah ia.

(9)
Jika keterbatasan-keterbatasan itu memberikan kepadamu, maka kumpulkanlah,
dan jika Aku yang memberikan kepadamu, maka jangan dikumpulkan.

( 10 )
Jangan engkau berpisah dari pendapat yang bermaksud hanya tertuju kepada Ku
semata-mata, hendaklah lisan keadaanmu selalu dan selamanya atas... Ilahi
Hanya Engkaulah maksud tujuanku; Dengan demikian engkau akan
memenangkan dengan sesuatu kekuatan yang tak terkalahkan, bahkan dirimu
sendiri akan menaatimu.

( 11 )
Jika engkau telah mengetahui dan meyakini sepenuh keyakinan, maka
hindarkan dirimu dari menghukum dan serahkanlah hukum itu kepada Ilmu Ku
karena sesungguhnya tiada hukum melainkan Kepunyaan Ku.

36. MERANTAU
Bila engkau ditimpa kemurungan karena panggilan-panggilan dirimu,
hendaklah engkau bertenang dengan istrimu, jika masih juga belum hilang,
datangilah orang seilmu denganmu, kalaupun belum juga hilang pergilah ke
ahli makrifat, orang-orang saleh, jika masih juga belum hilang kemurunganmu,
merantaulah di muka bumi,

Jika dengan perantauanmu masih juga hilang kemurunganmu, maka lazimilah


berdiri di depan Pintu Ku, jika belum juga hilang, maka bersabarlah... Jika
belum juga hilang, maka bersabarlah,, jika belum juga hilang, maka
bersabarlah, niscaya akan terbuka Nur-Nya bagimu dan tiadalah engkau akan
keluar darpada Nya atas sesuatu yang memurungkan.... sekali lagi bersabarlah
dan nantikan... (dengan kesabaran).

37. SIFAT BERDIRI SENDIRI


Aku dihentikan oleh-Nya di tempat Sifat Berdiri Sendiri
(Al Quyyumiah) lalu iapun berseru kepadaku :
Aku telah mendahului bagian-bagian, maka dengan Ku telah terbagi-bagi
bukan dengan pembatasan, dan Aku telah mendahului pembatasan maka
dengan Ku telah terbatas bukan dengan ruang; Aku telah mendahului ruang
maka dengan Ku telah teguh bukan dengan jarak; Aku telah mendahului jarak,
maka dengan Ku telah berjarak bukan dengan udara; Aku mendahului udara,
maka dengan Ku berudara bukan dengan hawa; Aku telah mendahului hawa,
maka dengan Ku ada hawa, dan juga debu, maka dengan Ku ada debu..
(Allah berfirman yang tafsirnya, sebagai berikut : )
Ia lah yang Awal dan Yang Akhir, Yang Dahir dan Yang Bathin, dan Ia Maha
Mengetahui tiap sesuatu.

Yang awal tiada permulaan, Yang Akhir tiada kesudahan, Yang Dahir nyata
segala kekuasaan Nya, Yang Bathin tak terlihat oleh mata, karena yang bisa
dilihat oleh mata tiada lain, melainkan makhluk seperti kita).

38. HAK ITU UNTUK SIAPA?


Ilmu itu menetapkan bagimu suatu hak, dan bagi Allah suatu Hak pula.

Sedangkan makrifat itu pada umumnya menetapkan semua hak bagi Allah.

Dan tiada ia (makrifat) menjadikan bagimu suatu hak apapun. Dalam kekhususannya,
makrifat itu tidak menjadikan bagi dan atasmu suatu hak, karena ia memperkenalkan padamu
mula pertama dan Pengulangan kembali dalam hukum Ketunggalan Ilahiat. Dan
menghapus daripadamu apa-apa yang nantinya akan kembali kepada arti dan makna dirimu,
maka tiadalah menjadikan atasmu suatu hak, karena engkau bukan lagi dengan engkau, juga
bukan untukmu karena engkau bukan daripadamu.

Dan ini adalah suatu maqam pengguguran segala peraturan dan urusan (Lemparkan semua
ikhtiar dan segala tuntutan). Ini adalah derajat dalam lingkungan makrifat yang menuju dalan
masuk Al-Waqwah (berdiri tegak). Dan mula pertamanya memasuki Al Waqwah ialah
meniadakan siwa (selain Allah) sebagai pendamping.

Hanya sesungguhnya Al Waqwah itu dengan Al Haq (Allah) dimana Tiada Tuhan Selain
Allah dan Tiada selain Nya

Inilah maqam yang berkesudahan padanya nasib yang menguntungkan jiwa.

Maqam Dan tiadalah aku melakukan itu dari kemauanku sendiri


(Qs. Al-Kahf 18 : 82)

Kalimat yang diucapkan Sayidina Al Khidr dalam Al Quran dikala ia Melobangi perahu
Membunh seorang pemuda dan Membangun tembok tanpa alasan-alasan yang terang.

Dan inilah maqam-maqam :

Tiadalah antara Ku dan antaramu antara.


Tiadalah antara Ku dan antaramu Engkau.
Tiadalah antara Ku dan antaramu .. perbuatan apapun.

Dan tiadalah engkau yang melempar ketika engkau melempar, malainkan Allah-lah yang
melempar (Qs. Al-Anfal 8:17).

Dan bukanlah engkau yang membunuh mereka, tetapi Allah-lah yang membunuh mereka.
(Qs. Al-Anfal 8 : 17)

39. DAN KAMI LEBIH DEKAT PADANYA DARI URAT LEHERNYA


Setelah aku ditegakkan berdiri dalam Penglihatan, Ia pun berkata kepadaku :
Pada ... Penglihatan... sudah tiadalagi ucapan, tiada juga perkataan, ibarat dan
isyarat juga tiada, ilmu dan makrifat, pendengaran dan kepekaan, ungkapan dan
hijab, kesemuanya sudah tiada

Iapun melanjutkan : Pintu Penglihatan itu, ialah jalan keluar dari Siwa
dan Siwa itu seluruhnya berhimpun dalam huruf.

Makrifat itu merupakan pintu gerbang yang tiada dapat dimasuki, kecuali para
arifin; dan bagi setiap arif satu tanda, yang dengannya (tanda itu) akan merasa
tenang dan tenteram; dan barang siapa yang dengannya merasa tenang, maka ia
pun akan berhenti di dalamnya.

Kata Nya : kesemuanya itu mengarahkan tujuannya ke gerbang itu, dan untuk
mencapainya diperlukan kendaraan dan setiap kendaraan ada tali
pengikatnya.

Katanya pula : kendaraan makrifat itu ialah ilmu dan tali pengikatnya ialah
huruf.

Lanjut Nya : Hendaklah engkau turun dari kendaraan, keluar dari huruf dan
keluar pulalah dari makrifat.... dengan demikian Ku hapus tanda hijab dan akan
Ku teguhkan engkau dengan Tanda Ku, maka tiada lagi engkau dikusai oleh
huruf yang menghijab.

Kata Nya Pula : Menyingkirlah dari nama-nama huruf dan engkau akan
menyingkir pula dari arti maknanya. Jika kesemuanya itu telah engkau
singkirkan berulah Aku akan lebih dekat dari urat leher.

Belum! Belum tiba di tujuan! Menyingkirlah dari leher itu, dan urat leher itu,
menyingkirlah dari dekat ke yang lebih dekat... niscaya engkau melihat
Lafaz Aku (Lafdhiat Ana).

Bila engkau telah pergi dari Lafaz itu, maka Aku lah Yang Dahir dan Aku lah
Yang Bathin dan Aku lah terhadap segala sesuatu Maha Mengetahui...

Ia pun menegaskan sekali lagi : Huruf dan segala sangkut pautnya adalah hijab
yang berpintu, di dalamnya tempat pulang balik dan tempat membagi-bagi,
keduanya merupakan dua pintu di belakang huruf; Menetapkan dan
menghapuskan, adalah dua pintu hijab di balik yang pulang pergi dan membagi-
bagi. Yang pulang pergi dan membagi-bagi adalah pintu masuk menuju
penghentian (Al-Waqwah) dan Penetapan serta penghapusan adalah pintu
masuk menuju Penglihatan (Ar Ruyah).

Tabir hijab telah terungkap sudah.....


Bagi para setia kawan arifin Nya....
Segera mereka dapat memandang Nya.....
Tanpa ibarat tanpa huruf.... tanpa abjad.

40. BEBAS DARI BENTUK GAMBAR/LUKISAN


Hai hamba! Tiadalah Aku menjadikan bagimu bentuk gambar-gambar dan
lukisan-lukisan itu supaya engkau tunduk merendah kepadsanya.

Dan tiada pula Aku mengadakan bentuk gambar-gambar dan lukisan-lukisan itu
supaya engkau berlindung padanya....!

Hai hamba! Akulah pencemburu yang mengazab dengan siksa.... Telah Ku


ciptakan bentuk gambar lukisan itu untukmu, dan engkau Ku ciptakan untuk
Ku, maka mengapa engkau meninggalkan apa yang sebenarnya engkau untuk
Nya. Dan untuk apa pula engkau membuang-buang waktu terhadap apa yang
Ku tundukan untukmu.... Aku cemburu atas hidupmu yang engkau gunakan
untuk yang tidak layak dan derajatnya lebih rendah dari martabatmu yang mulia
itu
Tafsir Ayat : Sungguh telah Kami muliakan anak-anak Adam (QS. Bani Asrail
17:70).

Hai hamba : Aku mempunyai di balik bentuk gambar lukisan, ilmu-ilmu


gambar lukisan dan apa yang berkaitan dengan gambar lukisan, bagaimanapun
bentuk gambar lukisan itu... suatu nama yang tak dapat dilawan oleh bentuk
gambar-gambar dan ukisan-lukisan, dan suatu ilmu yang takkan tetap di
depannya ilmu gambar-gambar dan lukisan-lukisan.

Hai hamba : Ia adalah suatu nama yang telah Ku sebut dengan dirinya untuk
diri Ku, tidak utuk siapa yang mendengar, Ku simpan suatu ilmu untuk Ku,
bukan Ku sebar di alam semesta, hanya Aku patrikan dengannya kepada barang
siapa yang Ku kehendaki

Arti ayat : Alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu..... Alangkah nikmatnya


tujuan akhir (surga) yang abadi .... Alangkah baiknya balasan akhirat ...
Alangkah baiknya tempat kesudahan itu (QS. Ar-Rad 13:24).

Dan Ku singkirkan siapa yang Ku kehendaki :

Dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman

Hai hamba! Kehadiranmu berlainan dengan kehadiran yang lain, maka jangan
dibelanjakan sembarang belanja dari apa yang dapat dilihat ... wajhmu tidak
seperti yang lain, maka jangan kau bawa berhina dengan membawa ke lembah
dina.

41. PANJATAN PUJA PUJI PARA ARIFIN


Puja puji atas kenikmatan, itu adalah umum.

Puja puji mensyukuri atas nikmatnya, itu adalah khusus.

Puja-puji melihat kelemahan diri untuk dapat mensyukuri atas nikmat Nya,
adalah lebih dari khusus.

Puja Puji atas suka dan duka, lapang dan sempit, adalah lebih dari khusus.

Puja Puji atas perkenalan Allah kepada hamba Nya, itu lebih dari khusus.

Puja puji untuk Wajah Al Hak Allah Taala, tanpa sebab dan dari sebab, hanya
dengan Nya dan daripada Nya, itu adalah puncak ilmu-ilmu para pemuja dan
pemuji dan sudah berkesudahan khususnya-khusus.

Puja puji itu akan menjadi sah bila datangnya dari orang yang alim dengan
Nya, tetapi sah manakala tibanya dari seorang yang karam dalam kerinduan
pada Nya, maka apabila kerinduannya telah terjalin, niscaya akan melihat Nya,
mka apabila telah melihat Nya, niscaya penglihatannya itu akan menggerakan
lisannya untuk bicara, manakala sudah terucapkan, hapuslah bekas maksud dan
tujuan karena ucapannya itu, dan terhapus pulalah ciri-ciri kecondongan dan
akan menjadi keikhlasan sebenar-benarnya; Puja puji itu hanya untuk Wajah Al
Haq Allah Taala; Dan semacam puja puji ini membuka bagi orangnya tentang
lisan berdiri Nya sendiri (Al Qoyyumiah), maka segala makrifat-makrifat itu
akan mengucapkan pada Nya dengan ketunggalan, barulah hilang kemurungan
dari bilangan-bilangan dan akan terhimpun baginya semua bilangan dan tidak
lagi terbagi-bagi saru antara lain.

42. BILA BERTEMUNYA DUA PERTENTANGAN DALAM SATU


PENDAPAT
Yang emikian itu tiada akan terjadi melainkan di kala engkau melihat kesan
pulang perginya sesuatu yang engkau cintai itu, maka pada hari ini baginya
suatu nama; sifat dan tabiat, dan esok harinya ada baginya nama, sifat dan
tabiat, maka hasil kejadiannya akan pergi daripadamu hukumnya, dan akan
menjadi sama dalam kecintaanmu wujudnya dan lenyapnya sesuatu yang
engkau cinntai itu.... dan inilah akhir kesudahan sesuatu itu dalam cinta kasih.

Seorang Abid, tidaklah layak baginya sessuatu pun untuk dicintai. Dan inilah
taraf dari persamaan pertentangan-pertentangan itu di dalam cinta kasih, yang
demikian itu agar engkau menyaksikan arti makna yang dengannya air menjadi
panas, dan dengannya pula menjadi dinginmembeku.

Bila penglihatanmu telah sampai di sini, akan menjadi samalah hilangnya


sessuatu atau adanya sesuatu itu. Dan tidak mungkin mencapai derajat dengan
ilmu pengetahuan... akan tetapi hanyalah dengan perjuangan.

43. KEMANA PANDANGAN ATAS PARA ARIFIN

Bila engkau melihat Ku, di dalam sesuatu kenikmatan, niscaya engkau tidak
akan gaib daripada Ku di dlam selain Ku.

Dan apabila engkau tidak melihat Ku di dalam suatu kenikmatan itu atasmu....
Dan bila kenikmatan itu menang atasmu, niscaya segala sesuatu akan ikut juga
memperoleh kemenangan dan bila engkau melihat Ku di dalamnya
(kenikmatan), niscaya engkaulah yang menang atas segala sesuatu.

Engkau sama sekali tidak akan melihat Ku, baik di dlam kenikmatan maupun
dalam malapetaka, sampai engkau melihat dalam keduanya adalah perbutan
Ku sendiri.

Engkau tidak akan melihat suatu Perbuatan Ku sendiri hingga engkau tidak
melihat sesuatu dari sebab dan hingga engkau selamat dari waham sebab (tidak
engkau tersentuh dingin oleh penyebab dingin melainkan kesemuanya itu
perbuatan Allah).

Aku tidak akan menyata sebelum Ku sirnakan Kesenangan berpendapat


dengan selain Ku dan tidak Ku sirnakan sebelum Ku saksikan bahwa tiada
hukum baginya dan tiada Ku saksikan sebelum Ku angkat apa yang
bergantung dengannya daripadamu.

Ia bertutur kepadaku : Berdirilah dengan tegak di alam semesta ini dengan


Hukum pengetahuan yang meniadakan alam semesta. Dengan demikian
engkau Ku angkat dari Hukum alam semesta

YA Tuhan ku! Engkaulah yang menciptakan segala dan yang mengurus serta
memimpinnya; Engkau Maha Mengetahui segala dan yang mengajarinya; Yang
mengenal segala dan yang memperkenalkannya, kepada Mu semua akan
kembali, dan daripada Mu musnah, dan dengan izin Mu dapat berdiri dan
kepada Mu akan kembali dan dengan Mu akan tetap tegak.

Siapa kiranya dapat membawa untuk ku..


Seseorang kawan yang arif yang bijaksana
Yang berhenti bajak bak tabir hijab
Yang tiada diperbudak oleh siapa
Bukan abdi mata yang fatamorgana
Yang bila alam semesta membangun
Tiada terlihat bangunan melainkan kehancuran
Kehancuran yang di bangun di atas kehancuran
Kebinasaan yang di bangun di atas kebinasaan
Kemusnahan yang di bangun di atas kemusnahan
Kerobohan yang dibangun di atas kerobohan.

44. SUATU PENGHENTIAN DIMANA HATI-HATI PARA ARIFIN


DIBUAT TERHERAN-HERAN
Aku dihentikan berdiri tegak dalam keyakinan yang sebenarnya, lalu Ia berkata
kepadaku : Dalam keyakinan itu adalah sauatu rahasia, bila engkau telah
mengenalnya, amak tida lagi Aku menjadi samar atasmu.

Bila Kau menyamar, niscaya penyamaran Ku akan menambah makrifat


padamu, tetapi bagi mereka yang tidak mengenal rahasia keyakinan itu, pastilah
menjadi pengingkaran. Sesungguhnya Aku lah Allah yang tidak dapat direka-
reka oleh perkenalan pada Ku, dan tak dapat dimuat oleh hati-hati itu dengan
sepenuh muatan makrifat kepada Ku. Bagi Ku ada suatu makrifat yang tunggal
yang mana tiada Ku fitrahkan kepada hati seorang hamba dan tiak juga kepada
para Malaikat.

Bila makrifat itu tiba, niscaya tiba pulalah pengingkaran, maka setiap orang
Arif akan mengingkari segala apa yang telah dikenal.

Dan apabila telah tiba pengingkaran itu, maka ketahuilah bahwa Aku lah yang
menyamar dengan makrifat Ku yang Tunggal itu, maka hendaklah engkau
jangan menginggkari Daku dan jangan memohon suatu makrifat, yang
dengannya engkau dapat mengenal Ku, dan katakanlah ... Engkau .... Engkau....
yang dapat memperkenalkan diri Mu sebagai yang Engkau kehendaki, dan
menyamar menurut apa yang Engkau kehendaki. Maka teguhkanlah daku
dengan penyamaran Ketunggalan Mu (Wahdaniatik) dan tetapkanlah daku
dengan pendengaran dan ketaatan pada Mu dalam apa yang diri Mu engkau
perkenalkan.

Dan bila engkau menyamar, maka jadikanlah daku tergolong dari orang-orang
yang mengetahui, bahwa Engkaulah yang menyamar.... Dan bila Engkau
Memperkenalkan diri, maka jadikanlah daku tergolong dari orang-orang yang
mengetahui, bahwa Engkaulah yang memperkenalkan diri.

45. YANG TERUNGKAP SERBA SUCI


Bagi Nya wajah tanpa rupa;
Bagi Nya mata tanpa kedip;
Bangi Nya ucap tanpa huruf;
Baginya ilmu tanpa halaman;
Bagi Nya dekat tanpa mana;
Bagi Nya jauh tanpa hingga;

46. DOA
YA Tuhanku !

Denganku daku hina; Dengan Mu daku mulia;


Denganku aku papa; Dengan Mu aku kaya;
Denganku daku lemah; Dengan Mu daku perkasa.

Tiada yang dapat mengetahui kehinaanku, kepapanku, dan kelemahanku selain


Mu.

Maulaya! Makrifat dalam hati menuntut demi untuk Mu atas diriku, sedangkan
daku khusuk di ambang gerbang pintu Mu, bersujud di dalam lapangan Mu nan
luas, ku datang menghampiri Mu dengan penuh noda dan dosa, Ku mohon maaf
ampunan Mu serta kemurahan Mu, ku minta tersingkapnya tabir penutup untuk
bertobat dan kembali pada Mu.

Malulaya! Andaikan Engkau pikulkan atas pundakku beban dosaku.... tidaklah


bumi dapat mengangkatku, tiada pula langit dapat menaungiku, tiada satupun
selain Engkau yang dapat memikul berat dosaku, dan tiada satu lisan selain dari
lisan-lisan kemaafan Mu yang sanggup memberi alasan... terhadap kessalahan-
kesalahan ku, tiada satupun dari makhluk-makhluk Mu yang sanggup melihat
padaku karena buruknya rupa yang dipenuhi oleh daki-daki dosaku.

Tiada makrifat dari sekian banyak makrifat makhluk-makhluk Mu yang


sanggup mengajukan uzur untukku kepada Mu, lagi pula ia melihat dosaku
dalam makrifat Mu.

Maka, tiadalah demi Kemulian Mu, sekali lagi tiadalah demi Kemulian Mu
yang dapat menyelematkan diriku daripada Mu, Kecuali Engkau, tiada pula
daku dapat menghindarkan diri dari Kemurakaan Mu melainkang Engkau, tiada
daku mempunyai alasan perihalku kecuali Engkau.

Maulaya! Daku memohon kepada Mu dengan Rahmat Mu! Daku meminta pada
Mu dengan Nur Cahaya Mu; Daku ajukan pintaku pada Mu dengan kebagusan
Mu; Daku harapharapkan pada Mu dengan Keindahan Mu; Daku rindukan pada
Mu dengan Zat Mu; Dengan Wajah Mu; Dengan Diri Mu; Dengan Samping
Mu; Dengan Tangan Mu; Dengan Roh Mu; Dengan mata penglihatan Mu;
Dengan Rumah Mu; Dengan Somadiat Mu; Dengan seluruh Sifat-sifat Mu;
Dengan ke-Agungan di dalam meng-Agung-agungkan Mu; Daku memohon
maaf dan ampunan serta kemurahan dan kuminta tabir penutup untuk dosa-
dosaku dengan tobat dan kembali pada Mu.

47. SAKSI MAHA TUNGGALNYA DALAM SESUATU


Bukti-bukti ketunggalan dalam sesuatu-sesuatu itu, bahwa kesemuanya itu
adalah buatan dari sisi Yang Maha Tunggal; Seluruh sifat buatan Nya adalah
satu, yaitu ulang mengulangi dan kemusnahan; Bentuk semua buatan Nya
adalah satu, yaitu dalam keterbatasan, Tanda-tanda buatan Nya satu, yaitu
kodrat; dan pengetahuan semua butan Nya satu, yaitu kodrat; dan pengetahun
buatan Nya satu, yaitu ikrar (pengakuan), dan semua ikrar Nya satu, yaitu
kebodohan, dan jenis mata semua buatan Nya satu, yaitu wujud ini, maka
kelangsungan wujud buatan Nya saling hancur menghancurkan, hingga tiada
tinggal satu wujud pun.

Seluruh terjemahan-terjemahan buatan Nya adalah satu, yaitu memberi


penjelasan; Ketenangan seluruh buatan Nya adalah satu, yaitu ketertiban;
Gerakan seluruh buatan Nya adalah satu, yaitu penyusunan; Hukum hukum
buatan Nya adalah satu, yaitu kemauan; Perbuatan-perbuatan semua buatan Nya
adalah satu, yaitu yang dimaksudkan; Kesmapaian semua buatan Nya adalah
satu, yaitu ketidaksanggupan; Dan diamnya semua apa yang dibuat oleh Nya
adalah satu, yaitu tempat; Dan kelemahan semua buatan Nya adalah satu, yaitu
Baharu (Haditsah) (Lawan Qadim).

48. HURUF DAN LINTASAN-LINTASAN HATI


Huruf itu terdiri atas bentuknya, dan bentuknya terdiri atas tasrifnya (Perubahan
bentuk kata), dan tasrifnya terdiri atas ilmu-ilmunya, dan ilmu-ilmunya terdiri
atas hukum-hukumnya.

Huruf itu merupakan maqam hijab; Menghimpun huruf adalah maqam


penyusunan; Menyusun dan mencerai beraikan huruf itu adalah maqam
pemusnahan.

Huruf itu merupakan unsur benda bagi siwa (Selain Allah) seerta unsur benda
bagi perbagai Lintasan hati.

Tiada terlintas padamu suatu lintasan hati, lalu engkau tiada menafikan, maka
bukanlah engkau daripada Ku, dan bukanlah Aku daripadamu.

Bila terlintas padamu suatu lintasan hati lalu engkau meniadakan... niscaya
engkau daripada Ku atas hukum apa yang engkau meniadakan; Sedangkan
engkau daripada lintasan hati itu atas hukum yang menahanmu.

Bila sudah tidak terlintas padamu suatu lintasan hati, niscaya engkau daripada
Ku dan Aku daripadamu.

Bila terlintas padamu suatu lintasan hati, dan engkau menyambutnya dengan
baik, kemudian engkau meniadakan, maka engkau daripadanya.

Bila terlintasa padamu lintasan hati, lalu engkau meniadakan seketika itu, maka
ia tidak denganmu, den engkau tidak pula dengannya.

Ia berkata kepada ku : Bila engkau makan dengan sesuatu, niscaya engkau


minum pula dengannya; Bila engkau minum dengannya sesuatu, maka
engkaupun akan mambok dengannya.
Ia pun melanjutkan : Hendaklah engkau jangan makam dengan siwa, yang
mana nantinya engkau akan minum dengannya, dan jangan pula engkau minum
dengan siwa, agar engkau tidak mabuk dengannya.

Bila engkau makan dengannya, engkaupun akan bersandar padanya atas asal
usulnya; Dan bila engkau minum dengannya, engkaupun akan condong kepada
ilmu-ilmunya.

Iapun menyambung : Bila engkau tidak makan dan tidak minum dengan siwa,
niscaya ucapanmu adalah kata-kata yang benar dan tepat, engkaupun ikhlas
melaksanakan, dan perkataan serta perbuatanmu akan datang kepada Ku tanpa
hijab, dan akan Ku tetapkan kata-katamu dalam kitab Ku, dan Ku tetapkan
perbuatanmu dalam beribadah kepada Ku.

Dan kata Nya : Hai hamba! Bila puji-pujimu kepada Ku dengan puji-puji
huruf, niscaya engkau akkan lengah dengan kelengahan huruf itu

Hai hamba! : Bila engkau bertobat dengan lisan huruf, niscaya engkau
urungkan dengan lisan huruf.... bila engkau taat dengan lisan huruf, nsicaya
akan bermaksiat dengan lisan huru.

Hai hamba! : Sucikanlah puji-pujimu kepada Ku daripada huruf dan berlebih-


lebihannya, dan sucikanlah taqdismu kepada Ku dari berlebih-lebihan serta
bertingkat-tingkatnya huruf itu, niscaya Ku tulis tasbihmu dengan tangan Ku ats
naungan Ku, dan Ku jadikan engkau dari ahli keluarga Ku... bila tiba Saat
pertemuan.

49. YANG MENYERTAI KEINDAHAN DAN HIASAN


Hai hamba! Akulah pengetahuanmu itu, bila tidak, maka tiada pula
pengetahuan bagimu, dan Aku lah pendapatmu itu, bila tidak, maka tiada
pendapatan bagimu, dan Aku lah pendengaranmu itu, dan Aku lah
penglihatanmu, maka bila tidak, tidak pula bagimu penglihatan.

Hai hamba! Aku menghijab dengan kenikmatan-kenikmatan duniawi, maka


itulah kenikmatan yang menghijab, dan Aku pun telah mengungkap
kenikmatan-kenikmatan ukhrawi, maka itulah kenikmatan-kenikmatan yang
mengungkap.

Hai hamba! Pandanglah hiasan yang dibangun oleh karya tangan-tangan


pendurhaka di dunia ini, dan pandanglah susunan-susunan buah tangan
karangan para pemikir yang lalai; maka dengan kketaatan mereka tidak terlihat
berupa keindahan walau dihias dengan apapun juga, dan tiada dengan
pengetahuan mereka hasil yang elok dari buah karangan mereka walau
disusunsedemikian rupa.

Hai hamba! Hendaklah engkau menengok hati-hati mereka yang telah berikrar
kepada Ku, namun tidak mereka penuhi; Dan lihatlah pada lisan-lisan yang
telah berikrar untuk Ku tetapi tidak dilaksanakan... Akan terlihat olehmu apa-
apa yang telah diucapkan itu tidak berbekas menjadi kenyataan, dan akan
terlihat olehmu apa yang mereka perbuat tidak memncerminkan cita-cita
sifatnya.

50. SAMPAI KEPADA ALLAH


Ilahi ! Engkau maha mengetahui akan ilmu, tetapi ilmu itu tidak mengetahui
Mu, dan Engkau Maha mengenal akan makrifat, tetapi makrifat tidak mengenal
Mu.

Ilahi ! Perlihatkan padaku dalam Engkau membolak balik, dan saksikanlah


padaku dalam Engkau mencurahkan asuhan, dan mewujudkan daku dengan Mu
dikala Engkau memperlihatkan , sehingga jangan menjadi atasku selian Mu
Ketuhanan hukum (Rabbabiatul Hukum) dan Arti makna Nama
(Manawiyatul Isim).

Ilahi ! Engkau Maha Mengetahui terhadap diriku, untuk apa daku Engkau
ciptakan? Ddan Engkau Maha Mengetahui tentang panggilan-panggilan diriku,
untuk apa Engkau jadikan aku Dan Engkaulah Maulaya! Nan Maha Kaya dan
tidak memerlukan daku, bagaimana Engkau memperlakukan daku sedangkan
Engkau Tuhanku! Engkaulah Maha Penyayang dari segala penyayang,
bagaimana Engkau membolak balikan daku?
Ilahi , Gusarkanlah daku dari segala sesuatu yang membuatku jinak terhadap
kenikmatan-kenikmatan Mu, tunjukan daku dalam semua kenikmatan Mu
wajah-wajah para pengenal-pengenal Mu, pimpinlah daku dalam Makrifat Mu,
dengan ilmu-ilmu Ketuhanan Mu, dan perlihatkan padaku Nur Cahaya Mu,
dengan bimbingan petunjuk Mu.

Ilahi ! Telah berkuasa dan Mulia sifat-sifat Mu atas huruf para pengucap, da
meninggi zikir-zikir taqdis Mu atas pikiran-pikiran para pendiam, maka tiadalah
makhluk-makhluk yang dapat mentasbihkan Mu melainkan Tasbih Mu jua yang
lebih besar, dan tiada jangkauan khayal untuk memuja dan memuji Mu,
melainkan pujian Mu jua yang lebih Agung.

Ilahi ! Engkaulah bukti dari seluruh pembuktian-pembuktian Mu, dan


Engkaulah penerang atas segala penerang-penerang Mu, serta ayat-ayat Mu.

Ilahi ! Telah surut kembli segala makrifat-makrifat di hadapan makrifat Mu


dengan keheran-heranan, dan kembalilah segala penglihatan-penglihatan hati di
hadapan keindahan ke Agungan Mu dengan keletihan dan kepayahan.

51. DDOA PARA ARIFIN


Ya Allah ! Aku berlindung dengan Mu daripada mengetahui suatu ilmu,
melainkan demi pada Mu, atau menginginkan suatu ilmu demi untuk Mu, atau
melakukan suatu amal melainkan demi untuk wajah Mu, atau menuju suatu
jurusan kecuali demi dalam ketaatan pada Mu.

Ya Allah ! Sungguh aku berlindung dengan Mu daripada berusaha, kecuali


dalam keridhaan Mu, atau di kala aku membolak-balikan badanku di atas
pembaringan, kecuali dengan penuh rasa takut pada Mu, atau juga ku buka
mataku, kecuali untuk melihat ayat-ayat Mu, atau mengarahkan telingaku,
melainkan guna menyimak peringatan Mu.

Ya Allah ! Sungguh aku berlindung dengan Mu daripada menggunakan pikiran,


kecualli dalam takut kepada Mu, atau melaksanakan suat kemauan keras,
kecuali di jalan lorong Mu atau mengorbankan jiwaku, kecuali demi dalam hak
Mu.

52. DIA
HUA = dia lelaki, dan HIA = dia perempuan, keduanya tidak mencapai untuk
mengibaratkan tentang Ny, menurut harfiah (Karena Allah bukan lelaki dan
bukan perempuan).

Tiada mungkin huruf itu mengibaratkan tentang Allah Yang Maha Suci, karena
huruf itu tergolong dari makhluk-makhluk Nya.

Huruf itu laksana Suradiq = debu, atau apa yang menjulang, yang meliputi
sesuatu untuk membuat bentuk terhadap apa yang dinyatakan oleh Allah dari
segi kebendaan. Dan suradiq itu berada di maqar = tempat, dan maqar itu di
iqrar = ikrar, dan itu di qarar = tempat yang tetap, dan qarar itu di tamkin =
kedudukan di tempat yang teguh, dn tamkin itu rangkaian huruf dan huruf-huruf
Nya.

Huruf itu menghijab arti makna, sedangkan arti makna menghijab mahiyat
(keadaan).

Huruf itu merupakan hijab yang tidak dpat ditembus oleh penembus-penembus
dan tidak dapat dimasuki oleh para penempuh kecuali dengan izin Ku.

Huruf yang paling tinggi adalah Nama Ku, dan hruf pertengahan adalah
Kemauan Ku, dan semua huruf itu adalah Bahasa Ku dan lisan-lisan Ku,
Malaikat itu berkenan melapangkan Nama itu, karena itu adalah pintunya, dan
Jin melapangkan kemauan keras, karena itu adalah pintunya, dan insan
melapangkan semua huruf karena itu adalah pintunya.

53. PARA ARIF DAN PARA ABID


Ia berkata kepada ku : Hai Arif! Imanmu sebanding dengan iman para
makhluk, malah lebih baik; Dan maksiatmu seimbang dengan maksiat para
makhluk, malah lebih bessar.

Ia berkata : Jika bukan karena Arifin, niscaya sudah Ku sekap semuanya.


Selanjutnya : Para Abidin merupakan tonggak bumi dan para Arifin
merupakan pasak-pasak zikir.

Ia berkata : Seorang abid, ibarat air yang menyirami bumi, tetapi ia tidak
merasakan buah-buahan yang tumbuh; sedangkan seoran arif ibarat ayat-ayat
yang mempercepat zikir, tetapi ia tidak ikut meneguk dengan cangkir-cangkir.

Ia berkata : Seorang arif mengalir dalam zikir, tetapi tidak ikut serta minum,
laksana yang naik di atas lautan dengan berjalan tetapi tidak menghirup, bila
engkau makan dengan sesuatu niscaya engkau iringi minum dengannya, bila
engkau minum denga sesuatu, maka engkaupun mabuk dengannya.

Janganlah engkau mabuk, dengan selain Ku, niscaya engkau menjadi ARIF.

54. MAQAM-MAQAM MEREKA YANG TELAH SAMPAI DAN


MARTABAT MARTABATNYA
Mula pertama karunia Allah bagi seorang muried (Yang berhasrat menempuh),
ialah ajakan berbicara sebagai pembuka perkenalan, kemudian berkenalan dan
saling kenal-mengenal (arif); Setelah itu berikhlas hati untuk semua amal
perbuatannya kemudian berbaik niat, lalu bersabar diri, naik ke rida dengan
hukum Nya.

Setelah itu sang arif dianugrahi penyaksiann menyaksikan Nya.

Dan penyaksian, meningkatkan keteguhan hati, bila hati telah teguh diulurkan
perjanjian kewaliaan, setelah itu dipilih oleh Nya. Jika terpilih maka diserahi
amanat, setelah itu diungkapkan kepadanya khazanah rahasia-rahasia Nya,
Setelah kesemuanya ini dilalui, menjadilah ia seorang khalil (kawan setia).
Khalil atau Al Khullah (sahabat yang akrab).

Sahabat yang akrab ini adalah dari maqam Al Mahabbah (Maqam Cinta)
maqam ini adalah suatu maqam bukan dari maqam, itu adalah maqam
Sayyidina Muhammad, s.a.w.

Di dalam maqam cinta, sang abid berpindah ke Berdiri tegak memandang


(Mauqifil ithla) terus ke Berdiri tegak nan tenang (Mauqifis Sukun).

Dengan demikian, maqam-maqam itu dari tahap ke tahap menjulang dengan


kesimpulan :
Al muhadatsah (Ajakan berbicara).
At taaruuf (memperkenalkan, ajakan berkenalan)
Al makrifah (perkenalan)
Al isyhad (mempersaksikan, memperlihatkan)
At tatsbiet (keteguhan hati, ketapan)
At tamkin (penetapan berteguh)
AL wilayah (kewalian)
Al ishtifa (seleksi, dipilih)
Al itimaan (diserahi amanat)
Al kasyf (tersingkap, terungkap)
AL khulaf (kawan setia, sahabat yang akrab)
Al mahabbah (cinta)
Al ithla (memandang)
Al qath ( memutuskan)
As sukun (tenang).

Pendekatan itu baginya


Tanda cinta
Bila sudah nyata
Maka tergulunglah semua antara
Segera terhapuslah
Warna dawat dan segala nama.

55. YANG MENYERTAI KEINDAHAN DAN HIASAN


Ilmu itu adalah bukti Ku; Makrifah adalah jalan Ku; Waqwah adalah tempat
bicaraku dan Rukyah adalah wajah Ku.

Maka ke mana pun kamu menghadap, di situlah Wajah Allah, sungguh Allah
itu Maha Luas dan Maha Mengetahui (QS. Al Baqarah 2 :115)

Ilmu itu nyata bagi hukum-hukumnya yang menyangkut kejiwaan, sedangkan


makrifat itu menyembunyikan di dalamnya hukum-hukum kejiwaan. (Makrifat
itu menghapus keinginan-keinginan nafsu, dan segala apa yang ada
hubungannya dari hukum-hukum yang berupa keinginan-keinginan yang berada
di dalam hati).

Ahli ilmu itu adalah ahli air dan naungan; Ahli makrifat itu adalah ahli hadiah-
hadiah dan kemuliaan; Dan ahli Waqwah itu adalah ahli gembira dan saling
berkata; Ahli Ruyah itu adalah ahli rahasia-rahasia dan kawan duduk
semajelis.

Waqwah itu adalah pintu bagi Ruyah, tidak akan sampai kepadanya kecuali
dari situ; Makrifah itu adalah pintu waqwah; tidak akan sampai kepadanya
kecuali dari situ; Al Minnah (karunia) itu adalah pintu bagi makrifah, tidak
akan sampai kepadanya kecuali dari situ, dan ilmu itu adalah bukti Ku kepada
makrifah.

Makrifah-makrifah itu mengalir di dalam waqwah bagikan mengalirnya air di


daratan tanah.

Waqwah itu adalah naungan Ku, makrifah itu adalah naungan Arasy Ku dan
ilmu itu adalah naungan surga Ku.

Dunia dan akhirat telah tenggelam ke dalam huruf, huruf tenggelam ke dalam
makrifah, makrifah tenggelam ke dalam waqwah, dan waqwah tenggelam ke
dalam ruyah, dan ruyah berkekalan terhadap ahlinya dan mereka tinggal di
dalamnya untuk selma-lamanya, mereka telah mengucapkan dengan ucapan
tentangnya, maka mereka utusan-utusan bagi para duta dan penguasa-penguasa
bagi para bangsawan.

Tiada di dalam Ruyah itu waqwah dan tidak pula ibarat. Maka maqam ruyah
adalah maqam Fana (kelenyapan) segala sesuatu ... tiada lagi apapun, yang ada
hanyalah Wajah Nya Yang Maha Suci, dan tiada yang kekal selain wajah Nya
Yang Maha Muia.

Ia berkata kepada Ku : Hanya Aku, tiada sesuatu yang dapat berdiri sendiri di
ssamping Ku, tiada sesuatu yang kekal bersama Ku, dan tiada sesuatu yang jadi
atas Ku.
Maka siapa yang Ku tegakkan berdiri di dalam Berdiri Ku sendiri (Waqwati)
atau Ku saksikan penglihatan Ku, niscaya Ku kekalkan sebagaimana yang Ku
kehendaki agar supaya Kehidupan atau Kegaiban sesuak apa yang Ku
kehendaki demi keselamatannya dari kebinasaan.

Ia pun melanjutkan : Seorang waqif (yang berdiri di waqwah), tiada alam


semesta menjengkelkannya, tiada pula diganggu oleh kejadian-kejadian. Bila ia
pergi di malam hari, maka ia dalam lindungan Ku dan alangkah baiknya
perlindungan itu, bila ia tinggal berdiam seorang diri, Akulah penjaganya!
Alangkah baiknya penjagaan itu.

Kawan waqwah merupakan pembawa berita gembira dan pemberi kabar


penakut (Basyiron wa Nadziro), dan kawan Ruyah adalah pemberi syafaat dan
jaminan (Tiada suatu hal keadaan yang setara dengan keadaan mereka).

56. SABDA ALLAH TERHADAP LANGIT DAN BUMI


Dekat tak dapat dikatakan, jauh tak dapat diuraikan. Dekat, tetapi tidak dapat dikatakan dekat
Nya (Maka Ia lebih dekat dari urat leher) Jaug, tidak dapat diuraikan akan Jauh Nya (fa
huwal mutaal), maka Dia lah Yang Maha Tinggi. Nyata, tak dapat dicapai kenyataan Nya.
Bathin, tidak dapat diungkap hijab Nya, karena Tiada satupun yang menyerupai Nya (Laisa
Kamitslihi Syaiun). (Asy Syura 42 : 8).

Langit-langit dan bumi diadakan Nya dan ditegakkan dengan hukum Nya dan tibalah Sabda
Firman Nya :
Datanglah kamu keduanya menurut perintah Ku dengan patuh atau terpaksa Keduanya
menjawab Kami datang dengan penuh kepatuhan (QS. Fush Shilat 41:11).

Dengan Nya keduanya dapat mendengar, dan dengan Nya keduanya dapat menjawab dan
dengan Nya keduanya dapat taat dan patuh.

Tiada penyaksian kecuali dengan DIA.


Tiada hijab melainkan dengan DIA.
Siapa yang tehijab bagi selan DIA.
Niscaya akan nyata bagi selain DIA.

57. TENTANG HIJAB


Aku ditegakkan bediri di hadapan Nya, kemudian Ia pun berkata pada ku :
Hijabmu adalah segala apa yang Ku nyatakan, hijabmu adalah segala apa yang
Ku rahasiakan, hijabmu adalah segala apa yang Ku hapuskan, hijabmu adalah
segala apa yang Ku ungkapkan, dan juga segala apa yang Ku tutup.
Ila engkau keluar dari padanya, keluar pulalah engkau dari hijab; bila engkau
dihijab olehnya, niscaya engkau dikerumuni oleh hijab dari sekian banyak
hijab-hijab.

Ia pun menyambung pula : Tidak, engkau tidak akan dapat keluar dari dirimu,
melainkan dengan Nur Cahaya Ku, Nur Cahaya Ku yang mampu
menghanguskan hijab itu, lalu engkau dapat melihat bagaimana caranya ia (Nur
itu) dapat menghijab. Selanjutnya : Barangsiapa telah melihat Ku, dan telah
menyaksikan maqam Ku, akan diharamkan atasnya makanan yang halal selama
engkau berada dalam hijab.

Ia pun melanjutkan : Jangan engkau berhenti di dalam hijab, dan jangan pula
berdiri di dalam hijab, karena segala hijab akan bertolak pinggang
membantahmu tentang Ku, hendaklah engkau iqomah di sisi Ku, niscaya Aku
akan membelamu dan membantah tentang dirimu.

Lanjutnya : Bila engkau telah melihat Ku dan tinggal di sisi Ku, maka engkau
dari Ku, dan engkau dengan Ku, dapat berdiri di bawah naungan Ku dan
tergolong dari orang yang bersyafaat terhadap siapa yang Ku kehendaki dari
makhluk-makhluk Ku.

Lanjutnya : Bila engkau telah melihat Ku, dan tinggal di sisi Ku, maka engkau
dengan Ku, dan engkau dari Ku, berdiri di dalam kasih sayang Ku dan
mengharap besarnya anugrah dan ampunan Ku.

58. PEMBAHASAN TENTANG TABIAT HATI


Dengan fitrah yang ada, hati itu tidak diciptakan baik maupun jahat..... tetapi
mempunyai kesediaan untuk berperangai dan berbudi pekerti, berwatak dan
bertabiat, yang mana dari dasar segi baik dan jahat, ia dapat pulang balik antara
keduanya atas segi ikhtiar dan kemauan.

Hati itu dapat patuh mendengar sesuatu, atau mendengar lawan swssuatu,
walaupun simpang siur bahasanya. Andaikan ia diajak bicara oleh alam semesta
dengan apa yang ada padanya ia dapat mendengar dengan satu pendengaran,
begitu juka jika ia menjawab, ia menjawab dengan satu jawaban.

Mengenai akal, ia dapat memandang seluruh pemandangan-pemandangan yang


bercabang-cabang aneka ragamnya sekali pandang...... Adapun Jiwa dan tabiat,
masing-masing dari keduanya tidak berdaya dan berkesanggupan kecuali untuk
mengikuti satu pandang demi satu pandang yang terpisah sendiri-sendiri, apabia
ia bergantung dengan salah satunya, berpisahlah ia dari yang lain.
Kebalikannya, akal, ia tidak dapat dipotong oleh satu pemdangan selama ia
berada setingkat ilmu, apabila ia berpisah dari ilmu ke pendapatan,
bergantunglah ia kepada pemandangan dan berpisahlah ia dengan memasang
teinga kepadanya dari yang lain.

Bagitu juga halnya dengan hati, ia tidak dapat dipotong oelh satu pendengaran
dari sekin banyak pendengaran, selama ia dalam tingkat ilmu, apabila ia
berhasil tertegun oleh satu pendengaran, berpisahlah ia dari lainnya.

Maka ilmu itu pun merantau dan meluaskan gema pendengaran dan
penglihatan, sedngkan pendapatan mengepungnya untuk meringkus ke satu titik
dan satu persoalan. Dan alam semesta keseluruhannya merupakan lintasan hati
sepanjang masa di dalam hati dan akal.

Sesungguhnya hati itu terkhusus dengan lintasan-lintasan, karena hukumnya


daam hati yang lebih kuat; Ajakan alam semesta untuk berbicara terhadap hati,
adalah menjadi pemisah dari yang lain. Dan akal itu memandang alam semesta,
begitu juga, alam semesta memandang kepadanya. Ada kalanya ia masuk dalam
pembicaraan bersama alam semesta, dan hukum pembicaraan itu lebih
berpengaruh dari hukum pandangan yang tanpa pembicaraan.

Hati itu merupakan tempat bermukim lintasan-lintasan yang berada di


dalamnya. Dana akal itu merupakan jalan lintasan-lintasan hati yang berlalu di
dalamnya serta melewatinya.

Banyak sekali ragam lintasan-lintasan hati itu. Dan bercabang-cabang pula; Ada
yang bersifat keiblisan (iblisiah), ada pula yang bersifat kemalaikatan
(malakiah), kerajaan langit (malakutiah) dan kerajaan duniawi (mulkiah).

Lintsan hati keiblisan itu ialah lintasan-lintasan hati yang membuat keraguan
)Asy Syakiah) dan menyukutan Tuhan (Asy Syirkiah) dan kebidahan lawan
sunnah Nabi (Al Bidah) dan mengingkari kebenaran (Al Jukhdiha),.
Adapun lintasa yang membawa keraguan dan kemusrikan itu, lalu lalang di
halaman lintasan malakutiah. Mengenai lintasan hati pembawa bidah dan
pengingkaran, itu pulang pergi di jalaman mulkiah kerajaan duniawi.

Lintasan-lintsan hati itu adalah ilmu, hukum dan suruhannya, maka apabila si
pendengar menyimak kepadanya dan meneguk isi piala ilmunya, hukumnya dan
suruhannya, jatuhlah ia ke jurang pelanggaran dan larangan. Itulah yang
dibangkitkan oleh lintasan-lintasan itu. Jika tidak dihiraukan dengan ditanggapi
was-wasnya, kembalilah ia ke tampat asala mulanya dengan apa yang ada
padanya dari ilmu, amal, hukum dan suruhannya.

Alamat bergantungnya hati kepada Tuhan, ialah terungkapnya perasaan di kala


bisikan-bisikan lintasan hati itu menghadapi apa yang dipilihkan oleh Tuhan
kepadanya dalam keadaan yang sulit diuraikan dan tidak dapat dibeberkan oleh
terjemahan, maka apabila diletakkan perasaan ini ke dalam hati sang hamba,
ddipisahkanlah ia dari penyirnaan lintasan hati yang jahat itu.... dan apabila hati
itu kehilangan perasaan ini, maka berdatanglah serangan lisan-lisan lintasan itu,
lalu diraih dan dicengkeramnya.

Sang Abid menguraikan perasaan yang demikian ini dengan ucapan .....Oh!!!!
Sesungguhnya kurasakan betapa antaraku dan antara Tuhan adalah
Kemakmuran (amamr)... dan kemakmuran inilah yang menjadi perisai diriku
dari tergelincir dalam kesalahan.

59. APA YANG DIKATAKAN ALLAH KEPADA HAMBANYA


(1)
Telah Ku ciptakan makhluk-makhluk, maka hendaknya engkau menjunjung
tinggi ciptaan Ku. Jangan berlaku kejam terhadap ciptaan Ku, bagaimana
kiranya jika diperlakukan yang demikian menimpa pada dirimu? Jka demikian
perilakumu, Aku lah yang akan bertindak kejam atasmu.

(2)
Jangan hendaknya engkau berlaku kejam atas siapa pun dengan zat dirimu.
Ingatlah!! Keperkasaan itu bukan kepunyaanmu; Keperkasaan itu adalah milik
Ku sendiri.

(3)
Aku ditegakkan berdiri di dalam sesuatu, maka oleh Nya aku di bawah kepada
nama-nama, akupun ditegakkan berdiri dalam nama-nama itu, lalu aku dibawa
pula ke arti mankna-arti makna itu, setelah itu aku dibawa pula ke arti
makna-arti makna itu, setelah itu aku dibawa kepada diriku dan ditegakkan
berdiri pula di dalamnya.

Dari diriku aku dibawa ke dunia akupun ditegakkan berdiri pula di


dalamnya, dari dunia aku dibawa ke syirik dan kufur Dan kata Nya : Bila
kemauna-kemauanmu berkisar dalam lingkaran itu, jangan diharap engkau
dapat masuk ke Hadirat Ku.... dan Ia berkata Tengoklah kepada kemauan
keras-kemauan keras itu! Maka kulihat kemauan keras yang tidak berdiri di
antara kedua tangan ya, akan berdiri di antara kdua tangan iblis.... mau ataupun
tidak.... dan aku lihat iblis melambai sambil menyeru kepada kemauan-
kemauan keras itu kepada ddirinya masing-masing.

Lambaian itu pun disetujui, maka berdirilah di anatara kedua tangannya dalam
keadaan terhijab dengan diri dirinya sendiri.

Ia berkata kepadaku : Aku yang memanggil kemauan-kemauan keras itu


kepada Ku bukan kepada dirinya masing-msing, maka janganlah engkau masuk
ke Hadirat Ku kecuali bila kemauan-kemauan keras itu keluar dari diri
dirinya.

Ia bertuturkata kepada Ku : Seorang Wali itu, ialah mereka yang berdiri tegak
di antara kedua tangan Ku, tiada beranjak tiada pula beringsut.

(4)
Aku telah diteguhkan berdiri tegak di dalam kesempurnaan maka aku melihat
di dalamnya berhimpunan Ke Maha Besaran) (Al Jalal) dan Ke Maha
Indahan: (Al Jamal)

Sifat-sifat Al Jamal, pada Allah, dapat engkau temui dalam :


Ar Rauf Maha Penyayang dan Maha Pengasih.
Al Wadud Maha Mencintai
Al Khaliem Maha tetap dapat menahan amarah.
Al Kariem Yang melimpahkan Karunia kepada makhluk-makhluk tanpa
diminta sebelumnya.
Al Afu-wu Maha memberi maaf.
Al Ghaffar Maha menutupi kesalahan hamba-hamba Nya dengan
pengampunan dosa mereka.
Al Mannan Maha pemberi Karunia.
Al Khannan Maha Kasih Sayang.
Ash Shobur - Maha sabar
Asy Syakur Maha pembalas jasa hamba Nya.
Ar Rozzaq Maha pemberi Rizki.

Dan Sifat-sifat Al Jalal pada Allah, dapat engkau temui dalam :

Al Jabbar Yang perkasa memaksa akan kehendaknya.


Al Muntaqiem Maha kuasa menindak dengan siksa.
Al Aziz Maha kaut tak terkalahkan oleh apapun
Al Mutaal Yang mencapai puncak ketinggian
Al Muatakabbir Yang patut dipuja karena ke Agungann Nya
Al Muahimin Maha menaungi hamba-hambanya
Al Jalil Yang mempunyai sifat kebenaran
Al Adhiem Maha Luhur
Al Kabier Maha Besar
Al Muiz Yang meninggikan derajat siapa yang dikehendaki
Al Qibidh Maha kuasa menyempitkan
Al Khofidz Maha kuasa merendahkan

Dana Maha Kesempurnaan Allah, adalah di dalam himpunan antara Maha


Santin (Al Khulum) dan Maha Memiliki Kekuasaan ( Al Jabbarut), berkait
antara dua sifat yang saling berlawanan menjadi dalam satu ketunggalan,
hingga tiada ada pada Nya berlawanan dan tiada pula tebagi-bagi.
Maka Dia Yang Maha Sejahtera (As Salam) yang pada Nya tiada perlawanan
dan perselisihan.

(5)
Bila engkau telah mengenal Daku dengan Ku, tidak lagi perkenalan dengan Ku
itu akan dapat ditambah oleh sesuatu (Karena Aku lah yang membawamu
sampai kepada puncak makrifat, yang dikemudiannya tiada lagi tambahan).

(6)
Engkau sendiri yang Ku maukan dari sekian banyak apa yang telah Ku
Ciptakan, maka hendaknya engkau pun demikian juga!. Hanya kepada Ku
sendiri arahkan kehendakmu, bukan mengarah ke lain dari Ciptaan Ku.

(7)
Batas yang dapat dicapai oleh penglihatan mata hatii, ialah mengenal apa yang
dikehendaki oleh Nya (Nabi Musa .as. menyanggah tindakan-tindakan Al Khidr
di saat melobangi perahu (Qs. Al Kahfi 18:71) karena ia tidak diberi
penglihatan mata hati seperti halnya Al Khidr, yang mana penglihatannya sudah
mencapai apa yang dikehendaki Nya dan memahami maksud dan persoalan raja
yang main rampas perahu secara paksa).

(8)
Mengerutkan kekuasaan bagi Allah SWT, adalah satu cara lisan mencari jalan
keluar bila engkau telah mencapai makrifat, dan telah engkau ketahui hak
kekuasaan penguasa itu adalah milik Allah semata, maka engkaupun akan
angkat tangan dari ikut campur tangan dan akan gugur segala kepengurusan).

(9)
Menziarahi para orang yang sudah mendapat sedangkan pada dirinya tiada
mendapatkan, itu berarti suatu pelanggaran (berkumpulnya seorang ahli tasauf
tanpa ada padanya zauqiah) (hal-hal yang menyangkut rasa dalam hal ikhwal
mereka, adalah merupakan suatu pelanggaran)).

(10)
Tinggalkan dirimu ! Dalam engkau meninggalkan dirimu, engkau akan
memperoleh kemenangan-kemenangan atasnya (bila engkau merasa cukup,
sudah tidak lagi membutuhkan pada dirimu, walau dirimu dalam kebinasaan
sekali pun, itulah arti kemenangan atas dirimu).

(11)
Luput ketinggalan suatu nasib bersama keluputan dari keridaan, adalah
merupakan suatu penyakit.
(12)
Ada kebiasaan yang bersumber dari dosa-dosa yang dilakukan kelompok
manusia-manusia, dapat membentuk arca-arca sembahan, yang mana sumber
kekuasaan arca-arca itu atas manusia-manusia disebabkan karena kebiasaan
yang dilakukan berulang kali. Misalnya apa yang dilakukan oleh orang-orang
Samiri yang telah membentuk dari perhiasan-perhiasan yang dicuri oleh Bani
Israel berupa se ekor anak sapi yang dapat mengeluarkan suara lenguhan.

(13)
Hai hamba ! Bila engkau mengenal Aku, maka tinggalkanlah apa-apa selain
Ku, sekalipun ap yang selain Ku itu pernah melihat Ku, dan tinggalkan pula apa
yang pernah dilihatnya, walaupun dengan Ku ia datang... Ha hamba! Bila
engkau merasakan ketentraman dengan perkenalan kepada selain Ku, maka
hendaklah engkau campakan perkenalanmu kepada Ku itu di balik
punggungmu.

(14)
Syarat keridaan itu ialah penilaian sama antara penolakan dan pemberian.

(15)
Ilmu itu lisan lahir, dan makrifat itu lisan bathin
(16)
Hukum kenyataan itu seluruhnya adalah ketakuran... Dan bahaya itu
mendapingi setiap hukum (karena segala yang nyata dari apa yang lahir itu akan
berkesudahan pada kelenyapan.

(17)
Ilmu minuman jiwa; makrifat itu minuman hati; Hukum itu minuman akal; dan
Kepuasan itu minuman Ruh

(18)
Kejahilan itu lintasan hati di dalam ilmu; Ilmu itu lintasan hati di dalam karifat;
Makrifat itu lintasan hati di dalam perkenalan; pekenalan itu lintasan hati di
dalam waqwah; Waqwah itu kesudahan, tiada lagi bahaya dan tiada pula
lintasan hati,

(19)
Akal itu merupakan alat bagi ilmu; Ilmu itu merupakan alat bagi makrifat;
makrifat itu merupakan alat bagi perkenalan; dan perkenalan itu bukanlah alat
dan bukan pula waqwah itu alat. Setiap ala mempunyai dua tangan,tangan
pertama bertugas memegang dan yang lainnya melepaskan. Memegang dan
melepaskan itu menunjukan tanda-tanda pertentangan, maka bila tanpa alat
tiada pula pertentangan.

(20)
Sesungguhnya akau mempunyai hamba-hamba yang lancar berbicara, namun
mereka itu tidak berbicara dan enggan diajak oleh sipapun untuk berbicara....
Ku katakan padanya : Tetapkan sikapmu; berbicaralah kepada Ku saja!
Terhadap selain Ku sedapat mungkin jangan berbicara.... engkau pun akan
menjadi hamba Ku yang pandai bicara.... dan Ku jadikan bagimu suatu syafaat.

Aku pun mempunyai hamba-hamba pendiam, mereka melihat ke Maha


Agungan Ku, mereka tidak sanggup berkata-kata, mereka melihat ke Indahan
Ku, tiada juga mereka bertasbih; Keindahan Ku membuatnya terpesona hingga
terus menerus berdiam diri, Akupun mendatanginya, Ku keluarkan dia dari
maqam diam ke pada Ku.... Hendaklah engkau diam demi untuk Ku ...
sekuat kemampuanmu... niscaya engkau menjadi hamba Ku yang pendiam.

Terhadap hambaku yang pendiam, ku terima sebelumm penghentian dan Ku


hantar ke kediaman rumahnya.... dan dialah yang pertama yang Ku panggil bila
Aku telah datang.
Antara ucapan dan diam itu adalah suatu dindig pembatas (Barzkh) di dalamnya
adalah liang kubur. Bagi akal dan budi, di dalamnya juga kubur dan juga
sesuatu-sesuatu.

(21)
Ketahuilah! Kuajak engkau berbicara, supaya engkau dapat melihat, bukan
untjk berbicara ... Katakanlah padamu ... inilah penglihatanmu! Agar engkau
memperoleh bukti di dalam makrifatmu kepada Ku; Bukan untuk engkau
pamerkan atas Ku kepada siapa yang tidak melihat Ku.

Ketahuilah! Petunjuk Ku bukan berada di tangan Mu... maka bila Aku


mengajak mu bertutur kata, niscaya engkau dapat melihat Ku; Bila engkau
melihat... tiadalagi pembicaraan.

(22)
Siapa yang tidak naik atasnya Nur Cahaya Ku, maka ia dalam api... dan siapa-
siapa yang naik atasnya Nur Cahaya Ku, maka ia akan dapat melihat Ku.

(23)
Hati-hati yang tetap teguh adalah hati-hati yang bermaqam di Hadirat.... ia tidak
hadir mudik dengan pelbagai lintasan hati, karena sesungguhnya ia sudah
melihat Ku sebelum KUN (Jadilah) yakni sebelum Aku menyatakan dan
sebelum akau berbuat, maka setelah tiba KUN dan telah datang lintasan-
lintasan hati, Aku telah menghentikannya di dalam maqam Hadirat.

(24)
Lemparkan apa yang dengannya Aku rahasiakan, dan lemparkan apa yang
dengannya Aku nyatakan..... Engkau adalah lebih mulia atas Ku daripada apa
yang telah dan akan Ku katakan kepadamu, maka bagaimmana engkau
memikul dan membawanya kepada Ku, sedangkan engkau lebih perkasa di sisi
Ku daripada apa yang telah dan akan engkau katakan kepada Ku; Maka
janganlah engkau menjadi kendaraan bagi selain Ku, niscaya engkau di
dampingi oleh derita dan malapetaka yang akan berembunyi di dalam afiat itu.
Jadilah engkau untuk Ku, bukan untuk tutur kata Ku (yakni keikhlasan dalam
menuju zat ... untuk Zat Allah jangan ada sessuatu yang lain).

(25)
Alah berseru kepada hambanya yang dikatakan yang ia kikir atas maqam
manapun -... Wahai hamba Ku! Engkau akan dipanggil oleh setiap ariff kepada
makrifatnya; Sedangkan itu adalha hak Ku atasnya; maka janganlah engkau
keluar dari makrifatmu berpindah ke makrifatnya, itu adalah hak Ku atasmu.

(26)
Segala kenyataan yang telah nyata itu maqamnya berada di belakangmu... di
balik hatimu... maka dudukanlah masing-msing itu di maqamnya...

Setelah itu mermaqamlah untuk Ku da engkau akan didatangi oleh Beridi


sendiri (Qoyyumiati), maka engkau akan ditegakkan berdiri untuk Ku, dan
engkau akan selalu beregang pada Ku.... Ketahuilah! Bahwa engkau amat mulia
bagi Ku dari segala apa yang Ku nyatakan, dan dari apa yang Ku katakan
kepadamu, juga engkau amat perkasa bagi Ku dari apa yang telah engkau
katakan kepada Ku.

(27)
Aku mempunyai di sisi Tuhan ku suatu maqam, dimana tiada lagi di dalamnya
perintah maupun larangan . Itulah maqam di mana ku lihat Tuhanku di
dalamnya. Di dalamnya kau tidak lagi Kemalaikatan, tiada pula aku
dipengaruhi jin dalam kedudukan selayaknya jin; tidak pula aku dipengaruhi
oleh hruf dalam kedudukan sebagai huruf, tidak pula oleh alam semesta dalam
bentuk alamiahnya.

(28)
Barang siapa yang telah melihat Ku, jika saja berdosa maka dosanya lebih besar
dari alam semesta; dan beritakan tentang siksanya, bahwa derita siksanya
adalah seluruh penderitaan.

(29)
Ia bertutur kata kepadaku : Tidak Ku kirim kepadamu ilmu-ilmu dan tidak
pula makrifat-makrifat, bahkan Aku mengutusmu agat segaa sesuatu itu
menjadi untukmu kekuasaan (Rabbaniah) melaksanakan pengiriman....
Hendaklah engkau berdiri di Hadirat Ku, niscaya Aku lah yang langsung
memerintahmu dengan segala sesuatu, dan tidaklah aku memerintah sesuatu
terhadap kepadamu.

(30)
Aku telah dihentikan berdiri di dalam Hadirat Nya. Dia adalah abadi demi
keabadian, kekal demi kekekalan, aku pun telah meluhat tirai dan tabir-tabir,
segala rupa penghijab, semua menghampar menutupi wajah-wajah siapa saja
yang memohon kepada Nya. Aku telah melihat pula bagaimana kesemuanya itu
tersingkap bagi wajah siapa saja yang berserah diri kepada Nya.

(31)
Bila engkau telah melihat kepada Ku, ketahuilah bahwa penglihatan itu karena
mata manusiawai, bukan hukum manusiawi (yang tidak lengah sedikitpun
walau sebagai tawanan dari kebutuhan manusiawi). Dan bila engkau tidak dapat
melihat kepada Ku, itu adalah dikarenakan pandangan mata manusiawi.

(32)
Bila engkau memberantas kebutuhan itu dengan sesuatu kelengahan, niscaya
kebutuhan itu makin jadi. Bila engkau memberantas kelengahan dengan
keinginan-keinginan, akan bertambahlah kelengahan itu.

(33)
Bila engkau tinggal menetap di dalam penglihatanmu kepada Ku, niscaya
engkau akan membenci dirimu sendiri sebagaimana engkau membenci
musuhmu.

(34)
Segala persoalan-persoalan dapat engkau ketahui, lalu dapat engkau saksikan
menurut kadar yang engkau ketahui, kecuali persoalan yang mengenai
ketuhanan, pertama-tama engkau dapat menyaksikan kemudian baru negkau
dapat mengetahui ilmu-ilmu, Nya.

(35)
Bila engkau telah melihat Ku, niscaya segala ilmu dan makrifat akan menjadi
kayu bakar bagi api KU, dan apabila engkau menginginkan, akan Ku sertakan
pula engkau dengannya.

(36)
Sekali-kali engkau tidak dapat mengenal Ku, bila engkau tidak melemparkan
hawa nafsumu, sekalipun hawa nafsu itu didatangkan oleh tangan Ku.

(37)
Sekli-kali engkau tidak dapat menyaksikan Dau untuk selama-lamanya dengan
arti makna, karena artimaknamu itu tidak dapat memiliki kecuali dirinya
sendiri., dan engkau akan menyaksikan Daku dengan penyaksian Ku semata.

(38)
Segala apa yang nyata seluruhnya berbatas, batas-batas itu adalah gambar-
gambar lukisan, gambar-gambar lukisan itu beraneka ragam, aneka ragam itu
saling serupa menyerupai dan saling lawan berlawanan, yang saling lawan
berlawanan itu beramah-tamah satu sama lainnya serta bersimpang siur.

Adapun yang dilahirkan itu bersama-sama ilmu-ilmunya adalah merupakan


hijab Ku, dan tidak Ku beri nama kepada kenyataan-kenyataan itu untuk
memperkenalkan melainkan untuk menjadi hijab Ku.

Bila nama-nama itu dibuang, niscaya akan tertembus oleh pandangan dan bila
pandangan dapat menembus berarti dapat mengenal.

(39)
Maulaya! Tiada Ilmu mu bebas merdeka dengan melaksanakan perintah Mu,
maka ilmu itu tentang Mu dalam kebutaan. Bila engkau beri petunjuk, itulah
karunia Mu; Bila engkau menghijabnya, itulah hijab Mu (alasan); itu semua
adalah kepunyaan Mu, maka ilmu itu tidak dapat menyaksikan kecuali
kejahilan.

Para ulama Nya ... berjalan dengan Nya di dlam Nur Cahaya Nya.

(40)
Sejauh-jauh kemauan keras itu masih berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari,
dan siapa yang merusaknya, maka jadilah rusak. Maka tiada jalan keluar untuk
menidadakan pemikiran tentangnya sama sekali, karena sesungguhnya ia adalah
asal penderitaan yang dialami oleh manusia menurut susunan manusiawinya.

(41)
Hakekat segala sesuatu itu adalah samar, karena tiadanya kesanggupan.
Manusia itu lenah, tiada daya uneuk mengetahui dirinya, dan ia selalu luput
untuk mencapai manfaat atau mudharrat ... dan ilmu tentang Tuhannya sangat
lemah sekali.

Ilmu-ilmu tak dapat dicapai oleh lawannya sama sekali.


Para kekasih Nya tiada sengsara, dengan pengetahuan ilmu-ilmunya.
Tuhan Maha Tinggi yang meninggi, tak dapat diperkenalkan dengan susunan
huruf.
Maka.... Maha Agunglah Puja Puji Nya.

(42)
Hai hamba! Teguhkanlah akal budimu di dalam ketenangan dan ketentraman,
lihatlah baik-baik apa yang menjadi penyebab akal budimu tenang dan
tenteram, itulah artinya sampai, maka lihatlah tempat sampainya itu, itu adalah
merupakan mutiaranya, lihatlah para mutiara itu, maka itulah mata yang mampu
melihat. Bila sampainya adalah siwa, niscaya akan keheranan pada mulanya
dan rugi setelah kesudahannya.

Bila dengan zikir sampainya dan penglihatan pada Nur Cahay Ku tempat
bergantungnya, maka akan tetap dalam keteguhan, tiadalah ia akan berpaling,
dan luruslah mata hatinya, maka tidak dikuatirkan lagi akan tergelincir.

(43)
Siapa yang beramal utuk memperoleh pahala, niscaya ia akan letih dengan
masuknya harapan-harapan, barangsiapa yang beramal karena takut siksa,
niscaya ia akan letih dengan sangka baik; dan barang siapa beramal demi Wajah
Allah, tiada letih baginya.

(44)
Ketika ahli pAhlur Ruyah) mengatakan, bahwa dirinya telah kehilangan
padangandan tidak lagi melihat siwa maka sesungguhnya yangmereka
maksudkan adalah hilangnya penglihatan terhadap siwa dari apa yang nyata
dari kenyataan-kenyataan itu, umpamakan ilmu itu berbentuk dari sebuah kitab,
dan kitab itu dari seorang guru, dan guru itu dari suatu madrasah,,, bukan
demikian yang diucapkan, tetapi ilmu itu dari Allah, dan mereka sudah
kkehilangan urut-urutan dari sebab musabab. Maka segala apa yang nyata pada
sisi mereka adalah Al Haq Taala semata, sekalipun menyata dari berbagai
jurusan.

(45)
Seluruh ketakutan itu berkaitan dengan perselisihan, tidak cocok dengan
pendengaran telinga, tidak cocok dengan penglihatan mata, tidak cocok dengan
apa yang dijinaki oleh akal budi... Karena tiada jalan keluar untuk meniadakan
ketakutan itu daripada manusia samak sekali karena tiadanya jalan menuju
kepada kesempurnaan.

(46)
Bukti dalil keyakinan itu ada empat.... penglihatan nikmat, ketakutan hijab,
penerimaan perkenalan dan perpaling daripada siwa.
Pasak bagi hawa nafsu itu ada empat pula.... kekikiran, keserakahan,
kesombongan dan panjang angan-angan.
(47)
Keserakahan itu mengiri segala sesuatu kecuali makrifat, dan makrifat itu
meniadakan segala sesuatu itu kecuali keetakutan.

(48)
Keyakinan dan taqwa itusaling berdampingan, apabila salah satu gaib, niscaya
gaib pula yang lain. Kesabaran dan kerelaan itu adalah berdampingan, bila
salah satu gaib, yang lain gaib pula. Dan Khalwah (tapa menyepi menyendiri)
dan ibadah itu berdampingan, bila salah satu gaib, gaib pulalah yang lain.

(49)
Ilahi Telah musnah segala kenyataan-kenyataan, maka tiada yang dapat
bertahan berhadapan dengan keabadian Mu, dan telah terbentang di hamparan
bagian-bagian yang terakhir, maka tiadalah kuasa bertahan di hadapan sifay
Qiam Mu (berdiri Mu sendiri).

(50)
Hai hamba! Siapa yang telah paham tentang Ku, niscaya Ku buat perhitungan
kepadanya tentang air dan jiwa.

(51)
Hai hamba ! Bila Aku mengajak berkenalan, Aku hampir tidak lagi menerima
suatu uzur (alasan) apapun.

(52)
Hai hamba! Perkenalan dengan apa yang tak dapat dikatakan itu sifatnya
adalah mengharuskan; dan perkenalan dengan apa yang dapat dikatakan itu
sifatnya adalah menuntut.

(53)
Tiada perkenalan melainkan dengan karunia dan anugrah dari Allah, maka bila
ia memperkenalkanmu, niscaya engkau ditegakkan berdiri, apabila engkau
ditegakkan berdiri, niscaya Ia memberikan apa yang dapat engkau saksikan.

TIADA KETENAGAN TANPA SERTANYA KEMAAFAN DAN


KERAHMATAN
HUBAYA ATAS TULANG BELULANG YANG REMUK RAPUH DALAM
TIMBUNAN TANAH

29 06 - 2013