Anda di halaman 1dari 21

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ................................................................................................................ 0


BAB I. PENDAHULUAN ........................................................................................... 1
1.1 LATAR BELAKANG ........................................................................................ 1
1.2 TUJUAN ............................................................................................................ 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA................................................................................. 3
BAB III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM ................................................................ 8
3.1 WAKTU DAN TEMPAT .................................................................................. 8
3.2 ALAT DAN BAHAN ........................................................................................ 8
3.3 CARA KERJA ................................................................................................... 8
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................... 9
4.1. Morfologi Pisces ................................................................................................ 9
4.2. Anatomi Pisces ................................................................................................ 10
BAB V. PENUTUP .................................................................................................... 13
5.1 KESIMPULAN ................................................................................................ 13
5.2 SARAN ............................................................................................................ 13
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 14
LAMPIRAN 1. SUMBER PUSTAKA ...................................................................... 15
LAMPIRAN 2. DOKUMENTASI PRAKTIKUM .................................................... 20

i
BAB I. PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Sumber daya alam di Indonesia sangat berlimpah salah satunya sumber daya hewan
yaitu ikan. Ikan adalah komoditi yang digunakan sebagai sumber pangan bagi
sebagian besar masyarakat Indonesia. Dengan adanya pemanfaatan hasil perikanan
maka diharapkan hasil perikanan di Indonesia dapat dimatfaatkan secara optimal
baik dalam pemanfaatan unutk konsumsi maupun pemanfaatan untuk menutupi
perekonomian masyarakat.
Pisces atau ikan adalah anggota vertebrata poikilotermik (berdarah dingin)
yang hidup di air dan bernapas dengan insang. Ikan merupakan kelompok vertebrata
yang paling beraneka ragam dengan jumlah spesies lebih dari 27,000 di seluruh
dunia. Pisces adalah sebutan umum yang dipakai untuk ikan atau sebagai nama super
kelas, dan nama ini diambil dari bahasa latin. Ilmu yang mempelajari tentang ikan
disebut ikhtiologi (Jacob, 2008).
Ikan adalah hewan yang bergerak menggunakan sirip. Setiap ikan memiliki
karakteristik tersendiri baik secara anatomi maupun morfologi untuk membedakan
ikan yang satu dengan yang lain. Secara morfologi, ikan dapat dibedakan dengan
melihat bentuk luarnya, misalnya dengan memperhatikan ada atau tidaknya sisik
pada hewan tersebut, sedangkan secara anatomi dapat dilihat atau diamati perbedaan
organ-organ dalam yang terdapat pada masing-masing ikan.
Ikan termasuk hewan bertulang belakang ( vertebrata ), bernapas dengan
insang, habitat berada pada perairan . Ikan bergerak dan menjaga keseimbangan
tubuhnya dengan menggunakan sirip sirip . Morfologi ikan ada bermacam
macam, tetapi morfologi dasar adalah terdiri dari badan, kepala, dan juga ekor. Ikan
nila adalah sejenis ikan konsumsi air tawar. Ikan ini diintroduksi dari Afrika,
tepatnya Afrika bagian timur, pada tahun 1969, dan kini menjadi ikan peliharaan
yang populer di kolam-kolam air tawar di Indonesia. Nama ilmiahnya adalah
Oreochromis niloticus, dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Nile Tilapia (Wahl,
2006)
O. niloticus merupakan salah satu jenis ikan budidaya yang cukup dikenal
baik secara nasional maupun internasional. Ikan Nila menjadi terkenal karena
memiliki banyak keunggulan. Keunggulan-keunggulan yang dimiliki ikan nila yaitu
mudah berkembang biak, cepat pertumbuhannya, anaknya banyak, ukuran badan
relatif besar,tahan penyakit,sangat mudah beradaptasi,relatif murah harganya,dan
dagingnya enak. Keberadaan ikan nila sangatlah banyak di Indonesia dan memiliki
peran pentig bagi kehidupan manusia, maka dari itu sangatlah penting untuk
mengetahui struktur morfologi dan anatominya (Sukiya, 2005).
Anatomi berasal dari bahasa yunani yang tersusun dari kata ana yang
berarti susunan dan tome yang berarti memotong, sehingga anatomi merupakan

1
salah satu cabang ilmu biologi yang mempelajari dan berhubungan dengan struktur
dan organisasi dari makhluk hidup (Brotowidjoyo, 1990).
Oreochromis niloticus merupakan salah satu jenis ikan budidaya yang cukup
dikenal baik secara nasional maupun internasional. Ikan Nila menjadi terkenal karena
memiliki banyak keunggulan. Keunggulan-keunggulan yang dimiliki ikan nila yaitu
mudah berkembang biak, cepat pertumbuhannya, anaknya banyak, ukuran badan
relatif besar, tahan penyakit, sangat mudah beradaptasi, relatif murah harganya, dan
dagingnya enak (Sukiya, 2005).
O. niloticus sebagai pemakan plankton yang sifatnya cenderung omnivorous,
artinya tidak memerlukan pakan yang khusus. Selain itu, ikan nila juga memiliki
suatu kelebihan yaitu ikan nila berkemampuan untuk hidup pada salinitas yang
lebar,sehingga ikan nila dapat dibudidayakan di air tawar,payau,maupun laut
(Saanin, 1968).
Di air tawar potensi pembesaran ikan nila di kolam dan sawah sangat tepat
terutama di luar jawa di daerah pegunungan dimana sumber air yang masih
berlimpah dan berkompetensi peruntukan antar sektor dan subsektor belum terlalu
ketat, misalnya di Sumatera Barat, Sulawesi Utara, Sumatera Utara, Bengkulu,
Gorontalo dan Sulawesi Tenggara. Sedangkan perkembangan di perairan umum
cocok dengan sistem budidaya keramba doling dan keramba biasa yaitu di provinsi-
provinsi di luar jawa yang banyak memiliki perairan umum(danau,rawa,sungai),
mislanya Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Bangka
Belitung dan Jambi (Sukiya, 2005).
Menurut Zander (2009), morfologi ikan nila adalah memiliki bentuk yang
pipih kearah vertical (kompres), bertulang belakang(vertebrata). Habitatnya perairan,
bernapas dengan insang dan mejaga keseimbangan tubuh menggunakan sirip. Sirip-
sirip tersebut bersifat poikilotermal. O. niloticus memiliki gelembung renang yaitu
kantong udara yang dapat digunakan untuk mengubah daya apung dan sebagai alat
bantu dalam bernafas. Selain memiliki endoskeleton,di bagian luar tubuh O.niloticus
dilindungi oleh eksoskeleton yang berupa sisik (squama).
Praktikum kali ini mempelajari tentang anatomi pisces dilatarbelakangi oleh
kurangnya pengetahuan praktikan tentang mekanisme berbagai sistem dalam tubuh
pisces.

1.2 TUJUAN
Adapun tujuan praktikum ini yaitu untuk mengetahui, mengamati, mengidentifikasi,
dan memahami morfologi dan anatomi pada pisces dengan bahan yang digunakan
yaitu Oreochromis niloticus.

2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Pisces disebut hewan poikiloterm karena suhu tubuh tidak tetap (berdarah dingin),
yaitu terpengaruh suhu disekelilingnya. Ikan bernapas dengan insang (operculum)
dan dibantu oleh kulit, tubuh ditutupi oleh sisik dan memiliki gurat sisi untuk
menentukan arah dan posisi berenang. Pada ikan jantung terdiri atas satu serambi dan
satu bilik, dan tubuh terdiri atas kepala dan badan. Ikan berenang dengan bantuan
sirip. Jumlah sirip pada berbagi jenis ikan berbeda- beda (Campbell, 2004)
Secara taksonomi, ikan tergolong kelompok paraphyletic yang hubungan
kekerabatannya masih diperdebatkan. Berdasarkan tulang penyusunnya, kelas pisces
dibedakan atas Agnatha, Chonrichtyes, dan Osteichtyes. Ciri- ciri kelas Agnatha
adalah mulut tanpa rahang (bentuk bulat), tubuh gilig/ silindris tubuh halus tanpa
sisik, rangka tubuh dari tulang rawan, tidak memiliki sirip berpasangan, cekung
hidung hanya satu, terdapat pada bagian medial, dan insang terletak dalam kantong
insang dengan celah insang di sisi lateral tubuh (Brotowidjoyo,1995).
Kelas Chondrichthyes (Ikan bertulang rawan) kerangkanya terdiri atas tulang
rawan dan bukan tulang keras. Ciri-cirinya memiliki endoskeleton yang relatif lentur
yang terbuat dari tulang rawan, memiliki rahang dan sirip berpasangan yang
berkembang dengan baik, respirasi melalui insang, pembuahan internal, bisa bertelur
atau melahirkan anak, memiliki indera yang tajam, termasuk sistem gurat sisi, suatu
barisan organ mikroskopis yang sensitif terhadap perubahan tekanan air di
sekitarnya.
Ciri-ciri Kelas Osteichthyes (Ikan Bertulang Sejati) yaitu kulit ditutupi dengan
sisik dermal yang pipih atau plat tulang, tapi kadang-kadang tidak bersisik. Rahang
merupakan struktur yang kompleks dibangun oleh sejumlah tulang sejati terutama
tulang dermal (unsur tulang rawan yang direduksi). Pada umumnya rangka terdiri
atas tulang sejati, tapi tulang rawan terdapat pada beberapa golongan
(Coelacanthiformes dan Acipenseridae). Ruang insang ditutupi dengan tiga tulang
dermal yang besar disebut operculum. Tiap lengkung insang berfilamen (septum
direduksi dan tidak melebihi panjang filamen). Paru-paru atau gelembung renang
berkembang sebagai penonjolan keluar dari saluran pencernaan makanan
(Alamsjah,1974).
Bentuk, ukuran dan jumlah sisik ikan dapat memberikan gambaran bagaimana
kehidupan ikan tersebut. Sisik ikan mempunyai bentuk dan ukuran yang beraneka
macam, yaitu Sisik ganoid merupakan sisik besar dan kasar Sisik sikloid berbentuk
bulat, jika diamati akan tampak lingkaran yang berbeda-beda, pinggiran sisik halus
dan rata stenoid bentuk seperti sikloid tetapi mempunyai pinggiran yang kasar Sisik
placoid merupakan sisik yang lembut Umumnya tipe ikan perenang cepat atau secara
terus menerus bergerak pada perairan berarus deras mempunyai tipe sisik yang
lembut, sedangkan ikan-ikan yang hidup di perairan yang tenang dan tidak berenang

3
secara terus menerus pada kecepatan tinggi umumnya mempunyai tipe sisik yang
kasar. sementara sisik stenoid mempunyai. Linea lateralis adalah garis yang dibentuk
oleh pori-pori, sehingga LL ini terdapat baik pada ikan yang bersisik maupun ikan
yang tidak bersisik. Pada ikan yang tidak bersisik LL terbentuk oleh pori-pori yang
terdapat pada kulitnya, sedangkan pada ikan yang bersisik LL terbentuk oleh sisik
yang berpori. Pada umumnya ikan mempunyai satu buah garis LL, namun demikian
adapula ikan yan mempunyai beberapa buah LL. LL ini berfungsi LL untuk
mendeteksi keadaan linkungan, terutama kualitas air dan juga berperan dalam proses
osmoregulasi (Guinan, 2006).
Bentuk-bentuk utama sirip ekor dari ikan adalah membulat, bersegi, sedikit
cekung atau berlekuk, bulat bulan sabit, bercegak, meruncing, loncet, bentuk
membulat: apabila pinggiran sirip ekor membentuk garis lengkung dari bagian dorsal
hingga ventral . Bentuk bersegi atau tegak: apabila pinggiran sirip ekor membentuk
garis tegak dari bagian dorsal hingga ventral . Bentuk sedikit cekung atau berlekuk
tunggal: apabila terdapat lekukan dangkal antara lembar dorsal dengan lembar
ventral . Bentuk bulat sabit: apabila ujung dorsal dengan ujung ventral sirip ekor
melengkung keluar runcing, sedangkan bagian tengahnya melengkung . Bentuk
bercagak: apabila terdapat lekukan tajam antara lembar dorsal dengan lemnbar
ventraltuk meruncing: apabila pinggiran sirip ekor berbentuk tajam (meruncing).
Bentuk loncet: apabila pinggiran sirip ekor pada pangkalnya melebar kemudian
membentuk sudut di ujung. Beberapa ikan ada yang memiliki satu atau dua sirip
punggung pada ikan bersirip punggung tunggal umumnya jari-jari bagian depan tidak
bersekat dan mengeras sedangkan jari-jari di belakangnya lunak atau bersekat dan
umunya bercabang (Levi, 2005).
Ikan nila memiliki ciri morfologis yaitu berjari-jari keras, sirip perut torasik,
letak mulut subterminal dan berbentuk meruncing. Selain itu, tanda lainnya yang
dapat dilihat dari ikan nila adalah warna tubuhnya hitam dan agak keputihan. Bagian
tutup insang berwarna putih, sedangkan pada nila lokal putih agak kehitaman bahkan
kuning. Sisik ikan nila berukuran besar, kasar dan tersusun rapi. Sepertiga sisik
belakang menutupi sisi bagian depan. Tubuhnya memiliki garis linea lateralis yang
terputus antara bagian atas dan bawahnya. Linea lateralis bagian atas memanjang
mulai dari tutup insang hingga belakang sirip punggung sampai pangkal sirip ekor.
Ukuran kepala relatif kecil dengan mulut berada di ujung kepala serta mempunyai
mata yang besar (Kottelat et al., 1993).
Bentuk badan ikan nila (O. niloticus) ialah pipih ke samping memanjang.
Mempunyai garis vertikal pada badan sebanyak 911 buah, sedangkan garis-garis
pada sirip berwarna merah berjumlah 612 buah. Pada sirip punggung terdapat juga
garis-garis miring. Mata kelihatan menonjol dan relatif besar dengan bagian tepi
mata berwarna putih. Badan relatif lebih tebal dan kekar dibandingkan ikan mujair.
Garis lateralis (gurat sisi di tengah tubuh) terputus dan dilanjutkan dengan garis yang
terletak lebih bawah (Susanto, 2007).

4
Perbedaan antara ikan jantan dan betina dapat dilihat pada lubang genitalnya
dan juga ciri-ciri kelamin sekundernya. Pada ikan jantan, di samping lubang kloaka
terdapat lubang genital yang berupa tonjolan kecil meruncing sebagai saluran
pengeluaran kencing dan sperma. Tubuh ikan jantan juga berwarna lebih gelap,
dengan tulang rahang melebar ke belakang yang memberi kesan kokoh, sedangkan
yang betina biasanya pada bagian perutnya besar (Suyanto, 2003).
Ikan bertulang rawan pada umumnya, tidak ditemukan struktur yang mirip
paru-paru. Sistem ekskresi ikan seperti juga vertebrata lain yang mempunyai banyak
fungsi antara lain untuk regulasi kadar air tubuh, menjaga keseimbangan garam dan
mengeliminasi sisa nitrogen hasil dari metabolism protein. Untuk itu berkembang
tiga tipe ginjal yaitu pronefros, mesonefros dan metanefros. Pada ikan hiu fungsi
duktus gonad dan ginjal telah berkembang dilengkapi dengan duktus urinaria. Ginjal
ikan harus berperan besar untuk menjaga keseimbangan garam tubuh (Jacob, 2008).
Ikan bertulang sejati bernapas melewatkan air melalui empat atau lima
pasang insang. Air disedot ke dalam mulut, melalui faring, dan keluar diantara celah
insang karena pergerakan operkulum dan kontraksi otot yang mengelilingi ruang
insang tersebut yang terletak di dalam ruangan-ruangan yang tertutup oleh suatu
penutup pelindung yang disebut operkulum. Proses ini memungkinkan seekor ikan
bertulang untuk bernapas saat diam atau tidur. Adaptasi lain dari sebagian besar ikan
bertulang keras yang tidak ditemukan pada hiu adalah gelembung renang suatu
kantung udara yang membantu mengontrol pengambangan ikan tersebut.
Perpindahan gas-gas antara kantung renang dan darah mengubah volume kantong itu
dan menyesuaikan kerapatan ikan. Akibatnya, banyak ikan bertulang keras,
berlawanan dengan sebagian besar hiu, dapat menghemat energi dengan cara tidak
bergerak (Storer, 1957).
Rincian mengenai reproduksi ikan bertulang keras sangat bervariasi. Sebagian
besar spesies adalah hewan ovivar, yang bereproduksi dengan fertilisasi eksternal
setelah betina melepaskan sejumlah besar telur kecil. Namun demikian, fertilisasi
internal dan kelahiran merupakan karakteristik spesies yang lain (Bond, 1979)
Terdapat 3 macam proses reproduksi pada kelas pisces yaitu secara ovipar,
vivipar, dan ovovivipar. Sebagian besar ikan melakukan reproduksi secara ovipar
yaitu pembuahan di luar tubuh ikan betina dengan cara ikan betina mengeluarkan
telur dari dalam tubuhnya dan akan dibuahi oleh ikan jantan.Sel sperma akan
masukke sel telur (oosit) melalui lubang yang disebut mikrofil. Biasanya satu sel
telur hanya dapat dimasuki oleh satu sel sperma. Oosit yang sudah dibuahi sel
sperma disebut zigot. Kemudian zigot akan berkembang menjadi embrio dan akan
menetas menjadi larva yang diselubungi kantong kuning telur (yolk sac) sebagai
sumber nutrisi danbentuknya sangat berbeda dengan ikan dewasa. Setelah sekitar 2
minggu larvatersebut akan tumbuh menjadi ikan dewasa dan mengulang proses
tersebut.Contoh ikan yang bereproduksi secara ovipar adalah: ikan salmon, belut,
ikantuna, ikan mas. Pada reproduksi secara vivipar, pembuahan terjadi di dalam
tubuh ikan betina (Yasin, 1984).

5
Perkembangan embrio dalam tubuh ikan betina dibantu oleh plasenta dengan
memberikan nutrisi pada embrio. Setelah itu akan dilahirkan anak ikan yang
bentuknya sudah menyerupai ikan dewasa. Pada reproduksi secara ovovivipar,
perbedaannya adalah embrio tidak memperoleh nutrisi secara langsung dari induknya
melainkan dari kuning telurnya dan tubuh induknya berfungsi sebagai tempat
perlindungan. Setiap embrio berkembang di dalam telurnya masing masing.
Contoh ikan yang mengalami reproduksi secara vivipar dan ovovivipar adalah ordo
Lamniformes (ikan hiu). Ikan yang melakukan reproduksi secara ovovivipar
biasanya tidak dapat menghasilkan anak sebanyak ikan yang bereproduksi secara
ovipar.
Sistem ekskresi adalah sistem pembuangan proses pembuangan metabolisme
tubuh (berupa gas, cairan, dan padatan) melalui kulit, ginjal dan melalui saluran
pencernaan. System reproduksi adalah system yang mempertahankan spesies dengan
menghasilkan keturunan yang fertil. Embriologi ialah urutan proses perkembangan
dari zygot sampai dengan anak ikan dan sampai seterusnya. Organ reproduksi
diantaranya adalah organ kelamin, yang menghasilkan sel gamet (kelamin) yaitu
spermatozoa (gonad jantan), biasanya sepanjang kiri dan kanan lalu menghasilkan
pulu (gonad betina) yaitu ovarium.Jenis dan bagian fungsi sisikKulit memproduksi
sisik yang menutupi permukaan tubuhnya, setiap sisik di bentuk dalam kantung
epidermis. Tumbuhnya terus menerus selama ikan tersebut masih hidup dan tidak
mengalami regenerasi, apabila mengalami kerusakan atau hilan, waktu
pertumbuhannya bergantung pada cadangan material baru di sekitar pinggir atau di
insang, sehingga ilmuwan dapat mengetahui umur ikan tersebut dengan lingkaran
cincin pada sisik. Pada ikan nila tersebut sisik yang melingkupi tubuhnya sisik pada
ikan ini termasuk pada tipe terost, yang tidak memiliki cnamel, dentin dan lapisan
pembuluh tulang, hanya memiliki berkas lama saja (Standring, 2005).
Sistem eksresi (pengeluaran urin) dan kelamin ikan bergabung menjadi satu
sehingga disebut sistem urogenitalia. Alat ekskresi terdiri atas ginjal (ren), ureter,
kandung kemih dan korus ekskretorius. Sepasang ginjal ikan berwarna merah tua,
keduanya dihubungkan ke kandung kemih melalui ureter. Kandung kemih
merupakan tempat penampung urine dari ureter kanan dan kiri, sedangkan korus
ekskretorius merupakan lubang pengeluaran urine ( Djuhanda, 1974).
Ikan telah memiliki saluran dan kelenjar pencernaan makanan. Saluran
pencernaan ikan meliputi rongga mulut, faring, kerongkongan (esofagus), lambung,
dan usus (intestinum). Di dalam rongga mulut terdapat gigi berbentuk kerucut (konus
pada rahang), lidah yang tidak dapat digerak-gerakkan dan kelenjar mukosa. Ikan
tidak memiliki kelenjar ludah. Usus ikan berbentuk tabung yang berkelok-kelok dan
dilengkapi oleh alat penggantung usus (mesentrium) agar dapat dikaitka kedinding
punggung. Kelenjar pencernaan ikan terdiri atas hati, kantong empedu, dan pankreas.
Hati (hepar) berfungsi untuk menghasilkan dan menyimpan empedu. Kantong
empedu berwarna kehijauan. Kantong tersebut memiliki saluran, duktus
sistikus, yang bermuara di lambung. Kantong empedu berfungsi untuk menampung

6
cairan empedu dan mencurahkannya kedalam usus. Di dalam usus, cairan empedu
digunakan untuk mencerna lemak. Pankreas bersifatmikroskopi yang berfungsi untuk
menghasilkan enzim-enzim pencernaan (Kimball, 1983).
Sistem saraf pada Pisces terdiri dari otak dengan 10 saraf kranial, memiliki
gurat sisiuntuk merasakan tekanan air, indra lengkap. Ikan merupakan hewan yang
memerlukan reflek bergerak yang memadai untuk menghindari musuh dan
menangkamangsa. Selain itu ikan dituntut untuk memilikki keseimbangan yang baik.
Maka dariitu, otak kecil pada ikan berkembang lebih pesat, karena otak kecil
merupakan pusat keseimbangan dan pergerakkan (Kimball, 1983).

7
BAB III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1 WAKTU DAN TEMPAT


Praktikum Anatomi hewan (Anatomi Pisces) ini dilaksanakan pada hari selasa, 22
Agustus 2017, Jam 10.30 WIB di Laboratorium Pendidikan II Jurusan Biologi,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Padang.

3.2 ALAT DAN BAHAN


Adapun alat yang digunakan untuk Praktikum Anatomi Pisces ini antara lain tissu
gulung, gunting bedah, pinset, cutter, masker, sarung tangan, jarum pentul,
keranjang/kotak sepatu, sabun cair, buku gambar, dan alat-alat tulis. Sedangkan
bahan yang digunakan untuk praktikum anatomi pisces ini adalah sepasang
Oreochromis niloticus.

3.3 CARA KERJA


Adapun cara kerja pada praktikum ini adalah pertama ikan yang akan dibedah
sebelumnya dilumpuhkan dulu dengan cara dipukul dengan benda tumpul di daerah
lateral linenya. Selanjutnya ikan dibedah di bagian perut atau dorsal dengan
menggunakan pisau cutter, dilakukan dengan hati-hati agar bagian dalam organ tidak
rusak. Kemudian isi perut dikeluarkan dengan hati-hati menggunakan pinset, dan
organ-organ tersebut diletakkan di atas kertas reject, direntangkan atau dipisahkan
organ O. niloticus tersebut satu-persatu agar mudah diteliti. Kemudian dibandingkan
perbedaan antara organ jantan dan organ betinanya. Selanjutnya organ O. Niloticus
tersebut digambar dalam buku gambar masing-masing.

8
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Morfologi Pisces

Gambar 1. Morfologi Oreochromis niloticus: a. Cavum oris, b. Organon visus, c.


Pinnae dorsalis, d. Pinnae caudalis, e. Pinna analis, f. Lateral line, g.
Pinnae abdominalis, h. Pinnae pectoralis, i. Operculum

Dari pengamatan yang sudah dilakukan dapat dilihat morfologi ikan nila yaitu
memiliki bentuk tubuh yang pipih ke arah vertikal (kompres) dengan profil empat
persegi panjang ke arah antero posterior. Posisi mulut terletak di ujung hidung
(terminal). Pada sirip ekor tampak jelas garis-garis vertikal dan pada sirip
punggungnya garis tersebut kelihatan condong letaknya. Ciri khas ikan nila adalah
garis-garis vertikal berwarna hitam pada sirip ekor, punggung dan dubur. Pada
bagian sirip caudal (ekor) dengan bentuk membuat terdapat warna kemerahan dan
bisa digunakan sebagai indikasi kematangan gonad. Pada rahang terdapat bercak
kehitaman. Sisik ikan nila adalah tipe ctenoid. Ikan nila juga ditandai dengan jari-jari
dorsal yang keras, begitu pun bagian analnya.
Pada ikan nila jantan ujung sirip berwarna kemerah-merahan terang dan jelas,
warna perut lebih gelap/kehitam-hitaman, warna dagu kehitam-hitaman dan
kemerah-merahan. Sedangkan ikan nila betina ujung sirip berwarna kemerah-
merahan pucat tidak jelas, warna perut lebih putih, warna dagu putih. Bagian tubuh
ikan nila terdiri dari 3 bagian yaitu:
Kepala (caput): pada bagian ini terdapat lubang hidung (Fovea nasalis),
mulut (Rostrum), mata (Organon visus), tutup insang (Apparatus opercularis).
Bentuk dari kepala relatif kecil sehingga mata tampak menonjol dan besar. Mata
berfungsi sebagai alat penglihatan. Mulut kecil, membelah bagian depan kepala.
Mulut terdiri dari maxilla dan mandibulla. Guinan (2006) menyatakan bahwa mulut
pada ikan berfungsi sebagai alat untuk menangkap mangsa dan sebagai alat
masuknya air untuk mengambil oksigen dari air. Sepasang lubang hidung terletak di
bagian kepala. Sepasang tutup insang terletak di bagian belakang kepala. Selain itu,
pada bagian bawah kepala memiliki dua pasang kumis yang pendek.
Badan (Truncus), terdapat beberapa macam sirip serta garis rusuk (linea
lateralis). Memiliki lima buah sirip, yaitu sirip punggung (dorsal), sirip dada
(ventral), sirip perut (pectoral), sirip dubur (anal), dan sirip ekor (caudal). Sirip

9
punggung panjang terletak di bagian punggung. Sirip dada sepasang terletak di
belakang tutup insang, dengan satu jari-jari keras, dan yang lainnya berjari-jari
lemah. Sirip perut hanya satu terletak pada perut. Sisik ikan nila adalah tipe stenoid
sisik yang bagian atasnya bergigi. Pada ikan emas memiliki sisik tipe Sikloid. yaitu
berukuran besar dan tersusun rapi. Gurat sisi terputus di bagian tengah badan.
Ekor (Caudal), ekor disebut jaga sirip ekor. Sirip ikan nila memiliki tipe
homocercal, dimana columna vertebralis berakhir sampai ujung ekor, dan ujungnya
tumpul. Ikan nila mempunyai tipe ekor yaitu protocercal. Yang berbentuk chorda
dorsalis lurus dan meluas pada ujung cauda, bagian dorsal dan ventral hamper terbagi
sama. Tipe ini adalah tipe yang paling primitif.
Tutup insang (operculum), berfungsi melindungi kepala dan mengatur
mekanisme aliran air sewaktu bernapas. Operculum di bagian kiri dan kanan yang
masing-masing terdiri dari 4 keping, berfungsi sebagai klep atau katup pada saat air
masuk ke dalam rongga mulut. Lalu ada selaput tipis di pinggiran operculum.
Terdapat juga lengkung insang yang tumbuh pada rigi-rigi yang berguna untuk
menyaring air pernapasan yang melaui insang berfungsi sebagai tempat melekatnya
tulang tapis insang dan daun insang, mempunyai banyak saluran-saluran darah dan
saluran syaraf. Lalu ada lembaran insang berwarna kemerahan, tersusun atas jaringan
lunak berbentuk sisir. Berfungsi sebagai tempat terjadinya pertukaran gas oksigen
dan karbondioksida. Selanjutnya ada saringan insang (tapis insang), berfungsi untuk
menjaga agar tidak ada benda-benda asing yang masuk ke dalam rongga insang.

4.2. Anatomi Pisces


Organ dalam pada hewan dapat dilihat dengan cara membedah, namun tidak merusak
organ dalam bagian tubuhnya apabila menggunakan metode pembedahan yang tepat.
Metode yang digunakan disebut sectio. Setelah dilakukan pembedahan dengan
metode sectio organ dalam ikan yang dapat diamati adalah sebagai berikut, dapat
terlihat pada gambar .

10
Gambar 2. Organ Oreochromis niloticus: 1. Cor, 2. Limpa, 3. Vesica felea, 4. Hepar,
5.Ren, 6.Ventriculus, 7. Operculum, 8. Intestinum tenue, 9. Intestinum
crassum, 10. Kolaka, 11. Ovarium, 12. Testis

Organ-organ internal ikan adalah jantung, alat-alat pencernaan, gonad,


kandung kemih, dan ginjal. Alat pencernanya terdiri atas esopaghus, perut besar,
usus halus, pankreas, dan hati. Organ-organ tersebut biasanya diselubungi oleh
jaringan pengikat yang halus dan lunak yang disebut peritoneum. Peritoneum
merupakan selaput (membran) yang tipis berwarna hitam yang biasanya dibuang jika
ikan sedang disiangi.
Terdapat pula gelembung renang. Gelembung renang adalah organ bagian
badan untuk menyesuaiakan berat tubuh ikan dan mencegah tenggelam. Berbentuk
lonjong terdiri dari dua bagian, bagian depan yang besar dan bagian belakang yang
kecil.
Sistem pencernaan pada vertebrata termasuk ikan teridiri atas dua bagian
besar yaitu saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Saluran pencernaan dimulai
dari rongga mulut, faring, esofagus hanya pendek, lambung, usus, dan kloaka.
Kelenjar pencernaan umumnya berupa kelenjar mukosa, hati, dan pankreas. Oleh
sebab itu ikan hidup di air maka tidak memerlukan banyak kelenjar mulut untuk
membasahi makanannya, namun masih ada beberapa kelenjar mukosa.
Kerongkongan yaitu kelanjutan faring yang terletak di belakang insang.
Esofagus berperan dalam penyerapan garam melalui difusi pasif menyebabkan
konsentrasi garam air laut yang diminum akan menurun ketika berada di lambung
dan usus sehingga memudahkan penyerapan air oleh usus belakang dan rectum
(proses osmoregulasi). Lambung yaitu kelanjutan kerongkongan yang merupakan
pembesaran dari usus. Ventriculus, berfungsi sebagai alat menampung makanan
sementara, atau tempat mencerna makanan secara kimiawi, dimana di dalam
vebtriculus makanan akan di cerna lebih lanjut. Ususnya panjang dan berliku-liku.
Intestinum (usus), usus terbagi mejadi dua bagian, yaitu usus halus dan usus besar
(Djuhanda, 1974).
Di dalam saluran pencernaan terdapat beberapa kelenjar pencernaan, antara
lain hati dan pankreas. Hepar (hati), berfungi sebagai tempat menawarkan racun dan
merombak sel-sel darah merah, kantong empedu, yang berfungsi untk menampung
empedu yang dihasilkan oleh sel-sel hati. Pankereas terletak dibagian lambung dan
usus. Pankreas merupakan organ yang mensekresikan bahan (enzim) yang berperan
dalam proses pencernaan (Jacob, 2008).
Ginjal pada O. niloticus terletak di atas rongga perut, di bawah tulang
punggung dan aorta dorsalis, sebanyak satu pasang, berwarna merah, memanjang.
Fungsi ginjal yaitu untuk menyaring sisa-sisa proses metabolisme untuk dibuang,
zat-zat yang diperlukan tubuh diedarkan lagi melalui darah dan mengatur kekentalan
urin yang dibuang untuk menjaga keseimbangan tekanan osmotik cairan tubuh.
Jantung terletak di bagian anterior daerah abdomen yang berbatasan dengan tutup

11
insang dan di bungkus oleh selaput. Jantung ikan berfungsi untuk memompa darah
keseluruh tubuh. Selain itu, terdapat organ sinus venosus, yaitu struktur penghubung
berupa rongga yang menerima darah dari vena dan terbuka di ruang depan jantung.
Sinus venosus berdinding tipis, berwarna merah cokat, terletak di caudal dorsal cor.
Terdiri atas dua ruangan (atriculum dan ventricullum) dengan sinus venosus dan
corus arteriosus yang bersifat daerah vena (Susanto,2007).
Kanal alimentari memanjang dari rongga mulut sampai tenggorokan melalui
esophagus, perut besar, usus halus, dan berakhir pada anus. Dinding esophagus perut
besar dan usus halus dibentuk oleh benang-benang otot yang halus yang merupakan
jaringan pengikat yang lentur. Bagian dalam perut besar dan usus halus terdapat
halus terdapat selaput sepalut yang mengandung kelenjar-kelenjar keal yang
mengeluarkan cairan pencerna. Menurut Levi (2005) kelenjar-kelenjar pada perut
besar mengeluarkan cairan yang bersifat asam, yang banyak mengandung pepsin dan
asam klorida. Sementara kelenjar yang terdapat pada usus halus mengeluarkan cairan
yang bersifat alkalis yang benyak mengandung enterokinase yaitu sejenis enzim.
Pada bagian luar usus halus tersimpan enzim-enzim yang berasal dari hati yaitu
tripsin dan yang berasal dari pankreas yaitu lipase, dan di samping itu juga tersimpan
enzim amilase. Pada beberapa ikan tidak dijumpai adanya perut besar, sehingga
fungsinya digantikan usus halusnya, misal pada ikan karper (Seeley, 2007).
Sistem sekresi pada tubuh ikan air tawar lebih hipertonis dari lingkungannya
sehingga air banyak yang masuk lewat permukaan tubuhnya, akibatnya ikan ini
sedikit minum air. Dan urin yang dihasilkan banyak dan encer. Untuk mendapatkan
air dan garam dari makanan, air masuk secara osmosis lewat permukaan tubuhnya.
Konsentrasi larutan dalam tubuh lebih besar dengan yang ada di lingkungan supaya
mencegah masuknya air dan kehilangan garam agar tidak minum, kulit diliputi
mucus, osmosis melalui insang, produksi urin encer, pompa garam melalui sel-sel
khusus pada insang (Sjafei, 1989).
Sistem reproduksi pada ikan betina mempunyai indung telur sedangkan ikan
jantan mempunyai testis. Baik indung telur maupun testis ikan semuanya terletak
pada rongga perut di sebelah kandung kemih dan kanal alimentari. Pada alat kelamin
jantan terdapat sepasang testis yang berbentuk panjang, tipis dan berwarna seperti
lemak. Pada alat kelamin betina bentuknya tampak jelas dengan sepasang ovarium
yang berbentuk seperti huruf V. Keadaan gonad ikan sangat menentukan kedewasaan
ikan. Kedewasaan ikan meningkat dengan makin meningkatnya fungsi gonad. Ikan
Nila umumnya mempunyai sepasang gonad, terletak pada bagian posterior rongga
perut di sebelah bawah ginjal. Menurut pernyataan Bond (1979) bahwa pada saat
ikan nila bertelur dan sperma dikeluarkan oleh ikan jantan, pada saat itu pula
terjadilah fertilasi di luar tubuh induknya (eksternal) yaitu di dalam air tempat
dimana ikan itu berada, kemudian mengerami telur di dalam mulutnya antara 4-5 hari
dan telur tersebut menetas 3-4 hari. Telur ikan yang dibuahi dan menetas dinamakan
larva. Larva tersebut mempunyai kuning telur yang masih menempel pada tubuhnya
digunakan sebagai cadangan makanan untuk awal kehidupannya.

12
BAB V. PENUTUP

5.1 KESIMPULAN
Pada praktikum Anatomi Pisces kali ini adapun kesimpulan yang dapat diambil yaitu
sebagai berikut :
1. Oreochromis niloticus tubuhnya terdiri atas 3 bagian yaitu kepala (Caput),
badan (Truncus) dan ekor (Caudal).
2. Tipe sisik pada Oreochromis niloticus adalah stenoid dan tipe sirip ekor
(Caudal) adalah homocercal
3. O. niloticus memiliki insang (Operculum) sebagai alat pernapasan.
4. Sistem pencernaan pada O. niloticus berupa esophagus, Intestenum tenue,
Intestenum crassum dan kloaka.
5. Antara Ikan O. niloticus jantan dan yang betina dapat dibedakan dari cairan
yang dikeluarkan pada kloakanya ketika diurut bagian abdomennya.
6. Pada O. niloticus jantan terdapat sepa
7. Sirip pada ikan dapat dibedakan atas pinna pectoralis, pinna abdominalis,
pinna dorsalis, pinna analis, dan pinna caudalis.
8. Pada Oreochromis niloticus terdapat gelembung renang (vesicular natatoria).

5.2 SARAN
Saran yang dapat dimabil dari praktikum kali ini adalah dalam pembedahan
Oreochromis niloticus harus berhati-hati supaya organ dalamnya tidak ada yang
rusak. Sebaiknya sebelum praktikum, praktikan sudah menguasai materi tentang
objek yang akan dipraktikumkan agar ketika pengamatan tidak terlalu sulit.

13
DAFTAR PUSTAKA

Alamsjah, Z. 1974. Ichthyologi I. Departemen Biologi Perairan. Fakultas Perikanan.


Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Bond, C.E. 1979. Biology of Fishes. W.B. Saunders Company, Philadelphia.
Brotowidjoyo,M. 1990. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga.
Campbell, N.A. 2008. Biologi Jilid 3. Jakarta: Erlangga.
Djuhanda,T. 1974. Analisa Hewan Vertebrata. Bandung: Penerbit Armiko.
Guinan, J.J. 2006. Olivocochlear Efferents: Anatomy, Physiology, Function, and the
Measurement of Fish Marine. Ear & Hearing 27,589-607.
Jacob, S. 2008. Fish Anatomy: A Clinically-Orientated Approach. New York:
Churchill Livingstone, Inc.
Kimball, John W., Biologi, Jilid 1, terj. Siti Soetarmi dan Nawangsari Sugiri,
Bandung; Erlangga, 1983, Cet. 5.
Kottelat, M., A.J. Whitten, S.N. Kartikasari, and S. Wirjoatmodjo. 1993. Freshwater
Fishes of Western Indonesia and Sulawesi. Periplus Editions Limited, Hong
Kong.
Levi, D. M. (2005). Preceptual learning in adults with amblyopia: A reevaluation of
critical periods in human vision. Development Physiology 46, 222-232.
Saanin,H.1968.Taksonomi dan Identifikasi Ikan I.Bandung:Bina Cipta.
Seeley, R.R., et al. 2007. Anatomy and Physiology, 8th ed. New York: McGraw-Hill
Book Co.
Sjafei, D.S., M.F. Rahardjo, R. Affandi, dan M. Brodjo. 1989. Bahan Pengajaran
Sistematika Ikan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat.
InstitutPertanian Bogor, Bogor.
Storer, T.J. and R.L. Usinger. 1957. General Zoology. McGraw Hill BookCompany,
Inc., New York.
Sukiya.2005.Anatomi Ikan.Jakarta:Indonesia Press.
Susanto, H. 2007. Aturan Pembuatan Kolam Ikan. Jakarta: Penebar Swadaya.
Suyanto, R. 2003. Pembenihan dan Pembesaran Nila. Jakarta: Penebar Swadaya.
Standring, S. 2005. Grays Anatomy and Anatomical Basis of Clinical Practices.
39th ed. Elsevier, Churchill Livingstone.
Wahl, I. 2006. Building Anatomy: An Illustrated Guide to How Structures Work.
New York: McGraw-Hill Book Co.
Yasin, Maskoeri. 1984. Sistematika Hewan (Invertebrata dan Vertebrata). Surabaya
: Sinar Wijaya.
Zander. 2009.Morfologi dan Anatomi Ikan.Jakarta: PT.Rineka Cipta.
Standring, S. 2005. Grays Anatomy and Anatomical Basis of Clinical Practices.
39th ed. Elsevier, Churchill Livingstone.

14
LAMPIRAN 1. SUMBER PUSTAKA

Jacob, 2008

Brotowidjoyo, 1990

Sukiya, 2005

15
Saanin, 1968

Kottelat et al, 1993

16
Wahl, 2006.

Campbell, 2008

17
Campbell, 2008 Levi, 2005

Susanto, 2007

18
Suyanto, 2003

Bond, 1979

19
LAMPIRAN 2. DOKUMENTASI PRAKTIKUM

Gambar 3. Rangka Oreochromis Gambar 3. Ukuran panjang


niloticus: 1. Vertebrae, 2. Sternum Oreochromis niloticus

20

Anda mungkin juga menyukai