Anda di halaman 1dari 18

Makalah Kelompok

Dehidrasi Ringan yang Diperberat akibat Kerja


Avelia Iliq 102009131
Samsul Rizal A 102011445
Theresia Indriani Prima Chesar 102012071
Michael Sukmapradipta 102012253
Ega Farhatu Jannah 102012277
Surya Dharma 102012390
Kiki Puspitasari 102012350
Risma Lestari Siregar 102012426
Susi Sugiarti 102014267

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jln. Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat

Pendahuluan

Lingkungan kerja fisik merupakan segala sesuatu yang ada disekitar para pekerja yang
dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang diembannya. Lingkungan
kerja fisik yang kondusif akan memberikan rasa aman dan memungkinkan para karyawan untuk
dapat bekerja lebih optimal. Jika seorang pegawai menyenangi lingkungan kerja dimana dia
bekerja, maka karyawan tersebut akan betah berada di tempat kerjanya untuk melakukan segala
aktivitas sehingga waktu kerja dipergunakan secara efektif dan prestasi kerja karyawan tersebut
juga akan meningkat.

Faktor-faktor lingkungan fisik ini mencakup suhu, udara, kebisingan, dan penerangan
ditempat kerja. Faktor-faktor fisik inilah yang akan sangat mempengaruhi kinerja dari karyawan
yang ada berada ditempat kerja tersebut. Salah satu faktor yang akan dibahas kali ini adalah

1
masalah suhu atau temperatur lingkungan kerja.Peningkatan suhu dapat menghasilkan kenaikan
prestasi kerja, namun disisi lain dapat pula menurunkan prestasi kerja. Kenaikan suhu pada batas
tertentu dapat menimbulkan semangat yang akan merangsang prestasi kerja, tetapi setelah
melewati ambang batas tertentu kenaikan suhu ini sudah mulai mengganggu suhu tubuh yang
dapat mengakibatkan terganggunya prestasi kerja.

Suatu pekerjaan/pajanan dinyatakan sebagai penyebab suatu penyakit apabila tanpa


melakukan pekerjaan atau tanpa adanya pajanan tertentu, pasien tidakakan menderita penyakit
tersebut pada saat ini.Sedangkan pekerjaan dinyatakan memperberat suatu keadaan apabila
penyakit telah ada atau timbul pada waktu yang sama tanpa tergantungpekerjaannya, tetapi
pekerjaannya/pajanannya memperberat/mempercepat timbulnya penyakit.1

Isi dan Pembahasan

Diagnosis Klinis

Anamnesis

Pada anamnesis data yang perlu kita dapatkan adalah mengenai keluhan utama pasien dan
sudah berapa menderita penyakit yang dikeluhkan.pada riwayat penyakit sekarang tanyakan data
mengenai sifat sakitnya, terus menerus ataukah pada saat-saat tertentu saja.Pada riwayat penyakit
dahulu tanyakan riwayat penyakit berat pasien dan adakah riwayat penyakit yang menyerupai
atau berhubungan dengan penyakit yang diderita sekarang. Pada riwayat sosial, tanyakan
kebiasaan pasien seperti merokok, minum-minuman beralkohol, olahraga, pola makan, hobi,
juga pekerjaan pasien.2

Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksan fisik pasien diatas dapat diperiksa keadaan umum, tingkat kesadaran,
TTV (tanda-tanda vital), turgor kulit, pemeriksaan mata dan mukosa (mulut), serta perabaan
ekstremitas. Tanda-tanda dehidrasi yang berat akan menunjukan tanda yang khas pada setiap
pemeriksaan fisik, seperti penurunan tingkat kesadaran, lemah lesu, takikardi, mata cekung,
turgor kulit menurun, dan ekstremitas yang dingin. 2

2
Pemeriksaan Penunjang

Pada pemeriksaan penunjang dapat dilakukan pemeriksaan urin, yaitu kontrol


pengeluaran urine pasien, apakah menurun atau tidak, jika menurun maka tanda-tanda dehidrasi
mungkin saja terjadi.Dapat pula dilakukan pemeriksaan endapan urin. Pada urin pasien skenario
7 didapatkan kristal pada urin +2 yang menandakan adanya tanda nefrolithiasis. Nefrolithiasis ini
terjadi bias karena beberapa faktor yang harus dicari lebih dalam lagi, bisa dengan anamnesis
yang lengkap mengenai pekerjaan serta lingkungan kerja pasien. 2

Working Diagnosis

Diagnosis kerja pada kasus adalah dehidrasi ringan.Dehidrasi dideskripsikan sebagai


suatu keadaan keseimbangan cairan yang negatif atau terganggu yang bisa disebabkan oleh
berbagai jenis penyakit.Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output) lebih banyak daripada
pemasukan air (input). Cairan yang keluar biasanya disertai dengan elektrolit.Berdasarkan
pengertian-pengertian di atas, dapat disimpulkan dehidrasi (hypohydration) didefinisikan sebagai
hilangnya cairan yang berlebihan dalam tubuh atau gangguan pengeluaran cairan pada tubuh
yang tidak seimbang dengan pemasukan cairan (misalnya minum). Ini bukan penyakit, tetapi
gejala yang ditimbulkan oleh penyakit lain.3

Etiologi

Beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya dehidrasi yaitu :

1. Diare

Diare adalah alasan paling umum seseorang kehilangan kelebihan air.Jumlah


yang signifikan air dapat hilang dengan setiap buang air besar.Seluruh dunia, lebih dari
empat juta anak meninggal setiap tahun karena dehidrasi akibat diare.

2. Muntah

Muntah dapat juga menjadi penyebab hilangnya cairan dan sulit bagi seseorang
untuk menggantikan air dengan minum itu jika mereka tidak mampu menoleransi cairan.

3. Keringat (Suhu Panas)

3
Tubuh dapat kehilangan air dalam jumlah yang signifikan ketika mencoba untuk
mendinginkan diri dengan berkeringat.Apakah tubuh panas karena lingkungan (misalnya,
bekerja di lingkungan yang hangat), intens berolahraga dalam lingkungan yang panas,
atau karena demam hadir karena adanya infeksi tubuh menggunakan sejumlah besar air
dalam bentuk keringat dingin sendiri. Tergantung pada kondisi cuaca, jalan cepat akan
menghasilkan hingga 16 ons keringat (satu pon air).

4. Diabetes Melitus

Pada orang dengan diabetes, peningkatan kadar gula darah menyebabkan gula
tumpah ke dalam air seni dan air kemudian berikut, yang dapat menyebabkan dehidrasi
yang signifikan. Untuk alasan ini, sering buang air kecil dan rasa haus yang berlebihan
adalah salah satu gejala diabetes.

5. Kurang Minum Air Putih

Ketidakmampuan untuk minum secara memadai adalah penyebab potensial


lainnya dehidrasi.Apakah itu adalah kurangnya ketersediaan air atau kurangnya kekuatan
untuk minum dalam jumlah yang memadai, ini, ditambah dengan rutinitas atau air yang
luar biasa kerugian dapat menambah tingkat dehidrasi. 3

Epidemiologi

Sekitar separuh orang dewasa dan remaja di Indonesia mengalami dehidrasi ringan atau
kekurangan air tubuh pada tingkat ringan. Angka ini diperoleh dari hasil penelitian The
Indonesian Hydration Study (Thirst) yang dilakukan melalui pemeriksaan urin di laboratorium
terhadap 1.200 sampel di wilayah Jakarta, Lembang, Surabaya, Malang, Makassar, dan Malino.
Selain itu, kejadian dehidrasi ringan pada daerah dataran rendah yang panas lebih tinggi
dibandingkan daerah dataran tinggi yang sejuk.Pemicu terjadinya dehidrasi ringan ini umumnya
adalah ketidaktahuan dan kesulitan masyarakat dalam memperoleh air bersih atau air minum.
Enam dari sepuluh responden (sekitar 60%) dalam penelitian tersebut pun tidak mengetahui
bahwa diperlukan air minum yang lebih banyak bagi ibu hamil dan menyusui serta bagi orang
yang berada dalam lingkungan dingin. 3

4
Patofisiologi

Kekurangan cairan atau dehidrasi terjadi jika cairan yang dikeluarkan tubuh melebihi
cairan yang masuk.Tentu, mekanisme tubuh manusia yang sangat dinamis menjaga manusia
untuk terhindar dari kekurangan banyak cairan. Ketika keseimbangan cairan dalam tubuh mulai
terganggu, misalnya rasa haus akan muncul.Tubuh lalu menghasilkan hormon anti-diuretik
(ADH) untuk mereduksi produksi kencing diginjal.Tujuannya menjaga agar cairan yang keluar
tidak banyak.Air yang kita minum umumnya cukup untuk mengganti cairan yang hilang saat
beraktivitas normal seperti bernapas, berkeringat, buang air kecil, atau buang air besar.Dehidrasi
kebanyakan disebabkan kondisi tertentu.Misalnya penyakit macam diare, muntah, dan diabetes,
atau berkeringat berlebihan dan tidak segera menggantinya dengan minum.Saat dehidrasi tubuh
tidak hanya kehilangan air, tapi juga kehilangan elektrolit dan glukosa.Kehilangan sekitar 2 %
cairan tubuh mulanya adalah rasa haus yang teramat sangat.Mulut dan lidah kering, air liur pun
berkurang.Produksi kencing pun menurun.Apabila hilangnya air meningkat menjadi 3-4 % dari
berat badan, terjadi penurunan gangguan performa tubuh.Suhu tubuh menjadi panas dan naik,
biasanya diikuti meriang.Tubuh menjadi sangat tidak nyaman.Nafsu makan hilang, kulit kering
dan memerah, dan muncul rasa mual.Ketika cairan yang hilang mencapai 5-6 %dari berat badan,
frekuensi nadimeningkat, denyut jantung menjadi cepat.Frekuensi pernapasan juga makin tinggi,
napas menjadi cepat. Yang terjadi selanjutnya adalah penurunan konsentrasi, sakit kepala, mual,
dan rasa mengantuk yang teramat sangat.Kehilangan cairan tubuh 10-15% dapat menyebabkan
otot menjadi kaku, kulit keriput, gangguan penglihatan, gangguan buang air kecil, dan gangguan
kesadaran.Apabila mencapai lebih dari 15% akan mengakibatkan kegagalan multi-organ dan
mengakibatkan kematian.3

Gejala Klinis

Berikut ini gejala atau tanda dehidrasi berdasarkan tingkatannya :

1. Dehidrasi ringan (kehilangan cairan 2-5% dari BB semula)


Haus, gelisah
Denyut nadi 90-110 x/menit, nafas normal
Turgor kulit normal
Pengeluaran urine (1300 ml/hari)

5
Kesadaran baik
Denyut jantung meningkat

2. Dehidrasi sedang (kehilangan cairan 5% dari BB semula)


Haus meningkat
Nadi cepat dan lemah
Turgor kulit kering, membran mukosa kering
Pengeluaran urien berkurang
Suhu tubuh meningkat
3. Dehidrasi berat (kehilangan cairan 8% dari BB semula)
Penurunan kesadaran
Lemah, lesu
Takikardi
Mata cekung
Pengeluaran urine tidak ada
Hipotensi
Nadi cepat dan halus
Ekstremitas dingin. 3

Diagnosis Okupasi

Kedokteran Okupasi / Kerja dan Industri

Kedokteran okupasi / kedokteran kerja dan industri adalah upaya kesehatan kerja yang
harus dilakukan oleh dokter yang ahli dan kompeten melalui pendidikan dan pelatihan
kedokteran kerja berkelanjutan, bersetifikan, dll.

Kedokteran okupasi melakukan intervensi kesehatan yang ditujukan kepada para pekerja
dan lingkungan kerjanya, yang bersifat pencegahan primer (health promotion, specific
protection), sekunder (early detection and prompt treatment), dan tersier (disability limitation,
rehabilitation, prevention of premature death).

6
Kedokteran okupasi melakukan penilaian tentang berbagai risiko dan bahaya (hazard) di
tempat kerja bagi kesehatan pekerja, dan menerapkan upaya pencegahan penyakit dan cedera,
serta meningkatkan kesehatan populasi pekerja. Dokter okupasi melakukan upaya menurunkan
risiko, mencegah terjadinya penyakit dan cedera akibat kerja, dengan menerapkan ventilasi
setempat, penggunaan peralatan protektif perorangan, perubahan cara bekerja, dan vaksinasi.
Dokter okupasi melakukan surveilans kesehatan melalui skrining/ pemeriksaan kesehatan secara
berkala.Dalam melakukan pencegahan tersier, dokter okupasi melakukan upaya pelayanan medis
perorangan pasca penyakit untuk membatasi kecacatan, disfungsi sisa, dan kematian, melakukan
rehabilitasi, dan mencegah rekurensi penyakit, untuk memulihkan dan meningkatkan derajat
kesehatan masing-masing pekerja.

Dokter okupasi juga memberikan pelayanan medis langsung kepada pekerja yang
sakit.Dokter okupasi menaksir besarnya masalah dan memberikan pelayanan kuratif untuk
mengatasi masalah penyakit yang dialami pekerja.Dokter okupasi melakukan penatalaksanaan
medis terhadap gangguan-gangguan penyakit penting yang berhubungan dengan pekerjaan,
mencakup pernapasan, kulit, luka bakar, kontak dengan agen fisik atau kimia, keracunan, dan
sebagainya.Dokter okupasi menganalisis absensi pekerja, dan menghubungkannya dengan
faktor-faktor penyebab.Kedokteran okupasi atau kedokteran kerja biasanya bekerja menangani
diagnosis penyakit akibat kerja dan terapi penyakit akibat kerja serta cacat yang dikibatkannya.
Bidang kedokteran ini sering disebut sebagai hospital based, sebab pada umumnya penyakit
akibat kerja akan berbentuk sama dengan penyakit lainnya yang ada di rumah sakit.4

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Kesehatan kerja adalah spesialisasi dalam ilmu kesehatan / kedokteran beserta prakteknya
yang bertujuan, agar pekerja / masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-
tingginya, baik fisik, mental maupun sosial, dengan usaha-usaha preventif dan kuratif, terhadap
penyakit-penyakit / gangguan-gangguan yang diakibatkan faktor-faktor pekerja.Sasaran / ruang
lingkup daripada kesehatan kerja adalah manusia dan sekitarnya dan bersifat medis.Keselamatan
kerja adalah keselamatan yang bertalian dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses
pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan
pekerjaan.K3 adalah upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan tenaga kerja dan
manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju masyarakat yang adil dan sejahtera.

7
K3 bertujuan untuk melindungi para pekerja dan orang lain di tempat kerja, menjamin agar
setiap sumber produksi dapat dipakai secara aman dan efisien, dan menjamin proses produksi
berjalan lancar. Fokus pelaksanaan K3 adalah mencegah kecelakaan kerja dan mencegah
penyakit akibat kerja (PAK). K3 terdiri dari 4 aspek, yaitu industrial hygiene, keselamatan kerja,
PAK (Penyakit akibat kerja) dan PHK (penyakit hubungan kerja), serta ergonomi.5

1. Industrial Hygiene / Higene Perusahaan

Adalah spesialisasi dalam ilmu higene beserta prakteknya yang dengan


mengadakan penilaian kepada faktor-faktor penyebab kualitatif dan kuantitatif dalam
lingkungan kerja dan perusahaan melalui pengukuran yang hasilnya dipergunakan
untuk dasar tindakan korektif kepada lingkungan tersebut serta bila perlu pencegahan,
agar pekerja dan masyarakat sekitar suatu perusahaan terhindar dari bahaya akibat kerja
serta dimungkinkan mengecap derajat kesehatan setinggi-tingginya. Sasaran lingkup
nya adalah lingkungan kerja dengan sifat teknik.5

2. Keselamatan Kerja

Adalah keselamatan yang bertalian dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan
proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara
melakukan pekerjaan.5

3. Penyakit akibat Kerja (PAK)

Suatu pekerjaan/pajanan dinyatakan sebagai penyebab suatu penyakit apabila


tanpa melakukan pekerjaan atau tanpa adanya pajanan tertentu, pasien tidakakan
menderita penyakit tersebut pada saat ini.Sedangkan pekerjaan dinyatakan
memperberat suatu keadaan apabila penyakit telah ada atau timbul pada waktu yang
sama tanpa tergantungpekerjaannya, tetapi pekerjaannya/pajanannya
memperberat/mempercepat timbulnya penyakit.untuk menegakkan diagnosis Penyakit
Akibat Kerja diperlukan pengetahuan yang spesifik, tersedianya berbagaiinformasi
yang didapat baik dari pemeriksaan klinis pasien, pemeriksaan lingkungan di tempat
kerja (bila memungkinkan) dan data epidemiologis.5

8
4. Ergonomi

Ergonomi dalam bahasa Yunani yaitu Ergo berarti kerja dan Nomos yang berarti
normaadalah penerapan ilmu biologi manusia sejalan dengan ilmu rekayasa untuk
mencapai penyesuaian bersama antara pekerjaan dan manusia secara optimum dengan
tujuan agar bermanfaat demi efisiensi dan kesejahteraan.5

Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang tidak di semula dan tidak dikehendaki yang
mengacaukan proses yang telah diatur dari suatu aktivitas dan dapat menimbulkan kerugian harta
benda dan korban manusia.

UU No.1 Th. 1970 Tentang Keselamatan Kerja

Undang-undang ini berisi tentang :

1. Istilah-istilah : tempat kerja, pengurus, pengusaha, direktur, ahli keselamatan kerja


2. Ruang lingkup
3. Syarat-syarat keselamatan kerja
4. Pengawasan
5. Pembinaan
6. P2K3 (Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja)
7. Pelaporan kecelakaan
8. Hak dan kewajiban tenaga kerja
9. Kewajiban Pengurus
10. Pengaturan-pengaturan : ancaman hukuman, peraturan peralatan

Pelaksanaan UU No.1 Tahun 1970 ditentukan oleh 3 unsur :


1. Tempat Kerja
Tempat kerja digunakan untuk kegiatan usaha
2. Tenaga Kerja
Tenaga kerja melakukan pekerjaan untuk keperluan usaha
3. Sumber Bahaya

9
Sumber bahaya berpotensi sebagai penyebab kecelakaan dan penyakit akibat kerja.6

Kewajiban Pengurus
Kewajiban pengurus adalah sebagai berikut :
1. Memasang syarat keselamatan kerja, UU 1 Th.1970, peraturan pelaksanaan
2. Memasang gambar-gambar keselamatan kerja, bahan-bahan pembinaan lainnya
3. Menyediakan secara Cuma-Cuma APD (Alat Pelindung Diri) untuk karyawan dan orang
lain.6

Kewajiban dan atau Hak Tenaga Kerja

Kewajiban dan atau hak tenaga kerja adalah sebagai berikut :


1. Memberi keterangan yang benar kepada pengawas / ahli keselamatan kerja bila diminta
2. Memakai APD yang diwajibkan
3. Memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang
diwajibkan
4. Meminta pada pengurus pelaksanaan syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang
diwajibkan
5. Menyatakan keberatan bekerja bila syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja serta
APD meragukan; kecuali dalam hal-hal khusus ditentukan oleh pengawas.6

Gangguan Kesehatan dan Daya Kerja


Berikut adalah hal-hal yang dapat mempengaruhi kesehatan dan produktivitas tenaga
kerja :
1. Beban Kerja
Fisik
Mental Sosial
2. Beban Tambahan akibat Lingkungan Kerja
Golongan Fisik
Golongan Kimia
Golongan Biologis

10
Golongan Fisiologis
Golongan Psikologis
3. Kapasitas Kerja
Keterampilan
Keserasian/fitness
Gizi
Jenis Kelamin
Usia
Ukuran Tubuh.7

Faktor Bahaya
Ergonomi dan K3 tidak hanya mencegah kecelakaan kerja namun juga mencegah
timbulnya penyakit akibat kerja.Penyakit akibat kerja bisa disebabkan karena beberapa faktor
meliputi faktor fisik, kimia, biologi, fisiologi, dan mental psikologi.

1. Faktor Fisik
Suara tinggi/bising: menyebabkan ketulian
Temperatur/suhu tinggi: menyebabkan Hyperpireksi, Milliaria, heat Cramp, Heat
Exhaustion, Heat Stroke.
Radiasi sinar elektromagnetik: infra merah menyebabkan katarak, ultraviolet
menyebabkan konjungtivitis, radioaktrif/alfa/beta/gama/X menyebabkan gangguan
terhadap sel tubuh manusia.
Tekanan udara tinggi: menyebabkan Coison Disease
Getaran: menyebabkan Reynauds Disease, Gangguan proses metabolisme, Polineurutis.

2. Faktor Kimia
Asal: bahan baku, bahan tambahan, hasil antara, hasil samping, hasil (produk), sisa
produksi atau bahan buangan.
Bentuk: zat padat, cair, gas, uap maupun partikel.
Cara masuk tubuh dapat melalui saluran pernafasan, saluran pencernaan, kulit dan
mukosa

11
Masuknya dapat secara akut dan secara kronis
Efek terhadap tubuh: iritasi, alergi, korosif, Asphyxia, keracunan sistemik, kanker,
kerusakan/kelainan janin, pneumoconiosis, efek bius (narkose), Pengaruh genetik.

3. Faktor Biologi
Viral Diseases: Rabies, Hepatitis
Bakterial Diseases: Anthrax, Leptospirosis, Brucellosis, TBC, Tetanus
Fungal Diseases: Dermatophytoses, Histoplasmosis
Parasitic Diseases: Ancylostomiasis, Schistosomiasis.

4. Faktor Fisiologi
Akibat: cara kerja, posisi kerja, alat kerja, lingkungan kerja yang salah, Kontruksi salah.
Efek terhadap tubuh: kelelahan fisik, nyeri otot, deformitas tulang, perubahan bentuk,
dislokasi, kecelakaan

5. Faktor Mental Psikologi


Akibat: Organisasi kerja (type kepemimpinan, Hubungan kerja, Komunikasi, keamanan),
Type kerja (monoton, berulang-ulang, kerja berlebihan, kerja kurang, kerja shif,
terpencil)
Manifestasinya berupa stress.7

Iklim Kerja / Cuaca Kerja / Tekanan Panas


Adalah hasil perpaduan antara suhu, kelembaban, kecepatan/gerakan udara dan panas
radiasi yang semuanya dihubungkan dengan produksi panas.Suhu udara diukur dengan
thermometer dan hasilnya disebut dengan suhu kering.Kelembaban diukur dengan
hygrometer.Suhu dan kelembaban diukur bersama dengan sling/arsmann psychrometer.Suhu
basah adalah suhu yang ditunjukkan dengan thermometer yang dibasahi dan tertiup oleh
kecepatan angin.Kecepatan udara yang besar diukur dengan anemometer, kecil dengan

12
thermometer kata.Suhu radiasi diukur dengan thermometer bola.Parameter untuk menentukan
tekanan panas salah satunya adalah ISBB (Indeks Suhu Basah dan Bola).
ISSB = 0,7 suhu basah + 0.2 suhu radiasi + 0,1 suhu kering (sinar matahari)
ISSB = 0,7 suhu basah + 0,3 suhu radiasi (lingkungan tanpa sinar matahari) dapat diukur dengan
Questemp thermometer.

Berikut ini adalah tabel NAB (Nilai Ambang Batas) iklim kerja yang diperkenankan :

Tabel 2. NAB Iklim Kerja yang Diperkenankan.7

Catatan :
Beban kerja ringan butuh 100-200 kilo kalori/jam
Beban kerja sedang butuh >200-350 kilo kalori/jam
Beban kerja berat butuh >350-500 kilo kalori/jam 7
Berikut ini adalah mekanisme pertukaran panas tubuh terhadap rangsangan suhu luar
(Gambar 1).

13
Gambar 1. Pertukaran Panas Tubuh.

Sebelum seorang dokter okupasi mendiagnosis seorang pekerja dengan penyakit akibat
kerja, harus dilakukan 7 langkah diagnosis okupasi sebagai panduan untuk mendiagnosis apakah
penyakit tersebut disebabkan oleh pekerjaan, berhubungan dengan pekerjan atau bukan
disebabkan oleh pekerjaan.

1. Menentukan diagnosis klinis


Diagnosis klinis harus dapat ditegakkan terlebih dahulu, dengan memanfaatkan
fasilitas-fasilitas penunjang yang ada, seperti umumnya dilakukan untuk mendiagnosis
suatu penyakit.Anamnesis yang baik akan dapat dengan cepat dan cermat mendiagnosis
suatu penyakit. Selain itu anamnesis mengenai pekerjaan seorang pasien juga sangat
diperlukan mulai dari jenis pekerjaan, jam kerja dalam sehari, lama bekerja, riwayat
peekrjaan sebelumnya, alat dan bahan yang digunakan untuk proses kerja, barang yang
dihasilkan/diproduksi, kemungkinan pajanan yang dialami, alat pelindung diri (APD)
yang digunakan, hubungan dengan gejala dan waktu kerja, serta apakah ada pekerja lain
yang mengalami hal serupa. Pemeriksaan fisik dapat dilakukan secara umum ataupun
khusus.Pemeriksaan penunjang juga diperlukan misalnya seperti tes darah rutin, rontgen,
spirometri, audiometric, dsb.Pemeriksaan tempat bekerja pasien juga perlu ditanyakan
mengenai penerangan, kebisingan, kelembaban, suhu dsb.Setelah diagnosis klinik
ditegakkan baru dapat dipikirkan lebih lanjut apakah penyakit tersebut berhubungan
dengan pekerjaan atau tidak.

2. Pajanan yang Dialami Pasien


Pengetahuan mengenai pajanan yang dialami oleh tenaga kerja adalah esensial
untuk dapat menghubungkan suatu penyakit dengan pekerjaannya.

3. Tentukan apakah pajanan dapat menyebabkan penyakit tersebut


Apakah terdapat bukti-bukti ilmiah dalam kepustakaan yang mendukung pendapat
bahwa pajanan yang dialami menyebabkan penyakit yang diderita. Jika dalam
kepustakaan tidak ada ditemukan adanya dasar ilmiah yang menyatakan hal tersebut

14
diatas, maka tidak dapat ditegakkan diagnose penyakit akibat kerja. Jika dalam
kepustakaan ada yang mendukung, perlu dipelajari lebih lanjut secara khusus mengenai
pajanan sehingga dapat menyebabkan penyakit yang diderita (konsentrasi, jumlah, lama,
dan sebagainya.

4. Tentukan apakah jumlah pajanan yang dialami cukup besar untuk dapat mengakibatkan
penyakit tersebut.
Jika penyakit yang diderita hanya dapat terjadi pada keadaan pajanan tersebut,
maka pajanan yang dialami pasien di tempat kerja menjadi penting untuk diteliti lebih
lanjut dan membandingkannya dengan kepustakaan yang ada untuk dapat menentukan
diagnosis penyakit akibat kerja.Patofisiologi mengenai hubungan pajanan dengan
penyakit perlu diamati.Bukti epidemiologis juga perlu dicantumkan sebagai penguat
adanya hubungan antara dua hak tersebut.Perlu diperhatikan juga pemakaian APD pada
pasien apakah sudah memenuhi standar yang ditetapkan atau tidak selama bekerja dan
terpajanan pada pajanan yang dicurigai menjadi penyebab penyakit pasien.Jumlah
pajanan dapat diketahui melalui data lingkungan, data monitoring biologis serta hasil
surveilans.

5. Faktor Individu
Faktor individu berupa status kesehatan fisik seperti misalnya riwayat atopi atau
riwayat pajanan sebelumnya yang sudah menyebabkan sakit, riwayat penyakit dalam
keluarga, kebiasaan berolahraga juga penting untuk diamati.Status kesehatan serta status
hygene perorangan juga perlu diamati.

6. Faktor di Luar Pekerjaan


Apakah ada factor lain yang dapat merupakan penyebab penyakit? Apakah
penderita mengalami pajanan lain yang diketahui dapat merupakan penyebab penyakit.
Meskipun demikian, adanya penyebab lain tidak selalu dapat digunakan untuk
menyingkirkan penyebab di tempat kerja.

15
7. Diagnosis Okupasi
Sesudah menerapkan keenam langkah di atas perlu dibuat suatu keputusan
berdasarkan informasi yang telah didapat yang memiliki dasar ilmiah. Seperti telah
disebutkan sebelumnya, tidak selalu pekerjaan merupakan penyebab langsung suatu
penyakit, kadang-kadang pekerjaan hanya memperberat suatu kondisi yang telah ada
sebelumnya. Hal ini perlu dibedakan pada waktu menegakkan diagnosis.8
Berdasarkan kasus skenario 7, berikut hasil 7 langkah diagnosis okupasi :
1. Diagnosis klinis : Dehidrasi ringan
2. Pajanan : Suhu tempat kerja tinggi
3. Hubungan pajanan dan penyakit : ada hubungan
4. Besarnya pajanan :berat karena sudah bekerja di pabrik gelas bagian memasukan material
ke tunggu sudah selama 5 tahun
5. Faktor individu : pasien merokok dan memiliki kebiasaan minum teh sesudah makan
6. Faktor di luar pekerjaan : tidak diketahui
7. Diagnosis okupasi : dehidrasi ringan yang diperberat akibat kerja

Penatalaksanaan
Pada ilmu kedokteran okupasi terdapat 2 tatalaksana yang harus dilakukan oleh seorang
dokter okupasi yaitu :
1. Terapi Medikamentosa
Terhadap kausal
Pada dehidrasi ringan terapi kausal yang dapat dilakukan adalah dengan
meminum lebih banyak cairan atau air putih yang tidak berasa, berbau dan
pastinya tidak berwarna.Hindari atau kurangi kebiasaan merokok yang dapat
memperberat dehidrasi.

2. Terapi Okupasi
Pindah ke bagian yang tidak terpapar
Lakukan cara kerja yang sesuai dengan kemampuan fisik.9

16
Pencegahan
1. Pencegahan Primer
Penyuluhan
Perilaku K3 yang baik
Olahraga

2. Pencegahan Sekunder
Pengendalian melalui undang-undang
Pengendalian melalui administrasi/organisasi
Pengendalian secara teknis (substitusi, ventilasi, isolasi, ventilasi, alat pelindung
diri)
3. Pencegahan Tersier
Pemeriksaan kesehatan berkala.9

Kesimpulan
Suatu penyakit dapat dikatakan sebagai penyakit akibat kerja, penyakit berhubungan
dengan kerja atau penyakit bukan akibat kerja.Terdapat 7 langkah untuk mendiagnosis penyakit
akibat kerja yang harus ditinjau dari segi individu, lingkungan, dan juga pekerjaan pasien.
Dehidrasi dapat disebabkan oleh lingkungan kerja dengan suhu tinggi yang menyebabkan
peningkatan suhu tubuh yang nantinya akan membuat pekerja menjadi terus berkeringat dan
menjadi dehidrasi. Namun pada kasus ini dehidrasi yang terjadi pada pekerja bukanlah
diakibatkan oleh pekerjaannya, namun diperberat oleh pekerjaannya sebagai bagian pemasuk
material gelas ke dalam tungku.Pasien memiliki kebiasaan merokok dan juga jarang minum air
puutih sehingga keadaan ini makin diperparah akibat suhu lingkungan kerja yang tinggi.Selain
itu intensitas kerja pekerja dikatakan juga meningkat akibat banyaknya orderan.Hal ini juga
menjadi salah satu faktor pemberat gejala dehidrasi yang dialami pekerja.

Daftar Pustaka

1. McKenzie, James F. Kesehatan masyarakat. Edisi ke-4. Jakarta: EGC;2007.h.615.

17
2. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata MK. Buku ajar ilmu Penyakit dalam. Ed. V.
Jakarta:Interna publishing;2009.h.5-8.
3. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit. Ed.6.
Jakarta:EGC;2012.h.8 - 10
4. Sumamur PK. Higiene perusahaan dan kesehatan kerja. Jakarta: Gunung Agung;2005.h.207-
17.
5. Ridley J. Kecelakaan dalam ikhtisar kesehatan dan keselamatan kerja. Edisi ke-3. Jakarta:
Erlangga;2007.h.113-20.
6. Okti FP. Keselamatan dan kesehatan kerja. Jakarta: FKM Universitas Indonesia;2008.h.8-17
7. Harrington JM. Buku saku kesehatan kerja. Jakarta: EGC;2003.h.9-10
8. Jeyaratnam J, Koh D. Buku ajar praktik kedokteran kerja. Jakarta: EGC;2009.h.20.
9. Suardi R. Sistem manajemen K3 dan manfaat penerapannya dalam sistem manajemen
keselamatan dan kesehatan Kerja. Jakarta: Penerbit PPM; 2007.h.15-6, 23-34

18