Anda di halaman 1dari 5

II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Silase

Silase adalah suatu hasil pengawetan dari suatu bahan dalam suasana asam

dalam kondisi anaerob (Ensminger, 1990). Silase merupakan bahan pakan yang

diproduksi secara fermentasi, yaitu dengan cara pencapaian kondisi anaerob

(McDonald, 1981). Ensilase adalah nama dari proses pembuatannya dan silo nama

tempat terjadinya (Sapienza dan Bolsen, 1993). Untuk meningkatkan kualitas

silase, ditambahkan bahan aditif yang dibagi dua yaitu sebagai stimulan

fermentasi dan inhibitor fermentasi. Stimulan fermentasi bekerja membantu

pertumbuhan bakteri asam laktat sehingga kondisi asam segera tercapai, contoh

inokulan bakteri yaitu bakteri asam laktat yang berfungsi untuk meningkatkan

populasi bakteri asam laktat dalam bahan pakan, sedangkan inhibitor fermentasi

digunakan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme pembusuk seperti

Clostridia sehingga pakan bisa awet, sebagai contoh yaitu asam-asam organik

seperti asam format, propionate, laktat (McDonald, 1981).

Silase adalah pakan yang berbahan baku hijauan, hasil samping pertanian

atau bijian berkadar air tertentu yang telah diawetkan dengan cara disimpan dalam

tempat kedap udara selama kurang lebih tiga minggu. Penyimpanan pada kondisi

kedap udara tersebut menyebabkan terjadinya fermentasi pada bahan silase.

Tempat penyimpanannya disebut silo. Silo bisa berbentuk horisontal ataupun

vertical. Pada peternakan skala besar, silo biasanya permanen. Bisa berbahan

logam berbentuk silinder ataupun lubang dalam tanah (kolam beton). Tetapi silo

juga bisa dibuat dari drum atau bahkan dari plastik . Prinsipnya, silo
memungkinkan untuk memberikan kondisi anaerob pada bahan agar terjadi proses

fermentasi. (Sapienza dan Bolsen, 1993).

Bahan untuk pembuatan silase bisa berupa hijauan atau bagian bagian lain

dari tumbuhan yang disukai ternak ruminansia, seperti rumput, legume, biji bijian,

tongkol jagung, pucuk tebu, batang nenas dan lain-lain. Kadar air bahan yang

optimal untuk dibuat silase adalah 65-75% . Kadar air tinggi menyebabkan

pembusukan dan kadar air terlalu rendah sering menyebabkan terbentuknya

jamur. Kadar air yang rendah juga meningkatkan suhu silo dan meningkatkan

resiko kebakaran. Salah satu penambahan zat aditif sebagai stimulant fermentasi

yaitu bakteri asam laktat seperti Lactobacillus plantarum, Pediococcus

pentosamonas, silase tersebut dinamakan silase laktat (McDonald, 1981). Silase

laktat dapat didefinisikan dari karakteristik fermentasinya yang ditunjukkan

dengan pH rendah (mendekati 3,7-4,2), mengandung asam laktat dengan

konsentrasi cukup tinggi (sekitar 8-12%) dan hanya sedikit mengandung asam

format, asetat, propionat dan butirat.

2.2 Proses Pembuatan Silase

Prinsip utama pembuatan silase adalah:

1. Menghentikan pernafasan dari sel-sel tanaman; dengan kondisi

anaerob

2. Mengubah karbohidrat menjadi asam laktat melalui proses

fermentasi kedap udara

3. Menahan aktifitas enzyme dan bakteri pembusuk (Bolsen, dkk.

2000).
Proses fermentasi secara anaerob (kedap udara) dapat dipengaruhi pula oleh

kepadatan bahan. Pemadatan bahan baku silase terkait dengan ketersediaan oksigen

di dalam silo, semakin padat bahan, kadar oksigen semakin rendah sehingga proses

respirasi semakin pendek (Regan, 1997).

2.3 Kualitas Silase


Secara keseluruhan kualitas silase dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti

: asal atau jenis hijauan, temperatur penyimpanan, tingkat pelayuan sebelum

pembuatan silase, tingkat kematangan atau fase pertumbuhan tanaman, bahan

pengawet, panjang pemotongan, dan kepadatan hijauan dalam silo (Regan, 1997).

Sementara menurut Cullison (1975) dan Utomo (1999), bahwa karakteristik

silase yang baik adalah :

1. Warna silase, silase yang baik umumnya berwarna hijau kekuningan atau

kecoklatan. Sedangkan warna yang kurang baik adalah coklat tua atau kehitaman.

2. Bau, sebaiknya bau silase agak asam atau tidak tajam. Bebas dari bau manis, bau

amonia dan bau H2S.

3. Tekstur, kelihatan tetap dan masih jelas. Tidak menggumpal, tidak lembek dan

tidak berlendir.

4. Keasaman, kualitas silase yang baik mempunyai pH 4,5 atau lebih rendah dan

bebas jamur.

2.4 Evaluasi dan Penilaian Silase

Silase yang telah di buat dapat di evaluasi atau dinilai dari

beberapa aspek diantaranya bau, cita rasa, warna, tekstur dan

palatabilitas . Dari baunya pengolahan bahan pakan dengan penambahan molases

sebagai pakan ternak mempunyai kadar karbohidrat tinggi 48-60% sebagai gula,

kadar gula inilah yang dimanfaatkan mikroba sebagi sumber energi yang diubah
menjadi asam laktat sehingga menghasilkan bau asam yang segar, dan hasil ini sesuai

bahwa kualitas silase yang baik (Yudith 2010), menurut Cullison (1975) sebaiknya

bau silase agak asam atau tidak tajam. Fermentasi berlangsung baik apabila

didapatkan suasana bahan menjadi asam dengan derajat keasaman

optimal. Rasa asam dapat dijadikan sebagai indikator untuk melihat

keberhasilan proses ensilase, sebab untuk keberhasilan proses ensilase

harus dalam suasana asam. (Siregar 1996). Silase yang baik memiliki warna

yang tidak jauh berbeda dengan warna bahan dasar itu sendiri. silase yang berkualitas

baik mempunyai ciri-ciri tekstur, kelihatan tetap dan masih jelas, tidak menggumpal,

tidak lembek dan tidak berlendir. (Cullison 1975) . Regan

(1997) menyatakan bahwa apabila udara (oksigen) masuk maka populasi yeast dan

jamur akan meningkat dan menyebabkan panas dalam silase karena proses respirasi.
DAFTAR PUSTAKA

Bolsen KK, Ashbell G, Wilkinson JM. 2000. Biotechnology in Animal Feeds and
Animal Feeding : Silage Addtive. Weinheim. New York. Basel.
Cambridge. Tokyo : VCH.
Cullison, A. E. 1975. Feed And Feding. University Of George Reston Publishing
Company Inc. Virginia.
Ensminger, M, L. 1990. Feed and Nutrition 2nd edition. The Ensminger
Publishing. Company, California.

McDonald, P. 1981. Biochemistry of Silage. johnWiley and Sons, New York.

Regan, C.S. 1997. Forage Concervation in The Wet/ Dry Tropics for Small
Landholder Farmers. Thesis.Faculty of Science, Nothern Territory
University, Darwin Austalia.
Sapienza, DA dan K.K. Bolsen. 1993. Teknologi Silase: penanaman, pembuatan
dan pemberian pada ternak. Diterjemahkan oleh B. S. M. Rini
Siregar, S.B. 1996. Pengawetan Pakan Ternak. Penebar Swadaya, Jakarta.
Utomo, R. 1999. Teknologi Pakan Hijauan. Fakultas Peternakan, Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta.
Yudith Taringan A., 2010. Pemamfaatan Pelepah sawit dan Hasil Ikutan Industri
Kelapa Sawit Terhadap Pertumbuhan Sapi Peranakan Simental Fase
Pertumbuhan. Departemen Pendidikan Fakultas Sumatra Utara.