Anda di halaman 1dari 3

Pembatasan otonomi pemerintahan lokal bahkan mencapai ke dalam daerah dimana pemerintah pusat

tidak melakukan kontrol preskriptif (membuat ketentuan). Pada daerah tersebut juga, program-program
yang diijalankan oleh agensi tidak tergantung secara menyeluruh pada apa yang ditentukan oleh
perencana dan politisi. Pemerintah pusat dapat memanipulasi kontek pilihan mereka dengan membuat
beberapa program menjadi lebih menarik dibanding lainnya, demikian pula penguasa lokal yang
berpengaruh.
Diantara berbagai bidang terapat keterkaitan yang hierarkis. Demikian, orang mengklasifikasikan
keputusan menjadi 3 grup. keputusan kebijakan, keputusan administratif, dan keputusan eksekutif.
Keputusan kebijakan dimulai dengan pembentukan bisnis. Untuk memulainya, harus ada ide dan
seseorang yang menentukan bahwa basis bisnis padanya memiliki kemungkinan untuk berhasil.
Kemudian keputusan harus dibuat berdasarkan hukum dan orang-orang hukum
Dibawah level tsb, ada yang lebih tidak penting tapi tetap berefek luas. Keputusan administratif. Semisal
ada kebijakan negara dimana sebuah perusahaan harus memproduksi berdasarkan kualitas tententu,
keputusan administratif harusnya kemuian dibuat supaya hal tsb bisa dicapai.
Kemudian ada keputusan eksekutif, yaitu yang dibuat pd saat dimana sebuah pekerjaan dilakukan untuk
mengejar tujuan pekerjaan tsb dibanding dirinya sendiri. Pada satu waktu misalnya, akan lebih mudah
bagi otoritas lokal untuk memperoleh hibah berupa pembangunan bertingkat tinggi dibanding rendah. Hal
tsb merupakan insentif yang cukup kuat untuk membuat mereka membangun block ketidakpedulian yang
tinggi pada pilihan mereka.
Perbedaan dalam gelar pada otonomi relatif yang dinikmati oleh pemerintah pusat dan lokal diilustasikan
oleh perselisihan antara keduanya. Kasus yang paling sering adalah pada Circular 10/65 yang dikabarkan
oleh Labour Government yang diinsruksikan oleh otoritas lokal untuk mempersiapkan dan
mengumpulkan rencana untuk mengorganisir kembali edukasi kedua pada garis komprehensif. 6 skema
model dibuat, membuat lingkup yang besar untuk otoritas lokal untuk memiilih tipe edukasi
komprehensif yang cocok untuk tujuan mereka. Apa yang tidak bisa mereka lakukan adalah berangkat
dari garis keputusan yang telah pemerintah adopsi. Sebagai grup Ealing parents diberitahui oleh konseling
ealing borough council dalam sebuah kasus tes, Apa ... sangat mengkomplen tentang bahwa mereka
tidak suka keputusan nasional mengenai edukasi komprehensif. Itu penting sehingga harus diputuskan
dengan ballot box.
Taktik subversi untuk melawan perintah adalah tipikal situasi kompetitif; pengumpulan yang tertunda
atau menggiring simpati publik untuk membuatnya less lezat untuk pemerintah pusat untuk menggunakan
kekuatannya. Demikian, terdapat kecenderungan dalam struktur terpusat untuk mendorong keputusan tsb
dan untuk mengganti kerangka kerja. Hal ini menciptakan permasalahan kelebihan beban di tengah,
sehingga pemusatan memiliki elemen tertentu untuk mengalahkan diri sendiri ke dalamnya.
Tugas planner
Otonomi relatif menentukan tingkat bagi agensi perencanaan
Kontrol kontekstual seperti ini ada untuk semua agensi perencanaan, apakah mereka latihan otoritas
hukum ataupun tidak. Sebagai contoh, administrasi Kenney menginginkan kota California untuk memulai
latihan perencanaan yang sama dengan yang dilakukan oleh kota-kota di eastern seabord. Mereka
menawarkan subsidi pada san fransisco sehingga kota ayah merasa terdorong untuk mengambil
keuntungan. Namun, dukungan kota hanya merupakan bla3 dan san fnacisco housing model yang famous
tsb berasal dari latihan yang ditunda tidak lama setelah bantuan federal berhenti, dan meskipun ketenaran
sedunia yang mana model tsb peroleh dari circle profesional bisa ikutserta dalam perencnaan normatif,
atau menjadi terbatas dalam perencanaan fungsional. Namun peran perencana mungkin menetralkan
efeknya. Ha ini lebih jelas dalam kasus bahwa sebuah agensi potensial untuk perencanaan normatif, yang
menikmati otonomi yang baik. Dari waktu ke waktu, ada saja agensi yang harus mengulas tingkat efektif
pada operasionya. Terdapat 2 cara untuk melakukannya. Yang pertama dengan menyelidiki alokasi
sumberdaya pada berbagai tugas, dan yang kedua adalah pendekatan mendasar dalam menguulas tugas2
itu sendiri.
Yang pertama menuntut lebih sedikit dan lebih sedikit menggelisahkan karena lebih sedikit pertanyaan
yang berkembang. Dan juga, kebutuhannya lebih jelas. Untuk menguras satu sumberdaya, berarti
kehilangan kemampuan operasional untuk mengejar tujuan. Karena itu, sumber daya anggaran dalam
uang, tanah, kekuatan orang, dll lebih umum dalam mengulas set aktivitas dan menyeimbangkan objektif
perlawanan satu sama lain.
Alasan menyarankan bahwa ulasan seperti itu harus dilakukan bersama dengan tujuan yang ingin dicapai,
dengan bantuan sumberdaya2 tsb. Namun dalam beberapa waktu terakhir, ini pasti tidak dilakukan
dengan secara eksplisit. Bahkan jaman skrg, ketika efek2 program dinilai dengan keuangan putput, hal tsb
menjadi sesuatu yang lebih canggih brarti mengalokasikan sumberdaya2 untuk penggunaan eksisting.
Jarang jumlah ini menjadi sangat fundamental review pada set tujuan pencapaian, dalam kebanyakan
public ada paksaan2 dibalik setiap individual dalam budget. Bagi mereka, setiap review memiliki
ancaman.
Namun perencanaan normatif adalah untuk menyadarkan potensinya, sehingga harus bisa mengatur
tujuan baru. Untuk membela inovasi mau tidak mau harus menghasilkan perbedaan, yang mana harus
mengatasi dalam cara yang sama yang pertarungan memenangkan dalam depan politik, yang mana
dengan memenangkan dukungan yang cukup untuk mengesampingkan kekuatan yang sudah mengakar.
Seorang perecnana yang melihat perannya sebagai politikal biasanya cenderung lebih sukses dalam hal ini
drpd perencana yang melihat perannya sebagai birokrat saja.
Namun apakah alternatif2 tsb terbuka untuk perencana? Pada contoh pertama, ia terlihat memiliki pilihan
kecil yang penting. Banyak orang akan berlangganan tanpa keraguan untuk beckmans view engenai
perencanan sebagai birokrat. Peran ini mencerminkan bagaimana birokrat secara general, dan publik
birokrat dilihat sbg instrumen untuk implementasi yang rasional dan tidak memihak dari keputusan2 yang
diturunkan pada mereka melalui beberapa otoritas yang lebih tinggi. Dalam kasus birokrat publik,
pemilihan demokrat politisi merupakan otoritas tertinggi. Hal tsb merupakan dasar pada jiwa birokrat
publik, dan juga ditegakkan oleh politisi2 sebagaimana disampaikan bla3
Konsep birokrat pada peran perencana bukan satu2nya yang bisa didemonstrasikan dalam kasus profesi
perencana amerika. Pada awal tahun 60an, jalan sblm itu terlihat meningkatkan penyerapan pada birokrat
pulik. Tentu saja, perencana2 berekspektasi untuk memerankan pemimpin dalam sistem pemerintahan
kota. Hal tsb berubah. Akademisi dan perencana2 muda amerika tertentu yang terikat dalam berbagai
aktivitas diuar birokrasi. Demikian, perencana amerikan melihta dirimereka seniri mengadopsi tidak
hanya peran birokrasi namun jg sebagai politisi yang mengadvokasi minoritas, agen perubahan.
Singkatnya, mereka melihat diri mereka sebagai pembawa standar inovasi, ygmana perencanaan normatif
merealisasikan potensi tsb scr penuh.
Namun tidak hanya diluar birokrasi publik bahwa konsep political dalam planner peran meningkatkan
mata uang, literatur akhir2 ini berlimbah engan bukti tingkat efektivitas perencanaan yang melibatkan
pembangunan memenangkan koalisi di sekitar projek. Demikian, bla3 dengan kesuksesan bla3 menulis
peran perencana dalam mematikan semangat musim politik dalam kota amerika berukuran sedang,
friedmann merlihat peran perencana yang mirip, terikat dalam bangunan institusi, dalam sebuah
perencanaan lingkungan di negara2 berkembang. Dan rabinovits bla3 peran dalam efektivitas perencana
dalam daerah yang kurang memiliki kekuatan sebagai penggerak secara politik.

Terdapat bukti yang jelas, namun, untuk eksistensi kedua alternatif konsep peran yang disebut sebagai
birokrat dan political dan untuk kapasitas inovatif badan perencanaan yang bergantung pada konsep
political, sementara diabtasi oleh birorat. Mungkin ada bukti yang lebih sedikit untuk membalikkan
menjadi kasus, tsb, yang mana untuk politic peran untuk melawan kehadiran melalui perencanaan
fungsional. Namun seseorang mungkin menebak bahwa seorang perencana dengan pandangan poliik
yang kuat dalam perannya adakn setdknya berusaha untuk memperpanjang batas otonomi agensi
perencanaannya. Ia karena itu memindahkan perencanaan lebih lanjut terhadap normatif dan jauh dr
aslinya, lebih fungsional. Demikian, dia bertindak sbg kendala fungsional planning. Setdknya, hal tsb
terlihat sbg alasan dibalik sugesti birorat role.
Variabel untuk penelitian pada normatif vs fungsional planning
Konsep-variabel
Normatif vs fungsional:
Berbagai tujuan dipertimbangkan, pernyataan yang obejktif dan asumsi2 didukung oleh alasan atau tidak
Derajat relatif otonomi: berbagai kekuatan hukum, fleksibilitas dalam penggunaan sumberaya sebagai
tujuan alternatif.
Peran perencana (politikal atau birokrat) kerangka acuan dan aturan administratif, pegaturan informal,
kejadian konflik politik yang melibatkan perencana.

Perencanaan normatif dan fungsional dalam multi-planning agensi.


Untuk merencanakan pada level penalaran rasional subtansial... dan tujuan perencanaan untuk
pertimbangan rasional merupakan ideal yang mana merupakan akibat wajar yang natural dari sebuah
alasan, yang membutuhkan apapun yng rentan terhadap analisis rasional akan dianalisis dalam cara ini.
Demikian, perencanaan normatif dapat disamakan dengan aplikasi alasan.
Perencanaan pungsional memerankan peran yang sama dalam konteks perencanaan normatif sebagai
blueprint perencanaan dalam melakukan proses perencanaan. Hal ini membebaskan penyelesaian masalah
dengan menyembunyikan seluruh sub rutinitas dari seluruh proses perencanaan pada agensi perencanaan
tertentu, demikian memfasilitasi perencanaan normatif oleh yang lain.
Perencanaan fungsional dan perencanaan blueprint cenderung dilakukan bersama. Dimana perencanaan
fungsional dipraktikkan, cenderung diproses dengan blueprint mode, karena menjaga tujuan program
tetap konstan. Bertujuan untuk mengkonstruksi sebuah citra perusahaan dan memperoleh keuntungan dari
kepastian yang dibutuhkan, perencana mungkin tergoda untuk menahan tujuan perencanaan mereka
dengan konstan, namun bsa jadi salah.
Ada berbagai paralel berhubungan dengan kendali. Perencanaan fungsional berarti bahwa membagi
kontrol lingkungan antara banyak agensi, dengan masing2 berlatih relatif dengan kontrol tinggi diatas
variabel angka yang terbatas. Ini demikian memerankan dalam tangan2 perencana blueprint. Karena itu,
kesipulan ditarik mengenai bla3
Perencanaan fungsional bisa saja diterima, sebagaimana blueprint planning begitu .namun, sebagai bagian
strategi perencanaan yang didesain untuk mengatasi keterbatasan yang terkenal pada kapasitas
penanganan informasi. Ini memiliki keuntungan dengan membolehkan ahli teknikal untuk berkonsentrasi
pada upayanya dan mengumpulkan pengalaman, sebagaimana divisi manapun pada tenaga kerja. Karena
tidak ada orang dalam agensi perencanaan yang adpat memerintah semua keahlian membutuhkan
keterikatan dalam perencanaan komprehensif yang melibatkan perencanaan fungsional dan normatif, ini
bijaksana untuk membiarkan perencanan fungsional menggapai investigasi yang relatif sempit mereka.
Tetapi, karena keterbatasan yang perencanaan fungsional taruh pada pertimbangan alternatif tujuan, hal
ini harus terjadi dalam kerangka perencanaan strategis yang disengaja ipilih sehingga untuk
menyeimbangkan keuntungan fungsi perencanaan melawan biayanya. Strategi ini, pada pemindaian
campuran tertentu, demikian menentukan keseimbangan upaya yang terlibat dalam memilih kerangka
secara menyeluruh dalam pengambilian keputusan pada agensi perencanaan yang terikat dalam
perencanaan fungsional, karena melawan fungsional planning yang terlibat intu sendiri.
Karena itu penyimpulan normatif plannning dalam dunia yang tidak sempurna hanya menjadi layak
dengan menggunakan strategi perencanaan. Menentukan situasi masalah yang merupakan perhatian pada
splusi agensi perencanaan fungsional pada perasalahan, karena itu merupakan cara utama normatif
planning pada level tertinggi dalam ulti planning agency yang seharusnya diproses.