Anda di halaman 1dari 2

Dasar Teori

Luka merupakan bagian dari cedera yang terjadi akibat suatu kecelakaan,
baik ringan maupun berat. Kecelakaan sudah menjadi kejadian yang tidak asing
lagi di masyarakat. Kecelakaan itu sendiri dapat terjadi akibat kecelakaan lalu
lintas maupun kecelakaan rumah tangga. Bahkan, cedera menduduki peringkat 8
dari 15 penyebab kematian. Dalam penelitian oleh Murray dan dalam penelitian
WHO, cedera dapat menyebabkan kematian dan semakin tahun angka
kejadiannya semakin meningkat. Pada penelitian tersebut juga didapatkan bahwa
kematian akibat cedera meningkat dari 5.1 juta hingga mencapai 8,4 juta. Selain
itu, didapatkan juga penelitian bahwa dari 972.317 pasien, terdapat 77.248 orang
yang mengalami cedera selama kurun waktu 1 tahun terakhir. Proporsi pada
cedera-cedera tersebut ialah 59.6% cedera akibat jatuh, 27% akibat kecelakaan,
dan 18.3% akibat terluka benda tajam/tumpul.

Luka adalah kondisi terputusnya jaringan lunak, baik kulit, otot, saraf atau
pembuluh darah. Luka dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal,
contohnya seperti keutuhan kulit yang melapisi jaringan lunak tersebut.
Berdasarkan keutuhan kulit, luka dapat dibagi menjadi dua, yaitu luka terbuka dan
luka tertutup. Selain itu, terdapat jenis luka lain, yaitu luka bakar. Pada modul ini,
hanya akan dibahas mengenai penanganan luka terbuka, luka bakar, dan mimisan.

Luka menimbulkan perdarahan, sementara darah adalah salah satu organ


penting dalam tubuh yang berperan menjaga bagian-bagian tubuh tetap adekuat
menjalankan fungsinya karena darah berfungsi untuk mengalirkan oksigen dan
nutrisi. Angka prevalensi luka yang cukup tinggi menjadi perhatian kita untuk
mengetahui tatalaksana penanganan luka pada kondisi emergency, antara lain
dengan metode balut. Dengan tatalaksana balut, perdarahan yang ditimbulkan
akibat cedera dapat diminimalisasi sehingga diharapkan dengan mengetahui
tatalaksana balut akan mengurangi angka kematian.

Pada luka terbuka, terjadi cedera pada kulit yang menyebabkan jaringan di
bawah kulit tersebut mengalami paparan terhadap dunia luar, sehingga risiko
terjadinya infeksi meningkat. Contoh dari luka terbuka antara lain luka tusuk, luka
tembak/tembus, luka sayat, luka serut/cakar, luka lecet/ laserasi, dan luka
amputasi.
Cara kerja (Prosedur) Penanganan
Penanganan pada luka terbuka perlu dilakukan segera. Beberapa hal yang
harus diperhatikan sebelum melakukan penanganan luka adalah:

a) Pastikan kondisi lingkungan sekitar penolong dan korban


aman. Jika kondisi tidak aman (di tengah jalan,
reruntuhan, dll) segera pindahkan korban ke tempat yang
aman.
b) Gunakan alat pelindung diri (APD) seperti masker dan
sarung tangan
c) Pastikan tidak ada gangguan pada pernapasan dan
sirkulasi pasien
d) Jika terlihat perdarahan yang parah, segera menghubungi
ambulans

Setelah itu, mulai dilakukan penanganan pada luka dengan langkah-langkah


berikut:

1. Pastikan lokasi dan jumlah bagian tubuh yang terluka dengan memeriksa
keseluruhan tubuh korban (expose).
2. Bersihkan luka dengan mengalirkan air bersih hingga tidak ada kotoran yang
menempel.
3. Berikan Betadine agar membuat lukanya cepat kering.
4. Tutup dengan kapas kemudian lapisi dengan menggunakan kain kasa(perban)
kemudian rekatkan dengan menggunakan plaster/hansaplas agar kapas tetap
merekat dan tetap menutupi lukanya.
5. Lakukan pergantian kapas setiap hari agar tidak terjadi infeksi.
6. Apabila terjadi luka parah langsung telepon ambulance dan segera dibawa
kerumah sakit