Anda di halaman 1dari 1

Salah satu peran penting dalam pemerintahan, baik otonomi daerah maupun pusat, adalah

pengambilan keputusan. Keputusan-keputusan tersebut terbagi menjadi tiga kelompok, diantaranya adalah
keputusan kebijakan, keputusan administratif, dan keputusan eksekutif. Buku ini telah menjelaskan ketiga
jenis keputusan tersebut, namun kurang terperinci dan tidak diberikan contoh untuk mempermudah
pembaca dalam membacanya. Berdasarkan buku tersebut yang didukung dengan referensi lain, keputusan
kebijakan merupakan keputusan yang dibuat untuk memberikan arah atau dasaran dalam pelaksanaan
kebijakan publik, termasuk diantaranya adalah pembuatan keputusan untuk menerbitkan peraturan,
ketetapan, atau makna undang-undang. Keputusan administratif adalah keputusan yang diambil untuk
memenuhi kepentingan banyak pihak dalam suatu wilayah tertentu. Contoh pembuat keputusan
administratif adalah pejabat pemerintah, walikota, atau gubernur. Sedangkan keputusan eksekutif,
merupakan keputusan yang diambil oleh seseorang dengan kekuasaan yang tinggi, yang bahkan bisa
dilakukan tanpa persetujuan pihak lain. Keputusan eksekutif biasanya berbentuk hak prerogatif atau hak
istimewa yang dimiliki oleh seseorang dengan tingkat jabatan pemerintahan yang tinggi, misalnya raja atau
presiden. Sebagai contoh, di Indonesia, presiden memiliki hak prerogatif untuk memutuskan atau
melakukan sesuatu tanpa persetujuan lembaga atau pihak lain.
Berdasarkan buku tersebut, Friedrich, (1950, halaman 409) yang dikutip oleh Beckman (1964,
halaman 326), menyatakan bahwa perencana memiliki peran sebagai birokrat, yaitu seorang spesialis tata
kota yang bertugas untuk melaksanakan peraturan-peraturan yang diputuskan oleh badan eksekutif atau
legislatif. Hal tersebut berarti bahwa perencana hanya bertindak sesuai dengan kepentingan negara yang
memiliki peran bersifat teknis, bukan politis. Sehingga, pada saat itu tugas perencana dipandang sebagai
tugas yang vital (karena menyangkut banyak pihak), namun terbatas (karena dibatasi oleh aturan dan
kepentingan negara). Pada tahun 1960-an, pemuda-pemuda perencana di Amerika mulai mengubah peran
perencana yang sekadar sebagai seorang birokrat. Mereka mulai memerankan posisi sebagai pemimpin
dalam sistem pemerintahan kota. Hal tersebut mengubah citra perencana yang hanya memiliki peran
sebagai birokrat, menjadi seorang politisi yang lebh berkuasa. Hal tersebut memudahkan perencana dalam
melakukan proses perencanaan, menciptakan inovasi-inovasi, memanfaatkan potensi daerah, dan hal
lainnya yang berkaitan dengan kepentingan perencanaan suatu daerah. Buku ini telah menyebutkan
beberapa peran perencana sebagai seorang birokrat, namun tidak banyak membahas peran perencana
sebagai politisi, sehingga hal tersebut membuat pembaca sulit memahami perbedaan peran antara keduanya.